menggugah peran serta masyarakat dalam mengelola persampahan

Posted September 8, 2014 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR


MENGGUGAH PERAN SERTA MASYARAKAT KOTA MAKASSAR DALAM MENGELOLA SAMPAH.

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SA E. Pengelolaan sampah di TPAB,SSn,MS.MH.MM.

MAKASSAR TIDAK RANTASA – GO GREEN AND CLEAN

Kota besar adalah simbol kemajuan dan keberhasilan pembangunan. Gedung menjulang, keramaian pusat-pusat perbelanjaan, riuh lalu lintas berlalu lalang jadi icon dari kota. Namun bagaimana jika ada warga, keluarga di Kota Makassar yang lelah, jenuh atau hendak santai menghirup udara segar atau ada anak-anak ingin bermain dengan temannya, sekedar berlari kecil juga belajar di taman atau hutan kota kemana mereka harus pergi?

Adakah taman atau hutan kota yang aman dan asri menjadi ruang publik di kota Makassar yang menyediakan sarana bertemu, bermain, bercengkerama, belajar, berkomunikasi untuk sesama warga ? Jika ya, pertanyaan selanjutnya adalah; apakah cukup tersedia dan dapat mudah diakses oleh segenap warga?

Agaknya untuk menemukan tempat yang aman, nyaman dan asri, bersih seperti itu masih menjadi dambaan. Sebuah ruang hijau yang dipenuhi pepohonan rimbun yang sejuk, dimana anak-anak dapat bermain, bercengkerama, anak muda memadu kasih, pemusik berlatih, para lansia duduk santai menikmati waktu istirahat panjang mereka sambil beraktifitas atau olah raga ringan. Ruang-ruang publik seperti ini sangat dibutuhkan warga untuk melewatkan waktu jeda dan menjaga kerekatan sosial serta keseimbangan kota.

Karenanya Ruang Terbuka Hijau menjadi sangat di butuhkan warga. Bahkan kini ruang model ini sudah menjadi sebuah syarat utama yang harus ada disetiap kota. Seiring dengan kondisi bumi yang terus memburuk akibat pemanasan iklim global. Masalah penghijauan dan kelestarian lingkungan menjadi perhatian serius tak hanya bagi bangsa Indonesia tapi juga masyarakat dunia. Kehidupan dan dinamika aktivitas kota besar cenderung berkembang pesat sementara kualitas lingkungan bergerak sebaliknya, mengalami degradasi/kemerosotan yang semakin memprihatinkan. Ruang terbuka hijau yang notabene diakui merupakan alternatif terbaik bagi upaya recovery fungsi ekologi kota kian hilang, tersingkir oleh pembangunan gedung-gedung menjulang. Pembangunan gedung-gedung megah di kota-kota memang membanggakan, namun disisi lain pembangunan tersebut justru kerap menggusur bahkan mencaplok ruang-ruang hijau yang ada. Taman-taman kota yang dulunya asri, disulap menjadi pertokoan, perkantoran atau apartement, Prilaku seperti itu tak pelak menimbulkan dampak negative bagi lingkungan yaitu ketidak seimbangan ekologi dan mempercepat proses pemanasan global yang tentunya berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan warga kota cepat atau lambat. Keprihatinan akan hal tersebut harusnya menjadi perhatian seluruh pelaku pembangunan utamanya pemerintah yang sesungguhnya dapat mempelopori dilakukannya gerakan sadar lingkungan, mulai dari level komunitas warga untuk menata pekarangan, lingkungan hingga komunitas masyarakat pada level kota.

Telah menjadi kesepakatan internasional akan ruang terbuka hijau suatu kota harus mencapai angka 30 persen dari luas kota. Kesepakatan ini juga diakui oleh pemerintah Indonesia dengan menetapkan agar daerah perkotaan memiliki minimal 20% dari luas kawasan perkotaannya untuk ruang publik. Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan definisi tentang ruang terbuka hijau ini dengan istilah Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan atau RTHKP. Jika mengacu pada Peraturan Mendagri No.1 tahun 2007 tentang penataan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan ini, maka pengertian Ruang Terbuka Hijau adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.Ruang terbuka hijau itu sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu RTHKP Publik dan RTHKP Privat. RTHKP Publik adalah RTHKP yang penyediaan dan pemeliharaannya menjadi tanggungjawab Pemerintah Kabupaten/Kota. Sementara RTHKP Privat adalah RTHKP yang penyediaan dan pemeliharaannya menjadi tanggungjawab pihak/lembaga swasta, perseorangan dan masyarakat yang dikendalikan melalui izin pemanfaatan ruang oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.

Berdasarkan jenisnya RTHKP meliputi taman kota, taman wisata alam, taman rekreasi, taman lingkungan perumahan dan permukiman, taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial, taman hutan raya, hutan kota, hutan lindung, bentang alam seperti gunung, bukit, lereng dan lembah, cagar alam, kebun raya, kebun binatang, pemakaman umum, lapangan olah raga, lapangan upacara, parkir terbuka, lahan pertanian perkotaan, jalur dibawah tegangan tinggi (SUTT dan SUTET), sempadan sungai, pantai, bangunan, situ dan rawa, jalur pengaman jalan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian, kawasan dan jalur hijau, daerah penyangga (buffer zone) lapangan udara dan taman atap (roof garden).

 Ruang tebuka hijau mempunyai fungsi penting yang berfungsi sosial dimana masyarakat bisa berkumpul dan bersantai bersama sanak keluarga atau kawan. Dengan hilangnya lahan-lahan RTH dari peta kota maka akan berdampak secara tidak langsung bagi proses-proses pemanasan dan polusi lingkungan perkotaan. Tak kalah pentingnya, dengan berkurangnya ruang yang dapat berfungsi untuk interaksi sosial bagi warga masyarakat, maka bukan tidak mungkin kelak di kemudian hari dapat menciptakan generasi yang individualistis tak memiliki jiwa sosial.

 Ruang terbuka hijau sejatinya ditujukan untuk menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan dan mewujudkan kesimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan di perkotaan serta meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih, aman dan nyaman. Tak Cuma itu, Ruang terbuka hijau juga berfungsi sebagai pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan, pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara, tempat perlindungan plasma nuftah dan keanekaragaman hayati dan pengendali tata air serta tak ketinggalan sebagai sarana estetika kota. Keberadaan ruang ini tak hanya menjadikan kota menjadi sekedar tempat yang sehat dan layak huni tapi juga nyaman dan asri. Ruang terbuka hijau juga membawa begitu banyak manfaat yang terkandung. Mulai dari sarana untuk mencerminkan identitas daerah, menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah, sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat, sebagai sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan, memperbaiki iklim mikro hingga meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan dan tak ketinggalan bermanfaat bagi meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan. Bahkan terkandung pula manfaat yang lebih bernilai sosial seperti sebagai sarana rekreasi aktif dan pasif serta interkasi sosial atau sebagai sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula. Bisa dibilang kebutuhan akan adanya ruang semacam ini di kota-kota besar tak hanya sekedar perlu sebagai keinginan namun sungguh kebutuhan.

 Lantas mengapa keberadaan RTHKP yang sangat penting ini belum lagi terwujud?

 Rasa cemas dan keprihatinan untuk mengembalikan keseimbangan alam yang mulai berada dititik yang mengkhawatirkan itu, membutuhkan pemikiran yang sulutif. Lebih dari sekedar itu sesungguhnya dibutuhkan tekad juga partisipasi aktif dari seluruh komponen warga masyarakat untuk mengembalikan apa yang telah hilang. Tersedianya ruang terbuka hijau dalam jumlah yang cukup adalah salah satu bentuknya harapan. Karena bumi ini bukan hanya milik kehidupan masa kini namun juga milik kehidupan masa depan. Mereka berhak atas udara yang bersih, lingkungan yang asri dan sehat serta nyaman untuk dihuni.

 Mengacu pada latar berpikir sebagaimana uraian diatas maka kehadiran lima buku serial Makassar Tidak Rantasa :

  • MENGELOLA SAMPAH RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN ( Buku Satu )
  • MEMBANGUN KAWASAN HIJAU DAN BANGUNAN HIJAU YANG RAMAH LINGKUNGAN. ( Buku Dua )
  • MENGELOLA LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN. ( Buku Tiga )
  • MENGGUGAH PERAN SERTA MASYARAKAT KOTA MAKASSAR DALAM MENGELOLA SAMPAH. ( Buku empat )
  • MEMANFAATKAN DAERAH SEMPADAN SUNGAI SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU. ( Buku Lima )

Ditulis oleh Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM. adalah upaya nyata seorang pakar yang memiliki kompetensi memaparkan hal tersebut untuk menjadi bacaan yang dapat dijadikan acuan untuk membangun paradigma dan mendorong terwujudnya prilaku positif warga kota makassar guna mewujudkan Makassar Tidak Rantasa- Go Green And Clean.

MENGGUGAH PERAN SERTA MASYARAKAT KOTA MAKASSAR DALAM MENGELOLA SAMPAH.

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

 A.Sampah dan permasalahannya.

Permasalahan sampah merupakan hal genting yang memerlukan perhatian serius, karena dampaknya berimbas pada berbagai sisi kehidupan utamanya di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Palembang, Medan juga Makassar. Di wilayah kota kabupaten pun, masalah sampah menjadi perhatian masyarakat terutama menyangkut kebersihan lingkungan. Menurut perkiraan, volume sampah yang dihasilkan masyarakat rata-rata 0,5 kg/kapita/hari (Sudrajat 2006). Tidak tersedia data secara pasti, berapa persisnya jumlah timbulan sampah di Indonesia, namun berdasarkan hasil perhitungan Bappenas sebagaimana tercantum dalam Buku Infrastruktur Indonesia, pada tahun 1995 perkiraan timbulan sampah di Indonesia mencapai 22,5 juta ton, dan diprediksi akan meningkat lebih dua kali lipat pada tahun 2020 menjadi 53,7 juta ton. Sementara di kota besar Indonesia diperkirakan timbulan sampah perkapita berkisar antara 600-830 gram per hari.

Sebagai ilustrasi betapa besarnya timbulan sampah yang dihasilkan, data beberapa kota besar di Indonesia dapat menjadi rujukan. Kota Jakarta setiap hari menghasilkan sampah sebesar 6,2 ribu ton, Kota Bandung sebesar 2,1 ribu ton, Kota Surabaya sebesar 1,7 ribu ton, dan Kota Makassar 0,8 ribu ton Damanhuri, (2002). Jumlah tersebut membutuhkan upaya yang tidak sedikit dalam penanganannya. Berdasarkan data tersebut, diperkirakan kebutuhan lahan untuk TPA di Indonesia pada tahun 1995 yaitu seluas 675 ha, dan diprediksi akan meningkat menjadi 1,610 ha pada tahun 2020. Kondisi ini akan menjadi masalah besar dan memperhatikan karena semakin terbatasnya lahan kosong khususnya di perkotaan. Salah satu contoh terkini adalah kesulitan pemerintah DKI Jakarta dalam penyediaan lahan untuk pengelolaan sampah TPA Bantar Gebang tidak dapat digunakan lagi. Demikian pula di Kota Makassar, setelah TPA Tamangapa beberapa tahun kedepan dianggap sudah tidak layak lagi dan sudah harus di backup, pihak Pemkot Makassar sempat kesulitan dalam menentukan lokasi TPA walaupun akhirnya sudah berhasil menentukan lokasi di Kabupaten Gowa.

Memperhatikan fakta tersebut, maka diperlukan sebuah model pengelolaan persampahan yang menyeluruh mulai dari sumber sampah, Tempat Penampungan Sementara (TPS), sampai kepada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang mana didalamnya melibatkan semua pihak terkait termasuk seluruh masyarakat. Diharapkan dengan model tersebut bisa mengurangi dampak yang diakibatkan oleh masalah persampahan, terutama dampak kesehatan masyarakat. Dengan kualitas kesehatan masyarakat yang meningkat maka pada akhirnya meningkatkan pula produktifitas mereka.

 B.Tinjauan Umum Tentang Sampah

Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembuatan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan, (Kamus Istilah Lingkungan, 1994).

Sampah sebenarnya hanya sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup. Dari segi ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sampah ialah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi yang bukan biologis (karena human waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya bersifat padat.

Berdasarkan jenis sampah pada prinsipnya dibagi 3 bagian besar, yaitu :

  1. Sampah padat.
  2. Sampah cair.
  3. Sampah dalam bentuk gas.

Sampah pada umumnya dibagi 2 jenis, yaitu :

  1. Sampah organik : yaitu sampah yang mengandung senyawa-senyawa organik, karena itu tersusun dari unsur-unsur seperti C, H, O, N, dll, (umumnya sampah organik dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme, contohnya sisa makanan, karton, kain, karet, kulit, sampah halaman).
  2. Sampah anorganik : sampah yang bahan kandungan non organik, umumnya sampah ini sangat sulit terurai oleh mikroorganisme. Contohnya kaca, kaleng, alumunium, debu, logam-logam lain .

 C.Pengelolaan Sampah Ditinjau dari Berbagai Aspek

Dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, Pasal 19, mengemukakan bahwa Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga terdiri atas:

  1. Pengurangan sampah, yang meliputi :
  2. Pembatasan timbulan sampah;
  3. Pendauran ulang sampah; dan/atau
  4. Pemanfaatan kembali
  5. Penanganan
  6. Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;
  7. Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu;
  8. Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;
  9. Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah;
  10. Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara .

Sistem pengelolaan sampah perkotaan pada dasarnya dilihat dari komponen-komponen yang saling mendukung satu dengan yang lain saling berinteraksi untuk mencapai tujuan yaitu kota yang bersih sehat dan teratur. Komponen tersebut adalah:

  1. Aspek teknik operasional (teknik)
  2. Aspek kelembagaan (institusi).
  3. Aspek pembiayaan (finansial);
  4. Aspek hukum dan pengaturan (hukum).
  5. Aspek peran serta masyarakat.

Menurut SK SNI T-13-1990-F, pada dasarnya sistem pengelolaan sampah perkotaan dilihat sebagai komponen-komponen subsistem yang saling mendukung, saling berinteraksi, dan saling berhubungan satu sama lain, seperti gambar Skema Sistem Pengelolaan Sampah.

Gambar 1. Sistem Pengelolaan Sampah Perkotaan

(SK-SNI T-13-1990-F)

Uraian masing-masing sistem pengelolaan sampah, yaitu antara lain sebagai berikut:

  1. Teknik Operasional

Pengelolaan sampah adalah upaya yang sering dilakukan dalam sistem manajemen persampahan dengan tujuan antara lain untuk meningkatkan efesiensi operasional.Terdapat enam aktifitas yang terorganisir di dalam elemen fungsional teknik operasional pengelolaan sampah, sebagai berikut :

  1. Timbulan sampah (Waste Generation)

Kuantitas sampah yang dihasilkan suatu kota sangat tergantung dari jumlah penduduk dan aktifitas masyarakat yang ada di daerah tersebut.

Dalam SNI 19-3964-1994, bila pengamatan lapangan belum tersedia, maka untuk menghitung besaran, sistem, dapat digunakan angka timbulan sampah sebagai berikut :

  • Satuan timbulan sampah pada kota besar : 2 – 2,5 L/org/hari atau 0,4 – 0,5 kg/org/hari.
  • Satuan timbulan sampah pada kota sedang/kecil: 1,5 – 2 L/org/hari atau 0,3 – 0,4 kg/org/hari.
    1. Pewadahan (Onsite Storage)

Penyimpanan/pewadahan sampah adalah tempat sampah sementara, sebelum sampah tersebut terkumpul, untuk kemudian diangkat serta dibuang (dimusnahkan). Jelaslah untuk ini perlu disediakan suatu tempat sampah, yang lazimnya ditemui di rumah tangga, kantor, restoran, hotel, dan lain sebagainya.

Sampah yang dihasilkan penduduk semuanya harus terwadahi, paling tidak sampah yang akan dibuang ke bak sampah atau tempat yang tersedia, dengan pola pewadahan yang terdiri dari:

  • Wadah pertama, adalah wadah sampah individual yang menerima sisa buangan langsung dari sumbernya dan dapat berupa keranjang, kotak dari karton, kantong plastik dan sebagainya ataupun wadah sampah yang dilengkapi dengan alat-alat mekanik.
  • Wadah kedua (TPS) adalah wadah tempat sampah yang menampung sampah dari wadah pertama maupun langsung dari sumbernya, dan dapat berupa container, tong-tong sampah, drum atau bak sampah yang terbuat dari susunan batu bata dan sebagainya.
  • Wadah tempat sentra (TPA) adalah wadah sampah yang menampung sampah dari wadah penampungan sementara. Dengan demikian volumenya harus cukup besar, dan biasanya terbuat dari konstruksi khusus yang ditempat sesuai dengan syarat-syarat penempatannya.

 Pengumpulan (Collection).

Pengumpulan sampah adalah proses penanganan sampah dengan cara pengumpulan dari masing-masing sumber sampah untuk diangkut ke (1) tempat pembuangan sampah sementara, (2) pengolahan sampah skala kawasan, atau (3) langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemindahan).

Cara pengambilan sampah dari wadah umumnya dilakukan secara:

  • Langsung : kendaraan pengangkut mengambil sampah dan langsung di bawa ke tempat pengolahan.
  • Tidak langsung : sampah diangkut dari wadahnya dengan gerobak pengangkutan sampah atau sejenisnya untuk terlebih dahulu dikumpulkan dan kemudian diambil oleh kendaraan pengangkut.
  1. Pemindahan dan pengangkutan (Transfer dan Transport)

Hal terpenting dalam pengangkutan sampah adalah penentuan rute pengangkutan, berupa penetapan titik pengambilan, jadwal operasi dan pola pengangkutan. Dalam menentukan rute pengangkutan sampah, dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

 

  • Penentuan titik pengambilan sampah

Dalam menentukan titik pengambilan, perlu adanya peta daerah pelayanan dan peta timbulan sampah. Peta daerah pelayanan menunjukkan batas wilayah yang akan dilayani saat ini dan kemungkinan perkembangannya, sedangkan peta timbulan sampah menunjukkan lokasi timbunan sampah yang harus dilayani oleh para petugas kebersihan. Dengan menetapkan titik-titik tersebut, jumlah volume sampah yang harus diangkut setiap hari dapat diketahui sehingga rute pengangkutan dapat ditentukan.

  • Jadwal Operasi

Jadwal operasi harus ditetapkan agar kegiatan pengangkutan sampah dapat berjalan lancar dan teratur, tanpa menimbulkan kemacetan. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran kualitas pelayanan serta dapat membantu dalam menetapkan jumlah tenaga kerja dan peralatan (alat angkut). Dengan adanya jadwal operasi, biaya oeprasi dapat diperkirakan sehingga dapat dilakukan efisiensi biaya dan waktu. Frekuensi pelayanan pun dapat diatur yang akan memudahkan petugas kebersihan dalam menjalankan tugasnya.

Pengaturan jadwal operasi tersebut harus disesuaikan dengan:

  1. Jumlah timbulan sampah yang harus diangkut tiap hari.
  2. Jumlah kendaraan, tenaga serta kapasitas kendaraan.
  3. Sifat daerah pelayanan.
  4. Waktu yang diperlukan untuk tiap rit kendaraan.

Pengaturan kerja yang dilakukan dalam kaitannya dengan jadwal operasi ini termasuk pengaturan penugasan, pengaturan kewajiban bagi para petugas untuk membersihkan kendaraan dan kewajiban para petugas untuk melaporkan hasil operasinya, sehingga volume sampah yang terangkut setiap pengangkutan dapat diketahui.

  • Pola pengangkutan.

Pola pengangkutan ini dapat dilakukan berdasarkan sistem pengumpulan sampahnya. Pengumpulan sampah yang dilakukan dengan sistem transfer depo, proses pengangkutannya telah dijelaskan sebelumnya.

 Organisasi dan Manajemen (kelembagaan)

Aspek organisasi dan manajemen merupakan suatu kegiatan yang multi disiplin yang bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen yang menyangkut aspek-aspek ekonomi, sosial, budaya, dan kondisi fisik wilayah kota, serta memperhatikan pihak yang dilayani, yaitu masyarakat kota. Perancangan dan pemilihan bentuk organisasi disesuaikan dengan:

  1. Peraturan pemerintah yang membinanya
  2. Pola operasional yang diterapkan
  3. Kapasitas kerja sistem
  4. Lingkup pekerjaan dan tugas yang harus ditangani

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah menuntut kota dan kabupaten supaya dapat mewujudkan kemandirian ada daerah masing-masing. Pemerintah Daerah memiliki kewenangan dalam pengelolaan persampahan, dengan bentuk kelembagaan berupa Dinas, Seksi dan Perusahaan Daerah. Bentuk kelembagaan pengelolaan persampahan dianjurkan sebagai berikut:

  1. Kota Raya (penduduk 500.000-1.000.000 jiwa) dan ibukota provinsi, sebaiknya dikelola oleh suatu dinas tersendiri dan dalam jangka waktu 10 tahun diharapkan bisa menjadi perusahaan daerah.
  2. Kota Sedang 1 (penduduk 250.000-500.000 jiwa) atau kotamadya/kota administratif, sebaiknya dikelola oleh dinas tersendiri.
  3. Kota Sedang 2 (penduduk 100.000-250.000 jiwa) atau kabupaten, sebaiknya dikelola oleh dinas yang mempunyai 2 penugasan maksimal.
  4. Kota Kecil (penduduk 20.000-100.000 jiwa) atau ibukota kabupaten dapat merupakan seksi tersendiri atau dibawah Dinas Pekerjaan Umum dengan tanggungjawab, wewenang dan fasilitas yang memadai dan diarahkan dalam pembentukan dinas tersendiri dengan dua penugasan maksimal.

 Pembiayaan (finansial)

Biaya pengelolaan sampah dihitung berdasarkan biaya operasional dan pemeliharaan serta pergantian peralatan. Perbandingan biaya pengelolaan dari biaya total pengelolaan sampah yaitu biaya pengumpulan 20%-40%, biaya pengangkutan 40%-60%, biaya pembuangan akhir 10% – 30% (SNI –T-12-1991-03).

Besarnya retribusi yang layak ditarik dari masyarakat setiap rumah tangga besarnya + 0,5% dan maksimal 1% dari penghasilan per rumah tangga per bulannya (PU, 1993). Hal ini dapat dikatakan mampu mencapai “Self Financing” (mampu membiayai sendiri) jika perhitungan besar retribusi dilakukan dengan cara klasifikasi dan prinsip subsidi silang.

Menurut Pedoman Teknik Operasi dan Pemeliharaan Pembangunan Prasarana Perkotaan Komponen Persampahan. Direktorat Bina Program Ditjen, Departemen Pekerjaan Umum (1993), Sumber dana merupakan salah satu sumber daya sistem pengelolaan persampahan, dana tersebut meliputi :

  1. Retribusi, yaitu sumber dana yang digali dari masyarakat.
  2. Iuran sampah yaitu sumber dana masyarakat dilaksanakan oleh organisasi masyarakat tanpa peraturan formal.
  3. Subsidi yaitu sumber dana pemerintah daerah karena dana masyarakat tidak mencukupi untuk menekan tarif retrtibusi.
  4. Subsidi silang yaitu strategi pendanaan yang kuat membantu yang lemah.
  5. Hukum dan Pengaturan

Untuk pengelolaan persampahan diperlukan dasar hukum pengelolaan persampahan yang mencakup :

  1. Peraturan daerah yang dikaitkan dengan ketentuan umum pengelolaan kebersihan yang berlaku.
  2. Peraturan daerah tentang pembentukan badan pengelolaan kebersihan.
  3. Peraturan daerah yang khusus menentukan struktur tarif dan tarif dasar pengelolaan kebersihan.

Aspek pengaturan didasarkan atas kenyataan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum, dimana sendi-sendi kehidupan bertumpu pada hukum yang berlaku. Pengelolaan sampah di Indonesia membutuhkan kekuatan dan dasar hukum seperti dalam pembentukan organisasi, pemungutan, retribusi, keterlibatan masyarakat dan sebagainya. Aspek pengaturan memegang peranan penting dalam pengelolaan sampah, hal ini mengingat kesadaran masyarakat dan pola hidup masyarakat dalam memperlakukan sampah belum baik.

 Peran Serta Masyarakat

Dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan, peran serta masyarakat adalah melibatkan masyarakat dalam tindak-tindak administrator yang mempunyai pengaruh langsung terhadap mereka. Peran serta masyarakat sangat erat kaitannya dengan kekuatan atau hak masyarakat, terutama dalam pengambilan keputusan dalam tahap identifikasi masalah, mencari pemecahan masalah sampai dengan pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat diartikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah baik langsung maupun tidak langsung.

Pengumpulan dan pengangkutan sampah tidak dapat berjalan dengan baik, jika tidak adanya partisipasi masyarakat (Pramono, 2008) sebagaimana yang dilakukan di kota-kota di Indonesia, masyarakat terlibat dalam pengumpulan sampah. Sedangkan peran serta masyarakat adalah sistem pengumpulan sampah atas kesadaran masyarakat sendiri untuk membawa sampahnya ke TPS terdekat. Pramono (2008). Organisaai terasteral (rukun tetangga dan rukun warga) merupakan organisasi penting yang mengkoordinir pengumpulan sampah dipermukiman-permukiman yang tidak memiliki akses ke jalan utama. Berdasarkan hal tersebut, sistem pengumpulan sampah khususnya sampah rumah tangga yang saat ini dilakukan didasarkan pada kondisi dan kultur masyarakat.

Salah satu pendekatan kepada masyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam kebersihan adalah bagaimana membiasakan masyarakat kepada tingkah laku yang sesuai dengan tujuan program tersebut, yang menyangkut:

  1. Bagaimana merubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib, lancar, dan merata.
  2. Faktor-faktor sosial, struktur, dan budaya setempat.
  3. Kebiasaan dalam pengelolaan sampah selama ini.

Tanpa adanya partisipasi masyarakat, semua program pengelolaan sampah (kebersihan) yang direncanakan akan sia-sia. Partisipasi masyarakat akan membangkitkan semangat kemandirian dan kerjasama diantara masyarakat akan meningkatkan swadaya masyarakat, yang pada gilirannya akan mengurangi kebutuhan sumber daya pemerintah.

D.Pengelolaan persampahan Secara Terpadu

Mecermati aspek permasalahan dalam pengelolaan sampah, untuk itu upaya-upaya yang harus dilakukan antara lain meliputi pemantapan kebijakan persampahan, penanganan sampah regional, memacu kearifan masyarakat terhadap fenomena persampahan, dan peningkatan teknologi ramah lingkungan.

 Kebijakan pemerintah

Permasalahan sampah perkotaan di Indonesia, telah muncul sejak dekade tahun 1990-an. Meski demikian, kebijakan strategis yang telah ditetapkan oleh pemerintah baru pada tahapan yang erat kaitannya dengan aspek teknis, yaitu: melakukan pengurangan timbulan sampah dengan menerapkan konsep 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle), dengan harapan tercapai “zero waste“. Padahal pada saat sekarang diperlukan kebijakan yang handal sebagai payung baik di tingkat pusat maupun daerah keterkaitannya dengan penanganan persampahan yang kian kompleks.

Pendekatan pengelolaaan persampahan yang semula didekati dengan wilayah administrasi, dapat diubah dengan melalui pendekatan pengelolaan persampahan secara regional. Pendekatan regional dimaksud dengan menggabungkan beberapa kota dan atau kabupaten dalam pengelolaan persampahan. Hal tersebut sangat menguntungkan, karena akan mencapai skala ekonomis baik dalam tingkat pengelolaan TPA, dan pengangkutan dari TPS ke TPA. Berbagai prinsip yang perlu dilakukan dalam menerapkan pelaksanaan pengelolaan persampahan secara regional ini adalah sebagai berikut:

  1. Menyusun peraturan daerah (Perda) bersama yang mengatur pengelolan persampahan. Peraturan tersebut berisi berbagai hal dengan mempertimbangkan aspek hukum dan kelembagaan, teknik, serta aspek keuangannya.
  2. Pemantapan kelembagaan dengan memisahkan peranan fungsi tupoksi yang jelas antara pembuat peraturan, pengatur/pembina dan pelaksana (operator), hingga optimalisasi kinerjanya dapat dievaluasi dan dinilai.
  3. Penetapan indikator kinerja berdasarkan aspek teknis, memberikan indikasi (1) seluruh timbunan sampah akan diangkat ke TPA dalam waktu 24 jam, (2) teknik pengangkutan sampah tidak menyebabkan pencemaran bau, (3) pengoperasian di TPA telah ditetapkan sistemnya (contoh sistem sanitary landfill), dan (4) pemanfaatan sampah sebagai sumber ekonomi melalui penerapan daur ulang, atau pemanfaatan untuk kompos.
  4. Adanya kesepakatan antar kabupaten/kota (regional) dalam kaitannya dengan restribusi persampahan, hingga alokasi antara dana yang dibebankan oleh pemerintah dan masyarakat berimbang.

 Sosialisasi penyadaran masyarakat

Fenomena persampahan tampaknya bukan hal yang sederhana, karena sepanjang ada kehidupan manusia permasalahan tersebut akan selalu timbul. Walaupun kebijakan persampahan telah tersedia, ditambah dengan bentuk kelembagaannya, serta indikator kinerja dan tetapan alokasi pendanannya baik yang bersumber dari APBD dan masyarakat, tampaknya belum merupakan jaminan mantapnya pengelolaan sampah secara terpadu dan berkelanjutan, apabila kesadaran masyarakat tidak dibangun. Hal tersebut mengingat bahwa keberhasilan penanganan sampah sangat ditentukan oleh ”niat kesungguhan masyarakat” yang secara sadar peduli untuk menanganinya. Atas dasar itu sosialisasi penyadaran masyarakat penting, baik melalui jalur formal maupun informal yang antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Penyadaran formal, diberikan kepada generasi muda di sekolah (SD, SLTP, dan SLA) melalui pemantapan kegiatan ”Krida” mingguan.
  2. Penyadaran informal, diberikan kepada masyarakat dalam kaitannya penanganansampah berbasis kesehatan lingkungan, untuk itu perlunya (1) penyadaran masyarakat, untuk menghargai terhadap alam lingkungannya, agar tidak lagi membuang limbah domestik (sampah padat dan limbah cair) ke bukan tempatnya, dan (2) masyarakat hendaknya mulai sadar dan berkiprah untuk memilah-milah sampah berdasarkan jenisnya, guna menghindari sumber-sumber penyakit menular, sebagai akibat dari limbah domestik yang cepat membusuk.

 Gambar 2. Bagan Alur Sampah IPTS/TPA

 Pemilihan jenis metodologi yang tepat perlu dipertimbangkan beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Proses yang digunakan haruslah ramah lingkungan;
  2. Biaya investasi tidak terlalu tinggi;
  3. Biaya operasinal dan perawatan pembuatan kompos cukup murah;
  4. Pengelolaan sampah di TPA

Terdapat paling tidak 5 cara yang dikenal secara umum dalam pengolahan sampah yaitu; (1) Open Dumps, yang mengacu pada cara pembuangan sampah pada area terbuka tanpa dilakukan proses apapun. (2) Landfills, adalah lokasi pembuangan sampah yang relatif lebih baik daripada open dumping dengan cara yaitu sampah yang ada di tutup dengan tanah kemudian dipadatkan dan setelah lokasi penuh maka lokasi landfill akan ditutup tanah tebal dan kemudian lokasi tersebut dijadikan tempat parkir. (3) Sanitary Landfils, yaitu menggunakan material yang kedap air sehingga rembesan air dari sampah tidak akan mencemari lingkungan sekitar, namun biaya sanitary landfill relatif lebih mahal. (4) Incenerator, yaitu dilakukan pembakaran sampah dengan terlebih dahulu dengan memisahkan sampah daur ulang, biasanya proses pembakaran sampah dilakukan alternatif terakhir atau lebih difokuskan pada penanganan sampah medis. (5) Pengomposan, yaitu proses biologis yang kemudian organisme kecil mengubah sampah organik menjadi pupuk.

Masalah-masalah yang dapat timbul akibat open dumping dan landfill yang tidak terkontrol adalah sebagai berikut :

  1. Lahan yang luas akan tertutup oleh sampah dan tidak dapat digunakan untuk tujuan lain.
  2. Cairan yang dihasilkan akibat proses penguraian dapat mencemari sumber air.
  3. Sungai dan pipa air minum mungkin teracuni karena bereaksi dengan zat-zat atau polutan sampah.

 F.Konsepsi Pengelolaan Persampahan Masyarakat Perkotaan

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka dilakukan penelusuran dan penggambaran model pengelolaan yang sudah ada dan sementara diterapkan. Selanjutnya dilakukan penelusuran terhadap model-model tersebut dengan menggunakan 3 (tiga) variabel analisis, yaitu kegiatan pewadahan ,pengumpulan dan pengangkutan. Berdasarkan analisis tersebut akan ditentukan model alternatif sebagai landasan dalam penyusunan rancangan kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan pewadahan, pengumpulan dan pengangkutan sampah. Dengan rancangan kebijakan tersebut, diharapkan bisa meningkatkan kualitas kesehatan dan produktifitas masyarakat yang pada akhirnya meningkatkan beban pemerintah dalam hal suibsidi pembiayaan kesehatan sehingga berkonstribusi dalam mewujudkan program kesehatan gratis bagi masyarakat.

 

  1. Sekilas info Kota Makassar

Kota Makassar adalah salah satu wilayah administratif yang setingkat dengan kabupaten di Sulawesi Selatan, terletak antara119º24’17’38” Bujur Timur dan 5º8’6’19” Lintang Selatan yang berbatasan dengan :

  • Sebelah utara dengan Kabupaten Maros
  • sebelah timur Kabupaten Maros
  • sebelah selatan Kabupaten Gowa dan
  • sebelah barat adalah Selat Makassar.

Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km2 yang meliputi 14 kecamatan, 143 kelurahan, 971 RW dan 4.789 RT. Kecamatan yang memiliki wilayah paling luas adalah Kecamatan Biringkanaya dengan luas area adalah 48,22 km2 atau 27,43persen dari luas Kota Makassar. Berikutnya adalah Kecamatan Tamalanrea dengan luas wilayah sebesar 31,84 km2 atau 18,11 persen dari luas Kota Makassar dan yang menempati urutan ketiga adalah Kecamatan Manggala 24,14 km2 atau 13,73 persen dari luas Kota Makassar. Sedangkan kecamatan yang memiliki luas wilayah paling kecil adalah Kecamatan Mariso dengan luas wilayah sebesar 1.82 km2 atau 1,04 persen dari luas Kota Makassar. Disusul dengan Kecamatan Wajo sebesar 1,99 km2 atau 1,13 persen dari luas Kota Makassar yang menempati urutan luas wilayah terkecil kedua dan Kecamatan Bontoala terkecil ketiga dengan luas wilayah sebesar 2,10 km2 atau 1,19 persen dari luas Kota Makassar. Untuk memperjelas penjelasan diatas berikut adalah tabel berikut :

Tabel 1.Luas Wilayah dan Persentase Terhadap Luas Wilayah

Menurut Kecamatan di Kota Makassar (km2)

Kode Wil

Kecamatan

Luas Area (Km2)

Persentase Terhadap Luas Kota Makassar (%)

010

Mariso

1,82

1,04

020

Mamajang

2,25

1,28

030

Tamalate

20,21

11,50

031

Rappocini

9,23

5,25

040

Makassar

2,52

1,43

050

Ujung Pandang

2,63

1,50

060

Wajo

1,99

1,14

070

Bontoala

2,10

1,19

080

Ujung Tanah

5,94

3,38

090

Tallo

5,83

3,32

100

Panakkukang

17,05

9,70

101

Manggala

24,14

13,73

110

Biringkanaya

48,22

27,43

111

Tamalanrea

31,84

18,11

7371

Makassar

175,77

100

Sumber : Kantor Badan Pertanahan Nasional(2011)

 Penduduk kota Makassar tahun 2010 adalah sebesar 1.272.349 jiwa yang terdiri dari 610.270 jiwa laki-laki dan 662.079 jiwa perempuan. Jumlah rumah tangga di Kota Makassar tahun 2009 mencapai 296.374 rumah tangga. Dengan Kecamatan Tamalate memiliki posisi nomor satu untuk jumlah penduduk terbesar di Kota Makassar yakni sebanyak 154.464 jiwa pada tahun 2009. Sementara Kecamatan Rappocini menempati posisi kedua dengan jumlah penduduk sebesar 145.090 jiwa pada tahun 2009, disusul oleh Kecamatan Tallo dengan jumlah penduduk sebesar 137.333 rumah tangga. Kecamatan yang memiliki jumlah rumah tangga terbesar di Kota Makassar adalah Kecamatan Biringkanaya dengan jumlah rumah tangga sebesar 35.684 rumah tangga. disusul dengan Kecamatan Tallo dengan jumlah rumah tangga sebesar 35.618 rumah tangga dan Kecamatan Tamalate terbesar ketiga dengan jumlah rumah tangga sebesar 32.904 rumah tangga. sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk terkecil dan jumlah rumah tangga terkecil adalah Kecamatan Ujung Pandang dengan jumlah penduduk adalah sebesar 29.064 jiwa dan jumlah rumah tangganya adalah sebesar 7.177 rumah tangga.

Laju pertumbuhan penduduk di Kota Makassar yang paling tinggi untuk periode 2000-2009 adalah Kecamatan Biringkanaya dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 3,57 persen per tahun. Sedang kecamatan yang memiliki laju pertumbuhan penduduk terkecil adalah Kecamatan Wajo dan Kecamatan Mamajang yakni sebesar 0,45 persen per tahun.   Berikut adalah tabel yang menunjukkan jumlah penduduk dan jumlah rumah tangga di Kota Makassar.

Tabel 2.Jumlah Penduduk, Laju Pertumbuhan Penduduk, Rumah Tangga dan

Rata-rata Anggota Rumah Tangga Tahun 2011.

Kode Wil

Kecamatan

Penduduk

Pertumbuhan Penduduk

Rumah Tangga

Rata-rata Anggota RT

2009

2010

2001-2010

010

Mariso

54.616

55.431

0,93

13.401

4,14

020

Mamajang

60.395

61.294

0,45

16.294

3,76

030

Tamalate

152.197

154.464

2,08

32.904

4,69

031

Rappocini

142.958

145.090

1,62

28.444

5,10

040

Makassar

82.907

84.143

0,54

15.949

5,28

050

Ujung Pandang

28.637

29.064

0,51

7.177

4,05

060

Wajo

35.011

35.533

0,45

11.347

3,13

070

Bontoala

61.809

62.731

1,09

14.140

4,44

080

Ujung Tanah

48.382

49.103

1,21

11.331

4,33

090

Tallo

135.315

137.333

1,94

35.618

3,86

100

Panakkukang

134.548

136.555

1,09

26.929

5,07

101

Manggala

99.008

100.484

2,98

24.658

4,08

110

Biringkanaya

128.731

130.651

3,57

35.684

3,66

111

Tamalanrea

89.143

90.473

1,15

22.498

4,02

Jumlah

1.253.657

1.272.349

1,34

296.374

5

Sumber : Makassar dalam angka 2011

Persebaran penduduk antar kecamatan relatif tidak merata. Hal ini nampak dari tabel 3, dimana Kecamatan Tamalate yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Kota Makassar atau 12,14 persen dari total penduduk namun luas wilayahnya hanya meliputi sekitar 11,50 persen dari total luas wilayah Makassar. Dilihat dari tingkat kepadatan penduduk, nampak pada Tabel 5, bahwa Kecamatan Makassar yang memiliki kepadatan penduduk yang tertinggi yaitu 33.390 jiwa per km2 sedangkan Kecamatan Biringkanaya memiliki kepadatan penduduk terendah yaitu 2.709 jiwa per km2.

Tabel 3..Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk

                               Menurut Kecamatan di Kota Makassar 2011

Kecamatan

Luas Area (Km2)

%

Jumlah Penduduk

%

Jumlah Rumah Tangga

Kepadatan Penduduk (Org/Km2)

Mariso

 

1.82

1,04

55.431

4.36

13.401

30.457

Mamajang

2.25

1,28

61.294

4.82

16.294

27.242

Tamalate

 

20.21

11,50

154.464

12.14

32.904

7.643

Rappocini

9.23

5,25

145.090

11.40

28.444

15.719

Makassar

2.52

1,43

84.143

6.61

15.949

33.390

Ujung Pandang

2.63

1,50

29.064

2.28

7.177

11.051

Wajo

 

1.99

1,14

35.533

2.79

11.347

17.856

Bontoala

 

2.1

1,19

62.731

4.93

14.140

29.872

Ujung Tanah

5.94

3,38

49.103

3.86

11.331

8.266

Tallo

 

5.83

3,32

137.333

10.79

35.618

23.556

Panakkukang

17.05

9,70

136.555

10.73

26.929

8.009

Manggala

 

24.14

13,73

100.484

7.90

24.658

4.163

Biringkanaya

48.22

27,43

130.651

10.27

35.684

2.709

Tamalanrea

31.84

18,11

90.473

7.11

22.498

2.841

Total

 

175.77

100

1.272.349

100

296.374

7.239

Sumber : Makassar Dalam Angka 2011

Sistem Pengelolaan Sampah Di Kota Makassar

  1. Sub Sistem Kelembagaan

Pemerintah Kota Makassar mempunyai institusi yang memiliki wewenang dan tanggung jawab penuh dalam menangani masalah yang berkaitan dengan lingkungan, seperti sampah, air limbah, penghijauan dan taman kota, yaitu Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar. Pembentukan Dinas Pertamanan dan Kebersihan di Kota Makassar berdasarkan keputusan Walikota Makassar yang dituangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2009, tanggal 7 Mei 2009, tentang Pembentukan Dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah Kota Makassar.

Salah satu tugas Dinas Kebersihan Kota Makassar adalah menyusun rumusan program pembinaan, pengembangan, dan koordinasi serta kerjasama dengan pihak terkait dibidang persampahan termasuk didalamnya menyangkut peran serta masyarakat. Sedangkan fungsinya adalah merencanakan dan memantau pengelolaan sampah diantaranya pembersihan dan pengangkutan sampah. Saat ini, jumlah personil di Dinas Kebersihan sebanyak 124 orang.

Dinas Pertamanan dan Kebersihan membawahi 4 bidang dan 1 Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD), yang menangani masalah persampahan yaitu Bidang Pengembangan Kapasitas Kebersihan, yang mempunyai tugas mengurus pembinaan Kelembagaan Masyarakat, pengembangan partisipasi, penyuluhan dan pembinaan teknis, serta Bidang Penataan kebersihan Kota yang mengurusi masalah pengembangan teknik pengelolaan kebersihan kota, monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebersihan kota, dan pemeliharaan peralatan dan alat berat.

 Sub Sistem Teknik Operasional

Sampai saat ini Bagian Kebersihan, Dinas Pertamanan dan Kebersiah Kota Makassar melayani semua kelurahan yang ada di Kota Makassar, sebanyak 145 kelurahan yang tersebar di 14 kecamatan. Akan tetapi tingkat pelayanan yang diberikan berbeda-beda, tergantung kondisi wilayahnya. Tingkat pelayanan yang rendah ada di daerah-daerah yang sulit untuk dijangkau dengan sarana prasarana persampahan yang ada, seperti di daerah bantaran sungai atau daerah yang terletak di pinggiran kota.

Berdasarkan luas daerah pelayanan, jangkauan pelayanan pengelolaan sampah di Kota Makassar hanya mencapai sekitar 70% dari luas Kota Makassar. Pada tahun 2011 jumlah timbulan sampah di Kota Yogyakarta mencapai 3781,23 m3/hari. Dari jumlah sampah tersebut, sampah yang terkelola dengan sistem yang ada sebanyak 1.334 m3/hari atau 85% dari total volume timbulan sampah, sedangkan yang tertangani adalah sebesar 3373,42 m3 per hari. Hal tersebut dapat lebih jelas terlihat pada tabel berikut.

 Tabel 4.Timbulan Sampah Di Kota Makassar Tahun 2011

No

Lokasi/ Location

Timbulan

(m3/hari)

Persentase

Trhdp Total

Timbulan (%)

Sampah

Terangkut

(m3/hari)

Persentase

Trhdp Total

Timbulan (%)

1

Pemukiman:

  1. Mewah
  2. Menengah
  3. Sederhana

 

264,52

394,61

1268,14

 

7,00

10,44

33,54

 

253,25

349,70

1105,56

 

95,74

88,62

87,18

2

Fasilitas kota:

  1. Pasar

b.Kaw. Perniagaan

c.Kaw. Perkantoran

d.Kaw. Pendidikan

  1. Terminal
  2. Pelabuhan
  3. Hotel
  4. Rumah sakit
  5. Sarana ibadah

 

594,71

137,41

115,04

79,83

96,26

98,00

86,74

88,65

22,67

 

15,73

3,63

3,04

2,11

2,55

2,59

2,29

2,34

0,60

 

528,64

123,16

110,83

72,10

86,10

91,38

80,21

77,00

20,74

 

88,89

89,63

96,34

90,32

89,45

93,24

92,47

86,68

91,50

3

Kawasan Industri

78,98

2,09

80,21

92,47

4

Perairan terbuka

283,52

7,50

245,76

86,68

5

Pantai Wisata

38,15

1,01

36,17

94,80

6

Sapuan jalan & taman

109,00

2,88

100,55

92,25

7

Lain-lain

25,00

0,66

22,09

88,34

Total sampah kota

3.781,23

100

3.373,42

89,21

Sumber: Dinas Pertamanan Dan Kebersihan Kota Makassar (2011)

Kondisi timbulan sampah ini terdiri dari beberapa komposisi yang dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5.

Komposisi Sampah Di Kota Makassar Tahun 2011

No

Komposisi Sampah

Volume (m3)

Prosentase

1

Sampah Organik / Organic

2.910,79

76,98%

2

Kertas, Karton / Paper, Carton

322,16

8,52%

3

Plastik / Plastic

366,02

9,68%

4

Metal, Kaleng, Besi, Aluminium / Metal

81,67

2,16%

5

Karet, Ban / Rubber

55,21

1,46%

6

Kaca / Glass

29,87

0,79%

7

Kayu / Wood

11,72

0,31%

8

Lain-lain / Others

3,78

0,10%

Jumlah

3.781,23

100,00%

Sumber: Dinas Pertamanan Dan Kebersihan Kota Makassar (2011)

 Pewadahan dan pengumpulan

Tahap pertama operasional pengelolaan sampah adalah pewadahan pada tingkat sumber timbulan (masyarakat). Pewadahan dimaksudkan untuk mencegah sampah berserakan dan mempermudah proses pengumpulan. Tahap pewadahan dan pengangkutan sampah dari sumber hingga tempat pembuangan sampah sementara (TPSS) di Kota Makassar adalah tanggung jawab setiap sumber sampah. Pada prakteknya, masyarakat menggunakan jasa tenaga penggerobak sampah untuk memindahkan sampahnya dari rumah tangga ke TPSS Wadah yang dipakai memiliki berbagai jenis dan bentuk, antara lain tong sampah, bak permanen, dan kantong plastik.

Dari hasil observasi diketahui bahwa pewadahan pada umumnya dilakukan tanpa pemisahan jenis sampah organik dan anorganik, namun sudah ada yang menyisihkan barang bekas untuk dijual atau diserahkan pada pengumpul barang-barang bekas. Pemerintah kota sebenarnya sudah berusaha untuk menyediakan wadah sampah terpisah di pinggir-pinggir jalan untuk pejalan kaki. Akan tetapi kurangnya edukasi kepada pejalan kaki menyebabkan mereka masih mencampur antara sampah organik dan sampah anorganiknya.

Tahap berikut setelah pewadahan adalah tahap pengumpulan. Operasional pengumpulan sampah rumah tangga dari sumber yang terjadi di Kota Makassar dilakukan dengan banyak cara. Berdasarkan sarana pemindahan yang digunakan, seperti: TPSS, container, transfer depo, dikenal beberapa pola operasional pengumpulan / pemindahan yaitu: pola individual langsung, pola individual tidak langsung, pola komunal langsung dan pola komunal tidak langsung.

Gambar 3.Skema Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah di Kota Makassar

Sumber : Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar, 2011

Operasional pengumpulan yang ada pada suatu kawasan pelayanan merupakan kombinasi pola-pola diatas, sesuai dengan sumber sampahnya. Sistem TPSS adalah yang paling banyak dipakai saat ini. Akan tetapi untuk operasionalnya tidak mudah, karena membutuhkan sarana pengambilan sampah dan tenaga kerja yang relatif lebih banyak. Untuk saat ini, sistem yang dianjurkan adalah pola door to door dan jemput bola karena operasionalnya mudah, murah, dan cepat. Hanya saja dalam sistem ini perlu kerjasama dari petugas dan masyarakat untuk mentaati jam pengambilan sampah yang sudah ditetapkan.

Tabel 6

Pola Operasional Persampahan Menurut Sampah

Sumber Sampah

Pola Pengumpulan dan Pemindahan Sampah

TPPS

  1. Depo

Container

Door to door

Jemput Bola

Permukiman

Pasar

Pertokoan

Perkantoran

Penyapuan Jalan

x

x

x

x

x

x

X

x

x

x

x

x

x

x

 

x

x

 

     Sumber : DPK Kota Makassar, 2011

 Berikut ini dipaparkan karakteristik sarana pemindahan sampah yang ada saat ini di Kota Makassar :

  • Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS), yaitu bak dengan konstruksi dari bata tanpa atap yang diberi lubang pintu dengan atau tanpa pintu. Ukuran rata-rata 3 m3. Penempatannya diupayakan dekat dengan sumber timbulan sampah. Penggunaan TPSS pada umumnya tidak disukai karena alasan lingkungan, estetika, dan operasional yang tidak praktis (perlu waktu yang relatif cukup lama dan banyak tenaga).
  • Gambar 4Bentuk TPSS di Kota Makassar

Sumber: Dok. DLH Kota Makassar, 2011

 Container, yaitu bak dengan konstruksi dari kayu, besi atau baja yang diberi pintu dan jendela, dengan volume 6 m3. Karakteristik container adalah : cocok digunakan pada sumber sampah yang besar, dapat diletakkan pada banyak tempat dan dapat dipindah-pindahkan, memerlukan lahan penempatan yang luas, operasional pemindahan dan pengangkutan mudah dan cepat.

 Gambar 5

Container di Kota Makassar

Sumber: Dok. DLH Kota Makassar, 2011

Dalam prakteknya, sarana ini belum digunakan dengan benar. Pemindahan sampah dari gerobak masih sulit dilakukan karena desain bak yang kurang nyaman digunakan. Sehingga petugas membongkar sampah di luar bak, akibatnya lokasi container menjadi kotor dan tidak sehat. Diperlukan evaluasi untuk perbaikan rancang bangun container.

  • Transfer Depo, yaitu tempat pertemuan alat pengumpul dan truck pengangkut dan bukan TPSS. Ada 3 tipe transfer depo berdasarkan luas lahan yang digunakan, yaitu Tipe I (luas lahan 200 m2), Tipe II (luas lahan 50/100 m2) dan Tipe III (luas lahan 10-20 m2).

Jenis transfer depo yang ada di Kota Makassar, menurut ukurannya termasuk tipe II, namun beberapa depo juga dilengkapi dengan kantor/gudang seperti depo tipe I. Pada umumnya depo-depo tersebut belum berfungsi sebagaimana mestinya dan lebih berfungsi sebagai TPSS, hal ini disebabkan:

  • Pada transfer depo dengan sistem container, sampah banyak menumpuk di luar karena operasional pemindahan sampah dari alat pengumpul (gerobak) ke dalam bak tidak praktis, sehingga petugas cenderung hanya membongkar sampah di luar bak saja. Hambatannya adalah pada desain container yang tidak nyaman digunakan untuk pemindahan sampah.
  • Pada transfer depo dengan sistem tunggu dump truck, sampah banyak menumpuk karena koordinasi waktu pemindahan antara petugas pengumpul sampah dan kendaraan kurang baik.

Sistem yang fleksibel untuk diterapkan pada saat ini adalah sistem dengan container dan arm-roll truck, dengan catatan telah dilakukan modifikasi pada desain dan landasan container.

 

  1. Pengangkutan sampah

Keberhasilan penanganan sampah bisa dilihat dari efektivitas dan efisiensi pengangkutan sampah dari sumber ke TPSA. Pengangkutan tidak boleh ditunda karena hal ini akan menambah beban pengangkutan berikutnya dan beresiko menimbulkan gangguan kenyamanan lingkungan di sekitar tempat penyimpanan. Tahap ini istimewa karena dibutuhkan banyak porsi biaya, waktu, tenaga, koordinasi, evaluasi dan perencanaan terhadap jenis sarana, jadwal operasi, serta rute pengangkutan merupakan hal penting dalam pengangkutan. Ada beberapa jenis sarana pengangkutan sampah yang digunakan di Kota Makassar, yaitu:

  • Truck biasa. Kendaraan jenis ini masih digunakan di Kota Makassar.

Pemakaiannya tidak praktis karena proses bongkar muat sampah perlu waktu lama dan tenaga manusia lebih banyak. Kelebihannya adalah pada kapasitas tampung yang besar (16 m3) dan harga yang relatif lebih murah dari jenis lainnya.

Operasionalisasi1-2 rit/hari.

  • Dump Truck. Kendaraan ini merupakan modifikasi dari truck biasa, bak truck dapat digerakkan secara hidrolik sehingga proses bongkar sampah bisa fektif, sedangkan lama operasionalisasi sama dengan truck biasa. Bak terbuat dari baja dengan kapasitas bervariasi 8 m3, harganya relatif lebih mahal dari truck biasa. Kapasitas operasional adalah 2-3 rit perhari. Untuk jenis kendaraan ini digunakan pada pola operasional sistem door to door, jemput bola, transfer depo, dan juga sistem TPSS atau container yang berfungsi sebagai TPSS.
  • Arm-Roll Truck. Yaitu truck tanpa bak dengan lengan hidrolik untuk menggerakkan Dengan kendaraan ini, operasi pengangkutan dan pembuangan sampah menjadi lebih praktis. Bentuk dan ukurannya bervariasi menurut container. Harga kendaraan relatif lebih mahal dari dump truck. Kapasitas operasional adalah 3-4 rit perhari, tergantung pada jarak pengangkutan. Jenis kendaraan ini digunakan pada pola operasional sistem transfer depo dan container.
  • Lain-lain (mobil pick-up, motor roda 3 dan sepeda sampah. Sarana pengangkutan lainnya yang biasa digunakan untuk pengangkutan sampah di Kota Makassar adalah mobil jenis pick-up, motor roda 3 dan sepeda sampah, yang biasanya digunakan secara insidental dan untuk melayani sampah pada wilayah yang sulit dijangkau kendaraan pengangkut sampah pada umumnya.

 Tabel 7

Sarana dan Prasarana Persampahan

Prasarana & Sarana

Satuan

Volume

Keterangan

TPA

Ha

33

  • Lokasi di Tamangapa
  • Jarak 14 km dari pusat kota
  • Sistem Controlled Landfill

Buldozer

Unit

3

-

Armroll Truck 6 m3

Unit

51

-

Dump Truck

Unit

47

-

Container 6 m3

Unit

168

-

Sumber : Laporan Profil Minasamaupata.

 Sistem Pembuangan Sampah

Sistem pengelolaan sampah di Kota Makassar berakhir di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPSA). Sampah dari Kota Makassar, baik sampah organik maupun sampah anorganik, bahkan sampah B3 (Bahan Buangan Berbahaya), dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA). TPSA berlokasi di Kelurahan Tamangappa, Kecamatan Manggala yang berjarak ±20 Km dari pusat Kota Makassar. TPSA ini digunakan dan dikelola bersama antara Pemerintah Kota Makassar ( dengan ?).

 Sub Sistem Pembiayaan Dan Retribusi

Sumber dana untuk kegiatan pengelolaan sampah di Kota Makassar berasal dari APBN, APBD, dan swasta. Dana yang berasal dari APBN pada umumnya digunakan untuk pengadaan barang/investasi, misalnya pengadaan jembatan timbang di TPSA, dump truck, arm-roll dan incenerator. Dana yang berasal dari APBD, pada umumnya digunakan untuk biaya operasional/pemeliharaan rutin. Dana dari swasta pada umumnya berwujud sumbangan peralatan kebersihan, seperti gerobag sampah dan tong sampah.

Besarnya biaya operasional pengelolaan sampah Kota Makassar dari tahun 2005 – 2011 seperti tercantum pada tabel dan grafik berikut ini:

Tabel 8

Biaya Operasional Pengelolaan Sampah di Kota Makassar,

tahun 2005-2011

Tahun

Biaya operasional

Pertumbuhan buaya operasional

2005

2.683.950.000

-

2006

3.133.200.000

17%

2007

3.462.540.000

11%

2008

3.670.440.000

6%

2009

4.122.530.000

12%

2010

4.670.580.000

13%

2011

5.073.069.000

9%

       Sumber : DPK Kota Makassar, 2011

Dari tabel tersebut di atas, terlihat bahwa biaya operasional pengelolaan sampah di Kota Makassar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Rata-rata pertambahan kenaikan biaya pengelolaan sampah adalah sebesar 11,25% per tahun.

Besarnya biaya pungutan retribusi pengelolaan sampah di Kota Makassar didasarkan pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Makassar tentang Retribusi Kebersihan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2011 seperti tercantum pada tabel dan grafik berikut ini:

Tabel 9

Pendapatan Retribusi Sampah Kota Makassar

Tahun 2005-2011

Tahun

Biaya operasional

Pertumbuhan buaya operasional

2005

340.370.000

-

2006

372.110.000

9,33

2007

433.240.000

16,43

2008

700.440.000

61,67

2009

700.450.000

0,00

2010

831.770.000

18,75

2011

959.426.000

15,35

             Sumber : DPK Kota Makassar, 2011

Gambar 7Pendapatan Retribusi Sampah di Kota Makassar Tahun 2005 – 2011

Sumber: DPK Kota Makassar, 2011, diolah

Dari tabel dan grafik tersebut di atas, terlihat bahwa pendapatan dari retribusi pengelolaan sampah di Kota Makassar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Rata-rata pertambahan kenaikan pendapatan dari retribusi pengelolaan sampah adalah sebesar 21,25% per tahun.

Jika dibandingkan, rata-rata jumlah biaya operasional dibandingkan dengan retribusi yang diperoleh, tergambar dalam grafik berikut ini :

Gambar 8

Sumbangan Retribusi terhadap Biaya Pengelolaan Sampah

di Kota Makassar Tahun 2005 – 2011

Sumber: DPK Kota Makassar, 2011, diolah

Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa rata-rata sumbangan retribusi terhadap biaya pengelolaan sampah sejak tahun 2005 sampai 2011, hanya 16%. Sedangkan sisanya sebesar 84 % berasal dari anggaran Pemerintah. Sehingga dalam pengelolaan sampah di Kota Makassar, hasil retribusi memiliki kontribusi yang relatif kecil dan tidak dapat diharapkan sebagai sumber anggaran utama pengelolaan sampah.

Pelaksanaan penarikan retribusi pengelolaan sampah di Kota Makassar dilaksanakan secara langsung dari pelanggan melalui masing-masing RT/RW, kemudian dari RT/RW diserahkan kepada Dinas Pertamanan dan Kebersihan untuk daerah permukiman. Khusus untuk daerah komersil dan lainnya dibayarkan langsung kepada petugas retribusi dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan.

 

  1. Sub Sistem Regulasi

Sistem pengelolaan persampahan di Kota Makassar merujuk pada Perda Nomor 14 Tahun 1999 tentang Retribusi Pelayan Persampahan. Dalam Perda tersebut, retribusi untuk rumah tangga dikenakan retribusi Rp. 3.000 per bulan, untuk selanjutnya ditetapkan bervariasi antara Rp. 8.500 hingga Rp.15.000 per bulan. Penentuan nilai retribusi dilakukan berdasarkan volume sampah yang dihasilkan. Selain itu, nilai retribusi disesuaikan dengan kawasan hunian, misalnya permukiman elit dikenakan retribusi sampah Rp. 50.000 per bulan. Sementara itu,untuk rumah atau toko dalam kawasan pergudangan, nilai retribusi yang lebih tinggi, yakni Rp. 60.000 per bulan. Kenaikan retribusi sampah dinilai memberatkan masyarakat karena tidak sesuai kualitas pelayanan.

Hal tersebut secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa lemahnya pemerintah dalam hal pelayanan, pasalnya, sampah di permukiman kerap tidak diangkut petugas. Meski Pemkot menaikkan retribusi sampah, hal tersebut tidak menjamin adanya kenaikan kualitas pelayanan khususnya angkutan sampah. Dengan demikian, kenaikan retribusi pajak hanya merupakan salah satu indikator dari model untuk memperbaiki kinerja dan manajemen pengelolaan sampah yang terapkan oleh Dinas Pertamanan dan Kebersihan di Kota Makasar.

Sub Sistem Peran Serta Masyarakat

Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah di Kota Makassar dalam hal pembayaran retribusi cukup bagus. Akan tetapi peran serta dalam hal keterlibatan dalam teknis operasional pengelolaan sampah masih sangat kurang. Hal ini antara lain dapat dilihat dari kurangnya kedisiplinan warga dalam menaati jadual/jam pembuangan sampah. Selain itu, sebagaimana diamanatkan dalam pasal 11 Perda Kota Makassar nomor 14 tahun 1999 tentang Pengelolaan Sampah, nyatanya masih sangat sedikit masyarakat yang mau melaksanakan pemilahan sampah di tingkat sumber (rumah tangga). Hal tersebut menyebabkan volume sampah yang harus dikelola Pemerintah sangat besar, yang tentunya membutuhkan biaya yang sangat besar pula.

Hambatan dalam pelaksanaan peran serta masyarakat dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hambatan dari dalam (internal) dan hambatan dari luar (eksternal). Hambatan dari dalam masyarakat adalah apakah masyarakat memang ingin terlibat dan mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan mereka. Selain itu juga dari kondisi dan karakteristik masyarakat itu sendiri, misalnya tingkat perekonomian, tingkat pendidikan dan unsur kepercayaan. Hambatan dari luar masyarakat terutama muncul karena belum adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat

Hambatan utama dalam partisipasi adalah kemampuan membayar masyarakat, pola kehidupan masyarakat dan birokrasi pengaduan pelayanan. Masyarakat dengan kondisi kemampuan keuangan yang terbatas, relatif kecil harapan agar mereka dapat berpartisipasi. Heterogenitas masyarakat dalam ras, etnik, agama maupun politis mempengaruhi sikap mereka untuk ikut berpartisipasi ataukah tidak. Birokrasi yang panjang dan rumit menjadi penghambat masyarakat untuk berpartisipasi.

I.Kajian Hasil Penelitian Syahriar Tato tahun 2013 tentang Sarana dan Prasarana Pengelolaan Sampah kota makassar

Kondisi sarana prasarana pengelolaan sampah di Kota Makassar yang dianalisis meliputi sarana prasarana pewadahan, pengumpulan dan pengangkutan.

Jenis wadah yang digunakan untuk menampung sampah, baik di daerah permukiman maupun non permukiman di Kota Makassar sebagian besar disediakan oleh masyarakat sendiri, kecuali untuk wadah sampah di jalan protocol dan fasilitas umum, sebagian besar disediakan oleh Pemerintah. Jenis wadah sampah yang digunakan yaitu keranjang bambu, tong (bin), bak pasangan batu bata, kantong plastik dan lubang sampah atau penimbunan. Khusus untuk lubang sampah sekaligus berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah.

Menurut Thobanoglous (1993), sistem pewadahan harus memperhatikan jenis sarana pewadahan yang digunakan, lokasi penempatan sarana pewadahan, keindahan dan kesehatan lingkungan. Menurut SK SNI T-13-1990-F, persyaratan sarana pewadahan adalah tidak mudah rusak dan kedap air kecuali kantong plastik atau kertas, mudah diperbaiki, ekonomis/mudah diperoleh atau dibuat oleh masyarakat, serta mudah dan cepat dikosongkan.

Adapun kajian terhadap masing-masing jenis pewadahan yang ada di Kota Makassar adalah sebagai berikut:

  1. Tong (Bin)

Penggunaan wadah dari tong besi ataupun plastik, juga digunakan dalam pewadahan sampah di Kota Makassar. Wadah ini masuk kategori cukup baik, terutama yang terbuat dari plastik. Hal ini karena tong ini mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah rusak serta kedap air, harganya ekonomis serta mudah diperoleh. Karena biasanya tong ini menggunakan penutup, maka sampah yang ada tidak akan menjadi media penyebaran penyakit sehingga dapat memenuhi aspek kesehatan dan dari sisi estetika dapat memenuhi sisi keindahan lingkungan. Penggunaan tong sampah juga memudahkan operasional pengumpulan sampah oleh petugas karena mudah dikosongkan. Tong sampah yang terbuat dari besi juga mempunyai kekurangan yaitu mudah berkarat yang menyebabkan kerusakan dan sulit atau bahkan tidak dapat diperbaiki.

Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya, wadah dari tong sampah terutama yang terbuat dari plastik sangat dianjurkan.

  1. Bak terbuka (Pasangan batu bata)

Salah satu wadah sampah yang sering digunakan oleh masyarakat di Kota Makassar adalah menggunakan bak sampah dari pasangan batu bata, yang pada umumnya digunakan pada daerah permukiman. Disamping sebagai wadah individual, beberapa bak sampah juga merupakan wadah komunal sebelum sampah diangkut ke TPS atau kontainer.

Penggunaan bak pasangan batu bata sebenarnya mempunyai kelebihan karena sudah memenuhi aspek kesehatan dan keindahan lingkungan. Hal ini karena sampah tidak mudah berserakan dan tidak menjadi sarang penyakit. Disamping itu bak pasangan batu bata mempunyai keuntungan tidak mudah rusak dan kedap air.

Namun demikian, wadah jenis ini mempunyai kekurangan yaitu sulit dioperasionalkan serta membutuhkan waktu yang lebih lama dalam operasional pengumpulan sampah. Selain itu, seringkali bak sampah ini disamping untuk menampung sampah juga digunakan untuk membakar sampah oleh masyarakat. Hal ini terjadi karena waktu pengambilan sampah oleh petugas terlalu lama sehingga sampah menumpuk dan busuk. Dari sisi harga bak jenis ini sebenarnya juga kurang ekonomis. Dari beberapa dan kelebihan dan kekurangan sistem ini, maka penggunaan bak batu bata kurang dianjurkan.

  1. Kantong plastik

Bagi masyarakat yang tidak mempunyai wadah/tempat sampah yang permanen biasanya menggunakan kantong plastik sebagai wadah sampah untuk diambil langsung oleh petugas pengumpul sampah. Penggunaan kantong plastik di Kota Makassar, biasanya digunakan pada daerah permukiman maupun non permukiman.

Kantong plastik mempunyai keunggulan yaitu dari sisi ekonomis, karena harganya murah serta mudah diperoleh. Disamping itu mudah dalam operasional pengumpulan/pengambilan sampah oleh petugas. Namun dari sisi kesehatan dan keindahan, wadah ini kurang memenuhi karena mudah terkoyak sehingga menyebabkan sampah mudah berserakan.

Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangannya maka penggunaan kantong plastik ini kurang dianjurkan.

  1. Lubang tanah/penimbunan

Selain menggunakan wadah seperti tersebut di atas, masyarakat Kota Makassar yang tidak mempunyai wadah sampah tetapi mempunyai lahan yang cukup luas, membuat lubang di tanah sebagai sarana pembuangan sampah. Penggunaan lubang tanah maupun penimbunan ini, merupakan sarana pengelolaan sampah secara langsung (on site) oleh masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan sampah. Biasanya lubang sampah ini juga digunakan sebagai sarana pembakaran sampah.

Penggunaan sistem ini baik apabila digunakan pada daerah yang memiliki kepadatan kurang dari 50 jiwa per hektar. Hal ini karena daerah tersebut memiliki daya dukung lingkungan yang masih cukup tinggi, namun apabila digunakan pada daerah yang cukup padat dapat mencemari lingkungan.

Hasil Analisis Sarana Pewadahan

Berdasarkan perbandingan di atas, maka untuk lebih jelasnya hasil rangkuman analisis sarana pewadahan yang ada di Kecamatan Panakukang (sample) Kota Makassar dapat dilihat pada tabel berikut :

 

Tabel 10

Rangkuman Analisis Sarana Pewadahan

No

PEWADAHAN

KEKURANGAN

KELEBIHAN

1

Tong(Bin)

Tong dari besi mudah berkarat dan rusak

Tidak mudah rusak (untuk tong plastik), harga ekonomis, mudah diperoleh, memenuhi aspek kesehatan, mudah dioperasionalkan.

2

Bak terbuka

Sulit dikosongkan, harga kurang ekonomis

Memenuhi aspek kesehatan,

3

Kantong plastik

Mudah terkoyak, kurang memenuhi aspek kesehatan dan keindahan

Harga murah, mudah diperoleh, mudah untuk operasional pengumpulan.

4

Penimbunan

Membutuhkan lahan tersendiri

Cocok pada daerah kepadatan rendah.

Sumber: Hasil analisis tahun 2013

Jadi berdasarkan karakteristik penggunaan sarana pewadahan yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar tersebut, maka dapat disimpulkan penggunaan wadah dari tong plastik atau besi lebih banyak mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis wadah yang lain. Oleh karena itu, penggunaannya cukup tepat untuk mendukung pengelolaan sampah di Kota Makassar.

Pengumpulan dan Pemindahan

Dalam analisis sarana dan prasarana pengumpulan sampah ini, meliputi peralatan pengumpulan dan sarana Tempat Penampungan Sementara/TPS. Dari hasil pengamatan lapangan, peralatan/kendaraan pengumpulan sampah yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar terdiri dari becak sampah dan gerobak sampah. Pola yang digunakan dalam pengumpulan sampah menggunakan gerobak sampah dan becak sampah tersebut, adalah pola pengumpulan tak langsung. Dengan pola ini, sampah dikumpulkan dengan menggunakan gerobak atau becak sampah untuk ditampung sementara ke dalam TPS terdekat atau transfer depo sebelum di bawa ke TPA.

  1. Peralatan pengumpulan sampah yang tersedia

Peralatan pengumpulan sampah yang digunakan untuk operasional pengumpulan sampah adalah becak sampah, gerobak sampah dan motor sampah.. Becak sampah yang ada saat ini adalah milik pemerintah yang kondisinya cukup baik dengan volume 1 m3, sehingga tidak terlalu berat dan mudah dioperasionalkan. Meskipun harganya lebih mahal dibandingkan dengan gerobag sampah, penggunaan becak sampah ini memiliki jangkauan pelayanan yang luas sehingga sangat baik digunakan sebagai peralatan pengumpulan karena lebih efisien.

Gerobak sampah yang biasa digunakan sebagai peralatan pengumpulan sampah yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar adalah hasil swadaya masyarakat dan pemerintah kelurahan setempat bukan dari Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar. Namun demikian, penggunaan gerobak ini mempunyai jangkauan pelayanan yang rendah karena kurang cepat dalam operasionalnya. Hal ini menyebabkan penggunaan gerobak sampah kurang efisien baik dari segi waktu maupun tenaga.

  1. Sarana pemindahan/tempat penampungan sementara

Sarana pemindahan atau Tempat Penampungan Sampah (TPS) yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar terdiri dari 2 jenis yaitu TPS pasangan batu bata dan kontainer. Dari hasil pengamatan di lapangan, sebagian besar TPS yang ada adalah TPS pasangan batu bata yang berukuran 1-9 m3.

Dari observasi lapangan, TPS jenis ini sering dijadikan sebagai tempat pembakaran sampah oleh masyarakat. Hal ini karena frekuensi pengangkutan sampah dari TPS ke TPA cukup lama atau sekitar 3 hari sekali. Akibat dari frekuensi pengangkutan yang cukup lama tersebut maka sampah menjadi menumpuk, mudah berserakan dan menyebarkan bau busuk.

TPS batu bata juga mempunyai kekurangan, yaitu sulit dalam operasional pengangkutan sampah dengan menggunakan dump truck untuk di bawa ke TPA Tamangapa. Hal ini karena untuk memindahkan sampah dari TPS ke dalam truk memerlukan tenaga yang banyak serta membutuhkan waktu yang lama sehingga menjadi kurang efisien. Namun demikian, TPS dari bak terbuka ini mempunyai harga yang ekonomis dan tahan lama. Menurut Hartono (1995), penggunaan TPS pasangan jenis batu batu sudah tidak dianjurkan lagi.

TPS yang berupa kontainer yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar hanya ada masih sangat minim. TPS dari kontainer mempunyai kelebihan yaitu mudah dioperasionalkan dan tidak membutuhkan jumlah tenaga yang banyak, karena untuk mengangkat kontainer cukup menggunakan alat mekanik. Penggunaan kontainer ini sangat dianjurkan karena di samping mudah dipindahkan. Karena bentuknya yang memiliki penutup maka memenuhi syarat kesehatan.

Dari pengamatan lapangan, penggunaan kontainer ini menjadi kurang efisien, karena masih banyak sampah yang berserakan diluar kontainer, akibat perilaku cara membuang sampah oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan pada saat pengambilan kontainer, petugas tetap harus membersihkan dan mengumpulkan sampah yang berserakan di luar kontainer sehingga menjadi tidak efisien.

Rangkuman analisis sarana pengumpulan dan pemindahan

Adapun rangkuman analisis sarana prasarana pengumpulan dan pemindahan sampah di Kecamatan Panakukang (sample) Kota Makassar adalah sebagaimana tabel berikut ini:

Tabel 11

Rangkuman Analisis Sarana dan Prasarana

Pengumpulan dan Pemindahan

No

PEWADAHAN

KEKURANGAN

KELEBIHAN

1

Gerobak sampah

Tidak mempunyai jangkauan pelayanan   luas, kurang efisien

Mudah dioperasikan

2

Becak sampah

Harga lebih mahal

Mempunyai jangkauan pelayanan yang luas, mudah dioperasikan, dan lebih efisien dibandingkan gerobak sampah.

3

TPS Batu Bata

Sulit dioperasionalkan dan membutuhkan tenaga pengangkutan yang banyak.

Tahan lama

4

TPS Kontainer

Mudah terkoyak, kurang memenuhi aspek kesehatan dan keindahan

Memenuhi aspek kesehatan, Mudah

dioperasionalkan, tidak membutuhkan tenaga yang banyak, mudah dipindahkan.

Sumber: Hasil analisis data tahun 2013

 Berdasarkan beberapa analisis sarana prasarana pengumpulan dan pemindahan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan becak sampah lebih mempunyai banyak keuntungan dan lebih efisien dibandingkan dengan gerobak sampah, sehingga penggunaan becak sampah yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar sudah tepat.

Dari penggunaan TPS yang ada saat ini, sistem kontainer mempunyai banyak kelebihan dibanding TPS batu bata, sehingga dapat disimpulkan penggunaan kontainer sudah tepat untuk Kecamatan Panakukang Kota Makassar.

 Pengangkutan

Pola pengangkutan sampah yang diterapkan di Kecamatan Panakukang Kota Makassar saat ini menggunakan dua sistem yaitu sistem pengangkutan sampah menggunakan dump truck dan sistem pengangkutan sampah dari kontainer menggunakan arm roll truck.

Kendaraan dump truck saat ini digunakan untuk mengangkut sampah yang ada di transfer depo (tempat pemindahan dari gerobag sampah ke dump truck) maupun dari TPS batu bata serta sistem door to door dari daerah pertokoan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, untuk setiap dump truck diperlukan tenaga pengangkutan sebanyak 4-5 orang yang bertugas memindahkan sampah dari TPS ke dalam truk.

Menurut SK SNI T-13-1990-F, dump truck mempunyai kelebihan yaitu hanya cocok untuk menangani sampah yang ada di pasar, bisa door to door, dapat melakukan ritasi 2-3 rit/hari serta cepat dalam operasi pembongkaran. Dengan demikian dapat disimpulkan penggunaan dump truck yang melayani pengangkutan sampah pada daerah pasar dan pertokoan dengan sistem door to door di Kecamatan Panakukang Kota Makassar saat ini sudah cukup tepat.

Selain kelebihan di atas, kendaraan dump truck juga mempunyai kekurangan yaitu dalam operasionalnya membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak yaitu 4 orang. Hal ini karena untuk memindahkan sampah dari TPS ke dump truck diperlukan personil yang banyak. Disamping itu, untuk menghindari sampah yang beterbangan saat diangkut dengan dump truck ke TPA maka masih diperlukan penutup bak.

Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan tersebut, penggunaan dump truck saat ini kurang dianjurkan terutama untuk daerah permukiman yang mempunyai jalan yang sempit.

Kendaraan arm roll truck merupakan truk yang digunakan untuk mengangkut kontainer sampah. Kendaraan jenis ini memiliki banyak kelebihan yaitu mempunyai mobilitas yang tinggi dan tenaga kerja yang sedikit (2 orang) serta mampu melakukan 3-4 rit perhari. Kendaraan arm roll truck yang merupakan satu rangkaian dengan kontainer, cocok untuk melayani daerah pemukiman maupun non permukiman sehingga penggunaannya sangat dianjurkan. Dibandingkan dengan dump truck, arm roll truck lebih efisien dalam operasionalnya.

Adapun rangkuman hasil analisis kendaraan pengangkutan dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 12

Rangkuman Analisis Kendaraan Pengangkutan Sampah

No

PEWADAHAN

KEKURANGAN

KELEBIHAN

1

Dump truck

Membutuhkan tenaga operasional banyak Biaya operasional tinggi.

Tepat untuk pasar dan pertokoan

2

Aarm roll truck

Biaya oerasional

Mudah dioperasionalkan dan lebih efisien.

Dapat digunakan untuk daerah permukiman dan non permukiman.

Mempunyai jangkuan pelayanan yang luas dan mobilitas tinggi.

Tidak membutuhkan tenaga yang banyak.

Sumber: Hasil analisis tahun 2013

 Dari hasil analisis di atas, penggunaan arm roll truck yang ada saat ini untuk mengangkut sampah mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan dump truck, terutama untuk melayani daerah permukiman, sehingga penggunaan arm roll truck ini sudah tepat.

 

  1. Analisis Kinerja Operasional Pengelolaan Sampah Dinas Pertamanan dan Kebersihan Berdasarkan Persepsi Masyarakat Kecamatan Panakukang Kota Makassar.
    1. Kondisi sarana prasarana persampahan

Penilaian terhadap kinerja pengelolaan sampah dari kondisi sarana prasarana persampahan, meliputi jumlah TPS atau Kontainer, penempatan TPS atau Kontainer, waktu pengumpulan sampah, kondisi alat pengumpul sampah, jumlah alat pengumpul sampah dan frekuensi pengangkutan sampah. Adapun secara rinci analisis terhadap indikator tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Kondisi tempat pembuangan sementara (TPS) atau kontainer

Kondisi Tempat Pembuangan/Penampungan Sementara atau Kontainer sampah yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar menurut persepsi masyarakat, dapat disimpulkan sebanyak 10,1 % responden menyatakan tidak terawat, mayoritas atau 46,5 % responden menyatakan kurang terawat, sebanyak 35,4 % responden menyatakan cukup terawat dan hanya 8,1 % responden yang menyatakan terawat. Adapun persepsi masyarakat terhadap kondisi TPS atau Kontainer sampah, ditunjukan pada tabel berikut :

Tabel 13

Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi TPS dan Kontainer

Kondisi TPS dan Kontainer

Frekuensi

Persentase

Tidak terawat

19

10,1

Kurang terawat

86

46,5

Cukup terawat

65

35,4

terawat

15

8,1

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013

Berdasarkan tabel distribusi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap kondisi TPS dan Kontainer, maka diperoleh skor rata-rata 2,41 sehingga masuk dalam kategori kurang baik. Dari observasi lapangan, banyak dijumpai TPS yang kondisinya sudah rusak dan kurang terawat.

  2.Jumlah Tempat Pembuangan Sampah atau Kontainer

Persepsi masyarakat terhadap jumlah tempat pembuangan sementara atau Kontainer yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar, sebanyak 18,2 % responden menyatakan tidak memadai, mayoritas atau 45,5 % responden menyatakan kurang memadai, sebanyak 25,3 % responden menyatakan cukup memadai dan hanya 11,1 % responden menyatakan jumlah TPS atau kontainer sudah memadai. Adapun persepsi masyarakat terhadap penyediaan jumlah TPS atau Kontainer, ditunjukan pada tabel berikut :

Tabel 14

Persepsi Masyarakat Terhadap Jumlah TPS atau Kontainer

Jumlah TPS dan Kontainer

Frekuensi

Persentase

Tidak memadai

34

18,2

Kurang memadai

84

45,5

Cukup memadai

47

25,3

memadai

20

11,1

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013

Berdasarkan tabel distribusi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap jumlah TPS atau Kontainer, maka diperoleh skor rata-rata 2,29 sehingga masuk dalam kategori kurang baik. Hal ini juga didukung dari hasil pengamatan lapangan, penyebaran TPS yang ada masih belum merata sehingga masyarakat belum sepenuhnya dapat memanfaatkan TPS yang ada.

         3.Penempatan tempat pembuangan sementara atau Kontainer

Sebagian besar letak TPS yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar adalah di tepi jalan. Persepsi masyarakat terhadap penempatan Tempat Pembuangan Sementara atau Kontainer tersebut adalah sebanyak 5,1 % responden menyatakan tidak tepat, sebanyak 43,4 % responden menyatakan kurang tepat, sebanyak 39,4 % responden menyatakan cukup tepat dan 12,1 % responden menyatakan sudah tepat.

Adapun persepsi masyarakat terhadap kinerja dalam penempatan Tempat Pembuangan Sementara atau kontainer, ditunjukan pada tabel berikut:

Tabel 15

Persepsi Masyarakat Terhadap Penempatan TPS atau Kontainer

Penempatan TPS dan Kontainer

Frekuensi

Persentase

Tidak tepat

9

5,1

Kurang tepat

80

43,3

Cukup tepat

73

39,4

tepat

23

12,1

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis tahun 2013

 

Berdasarkan tabel distribusi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap penempatan TPS dan Kontainer, maka diperoleh skor rata-rata 2,59 sehingga masuk dalam kategori cukup baik. Hal ini dapat dilihat karena penempatan TPS tidak berdekatan permukiman penduduk sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitarnya.

         4.waktu/frekuensi pengumpulan sampah

Pengumpulan sampah di Kecamatan Panakukang Kota Makassar dilakukan dengan menggunakan becak atau gerobak sampah. Persepsi masyarakat terhadap waktu atau frekuensi pengumpulan sampah adalah sebanyak 12,1 % responden menyatakan tidak memadai, sebanyak 38,4 % responden menyatakan kurang memadai, sebanyak 42,4 % responden menyatakan cukup memadai dan hanya 7,1 % responden yang menyatakan sudah memadai.

Adapun persepsi masyarakat terhadap kinerja dalam frekuensi pengumpulan sampah dapat ditunjukan pada tabel berikut:

 Tabel 16

Persepsi Masyarakat Terhadap Waktu atau Frekuensi

Pengumpulan Sampah

Waktu atau frekuensi pengumpulan sampah

Frekuensi

Persentase

Tidak memadai

23

12,1

Kurang memadai

71

38,4

Cukup memadai

78

42,4

memadai

13

7,1

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013

 Berdasarkan tabel distribusi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap waktu atau frekuensi pengumpulan sampah, maka diperoleh skor rata-rata 2,44 sehingga masuk dalam kategori kurang baik. Dari pengamatan di lapangan waktu pengumpulan sampah dilakukan 3-4 hari sekali, kecuali untuk daerah pertokoan dilakukan setiap hari. Disamping itu masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan sampah secara teratur waktu pengambilannya.

 

5.Kondisi alat pengumpulan sampah

Alat pengumpul sampah yang ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar saat ini menggunakan becak sampah dan gerobak sampah. Persepsi masyarakat terhadap kondisi alat pengumpulan sampah adalah sebagian besar responden (50,5 %) menyatakan cukup baik, sebanyak 10,1 % responden menyatakan buruk, sebanyak 26,3 % responden menyatakan kurang baik dan hanya 13,1 % responden yang menyatakan baik. Persepsi masyarakat terhadap kondisi alat pengumpulan sampah yang ada di Kota Makassar, ditunjukan pada tabel berikut:

Tabel 17

Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Alat Pengumpulan Sampah

Kondisi Alat penumpul Sampah

Frekuensi

Persentase

Buruk

19

10,1

Kurang baik

49

26,3

Cukup baik

93

50,5

baik

24

13,1

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013

 

Berdasarkan tabel distribusi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap kondisi alat pengumpulan sampah, maka diperoleh skor rata-rata 2,67 sehingga masuk dalam kategori cukup baik. Dari kondisi eksisting, kondisi becak sampah masih cukup baik dan belum mengalami kerusakan yang dapat mengganggu aktifitas pengumpulan sampah.

6.Jumlah alat pengumpulan sampah

Jumlah alat pengumpul sampah yang tersedia akan mempengaruhi terhadap peningkatan kinerja pengelolaan sampah di perkotaan Persepsi masyarakat terhadap jumlah alat pengumpul sampah (becak sampah) terutama di wilayah tempat tinggal responden adalah sebagian besar (47,5 %) menyatakan kurang memadai, sebanyak 9,1 % responden menyatakan tidak memadai, sebanyak 31,3 % responden menyatakan cukup memadai dan sebanyak 12,1 % responden menyatakan sudah memadai. Persepsi masyarakat terhadap kinerja dalam penyediaan jumlah alat pengumpulan sampah dapat ditunjukan pada tabel berikut:

Tabel 18

Persepsi Masyarakat Terhadap Jumlah Alat

Pengumpulan Sampah

Jumlah Alat penumpul Sampah

Frekuensi

Persentase

Tidak memadai

17

9,1

Kurang memadai

88

47,5

Cukup memadai

58

31,3

memadai

22

12,1

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013

 

Berdasarkan tabel distribusi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap penyediaan jumlah alat pengumpulan sampah, maka diperoleh skor rata-rata 2,46 sehingga masuk dalam kategori kurang baik.

Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan masyarakat, banyak wilayah (kelurahan) yang belum mendapatkan pelayanan sampah secara merata. Disamping itu, banyak masyarakat yang sebenarnya sudah membutuhkan pelayanan sampah namun belum dapat terlayani karena keterbatasan peralatan.

7.Waktu atau frekuensi pengangkutan sampah

Pengangkutan sampah di Kecamatan Panakukang Kota Makassar meliputi 2 macam pola pengangkutan, yaitu pengangkutan sampah dari TPS yang diangkut menggunakan dump truck dan dari Kontainer sampah yang diangkut menggunakan armroll truck. Waktu atau frekuensi pengangkutan akan mempengaruhi hasil pengelolaan sampah perkotaan. Persepsi masyarakat terhadap frekuensi pengangkutan sampah adalah sebanyak 12,1 % responden menyatakan tidak memadai, sebanyak 44,4 % responden menyatakan kurang memadai, responden yang menyatakan cukup memadai sebanyak 32,3 % dan hanya 11,1 % responden menyatakan sudah memadai. Adapun persepsi masyarakat terhadap frekuensi pengangkutan sampah, dapat ditunjukan pada tabel berikut ini :

 

Tabel 19

Persepsi Masyarakat Terhadap Frekuensi Pengumpulan Sampah

Frekuensi pengangkutan

Frekuensi

Persentase

Tidak memadai

22

12,1

Kurang memadai

82

44,4

Cukup memadai

60

32,3

memadai

21

11,1

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013

 

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap frekuensi pengangkutan sampah, maka diperoleh skor rata-rata 2,42 sehingga masuk dalam kategori kurang baik. Hal ini juga ditunjukan dengan adanya sampah yang masih menumpuk dan berserakan di TPS maupun kontainer, yang disebabkan frekuensi pengangkutan yang kurang optimal.

8.kondisi alat pengangkutan sampah

Peralatan pengangkutan sampah di Kecamatan Panakukang Kota Makassar saat ini menggunakan dump truck dan Arm roll truck. Kondisi sarana pengangkutan tersebut dapat mempengaruhi baik buruknya kinerja pengelolaan sampah. Kondisi sarana pengangkutan sampah di Kecamatan Panakukang Kota Makassar menurut persepsi masyarakat sebenarnya sudah cukup baik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yaitu sebagian besar atau (54,5 %) responden menyatakan sudah cukup baik, sebanyak 5,1 % responden menyatakan buruk baik, sebanyak 25,3 responden menyatakan kurang baik dan sebanyak 15,2 % responden menyatakan baik. Adapun persepsi masyarakat terhadap kondisi sarana pengangkutan sampah, dapat ditunjukan pada tabel berikut ini :

 Tabel 20

Persepsi Masyarakat Terhadap Kondisi Alat Pengangkut Sampah

Kondisi alat pengangkut sampah

Frekuensi

Persentase

Buruk

9

5,1

Kurang baik

47

25,3

Cukup baik

101

54,5

Baik

28

15,2

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013.

 

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap kondisi alat pengangkutan sampah, maka diperoleh skor rata-rata 2,80 sehingga masuk dalam kategori cukup baik. Hal ini karena pada umumnya alat pengangkutan sampah baik dump truck maupun arm roll truck masih berumur kurang dari 5 tahun dan telah dilakukan perbaikan oleh Dinas Pertamanan dan Kebersihan.

 

  1. Personil

Dalam pengelolaan sampah harus ada keseimbangan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan jumlah personil atau petugas kebersihan. Disamping itu, juga perlu didukung dengan kemampuan personil dalam memberikan pelayanan persampahan kepada masyarakat. Dalam penilaian ini maka indikatornya meliputi kualitas petugas kebersihan maupun jumlah petugas kebersihan yang ada. Adapun penilaian kinerja untuk masing-masing indikator adalah sebegai berikut:

  1. Kualitas kemampuan petugas kebersihan

Persepsi masyarakat terhadap kemampuan petugas kebersihan atau pengelolaan sampah di Kecamatan Panakukang Kota Makassar dari hasil penelitian adalah sebagian besar atau 59,6 % responden menyatakan cukup terampil, sebanyak 7,1 % responden menyatakan petugas kebersihan tidak terampil, sebanyak 21,2 % menyatakan kurang terampil, dan sebanyak 12,1 % menyatakan terampil. Adapun persepsi masyarakat terhadap kemampuan petugas kebersihan, ditunjukan pada tabel berikut:

 

Tabel 21

Persepsi Masyarakat Terhadap Kemampuan Petugas Kebersihan

Kemampuan petugas kebersihan

Frekuensi

Persentase

Tidak terampil

13

7,1

Kurang terampil

39

21,2

Cukup terampil

110

59,6

Terampil

23

12,1

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013.

 

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap kemampuan petugas kebersihan, maka diperoleh skor rata-rata 2,77 sehingga masuk dalam kategori cukup baik. Hal ini sesuai dengan kondisi tenaga kebersihan yang sebagian besar sudah bekerja antara 5 – 15 tahun sehingga mempunyai pengalaman yang cukup.

 

2.Jumlah Petugas Kebersihan

Keterbatasan jumlah petugas kebersihan akan menyebabkan tidak meratanya jangkauan pelayanan sampah. Persepsi masyarakat terhadap jumlah petugas kebersihan di Kecamatan Panakukang Kota Makassar dari hasil penelitian ini, sebanyak 15,2 % responden menyatakan jumlah petugas kebersihan tidak memadai, sebagian besar 42,4 % responden menyatakan kurang memadai, sebanyak 31,3 % responden menyatakan cukup memadai dan sebanyak 11,1 % responden menyatakan sudah memadai. Adapun persepsi masyarakat terhadap jumlah petugas kebersihan yang ada, ditunjukan pada tabel berikut :

Tabel 22

Persepsi Masyarakat Terhadap Jumlah Petugas Kebersihan

Kemampuan petugas kebersihan

Frekuensi

Persentase

Tidak memadai

28

15,2

Kurang memadai

78

42,4

Cukup memadai

58

31,3

Memadai

21

11,1

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013.

 

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap jumlah petugas kebersihan, maka diperoleh skor rata-rata 2,38 sehingga masuk dalam kategori kurang baik. Kondisi ini disebabkan banyak masyarakat yang tidak mendapatkan pelayanan secara optimal karena petugas pengumpulan masih sangat terbatas.

 

  1. Keluhan Pelanggan

Pelayanan terhadap keluhan atau pengaduan pelanggan merupakan salah satu bentuk pelayanan kepada masyarakat, dalam rangka meningkatkan kinerjapengelolaan sampah. Sehingga untuk melayani secara maksimal, perlu daya tanggap dari pemerintah dalam melayani keluhan tersebut. Dari 99 reponden yang ada, hanya 89 responden yang pernah mengajukan komplain baik kepada Dinas Pertamanan dan Kebersihan maupun langsung kepada petugas kebersihan di lapangan.

Persepsi masyarakat terhadap tanggapan keluhan atau komplain yang diajukan oleh masyarakat adalah sebanyak 25,8 % responden menyatakan lambat atau tidak ada tanggapan, sebanyak 40,4 % responden menyatakan kurang cepat, sebanyak 29,2 % responden menyatakan cukup cepat, dan sebanyak 4,5 % responden menyatakan cepat. Adapun persepsi masyarakat terhadap tanggapan pengaduan pelayanan sampah, ditunjukan pada tabel berikut:

                                                               Tabel 23

Persepsi Masyarakat Terhadap Tanggapan Keluhan Pelayanan Sampah

Tanggapan keluhan pelayanan sampah

Frekuensi

Persentase

Lamabat

48

25,8

Kurang cepat

75

40,4

Cukup cepat

54

29,2

Cepat

8

4,5

Total

185

100

Sumber : Hasil analisis.data tahun 2013

 

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut dan perhitungan skor dari persepsi masyarakat terhadap tanggapan pelayanan pengaduan sampah, maka diperoleh skor rata-rata 2,12 sehingga masuk dalam kategori kurang baik. Hal ini dikarenakan tidak semua keluhan yang disampaikan kepada petugas kebersihan segera ditanggapi dengan cepat.

 

  1. Rangkuman Analisis Kinerja Pengelolaan Sampah Dinas Pertamanan dan Kebersihan menurut Persepsi Masyarakat

Kinerja pengelolaan sampah di Kota Makassar menurut persepsi masyarakat untuk masing-masing variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut :

 

Tabel 24

Persepsi Masyarakat Terhadap Pengelolaan Sampah

di Kecamatan Panakukang Kota Makassar

No

Variabel

Indikator

Skor rata-rata

Kategori

I

 

 

 

 

 

 

 

 

II

 

 

 

III

Sarana prasarana

 

 

 

 

 

 

 

 

Personil

 

 

 

Tanggapan keluhan

  1. Kondisi TPS atau Kontainer
  2. Jumlah TPS atau Kontainer
  3. Penempatan TPS atau Kontainer
  4. Waktu pengumpulan sampah
  5. Kondisi alat pengumpul
  6. Jumlah alat pengumpul
  7. waktu/frekuensi pengangkutan
  8. Kondisi alat pengangkutan

 

  1. Kualitas petugas kebersihan

 

  1. Jumlah petugas kebersihan

 

  1. Tanggapan terhadap keluhan

2,41

2,29

2,59

2,44

2,67

2,46

2,42

2,80

 

2,77

 

2,38

 

2,12

Kurang baik

Kurang baik

Cukup baik

Kurang baik

Cukup baik

Kurang baik

Kurang baik

Kurang baik

 

Cukup baik

 

Kurang baik

 

Kurang baik

     

2,46

 

Sumber : Hasil analisis data tahun 2013

 

Dari tabel di atas, kinerja pengelolaan sampah khususnya dalam operasionalnya sebagian besar masih kurang baik dan mendekati cukup baik. Kualitas pengelolaan sampah maksimal yang dicapai adalah cukup baik, yaitu kondisi kebersihan jalan utama, penempatan TPS atau kontainer, kondisi alat pengumpul sampah, kondisi alat pengangkutan sampah dan kualitas petugas kebersihan.

           Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari penelitian ini baik temuan dilapangan maupun hasil analisis yang telah dilakukan. Disamping itu, dalam bab ini akan disampaikan rekomendasi kepada pihak-pihak yang terkait, sehingga diharapkan dapat bermanfaat dalam menyelesaikan permasalahan persampahan serta sebagai masukan terhadap peningkatan kinerja pengelolaan sampah di Kota Makassar dan Kecamatan Panakukang pada masa yang akan datang.

           Persampahan telah menjadi suatu agenda permasalahan utama yang dihadapi pemerintah Kota Makassar. Pesatnya pertambahan penduduk yang disertai derasnya arus urbanisasi telah meningkatkan jumlah sampah di perkotaan dari hari keharinya. Keterbatasan kemampuan Dinas Pertamanan dan Kebersihan dalam menangani permasalahan tersebut akan membawa dampak sosial akibat sampah di Makassar. Hal ini semakin sulit karena terkendala jumlah kendaraan serta kondisi peralatan yang telah tua. Belum lagi pengelolaan TPA yang belum sesuai dengan kaidahkaidah yang ramah lingkungan.Sarana dan prasarana persampahan yang ada di Kota Makassar khususnya Kecamatan Panakukang saat ini, untuk sistem pewadahan yang dapat mendukung kinerja adalah tong (Bin). Sedangkan untuk sarana pengumpulan sampah, penggunaan becak sampah lebih efisien dibandingkan dengan gerobak sampah. Penggunaan kontainer sebagai sarana pemindahan lebih tepat dibandingkan dengan TPS batu bata karena mempunyai banyak kelebihan. Untuk sistem pengangkutan sampah, arm roll truck lebih efisien dibandingkan dengan dump truck. Kondisi sarana dan prasarana persampahan yang ada saat ini dinilai masih kurang memadai seperti penggunaan bak sampah batu bata dan TPS batu bata, yang sudah tidak dianjurkan lagi sehingga menyebabkan pengelolaan sampah menjadi kurang kurang efisien. Penggunaan sarana prasarana yang mempunyai efektifitas tinggi, dapat meningkatkan kinerja pengelolaan sampah.

Hasil kinerja pengelolaan sampah berdasarkan persepsi masyarakat, sebagian besar dinilai oleh masyarakat masih kurang baik sehingga belum sepenuhnya sesuai dengan kepuasan atau harapan masyarakat. Hal ini menunjukan kinerja pengelolaan sampah belum sepenuhnya berjalan efektif.

Hasil pengelolaan sampah Dinas Pertamanan dan Kebersihan di Kecamatan Panakukang Kota Makassar khususnya yang dipengaruhi oleh aspek yaitu teknis yang mempengaruhi pengelolaan sampah adalah :

  1. Jumlah personil dan sarana prasarana masih sangat terbatas mengakibatkan pola pengangkutan masih belum memadai.
  2. Masih kurang jelasnya pembagian tugas terutama pada sistem pengumpulan dan pengangkutan, beban tugas Dinas Pertamanan dan Kebersihan yang tidak hanya menangani persampahan saja.
  3. Masih terbatasnya sumber pembiayaan utamanya dari retribusi sehingga masih harus mendapatkan subsidi. Disamping itu biaya operasional yang disediakan masih sangat terbatas.
  4. Peranserta Masyarakat belum sepenuhnya mendukung pengelolaan sampah.
  5. Masih kurangnya penindakan terhadap pelanggar peraturan tentang persampahan
  6. Masih kurangnya sosialisasi tentang pengelolaan sampah.

Dari faktor-faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa rendahnya kinerja pengelolaan sampah di Kecamatan Panakukang dan Kota Makassar pada umumnya disebabkan oleh kurang optimalnya sistem pengelolaan sampah.

Memperhatikan hasil kesimpulan seperti di atas, untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sampah di Kota Makassar khususnya di Kecamatan Panakukang maka dapat disampaikan beberapa rekomendasi kepada Pemerintah maupun masyarakat, sebagai berikut:

1.Bagi Pemerintah :

  • Untuk lebih meningkatkan kinerja pengelolaan sampah baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, maka pemerintah perlu menambah personil maupun sarana dan prasarana pengelolaan sampah seperti arm roll truck dan kontainer sampah.
  • Untuk memperluas jangkauan pelayanan, maka Pemerintah perlu menyediakan anggaran yang cukup untuk biaya operasional, penambahan sarana pengangkutan dan pemeliharaan sarana prasarana pengelolaan sampah, karena pemasukan dari penarikan retribusi saat ini belum dapat diandalkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pula penyesuaian tarif maupun mekanisme penarikan retribusi sampah kepada masyarakat, serta pelibatan pihak swasta.
  • Untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sampah, Pemerintah perlu mendorong masyarakat agar berperan lebih aktif dalam kegiatan pengelolaan sampah misalnya pada proses pengumpulan sampah.
  • Perlunya sistem pengelolaan sampah yang tepat untuk mencapai efektifitas dan efisiensi yang tinggi baik melalui perubahan pola pengumpulan maupun pengangkutan sampah, serta mengganti sarana persampahan yang dapat mengurangi efisiensi, seperti penggunaan TPS batu bata yang sebagian besar ada di Kecamatan Panakukang Kota Makassar dan diganti dengan sistem kontainer.
  • Pemerintah perlu memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran terhadap pengelolaan persampahan, serta membiasakan prilaku sadar kebersihan dan keindahan lingkungan.
  • Pemerintah perlu mengembangkan pola pengelolaan sampah dengan konsep 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk menangani produksi sampah yang cukup besar di Kecamatan Panakukang Kota Makassar.

2.Bagi masyarakat :

  • Masyarakat perlu mendukung program pengelolaan sampah dengan meningkatkan kesadaran dalam membuang sampah sesuai dengan aturan yang berlaku, meningkatkan kesadaran dalam membayar retribusi sampah maupun menerapkan pola pengelolaan sampah dengan konsep 3 R (Reduce, Reuse, Recycle).
  • Masyarakat dapat berperan serta dalam kegiatan pengumpulan sampah seperti penyediaan sarana pengumpulan sampah (becak/ gerobak sampah) maupun tenaga pengumpul, mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh pemerintah.

DAFTAR BACAAN

Anonim, 1987, Materi Training Untuk Tingkat Staf Teknis Proyek PLP Sektor Persampahan, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Jakarta.

Anonim, 2008, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Persampahan., Jakarta.

Anonim, 2004. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. jakarta

Anonym. 1997, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta

Anomim, 2011. Kota Makassar Dalam Angka Tahun 2011. Badan Pusat Statistik Kota Makassar. Makassar.

Anonim. 2009. Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2009 Tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah Kota Makassar. Makassar

Anonim. 1999. Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 14 Tahun 1999 tentang Retribusi Pelayan Persampahan. Makassar

Anonim. 2011, Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar. Makassar.

Data Sarana dan Prasarana Dinas Pertamanan dan Kebersihan, Kota makassar, 2011.

Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar (2011), Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK), Kegiatan Operasional dan Pemeliharaan Persampahan TA. 2011

rman, 2005, Evaluasi Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan Sistem Teknik Operasional Pengelolaan Sampah di Kota Padang, Tesis, Program Studi Magister Perencanaan Wilayah dan Kota,Undip, Semarang

Pedoman 1993, Teknik Operasi dan Pemeliharaan Pembangunan Prasarana Perkotaan Komponen Persampahan. Direktorat Bina Program Ditjen, Departemen Pekerjaan Umum (1993).

Pramono, S. 2008. Studi Sistem pengumpulan Sampah Perkotaan di Indonesia. Repository.gunadarma.ac.id. Jakarta. Didownload dari: http://repository.gunadarma.ac.id:8000/558/1/ Studi_Sistem_Pengumpulan_Sampah_di_Indonesia.pdf   Pada hari, tanggal dan pukul:13 Desember 2011.

SNI T-13-1990-F tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan. Badan Standar Nasional. Jakarta.

SNI -T-12-1991-03. Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman. Badan Standar Nasional. Jakarta.

SNI T-13-1990-F tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan. Badan Standar Nasional. Jakarta.

SNI -T-11-1991-03. Tata cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Badan Standar Nasional. Jakarta.

Syafrudin, CES, Ir. MT, 2004, Model Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (Kajian Awal Untuk Kasus Kota Semarang), Makalah pada Diskusi Interaktif: Pengelolaan Sampah Perkotaan Secara Terpadu, Program Magister Ilmu Lingkungan UNDIP.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP(DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO,SH.SAB.SSN.MS.MH.MM).

     1.Nama            :  DR. IR.DRS.SYAHRIAR TATO.SH.SAB.SSN.MS.MH.MM

  1. Status            :   Dosen Tetap Yayasan Pendidikan Bosowa
  2. Dosen (NIDN) :    09.2102.5101
  3. Dosen sertifikat :   12109101012869.
  4. Pangkat akademik :   Lektor Kepala (25 oktober 2004-SKEP.07/34/BP/U-45/X/04),
  1. Pangkat PNS :   Pangkat pengabdian IV/d, Pembina Utama Madya   (Kep.Presiden RI no.18/K TAHUN 2011).

1).Pengatur muda Tk.I (II/b).TMT.01-08-1979 Kep Menteri PU no.066/P2/1979.tgl.16-7-1979.

2).Pengatur (II/c).TMT. 01-04-1981.Kep. Menteri PU no.362/PA/81. Tgl 03-12-1981.

3).Penata muda (III/a).TMT 01-04-1985.Kep.Menteri PU no.KEP/0046/b/w.20/85.tgl06-08-1985.

4).Penata muda Tk.I (III/B).TMT.01-10-1987.Kep Menteri PU.no.Kep.0017/B/w20/895.tgl.6-8-1988

5).Penata (III/c). TMT 01-10-1991,Kep.Menteri PU.no.kep.001/B/w20/94.tgl.25-1-1992.

6).Penata Tk I.(III/d).TMT.1-10-1993.Kep.Menteri PU.no.kep006/B/w20/1994.tgl.18-1-1994.

7).Pembina (IV/a). TMT.1-10-1997.Kep Menteri PU no kep.172/B/w20/975.tgl 19-9-1997.

8).Pembina tk I.(IV/b).TMT.01-04-2001.Presiden RI no.Kep.no.26/KTH.2001.tgl 10-8-2001.

9).Pembina utama muda.(IV/C).TMT.01-04-2006.Presiden RI no.25/K.th.2006.

7.Kelompok Keahlian   :   1.Perencanaan Prasarana Wilayah dan Kota.

  1. Perencanaan Kawasan Wisata.
  2. Konsep dan Struktur Tata Ruang.
  3. Civil Engineering.
  4. Penyehatan dan pencemaran lingkungan.
  5. Penyutradaraan dan Keaktoran.

8;No. KTP                              :    7371092102510001.

9.Pasport                                :    A.3948304.

10.Kelamin                              :    Laki-Laki

11.Agama                                :    Islam

12.Kota/Tanggal Lahir            :    Pinrang , 21 pebruari 1951

13.Jabatan Akademik              :    1).Direktur Pascasarjana STIK Tamalate 2008-2011.

                                                  2)Dekan Fakultas Teknik ISTP Makassar 2010-2011.

                                                     3).Dekan Fak. Seni Media Film dan TV IKM. 2013.

14.Instansi Induk                    :    Universitas “45” Makassar.

 

15.Riwayat Pendidikan

 

  1. Strata Sarjana Muda (SM)
  • Tanggal Lulus : 12 agustus 1975(tahun 1970-1975)
  • Gelar : Bachelor of Architec Engineering (BAE)
  • Nama PT : Akademi Teknologi Negeri
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Arsitektur
  • Judul perancangan : Perencanaan bangunan gedung perpustakaan Ujung Pandang

Pembimbing                  : Ir. Winardi sukowiyono.      

  1. Strata Satu ( S1 )
  • Tanggal Lulus : 26 Maret 1984 (1980-1984)
  • Gelar : Doktorandus ( Drs )
  • Nama PT : STIA-LANRI
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Administrasi Negara.
  • Judul Skripsi : Implementasi program terpadu Pemugaran Perumahan Desa
  • di Propinsi Sulawesi Selatan Ditinjau dari Administrasi Pembangunan
  • Pembimbing : Dr. HM. Syukur Abdullah MPA
  1. Strata Satu (S1)           
  • Tanggal Lulus : 10 maret 1990 (1984-1990)
  • Gelar : Insinyur (Ir)
  • Nama PT : Universitas Muslim Indonesia
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Teknik sipil.
  • Judul Skripsi : Model Pengelolaan Bangunan Gedung dengan Metode
  • Gabungan GUNCHART-CPM-HANNUM CURVE.

                    Pembimbing        : Ir.HM. Ridwan Abdullah, Msc.      

  1. Strata Satu (S1)          
  • Tanggal Lulus : 6 April 2009 (2006-2009)
  • Gelar : Sarjana Hukum ( SH )
  • Nama PT : Universitas Satria Makassar
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Hukum Pidana.
  • Judul Skripsi : Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Keyakinan Hakim
  • dalam Proses Pembuktian Menurut Hukum Acara Pidana

                     Pembimbing        : HM. Yunus Idy.SH.MH dan Djonny.SH.MH    

  1. Strata Satu (S1)         
  • Tanggal Lulus : 15 November 2011 (2008-2011)
  • Gelar : Sarjana Administrasi Bisnis (SAB)
  • Nama PT : STIA-YPA-AH
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Administrasi Bisnis.
  • Judul Skripsi : Faktor yang Mempengaruhi Retribusi Penerimaan Pengelolaan
  • PDAM Kabupaten Pinrang ditinjau dari segi Administrasi Bisnis
  • Pembimbing : Dr. Drs. Amiruddin Semma dan Muhammad Amiruddin,SE.
  1. Strata Satu (S1).

                     Tanggal Lulus       : 27 juni 2013.(2008-2013)

  • Nama PT : Institut Kesenian Makassar
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Seni Media Rekam Film dan Televisi.
  • Judul Karya           : Karya Penciptaan Film Pendek berjudul TANDA CINTA

       Pembimbing          : Machfud Ramli,S.Sos dan Yohan C Tinungki,S.Mus,M.Sn.

  1. Strata Dua (S2)                    
  • Tanggal Lulus : 17 Oktober 1992.( 1990-1992)
  • Gelar : Magister Sains ( MS )
  • Nama PT : Universitas Hasanuddin
  • Kota Asal PT : Makassar.
  • Bidang Ilmu : Pencemaran dan Penyehatan Lingkungan.
  • Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman pada
  • Kawasan Pantai Kota Madya Ujung Pandang.
  • Pembimbing : Dr.Ir.Yulianto Sumalyo,Prof.Dr.Rahardjo Adisasmita,Dr.Ir.Sampe

                                         Paembonan,MS.

  1. Strata Dua (S2)

-     Tanggal lulus           : 27 Mei 2010.(2008-2010)

-     Gelar                       : Magister Hukum.( MH )

-     Nama PT             : Universitas Kristen Indonesia Paulus.

-     Kota Asal PT       : Makassar.

-     Bidang Ilmu       : Hukum Tata Negara dan Pemerintahan.

-       Judul Tesis         : Analisis Yuridis Pemanfaatan Ruang Berdasarkan Peraturan

                                       Daerah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang Rencana Tatat Ruang

                                        Wilayah Kota Makassar.

  1. Strata Dua (S2)

-     Tanggal lulus         : 30 April 2012(2010-2012)

-     Gelar                     : Magister Manajemen ( MM )

-     Nama PT             :   Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pengembangan Bisnis dan Manajemen

-     Kota Asal PT       :   Jakarta

-     Bidang Ilmu       :   Manajemen .

-     Judul Tesis         :   Pengaruh Faktor Pembiayaan untuk Meningkatkan

                                       Pengelolaan Persampahan Kota Makassar

-     Pembimbing       : Prof.Dr.Masngudi,SE dan Dr,Wier Ritonga ,SE,MM.

  1. Strata Tiga (S3 )
  • Tanggal Lulus : 16 Juli 2004 (1996-2004)
  • Gelar : Doktor (Dr)
  • Nama PT : Universitas Hasanuddin.
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : studi Ilmu Teknik.
  • Judul Disertasi : Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair dengan Filter BiogeoKimia
  • Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Muh.Arief.Dipl.Ing

Prof. Dr. Syahrul. M,Agr.

Prof. Dr. Ir. Muh.Saleh Pallu,M.Eng.

Prof, Dr. Ir. Mary Selintung, MSc

 

  1. Riwayat Jabatan di Pemerintahan(sebelumnya), Akademik dan Pengabdian Masyarakat :

1).Kepala seksi Peraturan dan Perundang-Undangan, 24-9-1984 s/d 2-7-1987,

   SK.KADIS PU no.60/p.13/84.

2).Kepala loka Bahan Bangunan,21-5-1986 s/d 21-05-1991.Kep.Men

   PU no.14/KPTS/KL/86.

3).Kepala Seksi Perumahan 3-7-1986 s/d 31-5-1991.Kep.Gubernur no.PN 821/24-176.

4).Kepala Sub Dinas Perumahan ,1-6-1991 s/d 2-5-1999.Kep. Gubernur no.821.23-88.

5).Kepala Sub Dinas Air Bersih,3-5-1999 s/d 19-5-2001.

6).Kepala Sub Dinas Perkotaan dan Perdesaan,20-3-2001 s/d 14-4-2005,

   Kep. Gubernur no.821.22-85.

7).Pemimpin Proyek Bahan bangunan Lokal dan Pusat Informasi Teknik Bangunan

   1-4-1984 s/d 1-4-1987 Kep.Men PU no.196/KPTS/84.

8).Pemimpin Proyek Perumahan Rakyat dan Penataan Bangunan

     1-4-1987 s/d 1-4-1992,Kep.Men PU no.104/KPTS/87.

9).Pemimpin Proyek Air Bersih SLA-OECF 1-4-1996 s/d

   1-4-2000 Kep.Men PU 775/KPTS/X/96.

10).Wakil Kepala Dinas Tarkim 14-9-2005 s/d 2009 Kep.Gubernur no.821.22.31.

11) Plt Kepala Dinas Tarkim 1-6-2009 s/d 21-2-201 Kep.Gubernur no. 858.4-04.

12)Diangkat sebagai Dosen Tetap Universitas “45”, Nomor : SKEP.07/34/BP/U-45/X/04

     Tanggal 25 oktober 2004.

13).Diangkat sebagai Direktur Pasca Sarjana STIK Tamalatea Makassar tahun 2008 s/d tahun 2011 14).Diangkat sebagai Dekan Fakultas Teknik Institut Sains dan Teknologi Pembangunan

     Makassar tahun 2010 s/d tahun 2011.

15).Diangkat sebagai Dekan Fak.Seni Media Rekam,Film dan TV , Institut Kesenian

     Makassar tahun 2013 s/d sekarang.

16).Diangkat sebagai Ketua Divisi Etika Budaya ICMI Korwil Sulsel.

17).Diangkat sebagai Kepala Pusat Kajian Lingkungan Hidup Fakultas Teknik Universitas “45”

18).Diangkat sebagai Anggota Forum Kota Sehat tahun 2009 s/d tahun 2011.

19).Diangkat sebagai Tim Penyusun Renstra Universitas “45” Tahun 201

20).Diangkat sebagai Tim Penyusun Renstra Program Pascasarjana Universitas “45” Tahun 2011.

21).Diangkat sebagai Dewan Penasehat Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Provinsi

       Sulsel 2010 s/d 2013.

22).Diangkat sebagai Tenaga Ahli KAPET Parepare Tahun 2010 s/d -2011.

23).Diangkat sebagai Tenaga Ahli Kawasan Pengembangan Ekonomi terpadu

       Parepare tahun 2011 s/d 2013.

24).Diangkat sebagai Tenaga Ahli Penataan Bangunan dan Lingkungan Pada

     Dinas Tarkim propinsi sulawesi Selatan Tahun 2010 s/d Tahun 2013 .

25).Diangkat sebagai Tenaga Ahli dalam Penyusunan Rencana Tataruang

     Wilayah Kabupaten Sinjai tahun 2013.

26).Diangkat sebagai Tenaga Ahli dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah

     Kabupaten Bulukumba tahun 2013.

27).Diangkat sebagai tenaga ahli pada Kajian Lingkungan Hidup Strategis

       Kabupaten Boven Digoel Papua tahun 2013 .

  1. Penghargaan atas karya bakti.
  2. Satya Karya 1985 Mentri Pekerjaan Umum
  3. Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI
  4. Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI
  5. Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI.
  6. ASEAN EXSECUTIVE AWARD 2004

 

  1. Daftar karya ilmiah dan populer yang ditulis .

NO

JUDUL TULISAN

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan

2005

Jurnal SPASIAL Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2005

2.

Tata Guna lahan – system transportasi sebagai sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan

2006

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2006

3.

Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan

2007

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2007

4.

Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem

 

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2008

5.

Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Juni 2008

6.

Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban

2009

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2009

 

  1. Daftar Artikel Dosen selama 10 tahun terakhir

NO

JUDUL ARTIKEL

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Air Sumber kehidupan, masihkah lestari

2003

Artikel dalam Majallah “sinergi”no6 Tahun I, Oktober 2003

2.

Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar, masihka memukau?

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

 

Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

4.

Manajemen Strategik organisasi seni budaya

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 2 Tahun 2003

5.

Filter Biogeokimia, Mengolah limbah cair perkotaan

2004

Artikel dalam Majallah

“ Sinergi” no1. Tahun I, Januari 2004

 

6

1 Milyard Orang Dambakan Air

2004

Artikel dalam Majallah “sinergi”no3 Tahun. II

Maret 2004

 

Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 3 Tahun 2004

 

Mungkinkah membangun seni budaya”Beraura” tradisi di Sulawesi Selatan

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 5 Tahun 2004

 

Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian local

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 6 Tahun 2004

10.

Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata)

 

2005

Artikel dalam Majallah “Mimbar Aspirasi”Edisi 44 Februari 2005

11.

 

12.

Identifikasi kawasan terpilih pusat pengembangan desa dikabupaten Majene propinsi sulawesi barat.

Juridical analysis Utilization of space based regulation member 6 0n the spatial plan area of the city Makassar

Desember 2012

Jurnal SPASIAL vol 8 no.2 ISSN : 1411-3899

13.

Arahan pengembangan kawasan strategi kota galesong kabupaten takalar

     2010

Jurnal SPASIAL vol 8 no.1- ISSN : 1411-3899

14.

 

 

15.

Evaluasi rencana Kawasan Agropoitan di kawasan matakali-kabupaten polewali mandara sulawesi barat.

 

Disparitas pemanfaatan ruang terhadap PERDA no 6 tahun 2006 tentang RTRW kota Makassar.

 

 

 

2010.

 

 

2010

Jurnal Tekstur kota

Vol 1 no 2-ISSN 2086-7786.

Jurnal Tekstur kota

Vol 2 no 1-ISSN 2086-7786.

 

 

 

 

  1. Karya Ilmiah

 

1.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Journal of Science and Technology integration vol.III, januari 2011, ISSN : 1675-8437.Selangor Malaysia

 

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

 

Tahun-Bulan

:

2010 (4 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Area Development Minapolitan coastal communities to improve economy Gowa

       

2.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar International book expo 2012 malaysia

 

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Biaya sendiri

 

Tahun-Bulan

:

2012 (2 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur tradisional sulawesi selatan warisan budaya etnis lokal Indonesia.

       

3.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar arsitektur tradisional minahasa dan suku tobadij papua

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Satker balai pengembangan teknologi perumahan tradisional makassar (APBN)

 

Tahun-Bulan

:

2009 (6 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur rumah tradisional minahasa dan suku tobadij papua.

       

4.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar Dinas tataruang dan permukiman Sulawesi Selatan.

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tata ruang dan permukiman.(APBN )

 

Tahun-Bulan

:

2008 (6 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Identifikasi kawasan Resapan air kawasan metropolitan Mamminasata

       

5.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata ruang dan Pemukiman Sulawesi Selatan

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan permukiman (APBN)

 

Tahun-Bulan

:

2008 (4 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan masterplan Kawasan Agropoiltan Allakuang kabupaten Sidenreng Rappang.

       

 

6.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulawesi Selatan

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan Pemukiman ( APBN)

 

Tahun-Bulan

:

2009 (4 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan Master plan Kawasan Agropoitan Mangbotu Kabupaten Luwu Timur

       

7.

Jenis Karya Ilmiah

:

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

:

De la macca ISBN no 978-602-263-009-8

 

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

 

Tahun-Bulan

:

2013

 

Judul Karya Ilmiah

:

Cara sederhana mengolah sampah perdesaan.

       

8.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Bapeda Kabupaten Boven digoel

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

APBD Kab, Boven Digoel

 

Tahun-Bulan

:

2013 (6 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) kabupaten boven Digoel

       

9.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

Penerbit Lamacca press-ISBN no, 979-3897-49-2

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2009.

 

Judul Karya Ilmiah

 

Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan,Pusaka warisan budaya indonesia.

       

10.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

De la macca-ISBN no 978-979-3897-36-3

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2010

 

Judul Karya Ilmiah

 

Mengolah limbah cair rumah tangga dengan filter biogeokimia

       

11.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku Ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

De la Macca.ISBN 978-602-263-008-1

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2013.

 

Judul Karya Ilmiah

 

Mari membangun kawasan hijau dan bangunan hijau yang ramah lingkungan

 

       

12.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

De la macca.ISBN 978 602 263 010 4

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2013

 

Judul Karya Ilmiah

 

Potensi dan harapan masa deoan kawasan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) parepare

 

  1. Kegiatan dalam dan luar negeri .

 

No.

Jenis Kegitan

Tempat dan Waktu Kegiatan

Jenis Partisipasi

Penyaji

Peserta

 

       

1.

Earthquake Engeenering for reconstruction

University of Victoria,wellington selandia baru 1996

 

Peserta

2.

Earthquake Disaster Management

Universityof new

     south wales-

sidney australia 1996

 

peserta-

3.

Training of Water suplly Engineering

OECF/JICA.Tokyo jepang 1997

 

peserta-

4.

OzWater conference

and Exebhition

Perth australia 2004

Penyaji

 

5.

Studi Kawasan Agropolitan

HPTI Bangkok Thailand   tahun 2003

 

peserta-

6.

Bussiness& Industries Conference –Exhibition

Istambul-turki 2006

Penyaji

 

7.

Asia Pasific Academic consortium for Public Health conference

Yonsei university-seoul-korea selatan 2011

penyaji

-

8.

International book expo and exebhition

Kualalumpur.malaysia tahun 2012

     penyaji

-

9.

AsiaPasific Academic Consortium for Public Health confrence.

Colonbo – srilanka 2012

penyaji

-

10.

Pelatihan teknik Manajemen Information sistem program nasional   Pengembangan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2009

Narasumber

-

11.

Pelatihan teknis Training of trainers program PANSIMAS

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2008

 

Narasumber

 

12.

Sosialisasi UU No.26 tahun 2007 tentang penataan ruang

DISTARKIM Sulsel tahun 2009

Narasumber

-

13.

Pelatihan-AparatPemerintah kabupaten/kota se SulSel

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

14.

Pelatihan-Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTR Provinsi Sulsel

12-14 Juni 2013, Dinas Tarkim Provinsi Sulsel

Narasumber

-

15.

Pelatihan teknis pilihan teknologi dalam pembangunan prasarana dan sarana sanitasi dan air limbah.

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

16.

Pelatihan aparat pemda kab/kota, Strategis pengembangan kab/kota berbasis rencana tata ruang kota

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

17.

Lokakarya nasional master plan dan perencanaan teknis kerjasama kota metropolitan mamminasa

Ditjen Bangda Depdagri – Jakarta tahun 2009

Narasumber

-

18.

Timteknis/Kelompok-kerja Pembangunan-kotabaru Mamminasata

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Pengarah

-

19

 

 

 

20.

 

 

 

21.

 

 

22

 

23.

 

 

 

24.

 

 

25

 

 

26

 

27

 

 

28.

 

Seminar nasional Arsitektur rumah dan Permukiman Tradisional Kawasan Timur Indonesia.

Disseminasi peraturan perundang undangan penataan bangunan dan lingkungan.

Seminar-nasional,ibukota negara,harapan dan tantangan

 

Studi optimalisasi pelabuhan Ferry Mamuju propinsi sulawesi Barat

Studi Kelayakan Pembangunan Dermaga bala-balakang kabupaten Mamuju Sulawesi barat

Seminar Penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Minapolitan kab. Luwu timur.

Seminar nasional penerapan konsep bangunan hijau pada bangunan gedung.

International seminar on urban and regional planning

Pelatihan-Manajemen persampahan .

Bimbingan teknis pemanfaatan citra satelit untuk informasi spasial sumber daya lahan.

 

Badan Litbang PU,tahun 2010

 

 

 

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2010.

 

Pemerintah propinsi Sulawesi-Selatan

tahun 2011.

Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009. Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009.

 

 

BPSPL Makassar 2010

 

 

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2012.

 

ASPI-tahun 2011.

 

DISTARKIM Sulsel

Tahun 2012.

 

LAPAN-thn 2012

Penyaji

 

Narasumber

 

Narasumber

Tim Pakar

 

Tim pakar

 

 

Penyaji

 

 

penyaji

 

 

 

 

penyaji                                        

         —-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

peserta-

 

 

 

 

peserta

 

29.

Pelatihan Teknis Sistem Informasi Manajemen Kawasan Ekonomi Terpadu( Berbasis GIS)

Ditjen Tata Ruang-UNHAS-LAPAN

Tahun 2013.

 

peserta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

mengolah limbah cair rumahtangga di perkotaan

Posted September 7, 2014 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

MENGELOLA LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN.

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

Limbah Cair Rumah Tangga di Perkotaan

Limbah cair rumah tangga di perkotaan adalah salah satu bahan sisa dari aktivitas manusia sehari-hari yang dibuang sepanjang waktu. Bahan sisa tersebut berupa air yang telah digunakan meliputi air buangan dari kamar mandi, kakus, tempat cuci juga tempat memasak.

Pada awalnya bahan sisa tersebut sepertinya tidak akan menimbulkan masalah karena dapat dibuang ke lingkungan dengan aman. Hal tersebut dimungkinkan karena volume dan jenis kandungan limbah cair rumah tangga terbilang masih relatif kecil, sehingga lingkungan masih mampu menetralkannya secara alami. Namun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas di rumah tangga, menyebabkan volume dan jenis kandungan limbah cair yang dihasilkan semakin besar pula. Peningkatan tersebut menyebabkan kemampuan lingkungan untuk menetralisir semakin menurun, akibatnya limbah cair rumah tangga telah menimbulkan berbagai masalah, baik terhadap manusia maupun lingkungan hidup.

Kota Makassar, merupakan salah satu kota terbesar di kawasan timur Indonesia yang mengalami perkembangan sangat pesat, termasuk dalam pertambahan jumlah penduduk. Hal tersebut turut mempengaruhi aktivitas di rumah tangga, sehingga volume limbah rumah tangga yang dihasilkan pun mengalami peningkatan yang sangat besar. Keadaan tersebut menunjukkan besarnya potensi terjadinya peningkatan volume limbah cair yang dihasilkan rumah tangga, sekaligus besarnya potensi terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Hingga saat ini, Kota Makassar belum memiliki sistem pengolahan limbah rumah tangga secara khusus. Sistem pembuangan secara langsung masih dilakukan melalui saluran-saluran pembuangan yang bermuara ke perairan pantai, terutama Pantai Losari. Berbagai fenomena berupa gangguan dan ancaman terhadap lingkungan mulai dapat disaksikan di sepanjang saluran pembuangan limbah di sekitarnya, Demikian pula adanya pada areal pantai lokasi pembuangan limbah sebagai dampak dari sistem pembuangan langsung yang dilakukan selama ini.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dampak yang terjadi mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pembusukan dan perubahan warna limbah, baik pada saluran pembuangan maupun pada tempat penampungan akhir, selain sangat mengganggu keindahan dan kenyamanan. Juga menjadi media penyebaran berbagai jenis kuman penyakit .

Rusaknya berbagai fasilitas perkotaan, seperti fisik saluran pembuangan (drainase) yang setiap saat dilalui oleh limbah cair rumah tangga merupakan kerugian yang cukup besar. Akibatnya, hilang sudah berbagai jenis ikan dan biota perairan dari pesisir, merupakan salah satu contoh rusaknya ekosistem perairan, sebagai dampak dari meruahnya limbah cair rumah tangga yang tidak diolah. Contoh kasus seperti itu merupakan bukti dan dasar pertimbangan yang sangat kuat, bahwa sudah saatnya masalah limbah cair rumah tangga mendapat perhatian yang sangat besar dalam pengelolaannya, guna menyelamatkan Kota Makassar dari ancaman limbah cair rumah tangga.

Efek buruk yang ditimbulkan oleh limbah cair rumah tangga telah banyak dirasakan oleh masyarakat, terutama di daerah perkotaan. Terjadinya berbagai jenis gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kuman yang berasal dari lingkungan sangat erat kaitannya dengan limbah rumah tangga. Demikian pula dengan terjadinya pembusukan dan perubahan warna pada perairan dalam saluran-saluran pembuangan, berkaitan erat dengan masuknya limbah rumah tangga pada saluran tersebut. Rusaknya ekosistem perairan menyebabkan semakin langkanya beberapa jenis biota, baik pada perairan darat maupun pantai. Kerusakan-kerusakan yang terjadi. selain merusak lingkungan, juga mengganggu kehidupan manusia.

Pada dasarnya pengolahan limbah cair telah banyak dilakukan di berbagai tempat, dengan menggunakan sistem pengolahan yang berbeda-beda. Umumnya sistem pengolahan limbah yang telah dilakukan berupa pengolahan secara fisik, antara lain dengan kolam pengendapan, parit terbuka, saringan percikan, dan sebagainya. Namun demikian, sistem pengolahan tersebut belum memberikan hasil yang maksimal karena masih memiliki kelemahan-kelemahan tersendiri dalam pengoperasiannya. Oleh sebab itu, diperlukan suatu upaya untuk mengembangkan sistem pengolahan limbah cair yang lebih baik dibanding yang telah ada, agar dapat diperoleh hasil yang lebih baik untuk menanggulangi masalah limbah cair rumah tangga yang semakin membutuhkan penanganan serius.

Pengertian Limbah Cair Rumah Tangga

Beberapa pengertian tentang limbah cair rumah tangga telah dikemukakan oleh para ahli, yang pada garis besarnya memiliki kesamaan. Echler dan Steel dalam Sugiharto (1986) mengemukakan bahwa limbah adalah cairan yang dibawa oleh saluran air buangan. Selanjutnya, Metcalf dan Eddy (1978) memberi batasan tentang air buangan (wastewater) sebagai kombinasi dari cairan dan sampah-sampah cair yang berasal dari daerah permukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air hujan yang ada. Selanjutya Metcalf & Eddy (2003), mendefinisikan limbah berdasarkan titik sumbernya sebagai kombinasi cairan hasil buangan rumah tangga (permukiman),instansi perusahaaan, pertokoan, dan industri dengan air tanah, air permukaan, dan air hujan

Sumber-sumber limbah cair :

Kegiatan rumah tangga
Kegiatan industri
Kegiatan rumah sakit dan aktivitas yang bergerak di bidang kesehatan
Kegiatan pertanian, peternakan
Kegiatan pertambangan
Kegiatan transportasi
Macam limbah cair :

Limbah cair organik
Limbah cair an organik dan gas.
Dengan demikian, air buangan adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan Limbah cair rumah tangga adalah air yang telah digunakan yang berasal dari rumah tangga atau permukiman, perdagangan, daerah kelembagaan dan daerah rekreasi, meliputi air buangan dari kamar mandi, WC, tempat cuci atau tempat memasak.

3.Sumber-Sumber Limbah Cair Rumah Tangga

Oleh karena cakupan pengertian limbah cair rumah tangga cukup luas, maka jika dipetakan tempat-tempat yang merupakan penghasil atau sumber limbah tersebut adalah :

Daerah Permukiman
Daerah permukiman merupakan kumpulan rumah tinggal keluarga dengan berbagai kondisi mulai dari rumah pondok sederhana sampai rumah mewah, termasuk di dalamnya hotel dan apartemen yang berpenghuni tetap .Limbah yang dihasilkan oleh sumber tersebut relatif besar dengan intensitas aliran yang hampir merata sepanjang hari. Limbah yang dihasilkan relatif seragam karena berasal dari kegiatan yang sejenis, yakni kamar mandi. tempat cuci dan tempat memasak.

Daerah Perdagangan
Daerah perdagangan meliputi berbagai tempat kegiatan perdagangan seperti pusat perbelanjaan, rumah makan, bar dan tempat-tempat pencucian. Limbah yang dihasilkan dari daerah perdagangan, tergantung pada jenis kegiatan dan bahan yang dikelola pada tempat tersebut. Demikian pula dengan intensitas aliran limbahnya mencapai puncak pada jam-jam kerja atau saat kegiatan berlangsung.

Daerah Kelembagaan
Sumber limbah cair dari daerah kelembagaan ada beberapa tempat, antara lain perkantoran, sekolah, rumah sakit dan penjara. Kandungan limbah cair dari sumber-sumber tersebut bervariasi sesuai tempat asalnya. Limbah rumah sakit banyak mengandung mikroorganisme patogen sebagai bahan buangan dari aktivitas medis di samping kandungan lainnya. Dari sekolah, pada umumnya berupa urine dari bekas cucian dari aktivitas di tempat tersebut.

Daerah Rekreasi
Sumber limbah cair yang termasuk dalam daerah rekreasi meliputi tempat atau fasilitas yang mendukung dalam suatu kawasan untuk rekreasi termasuk tempat dan fasilitas di luar kawasan yang berfungsi sebagai sarana rekreasi, istirahat dan hiburan

4.Kandungan Limbah Cair Rumah Tangga

Limbah cair rumah tangga sebagai bahan sisa dari berbagai aktivitas, mengandung berbagai komponen. Kandungan tersebut menjadi dasar untuk menentukan sifat dari limbah cair, yang terdiri atas sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologis (Suriawiria, 1986).

Sifat Fisik
Limbah cair rumah tangga yang sudah terkumpul dan masih dalam keadaan baru dan dalam keadaan aerob berbau busuk yang hampir seperti bau minyak tanah berbaur dengan bau tanah, berwarna abu-abu kekuning-kuningan. Limbah cair septik yang tersimpan cukup lama, mempunyai bau yang lebih menyengat terhadap indra penciuman. Bau yang dominan pada keadaan tersebut adalah bau telur busuk dari asam belerang dan merkaptan, yang dapat dijadikan ciri dari suatu tangki septik. Air limbah yang telah mengalami proses septik umumnya berwarna hitam.

Sifat fisik yang penting diketahui meliputi beberapa aspek, yaitu : suhu, kekeruhan dan padatan tersuspensi. Sifat-sifat fisik tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Kekeruhan. Kekeruhan limbah cair rumah tangga ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan organik yang terkandung di dalam limbah berupa zat-zat yang mengendap, tersuspensi dan terlarut (Suriawiria, 1986). Biasanya tingkat kekeruhan pada limbah cair rumah tangga cukup tinggi (tergantung pada sumbernya) dan akan terus meningkat di lingkungan apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu.

Padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap secara langsung. Penentuan padatan tersuspensi sangat berguna dalam analisa perairan tercemar dan air buangan, dapat digunakan untuk mengevaluasi kekuatan air buangan domestik. Padatan tersuspensi terdiri atas partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen, misalnya tanah, bahan-bahan organik tertentu dan sel-sel mikroorganisme.

Sifat Kimia
Komponen kimia yang terdapat dalam limbah cair rumah tangga, ada yang larut dan ada pula yang tidak larut. Jumlah dan macam komponen tersebut relatif tak terbatas, menyebabkan karakteristik kimia limbah tersebut sangat kompleks. Komponen yang menyusun limbah cair rumah tangga digolongkan dalam dua kelompok, yaitu zat organik dan zat anorganik.

Kelompok zat organik dalam limbah cair rumah tangga, terdiri atas :

Golongan karbohidrat
Golongan protein
Golongan lemak dan minyak
Golongan senyawa fenol
Golongan zat bersifat surfaktan
Adapun golongan anorganik antara lain terdiri atas :

Kandungan Kalsium
Kandungan Klorida
Kandungan Amonium
Kandungan Posfat
Kandungan Besi
Kandungan Nitrit, dan lain-lain.

Kandungan bahan kimia limbah cair rumah tangga dapat merusak lingkungan melalui beberapa cara. Bahan organik terlarut dapat menghabiskan oksigen di dalam limbah serta akan menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu bahan organik akan berbahaya apabila bahan tersebut merupakan bahan beracun. Sifat-sifat kimia limbah cair rumah tangga yang penting untuk diketahui antara lain :

Nilai pH.

Nilai pH mencirikan keseimbangan antara asam dengan basa dalam limbah dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen. Adanya karbonat (CO32″), hidroksida (OH”) dan bikarbonat (HCO3″) menaikkan kebasaan air. Sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan keasaman. Nilai pH air tawar berkisar 5.0 – 9.0 (Saeni, 1989), sedangkan nilai pH limbah cair rumah tangga biasanya lebih rendah sehingga menyulitkan dalam proses biologis.

Oksigen terlarut ( Dissolved Oxygen = DO ).

Oksigen merupakan zat kunci dalam menentukan kehidupan di dalam air atau limbah. Kekurangan oksigen akan berakibat fatal bagi kebanyakan hewan akuatik seperti ikan. Adanya oksigen juga dapat menyebabkan keadaan yang fatal bagi banyak jenis mikroba anaerobik. Konsentrasi oksigen terlarut selalu merupakan hal yang utama yang harus diukur dalam menentukan kualitas air atau limbah (Saeni, 1989). Oksigen memegang peranan penting dalam pengolahan limbah secara biologik, karena bila oksigen bertindak sebagai aseptor hidrogen, mikroorganisme akan memperoleh energi maksimum. Untuk mempertahankan sistem aerobik diperlukan konsentrasi oksigen terlarut minimal 0.5 mg/liter (Jenie dan rahayu, 1993).

Biological Oxygen Demand (BOD).

Biological oxygen demand merupakan suatu parameter kualitas limbah yang penting untuk diketahui, karena BOD menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik dalam limbah tersebut secara biologis. Limbah dengan BOD tinggi tidak dapat mendukung kehidupan organisme yang membutuhkan oksigen. Uji BOD adalah salah satu roetode analisis yang paling banyak digunakan dalam penanganan limbah. Uji tersebut mencoba untuk menentukan kadar pencemaran dari suatu limbah, dalam pengertian, kebutuhan mikroba terhadap oksigen dan merupakan ukuran tak langsung dari bahan organik yang ada dalam limbah.

Chemical Oxygen Demand (COD).

Yang dimaksud dengan COD limbah adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam satu liter limbah. Nilai COD yang tinggi menunjukkan adanya pencemaran oleh zat-zat organik yang tinggi (Suhardi, 1991). Untuk menentukan total zat organik dalam limbah dapat dilakukan dengan cara tak langsung yaitu menentukan COD. Disebut cara tak langsung karena yang ditentukan adalah kebutuhan oksigen untuk menambah zat organik secara kimiawi. Cara tersebut cukup relevan dan banyak digunakan untuk berbagai kepentingan.

Klorida.

Kadar klorida dalam air alami dihasilkan dari rembesan klorida yang ada dalam batuan dan tanah serta dari daerah pantai dan rembesan air laut. Kotoran manusia mengandung sekitar 6 gram klorida setiap orang per hari. Pengolahan secara konvensional masih kurang berhasil untuk menghilangkan bahan tersebut, dan dengan adanya klorida dalam air atau limbah menunjukkan bahwa air atau limbah tersebut telah mengalami pencemaran.

Kesadahan.

Kesadahan adalah hasil dari adanya hidroksi karbonat dan bikarbonat yang berupa kalsium, magnesium, sodium, potasium atau amoniak. Dalam hal ini yang paling penting adalah kalsium dan magnesium bikarbonat. Pada umumnya air limbah adalah basa yang diterimanya dari penyediaan air, air tanah, dan bahan tambahan selama digunakan di rumah.

Posfor.

Posfor terdapat di dalam limbah melalui hasil buangan manusia, baik secara langsung maupun berupa sisa-sisa aktivitas terutama dari air mandi dan bekas cucian. Sebagian besar posfor yang terdapat dalam limbah cair rumah tangga adalah dalam bentuk ortoposfat, yakni dapat mencapai 80% dari total posfat yang ada di dalam limbah tersebut .

Nitrogen.

Dalam limbah, nitrogen biasanya terdapat dalam bentuk ammonia, nitrit dan nitrat. Dalam konsentrasi yang tinggi, berbagai bentuk nitrogen bersifat racun terhadap flora dan fauna tertentu. Senyawa-senyawa nitrogen terdapat dalam keadaan terlarut atau sebagai bahan tersuspensi, dan merupakan senyawa yang sangat penting dalam air dan memegang peranan dalam reaksi-reaksi biologi perairan. Nitrogen bersama-sama dengan posfor akan meningkatkan pertumbuhan ganggang dalam perairan. Nitrogen akan cepat berubah menjadi nitrogen organik atau amonia nitrogen. Amonia kemudian digunakan oleh bakteri untuk proses oksidasi ke nitrit dan akan cepat berubah ke nitrat. Best Merupakan salah satu unsur yang penting dalam air sehingga kehadirannya di dalam limbah sering menimbulkan masalah. Besi adalah zat terlarut yang sangat tidak diinginkan karena dapat menimbulkan bau yang tidak enak pad air minum apabila mencapai konsentrasi 0.31 mg/1.

Sifat biologis
Sifat biologis limbah cair rumah tangga ditandai dengan kandungan organisme di dalam limbah tersebut. Walaupun pada umumnya merupakan mikroorganisme, namun ada juga diantaranya yang berupa makroorganisme dari hewan dan tumbuhan tingkat rendah. Menurut Gaudy (1980), di dalam limbah rumah tangga pada umumnya ditemukan mikroorganisme golongan bakteri, jamur, ganggang, protozoa, virus, rotivera dan cristacea. Namun diantaranya yang sangat penting untuk diketahui adalah golongan bakteri, protozoa dan virus, karena ketiga golongan mikroorganisme tersebut sangat erat kaitannya dengan penyebaran berbagai jenis penyakit melalui limbah cair rumah tangga.

Bakteri.

Bakteri adalah organisme kecil yang pada umumnya bersel satu, tidak berklorofil, berkembangbiak dengan pembelahan secara biner. Hidup bebas secara kosmopolitan, khususnya di udara, di dalam tanah, air, bahan pangan, tubuh manusia, hewan atau pada tanaman .

Pada umumnya bakteri hidup secara saapropitik pada buangan hewan, manusia dan tanaman yang banyak menimbulkan penyakit. Kehidupan bakteri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu, kelembaban, konsentrasi oksigen, nutrisi, ketersediaan air dan keasaman.

Sel bakteri berbentuk batang, bulat dan spiral, dengan diameter antara 0.5-3.0 mikron, meskipun ada yang mencapai panjang sampai 15 mikron. Struktur sel terlihat bahwa sel dikelilingi oleh lapisan pembungkus (slime layer) yang terdiri atas polisakarida. Dinding sel sangat penting dalam pemberian bentuk dan ketegangan selnya.

Bakteri yang tergolong autotrof menggunakan CO2 sebagai sumber zat karbon, sedangkan bakteri heterotrof menggunakan energi yang berasal dari reaksi kimia dengan sinar matahari. Bakteri yang membutuhkan O2 terlarut di dalam limbah atau air sebagai usaha untuk mengoksidasi bahan organik, disebut bakteri aerob, sedangkan yang tidak memerlukan O2 untuk proses tersebut dikenal sebagai bakteri anaerob .

Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme terpenting di dalam limbah cair. karena banyak diantaranya yang dapat digunakan menghilangkan bahan-bahan tertentu yang tidak diinginkan. Namun demikian banyak pula diantaranya yang kehadirannya di dalam limbah cair akan memperburuk keadaan limbah tersebut. Protozoa. Protozoa adalah kelompok mikroorganisme yang umumnya motil, bersel tunggal dan tidak mempunyai dinding sel (Jenie dan Rahayu, 1993). Seperti halnya dengan kelompok protista, protozoa dapat dijumpai pada air permukaan, air tanah, lumpur, debu, tinja, dan juga di lautan. Ukurannya beberapa ratus kali lebih besar dibandingkan dengan bakteri.

Salah satu jenis protozoa yaitu Pramaecium berbentuk elips dengan panjang 200 mikron dan lebar 40 mikron. Protozoa dapat hidup dengan syarat kehidupan yang minimal, sebab mikroba tersebut dapat menggunakan bakteri maupun mikroba lainnya sebagai sumber makanannya.

Selain berperan dalam proses penjernihan air, protozoa juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia Di dalam sistem pengolahan limbah cair, protozoa menjadi penting peranannya karena mikroba tersebut dapat memakan bakteri sehingga jumlah sel bakteri yang ada tidak berlebihan. Disamping itu protozoa akan mengurangi bahan organik yang tidak terolah dalam sistem penanganan dan membantu menghasilkan efluen dengan mutu yang lebih tinggi dan lebih jernih. Virus. Virus adalah parasit kecil yang bukan merupakan sel karena tidak mempunyai inti sel, membran sel maupun dinding sel. Virus berkembangbiak dalam kehidupan sel dan semuanya tidak akan berdaya apabila berada di luar kehidupan sel. Ukuran virus berkisar antara 200 – 400 milimikron, terdiri atas sekitar 100 tipe virus yang dikeluarkan melalui ekskreta manusia lewat saluran pencernaan dan banyak dijumpai pada sumber air.

Dalam limbah cair terdapat rata-rata 100 – 500 virus setiap 100 ml limbah. Apabila virus tersebut tidak dibasmi pada proses pengolahan limbah cair dan mencemari badan air, maka jumlahnya akan menjadi lebih banyak.

Perhatian utama terhadap virus apabila terdapat di dalam limbah cair atau perairan dengan konsentrasi tinggi. Sejumlah penyakit yang disebabkan oleh virus digolongkan sebagai penyakit yang ditularkan melalui air (water borne disease), seperti penyakit polio dan hepatitis (Arya, 1999). Walaupun virus yang terdapat dalam suatu perairan konsentrasinya rendah, tidak menjamin bahwa perairan tersebut aman. Hal itu disebabkan karena setiap virus mampu menimbulkan infeksi.

Efek Buruk Limbah Cair Rumah Tangga

Air yang tercemar akan terlihat berubah, baik dari segi warna, bau, dan lainnya. Sementara bahan pencemar dan perubahan karakteristiknya dalam air atau badan air dipengaruhi oleh beberapa keadaan. Perilaku pencemar dalam sistem perairan dipengaruhi oleh keseimbangan kelarutan dimana suatu zat kimia bercampur dengan suatu cairan membentuk sebuah sistem yang homogen.

Defenisi pencemaaran air antara lain disebutkan dalam PP.No.82 tahun 2001. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya. Air yang menyimpang dari keadaan normalnya disebut air tercemar, ukuran air bersih dan tidak tercemar tidak hanya ditentukan oleh kemurnian air.

Sesuai dengan pengertian limbah cair rumah tangga yang merupakan bahan sisa, berarti limbah cair adalah benda yang tidak digunakan lagi. Akan tetapi bukan berarti bahwa tidak perlu lagi dilakukan pengolahan, karena apabila tidak dikelola secara baik, akan menimbulkan gangguan terhadap lingkungan dan kehidupan yang ada.

Beberapa gangguan yang terjadi sebagai efek buruk dari limbah cair rumah tangga,yaitu : gangguan kesehatan, gangguan kehidupan biotik, gangguan terhadap keindahan, serta gangguan berupa kerusakan barang atau benda.

Gangguan Terhadap Kesehatan
Limbah cair rumah tangga sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia, mengingat banyaknya penyakit yang dapat ditularkannya Sebagai media pembawa penyakit, di dalam limbah cair banyak terdapat mikroba patogen yang dapat mengganggu kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mikroba patogen yang biasa terdapat di dalam limbah cair rumah tangga antara lain golongan bakteri, seperti Vibrio. Salmonella dan Bacillus, dan dari golongan Protozoa seperti Entamoeba dan Paramaecium ( Sumirat, 1996 ). Demikian pula dengan golongan virus, banyak terdapat di dalam limbah rumah tangga, walaupun pola penularannya belum diketahui dengan jelas.

Limbah cair rumah tangga yang mengandung ekskreta yakni tinja dan urine, sangat berbahaya karena banyak mengandung mikroba patogen. Mikroba patogen tersebut mempunyai kemampuan hidup dan bertahan di dalam lingkungan dalam jangka waktu tertentu, tergantung jenis mikrobanya.

Mikroba patogen yang ada dalam limbah cair rumah tangga sangat berpengaruh terhadap peran air dalam penyebaran penyakit. Semakin besar volume limbah cair yang memasuki suatu perairan, semakin potensial pula perairan tersebut menyebarkan penyakit.

Mikroba patogen yang memasuki perairan merupakan penyebab berbagai macam penyakit menular. Penyakit tersebut dapat menular bila air yang mengandung mikroba patogen itu dipakai oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Adapun jenis-jenis mikroba yang dapat menyebar melalui air, adalah virus, bakteri dan protozoa.

Cara lain penyebaran mikroba patogen dari air kotor adalah melalui insekta yang bersarang atau hidup pada air tersebut. Insekta yang mengandung berbagai jenis penyakit tersebut menyebar dan menyerang manusia dengan cara masing-masing. Semakin kotor suatu perairan, semakin banyak mengandung insekta yang dapat menyebarkan bibit penyakit.

Gangguan Terhadap Biota Perairan
Tingginya kadar bahan pencemar yang terdapat di dalam limbah cair menyebabkan turunnya kadar oksigen yang terlarut di dalamnya Hal tersebut akan mengganggu kehidupan yang membutuhkan oksigen di dalam air.

Selain disebabkan oleh kurangnya oksigen terlarut, kematian di dalam limbah juga disebabkan oleh adanya zat-zat beracun. Kematian yang terjadi selain menimpa hewan-hewan, juga terhadap bakteri yang seharusnya dapat berperan dalam proses penjernihan limbah. Akibatnya proses penjernihan limbah menjadi terhambat .

Gangguan Terhadap Keindahan
Banyaknya bahan organik yang terdapat di dalam limbah cair rumah tangga menyebabkan terjadinya proses-proses pembusukan yang menghasilkan bau sangat mengganggu. Selain menimbulkan bau busuk, proses tersebut juga akan menyebabkan kondisi limbah menjadi licin atau berlendir dengan penampakan yang sangat buruk .

Dampak lain dari tingginya kadar bahan organik di dalam limbah cair rumah tangga adalah terbentuknya warna hitam atau warna lain yang sangat mengganggu pemandangan. Hal tersebut akan menjadi lebih parah jika terjadi pada kawasan rekreasi.

Gangguan Terhadap Benda dan Barang
Apabila limbah mengandung karbondioksida yang agresif maka akan mempercepat terjadinya proses pengkaratan pada benda yang terbuat dari besi yang dilalui oleh limbah tersebut. Selain itu limbah yang berkadar pH rendah ataupun yang tinggi, akan menimbulkan pula kerusakan terhadap benda-benda yang dilaluinya.

Lemak yang berupa zat cair pada waktu dibuang ke saluran akan menumpuk secara kumulatif pada saluran karena mengalami pendinginan dan akan menempel pada dinding saluran, yang pada akhirnya akan menyumbat aliran limbah .

Sistem Pengolahan Limbah Cair Rumah Tangga

Salah satu gagasan dan pemikiran yang dapat dikemukakan dalam upaya mengembangkan sistem pengolahan limbah cair rumah tangga adalah kemungkinan untuk memadukan secara bersinergi antara beberapa cara pengolahan dalam suatu model. Dalam hal ini pemanfaatan sistem saringan yang memanfaatkan bahan-bahan anorganik dan sistem saringan yang memanfaatkan tanaman air dipadukan dalam suatu model yang diberi nama Saringan Biogeokimia.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu sistem pengolahan limbah cair yang selama ini sering digunakan adalah penyaringan limbah cair menggunakan berbagai jenis bahan anorganik, seperti kerikil, arang batok kelapa, sabut kelapa, pasir dan zeolit. Sistem tersebut dianggap cukup efektif karena bahan-bahan anorganik yang digunakan rata-rata memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar bahan pencemar di dalam limbah cair, baik melalui proses filtrasi maupun proses penyerapan. Namun demikian dari hasil pengamatan di lapangan, menunjukkan bahwa limbah cair yang telah melalui proses pengolahan dengan sistem penyaringan bahan anorganik masih mengandung bahan pencemar yang cukup tinggi sehingga masih memerlukan pengolahan lebih lanjut agar limbah tersebut dapat memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan dan layak untuk dilepas ke lingkungan atau dimanfaatkan untuk keperluan lain.

Pemanfaatan tanaman air sebagai saringan biologis untuk limbah cair rumah tangga didasarkan pada berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman air memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas limbah cair rumah tangga. Hal tersebut memungkinkan karena di dalam tubuh tanaman air berlangsung suatu mekanisme yang dapat mempengaruhi bahan-bahan yang terkandung di dalam limbah cair rumah tangga.

Kemampuan tanaman air untuk meningkatkan kualitas limbah cair, antara lain dikemukakan oleh Stowel et al. (1980), bahwa ada beberapa fungsi tanaman air pada sistem pengolahan limbah cair, yaitu bagian akar dan batang tanaman dapat menyerap dan menyaring bahan yang terlarut di dalam limbah cair serta dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Bagian tanaman yang berada di permukaan air, dapat melindungi perairan dari sinar matahari sehingga mencegah pertumbuhan ganggang, mengurangi pengaruh angin, dan mentransfer gas dari udara ke perairan, dari perairan ke tanaman atau sebaliknya.

Kehadiran tanaman air di dalam kolam pengolahan limbah sangat potensial untuk menyaring dan menyerap bahan yang terlarut di dalam limbah, melangsungkan pertukaran dan penyerapan ion, serta memelihara kondisi perairan dari pengaruh angin, sinar matahari dan suhu.

Rangkaian fakta tentang kemampuan sistem saringan anorganik serta pembuktian adanya kemampuan tanaman air untuk menurunkan kadar bahan pencemar di dalam limbah cair, menjadi dasar pemikiran peneliti untuk mengembangkan suatu sistem pengolahan limbah cair rumah tangga dengan cara menggabungkan antara kedua potensi tersebut menjadi suatu sistem pengolahan limbah cair yang lebih efektif. Dalam hal ini penggabungan dilakukan antara sistem saringan anorganik dengan saringan tanaman air sehingga sistem pengolahan tersebut dapat digolongkan sebagai Sistem Filter Biogeokimia.. Hasil penggabungan tersebut menghasilkan sistem pengolahan limbah secara bertahap, yakni tahap pertama dengan pengolahan secara filter geokimia, dan tahap ke dua pengolahan dengan biofilter yang menggunakan tanaman air. Diharapkan agar sistem pengolahan tersebut dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam upaya pengolahan limbah cair permukiman, sehingga masalah yang ditimbulkan oleh limbah cair nunah tangga selama ini dapat ditanggulangi.

Beberapa Cara Pengolahan Limbah Cair

Air limbah yang tercemar, bila langsung dialirkan ke lingkungan (seperti sungai atau badan air lainnya), akan mengakibatkan terjadinya pencemaran pada badan air tersebut. Pengelolaan air limbah ditujukan agar dapat memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Baku mutu air perlu dikendalikan, sehingga pengambilan air juga akan terkendali dan dapat terjaga ketersediaan sumber air baik air permukaan maupun air tanah dalam. Akan tetapi karena kurangnya pengawasan dan tingkat kesadaran masyarakat, maka sering terjadi penyumbatan muka air tanah dangkal sehingga kekurangan air bersih di berbagai tempat.

Keberadaan air limbah mutlak dikelola agar tidak melampaui ambang batas toleransi lingkungan. Dasar hukum yang mengatur pengelolaan ini terkait dengan Penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Instalasi ini sangat penting, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 dinyatakan bahwa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sangat diperlukan dalam upaya menurunkan kadar parameter pencemar dalam limbah, agar diperoleh limbah cair dengan kualitas baik dan memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Limbah cair ini lazimnya dibuang ke perairan umum, sedangkan di sisi lain perairan umum sangat sering manfaatkan untuk berbagai keperluan masyarakat.

Pengolahan Limbah Cair Sebelum Dibuang Ke Lingkungan
Pengolahan limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan atau ke badan-badan air terutama ditujukan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran yang ditimbulkannya. Secara alamiah, lingkungan mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk menetralkan limbah cair yang masuk ke lingkungan tersebut. Namun demikian, kemampuan tersebut mempunyai keterbatasan, sehingga perlu dilakukan upaya untuk melindungi dan menjaga kelestariannya.

Dewasa ini telah ditemukan beberapa cara untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan, baik untuk limbah industri maupun untuk limbah rumah tangga. Namun demikian, penerapan teknologi pengolahan limbah tersebut belum sampai menjangkau limbah rumah tangga. Hal tersebut disebabkan antara lain karena tingginya biaya yang diperlukan, sulitnya menerapkan sistem atau cara tersebut, serta masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengolahan limbah cair rumah tangga.

Adapun cara pengolahan limbah cair yang selama ini telah ditemukan, baik untuk industri maupun untuk rumah tangga adalah sebagai berikut:

1.Pengenceran

Pengolahan limbah cair dengan cara pengenceran, yakni dengan menurunkan konsentrasi limbah sampai cukup rendah sebelum dibuang ke lingkungan. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilakukan proses pengolahan sederhana terlebih dahulu, antara lain dengan pengendapan dan penyaringan (Pandia, et al. 1995).

Pesatnya pertumbuhan penduduk dan perkembangan pada semua sektor kehidupan, maka cara tersebut tidak dapat lagi dipertahankan mengingat volume dan kandungan limbah semakin besar. Selain itu, sistem pengenceran memiliki kekurangan, antara lain oksigen terlarut di dalam perairan cepat habis, sehingga mengganggu kehidupan organisme. Cara tersebut juga dapat meningkatkan pengendapan zat-zat padat yang mempercepat pendangkalan dan menyebabkan terjadinya penyumbatan dan banjir.

2.Irigasi luas

Pengolahan limbah cair dengan metode Irigasi Luas pada umumnya digunakan di daerah-daerah di luar kota atau di pedesaan karena memerlukan tanah yang cukup luas dan tidak dekat dengan permukiman penduduk. Limbah cair dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali pada sebidang tanah dan air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit. Pada keadaan tertentu limbah cair dapat digunakan untuk pengairan ladang, pertanian atau perkembangan dan sekaligus berfungsi sebagai pupuk ( Haryoto, 1985 ).

3.Kolam oksidasi

Pengolahan limbah cair dengan sistem Kolam Oksidasi biasa juga disebut Kolam Stabilisasi, atau Lagoon, yang biasanya digunakan untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan oleh suatu kelompok masyarakat. Prinsip kerjanya adalah pemanfaatan pengaruh cahaya matahari, ganggang, bakteri dan oksigen dalam pembersihan alamiah.

Limbah cair dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman 1 sampai 1.5 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Luas kolam tergantung pada volume limbah yang akan diolah dan biasanya digunakan luas lahan sebesar 4072 m2 untuk setiap 100 orang. (Haryoto, 1995). Lokasi kolam minimal berjarak- 500 meter dari daerah permukiman dan ditempatkan di daerah terbuka yang memungkinkan adanya sirkulasi angin. Cara kerja Kolam oksidasi adalah sebagai berikut:

Komponen-komponen yang berperan dalam proses pembersihan alami adalah cahaya matahari, algae, bakteri dan oksigen.
Algae dengan butir klorofil, di dalam limbah cair melakukan proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari sehingga tumbuh dengan subur.
Pada proses fotosintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh klorofil di bawah pengaruh cahaya matahari terbentuk O2. Oksigen tersebut digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair. Selain itu terjadi pula penguraian zat-zat padat, sehingga terjadi pengendapan. Dengan demikian, nilai BOD dan padatan tersuspensi di dalam limbah cair’ akan berkurang, sehingga relatif aman bila dibuang ke badan-badan air. Menurut Darwati dan Rahim (2002), pengolahan limbah cair dengan kolam oksidasi dapat menurunkan BOD dab COD sampai 90%.

4.Saringan percikan

Cara pengolahan limbah cair dengan Saringan Percikan menganut prinsip pengolahan dengan mekanisme aliran yang jatuh dan mengalir perlahan-lahan melalui lapisan batu untuk kemudian disaring. Saringan percikan terbuat dari bak yang tersusun oleh lapisan materi yang kasar, keras, tajam dan kedap air. Bentuk bak dan lapisannya disesuaikan dengan sistem distribusinya. Secara skematis, sistem Saringan Percikan disajikan pada Gambar .

Adapun cara kerjanya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Limbah cair rumah tangga dialirkan masuk ke bak penyaringan melalui pipa influent. Melalui pipa distributor yang mempunyai lubang pemercik, limbah tersebut dijatuhkan secara perlahan pada batu-batuan penyaring yang tersusun sedemikian rupa dengan kemiringan sekitar 10 %.
Setelah melalui penyaringan oleh batuan, limbah secara perlahan mengalir ke bak penampungan efluen yang dilengkapi pipa pembuangan.
Melalui pipa efluen, limbah cair yang telah jernih dan diuji kandungannya, dilepas ke lingkungan.

b.. Sistem Pengolahan Mekanik dan Biologis

Cara ini merupakan sistem pengolahan yang lebih kompleks, karena pengolahan secara mekanik merupakan pengolahan primer, sedangkan pengolahan biologis merupakan pengolahan sekunder. Sistem tersebut terutama digunakan pada daerah perkotaan dan umumnya dapat mengolah berbagai jenis limbah cair baik yang berasal dari rumah tangga maupun dari industri.

Adapun proses kerja sistem tersebut adalah sebagai berikut:

Pada pengolahan primer, pekerjaan pertama adalah menghilangkan kotoran yang berukuran besar seperti sampah, kayu, besi dan bangkai, dengan cara mengalirkan limbah cair melalui saringan kawat besi yang bergaris tengah 2.5 cm. Semua benda kasar dengan garis tengah lebih dari 2.5 cm akan tertahan, selanjutnya limbah cair dialirkan ke saluran endapan kerikil atau pasir.
Limbah cair dialirkan ke tangki pengendapan pertama (primary sedimentation) ke dasar tanki. Lumpur kasar tersebut kemudian dipompa keluar dan dimasukkan dalam tangki pelumat (sludge digestion tank), selanjutnya dimasukkan ke dalam tangki pengeringan. Limbah cair yang tertinggal diolah lebih lanjut dan dialirkan ke pengolahan sekunder.
Pada pengolahan sekunder, bakteri-bakteri aerobik tumbuh dan melakukan dekomposisi secara aerobik. Bakteri-bakteri tersebut memerlukan banyak oksigen yang berasal dari udara. Salah satu cara mendapatkannya adalah dengan menyemprotkan cairan ke dalam bak yang berlapisan kerikil yang berfungsi sebagai penyaring. Cairan lain yakni dengan menyemprotkan oksigen dari dasar tangki ke dalam tangki aerasi.
Cairan dialirkan ke dalam tangki pengendapan terakhir (final sedimentation tank) yang berisi lumpur dan mikroorganisme. Endapan lumpur aktif (activated sludge) sebagian besar digunakan kembali dan dimasukkan ke dalam tangki aerasi. sisanya dibuang setelah dilumatkan dan dikeringkan.

c.. Bahan Anorganik Penyaring Limbah

Berbagai macam cara digunakan untuk mengolah limbah cair. diantaranya : pasir, ijuk, arang batok, kerikil, pasir, ijuk dan kerikil merupakan bahan media penyaring, sedangkan arang batok merupakan bahan media penyerap (Untung, 1998).

Pasir
Saringan pasir bertujuan untuk mengurangi kandungan lumpur dan bahan-bahan padat yang ada pada air limbah rumah tangga serta dapat menyaring bahan padat terapung. Ukuran pasir untuk menyaring bermacam-macam, tergantung jenis bahan pencemar yang akan disaring. Semakin besar bahan padat yang perlu disaring, semakin besar ukuran pasir.

Ukuran pasir yang lazim dimanfaatkan berukuran 0,4 mm – 0,8 mm dengan diameter pasir sekitar 0,2 mm – 0,35 mm serta ketebalan 0,4 m – 0,7 m (Untung. 1998). Menurut Saeni et al, (1990) bahwa saringan pasir mampu menurunkan bahan organik.

Di samping itu saringan pasir menurut Hay (1981) dapat menurunkan kesadahan air dengan keefektifan penyaringan 4.607 – 7.02%. Hal ini disebabkan karena pasir merupakan jenis senyawa silica dan oksigen yang dalam air berupa koloid yang mengikat OH pada permukaan membentuk lapisan pertama yang bermuatan negatif.

Bahan penyaringan pasir dan ijuk dapat menyerap Fe2+ (di samping pertukaran ion pada pasir), dimana Fe2+ dijerat oleh OH (pada pasir) atau asam-asam humus (pada ijuk) membentuk lapisan kedua.

Arang Batok Kelapa
Arang batok ialah arang yang berasal dari tempurung kelapa Tempurung tersebut dibakar sampai menjadi arang. Selain menyerap bahan-bahan kimia pencemar, arang batok juga berfungsi untuk mengurangi warna dan bau air kotor (Untung. 1998).

Ada dua bentuk arang batok yang biasa dipakai. Pertama, butiran berdiameter 0,1 mm. Ke dua berbentuk bubuk berukuran 200 mesh. Karena berfungsi sebagai penyerap mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam limbah cair, maka setelah beberapa waktu kemudian tidak efektif lagi. Ciri ketidak efektifannya ialah air yang sudah tersaring tidak begitu jernih lagi. Jika hal tersebut terjadi, maka arang batok perlu dicuci dengan air bersih atau bahkan diganti dengan yang baru. Arang batok butiran dapat diaktifkan lagi melalui pembakaran ganda (Slamet, 1984).

Dalam proses penyaringan dengan bahan arang terjadi pertukaran kation Fe2+ dengan Ca2+ dan Mg2+, sehingga berlangsung pengikatan Fe dan terjadi penambahan nilai kesadahan filtrat (Saeni, et al. 1990). Pada bahan penyaring arang, pengambilan Fe2+ dilakukan proses pertukaran kation, dimana kation-kation pada permukaan partikel arang ditukar oleh ion besi. Di samping itu bahan saringan arang mengandung bahan organik yang tinggi, sehingga dapat menarik bahan organik dari air yang disaring (Manahan, 1977).

Karbon Aktif
Karbon aktif adalah karbon yang mempunyai kadar C yang tinggi serta mempunyai daya adsorbsi yang besar. Karbon aktif dapat dibuat dengan berbagai cara yaitu dengan cara pemanasan karbon pada suhu yang tinggi, kurang lebih 500°C, atau dengan menambah asam fosfat/seng klorida pada karbon (Lado, 1997).

Karbon dapat diperoleh dari pembakaran kayu atau tempurung kelapa Karbon tersebut belum aktif karena masih mengandung abu dan zat-zat ikutan lainnya, sehingga kurang efektif jika langsung digunakan sebagai penyerap (adsorben).Karbon yang telah diaktifkan mempunyai permukaan yang besar sehingga kontak resapan terhadap zat yang terabsorbsi makin lebih besar. Hal tersebut disebabkan karena karbon aktif mempunyai pori-pori yang banyak (Lado, 1997).

Kerikil
Kerikil dipakai bersama dengan pasir dan arang, dan umumnya diletakkan pada lapisan dasar. Menurut Saeni, at al, (1990), pasir dapat menurunkan kesadahan air dengan keefektifan penyaringan berturut-turut 4,86 – 11,65% dan dapat meningkatkan NH4+. Secara skematis bangunan pengolahan air limbah dengan saringan anorganik, dapat dilihat pada Gambar 4.

d..Tanaman Air

Jenis-Jenis Tanaman Air
Tanaman air merupakan bagian dari vegetasi penghuni bumi ini yang media tumbuhnya adalah perairan. Penyebarannya meliputi perairan air tawar, payau sampai ke lautan dengan beragam jenis dan bentuk, serta sifat-sifatnya. Walaupun masih banyak diantaranya belum diketahui, sebagian dari tanaman tersebut telah lama dikenal, bahkan telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan (Sunanto, 2000).Pada perairan air tawar, umumnya tanaman air tumbuh secara alami menempati bagian-bagian perairan yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing. Namun pada perkembangan selanjutnya, banyak terjadi perubahan pada komposisi kehidupan tanaman air tersebut akibat gangguan keseimbangan ekologis pada tempat tumbuhnya. Akibatnya, tidak sedikit dijumpai kehidupan tanaman air yang tidak seimbang, seperti terjadinya dominasi satu jenis tanaman air, bahkan ada diantara jenis tanaman tertentu yang mengalami kepunahan.

Berdasarkan karakteristiknya, tanaman air dapat dibagi dalam empat golongan, yaitu :

Tanaman air penghuni bagian tepi perairan (Marginal Aquatic Plant).
Sesuai dengan bentuk akar, batang dan daun tanaman yang termasuk golongan tersebut dapat hidup pada bagian tepi suatu perairan, yakni pada bagian yang dangkal sampai bagian yang tidak tergenang air. Beberapa contoh tanaman air yang termasuk dalam golongan marginal aquatic plant adalah tanaman juncus, sagitari, scirpus dan iris.

Tanaman air penghuni bagian permukaan ( Floating Aquatic Plant).
Tanaman air yang tergolong floating aquatic plant adalah tanaman air yang hidup terapung di permukaan perairan dengan posisi akar yang melayang di dalam air. Bentuk akar yang terjurai memungkinkan tanaman tersebut menyerap zat-zat yang diperlukan, terutama dari bahan yang terlarut dan melayang di dalam perairan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah tanaman azolla, lemna, eicchornia, salvinia dan spirodella.

Tanaman air yang hidup di dalam perairan (Submerged Aquatic Plant).
Tanaman jenis ini hidup di dalam perairan dengan seluruh bagian tubuhnya terendam di dalam air. Akarnya menyentuh dasar perairan, namun sebagian diantaranya melayang, sedangkan batang dan daunnya bergerak mengikuti arah gerakan air. Posisi tanaman air jenis ini sangat menunjang untuk menjadi saringan bagi berbagai jenis bahan terlarut yang ada di dalam perairan, sehingga sangat membantu dalam proses penjernihan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah tanaman hydrilla, cllitriche, chara dan elodea.

Tanaman air yang tumbuh pada dasar perairan (Deep Aquatic Plant).
Tanaman air yang tergolong deep aquatic plant adalah tanaman air yang tumbuh pada dasar perairan dengan akar tertanam kuat pada bagian dasar tersebut, sedangkan batangnya berdiri kuat menopang daun dan bunga yang muncul pada permukaan air. Tinggi serta posisi batang biasanya tergantung pada kedalaman perairan tempat hidupnya, sehingga akan dijumpai tinggi batang yang bervariasi serta posisi yang berbeda-beda. Tanaman air yang termasuk golongan ini adalah ponogethon, nuphar dan nympahaea.

Selanjutnya tanaman air dapat dibagi dalam empat tipe, yaitu:

Tanaman air oksigen (Oxygenerator)
Tanaman air yang termasuk dalam Tanaman Air Oksigen adalah tanaman air yang mampu membersihkan udara sekaligus menyerap kandungan garam yang berlebihan di dalam air. Seluruh bagian tanaman tersebut tenggelam di dalam air.

Tanaman air lumpur.
Sesuai dengan namanya, tanaman air golongan tersebut habitat aslinya adalah daerah berlumpur dan sedikit digenangi air. Ada yang menganggap bahwa Tanaman Air Lumpur sama dengan marginal aquatic plant, dengan pertimbangan bahwa tempat hidupnya sama-sama dipinggiran kolam.

Tanaman air pinggir (marginal aquatic plant)
Tanaman Air Pinggir memiliki akar dan batang yang terendam di dalam air. Namun sebagian besar batangnya justru menyembul ke permukaan air. Selain batang, bagian daun dan bunganya juga berada di atas permukaan air.

Tanaman air mengapung (floating aquatic plant)
Tanaman ini tidak memerlukan tanah untuk media tumbuhnya, melainkan mengapung di permukaan air. Tanaman Air Mengapung hidup dengan cara menyerap udara dan unsur hara yang terkandung di dalam air. Tanaman tersebut memiliki keunggulan dalam kegiatan fotosintesis, penyediaan oksigen dan penyerapan sinar matahari

Kemampuan Tanaman Air Menstabilkan Limbah Cair
Kenyataan di lapangan pada masa lampau menunjukkan bahwa limbah cair rumah tangga yang dialirkan kedalam kolam-kolam yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman air, akan keluar dalam keadaan jernih. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa di dalam kolam tersebut telah terjadi proses penjernihan melalui penyaringan oleh tanaman air ( Marianto, 2001 ).

Kemampuan tanaman air untuk menjernihkan limbah cair akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian. Berbagai penemuan tentang hal tersebut telah dikemukakan oleh para ahli, baik yang menyangkut proses terjadinya penjernihan limbah maupun menyangkut tingkat kemampuan beberapa jenis tanaman air tertentu. Bahwa tanaman air memiliki kemampuan secara umum untuk mensupport komponen-komponen tertentu di dalam perairan, dan hal tersebut sangat bermanfaat dalam proses pengolahan limbah cair.

Selanjutnya fungsi tanaman air pada proses pengolahan limbah cair dapat dijelaskan bahwa pada proses pengolahan limbah cair dalam kolam yang menggunakan tanaman air, terjadi proses penyaringan dan penyerapan oleh akar dan batang tanaman air, proses pertukaran dan penyerapan ion, dan tanaman air juga berperan dalam menstabilkan pengaruh iklim, angin, cahaya matahari dan suhu. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa terjadi sinergi antara penggunaan kolam pengolahan dengan tanaman air dalam hal menstabilkan limbah. Tanaman air dapat melakukan berbagai, proses yang menunjang kestabilan limbah, sedangkan kolam selain juga berperan secara langsung dalam proses penstabilan, juga berperan sebagai media tumbuh tanaman air tersebut.

Pengujian dan pemanfaatan kemampuan tanaman air untuk pengolahan limbah cair juga telah dilakukan di beberapa tempat, yang pada umumnya menunjukkan hasil yang positif.

Tabel 1.

Fungsi tanaman air pada proses pengolahan limbah cair

Bagian Tanaman Air

Fungsi

Akar dan atau batang yang ada di dalam perairan
Menekan pertumbuhan bakteri
Menyaring dan menyerap bahan-bahan larut
Batang atau bagian lain yang ada pada permukaan perairan
Menahan cahaya matahari, sehingga dapat mencegah pertumbuhan algae
Memperkecil pergerakan air akibat pengaruh angin, yang selanjutnya mempengaruhi pertukaran gas antara perairan dengan udara bebas
Sangat penting dalam mentrasnfer gas dari dan ke bagian tanaman yang ada di dalam perairan

Sumber : EPA, (1991)

Suriawiria (1993) mengemukakan bahwa penataan tanaman air dalam suatu bedengan-bedengan kecil dalam kolam pengolahan dapat berfungsi sebagai saringan hidup bagi limbah cair yang dilewatkan pada tempat tersebut. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan tanaman air untuk menyaring bahan-bahan yang larut di dalam limbah cukup potensial untuk dijadikan bagian dari usaha pengolahan limbah cair.

Pada penelitian lain, Seregeg (1998) mengemukakan bahwa ada beberapa jenis tanaman air yang memiliki efektivitas tinggi jika digunakan sebagai tanaman penyaring pada sistem pengolahan limbah cair? yaitu tanaman Mendong (Scirpus littoralis), Kangkung (Epomea aquatica), dan Tales-Talesan (Typhonium, sp). Sedangkan Yusuf (2001) yang telah melakukan penelitian terhadap kemampuan beberapa jenis tanaman air dalam proses bioremediasi limbah cair rumah tangga mengemukakan bahwa tanaman Mendong (Iris sibirica). Teratai (Nymphaea firekrest), Kiambang (Spirodella polyrrhiza) . dan Hidrilla (Hydrilla verticillata) memberikan efek dalam persentase yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain terhadap peningkatan kualitas limbah cair rumah tangga Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa tanaman Mendong yang dikombinasikan dengan Teratai dapat menurunkan suhu limbah sebesar 3.57%, menurunkan kekeruhan sebesar 51,09%, menurunkan padatan tersuspensi 50.74%, meningkatkan pH 2,99%, meningkatkan oksigen terlarut 29,10%, menurunkan BOD 14,55%, menurunkan kandungan Coliform sebesar 46,88%, dan menurunkan Escherichia coli sebesar 45,00%.

Manfaat Tanaman Air Terhadap Lingkungan
Kehidupan berbagai jenis tanaman air di alam, seringkali luput dari perhatian orang. Selain karena kehadirannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, tanaman air juga dianggap sebagai sesuatu yang biasa karena dapat dijumpai dimana-mana. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perlakuan-perlakuan yang sangat merugikan, antara lain berupa pembatasan hidup dan pemusnahan berbagai jenis tanaman air.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kualitas hidup manusia, maka nilai dan manfaat tanaman air mulai terungkap satu persatu. Manfaat tanaman air dalam menghasilkan oksigen pada proses fotosintesis merupakan hal yang sangat penting artinya bagi lingkungan sekitarnya. Oksigen yang dilepaskan ke udara sangat bermanfaat baik untuk kehidupan manusia, maupun kualitas lingkungan itu sendiri.

Dalam hal keindahan, tanaman air juga sangat potensial untuk dikembangkan. Sebagaimana diketahui bahwa selain bentuk-bentuk tanaman air yang cukup unik dan menarik, beberapa diantaranya mempunyai bunga atau daun dengan warna yang sangat indah. apabila tanaman-tanaman air di dalam suatu kolam ditata dengan baik dalam suatu konfigurasi yang sesuai, maka akan menghasilkan pemandangan yang sangat indah dengan nilai estetika yang tinggi.

Upaya untuk memanfaatkan tanaman air sebagai tanaman hias telah banyak dilakukan dan dikenal sebagai “water garden”, namun upaya tersebut sampai saat ini masih terbatas pada pekarangan rumah atau perkantoran. Untuk itu perlu pemikiran untuk mengembangkannya, baik dalam hal fungsi dan manfaat maupun cakupannya. Salah satu alternatif pengembangan tersebut adalah melalui penataan kolam pengolahan limbah cair rumah tangga dengan tanaman air pada suatu permukiman.

Eceng Gondok Sebagai Biofilter Limbah Cair

Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu tanaman air yang populer di Indonesia, yang awalnya didatangkan dari Brazil. Eceng gondok termasuk sejenis tanaman air yang hidup terapung (floating aquatic plant), yang memiliki kemampuan berkembang biak cukup tinggi serta kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dengan demikian, dalam waktu yang singkat, tanaman eceng gondok dapat menutupi permukaan perairan dan mempercepat pendangkalan. Oleh karena itu, eceng gondok berpotensi untuk menimbulkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan.

Selain memiliki sifat merugikan, eceng gondok juga dapat mendatangkan keuntungan, antara lain kemampuannya untuk menyerap berbagai zat pencemar di dalam air. Lubis dalam Sjahrul (1998) mengatakan, beberapa peneliti melaporkan bahwa eceng gondok dapat menyerap berbagai zat pencemar dalam air dan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban pencemaran lingkungan. Dengan demikian bila tanaman eceng gondok dikelola dengan baik dan dipanen secara teratur dapat berperan dalam penanggulangan pencemaran air .

Suatu hasil percobaan menunjukkan bahwa dalam tubuh eceng gondok dapat berlangsung proses yang sangat efisien untuk membersihkan limbah industri yang dapat dihancurkan secara biologia (Neis, 1989). Eceng gondok juga dapat menyerap senyawa-senyawa fenol, eceng gondok yang memiliki bobot kering sebesar 2.75 gram dapat menyerap 100 mg fenol dari air suling atau air sungai selama 72 jam atau 1 ha eceng gondok dapat menyerap 160 kg fenol selama 3 hari. Selanjutnya, Gopal (1987) mengemukakan bahwa eceng gondok dapat memindahkan sejumlah senyawa sintetik termasuk pestisida dari air yang telah tercemar pestisida. Juga dilaporkan bahwa dari sejumlah studi ditemukan bahwa telah terjadi pengurangan jumlah Coliform dalam limbah yang ditanami dengan eceng gondok. Pengurangan tersebut disebabkan karena terjadinya akumulasi bakteri di sekitar akar eceng gondok. Kejadian tersebut telah dimanfaatkan untuk membasmi epidemik kolera yang tersebar di Bangladesh.

Welverton dan Donald (1979) menyatakan bahwa di Amerika Serikat pemakaian gulma air sebagai penjernih pencemar yang telah digunakan meluas karena biaya operasinya tidak mahal Jadi cara tersebut cukup baik diterapkan di negara berkembang seperti di Indonesia. Cara pengelolaan eceng gondok sebagai salah satu cara untuk menanggulangi pencemaran ialah menjaga supaya ada populasi terbatas eceng gondok yang berfungsi sebagai penyaring zat pencemar. Banyaknya zat yang terserap oleh eceng gondok, tergantung pada konsentrasi dari jenis pencemar dalam larutan media pertumbuhan.

Pencemaran perairan oleh limbah penduduk dan industri dapat merangsang pertumbuhan eceng gondok hingga populasinya mengganggu keseimbangan lingkungannya. Dengan pengelolaan yang baik, yaitu menjaga populasi tertentu, eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai penyaring zat pencemar dalam limbah. Pengelolaan eceng gondok yang dapat disarankan adalah dengan cara mekanis yang diikuti dengan pemanfaatan bahan organiknya menjadi pupuk, makanan ternak, bahan kerajinan, pulp, media tumbuh jamur merang, biogas dan Iain-lain

Saringan Organic Sebagai Filter Limbah Cair Rumah Tangga.

Peranan Saringan Anorganik
Saringan anorganik tersusun dari lapisan materi kasar, keras, tajam dan kedap air. Limbah rumah tangga yang melewati saringan tersebut diharapkan dapat tersaring bahan-bahan yang mengambang, terapung, kekeruhan, warna dan bau.

.Proses Penyerapan
Limbah cair rumah tangga pada dasarnya mengandung bahan-bahan tercemar. Proses yang memegang peranan penting dalam penyaringan polutan adalah proses penjerapan pada permukaan pasir, kerikil, karbon aktif dan zeolit. Saringan pasir dan kerikil pada proses penyaringan limbah cair rumah tangga mampu menahan endapan lumpur dan logam. Kemampuan pasir dan kerikil menjerap pulutan dalam limbah cair didasarkan atas pertukaran kation. Arang atau karbon aktif mampu menjerap polutan karena strukturnya yang berpori-pori dan memiliki permukaan yang luas persatuan volume. Bau dan warna limbah cair juga dapat dihilangkan oleh arang. / Mineral zeolit merupakan jenis bahan galian yang murah dan dapat didapatkan di pasaran. Zeolit adalah bahan penukar ion yang dapat digunakan pada prose penjernihan air karena kemampuannya menyerap dan menyaring molekul, sebagai penukar kation dan katalis. Oleh karena itu, zeolit sangat tepat digunakan untuk pengolahan limbah rumah tangga, diantaranya sebagai penghilang bau, pengika logam Ca, Mg, Fe, Mn dan logam berat lainnya serta dapat menyerap gas.

c.Keterkaitan Antara Tanaman Air Dengan Kandungan Limbah Cair Rumah Tangga Dalam Ekosistem

Proses sirkulasi kesetimbangan antara bahan konsumsi dan lingkungan alam berjalan melalui proses industri. Manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan sehari harinya menggunakan hasil industri sebagai bahan konsumsi mereka Residu dan manusia yang terkumpul dalam limbah rumah tangga yang mengandung berbagai polutan terbuang ke dalam badan air sampai terbentuk pencemaran perairan.

Bahan residu yang dihasilkan dari aktivitas manusia dalam limbah rumah tangga terbuang ke lingkungan air dan tanah. Banyak dari residu dalam limbah mengandung logam, zat organik dan zat anorganik lain tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme air. Akibatnya, bahan residu dan limbah cair menjadi polutan dan tersebar ke komponen lingkungan. Polutan di dalam lingkungan akan tersirkulasi bersama-sama dengan semua bahan yang lain dalam proses pertumbuhan tanaman air Dalam proses metabolisme, polutan akan menjadi bagian dari struktur selular dalam tanaman air.

Dari gejala yang ada, tampak bahwa ada faktor-faktor yang berpengaruh pada proses penyerapan dan sekaligus mempengaruhi proses penjernihan limbah rumah tangga. Tanaman air yang tumbuh pada lingkungan air yang sudah tercemar juga nampak ada faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembentukan habitatnya sehingga mampu menyerap berbagai jenis polutan air. Untuk memecahkan masalah pengurangan kadar polutan sampai pada tingkat di bawah ambang batas standar (baku) mutu lingkungan, dibuat suatu model sinergi saringan biogeokimia. Saringan tersebut diharapkan mampu menyaring polutan dalam limbah cair rumah tangga sampai didapatkan hasil pengolahan yang optimal.

Skema keterkaitan antara saringan geokimia dan biologi dengan bahan pencemar dalam ekosistem, disajikan pada Gambar 4.

Penelitian Limbah Cair Rumah Tangga Oleh Syahriar Tato.

Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan, yakni dari bulan September 2003 sampai bulan Pebruari 2004. Adapun tempat pelaksanaan penelitian ini adalah dalam wilayah Kota Makassar, dengan perincian:

Lokasi pengambilan limbah cair rumah tangga, yakni dalam kawasan Perumahan Asindo, Perumnas Toddopuli, dan pada kawasan Permukiman Kampung Lette. Ketiga tempat tersebut diharapkan dap at mewakili karakteristik limbah cair rumah tangga dalam wilayah Kota Makassar, baik dari segi kandungan, jenis dan volumenya.
Tempat pemasangan instrumen penelitian, dalam hal ini tempat pelaksanaan percobaan atau pengolahan limbah, menggunakan lokasi pada halaman belakang Kantor Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulawesi Selatan, Jl. Urip Sumoharjo. No. 96 Makassar. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa jarak dengan lokasi pengambilan limbah dan jarak dengan lokasi untuk pengujian kandungan limbah, cukup menguntungkan.
Selanjutnya, tempat pengujian kandungan limbah, yakni di Laboratorium Kimia dan Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin.
Simpulan dan Rekomendasi

Sebagai simpulan dan rekomendasi yang dapat diberikan oleh hasil penelitian tersebut terhadap pemerintah kota Makassar.

Simpulan

Pengolahan limbah cair rumah tangga dengan sistem filter biogeokimia memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan kadar kandungan bahan pencemar, sehingga dapat meningkatkan kualitas limbah yang diolah sebelum dilepas ke lingkungan.
Efektivitas sistem filter biogeokimia dalam menurunkan kadar bahan pencemar limbah cair rumah tangga menunjukkan tingkat yang bervariasi pada setiap parameter yang diuji.. Efektivitas pengolahan untuk penurunan kekeruhan sebesar 89.46%. penurunan padatan tersuspensi 93.67%, kesadahan 88,84%, pH 6,79%, BOD 91,40%, COD 91,6%, BOT 85,18%, kalsium 92,39%, klorida 85,81%, amonium 83,20%, ortofosfat 85,17%, besi 76,86%, dan nitrit 90%.
Penurunan kadar bahan pencemar menunjukkan persentase yang berbeda antara satu parameter dengan parameter yang lain, dan pada umumnya persentase penurunan yang dicapai pada penelitian ini lebih besar dari persentase penurunan yang dicapai pada beberapa sistem pengolahan limbah yang telah ada.
Penurunan kadar bahan pencemar dalam limbah cair rumah tangga pada umumnya mencapai jumlah yang lebih kecil dari jumlah maksimum yang diperbolehkan dalam Baku Mutu limbah, sehingga kandungan bahan pencemar tersebut dapat dinyatakan aman untuk dilepas ke lingkungan.
Penggunaan kerikil, pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit secara bersama-sama dengan sistem lapisan bertingkat untuk menyaring limbah cair rumah tangga dapat memberikan efek secara bersinergi dalam menurunkan kadar bahan pencemar limbah.
Kemampuan tanaman Eceng Gondok untuk menyaring, menguraikan dan menyerap bahan-bahan terlarut di dalam limbah cair menjadi lebih efektif, apabila limbah yang diolah sebelumnya telah melalui saringan kerikil, pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit.Pengenceran limbah cair rumah tangga sebelum diolah, memberikan efek yang signifikan terhadap hasil pengolahan. Tingkat pengenceran yang efektif untuk digunakan pada pengolahan limbah dengan sistem saringan biogeokimia adalah pada konsentrasi 50%, karena ternyata pada konsentrasi tersebut faktor pengenceran memberikan efek yang optimal terhadap penurunan kadar bahan pencemar, dan efek tersebut tidak berbeda nyata dengan konsentrasi yang lebih rendah
Waktu kontak antara limbah cair rumah tangga yang diolah dengan setiap jenis saringan memberikan efek terhadap hasil pengolahan. Pada pengolahan dengan sistem saringan biogeokimia, ternyata waktu kontak yang memberikan efek paling besar terhadap hasil pengolahan adalah 8 jam, yakni waktu kontak paling lama yang digunakan pada penelitian ini.
Pola penurunan kadar bahan pencemar dalam limbah cair rumah tangga yang diolah dengan sistem saringan biogeokimia memperlihatkan kurva yang bervariasi. Pada umumnya kadar bahan pencemar mengalami penurunan yang pesat dari kondisi sebelum perlakuan ke perlakuan tingkat pertama, dan dari perlakuan tingkat pertama ke tingkat ke dua dan ke tiga menunjukkan variasi perubahan berupa penurunan, peningkatan ataupun stagnan, namun demikian pada perlakuan tingkat ke empat seluruhnya menunjukkan penurunan yang signifikan.
Rekomendasi

Penggunaan bahan-bahan anorganik seperti kerikil, pasir, arang dan zeolit dan tanaman eceng gondok untuk mengolah limbah cair rumah tangga perlu dimasyarakatkan, karena terbukti bahan-bahan anorganik dan tanaman air tersebut memiliki potensi cukup besar dalam menyaring bahan-bahan yang terkandung dalam limbah cair rumah tangga.
Dengan ditemukannya sistem pengolahan limbah cair rumah tangga yang cukup efektif dan berwawasan lingkungan, maka upaya memasyarakatkan sistem pengolahan limbah bagi masyarakat, perlu ditingkatkan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan penyuluhan dan pemberian contoh secara langsung kepada masyarakat tentang sistem pengolahan yang dapat dilakukan.
Pengolahan limbah cair rumah tangga sebaiknya dilakukan secara kolektif untuk sekelompok rumah tangga, mengingat sistem pengolahan dengan saringan biogeokimia dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan atau volume limbah yang akan diolah.
Untuk pemanfaatan sistem saringan biogeokimia pada pengolahan limbah cair rumah tangga, terlebih dahulu diperlukan adanya sosialisasi tentang sistem tersebut agar masyarakat dapat memahami dan mengetahui penggunaannya dengan baik, bahkan jika memungkinkan dapat dikembangkan lebih baik..
BAHAN BACAAN
Case, D. 1994. Water Garden Plants. Redwood Books. Trowbridge, Wilthire.

Connel, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Universitas Indonesia Jakarta.

Darwati. S. 1998. Metode Pendekatan dan Aplikasinya Dalam Menyusun Baku Mutu Efluen IPAL. Jurnal Penelitian Permukiman. 14(4): 49 – 61

Debusk, T.A. and KLR. Reddy. 1987. Wastewater Treatment Using Floating Aquatic Microphytes. Magnolia Publishing, Inc. Orlando.

EPA [ Environmental Protection Agency ]. 1983. Proces, Theory, Performance and Design Stabilization Ponds in : Municipal Wastewater Stabilization Ponds. Officer of Research and Development Municipal Environmental Research Labiratory. Cincinnati. U.S.A.

——– 1886. Pathogen Reduction,’in : Control of Pathogen in Municipal

Wastewater Sludge for Land Application. Pathogen Equivalency Commite.

——– 1989. POTW In-Plant Control Evaluation, in : Toxicity Reduction

Evaluation Protocol for Municipal Wastewater Treatment Plant. Risk Reduction Engineering Laboratory Office of Research and Development Commite. Cincinnati.

——– 1991. Aquatic Treatment System, in : Constructed Wetlands and Aquatic

Plant System for Municipal Wastewater Tratnient. Centre of Environment Research Information U.S. Government Printing Officer. Cincinnati

——– 1991. Design of Aquatic Plant System, in : Constructed Wetland and

Aquatic Plant System for Municipal Wastewater Treatment. Centre of Environmental Research Information U.S. Government Printing Officer. Cincinnati.

Eric, M. and J. Mike. 1997. Effects of Aerobic and Microaerobic Condition on Aerobic Ammonium-Oxidizing Sludge. Applied and Environmental Microbiology. American Society for Microbiology. 63(6):31-36

Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Flynn, E.J. 1986. The New Microbiology. McGraw Hill Book Company. New York.

Gaudy, A.F. and E.T. Gaudy. 1980. Microbiology for Environmental Scientis and Engineers. McGraw Hill. New York.

Hantzshe, N.N. 1985. Wetland System for Wastewater Treatment. Ecological Concideration in Wetland Tratment of Municipal Wastewater. Van Nostrand Reinhold Co. New York.

Haryoto, K. 1985. Kesehatan Lingkungan . Universitas Indonesia. Jakarta,

Haryoto, K. 1999. Toksikologi Lingkungan, Zat Kimia dan Medan Elektromagnetik. Universitas Indonesia. Jakarta.

Haryoto, K. 1999. Kebijakan dan Strategi pengolahan Limbah dalam Menghadapi Tantangan Global. Dalam : Teknologi Pengolahan Limbah dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional; Jakarta. 13 Juli 1999. BPPT. Jakarta

Henze, M., P. Harremoes., J.C. Jansen., and E. Arvin. 1996. Wastewater Treatment. Springer Verlag. Berlin.

Hufschmidt, M. 1996. Lingkungan, Sistem Alami dan Pembangunan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta

Jenie, B.S.L. dan Rahayu. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta,

Juhaeni. 1999. Perbaikan Proses pengolahan Limbah Cair Peternakan. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. Pusat Studi Lingkungan Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia. 19(1):56 – 62.

Lakitan, B. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Lay, B.W. dan Hastowo. 1992. Mikrobiologi. Penerbit CV. Rajawali. Jakarta.

Lies. E.H., H. Wartono dan W. Wardhana. 1999. Manajemen Kolam Air Tawar dengan Sistem Resirkulasi. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Pusat Studi Lingkungan Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia. Jakarta 19(3): 191 – 197.

Lucy, W.M. 1995. Mikrobiologi Lingkungan. Universitas Hasanuddin Bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta

Metcalf and Eddy. 1978. Wastewater Engineering. TATA McGraw Hill Publishing Company Ltd. New Delhi.

Middlebrooks, E.J. and M.A. Al-Layla. 1987. Handbook of Wastewater Collection and Treatment. Garland STMP Press. New York.

Moody…M. 1993. Creating Water Gardens. Landsdowne Publishing. London.

Momon, N.M. dan M. Lya. 1997. Tingkat Pencemaran Air Limbah Rumah Tangga. Jurnal Penelitian Permukiman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta

NoIte and Associated. 1986. Operation and Maintenance Manual, City of Gustine Wastewater Treatment Facility Improvement. EPA Project. California.

Pandia, S., dkk. Kimia Lingkungan. Universitas Sumatera Utara Bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Reddy, K.R and W.H. Smith. 1987. Aquatic Plants for Water Treatment and Resource Recovery. Magnolia Publishing. Inc. Orlando.

Reed, S.C., E.J. Middlebrooks and R.vv. Crites. 1987. Natural System for Waste Management and Treatment. U.S. Environmental Protection Agency.

Robinson, P. 1994. The Water Garden’. The Royal Horticultural Society Collection. Conran Octopus Limited. London.

Ronald, L.D. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment. John Wiley & Sons. New York.

Ryadi, S. 1984. Kesehatan Lingkungan. Penerbit Karya Anda. Surabaya.

Saeni, M.S. 1989. Kimia Lingkungan. PAU Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Sarbidi. 1999. Perilaku Masyarakat Permukiman Bantaran Sungai Dalam Mengelola Limbah padat dan Cair.Jurnal Penelitian Permukiman.15(2):34-46.

Seregeg. I.G. 1998. Efektivitas Saringan Bioremediasi Tanaman Mendong (Scirpus littoralis Schard), Kangkung (Ipomea aquatica Forsk), dan Tale-Talesan (Typhonium Miq), Melalui Uji Coba Lapang Skala Kecil dan Simulasi di Laboratorium [Disertasi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor, Program Pasca Sarjana

Soerjani, M. 1987. Lingkungan, Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Universitas Indonesia. Jakarta

Stowel, R.R., XC. Ludwig and G. Thobanoglous. 1980. Toward the Rational Design of Aquatic Treatments of Wastewater. Departemen of Civil Engoneering and Land, Air, and Water Resources, University of California California

Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah. Universitas Indonesia. Jakarta.

Suhardi. 1991. Analisis Air dan Penanganan Limbah. PAU Pangan dan Gizi. Universitas gajah Mada. Yogyakarta,

Sumirat S. J. 1996. Kesehatan Lingkungan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Suriawiria, U. 1986. Mikrobiologi Air. Penerbit Alumni. Bandung.

Suriawiria, U. 1993. Mikrobiologi Air dan dasar-dasar Pengolahan Buangan Secara Biologis. Penerbit Alumni. Bandung.

Tato,Syahriar 2003 ,model teknologi pengolahan limbah cair rumah tangga dengan filter biogeokimia.Desertasi.

Tchobanoglous, G. 1987. Aquatic Plant System for Wastewater Treatment. Magnolia Publishing. Orlando.

Thiese, A and CD. Martin. 1987. Municipal Wastewater Purification in a Vegetative Filter Bed in Emmitsburg, Maryland. Magnolia Publishing. Orlando.

Wagini, dkk. 2000. Studi Fisis daur Ulang Limbah Cair Industri Peternakan Sapi dengan Simulasi Pengenceran. Jurnal Manusia dan Lingkungan. Pusat penelitian Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Yusuf, G. 2001 Bioremediasi Limbah Rumah Tangga dengan Sistem Simulasi Tanaman Air [Disertasi]. Bogor ; Institut Pertanian Bogor, Program Pascasarjana.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO,SH.SAB.SSN.MS.MH.MM.

Nama : DR. IR.DRS.SYAHRIAR TATO.SH.SAB.SSN.MS.MH.MM
Status : Dosen Tetap Yayasan Pendidikan Bosowa
Dosen (NIDN) : 09.2102.5101
Dosen sertifikat : 12109101012869.
Pangkat akademik : Lektor Kepala (25 oktober 2004-
SKEP.07/34/BP/U- 45/X/04),

Pangkat PNS : Pangkat pengabdian IV/d, Pembina Utama
Madya (Kep.Presiden RI no.18/K TAHUN 2011).

7.Kelompok Keahlian : 1.Perencanaan Prasarana Wilayah dan Kota.

Perencanaan Kawasan Wisata.
Konsep dan Struktur Tata Ruang.
Civil Engineering.
Penyehatan dan pencemaran lingkungan.
Penyutradaraan dan Keaktoran.
No. KTP : 7371092102510001.
Pasport : A.3948304.
10.Kelamin : Laki-Laki

11.Agama : Islam

12.Kota/Tanggal Lahir : Pinrang , 21 pebruari 1951

13.Jabatan Akademik : 1).Direktur Pascasarjana STIK Tamalate 2008-2011.

2) Dekan Fakultas Teknik ISTP Makassar 2010-2011.

3).Rektor IKM. 2014.

14.Instansi Induk : Universitas “45” Makassar.

15.Riwayat Pendidikan

Strata Sarjana Muda (SM)
Tanggal Lulus : 12 agustus 1975(tahun 1970-1975)
Gelar : Bachelor of Architec Engineering (BAE)
Nama PT : Akademi Teknologi Negeri
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Arsitektur
Judul perancangan: Perencanaan bangunan gedung perpustakaan Ujung
Pandang
- Pembimbing : Ir. Winardi sukowiyono.

Strata Satu ( S1 )
Tanggal Lulus : 26 Maret 1984 (1980-1984)
Gelar : Doktorandus ( Drs )
Nama PT : STIA-LANRI
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Administrasi Negara.
Judul Skripsi : Implementasi program terpadu Pemugaran Perumahan
Desa di Propinsi Sulawesi Selatan Ditinjau dari
Administrasi Pembangunan
Pembimbing : Dr. HM. Syukur Abdullah MPA
Strata Satu (S1)
Tanggal Lulus : 10 maret 1990 (1984-1990)
Gelar : Insinyur (Ir)
Nama PT : Universitas Muslim Indonesia
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Teknik sipil.
Judul Skripsi : Model Pengelolaan Bangunan Gedung dengan Metode
Gabungan GUNCHART-CPM-HANNUM CURVE.
Pembimbing : Ir.HM. Ridwan Abdullah, Msc.

Strata Satu (S1)
Tanggal Lulus : 6 April 2009 (2006-2009)
Gelar : Sarjana Hukum ( SH )
Nama PT : Universitas Satria Makassar
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Hukum Pidana.
Judul Skripsi : Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Keyakinan Hakim
dalam Proses Pembuktian Menurut Hukum Acara Pidana
Pembimbing : HM. Yunus Idy.SH.MH dan Djonny.SH.MH

Strata Satu (S1)
Tanggal Lulus : 15 November 2011 (2008-2011)
Gelar : Sarjana Administrasi Bisnis (SAB)
Nama PT : STIA-YPA-AH
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Administrasi Bisnis.
Judul Skripsi : Faktor yang Mempengaruhi Retribusi Penerimaan
Pengelolaan PDAM Kabupaten Pinrang ditinjau dari segi
Administrasi Bisnis
Pembimbing : Dr. Drs. Amiruddin Semma dan Muhammad
Amiruddin,SE.
Strata Satu (S1).
Tanggal Lulus : 27 juni 2013.(2008-2013)

Nama PT : Institut Kesenian Makassar
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Seni Media Rekam Film dan Televisi.
Judul Karya : Karya Penciptaan Film Pendek berjudul TANDA CINTA
– Pembimbing : Machfud Ramli,S.Sos dan Yohan C Tinungki,S.Mus,M.Sn.

Strata Dua (S2)
Tanggal Lulus : 17 Oktober 1992.( 1990-1992)
Gelar : Magister Sains ( MS )
Nama PT : Universitas Hasanuddin
Kota Asal PT : Makassar.
Bidang Ilmu : Pencemaran dan Penyehatan Lingkungan.
Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman pada
Kawasan Pantai Kota Madya Ujung Pandang.
Pembimbing :Ir.Yulianto Sumalyo,Prof.Dr.Rahardjo
Adisasmita,Dr.Ir.Sampe Paembonan,MS.
Strata Dua (S2)
- Tanggal lulus : 27 Mei 2010.(2008-2010)

- Gelar : Magister Hukum.( MH )

- Nama PT Universitas Kristen Indonesia Paulus.

- Kota Asal PT : Makassar.

- Bidang Ilmu : Hukum Tata Negara dan Pemerintahan.

- Judul Tesis : Analisis Yuridis Pemanfaatan Ruang Berdasarkan

Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar.

Strata Dua (S2)
- Tanggal lulus : 30 April 2012(2010-2012)

- Gelar : Magister Manajemen ( MM )

- Nama PT : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pengembangan Bisnis dan

Manajemen

- Kota Asal PT : Jakarta

- Bidang Ilmu : Manajemen .

- Judul Tesis : Pengaruh Faktor Pembiayaan untuk Meningkatkan

Pengelolaan Persampahan Kota Makassar

- Pembimbing : Prof.Dr.Masngudi,SE dan Dr,Wier Ritonga ,SE,MM.

Strata Tiga (S3 )
Tanggal Lulus : 16 Juli 2004 (1996-2004)
Gelar : Doktor (Dr)
Nama PT : Universitas Hasanuddin.
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Studi Ilmu Teknik.
Judul Disertasi : Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair dengan Filter
BiogeoKimia

Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Muh.Arief.Dipl.Ing
Prof. Dr. Syahrul. M,Agr.

Prof. Dr. Ir. Muh.Saleh Pallu,M.Eng.

Prof, Dr. Ir. Mary Selintung, MSc

Penghargaan atas karya bakti.
Satya Karya 1985 Mentri Pekerjaan Umum
Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI
Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI
Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI.
ASEAN EXSECUTIVE AWARD 2004

Daftar karya ilmiah dan populer yang ditulis .
NO

JUDUL TULISAN

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan

2005

Jurnal SPASIAL Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2005

2.

Tata Guna lahan – system transportasi sebagai sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan

2006

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2006

3.

Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan

2007

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2007

4.

Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2008

5.

Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Juni 2008

6.

Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban

2009

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2009

Daftar Artikel Dosen selama 10 tahun terakhir
NO

JUDUL ARTIKEL

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Air Sumber kehidupan, masihkah lestari

2003

Artikel dalam Majallah “sinergi”no6 Tahun I, Oktober 2003

2.

Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar, masihka memukau?

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

4.

Manajemen Strategik organisasi seni budaya

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 2 Tahun 2003

5.

Filter Biogeokimia, Mengolah limbah cair perkotaan

2004

Artikel dalam Majallah

“ Sinergi” no1. Tahun I, Januari 2004

6

1 Milyard Orang Dambakan Air

2004

Artikel dalam Majallah “sinergi”no3 Tahun. II

Maret 2004

Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 3 Tahun 2004

Mungkinkah membangun seni budaya”Beraura” tradisi di Sulawesi Selatan

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 5 Tahun 2004

Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian local

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 6 Tahun 2004

10.

Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata)

2005

Artikel dalam Majallah “Mimbar Aspirasi”Edisi 44 Februari 2005

11.

12.

Identifikasi kawasan terpilih pusat pengembangan desa dikabupaten Majene propinsi sulawesi barat.

Juridical analysis Utilization of space based regulation member 6 0n the spatial plan area of the city Makassar

Desember 2012

Jurnal SPASIAL vol 8 no.2 ISSN : 1411-3899

13.

Arahan pengembangan kawasan strategi kota galesong kabupaten takalar

2010

Jurnal SPASIAL vol 8 no.1- ISSN : 1411-3899

14.

15.

Evaluasi rencana Kawasan Agropoitan di kawasan matakali-kabupaten polewali mandara sulawesi barat.

Disparitas pemanfaatan ruang terhadap PERDA no 6 tahun 2006 tentang RTRW kota Makassar.

2010.

2010

Jurnal Tekstur kota

Vol 1 no 2-ISSN 2086-7786.

Jurnal Tekstur kota

Vol 2 no 1-ISSN 2086-7786.

Karya Ilmiah
1.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Journal of Science and Technology integration vol.III, januari 2011, ISSN : 1675-8437.Selangor Malaysia

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

Sebagai

:

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

Tahun-Bulan

:

2010 (4 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Area Development Minapolitan coastal communities to improve economy Gowa

2.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar International book expo 2012 malaysia

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

Sebagai

:

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

:

Biaya sendiri

Tahun-Bulan

:

2012 (2 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur tradisional sulawesi selatan warisan budaya etnis lokal Indonesia.

3.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar arsitektur tradisional minahasa dan suku tobadij papua

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

:

Satker balai pengembangan teknologi perumahan tradisional makassar (APBN)

Tahun-Bulan

:

2009 (6 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur rumah tradisional minahasa dan suku tobadij papua.

4.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar Dinas tataruang dan permukiman Sulawesi Selatan.

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Tim teknis

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tata ruang dan permukiman.(APBN )

Tahun-Bulan

:

2008 (6 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Identifikasi kawasan Resapan air kawasan metropolitan Mamminasata

5.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata ruang dan Pemukiman Sulawesi Selatan

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Tim teknis

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan permukiman (APBN)

Tahun-Bulan

:

2008 (4 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan masterplan Kawasan Agropoiltan Allakuang kabupaten Sidenreng Rappang.

6.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulawesi Selatan

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Tim teknis

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan Pemukiman ( APBN)

Tahun-Bulan

:

2009 (4 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan Master plan Kawasan Agropoitan Mangbotu Kabupaten Luwu Timur

7.

Jenis Karya Ilmiah

:

Buku ilmiah

Dipublikasikan pada

:

De la macca ISBN no 978-602-263-009-8

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

Sebagai

:

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

Tahun-Bulan

:

2013

Judul Karya Ilmiah

:

Cara sederhana mengolah sampah perdesaan.

8.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Bapeda Kabupaten Boven digoel

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Tim teknis

Jenis Pembiayaan

:

APBD Kab, Boven Digoel

Tahun-Bulan

:

2013 (6 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) kabupaten boven Digoel

9.

Jenis Karya Ilmiah

Buku ilmiah

Dipublikasikan pada

Penerbit Lamacca press-ISBN no, 979-3897-49-2

Dilaksanakan secara

Mandiri

Sebagai

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

Mandiri

Tahun-Bulan

2009.

Judul Karya Ilmiah

Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan,Pusaka warisan budaya indonesia.

10.

Jenis Karya Ilmiah

Buku ilmiah

Dipublikasikan pada

De la macca-ISBN no 978-979-3897-36-3

Dilaksanakan secara

Mandiri

Sebagai

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

Mandiri

Tahun-Bulan

2010

Judul Karya Ilmiah

Mengolah limbah cair rumah tangga dengan filter biogeokimia

11.

Jenis Karya Ilmiah

Buku Ilmiah

Dipublikasikan pada

De la Macca.ISBN 978-602-263-008-1

Dilaksanakan secara

Mandiri

Sebagai

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

Mandiri

Tahun-Bulan

2013.

Judul Karya Ilmiah

Mari membangun kawasan hijau dan bangunan hijau yang ramah lingkungan

12.

Jenis Karya Ilmiah

Buku ilmiah

Dipublikasikan pada

De la macca.ISBN 978 602 263 010 4

Dilaksanakan secara

Mandiri

Sebagai

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

Mandiri

Tahun-Bulan

2013

Judul Karya Ilmiah

Potensi dan harapan masa deoan kawasan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) parepare

Kegiatan dalam dan luar negeri .

No.

Jenis Kegitan

Tempat dan Waktu Kegiatan

Jenis Partisipasi

Penyaji

Peserta

1.

Earthquake Engeenering for reconstruction

University of Victoria,wellington selandia baru 1996

Peserta

2.

Earthquake Disaster Management

Universityof new

south wales-

sidney australia 1996

peserta-

3.

Training of Water suplly Engineering

OECF/JICA.Tokyo jepang 1997

peserta-

4.

OzWater conference

and Exebhition

Perth australia 2004

Penyaji

5.

Studi Kawasan Agropolitan

HPTI Bangkok Thailand tahun 2003

peserta-

6.

Bussiness& Industries Conference –Exhibition

Istambul-turki 2006

Penyaji

7.

Asia Pasific Academic consortium for Public Health conference

Yonsei university-seoul-korea selatan 2011

penyaji

-

8.

International book expo and exebhition

Kualalumpur.malaysia tahun 2012

penyaji

-

9.

AsiaPasific Academic Consortium for Public Health confrence.

Colonbo – srilanka 2012

penyaji

-

10.

Pelatihan teknik Manajemen Information sistem program nasional Pengembangan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2009

Narasumber

-

11.

Pelatihan teknis Training of trainers program PANSIMAS

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2008

Narasumber

12.

Sosialisasi UU No.26 tahun 2007 tentang penataan ruang

DISTARKIM Sulsel tahun 2009

Narasumber

-

13.

Pelatihan-AparatPemerintah kabupaten/kota se SulSel

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

14.

Pelatihan-Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTR Provinsi Sulsel

12-14 Juni 2013, Dinas Tarkim Provinsi Sulsel

Narasumber

-

15.

Pelatihan teknis pilihan teknologi dalam pembangunan prasarana dan sarana sanitasi dan air limbah.

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

16.

Pelatihan aparat pemda kab/kota, Strategis pengembangan kab/kota berbasis rencana tata ruang kota

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

17.

Lokakarya nasional master plan dan perencanaan teknis kerjasama kota metropolitan mamminasa

Ditjen Bangda Depdagri – Jakarta tahun 2009

Narasumber

-

18.

Timteknis/Kelompok-kerja Pembangunan-kotabaru Mamminasata

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Pengarah

-

19

20.

21.

22

23.

24.

25

26

27

28.

Seminar nasional Arsitektur rumah dan Permukiman Tradisional Kawasan Timur Indonesia.

Disseminasi peraturan perundang undangan penataan bangunan dan lingkungan.

Seminar-nasional,ibukota negara,harapan dan tantangan

Studi optimalisasi pelabuhan Ferry Mamuju propinsi sulawesi Barat

Studi Kelayakan Pembangunan Dermaga bala-balakang kabupaten Mamuju Sulawesi barat

Seminar Penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Minapolitan kab. Luwu timur.

Seminar nasional penerapan konsep bangunan hijau pada bangunan gedung.

International seminar on urban and regional planning

Pelatihan-Manajemen persampahan .

Bimbingan teknis pemanfaatan citra satelit untuk informasi spasial sumber daya lahan.

Badan Litbang PU,tahun 2010

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2010.

Pemerintah propinsi Sulawesi-Selatan

tahun 2011.

Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009. Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009.

BPSPL Makassar 2010

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2012.

ASPI-tahun 2011.

DISTARKIM Sulsel

Tahun 2012.

LAPAN-thn 2012

Penyaji

Narasumber

Narasumber

Tim Pakar

Tim pakar

Penyaji

penyaji

penyaji

—-

peserta-

peserta

29.

Pelatihan Teknis Sistem Informasi Manajemen Kawasan Ekonomi Terpadu( Berbasis GIS)

Ditjen Tata Ruang-UNHAS-LAPAN

Tahun 2013.

peserta

mengolah limbah cair perkotaan

Posted September 7, 2014 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

MENGELOLA LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN.

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

 Limbah Cair Rumah Tangga di Perkotaan

Limbah cair rumah tangga di perkotaan adalah salah satu bahan sisa dari aktivitas manusia sehari-hari yang dibuang sepanjang waktu. Bahan sisa tersebut berupa air yang telah digunakan meliputi air buangan dari kamar mandi, kakus, tempat cuci juga tempat memasak.

Pada awalnya bahan sisa tersebut sepertinya tidak akan menimbulkan masalah karena dapat dibuang ke lingkungan dengan aman. Hal tersebut dimungkinkan karena volume dan jenis kandungan limbah cair rumah tangga terbilang masih relatif kecil, sehingga lingkungan masih mampu menetralkannya secara alami. Namun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas di rumah tangga, menyebabkan volume dan jenis kandungan limbah cair yang dihasilkan semakin besar pula. Peningkatan tersebut menyebabkan kemampuan lingkungan untuk menetralisir semakin menurun, akibatnya limbah cair rumah tangga telah menimbulkan berbagai masalah, baik terhadap manusia maupun lingkungan hidup.

Kota Makassar, merupakan salah satu kota terbesar di kawasan timur Indonesia yang mengalami perkembangan sangat pesat, termasuk dalam pertambahan jumlah penduduk. Hal tersebut turut mempengaruhi aktivitas di rumah tangga, sehingga volume limbah rumah tangga yang dihasilkan pun mengalami peningkatan yang sangat besar. Keadaan tersebut menunjukkan besarnya potensi terjadinya peningkatan volume limbah cair yang dihasilkan rumah tangga, sekaligus besarnya potensi terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Hingga saat ini, Kota Makassar belum memiliki sistem pengolahan limbah rumah tangga secara khusus. Sistem pembuangan secara langsung masih dilakukan melalui saluran-saluran pembuangan yang bermuara ke perairan pantai, terutama Pantai Losari. Berbagai fenomena berupa gangguan dan ancaman terhadap lingkungan mulai dapat disaksikan di sepanjang saluran pembuangan limbah di sekitarnya, Demikian pula adanya pada areal pantai lokasi pembuangan limbah sebagai dampak dari sistem pembuangan langsung yang dilakukan selama ini.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dampak yang terjadi mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pembusukan dan perubahan warna limbah, baik pada saluran pembuangan maupun pada tempat penampungan akhir, selain sangat mengganggu keindahan dan kenyamanan. Juga menjadi media penyebaran berbagai jenis kuman penyakit .

Rusaknya berbagai fasilitas perkotaan, seperti fisik saluran pembuangan (drainase) yang setiap saat dilalui oleh limbah cair rumah tangga merupakan kerugian yang cukup besar. Akibatnya, hilang sudah berbagai jenis ikan dan biota perairan dari pesisir, merupakan salah satu contoh rusaknya ekosistem perairan, sebagai dampak dari meruahnya limbah cair rumah tangga yang tidak diolah. Contoh kasus seperti itu merupakan bukti dan dasar pertimbangan yang sangat kuat, bahwa sudah saatnya masalah limbah cair rumah tangga mendapat perhatian yang sangat besar dalam pengelolaannya, guna menyelamatkan Kota Makassar dari ancaman limbah cair rumah tangga.

Efek buruk yang ditimbulkan oleh limbah cair rumah tangga telah banyak dirasakan oleh masyarakat, terutama di daerah perkotaan. Terjadinya berbagai jenis gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kuman yang berasal dari lingkungan sangat erat kaitannya dengan limbah rumah tangga. Demikian pula dengan terjadinya pembusukan dan perubahan warna pada perairan dalam saluran-saluran pembuangan, berkaitan erat dengan masuknya limbah rumah tangga pada saluran tersebut. Rusaknya ekosistem perairan menyebabkan semakin langkanya beberapa jenis biota, baik pada perairan darat maupun pantai. Kerusakan-kerusakan yang terjadi. selain merusak lingkungan, juga mengganggu kehidupan manusia.

Pada dasarnya pengolahan limbah cair telah banyak dilakukan di berbagai tempat, dengan menggunakan sistem pengolahan yang berbeda-beda. Umumnya sistem pengolahan limbah yang telah dilakukan berupa pengolahan secara fisik, antara lain dengan kolam pengendapan, parit terbuka, saringan percikan, dan sebagainya. Namun demikian, sistem pengolahan tersebut belum memberikan hasil yang maksimal karena masih memiliki kelemahan-kelemahan tersendiri dalam pengoperasiannya. Oleh sebab itu, diperlukan suatu upaya untuk mengembangkan sistem pengolahan limbah cair yang lebih baik dibanding yang telah ada, agar dapat diperoleh hasil yang lebih baik untuk menanggulangi masalah limbah cair rumah tangga yang semakin membutuhkan penanganan serius.

 Pengertian Limbah Cair Rumah Tangga

Beberapa pengertian tentang limbah cair rumah tangga telah dikemukakan oleh para ahli, yang pada garis besarnya memiliki kesamaan. Echler dan Steel dalam Sugiharto (1986) mengemukakan bahwa limbah adalah cairan yang dibawa oleh saluran air buangan. Selanjutnya, Metcalf dan Eddy (1978) memberi batasan tentang air buangan (wastewater) sebagai kombinasi dari cairan dan sampah-sampah cair yang berasal dari daerah permukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air hujan yang ada. Selanjutya Metcalf & Eddy (2003), mendefinisikan limbah berdasarkan titik sumbernya sebagai kombinasi cairan hasil buangan rumah tangga (permukiman),instansi perusahaaan, pertokoan, dan industri dengan air tanah, air permukaan, dan air hujan

 Sumber-sumber limbah cair :

  1. Kegiatan rumah tangga
  2. Kegiatan industri
  3. Kegiatan rumah sakit dan aktivitas yang bergerak di bidang kesehatan
  4. Kegiatan pertanian, peternakan
  5. Kegiatan pertambangan
  6. Kegiatan transportasi

 Macam limbah cair :

  1. Limbah cair organik
  2. Limbah cair an organik dan gas.

 Dengan demikian, air buangan adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan Limbah cair rumah tangga adalah air yang telah digunakan yang berasal dari rumah tangga atau permukiman, perdagangan, daerah kelembagaan dan daerah rekreasi, meliputi air buangan dari kamar mandi, WC, tempat cuci atau tempat memasak.

3.Sumber-Sumber Limbah Cair Rumah Tangga

Oleh karena cakupan pengertian limbah cair rumah tangga cukup luas, maka jika dipetakan tempat-tempat yang merupakan penghasil atau sumber limbah tersebut adalah :

  1. Daerah Permukiman

Daerah permukiman merupakan kumpulan rumah tinggal keluarga dengan berbagai kondisi mulai dari rumah pondok sederhana sampai rumah mewah, termasuk di dalamnya hotel dan apartemen yang berpenghuni tetap .Limbah yang dihasilkan oleh sumber tersebut relatif besar dengan intensitas aliran yang hampir merata sepanjang hari. Limbah yang dihasilkan relatif seragam karena berasal dari kegiatan yang sejenis, yakni kamar mandi. tempat cuci dan tempat memasak.

  1. Daerah Perdagangan

Daerah perdagangan meliputi berbagai tempat kegiatan perdagangan seperti pusat perbelanjaan,   rumah   makan,   bar dan tempat-tempat pencucian. Limbah yang dihasilkan dari daerah perdagangan, tergantung pada jenis kegiatan dan bahan yang dikelola pada tempat tersebut. Demikian pula dengan intensitas aliran limbahnya mencapai puncak pada jam-jam kerja atau saat kegiatan berlangsung.

  1. Daerah Kelembagaan

Sumber limbah cair dari daerah kelembagaan ada beberapa tempat, antara lain perkantoran, sekolah, rumah sakit dan penjara. Kandungan limbah cair dari sumber-sumber tersebut bervariasi sesuai tempat asalnya. Limbah rumah sakit banyak mengandung mikroorganisme patogen sebagai bahan buangan dari aktivitas medis di samping kandungan lainnya. Dari sekolah, pada umumnya berupa urine dari bekas cucian dari aktivitas di tempat tersebut.

  1. Daerah Rekreasi

Sumber limbah cair yang termasuk dalam daerah rekreasi meliputi tempat atau fasilitas yang mendukung dalam suatu kawasan untuk rekreasi termasuk tempat dan fasilitas di luar kawasan yang berfungsi sebagai sarana rekreasi, istirahat dan hiburan

4.Kandungan Limbah Cair Rumah Tangga

Limbah cair rumah tangga sebagai bahan sisa dari berbagai aktivitas, mengandung berbagai komponen. Kandungan tersebut menjadi dasar untuk menentukan sifat dari limbah cair, yang terdiri atas sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologis (Suriawiria, 1986).

  1. Sifat Fisik

Limbah cair rumah tangga yang sudah terkumpul dan masih dalam keadaan baru dan dalam keadaan aerob berbau busuk yang hampir seperti bau minyak tanah berbaur dengan bau tanah, berwarna abu-abu kekuning-kuningan. Limbah cair septik yang tersimpan cukup lama, mempunyai bau yang lebih menyengat terhadap indra penciuman. Bau yang dominan pada keadaan tersebut adalah bau telur busuk dari asam belerang dan merkaptan, yang dapat dijadikan ciri dari suatu tangki septik. Air limbah yang telah mengalami proses septik umumnya berwarna hitam.

Sifat fisik yang penting diketahui meliputi beberapa aspek, yaitu : suhu, kekeruhan dan padatan tersuspensi. Sifat-sifat fisik tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Kekeruhan. Kekeruhan limbah cair rumah tangga ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan organik yang terkandung di dalam limbah berupa zat-zat yang mengendap, tersuspensi dan terlarut (Suriawiria, 1986). Biasanya tingkat kekeruhan pada limbah cair rumah tangga cukup tinggi (tergantung pada sumbernya) dan akan terus meningkat di lingkungan apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu.

Padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap secara langsung. Penentuan padatan tersuspensi sangat berguna dalam analisa perairan tercemar dan air buangan, dapat digunakan untuk mengevaluasi kekuatan air buangan domestik. Padatan tersuspensi terdiri atas partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen, misalnya tanah, bahan-bahan organik tertentu dan sel-sel mikroorganisme.

  1. Sifat Kimia

Komponen kimia yang terdapat dalam limbah cair rumah tangga, ada yang larut dan ada pula yang tidak larut. Jumlah dan macam komponen tersebut relatif tak terbatas, menyebabkan karakteristik kimia limbah tersebut sangat kompleks. Komponen yang menyusun limbah cair rumah tangga digolongkan dalam dua kelompok, yaitu zat organik dan zat anorganik.

Kelompok zat organik dalam limbah cair rumah tangga, terdiri atas :

  1. Golongan karbohidrat
  2. Golongan protein
  3. Golongan lemak dan minyak
  4. Golongan senyawa fenol
  5. Golongan zat bersifat surfaktan

Adapun golongan anorganik antara lain terdiri atas :

  1. Kandungan Kalsium
  2. Kandungan Klorida
  3. Kandungan Amonium
  4. Kandungan Posfat
  5. Kandungan Besi
  6. Kandungan Nitrit, dan lain-lain.

 

Kandungan bahan kimia limbah cair rumah tangga dapat merusak lingkungan melalui beberapa cara. Bahan organik terlarut dapat menghabiskan oksigen di dalam limbah serta akan menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu bahan organik akan berbahaya apabila bahan tersebut merupakan bahan beracun. Sifat-sifat kimia limbah cair rumah tangga yang penting untuk diketahui antara lain :

Nilai pH.

Nilai pH mencirikan keseimbangan antara asam dengan basa dalam limbah dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen. Adanya karbonat (CO32″), hidroksida (OH”) dan bikarbonat (HCO3″) menaikkan kebasaan air. Sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan keasaman. Nilai pH air tawar berkisar 5.0 – 9.0 (Saeni, 1989), sedangkan nilai pH limbah cair rumah tangga biasanya lebih rendah sehingga menyulitkan dalam proses biologis.

Oksigen terlarut ( Dissolved Oxygen = DO ).

Oksigen merupakan zat kunci dalam menentukan kehidupan di dalam air atau limbah. Kekurangan oksigen akan berakibat fatal bagi kebanyakan hewan akuatik seperti ikan. Adanya oksigen juga dapat menyebabkan keadaan yang fatal bagi banyak jenis mikroba anaerobik. Konsentrasi oksigen terlarut selalu merupakan hal yang utama yang harus diukur dalam menentukan kualitas air atau limbah (Saeni, 1989). Oksigen memegang peranan penting dalam pengolahan limbah secara biologik, karena bila oksigen bertindak sebagai aseptor hidrogen, mikroorganisme akan memperoleh energi maksimum. Untuk mempertahankan sistem aerobik diperlukan konsentrasi oksigen terlarut minimal 0.5 mg/liter (Jenie dan rahayu, 1993).

Biological Oxygen Demand (BOD).

Biological oxygen demand merupakan suatu parameter kualitas limbah yang penting untuk diketahui, karena BOD menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik dalam limbah tersebut secara biologis. Limbah dengan BOD tinggi tidak dapat mendukung kehidupan organisme yang membutuhkan oksigen. Uji BOD adalah salah satu roetode analisis yang paling banyak digunakan dalam penanganan limbah. Uji tersebut mencoba untuk menentukan kadar pencemaran dari suatu limbah, dalam pengertian, kebutuhan mikroba terhadap oksigen dan merupakan ukuran tak langsung dari bahan organik yang ada dalam limbah.

Chemical Oxygen Demand (COD).

Yang dimaksud dengan COD limbah adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam satu liter limbah. Nilai COD yang tinggi menunjukkan adanya pencemaran oleh zat-zat organik yang tinggi (Suhardi, 1991). Untuk menentukan total zat organik dalam limbah dapat dilakukan dengan cara tak langsung yaitu menentukan COD. Disebut cara tak langsung karena yang ditentukan adalah kebutuhan oksigen untuk menambah zat organik secara kimiawi. Cara tersebut cukup relevan dan banyak digunakan untuk berbagai kepentingan.

Klorida.

Kadar klorida dalam air alami dihasilkan dari rembesan klorida yang ada dalam batuan dan tanah serta dari daerah pantai dan rembesan air laut. Kotoran manusia mengandung sekitar 6 gram klorida setiap orang per hari. Pengolahan secara konvensional masih kurang berhasil untuk menghilangkan bahan tersebut, dan dengan adanya klorida dalam air atau limbah menunjukkan bahwa air atau limbah tersebut telah mengalami pencemaran.

Kesadahan.

Kesadahan adalah hasil dari adanya hidroksi karbonat dan bikarbonat yang berupa kalsium, magnesium, sodium, potasium atau amoniak. Dalam hal ini yang paling penting adalah kalsium dan magnesium bikarbonat. Pada umumnya air limbah adalah basa yang diterimanya dari penyediaan air, air tanah, dan bahan tambahan selama digunakan di rumah.

Posfor.

Posfor terdapat di dalam limbah melalui hasil buangan manusia, baik secara langsung maupun berupa sisa-sisa aktivitas terutama dari air mandi dan bekas cucian. Sebagian besar posfor yang terdapat dalam limbah cair rumah tangga adalah dalam bentuk ortoposfat, yakni dapat mencapai 80% dari total posfat yang ada di dalam limbah tersebut .

Nitrogen.

Dalam limbah, nitrogen biasanya terdapat dalam bentuk ammonia, nitrit dan nitrat. Dalam konsentrasi yang tinggi, berbagai bentuk nitrogen bersifat racun terhadap flora dan fauna tertentu. Senyawa-senyawa nitrogen terdapat dalam keadaan terlarut atau sebagai bahan tersuspensi, dan merupakan senyawa yang sangat penting dalam air dan memegang peranan dalam reaksi-reaksi biologi perairan. Nitrogen bersama-sama dengan posfor akan meningkatkan pertumbuhan ganggang dalam perairan. Nitrogen akan cepat berubah menjadi nitrogen organik atau amonia nitrogen. Amonia kemudian digunakan oleh bakteri untuk proses oksidasi ke nitrit dan akan cepat berubah ke nitrat. Best Merupakan salah satu unsur yang penting dalam air sehingga kehadirannya di dalam limbah sering menimbulkan masalah. Besi adalah zat terlarut yang sangat tidak diinginkan karena dapat menimbulkan bau yang tidak enak pad air minum apabila mencapai konsentrasi 0.31 mg/1.

  1. Sifat biologis

Sifat biologis limbah cair rumah tangga ditandai dengan kandungan organisme di dalam limbah tersebut. Walaupun pada umumnya merupakan mikroorganisme, namun ada juga diantaranya yang berupa makroorganisme dari hewan dan tumbuhan tingkat rendah. Menurut Gaudy (1980), di dalam limbah rumah tangga pada umumnya ditemukan mikroorganisme golongan bakteri, jamur, ganggang, protozoa, virus, rotivera dan cristacea. Namun diantaranya yang sangat penting untuk diketahui adalah golongan bakteri, protozoa dan virus, karena ketiga golongan mikroorganisme tersebut sangat erat kaitannya dengan penyebaran berbagai jenis penyakit melalui limbah cair rumah tangga.

Bakteri.

Bakteri adalah organisme kecil yang pada umumnya bersel satu, tidak berklorofil, berkembangbiak dengan pembelahan secara biner. Hidup bebas secara kosmopolitan, khususnya di udara, di dalam tanah, air, bahan pangan, tubuh manusia, hewan atau pada tanaman .

Pada umumnya bakteri hidup secara saapropitik pada buangan hewan, manusia dan tanaman yang banyak menimbulkan penyakit. Kehidupan bakteri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu, kelembaban, konsentrasi oksigen, nutrisi, ketersediaan air dan keasaman.

Sel bakteri berbentuk batang, bulat dan spiral, dengan diameter antara         0.5-3.0 mikron, meskipun ada yang mencapai panjang sampai 15 mikron. Struktur sel terlihat bahwa sel dikelilingi oleh lapisan pembungkus (slime layer) yang terdiri atas polisakarida. Dinding sel sangat penting dalam pemberian bentuk dan ketegangan selnya.

Bakteri yang tergolong autotrof menggunakan CO2 sebagai sumber zat karbon, sedangkan bakteri heterotrof menggunakan energi yang berasal dari reaksi kimia dengan sinar matahari. Bakteri yang membutuhkan O2 terlarut di dalam limbah atau air sebagai usaha untuk mengoksidasi bahan organik, disebut bakteri aerob, sedangkan yang tidak memerlukan O2 untuk proses tersebut dikenal sebagai bakteri anaerob .

Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme terpenting di dalam limbah cair. karena banyak diantaranya yang dapat digunakan menghilangkan bahan-bahan tertentu yang tidak diinginkan. Namun demikian banyak pula diantaranya yang kehadirannya di dalam limbah cair akan memperburuk keadaan limbah tersebut. Protozoa. Protozoa adalah kelompok mikroorganisme yang umumnya motil, bersel tunggal dan tidak mempunyai dinding sel (Jenie dan Rahayu, 1993). Seperti halnya dengan kelompok protista, protozoa dapat dijumpai pada air permukaan, air tanah, lumpur, debu, tinja, dan juga di lautan. Ukurannya beberapa ratus kali lebih besar dibandingkan dengan bakteri.

Salah satu jenis protozoa yaitu Pramaecium berbentuk elips dengan panjang 200 mikron dan lebar 40 mikron. Protozoa dapat hidup dengan syarat kehidupan yang minimal, sebab mikroba tersebut dapat menggunakan bakteri maupun mikroba lainnya sebagai sumber makanannya.

Selain berperan dalam proses penjernihan air, protozoa juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia Di dalam sistem pengolahan limbah cair, protozoa menjadi penting peranannya karena mikroba tersebut dapat memakan bakteri sehingga jumlah sel bakteri yang ada tidak berlebihan. Disamping itu protozoa akan mengurangi bahan organik yang tidak terolah dalam sistem penanganan dan membantu menghasilkan efluen dengan mutu yang lebih tinggi dan lebih jernih. Virus. Virus adalah parasit kecil yang bukan merupakan sel karena tidak mempunyai inti sel, membran sel maupun dinding sel. Virus berkembangbiak dalam kehidupan sel dan semuanya tidak akan berdaya apabila berada di luar kehidupan sel. Ukuran virus berkisar antara 200 – 400 milimikron, terdiri atas sekitar 100 tipe virus yang dikeluarkan melalui ekskreta manusia lewat saluran pencernaan dan banyak dijumpai pada sumber air.

Dalam limbah cair terdapat rata-rata 100 – 500 virus setiap 100 ml limbah. Apabila virus tersebut tidak dibasmi pada proses pengolahan limbah cair dan mencemari badan air, maka jumlahnya akan menjadi lebih banyak.

Perhatian utama terhadap virus apabila terdapat di dalam limbah cair atau perairan dengan konsentrasi tinggi. Sejumlah penyakit yang disebabkan oleh virus digolongkan sebagai penyakit yang ditularkan melalui air (water borne disease), seperti penyakit polio dan hepatitis (Arya, 1999). Walaupun virus yang terdapat dalam suatu perairan konsentrasinya rendah, tidak menjamin bahwa perairan tersebut aman. Hal itu disebabkan karena setiap virus mampu menimbulkan infeksi.

Efek Buruk Limbah Cair Rumah Tangga

 Air yang tercemar akan terlihat berubah, baik dari segi warna, bau, dan lainnya. Sementara bahan pencemar dan perubahan karakteristiknya dalam air atau badan air dipengaruhi oleh beberapa keadaan. Perilaku pencemar dalam sistem perairan dipengaruhi oleh keseimbangan kelarutan dimana suatu zat kimia bercampur dengan suatu cairan membentuk sebuah sistem yang homogen.

 Defenisi pencemaaran air antara lain disebutkan dalam PP.No.82 tahun 2001. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya. Air yang menyimpang dari keadaan normalnya disebut air tercemar, ukuran air bersih dan tidak tercemar tidak hanya ditentukan oleh kemurnian air.

 

Sesuai dengan pengertian limbah cair rumah tangga yang merupakan bahan sisa, berarti limbah cair adalah benda yang tidak digunakan lagi. Akan tetapi bukan berarti bahwa tidak perlu lagi dilakukan pengolahan, karena apabila tidak dikelola secara baik, akan menimbulkan gangguan terhadap lingkungan dan kehidupan yang ada.

Beberapa gangguan yang terjadi sebagai efek buruk dari limbah cair rumah tangga,yaitu : gangguan kesehatan, gangguan kehidupan biotik, gangguan terhadap keindahan, serta gangguan berupa kerusakan barang atau benda.

  1. Gangguan Terhadap Kesehatan

Limbah cair rumah tangga sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia, mengingat banyaknya penyakit yang dapat ditularkannya Sebagai media pembawa penyakit, di dalam limbah cair banyak terdapat mikroba patogen yang dapat mengganggu kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mikroba patogen yang biasa terdapat di dalam limbah cair rumah tangga antara lain golongan bakteri, seperti Vibrio. Salmonella dan Bacillus, dan dari golongan Protozoa seperti Entamoeba dan Paramaecium ( Sumirat, 1996 ). Demikian pula dengan golongan virus, banyak terdapat di dalam limbah rumah tangga, walaupun pola penularannya belum diketahui dengan jelas.

Limbah cair rumah tangga yang mengandung ekskreta yakni tinja dan urine, sangat berbahaya karena banyak mengandung mikroba patogen. Mikroba patogen tersebut mempunyai kemampuan hidup dan bertahan di dalam lingkungan dalam jangka waktu tertentu, tergantung jenis mikrobanya.

Mikroba patogen yang ada dalam limbah cair rumah tangga sangat berpengaruh terhadap peran air dalam penyebaran penyakit. Semakin besar volume limbah cair yang memasuki suatu perairan, semakin potensial pula perairan tersebut menyebarkan penyakit.

Mikroba patogen yang memasuki perairan merupakan penyebab berbagai macam penyakit menular. Penyakit tersebut dapat menular bila air yang mengandung mikroba patogen itu dipakai oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Adapun jenis-jenis mikroba yang dapat menyebar melalui air, adalah virus, bakteri dan protozoa.

Cara lain penyebaran mikroba patogen dari air kotor adalah melalui insekta yang bersarang atau hidup pada air tersebut. Insekta yang mengandung berbagai jenis penyakit tersebut menyebar dan menyerang manusia dengan cara masing-masing. Semakin kotor suatu perairan, semakin banyak mengandung insekta yang dapat menyebarkan bibit penyakit.

  1. Gangguan Terhadap Biota Perairan

Tingginya kadar bahan pencemar yang terdapat di dalam limbah cair menyebabkan turunnya kadar oksigen yang terlarut di dalamnya Hal tersebut akan mengganggu kehidupan yang membutuhkan oksigen di dalam air.

Selain disebabkan oleh kurangnya oksigen terlarut, kematian di dalam limbah juga disebabkan oleh adanya zat-zat beracun. Kematian yang terjadi selain menimpa hewan-hewan, juga terhadap bakteri yang seharusnya dapat berperan dalam proses penjernihan limbah. Akibatnya proses penjernihan limbah menjadi terhambat .

  1. Gangguan Terhadap Keindahan

Banyaknya bahan organik yang terdapat di dalam limbah cair rumah tangga menyebabkan terjadinya proses-proses pembusukan yang menghasilkan bau sangat mengganggu. Selain menimbulkan bau busuk, proses tersebut juga akan menyebabkan kondisi limbah menjadi licin atau berlendir dengan penampakan yang sangat buruk .

Dampak lain dari tingginya kadar bahan organik di dalam limbah cair rumah tangga adalah terbentuknya warna hitam atau warna lain yang sangat mengganggu pemandangan. Hal tersebut akan menjadi lebih parah jika terjadi pada kawasan rekreasi.

  1. Gangguan Terhadap Benda dan Barang

Apabila limbah mengandung karbondioksida yang agresif maka akan mempercepat terjadinya proses pengkaratan pada benda yang terbuat dari besi yang dilalui oleh limbah tersebut. Selain itu limbah yang berkadar pH rendah ataupun yang tinggi, akan menimbulkan pula kerusakan terhadap benda-benda yang dilaluinya.

Lemak yang berupa zat cair pada waktu dibuang ke saluran akan menumpuk secara kumulatif pada saluran karena mengalami pendinginan dan akan menempel pada dinding saluran, yang pada akhirnya akan menyumbat aliran limbah .

Sistem Pengolahan Limbah Cair Rumah Tangga

Salah satu gagasan dan pemikiran yang dapat dikemukakan dalam upaya mengembangkan sistem pengolahan limbah cair rumah tangga adalah kemungkinan untuk memadukan secara bersinergi antara beberapa cara pengolahan dalam suatu model. Dalam hal ini pemanfaatan sistem saringan yang memanfaatkan bahan-bahan anorganik dan sistem saringan yang memanfaatkan tanaman air dipadukan dalam suatu model yang diberi nama Saringan Biogeokimia.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu sistem pengolahan limbah cair yang selama ini sering digunakan adalah penyaringan limbah cair menggunakan berbagai jenis bahan anorganik, seperti kerikil, arang batok kelapa, sabut kelapa, pasir dan zeolit. Sistem tersebut dianggap cukup efektif karena bahan-bahan anorganik yang digunakan rata-rata memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar bahan pencemar di dalam limbah cair, baik melalui proses filtrasi maupun proses penyerapan. Namun demikian dari hasil pengamatan di lapangan, menunjukkan bahwa limbah cair yang telah melalui proses pengolahan dengan sistem penyaringan bahan anorganik masih mengandung bahan pencemar yang cukup tinggi sehingga masih memerlukan pengolahan lebih lanjut agar limbah tersebut dapat memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan dan layak untuk dilepas ke lingkungan atau dimanfaatkan untuk keperluan lain.

Pemanfaatan tanaman air sebagai saringan biologis untuk limbah cair rumah tangga didasarkan pada berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman air memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas limbah cair rumah tangga. Hal tersebut memungkinkan karena di dalam tubuh tanaman air berlangsung suatu mekanisme yang dapat mempengaruhi bahan-bahan yang terkandung di dalam limbah cair rumah tangga.

Kemampuan tanaman air untuk meningkatkan kualitas limbah cair, antara lain dikemukakan oleh Stowel et al. (1980), bahwa ada beberapa fungsi tanaman air pada sistem pengolahan limbah cair, yaitu bagian akar dan batang tanaman dapat menyerap dan menyaring bahan yang terlarut di dalam limbah cair serta dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Bagian tanaman yang berada di permukaan air, dapat melindungi perairan dari sinar matahari sehingga mencegah pertumbuhan ganggang, mengurangi pengaruh angin, dan mentransfer gas dari udara ke perairan, dari perairan ke tanaman atau sebaliknya.

Kehadiran tanaman air di dalam kolam pengolahan limbah sangat potensial untuk menyaring dan menyerap bahan yang terlarut di dalam limbah, melangsungkan pertukaran dan penyerapan ion, serta memelihara kondisi perairan dari pengaruh angin, sinar matahari dan suhu.

Rangkaian fakta tentang kemampuan sistem saringan anorganik serta pembuktian adanya kemampuan tanaman air untuk menurunkan kadar bahan pencemar di dalam limbah cair, menjadi dasar pemikiran peneliti untuk mengembangkan suatu sistem pengolahan limbah cair rumah tangga dengan cara menggabungkan antara kedua potensi tersebut menjadi suatu sistem pengolahan limbah cair yang lebih efektif. Dalam hal ini penggabungan dilakukan antara sistem saringan anorganik dengan saringan tanaman air sehingga sistem pengolahan tersebut dapat digolongkan sebagai Sistem Filter Biogeokimia.. Hasil penggabungan tersebut menghasilkan sistem pengolahan limbah secara bertahap, yakni tahap pertama dengan pengolahan secara filter geokimia, dan tahap ke dua pengolahan dengan biofilter yang menggunakan tanaman air. Diharapkan agar sistem pengolahan tersebut dapat memberikan kontribusi yang lebih   besar dalam upaya pengolahan limbah cair permukiman, sehingga masalah yang ditimbulkan oleh limbah cair nunah tangga selama ini dapat ditanggulangi.

 Beberapa Cara Pengolahan Limbah Cair

 Air limbah yang tercemar, bila langsung dialirkan ke lingkungan (seperti sungai atau badan air lainnya), akan mengakibatkan terjadinya pencemaran pada badan air tersebut. Pengelolaan air limbah ditujukan agar dapat memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Baku mutu air perlu dikendalikan, sehingga pengambilan air juga akan terkendali dan dapat terjaga ketersediaan sumber air baik air permukaan maupun air tanah dalam. Akan tetapi karena kurangnya pengawasan dan tingkat kesadaran masyarakat, maka sering terjadi penyumbatan muka air tanah dangkal sehingga kekurangan air bersih di berbagai tempat.

Keberadaan air limbah mutlak dikelola agar tidak melampaui ambang batas toleransi lingkungan. Dasar hukum yang mengatur pengelolaan ini terkait dengan Penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Instalasi ini sangat penting, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 dinyatakan bahwa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sangat diperlukan dalam upaya menurunkan kadar parameter pencemar dalam limbah, agar diperoleh limbah cair dengan kualitas baik dan memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Limbah cair ini lazimnya dibuang ke perairan umum, sedangkan di sisi lain perairan umum sangat sering manfaatkan untuk berbagai keperluan masyarakat.

 

  1. Pengolahan Limbah Cair Sebelum Dibuang Ke Lingkungan

Pengolahan limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan atau ke badan-badan air terutama ditujukan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran yang ditimbulkannya. Secara alamiah, lingkungan mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk menetralkan limbah cair yang masuk ke lingkungan tersebut. Namun demikian, kemampuan tersebut mempunyai keterbatasan, sehingga perlu dilakukan upaya untuk melindungi dan menjaga kelestariannya.

 

Dewasa ini telah ditemukan beberapa cara untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan, baik untuk limbah industri maupun untuk limbah rumah tangga. Namun demikian, penerapan teknologi pengolahan limbah tersebut belum sampai menjangkau limbah rumah tangga. Hal tersebut disebabkan antara lain karena tingginya biaya yang diperlukan, sulitnya menerapkan sistem atau cara tersebut, serta masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengolahan limbah cair rumah tangga.

 Adapun cara pengolahan limbah cair yang selama ini telah ditemukan, baik untuk industri maupun untuk rumah tangga adalah sebagai berikut:

 1.Pengenceran

Pengolahan limbah cair dengan cara pengenceran, yakni dengan menurunkan konsentrasi limbah sampai cukup rendah sebelum dibuang ke lingkungan. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilakukan proses pengolahan sederhana terlebih dahulu, antara lain dengan pengendapan dan penyaringan (Pandia, et al. 1995).

 

Pesatnya pertumbuhan penduduk dan perkembangan pada semua sektor kehidupan, maka cara tersebut tidak dapat lagi dipertahankan mengingat volume dan kandungan limbah semakin besar. Selain itu, sistem pengenceran memiliki kekurangan, antara lain oksigen terlarut di dalam perairan cepat habis, sehingga mengganggu kehidupan organisme. Cara tersebut juga dapat meningkatkan pengendapan zat-zat padat yang mempercepat pendangkalan dan menyebabkan terjadinya penyumbatan dan banjir.

 2.Irigasi luas

Pengolahan limbah cair dengan metode Irigasi Luas pada umumnya digunakan di daerah-daerah di luar kota atau di pedesaan karena memerlukan tanah yang cukup luas dan tidak dekat dengan permukiman penduduk. Limbah cair dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali pada sebidang tanah dan air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit. Pada keadaan tertentu limbah cair dapat digunakan untuk pengairan ladang, pertanian atau perkembangan dan sekaligus berfungsi sebagai pupuk ( Haryoto, 1985 ).

 3.Kolam oksidasi

Pengolahan limbah cair dengan sistem Kolam Oksidasi biasa juga disebut Kolam Stabilisasi, atau Lagoon, yang biasanya digunakan untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan oleh suatu kelompok masyarakat. Prinsip kerjanya adalah pemanfaatan pengaruh cahaya matahari, ganggang, bakteri dan oksigen dalam pembersihan alamiah.

 Limbah cair dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman 1 sampai 1.5 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Luas kolam tergantung pada volume limbah yang akan diolah dan biasanya digunakan luas lahan sebesar 4072 m2 untuk setiap 100 orang. (Haryoto, 1995). Lokasi kolam minimal berjarak- 500 meter dari daerah permukiman dan ditempatkan di daerah terbuka yang memungkinkan adanya sirkulasi angin. Cara kerja Kolam oksidasi adalah sebagai berikut:

  1. Komponen-komponen yang berperan dalam proses pembersihan alami adalah cahaya matahari, algae, bakteri dan oksigen.
  2. Algae dengan butir klorofil, di dalam limbah cair melakukan proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari sehingga tumbuh dengan subur.
  3. Pada proses fotosintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh klorofil di bawah pengaruh cahaya matahari terbentuk O2. Oksigen tersebut digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair. Selain itu terjadi pula penguraian zat-zat padat, sehingga terjadi pengendapan. Dengan demikian, nilai BOD dan padatan tersuspensi di dalam limbah cair’ akan berkurang, sehingga relatif aman bila dibuang ke badan-badan air. Menurut Darwati dan Rahim (2002), pengolahan limbah cair dengan kolam oksidasi dapat menurunkan BOD dab COD sampai 90%.

 

4.Saringan percikan

Cara pengolahan limbah cair dengan Saringan Percikan menganut prinsip pengolahan dengan mekanisme aliran yang jatuh dan mengalir perlahan-lahan melalui lapisan batu untuk kemudian disaring. Saringan percikan terbuat dari bak yang tersusun oleh lapisan materi yang kasar, keras, tajam dan kedap air. Bentuk bak dan lapisannya disesuaikan dengan sistem distribusinya. Secara skematis, sistem Saringan Percikan disajikan pada Gambar .

Adapun cara kerjanya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Limbah cair rumah tangga dialirkan masuk ke bak penyaringan melalui pipa influent. Melalui pipa distributor yang mempunyai lubang pemercik, limbah tersebut dijatuhkan secara perlahan pada batu-batuan penyaring yang tersusun sedemikian rupa dengan kemiringan sekitar 10 %.
  2. Setelah melalui penyaringan oleh batuan, limbah secara perlahan mengalir ke bak penampungan efluen yang dilengkapi pipa pembuangan.
  3. Melalui pipa efluen, limbah cair yang telah jernih dan diuji kandungannya, dilepas ke lingkungan.

 

b.. Sistem Pengolahan Mekanik dan Biologis

Cara ini merupakan sistem pengolahan yang lebih kompleks, karena pengolahan secara mekanik merupakan pengolahan primer, sedangkan pengolahan biologis merupakan pengolahan sekunder. Sistem tersebut terutama digunakan pada daerah perkotaan dan umumnya dapat mengolah berbagai jenis limbah cair baik yang berasal dari rumah tangga maupun dari industri.

Adapun proses kerja sistem tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pada pengolahan primer, pekerjaan pertama adalah menghilangkan kotoran yang berukuran besar seperti sampah, kayu, besi dan bangkai, dengan cara mengalirkan limbah cair melalui saringan kawat besi yang bergaris tengah 2.5 cm.   Semua benda kasar dengan garis tengah lebih dari 2.5 cm akan tertahan, selanjutnya limbah cair dialirkan ke saluran endapan kerikil atau pasir.
  2. Limbah cair dialirkan ke tangki pengendapan pertama (primary sedimentation) ke dasar tanki. Lumpur kasar tersebut kemudian dipompa keluar dan dimasukkan dalam tangki pelumat (sludge digestion tank), selanjutnya dimasukkan ke dalam tangki pengeringan. Limbah cair yang tertinggal diolah lebih lanjut dan dialirkan ke pengolahan sekunder.
  3. Pada pengolahan sekunder, bakteri-bakteri aerobik tumbuh dan melakukan dekomposisi secara aerobik. Bakteri-bakteri tersebut memerlukan banyak oksigen yang berasal dari udara. Salah satu cara mendapatkannya adalah dengan menyemprotkan cairan ke dalam bak yang berlapisan kerikil yang berfungsi sebagai penyaring. Cairan lain yakni dengan menyemprotkan oksigen dari dasar tangki ke dalam tangki aerasi.

Cairan dialirkan ke dalam tangki pengendapan terakhir (final sedimentation tank) yang berisi lumpur dan mikroorganisme. Endapan lumpur aktif (activated sludge) sebagian besar digunakan kembali dan dimasukkan ke dalam tangki aerasi. sisanya dibuang setelah dilumatkan dan dikeringkan.

 c.. Bahan Anorganik Penyaring Limbah

Berbagai macam cara digunakan untuk mengolah limbah cair. diantaranya : pasir, ijuk, arang batok, kerikil, pasir, ijuk dan kerikil merupakan bahan media penyaring, sedangkan arang batok merupakan bahan media penyerap (Untung, 1998).

 

  1. Pasir

Saringan pasir bertujuan untuk mengurangi kandungan lumpur dan bahan-bahan padat yang ada pada air limbah rumah tangga serta dapat menyaring bahan padat terapung. Ukuran pasir untuk menyaring bermacam-macam, tergantung jenis bahan pencemar yang akan disaring. Semakin besar bahan padat yang perlu disaring, semakin besar ukuran pasir.

Ukuran pasir yang lazim dimanfaatkan berukuran 0,4 mm – 0,8 mm dengan diameter pasir sekitar 0,2 mm – 0,35 mm serta ketebalan 0,4   m – 0,7 m (Untung. 1998). Menurut Saeni et al, (1990) bahwa saringan pasir mampu menurunkan bahan organik.

Di samping itu saringan pasir menurut Hay (1981) dapat menurunkan kesadahan air dengan keefektifan penyaringan 4.607 – 7.02%. Hal ini disebabkan karena pasir merupakan jenis senyawa silica dan oksigen yang dalam air berupa koloid yang mengikat OH pada permukaan membentuk lapisan pertama yang bermuatan negatif.

Bahan penyaringan pasir dan ijuk dapat menyerap Fe2+ (di samping pertukaran ion pada pasir), dimana Fe2+ dijerat oleh OH (pada pasir) atau asam-asam humus (pada ijuk) membentuk lapisan kedua.

 

  1. Arang Batok Kelapa

Arang batok ialah arang yang berasal dari tempurung kelapa Tempurung tersebut dibakar sampai menjadi arang. Selain menyerap bahan-bahan kimia pencemar, arang batok juga berfungsi untuk mengurangi warna dan bau air kotor (Untung. 1998).

 Ada dua bentuk arang batok yang biasa dipakai. Pertama, butiran berdiameter 0,1 mm. Ke dua berbentuk bubuk berukuran 200 mesh. Karena berfungsi sebagai penyerap mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam limbah cair, maka setelah beberapa waktu kemudian tidak efektif lagi. Ciri ketidak efektifannya ialah air yang sudah tersaring tidak begitu jernih lagi. Jika hal tersebut terjadi, maka arang batok perlu dicuci dengan air bersih atau bahkan diganti dengan yang baru. Arang batok butiran dapat diaktifkan lagi melalui pembakaran ganda (Slamet, 1984).

Dalam proses penyaringan dengan bahan arang terjadi pertukaran kation Fe2+ dengan Ca2+ dan Mg2+, sehingga berlangsung pengikatan Fe dan terjadi penambahan nilai kesadahan filtrat (Saeni, et al. 1990). Pada bahan penyaring arang, pengambilan Fe2+ dilakukan proses pertukaran kation, dimana kation-kation pada permukaan partikel arang ditukar oleh ion besi. Di samping itu bahan saringan arang mengandung bahan organik yang tinggi, sehingga dapat menarik bahan organik dari air yang disaring (Manahan, 1977).

 

  1. Karbon Aktif

Karbon aktif adalah karbon yang mempunyai kadar C yang tinggi serta mempunyai daya adsorbsi yang besar. Karbon aktif dapat dibuat dengan berbagai cara yaitu dengan cara pemanasan karbon pada suhu yang tinggi, kurang lebih         500°C, atau dengan menambah asam fosfat/seng klorida pada karbon (Lado, 1997).

 Karbon dapat diperoleh dari pembakaran kayu atau tempurung kelapa Karbon tersebut belum aktif karena masih mengandung abu dan zat-zat ikutan lainnya, sehingga kurang efektif jika langsung digunakan sebagai penyerap (adsorben).Karbon yang telah diaktifkan mempunyai permukaan yang besar sehingga kontak resapan terhadap zat yang terabsorbsi makin lebih besar. Hal tersebut disebabkan karena karbon aktif mempunyai pori-pori yang banyak (Lado, 1997).

 

  1. Kerikil

Kerikil dipakai bersama dengan pasir dan arang, dan umumnya diletakkan pada lapisan dasar. Menurut Saeni, at al, (1990), pasir dapat menurunkan kesadahan air dengan keefektifan penyaringan berturut-turut 4,86 – 11,65% dan dapat meningkatkan NH4+. Secara skematis bangunan pengolahan air limbah dengan saringan anorganik, dapat dilihat pada Gambar 4.

d..Tanaman Air

 

  1. Jenis-Jenis Tanaman Air

Tanaman air merupakan bagian dari vegetasi penghuni bumi ini yang media tumbuhnya adalah perairan. Penyebarannya meliputi perairan air tawar, payau sampai ke lautan dengan beragam jenis dan bentuk, serta sifat-sifatnya. Walaupun masih banyak diantaranya belum diketahui, sebagian dari tanaman tersebut telah lama dikenal, bahkan telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan (Sunanto, 2000).Pada perairan air tawar, umumnya tanaman air tumbuh secara alami menempati bagian-bagian perairan yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing. Namun pada perkembangan selanjutnya, banyak terjadi perubahan pada komposisi kehidupan tanaman air tersebut akibat gangguan keseimbangan ekologis pada tempat tumbuhnya. Akibatnya, tidak sedikit dijumpai kehidupan tanaman air yang tidak seimbang, seperti terjadinya dominasi satu jenis tanaman air, bahkan ada diantara jenis tanaman tertentu yang mengalami kepunahan.

Berdasarkan karakteristiknya, tanaman air dapat dibagi dalam empat golongan, yaitu :

  1. Tanaman air penghuni bagian tepi perairan (Marginal Aquatic Plant).

Sesuai dengan bentuk akar, batang dan daun tanaman yang termasuk golongan tersebut dapat hidup pada bagian tepi suatu perairan, yakni pada bagian yang dangkal sampai bagian yang tidak tergenang air. Beberapa contoh tanaman air yang termasuk dalam golongan marginal aquatic plant adalah tanaman juncus, sagitari, scirpus dan iris.

  1. Tanaman air penghuni bagian permukaan ( Floating Aquatic Plant).

Tanaman air yang tergolong floating aquatic plant adalah tanaman air yang hidup terapung di permukaan perairan dengan posisi akar yang melayang di dalam air. Bentuk akar yang terjurai memungkinkan tanaman tersebut menyerap zat-zat yang diperlukan, terutama dari bahan yang terlarut dan melayang di dalam perairan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah tanaman azolla, lemna, eicchornia, salvinia dan spirodella.

  1. Tanaman air yang hidup di dalam perairan (Submerged Aquatic Plant).

Tanaman jenis ini hidup di dalam perairan dengan seluruh bagian tubuhnya terendam di dalam air. Akarnya menyentuh dasar perairan, namun sebagian diantaranya melayang, sedangkan batang dan daunnya bergerak mengikuti arah gerakan air. Posisi tanaman air jenis ini sangat menunjang untuk menjadi saringan bagi berbagai jenis bahan terlarut yang ada di dalam perairan, sehingga sangat membantu dalam proses penjernihan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah tanaman hydrilla, cllitriche, chara dan elodea.

  1. Tanaman air yang tumbuh pada dasar perairan (Deep Aquatic Plant).

Tanaman air yang tergolong deep aquatic plant adalah tanaman air yang tumbuh pada dasar perairan dengan akar tertanam kuat pada bagian dasar tersebut, sedangkan batangnya berdiri kuat menopang daun dan bunga yang muncul pada permukaan air. Tinggi serta posisi batang biasanya tergantung pada kedalaman perairan tempat hidupnya, sehingga akan dijumpai tinggi batang yang bervariasi serta posisi yang berbeda-beda. Tanaman air yang termasuk golongan ini adalah ponogethon, nuphar dan nympahaea.

Selanjutnya tanaman air dapat dibagi dalam empat tipe, yaitu:

  1. Tanaman air oksigen (Oxygenerator)

Tanaman air yang termasuk dalam Tanaman Air Oksigen adalah tanaman air yang mampu membersihkan udara sekaligus menyerap kandungan garam yang berlebihan di dalam air. Seluruh bagian tanaman tersebut tenggelam di dalam air.

  1. Tanaman air lumpur.

Sesuai dengan namanya, tanaman air golongan tersebut habitat aslinya adalah daerah berlumpur dan sedikit digenangi air. Ada yang menganggap bahwa Tanaman Air Lumpur sama dengan marginal aquatic plant, dengan pertimbangan bahwa tempat hidupnya sama-sama dipinggiran kolam.

  1. Tanaman air pinggir (marginal aquatic plant)

Tanaman Air Pinggir memiliki akar dan batang yang terendam di dalam air. Namun sebagian besar batangnya justru menyembul ke permukaan air. Selain batang, bagian daun dan bunganya juga berada di atas permukaan air.

  1. Tanaman air mengapung (floating aquatic plant)

Tanaman ini tidak memerlukan tanah untuk media tumbuhnya, melainkan mengapung di permukaan air. Tanaman Air Mengapung hidup dengan cara menyerap udara dan unsur hara yang terkandung di dalam air. Tanaman tersebut memiliki keunggulan dalam kegiatan fotosintesis, penyediaan oksigen dan penyerapan sinar matahari

  1. Kemampuan Tanaman Air Menstabilkan Limbah Cair

Kenyataan di lapangan pada masa lampau menunjukkan bahwa limbah cair rumah tangga yang dialirkan kedalam kolam-kolam yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman air, akan keluar dalam keadaan jernih. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa di dalam kolam tersebut telah terjadi proses penjernihan melalui penyaringan oleh tanaman air ( Marianto, 2001 ).

Kemampuan tanaman air untuk menjernihkan limbah cair akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian. Berbagai penemuan tentang hal tersebut telah dikemukakan oleh para ahli, baik yang menyangkut proses terjadinya penjernihan limbah maupun menyangkut tingkat kemampuan beberapa jenis tanaman air tertentu. Bahwa tanaman air memiliki kemampuan secara umum untuk mensupport komponen-komponen tertentu di dalam perairan, dan hal tersebut sangat bermanfaat dalam proses pengolahan limbah cair.

Selanjutnya fungsi tanaman air pada proses pengolahan limbah cair dapat dijelaskan bahwa pada proses pengolahan limbah cair dalam kolam yang menggunakan tanaman air, terjadi proses penyaringan dan penyerapan oleh akar dan batang tanaman air, proses pertukaran dan penyerapan ion, dan tanaman air juga berperan dalam menstabilkan pengaruh iklim, angin, cahaya matahari dan suhu. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa terjadi sinergi antara penggunaan kolam pengolahan dengan tanaman air dalam hal menstabilkan limbah. Tanaman air dapat melakukan berbagai, proses yang menunjang kestabilan limbah, sedangkan kolam selain juga berperan secara langsung dalam proses penstabilan, juga berperan sebagai media tumbuh tanaman air tersebut.

Pengujian dan pemanfaatan kemampuan tanaman air untuk pengolahan limbah cair juga telah dilakukan di beberapa tempat, yang   pada umumnya menunjukkan hasil yang positif.

Tabel 1.

Fungsi tanaman air pada proses pengolahan limbah cair

Bagian Tanaman Air

Fungsi

  1. Akar dan atau batang yang ada di dalam perairan
  2. Menekan pertumbuhan bakteri
  3. Menyaring dan menyerap bahan-bahan larut
  4. Batang atau bagian lain yang ada pada permukaan perairan
  5. Menahan cahaya matahari, sehingga dapat mencegah pertumbuhan algae
  6. Memperkecil pergerakan air akibat pengaruh angin, yang selanjutnya mempengaruhi pertukaran gas antara perairan dengan udara bebas
  7. Sangat penting dalam mentrasnfer gas dari dan ke bagian tanaman yang ada di dalam perairan
 
   

Sumber : EPA, (1991)

 

Suriawiria (1993) mengemukakan bahwa penataan tanaman air dalam suatu bedengan-bedengan kecil dalam kolam pengolahan dapat berfungsi sebagai saringan hidup bagi limbah cair yang dilewatkan pada tempat tersebut. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan tanaman air untuk menyaring bahan-bahan yang larut di dalam limbah cukup potensial untuk dijadikan bagian dari usaha pengolahan limbah cair.

Pada penelitian lain, Seregeg (1998) mengemukakan bahwa ada beberapa jenis tanaman air yang memiliki efektivitas tinggi jika digunakan sebagai tanaman penyaring pada sistem pengolahan limbah cair? yaitu tanaman Mendong (Scirpus littoralis), Kangkung (Epomea aquatica), dan Tales-Talesan (Typhonium, sp). Sedangkan Yusuf (2001) yang telah melakukan penelitian terhadap kemampuan beberapa jenis tanaman air dalam proses bioremediasi limbah cair rumah tangga mengemukakan bahwa tanaman Mendong (Iris sibirica). Teratai (Nymphaea firekrest), Kiambang (Spirodella polyrrhiza) . dan Hidrilla (Hydrilla verticillata) memberikan efek dalam persentase yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain terhadap peningkatan kualitas limbah cair rumah tangga Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa tanaman Mendong yang dikombinasikan dengan Teratai dapat menurunkan suhu limbah sebesar 3.57%, menurunkan kekeruhan sebesar 51,09%, menurunkan padatan tersuspensi 50.74%, meningkatkan pH 2,99%, meningkatkan oksigen terlarut 29,10%, menurunkan BOD 14,55%, menurunkan kandungan Coliform sebesar 46,88%, dan menurunkan Escherichia coli sebesar 45,00%.

  1. Manfaat Tanaman Air Terhadap Lingkungan

Kehidupan berbagai jenis tanaman air di alam, seringkali luput dari perhatian orang. Selain karena kehadirannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, tanaman air juga dianggap sebagai sesuatu yang biasa karena dapat dijumpai dimana-mana. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perlakuan-perlakuan yang sangat merugikan, antara lain berupa pembatasan hidup dan pemusnahan berbagai jenis tanaman air.

 

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kualitas hidup manusia, maka nilai dan manfaat tanaman air mulai terungkap satu persatu. Manfaat tanaman air dalam menghasilkan oksigen pada proses fotosintesis merupakan hal yang sangat penting artinya bagi lingkungan sekitarnya. Oksigen yang dilepaskan ke udara sangat bermanfaat baik untuk kehidupan manusia, maupun kualitas lingkungan itu sendiri.

Dalam hal keindahan, tanaman air juga sangat potensial untuk dikembangkan. Sebagaimana diketahui bahwa selain bentuk-bentuk tanaman air yang cukup unik dan menarik, beberapa diantaranya mempunyai bunga atau daun dengan warna yang sangat indah. apabila tanaman-tanaman air di dalam suatu kolam ditata dengan baik dalam suatu konfigurasi yang sesuai, maka akan menghasilkan pemandangan yang sangat indah dengan nilai estetika yang tinggi.

Upaya untuk memanfaatkan tanaman air sebagai tanaman hias telah banyak dilakukan dan dikenal sebagai “water garden”, namun upaya tersebut sampai saat ini masih terbatas pada pekarangan rumah atau perkantoran. Untuk itu perlu pemikiran untuk mengembangkannya, baik dalam hal fungsi dan manfaat maupun cakupannya. Salah satu alternatif pengembangan tersebut adalah melalui penataan kolam pengolahan limbah cair rumah tangga dengan tanaman air pada suatu permukiman.

Eceng Gondok Sebagai Biofilter Limbah Cair

Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu tanaman air yang populer di Indonesia, yang awalnya didatangkan dari Brazil. Eceng gondok termasuk sejenis tanaman air yang hidup terapung (floating aquatic plant), yang memiliki kemampuan berkembang biak cukup tinggi serta kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dengan demikian, dalam waktu yang singkat, tanaman eceng gondok dapat menutupi permukaan perairan dan mempercepat pendangkalan. Oleh karena itu, eceng gondok berpotensi untuk menimbulkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan.

Selain memiliki sifat merugikan, eceng gondok juga dapat mendatangkan keuntungan, antara lain kemampuannya untuk menyerap berbagai zat pencemar di dalam air. Lubis dalam Sjahrul (1998) mengatakan, beberapa peneliti melaporkan bahwa eceng gondok dapat menyerap berbagai zat pencemar dalam air dan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban pencemaran lingkungan. Dengan demikian bila tanaman eceng gondok dikelola dengan baik dan dipanen secara teratur dapat berperan dalam penanggulangan pencemaran air .

Suatu hasil percobaan menunjukkan bahwa dalam tubuh eceng gondok dapat berlangsung proses yang sangat efisien untuk membersihkan limbah industri yang dapat dihancurkan secara biologia (Neis, 1989). Eceng gondok juga dapat menyerap senyawa-senyawa fenol, eceng gondok yang memiliki bobot kering sebesar 2.75 gram dapat menyerap 100 mg fenol dari air suling atau air sungai selama 72 jam atau 1 ha eceng gondok dapat menyerap 160 kg fenol selama 3 hari. Selanjutnya, Gopal (1987) mengemukakan bahwa eceng gondok dapat memindahkan sejumlah senyawa sintetik termasuk pestisida dari air yang telah tercemar pestisida. Juga dilaporkan bahwa dari sejumlah studi ditemukan bahwa telah terjadi pengurangan jumlah Coliform dalam limbah yang ditanami dengan eceng gondok. Pengurangan tersebut disebabkan karena terjadinya akumulasi bakteri di sekitar akar eceng gondok. Kejadian tersebut telah dimanfaatkan untuk membasmi epidemik kolera yang tersebar di Bangladesh.

Welverton dan Donald (1979) menyatakan bahwa di Amerika Serikat pemakaian gulma air sebagai penjernih pencemar yang telah digunakan meluas karena biaya operasinya tidak mahal Jadi cara tersebut cukup baik diterapkan di negara berkembang seperti di Indonesia. Cara pengelolaan eceng gondok sebagai salah satu cara untuk menanggulangi pencemaran ialah menjaga supaya ada populasi terbatas eceng gondok yang berfungsi sebagai penyaring zat pencemar. Banyaknya zat yang terserap oleh eceng gondok, tergantung pada konsentrasi dari jenis pencemar dalam larutan media pertumbuhan.

Pencemaran perairan oleh limbah penduduk dan industri dapat merangsang pertumbuhan eceng gondok hingga populasinya mengganggu keseimbangan lingkungannya. Dengan pengelolaan yang baik, yaitu menjaga populasi tertentu, eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai penyaring zat pencemar dalam limbah. Pengelolaan eceng gondok yang dapat disarankan adalah dengan cara mekanis yang diikuti dengan pemanfaatan bahan organiknya menjadi pupuk, makanan ternak, bahan kerajinan, pulp, media tumbuh jamur merang, biogas dan Iain-lain

Saringan Organic Sebagai Filter Limbah Cair Rumah Tangga.

 

  1. Peranan Saringan Anorganik

Saringan anorganik tersusun dari lapisan materi kasar, keras, tajam dan kedap air. Limbah rumah tangga yang melewati saringan tersebut diharapkan dapat tersaring bahan-bahan yang mengambang, terapung, kekeruhan, warna dan bau.

  1. .Proses Penyerapan

Limbah cair rumah tangga pada dasarnya mengandung bahan-bahan tercemar. Proses yang memegang peranan penting dalam penyaringan polutan adalah proses penjerapan pada permukaan pasir, kerikil, karbon aktif dan zeolit. Saringan pasir dan kerikil pada proses penyaringan limbah cair rumah tangga mampu menahan endapan lumpur dan logam. Kemampuan pasir dan kerikil menjerap pulutan dalam limbah cair didasarkan atas pertukaran kation.   Arang atau karbon aktif mampu menjerap polutan karena strukturnya yang berpori-pori dan memiliki permukaan yang luas persatuan volume. Bau dan warna limbah cair juga dapat dihilangkan oleh arang. / Mineral zeolit merupakan jenis bahan galian yang murah dan dapat didapatkan di pasaran. Zeolit adalah bahan penukar ion yang dapat digunakan pada prose penjernihan air karena kemampuannya menyerap dan menyaring molekul, sebagai penukar kation dan katalis. Oleh karena itu, zeolit sangat tepat digunakan untuk pengolahan limbah rumah tangga, diantaranya sebagai penghilang bau, pengika logam Ca, Mg, Fe, Mn dan logam berat lainnya serta dapat menyerap gas.

c.Keterkaitan Antara Tanaman Air Dengan Kandungan Limbah Cair Rumah Tangga Dalam Ekosistem

Proses sirkulasi kesetimbangan antara bahan konsumsi dan lingkungan alam berjalan melalui proses industri. Manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan sehari harinya menggunakan hasil industri sebagai bahan konsumsi mereka Residu dan manusia yang terkumpul dalam limbah rumah tangga yang mengandung berbagai polutan terbuang ke dalam badan air sampai terbentuk pencemaran perairan.

Bahan residu yang dihasilkan dari aktivitas manusia dalam limbah rumah tangga terbuang ke lingkungan air dan tanah. Banyak dari residu dalam limbah mengandung logam, zat organik dan zat anorganik lain tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme air. Akibatnya, bahan residu dan limbah cair menjadi polutan dan tersebar ke komponen lingkungan. Polutan di dalam lingkungan akan tersirkulasi bersama-sama dengan semua bahan yang lain dalam proses pertumbuhan tanaman air Dalam proses metabolisme, polutan akan menjadi bagian dari struktur selular dalam tanaman air.

Dari gejala yang ada, tampak bahwa ada faktor-faktor yang berpengaruh pada proses penyerapan dan sekaligus mempengaruhi proses penjernihan limbah rumah tangga. Tanaman air yang tumbuh pada lingkungan air yang sudah tercemar juga nampak ada faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembentukan habitatnya sehingga mampu menyerap berbagai jenis polutan air. Untuk memecahkan masalah pengurangan kadar polutan sampai pada tingkat di bawah ambang batas standar (baku) mutu lingkungan, dibuat suatu model sinergi saringan biogeokimia. Saringan tersebut diharapkan mampu menyaring polutan dalam limbah cair rumah tangga sampai didapatkan hasil pengolahan yang optimal.

Skema keterkaitan antara saringan geokimia dan biologi dengan bahan pencemar dalam ekosistem, disajikan pada Gambar 4.

 Penelitian Limbah Cair Rumah Tangga Oleh Syahriar Tato.

Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan, yakni dari bulan September 2003 sampai bulan Pebruari 2004. Adapun tempat pelaksanaan penelitian ini adalah dalam wilayah Kota Makassar, dengan perincian:

  1. Lokasi pengambilan limbah cair rumah tangga, yakni dalam kawasan Perumahan Asindo, Perumnas Toddopuli, dan pada kawasan Permukiman Kampung Lette. Ketiga tempat tersebut diharapkan dap at mewakili karakteristik limbah cair rumah tangga dalam wilayah Kota Makassar, baik dari segi kandungan, jenis dan volumenya.
  2. Tempat pemasangan instrumen penelitian, dalam hal ini tempat pelaksanaan percobaan atau pengolahan limbah, menggunakan lokasi pada halaman belakang Kantor Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulawesi Selatan, Jl. Urip Sumoharjo. No. 96 Makassar. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa jarak dengan lokasi pengambilan limbah dan jarak dengan lokasi untuk pengujian kandungan limbah, cukup menguntungkan.
  3. Selanjutnya, tempat pengujian kandungan limbah, yakni di Laboratorium Kimia dan Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin.

 Simpulan dan Rekomendasi

Sebagai simpulan dan rekomendasi yang dapat diberikan oleh hasil penelitian tersebut terhadap pemerintah kota Makassar.

Simpulan

  1. Pengolahan limbah cair rumah tangga dengan sistem filter biogeokimia memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan kadar kandungan bahan pencemar, sehingga dapat meningkatkan kualitas limbah yang diolah sebelum dilepas ke lingkungan.
  2. Efektivitas   sistem filter   biogeokimia dalam   menurunkan   kadar   bahan pencemar   limbah cair rumah tangga menunjukkan tingkat yang bervariasi pada setiap parameter yang diuji.. Efektivitas pengolahan untuk penurunan kekeruhan   sebesar   89.46%.   penurunan   padatan   tersuspensi   93.67%, kesadahan 88,84%, pH 6,79%, BOD 91,40%, COD 91,6%, BOT 85,18%, kalsium 92,39%, klorida 85,81%, amonium 83,20%, ortofosfat 85,17%, besi 76,86%, dan nitrit 90%.
  3. Penurunan kadar bahan pencemar menunjukkan persentase yang berbeda antara satu parameter dengan parameter yang lain, dan pada umumnya persentase penurunan yang dicapai pada penelitian ini lebih besar dari persentase penurunan yang dicapai pada beberapa sistem pengolahan limbah yang telah ada.
  4. Penurunan kadar bahan pencemar dalam limbah cair rumah tangga pada umumnya mencapai jumlah yang lebih kecil dari jumlah maksimum yang diperbolehkan   dalam   Baku   Mutu   limbah,   sehingga   kandungan   bahan pencemar tersebut dapat dinyatakan aman untuk dilepas ke lingkungan.
  5. Penggunaan kerikil, pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit secara bersama-sama dengan sistem lapisan   bertingkat untuk menyaring limbah cair rumah tangga dapat memberikan efek secara bersinergi dalam menurunkan kadar bahan pencemar limbah.
  6. Kemampuan tanaman Eceng Gondok untuk menyaring, menguraikan dan menyerap bahan-bahan terlarut di dalam limbah cair menjadi lebih efektif, apabila limbah yang diolah sebelumnya telah melalui saringan kerikil, pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit.Pengenceran limbah cair rumah tangga sebelum diolah, memberikan efek yang signifikan terhadap hasil pengolahan. Tingkat pengenceran yang efektif untuk digunakan pada pengolahan limbah dengan sistem saringan biogeokimia adalah pada konsentrasi 50%, karena ternyata pada konsentrasi tersebut faktor pengenceran memberikan efek yang optimal terhadap penurunan kadar bahan pencemar, dan efek tersebut tidak berbeda nyata dengan konsentrasi yang lebih rendah
  1. Waktu kontak antara limbah cair rumah tangga yang diolah dengan setiap jenis saringan memberikan efek terhadap hasil pengolahan. Pada pengolahan dengan sistem saringan biogeokimia, ternyata waktu kontak yang memberikan efek paling besar terhadap hasil pengolahan adalah 8 jam, yakni waktu kontak paling lama yang digunakan pada penelitian ini.
  2. Pola penurunan kadar bahan pencemar dalam limbah cair rumah tangga yang diolah dengan sistem saringan biogeokimia memperlihatkan kurva yang bervariasi. Pada umumnya kadar bahan pencemar mengalami penurunan yang pesat dari kondisi sebelum perlakuan ke perlakuan tingkat pertama, dan dari perlakuan tingkat pertama ke tingkat ke dua dan ke tiga menunjukkan variasi perubahan berupa penurunan, peningkatan ataupun stagnan, namun demikian pada perlakuan tingkat ke empat seluruhnya menunjukkan penurunan yang signifikan.

 Rekomendasi

  1. Penggunaan bahan-bahan anorganik seperti kerikil, pasir, arang dan zeolit dan tanaman eceng gondok untuk mengolah limbah cair rumah tangga perlu dimasyarakatkan, karena terbukti bahan-bahan anorganik dan tanaman air tersebut memiliki potensi cukup besar dalam menyaring bahan-bahan yang terkandung dalam limbah cair rumah tangga.
  2. Dengan ditemukannya sistem pengolahan limbah cair rumah tangga yang cukup efektif dan berwawasan lingkungan, maka upaya memasyarakatkan sistem pengolahan limbah bagi   masyarakat, perlu ditingkatkan.  Upaya tersebut dapat dilakukan dengan penyuluhan dan pemberian contoh secara langsung   kepada   masyarakat   tentang   sistem   pengolahan   yang   dapat dilakukan.
  3. Pengolahan limbah cair rumah tangga sebaiknya dilakukan secara kolektif untuk sekelompok rumah tangga, mengingat sistem pengolahan dengan saringan biogeokimia dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan atau volume limbah yang akan diolah.
  4. Untuk pemanfaatan sistem saringan biogeokimia pada pengolahan limbah cair rumah tangga, terlebih dahulu diperlukan adanya sosialisasi tentang sistem tersebut agar masyarakat dapat memahami dan mengetahui penggunaannya dengan baik, bahkan jika memungkinkan dapat dikembangkan lebih baik..
  5. BAHAN BACAAN

Case, D. 1994. Water Garden Plants. Redwood Books. Trowbridge, Wilthire.

 

Connel, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Universitas Indonesia Jakarta.

 

Darwati. S. 1998. Metode Pendekatan dan Aplikasinya Dalam Menyusun Baku Mutu Efluen IPAL. Jurnal Penelitian Permukiman. 14(4): 49 – 61

 

Debusk, T.A. and KLR. Reddy. 1987. Wastewater Treatment Using Floating Aquatic Microphytes. Magnolia Publishing, Inc. Orlando.

 

EPA [ Environmental Protection Agency ]. 1983. Proces, Theory, Performance and Design Stabilization Ponds in : Municipal Wastewater Stabilization Ponds. Officer of Research and Development Municipal Environmental Research Labiratory. Cincinnati. U.S.A.

 

——–     1886.   Pathogen Reduction,’in :     Control of Pathogen in Municipal

Wastewater Sludge for Land Application. Pathogen Equivalency Commite.

 

——–     1989.   POTW In-Plant Control Evaluation, in :     Toxicity Reduction

Evaluation Protocol for Municipal Wastewater Treatment Plant. Risk Reduction Engineering Laboratory Office of Research and Development Commite. Cincinnati.

 

——–   1991. Aquatic Treatment System, in :   Constructed Wetlands and Aquatic

 

Plant System for Municipal Wastewater Tratnient. Centre of Environment Research Information U.S. Government Printing Officer. Cincinnati

 

——–   1991.   Design of Aquatic Plant System, in :   Constructed Wetland and

Aquatic Plant System for Municipal Wastewater Treatment. Centre of Environmental Research Information U.S. Government Printing Officer. Cincinnati.

 

Eric, M. and J. Mike. 1997. Effects of Aerobic and Microaerobic Condition on Aerobic Ammonium-Oxidizing Sludge. Applied and Environmental Microbiology. American Society for Microbiology. 63(6):31-36

 

Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

 

Flynn, E.J. 1986. The New Microbiology. McGraw Hill Book Company. New York.

 

Gaudy, A.F. and E.T. Gaudy. 1980. Microbiology for Environmental Scientis and Engineers. McGraw Hill. New York.

 

Hantzshe, N.N. 1985. Wetland System for Wastewater Treatment. Ecological Concideration in Wetland Tratment of Municipal Wastewater. Van Nostrand Reinhold Co. New York.

 

Haryoto, K. 1985. Kesehatan Lingkungan . Universitas Indonesia. Jakarta,

 

Haryoto, K. 1999. Toksikologi Lingkungan, Zat Kimia dan Medan Elektromagnetik. Universitas Indonesia. Jakarta.

 

Haryoto, K. 1999. Kebijakan dan Strategi pengolahan Limbah dalam Menghadapi Tantangan Global. Dalam : Teknologi Pengolahan Limbah dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional; Jakarta. 13 Juli 1999. BPPT. Jakarta

 

Henze, M., P. Harremoes., J.C. Jansen., and E. Arvin. 1996. Wastewater Treatment. Springer Verlag. Berlin.

 

Hufschmidt, M. 1996. Lingkungan, Sistem Alami dan Pembangunan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta

 

Jenie, B.S.L. dan Rahayu. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta,

 

Juhaeni. 1999. Perbaikan Proses pengolahan Limbah Cair Peternakan. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. Pusat Studi Lingkungan Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia. 19(1):56 – 62.

 

Lakitan, B. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

 

Lay, B.W. dan Hastowo. 1992. Mikrobiologi. Penerbit CV. Rajawali. Jakarta.

 

Lies. E.H., H. Wartono dan W. Wardhana. 1999. Manajemen Kolam Air Tawar dengan Sistem Resirkulasi. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Pusat Studi Lingkungan Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia. Jakarta 19(3): 191 – 197.

 

 

Lucy, W.M. 1995. Mikrobiologi Lingkungan. Universitas Hasanuddin Bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta

 

Metcalf and Eddy. 1978. Wastewater Engineering. TATA McGraw Hill Publishing Company Ltd. New Delhi.

 

Middlebrooks, E.J. and M.A. Al-Layla. 1987. Handbook of Wastewater Collection and Treatment. Garland STMP Press. New York.

 

Moody…M. 1993. Creating Water Gardens. Landsdowne Publishing. London.

 

Momon, N.M. dan M. Lya. 1997. Tingkat Pencemaran Air Limbah Rumah Tangga. Jurnal Penelitian Permukiman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta

 

NoIte and Associated. 1986. Operation and Maintenance Manual, City of Gustine Wastewater Treatment Facility Improvement. EPA Project. California.

 

Pandia, S., dkk. Kimia Lingkungan. Universitas Sumatera Utara Bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

 

Reddy, K.R and W.H. Smith. 1987. Aquatic Plants for Water Treatment and Resource Recovery. Magnolia Publishing. Inc. Orlando.

 

Reed, S.C., E.J. Middlebrooks and R.vv. Crites. 1987. Natural System for Waste Management and Treatment. U.S. Environmental Protection Agency.

 

Robinson, P. 1994. The Water Garden’. The Royal Horticultural Society Collection. Conran Octopus Limited. London.

 

Ronald, L.D. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment. John Wiley & Sons. New York.

 

Ryadi, S. 1984. Kesehatan Lingkungan. Penerbit Karya Anda. Surabaya.

 

Saeni, M.S. 1989. Kimia Lingkungan. PAU Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

 

 

Sarbidi. 1999. Perilaku Masyarakat Permukiman Bantaran Sungai Dalam Mengelola Limbah padat dan Cair.Jurnal Penelitian Permukiman.15(2):34-46.

 

Seregeg. I.G. 1998. Efektivitas Saringan Bioremediasi Tanaman Mendong (Scirpus littoralis Schard), Kangkung (Ipomea aquatica Forsk), dan Tale-Talesan (Typhonium Miq), Melalui Uji Coba Lapang Skala Kecil dan Simulasi di Laboratorium [Disertasi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor, Program Pasca Sarjana

 

Soerjani, M. 1987. Lingkungan, Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Universitas Indonesia. Jakarta

 

Stowel, R.R., XC. Ludwig and G. Thobanoglous. 1980. Toward the Rational Design of Aquatic Treatments of Wastewater. Departemen of Civil Engoneering and Land, Air, and Water Resources, University of California California

 

Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah. Universitas Indonesia. Jakarta.

 

Suhardi. 1991. Analisis Air dan Penanganan Limbah. PAU Pangan dan Gizi. Universitas gajah Mada. Yogyakarta,

 

Sumirat S. J. 1996. Kesehatan Lingkungan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Suriawiria, U. 1986. Mikrobiologi Air. Penerbit Alumni. Bandung.

 

Suriawiria, U. 1993. Mikrobiologi Air dan dasar-dasar Pengolahan Buangan Secara Biologis. Penerbit Alumni. Bandung.

 

Tato,Syahriar 2003 ,model teknologi pengolahan limbah cair rumah tangga dengan filter biogeokimia.Desertasi.

 

Tchobanoglous, G. 1987. Aquatic Plant System for Wastewater Treatment. Magnolia Publishing. Orlando.

 

Thiese, A and   CD.   Martin.   1987.   Municipal Wastewater Purification in a Vegetative Filter Bed in Emmitsburg, Maryland. Magnolia Publishing. Orlando.

 

Wagini, dkk. 2000. Studi Fisis daur Ulang Limbah Cair Industri Peternakan Sapi dengan Simulasi Pengenceran. Jurnal Manusia dan Lingkungan. Pusat penelitian Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

 

Yusuf, G. 2001 Bioremediasi Limbah Rumah Tangga dengan Sistem Simulasi Tanaman Air [Disertasi]. Bogor ; Institut Pertanian Bogor, Program Pascasarjana.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO,SH.SAB.SSN.MS.MH.MM.

 

  1. Nama            :  DR. IR.DRS.SYAHRIAR TATO.SH.SAB.SSN.MS.MH.MM
  2. Status            :   Dosen Tetap Yayasan Pendidikan Bosowa
  3. Dosen (NIDN) :    09.2102.5101
  4. Dosen sertifikat :   12109101012869.
  5. Pangkat akademik :   Lektor Kepala (25 oktober 2004-

                                               SKEP.07/34/BP/U- 45/X/04),

  1. Pangkat PNS                 : Pangkat pengabdian IV/d, Pembina Utama

                                               Madya (Kep.Presiden RI no.18/K TAHUN 2011).

7.Kelompok Keahlian               :  1.Perencanaan Prasarana Wilayah dan Kota.

  1. Perencanaan Kawasan Wisata.
  2. Konsep dan Struktur Tata Ruang.
  3. Civil Engineering.
  4. Penyehatan dan pencemaran lingkungan.
  5. Penyutradaraan dan Keaktoran.
  6. No. KTP : 7371092102510001.
  7. Pasport : A.3948304.

10.Kelamin                               :    Laki-Laki

11.Agama                                :    Islam

12.Kota/Tanggal Lahir             :    Pinrang , 21 pebruari 1951

13.Jabatan Akademik              :    1).Direktur Pascasarjana STIK Tamalate 2008-2011.

                                              2) Dekan Fakultas Teknik ISTP Makassar 2010-2011.

                                              3).Rektor IKM. 2014.

14.Instansi Induk                    :    Universitas “45” Makassar.

 

15.Riwayat Pendidikan

  1. Strata Sarjana Muda (SM)
  • Tanggal Lulus : 12 agustus 1975(tahun 1970-1975)
  • Gelar : Bachelor of Architec Engineering (BAE)
  • Nama PT : Akademi Teknologi Negeri
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Arsitektur
  • Judul perancangan: Perencanaan bangunan gedung perpustakaan Ujung
  • Pandang

-     Pembimbing          : Ir. Winardi sukowiyono.      

 

  1. Strata Satu ( S1 )
  • Tanggal Lulus : 26 Maret 1984 (1980-1984)
  • Gelar : Doktorandus ( Drs )
  • Nama PT : STIA-LANRI
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Administrasi Negara.
  • Judul Skripsi             : Implementasi program terpadu Pemugaran Perumahan
  • Desa di Propinsi Sulawesi Selatan Ditinjau dari
  • Administrasi Pembangunan
  • Pembimbing : Dr. HM. Syukur Abdullah MPA
  1. Strata Satu (S1)        
  • Tanggal Lulus : 10 maret 1990 (1984-1990)
  • Gelar : Insinyur (Ir)
  • Nama PT : Universitas Muslim Indonesia
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Teknik sipil.
  • Judul Skripsi : Model Pengelolaan Bangunan Gedung dengan Metode
  • Gabungan GUNCHART-CPM-HANNUM CURVE.

                     Pembimbing        : Ir.HM. Ridwan Abdullah, Msc.      

  1. Strata Satu (S1)       
  • Tanggal Lulus : 6 April 2009 (2006-2009)
  • Gelar : Sarjana Hukum ( SH )
  • Nama PT : Universitas Satria Makassar
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Hukum Pidana.
  • Judul Skripsi : Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Keyakinan Hakim
  • dalam Proses Pembuktian Menurut Hukum Acara Pidana

                     Pembimbing        : HM. Yunus Idy.SH.MH dan Djonny.SH.MH    

  1. Strata Satu (S1)      
  • Tanggal Lulus : 15 November 2011 (2008-2011)
  • Gelar : Sarjana Administrasi Bisnis (SAB)
  • Nama PT : STIA-YPA-AH
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Administrasi Bisnis.
  • Judul Skripsi : Faktor yang Mempengaruhi Retribusi Penerimaan
  • Pengelolaan PDAM Kabupaten Pinrang ditinjau dari segi
  • Administrasi Bisnis
  • Pembimbing : Dr. Drs. Amiruddin Semma dan Muhammad
  • Amiruddin,SE.
  1. Strata Satu (S1).

                     Tanggal Lulus : 27 juni 2013.(2008-2013)

  • Nama PT : Institut Kesenian Makassar
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Seni Media Rekam Film dan Televisi.
  • Judul Karya         : Karya Penciptaan Film Pendek berjudul TANDA CINTA

              -     Pembimbing         : Machfud Ramli,S.Sos dan Yohan C Tinungki,S.Mus,M.Sn.

 

 

  1. Strata Dua (S2)                  
  • Tanggal Lulus : 17 Oktober 1992.( 1990-1992)
  • Gelar : Magister Sains ( MS )
  • Nama PT : Universitas Hasanuddin
  • Kota Asal PT : Makassar.
  • Bidang Ilmu : Pencemaran dan Penyehatan Lingkungan.
  • Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman pada
  • Kawasan Pantai Kota Madya Ujung Pandang.
  • Pembimbing :Ir.Yulianto Sumalyo,Prof.Dr.Rahardjo
  • Adisasmita,Dr.Ir.Sampe Paembonan,MS.
  1. Strata Dua (S2)

-   Tanggal lulus     : 27 Mei 2010.(2008-2010)

-     Gelar               : Magister Hukum.( MH )

-     Nama PT           Universitas Kristen Indonesia Paulus.

-     Kota Asal PT   : Makassar.

-     Bidang Ilmu     : Hukum Tata Negara dan Pemerintahan.

-       Judul Tesis     : Analisis Yuridis Pemanfaatan Ruang Berdasarkan

                                 Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang

                                 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar.

  1. Strata Dua (S2)

-     Tanggal lulus     : 30 April 2012(2010-2012)

-     Gelar                   : Magister Manajemen ( MM )

-     Nama PT            : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pengembangan Bisnis dan

                                 Manajemen

-     Kota Asal PT       : Jakarta

-     Bidang Ilmu     : Manajemen .

-     Judul Tesis          : Pengaruh Faktor Pembiayaan untuk Meningkatkan

                               Pengelolaan Persampahan Kota Makassar

-     Pembimbing     : Prof.Dr.Masngudi,SE dan Dr,Wier Ritonga ,SE,MM.

  1. Strata Tiga (S3 )
  • Tanggal Lulus : 16 Juli 2004 (1996-2004)
  • Gelar : Doktor (Dr)
  • Nama PT : Universitas Hasanuddin.
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Studi Ilmu Teknik.
  • Judul Disertasi : Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair dengan Filter

                                 BiogeoKimia

  • Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Muh.Arief.Dipl.Ing

                                               Prof. Dr. Syahrul. M,Agr.

                                               Prof. Dr. Ir. Muh.Saleh Pallu,M.Eng.

                                               Prof, Dr. Ir. Mary Selintung, MSc

  1. Penghargaan atas karya bakti.
  2. Satya Karya 1985 Mentri Pekerjaan Umum
  3. Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI
  4. Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI
  5. Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI.
  6. ASEAN EXSECUTIVE AWARD 2004

 

  1. Daftar karya ilmiah dan populer yang ditulis .

NO

JUDUL TULISAN

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan

2005

Jurnal SPASIAL Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2005

2.

Tata Guna lahan – system transportasi sebagai sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan

2006

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2006

3.

Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan

2007

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2007

4.

Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem

 

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2008

5.

Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Juni 2008

6.

Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban

2009

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2009

 

  1. Daftar Artikel Dosen selama 10 tahun terakhir

NO

JUDUL ARTIKEL

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Air Sumber kehidupan, masihkah lestari

2003

Artikel dalam Majallah “sinergi”no6 Tahun I, Oktober   2003

2.

Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar, masihka memukau?

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

 

Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

 

 

 

4.

Manajemen Strategik organisasi seni budaya

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 2 Tahun 2003

5.

Filter Biogeokimia, Mengolah limbah cair perkotaan

2004

Artikel dalam Majallah

“ Sinergi” no1. Tahun I, Januari 2004

6

1 Milyard Orang Dambakan Air

2004

Artikel dalam Majallah “sinergi”no3 Tahun. II

Maret 2004

 

Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 3 Tahun 2004

 

Mungkinkah membangun seni budaya”Beraura” tradisi di Sulawesi Selatan

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 5 Tahun 2004

 

Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian local

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 6 Tahun 2004

10.

Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata)

 

2005

Artikel dalam Majallah “Mimbar Aspirasi”Edisi 44 Februari 2005

11.

 

12.

Identifikasi kawasan terpilih pusat pengembangan desa dikabupaten Majene propinsi sulawesi barat.

Juridical analysis Utilization of space based regulation member 6 0n the spatial plan area of the city Makassar

Desember 2012

Jurnal SPASIAL vol 8 no.2 ISSN : 1411-3899

 

13.

Arahan pengembangan kawasan strategi kota galesong kabupaten takalar

     2010

Jurnal SPASIAL vol 8 no.1- ISSN : 1411-3899

14.

 

 

15.

Evaluasi rencana Kawasan Agropoitan di kawasan matakali-kabupaten polewali mandara sulawesi barat.

 

Disparitas pemanfaatan ruang terhadap PERDA no 6 tahun 2006 tentang RTRW kota Makassar.

 

 

 

2010.

 

 

2010

Jurnal Tekstur kota

Vol 1 no 2-ISSN 2086-7786.

Jurnal Tekstur kota

Vol 2 no 1-ISSN 2086-7786.

 

 

 

  1. Karya Ilmiah

1.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Journal of Science and Technology integration vol.III, januari 2011, ISSN : 1675-8437.Selangor Malaysia

 

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

 

Tahun-Bulan

:

2010 (4 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Area Development Minapolitan coastal communities to improve economy Gowa

       

2.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar International book expo 2012 malaysia

 

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Biaya sendiri

 

Tahun-Bulan

:

2012 (2 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur tradisional sulawesi selatan warisan budaya etnis lokal Indonesia.

       

3.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar arsitektur tradisional minahasa dan suku tobadij papua

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Satker balai pengembangan teknologi perumahan tradisional makassar (APBN)

 

Tahun-Bulan

:

2009 (6 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur rumah tradisional minahasa dan suku tobadij papua.

       

 

4.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar Dinas tataruang dan permukiman Sulawesi Selatan.

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tata ruang dan permukiman.(APBN )

 

Tahun-Bulan

:

2008 (6 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Identifikasi kawasan Resapan air kawasan metropolitan Mamminasata

       

5.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata ruang dan Pemukiman Sulawesi Selatan

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan permukiman (APBN)

 

Tahun-Bulan

:

2008 (4 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan masterplan Kawasan Agropoiltan Allakuang kabupaten Sidenreng Rappang.

       

6.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulawesi Selatan

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan Pemukiman ( APBN)

 

Tahun-Bulan

:

2009 (4 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan Master plan Kawasan Agropoitan Mangbotu Kabupaten Luwu Timur

       

7.

Jenis Karya Ilmiah

:

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

:

De la macca ISBN no 978-602-263-009-8

 

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

 

Tahun-Bulan

:

2013

 

Judul Karya Ilmiah

:

Cara sederhana mengolah sampah perdesaan.

       

8.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Bapeda Kabupaten Boven digoel

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

APBD Kab, Boven Digoel

 

Tahun-Bulan

:

2013 (6 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) kabupaten boven Digoel

       

9.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

Penerbit Lamacca press-ISBN no, 979-3897-49-2

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2009.

 

Judul Karya Ilmiah

 

Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan,Pusaka warisan budaya indonesia.

       

10.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

De la macca-ISBN no 978-979-3897-36-3

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2010

 

Judul Karya Ilmiah

 

Mengolah limbah cair rumah tangga dengan filter biogeokimia

       

11.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku Ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

De la Macca.ISBN 978-602-263-008-1

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2013.

 

Judul Karya Ilmiah

 

Mari membangun kawasan hijau dan bangunan hijau yang ramah lingkungan

       

12.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

De la macca.ISBN 978 602 263 010 4

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2013

 

Judul Karya Ilmiah

 

Potensi dan harapan masa deoan kawasan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) parepare

 

  1. Kegiatan dalam dan luar negeri .

 

No.

Jenis Kegitan

Tempat dan Waktu Kegiatan

Jenis Partisipasi

Penyaji

Peserta

1.

Earthquake Engeenering for reconstruction

University of Victoria,wellington selandia baru 1996

 

Peserta

2.

Earthquake Disaster Management

Universityof new

     south wales-

sidney australia 1996

 

peserta-

 

3.

Training of Water suplly Engineering

OECF/JICA.Tokyo jepang 1997

 

peserta-

4.

OzWater conference

and Exebhition

Perth australia 2004

Penyaji

 

5.

Studi Kawasan Agropolitan

HPTI Bangkok Thailand tahun 2003

 

peserta-

6.

Bussiness& Industries Conference –Exhibition

Istambul-turki 2006

Penyaji

 

7.

Asia Pasific Academic consortium for Public Health conference

Yonsei university-seoul-korea selatan 2011

penyaji

-

8.

International book expo and exebhition

Kualalumpur.malaysia tahun 2012

     penyaji

-

9.

AsiaPasific Academic Consortium for Public Health confrence.

Colonbo – srilanka 2012

penyaji

-

10.

Pelatihan teknik Manajemen Information sistem program nasional Pengembangan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2009

Narasumber

-

11.

Pelatihan teknis Training of trainers program PANSIMAS

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2008

 

Narasumber

 

12.

Sosialisasi UU No.26 tahun 2007 tentang penataan ruang

DISTARKIM Sulsel tahun 2009

Narasumber

-

13.

Pelatihan-AparatPemerintah kabupaten/kota se SulSel

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

14.

Pelatihan-Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTR Provinsi Sulsel

12-14 Juni 2013, Dinas Tarkim Provinsi Sulsel

Narasumber

-

15.

Pelatihan teknis pilihan teknologi dalam pembangunan prasarana dan sarana sanitasi dan air limbah.

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

16.

Pelatihan aparat pemda kab/kota, Strategis pengembangan kab/kota berbasis rencana tata ruang kota

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

 

17.

Lokakarya nasional master plan dan perencanaan teknis kerjasama kota metropolitan mamminasa

Ditjen Bangda Depdagri – Jakarta tahun 2009

Narasumber

-

18.

Timteknis/Kelompok-kerja Pembangunan-kotabaru Mamminasata

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Pengarah

-

19

 

 

 

20.

 

 

 

21.

 

22

 

 

23.

 

 

 

24.

 

 

 

25

 

 

26

 

 

 

27

 

28.

 

Seminar nasional Arsitektur rumah dan Permukiman Tradisional Kawasan Timur Indonesia.

Disseminasi peraturan perundang undangan penataan bangunan dan lingkungan.

Seminar-nasional,ibukota negara,harapan dan tantangan

Studi optimalisasi pelabuhan Ferry Mamuju propinsi sulawesi Barat

Studi Kelayakan Pembangunan Dermaga bala-balakang kabupaten Mamuju Sulawesi barat

Seminar Penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Minapolitan kab. Luwu timur.

Seminar nasional penerapan konsep bangunan hijau pada bangunan gedung.

International seminar on urban and regional planning

 

Pelatihan-Manajemen persampahan .

Bimbingan teknis pemanfaatan citra satelit untuk informasi spasial sumber daya lahan.

Badan Litbang PU,tahun 2010

 

 

 

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2010.

 

Pemerintah propinsi Sulawesi-Selatan

tahun 2011.

Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009. Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009.

 

 

BPSPL Makassar 2010

 

 

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2012.

 

ASPI-tahun 2011.

 

DISTARKIM Sulsel

Tahun 2012.

 

LAPAN-thn 2012

Penyaji

 

Narasumber

 

Narasumber

Tim Pakar

 

Tim pakar

 

 

Penyaji

 

 

penyaji

 

 

 

 

penyaji                                        

         —-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

peserta-

 

 

 

 

peserta

29.

Pelatihan Teknis Sistem Informasi Manajemen Kawasan Ekonomi Terpadu( Berbasis GIS)

Ditjen Tata Ruang-UNHAS-LAPAN

Tahun 2013.

 

peserta

 

Posted September 7, 2014 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

MEMBANGUN KAWASAN HIJAU DAN BANGUNAN HIJAU YANG RAMAH LINGKUNGAN.

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

CATATAN MAKASSAR TIDAK RANTASA – GO GREEN AND CLEAN

Kota besar adalah salah satu simbol kemajuan dan keberhasilan pembangunan. Gedung menjulang, keramaian pusat-pusat perbelanjaan, riuh lalu lintas berlalu lalang jadi icon dari kota. Namun bagaimana jika ada warga, keluarga di Kota Makassar yang lelah, jenuh atau hendak santai menghirup udara segar atau ada anak-anak ingin bermain bersama temannya, sekedar berlari kecil, belajar di taman atau hutan kota kemana mereka harus pergi?

Adakah taman atau hutan kota yang aman dan asri menjadi ruang publik di kota Makassar ? Sarana bertemu, bermain, bercengkerama, belajar, berkomunikasi untuk sesama warga ? Jika ya, pertanyaan selanjutnya adalah; apakah cukup tersedia dan dapat mudah diakses oleh segenap warga?

 Agaknya untuk menemukan tempat yang aman, nyaman, asri dan bersih seperti itu masih menjadi dambaan. Sebuah ruang hijau yang dipenuhi pepohonan rimbun yang sejuk, dimana anak-anak dapat bermain, bercengkerama, anak muda memadu kasih, pemusik berlatih, pelukis menggores kanvas, para lansia duduk santai menikmati waktu istirahat panjang mereka setelah beraktifitas atau olah raga ringan. Ruang-ruang publik seperti ini sungguh sangat dibutuhkan warga untuk melewatkan waktu jeda dan menjaga kerekatan sosial serta keseimbangan kota.

Karenanya Ruang Terbuka Hijau (RTH ) menjadi ruang yang sangat di butuhkan warga. Bahkan kini ruang model ini sudah menjadi sebuah syarat utama yang harus ada disetiap kota. Seiring dengan kondisi bumi yang terus memburuk akibat pemanasan iklim global. Masalah penghijauan dan kelestarian lingkungan menjadi perhatian serius tak hanya bagi bangsa Indonesia tapi juga masyarakat dunia. Kehidupan dan dinamika aktivitas kota besar cenderung berkembang pesat sementara kualitas lingkungan bergerak sebaliknya, mengalami degradasi/kemerosotan yang semakin memprihatinkan. Ruang terbuka hijau yang notabene diakui merupakan alternatif terbaik bagi upaya recovery fungsi ekologi kota kian hilang, tergerus oleh pembangunan gedung-gedung menjulang. Pembangunan gedung-gedung megah di kota-kota memang membanggakan, namun disisi lain pembangunan tersebut justru kerap menggusur bahkan mencaplok ruang-ruang hijau yang ada. Taman-taman kota yang dulunya asri, disulap menjadi pertokoan, perkantoran atau apartement, Prilaku seperti itu tak pelak menimbulkan dampak negative bagi lingkungan yaitu ketidak seimbangan ekologi dan mempercepat proses pemanasan global yang tentunya berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan warga kota cepat atau lambat. Keprihatinan akan hal tersebut harusnya menjadi perhatian seluruh pelaku pembangunan utamanya pemerintah yang sesungguhnya dapat mempelopori dilakukannya gerakan sadar lingkungan, mulai dari level komunitas warga untuk menata pekarangan, lingkungan hingga komunitas masyarakat pada level kota.

 Telah menjadi kesepakatan internasional akan ruang terbuka hijau suatu kota harus mencapai angka 30 persen dari luas kota. Kesepakatan ini juga diakui oleh pemerintah Indonesia dengan menetapkan agar daerah perkotaan memiliki minimal 20% dari luas kawasan perkotaannya untuk ruang publik terbuka hijau. Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan definisi tentang ruang terbuka hijau ini dengan istilah Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan atau RTHKP. Jika mengacu pada Peraturan Mendagri No.1 tahun 2007 tentang penataan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan ini, maka pengertian Ruang Terbuka Hijau adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.Ruang terbuka hijau itu sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu RTHKP Publik dan RTHKP Privat. RTHKP Publik adalah RTHKP yang penyediaan dan pemeliharaannya menjadi tanggungjawab Pemerintah Kabupaten/Kota. Sementara RTHKP Privat adalah RTHKP yang penyediaan dan pemeliharaannya menjadi tanggungjawab pihak/lembaga swasta, perseorangan dan masyarakat yang dikendalikan melalui izin pemanfaatan ruang oleh Pemerintah Kabupaten/Kota.

 Berdasarkan jenisnya RTHKP meliputi taman kota, taman wisata alam, taman rekreasi, taman lingkungan perumahan dan permukiman, taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial, taman hutan raya, hutan kota, hutan lindung, bentang alam seperti gunung, bukit, lereng dan lembah, cagar alam, kebun raya, kebun binatang, pemakaman umum, lapangan olah raga, lapangan upacara, parkir terbuka, lahan pertanian perkotaan, jalur dibawah tegangan tinggi (SUTT dan SUTET), sempadan sungai, pantai, bangunan, situ dan rawa, jalur pengaman jalan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian, kawasan dan jalur hijau, daerah penyangga (buffer zone) lapangan udara dan taman atap (roof garden).Ruang tebuka hijau mempunyai fungsi penting yang berfungsi sosial dimana masyarakat bisa berkumpul dan bersantai bersama sanak keluarga atau kawan. Dengan hilangnya lahan-lahan RTH dari peta kota maka akan berdampak secara tidak langsung bagi proses-proses pemanasan dan polusi lingkungan perkotaan. Tak kalah pentingnya, dengan berkurangnya ruang yang dapat berfungsi untuk interaksi sosial bagi warga masyarakat, maka bukan tidak mungkin kelak di kemudian hari dapat menciptakan generasi yang individualistis tak memiliki jiwa sosial.

 

Ruang terbuka hijau sejatinya ditujukan untuk menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan dan mewujudkan kesimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan di perkotaan serta meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih, aman dan nyaman. Tak cuma itu, ruang terbuka hijau juga berfungsi sebagai pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan, pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara, tempat perlindungan plasma nuftah dan keanekaragaman hayati dan pengendali tata air serta tak ketinggalan sebagai sarana estetika kota. Keberadaan ruang ini tak hanya menjadikan kota menjadi sekedar tempat yang sehat dan layak huni tapi juga nyaman dan asri. Ruang terbuka hijau juga membawa begitu banyak manfaat yang terkandung. Mulai dari sarana untuk mencerminkan identitas daerah, menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah, sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat, sebagai sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan, memperbaiki iklim mikro hingga meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan dan tak ketinggalan bermanfaat bagi meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan. Bahkan terkandung pula manfaat yang lebih bernilai sosial seperti sebagai sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial atau sebagai sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula. Bisa dibilang kebutuhan akan adanya ruang semacam ini di kota-kota besar tak hanya sekedar perlu sebagai keinginan namun sungguh kebutuhan.

Lantas mengapa keberadaan RTHKP yang sangat penting ini belum lagi terwujud?

Rasa cemas dan keprihatinan untuk mengembalikan keseimbangan alam yang mulai berada dititik yang mengkhawatirkan itu, membutuhkan pemikiran yang sulutif. Lebih dari sekedar itu sesungguhnya dibutuhkan tekad juga partisipasi aktif dari seluruh komponen warga masyarakat untuk mengembalikan apa yang telah hilang. Tersedianya ruang terbuka hijau dalam jumlah yang cukup adalah salah satu bentuk harapan. Karena bumi ini bukan hanya milik kehidupan masa kini namun juga milik kehidupan masa depan. Generasi mendatang berhak atas udara yang bersih, lingkungan yang asri dan sehat, aman serta nyaman untuk dihuni.

Mengacu pada latar berpikir sebagaimana uraian diatas maka kehadiran lima buku serial Makassar Tidak Rantasa :

  • MENGELOLA SAMPAH RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN ( Buku Satu )
  • MEMBANGUN KAWASAN HIJAU DAN BANGUNAN HIJAU YANG RAMAH LINGKUNGAN. ( Buku Dua )
  • MENGELOLA LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN. ( Buku Tiga )
  • MENGGUGAH PERAN SERTA MASYARAKAT KOTA MAKASSAR DALAM MENGELOLA SAMPAH. ( Buku Empat )
  • MEMANFAATKAN DAERAH SEMPADAN SUNGAI SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU. ( Buku Lima )

Ditulis oleh Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM. adalah upaya nyata seorang pakar yang memiliki kompetensi memaparkan hal tersebut untuk menjadi bacaan yang dapat dijadikan acuan untuk membangun paradigma dan mendorong terwujudnya prilaku positif warga kota makassar guna mewujudkan Makassar Tidak Rantasa- Go Green And Clean.

MEMBANGUN KAWASAN HIJAU DAN BANGUNAN HIJAU YANG RAMAH LINGKUNGAN.

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

 

Pencemaran lingkungan perkotaan

Pencemaran lingkungan adalah perubahan lingkungan yang sangat tidak menguntungkan. Perubahan tersebut turut dipegaruhi oleh tindakan manusia dalam pola penggunaan energi dan materi, peningkatan radiasi, penggunaan bahan-bahan fisika dan kimia, dan jumlah organisme. Perubahan lingkungan seperti itu dapat mempengaruhi manusia secara langsung maupun tidak langsung melalui air, hasil pertanian, peternakan, benda-benda, perilaku dalam apresiasi dan rekreasi di alam bebas (Sastrawijaya, 2000).

Selain itu pencemaran udara terjadi jika udara di atmosfer tercampur dengan zat atau radiasi. Jika jumlah pengotoran ini cukup banyak, maka tidak dapat langsung diabsorpsi atau dihilangkan. Umumnya pengotoran ini bersifat alamiah, misalnya gas pembusukan, debu akibat erosi, dan serbuk tepung sari yang terbawa angin, kemudian ditambah oleh ulah manusia dalam hidupnya dan jumlah serta kadar bahayanya pun semakin meningkat. Pencemar udara dapat digolongkan kedalam tiga kategori, yaitu: pergesekan permukaan; penguapan; pembakaran; (Sastrawijaya, 2000).

Pada keadaan yang masih pada batas-batas kemampuan alamiah, udara di atmosfer sebagai suatu sistem mempunyai kemampuan ekologis untuk beradaptasi dan mengalami mekanisme pengendalian alamiah (ecological auto-mechanism) dengan unsur-unsur yang ada dalam ekosistem (kemampuan pengenceran dengan tumbuh-tumbuhan maupun lain-lain). Gangguan-gangguan terhadap ketimpangan susunan udara atmosfir dikatakan apabila zat-zat pencemar telah melewati angka batas atau baku mutu yang ditentukan oleh kuantitas kontaminan, lamanya berlangsung maupun potensialnya. Nilai ambang batas tersebut berbeda untuk masing-masing kontaminan yang ditentukan berdasarkan pertimbangan aspek kesehatan, estetika, pertumbuhan industri dan lain-lain.

Gas buang sisa pembakaran bahan bakar minyak mengandung bahan- bahan pencemar seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), volatile hydrocarbon (VHC), suspended particulate matter dan partikel lainnya. Bahan-bahan pencemar tersebut dapat berdampak negatif terhadap manusia ataupun ekosistem bila melebihi konsentrasi tertentu. Peningkatan penggunaan bahan bakar minyak pada sektor transportasi menyebabkan gas buang yang mengandung polutan juga akan naik dan akan mempertinggi kadar pencemaran udara.

Dalam upaya menciptakan serapan vegetasi terhadap karbon dioksida, Salah satu komponen yang penting dalam konsep tata ruang adalah menetapkan dan membangun jalur hijau dan hutan kota, baik yang akan direncanakan maupun yang sudah ada namun kurang berfungsi. Selain itu jenis pohon yang ditanam perlu menjadi pertimbangan, karena setiap jenis tanaman mempunyai kemampuan menjerap yang berbeda-beda.

Vegetasi mempunyai peranan yang besar dalam ekosistem, apalagi jika kita mengamati pembangunan yang meningkat pesat di perkotaan. Sering kali pembangunan sarana prasarana kota tidak menghiraukan kehadiran lahan untuk vegetasi, padahal vegetasi ini sangat berguna dalam memproduksi oksigen yang diperlukan manusia untuk proses respirasi (pernafasan), serta untuk mengurangi keberadaan gas karbon dioksida yang semakin banyak di udara akibat kendaraan bermotor dan industri. Penyerapan karbon dioksida oleh pepohonan dengan jumlah 10.000 pohon berumur 16-20 tahun hanya mampu mengurangi karbon dioksida sebanyak 800 ton per tahun. Penanaman pohon menghasilkan absorbsi karbon dioksida dari udara dan penyimpanan karbon, sampai karbon dilepaskan kembali akibat vegetasi tersebut busuk atau dibakar. Hal ini disebabkan karena pada hutan yang dikelola dan ditanam akan menyebabkan terjadinya penyerapan karbon dari atmosfir, kemudian sebagian kecil biomassanya dipanen dan atau masuk dalam kondisi masa tebang atau mengalami pembusukan.Untuk mengetahui seberapa besar emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari aktivitas kota, maka dilakukan pendekatan penghitungan emisi karbon dioksida. Faktor emisi adalah nilai yang digunakan untuk mendapatkan berat karbon dioksida berdasarkan besaran-besaran yang dinilai, misalnya konsumsi listrik, minyak tanah, premium, solar dan sebagainya.

Biomassa atau bahan organik adalah produk dalam proses fotosintesis pada daun pepohonan. Dalam proses fotosintesis, butir-butir hijau daun berfungsi sebagai sel surya yang menyerap energi matahari guna mengkonversi karbon dioksida (CO2) dengan air (H2O) menjadi senyawa karbon, hidrogen dan oksigen (CHO). Senyawa hasil konversi itu dapat berbentuk arang karbon),kayu, ter, alkohol dan lain-lain. Biomassa vegetasi bertambah karena menyerap karbon dioksida dari udara dan mengubah zat tersebut menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis. Umumnya karbon menyusun 45-50 % bahan kering dari tanaman.

 Manfaat Kawasan Hijau dan Ruang Terbuka Hijau.

Penghijauan perkotaan maupun perdesaan merupakan salah satu upaya pengisian Ruang Terbuka Hijau (RTH), upaya ini perlu ditingkatkan bentuk dan strukturnya menjadi hutan kota. Pertimbangan tersebut berdasarkan kebutuhan masa kini dan masa depan, mewujudkan hutan kota yang sehat, asri, nyaman dan aman. Potensi alam Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, tanah yang subur, iklim tropis, serta masyarakat yang mempunyai kebiasaan rajin menanam, adalah modal dasar gerakan penghijauan perkotaan.

           Hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan tautannya yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, berbentuk jalur, menyebar, atau bergerombol (menumpuk) dengan struktur meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan berlangsungnya kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan sehat, nyaman, dan estetis. Hutan kota sebagai unsur RTH merupakan subsistem kota dari sebuah ekosistem dengan sistem terbuka. Hutan kota diharapkan dapat menanggulangi masalah lingkungan di perkotaan, menyerap hasil negatif akibat aktivitas warga kota. Aktivitas kota dipicu oleh pertumbuhan penduduk kota yang terus berkembang, seiring pertumbuhan penduduk kota yang terus meningkat tahun ke tahun.

Vegetasi atau tetumbuhan dalam sistem lingkungan berperan sebagai produsen pertama yang mengubah energi matahari menjadi energi yang potensial untuk makhluk lainnya, perubah terbesar lingkungan dan sebagai sumber hara mineral. Ironisnya, setiap ada pembangunan di kawasan perkotaan maupun di kawasan perdesaan, maka lahan pertanian, kebun buah-buahan atau lahan bervegetasi menjadi semakin berkurang.

           Salah satu dampak negative dari pembangunan perkotaan dan perdesaan yang tidak memperhatikan lingkungan antara lain adalah meningkatnya suhu udara, kebisingan, debu, polutan, menurunnya kelembaban, dan hilangnya habitat berbagai jenis burung dan satwa karena hilangnya berbagai vegetasi dan pepohonan.

Dengan adanya Ruang Terbuka Hijau atau taman, diharapkan cukup dapat menyerap panas, meredam suara bising di perkotaan maupun di perdesaan, mengurangi debu, memberikan estetika, membentuk habitat untuk berbagai jenis burung atau satwa lainnya. Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung atau tidak langsung yang dihasilkan oleh Ruang Terbuka Hijau dalam kota atau desa tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, kesehatan dan keindahan.

Kawasan Hutan Perkotaan

Berdasarkan PP No. 63 Tahun 2002, hutan kota didefinisikan sebagai suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang Kebun raya adalah suatu area kebun yang ditanami berbagai jenis tumbuhan yang ditujukan terutama untuk keperluan penelitian. Selain itu, kebun raya juga digunakan sebagai sarana wisata dan pendidikan bagi pengunjung.

Dua buah bagian utama dari sebuah kebun raya adalah perpustakaan dan herbarium yang memiliki koleksi tumbuh-tumbuhan yang telah dikeringkan untuk keperluan pendidikan dan dokumentasi Pertanian kota meliputi kegiatan penanaman, pengolahan, dan distribusi hasil pertanian di wilayah perkotaan.

           Kegiatan ini membutuhkan lahan yang cukup luas. Oleh karena itu, lahan ini biasanya jarang ditemui di wilayah perkotaan yang cenderung memiliki lahan yang sudah terbangun. Hasil pertanian kota ini menyumbangkan jaminan dan keamanan pangan yaitu meningkatkan jumlah ketersediaan pangan masyarakat kota serta menyediakan sayuran dan buahbuahan segar bagi masyarakat kota. Selain itu, pertanian kota juga dapat menghasilkan tanaman hias dan menjadikan lahan-lahan terbengkalai kota menjadi indah. Dengan pemberdayaan masyarakat penggarap maka pertanian kota pun menjadi sarana pembangunan modal sosial.

Sebagaimana yang kita rasakan, kehadiran pepohonan dalam lingkungan kehidupan manusia, khususnya di perkotaan, memberikan nuansa kelembutan tersendiri. Perkembangan kota yang lazimnya diwarnai dengan aneka rona kekerasan, dalam arti harfiah ataupun kiasan, sedikit banyak dapat dilunakkan dengan elemen alamiah seperti air (baik yang diam-tenang maupun yang bergerak-mengalir) dan aneka tanaman, mulai dari rumput, semak sampai pohon pohon yang rindang. Dalam pelaksanaan pembangunan kawasan hijau dan pengembangannya, ditentukan berdasarkan pada objek yang akan dilindungi, hasil yang dicapai dan letak dari hutan kota atau hutan desa tersebut.

Berdasarkan letaknya, perwujudan hutan kota yang ada di kota besar, kota sedang, kota kecil, maupun kota kecamatan dan kota desa, yang secara skala kawasan dapat dibagi menjadi lima kawasan yaitu :

  • Hutan Kota Kawasan Pemukiman, yaitu hutan kota yang dibangun dengan tujuan untuk membantu menciptakan lingkungan yang nyaman dan menambah keindahan dan dapat menangkal pengaruh polusi kota terutama polusi udara yang diakibatkan oleh adanya kendaraan bermotor yang terus meningkat dan lain sebagainya di kawasan pemukiman.
  • Hutan Kota Kawasan Industri, berperan sebagai penangkal polutan yang berasal dari limbah yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan perindustrian, antara lain limbah padat, cair, maupun gas.
  • Hutan Kota Kawasan Wisata/Rekreasi, berperan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan rekreasi bagi masyarakat yang dilengkapi dengan sarana bermain untuk anak-anak atau remaja, tempat peristirahatan, perlindungan dari polutan berupa gas, debu dan udara, akses internet serta informasi lainnya yang merupakan tempat produksi oksigen.
  • Hutan Kota Kawasan Konservasi, hutan kota ini mengandung arti penting untuk mencegah kerusakan, memberi perlindungan serta pelestarian terhadap objek tertentu, baik flora maupun faunanya di alam yang dilindungi.
  • Hutan Kota Kawasan Pusat Kegiatan, hutan kota ini berperan untuk meningkatkan kenyamanan, keindahan, dan produksi oksigen di pusat-pusat kegiatan seperti pasar, terminal, perkantoran, pertokoan dan lain sebagainya.

Di samping itu hutan kota juga berperan sebagai jalur hijau di pinggir jalan yang berlalu- lintas padat. Secara umum bentuk hutan kota di kawasan perkotaan maupun Perdesaan adalah :

  • Jalur Hijau, Jalur hijau berupa peneduh jalan raya, jalur hijau di bawah kawat listrik,di tepi jalan kereta api, di tepi sungai, di tepi jalan bebas hambatan.
  • Taman Kota. Taman kota diartikan sebagai tanaman yang ditanam dan ditata sedemikian rupa, baik sebagian maupun semuanya hasil rekayasa manusia, untuk mendapatkan komposisi tertentu yang indah.
  • Kebun dan Halaman. Jenis tanaman yang ditanam di kebun dan halaman biasanya dari jenis yang dapat menghasilkan buah.
  • Kebun Raya, Hutan Raya, dan Kebun Binatang. Kebun raya, hutan raya dan kebun binatang dapat dimasukkan ke dalam salah satu bentuk hutan kota. Tanaman dapat berasal dari daerah setempat, maupun dari daerah lain baik dalam negeri maupun luar negeri.
  • Hutan Lindung, daerah dengan lereng yang curam harus dijadikan kawasan hutan karena rawan longsor. Demikian pula dengan daerah pantai yang rawan akan abrasi air laut .

Manfaat Hutan Kota

Manfaat hutan kota di kawasan perkotaan diantaranya adalah sebagai berikut :

 

  1. Sebagai Identitas Kota .

Jenis tanaman dapat dijadikan simbol atau lambang suatu kota yang dapat dikoleksi pada areal hutan kota. Propinsi Sumatra Barat misalnya, flora yang dikembangkan untuk tujuan tersebut di atas adalah Enau (Arenga pinnata) dengan alasan pohon tersebut serba guna dan istilah “pagar-ruyung” menyiratkan makna pagar enau. Jenis pilihan lainnya adalah kayu manis (Cinnamomum burmanii), karena potensinya besar dan banyak diekspor dari daerah ini (Fandeli, 20

 

  1. Sebagai Nilai Estetika

Komposisi vegetasi dengan strata yang bervariasi di lingkungan kota akan menambah nilai keindahan kota tersebut. Bentuk tajuk yang bervariasi dengan penempatan (pengaturan tata-ruang) yang sesuai akan memberi kesan keindahan tersendiri.Tajuk pohon juga berfungsi untuk memberi kesan lembut pada bangunan yang cenderung bersifat kaku. Suatu studi yang dilakukan Tyrväinen pada tahun 1998 atas keberadaan hutan kota terhadap nilai estetika adalah bahwa masyarakat bersedia untuk membayar keberadaan hutan kota karena memberikan rasa keindahan dan kenyamanan.

  1. Sebagai Penyerap Karbondioksida (CO2)

Hutan merupakan penyerap gas karbon dioksida yang cukup penting selain dari fito-plankton, ganggang dan rumput laut di samudera. Dengan berkurangnya kemampuan hutan dalam menyerap gas ini sebagai akibat menyusutnya luasan hutan akibat perladangan, pembalakan dan kebakaran, maka perlu dibangun hutan kota untuk membantu mengatasi penurunan fungsi hutan tersebut. Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan, baik hutan kota, hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah gas karbon dioksida dengan air menjadi karbohidrat (C6H12O6) dan oksigen (O2). Proses fotosintesis sangat bermanfaat bagi manusia. Pada proses fotosintesis dapat menyerap gas yang bila konsentarasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan serta akan mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses fotosintesis menghasilkan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan hewan. Jenis tanaman yang baik sebagai penyerap gas karbon dioksida (CO2) dan penghasil oksigen adalah damar (Agathis alba), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), lamtoro gung (Leucaena leucocephala), akasia (Acacia auriculiformis), dan beringin (Ficus benjamina). Penyerapan karbon dioksida oleh hutan kota dengan jumlah 10.000 pohon berumur 16-20 tahun mampu mengurangi karbon dioksida sebanyak 800 ton per tahun (Simpson and McPherson, 1999).

Salah satu fungsi utama dari cahaya pada pertumbuhan tanaman adalah untuk menggerakkan proses fotosintesis dalam pembentukan karbohidrat. Proses ini sesungguhnya penting, tidak hanya untuk pertumbuhan tanaman itu sendiri, tetapi juga untuk kelangsungan hidup organisme yang tergantung pada bahan organik sebagai sumber bahan makanan atau energi. Fotosintesis merupakan proses alami satu-satunya yang diketahui dapat merubah bahan anorganik menjadi bahan organik. Kepentingan karbohidrat dalam pertumbuhan tanaman terlihat jelas dalam komposisi bahan kering total tanaman yang sebagian besar (85-90%) terdiri dari bahan (senyawa) karbon. Kegunaan karbohidrat dalam pertumbuhan tanaman tidak hanya sebagai bahan penyusun struktur tubuh tanaman, tetapi juga sebagai sumber energi metabolisme yaitu energi yang digunakan untuk mensintesis dan memelihara biomasa tanaman.

Pembentukan karbohidrat dalam proses fotosintesis terjadi dalam khloroplas yang umumnya terdapat dalam organ daun, dan berlangsung melalui dua rangkaian peristiwa yang umum dikenal dengan reaksi cahaya dan reaksi gelap. Energi cahaya yang diabsorbsi oleh sistem pigmen terutama khlorofil pada reaksi cahaya mengakibatkan eksitasi elektron yaitu elektron terangkat dari kedudukan dasar ke kedudukan eksitasi I atau II pada sistem pigmen tersebut. Pada keadaan ini, pigmen berada dalam keadaan reduksi. Eklektron yang tereksitasi tidak kuat terikat pada atom atau molekul pigmen yang merupakan fungsi dari daya tarik inti. Sebagai konsekuensinya, elektron ini akan mudah ditransfer ke molekul lain di sekitarnya yang terdapat pada keadaan oksidatif.

Cahaya biru mengakibatkan elektron tereksitasi ke kedudukan eksitasi II, sedang cahaya merah dengan energi yang lebih kecil hanya menghasilkan eksitasi elektron pada kedudukan eksitasi I. Tetapi energi cahaya biru yang diabsorbsi melalui eksitasi elektron tersebut kurang efektif untuk proses fotosintesis. Alasannya adalah bahwa energi ekstra dari foto biru tidak dapat dipergunakan dengan baik, karena ini biasanya hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat.

  1. Sebagai Penahan Angin,

Hutan kota berfungsi sebagai penahan angin yang mampu mengurangi kecepatan angin 75 – 80 %.Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam mendesain hutan kota untuk menahan angin adalah sebagai berikut :

  • Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat. Daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang.Memiliki jenis perakaran dalam. Memiliki kerapatan yang cukup (50 – 60 %).Tinggi dan lebar jalur hutan kota cukup besar, sehingga dapat melindungi wilayah yang diinginkan.
  • Penanaman pohon yang selalu hijau sepanjang tahun berguna sebagai
  • Penahan angin pada musim dingin, sehingga pada akhirnya dapat menghemat energi sampai dengan 50 persen energi yang digunakan untuk penghangat ruangan pada pemakaian sebuah rumah. Pada musim panas pohon-pohon akan menahan sinar matahari dan memberikan kesejukan di dalam ruangan. Ameliorasi Iklim

 Hutan kota dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan untuk menurunkan suhu pada waktu siang hari dan sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pohon dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari bumi. Jumlah pantulan radiasi matahari suatu hutan sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar matahari, keadaan cuaca dan posisi lintang. Suhu udara pada daerah berhutan lebih nyaman daripada daerah yang tidak ditumbuhi oleh tanaman. Selain suhu, unsur iklim mikro lain yang diatur oleh hutan kota adalah kelembaban. Pohon dapat memberikan kesejukan pada daerah-daerah kota yang panas (heat island) akibat pantulan panas matahari yang berasal dari gedung-gedung, aspal dan baja. Daerah ini akan menghasilkan suhu udara 3-10 derajat lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan.

 

  1. Sebagai Habitat Kehidupan Liar

Hutan kota bisa berfungsi sebagai habitat berbagai jenis hidupan liar dengan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Hutan kota merupakan tempat perlindungan dan penyedia nutrisi bagi beberapa jenis satwa terutama burung, mamalia kecil dan serangga. Hutan kota dapat menciptakan lingkungan alami dan keanekaragaman tumbuhan dapat menciptakan ekosistem lokal yang akan menyediakan tempat dan makanan untuk burung dan binatang lainnya .

 

  1. Sebagai Produksi Terbatas atau Manfaat Ekonomi.

Manfaat hutan kota dalam aspek ekonomi bisa diperoleh secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, manfaat ekonomi hutan kota diperoleh dari penjualan atau penggunaan hasil hutan kota berupa kayu bakar maupun kayu perkakas. Penanaman jenis tanaman hutan kota yang bisa menghasilkan biji, buah atau bunga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan oleh masyarakat untuk meningkatkan taraf gizi, kesehatan dan penghasilan masyarakat. Buah kenari selain untuk dikonsumsi juga dapat dimanfaatkan untuk kerajinan tangan. Bunga tanjung dapat diambil bunganya. Buah sawo, pala, kelengkeng, duku, asam, menteng dan lain-lain dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat kota. Sedangkan secara tidak langsung, manfaat ekonomi hutan kota berupa perlindungan terhadap angin serta fungsi hutan kota sebagai perindang, menambah kenyamanan masyarakat kota dan meningkatkan nilai estetika lingkungan kota.Hutan kota dapat meningkatkan stabilitas ekonomi masyarakat dengan cara menarik minat wisatawan dan peluang-peluang bisnis lainnya, orang-orang akan menikmati kehidupan dan berbelanja dengan waktu yang lebih lama di sepanjang jalur hijau, kantor-kantor dan apartemen di areal yang berpohon akan disewakan serta banyak orang yang akan menginap dengan harga yang lebih tinggi dan jangka waktu yang lama, kegiatan dilakukan pada perkantoran yang mempunyai banyak pepohonan akan memberikan produktifitas yang tinggi kepada para pekerja.

Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Ruang terbuka hijau (RTH) adalah suatu lapang yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon (tanaman tinggi berkayu); Sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran, bentuk dan batas geografis tertentu dengan status penguasaan apapun, yang di dalamnya terdapat tetumbuhan hijau berkayu dan tahunan (perennial woody plants), dengan pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan tumbuhan penutup tanah lainnya), sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan.

Fungsi bio-ekologis (fisik), yang memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota), pengatur iklim mikro, agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar, sebagai peneduh, produsen oksigen, penyerap air hujan, penyedia habitat satwa, penyerap (pengolah) polutan media udara, air dan tanah, serta penahan angin. Disamping itu mengatur ekosistem perkotaan; produsen oksigen, tanaman berbunga, berbuah dan berdaun indah, serta bisa mejadi bagian dari usaha pertanian, kehutanan, dan lain-lain

Sistem perakaran tanaman dan serasah ( kotoran, buangan, sampah ) yang berubah menjadi humus akan mengurangi tingkat erosi, menurunkan aliran permukaan dan mempertahankan kondisi air tanah di lingkungan sekitarnya. Pada musim hujan laju aliran permukaan dapat dikendalikan oleh penutupan vegetasi yang rapat, sedangkan pada musim kemarau potensi air tanah yang tersedia bisa memberikan manfaat bagi kehidupan di lingkungan perkotaan. Hutan kota dengan luas minimal setengah hektar mampu menahan aliran permukaan akibat hujan dan meresapkan air ke dalam tanah sejumlah 10.219 m3 setiap tahun (Urban Forest Research, 2002).

Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Hijau yang ideal apabila melalui Perencanaan Pola Ruang Terbuka Hijaunya. Pola ruang terbuka hijau merupakan struktur Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ditentukan oleh hubungan fungsional (ekologis, sosial, ekonomi, arsitektural) antar komponen pembentuknya. Pola RTH terdiri dari RTH structural dan RTH non struktural. RTH struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pembentuknya yang mempunyai pola hierarki planologis yang bersifat antroposentris.

           RTH tipe ini didominasi oleh fungsi-fungsi non ekologis dengan struktur RTH binaan yang berhierarkhi. Contohnya adalah struktur RTH berdasarkan fungsi sosial dalam melayani kebutuhan rekreasi luar ruang (outdoor recreation) penduduk perkotaan seperti yang diperlihatkan dalam urutan hierakial sistem pertamanan kota (urban park system) yang dimulai dari taman perumahan, taman lingkungan, taman kecamatan, taman kota, taman regional dan lainnya.

RTH non struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pembentuknya yang umumnya tidak mengikuti pola hierarki planologis karena bersifat ekosentris. RTH tipe ini memiliki fungsi ekologis yang sangat dominan dengan struktur RTH alami yang tidak berhierarki. Contohnya adalah struktur RTH yang dibentuk oleh konfigurasi ekologis bentang alam perkotaan maupun perdesaan tersebut, seperti RTH kawasan lindung, RTH perbukitan yang terjal, RTH sempadan sungai, RTH sempadan danau, RTH pesisir.

           Untuk suatu wilayah perkotaan, maka pola RTH tersebut dapat dibangun dengan mengintegrasikan dua pola RTH ini berdasarkan bobot tertinggi pada kerawanan ekologis kota (tipologi alamiah kota: kota lembah, kota pegunungan ,kota pantai, kota pulau, dll) sehingga dihasilkan suatu pola RTH struktural.

 Tanaman Untuk Kawasan RTH

Ruang Terbuka Hijau dibangun sesuai dengan lokasi serta rencana dan rancangan peruntukannya dari kumpulan tumbuhan dan tanaman atau vegetasi yang telah diseleksi. Lokasi yang berbeda seperti pesisir, pusat kota, kawasan industri, sempadan badan-badan air, atau lainnya akan memiliki permasalahan yang juga berbeda yang selanjutnya berkonsekuensi pada rencana dan rancangan RTH yang berbeda.

           Untuk keberhasilan rancangan, penanaman dan kelestariannya maka sifat dan ciri serta kriteria arsitektural dan hortikultural tanaman dan vegetasi dalam penyusun pola RTH harus menjadi bahan pertimbangan dalam menyeleksi jenis-jenis yang akan ditanam. Persyaratan umum tanaman untuk ditanam di Kawasan RTH adalah:

  • Disenangi dan tidak berbahaya bagi warga .
  • Mampu tumbuh pada lingkungan yang marjinal (tanah tidak subur, udara dan air yang tercemar)
  • Tahan terhadap gangguan fisik (vandalisme)
  • Perakaran dalam sehingga tidak mudah tumbang
  • Tidak gugur daun, cepat tumbuh, bernilai hias dan arsitektural
  • Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota
  • Bibit/benih mudah didapatkan dengan harga yang murah/terjangkau oleh masyarakat
  • Prioritas menggunakan vegetasi endemik/lokal
  • Keanekaragaman hayati .
  • Jenis tanaman endemik atau jenis tanaman lokal yang memiliki keunggulan tertentu (ekologis, sosial budaya, ekonomi, arsitektural) dalam Kawasan hijau tersebut menjadi bahan tanaman utama penciri kota tersebut, yang selanjutnya akan dikembangkan guna mempertahankan keanekaragaman hayati wilayahnya dan juga nasional.

 Beberapa fungsi tanaman dikemukakan sebagai berikut :

  • Dedaunan berair dapat meredam suara,
  • Sifat alami jenis tanaman dalam RTH akan mampu memperbaiki kualitas.Daun yang tebal dapat menghalangi suara dan daun tipis mengurangi suara,
  • Cabang-cabang tanaman yang bergerak dan bergetar dapat menurunkan suhu udara dan meningkatkan kelembaban udara,
  • Trikoma daun dapat menyerap butir-butir debu, melalui gerakan elektrostatik dan elektromagnetik,
  • Pertukaran gas dapat terjadi pada mulut daun,
  • Aroma bunga dan daun dapat mengurangi bau,
  • Ranting pohon beserta dedaunannya dapat menahan angin dan curah hujan,
  • Penyebaran akar dapat mengikat tanah dan bahaya erosi,
  • Cabang yang melilit dan berduri dapat menghalangi gangguan manusia,
  • Bentuk dan tekstur daun berpengaruh terhadap daya serap sinat atau hujan dan daya ikat cemaran.

 Dalam rencana pembangunan dan pengembangan RTH yang fungsional suatu wilayah perkotaan maupun wilayah Perdesaan, hal utama yang harus diperhatikan yaitu :

  • Luas RTH minimum yang diperlukan dalam suatu wilayah perkotaan ditentukan secara komposit oleh tiga komponen berikut ini, yaitu:
  • Kapasitas atau daya dukung alami wilayah
  • Kebutuhan perkapita (kenyamanan, kesehatan, dan bentuk pelayanan lainnya)
  • Arah dan tujuan pembangunan kota

 RTH berluas minimum merupakan RTH berfungsi ekologis yang berlokasi, berukuran,dan berbentuk pasti, yang melingkup RTH publik dan RTH privat. Dalam suatu wilayah perkotaan dan perdesaan, maka RTH publik harus berukuran sama atau lebih luas dari RTH luas minimal, dan RTH privat merupakan RTH pendukung dan penambah nilai rasio terutama dalam meningkatkan nilai dan kualitas lingkungan dan kultural .

  • Lokasi lahan kota yang potensial dan tersedia untuk RTH
  • Sruktur dan pola RTH yang akan dikembangkan (bentuk, konfigurasi, dan distribusi)
  • Seleksi tanaman sesuai kepentingan dan tujuan pembangunan kawasan hijau untuk ruang terbuka hijau fungsional.

 Isu utama dari ketersediaan dan kelestarian RTH adalah dampak negatif dari suboptimalisasi RTH dimana RTH tersebut tidak memenuhi persyaratan jumlah dan kualitas (RTH tidak tersedia, RTH tidak fungsional, fragmentasi lahan yang menurunkan kapasitas lahan dan selanjutnya menurunkan kapasitas lingkungan, alih guna dan fungsi lahan.masalah yang terjadi terutama dalam bentuk/kejadian:

  • Menurunkan kenyamanan kota: penurunan kapasitas dan daya dukung wilayah (pencemaran meningkat, ketersediaan air tanah menurun, suhu kota meningkat, dll)
  • Menurunkan keamanan kota
  • Menurunkan keindahan alami kota (natural amenities) dan artifak alami sejarah yang bernilai kultural tinggi
  • Menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang terjadi ditandai dengan menurunnya kesehatan masyarakat secara fisik dan psikis.
  • Lemahnya lembaga pengelola Ruang Terbuka Hijau
  • Belum terdapatnya aturan hukum dan perundangan yang tepat
  • Belum optimalnya penegakan aturan main pengelolaan Ruang Terbuka Hijau
  • Belum jelasnya bentuk kelembagaan pengelola RuangTerbuka Hijau
  • Belum terdapatnya tata kerja pengelolaan RuangTerbuka Hijau yang jelas
  • Lemahnya peran stake holders
  • Lemahnya persepsi masyarakat
  • Lemahnya pengertian masyarakat dan pemerintah
  • Keterbatasan lahan kota untuk peruntukan Ruang Terbuka Hijau.

 Pola Ruang Terbuka Hijau merupakan struktur RTH yang ditentukan oleh hubungan fungsional (ekologis, sosial, ekonomi, arsitektural) antar komponen pembentuknya. Pola RTH terdiri dari RTH struktural, dan RTH non struktural. RTH struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pembentuknya yang mempunyai pola hierarki planologis yang bersifat antroposentris. RTH tipe ini didominasi oleh fungsi-fungsi non ekologis dengan struktur RTH binaan yang berhierarkhi. Contohnya adalah struktur RTH berdasarkan fungsi sosial dalam melayani kebutuhan rekreasi luar ruang (outdoor recreation) penduduk , seperti yang diperlihatkan dalam urutan hierakial sistem pertamanan kota (urban park system) yang dimulai dari taman perumahan, taman lingkungan, taman kecamatan, taman kota, taman regional).

RTH non struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pembentuknya yang umumnya tidak mengikuti pola hierarki planologis karena bersifat ekosentris. RTH tipe ini memiliki fungsi ekologis yang sangat dominan dengan struktur RTH alami yang tidak berhierarki. Contohnya adalah struktur RTH yang dibentuk oleh konfigurasi ekologis bentang alam perkotaan tersebut, seperti RTH kawasan lindung, RTH perbukitan yang terjal, RTH sempadan sungai, RTH sempadan danau, RTH pesisir.

           Untuk suatu wilayah perkotaan, maka pola RTH tersebut dapat dibangun dengan mengintegrasikan dua pola RTH ini berdasarkan bobot tertinggi pada kerawanan ekologis (tipologi alamiah:lembah,pegunungan, pantai, pulau) sehingga dihasilkan suatu pola RTH struktural.

Bentuk Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

Bentuk Ruang terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan yang dimaksudkan memberi suasana nyaman dan indah, adalah sebagai berikut :

 

  1. Taman KotaTaman kota merupakan ruang di dalam kota yang ditata untuk menciptakan keindahan, kenyamanan, keamanan, dan kesehatan bagi penggunanya. Taman ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas untuk kebutuhan masyarakat sebagai tempat rekreasi. Selain itu, taman juga difungsikan sebagai paru-paru kota, pengendali iklim mikro, konservasi tanah dan air, dan habitat berbagai flora dan fauna. Apabila terjadi suatu bencana, maka taman kota/desa dapat difungsikan sebagai tempat posko pengungsian.

Pepohonan yang ada dalam taman kota dapat memberikan manfaat keindahan, penangkal angin, dan penyaring cahaya matahari. Taman kota/desa berperan sebagai sarana pengembangan budaya , pendidikan, dan pusat kegiatan kemasyarakatan. Pembangunan taman di beberapa lokasi akan menciptakan kondisi kota yang indah, sejuk, dan nyaman serta menunjukkan citra yang baik.

b.Taman Rekreasi

Taman rekreasi merupakan tempat rekreasi yang berada di alam terbuka tanpa dibatasi oleh suatu bangunan, atau rekreasi yang berhubungan dengan lingkungan dan berorientasi pada penggunaan sumberdaya alam seperti air, hujan, pemandangan alam atau kehidupan di alam bebas. Kegiatan rekreasi dibedakan menjadi kegiatan yang bersifat aktif dan pasif. Kegiatan yang cukup aktif seperti piknik, olah raga, permainan, internetan dan sebagainya

c.Taman Lingkungan Perumahan

Taman lingkungan perumahan dan permukiman merupakan taman dengan klasifikasi yang lebih kecil dan diperuntukkan untuk kebutuhan rekreasi terbatas yang meliputi populasi terbatas/masyarakat sekitar. Taman lingkungan ini terletak di sekitar daerah permukiman dan perumahan untuk menampung kegiatan-kegiatan warganya. Taman ini mempunyai fungsi sebagai paru-paru kota/desa (sirkulasi udara dan penyinaran), peredam kebisingan, menambah keindahan visual, area interaksi, rekreasi, tempat bermain, dan menciptakan kenyamanan lingkungan .

Taman lingkungan perumahan dan permukiman merupakan taman dengan klasifikasi yang lebih kecil dan diperuntukkan untuk kebutuhan rekreasi terbatas yang meliputi populasi terbatas/masyarakat sekitar.

           Taman lingkungan ini terletak di sekitar daerah permukiman dan perumahan untuk menampung kegiatan-kegiatan warganya. Taman ini mempunyai fungsi sebagai paru-paru kota (sirkulasi udara dan penyinaran), peredam kebisingan, menambah keindahan visual, area interaksi, rekreasi, tempat bermain, dan menciptakan kenyamanan lingkungan .

  1. Taman Lingkungan Perkantoran

Taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial merupakan taman dengan klasifikasi yang lebih kecil dan diperuntukkan untuk kebutuhan terbatas yang meliputi populasi terbatas/pengunjung. Taman ini terletak di beberapa kawasan institusi, misalnya pendidikan dan kantor-kantor. Institusi tersebut membutuhkan ruang terbuka hijau pekarangan untuk tempat upacara, olah raga, area parkir, sirkulasi udara, keindahan dan kenyamanan waktu istirahat belajar atau bekerja Hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitarnya, berbentuk jalur, menyebar, atau bergerombol (menumpuk), strukturnya meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa liar dan menimbulkan lingkungan sehat, suasana nyaman, sejuk, dan estetis.

Sempadan adalah RTH yang berfungsi sebagai batas dari sungai, danau, waduk, situ, pantai, dan mata air atau bahkan kawasan limitasi terhadap penggunaan lahan disekitarnya. Fungsi lain dari sempadan adalah untuk penyerap aliran air, perlindungan habitat, dan perlindungan dari bencana alam. Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai, mengamankan aliran sungai, dan dikembangkan sebagai area penghijauan. Kawasan sekitar waduk/danau/situ adalah kawasan di sekeliling waduk/danau/situ yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi waduk/danau/situ.

Jalur hijau jalan adalah pepohonan, rerumputan, dan tanaman perdu yang ditanam pada pinggiran jalur pergerakan di samping kiri-kanan jalan dan median jalan. RTH jalur pengaman jalan terdiri dari RTH jalur pejalan kaki, taman pulo jalan yang terletak di tengah persimpangan jalan, dan taman sudut jalan yang berada di sisi persimpangan jalan. Median jalan adalah ruang yang disediakan pada bagian tengah dari jalan untuk membagi jalan dalam masingmasing arah yang berfungsi mengamankan ruang bebas samping jalur lalu lintas.

Kawasan hijau adalah suatu area yang dimanfaatkan untuk kegiatan tertentu di wilayah perkotaan dan memiliki fungsi utama lindung atau budidaya. Ruang terbuka hijau kawasan berbentuk suatu areal dan non-linear dan ruang terbuka hijau jalur memiliki bentuk koridor dan linear. Jenis RTH berbentuk areal yaitu hutan (hutan kota, hutan lindung, dan hutan rekreasi), taman, lapangan olah raga, kebun raya, kebun pembibitan, kawasan fungsional (perdagangan, industri, permukiman, pertanian), kawasan khusus (hankam, perlindungan tata air, dan plasma nutfah). Sedangkan RTH berbentuk jalur yaitu koridor sungai, sempadan danau, sempadan pantai, tepi jalur jalan, tepi jalur kereta, dan sabuk hijau

 Alokasi dan Standar Kebutuhan RTH

           Alokasi dan Standar Kebutuhan RTHK menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.05/PRT/M/2008 berdasarkan jumlah penduduk dapat dibagi kedalam beberapa unit lingkungan.

           Menurut Permendagri No.1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Kawasan Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan menyatakan bahwa luas minimal RTH Kawasan Perkotaan adalah 20% dari luas wilayahnya. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyatakan bahwa RTH terdiri dari RTH Publik dan Privat. RTH Privat paling sedikit 10 % dari luas wilayah dan RTH publik terdiri dari 20% dari luas wilayah. Sedangkan berdasarkan PP no. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN ditetapkan criteria RTH kota, yaitu lahan dengan luas paling sedikit 2.500 m2, berbentuk satu hamparan, berbentuk jalur atau kombinasi dari bentuk satu bentuk hamparan dan jalur dan didominasi komunitas tumbuhan.

 Ruang Terbuka Hijau taman kota/desa bentuknya berupa Taman Lingkungan yang terdiri dari :

 

  1. Taman Pekarangan Bangunan

Taman Pekarangan bangunan, adalah lahan di luar bangunan, yang berfungsi untuk berbagai aktivitas. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW . Untuk memudahkan didalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori Pekarangan Rumah Besar,Pekarangan Rumah Sedang ,Pekarangan Rumah Kecil .

  1. Taman Rukun Tetangga

Taman rukun tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam satu RT, khususnya untuk melayani kegiatan bermain anak usia balita, kegiatan sosial para ibu rumah tangga serta para manula di lingkungan RT tersebut. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT, dengan luas minimal 250 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 meter dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.Fasilitas yang harus disediakan adalah setidaknya tersedia bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 40% dari luas taman. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman, juga terdapat 3 (tiga) – 5 (lima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.

  1. Taman Rukun Warga

Taman rukun warga (RW) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW, khususnya kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut. Luas taman ini minimal 0,5 m2 per penduduk RW, dengan luas minimal 1.250 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1.000 meter dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.

Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan, baik olahraga maupun aktifitas lainnya, beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga, dan beberapa jenis mainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja.

  1. Taman Kelurahan .

Taman kelurahan adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan. Luas taman ini minimal 0,30 m2 per penduduk, dengan luas minimal taman 9.000 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan. Taman ini dapat berupa taman aktif, dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif, dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohon-pohon tahunan.

  1. Taman Kecamatan

Taman kecamatan adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan. Luas taman ini minimal 0,2 m2 per penduduk kecamatan, dengan luas taman minimal 24.000 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga (lapangan serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif dimana aktifitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohon-pohon tahunan Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. Taman ini melayani minimal 480.000 penduduk dengan standar minimal 0,3 m2 per penduduk, dengan luas taman minimal 144.000 m2. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau), RTH yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga, dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum.

Pohon tahunan, perdu, dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. RTH berupa Jalur Hijau dapat dibuat dalam bentuk :

Jalur Hijau Jalan

           Berdasarkan lingkungan di sekitar jalan yang direncanakan dan ketentuan ruang yang tersedia untuk penempatan tanaman lansekap jalan antara 20–30 % dari rumija, sesuai dengan kelas jalannya. Untuk menentukan pemilihan jenis tanamannya ada 2 (dua) hal lain yang perlu diperhatikan yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. Diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam pemilihan jenis tanaman lansekap jalan, dan disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat, yang disukai oleh burung-burung, serta yang rendah evapotranspirasinya.

 RTH Jalur Hijau dalam bentuknya berupa :

 

  1. Taman Pulau Jalan & Median

Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. Baik median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman.

RTH pada jalur tanaman tepi jalan berfungsi untuk peneduh,penyerap polusi udara, peredam kebisingan,pemecah angin dan pembatas pandang, Sedang Pada median berfungsi sebagai penahan silau lampu kendaraan .

Ruang Terbuka Hijau yang lain adalah RTH Berbentuk Jalur, RTH berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran dan lain sebagainya. Lebar minimal RTH berbentuk jalur adalah 30 meter.

Disamping itu ada RTH Kawasan Perlindungan Setempat. Yang dimaksud dengan jalur hijau sempadan kawasan perlindungan setempat lainnya antara lain sempadan pantai, sempadan danau, sempadan mata air. Tempat dan kawasan ini memiliki/mempunyai batasan yang bervariasi.

 

  1. RTH Sempadan Sungai

Sempadan sungai adalah jalur hijau di kanan kiri sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat mengganggu kelestariannya. Sungai di perkotaan dan perdesaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul.

 

  1. RTH Sempadan Pantai

RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantainya. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut seperti intrusi air laut, erosi, abrasi, tiupan angin kencang dan gelombang tsunami.

 

  1. RTH Pengamanan Sumber Air Bersih/ Mata Air

Pengamanan sumber air meliputi pengamanan sungai, danau/ waduk dan mata air. RTH Pemakaman.

RTH Pemakaman merupakan ruang terbuka hijau disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air, tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi, pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.Untuk mencapai tujuan itu maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: ukuran makam 1 x 2 meter; jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0,5 meter; tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan;pemakaman dibagi dalam beberapa blok, luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat; batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung di salah satu sisinya; batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman, atau dengan pohon pelindung. Ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80 % dari luas ruang hijaunya. Aneka pohon dan posisinya di ruang kota.Peletakan tanaman harus disesuaikan dengan tujuan perancangannya dengan mengingat fungsi tanaman itu.

 Bangunan Hijau (Green Building) yang Ramah Lingkungan.

Green building merupakan upaya untuk menghasilkan bangunan dengan menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan, penggunaan sumber daya secara efisien selama daur hidup bangunan sejak perencanaan, pembangunan, operasional, pemeliharaan, renovasi bahkan hingga pembongkaran.

Bangunan Hijau / Green Building adalah bangunan (baru) yang direncanakan dan dilaksanakan atau bangunan (sudah berdiri) yang dioperasikan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan yang mempromosikan :

  • Penggunaan lahan yang layak dan berkelanjutan
  • Efisiensi dalam penggunaan sumber air
  • Penghematan energi, penggunaan energi berkelanjutan dan melindungi atmosfir
  • Penghematan bahan bangunan, mereduksi limbah dan tidak mengeksploitasi sumber daya alam,
  • Melindungi dan mempertahankan kualitas udara dalam ruang, untuk menunjang kesehatan penghuni.

 Green Building merupakan salah satu bentuk respon masyarakat dunia akan perubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global sebagai effek dari rumah kaca. Praktek ‘Bangunan Hijau’ ini mempromosikan bahwa perbaikan perilaku (dan teknologi) terhadap bangunan tempat aktivitas hidupnya dapat menyumbang banyak untuk mengatasi pemanasan global.

Dari berbagai penelitian ternyata bangunan/gedung adalah merupakan penghasil terbesar (lebih dari 30%) emisi global karbon dioksida, salah satu penyebab utama terjadinya effek rumah kaca dan pemanasan global.

Bangunan Hijau (Green building) sebagai sebuah sistem rating terbagi atas enam aspek yang terdiri dari :

  • Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD)
  • Efisiensi Energi & Refrigeran (Energy Efficiency & Refrigerant/EER)
  • Konservasi Air (Water Conservation/WAC)
  • Sumber & Siklus Material (Material Resources & Cycle/MRC)
  • Kualitas Udara & Kenyamanan Udara (Indoor Air Health & Comfort/IHC)
  • Manajemen Lingkungan Bangunan (Building & Enviroment Management).
  • Konsep Bangunan hijau adalah bangunan dimana di dalam perencanaan, pembangunan, pengoperasian serta dalam pemeliharaannya memperhatikan aspek-aspek dalam melindungi, menghemat , mengurangi pengunaan sumber daya alam, menjaga mutu baik bangunan maupun mutu dari kwalitas udara di dalam ruangan, dan memperhatikan kesehatan penghuninya yang semuanya berdasarkan kaidah pembangunan berkelanjutan.

Bangunan hijau (green building) didesain untuk mereduksi dampak lingkungan terbangun pada kesehatan manusia dan alam, melalui : efisiensi dalam penggunaan energi, air dan sumber daya lain ; perlindungan kesehatan penghuni dan meningkatkan produktifitas pekerja ; mereduksi limbah / buangan padat, cair dan gas, mengurangi polusi / pencemaran padat, cair dan gas serta mereduksi kerusakan lingkungan.

Bangunan hijau (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan berkelanjutan) mengarah pada struktur dan pemakaian proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan hemat sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan tersebut, mulai dari pemilihan tempat sampai desain, konstruksi, operasi, perawatan, renovasi, dan peruntuhan. Praktik ini memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik dalam hal ekonomi, utilitas, durabilitas, dan kenyamanan.

           Sebagai contoh :Green building memanfaatkan material dengan prinsip “daur pakai” (reuse), “daur ulang” (recycle) dari bahan yang dapat diperbaharui (renewable resources);Menciptakan lingkungan dalam bangunan dengan polutan minimal (mereduksi material yang menghasilkan emisi) dan Landscape yang mereduksi penggunaan air (menggunakan tumbuhan setempat) .

Dalam membangun atau mengembangkan bangunan Hijau beberapa point yang perlu diperhatikan ,yaitu :

 

  1. Penggunaan Material Bangunan.

           Material ini diperoleh dari alam, renewable sources yang telah dikelola dan dipanen secara berkelanjutan, atau yang diperoleh secara lokal untuk mengurangi biaya transportasi; atau diselamatkan dari bahan reklamasi di lokasi terdekat. Material yang dipakai menggunakan green specifications yang termasuk dalam daftar Life Cycle Analysis (LCA) seperti: energi yang dihasilkan, daya tahan material, minimalisasi limbah, dan dapat untuk digunakan kembali atau didaur ulang.

           Teknologi bangunan berkembang sangat pesat dengan perubahan yang sangat penting termasuk peningkatan pemakaian bahan bangunan seperti baja, beton dan kayu, peningkatan produk-produk baru seperti fiber-beton bertulang dan plastic reinforced wood , serta pengembangan teknologi baru seperti geotextiles. Pengembangan bahan-bahan yang inovatif ini tidak disertai dengan pemakaian bahan-bahan tersebut pada bangunan baru sebab para perancang dan kontraktor ragu-ragu untuk mencoba bahan-bahan baru tersebut, hal ini disebabkan jika teIjadi suatu kesalahan akan mengakibatkan kerugian biaya yang cukup besar

Perencanaan Penggunaan Energi

Perencanaan dalam pengaturan sirkulasi udara yang optimal untuk mengurangi penggunaan AC. Mengoptimalkan cahaya matahari sebagai penerangan di siang hari. Green building juga menggunakan tenaga surya & turbin angin sebagai penghasil listrik alternatif.

  1. Mengatur Pola Penggunaan Air

           Mengurangi penggunaan air & menggunakan STP (siwage treatment plant) untuk mendaur ulang air dari limbah rumah tangga sehingga bsa digunakan kembali untuk tanki toilet, penyiram tanaman, dll. Menggunakan peralatan hemat air, seperti shower bertekanan rendah , kran otomatis ( self-closing or spray taps), tanki toilet yang low-flush toilet. Yang intinya mengatur penggunaan air dalam bangunan sehemat mungkin.

  1. Faktor Kesehatan

           Menggunakan material & produk-produk yang non-toxic akan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, dan mengurangi tingkat asma, alergi dan sick building syndrome. Material yang bebas emisi, dan tahan untuk mencegah kelembaban yang menghasilkan spora dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam ruangan juga harus didukung menggunakan sistem ventilasi yang efektif dan bahan-bahan pengontrol kelembaban yang memungkinkan bangunan untuk bernapas.

Perlu diingat pada saat memilih bahan bangunan yang sensitif pada lingkungan tidak menjamin menghasilkan lingkungan dalam menjadi lebih baik. Pemilihan bahan bangunan tersebut harus dapat dikoordinasikan dengan sistem ventilasi dan mekanisasi yang baik untuk menghasilkan kualitas lingkungan dalam yang baik.

           Ventilasi yang efektif dan cukup sangat menentukan kualitas kandungan udara yang baik dalam ruangan. Pengaruh ventilasi sangat besar bagi kenyamanan pemakai bangunan dan juga mengontrol tingkat polusi dalam bangunan.Ventilasi juga merupakan kunci penting untuk menjaga agar kualitas udara dalam ruangan termasuk men-supply udara bersih yang masuk keseluruh ruangan lain sehingga udara dapat berputar dengan baik dan memenuhi kebutuhan pernafasan pemakai ruangan.

           Filtrasi udara yang semakin efisien dengan kualitas filtrasi yang tinggi dapat memberikan 85% efisiensi bukaan dan juga mengurangi tingkat partikel dan allergens dalam udara.Selanjutnya, sistem ventilasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga udara dari luar tidak langsung masuk kedalam ruangan yang dipakai dan udara tersebut dapat berputar dan bergerak dalam luasan tertentu.Sistem exhaust dalam ruangan dapat mengurangi pengaruh polusi udara yang terjadi akibat mesin photo copy, peralatan-peralatan melukis, dan memasak. Sistem ventilasi juga harus mudah dicapai untuk perawatan. Oleh karena itu, bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan ramah lingkungan apabila memenuhi kriteria antara lain:

  • Menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan yang antara lain meliputi penggunaan material bangunan yang bersertifikat eco-label atau material bangunan yang berada dalam lingkungan lokal.
  • Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk konservasi sumber daya air dalam bangunan gedung antara lain: mempunyai sistem pemanfaatan air yang dapat dikuantifikasi; menggunakan sumber air yang memperhatikan konservasi sumberdaya air; dan mempunyai sistem pemanfaatan air hujan.
  • Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana konservasi dan diversifikasi energi antara lain dengan menggunakan sumber energi alternatif terbarukan yang rendah emisi gas rumah kaca; menggunakan sistem pencahayaan dan pengkondisian udara buatan yang hemat energi. menggunakan bahan yang bukan bahan perusak ozon dalam bangunan gedung antara lain: refrigeran untuk pendingin udara yang bukan bahan perusak ozon; dan melengkapi bangunan gedung dengan peralatan pemadam kebakaran yang bukan bahan perusak ozon.
  • Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan air limbah domestic pada bangunan gedung antara lain: melengkapi bangunan gedung dengan sistem pengolahan air limbah domestik pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus; melengkapi bangunan gedung dengan sistem pemanfaatan kembali air limbah domestik hasil pengolahan pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus.

 Lebih lanjut, Bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan ramah lingkungan apabila memenuhi kriteria antara lain:

  • Terdapat fasilitas pemilahan sampah; memperhatikan aspek kesehatan bagi penghuni bangunan antara lain: melakukan pengelolaan sistem sirkulasi udara bersih; memaksimalkan penggunaan sinar matahari.
  • Melengkapi bangunan gedung dengan ruang terbuka hijau sebagai taman dan konservasi hayati, resapan air hujan dan lahan parkir;
  • Mempertimbangkan variabilitas iklim mikro dan perubahan iklim;
  • Mempunyai perencanaan pengelolaan bangunan gedung sesuai tata ruang;
  • Menjalankan pengelolaan bangunan gedung sesuai perencanaan; dan/atau
  • Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk mengantisipasi Bencana antara lain: mempunyai sistem peringatan dini terhadap bencana dan Bencana yang terkait dengan perubahan iklim seperti: banjir, topan, badai,longsor dan kenaikan muka air laut;
  • Menggunakan material bangunan yang tahan terhadap iklim atau cuaca ekstrim intensitas hujan yang tinggi, kekeringan dan temperatur yang meningkat

Pengendalian Banjir

Salah satu permasalahan lingkungan perkotaan yang terjadi setiap tahun adalah banjir di kawasan hilir Daerah Aliran Sungai (DAS). Kerugian yang dialami oleh para korban banjir sangat besar dan bisa melemahkan kawasan strategis kota dan desa sebagai pusat perekonomian. Sebenarnya permasalahan banjir tersebut harus mendapatkan perhatian dan partisipasi aktif dari masyarakat, baik di daerah hulu maupun di hilir DAS. Oleh karena itu, harus diberikan suatu solusi inovatif yang secara efektif dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat. Inovasi sederhana namun tepat dan hemat yang mampu meningkatkan daya resap air pada tanah dan mengurangi limpasan aliran air permukaan di kawasan tersebut. Dengan demikian, resiko banjir dan besarnya pengikisan tanah (erosi) akan menurun, sehingga memaksimalkan upaya masyarakat dalam membangun.

Indonesia punya dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau sepanjang tahun, dengan jumlah air di suatu wilayah tergantung dari kedua musim itu. Kalau dua musim ini dikaji lebih lanjut, maka beberapa hal yang sangat penting dapat ditemukan untuk dicermati. Pada waktu musim hujan selalu ada wilayah yang mengalami bencana banjir dan longsor. Sebaliknya, waktu musim kemarau beberapa wilayah kekeringan

Beberapa teknologi sederhana yang dapat dilakukan dalam meningkatkan daya resap air pada tanah dan mengurangi limpasan aliran air permukaan di kawasan tersebut antara lain dengan:

  1. Peresapan Air Hujan.

Peresapan air hujan ke dalam tanah sangat penting mengingat adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai konsekuensi dari perkembangan penduduk dan perekonomian.Dengan adanya perubahan tata guna tanah itu, mengakibatkan menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan air. Semakin banyak permukaan tanah yang tertutup tembok, beton, aspal dan bangunan lainnya, sehingga tidak dapat meresapkan air hujan.

  1. Lubang Resapan Biopori

Lubang resapan biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Metode ini dicetuskan oleh Ir. Kamir R Brata, M.Sc, peneliti dari Institut Pertanian Bogor. Peningkatan daya resap air pada tanah dapat dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Teknologi sederhana ini kemudian disebut dengan nama biopori.

Di daerah perkotaan, keberadaan pepohonan semakin tergusur oleh bangunan-bangunan sehingga lubang biopori menjadi semakin langka. Lagi pula, banyaknya pepohonan tidak selalu mengartikan akan ada banyak air yang terserap, karena permukaan tanah yang tertutup lumut membuat air tidak dapat meresap ke tanah.

Tujuan biopori ini adalah memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah. Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar. Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit. Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut.Mengurangi resiko banjir di musim hujan. Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah.Dan Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.

Adapun Tempat yang dapat dibuat / dipasang lubang resapan biopori antara lain pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah. Di sekeliling pohon. Pada tanah kosong antar tanaman / batas tanaman.

Secara alami, biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.

Keuntungan biopori dalam pemanfaatannya antara lain :

  • Biopori dapat mengakumulasikan limbah organik secara efisien. Limbah dapur dan sampah pekarangan dapat dimasukkan ke dalam biopori ini.
  • Biopori sangat efektif menampung air hujan yang jatuh di pekarangan rumah dan meresapkannya ke dalam tanah.
  • Limbah organic dalam biopori dapat mengalami dekomposisi menjadi kompos.
  • Biopori juga berfungsi sebagai reservoir air tanah di sebelah bawahnya.
  • Biopori belum menjadi hal yang populer bagi masyarakat, karena pendidikan lingkungan hanya terpaku pada tanaman. Tetapi dengan biopori ini kita akan menjadi penyelamat 3 dimensi bumi yakni , darat , laut dan udara .

Biopori mencangkup banyak bahkan seluruh masalah yang kerap terjadi oleh manusia , lebih dinominasikan untuk masalah tanah. Biopori menyelamatkan ekosistem bawah tanah dan sangat menguntungkan bagi manusia , disatu sisi dia kecil dan tidak dipedulikan tetapi dia membawa manfaat yang dapat membawa lingkungan sekitar menjadi lebih subur.

 Guna mengatasi masalah banjir, maka paradigma penanganan banjir perlu lebih diarahkan ke arah tindakan pencegahan. UU Penataan Ruang yang telah ada perlu disosialisasikan. Tata kelola air adalah bagian utama dari penyelenggaraan penataan ruang. Hal ini dapat dijadikan pedoman dalam pengendalian dan pemanfaatan ruang sehingga dapat meminimasi terjadinya banjir akibat pembangunan yang kurang berwawasan lingkungan.

 The Black Economy Vs The Green Economy.

The Black Economy “ atau ekonomi hitam adalah pembangunan ekonomi yang bertumpu pada bahan bakar atau energy yang tidak dapat dperbaharui seperti fosil batubara, minyak bumi dan gas alam sebagai sumber energy dalam mendapatkan manfaat ekonomi dari sebuah pembangunan.

Sedangkan “The Green Economy” atau ekonomi hijau adalah pembangunan ekonomi yang bertumpu pada pengetahuan ekologi-ekonomi dengan tujuan menyelaraskan hubungan ekonomi-manusia dengan ekosistem alam serta minimasi dampak negatif akibat kegiatan ekonomi terhadap lingkungan.

Salah satu upaya pembangunan berkelanjutan berlandaskan Ekonomi hijau maka perlu membangun Kawasan hijau dan bangunan hijau ramah lingkungan baik di daerah perkotaan,maupun di daerah perdesaan.

DAFTAR BACAAN :

UU No. 12/1992 tentang Budidaya Tanaman.

UU No. 6/1994 tentang Pengesahan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim.

UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung.

UU No. 63/2002 tentang Hutan Kota.

UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang.

Peraturan Pemerintah (PP):

PP No. 69/1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang.

PP No. 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

PP No. 4/2000 tentang Pengendalian Kerusakan dan/atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan/Lahan.

PP No. 28/2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi.

PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

PP No. 30/2000 tentang Pembinaan Jasa Konstruksi.

PP No. 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pencemaran Air.

PP No. 63/2002 tentang Hutan Kota.

PP No. 36/2005 tentang Pelaksanaan UUBG.

*Keputusan Presiden (Keppres):

Keppres RI No. 23/1979 tentang Peningkatan Peran Serta Generasi Muda dalam Pelestarian Sumber Daya Alam.

Keppres No. 32/1990 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Keppres No. 23/1992 tentang Pengesahan Konvensi Viena dan Protokol Motreal tentang Lapisan Ozon.

*Keputusan Menteri (Kepmen):

Kepmen PU No. 640/KPTS/1986 tentang Perencanaan Tata Ruang Kota.

Kepmen PU No. 378/KPTS/1987 tentang Pengesahan 33 Standar Konstruksi Bangunan Indonesia, khususnya pada lampiran 22 mengenai Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota.

Kepmendagri No. 39/1992 tentang Organisasi Dinas Daerah.

*Peraturan Menteri (Permen):

Permendagri No. 2/1987 tentang Rencana Tata Ruang Kota.

Permendagri No. 4/1996 tentang Pedoman Perubahan Pemanfaatan Lahan Perkotaan.

Permendagri No. 1/2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan.

Instruksi Menteri (Inmen):

Inmendagri No. 14/1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan.

Inmen PU No. 31/IN/N/1991 tentang Penghijauan dan Penanaman Pohon di Sepanjang Jalan di Seluruh Indonesia.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO,SH.SAB.SSN.MS.MH.MM.

 

  1. Nama            :  DR. IR.DRS.SYAHRIAR TATO.SH.SAB.SSN.MS.MH.MM
  2. Status            :   Dosen Tetap Yayasan Pendidikan Bosowa
  3. Dosen (NIDN) :    09.2102.5101
  4. Dosen sertifikat :   12109101012869.
  5. Pangkat akademik :   Lektor Kepala (25 oktober 2004-

                                                         SKEP.07/34/BP/U- 45/X/04),

  1. Pangkat PNS                 : Pangkat pengabdian IV/d, Pembina Utama

                                                Madya (Kep.Presiden RI no.18/K TAHUN 2011).

7.Kelompok Keahlian               :  1.Perencanaan Prasarana Wilayah dan Kota.

  1. Perencanaan Kawasan Wisata.
  2. Konsep dan Struktur Tata Ruang.
  3. Civil Engineering.
  4. Penyehatan dan pencemaran lingkungan.
  5. Penyutradaraan dan Keaktoran.
  6. No. KTP : 7371092102510001.
  7. Pasport : A.3948304.

10.Kelamin                               :    Laki-Laki

11.Agama                                :    Islam

12.Kota/Tanggal Lahir             :    Pinrang , 21 pebruari 1951

13.Jabatan Akademik              :    1).Direktur Pascasarjana STIK Tamalate 2008-2011.

                                              2) Dekan Fakultas Teknik ISTP Makassar 2010-2011.

                                             3).Rektor IKM. 2014.

14.Instansi Induk                                :    Universitas “45” Makassar.

 

15.Riwayat Pendidikan

  1. Strata Sarjana Muda (SM)
  • Tanggal Lulus : 12 agustus 1975(tahun 1970-1975)
  • Gelar : Bachelor of Architec Engineering (BAE)
  • Nama PT : Akademi Teknologi Negeri
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Arsitektur
  • Judul perancangan: Perencanaan bangunan gedung perpustakaan Ujung
  • Pandang

-     Pembimbing          : Ir. Winardi sukowiyono.      

 

  1. Strata Satu ( S1 )
  • Tanggal Lulus : 26 Maret 1984 (1980-1984)
  • Gelar : Doktorandus ( Drs )
  • Nama PT : STIA-LANRI
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Administrasi Negara.
  • Judul Skripsi             : Implementasi program terpadu Pemugaran Perumahan
  • Desa di Propinsi Sulawesi Selatan Ditinjau dari
  • Administrasi Pembangunan
  • Pembimbing : Dr. HM. Syukur Abdullah MPA
  1. Strata Satu (S1)        
  • Tanggal Lulus : 10 maret 1990 (1984-1990)
  • Gelar : Insinyur (Ir)
  • Nama PT : Universitas Muslim Indonesia
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Teknik sipil.
  • Judul Skripsi : Model Pengelolaan Bangunan Gedung dengan Metode
  • Gabungan GUNCHART-CPM-HANNUM CURVE.

                     Pembimbing        : Ir.HM. Ridwan Abdullah, Msc.      

  1. Strata Satu (S1)       
  • Tanggal Lulus : 6 April 2009 (2006-2009)
  • Gelar : Sarjana Hukum ( SH )
  • Nama PT : Universitas Satria Makassar
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Hukum Pidana.
  • Judul Skripsi : Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Keyakinan Hakim
  • dalam Proses Pembuktian Menurut Hukum Acara Pidana

                     Pembimbing        : HM. Yunus Idy.SH.MH dan Djonny.SH.MH    

  1. Strata Satu (S1)      
  • Tanggal Lulus : 15 November 2011 (2008-2011)
  • Gelar : Sarjana Administrasi Bisnis (SAB)
  • Nama PT : STIA-YPA-AH
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Administrasi Bisnis.
  • Judul Skripsi : Faktor yang Mempengaruhi Retribusi Penerimaan
  • Pengelolaan PDAM Kabupaten Pinrang ditinjau dari segi
  • Administrasi Bisnis
  • Pembimbing : Dr. Drs. Amiruddin Semma dan Muhammad
  • Amiruddin,SE.
  1. Strata Satu (S1).

                     Tanggal Lulus : 27 juni 2013.(2008-2013)

  • Nama PT : Institut Kesenian Makassar
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Seni Media Rekam Film dan Televisi.
  • Judul Karya         : Karya Penciptaan Film Pendek berjudul TANDA CINTA

              -     Pembimbing         : Machfud Ramli,S.Sos dan Yohan C Tinungki,S.Mus,M.Sn.

 

 

 

  1. Strata Dua (S2)                  
  • Tanggal Lulus : 17 Oktober 1992.( 1990-1992)
  • Gelar : Magister Sains ( MS )
  • Nama PT : Universitas Hasanuddin
  • Kota Asal PT : Makassar.
  • Bidang Ilmu : Pencemaran dan Penyehatan Lingkungan.
  • Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman pada
  • Kawasan Pantai Kota Madya Ujung Pandang.
  • Pembimbing :Ir.Yulianto Sumalyo,Prof.Dr.Rahardjo
  • Adisasmita,Dr.Ir.Sampe Paembonan,MS.
  1. Strata Dua (S2)

-    Tanggal lulus     : 27 Mei 2010.(2008-2010)

-     Gelar               : Magister Hukum.( MH )

-     Nama PT           Universitas Kristen Indonesia Paulus.

-     Kota Asal PT   : Makassar.

-     Bidang Ilmu     : Hukum Tata Negara dan Pemerintahan.

-       Judul Tesis     : Analisis Yuridis Pemanfaatan Ruang Berdasarkan

                                 Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang

                                 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar.

  1. Strata Dua (S2)

-     Tanggal lulus     : 30 April 2012(2010-2012)

-     Gelar                   : Magister Manajemen ( MM )

-     Nama PT            : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pengembangan Bisnis dan

                                 Manajemen

-     Kota Asal PT       : Jakarta

-     Bidang Ilmu     : Manajemen .

-     Judul Tesis          : Pengaruh Faktor Pembiayaan untuk Meningkatkan

                               Pengelolaan Persampahan Kota Makassar

-     Pembimbing     : Prof.Dr.Masngudi,SE dan Dr,Wier Ritonga ,SE,MM.

  1. Strata Tiga (S3 )
  • Tanggal Lulus : 16 Juli 2004 (1996-2004)
  • Gelar : Doktor (Dr)
  • Nama PT : Universitas Hasanuddin.
  • Kota Asal PT : Makassar
  • Bidang Ilmu : Studi Ilmu Teknik.
  • Judul Disertasi : Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair dengan Filter

                                 BiogeoKimia

  • Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Muh.Arief.Dipl.Ing

                                               Prof. Dr. Syahrul. M,Agr.

                                               Prof. Dr. Ir. Muh.Saleh Pallu,M.Eng.

                                               Prof, Dr. Ir. Mary Selintung, MSc

  1. Penghargaan atas karya bakti.
  2. Satya Karya 1985 Mentri Pekerjaan Umum
  3. Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI
  4. Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI
  5. Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI.
  6. ASEAN EXSECUTIVE AWARD 2004
  7. Daftar karya ilmiah dan populer yang ditulis .

NO

JUDUL TULISAN

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan

2005

Jurnal SPASIAL Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2005

2.

Tata Guna lahan – system transportasi sebagai sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan

2006

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2006

3.

Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan

2007

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2007

4.

Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem

 

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2008

5.

Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Juni 2008

6.

Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban

2009

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2009

 

  1. Daftar Artikel Dosen selama 10 tahun terakhir

NO

JUDUL ARTIKEL

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Air Sumber kehidupan, masihkah lestari

2003

Artikel dalam Majallah “sinergi”no6 Tahun I, Oktober   2003

2.

Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar, masihka memukau?

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

 

Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

 

 

 

4.

Manajemen Strategik organisasi seni budaya

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 2 Tahun 2003

5.

Filter Biogeokimia, Mengolah limbah cair perkotaan

2004

Artikel dalam Majallah

“ Sinergi” no1. Tahun I, Januari 2004

6

1 Milyard Orang Dambakan Air

2004

Artikel dalam Majallah “sinergi”no3 Tahun. II

Maret 2004

 

Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 3 Tahun 2004

 

Mungkinkah membangun seni budaya”Beraura” tradisi di Sulawesi Selatan

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 5 Tahun 2004

 

Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian local

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 6 Tahun 2004

10.

Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata)

 

2005

Artikel dalam Majallah “Mimbar Aspirasi”Edisi 44 Februari 2005

11.

 

12.

Identifikasi kawasan terpilih pusat pengembangan desa dikabupaten Majene propinsi sulawesi barat.

Juridical analysis Utilization of space based regulation member 6 0n the spatial plan area of the city Makassar

Desember 2012

Jurnal SPASIAL vol 8 no.2 ISSN : 1411-3899

 

13.

Arahan pengembangan kawasan strategi kota galesong kabupaten takalar

     2010

Jurnal SPASIAL vol 8 no.1- ISSN : 1411-3899

14.

 

 

15.

Evaluasi rencana Kawasan Agropoitan di kawasan matakali-kabupaten polewali mandara sulawesi barat.

 

Disparitas pemanfaatan ruang terhadap PERDA no 6 tahun 2006 tentang RTRW kota Makassar.

 

 

 

2010.

 

 

2010

Jurnal Tekstur kota

Vol 1 no 2-ISSN 2086-7786.

Jurnal Tekstur kota

Vol 2 no 1-ISSN 2086-7786.

 

 

 

  1. Karya Ilmiah

1.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Journal of Science and Technology integration vol.III, januari 2011, ISSN : 1675-8437.Selangor Malaysia

 

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

 

Tahun-Bulan

:

2010 (4 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Area Development Minapolitan coastal communities to improve economy Gowa

       

2.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar International book expo 2012 malaysia

 

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Biaya sendiri

 

Tahun-Bulan

:

2012 (2 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur tradisional sulawesi selatan warisan budaya etnis lokal Indonesia.

       

3.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar arsitektur tradisional minahasa dan suku tobadij papua

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Satker balai pengembangan teknologi perumahan tradisional makassar (APBN)

 

Tahun-Bulan

:

2009 (6 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur rumah tradisional minahasa dan suku tobadij papua.

       

 

4.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar Dinas tataruang dan permukiman Sulawesi Selatan.

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tata ruang dan permukiman.(APBN )

 

Tahun-Bulan

:

2008 (6 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Identifikasi kawasan Resapan air kawasan metropolitan Mamminasata

       

5.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata ruang dan Pemukiman Sulawesi Selatan

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan permukiman (APBN)

 

Tahun-Bulan

:

2008 (4 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan masterplan Kawasan Agropoiltan Allakuang kabupaten Sidenreng Rappang.

       

6.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulawesi Selatan

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan Pemukiman ( APBN)

 

Tahun-Bulan

:

2009 (4 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan Master plan Kawasan Agropoitan Mangbotu Kabupaten Luwu Timur

       

7.

Jenis Karya Ilmiah

:

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

:

De la macca ISBN no 978-602-263-009-8

 

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

 

Sebagai

:

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

 

Tahun-Bulan

:

2013

 

Judul Karya Ilmiah

:

Cara sederhana mengolah sampah perdesaan.

       

8.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

 

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Bapeda Kabupaten Boven digoel

 

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

 

Sebagai

:

Tim teknis

 

Jenis Pembiayaan

:

APBD Kab, Boven Digoel

 

Tahun-Bulan

:

2013 (6 bulan)

 

Judul Karya Ilmiah

:

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) kabupaten boven Digoel

       

9.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

Penerbit Lamacca press-ISBN no, 979-3897-49-2

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2009.

 

Judul Karya Ilmiah

 

Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan,Pusaka warisan budaya indonesia.

       

10.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

De la macca-ISBN no 978-979-3897-36-3

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2010

 

Judul Karya Ilmiah

 

Mengolah limbah cair rumah tangga dengan filter biogeokimia

       

11.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku Ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

De la Macca.ISBN 978-602-263-008-1

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2013.

 

Judul Karya Ilmiah

 

Mari membangun kawasan hijau dan bangunan hijau yang ramah lingkungan

       

12.

Jenis Karya Ilmiah

 

Buku ilmiah

 

Dipublikasikan pada

 

De la macca.ISBN 978 602 263 010 4

 

Dilaksanakan secara

 

Mandiri

 

Sebagai

 

Penulis Utama

 

Jenis Pembiayaan

 

Mandiri

 

Tahun-Bulan

 

2013

 

Judul Karya Ilmiah

 

Potensi dan harapan masa deoan kawasan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) parepare

 

  1. Kegiatan dalam dan luar negeri .

 

No.

Jenis Kegitan

Tempat dan Waktu Kegiatan

Jenis Partisipasi

Penyaji

Peserta

1.

Earthquake Engeenering for reconstruction

University of Victoria,wellington selandia baru 1996

 

Peserta

2.

Earthquake Disaster Management

Universityof new

     south wales-

sidney australia 1996

 

peserta-

 

3.

Training of Water suplly Engineering

OECF/JICA.Tokyo jepang 1997

 

peserta-

4.

OzWater conference

and Exebhition

Perth australia 2004

Penyaji

 

5.

Studi Kawasan Agropolitan

HPTI Bangkok Thailand tahun 2003

 

peserta-

6.

Bussiness& Industries Conference –Exhibition

Istambul-turki 2006

Penyaji

 

7.

Asia Pasific Academic consortium for Public Health conference

Yonsei university-seoul-korea selatan 2011

penyaji

-

8.

International book expo and exebhition

Kualalumpur.malaysia tahun 2012

     penyaji

-

9.

AsiaPasific Academic Consortium for Public Health confrence.

Colonbo – srilanka 2012

penyaji

-

10.

Pelatihan teknik Manajemen Information sistem program nasional Pengembangan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2009

Narasumber

-

11.

Pelatihan teknis Training of trainers program PANSIMAS

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2008

 

Narasumber

 

12.

Sosialisasi UU No.26 tahun 2007 tentang penataan ruang

DISTARKIM Sulsel tahun 2009

Narasumber

-

13.

Pelatihan-AparatPemerintah kabupaten/kota se SulSel

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

14.

Pelatihan-Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTR Provinsi Sulsel

12-14 Juni 2013, Dinas Tarkim Provinsi Sulsel

Narasumber

-

15.

Pelatihan teknis pilihan teknologi dalam pembangunan prasarana dan sarana sanitasi dan air limbah.

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

16.

Pelatihan aparat pemda kab/kota, Strategis pengembangan kab/kota berbasis rencana tata ruang kota

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

-

 

17.

Lokakarya nasional master plan dan perencanaan teknis kerjasama kota metropolitan mamminasa

Ditjen Bangda Depdagri – Jakarta tahun 2009

Narasumber

-

18.

Timteknis/Kelompok-kerja Pembangunan-kotabaru Mamminasata

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Pengarah

-

19

 

 

 

20.

 

 

 

21.

 

22

 

 

23.

 

 

 

24.

 

 

 

25

 

 

26

 

 

 

27

 

28.

 

Seminar nasional Arsitektur rumah dan Permukiman Tradisional Kawasan Timur Indonesia.

Disseminasi peraturan perundang undangan penataan bangunan dan lingkungan.

Seminar-nasional,ibukota negara,harapan dan tantangan

Studi optimalisasi pelabuhan Ferry Mamuju propinsi sulawesi Barat

Studi Kelayakan Pembangunan Dermaga bala-balakang kabupaten Mamuju Sulawesi barat

Seminar Penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Minapolitan kab. Luwu timur.

Seminar nasional penerapan konsep bangunan hijau pada bangunan gedung.

International seminar on urban and regional planning

 

Pelatihan-Manajemen persampahan .

Bimbingan teknis pemanfaatan citra satelit untuk informasi spasial sumber daya lahan.

Badan Litbang PU,tahun 2010

 

 

 

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2010.

 

Pemerintah propinsi Sulawesi-Selatan

tahun 2011.

Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009. Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009.

 

 

BPSPL Makassar 2010

 

 

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2012.

 

ASPI-tahun 2011.

 

DISTARKIM Sulsel

Tahun 2012.

 

LAPAN-thn 2012

Penyaji

 

Narasumber

 

Narasumber

Tim Pakar

 

Tim pakar

 

 

Penyaji

 

 

penyaji

 

 

 

 

penyaji                                        

         —-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

peserta-

 

 

 

 

peserta

29.

Pelatihan Teknis Sistem Informasi Manajemen Kawasan Ekonomi Terpadu( Berbasis GIS)

Ditjen Tata Ruang-UNHAS-LAPAN

Tahun 2013.

 

peserta

 

 

mengelola sampah rumah tangga di perkotaan

Posted September 7, 2014 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

MENGELOLA SAMPAH RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN.
Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.
Sampah di Perkotaan.
Masalah sampah di perkotaan muncul seiring dinamika kota, pertumbuhan ekonomi serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Sampah di perkotaan tanpa pengelolaan yang tepat dan baik akan menimbulkan dampak bagi kualitas kehidupan warganya.
Pada UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan sampah adalah sisa kegiatan sehari- hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.
Jumlah dan ragam sampah semakin meningkat akibat peningkatan jumlah penduduk dengan beragam aktivitasnya. Menurut WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan adalah sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak siap digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup.
Keberadaan jumlah sampah di perkotaan dari waktu ke waktu kian banyak, jika tidak dikelola secara baik dan benar, dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap kualitas kehidupan lingkungan, utamanya kualitas air, polusi udara, tanah, biologi, sosial ekonomi serta budaya. Karena demikian maka cara memandang dan mengelola sampah harus diubah dari kebiasaan membuang sampah secara sembarangan menjadi mengola sampah.
Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya.
Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga terdiri atas: (a) pengurangan sampah; dan (b) penanganan sampah. Di mana pengurangan sampah yang dimaksud meliputi kegiatan: (a) pembatasan timbulan sampah; (b) pendauran ulang sampah; dan/atau (c) pemanfaatan kembali sampah.
Dampak Negatif Sampah
Sampah padat yang bertumpuk dan tidak dapat teruraikan dalam waktu yang lama akan mencemarkan tanah dan lingkungan. Yang dikategorikan sampah padat adalah bahan yang tidak dipakai lagi (re-use) karena telah diambil bagian-bagian utamanya dengan pengolahan menjadi bagian yang tidak disukai dan secara ekonomi tidak ada harganya.
Ada tiga dampak sampah terhadap manusia dan lingkungan yaitu :
a.Dampak terhadap kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai atau pembuangan sampah yang tidak terkontrol merupakan tempat ( habitat ) yang cocok bagi kehidupan beberapa organisme dan menarik bagi berbagai jenis hewan/ binatang seperti, lalat, nyamuk, tikus dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit.
Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah;
– Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat, bercampur air minum.
– Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang baik.
– Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit)
– Penyakit cacingan menyebar melalui rantai makanan. Salah satu 
contohnya adalah penyakit cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk kedalam pencernaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/ sampah.
b.Dampak terhadap lingkungan
Rembesan cairan sampah yang membawa zat kimia berbahaya jika tanpa dikelola masuk ke dalam saluran air (drainase) atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati, hal tersebut mengakibatkan berubahnya ekosistem biologis. Penguraian sampah yang di buang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini pada konsentrasi tinggi dapat meledak.
c.Dampak terhadap keadaan sosial dan ekonomi
Dampak-dampak terhadap keadaan sosial dan ekonomi tersebut adalah sebagai berikut:
– Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Hal yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah resiko meningkatnya beban pembiayaan bagi warga yang sakit ketika si pasien berobat atau dirawat di rumah sakit.
– Infrastruktur jalan dan got/saluran air juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya ke jalan atau got/saluran air. Hal ini mengakibatkan jalan dan got/ saluran air kotor atau rusak hingga perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.
Menyelamatkan bumi dari Dampak Lingkungan Akibat Sampah.
Sampah dapat menimbulkan bahaya atau gangguan terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Adapun berbagai dampak yang dapat ditimbulkan oleh sampah antara lain sebagai berikut:
a.Pencemaran Udara.
Sampah dapat menyebabkan pencemaran udara, misalnya bau busuk, asap, dan sebagainya. Sampah menimbulkan biogas yang mengandung banyak metan dan karbondioksida serta bahan berbahaya lainnya. Menurut California Waste Management Board (1988), biogas mengandung karbon dioksida, dan bahan-bahan lain seperti karbon disulfida, merkaptan, dan bahan lainnya. Biogas tersebut dihasilkan oleh dekomposisi anaerobik dari bahan organik.
Biogas dapat lepas ke udara ambien dan dapat bermigrasi secara lateral melalui tanah dan batu.Biogas juga dapat mengalami infiltrasi ke dalam bangunan-bangunan dan mengalami akumulasi metan sehingga dapat menimbulkan ledakan yang berbahaya.
Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa beberapa bahan dalam biogas dapat mengganggu perkembangan embrio, fetus, dan dapat menyebabkan kemandulan, kematian, berat badan kelahiran rendah, dan kelainan bawaan. Ibu-ibu, yang tinggal di sekitar TPA, yang terkontaminasi biogas memiliki fisiko tinggi kelahiran bayi dengan berat badan rendah dan mempengaruhi umur kehamilan. Individu yang terpapar biogas berhubungan dengan gangguan hipertensi pada saat kehamilan, “stillbirths”” (kematian janin pada kehamilan tua), cacat bawaan. Dampak tersebut tergantung pada sifat, waktu , dan tingkat kontaminasinya.
Menurut Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui “sanitary landfill”. dihasilkan substansi kimia dalam bentuk gas seperti CH4, CO2, NH3, dan H2S. Perhatian khusus diberikan pada CH4 karena dapat diubah menjadi bahan berbahaya (HCHO) kemudian dihasilkan CO2. jalur perubahan CH4 menjadi CO2 mengikuti jalur-jalur reaksi tertentu. Gugus OH dapat terbentuk oleh pelepasan NH3 di udara. Gas CO2, NH3, dan H2S dapat diubah menjadi H2CO3, HNO3, dan H2SO4 berturut-turut dalam sehari.Diperkirakan hal tersebut akan berpengaruh terhadap terjadinya hujan asam.
Bau busuk sampah memiliki dampak emosional terhadap penduduk yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah . Bau digunakan sebagai alasan penduduk untuk mencegah dibangunnya TPA. Bau busuk yang ditimbulkan sampah organik terjadi tatkala proses penguraian ( dekomposisi) berlangsung dalam kondisi tanpa oksigen atau intensitas aerasi rendah (anaerob) , atau kadar air atau kelembaban rendah maupun terlalu kering serta suhu yang tidak kondusif bagi bekerjanya bakteri pengurai. Pada kondisi prasyarat bagi berlangsungnya penguraian (dekomposisi) material organik tidak terpenuhi, bakteri akan diam dan tidur (dorman) , saat sama akan terjadi reaksi anaerobik dan menimbulkan gas H2S maupun methana ( CH4) . Kedua jenis gas inilah yang dirasakan sebagai bau busuk.
Efek fisik gas H2S pada tingkat rendah dapat menyebabkan terjadinya gejala-gejala sebagai berikut : Sakit kepala atau pusing badan terasa lesu, hilangnya nafsu makan, rasa kering pada hidung, tenggorokan dan dada, batuk–batuk, kulit terasa perih.
b.Pencemaran air akibat sampah.
Sampah juga dapat menimbulkan pencemaran air permukaan dan air tanah karena “pembasuhan” sampah oleh air hujan. Selain itu sampah dapat menyumbat saluran air dan got sehingga menimbulkan banjir.
Lindi (“leachate”) merupakan cairan yang dihasilkan oleh penguraian sampah yang terbilas oleh adanya air,baik yang terkandung dalam sampah itu sendiri maupun dari luar (rembesan air hujan atau air tanah). Dampak negatif secara signifikan terhadap air permukaan dan kualitas air tanah merupakan polusi yang disebabkan oleh lindi.Karakteristik pencemar yang dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang dibuang. Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturut-turut sekitar 30,000 mgi1, 20 mg/l, dan 60 mg/l (Japan International Cooperation Agency). Untuk kondisi di Indonesia yang sampahnya didominasi oleh sampah organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi didominasi oleh besarnya BOD yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000 ppm atau lebih.Hal ini menyebabkan sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran air secara serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk dikontrol. Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam sampah, evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah, sedangkan kualitas lindi berhubungan erat dengan kadar BOD dan COD.Karakteristik pencemar yang dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang dibuang. Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturut-turut sekitar 30,000 mg/l, 20 mg/l, dan 60 mg/l. Untuk kondisi di Indonesia yang sampahnya didominasi oleh sampah organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi didominasi oleh besarnya BOD yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000 ppm atau lebih.
Hal ini menyebabkan sampah sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran air secara serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk dikontrol. Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam sampah, evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah.
c. Penurunan Derajat Kesehatan Masyarakat.
Dampak sampah terhadap penurunan tingkat kesehatan penduduk akan semakin tinggi jika sampah tidak dikelola dengan baik. Keadaan kesehatan di daerah pemukiman dapat diukur dengan jumlah kasus penyakit kolera dan penyakit menular lainnya. Dinyatakan oleh WHO dan Bank Dunia bahwa kolera adalah penyakit endemik, pada tahun 1974 terdapat 51.399 kasus atau “case fatality rate” 8,8%. Tingkat laju angka kematian di Indonesia pada tahun tersebut adalah 14,4 permil. Selanjutnya dinyatakan bahwa sebagian besar dari kematian tersebut disebabkan oleh penyakit menular. Penyakit menular itu disebabkan keadaan yang sangat buruk, pada saat itu dalam bidang sanitasi dan kesehatan lingkungan, seperti kurangnya sarana penyediaan air minum dan sistem air buangan yang tidak baik, masalah sampah yang belum terpecahkan, dan kurangnya kesadaran sebagian besar penduduk tentang pemeliharaan kesehatan lingkungan. Akibat dari keadaan lingkungan pemukiman yang buruk tidak saja merugikan dari segi kesehatan, tetapi juga memiliki dampak yang merugikan secara tidak langsung terhadap aspek-aspek sosial ekonomi pada umumnya.
Sampah dapat menjadi sarang lalat, tikus, kecoak, dan jasad renik yang dapat menjadi pembawa ataupun sumber penyakit. Selain itu, populasi pembawa penyakit (“vector”) dapat meningkat oleh aktifitas pengangkutan dan pembuangan sampah
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit.
Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit). Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernaaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.
Selain yang disebutkan diatas, juga ada beberapa Dampak Lingkungan Akibat Sampah yang dapat dikemukakan sebagai berikut :
-Kecelakaan.
Sampah juga dapat menyebabkan kecelakaan misalnya terkena pecahan kaca, paku, dan lain- lain. Selain itu dapat juga menyebabkan kebakaran, gangguan asap yang dapat mengganggu pandangan dan membahayakan arus lalu lintas.
-Penurunan Keindahan dan kenyamanan.
Sampah selain menyebabkan pencemaran, penurunan kesehatan penduduk, dan kecelakaan, juga dapat mengganggu keindahan. Sampah yang tercecer dan tidak dibuang pada tempat semestinya akan terlihat tidak rapi dan mengganggu keindahan tempat sekitarnya.Sejumlah dampak negatif dapat ditimbulkan dari keberadaan TPA. Dampak tersebut bisa beragam:
Pelepasan gas metana yang disebabkan oleh pembusukan sampah organik (metana adalah gas rumah kaca yang berkali-kali lebih potensial daripada karbon dioksida, dan dapat membahayakan penduduk suatu tempat.
Isu lingkungan, kerusakan, dan pengelolaanya menjadi isu utama beberapa dekade terakhir ini. Berbagai dampak yang terjadi dari adanya kerusakan lingkungan kian terasa; perubahan iklim, memanasnya suhu permukaan bumi, hingga berbagai bencana alam lainya. Negara di dunia juga sudah mencoba mengatasi berbagai kerusakan lingkungan dengan bermacam cara, salah satunya adalah dengan mengadakan Earth Summit di Rio De Janeiro pada tahun 1992. Manifesto dari pertemuan tersebut adalah terbentuknya Agenda 21 yang mewajibkan masing-masing Negara merumuskan kebijakan strategis nasional dalam menerapkan pembangunan berkelanjutan.
Sumber Sumber Timbulan Sampah.
Diketahui bahwa sumber-sumber timbulan sampah berasal dari :
a. Sampah warga kota/ penduduk 
pada suatu pemukiman adalah sampah yang dihasilkan oleh keluarga yang tinggal di bangunan/rumah, asrama atau apartemen. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya cendrung seperti sisa makanan atau sampah basah, sampah kering seperti, abu, plastik, kertas dan lainnya.
b. Sampah dari tempat–tempat umum dan perdagangan.
 Tempat- tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup besar dalam memproduksi sampah. Di tempat perdagangan seperti pertokoan dan pasar, umumnya menghasilkan jenis sampah berupa sampah kering, abu, plastik, kertas, karet dan kaleng- kaleng, sisa – sisa makanan serta jenis sampah lainnya.
c. Sampah dari sarana pelayanan masyarakat milik pemerintah
 dalam hal ini yang dimaksud adalah tempat hiburan umum, pantai, masjid, gereja, rumah sakit, bioskop, perkantoran, dan sarana pemerintah lainnya menghasilkan sampah kering seperti kertas, plastik, dan sampah basah seperti sisa makanan dan minuman dan limbah zat kimia.
d. Sampah dari industri
 seperti dari pabrik – pabrik pengolahan kayu dan lain – lain, kegiatan industri lainnya, baik yang termasuk distribusi ataupun proses suatu bahan mentah. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah seperti air limbah bahan kimia sampah kering sisa olahan kayu, kain, benang, abu, plastik, sisa – sisa makanan, sisa bahan bangunan.
e. Sampah pertanian adalah sampah sortiran atau buangan sisa hasil dari tanaman hasil bumi atau binatang peliharaan di daerah pertanian di atau di wilayah urban, misalnya sampah dari kebun, sampah dari kandang, ladang atau sawah. Sampah yang dihasilkan berupa bahan makanan, pupuk, kotoran hewan maupun bahan pembasmi serangga tanaman dan lainya.
Berbagai jenis sampah yang telah disebutkan tadi hanyalah sebagian kecil dari sumber- sumber sampah yang paling sering ditemukan dalam kehidupan sehari – hari di perkotaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kehidupan manusia perkotaan tidak akan pernah lepas dari persoalan sampah.
Jenis jenis sampah.
Jenis sampah yang ada di sekitar warga perkotaan cukup beraneka ragam, ada yang berupa sampah rumah tangga, rumah sakit, pasar, industri, institusi/kantor/sekolah, dan sebagainya.
 Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan menjadi dua yaitu sebagai berikut :
a.Sampah organik
Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan – bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan melalui proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik misalnya sampah dari dapur, sisa -sisa makanan; daging, tepung, sayuran, kulit buah, daun dan ranting juga pembungkus (selain kertas, karet dan plastik)
b.Sampah anorganik
Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non-hayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik dibedakan menjadi : sampah logam dan produk – produk olahannya, sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca dan keramik, sampah detergen.
Sebagian besar sampah anorganik tidak dapat diurai oleh alam/mikroorganisme secara keseluruhan (unbiodegradable). Sebagian lainnya hanya dapat diuraikan tetapi dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya botol plastik, botol gelas, tas plastik, kaleng, sisa kosmetik dan lainnya.
Sampah anorganik adalah jenis sampah yang sulit untuk didaur ulang secara alami di dalam tanah. Oleh karena itu, resiko sampah plastik untuk dibuang secara sembarangan lebih besar dibanding sampah organik yang dapat terurai oleh tanah. Di sisi lain, pengepul sampah hanya membeli sampah plastik yang tidak berwarna atau polos. Sampah-sampah jenis ini kemudian hanya berakhir sebagai limbah yang kebanyakan cara penyelesaiannya adalah dengan cara dikubur. Padahal, sampah plastik yang dikubur didalam tanah tidak akan terurai hingga lebih dari 200 tahun.
Berdasarkan keadaan fisiknya sampah dikelompokkan atas :
Sampah basah (garbage) Sampah golongan ini merupakan sisa – sisa pengolahan atau sisa sisa makanan dari rumah tangga seperti nasi, sayur mayur, lauk pak yang mempunyai sifat mudah membusuk sehingga menimbulkan bau tak sedap.
Sampah kering (rubbish). 
Sampah golongan ini pun dikelompokkan menjadi dua jenis :
· Golongan sampah tak lapuk. Sampah jenis ini benar-benar tak akan bisa 
lapuk secara alami, sekalipun telah memakan waktu bertahun – tahun, contohnya kaca dan mika.
· Golongan sampah tak mudah lapuk. Sekalipun sulit lapuk, sampah jenis 
ini bisa lapuk perlahan–lahan secara alami.
 Sampah jenis ini masih bisa dipisahkan lagi atas sampah yang mudah terbakar, contohnya seperti kertas dan kayu, sedang sampah tak mudah lapuk yang tidak bisa terbakar, seperti kaleng, paku dan kawat.
Pengelolaan sampah.
Tujuan pengelolaan sampah adalah:
1. Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis
2. Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup Pengelolaan sampah biasanya melalui proses dari pewadahan sampah, pengumpulan sampah, pemindahan dan pengangkutan sampah, pengolahan atau pemrosesan sampah (bisa dengan daur ulang sampah yang dapat di daur ulang) hingga akhirnya pada tahapan pembuangan akhir sampah.
Istilah pengelolaan sampah pada dasarnya dimaksudkan kegiaatan mengelola sampah yang masih dapat berguna untuk mengurangi dampak negatifnya terhadap kesehatan dan estetika lingkungan serta memberikan kenyamanan bagi warga. Pengelolaan sampah dapat pula bermanfaat memperbaiki kondisi lingkungan perkotaan dan sumber daya alam lainnya yang biasanya terancam mengalami kerusakan akibat bertumpuknya sampah.
Proses pengelolaan sampah dari masing-masing jenis, zat (cair, padat dan gas maupun radioaktif) biasanya berbeda caranya, tergantung dari setiap wujud zat tersebut. Pengelolaan sampah di perkotaan dan pengelolaan sampah di daerah pedesaan, berbeda pula. Untuk kawasan permukiman biasanya sampah dikelola oleh pemerintah atau warga setempat. Sedang cara pengelolaan sampah pada kawasan industri, rumah sakit, dikelola oleh masing-masing industri atau rumah sakit tersebut.
Kegiatan pengelolaan sampah perkotaan memiliki tujuan khusus yaitu membuat sampah yang ada dapat memiliki nilai ekonomis serta menjadi suatu benda yang tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Metode pengelolaan sampah biasanya tergantung pada beberapa faktor yaitu luasan lahan, jenis tanah yang ada, jenis zat dari sampah yang akan dikelola tersebut serta beberapa faktor lainnya.
Penanganan sampah meliputi kegiatan :
– Pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah.
– Pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu.
– Pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir.
– Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah.
– Pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
Pengelolaan sampah di suatu negara yang sudah sangat maju berbeda dibandingkan negara berkembang atau negara tertinggal.
Metode Pengelolaan Sampah.
Metode-Metode yang biasanya sering digunakan dalam pengelolaan sampah yaitu sebagai berikut :
a.Pembuangan terbuka (Open dumping)
Metode pembuangan terbuka merupakan pengelolaan sampah yang paling sederhana yakni dengan cara mengumpulkan sampah yang ada pada suatu tempat yang telah disiapkan sebelumnya. Metode open dumping ini adalah sistem pengolahan sampah dengan hanya membuang/menimbun sampah disuatu tempat tanpa ada perlakuan khusus atau sistem pengolahan yang benar, sehingga sistem open dumping dapat menimbulkan gangguan pencemaran lingkungan
Kelebihan serta kekurangan dari cara pengelolaan sampah dengan cara pembuangan terbuka ini adalah:
• Kelebihan
-Investasi awal serta biaya operasional yang relatif rendah;
-Tidak membutuhkan peranan teknologi yang tinggi;
-Dapat menampung berapa pun sampah yang ada tergantung dari luasan lahan;
-Tidak perlu mengumpulkan secara terpisah;
-Tempat pembuangan sampahnya masih dapat digunakan untuk kepentingan lainnya misalnya lapangan, tempat parkir dan sebagainya.
Kekurangan
-Menimbulkan pencemaran lingkungan yang cukup besar;
-Pilihan lokasi pembuangannya harus jauh dari kawasan permukiman serta kegiatan-kegiatan perkotaan lainnya yang berakibat tingginya biaya transportasi yang perlu dikeluarkan;
-Kebutuhan akan lahan cukup besar;
-Lokasi pembuangan sampah yang digunakan dimanfaatkan lebih lama, karena sampah yang ada tidak dipadatkan terlebih dahulu.
b.Penimbunan saniter (Sanitary landfill)
Berbeda dengan pembuangan terbuka, cara pengelolaan sampah penimbunan saniter lebih sedikit mengakibatkan tercemarnya lingkungan karena sampah yang ada, telah dipadatkan lebih dulu sebelum ditimbun dengan tanah. Pekerjaan pelapisan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi.
Kelebihan dan kekurangan pengelolaan sampah dengan cara penimbunan saniter adalah:
•Kelebihan
-Tidak membutuhkan teknologi tinggi;
-Investasi awal serta biaya operasional yang relatif rendah;
• Kekurangan
-Pilihan lokasi pembuangannya harus jauh dari kawasan permukiman serta kegiatan-kegiatan warga perkotaan lainnya yang berakibat tingginya biaya transportasi yang perlu dikeluarkan;
-Seperti pembuangan terbuka, pengelolaan dengan cara ini juga memerlukan lahan yang luas;
-Pencemaran terhadap air tanah jauh lebih besar dibandingkan dengan pembuangan terbuka, oleh karena itu pemilihan lokasi sedapat mungkin yang jauh dari kemungkinan mencemari air tanah.
c. Sistem Controlled Landfill
Controlled landfill adalah sistem open dumping yang diperbaiki yang merupakan sistem pengalihan open dumping dan sanitary landfill yaitu dengan penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPA penuh yang di padatkan atau setelah mencapai periode tertentu
Masalah-masalah yang dapat timbul akibat open dumping dan landfill yang tidak terkontrol adalah sebagai berikut :
1. Lahan yang luas akan tertutup oleh sampah dan tidak dapat digunakan untuk tujuan lain.
2. Cairan yang dihasilkan akibat proses penguraian dapat mencemari sumber air.
3. Sungai dan pipa air minum mungkin teracuni karena bereaksi dengan zat-zat atau polutan sampah.
Faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Sampah.
Dalam pengelolaan sampah, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi diantaranya adalah sebagai berikut :
– Distribusi serta kepadatan penduduk;
– Rencana penggunaan lahan (land use);
– Kebiasaan masyarakat setempat ( behavior );
– Karakteristik lingkungan fisik, sosial serta ekonomi;
– Karakteristik dari sampah tersebut;
– Kebijakan atau peraturan dari wilayah setempat;
– Ketersediaan sarana seperti sarana pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan maupun sarana pembuangan;
– Lokasi tempat pembuangan akhir;
– Ketersediaan dana;
– Klimatologi.
Peran Serta Masyarakat
Pengumpulan dan pengangkutan sampah tidak dapat berjalan dengan baik, tanpa adanya peran serta masyarakat, sebagaimana yang dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Masyarakat selalu dilibatkan dalam pengumpulan sampah.
Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan kesediaan masyarakat untuk membantu berhasilnya program pengelolaan sampah sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri. Tanpa adanya peran serta masyarakat semua program pengelolaan persampahan yang direncanakan akan sia-sia. Salah satu pendekatan masyarakat agar dapat membantu program pemerintah dalam keberhasilan adalah membiasakan masyarakat pada tingkah laku yang sesuai dengan program persampahan yaitu mengubah paradigma masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib, lancar dan merata, mengubah kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang kurang baik dan faktor-faktor sosial, struktur dan budaya setempat.
Peran serta masyarakat yang utama dalam sistem pengumpulan sampah adalah kesadaran masyarakat sendiri untuk membawa sampahnya ke TPS (Tempat Penampungan Sementara) terdekat. Organisasi rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) merupakan organisasi penting yang mengkoordinir pengumpulan sampah di permukiman yang tidak memiliki akses ke jalan utama. Berdasarkan hal tersebut, sistem pengumpulan sampah khususnya sampah rumah tangga yang saat ini dilakukan didasarkan pada kondisi dan kultur masyarakat.
Selain itu, peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah, menurut Pasal 28 (1) UUPS dapat dilakukan melalui:
1. Pemberian usul, pertimbangan, dan saran kepada Pemerintah dan/atau pemerintah daerah;
2. Perumusan kebijakan pengelolaan sampah; dan/atau
3. Pemberian saran dan pendapat dalam penyelesaian sengketa persampahan
Salah satu pendekatan kepada masyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam penanganan kebersihan adalah bagaimana membiasakan masyarakat kepada tingkah laku yang sesuai dengan tujuan program tersebut, yang menyangkut:
-Bagaimana mengubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib, lancar, dan merata.
-Faktor-faktor sosial, struktur, dan budaya setempat.
-Kebiasaan dalam pengelolaan sampah selama ini.
Tanpa adanya partisipasi masyarakat, semua program pengelolaan sampah (kebersihan) yang direncanakan akan sia-sia. Partisipasi masyarakat akan membangkitkan semangat kemandirian dan kerjasama diantara masyarakat akan meningkatkan swadaya masyarakat.
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat
Pasal 16 Undang-undang Lingkungan Hidup No.23 Tahun 1997, menetapkan; tanggung jawab pengelolaan lingkungan ada pada masyarakat sebagai produsen timbulan limbah sejalan dengan hal tersebut, masyarakat sebagai produsen timbulan sampah diharapkan terlibat secara total dalam lima sub sisitem pengelolaan sampah, yang meliputi sub sistem kelembagaan, sub sistem teknis operasional, sub sistem finansial, sub sistem hukum dan peraturan serta sub sistem peran serta masyarakat.
Contoh pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat dalam skala rumah tangga berbasis masyarakat di Indonesia, contohnya adalah sebagai berikut :
Pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang ” Sakti ” Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Hal menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini di sebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.
Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam stater kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga.
Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji Takakura dari Jepang. Mr Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistem pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekerja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang ‘memakan’ sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam melaksanakan penelitian, Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Jenis bakteri yang dikembang biakkan oleh Takakura inilah kemudian disematkan sebagai stater kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut ” Takakura Home Method ” yang di lingkungan masyarakat lebih dikenal dengan keranjang sakti Takakura.
Sistem Takakura Home method, Mr. Takakura juga menemukan bentuk-bentuk lain, ada yang berbentuk “ Takakura Susun Method “, atau modifikasi yang berbentuk tas atau container . Penelitian lain yang dilakukan Takakura adalah pengolahan sampah pasar menjadi kompos. Akan tetapi Takakura Home Method adalah sistem pengomposan yang paling dikenal dan paling disukai masyarakat karena kepraktisannya.
Keberhasilan Mr.Takakura menemukan sistem kompos yang praktis tidak saja memberikan sumbangsih bagi teknologi penguraian sampah organik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan sampah berbasis komunitas. Mr. Takakura jauh-jauh datang dari Jepang meneliti dan melakukan pengomposan di Surabaya. Maka pengurangan sampah organik di sumbernya, kini sangat membanggakan Surabaya. ( Sumber : http://www.togarsil aban.com/ 2007/05/09/takakura/http://olahsampah.multiply.com/journal/item/11/Keranjang_Ajaib_Takaku ra.)
Pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat yang dilakukan di sebuah kawasan di Permata Cimahi telah memakai peralatan yang disebut ”insinerator”. Insinerator adalah alat pembakar sampah yang rendah kadar polusi asapnya. Masyarakat di area ini mengelola sampahnya dengan bantuan insinerator. Warga tak lagi terbebani biaya angkot sampah atau mencium bau busuk dan menyaksikan gunungan sampah. Tiap warga tinggal menyimpan sampah yang dikemas kantong plastik di depan pagar rumah. Petugas sampah akan mengangkutnya dengan grobak, lantas mengirimkannya ke tempat pembuangan yang telah ditentukan. Di tempat pembuangan, seorang petugas akan memasukkannya ke bak insinerator. Sampah itu dibakar. Sampah pun tak mengusik ketenangan dan kenyamanan hidup warga.
Penyelesaian sampah seperti itu memerlukan managemen pengolahan sampah yang tepat. Sampah bukan merupakan persoalan pemerintah semata, tetapi menjadi masalah kita semua. Untuk itu perlu kesadaran dan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.( sumber : http://www.pusdakota.org ). Jenisnya, sampah organik dan anorganik. Selain itu, sampah yang hendak dibuang dikemas rapi dalam kantong khusus ( bioplastic) atau kantong plastik biasa.
Di beberapa taman lingkungan, pemisahan sampah dapat dilakukan dengan menyediakan dua tempat sampah kering dan basah sekaligus. Namun sayang, di Indonesia hal ini belum bisa diterapkan secara merata disetiap wilayah. Kurangnya partisipasi pihak terkait, rendahnya tingkat ekonomi, dan ketidak pedulian masyarakat menjadi faktor penghambat utama. Berbeda dengan negara maju, seperti jepang, yang telah mengelola sampah dengan baik, bahkan memilahnya hingga beberapa jenis.
Sebelum diangkut, sampah ditampung sementara dalam wadah. Tahap ini disebut tahap penampungan sampah. Di masyarakat model tempat sampah sebagai tempat penampungan ada yang dibuat secara permanen atau fleksibel. Tempat sampah permanen berbahan batu bata atau semen membutuhkan biaya dan tempat cukup besar. Untuk membuat satu tempat sampah permanen, minimal dibutuhkan area seluas 1 m2. Agar lebih efesien dan efektif, tempat sampah dapat pula dibuat dengan pemanfaatan barang bekas, seperti karung plastik, drum, kotak kayu, ember, dan wadah tidak terpakai lainnya. Wadah yang digunakan untuk menampung sampah haruslah memiliki kriteria utama yaitu : mudah dibersihkan. tidak mudah rusak ,dapat ditutup rapat, dan ditempatkan di luar rumah. Keempat hal tersebut harus terpenuhi secara baik.
Ketepatan posisi tempat penampungan sampah dalam skala rumah tangga akan turut menjaga kebersihan lingkungan dan hiegienitas penghuni.
Partisipasi memiliki pengertian yaitu keterlibatan masyarakat dalam proses penentuan arah strategi dan kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah, keterlibatan memikul tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan secara adil dan merata, dan Faktor-faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat terdiri dari 3 hal yaitu :
1. Keadaan sosial masyarakat,
2. Kegiatan program pembangunan dan
3. Keadaan alam sekitar.
Perencanaan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat.
Dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan, peran serta masyarakat adalah melibatkan masyarakat dalam tindak-tindak administrator yang mempunyai pengaruh langsung terhadap mereka. Peran serta masyarakat sangat erat kaitannya dengan kekuatan atau hak masyarakat, terutama dalam pengambilan keputusan, dalam tahap identifikasi masalah, mencari pemecahan masalah sampai dengan pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat diartikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah baik langsung maupun tidak langsung.
Perencanaan merupakan suatu proses yang mempersiapkan seperangkat keputusan untuk melakukan tindakan dimasa depan. Tahap perencanaan merupakan tahapan awal dalam proses pelaksanaan program pembangunan pengelolaan sampah. Hal ini dimaksudkan bahwa perencanaan akan memberikan arah, langkah atau pedoman dalam proses pembangunan dimaksud. Pada tahapan ini akan ditelusuri aktivitas atau kegiatan yang dilakukan masyarakat, dimulai dari keterlibatan mereka dalam menyusun rencana program yang diaktualisasikan melalui keaktifannya pada setiap rapat dan inisiatif diadakannya rapat, dan keterlibatan dalam memberikan pendapat, tanggapan masyarakat serta pengembangan terhadap upaya pengelolaan sampah, sampai dengan keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan terhadap program yang direncanakan.
Menurut Alexander Abe, tahapan perencanaan yang harus dilalui yaitu :
· Tahap pembuatan kesepakatan awal, dimaksudkan untuk menetapkan wilayah dari perencanaan, termasuk prosedur teknis yang akan diambil dalam proses perencanaan.
· Tahap perumusan masalah adalah tahap lanjut dari hasil penyelidikan. Data atau informasi yang dikumpulkan di olah sedemkian rupa sehingga diperoleh gambaran yang lebih lengkap, utuh dan mendalam.
· Tahap identifikasi daya dukung yang dimaksud dalam hal ini, daya dukung tidak harus segera diartikan dengan dana kongkrit (money,atau uang), melainkan keseluruhan aspek yang bisa memungkinkan terselenggaranya aktivitas dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. Daya dukung akan sangat tergantung pada persoalan yang dihadapi, tujuan yang hendak dicapai, aktivitas yang akan datang. Pengelolaan sampah tentu tidak saja dapat di topang dengan gerakan yang hanya ditanamkan pada masyarakat. Hal tersebut di tanamkan pada pemerintah, yang juga bertanggung jawab terhadap persoalan pengolahan sampah ini.
Secara umum, pelaksanaan pekerjaan berdasarkan perencanaan teknis pengelolaan sampah terpadu 3R(reuse, reduce, recycle) yaitu kegiatan penggunaan kembali sampah secara langsung, mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah, memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses pengolahan, maka 5 tahap pelaksanaan pekerjaaan, yaitu : tahap persiapan, tahap pemilihan lokasi, tahap pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat, tahap uji coba pelaksanaan pengelolaan sampah 3R (Reuse, Reduce, Recycle).
Pengelolaan Sampah Dengan Konsep 3R
Kegiatan Penyusunan Program Sampah 3R (reuse, reduce, recycle) adalah proses penyusunan rencana pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat dengan pola 3R adalah: membuat identifikasi permasalahan dan menentukan rumusan permasalahan serta menentukan kebutuhan yang dilakukan dengan metode penyerapan aspirasi masyarakat dan melakukan survei kampung/pemukiman sendiri dan menyusun analisis permasalahan untuk menentukan skala perioritas kebutuhan serta menentukan potensi sumber daya setempat.
Menurut Departemen Pekerjaan, pengertian pengelolaan sampah 3R secara umum adalah upaya pengurangan pembuangan sampah, melalui program menggunakan kembali (Reuse), mengurangi (Reduce), dan mendaur ulang (Recycle).
-Reuse (menggunakan kembali) yaitu penggunaan kembali sampah secara langsung,baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain.
-Reduce (mengurangi) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah.
-Recycle (mendaur ulang) yaitu memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses pengolahan. Mengurangi sampah dari sumber timbulan, di perlukan upaya untuk mengurangi sampah mulai dari hulu sampai hilir, upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi sampah dari sumber sampah (dari hulu ) adalah menerapkan prinsip 3R .
Tindakan yang bisa dilakukan untuk setiap sumber sampah adalah sebagai berikut:
Bagi Rumah Tangga, tindakan yang bisa dilakukan adalah :
Mengurangi ( Reduce ), melalui tindakan:
a. Menghindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan 
sampah dalam jumlah besar.
b. Menggunakan produk yang bisa di isi ulang, misalnya penggunan lahan 
pencuci yang menggunakan wadah isi ulang.
c. Mengurangi penggunaan bahan sekali pakai, misalnya penggunaan tissu 
dapat dikurangi, menggantinya dengan serbet atau sapu tangan.
Menggunakan Kembali (Reuse), melalui tindakan :
a. Gunakan kembali wadah/ kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya, misalnya penggunaan botol bekas untuk wadah minyak goreng hasil home industri minyak kelapa atau wadah untuk madu lebah.
b. Gunakan wadah atau kantong yang dapat digunakan berulang ulang misalnya, wadah untuk belanja kebutuhan pokok yang terbuat dari bahan yang tahan lama sehingga dapat digunakan dalam waktu yang lama.
Daur ulang (Recycle), melalui tindakan :
a. Pilih produk atau kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai.
b. Lakukan penggunaan sampah organik menjadi kompos dengan berbagai 
cara yang telah ada atau memanfaatkan sesuai kreaktifitas masing-masing.
c. Lakukan penanganan untuk sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.
Bagi Fasilitas Umum ( perkantoran, sekolah )
Mengurangi ( Reduce ) produksi sampah di fasilitas umum; perkantoran, sekolah dengan cara :
a. Penggunaan kedua sisi kertas dan spasi yang tepat untuk penulisan dan 
foto copy,Penggunaan alat tulis yang bisa di isi kembali. Sediakan jaringan informasi dengan komputer ( tanpa kertas );Gunakan produk yang dapat di isi ulang,Hindari bahan yang sekali pakai. Dan Hindari penggunaan bahan dari plastik dalam penjilidan laporan -laporan.
b. Menggunakan kembali ( reuse ), melalui tindakan : Gunakan alat kantor yang bisa digunakan berulang kali.Gunakan alat-alat penyimpanan elektronik yang dapat di apus dan di tulis kembali.
Bagi Daerah Komersil
Mengurangi (reduce) sampah di daerah komersil melalui tindakan:
a. Memberikan intensif oleh produsen bagi pembeli yang mengembalikan 
kemasan yang dapat digunakan kembali,Memberikan kemasan/ pembungkus hanya kepada produk yang benar- 
benar memerlukannya.
b. Sediakan produk yang kemasannya tidak menghasilkan sampah dalam 
jumlah besar. Sediakan pembungkus/ kemasan yang mudah terurai.
c. Menggunakan Kembali (reuse)
: Gunakan sampah yang masih dapat di manfaatkan untuk produk lain.,Sediakan perlengkapan untuk pengisian kembali produk umum isi ulang (minyak, minuman).
Tahap persiapan pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat adalah melakukan persiapan dengan melakukan tindakan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap konsep dasar program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, terutama teknologi komposting di tingkat masyarakat.
Tahap pemilihan lokasi -ini merupakan awal dimulainya tahap pengumpulan data calon lokasi yang akan dipilih untuk melaksanakan program pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat.
Tahap perencanaan teknis adalah tahap penyusunan rencana kerja serta melakukan pengadaan peralatan pengelolaan sampah. Peralatan prasarana dan sarana persampahan 3R (reuse,reduce,recycle) yang meliputi penentuan jenis dan jumlah peralatan, baik untuk pemilahan jenis sampah, pewadahan dan pengangkutan dan alat pengolahan sampah untuk menjadi kompos, termasuk mengidentifikasi kebutuhan tempat untuk pengolahan sampah terpadu TPS.
Pengorganisasian tentang pemberdayaan masyarakat dan stakeholder menjadi fasilitator terhadap kegiatan ditingkat komunitas / masyarakat di kawasan lokasi perencanaan. Tahap ini dibagi menjadi 4 kegiatan yaitu:
(a) Melakukan identifikasi,
(b) Melakukan sosialisasi pada masyarakat dengan cara memperkenalkan program pengelolaan sampah,
(c) Pembentukan organisasi,
(d) Melakukan pelatihan pengelolaan sampah terpadu.
Identifikasi
Kegiatan menyusun indentifikasi kebutuhan peralatan prasarana dan sarana persampahan 3R (reuse, reduce, recycle) yaitu menentukan jenis dan jumlah peralatan yang dibutuhkan dalam pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat, pewadahan, pengangkutan dan alat pengolahan sampah untuk menjadi kompos. Juga melakukan identifikasi lokasi yang dapat dimanfaatkan.
Sosialisasi
Sosialisasi adalah cara penyampaian informasi yang bertujuan untuk memperkenalkan berbagai program dan metode tentang pengelolaan sampah kepada masyarakat
Pembentukan organisasi
Aspek kelembagaan berupa organisasi merupakan suatu kegiatan yang bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen yang memikirkan hal-hal menyangkut aspek-aspek ekonomi, sosial budaya dan kondisi fisik wilayah dan memperhatikan pihak yang dilayani yaitu masyarakat. Perancangan dan pemilihan organisasi disesuaikan dengan peraturan pemerintah yang membinanya, pola sistem operasional yang ditetapkan, kapasitas kerja sistem dan lingkup tugas pokok dan fungsi yang harus ditangani.
Pelatihan
Pelatihan pengelolaan sampah terpadu adalah cara kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah dengan cara yang baik dan benar serta mengetahui cara yang mendatangkan manfaat ekonomi bagi keluarga dan masyarakat.
Aspek Pengelolaan Sampah.
Sistem Pengelolaan sampah adalah proses yang meliputi lima aspek,yaitu :
1.Aspek Teknis Operasional
Aspek teknis operasional pengelolaan sampah meliputi kegiatan-kegiatan pewadahan sampah, pengumpulan dan pengangkutan sampah, pengangkutan sampah, pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir. Keterkaitan antar sub sistim dalam pengelolaan sampah .Tata cara pengelolaan sampah bersifat integral dan terpadu secara berantai dengan urutan yang berkesinambungan yaitu : penampungan/pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pembuangan/ pengolahan.
2. Penampungan Sampah dan Pewadahan
Proses awal dalam penampungan sampah terkait langsung dengan sumber sampah adalah penampungan. Penampungan sampah adalah suatu cara penampungan sebelum dikumpulkan, dipindahkan, diangkut dan dibuang ke TPA. Tujuannya adalah menghindari agar sampah tidak berserakan sehingga tidak mengganggu lingkungan (SNI 19-2454-2002). Bahan wadah yang dipersyaratkan sesuai Standart Nasional Indonesia adalah tidak mudah rusak, ekonomis, mudah diperoleh dan dibuat oleh masyarakat dan mudah dikosongkan, persyaratan bahan wadah adalah awet dan tahan air, mudah diperbaiki, ringan dan mudah diangkat serta ekonomis, mudah diperoleh atau dibuat oleh masyarakat.
3.Pengumpulan Sampah
Pengumpulan sampah yaitu cara atau proses pengambilan sampah mulai dari tempat penampungan / pewadahan sampai ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara). Pola pengumpulan sampah pada dasarnya dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu :
Pola individual dan pola komunal (SNI 19-2454-2002) sebagai berikut;
– Pola Individual adalah 
proses pengumpulan sampah dimulai dari sumber sampah kemudian diangkut ketempat pembuangan sementara/ TPS sebelum dibuang ke TPA.
– Pola Komunal 
adalah pengumpulan sampah dilakukan oleh penghasil sampah ketempat penampungan sampah komunal yang telah disediakan/ ke truk sampah yang menangani titik pengumpulan kemudian diangkut ke TPA tanpa proses pemindahan.
4. Pemindahan Sampah
Proses pemindahan sampah adalah memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkutan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tempat yang digunakan untuk pemindahan sampah adalah depo pemindahan sampah yang dilengkapi dengan container pengangkut (SNI 19-2454- 2002).
5. Pengangkutan Sampah
Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan di tempat penampungan sementara atau dari tempat sumber sampah ke tempat pembuangan akhir. Berhasil tidaknya penanganan sampah juga tergantung pada sistem pengangkutan yang diterapkan. Pengangkutan sampah yang ideal adalah dengan truck container tertentu yang dilengkapi alat pengepres (SNI 19-2454-2002)
Tempat Pembuangan Akhir sampah
Tempat pembuangan sampah akhir (TPA) adalah sarana fisik untuk berlangsungnya kegiatan pembuangan akhir sampah. Tempat menyingkirkan sampah kota sehingga aman (SK SNI T-11-1991-03).
Pembuangan akhir merupakan tempat yang disediakan untuk membuang sampah dari semua hasil pengangkutan sampah untuk diolah lebih lanjut. Prinsip pembuangan akhir adalah memusnahkan sampah domestik di suatu lokasi pembuangan akhir. Jadi tempat pembuangan akhir merupakan tempat pengolahan sampah.
Menurut SNI 19-2454-2002 tentang teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan, secara umum teknologi pengolahan sampah dibedakan menjadi 3 (tiga) metode yaitu : Open Dumping, Sanitary Landfill, Controlled Landfill.
Aspek Hukum dan Peraturan
Hukum dan peraturan didasarkan atas kenyataan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum, dimana sendi-sendi kehidupan bertumpu pada hukum yang berlaku. Manajemen persampahan kota di Indonesia membutuhkan kekuatan dan dasar hukum, seperti dalam pembentukan organisasi, pemungutan retribusi, keterlibatan masyarakat.
Hak warga negara terkait pengelolaan sampah dalam Pasal 11 (1) UUPS adalah sebagai berikut:
(1) Setiap orang berhak:
a. Mendapatkan pelayanan dalam pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan dari Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau pihak lain yang diberi tanggung jawab untuk itu;
b. Berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, penyelenggaraan, dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah;
c. Memperoleh informasi yang benar, akurat, dan tepat waktu mengenai penyelenggaraan pengelolaan sampah;
d. Mendapatkan pelindungan dan kompensasi karena dampak negatif dari kegiatan tempat pemrosesan akhir sampah; dan
e. Memperoleh pembinaan agar dapat melaksanakan pengelolaan sampah secara baik dan berwawasan lingkungan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggunaan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah dan peraturan daerah sesuai dengan kewenangannya.
Kewajiban warga negara terkait pengelolaan sampah diatur dalam Pasal 12 UUPS adalah sebagai berikut:
(1) Setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan kewajiban pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan daerah.
Dasar hukum pengelolaan kebersihan di daerah yang telah disepakati, intinya menjabarkan ketentuan tentang:
a. Pemeliharaan Kkebersihan.
Kegiatan kebersihan meliputi pemeliharaan kebersihan di jalan umum, saluran umum, tempat umum dan kegiatan lain yang berkaitan dengan kebersihan.
b. Pengaturan dan Penetapan TPS dan TPA.
Pengumpulan dan pengangkutan sampah dari sumber sampah ke 
TPS dan TPA.
c. Pemusnahan dan Pemanfaatan Sampah
Pemusnahan dan pemanfaatan sampah dengan cara-cara yang tidak 
menimbulkan gangguan terhadap lingkungan.
d. Larangan
Tengan larangan, terkait pengelolaan sampah diatur dalam Pasal 29 (1) UUPS adalah sebagai berikut:
(1) Setiap orang dilarang:
1. Memasukkan sampah ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
2. Mengimpor sampah;
3. Mencampur sampah dengan limbah berbahaya dan beracun;
4. Mengelola sampah yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan;
5. Membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan;
6. Melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir; dan/atau
7. Membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.
Hal-hal penting lain yang perlu diperhatikan masyarakat berkaitan dengan adanya larangan antara lain :
-Dilarang membakar sampah dipekarangan/halaman atau tempat- tempat yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran atau mengganggu lingkungan.
-Dilarang membuang sampah diluar tempat-tempat yang telah ditentukan/disediakan.
-Dilarang membuang sisa-sisa bangunan dan atau sampah yang berbahaya kedalam tempat sampah.
Aspek Pembiayaan
Pembiayaan merupakan sumber daya penggerak agar pada roda sistem pengelolaan persampahan tersebut dapat bergerak dengan lancar. Sistem pengolahan persampahan di Indonesia lebih di arahkan kesistem pembiayaan sendiri termasuk membentuk perusahaan daerah. Masalah umum yang sering dijumpai dalam sub sistem pembiayaan adalah retribusi yang terkumpul sangat terbatas dan tidak sebanding dengan biaya operasional, dana pembangunan daerah berdasarkan skala prioritas, kewenangan dan struktur organisasi yang ada tidak berhak mengelola dana sendiri dan penyusunan tarif retribusi tidak didasarkan metode yang benar.
Sosialisasi Penyadaran Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah.
Fenomena persampahan tampaknya bukan hal yang sederhana, karena sepanjang ada kehidupan manusia permasalahan tersebut akan selalu timbul. Walaupun kebijakan persampahan telah tersedia, ditambah dengan bentuk kelembagaannya,tampaknya belum merupakan jaminan mantapnya pengelolaan sampah secara terpadu berkelanjutan, apabila kesadaran masyarakat tidak dibangun. Hal tersebut mengingat bahwa keberhasilan penanganan sampah sangat ditentukan oleh ”niat kesungguhan masyarakat” yang secara sadar peduli untuk menanganinya. Atas dasar itulah pentingnya sosialisasi penyadaran masyarakat baik melalui jalur formal maupun informal yang antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut:
– Penyadaran formal, diberikan kepada generasi muda di sekolah (SD, SLTP, dan SLA) melalui pemantapan kegiatan ”Krida” mingguan.
– Penyadaran informal, diberikan kepada masyarakat dalam kaitannya penanganansampah berbasis kesehatan lingkungan, untuk itu perlunya:
– penyadaran masyarakat, untuk menghargai terhadap alam lingkungannya, agar tidak lagi membuang limbah domestik ke bukan tempatnya, dan masyarakat hendaknya mulai sadar dan berkiprah untuk memilah-milah sampah berdasarkan jenisnya, guna menghindari sumber-sumber penyakit menular, sebagai akibat dari limbah domestik yang cepat membusuk.
-
Pemilihan jenis metodologi yang tepat perlu dipertimbangkan beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut :
– Proses yang digunakan haruslah ramah lingkungan;
– Biaya investasi tidak terlalu tinggi;
– Biaya operasinal dan perawatan pembuatan kompos cukup murah;
Indonesia telah merumuskan Agenda 21 yang telah disesuaikan dalam konteks nasional dan dikelompokan menjadi empat area, salah satunya adalah pengelolaan limbah. Agenda ini dirumuskan terutama dengan sasaran untuk memperbaiki kondisi dan kualitas lingkungan hidup manusia serta mengungari proses degradasi lingkungan (Setiawan, 2007). Pada dasarnya dalam pengelolaan limbah, terdapat berbagai macam cara baik itu pengelolaan dengan menggunakan teknologi tinggi, ataupun pengelolaan dengan cara sederhana. Masyarakat di Indonesia sendiri sudah banyak mempraktekkan berbagai macam cara pengelolaan limbah dengan menggunakan cara-cara sederhana.
Pengelolaan Sampah di Tempat Pembuangan Akhir
Terdapat paling tidak 5 cara yang dikenal secara umum dalam penanggulangan sampah di TPA yaitu;
(1) Open Dumps, yang mengacu pada cara pembuangan sampah pada area terbuka tanpa dilakukan proses apapun.
(2) Landfills, adalah lokasi pembuangan sampah yang relatif lebih mbaik daripada open dumping dengan cara yaitu sampah yang ada di tutup dengan tanah kemudian dipadatkan dan setelah lokasi penuh maka lokasi landfill akan ditutup tanah tebal dan kemudian lokasi tersebut dijadikan tempat parkir.
(3) Sanitary Landfils, yaitu menggunakan material yang kedap air sehingga rembesan air dari sampah tidak akan mencemari lingkungan sekitar, namun biaya sanitary landfill relatif lebih mahal.
(4) Incenerator, yaitu dilakukan pembakaran sampah dengan terlebih dahulu dengan memisahkan sampah daur ulang, biasanya proses pembakaran sampah dilakukan alternatif terakhir atau lebih difouskan pada penanganan sampah medis.
(5) Pengomposan, yaitu proses biologis yang kemudian organisme kecil mengubah sampah organik menjadi pupuk. (Anatomi 2004).
Dalam pengelolaan sampah, Diketahui beberapa cara pengolahan sebagai berikut :
1.Pemanfaatan Ulang atau Daur Ulang (Recycling)
Daur ulang adalah proses pengambilan dan pengumbulan barang yang masih memiliki nilai ekonomis dari sampah untuk digunakan kembali. Sampah yang biasanya dikelola dengan cara daur ulang adalah sampah-sampah anorganik.
Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampah untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listik dan sebagainya. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan sejak awal misalnya dengan kotak sampah/kendaraan sampah khusus, atau dapat juga dari sampah yang sudah tercampur.
Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum , kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET , botol kaca , kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa di daur ulang. Daur ulang dari produk seperti komputer atau mobil lebih susah, karena terlebih dulu bagian-bagiannya harus diurai, lalu dikelompokan kembali menurut jenis bahannya.
Cara yang digunakan agar membuat sampah yang ada menjadi memiliki nilai ekonomis setelah dikelola, memiliki kelebihan dan kekurangan pengelolaan sampah dengan cara daur ulang adalah sebagai berikut :
• Kelebihan
-Tidak membutuhkan lahan yang besar;
-Bahan yang telah didaur ulang dapat digunakan lagi;
-Metode ini memberikan kesempatan kerja bagi para pemulung.
• Kekurangan
-Memerlukan biaya investasi yang besar serta biaya operasional yang juga lumayan tinggi;
-Pasokan sampah harus memiliki jumlah yang besar dan selalu konstan;
-Tidak semua jenis sampah dapat di daur ulang;
-Sampah yang tidak dapat didaur ulang terpaksa tetap menjadi sampah dan harus dikelola dengan cara yang lainnya atau dibuang;
-Tidak cocok untuk kebutuhan jangka panjang, karena jumlah sampah yang tidak dapat didaur ulang akan bertambah banyak.
2.Pengolahan Biologis
Material sampah organik, seperti sisa tanaman, sisa makanan atau kertas, dapat diolah dengan menggunakan proses biologis untuk dibuat kompos, atau dikenal dengan istilah pengkomposan. Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagi pupuk dan gas methana yang digunakan untuk membangkitkan listrik.
Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program ( program tong hijau) di Toronto, Kanada, dimana sampah organik rumah tangga, seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan dikantong khusus untuk dibuat kompos.
3. Pemulihan Energi
Kandungan energi yang terkandung dalam sampah dapat diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menjadi bahan bakar tipe lain. Ini adalah salah satu metode memanfaatkan sampah dalam pemulihan energi. Daur ulang melalui cara ‘pemanasan’ bervariasi mulai dari menggunakannya sebagai bahan bakar memasak atau untuk memanaskan boiler guna menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua bentuk ‘pemanasan’, dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup bertekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat, gas, dan zat cair. Produk zat cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain.
4. Penimbunan Darat
Penimbunan darat adalah cara pembuangan sampah dengan cara menguburnya. Metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg ditinggalkan, ditelantarkan, atau lubang bekas pertambangan, atau lubang lubang atau ceruk yang dalam. Sebuah situs penimbunan darat yg di desain dan di kelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yg tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, diantaranya angin berbau busuk sampah yang akan menarik berkumpulnya hama juga terjadinya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang sangat berbahaya karena rawan meledak. (peristiwa demikian pernah terjadi di Bandung akibat kandungan gas methan di TPA tiba-tiba meledak dan melongsorkan gunung sampah di tempat itu)
Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode pengumpulan air sampah dengan menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik. Sampah biasanya dipadatkan, untuk menambah kepadatan dan kestabilannya lalu ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyaknya penimbunan sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pembakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik yang bermanfaat bagi warga perkotaan.
5.Pembakaran/pengkremasian
Pembakaran sampah atau pengkremasian sampah memanfaatkan temperatur tinggi bisa disebut “Perlakuan panas”. Kremasi mengubah sampah menjadi panas, gas, uap dan abu. Pengkremasian dilakukan oleh perorangan atau oleh industri untuk skala besar. Hal ini bisa dilakukan untuk sampah padat , cair maupun gas. Pengkremasian dikenal sebagai cara praktis untuk membuang beberapa jenis sampah berbahaya, contohnya sampah medis (sampah biologis). Pengkremasian adalah metode yang kontroversial karena dampaknya menghasilkan polusi udara.
Pengkremasian dilakukan di negara seperti Jepang karena lahan yang begitu terbatas. Metode ini tidak membutuhkan lahan seluas penimbunan darat. Sampah diubah menjadi energi (Waste-to-energy=WtE) atau energi dari sampah (Energy-from-Waste = EfW) adalah terminologi untuk menjelaskan sampah yang dibakar dalam tungku dan boiler guna menghasilkan panas/uap/listrik. Pembakaran pada alat kremasi tidaklah selalu sempurna, bahkan sering ada keluhan adanya polusi mikro dari emisi gas yang keluar cerobongnya. Perhatian lebih diarahkan pada zat dioxin yang kemungkinan dihasilkan didalam pembakaran dan mencemari lingkungan sekitar pembakaran. Dilain pihak, pengkremasian seperti ini dianggap positif karena menghasilkan listrik , contoh penerapannya di Indonesia adalah rencana PLTSa Gede Bage di sekitar kota Bandung.
6. Metode Penghindaran dan Pengurangan
Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah perkotaan adalah pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan “pengurangan sampah”. Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai , memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk secara kreativ supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik ), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue), dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman).
7. Pembuatan Kompos (Composting)
Pengertian pengomposan (Composting) adalah sistem pengolahan sampah organik dengan bantuan mikroorganisme sehingga membentuk pupuk organis (pupuk kompos). Mengolah sampah menjadi kompos (pupuk organik) dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai yang sederhana hingga memerlukan mesin (skala industri atau komersial). Membuat kompos dapat dilakukan dengan metode aerob dan anaerob. Pada pengomposan secara aerob, proses dekomposisi bahan baku menjadi kompos akan berlangsung optimal jika ada oksigen. Sementara pada pengomposan anearob dekomposisi bahan baku menjadi kompos tidak memerlukan oksigen.
Disisi lain pengomposan juga berarti menghasilkan sumber daya baru dari sampah yaitu kompos yang kaya akan unsur hara mikro. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah adalah menciptakan metode yang ramah lingkungan dan mudah untuk bisa dilakukan di tingkat kawasan atau rumah tangga, salah satunya adalah dengan membuat kompos di tingkat rumah tangga atau kawasan.
a.Teknologi pengomposan
Pengomposan adalah cara yang alamiah mengembalikan material organik ke alam dalam bentuk pengembur tanah atau soil conditioner.
Adapun manfaat kompos yang dapat kita manfaatkan adalah :
-Mengembalikan nutrisi ketanah seperti material organik, fosfor, potasium, nitrogen dan mineral.
-Mendukung pengendalian gulma dan pencegahan erosi.
-Meningkatkan daya pegang air dan memperbaiki porositas tanah.
-Meningkatkan kapasitas buffer tanah.
-Menambah unsur hara makro dan mikro tanah.
Dalam proses pengomposan, sampah organik secara alami akan diuraikan oleh berbagai jenis mikroba atau jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain sebagainya. Proses peruraian ini memerlukan kondisi yang optimal seperti kesediaan nutrisi yang memadai, udara yang cukup, kelembaban yang tepat. Makin cepat prosesnya dan makin tinggi pula mutu komposnya.
Di wadah pengomposan atau komposter, mula-mula sejumlah mikroba aerobik (mikroba yang tidak bisa hidup jika tidak ada udara), akan menguraikan senyawa kimia rantai panjang yang dikandungkan sampah, seperti selulosa, karbohidrat, lemak, protein. Menjadi senyawa yang lebih sederhana, gas karbondioksida dan air. Senyawa-senyawa sederhana tersebut merupakan makanan yang berlimpah, mikroba tumbuh dan berkembangbiak secara cepat sehingga jumlahnya berlipatganda. Pembuatan kompos dapat dikatakan juga dengan “daur ulang”, akan tetapi penggunaannya sudah berubah dari kebutuhan sebelumnya menjadi pupuk untuk tanaman. Kelebihan dan kekurangan pengelolaan sampah dengan cara pembuatan kompos adalah sebagai berikut :
• Kelebihan
-Penggunaan lahan yang jauh lebih sempit dibandingkan dengan 2 metode diatas;
-Setelah selesai dikelola, hasilnya dapat digunakan untuk memupuki tanaman;
-Cara yang relatif murah untuk jumlah sampah yang besar akan tetapi dengan fluktuasi sampah yang kecil
• Kekurangan
-Memerlukan biaya investasi awal yang jauh lebih besar dibandingkan dengan dua metode sebelumnya;
-Memerlukan biaya operasional yang relatif tinggi, dan juga dapat menjadi lebih tinggi lagi apabila sampah yang diolah kapasitasnya lebih kecil dari kapasitas instalasi pembuatan kompos;
-Bahan yang tidak dapat diolah menjadi pupuk kompos, terpaksa harus menjadi sampah lagi;
-Dari poin ke-3 dapat disimpulkan bahwa tidak semua jenis sampah dapat dikelola;
-Untuk kebutuhan jangka panjang, cara ini sangat tidak efektif karena pada masa yang akan datang, jumlah sampah yang tidak dapat diolah menjadi pupuk kompos menjadi lebih besar;
Dari beberapa cara pengelolaan sampah tersebut, perlu dipikirkan secara matang kelebihan dan kekurangannya sebelum diaplikasikan ke dalam setiap kegiatan pengelolaan sampah di perkotaan, karena setiap cara pengelolaan sampah tergantung dari beberapa faktor yang dipertimbangkan, entah itu dari sisi biaya, ketersediaan lahan dan sebagainya.
b. Pengomposan Sampah Skala Rumah Tangga

Program pengomposan skala rumah tangga muncul sebagai akibat tingginya tuntutan untuk menanggulangi problem sampah setiap harinya. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan penanganan sampah skala rumah tangga/ kawasan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengomposan. Hal ini merupakan upaya yang murah dan mudah serta hasilnya bermanfaat.
Mengelola Sampah Dengan Model Biopori.
Secara alami, biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.
Keuntungan biopori dalam pemanfaatannya antara lain :
-Bio-pore dapat mengakumulasikan limbah organik secara efisien. Limbah dapur dan sampah pekarangan dapat dimasukkan ke dalam Biopore ini.
-Biopore sangat efektif menampung air hujan yang jatuh di pekarangan rumah dan meresapkannya ke dalam tanah.
-Limbah organic dalam bio-pore dapat mengalami dekomposisi menjadi kompos.
-Bio-pore juga berfungsi sebagai reservoir air tanah di sebelah bawahnya.
Biopori belum menjadi hal yang populer bagi masyarakat, karena pendidikan lingkungan hanya terpaku pada tanaman. Tetapi dengan biopori ini kita akan menjadi penyelamat 3 dimensi bumi yakni , darat , laut dan udara .
Biopori mencangkup banyak bahkan seluruh masalah yang kerap terjadi oleh manusia , lebih dinominasikan untuk masalah tanah . Biopori menyelamatkan ekosistem bawah tanah dan sangat menguntungkan bagi manusia , disatu sisi dia kecil dan tidak dipedulikan tetapi dia membawa manfaat yang dapat membawa lingkungan sekitar menjadi lebih subur.
Dampak dan Manfaat Pengelolaan sampah secara mandiri
Pengelolaan sampah secara mandiri yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan dapat memberikan beberapa manfaat antara lain:
1. Meningkatnya Nilai-nilai Sosial
Meningkatnya nilai-nilai kerekatan sosial ditandai dengan meningkatnya nilai-nilai pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan tentunya menjadi sebuah tujuan utama adanya pengelolaan sampah secara mandiri. Masyarakat dilatih bekerjasama untuk menentukan program-program rencana kegiatan bagi pembangunan di pemukimannya tanpa ketergantungan terhadap pihak-pihak lain. Adanya kemandirian tersebut membuat masyarakat lebih memahami apa yang mereka butuhkan dan bersama-sama memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk membangun lingkungan tempat tinggal mereka, agar selalu bersih dan ramah lingkungan.
2. Meningkatnya Nilai-nilai Ekonomi
Sampah-sampah yang didaur ulang oleh masyarakat dapat menjadi berbagai kerajinan bisa dijual dan tentunya akan memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat. Walaupun jumlah keuntungan dari penjualan barang daur ulang tersebut tidak signifikan, setidaknya itu dapat terus momotivasi masyarakat untuk berkreasi dan sekaligus peduli dengan lingkungannya.
a.Kerajinan Sampah Plastik
Salah satu pemanfaatan limbah anorganik adalah dengan cara proses daur ulang (recycle). Daur ulang merupakan upaya untuk mengolah barang atau benda yang sudah tidak dipakai agar dapat dipakai kembali. Beberapa limbah anorganik yang dapat dimanfaatkan melalui proses daur ulang, misalnya plastik, gelas, logam, dan kertas.
Sampah plastik dapat di daur ulang dan diubah menjadi barang-barang kreatif seperti tas belanja, penutup magic jar, dompet dan lainya. Dengan pemilihan sampah-sampah plastik sisa minuman berenergi atau minuman anak yang memiliki warna menarik, ibu-ibu menyulap sampah-sampah plastik tersebut menjadi barang-barang lucu yang dapat dijual. Ternyata tidak hanya berproduksi secara komersil, Ibu-Ibu pengrajin juga bisa memberikan pelatihan-pelatihan pengelolaan sampah plastik tersebut kepada para wisatawan yang datang. Sebuah alternatif bagi wisatawan untuk dapat mulai berpikir kreatif dengan mengubah sesuatu yang tiada harganya menjadi sesuatu yang bernilai jual.
Permasalahan sampah plastik berwarna dan kain disikapi oleh masyarakat Desa Sukunan Yogyakarta dengan mengelola sampah plastik dan kain menjadi berbagai kerajinan. Pengelolaan ini dilakukan sendiri oleh masyarakat atau dikenal dengan istilah pemberdayaan masyarakat. Adalah sebuah pendekatan pembangunan yang membuat masyarakat menjadi titik utama pelaku pembangunan. Segala rumusan kebutuhan, rencana, hingga implementasi kegiatan dibuat oleh, dari, dan untuk masyarakat itu sendiri. Dengan tujuan agar target dan sasaran kegiatan pembangunan bisa mengena dengan tepat dan berdampak langsung dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Ife, 2005). Dan pemberdayaan masyarakat ini sudah sangat terasa bagi masyarakat Desa Sukunan dampak dan manfaatnya. Berikut adalah beberapa kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sukunan dan bisa contoh yang sangat baik bagi kita semua.
Cara membuat kerajinan-kerajinan tersebut adalah sebagai berikut. Sampah-sampah plastik tersebut dengan teliti dipilih sesuai dengan kelayakannya. Setelah terpilah sampah plastik mana yang akan digunakan sebagai bahan dasar kerajinan, lalu para ibu kembali menyeleksi sampah-sampah plastik sesuai dengan model yang akan dibuat. Menentukan model dan ukuran dari kerajinan dan bahan yang akan digunakan sangatlah penting agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan. Setelah siap, sampah-sampah plastik tersebut dijahit untuk dirangkai sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Ketelitian dan keterampilan juga diperlukan dalam membuat kerajinan dari sampah plastik ini walaupun cara pembuatanya tidak sesulit pembuatan kerajinan dari daun kering ataupun bahan-bahan organik lain.
b.Pemanfaatan Kain Perca
Selain mengelola limbah atau sampah plastic, masyarakat Desa juga dengan kreatif menggunakan ketrampilan mereka untuk membuat kerajinan dari kain perca atau kain sisa. Dengan motif yang beraneka ragam, memang pemanfaatan kain perca sangatlah sulit karena itu banyak kain sisa yang akhirnya tidak digunakan untuk apapun. Namun di tangan masyarakat, kain-kain perca bisa kembali diubah menjadi sesuatu yang unik dan menarik seperti tas, tempat botol, sarung bantal, dompet, dan lainya.Nilai seni yang diberikan oleh kerajinan kain perca dapat dilihat pada pemilihan motif yang berbeda-beda pada kain, namun bisa disinergikan sehingga membentuk barang yang terlihat seperti baru. Penggunaan kain perca bermotif etnis juga digunakan untuk memperlihatkan kesan etnik dan memberikan identitas local pada barang-barang kerajinan ini.
Hal yang pertama kali harus dilakukan untuk membuat kerajinan kain perca ini tentu saja mengumpulkan sisa-sisa kain baik itu sisa kain rumah tangga ataupun dari perusahaan konveksi. Setelah itu kain perca diseleksi sesuai dengan ukuran dan motif yang diinginkan. Barulah kain-kain itu nantinya dirangkai dengan cara dijahit hingga membentuk benda-benda yang diinginkan semisal tas, dompet, atau lainya.
c. Wisata Edukasi Lingkungan
Memang di Sukunan ini tidak hanya terkenal dari hasil produksi barang daur ulang, tetapi juga terkenal karena Wisata Edukasi yang bertemakan lingkungan atau Ecotourism. Wisata edukasi mengenai sistem pengolahan sampah di Desa Sukunan ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi masyarakat luas. Wisatawan akan diajak berkeliling desa untuk melihat lebih dekat sistem pengolahan sampah Desa Sukunan. Wisatawan akan ditunjukkan bagaimana aktivitas rumah tangga di Desa Sukunan sudah mulai biasa untuk memilah-milah sampah antara sampah organik dan anorganik. Ketika keliling desa, wisatawan akan melihat ketersediaan tong-tong penampungan sampah di setiap sudut gang yang telah dikategorikan dalam 3 jenis sampah yang kini juga telah banyak digunakan masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Selain itu, jalanan di Desa Sukunan juga terlihat bersih dari sampah karena terciptanya kesadaran masyarakat Sukunan untuk membuang sampah berdasarkan jenis dan pada tempatnya.
Seiring dengan itu dapat pula mengembangkan objek wisata edukasi yang dapat ditawarkan pada wisatawan hingga dapat menjadi sebuah sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat. Nama pemukiman yang sampah dan lingkungannya dikelola secara baik akan terus dikenal, dijadikan tempat study banding dan akan selalu mengundang wisatawan untuk datang menikmati sajian wisata edukasi bertema ekologi.
3. Meningkatnya Nilai-nilai Ekologi
Sumbangan terbesar yang bisa diberikan oleh masyarakat dimanapun baik di kota mapun di desa adalah peningkatan nilai-nilai ekologi kawasan tersebut. Konsensus yang telah dibentuk oleh masyarakat itu memberikan sebuah pola hidup ramah lingkungan dengan cara peduli dan mau secara langsung terlibat dalam aksi-aksi pengelolaan limbah. Masyarakat perkotaan dapat memberikan contoh nyata bahwa limbah-limbah anorganik yang pernah dikatakan sebagai limbah yang tidak bermanfaat dapat di daur ulang dan ternyata bisa dimanfaatkan pula sebagai bahan sebuah karya kreativ kerajinan. Kegiatan ini membuat sampah-sampah di lingkungan sekitar pemukiman berkurang .
DAFTAR BACAAN.
Bebassari, Sri. 2008. Integrated Municipal Solid Waste Management toward ZERO WASTE Approach. Center for Assessment and Application of Environmental Technology. Jakarta. Selasa, 16 Desember 2008, 08.13 WIB. (http://www.pudsea.ugm.ac.id/ document/ bebassari.pdf).
Hadi, Sudharto P. 2005. Dimensi Lingkungan : Perencanaan Pembangunan. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.
Hadiwiyoto, S. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idayu. Jakarta.
Suyoto, Bagong. 2008. Rumah Tangga Peduli Lingkungan. Prima Media, Jakarta.
SNI T-13-1990-F tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, Badan Standar Nasional. Jakarta.
SNI -T-12-1991-03. Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman. Badan Standar Nasional. Jakarta.
SNI T-13-1990-F tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan. Badan Standar Nasional. Jakarta.
SNI -T-11-1991-03. Tata cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Badan Standar Nasional. Jakarta.
UU 18/2008 ttg Pengelolaan Sampah
UU 23/97 ttg Lingkungan Hidup
UU No 7/2004 ttg SDA
UU 32/2004 (otonomi daerah)
PP 16/2005 (perlindungan air baku)
PP 38/2007 (kewenangan Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah kab/Kota)
Permen PU 21/PRT/M/2006 (Kebijakan & Strategi Nasional Persampahan) NSPM (SNI) bidang persampahan

siluet cinta

Posted August 11, 2014 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

Siluet cinta [3]

Detak jiwa adalah sungai jeneberang
Denyut pepohonan dan semilir angin gunung
Bertiup lembut dari puncak bawakaraeng
Tamanmu kini tersentuhkan jemari cinta
Seseorang telah merenggut bunga cinta
Dari lembah burung burung
Kau dengar syair cintaku pada gemercik air dibawah batu
Kelepak burung gagak dan geliat ikan lele
Adalah bayang wajahku yang lelah menyeret topeng topeng

Siluet cinta [4]

Kukenal dirimu
Dalam berjuta mimpi galau
Kukenang engkau istriku
Dengan wajah dan tubuh mungil
Wajah pasih dengan pelupuk mata sayu
Pulaumu dengan bangunan segi tiga mungil
Menjulang dalam mimpi sebuah pulau
Semua seperti nyata, karena mimpi mewujud nyata
Diriku seperti perahu jolloro
Yang berlayar di alam tak berbintang
Tanpa kemudi, tampak bentuk yang nyata,
tanpa layar
Yang membawa hasratku melupakan
benda benda buta
Membawa ringkik terakhir
Kuda kuda kasmaran

Siluet cinta [5]

Seekor lalat pebangkai
Liar mengepakkan sayap sayapnya
Lalat hijau lumut hinggap di sebuah luka
penuh nanah
Adalah lukaku yang meradang di pagut rindu
Malam bergerimis di tingkah suara tokek
Yang lebih memperjelas lengang sepi
Betapa sedih sepi itu
Betapa perih

Siluet cinta [6]

Lalat hijau lumut melepas sayap sayapnya
Aku berlari mengejar sayap sayap
Di lekuk langit, di celah angin dan fatomorgana
Betapa sedih sepi itu
Betapa perih

Siluet cinta [7]

Di celah sisa kapak sayap lalat hijau lumut itu
Seorang perempuan mungil berwajah
tanpa dosa
Mencoba memeras susu cinta
Dari pohon pohon kehidupan
Gumannya lirih memecah hening malam
Maka malampun mengalir bersama wewangian
Terbawa arus sungai je’ne’berang
Ke mimpi mimpi terjauh
Maka hari hari kemarin berlarian tanpa arah
Mimpi mimpi pun mengalir
ke daerah tak bertuan
Seperti juga kawanan burung pipit
Terbatas menjauh bersama deru angin

Siluet cinta [8]

Ada berjuta rindu mengambang
Dalam sebuah kamar penuh jendela
Sebuah kamar yang telah lama dipasung sepi
Aku pun telah lama menunggumu di sana
Dengan kedua kaki juga terpasung
Dua tangan terkulai layu
Sesekali cahaya mentari pagi menjengukku
Bersama aroma mawar di taman
Aku di sini menangis
Seorang lelaki bugis menangis
Aku tak sanggup membangun jembatan sunyi
Aku adalah batu menangis
Yang mencoba lari dari takdir fanaku

Siluet cinta [9]

Di sebuah kamar pengap
yang mabuk asap rokok
Seorang lelaki kusam tengah membenamkan jiwanya kepembaringan
Bau apek keringat dan amis luka jiwa
Melekat di langit langit kamar

Kepak burung hantu terdengar menjauh
Meninggalkan lolongan anjing di tingkahi petir
Aku tahu sebentar lagi subuh tiba
Selepas azan dan seluruh semesta bersujud
Mentari segera kan dinyalakan
Langit dan bintang bintang bertabur cinta
Mendayung malam kemuara sunyi

Siluet cinta [10]

Aku cinta kamu
Pekikku di deru angin
Aku butuh kamu
Pekikku di badai musim
Semua lelaki petarung butuh waktu sekejap
Untuk melepaskan beban hari hari beku
Kuingin membacakan mantera mantera beraroma berahi
Kuingin membacakan syair syair penaut sukma
Tentang jolloro yang berlabuh malam malam
Tentang seorang perempuan bugis
Berbaju bodo kasumba
Menanti cemas bersama cinta bersayap dusta

Siluet cinta [11]

Suatu hari nanti
Meskipun hari hariku masih kerontang
Kuingin sajak cintaku ini
Menjadi kubangan sejuk bagi gerah siangmu
Lumpurnya meskipun pekat
Masih tersisa aroma bunga sedap malam
Juga kecut keringat sang petualang cinta
Sekali waktu nanti
Kuharap sajak cintaku
Menjadi angin sejuk, yang membangunkanmu dari mimpi
Memberi arah pada jalan jalan di gelap malam
Di jalan jalan tanpa tepi di terang siang

Siluet cinta [12]

Pada pucuk pucuk pepohonan mana
kutitipkan rindu
Diketika engkau datang bersama riak angin
Meng usik usik khayal
Sementara anjing anjing pekebun
Di punggung bukit malino
Masih saja seperti di malam malam kemarin itu
Setia melolongkan kesuyian nurani
Pada pucuk pucuk cemara mana lagi kulantunkan cinta
Diketika engkau datang seperti di tahun tahun kemarin
Masih saja dengan senyum itu menikam ruang keakuan diri
Batinku merintih rintih
Masih adakah engkau
Pada rindu rindu malamku?

Siluet cinta [13]

Aku terjebak
Antara bumi dan langit
Di antara hutan dan kota gersang
Di antara belukar dan padang ilalang
Bakaran asap,lelahan lafa dan raung knalpot
Tak pernah sepi dari lagu para pemimpi
Labirin dan pusaran hati rapuh
Adalah ketakutan ketakutan bias
Ketika kabut asap melingkar
Dalam gelombang jerit sang dajjal
Bulan bercadar dalam genangan bara
Menggelepar di kekosongan jiwa
Di manakah lagi pertemuan pusaran
Antara ada dan tiada

Siluet cinta [14]

Aku adalah,
Seorang lelaki penuh luka
Berlari dalam gerimis
Mengejar angan
Mengejar bayang bayang
Saat malam tiba
Rembulan pecah dalam orgasme semu
Terkulai di pasung duka lama
Waktu telah menyeret hasrat ketitik beku
Karena lena dalam angan sendiri
Padahal telah berbekal puisi
Aku adalah pemantera takdirku
Seorang lelaki dengan wajah letih
Hilang dalam bayang hujan.

Siluet cinta [15]

Malam malam cintaku
Hanyalah ruang dan waktu
Dikabut tabir hitam
Terbentang diseantero ruang
Hening,
Selagi cintamu datang bertamu
Kau merayu
Katamu kesempatan kita telanjang
Dan aib kita pasti tertutupi
Aku menampik
Hatiku berkata
Justru dalam kegelapan
Rahasia kan tersingkapkan

Siluet cinta [16]

Tiba tiba
Cintamu asing bagi sukmaku
Meskipun dikejauhan
Ada kerlip kunang
Terbang menjauh kerumpun bambu
Lalu terbaca serpihan rindu
Pada pelepah daun lontara
Ada terbaca juga
Isyarat kematian cintamu
Dibayang kelam malam

Siluet cinta [17]

Cinta kita
Dalam sekeping credit card
Demam sop ubi dan pallumara
Hanyalah basa basi cinta

Siluet cinta [18]

Permata mutu manikam itukah
Yang terserak dalam benakmu
Yang menghalau cinta kita
Kedalam brankast
Padahal malam ini
Ingin aku mengajakmu
Berlayar kepulau cinta
Kenegeri cinta tana “ogi”
Tempat Sawerigading
Menggilai we Tenriabeng
Selagi aku bisa
Ingin aku mengajakmu
Berlayar kenegeri Cina
Tempat Sawerigading
Menyunting We Cudai
Gelombang cintakupun jadi deru
Dalam badai purba.
Segila itukah aku mencintaimu
Mengejarmu ke “uriq liu”
Dan juga ke “ Boting langiq”
Membayangimu ke “Mayapada”
Negeri legenda para leluhur
Negeri cinta yang tak pernah usai.

Siluet cinta [19]

Di ruang Ungu Aku tahu,
Kekasihku lagi lara menunggu
Diatas ranjang pengantin
Pasrah dipermainkan angin.
Malam ini
cintanya telah kulipat
jadi arsip lusuh
kusimpan dilaci meja kerja
walaupun cintanya
tetap menjadi kenangan
dan tak pernah mati mati
oh ruang dan waktu
yang terentang tak bertepi
bagaimana mungkin memelihara cintaku
meskipun diseberang jauh
cintanya masih menyungging senyum

Siluet cinta [20]

Pada setiap desau angin
Pada setiap desah nafas kekasih
Mengendaplah kata rayuan cinta
Jadi batu dan prasasti
Pada setiap jarak dan waktu
Mengendaplah rindu jadi kesumat

Siluet cinta [21]

Di pebukitan Pare Pare
Di kawasan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional
Dibawah antena satelit indra jarak jauh
Malam baru saja berpijak dalam hening sunyi
Disini juga
Sama ketika malam malam di Konstantinopel
Selalu saja kubayangkan cintamu
Rebah dalam puisi puisiku
Memberi rasa malam malamku yang sunyi
Ada kaok gagak merobek sepi
Memperjelas rindu hati.

Siluet cinta [22]

Pun kutahu
Begitu lekat cintaku.
Memesrahi laut dan pulaumu,
Berpusar hari ditebaran pasirnya.
Tak ada yang berpaling.
Tak ada yang berpisah.
Laut darat,biru dan hijaumu.
Kurelung sampai kedasarnya.
Dan diriku ada padamu.

Siluet cinta [23]

Di canberra,
Sepasang kaki bocah aborigin,
Berlari melintasi stepa dan savana.
Dengan dijeridu dipunggung,
Bumerang ditangan kanan.
Berlari menyusur waktu mengejar segerombol kangguru,
Kebatas pengharapan.

Dan tiba tiba.
Mata nanar terkesima,
Memandang padang perburuan,
telah menjadi kota para elite.

Siluet cinta [24]

Engkau pernah menangis
dalam sms mu menghibahiba.
Dan pulsamu secara mena menuduhku
telah menancapkan panah panah cinta,
tepat di hatimu dari arah punggungmu.
entahlah siapa yang menancapkan
panah cinta yang beracun itu dipunggungmu,
Karena aku tak pernah
menebar panah panah cinta,
gulana sekian masa membutakan mata cintaku.
Mataku masih memiliki
pandangan abu keabuabuan
tentang ihwal cinta
bersama beberapa perempuan
yang setiap saat datang dan pergi secara mena.
Cinta para binal
telah kukuburkan dalam dalam,
dalam rongga perut para penjaja cinta

Siluet cinta [25]

Dengarkan kepak kepak camar yang terbang rendah.
Pertanda malam telah ranggas diceruk bandar.
Mengapa kapalmu belum juga bertolak.
Sedang kemudi telah terpasang.
Terlalu pengecut kau,
Jiika takut dengan badai yang kau buat sendiri.

Siluet cinta [26]

Di ochard road.
Seperti engkau yang menunggu diujung jalan.
Dengan dua tangan menjinjing tas plastik.
Sarat muatan baju model cina.
Gelang dan sari india.
Seperti engkau yang memanggil manggil dipengkolan.
Dengan mata berbinar binar menahan hasratmu.
Dingin malam dan rintik gerimis.
Seperti tak kuasa menahan gairahmu.

Siluet cinta [27]

Losari,
Ketika bayi matamu bening,
Segemerlap rona selat makassar.
Ketika belia dadamu segulung gelombang,
Tempat camar laut menukikkan birahi.
Ketika dewasa wujudmu gusung tanah tumbuh,
Tempat jenneberang tumpahkan lumpur.
Ketika renta nanti ,
Wajahmu malam tanpa gemintang.
Dimana angin melabuhkan senyap.

Siluet cinta [28]

Pemburu cinta
Lolongmu gemuruh,
Seperti Lolong beribu serigala jadijadian
disinari purnama.
Cintamu telah mati,
Bisik para kuntilanak
dicelah dedaunan yang rontok.
Dibawah kepak sayap sang dajjal,
Dedaunan yang rontok,
Menjelma jadi gelombang panas
Tumpah dilembah gersang.
Berbilang musim sudah,
Hutan,sungai, dan langit semakin sekarat,
Angin menjelma naga raksasa,
Menerkam dari punggung bukit.
Memamah luka cinta jadi nestapa.
Cintamu telah mati,
Pekikku dideru angin.

Siluet cinta [29]

Jiwaku sepertinya sebuah darmaga
tempat bersandarnya kapal kapal ikan dari samudra lepas.
Tali temali kapal,
Jangkar dan jaring,
Serta tebaran keranjang keranjang ikan yang amis.
Angin kering dari laut
berwarna abu keabuabuan,
Semua metafora kehidupan kasar dan keras.
Ada disini.
Hidup Penuh ketidakpedulian dan ketidakakraban.
Tiang tiang layar seperti jalinan kemanusiaan
yang saling meniadakan.
Waktupun selalu bersiaga berkemas.
Mencengkrama kapal kapal yang datang dan pergi.

Siluet cinta [30]

aku terperangkap,
antara cinta dan nafsu.
bakaran kemenyan dan aroma berahi,
pun lelehan cinta biru,
tak pernah sepi dari lagu lagu mimpi.

aku melata dalam sunyi malam
mengapung dalam mimpi mimpi siang.
ruang labirin dan pusaran hati luka.
adalah paranoida semu,
ketika badai cinta melingkar dalam gelombang jerit sang nafsu.

bulan pecah melelehkan lukanya,
terpercik di wajah wajah,
dimanakah lagi pertemuan antara cinta dan nafsu.

Siluet cinta[31]

kalaulah temali harfa telah dipetik.
alunannya membetot temali sukma.
pastilah kusanggup pecah dalam seribu cinta.

meskipun ragaku terkurung dalam perangkap misteri.
tembok tembok tua forbidden city.

kalaulah genderang telah ditalu.
gempitanya merobek wajah wajah birahi.
pastilah kusanggup remuk dalam seribu duka.

terlalu naif biarkan khayal,
kembara dilorong lorong harem.
sementara gadis gadis cina,
berbalut sutera tipis,
menanti cemas pada cinta bersayap dusta.

Siluet cinta [32]

aku bangga,
menjadi bagian dari cintamu.
meskipun cintaku tumbuh liar,
bagaikan ilalang di gurun tandus.

aku bahagia,
menjadi bagian dari sukmamu.
yang mengapungkan gairah panas dingin.
seperti pohon korma
yang meliuk di tengah oase.

aku rela,
menjadi bagian dari kuasamu.
meskipun telunjukmu menentukan
putaran bumi,bulan dan matahariku.

Siluet cinta [33]

dilangit,
telah berkali tersirat isyarat.
tapi mata kasadku rabun.
tak manpu membaca tanda zaman.
lewat bahasa nirkata yg tak kukenal.
pun mata fanaku,
telah menyeret roh manusiaku
kenegeri cinta.
ada bulan rindu gerhana.
saat para malaikat lontarkan pekasih.
mabuk kepayangnya kesegala arah.
jalan jalan melingkar tak berujung,
para pencinta semakin sesat.
hingga hilang segala arah.
akupun disini terkapar dalam luka cinta

Siluet cinta [34]

lolongmu gemuruh
seperti beribu tombak air
meluncur dari celah hutan kerontang
pepohonan yg tersungkur
dedaunan yg rontok
menjelma jadi gelombang di lembah gersang
berbilang tahun sudah
hutan,sungai,telaga,pantai,bumi dan langit semakin sekarat
air menjelma naga raksasa
menerkam dari punggung bukit
memamah bencana jadi duka
kini kutimang banjirmu.
Dalam mimpi yang dingin.

Siluet cinta [35]

pada pucuk pucuk pepohonan mana kutitipkan rindu,
diketika engkau datang bersama riak angin,
meng usik usik khayal.
sementara anjing anjing pekebun.
dipunggung bukit sillanang,
masih saja seperti dimalam malam kemarin itu,
setia melolongkan kesuyian nurani.
pada pucuk pucuk cemara mana lagi kulantunkan cinta.
diketika engkau datang seperti ditahun tahun kemarin.
masih saja dengan senyum itu,menikam nikam ruang keakuan diri.
Ubunku retak,
Masih saja dalam perangkap pikir yang tak pasti.
Masih adakah engkau dalam rindu rindu malamku.

Siluet cinta [36]

aku terjebak,..
antara bumi dan langit
diantara hutan dan kota gersang
diantara belukar dan padang ilalang
bakaran asap,lelehan lava dan raung knalpot
tak pernah sepi dari lagu para pemimpi
labirin dan pusaran hati rapuh
adalah ketakutan ketakutan bias
ketika kabut asap melingkar
dalam gelombang jerit sang dajjal
bulan bercadar dalam genangan bara,
menggelepar dikekosongan jiwa
dimanakah lagi pertemuan pusaran antara ada dan tiada.

Siluet cinta [37]

Segulung ombak,
Dengan mata garang.
Bergegas menelan rembulan.
Menenggelamkan rohnya.
Dikedalam pusaran laut.
Langitpun gulita.
Bias warna warni laut.
seperti lempengan cermin pecah.
Mebiaskan bayang bayang semu.
Lautpun gamang,
Hening senyap.

Siluet cinta [38]

sampaikan rinduku,hai debur ombak.
pada kekasih kekasih gelapku
yang tertinggal di pantai.
aku kini telah jauh melintasi tujuh pulau,
tujuh selat,tujuh samudra
segala angin terus menderu
segala ombak terus berdebur
segala badai terus melintas…
rinduku ini,andaipun tak sampai
telah kuukir dipasir pantai
tempat buih buih putih memecahkan rindu
andaipun kemudian,
matahari tersungkur di samudra
maka lepaskan cintaku
tenggelam ke palung yang paling dalam.

Siluet cinta [39]

Dengarkan kepak kepak camar yang terbang rendah.
Pertanda malam telah ranggas diceruk bandar.
Mengapa kapalmu belum juga bertolak.
Sedang kemudi telah terpasang.
Terlalu pengecut kau,
Jiika takut dengan badai yang kau buat sendiri.

Siluet cinta [40]

Mencintaimu,
Seperti aku memeluk batu.
Menanti birahi cintamu.
Seperti menunggu batu tumbuh.
Aku punya air untuk menyejukkanmu.
Bukan untuk menenggelamkanmu,
Dalam dendam kesumat.
Matamu yang memandangku bagai sekubang lumpur.
Takkan pernah menyakitiku.
Dan aku tak membencimu karena itu.
Cuma perih,
Yang membuatku hanyut.
Rinai hujan menenggelamkanku,
Aku tenggelam didalam malam malamku.

Siluet cinta [41]

Runtuhnya perkawinan itu,
telah mengubah banyak hal.
Dan menyesakkan pandangan dalam melihat dirimu.
Engkau seperti pajangan pakaian dalam sebuah butik.
Aku lihat lelaki asing itu,
Masih berdiri dipinggir kasir,
Kedua tangan menjinjing tas belanjaan berisi hati dan jantungku yang digenangi airmata,
Dikepalanya menjunjung kemaluanmu yang mencibir dengan kesombongan materialistik komsuntif.

Siluet cinta [42]

Cinta itu telah mati.
Sesungutan aku menangisi mayatnya yang tak lagi asli.
Mayat dengan rambut panjang disambung,
Wajah pucat pasih,
masih terpolesi krim pemutih,
dagu dan hidung silikon.
Dibalik mayat cinta itu
tersimpan banyak rahasia kehidupan yang meng illusi,
Metafora dari kehidupan dan kematian.

Siluet cinta [43]

Masih tercium bau rambutmu yang terbakar birahi.
Saat panah amour menoreh putikmu yang ranum.
Seperti aku mengingat kembali
saat matamu binal melumat syahwatku,
Dalam sanggama takdir yang galau.
Sebuah pohon lontara tumbang,
Ketika bintik bintik keringat dihidungmu
mulai berbau miras dan asap rokok.
Akupun terhanyut dalam bayang angelina jolie.

Siluet cinta [44]

Matahari terik dan bulan gerah,
Telah mengubah pandanganku tentang cinta.
Warna warni bumipun semakin tak merona seperti biasa,
Mestinya hijau keemasan disiang hari,
Hitam benderang dimalam hari.
Angin gerah berhembus dari laut,
Sepertinya ingin menggantikan seluruh rimbun dedaunan pohon,
Menjadi ranting tua yang nantinya
terserak tak berdaya dipinggir jalan kota tua.
Gelombang dari laut yang menghempas ditepian pasir putih.
Tak berdaya menjadikan bintang jatuh menjadi onggokan karang.

Siluet cinta [45]

Sebuah mobil mewah dalam kemacetan kota metropolitan.
Didalamnya sepasang perempuan sejenis lagi dimabuk cinta.
Karena mereka kehilangan genetik biologi normal.
Sejak awal mereka telah merindukan jalanan yang meledak.
Juga sejumlah emisi karbon
hasil raungan knalpot yang mengapung keudara siang.
bersama kaum intektual kolotan
yang gila aktualisasi diri
memperebutkan oxigen yang gerah.
Sementara anak anak miskin
membagikan kaleng tadahan dgn suara cempreng

Siluet cinta [46]

Ini segenggam bunga sedap malam.
Hadiah untuk ibu maha kekasih.
Yang banyak mengajariku pandangan
tentang perempuan perempuan pilihan.
Aku sementara mencari putri cinta.
Seperti memasuki sebuah novel shakespiere,
Yang sarat melodrama tragis.
Terkadang kumenemukan putri jelita,
namun terasa asing.
Bagi bobot,bebet,bibit ibuku.
Kebencian dan ketakutan berlebihan,
Setiap berpapasan dengan perempuan perempuan
yang mau mencampakkan sepatu cinderella
Siluet cinta

Siluet cinta [47]

Perempuan perempuan berpayudara silikon,
Hidung pinokio silikon,
Masuk mengusik bisingnya malam.
Musik cadas mengutus syahwat.
Menjepit benci dalam capit cinta.
Membentuk laut birahi,
Tiang tiang cinta berukir sperma.
Hai dajjal,
Masuklah dengan tongkat kuasamu

Siluet cinta [48]

Padang ini semula dingin,
Cinta yg tumbuh,
Bagaikan bunga bunga kaktus.
Takkan pernah mampu mengoyakkan gaunmu.
Kuda kuda hitam,
Mengejar bayang bayang matahari.
Oh,siapakah lagi pencinta,
Yang akan kembara,
Diantara duri bunga kaktus,
Ditengah gurun yang gersang?

Siluet cinta [49]

Lena aku,
Dalam kembara yang tak habis habisnya.
Gurun ini adalah hamparan pasir berkilauan.
Tetapi di oase oase persinggahan.
Musim demi musim telah merobahnya.
Bisa apa lagi kita dengan cinta,
Setelah debu bersimbah diwajah kita,
Dan udara gerah begini?

Siluet cinta [50]

Angin gurun tiba tiba,
Datang lagi menghembuskan nafasnya,
Pada oase persinggahan ini.
Oh adakah engkau cinta,
Yang datang bertamu malam malam,
Digurun pengasingan ini??

Siluet cinta [51]

Musim birahi tiba,
Dan inilah aku,
Gerimis yang siap menghujam,
Lembahmu yang berdebu.
Dilanda kemarau panjang.

Siluet cinta [52]

Menatap laut,
Selalu saja kubaca sepimu.
Pada hamparan gelombang.
Cinta yang luka terentang tak bertepi.

Siluet cinta [53]

Menatap laut,
Terkadang kutemukan rindumum
Pada hamparan biru,
Sibakan buih putih,
Tetapi selalu saja fatamorgana,
Membiaskan warna warni semu.

Siluet cinta [54]

Menatap laut.
Selalu saja terbaca dendammu.
Pada debur ombak,
Gelombang yang surut,
Menyisakan langkah dikarang tajam.
Menatap laut,menatap laut.
Terasa ada dusta pada cintamu.

Siluet cinta [55]

Selamat pagi cinta.
Aku tengadah menatap matahari.
Sementara gerimis mesrah mengelusi bola mataku.
Karena memang kuingin ikut meratap.
Betapa kemesraan itu begitu cepat berakhir.
Begitu pagi masih
Diantara kita ada batas semu.
Terlihat tapi tak tergapai.
Seperti fatamorgana.
Didadamu bergema lonceng gereja,
Dan nyanyian nyanyian kudus.
Sedang didadaku mengalun azan dan takbir,
Menggetarkan jiwaku.
Diantara kita ada batas semu.
Terlihat dan takkan tersentuhkan.
Ronamu bergores cahaya bintang.
Sedangkan sukmaku melata,
Dibelantara bernuansa tanpa makna

Siluet cinta [56]

Aku telah memetik bunga bunga cinta.
Dari lembah lembah tak bertuan.
Adakah engkau kasihku,
Cinta pertama dan terakhirku.
Sedang tamanmu tak tersentuhkan jemari cinta.

Siluet cinta [57]

Ada cinta yang tak pernah kau mengerti.
Diketika kelambu malam tersingkap.
Kebisuan selalu saja merentangkan jarak dan waktu.
Mengendapkan kata kata kedasar syakwasangka.
Cemeti malam menorehkan luka kesumat.
Mengendapkan rindu rindu malamku

Siluet cinta [58]

Pada pucuk pucuk pepohonan mana kutitipkan rindu,
Diketika engkau datang bersama riak angin,
Mengusik usik khayal.
Sementara anjing anjing pekebun dipunggung bukit sillanan,
Masih saja seperti dimalam malam tahun kemarin.
Setia melolongkan kesunyian nurani.

Siluet cinta [59]

Dan pada pucuk pucuk pepohonan itu,
Seperti ditahun tahun kemarin itu,
Masih saja engkau datang dengan senyum itu,
Menikam nikam ruang keakuan diri,
Ubunku retak,
Masih saja dalam perangkap pikir yang tak pasti.
Masih adakah engkau pada rindu rindu malamku

Siluet cinta [60]

dari bukit burung burung.
Mengalirlah beribu syahwat,
Jejak cinta yang memendam ketidakpastian.
Masihkah ada cinta yang tersisa.
Pada langit kelam,
Sedang disana beribu wajah jalang menggumpal jadi awan

Siluet cinta [61]

Dan lembah burung burung pun
serta merta mengapungkan beribu cinta hitam,
Gumpalan awan hitam pun
berlomba merintikkan airmata cinta.
Tanyaku,
Masih adakah gulana yang tersisa
dalam mata air cintamu.

Siluet cinta [62]

Di wellington.
Dari balik ketinggian menara lion red.
Sang Adam menatap tajam dingin.
Dan serta merta,
Sambil menunggang kereta asap.
Menyerbu keruang ruang diri.
Panah panah sodom lepas dari busurnya.
Mencabik cabik temali sakral.
Mencampakkan siapapun.
Kesudut sudut labirin,
Ruang dan waktu kejar mengejar.
Busur dan panah panah api tebar menebar.
Diruang ruang tak berdimensi.
Sementara sang Eva ,
Lelap dalam dengkur yang panjang.

Siluet cinta [63]

Untuk memasuki ruang cintamu.
Aku memakai topeng topeng.
Yang telah lama kau ciptakan.
Disebalik panggung pentasmu.
Lalu kemudian,
Kau dan aku memakai topeng topeng.
Seribu wajah cinta.
Hilangkan jejak,
Dari mata yang mencahari.
Samar dalam sorot lampu.
Siluet cinta.

Siluet cinta [64]

Monalisa dalam lukisan.
Adakah engkau cinta.
Dalam sekulum senyum.
Seperti sebidang magnit.
Yang selalu siap menyeretku.
Keluar dari kutub kutub nyata.
Lalu mengapungkan anganku.
Keruang ruang illusi cinta

Siluet cinta [65]

Di Istanbul,
Aku datang ketepi jalan istiqlal.
Membeli segemggam biji sukun bakar.
Kukupas kulitnya helai demi helai.
Seperti menghitung tasbih,
Sementara hujan salju bergulir.
bersama bulir airmataku.
Mengenangmu,
Dan aku mengenangmu,oh istriku.
Ditengah malam turki yang beku.
Kurasakan kelembutan biji sukun,
Seperti kelembutan qalbumu,
Yang pernah kudamba.
Kristal cinta yang mengental jadi cermin.
Arahan ketika melangkah,
Merengkuh dua hati dalam detak nadi,
Dicelah gerai rambut yang bermain ditelingamu,
Pernah kubisikkan pesona.
Aku milikmu,
Dunia akhirat.
Kuingin memelukmu lagi seperti kemarin,
Seperti ketika aku merasa,
Kau milikku,dan aku adalah akumu.
llahi rabbi
Kukunyah biji sukun,betapa getirnya.
Tapi Engkau tahu,
Hatiku lebih getir.
Disepanjang perjalanan malam aku gelisah.
Mencoba membunuh mimpi dan khayal dengan sia sia.
Siapakah yang tahu deritaku ini?
Pun jika langit runtuh,
Siapa percaya kepedihan ini?

Siluet cinta [66]

Di Bursa east europe,
Dalam geliat petang.
Sebongkah bola salju.
Seperti mutiara jatuh.
Pecah berhamburan.
Seperti cintaku.
Badai salju yang dingin.
Daun pintu gemeretak bergetar.
Patah dalam dingin.
Seperti hatiku.
Burung burung camar salju.
Hidup tanpa sarang.
Mati tanpa kuburan.
Seperti cintamu.

Siluet cinta [67]

Pernah di suatu masa
Rembulan tunjukkan tubuhnya
Yang hitam telanjang
Seluruh penghuni kampung
Bergegas turun ke lapangan
Dan bagaikan sihir
Lelaki dan perempuan
Telanjang dalam gelap
Anak lelaki-perempuan
Menabuh genderang
Memaksa sang naga
Memuntahkan rembulan Losari

Siluet cinta [68]

Ketika bayi
Matamu bening
Segemerlap rona selat makassar
Ketika belia
Dadamu segulung gelombang
Tempat camar laut menukikkan berahi
Ketika dewasa
Wujudmu gusung tanah tumbuh
Tempat je’ne’berang tumpahkan Lumpur
Ketika renta nanti
Wajahmu malam tanpa gemintang
Di mana angin melabuhkan senyap

Siluet cinta [69]

Pun masih nampak tegar
Tapi musim telah banyak merubahnya
Dalam bungkus modernitas
Dalam diamnya batu batu batin
Yang melanjutkan usia
Menghirup sisa nafas
Dari seuntai nafas yang menggantung
Pada roh patotoe
Pun riak gelombang badai musim
Tak mampu menghapus jejak peradaban
Entah sampai tidak jejak kita
Mencari biang sejarah
Di bias bittarae

Siluet cinta [70]

Hai belly dancer,
Ombak kecil.
Yang beriak runtun diperutmu.
Segetar gulungan gelombang dilengan,
Segemuruh hati yang gairah.
Kaki getar gemerincing.
Didalam tapaknya sendiri.
Bergetar cemari jari.
Menggapai penghujung pantai.
Aku mabuk laut.
Terombang ambing diatas kemudi.
Bagaimana mungkin seimbangkan diri.
Laut begitu bergelombang.

Siluet cinta [ 71\

Di kawasan bursa,
Aku bergelantungan,
Diantara penumpang kereta gantung.
Menyusur bentang pebukitan salju.
Dan engkau disana,gadisku.
Gadis dalam mimpi Alexandria.
Ketika untuknya.
Sang penakluk menyerbu constantipel.
Dipekat malam yang beku.
Dan akupun sertamerta.
Berburu melawan kodrat.
Untuk mencumbumu,
Sekalipun dalam illusi.

Siluet cinta [72].

Takjub dalam diam.
Ketika berdiri dibelahan sungai Nil,
ditepi timur yang gerah.
Dibelantara makam dan kuil kuno.
Pada punggung piramida,
Dan patung para Pharaoh.
Maharaja cinta,
Amenhotep,
Tutankhamen.
Penerus roh dewa Amon.
Terpaku dalam patung batu.
Tertidur dalam mimpi Mesir.
Diruang dan waktu purba.
Para Firaun,
Pemendam harta karun.
Kekehidupan abadi.
Sementara diluar,
Orang orang mati.
Dalam jilatan roh dewa Ra.
Membangun kota labirin.
Kota kota kematian

Siluet cinta [73]

Pada langit yang berpoleskan warna merah kesumba.
Pada sepadang pasir yang terbungkus debu debu panas.
Pada pohon pohon korma yang enggan tumbuh.
Pada reruntuhan kota kuno Thebes.
Pada puing kuil dan phyramida.
Pada rahim bumi yang sarat emas permata.
Pada rintihan gairah sungai Nil.
Pada roh penerus dewa Amon.
Pada darah abadi Amenhotep.
Pada darah abadi Tutankhamen.
Pada bias senyum Cleopatra.
Para Pharaoh dan Firaun.
Menitipkan mimpi mimpi Mesir.
Keruang dan waktu bisu.

Siluet cinta [74]

Di tamaki makau rau auckland.
Tiba tiba begitu lugu wajah kota.
Mengaca dalam riak riak ombak.
Membias dalam buih dipasir pantai.
Aku terpana,
Di parnell rose garden.
Didalam ombak mawar.
Semarak warna cinta.
Menghadap kepuncak rangitoto.
Seperti memandangi sepi hati sendiri.
Ada bulan hampir gerhana.
Sinarnya menetes diatas teluk hauraki.

Siluet cinta [75]

Atas nama kesejahteraan.
Pembantai menyerbu kehidupan laut.
Perangpun digelar.
Sumbu sumbu maut disulut.
Dan pukat ganaspun dilepas,
Atas nama kesejahteraan,
Terumbu karang pecah,
Habitat laut terkoyak.
Biota biota laut sekarat.
Sirip sirip kecil itupun patah,
Sisik sisik putih lepas menabur pasir.
Dari tubuh tubuh yang telanjang.
Atas nama kesejahteraan.
Ombakpun menggeliat,
Biru tidak lagi sebiru laut.
Putih tidak lagi seputih buih.
Desah ombak,
Adalah laut yang sekarat.
Adalah aku yang gulana.
Sempurna dalam cinta.

Siluet cinta [76]

Segulung ombak,
Dengan mata garang.
Bergegas menelan rembulan.
Menenggelamkan rohnya.
Dikedalam pusaran laut.
Langitpun gulita.
Bias warna warni laut.seperti lempengan cermin pecah.
Mebiaskan bayang bayang semu.
Lautpun gamang.

Siluet cinta [77]

Peragawati,
Adalah kecantikan.
Adalah berpasang pasang kaki mulus.
Mondar mandir diatas catwalk.
Berpapasan saling silang.
Merenda ruang dan waktu,
Merenda sukmaraga.

Siluet cinta [78]

aku terjebak,..
antara bumi dan langit
diantara hutan dan kota gersang
diantara belukar dan padang ilalang
bakaran asap,lelehan lava dan raung knalpot
tak pernah sepi dari lagu para pemimpi
labirin dan pusaran hati rapuh
adalah ketakutan ketakutan bias
ketika kabut asap melingkar
dalam gelombang jerit sang dajjal
bulan bercadar dalam genangan bara,
menggelepar dikekosongan jiwa
dimanakah lagi pertemuan pusaran antara ada dan tiada.

Siluet cinta [79]

bebaskan aku.
demi kodrat manusiaku.
berangkat dari kelampauan masa lalu.
menyusur ruang dan waktu kini.
perisai akal budi ditangan kanan.
cemeti nafsu ditangan kiri.
atas ijin MU
baptis khalifah,
maka “Kun”
seperti Musa membelah laut merah.
dan pada palungnya mengubur benci.
maka Untuk Mu,
telah kubelah langit.
dimana relungnya kusembunyikan kelamin

siluet cinta [80]

Dari balik ketinggian menara lion red.
Sang Adam menatap tajam dingin.
Dan serta merta,
Sambil menunggang kereta asap.
Menyerbu keruang ruang diri.
Panah panah sodom lepas dari busurnya.
Mencabik cabik temali sakral.
Mencampakkan siapapun.
Kesudut sudut labirin,
Ruang dan waktu kejar mengejar.
Busur dan panah panah api tebar menebar.
Diruang ruang tak berdimensi.
Sementara sang Eva ,
Lelap dalam dengkur yang panjang.

Siluet cinta [81]

Di kawasan bursa,
Aku bergelantungan,
Diantara penumpang kereta gantung.
Menyusur bentang pebukitan salju.
Dan engkau disana,gadisku.
Gadis dalam mimpi Alexandria.
Ketika untuknya.
Sang penakluk menyerbu constantipel.
Dipekat malam yang beku.
Dan akupun sertamerta.
Berburu melawan kodrat.
Untuk mencumbumu,
Sekalipun dalam illusi

Siluet cinta [82]

Tolong,
Ajari aku dosa.
Seperti yang diajarkan eva,
Pada Adam.
Tapi maaf,
Aku alergi juice.
Dari sari buah khuldi.

Siluet cinta [83]

Kecantikan peragawati
Adalah berpasang-pasang kaki mulus
Mondar mandir di atas catwalk
Berpapasang saling silang
Merenda ruang dan waktu
Sempurna dalam senyum

Siluet cinta [84]

Pun kutahu
Begitu lekat cintaku
Memesrahi laut dan pulaumu
Berpusar hari ditebaran pasirnya

Tak ada yang berpaling
Tak ada yang berpisah

Laut, biru dan hijaumu
Kurelung sampai ke dasarnya
Dan diriku ada padamu

Siluet cinta [85].

Segulung ombak
Dengan mata garang
Bergegas menelan matahari
Menenggelamkan rohnya
Di kedalaman pusaran laut

Langitpun semarak
Bias warna warni laut
Seperti cermin pecah
Terhempas dihamparan bara

Lautpun gamang
Hening senyap

Siluet cinta [86]
Bulan pecah di tangan
Rapatkan jemarimu, adikku
Adakah engkau masih pencinta
Pada dentum petir di malam buta?
Sedang badik tetap saja
kau sarungkan di kelaminmu
Badik
Adalah tetes embun
Yang semestinya kau tikamkan
Di ubun nurani
Maka biarkan angin termangu di jendela

Siluet cinta [87]
Yang serba kaca
Kini telah kau tanggalkan
Kecuali
Sepatu cindirella
Yang memasang kakimu

Siluet cinta [88]

Phinisi putih
Yang akan membawamu bertolak
Lepas Arung samudera
Kini kian berkemas,
Entah penjuru mana lagi
Angin buritan akan mengembangkan layarmu
Entah ke laut mana arah kemudi
Engkaupun tidak mengerti
Tapi,Berbusung dadalah, nahkoda !
Karena badai yang selalu
Datang dan pergi
Ketika engkau berdiri tegak di anjungan
Tak sekalipun mampu
Mengoyakkan dada bugismu

[89]

Peluru apa yang kau bidikkan.
Meskipun aku berkelit,
Dan berlari beribu kilometer.
Tetapi tetap saja,
kepalaku ingin kau miliki,
sebagai sasaran ambisimu.

Peluru apa yang kau tembakkan.
Tepat menghujam jantungku.
Meskipun aku sembunyi.
Tetapi tetap saja.
Ingin kau rebut.
Seluruh kemerdekaanku..

mengejar tapak Allah

Posted August 11, 2014 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.