siluet cinta

Posted August 11, 2014 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

Siluet cinta [3]

Detak jiwa adalah sungai jeneberang
Denyut pepohonan dan semilir angin gunung
Bertiup lembut dari puncak bawakaraeng
Tamanmu kini tersentuhkan jemari cinta
Seseorang telah merenggut bunga cinta
Dari lembah burung burung
Kau dengar syair cintaku pada gemercik air dibawah batu
Kelepak burung gagak dan geliat ikan lele
Adalah bayang wajahku yang lelah menyeret topeng topeng

Siluet cinta [4]

Kukenal dirimu
Dalam berjuta mimpi galau
Kukenang engkau istriku
Dengan wajah dan tubuh mungil
Wajah pasih dengan pelupuk mata sayu
Pulaumu dengan bangunan segi tiga mungil
Menjulang dalam mimpi sebuah pulau
Semua seperti nyata, karena mimpi mewujud nyata
Diriku seperti perahu jolloro
Yang berlayar di alam tak berbintang
Tanpa kemudi, tampak bentuk yang nyata,
tanpa layar
Yang membawa hasratku melupakan
benda benda buta
Membawa ringkik terakhir
Kuda kuda kasmaran

Siluet cinta [5]

Seekor lalat pebangkai
Liar mengepakkan sayap sayapnya
Lalat hijau lumut hinggap di sebuah luka
penuh nanah
Adalah lukaku yang meradang di pagut rindu
Malam bergerimis di tingkah suara tokek
Yang lebih memperjelas lengang sepi
Betapa sedih sepi itu
Betapa perih

Siluet cinta [6]

Lalat hijau lumut melepas sayap sayapnya
Aku berlari mengejar sayap sayap
Di lekuk langit, di celah angin dan fatomorgana
Betapa sedih sepi itu
Betapa perih

Siluet cinta [7]

Di celah sisa kapak sayap lalat hijau lumut itu
Seorang perempuan mungil berwajah
tanpa dosa
Mencoba memeras susu cinta
Dari pohon pohon kehidupan
Gumannya lirih memecah hening malam
Maka malampun mengalir bersama wewangian
Terbawa arus sungai je’ne’berang
Ke mimpi mimpi terjauh
Maka hari hari kemarin berlarian tanpa arah
Mimpi mimpi pun mengalir
ke daerah tak bertuan
Seperti juga kawanan burung pipit
Terbatas menjauh bersama deru angin

Siluet cinta [8]

Ada berjuta rindu mengambang
Dalam sebuah kamar penuh jendela
Sebuah kamar yang telah lama dipasung sepi
Aku pun telah lama menunggumu di sana
Dengan kedua kaki juga terpasung
Dua tangan terkulai layu
Sesekali cahaya mentari pagi menjengukku
Bersama aroma mawar di taman
Aku di sini menangis
Seorang lelaki bugis menangis
Aku tak sanggup membangun jembatan sunyi
Aku adalah batu menangis
Yang mencoba lari dari takdir fanaku

Siluet cinta [9]

Di sebuah kamar pengap
yang mabuk asap rokok
Seorang lelaki kusam tengah membenamkan jiwanya kepembaringan
Bau apek keringat dan amis luka jiwa
Melekat di langit langit kamar

Kepak burung hantu terdengar menjauh
Meninggalkan lolongan anjing di tingkahi petir
Aku tahu sebentar lagi subuh tiba
Selepas azan dan seluruh semesta bersujud
Mentari segera kan dinyalakan
Langit dan bintang bintang bertabur cinta
Mendayung malam kemuara sunyi

Siluet cinta [10]

Aku cinta kamu
Pekikku di deru angin
Aku butuh kamu
Pekikku di badai musim
Semua lelaki petarung butuh waktu sekejap
Untuk melepaskan beban hari hari beku
Kuingin membacakan mantera mantera beraroma berahi
Kuingin membacakan syair syair penaut sukma
Tentang jolloro yang berlabuh malam malam
Tentang seorang perempuan bugis
Berbaju bodo kasumba
Menanti cemas bersama cinta bersayap dusta

Siluet cinta [11]

Suatu hari nanti
Meskipun hari hariku masih kerontang
Kuingin sajak cintaku ini
Menjadi kubangan sejuk bagi gerah siangmu
Lumpurnya meskipun pekat
Masih tersisa aroma bunga sedap malam
Juga kecut keringat sang petualang cinta
Sekali waktu nanti
Kuharap sajak cintaku
Menjadi angin sejuk, yang membangunkanmu dari mimpi
Memberi arah pada jalan jalan di gelap malam
Di jalan jalan tanpa tepi di terang siang

Siluet cinta [12]

Pada pucuk pucuk pepohonan mana
kutitipkan rindu
Diketika engkau datang bersama riak angin
Meng usik usik khayal
Sementara anjing anjing pekebun
Di punggung bukit malino
Masih saja seperti di malam malam kemarin itu
Setia melolongkan kesuyian nurani
Pada pucuk pucuk cemara mana lagi kulantunkan cinta
Diketika engkau datang seperti di tahun tahun kemarin
Masih saja dengan senyum itu menikam ruang keakuan diri
Batinku merintih rintih
Masih adakah engkau
Pada rindu rindu malamku?

Siluet cinta [13]

Aku terjebak
Antara bumi dan langit
Di antara hutan dan kota gersang
Di antara belukar dan padang ilalang
Bakaran asap,lelahan lafa dan raung knalpot
Tak pernah sepi dari lagu para pemimpi
Labirin dan pusaran hati rapuh
Adalah ketakutan ketakutan bias
Ketika kabut asap melingkar
Dalam gelombang jerit sang dajjal
Bulan bercadar dalam genangan bara
Menggelepar di kekosongan jiwa
Di manakah lagi pertemuan pusaran
Antara ada dan tiada

Siluet cinta [14]

Aku adalah,
Seorang lelaki penuh luka
Berlari dalam gerimis
Mengejar angan
Mengejar bayang bayang
Saat malam tiba
Rembulan pecah dalam orgasme semu
Terkulai di pasung duka lama
Waktu telah menyeret hasrat ketitik beku
Karena lena dalam angan sendiri
Padahal telah berbekal puisi
Aku adalah pemantera takdirku
Seorang lelaki dengan wajah letih
Hilang dalam bayang hujan.

Siluet cinta [15]

Malam malam cintaku
Hanyalah ruang dan waktu
Dikabut tabir hitam
Terbentang diseantero ruang
Hening,
Selagi cintamu datang bertamu
Kau merayu
Katamu kesempatan kita telanjang
Dan aib kita pasti tertutupi
Aku menampik
Hatiku berkata
Justru dalam kegelapan
Rahasia kan tersingkapkan

Siluet cinta [16]

Tiba tiba
Cintamu asing bagi sukmaku
Meskipun dikejauhan
Ada kerlip kunang
Terbang menjauh kerumpun bambu
Lalu terbaca serpihan rindu
Pada pelepah daun lontara
Ada terbaca juga
Isyarat kematian cintamu
Dibayang kelam malam

Siluet cinta [17]

Cinta kita
Dalam sekeping credit card
Demam sop ubi dan pallumara
Hanyalah basa basi cinta

Siluet cinta [18]

Permata mutu manikam itukah
Yang terserak dalam benakmu
Yang menghalau cinta kita
Kedalam brankast
Padahal malam ini
Ingin aku mengajakmu
Berlayar kepulau cinta
Kenegeri cinta tana “ogi”
Tempat Sawerigading
Menggilai we Tenriabeng
Selagi aku bisa
Ingin aku mengajakmu
Berlayar kenegeri Cina
Tempat Sawerigading
Menyunting We Cudai
Gelombang cintakupun jadi deru
Dalam badai purba.
Segila itukah aku mencintaimu
Mengejarmu ke “uriq liu”
Dan juga ke “ Boting langiq”
Membayangimu ke “Mayapada”
Negeri legenda para leluhur
Negeri cinta yang tak pernah usai.

Siluet cinta [19]

Di ruang Ungu Aku tahu,
Kekasihku lagi lara menunggu
Diatas ranjang pengantin
Pasrah dipermainkan angin.
Malam ini
cintanya telah kulipat
jadi arsip lusuh
kusimpan dilaci meja kerja
walaupun cintanya
tetap menjadi kenangan
dan tak pernah mati mati
oh ruang dan waktu
yang terentang tak bertepi
bagaimana mungkin memelihara cintaku
meskipun diseberang jauh
cintanya masih menyungging senyum

Siluet cinta [20]

Pada setiap desau angin
Pada setiap desah nafas kekasih
Mengendaplah kata rayuan cinta
Jadi batu dan prasasti
Pada setiap jarak dan waktu
Mengendaplah rindu jadi kesumat

Siluet cinta [21]

Di pebukitan Pare Pare
Di kawasan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional
Dibawah antena satelit indra jarak jauh
Malam baru saja berpijak dalam hening sunyi
Disini juga
Sama ketika malam malam di Konstantinopel
Selalu saja kubayangkan cintamu
Rebah dalam puisi puisiku
Memberi rasa malam malamku yang sunyi
Ada kaok gagak merobek sepi
Memperjelas rindu hati.

Siluet cinta [22]

Pun kutahu
Begitu lekat cintaku.
Memesrahi laut dan pulaumu,
Berpusar hari ditebaran pasirnya.
Tak ada yang berpaling.
Tak ada yang berpisah.
Laut darat,biru dan hijaumu.
Kurelung sampai kedasarnya.
Dan diriku ada padamu.

Siluet cinta [23]

Di canberra,
Sepasang kaki bocah aborigin,
Berlari melintasi stepa dan savana.
Dengan dijeridu dipunggung,
Bumerang ditangan kanan.
Berlari menyusur waktu mengejar segerombol kangguru,
Kebatas pengharapan.

Dan tiba tiba.
Mata nanar terkesima,
Memandang padang perburuan,
telah menjadi kota para elite.

Siluet cinta [24]

Engkau pernah menangis
dalam sms mu menghibahiba.
Dan pulsamu secara mena menuduhku
telah menancapkan panah panah cinta,
tepat di hatimu dari arah punggungmu.
entahlah siapa yang menancapkan
panah cinta yang beracun itu dipunggungmu,
Karena aku tak pernah
menebar panah panah cinta,
gulana sekian masa membutakan mata cintaku.
Mataku masih memiliki
pandangan abu keabuabuan
tentang ihwal cinta
bersama beberapa perempuan
yang setiap saat datang dan pergi secara mena.
Cinta para binal
telah kukuburkan dalam dalam,
dalam rongga perut para penjaja cinta

Siluet cinta [25]

Dengarkan kepak kepak camar yang terbang rendah.
Pertanda malam telah ranggas diceruk bandar.
Mengapa kapalmu belum juga bertolak.
Sedang kemudi telah terpasang.
Terlalu pengecut kau,
Jiika takut dengan badai yang kau buat sendiri.

Siluet cinta [26]

Di ochard road.
Seperti engkau yang menunggu diujung jalan.
Dengan dua tangan menjinjing tas plastik.
Sarat muatan baju model cina.
Gelang dan sari india.
Seperti engkau yang memanggil manggil dipengkolan.
Dengan mata berbinar binar menahan hasratmu.
Dingin malam dan rintik gerimis.
Seperti tak kuasa menahan gairahmu.

Siluet cinta [27]

Losari,
Ketika bayi matamu bening,
Segemerlap rona selat makassar.
Ketika belia dadamu segulung gelombang,
Tempat camar laut menukikkan birahi.
Ketika dewasa wujudmu gusung tanah tumbuh,
Tempat jenneberang tumpahkan lumpur.
Ketika renta nanti ,
Wajahmu malam tanpa gemintang.
Dimana angin melabuhkan senyap.

Siluet cinta [28]

Pemburu cinta
Lolongmu gemuruh,
Seperti Lolong beribu serigala jadijadian
disinari purnama.
Cintamu telah mati,
Bisik para kuntilanak
dicelah dedaunan yang rontok.
Dibawah kepak sayap sang dajjal,
Dedaunan yang rontok,
Menjelma jadi gelombang panas
Tumpah dilembah gersang.
Berbilang musim sudah,
Hutan,sungai, dan langit semakin sekarat,
Angin menjelma naga raksasa,
Menerkam dari punggung bukit.
Memamah luka cinta jadi nestapa.
Cintamu telah mati,
Pekikku dideru angin.

Siluet cinta [29]

Jiwaku sepertinya sebuah darmaga
tempat bersandarnya kapal kapal ikan dari samudra lepas.
Tali temali kapal,
Jangkar dan jaring,
Serta tebaran keranjang keranjang ikan yang amis.
Angin kering dari laut
berwarna abu keabuabuan,
Semua metafora kehidupan kasar dan keras.
Ada disini.
Hidup Penuh ketidakpedulian dan ketidakakraban.
Tiang tiang layar seperti jalinan kemanusiaan
yang saling meniadakan.
Waktupun selalu bersiaga berkemas.
Mencengkrama kapal kapal yang datang dan pergi.

Siluet cinta [30]

aku terperangkap,
antara cinta dan nafsu.
bakaran kemenyan dan aroma berahi,
pun lelehan cinta biru,
tak pernah sepi dari lagu lagu mimpi.

aku melata dalam sunyi malam
mengapung dalam mimpi mimpi siang.
ruang labirin dan pusaran hati luka.
adalah paranoida semu,
ketika badai cinta melingkar dalam gelombang jerit sang nafsu.

bulan pecah melelehkan lukanya,
terpercik di wajah wajah,
dimanakah lagi pertemuan antara cinta dan nafsu.

Siluet cinta[31]

kalaulah temali harfa telah dipetik.
alunannya membetot temali sukma.
pastilah kusanggup pecah dalam seribu cinta.

meskipun ragaku terkurung dalam perangkap misteri.
tembok tembok tua forbidden city.

kalaulah genderang telah ditalu.
gempitanya merobek wajah wajah birahi.
pastilah kusanggup remuk dalam seribu duka.

terlalu naif biarkan khayal,
kembara dilorong lorong harem.
sementara gadis gadis cina,
berbalut sutera tipis,
menanti cemas pada cinta bersayap dusta.

Siluet cinta [32]

aku bangga,
menjadi bagian dari cintamu.
meskipun cintaku tumbuh liar,
bagaikan ilalang di gurun tandus.

aku bahagia,
menjadi bagian dari sukmamu.
yang mengapungkan gairah panas dingin.
seperti pohon korma
yang meliuk di tengah oase.

aku rela,
menjadi bagian dari kuasamu.
meskipun telunjukmu menentukan
putaran bumi,bulan dan matahariku.

Siluet cinta [33]

dilangit,
telah berkali tersirat isyarat.
tapi mata kasadku rabun.
tak manpu membaca tanda zaman.
lewat bahasa nirkata yg tak kukenal.
pun mata fanaku,
telah menyeret roh manusiaku
kenegeri cinta.
ada bulan rindu gerhana.
saat para malaikat lontarkan pekasih.
mabuk kepayangnya kesegala arah.
jalan jalan melingkar tak berujung,
para pencinta semakin sesat.
hingga hilang segala arah.
akupun disini terkapar dalam luka cinta

Siluet cinta [34]

lolongmu gemuruh
seperti beribu tombak air
meluncur dari celah hutan kerontang
pepohonan yg tersungkur
dedaunan yg rontok
menjelma jadi gelombang di lembah gersang
berbilang tahun sudah
hutan,sungai,telaga,pantai,bumi dan langit semakin sekarat
air menjelma naga raksasa
menerkam dari punggung bukit
memamah bencana jadi duka
kini kutimang banjirmu.
Dalam mimpi yang dingin.

Siluet cinta [35]

pada pucuk pucuk pepohonan mana kutitipkan rindu,
diketika engkau datang bersama riak angin,
meng usik usik khayal.
sementara anjing anjing pekebun.
dipunggung bukit sillanang,
masih saja seperti dimalam malam kemarin itu,
setia melolongkan kesuyian nurani.
pada pucuk pucuk cemara mana lagi kulantunkan cinta.
diketika engkau datang seperti ditahun tahun kemarin.
masih saja dengan senyum itu,menikam nikam ruang keakuan diri.
Ubunku retak,
Masih saja dalam perangkap pikir yang tak pasti.
Masih adakah engkau dalam rindu rindu malamku.

Siluet cinta [36]

aku terjebak,..
antara bumi dan langit
diantara hutan dan kota gersang
diantara belukar dan padang ilalang
bakaran asap,lelehan lava dan raung knalpot
tak pernah sepi dari lagu para pemimpi
labirin dan pusaran hati rapuh
adalah ketakutan ketakutan bias
ketika kabut asap melingkar
dalam gelombang jerit sang dajjal
bulan bercadar dalam genangan bara,
menggelepar dikekosongan jiwa
dimanakah lagi pertemuan pusaran antara ada dan tiada.

Siluet cinta [37]

Segulung ombak,
Dengan mata garang.
Bergegas menelan rembulan.
Menenggelamkan rohnya.
Dikedalam pusaran laut.
Langitpun gulita.
Bias warna warni laut.
seperti lempengan cermin pecah.
Mebiaskan bayang bayang semu.
Lautpun gamang,
Hening senyap.

Siluet cinta [38]

sampaikan rinduku,hai debur ombak.
pada kekasih kekasih gelapku
yang tertinggal di pantai.
aku kini telah jauh melintasi tujuh pulau,
tujuh selat,tujuh samudra
segala angin terus menderu
segala ombak terus berdebur
segala badai terus melintas…
rinduku ini,andaipun tak sampai
telah kuukir dipasir pantai
tempat buih buih putih memecahkan rindu
andaipun kemudian,
matahari tersungkur di samudra
maka lepaskan cintaku
tenggelam ke palung yang paling dalam.

Siluet cinta [39]

Dengarkan kepak kepak camar yang terbang rendah.
Pertanda malam telah ranggas diceruk bandar.
Mengapa kapalmu belum juga bertolak.
Sedang kemudi telah terpasang.
Terlalu pengecut kau,
Jiika takut dengan badai yang kau buat sendiri.

Siluet cinta [40]

Mencintaimu,
Seperti aku memeluk batu.
Menanti birahi cintamu.
Seperti menunggu batu tumbuh.
Aku punya air untuk menyejukkanmu.
Bukan untuk menenggelamkanmu,
Dalam dendam kesumat.
Matamu yang memandangku bagai sekubang lumpur.
Takkan pernah menyakitiku.
Dan aku tak membencimu karena itu.
Cuma perih,
Yang membuatku hanyut.
Rinai hujan menenggelamkanku,
Aku tenggelam didalam malam malamku.

Siluet cinta [41]

Runtuhnya perkawinan itu,
telah mengubah banyak hal.
Dan menyesakkan pandangan dalam melihat dirimu.
Engkau seperti pajangan pakaian dalam sebuah butik.
Aku lihat lelaki asing itu,
Masih berdiri dipinggir kasir,
Kedua tangan menjinjing tas belanjaan berisi hati dan jantungku yang digenangi airmata,
Dikepalanya menjunjung kemaluanmu yang mencibir dengan kesombongan materialistik komsuntif.

Siluet cinta [42]

Cinta itu telah mati.
Sesungutan aku menangisi mayatnya yang tak lagi asli.
Mayat dengan rambut panjang disambung,
Wajah pucat pasih,
masih terpolesi krim pemutih,
dagu dan hidung silikon.
Dibalik mayat cinta itu
tersimpan banyak rahasia kehidupan yang meng illusi,
Metafora dari kehidupan dan kematian.

Siluet cinta [43]

Masih tercium bau rambutmu yang terbakar birahi.
Saat panah amour menoreh putikmu yang ranum.
Seperti aku mengingat kembali
saat matamu binal melumat syahwatku,
Dalam sanggama takdir yang galau.
Sebuah pohon lontara tumbang,
Ketika bintik bintik keringat dihidungmu
mulai berbau miras dan asap rokok.
Akupun terhanyut dalam bayang angelina jolie.

Siluet cinta [44]

Matahari terik dan bulan gerah,
Telah mengubah pandanganku tentang cinta.
Warna warni bumipun semakin tak merona seperti biasa,
Mestinya hijau keemasan disiang hari,
Hitam benderang dimalam hari.
Angin gerah berhembus dari laut,
Sepertinya ingin menggantikan seluruh rimbun dedaunan pohon,
Menjadi ranting tua yang nantinya
terserak tak berdaya dipinggir jalan kota tua.
Gelombang dari laut yang menghempas ditepian pasir putih.
Tak berdaya menjadikan bintang jatuh menjadi onggokan karang.

Siluet cinta [45]

Sebuah mobil mewah dalam kemacetan kota metropolitan.
Didalamnya sepasang perempuan sejenis lagi dimabuk cinta.
Karena mereka kehilangan genetik biologi normal.
Sejak awal mereka telah merindukan jalanan yang meledak.
Juga sejumlah emisi karbon
hasil raungan knalpot yang mengapung keudara siang.
bersama kaum intektual kolotan
yang gila aktualisasi diri
memperebutkan oxigen yang gerah.
Sementara anak anak miskin
membagikan kaleng tadahan dgn suara cempreng

Siluet cinta [46]

Ini segenggam bunga sedap malam.
Hadiah untuk ibu maha kekasih.
Yang banyak mengajariku pandangan
tentang perempuan perempuan pilihan.
Aku sementara mencari putri cinta.
Seperti memasuki sebuah novel shakespiere,
Yang sarat melodrama tragis.
Terkadang kumenemukan putri jelita,
namun terasa asing.
Bagi bobot,bebet,bibit ibuku.
Kebencian dan ketakutan berlebihan,
Setiap berpapasan dengan perempuan perempuan
yang mau mencampakkan sepatu cinderella
Siluet cinta

Siluet cinta [47]

Perempuan perempuan berpayudara silikon,
Hidung pinokio silikon,
Masuk mengusik bisingnya malam.
Musik cadas mengutus syahwat.
Menjepit benci dalam capit cinta.
Membentuk laut birahi,
Tiang tiang cinta berukir sperma.
Hai dajjal,
Masuklah dengan tongkat kuasamu

Siluet cinta [48]

Padang ini semula dingin,
Cinta yg tumbuh,
Bagaikan bunga bunga kaktus.
Takkan pernah mampu mengoyakkan gaunmu.
Kuda kuda hitam,
Mengejar bayang bayang matahari.
Oh,siapakah lagi pencinta,
Yang akan kembara,
Diantara duri bunga kaktus,
Ditengah gurun yang gersang?

Siluet cinta [49]

Lena aku,
Dalam kembara yang tak habis habisnya.
Gurun ini adalah hamparan pasir berkilauan.
Tetapi di oase oase persinggahan.
Musim demi musim telah merobahnya.
Bisa apa lagi kita dengan cinta,
Setelah debu bersimbah diwajah kita,
Dan udara gerah begini?

Siluet cinta [50]

Angin gurun tiba tiba,
Datang lagi menghembuskan nafasnya,
Pada oase persinggahan ini.
Oh adakah engkau cinta,
Yang datang bertamu malam malam,
Digurun pengasingan ini??

Siluet cinta [51]

Musim birahi tiba,
Dan inilah aku,
Gerimis yang siap menghujam,
Lembahmu yang berdebu.
Dilanda kemarau panjang.

Siluet cinta [52]

Menatap laut,
Selalu saja kubaca sepimu.
Pada hamparan gelombang.
Cinta yang luka terentang tak bertepi.

Siluet cinta [53]

Menatap laut,
Terkadang kutemukan rindumum
Pada hamparan biru,
Sibakan buih putih,
Tetapi selalu saja fatamorgana,
Membiaskan warna warni semu.

Siluet cinta [54]

Menatap laut.
Selalu saja terbaca dendammu.
Pada debur ombak,
Gelombang yang surut,
Menyisakan langkah dikarang tajam.
Menatap laut,menatap laut.
Terasa ada dusta pada cintamu.

Siluet cinta [55]

Selamat pagi cinta.
Aku tengadah menatap matahari.
Sementara gerimis mesrah mengelusi bola mataku.
Karena memang kuingin ikut meratap.
Betapa kemesraan itu begitu cepat berakhir.
Begitu pagi masih
Diantara kita ada batas semu.
Terlihat tapi tak tergapai.
Seperti fatamorgana.
Didadamu bergema lonceng gereja,
Dan nyanyian nyanyian kudus.
Sedang didadaku mengalun azan dan takbir,
Menggetarkan jiwaku.
Diantara kita ada batas semu.
Terlihat dan takkan tersentuhkan.
Ronamu bergores cahaya bintang.
Sedangkan sukmaku melata,
Dibelantara bernuansa tanpa makna

Siluet cinta [56]

Aku telah memetik bunga bunga cinta.
Dari lembah lembah tak bertuan.
Adakah engkau kasihku,
Cinta pertama dan terakhirku.
Sedang tamanmu tak tersentuhkan jemari cinta.

Siluet cinta [57]

Ada cinta yang tak pernah kau mengerti.
Diketika kelambu malam tersingkap.
Kebisuan selalu saja merentangkan jarak dan waktu.
Mengendapkan kata kata kedasar syakwasangka.
Cemeti malam menorehkan luka kesumat.
Mengendapkan rindu rindu malamku

Siluet cinta [58]

Pada pucuk pucuk pepohonan mana kutitipkan rindu,
Diketika engkau datang bersama riak angin,
Mengusik usik khayal.
Sementara anjing anjing pekebun dipunggung bukit sillanan,
Masih saja seperti dimalam malam tahun kemarin.
Setia melolongkan kesunyian nurani.

Siluet cinta [59]

Dan pada pucuk pucuk pepohonan itu,
Seperti ditahun tahun kemarin itu,
Masih saja engkau datang dengan senyum itu,
Menikam nikam ruang keakuan diri,
Ubunku retak,
Masih saja dalam perangkap pikir yang tak pasti.
Masih adakah engkau pada rindu rindu malamku

Siluet cinta [60]

dari bukit burung burung.
Mengalirlah beribu syahwat,
Jejak cinta yang memendam ketidakpastian.
Masihkah ada cinta yang tersisa.
Pada langit kelam,
Sedang disana beribu wajah jalang menggumpal jadi awan

Siluet cinta [61]

Dan lembah burung burung pun
serta merta mengapungkan beribu cinta hitam,
Gumpalan awan hitam pun
berlomba merintikkan airmata cinta.
Tanyaku,
Masih adakah gulana yang tersisa
dalam mata air cintamu.

Siluet cinta [62]

Di wellington.
Dari balik ketinggian menara lion red.
Sang Adam menatap tajam dingin.
Dan serta merta,
Sambil menunggang kereta asap.
Menyerbu keruang ruang diri.
Panah panah sodom lepas dari busurnya.
Mencabik cabik temali sakral.
Mencampakkan siapapun.
Kesudut sudut labirin,
Ruang dan waktu kejar mengejar.
Busur dan panah panah api tebar menebar.
Diruang ruang tak berdimensi.
Sementara sang Eva ,
Lelap dalam dengkur yang panjang.

Siluet cinta [63]

Untuk memasuki ruang cintamu.
Aku memakai topeng topeng.
Yang telah lama kau ciptakan.
Disebalik panggung pentasmu.
Lalu kemudian,
Kau dan aku memakai topeng topeng.
Seribu wajah cinta.
Hilangkan jejak,
Dari mata yang mencahari.
Samar dalam sorot lampu.
Siluet cinta.

Siluet cinta [64]

Monalisa dalam lukisan.
Adakah engkau cinta.
Dalam sekulum senyum.
Seperti sebidang magnit.
Yang selalu siap menyeretku.
Keluar dari kutub kutub nyata.
Lalu mengapungkan anganku.
Keruang ruang illusi cinta

Siluet cinta [65]

Di Istanbul,
Aku datang ketepi jalan istiqlal.
Membeli segemggam biji sukun bakar.
Kukupas kulitnya helai demi helai.
Seperti menghitung tasbih,
Sementara hujan salju bergulir.
bersama bulir airmataku.
Mengenangmu,
Dan aku mengenangmu,oh istriku.
Ditengah malam turki yang beku.
Kurasakan kelembutan biji sukun,
Seperti kelembutan qalbumu,
Yang pernah kudamba.
Kristal cinta yang mengental jadi cermin.
Arahan ketika melangkah,
Merengkuh dua hati dalam detak nadi,
Dicelah gerai rambut yang bermain ditelingamu,
Pernah kubisikkan pesona.
Aku milikmu,
Dunia akhirat.
Kuingin memelukmu lagi seperti kemarin,
Seperti ketika aku merasa,
Kau milikku,dan aku adalah akumu.
llahi rabbi
Kukunyah biji sukun,betapa getirnya.
Tapi Engkau tahu,
Hatiku lebih getir.
Disepanjang perjalanan malam aku gelisah.
Mencoba membunuh mimpi dan khayal dengan sia sia.
Siapakah yang tahu deritaku ini?
Pun jika langit runtuh,
Siapa percaya kepedihan ini?

Siluet cinta [66]

Di Bursa east europe,
Dalam geliat petang.
Sebongkah bola salju.
Seperti mutiara jatuh.
Pecah berhamburan.
Seperti cintaku.
Badai salju yang dingin.
Daun pintu gemeretak bergetar.
Patah dalam dingin.
Seperti hatiku.
Burung burung camar salju.
Hidup tanpa sarang.
Mati tanpa kuburan.
Seperti cintamu.

Siluet cinta [67]

Pernah di suatu masa
Rembulan tunjukkan tubuhnya
Yang hitam telanjang
Seluruh penghuni kampung
Bergegas turun ke lapangan
Dan bagaikan sihir
Lelaki dan perempuan
Telanjang dalam gelap
Anak lelaki-perempuan
Menabuh genderang
Memaksa sang naga
Memuntahkan rembulan Losari

Siluet cinta [68]

Ketika bayi
Matamu bening
Segemerlap rona selat makassar
Ketika belia
Dadamu segulung gelombang
Tempat camar laut menukikkan berahi
Ketika dewasa
Wujudmu gusung tanah tumbuh
Tempat je’ne’berang tumpahkan Lumpur
Ketika renta nanti
Wajahmu malam tanpa gemintang
Di mana angin melabuhkan senyap

Siluet cinta [69]

Pun masih nampak tegar
Tapi musim telah banyak merubahnya
Dalam bungkus modernitas
Dalam diamnya batu batu batin
Yang melanjutkan usia
Menghirup sisa nafas
Dari seuntai nafas yang menggantung
Pada roh patotoe
Pun riak gelombang badai musim
Tak mampu menghapus jejak peradaban
Entah sampai tidak jejak kita
Mencari biang sejarah
Di bias bittarae

Siluet cinta [70]

Hai belly dancer,
Ombak kecil.
Yang beriak runtun diperutmu.
Segetar gulungan gelombang dilengan,
Segemuruh hati yang gairah.
Kaki getar gemerincing.
Didalam tapaknya sendiri.
Bergetar cemari jari.
Menggapai penghujung pantai.
Aku mabuk laut.
Terombang ambing diatas kemudi.
Bagaimana mungkin seimbangkan diri.
Laut begitu bergelombang.

Siluet cinta [ 71\

Di kawasan bursa,
Aku bergelantungan,
Diantara penumpang kereta gantung.
Menyusur bentang pebukitan salju.
Dan engkau disana,gadisku.
Gadis dalam mimpi Alexandria.
Ketika untuknya.
Sang penakluk menyerbu constantipel.
Dipekat malam yang beku.
Dan akupun sertamerta.
Berburu melawan kodrat.
Untuk mencumbumu,
Sekalipun dalam illusi.

Siluet cinta [72].

Takjub dalam diam.
Ketika berdiri dibelahan sungai Nil,
ditepi timur yang gerah.
Dibelantara makam dan kuil kuno.
Pada punggung piramida,
Dan patung para Pharaoh.
Maharaja cinta,
Amenhotep,
Tutankhamen.
Penerus roh dewa Amon.
Terpaku dalam patung batu.
Tertidur dalam mimpi Mesir.
Diruang dan waktu purba.
Para Firaun,
Pemendam harta karun.
Kekehidupan abadi.
Sementara diluar,
Orang orang mati.
Dalam jilatan roh dewa Ra.
Membangun kota labirin.
Kota kota kematian

Siluet cinta [73]

Pada langit yang berpoleskan warna merah kesumba.
Pada sepadang pasir yang terbungkus debu debu panas.
Pada pohon pohon korma yang enggan tumbuh.
Pada reruntuhan kota kuno Thebes.
Pada puing kuil dan phyramida.
Pada rahim bumi yang sarat emas permata.
Pada rintihan gairah sungai Nil.
Pada roh penerus dewa Amon.
Pada darah abadi Amenhotep.
Pada darah abadi Tutankhamen.
Pada bias senyum Cleopatra.
Para Pharaoh dan Firaun.
Menitipkan mimpi mimpi Mesir.
Keruang dan waktu bisu.

Siluet cinta [74]

Di tamaki makau rau auckland.
Tiba tiba begitu lugu wajah kota.
Mengaca dalam riak riak ombak.
Membias dalam buih dipasir pantai.
Aku terpana,
Di parnell rose garden.
Didalam ombak mawar.
Semarak warna cinta.
Menghadap kepuncak rangitoto.
Seperti memandangi sepi hati sendiri.
Ada bulan hampir gerhana.
Sinarnya menetes diatas teluk hauraki.

Siluet cinta [75]

Atas nama kesejahteraan.
Pembantai menyerbu kehidupan laut.
Perangpun digelar.
Sumbu sumbu maut disulut.
Dan pukat ganaspun dilepas,
Atas nama kesejahteraan,
Terumbu karang pecah,
Habitat laut terkoyak.
Biota biota laut sekarat.
Sirip sirip kecil itupun patah,
Sisik sisik putih lepas menabur pasir.
Dari tubuh tubuh yang telanjang.
Atas nama kesejahteraan.
Ombakpun menggeliat,
Biru tidak lagi sebiru laut.
Putih tidak lagi seputih buih.
Desah ombak,
Adalah laut yang sekarat.
Adalah aku yang gulana.
Sempurna dalam cinta.

Siluet cinta [76]

Segulung ombak,
Dengan mata garang.
Bergegas menelan rembulan.
Menenggelamkan rohnya.
Dikedalam pusaran laut.
Langitpun gulita.
Bias warna warni laut.seperti lempengan cermin pecah.
Mebiaskan bayang bayang semu.
Lautpun gamang.

Siluet cinta [77]

Peragawati,
Adalah kecantikan.
Adalah berpasang pasang kaki mulus.
Mondar mandir diatas catwalk.
Berpapasan saling silang.
Merenda ruang dan waktu,
Merenda sukmaraga.

Siluet cinta [78]

aku terjebak,..
antara bumi dan langit
diantara hutan dan kota gersang
diantara belukar dan padang ilalang
bakaran asap,lelehan lava dan raung knalpot
tak pernah sepi dari lagu para pemimpi
labirin dan pusaran hati rapuh
adalah ketakutan ketakutan bias
ketika kabut asap melingkar
dalam gelombang jerit sang dajjal
bulan bercadar dalam genangan bara,
menggelepar dikekosongan jiwa
dimanakah lagi pertemuan pusaran antara ada dan tiada.

Siluet cinta [79]

bebaskan aku.
demi kodrat manusiaku.
berangkat dari kelampauan masa lalu.
menyusur ruang dan waktu kini.
perisai akal budi ditangan kanan.
cemeti nafsu ditangan kiri.
atas ijin MU
baptis khalifah,
maka “Kun”
seperti Musa membelah laut merah.
dan pada palungnya mengubur benci.
maka Untuk Mu,
telah kubelah langit.
dimana relungnya kusembunyikan kelamin

siluet cinta [80]

Dari balik ketinggian menara lion red.
Sang Adam menatap tajam dingin.
Dan serta merta,
Sambil menunggang kereta asap.
Menyerbu keruang ruang diri.
Panah panah sodom lepas dari busurnya.
Mencabik cabik temali sakral.
Mencampakkan siapapun.
Kesudut sudut labirin,
Ruang dan waktu kejar mengejar.
Busur dan panah panah api tebar menebar.
Diruang ruang tak berdimensi.
Sementara sang Eva ,
Lelap dalam dengkur yang panjang.

Siluet cinta [81]

Di kawasan bursa,
Aku bergelantungan,
Diantara penumpang kereta gantung.
Menyusur bentang pebukitan salju.
Dan engkau disana,gadisku.
Gadis dalam mimpi Alexandria.
Ketika untuknya.
Sang penakluk menyerbu constantipel.
Dipekat malam yang beku.
Dan akupun sertamerta.
Berburu melawan kodrat.
Untuk mencumbumu,
Sekalipun dalam illusi

Siluet cinta [82]

Tolong,
Ajari aku dosa.
Seperti yang diajarkan eva,
Pada Adam.
Tapi maaf,
Aku alergi juice.
Dari sari buah khuldi.

Siluet cinta [83]

Kecantikan peragawati
Adalah berpasang-pasang kaki mulus
Mondar mandir di atas catwalk
Berpapasang saling silang
Merenda ruang dan waktu
Sempurna dalam senyum

Siluet cinta [84]

Pun kutahu
Begitu lekat cintaku
Memesrahi laut dan pulaumu
Berpusar hari ditebaran pasirnya

Tak ada yang berpaling
Tak ada yang berpisah

Laut, biru dan hijaumu
Kurelung sampai ke dasarnya
Dan diriku ada padamu

Siluet cinta [85].

Segulung ombak
Dengan mata garang
Bergegas menelan matahari
Menenggelamkan rohnya
Di kedalaman pusaran laut

Langitpun semarak
Bias warna warni laut
Seperti cermin pecah
Terhempas dihamparan bara

Lautpun gamang
Hening senyap

Siluet cinta [86]
Bulan pecah di tangan
Rapatkan jemarimu, adikku
Adakah engkau masih pencinta
Pada dentum petir di malam buta?
Sedang badik tetap saja
kau sarungkan di kelaminmu
Badik
Adalah tetes embun
Yang semestinya kau tikamkan
Di ubun nurani
Maka biarkan angin termangu di jendela

Siluet cinta [87]
Yang serba kaca
Kini telah kau tanggalkan
Kecuali
Sepatu cindirella
Yang memasang kakimu

Siluet cinta [88]

Phinisi putih
Yang akan membawamu bertolak
Lepas Arung samudera
Kini kian berkemas,
Entah penjuru mana lagi
Angin buritan akan mengembangkan layarmu
Entah ke laut mana arah kemudi
Engkaupun tidak mengerti
Tapi,Berbusung dadalah, nahkoda !
Karena badai yang selalu
Datang dan pergi
Ketika engkau berdiri tegak di anjungan
Tak sekalipun mampu
Mengoyakkan dada bugismu

[89]

Peluru apa yang kau bidikkan.
Meskipun aku berkelit,
Dan berlari beribu kilometer.
Tetapi tetap saja,
kepalaku ingin kau miliki,
sebagai sasaran ambisimu.

Peluru apa yang kau tembakkan.
Tepat menghujam jantungku.
Meskipun aku sembunyi.
Tetapi tetap saja.
Ingin kau rebut.
Seluruh kemerdekaanku..

mengejar tapak Allah

Posted August 11, 2014 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

MENGOLAH LIMBAH CAIR DOMESTIK DENGAN FILTER BIOGEOKIMIA

Posted October 2, 2013 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Limbah cair rumah tangga merupakan salah satu bahan sisa dari aktivitas manusia sehari-hari yang dihasilkan sepanjang waktu. Bahan sisa tersebut berupa air yang telah digunakan yang berasal dari rumah tangga meliputi air buangan dari kamar mandi, WC, tempat cuci atau tempat memasak.

Pada awalnya bahan sisa tersebut tidak menimbulkan masalah karena dapat dilepas atau dibuang ke lingkungan dengan aman. Hal tersebut dimungkinkan karena volume dan jenis kandungan limbah cair rumah tangga masih relatif kecil, sehingga lingkungan masih mampu menetralkannya secara alami.

Pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas di rumah tangga. menyebabkan volume dan jenis kandungan limbah cair yang dihasilkan semakin besar pula Peningkatan tersebut menyebabkan kemampuan lingkungan untuk menetralisir semakin menurun, sehingga limbah cair rumah tangga telah menimbulkan berbagai masalah, baik terhadap manusia maupun lingkungan itu sendiri.

Menurut Haryoto (1999), di Indonesia terjadi peningkatan volume limbah cair setiap tahun sebesar rata-rata 5 juta m3, dan menurut Momom dan Lya (1999), jenis kandungan limbah cair mengalami peningkatan sebesar 50% dari jumlah jenis kandungan yang ada sebelumnya. Peningkatan tersebut tentu saja sangat berpengaruh terhadap kemampuan lingkungan untuk menetralkannya sehingga terjadilah berbagai masalah lingkungan seperti yang telah dikemukakan terdahulu.

Kota Makassar yang merupakan salah satu kota terbesar di kawasan timur Indonesia, mengalami perkembangan yang cukup pesat, termasuk pertambahan jumlah penduduk. Hal tersebut mempengaruhi aktivitas di rumah tangga, sehingga volume limbah rumah tangga yang dihasilkan mengalami peningkatan yang besar. Jumlah penduduk Kota Makassar telah mencapai 1.282.918 jiwa (Bappeda Kota Makassar, 2000), dengan laju pertumbuhan penduduk mencapai 2.72%. Keadaan tersebut menunjukkan besarnya potensi terjadinya peningkatan volume limbah cair rumah tangga yang dihasilkan, sekaligus besarnya potensi terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat limbah cair tersebut.

Sampai saat ini, Kota Makassar belum memiliki sistem pengolahan limbah rumah tangga secara khusus. Sistem pembuangan secara langsung masih dilakukan melalui saluran-saluran pembuangan yang bermuara ke perairan pantai, terutama Pantai Losari. Berbagai fenomena berupa gangguan terhadap lingkungan dapat disaksikan di sepanjang saluran pembuangan limbah dan sekitarnya, demikian pula pada areal pantai lokasi pembuangan limbah sebagai dampak dari sistem pembuangan langsung yang dilakukan selama ini.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dampak yang terjadi mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pembusukan dan perubahan warna limbah, baik pada saluran pembuangan maupun pada tempat penampungan akhir, selain sangat mengganggu keindahan dan kenyamanan, juga menjadi media penyebaran berbagai jenis kuman penyakit (Masruri at al, 2003).

Rusaknya berbagai fasilitas perkotaan, seperti fisik saluran pembuangan serta benda-benda yang dilalui oleh limbah cair rumah tangga merupakan kerugian yang cukup besar.  Demikian pula dengan hilangnya berbagai jenis ikan dan biota perairan, merupakan salah satu contoh rusaknya ekosistem perairan sebagai dampak dari masuknya limbah cair rumah tangga yang tidak diolah. Contoh-contoh kasus yang telah dikemukakan merupakan bukti dan dasar pertimbangan yang sangat kuat, bahwa sudah saatnya masalah limbah cair rumah tangga mendapat perhatian yang sangat besar dalam pengelolaannya.

Efek buruk yang ditimbulkan oleh limbah cair rumah tangga telah banyak dirasakan oleh masyarakat, terutama di daerah perkotaan. Terjadinya berbagai jenis gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kuman yang berasal dari lingkungan sangat erat kaitannya dengan limbah rumah tangga. Demikian pula dengan terjadinya pembusukan dan perubahan warna pada perairan dalam saluran-saluran pembuangan, berkaitan erat dengan masuknya limbah rumah tangga pada saluran tersebut (Yusuf, 2001). Rusaknya ekosistem perairan menyebabkan semakin langkanya beberapa jenis biota, baik pada perairan darat maupun pantai. Kerusakan-kerusakan yang terjadi. selain merusak lingkungan, juga mengganggu kehidupan manusia.

Pada dasarnya pengolahan limbah cair telah banyak dilakukan di berbagai tempat, dengan menggunakan sistem pengolahan yang berbeda-beda. Umumnya sistem pengolahan limbah yang telah dilakukan berupa pengolahan secara fisik, antara lain dengan kolam pengendapan, parit terbuka, saringan percikan, dan sebagainya. Namun demikian, sistem-sistem pengolahan tersebut belum memberikan hasil yang maksimal karena masih memiliki kelemahan-kelemahan tersendiri dalam pengoperasiannya. Oleh sebab itu, diperlukan suatu upaya untuk mengembangkan sistem pengolahan limbah cair yang telah ada, agar dapat diperoleh hasil yang lebih baik untuk menanggulangi masalah limbah cair rumah tangga yang semakin membutuhkan penanganan yang serius.

Salah satu gagasan dan pemikiran yang dapat dikemukakan dalam upaya mengembangkan sistem pengolahan limbah cair rumah tangga adalah kemungkinan untuk memadukan secara bersinergi antara beberapa cara pengolahan dalam suatu model. Dalam hal ini pemanfaatan sistem saringan yang memanfaatkan bahan-bahan anorganik dan sistem saringan yang memanfaatkan tanaman air dipadukan dalam suatu model yang diberi nama Saringan Biogeokimia.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu sistem pengolahan limbah cair yang selama ini sering digunakan adalah penyaringan limbah cair menggunakan berbagai jenis bahan anorganik, seperti kerikil, arang batok kelapa, sabut kelapa, pasir dan zeolit. Sistem tersebut dianggap cukup efektif karena bahan-bahan anorganik yang digunakan rata-rata memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar bahan pencemar di dalam limbah cair, baik melalui proses filtrasi maupun proses penyerapan. Namun demikian dari hasil pengamatan di lapangan, menunjukkan bahwa limbah cair yang telah melalui proses pengolahan dengan sistem penyaringan bahan anorganik masih mengandung bahan pencemar yang cukup tinggi sehingga masih memerlukan pengolahan lebih lanjut agar limbah tersebut dapat memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan dan layak untuk dilepas ke lingkungan atau dimanfaatkan untuk keperluan lain.

Pemanfaatan tanaman air sebagai saringan biologis untuk limbah cair rumah tangga didasarkan pada berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman air memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas limbah cair rumah tangga. Hal tersebut memungkinkan karena di dalam tubuh tanaman air berlangsung suatu mekanisme yang dapat mempengaruhi bahan-bahan yang terkandung di dalam limbah cair rumah tangga.

Kemampuan tanaman air untuk meningkatkan kualitas limbah cair, antara lain dikemukakan oleh Stowel et al. (1980), bahwa ada beberapa fungsi tanaman air pada sistem pengolahan limbah cair, yaitu bagian akar dan batang tanaman dapat menyerap dan menyaring bahan yang terlarut di dalam limbah cair serta dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Bagian tanaman yang berada di permukaan air, dapat melindungi perairan dari sinar matahari sehingga mencegah pertumbuhan ganggang, mengurangi pengaruh angin, dan mentransfer gas dari udara ke perairan, dari perairan ke tanaman atau sebaliknya.

Selanjutnya, Reed at al. (1985) mengemukakan bahwa kehadiran tanaman air di dalam kolam pengolahan limbah sangat potensial untuk menyaring dan menyerap bahan yang terlarut di dalam limbah, melangsungkan pertukaran dan penyerapan ion, serta memelihara kondisi perairan dari pengaruh angin, sinar matahari dan suhu.

Rangkaian fakta tentang kemampuan sistem saringan anorganik serta pembuktian adanya kemampuan tanaman air untuk menurunkan kadar bahan pencemar di dalam limbah cair, menjadi dasar pemikiran peneliti untuk mengembangkan suatu sistem pengolahan limbah cair rumah tangga dengan cara menggabungkan antara kedua potensi tersebut menjadi suatu sistem pengolahan limbah cair yang lebih efektif. Dalam hal ini penggabungan dilakukan antara sistem saringan anorganik dengan saringan tanaman air sehingga sistem pengolahan tersebut dapat digolongkan sebagai Sistem Filter Biogeokimia.. Hasil penggabungan tersebut menghasilkan sistem pengolahan limbah secara bertahap, yakni tahap pertama dengan pengolahan secara filter geokimia, dan tahap ke dua pengolahan dengan biofilter yang menggunakan tanaman air. Diharapkan agar sistem pengolahan tersebut dapat memberikan kontribusi  yang  lebih   besar dalam upaya pengolahan  limbah cair permukiman, sehingga masalah yang ditimbulkan oleh limbah cair nunah tangga selama ini dapat ditanggulangi.

  1. B.    Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan, maka pokok permasalahan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimana fungsi/peranan Filter Biogeokimia dalam mempengaruhi kualitas limbah cair rumah tangga ?
  2. Berapa besar perubahan kandungan limbah cair rumah tangga setelah melalui proses pengolahan dengan Sistem Filter Biogeokimia
  3. Sejauhmana   peranan   faktor   pengenceran   limbah   dan   pengaturan   waktu pengolahan terhadap hasil yang dicapai pada proses penyaringan limbah cair rumah tangga dengan Filter Biogeokimia ?
  4. Sejauhmana peranan lama waktu kontak limbah dengan setiap saringan terhadap peningkatan kualitas limbah cair rumah tangga pada proses pengolahan dengan Filter Biogeokimia ?
  5. Bagaimana pola perubahan kandungan limbah cair rumah tangga setelah melalui pengolahan dengan Filter Biogeokimia ?

 

  1. C.   Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

  1. Mengetahui perubahan kualitas limbah cair rumah tangga setelah melalui proses pengolahan dengan Sistem Filter Biogeokimia
  2. Untuk mengetahui efektivitas Filter Biogeokimia dalam mengolah limbah cair rumah tangga.
  3. Mengetahui peranan faktor pengenceran terhadap hasil yang dicapai pada pengolahan limbah cair rumah tangga dengan Filter Biogeokimia.
  4. Mengetahui  peranan faktor lamanya waktu kontak  limbah  dengan setiap saringan terhadap hasil yang dicapai pada pengolahan limbah cair rumah tangga dengan Saringan Biogeokimia.
  5. Mengetahui pola perubahan kandungan limbah cair rumah tangga setelah melalui proses pengolahan dengan Filter Biogeokimia.

 

  1. D.   Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini dapat digunakan/dimanfaatkan untuk :

  1. Merancang suatu sistem pengolahan limbah cair rumah tangga secara terpadu yang dapat dimanfaatkan untuk suatu permukiman atau kawasan tertentu.
  2. Membantu   pemerintah   dalam   upaya   penanggulangan   salah   satu   masalah lingkungan  sebagai  dampak  dari  pembuangan  limbah  rumah tangga secara langsung ke lingkungan.
  3. Pengembangan  upaya pemanfaatan  limbah  cair rumah tangga untuk  usaha perikanan air tawar.
  4. Bahan informasi bagi penelitian atau studi sejenis.

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN   PUSTAKA

 

  1. A.    Limbah Cair Rumah Tangga
  2. 1.     Pengertian

Beberapa pengertian tentang limbah cair rumah tangga telah dikemukakan oleh para ahli, yang pada garis besarnya memiliki kesamaan. Echler dan Steel dalam Sugiharto (1986) mengemukakan bahwa limbah adalah cairan yang dibawa oleh saluran air buangan. Selanjutnya, Metcalf dan Eddy (1978) memberi batasan tentang air buangan (wastewater) sebagai kombinasi dari cairan dan sampah-sampah cair yang berasal dari daerah permukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air hujan yang ada.

Dengan demikian, maka dapat dirumuskan suatu batasan bahwa, air buangan adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan (Haryoto, 1985). Selanjutnya, menurut Sugiharto (1987),: Limbah cair rumah tangga adalah air yang telah digunakan yang berasal dari rumah tangga atau permukiman, perdagangan, daerah kelembagaan dan daerah rekreasi, meliputi air buangan dari kamar mandi, WC, tempat cuci atau tempat memasak. Demikian pula yang dikemukakan oleh Masruri, at al ( 2003 ) bahwa, limbah cair rumah tangga adalah air kotor buangan berasal dari dapur, kamar mandi/cuci dan kakus, yang disebut domestic waste water.

  1. 2.     Sumber-Sumber Limbah Cair Rumah Tangga

Oleh karena cakupan pengertian limbah cair rumah tangga cukup luas, maka tempat-tempat yang merupakan penghasil atau sumber limbah tersebut adalah :

  1. Daerah permukiman

Daerah permukiman merupakan kumpulan rumah tinggal keluarga dengan berbagai kondisi mulai dari rumah pondok sederhana sampai rumah mewah, termasuk di dalamnya hotel dan apartemen yang berpenghuni tetap (Sarbini. 1999). Limbah yang dihasilkan oleh sumber tersebut relatif besar dengan intensitas aliran yang hampir merata sepanjang hari. Limbah yang dihasilkan relatif seragam karena berasal dari kegiatan yang sejenis, yakni kamar mandi. tempat cuci dan tempat memasak. Adapun rata-rata besarnya volume limbah cair yang dihasilkan dari suatu permukiman, disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rata-Rata Aliran Limbah Cair dari Daerah Permukiman

No

Sumber limbah

Unit

Jumlah aliran/hari (liter/unit)

Kisaran

Rata-rata

1

2

3

4

5

6

7

Rumah pondok

Rumah agak permanen

Rumah pada umumnya

Rumah yang lebih baik

Rumah mewah

Apartemen

Hotel

Orang

Orang

Orang

Orang

Orang

Orang

Orang

100-200

100-250

190-350

250 – 400

300-550

200 – 300

150-200

190

200

280

310

380

260

190

Sumber : Metcalf dan Eddy, dalam Sugiharto (1987)

  1. Daerah perdagangan

Daerah perdagangan meliputi berbagai tempat kegiatan perdagangan seperti pusat  perbelanjaan,   rumah   makan,   bar  dan  tempat-tempat  pencucian  (Saraswati 1996). Limbah yang dihasilkan dari daerah perdagangan, tergantung pada jenis kegiatan dan bahan yang dikelola pada tempat tersebut. Demikian pula dengan intensitas aliran limbahnya mencapai puncak pada jam-jam kerja atau saat kegiatan berlangsung. Rata-rata aliran limbah dari daerah perdagangan, disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-Rata Aliran Limbah dari Daerah Perdagangan

No

Sumber limbah

Unit

Jumlah aliran/hari (liter/unit)

Kisaran

Rata-Rata

1

 

2

3

4

 

 

5

6

 

7

8

Pusat perbelanjaan

 

Toko

Rumah makan

Hotel

 

 

Rumah sewa

Bar

 

Tempat pencucian

Lapangan terbang

Pekerja

Parkir

Pekerja

Pengunjung

Tamu

Pekerja

Kamar mandi

Penghuni

Langganan

Pekerja

Mesin

Penumpang

30 – 50

2 – 8

30-50

6 – 15

150 – 220

30 – 50

1600 – 2400

90 – 190

5 – 20

40 – 60

1800 – 2600

8 – 15

40

4

40

10

190

40

2000

150

8

50

2200

10

Sumber : Metcalf dan Eddy, dalam Sugiharto (1987)

  1. Daerah kelembagaan

Sumber limbah cair dari daerah kelembagaan ada beberapa tempat, antara lain perkantoran, sekolah, rumah sakit dan penjara. Kandungan limbah cair dari sumber-sumber tersebut bervariasi sesuai tempat asalnya. Limbah rumah sakit banyak mengandung mikroorganisme patogen sebagai bahan buangan dari aktivitas medis di samping kandungan lainnya. Dari sekolah, pada umumnya berupa urine dari bekas cucian dari aktivitas di tempat tersebut (Budiharjo, 1984). Adapun volume  limbah yang berasal  dari  daerah kelembagaan disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Rata-Rata Kandungan Limbah dari Daerah Kelembagaan

No

Sumber limbah

Unit

Jumlah aliran/hari (liter/unit)

Kisaran

Rata-Rata

1

2

3

4

5

6

 

7

 

8

 

9

Perkantoran

Sekolah, aula, kantin

Sekolah, kantin

Sekolah

Sekolah, asrama

Rumah sakit medis

 

Rumah sakit jiwa

 

Rumah penjara

 

Rumah peristirahatan

Pekerja

Murid

Murid

Murid

Murid

Tempat tidur

Pekerja

Tempat tidur

Pekerja

Narapidana

Pekerja

Penghuni

Pekerja

30 – 65

60 – 115

40 – 80

20 – 65

200 – 600

500 – 900

20 – 60

300 – 650

20 – 60

300 – 600

20 – 60

200 – 400

20 – 60

55

80

60

40

280

650

40

400

40

450

40

300

40

Sumber : Metcalf dan Eddy, dalam Sugiharto (1987)

  1. Daerah rekreasi

Sumber limbah cair yang termasuk dalam daerah rekreasi meliputi tempat atau fasilitas yang mendukung dalam suatu kawasan untuk rekreasi termasuk tempat dan fasilitas di luar kawasan yang berfungsi sebagai sarana rekreasi, istirahat dan hiburan (Budiharjo, 1984). Rata-rata aliran limbah dari daerah rekreasi, disajikan pad Tabel 4.

 

 

Tabel 4. Rata-Rata Aliran Limbah dari Daerah Rekreasi

No

Sumber limbah

Unit

Jumlah aliran/hari (liter/unit)

Kisaran

Rata-Rata

1

2

3

 

4

5

6

 

7

 

8

9

10

11

12

 

13

14

Rumah susun

Pondok tempat istirahat

Kantin

 

Perkemahan

Penjual minuman

Waning kopi

 

Tempat perkumpulan

 

Perkemahan anak-anak

Rumah makan

Asrama

Hotel, tempat istirahat

Kolam renang

 

Gedung bioskop

Pusat keramaian

Orang

Orang

Pengunjung

Pekerja

Orang

Tempat duduk

Pengunjung

Pekerja

Peserta

Pekerja

Orang

Pengunjung

Orang

Orang

Pengunjung

Pekerja

Tempat duduk

Pengunjung

200 – 280

130 – 190

4 – 10

30 – 50

80 – 150

50 – 100

15 – 30

40 – 60

250 – 500

40 – 60

40 – 60

20 – 40

75 – 175

150 – 240

20 – 50

30 – 50

10 – 15

15 – 30

220

160

6

40

120

75

20

50

400

50

50

30

150

200

40

40

12

20

Sumber : Metalf dan Eddy, dalam Sugiharto (1987)

  1. 3.     Kandungan Limbah Cair Rumah Tangga

Limbah cair rumah tangga sebagai bahan sisa dari berbagai aktivitas, mengandung berbagai komponen. Kandungan tersebut menjadi dasar untuk menentukan sifat dari limbah cair, yang terdiri atas sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologis (Suriawiria, 1986).

 

  1. Sifat fisik

Limbah cair rumah tangga yang sudah terkumpul dan masih dalam keadaan baru dan dalam keadaan aerob berbau busuk yang hampir seperti bau minyak tanah berbaur dengan bau tanah, berwarna abu-abu kekuning-kuningan. Limbah cair septik yang tersimpan cukup lama, mempunyai bau yang lebih menyengat terhadap indra penciuman. Bau yang dominan pada keadaan tersebut adalah bau telur busuk dari asam belerang dan merkaptan, yang dapat dijadikan ciri dari suatu tangki septik. Air limbah yang telah mengalami proses septik umumnya berwarna hitam.

Sifat fisik yang penting diketahui meliputi beberapa aspek, yaitu : suhu, kekeruhan dan padatan tersuspensi. Sifat-sifat fisik tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Kekeruhan. Kekeruhan limbah cair rumah tangga ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan organik yang terkandung di dalam limbah berupa zat-zat yang mengendap, tersuspensi dan terlarut (Suriawiria, 1986). Biasanya tingkat kekeruhan pada limbah cair rumah tangga cukup tinggi (tergantung pada sumbernya) dan akan terus meningkat di lingkungan apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu.

Padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap secara langsung. Penentuan padatan tersuspensi sangat berguna dalam analisa perairan tercemar dan air buangan, dapat digunakan untuk mengevaluasi kekuatan air buangan domestik. Padatan tersuspensi terdiri atas partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen, misalnya tanah, bahan-bahan organik tertentu dan sel-sel mikroorganisme (Fardiaz, 1992).

  1. Sifat kimia

Komponen kimia yang terdapat dalam limbah cair rumah tangga, ada yang larut dan ada pula yang tidak larut. Jumlah dan macam komponen tersebut relatif tak terbatas, menyebabkan karakteristik kimia limbah tersebut sangat kompleks. Komponen yang menyusun limbah cair rumah tangga digolongkan dalam dua kelompok, yaitu zat organik dan zat anorganik.

Kelompok zat organik dalam limbah cair rumah tangga, terdiri atas :

  1. Golongan karbohidrat
  2. Golongan protein
  3. Golongan lemak dan minyak
  4. Golongan senyawa fenol
  5. Golongan zat bersifat surfaktan

Adapun golongan anorganik antara lain terdiri atas :

  1. Kandungan Kalsium
  2. Kandungan Klorida
  3. Kandungan Amonium
  4. Kandungan Posfat
  5. Kandungan Besi
  6. Kandungan Nitrit, dan lain-lain.

Kandungan bahan kimia limbah cair rumah tangga dapat merusak lingkungan melalui beberapa cara. Bahan organik terlarut dapat menghabiskan oksigen di dalam limbah serta akan menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu bahan organik akan berbahaya apabila bahan tersebut merupakan bahan beracun. Sifat-sifat kimia limbah cair rumah tangga yang penting untuk diketahui antara lain :

Nilai pH. Nilai pH mencirikan keseimbangan antara asam dengan basa dalam limbah dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen. Adanya karbonat (CO32″), hidroksida (OH”) dan bikarbonat (HCO3″) menaikkan kebasaan air. Sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan keasaman. Nilai pH air tawar berkisar 5.0 – 9.0 (Saeni, 1989), sedangkan nilai pH limbah cair rumah tangga biasanya lebih rendah sehingga menyulitkan dalam proses biologis.

Oksigen terlarut ( Dissolved Oxygen = DO ). Oksigen merupakan zat kunci dalam menentukan kehidupan di dalam air atau limbah. Kekurangan oksigen akan berakibat fatal bagi kebanyakan hewan akuatik seperti ikan. Adanya oksigen juga dapat menyebabkan keadaan yang fatal bagi banyak jenis mikroba anaerobik. Konsentrasi oksigen terlarut selalu merupakan hal yang utama yang harus diukur dalam menentukan kualitas air atau limbah (Saeni, 1989). Oksigen memegang peranan penting dalam pengolahan limbah secara biologik, karena bila oksigen bertindak sebagai aseptor hidrogen, mikroorganisme akan memperoleh energi maksimum. Untuk mempertahankan sistem aerobik diperlukan konsentrasi oksigen terlarut minimal 0.5 mg/liter (Jenie dan rahayu, 1993).

Biological Oxygen Demand (BOD). Biological oxygen demand merupakan suatu parameter kualitas limbah yang penting untuk diketahui, karena BOD menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik dalam limbah tersebut secara biologis. Limbah dengan BOD tinggi tidak dapat mendukung kehidupan organisme yang membutuhkan oksigen. Uji BOD adalah salah satu roetode analisis yang paling banyak digunakan dalam penanganan limbah. Uji tersebut mencoba untuk menentukan kadar pencemaran dari suatu limbah, dalam pengertian, kebutuhan mikroba terhadap oksigen dan merupakan ukuran tak langsung dari bahan organik yang ada dalam limbah.

Chemical Oxygen Demand (COD). Yang dimaksud dengan COD limbah adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam satu liter limbah. Nilai COD yang tinggi menunjukkan adanya pencemaran oleh zat-zat organik yang tinggi (Suhardi, 1991). Untuk menentukan total zat organik dalam limbah dapat dilakukan dengan cara tak langsung yaitu menentukan COD. Disebut cara tak langsung karena yang ditentukan adalah kebutuhan oksigen untuk menambah zat organik secara kimiawi. Cara tersebut cukup relevan dan banyak digunakan untuk berbagai kepentingan.

Klorida. Kadar klorida dalam air alami dihasilkan dari rembesan klorida yang ada dalam batuan dan tanah serta dari daerah pantai dan rembesan air laut. Kotoran manusia mengandung sekitar 6 gram klorida setiap orang per hari. Pengolahan secara konvensional masih kurang berhasil untuk menghilangkan bahan tersebut, dan dengan adanya klorida dalam air atau limbah menunjukkan bahwa air atau limbah tersebut telah mengalami pencemaran.

Kesadahan. Kesadahan adalah hasil dari adanya hidroksi karbonat dan bikarbonat yang berupa kalsium, magnesium, sodium, potasium atau amoniak. Dalam hal ini yang paling penting adalah kalsium dan magnesium bikarbonat. Pada umumnya air limbah adalah basa yang diterimanya dari penyediaan air, air tanah, dan bahan tambahan selama digunakan di rumah.

Posfor. Posfor terdapat di dalam limbah melalui hasil buangan manusia, baik secara langsung maupun berupa sisa-sisa aktivitas terutama dari air mandi dan bekas cucian. Sebagian besar posfor yang terdapat dalam limbah cair rumah tangga adalah dalam bentuk ortoposfat, yakni dapat mencapai 80% dari total posfat yang ada di dalam limbah tersebut (Sugiharto, 1987).

Nitrogen. Dalam limbah, nitrogen biasanya terdapat dalam bentuk ammonia, nitrit dan nitrat. Dalam konsentrasi yang tinggi, berbagai bentuk nitrogen bersifat racun terhadap flora dan fauna tertentu (Alaert dan Santika, 1987). Senyawa-senyawa nitrogen terdapat dalam keadaan terlarut atau sebagai bahan tersuspensi, dan merupakan senyawa yang sangat penting dalam air dan memegang peranan dalam reaksi-reaksi biologi perairan. Nitrogen bersama-sama dengan posfor akan meningkatkan pertumbuhan ganggang dalam perairan. Nitrogen akan cepat berubah menjadi nitrogen organik atau amonia nitrogen. Amonia kemudian digunakan oleh bakteri untuk proses oksidasi ke nitrit dan akan cepat berubah ke nitrat. Best Merupakan salah satu unsur yang penting dalam air sehingga kehadirannya di dalam limbah sering menimbulkan masalah. Besi adalah zat terlarut yang sangat tidak diinginkan karena dapat menimbulkan bau yang tidak enak pad air minum apabila mencapai konsentrasi 0.31 mg/1 (Momon dan Lya, 1997).

  1. Sifat biologis

Sifat biologis limbah cair rumah tangga ditandai dengan kandungan organisme di dalam limbah tersebut (Sumirat, 1996). Walaupun pada umumnya merupakan mikroorganisme, namun ada juga diantaranya yang berupa makroorganisme dari hewan dan tumbuhan tingkat rendah. Menurut Gaudy (1980), di dalam limbah rumah tangga pada umumnya ditemukan mikroorganisme golongan bakteri, jamur, ganggang, protozoa, virus, rotivera dan cristacea. Namun diantaranya yang sangat penting untuk diketahui  adalah golongan bakteri, protozoa dan virus, karena ketiga golongan mikroorganisme tersebut sangat erat kaitannya dengan penyebaran berbagai jenis penyakit melalui limbah cair rumah tangga.

Bakteri. Bakteri adalah organisme kecil yang pada umumnya bersel satu, tidak berklorofil, berkembangbiak dengan pembelahan secara biner. Hidup bebas secara kosmopolitan, khususnya di udara, di dalam tanah, air, bahan pangan, tubuh manusia, hewan atau pada tanaman ( Dwidjoseputro, 1986 ).

Pada umumnya bakteri hidup secara saapropitik pada buangan hewan, manusia dan tanaman yang banyak menimbulkan penyakit. Kehidupan bakteri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu, kelembaban, konsentrasi oksigen, nutrisi, ketersediaan air dan keasaman (Lay dan Hastowo, 1992).

Sel bakteri berbentuk batang, bulat dan spiral, dengan diameter antara         0.5-3.0 mikron, meskipun ada yang mencapai panjang sampai 15 mikron. Struktur sel terlihat bahwa sel dikelilingi oleh lapisan pembungkus (slime layer) yang terdiri atas polisakarida. Dinding sel sangat penting dalam pemberian bentuk dan ketegangan selnya.

Bakteri yang tergolong autotrof menggunakan CO2 sebagai sumber zat karbon, sedangkan bakteri heterotrof menggunakan energi yang berasal dari reaksi kimia dengan sinar matahari. Bakteri yang membutuhkan O2 terlarut di dalam limbah atau air sebagai usaha untuk mengoksidasi bahan organik, disebut bakteri aerob, sedangkan yang tidak memerlukan O2 untuk proses tersebut dikenal sebagai bakteri anaerob ( Flynn, 1986 ).

Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme terpenting di dalam limbah cair. karena banyak diantaranya yang dapat digunakan menghilangkan bahan-bahan tertentu yang tidak diinginkan. Namun demikian banyak pula diantaranya yang kehadirannya di dalam limbah cair akan memperburuk keadaan limbah tersebut. Protozoa. Protozoa adalah kelompok mikroorganisme yang umumnya motil, bersel tunggal dan tidak mempunyai dinding sel (Jenie dan Rahayu, 1993). Seperti halnya dengan kelompok protista, protozoa dapat dijumpai pada air permukaan, air tanah, lumpur, debu, tinja, dan juga di lautan. Ukurannya beberapa ratus kali lebih besar dibandingkan dengan bakteri.

Salah satu jenis protozoa yaitu Pramaecium berbentuk elips dengan panjang 200 mikron dan lebar 40 mikron. Protozoa dapat hidup dengan syarat kehidupan yang minimal, sebab mikroba tersebut dapat menggunakan bakteri maupun mikroba lainnya sebagai sumber makanannya.

Selain berperan dalam proses penjernihan air, protozoa juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia Di dalam sistem pengolahan limbah cair, protozoa menjadi penting peranannya karena mikroba tersebut dapat memakan bakteri sehingga jumlah sel bakteri yang ada tidak berlebihan. Disamping itu protozoa akan mengurangi bahan organik yang tidak terolah dalam sistem penanganan dan membantu menghasilkan efluen dengan mutu yang lebih tinggi dan lebih jernih. Virus. Virus adalah parasit kecil yang bukan merupakan sel karena tidak mempunyai inti sel, membran sel maupun dinding sel. Virus berkembangbiak dalam kehidupan sel dan semuanya tidak akan berdaya apabila berada di luar kehidupan sel. Ukuran virus berkisar antara 200 – 400 milimikron, terdiri atas sekitar 100 tipe virus yang dikeluarkan melalui ekskreta manusia lewat saluran pencernaan dan banyak dijumpai pada sumber air.

Dalam limbah cair terdapat rata-rata 100 – 500 virus setiap 100 ml limbah (Lucy, 1995). Apabila virus tersebut tidak dibasmi pada proses pengolahan limbah cair dan mencemari badan air, maka jumlahnya akan menjadi lebih banyak.

Perhatian utama terhadap virus apabila terdapat di dalam limbah cair atau perairan dengan konsentrasi tinggi. Sejumlah penyakit yang disebabkan oleh virus digolongkan sebagai penyakit yang ditularkan melalui air (water borne disease), seperti penyakit polio dan hepatitis (Arya, 1999). Walaupun virus yang terdapat dalam suatu perairan konsentrasinya rendah, tidak menjamin bahwa perairan tersebut aman. Hal itu disebabkan karena setiap virus mampu menimbulkan infeksi (Haryoto, 1986).

  1. 4.     Efek Buruk Limbah Cair Rumah Tangga

Sesuai dengan pengertian limbah cair rumah tangga yang merupakan bahan sisa, berarti limbah cair adalah benda yang tidak digunakan lagi. Akan tetapi bukan berarti bahwa tidak perlu lagi dilakukan pengolahan, karena apabila tidak dikelola secara baik, akan menimbulkan gangguan terhadap lingkungan dan kehidupan yang ada Beberapa gangguan yang terjadi sebagai efek buruk dari limbah cair rumah tangga, yaitu : gangguan kesehatan, gangguan kehidupan biotik, gangguan terhadap keindahan, serta gangguan berupa kerusakan barang atau benda.

  1. Gangguan terhadap kesehatan

Limbah cair rumah tangga sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia, mengingat banyaknya penyakit yang dapat ditularkannya Sebagai media pembawa penyakit, di dalam limbah cair banyak terdapat mikroba patogen yang dapat mengganggu kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mikroba patogen yang biasa terdapat di dalam limbah cair rumah tangga antara lain golongan bakteri, seperti Vibrio. Salmonella dan Bacillus, dan dari golongan Protozoa seperti Entamoeba dan Paramaecium ( Sumirat, 1996 ). Demikian pula dengan golongan virus, banyak terdapat di dalam limbah rumah tangga, walaupun pola penularannya belum diketahui dengan jelas.

Limbah cair rumah tangga yang mengandung ekskreta yakni tinja dan urine, sangat berbahaya karena banyak mengandung mikroba patogen. Mikroba patogen tersebut mempunyai kemampuan hidup dan bertahan di dalam lingkungan dalam jangka waktu tertentu, tergantung jenis mikrobanya. Daya tahan beberapa jenis mikroba patogen di dalam lingkungan disajikan pada           Tabel 5.

Tabel 5. Daya Tahan Beberapa Mikroba Patogen pada Lingkungan (dalam hari)

Mikroba patogen

Lumpur tinja

Air buangan

Tanah

Virus :

   Enterovirus

Bakteri :

   Coliform tinja

   Salmonella

   Shigella

   Vibrio colerae

Protozoa :

   Entamoeba histolytica

 

< 20

 

< 50

< 30

< 10

< 5

 

< 15

 

< 50

 

< 30

< 30

< 10

< 10

 

< 15

 

< 20

< 20

< 20

tt

< 10

< 10

 

< 10

Sumber : MillerJr., dan Schawitzbord, dalam Sumirat (1966)

Mikroba patogen yang ada dalam limbah cair rumah tangga sangat berpengaruh terhadap peran air dalam penyebaran penyakit. Semakin besar volume limbah cair yang memasuki suatu perairan, semakin potensial pula perairan tersebut menyebarkan penyakit.

Mikroba patogen yang memasuki perairan merupakan penyebab berbagai macam penyakit menular. Penyakit tersebut dapat menular bila air yang mengandung mikroba patogen itu dipakai oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Adapun jenis-jenis mikroba yang dapat menyebar melalui air, adalah virus, bakteri dan protozoa ( Ryadi, 1984). Beberapa jenis mikroba patogen yang penyebarannya melalui air kotor serta penyakit yang ditimbulkannya, dapat dilihat pada Tabel 6.

Cara lain penyebaran mikroba patogen dari air kotor adalah melalui insekta yang bersarang atau hidup pada air tersebut. Insekta yang mengandung berbagai jenis penyakit tersebut menyebar dan menyerang manusia dengan cara masing-masing. Semakin kotor suatu perairan, semakin banyak mengandung insekta yang dapat menyebarkan bibit penyakit ( Botts atal, 1989 ).

Tabel 6.    Mikroba yang Penyebarannya Melalui Air dan Penyakit yang Ditimbulkan

 

Mikroba

Penyakit

Virus :

Rotavirus

Virus hepatitis A

V. poliomyelitis

Bakteri :

Vibrio cholerae

Escherichia coli

Salmonella typhi

Shigella dysentriae

Protozoa :

Entamoeba histolytica

Balantidia coli

Giardia lamblia

 

Diarhe

Hepatitis A

Polio

 

Kolera

Diarhe/dysentri

Thypus abdominalis

Dysentri

 

Dysentri amoeba

Balantidiasis

Giardiasis

Sumber : WHO, dalam Sumirat, (1996).

Jenis insekta yang paling banyak dijumpai berperan sebagai penyebar penyakit adalah dari golongan nyamuk. Jenis-jenis nyamuk dan penyakit yang disebarkan serta penyebab penyakitnya, disajikan pada Tabel 7.

 

Tabel 7. Beberapa Penyakit Bawaan Nyamuk.

Nvamuk

Penyakit

Penyebab

Culicines :

Culicines fatigans

C. pipiens

Aedes:

Aedes aegypti

 

Anopheline :

Anopheles sp.

 

Encephalitis

Filariasis

 

Dengue

Dengue haemorrhagic fever

 

Malaria

 

Virus encephalitis

Filaria

 

Virus dengue

Virus DHF

 

Protozoa

Sumber : WHO, dalam Sumirat (1996).

  1. Gangguan Terhadap Biota Perairan

Tingginya kadar bahan pencemar yang terdapat di dalam limbah cair menyebabkan turunnya kadar oksigen yang terlarut di dalamnya Hal tersebut akan mengganggu kehidupan yang membutuhkan oksigen di dalam air.

Selain disebabkan oleh kurangnya oksigen terlarut, kematian di dalam limbah juga disebabkan oleh adanya zat-zat beracun. Kematian yang terjadi selain menimpa hewan-hewan, juga terhadap bakteri yang seharusnya dapat berperan dalam proses penjernihan limbah. Akibatnya proses penjernihan limbah menjadi terhambat ( Lay danHastowo, 1992).

  1. Gangguan Terhadap Keindahan

Banyaknya bahan organik yang terdapat di dalam limbah cair rumah tangga menyebabkan terjadinya proses-proses pembusukan yang menghasilkan bau sangat mengganggu. Selain menimbulkan bau busuk, proses tersebut juga akan menyebabkan kondisi limbah menjadi licin atau berlendir dengan penampakan yang sangat buruk ( Connel dan Miller, 1995 ).

Dampak lain dari tingginya kadar bahan organik di dalam limbah cair rumah tangga adalah terbentuknya warna hitam atau warna lain yang sangat mengganggu pemandangan. Hal tersebut akan menjadi lebih parah jika terjadi pada kawasan rekreasi.

  1. Gangguan terhadap Benda dan barang

Apabila limbah mengandung karbondioksida yang agresif maka akan mempercepat terjadinya proses pengkaratan pada benda yang terbuat dari besi yang dilalui oleh limbah tersebut. Selain itu limbah yang berkadar pH rendah ataupun yang tinggi, akan menimbulkan pula kerusakan terhadap benda-benda yang dilaluinya.

Lemak yang berupa zat cair pada waktu dibuang ke saluran akan menumpuk secara kumulatif pada saluran karena mengalami pendinginan dan akan menempel pada dinding saluran, yang pada akhirnya akan menyumbat aliran limbah ( Lies at al, 1999 ).

  1. B.    Beberapa Cara Pengolahan Limbah Cair

Pengolahan limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan atau ke badan-badan air terutama ditujukan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran yang ditimbulkannya. Secara alamiah, lingkungan mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk menetralkan limbah cair yang masuk ke lingkungan tersebut. Namun demikian, kemampuan tersebut mempunyai keterbatasan, sehingga perlu dilakukan upaya untuk melindungi dan menjaga kelestariannya.

Dewasa ini telah ditemukan beberapa cara untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan, baik untuk limbah industri maupun untuk limbah rumah tangga. Namun demikian, penerapan teknologi pengolahan limbah tersebut belum sampai menjangkau limbah rumah tangga. Hal tersebut disebabkan antara lain karena tingginya biaya yang diperlukan, sulitnya menerapkan sistem atau cara tersebut, serta masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengolahan limbah cair rumah tangga.

Adapun cara pengolahan limbah cair yang selama ini telah ditemukan, baik untuk industri maupun untuk rumah tangga adalah sebagai berikut:

  1. a.     Pengenceran

Pengolahan limbah cair dengan cara pengenceran, yakni dengan menurunkan konsentrasi limbah sampai cukup rendah sebelum dibuang ke lingkungan. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilakukan proses pengolahan sederhana terlebih dahulu, antara lain dengan pengendapan dan penyaringan (Pandia, et al. 1995).

Pesatnya pertumbuhan penduduk dan perkembangan pada semua sektor kehidupan, maka cara tersebut tidak dapat lagi dipertahankan mengingat volume dan kandungan limbah semakin besar. Selain itu, sistem pengenceran memiliki kekurangan, antara lain oksigen terlarut di dalam perairan cepat habis, sehingga mengganggu kehidupan organisme. Cara tersebut juga dapat meningkatkan pengendapan zat-zat padat yang mempercepat pendangkalan dan menyebabkan terjadinya penyumbatan dan banjir.

  1. b.     Irigasi Luas

Pengolahan limbah cair dengan metode Irigasi Luas pada umumnya digunakan di daerah-daerah di luar kota atau di pedesaan karena memerlukan tanah yang cukup luas dan tidak dekat dengan permukiman penduduk. Limbah cair dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali pada sebidang tanah dan air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit. Pada keadaan tertentu limbah cair dapat digunakan untuk pengairan ladang, pertanian atau perkembangan dan sekaligus berfungsi sebagai pupuk ( Haryoto, 1985 ).

  1. c.     Kolam Oksidasi

Pengolahan limbah cair dengan sistem Kolam Oksidasi biasa juga disebut Kolam Stabilisasi, atau Lagoon, yang biasanya digunakan untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan oleh suatu kelompok masyarakat. Prinsip kerjanya adalah pemanfaatan pengaruh cahaya matahari, ganggang, bakteri dan oksigen dalam pembersihan alamiah.

Limbah cair dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman 1 sampai 1.5 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Luas kolam tergantung pada volume limbah yang akan diolah dan biasanya digunakan luas lahan sebesar 4072 m2 untuk setiap 100 orang. (Haryoto, 1995). Lokasi kolam minimal berjarak- 500 meter dari daerah permukiman dan ditempatkan di daerah terbuka yang memungkinkan adanya sirkulasi angin. Secara skematis, Kolam Oksidasi disajikan pada Gambar 1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Skema dan Proses Kerja Kolam Oksidasi

( Sumber : Suriawiria, 1986 )

Cara kerja Kolam oksidasi adalah sebagai berikut:

  1. Komponen-komponen yang berperan dalam proses pembersihan alami adalah cahaya matahari, algae, bakteri dan oksigen.
  2. Algae dengan butir klorofil, di dalam limbah cair melakukan proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari sehingga tumbuh dengan subur.
  3. Pada proses fotosintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh klorofil di bawah pengaruh cahaya matahari terbentuk O2. Oksigen tersebut digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair.  Selain itu terjadi pula penguraian zat-zat padat, sehingga terjadi  pengendapan. Dengan demikian,  nilai  BOD  dan  padatan tersuspensi di dalam limbah cair’ akan berkurang, sehingga relatif aman bila dibuang ke badan-badan air. Menurut Darwati dan Rahim (2002), pengolahan limbah cair dengan kolam oksidasi dapat menurunkan BOD dab COD sampai 90%.
  4. d.     Saringan Percikan

Cara pengolahan limbah cair dengan Saringan Percikan menganut prinsip pengolahan dengan mekanisme aliran yang jatuh dan mengalir perlahan-lahan melalui lapisan batu untuk kemudian disaring. Saringan percikan terbuat dari bak yang tersusun oleh lapisan materi yang kasar, keras, tajam dan kedap air. Bentuk bak dan lapisannya disesuaikan dengan sistem distribusinya. Secara skematis, sistem Saringan Percikan disajikan pada Gambar 2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar2. Skema Saringan Percikan (Sumber : Suriawiria, 1986 )

Adapun cara kerjanya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Limbah cair rumah tangga dialirkan masuk ke bak penyaringan melalui pipa influent. Melalui pipa distributor yang mempunyai lubang pemercik, limbah tersebut dijatuhkan secara perlahan pada batu-batuan penyaring yang tersusun sedemikian rupa dengan kemiringan sekitar 10 %.
  2. Setelah melalui penyaringan oleh batuan, limbah secara perlahan mengalir ke bak penampungan efluen yang dilengkapi pipa pembuangan.
  3. Melalui pipa efluen, limbah cair yang telah jernih dan diuji kandungannya, dilepas ke lingkungan.

 

  1. e.     Sistem Pengolahan Mekanik dan Biologis

Cara ini merupakan sistem pengolahan yang lebih kompleks, karena pengolahan secara mekanik merupakan pengolahan primer, sedangkan pengolahan biologis merupakan pengolahan sekunder. Sistem tersebut terutama digunakan pada daerah perkotaan dan umumnya dapat mengolah berbagai jenis limbah cair baik yang berasal dari rumah tangga maupun dari industri. Denah dan alur dari pengolahan limbah cair secara mekanik dan biologis disajikan pada Gambar 3.

Adapun proses kerja sistem tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pada pengolahan primer, pekerjaan pertama adalah menghilangkan kotoran yang berukuran besar seperti sampah, kayu, besi dan bangkai, dengan cara mengalirkan limbah cair melalui saringan kawat besi yang bergaris tengah 2.5 cm.   Semua benda kasar dengan garis tengah lebih dari 2.5 cm akan tertahan, selanjutnya limbah cair dialirkan ke saluran endapan kerikil atau pasir.
  2. Limbah cair dialirkan ke tangki pengendapan pertama (primary sedimentation) ke dasar tanki. Lumpur kasar tersebut kemudian dipompa keluar dan dimasukkan dalam tangki pelumat (sludge digestion tank), selanjutnya dimasukkan ke dalam tangki pengeringan. Limbah cair yang tertinggal diolah lebih lanjut dan dialirkan ke pengolahan sekunder.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Denah dan Alur Pengolahan Limbah Secara Mekanik dan Biologis

(Sumber : Haryoto, 1985)

 

 

 

 

 

  1. Pada pengolahan sekunder, bakteri-bakteri aerobik tumbuh dan melakukan dekomposisi secara aerobik. Bakteri-bakteri tersebut memerlukan banyak oksigen yang berasal dari udara. Salah satu cara mendapatkannya adalah dengan menyemprotkan cairan ke dalam bak yang berlapisan kerikil yang berfungsi sebagai penyaring.  Cairan lain yakni dengan menyemprotkan oksigen dari dasar tangki ke dalam tangki aerasi.
  2. Cairan dialirkan ke dalam tangki pengendapan terakhir (final sedimentation tank) yang berisi lumpur dan mikroorganisme. Endapan lumpur aktif (activated sludge) sebagian besar digunakan kembali dan dimasukkan ke dalam tangki aerasi. sisanya dibuang setelah dilumatkan dan dikeringkan.

 

  1. C.   Bahan Anorganik Penyaring Limbah

Berbagai macam cara digunakan untuk mengolah limbah cair. diantaranya : pasir, ijuk, arang batok, kerikil, pasir, ijuk dan kerikil merupakan bahan media penyaring, sedangkan arang batok merupakan bahan media penyerap (Untung, 1998).

  1. 1.     Pasir

Saringan pasir bertujuan untuk mengurangi kandungan lumpur dan bahan-bahan padat yang ada pada air limbah rumah tangga serta dapat menyaring bahan padat terapung. Ukuran pasir untuk menyaring bermacam-macam, tergantung jenis bahan pencemar yang akan disaring. Semakin besar bahan padat yang perlu disaring, semakin besar ukuran pasir.

Ukuran pasir yang lazim dimanfaatkan berukuran 0,4 mm – 0,8 mm dengan diameter pasir sekitar 0,2 mm – 0,35 mm serta ketebalan 0,4   m – 0,7 m (Untung. 1998). Menurut Saeni et al, (1990) bahwa saringan pasir mampu menurunkan bahan organik.

Di samping itu saringan pasir menurut Hay (1981) dapat menurunkan kesadahan air dengan keefektifan penyaringan 4.607 – 7.02%. Hal ini disebabkan karena pasir merupakan jenis senyawa silica dan oksigen yang dalam air berupa koloid yang mengikat OH pada permukaan membentuk lapisan pertama yang bermuatan negatif.

Bahan penyaringan pasir dan ijuk dapat menyerap Fe2+ (di samping pertukaran ion pada pasir), dimana Fe2+ dijerat oleh OH (pada pasir) atau asam-asam humus (pada ijuk) membentuk lapisan kedua.

  1. 2.     Arang Batok Kelapa

Arang batok ialah arang yang berasal dari tempurung kelapa Tempurung tersebut dibakar sampai menjadi arang. Selain menyerap bahan-bahan kimia pencemar, arang batok juga berfungsi untuk mengurangi warna dan bau air kotor (Untung. 1998).

Ada dua bentuk arang batok yang biasa dipakai. Pertama, butiran berdiameter 0,1 mm. Ke dua berbentuk bubuk berukuran 200 mesh. Karena berfungsi sebagai penyerap mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam limbah cair, maka setelah beberapa waktu kemudian tidak efektif lagi. Ciri ketidak efektifannya ialah air yang sudah tersaring tidak begitu jernih lagi. Jika hal tersebut terjadi, maka arang batok perlu dicuci dengan air bersih atau bahkan diganti dengan yang baru. Arang batok butiran dapat diaktifkan lagi melalui pembakaran ganda (Slamet, 1984).

Dalam proses penyaringan dengan bahan arang terjadi pertukaran kation Fe2+ dengan Ca2+ dan Mg2+, sehingga berlangsung pengikatan Fe dan terjadi penambahan nilai kesadahan filtrat (Saeni, et al. 1990). Pada bahan penyaring arang, pengambilan Fe2+ dilakukan proses pertukaran kation, dimana kation-kation pada permukaan partikel arang ditukar oleh ion besi. Di samping itu bahan saringan arang mengandung bahan organik yang tinggi, sehingga dapat menarik bahan organik dari air yang disaring (Manahan, 1977).

  1. 3.     Karbon Aktif

Karbon aktif adalah karbon yang mempunyai kadar C yang tinggi serta mempunyai daya adsorbsi yang besar. Karbon aktif dapat dibuat dengan berbagai cara yaitu dengan cara pemanasan karbon pada suhu yang tinggi, kurang lebih          500°C, atau dengan menambah asam fosfat/seng klorida pada karbon (Lado, 1997).

Karbon dapat diperoleh dari pembakaran kayu atau tempurung kelapa Karbon tersebut belum aktif karena masih mengandung abu dan zat-zat ikutan lainnya, sehingga kurang efektif jika langsung digunakan sebagai penyerap (adsorben).

Karbon yang telah diaktifkan mempunyai permukaan yang besar sehingga kontak resapan terhadap zat yang terabsorbsi makin lebih besar. Hal tersebut disebabkan karena karbon aktif mempunyai pori-pori yang banyak (Lado, 1997).

  1. 4.     Kerikil

Kerikil dipakai bersama dengan pasir dan arang, dan umumnya diletakkan pada lapisan dasar. Menurut Saeni, at al, (1990), pasir dapat menurunkan kesadahan air dengan keefektifan penyaringan berturut-turut 4,86 – 11,65% dan dapat meningkatkan NH4+. Secara skematis bangunan pengolahan air limbah dengan saringan anorganik, dapat dilihat pada Gambar 4.

 

  1. D.   Tanaman Air
  2. 1.     Jenis-Jenis Tanaman Air

Tanaman air merupakan bagian dari vegetasi penghuni bumi ini yang media tumbuhnya adalah perairan. Penyebarannya meliputi perairan air tawar, payau sampai ke lautan dengan beragam jenis dan bentuk, serta sifat-sifatnya. Walaupun masih banyak diantaranya belum diketahui, sebagian dari tanaman tersebut telah lama dikenal, bahkan telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan (Sunanto, 2000).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Konstruksi Pengolahan Limbah Cair dengan Saringan Anorganik

Pada perairan air tawar, umumnya tanaman air tumbuh secara alami menempati bagian-bagian perairan yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing. Namun pada perkembangan selanjutnya, banyak terjadi perubahan pada komposisi kehidupan tanaman air tersebut akibat gangguan keseimbangan ekologis pada tempat tumbuhnya. Akibatnya, tidak sedikit dijumpai kehidupan tanaman air yang tidak seimbang, seperti terjadinya dominasi satu jenis tanaman air, bahkan ada diantara jenis tanaman tertentu yang mengalami kepunahan.

Menurut Moore (1989), Moody (1993) dan Case (1994), berdasarkan karakteristiknya, tanaman air dapat dibagi dalam empat golongan, yaitu :

  1. Tanaman Air Penghuni Bagian Tepi Perairan (Marginal Aquatic Plant).

Sesuai dengan bentuk akar, batang dan daun tanaman yang termasuk golongan tersebut dapat hidup pada bagian tepi suatu perairan, yakni pada bagian yang dangkal sampai bagian yang tidak tergenang air. Beberapa contoh tanaman air yang termasuk dalam golongan marginal aquatic plant adalah tanaman juncus, sagitari, scirpus dan iris.

  1. Tanaman Air Penghuni Bagian Permukaan ( Floating Aquatic Plant). Tanaman air yang tergolong floating aquatic plant adalah tanaman air yang hidup terapung di permukaan perairan dengan posisi akar yang melayang di dalam air. Bentuk akar yang terjurai  memungkinkan tanaman tersebut menyerap zat-zat yang diperlukan, terutama dari bahan yang terlarut dan melayang di dalam perairan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah tanaman azolla, lemna, eicchornia, salvinia dan spirodella.
  2. Tanaman Air yang Hidup di dalam Perairan (Submerged Aquatic Plant).

Tanaman jenis ini hidup di dalam perairan dengan seluruh bagian tubuhnya terendam di dalam air. Akarnya menyentuh dasar perairan, namun sebagian diantaranya melayang, sedangkan batang dan daunnya bergerak mengikuti arah gerakan air. Posisi tanaman air jenis ini sangat menunjang untuk menjadi saringan bagi berbagai jenis bahan terlarut yang ada di dalam perairan, sehingga sangat membantu dalam proses penjernihan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah tanaman hydrilla, cllitriche, chara dan elodea.

  1. Tanaman Air yang Tumbuh pada Dasar Perairan (Deep Aquatic Plant).

Tanaman air yang tergolong deep aquatic plant adalah tanaman air yang tumbuh pada dasar perairan dengan akar tertanam kuat pada bagian dasar tersebut, sedangkan batangnya berdiri kuat menopang daun dan bunga yang muncul pada permukaan air. Tinggi serta posisi batang biasanya tergantung pada kedalaman perairan tempat hidupnya, sehingga akan dijumpai tinggi batang yang bervariasi serta posisi yang berbeda-beda. Tanaman air yang termasuk golongan ini adalah ponogethon, nuphar dan nympahaea.

Selanjutnya, menurut Marianto (2001), tanaman air dapat dibagi dalam empat tipe, yaitu:

  1. Tanaman Air Oksigen (Oxygenerator)

Tanaman air yang termasuk dalam Tanaman Air Oksigen adalah tanaman air yang mampu membersihkan udara sekaligus menyerap kandungan garam yang berlebihan di dalam air. Seluruh bagian tanaman tersebut tenggelam di dalam air.

  1. Tanaman Air Lumpur.

Sesuai dengan namanya, tanaman air golongan tersebut habitat aslinya adalah daerah berlumpur dan sedikit digenangi air. Ada yang menganggap bahwa Tanaman Air Lumpur sama dengan marginal aquatic plant, dengan pertimbangan bahwa tempat hidupnya sama-sama dipinggiran kolam.

  1. Tanaman Air Pinggir (marginal aquatic plant)

Tanaman Air Pinggir memiliki akar dan batang yang terendam di dalam air. Namun sebagian besar batangnya justru menyembul ke permukaan air. Selain batang, bagian daun dan bunganya juga berada di atas permukaan air.

  1. Tanaman Air Mengapung (floating auatic plant)

Tanaman ini tidak memerlukan tanah untuk media tumbuhnya, melainkan mengapung di permukaan air. Tanaman Air Mengapung hidup dengan cara menyerap udara dan unsur hara yang terkandung di dalam air. Tanaman tersebut memiliki keunggulan dalam kegiatan fotosintesis, penyediaan oksigen dan penyerapan sinar matahari.

  1. 2.     Kemampuan Tanaman Air Menstabilkan Limbah Cair

Kenyataan di lapangan pada masa lampau menunjukkan bahwa limbah cair rumah tangga yang dialirkan kedalam kolam-kolam yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman air, akan keluar dalam keadaan jernih. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa di dalam kolam tersebut telah terjadi proses penjernihan melalui penyaringan oleh tanaman air ( Marianto, 2001 ).

Kemampuan tanaman air untuk menjernihkan limbah cair akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian. Berbagai penemuan tentang hal tersebut telah dikemukakan oleh para ahli, baik yang menyangkut proses terjadinya penjernihan limbah maupun menyangkut tingkat kemampuan beberapa jenis tanaman air tertentu.

Stowell, et al. (1980) mengemukakan bahwa tanaman air memiliki kemampuan secara umum untuk mensupport komponen-komponen tertentu di dalam perairan, dan hal tersebut sangat bermanfaat dalam proses pengolahan limbah cair.

Selanjutnya, menurut Stowell (1982), fungsi tanaman air pada proses pengolahan limbah cair dapat dijelaskan melalui Tabel 8. Lebih lanjut dikemukakan oleh Reed et al. (1985) bahwa pada proses pengolahan limbah cair dalam kolam yang menggunakan tanaman air, terjadi proses penyaringan dan penyerapan oleh akar dan batang tanaman air, proses pertukaran dan penyerapan ion, dan tanaman air juga berperan dalam menstabilkan pengaruh iklim, angin, cahaya matahari dan suhu. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa terjadi sinergi antara penggunaan kolam pengolahan dengan tanaman air dalam hal menstabilkan limbah. Tanaman air dapat melakukan berbagai, proses yang menunjang kestabilan limbah, sedangkan kolam selain juga berperan secara langsung dalam proses penstabilan, juga berperan sebagai media tumbuh tanaman air tersebut.

Pengujian dan pemanfaatan kemampuan tanaman air untuk pengolahan limbah cair juga telah dilakukan di beberapa tempat, yang    pada umumnya menunjukkan hasil yang positif.

Tabel 8. Fungsi tanaman air pada proses pengolahan limbah cair

Bagian Tanaman Air

Fungsi

  1. Akar dan atau batang yang ada di dalam perairan
  2. Menekan pertumbuhan bakteri
  3. Menyaring dan menyerap bahan-bahan larut
  4. Batang atau bagian lain yang ada pada permukaan perairan
  5. Menahan cahaya matahari, sehingga dapat mencegah pertumbuhan algae
  6. Memperkecil pergerakan air akibat pengaruh angin, yang selanjutnya mempengaruhi pertukaran gas antara perairan dengan udara bebas
  7. Sangat penting dalam mentrasnfer gas dari dan ke bagian tanaman yang ada di dalam perairan
 
   

Sumber : EPA, (1991)

 

Suriawiria (1993) mengemukakan bahwa penataan tanaman air dalam suatu bedengan-bedengan kecil dalam kolam pengolahan dapat berfungsi sebagai saringan hidup bagi limbah cair yang dilewatkan pada tempat tersebut. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan tanaman air untuk menyaring bahan-bahan yang larut di dalam limbah cukup potensial untuk dijadikan bagian dari usaha pengolahan limbah cair.

Pada penelitian lain, Seregeg (1998) mengemukakan bahwa ada beberapa jenis tanaman air yang memiliki efektivitas tinggi jika digunakan sebagai tanaman penyaring pada sistem pengolahan limbah cair? yaitu tanaman Mendong (Scirpus littoralis), Kangkung (Epomea aquatica), dan Tales-Talesan (Typhonium, sp). Sedangkan Yusuf (2001) yang telah melakukan penelitian terhadap kemampuan beberapa jenis tanaman air dalam proses bioremediasi limbah cair rumah tangga mengemukakan bahwa tanaman Mendong (Iris sibirica). Teratai (Nymphaea firekrest), Kiambang (Spirodella polyrrhiza) . dan Hidrilla (Hydrilla verticillata) memberikan efek dalam persentase yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain terhadap peningkatan kualitas limbah cair rumah tangga Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa tanaman Mendong yang dikombinasikan dengan Teratai dapat menurunkan suhu limbah sebesar 3.57%, menurunkan kekeruhan sebesar 51,09%, menurunkan padatan tersuspensi 50.74%, meningkatkan pH 2,99%, meningkatkan oksigen terlarut 29,10%, menurunkan BOD 14,55%, menurunkan kandungan Coliform sebesar 46,88%, dan menurunkan Escherichia coli sebesar 45,00%.

 

  1. 3.     Manfaat Tanaman Air Terhadap Lingkungan

Kehidupan berbagai jenis tanaman air di alam, seringkali luput dari perhatian orang. Selain karena kehadirannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, tanaman air juga dianggap sebagai sesuatu yang biasa karena dapat dijumpai dimana-mana. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perlakuan-perlakuan yang sangat merugikan, antara lain berupa pembatasan hidup dan pemusnahan berbagai jenis tanaman air.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kualitas hidup manusia, maka nilai dan manfaat tanaman air mulai terungkap satu persatu. Manfaat tanaman air dalam menghasilkan oksigen pada proses fotosintesis merupakan hal yang sangat penting artinya bagi lingkungan sekitarnya. Oksigen yang dilepaskan ke udara sangat bermanfaat baik untuk kehidupan manusia, maupun kualitas lingkungan itu sendiri.

Dalam hal keindahan, tanaman air juga sangat potensial untuk dikembangkan. Sebagaimana diketahui bahwa selain bentuk-bentuk tanaman air yang cukup unik dan menarik, beberapa diantaranya mempunyai bunga atau daun dengan warna yang sangat indah. Menurut Case (1994), apabila tanaman-tanaman air di dalam suatu kolam ditata dengan baik dalam suatu konfigurasi yang sesuai, maka akan menghasilkan pemandangan yang sangat indah dengan nilai estetika yang tinggi.

Upaya untuk memanfaatkan tanaman air sebagai tanaman hias telah banyak dilakukan dan dikenal sebagai “water garden”, namun upaya tersebut sampai saat ini masih terbatas pada pekarangan rumah atau perkantoran. Untuk itu perlu pemikiran untuk mengembangkannya, baik dalam hal fungsi dan manfaat maupun cakupannya. Salah satu alternatif pengembangan tersebut adalah melalui penataan kolam pengolahan limbah cair rumah tangga dengan tanaman air pada suatu permukiman.

  1. E.    Eceng Gondok Sebagai Biofilter Limbah Cair

Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu tanaman air yang populer di Indonesia, yang awalnya didatangkan dari Brazil. Eceng gondok termasuk sejenis tanaman air yang hidup terapung (floating aquatic plant), yang memiliki kemampuan berkembang biak cukup tinggi serta kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan (Don at al). Dengan demikian, dalam waktu yang singkat, tanaman eceng gondok dapat menutupi permukaan perairan dan mempercepat pendangkalan. Oleh karena itu, eceng gondok berpotensi untuk menimbulkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan.

Selain memiliki sifat merugikan, eceng gondok juga dapat mendatangkan keuntungan, antara lain kemampuannya untuk menyerap berbagai zat pencemar di dalam air. Lubis dalam Sjahrul (1998) mengatakan, beberapa peneliti melaporkan bahwa eceng gondok dapat menyerap berbagai zat pencemar dalam air dan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban pencemaran lingkungan. Dengan demikian bila tanaman eceng gondok dikelola dengan baik dan dipanen secara teratur dapat berperan dalam penanggulangan pencemaran air (Lubis, 1990).

Suatu hasil percobaan menunjukkan bahwa dalam tubuh eceng gondok dapat berlangsung proses yang sangat efisien untuk membersihkan limbah industri yang dapat dihancurkan secara biologia (Neis, 1989). Eceng gondok juga dapat menyerap senyawa-senyawa fenol. Menurut Widyanto dan Suryani (1975), eceng gondok yang memiliki bobot kering sebesar 2.75 gram dapat menyerap 100 mg fenol dari air suling atau air sungai selama 72 jam atau 1 ha eceng gondok dapat menyerap 160 kg fenol selama 3 hari. Selanjutnya, Gopal (1987) mengemukakan bahwa eceng gondok dapat memindahkan sejumlah senyawa sintetik termasuk pestisida dari air yang telah tercemar pestisida. Juga dilaporkan bahwa dari sejumlah studi ditemukan bahwa telah terjadi pengurangan jumlah Coliform dalam limbah yang ditanami dengan eceng gondok. Pengurangan tersebut disebabkan karena terjadinya akumulasi bakteri di sekitar akar eceng gondok. Kejadian tersebut telah dimanfaatkan untuk membasmi epidemik kolera yang tersebar di Bangladesh.

Welverton dan Donald (1979) menyatakan bahwa di Amerika Serikat pemakaian gulma air sebagai penjernih pencemar yang telah digunakan meluas karena biaya operasinya tidak mahal Jadi cara tersebut cukup baik diterapkan di negara berkembang seperti di Indonesia. Cara pengelolaan eceng gondok sebagai salah satu cara untuk menanggulangi pencemaran ialah menjaga supaya ada populasi terbatas eceng gondok yang berfungsi sebagai penyaring zat pencemar. Banyaknya zat yang terserap oleh eceng gondok, tergantung pada konsentrasi dari jenis pencemar dalam larutan media pertumbuhan.

Pencemaran perairan oleh limbah penduduk dan industri dapat merangsang pertumbuhan eceng gondok hingga populasinya mengganggu keseimbangan lingkungannya. Dengan pengelolaan yang baik, yaitu menjaga populasi tertentu, eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai penyaring zat pencemar dalam limbah. Pengelolaan eceng gondok yang dapat disarankan adalah dengan cara mekanis yang diikuti dengan pemanfaatan bahan organiknya menjadi pupuk, makanan ternak, bahan kerajinan, pulp, media tumbuh jamur merang, biogas dan Iain-lain (Widyanto, 1980).

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

 

  1. A.    Kerangka Pemikiran

Dalam kerangka pemikiran akan dicoba menjelaskan tentang :

  1. Peranan saringan anorganik terhadap aliran limbah rumah tangga
  2. Proses penjerapan beberapa macam zat yang terkandung dalam limbah rumah tangga dengan mengalirkan melalui pasir, kerikil, arang batok kelapa dan zeolit.
  3. Keterkaitan antara berbagai komponen dalam limbah rumah tangga dan tanaman air dalam ekosistem
  4. Masalah yang terkait dengan penelitian dan cara penyelesaian masalah

Secara singkat keempat hal yang telah dikemukakan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Peranan saringan anorganik

Saringan anorganik tersusun dari lapisan materi kasar, keras, tajam dan kedap air. Limbah rumah tangga yang melewati saringan tersebut diharapkan dapat tersaring bahan-bahan yang mengambang, terapung, kekeruhan, warna dan bau.

  1. Proses penjerapan

Limbah cair rumah tangga pada dasarnya mengandung bahan-bahan tercemar. Proses yang memegang peranan penting dalam penyaringan polutan adalah proses penjerapan pada permukaan pasir, kerikil, karbon aktif dan zeolit. Saringan pasir dan kerikil pada proses penyaringan limbah cair rumah tangga mampu menahan endapan lumpur dan logam. Kemampuan pasir dan kerikil menjerap pulutan dalam limbah cair didasarkan atas pertukaran kation.   Arang atau karbon aktif mampu menjerap polutan karena strukturnya yang berpori-pori dan memiliki permukaan yang luas persatuan volume. Bau dan warna limbah cair juga dapat dihilangkan oleh arang. / Mineral zeolit merupakan jenis bahan galian yang murah dan dapat didapatkan di pasaran. Zeolit adalah bahan penukar ion yang dapat digunakan pada prose penjernihan air karena kemampuannya menyerap dan menyaring molekul, sebagai penukar kation dan katalis. Oleh karena itu, zeolit sangat tepat digunakan untuk pengolahan limbah rumah tangga, diantaranya sebagai penghilang bau, pengika logam Ca, Mg, Fe, Mn dan logam berat lainnya serta dapat menyerap gas.

  1. Keterkaitan antara Tanaman Air dengan kandungan Limbah Cair Rumah Tangga dalam Ekosistem

Proses sirkulasi kesetimbangan antara bahan konsumsi dan lingkungan alam berjalan melalui proses industri. Manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan sehari harinya menggunakan hasil industri sebagai bahan konsumsi mereka Residu dan manusia yang terkumpul dalam limbah rumah tangga yang mengandung berbagai polutan terbuang ke dalam badan air sampai terbentuk pencemaran perairan.

Bahan residu yang dihasilkan dari aktivitas manusia dalam limbah rumah tangga terbuang ke lingkungan air dan tanah. Banyak dari residu dalam limbah mengandung logam, zat organik dan zat anorganik lain tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme air. Akibatnya, bahan residu dan limbah cair menjadi polutan dan tersebar ke komponen lingkungan. Polutan di dalam lingkungan akan tersirkulasi bersama-sama dengan semua bahan yang lain dalam proses pertumbuhan tanaman air Dalam proses metabolisme, polutan akan menjadi bagian dari struktur selular dalam tanaman air.

  1. Masalah yang terkait dengan Penelitian dan Cara Penyelesaian Masalah

Dari gejala yang ada, tampak bahwa ada faktor-faktor yang berpengaruh pada proses penyerapan dan sekaligus mempengaruhi proses penjernihan limbah rumah tangga. Tanaman air yang tumbuh pada lingkungan air yang sudah tercemar juga nampak ada faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembentukan habitatnya sehingga mampu menyerap berbagai jenis polutan air. Untuk memecahkan masalah pengurangan kadar polutan sampai pada tingkat di bawah ambang batas standar (baku) mutu lingkungan, dibuat suatu model sinergi saringan biogeokimia. Saringan tersebut diharapkan mampu menyaring polutan dalam limbah cair rumah tangga sampai didapatkan hasil pengolahan yang optimal.

Skema keterkaitan antara saringan geokimia dan biologi dengan bahan pencemar dalam ekosistem, disajikan pada Gambar 5.

  1. B.    Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Sistem pengolahan limbah cair rumah tangga dengan  Filter Biogeokimia dapat meningkatkan kualitas air limbah tersebut.
  2. Konsentrasi   limbah   cair   rumah   tangga   dapat   mempengaruhi   efektifitas pengolahan yang menggunakan Filter Biogeokimia.
  3. Lamanya waktu kontak antara limbah  dengan saringan biogeokimia dapat mempengaruhi hasil pengolahan yang diperoleh.
  4. Kandungan limbah cair rumah tangga yang diolah dengan Filter Biogeokimia memperlihatkan pola penurunan yang berbeda pada setiap saringan, dan setiap konsentrasi limbah yang diolah.

 

 

Gambar 5. Skema Keterkaitan antara Saringan Geokimia dan Biologi dengan Bahan Pencemar dalam Ekosistem

 

 

 

 

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.    Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan, yakni dari bulan September 2003 sampai bulan Pebruari 2004. Penggunaan waktu tersebut dibagi dalam tiga tahapan, yakni:

  1. Tahap persiapan menggunakan waktu selama dua bulan, yakni untuk : penyelesaian administrasi, penyediaan alat-alat dan bahan penelitian, disain dan pemasangan instrumen penelitian, penjajakan lokasi pengambilan limbah dan uji coba instrumen penelitian.
  2. Tahap pelaksanaan menggunakan waktu selama dua bulan, yaitu untuk : pengambilan dan pengangkutan limbah cair rumah tangga dari sumber-sumber limbah ke lokasi pengolahan, pemberian perlakuan berdasarkan disain penelitian, dan pengumpulan data yang diperlukan.
  3. Tahap penyelesaian memerlukan waktu selama dua bulan, yakni untuk : perapian data, pengolahan dan analisis data, serta penulisan hasil penelitian.

Adapun  tempat  pelaksanaan  penelitian  ini  adalah  dalam  wilayah  Kota

Makassar, dengan perincian:

  1. Lokasi pengambilan limbah cair rumah tangga, yakni dalam kawasan Perumahan Asindo, Perumnas Toddopuli, dan pada kawasan Permukiman Kampung Lette. Ketiga tempat tersebut diharapkan dap at mewakili karakteristik limbah cair rumah tangga dalam wilayah Kota Makassar, baik dari segi kandungan, jenis dan volumenya. Gambaran secara terperinci mengenai titik-titik pengambilan limbah pada ketiga lokasi tersebut dapat dilihat pada Gambar Lampiran 1.
  2. Tempat pemasangan instrumen penelitian, dalam hal ini tempat pelaksanaan percobaan atau pengolahan limbah, menggunakan lokasi pada halaman belakang Kantor Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulawesi Selatan, Jl. Urip Sumoharjo. No. 96 Makassar. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa jarak dengan lokasi pengambilan limbah dan jarak dengan lokasi untuk pengujian kandungan limbah, cukup menguntungkan.
  3. Selanjutnya, tempat pengujian kandungan limbah, yakni di Laboratorium Kimia dan Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin.

 

  1. B.    Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang dibutuhkan terdiri atas :

  1. Bak saringan anorganik. Bak tersebut terbuat dari fiber glass, berukuran panjang 240 cm, lebar  100 cm dan tinggi 200 cm  Bagian dalam bak terdiri atas tiga bagian yang saling berhubungan.  Bagian pertama berisi  bahan penyaring berupa batuan kerikil dengan lapisan setinggi 100 cm dari dasar. Bagian kedua berupa ruangan kosong yang dapat menghubungkan antara bagian pertama dengan bagian ke tiga. Bagian ke tiga berisi bahan penyaring yang terdiri atas lapisan pasir silika setebal 40 cm, lapisan arang batok kelapa setebal 20 cm dan lapisan zeolit setebal 20 cm.
  2. Kolam saringan biologis. Kolam tersebut terbuat dari tembok dengan ukuran panjang 200 cm, lebar 150 cm dan tinggi 50 cm Kolam tersebut berisi tanaman Eceng Gondok dengan ukuran rata-rata tanaman 30 cm dan jumlah daun rata-rata 4 helai.
  3. Kolam pemeliharaan ikan. Kolam tersebut tempat pemeliharaan sejumlah ikan mas yang dijadikan sebagai indikator tingkat pencemaran limbah cair rumah tangga setelah diolah untuk selanjutnya dapat dilepas ke lingkungan.
  4. Tangki penampungan limbah cair rumah tangga. Tangki tersebut sebagai tempat penampungan dan pengenceran limbah cair rumah tangga yang dikumpulkan  dari  berbagai  tempat,   untuk  selanjutnya dialirkan ke  bak pengolahan.
  5. Alat-alat laboratorium untuk uji kualitas fisik, kimia dan mikrobiologis.
  6. Alat-alat bantu, baik untuk pengumpulan limbah dan pembuatan kolam maupun untuk uji laboratorium.

Secara skematis, alat pengolahan limbah cair rumah tangga dengan saringan biogeokimia, disajikan pada Gambar 6, dan detailnya dapat dilihat pada Gambar 7.

Adapun bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah :

  1. Bahan-bahan untuk filter geokimia, terdiri atas :
  2. Kerikil

Kerikil berukuran sekitar 2,5 – 7,5 cm ditempatkan di dalam bak filter geokimia pertama dengan ketebalan 100 cm. Kerikil tersebut disusun sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai saringan, dan limbah yang dilewatkan pada saringan tersebut dapat melewatinya dalam waktu yang relatif cepat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6. Skema Rankaian Model Pengolahan Limbah Cair Rumah Tangga dengan Saringan Biogeokimia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 7. Detail Gambar Model Pengolahan Limbah Cair Rumah Tangga dengan Sistem Biogeokimia

 

  1. Pasir silika

Pasir silika ditempatkan pada lapisan bawah bak ke dua filter geokimia dengan ketebalan 40 cm. Lapisan tersebut akan menyaring limbah yang dialirkan dari bak pertama, sebelum limbah bergerak ke atas menuju lapisan berikutnya.

  1. Arang batok kelapa.

Arang batok kelapa ditempatkan pada lapisan tengah bak ke dua filter geokimia dengan ketebalan 20 cm Arang batok kelapa akan menyaring limbah yang bergerak dari lapisan pasir silika untuk selanjutnya menuju lapisan paling atas bak penyaringan ke dua.

  1. Zeolit

Zeolit merupakan lapisan paling atas pada bak ke dua filter geokimia, dengan ketebalan 20 cm. Bahan tersebut berfungsi sebagai saringan tahap akhir pada filter geokimia sebelum limbah dialirkan masuk pada kolam saringan biologis (biofilter).

  1. Bahan untuk biofilter

Bahan yang digunakan untuk biofilter adalah tanaman air yang ditanam pada kolam-kolam pengolahan. Biofilter merupakan pengolahan lanjutan setelah limbah melalui saringan biogeokimia. Tanaman air yang digunakan pada penelitian ini adalah Eceng Gondok (Eicchornia crassipes). Tanaman tersebut dikumpulkan dari beberapa tempat dalam Wilayah Kota Makassar, kemudian dipelihara (disegarkan) sebelum digunakan. Setelah tanaman tersebut mencapai kondisi yang normal dan siap untuk digunakan, maka selanjutnya dipindahkan pada kolam pengolahan. Tanaman Eceng Gondok akan berfungsi sebagai penyaring limbah yang dialirkan dari bak saringan geokimia.

  1. Ikan mas ( Cyprinus carpio )

Ikan mas ukuran 5 – 10 cm ditempatkan pada kolam-kolam yang telah disediakan untuk menampung aliran limbah yang telah disaring pada biofilter. Ikan mas berfungsi untuk menguji apakah limbah rumah tangga yang telah melalui saringan biogeokimia telah mencapai kondisi yang aman bagi kehidupan organisme di perairan. Apabila ikan mas dalam kolam tidak mengalami gangguan setelah mendapat aliran limbah dari kolam biofilter, maka berarti limbah hasil olahan tersebut aman bagi kehidupan organisme air tawar.

  1. Limbah cair rumah tangga

Limbah cair rumah tangga yang merupakan bahan uji utama dikumpulkan secara langsung dari beberapa lokasi permukiman dalam wilayah Kota Makassar. Lokasi pengambilan limbah tersebut terdiri atas 9 titik, yakni 3 titik pada lokasi Perumahan Asindo, 3 titik pada lokasi Perumnas Toddopuli dan 3 titik pada lokasi Kampung Lette.

  1. C.   Prosedur Kerja
  2. Persiapan alat pengolahan limbah

Persiapan alat pengolahan limbah meliputi:

Pembuatan saringan anorganik. Saringan anorganik terdiri atas suatu bak yang terbuat dari fiber glass yang terdiri atas 3 petak, masing-masing petak pertama diisi batu kerikil ukuran rata-rata 2,5 – 7,5 cm setebal 100 cm, petak ke dua dikosongkan dan petak ke tiga diisi pasir silika pada bagian dasar setebal 40 cm, arang batok kelapa pada bagian tengah setebal 20 cm dan zeolit pada bagian atas setebal 20 cm. Ketiga petak tersebut dihubungkan oleh satu pipa sehingga memungkinkan terjadinya aliran limbah dari petak pertama ke petak ke dua, dan dari petak ke dua ke petak ke tiga. Bak saringan anorganik tersebut diletakkan pada ketinggian 2 meter dari tanah.

Saringan biologis. Saringan biologis terbuat dari suatu bak yang terbuat dari tembok permanen yang diisi dengan tanaman Eceng Gondok. Bak saringan biologis tersebut dibuat pada dasar tanah dan dihubungkan dengan bak saringan anorganik dengan sebuah pipa yang dilengkapi dengan kran, sehingga limbah dari saringan anorganik dapat dialirkan ke bak saringan biologis.

Bak pemeliharaan ikan mas. Bak pemeliharaan ikan terbuat dari tembok permanen yang diletakkan sejajar dengan bak saringan biologis. Dalam bak tersebut dipelihara sejumlah ikan mas yang menjadi indikator tingkat keamanan limbah yang telah diolah melalui saringan anorganik dan biologis. Persiapan bak penampungan limbah cair rumah tangga. Bak penampungan limbah berupa dua buah tangki, masing-masing berkapasitas 2000 liter. Kedua tangki tersebut digunakan untuk menampung limbah cair rumah tangga yang dikumpulkan dari berbagai lokasi. Kedua tangki tersebut juga berfungsi sebagai tempat melakukan pengenceran limbah sebelum dilakukan pengolahan.

 

  1. Pengumpulan limbah cair rumah tangga

Limbah cair rumah tangga dikumpulkan dari tempat-tempat yang telah ditentukan. Pada pengumpulan dan pengangkutan limbah digunakan satu unit mobil tangki dengan kapasitas 5000 liter. Waktu pengambilan limbah dipilih secara bervariasi dengan maksud agar limbah yang diperoleh dapat mewakili seluruh sifat atau karakteristik limbah cair rumah tangga.

  1. Pemberian Perlakuan

Pada proses pengolahan limbah, telah digunakan tiga jenis perlakuan, yakni pengaturan konsentrasi    limbah sebelum diolah, pengaturan waktu kontak antara limbah dengan   saringan, dan pemisahan jenis saringan. Pengolahan limbah dilakukan dalam empat tahap yakni :

Tahap I, menggunakan limbah cair rumah tangga dengan konsentrasi 100% (tanpa pengenceran).

Tahap II, menggunakan limbah cair rumah tangga dengan konsentrasi 75% limbah, dan 25 % air sebagai pengencer.

Tahap III, menggunakan limbah cair rumah tangga dengan konsentrasi 50% limbah dan 50% air sebagai pengencer.

Tahap IV, menggunakan limbah cair rumah tangga dengan konsentrasi 25% limbah dan 75% air sebagai pengencer

Setiap tahap pengolahan menggunakan tiga jenis saringan, yaitu :

Saringan I terdiri atas bak yang berisi lapisan batu kerikil

Saringan II terdiri atas bak yang berisi lapisan pasir silika, arang batok kelapa, dan zeolit.

Saringan III terdiri atas bak yang berisi tanaman Eceng Gondok.

Waktu yang digunakan untuk satu tahap pengolahan yakni selama 24 jam, dengan perincian sebagai berikut:

Penyaringan I memerlukan waktu selama 8 jam yang terdiri dari 3 waktu kontak yang diamati, yaitu 2 jam, 4 jam dan 8 jam setelah limbah berada pada saringan I.

Penyaringan II memerlukan waktu selama 8 jam yang terdiri dari 3 waktu kontak yang diamati, yaitu 2 jam, 4 jam dan 8 jam setelah limbah berada pada saringan II.

Penyaringan III memerlukan waktu   selama 8 jam yang terdiri dari 3 waktu kontak yang diamati, yaitu 2 jam, 4 jam dan 8 jam setelah limbah berada pada saringan III.

  1. Proses Pengolahan Limbah

Rangkaian proses pengolahan limbah dapat dijelaskan sebagai berikut: Limbah rumah tangga dialirkan dari bak penampungan melalui pompa ke bak penyaringan I ( kerikil ) sampai penuh. Selama limbah berada pada bak saringan I, dilakukan 3 kali pengambilan contoh, yakni setelah limbah mengalami waktu kontak selama 2 jam, 4 jam dan 8 jam. Selanjutnya limbah dialirkan menuju bak penyaringan II (pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit), dan pada bak tersebut dilakukan hal yang sama pada bak saringan I. Dari bak penyaringan II, limbah dialirkan ke bak saringan III (Eceng Gondok), dan juga dilakukan 3 kali pengambilan contoh, yakni pada waktu kontak 2 jam, 4 jam dan 8 jam Dari bak penyaringan III limbah dialirkan ke bak pemeliharaan ikan mas. Dengan selesainya rangkaian proses tersebut, maka pengolahan tahap I dinyatakan selesai.

Pengolahan tahap II dilakukan setelah seluruh peralatan dan bahan yang digunakan dibersihkan dari sisa-sisa pengolahan tahap I, dan hal yang sama dilakukan pula untuk tahap-tahap selanjutnya.

  1. D.   Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan atau uji laboratorium terhadap limbah cair rumah tangga yang diolah. Proses pengumpulan data meliputi : pengambilan sampel, penomoran dan pengangkutan sampel serta uji laboratorium. Berdasarkan disain penelitian yang telah ditetapkan, maka pengambilan sampel dilakukan sebanyak 10 kali untuk setiap tahap pengolahan.

Pengambilan sampel pertama . dilakukan pada saat limbah belum diberi perlakuan (tanpa pengenceran, tanpa saringan dan tanpa waktu kontak / pengolahan). Pengambilan sampel selanjutnya dilakukan setelah proses penyaringan berlangsung selama 2 jam, 4 jam dan 8 jam pada setiap bak penyaringan.

Sampel yang telah diambil dan diberi nomor, selanjutnya dibawa ke Laboratorium Kimia Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin untuk dilakukan uji laboratorium. Data yang telah dikumpul melalui uji laboratorium tersebut meliputi data kualitas fisik limbah, kualitas kimia dan kualitas mikrobiologis. Data kualitas fisik terdiri atas 3 parameter, yaitu kekeruhan, padatan tersuspensi dan kesadahan, data kualitas kimia terdiri atas 10 parameter, yaitu pH, BOD, COD, BOT, kalsium, klorida, amonium, o-posfat, besi, dan nitrit, sedangkan data kualitas mikrobiologis terdiri atas 3 parameter, yakni kandungan Coliform, kandungan Escherichia coli, dan kandungan total mikroba.

  1. E.    Analisis Data

Data yang terkumpul dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dikemukakan. Adapun langkah-langkah analisis tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Untuk  mengetahui  pengaruh pengolahan  dengan  Sistem Filter Biogeokimia terhadap peningkatan kualitas limbah cair rumah tangga, digunakan Analisis Sidik Ragam dengan Rancangan Faktorial. Penggunaan Rancangan Faktorial didasarkan pada prinsip bahwa percobaan yang mengkombinasikan dua atau lebih faktor perlakuan, lebih tepat jika menggunakan Rancangan Faktorial, karena dengan rancangan   tersebut- dapat   diketahui   pengaruh   bersama  antara  faktor-faktor perlakuan terhadap hasil percobaan.
  2. Untuk mengetahui tingkat perlakuan yang memberikan efek terbaik terhadap hasil pengolahan, hasil Uji Faktorial dilanjutkan dengan Uji Lanjut
  3. Untuk mengetahui pola perubahan konsentrasi setiap parameter limbah yang diuji, digunakan analisis kurva, yakni dengan menggambarkan dan mendeskripsikan kurva perubahan setiap parameter tersebut berdasarkan data yang diperoleh dari uji laboratorium terhadap sampel limbah.

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.    Hasil Penelitian

Setelah melalui proses pengolahan dengan sistem saringan biogeokimia, kandungan limbah cair rumah tangga mengalami perubahan. Perubahan kandungan tersebut sebagai efek dari ketiga jenis perlakuan yang digunakan, yakni pengenceran limbah, pengaturan lamanya waktu kontak/pengolahan dan penggunaan saringan kerikil, pasir, arang, zeolit dan eceng gondok. Data umum tentang kandungan limbah cair rumah tangga sebagai hasil percobaan disajikan pada Lampiran 1.

Efek pengolahan terhadap kualitas limbah cair rumah tangga yang diperoleh sebagai  hasil  penelitian,   dapat  dijelaskan  secara rinci   berdasarkan  parameter-parameter yang telah diteliti, sebagai berikut:

  1. a.     Kekeruhan limbah

Tingkat kekeruhan sebagai salah satu parameter kualitas fisik limbah cair rumah tangga memperlihatkan adanya penurunan setelah melalui proses pengolahan, dan penurunan tersebut merupakan indikasi adanya peningkatan kualitas limbah. Kekeruhan limbah sebelum diolah sebesar 56,0 NTU, dan setelah melalui pengolahan tahap akhir turun menjadi 5,9 NTU. Dengan demikian efektivitas pengolahan dalam menurunkan kekeruhan adalah sebesar 89,46%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa proses pengolahan berpengaruh nyata terhadap penurunan tingkat kekeruhan limbah cair rumah tangga Ketiga jenis perlakuan (pengenceran, waktu kontak dan jenis saringan) memberikan efek yang nyata, baik berupa pengaruh tunggal maupun interaksi antara ketiganya.

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa faktor pengenceran memberikan efek yang berbeda antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain, dan penurunan yang terbesar terjadi pada konsentrasi 25 %. Lama waktu kontak juga memberikan efek yang berbeda antara satu dengan yang lain terhadap penurunan kekeruhan limbah, dan penurunan yang terbesar terjadi pada waktu kontak 8 jam. Demikian halnya dengan jenis saringan yang digunakan, telah memberikan efek yang berbeda antara satu jenis saringan dengan jenis saringan yang lain, dan penurunan terbesar terjadi pada saringan 3 (eceng gondok).

Pola penurunan tingkat kekeruhan limbah cair rumah tangga pada proses pengolahan dapat diketahui melalui data tentang besarnya penurunan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Pola penurunan kekeruhan dapat dilihat dalam dua hubungan, yaitu efek pengenceran dengan waktu kontak pada proses penyaringan. Penurunan kekeruhan yang terjadi sebagai efek pengenceran pada proses penyaringan dapat dilihat pada Tabel 9. Selanjutnya, pola penurunan tersebut digambarkan dalam suatu kurva yang disajikan pada Gambar 8.

Tabel 9.    Penurunan kekeruhan berdasarkan efek pengenceran terhadap proses penyaringan

 

Pengenceran            (%)

Saringan

0

1

2

3

100

55.0

38.0

20.0

15.0

75

42.0

22.5

16.8

10.5

50

34.52

24.23

20.13

12.63

25

13.5

9.0

7.5

6.2

Keterangan:

Saringan 0     = tanpa saringan

Saringan 1     = kerikil

Saringan 2     = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3     = tanaman eceng gondok

 

 

Gambar 8.     Pola penurunan kekeruhan berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan.

 

Adapun penurunan kekeruhan berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan disajikan pada Tabel 10, dan berdasarkan Tabel tersebut pola penurunan kekeruhan berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan disajikan pada Gambar 9.

Tabel 10. Penurunan kekeruhan berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

Waktu Kotak            (jam)

Saringan

0

1

2

3

0

36.18

36.18

23.40

16.10

2

36.18

28.30

21.13

12.78

4

36.18

24.19

18.28

12.25

8

36.18

23.45

11.37

11.08

Keterangan:

Saringan 0     = tanpa saringan

Saringan 1     = kerikil

Saringan 2     = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3     = tanaman eceng gondok

 

 

Gambar 9.     Pola penurunan kekeruhan berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan.

 

  1. b.     Padatan Tersuspensi

Padatan tersuspensi yang terdapat di dalam limbah cair rumah tangga mengalami penurunan setelah melalui proses pengolahan. Padatan tersuspensi limbah sebelum pengolahan sebesar 98,0 mg/1, dan setelah melalui pengolahan tahap akhir turun menjadi 6,2 mg/1. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa efektifitas pengolahan terhadap penurunan padatan tersuspensi adalah 93,67%.

Hasil analisis sidik ragam terhadap padatan tersuspensi menunjukkan bahwa proses pengolahan berpengaruh nyata terhadap penurunan padatan tersuspensi limbah. Pengaruh tersebut merupakan kontribusi dari ketiga perlakuan, baik berupa pengaruh tunggal maupun interaksi antara ketiganya.

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa perlakuan berupa pengenceran limbah memberikan pengaruh yang berbeda antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain, dan pengaruh paling besar terjadi pada konsentrasi 25 %. Waktu kontak limbah dengan saringan juga memberikan pengaruh yang berbeda antara satu dengan yang lain, dan pengaruh yang paling besar terjadi pada waktu kontak 8 jam. Demikian pula halnya dengan jenis saringan, telah memberikan pengaruh yang berbeda antara satu jenis saringan dengan jenis saringan yang lain dan pengaruh paling besar terjadi pada saringan 3 (eceng gondok).

Seperti halnya dengan kekeruhan limbah, pola perubahan padatan tersuspensi dapat diketahui berdasarkan perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Efek pengenceran dengan waktu kontak memberikan pola perubahan tertentu pada proses penyaringan,, Adapun penurunan padatan tersuspensi berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan, dapat dilihat pada Tabel 12. Selanjutnya, berdasarkan tabel tersebut, pola penurunan padatan tersuspensi limbah dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 11.

Tabel  11. Penurunan padatan tersuspensi berdasarkan pengaruh pengenceran dan saringan

 

Pengenceran (%)

Saringan

0

1

2

3

100

98

72

52

32

75

84

40

35

22

50

46

34

30

22

25

28

20

18

11

Keterangan:

Saringan  0    =  tanpa saringan

Saringan  1    =  kerikil

Saringan  2    =  pasir, arang dan zeolit

Saringan  3    =  tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

Gambar 10.   Pola penurunan padatan tersuspensi berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Adapun kekeruhan limbah sebagai efek pengaruh  waktu kontak pada proses penyaringan, dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel   12.  Padatan tersuspensi berdasarkan efek waktu kontak  pada proses penyaringan

 

Waktu kontak (jam)

Saringan

0

1

2

3

0

64

64

41.5

33.75

2

64

51

39.75

26.75

4

64

49.25

36.25

24.25

8

64

41.5

33.75

21.7

Keterangan:

Saringan  0 = tanpa saringan

Saringan  1 = kerikil

Saringan  2 = pasir, arang dan zeolit

Saringan  3 = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

Gambar 11.   Pola penurunan padatan tersuspensi berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

  1. c.     Kesadahan limbah

Kesadahan limbah cair rumah tangga mengalami penurunan setelah melalui proses pengolahan. Penurunan kesadahan limbah bervariasi pada setiap tingkat perlakuan. Kesadahan limbah sebelum pengolahan sebesar 163,53 mg/1, dan setelah melalui pengolahan tahap akhir turun menjadi 18,25 mg/1. Dengan demikian, efektifitas pengolahan terhadap penurunan kesadahan limbah adalah sebesar 88,84%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh secara nyata dari interaksi antara ketiga jenis perlakuan, sehingga perubahan kesadahan limbah yang terjadi merupakan pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa faktor pengenceran memberikan efek yang berbeda antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain, dan pengaruh yang terbesar terjadi pada konsentrasi 25%. Waktu kontak terlihat adanya perbedaan antara beberapa waktu kontak yang digunakan, dan waktu kontak yang memberikan pengaruh terbesar adalah 8 jam. Selanjutnya, pada faktor saringan terdapat perbedaan antara satu jenis saringan dengan jenis saringan yang lain dalam mempengaruhi perubahan kesadahan limbah, dan jenis saringan yang memberikan pengaruh terbesar adalah saringan 3 (eceng gondok).

Adapun pola penurunan kesadahan limbah cair rumah tangga dapat diketahui berdasarkan besarnya penurunan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Untuk penurunan kesadahan yang terjadi sebagai efek pengenceran pada proses penyaringan, dapat dilihat pada Tabel 13. Selanjutnya, berdasarkan tabel tersebut, pola penurunan kesadahan limbah sebagai efek waktu kontak pada proses penyaringan dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 12.

Tabel 13.  Kesadahan limbah berdasarkan efek waktu kontak   pada proses penyaringan

 

Pengenceran (%)

Saringan

0

1

2

3

100

163.53

128.26

120.70

84.36

75

92.99

75.10

74.34

72.78

50

47.66

32.72

31.27

25.87

25

32.06

20.64

19.81

18.25

Keterangan:

Saringan 0  = tanpa saringan

Saringan 1  = kerikil

Saringan 2  = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3  = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 12.   Pola penurunan kesadahan limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Adapun perubahan kesadahan limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan, dapat dilihat pada Tabel 14, dan selanjutnya dari tabel tersebut pola perubahan kesadahan dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 13.

Tabel 14.  Kesadahan  limbah  berdasarkan  efek waktu  kontak  pada proses penyaringan

 

Waktu kontak (jam)

Saringan

0

1

2

3

0

84.06

84.06

66.66

61.54

2

84.06

72.69

65.12

56.51

4

84.06

69.86

62.52

53.47

8

84.06

64.18

61.54

50.32

Keterangan:

Saringan 0 = tanpa saringan

Saringan 1 = kerikil

Saringan 2 = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3 = tanaman eceng gondok

 

 

 

Gambar 13.   Pola penurunan kesadahan berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

  1. d.     Nilai pH limbah

Nilai pH limbah cair rumah tangga mengalami penurunan setelah melalui pengolahan. Penurunan pH terjadi pada beberapa tingkat perlakuan, dan pada beberapa tingkat perlakuan lainnya pH mengalami peningkatan. Namun demikian pada akhir pengolahan secara umum menunjukkan adanya penurunan. Nilai pH limbah sebelum pengolahan sebesar 8,25 dan setelah melalui pengolahan tahap akhir, turun menjadi 7,69. Berdasarkan penurunan tersebut, maka efektifitas pengolahan terhadap perubahan pH adalah sebesar 6,79%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara ketiga faktor perlakuan tidak berpengaruh secara nyata terhadap penurunan pH limbah. Dengan demikian, penurunan yang terjadi disebabkan oleh adanya pengaruh tunggal dari setiap perlakuan.

 

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa faktor pengenceran memberikan pengaruh yang berbeda antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain terhadap penurunan pH limbah, dan penurunan yang terbesar terjadi pada konsentrasi 50 %. Waktu kontak juga memberikan pengaruh yang berbeda antara satu waktu kontak dengan waktu kontak yang lain, dan pengaruh paling besar terjadi pada waktu kontak 8 jam. Faktor saringan juga menunjukkan adanya perbedaan antara satu jenis saringan dengan jenis saringan yang lain dalam menurunkan pH limbah, dan penurunan yang paling besar terjadi pada saringan 3 (eceng gondok).

Pola penurunan pH dapat diketahui melalui besarnya perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Penurunan pH yang terjadi sebagai efek pengenceran pada proses penyaringan dapat dilihat pada Tabel 15, dan berdasarkan tabel tersebut pola penurunan pH dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 14.

Tabel  15. Nilai pH limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Pengenceran (%)

Saringan

0

1

2

3

100

8.25

7.86

8.19

7.69

75

7.82

7.81

7.88

7.60

50

7.80     ;

7.79

8.15

7.70

25

7.81  /

7.75

7.88

7.76

Keterangan :

Saringan 0   = tanpa saringan

Saringan 1   = kerikil

Saringan 2   = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3   = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

Gambar 14.   Pola  penurunan  pH  berdasarkan  efek pengenceran  pada proses penyaringan

 

Efek waktu kontak pada proses penyaringan dapat dilihat pada Tabel 16, dan pola penurunan pH dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 15.

Tabel 16.  Nilai pH limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

Waktu kontak (jam)

Saringan

0

 

2

3

0

7.92

7.92

8.31

7.78

2

7.92

7.86

8.16

7.85

4

7.92

7.81

8.17

7.71

8

7.92

7.80

N^8.16″

7.69

Keterangan :

Saringan  0    = tanpa saringan

Saringan  1    = kerikil

Saringan  2    = pasir, arang dan zeolit

Saringan  3    = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

Gambar 15.   Pola penurunan pH berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

  1. e.     BOD limbah

Setelah melalui pengolahan, BOD limbah cair rumah tangga mengalami penurunan. BOD limbah sebelum melalui proses pengolahan adalah sebesar 128,0 mg/1, dan setelah melalui pengolahan tahap akhir turun menjadi 11,0 mg/1. Efektifitas pengolahan adalah 91,40%. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa faktor perlakuan berpengaruh secara nyata terhadap penurunan BOD limbah, baik berupa pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan maupun interaksi dari ketiganya.

Selanjutnya, hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran terdapat perbedaan pada beberapa konsentrasi dengan konsentrasi lainnya dalam mempengaruhi penurunan pH, dan penurunan yang paling besar terjadi pada konsentrasi 75 %. Faktor waktu kontak juga memperlihatkan pengaruh yang berbeda pada beberapa tingkat perlakuan dalam mempengaruhi penurunan pH, dan pengaruh terbesar terjadi pada waktu kontak 8 jam Faktor saringan juga memberikan pengaruh yang berbeda pada beberapa tingkat perlakuan, dan pengaruh paling besar terjadi pada saringan 3 (eceng gondok).

Pola penurunan BOD limbah cair rumah tangga setelah melalui proses pengelolaan dapat terlihat pada besarnya penurunan BOD yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Penurunan BOD limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses pengolahan, disajikan pada Tabel 17, dan berdasarkan tabel tersebut pola penurunan BOD dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 16.

Tabel 17.  BOD   limbah   berdasarkan  efek   pengenceran  pada  proses penyaringan

 

Pengenceran (%)

Saringan

0

1

2

3

100

128

46

35

30

75

120

40

25

21

50

115

36

20

12

25

109

36

22

11

Keterangan:

Saringan 0  = tanpa saringan

Saringan 1  = kerikil

Saringan 2  = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3  = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 16.   Pola penurunan BOD berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Selanjutnya, penurunan BOD berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan limbah, dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. BOD limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

Waktu kontak (jam)

Saringan

0

1

2

3

100

83

83

52

28

75

83

60

42

14

50

83

56

34

12

25

83

52

28

11

Keterangan:

Saringan  0 =  tanpa saringan

Saringan  1 =  kerikil

Saringan  2 =  pasir, arang dan zeolit

Saringan  3 =  tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 17.   Pola penurunan BOD berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

  1. f.      COD limbah

Seperti halnya dengan beberapa parameter yang dijelaskan sebelumnya, COD limbah juga mengalami penurunan setelah melalui proses pengolahan. COD limbah sebelum pengolahan sebesar 250,0 mg/1, dan setelah melalui proses pengolahan turun menjadi 21,0 mg/1. Efektifitas pengolahan terhadap penurunan COD adalah 91,6%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ketiga jenis perlakuan berpengaruh secara nyata terhadap penurunan COD tersebut, baik berupa pengaruh tunggal maupun interaksi antara perlakuan tersebut. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran terdapat perbedaan yang nyata antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain dalam mempengaruhi COD limbah, dan perbedaan yang paling besar terjadi pada konsentrasi 75 % dan konsentrasi 50 %.

 

Faktor waktu kontak juga menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara satu dengan yang lainnya dalam mempengaruhi penurunan COD, dan perbedaan terbesar terjadi pada waktu kontak 8 jam. Demikian halnya dengan faktor saringan, juga terdapat perbedaan yang nyata antara satu jenis saringan dengan jenis saringan yang lain dalam mempengaruhi perubahan COD limbah, dan perbedaan paling besar terjadi antara saringan 0 (tanpa saringan) dengan saringan 3 (eceng gondok).

Pola perubahan COD limbah dapat diketahui berdasarkan perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Perubahan COD berdasarkan efek pengenceran pada proses pengolahan dapat dilihat pada Tabel 19, dan pola penurunannya disajikan pada Gambar 18.

Tabel 19.    COD limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

Pengenceran

 

 

Saringan

 

 

 

0

 

1

 

2

 

3

100

 

250

 

96

 

69

 

60

75

 

238

 

81

 

51

 

25

50

 

230

 

72

 

45

 

23

25

 

207

 

70

 

40

 

21

Keterangan :

Saringan 0 = tanpa saringan

Saringan 1 = kerikil

Saringan 2 = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3 = tanaman ecengan gondok

 

 

Selanjutnya, perubahan COD limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan, dapat dilihat pada Tabel 20, dan dari tabel tersebut pola perubahan COD dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana disajikan pada Gambar 19.

 

Gambar 18.   Pola perubahan COD berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

 

Tabel  20.   COD  limbah  berdasarkan  efek waktu  kontak pada proses penyaringan

Waktu kontak

S a r i n g a n

0

1

2

3

Ojam

246

231

174

158

2 jam

246

202

172

152

4 jam

246

196

156

106

8 jam

246

174

152

102

Keterangan :

Saringan 0 = tanpa saringan

Saringan 1 = kerikil

Saringan 2 = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3 = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar    19.   Pola penurunan COD berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

  1. g.     BOT limbah

Setelah melalui proses pengolahan, BOT limbah cair rumah tangga mengalami perubahan yang signifikan. Perubahan tersebut sebagai pengaruh dari perlakuan yang telah digunakan pada percobaan ini. BOT limbah sebelum diolah sebesar 48.98 dan setelah melalui pengolahan tahap akhir BOT tersebut turun menjadi 7.26. Dengan demikian efektifitas pengolahan adalah sebesar 85,18%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ketiga jenis perlakuan ( pengenceran, waktu kontak dan saringan), berpengaruh nyata terhadap perubahan BOT limbah. Pengaruh tersebut baik berupa pengaruh tunggal maupun berupa pengaruh interaksi ketiga perlakuan.

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran, terdapat perbedaan yang nyata antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain dalam mempengaruhi perubahan BOT, dan perbedaan yang terbesar terjadi antara konsentrasi 100 % dengan konsentrasi 75 %. Selanjutnya, pada faktor waktu kontak juga terdapat perbedaan yang nyata antara satu dengan yang lain dalam mempengaruhi perubahan BOT limbah, dan perbedaan terbesar terjadi antara 0 jam dengan 8 jam. Demikian pula dengan faktor saringan, terdapat perbedaan yang nyata antara satu jenis saringan dengan saringan yang lain, dan perbedaan paling besar terjadi antara saringan 0 (tanpa saringan) dengan saringan 3 (eceng gondok).

Pola perubahan BOT limbah cair rumah tangga pada proses pengolahan dapat diketahui berdasarkan perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Perubahan BOT limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan dapat dilihat pada Tabel 21. Selanjutnya, berdsarkan tabel tersebut, pola penurunan BOT digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 20.

Tabel 21. BOT limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Pengenceran

Saringan

0

1

2

3

100 %

48.98

42.01

40.85

36.76

75%

47.96

38.58

31.10

30.16

50%

37.89

33.31

30.27

25.22

25%

29.54

19.52

13.20

12.88

Keterangan:

Saringan  0 = tanpa saringan

Saringan  1 = kerikil

Saringan  2 = pasir, arang dan zeolit

Saringan  3 = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 20.   Pola penurunan BOT berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Selanjutnya, perubahan BOT limbah sebagai pengaruh faktor waktu kontak pada proses penyaringan dapat dilihat pada Tabel 22, dan berdasarkan tabel tersebut, kurva perubahan BOT dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 21.

Tabel 22. BOT berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

Waktu kontak

S   a  r  i  n  g  a  n

0

1

2

3

0 jam

30.09

30.09

25.85

21.36

2 jam

30.09

28.89

23.35

16.46

4 jam

30.09

27.34

23.05

7.77

8 jam

30.09

25.86

21.36

7.26

Keterangan:

Saringan 0  = tanpa saringan

Saringan 1  = kerikil

Saringan 3  = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3  = tanaman eceng gondok

 

 

Gambar 21.   Pola penurunan BOT berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

  1. h.    Kalsium

Kandungan kalsium limbah cair rumah tangga mengalami perubahan yang cukup signifikan setelah melalui proses pengolahan. Kandungan kalsium tertinggi sebelum pengolahan adalah 78.90 mg/1 dan kandungan terendah setelah pengolahan sebesar 6 mg/1. Efektifitas pengolahan adalah sebesar 92,39%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ketiga faktor perlakuan berpengaruh nyata terhadap perubahan kandungan kalsium limbah tersebut, baik sebagai pengaruh tunggal maupun melalui interaksi. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran terdapat perbedaan yang nyata antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain dalam mempengaruhi perubahan limbah, dan perbedaan yang paling besar terjadi antara konsentrasi 50 % dengan konsentrasi 25 %. Waktu kontak juga memperlihatkan adanya perbedaan yang nyata antara satu dengan yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan kalsium limbah, dan perubahan yang terbesar terjadi pada waktu kontak 8 jam. Demikian halnya dengan saringan, terdapat perbedaan yang nyata antara satu saringan dengan saringan yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan kalsium, dan perbedaan yang paling besar terjadi pada saringan 3 (eceng gondok).

Pola perubahan kandungan kalsium limbah pada proses pengolahan dapat diketahui berdasarkan besarnya perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Perubahan kandungan kalsium yang terjadi berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan dan dapat dilihat pada Ta’bel 23, dan berdasarkan tabel tersebut pola penurunan kalsium berdasarkan efek pengenceran dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 22.

Tabel 23.  Kandungan Kalsium limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Pengenceran

Saringan

0

1

2

3

100 %

78.80

53.30

42.26

30.74

75%

45.72

35.86

33.75

26.61

50%

19.46

9.70

8.67

7.00

25%

15.36

7.52

6.55

6.00

Keterangan :

Saringan 0  = tanpa saringan

Saringan 1   = kerikil

Saringan 2  = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3  = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 22.   Pola penurunan kalsium berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Adapun perubahan kandungan kalsium limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan dengan, dapat dilihat pada Tabel 24, dan berdasarkan tabel tersebut pola perubahan kandungan kalsium dapat digambarkan dalam suatu kurva yang disajikan pada Gambar 23.

Tabel 24.  Kandungan kalsium limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

Waktu kontak (jam)

S   a  r i   n  g  a  n

0

1

2

3

0

39.86

39.86

28.60

22.77

2

39.86

32.28

27.86

21.64

4

39.86

30.42

25.45

19.54

8 jam

39.86

29.24

24.20

18.05

 

 

 

 

Gambar 23.   Pola penurunan kalsium berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

 

  1. i.      Klorida

Setelah melalui pengolahan, kandungan klorida limbah mengalami penurunan. Kandungan klorida limbah sebelum melalui proses pengolahan adalah sebesar 74,44 mg/1, dan setelah melalui pengolahan tahap akgir kandungan klorida tersebut menurun hingga 10,56 mg/1. Dengan demikian efektivitas pengolahan adalah 85,81%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara ketiga perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan kandungan klorida limbah, dan perubahan yang terjadi adalah sebagai efek dari pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan serta interaksi antara pasangan pengenceran dengan saringan dan pasangan waktu dan saringan.

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran terdapat perbedaan yang nyata antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan klorida, dan perbedaan yang paling besar terjadi antara pengenceran 75 % dengan 50 %. Pada faktor waktu kontak terjadi perbedaan yang nyata antara satu dengan yang lain, kecuali antara waktu kontak 2 jam dengan 4 jam yang tidak berbeda nyata Perbedaan paling besar pada faktor waktu kontak tersebut terjadi antara waktu kontak 0 jam dengan 8 jam Selanjutnya pada faktor saringan terjadi perbedaan yang nyata antara satu saringan dengan saringan yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan klorida, dan perbedaan yang paling besar terjadi antara saringan 0 (tanpa saringan) dengan saringan 3 (eceng gondok).

Adapun pola perubahan kandungan klorida limbah cair rumah tangga pada proses pengolahan dapat diketahui berdasarkan besarnya perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Perubahan kandungan klorida berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan dan dapat dilihat pada Tabel 25 dan berdasarkan tabel tersebut pola perubahan kandungan klorida dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana disajikan pada Gambar 24.

Tabel 25     Kandungan klorida limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

Pengenceran (%)

Saringan

0

1

2

3

100

74.44

62.04

56.26

45.92

75

58.14

32.61

28.20

25.15

50

35.45

18.43

17.28

14.21

25

27.24

17.34

14.43

10.56

Keterangan:

Saringan  0 = tanpa saringan

Saringan  1  = kerikil

Saringan  2 = pasir, arang dan zeolit

Saringan  3 = tanaman eceng gondok

 

 

Gambar 24.   Pola penurunan klorida berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

                    

Perubahan kandungan klorida limbah yang disebabkan oleh efek faktor waktu kontak pada proses penyaringan, dapat dilihat pada Tabel 26, dan selanjutnya berdasarkan tabel tersebut pola perubahan klorida dapat digambarkan dalam suatu kurva yang disajikan pada Gambar 25.

Tabel 26.  Perubahan kandungan klorida kontak limbah berdasarkan efek waktu pada proses penyaringan.

 

Waktu kontak (jam)

S a r i n g a n

0

1

2

3

0

48.82

48.82

32,61

29.04

2

48.82

44.84

39.52

27.69

4

48.82

40.26

31.64

25.46

8

48.82

32.66

27.25

23.96

 

 

 

 

Gambar 25.   Pola penurunan klorida berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

  1. j.      Amonium

Kandungan amonium limbah mengalami perubahan yang signifikan setelah melalui pengolahan. Kandungan amonium tertinggi sebelum pengolahan sebesar 25.18 mg/1, dan kandungan terendah setelah melalui pengolahan sebesar 4.23 mg/1. Dengan demikian maka efektivitas pengolahan adalah 83,20%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ketiga faktor perlakuan berpengaruh sangat nyata terhadap perubahan kandungan amonium, baik berupa pengaruh tunggal maupun interaksi antara ketiganya. Selanjutnya, hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran terjadi perbedaan yang nyata antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain, dan perbedaan tertinggi terdapat antara konsentrasi 100 % dengan konsentrasi 50 %. Pada faktor waktu kontak juga terdapat perbedaan yang nyata antara satu dengan yang lain, dan perbedaan terbesar terjadi antara waktu kontak 0 jam dengan 8 jam. Demikian pula pada faktor saringan, terdapat perbedaan yang nyata antara satu saringan dengan saringan yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan amonium limbah. Dalam hal ini perbedaan yang paling besar terjadi antara saringan 0 (tanpa saringan) dengan saringan 3.

Pola perubahan kandungan amonium dapat diketahui melalui besarnya perubahan yang terjadi pada setiap perlakuan. Perubahan kandungan amonia limbah yang merupakan efek dari faktor pengenceran pada proses penyaringan , dapat dilihat pada Tabel 27 dan pola penurunannya dapat dilihat pada Gambar 26.

Tabel 27.  Kandungan amonium limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Pengenceran

Saringan

0

1

2

3

100 %

25.18

18.24

10.20

8.80

75%

25.33

15.00

9.21

7.47

50%

21.18

9.10

6.91

5.58

25 %

20.02

7.08

5.38

4.23

Keterangan:

Saringan 0 = tanpa saringan

Saringan 1 = kerikil

Saringan 2 = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3 = tanaman eceng gondok

 

Penurunan amonium limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan dapat dilihat pada Tabel 28, dan berdasarkan tabel tersebut, pola penurunan amonium dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 27.

 

 

 

 

 

Gambar 26.   Pola penurunan amonium berdaarkan efek pengenceran proses penyaringan

 

 

Tabel 28   Kandungan amonium limbah berdasarkan efek waktu kontak pada pross penyaringan

 

 

Waktu kontak

Saringan

0

1

2

3

Ojam

22.93

22.93

14.86

10.42

2 jam

22.93

20.45

13.38

10.04

4jam

22.93

18.32

12.04

9.84

8 jam

22.93

14.86

10.43

9.02

Keterangan

Saringan 0  = tanpa saringan

Saringan 1  = kerikil

Saringan 2  = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3  = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

Gambar 27.   Pola penurunan amonium berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

 

  1. k.    Kandungan ortofosfat limbah

Kandungan ortofosfat limbah cair rumah tangga mengalami perubahan setelah melalui proses pengolahan. Kandungan ortofosfat tertinggi sebelum pengolahan adalah 205.40 mg/1, sedangkan kandungan terendah setelah pengolahan adalah 30.46 mg/1. Dengan demikian maka efektivitas pengolahan adalah sebesar 85.17%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ketiga faktor perlakuan berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan kandungan ortofosfat limbah, baik berupa pengaruh tunggal maupun interaksi antara ketiganya. Selanjutnya, hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran terdapat perbedaan yang nyata antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan ortofosfat, dan perbedaan yang terbesar terjadi antara konsentrasi 75 % dengan konsentrasi 50 %. Pada faktor waktu kontak juga terdapat perbedaan yang nyata antara satu dengan yang lainnya, dan perbedaan terbesar terjadi antara waktu kontak 0 jam dengan 4 jam. Demikian pula halnya dengan faktor saringan, terdapat perbedaan yang nyata antara satu jenis saringan dengan saringan yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan ortofosfat limbah, dan perbedaan yang paling besar terjadi antara saringan 0 (tanpa saringan) dengan saringan 3.

Pola perubahan kandungan ortofosfat setelah melalui proses pengolahan dapat diketahui berdasarkan perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Kandungan ortofosfat limbah setelah terjadi perubahan sebagai efek faktor pengenceran pada proses penyaringan, disajikan pada Tabel 29, dan berdasarkan tabel tersebut pola penurunan kandungan ortofosfat limbah dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 28.

Tabel 29.  Kandungan ortofosfat berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Pengenceran

Saringan

0

1

2

3

100 %

205.40

198.55

308.09

144.90

75%

77.27

62.73

65.73

42.73

50%

52.73

44.00

49.54

36.72

25%

52.52

40.43

. 47.36

30.46

 

Adapun penurunan ortofosfat sebagai efek dari waktu kontak, dapat dilihat pada Tabel 30, dan berdasarkan tabel tersebut pola penurunan ortofosfat dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 29.

 

 

 

Gambar 28.   Pola penurunan ortofosfat berdasarkan efek pengenceranpada proses penyaringan

 

Tabel 30.  Kandungan ortofosfat limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

Waktu kontak

Saringan

0

1

2

3

Ojam

96.98

96.98

84.64

74.80

2 jam

96.98

91.37

82.14

70.31

4 jam

96.98

88.52

80.30

68.22

8 jam

96.98

84.10

76.54

61.20

Keterangan :

Saringan 0  = tanpa saringan

Saringan 1  = kerikil

Saringan 2  = pasir, arang dan zeolt

Saringan 3  = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

Gambar 29.   Pola penurunan ortofosfat berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

 

  1. l.      Kandungan besi limbah

Kandungan besi limbah cair rumah tangga mengalami perubahan setelah melalui proses pengolahan. Kandungan besi limbah sebelum diolah sebesar 2.55 mg/1 dan setelah melalui proses pengolahan tahap akhir, turun menjadi 0.59 mg/1. Efektivitas pengolahan sebesar 76.86%. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antara ketiga faktor perlakuan tidak berpengaruh secara signifikan. Dengan demikian maka perubahan kandungan besi disebabkan oleh pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan.

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran, terdapat perbedaan yang nyata antara beberapa konsentrasi dalam mempengaruhi perubahan kandungan besi di dalam limbah, kecuali antara konsentrasi 100 % dengan konsentrasi 50 % tidak berbeda nyata, dan perbedaan yang paling besar terjadi antara konsentrasi 50 % dengan konsentrasi 25 %. Pada faktor waktu kontak, juga terdapat perbedaan antara beberapa waktu kontak, kecuali waktu kontak 0 jam dengan 2 jam, antara 2 jam dengan 4 jam dan 4 jam dengan 8 jam yang tidak berbeda nyata, sedangkan perbedaan yang paling besar terjadi antara o jam dengan 8 jam Selanjutnya, pada faktor saringan juga terdapat perbedaan yang nyata antara satu jenis saringan dengan saringan yang lain, dan perbedaan terbesar terjadi antara saringan 0 (tanpa saringan) dengan saringan 3.

Pola perubahan kandungan besi limbah setelah melalui proses pengolahan dapat diketahui berdasarkan besarnya perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Kandungan besi limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan disajikan pada Tabel 31.

Tabel 31.  Kandungan besi limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Pengenceran

Saringan

0

1

2

3

100 %

2.54

2.28

2.04

1.26

75%

2.05

1.84

1.15

1.07

50%

1.89

1.42

1.06

1.02

25%

1.12

1.08

0.85

0.59

Keterangan :

Saringan 0  = tanpa saringan

Saringan 1  = kerikil

Saringan 2  = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3  = tanaman eceng gondok

 

 

 

 

 

 

Gambar 30.   Pola penurunan besi limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Selanjutnya, kandungan besi limbah sebagai efek dari waktu kontak pada proses penyaringan dapat dilihat pada Tabel 32, dan pola penurunan besi tersebut dapat digambarkan dalam sebuah kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 31.

Tabel 32.  Kandungan besi limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

Waktu kontak

Saringan

0

1

3

4

Ojam

2.72

2.72

1.59

1.16

2 jam

2.72

1.42

1.36

1.04

4 jam

2.72

1.38

1.24

0.98

8 jam

2.72

1.25

1.16

0.86

Keterangan :

Saringan 0  =  tanpa saringan

Saringan 1  =  kerikil

Saringan 2  =  pasir, arang dan zeolit

Saringan 3  =  tanaman eceng gondok

 

 

Gambar 31. Pola penurunan besi limbah berdsarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

 

  1. m.   Kandungan nitrit limbah         

Setelah melalui proses pengolahan, kandungan nitrit limbah rumah tangga mengalami perubahan yang signifikan. Kandungan nitrit tertinggi sebelum pengolahan sebesar 0.0100 mg/1, sedangkan kandungan nitrit terendah setelah melalui proses pengolahan sebesar 0.0010 mg/1. Dengan demikian efektivitas pengolahan adalah sebesar 90%.

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ketiga perlakuan berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan kandungan besi limbah. Pengaruh tersebut baik berupa pengaruh interaksi dari ketiga perlakuan, maupun pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan.

 

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran, terdapat perbedaan yang nyata antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan besi limbah, dan perbedaan terbesar terjadi antara konsentrasi 75 % dengan konsentrasi 50 %. Faktor waktu kontak juga memperlihatkan adanya perbedaan yang nyata antara satu waktu kontak dengan waktu kontak yang lain, sedangkan perbedaan yang paling besar terdapat antara waktu kontak 0 jam dengan 8 jam. Pada faktor saringan, juga terdapat perbedaan yang nyata antara satu jenis saringan dengan saringan yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan nitrit, dan perbedaan yang paling besar terjadi antara saringan 2 dengan saringan 3.

Pola perubahan kandungan nitrit’ limbah pada proses pengolahan dapat diketahui berdasarkan besarnya perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Kandungan nitrit berdasarkan efek faktor pengenceran pada proses penyaringan, dapat dilihat pada Tabel 33 dan berdasarkan tabel tersebut pola perubahannya dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 32.

Tabel 33.  Kandungan nitrit limbah berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Pengencean

Saringan

0

1

2

3

100 %

0.0100

0.0095

0.0072

0.0040

75%

0.0088

0.0071

0.0063

0.0034

50%

0.0087

0.0061

0.0041

0.0020

25%

0.0060

0.0050

0.0034

0.0010

Keterangan :

Saringan 0 = tanpa saringan

Saringan 1 = kerikil

Saringan 2 = pasir, arang dan zeolit

Saringan 3 = tanaman eceng gondok

 

 

Gambar 32.   Pola penurunan nitrit berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Kandungan nitrit limbah berdasarkan pengaruh waktu kontak pada proses penyaringan dapat dilihat pada Tabel 34, dan berdasarkan tabel tersebut pola perubahannya dapat digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana disajikan pada Gambar 33.

Tabel 34.  Kandungan nitrit limbah berdasarkan pengaruh waktu kontak dan saringan

 

Waktu kontak

Saringan

0

1

2

3

Ojam

0.0305

0.0305

0.0186

0.0148

2 jam

0.0305

0.0282

0.0170

0.0142

4 jam

0.0305

0.0278

0.0168

0.0128

8 jam

0.0305

0.0264

0.0162

0.0119

Keterangan :

Saringan 0  =  tanpa saringan

Saringan 1  =  kerikil

Saringan 2  =  pasir, arang dan zeolit

Saringan 3  =  tanaman eceng gondok

 

 

Gambar 33.   Pola penurunan nitrit berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

 

  1. n.    Total Mikroba

Kandungan mikroba limbah cair rumah tangga mengalami perubahan setelah melalui proses pengolahan. Perhitungan dengan Angka Lempeng Total (ALT) menunjukkan bahwa kandungan total mikroba tertinggi sebelum pengolahan sebesar 4.26 x 105 sel / ml, sedangkan ALT terendah setelah pengolahan sebesar 3.32 x 10 sel / ml. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa ketiga faktor perlakuan berpengaruh nyata terhadap perubahan kandungan total mikroba, baik berupa pengaruh tunggal maupun melalui interaksi antara ketiganya.

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa pada faktor pengenceran terdapat perbedaan yang nyata antara satu konsentrasi dengan konsentrasi yang lain dalam mempengaruhi kandungan total mikroba, dan perbedaan terbesar terjadi antara konsentrasi 75% dengan konsentrasi 25%. Pada faktor waktu kontak juga terjadi perbedaan yang nyata antara satu dengan yang lain dalam mempengaruhi kandungan total mikroba di dalam limbah, dan perbedaan terbesar terjadi antara waktu kontak 0 jam dengan 8 jam. Demikian pula dengan jenis saringan, terdapat perbedaan yang nyata antara satu saringan dengan saringan yang lain dalam mempengaruhi perubahan kandungan mikroba total, dan perbedaan paling besar terjadi antara saringan 0 (tanpa saringan) dengan saringan 3.

Pola perubahan kandungan total mikroba dapat diketahui berdasarkan besarnya perubahan yang terjadi pada setiap tingkat perlakuan. Kandungan total mikroba limbah setelah melalui ‘proses pengolahan berdasarkan pengaruh pengenceran pada proses penyaringan dapat dilihat pada Tabel 35, sedangkan pola perubahannya digambarkan dalam suatu kurva sebagaimana yang disajikan pada Gambar 34.

Tabel 35.  Kandungan total mikroba berdasarkan efek pengenceran pada proses penyaringan

 

Waktu kontak

Saringan

0

1

2

3

100

4.26 x 10′

l.lOxlO*

8.64 xlOJ

1.40 x 10J

75

7.4 x 104

2.08 x 104

1.16xlO4

8.5 x 103

50

4.12×10″

l.lxlOJ

3.3 x 102

1.0 xlO2

25

6.62 x 102

5.53×10

4.21 x 10

3.32×10

Keterangan :

Saringan  0 =  tanpa saringan

Saringan  1  =  kerikil

Saringan  2 =  pasir, arang dan zeolit

Saringan  3 =  tanaman eceng gondok

 

 

 

 

Gambar 34.   Pola perubahan total mikroba berdasarkan efek pengenceran pada Proses Penyaringan

 

Adapun kandungan total mikroba limbah berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan dan, dapat dilihat pada Tabel 36, dan penurunannya dapat dilihat pada Gambar 35.

Tabel 36.  Kandungan total mikroba limbah berdasarkan waktu kontak pada proses penyaringan

 

Waktu kontak

Saringan

0

1

2

3

Ojam

126195

126195

32988

5153

2 jam

126195

76042

8496

1929

4 jam

126195

43842

8004

726

8 jam

126195

32988

5153

508

Keterangan :

Saringan 0 : tanpa saringan

Saringan 1 : kerikil

Saringan 2 : pasir, arang dan zeolit

Saringan 3 : tanaman eceng gondok

 

 

Gambar 35.   Pola penurunan total mikroba berdasarkan efek waktu kontak pada proses penyaringan

 

 

  1. o.     Kandungan bakteri Coliform

Kandungan bakteri Coliform dalam limbah cair rumah tangga mengalami perubahan setelah melalui proses pengolahan. Kandungan Coliform tertinggi sebelum pengolahan adalah 3.6 x 105 AMP/ml, dan kandungan terendah setelah pengolahan adalah 0 (nihil). Hasil pengamatan pada parameter tersebut tidak dapat diolah secara statistik, oleh karena kandungan Coliform hanya ditemukan pada beberapa tingkat perlakuan saja, sedangkan pada tingkat perlakuan yang lain tidak ditemukan adanya Coliform. Demikian pula dengan pola perubahan kandungan Coliform tidak dapat digambarkan dalam suatu kurva karena pada umumnya tingkat perlakuan menunjukkan data yang nihil.

 

  1. p.     Kandungan bakteri Escherichia coli,

Seperti halnya dengan kandungan Coliform, E.coli juga mengalami perubahan setelah melalui proses pengolahan. Walaupun pemeriksaan E.coli hanya dilakukan secara kualitatif, hasil pengamatan menunjukkan bahwa limbah rumah tangga yang belum diolah positif mengandung E.coli, sedangkan pada tingkat-tingkat perlakuan selanjutnya, limbah cair rumah tangga tidak ditemukan adanya kandungan E. coli.

  1. B.    Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan maka perubahan kandungan limbah cair rumah tangga yang terjadi setelah melalui proses pengolahan dengan tiga jenis perlakuan memberikan indikasi adanya peningkatan kualitas limbah tersebut. Perubahan yang bervariasi pada setiap tingkat perlakuan yang terjadi pada setiap parameter yang diuji mengisyaratkan bahwa setiap jenis perlakuan yang digunakan memiliki efektivitas yang berbeda pada setiap kondisi, sehingga pada kondisi yang tepat efektivitas tersebut akan menjadi optimal.

Perubahan yang terjadi pada setiap parameter yang diukur dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. a.     Kekeruhan dan Padatan Tersuspensi

Kekeruhan dan padatan tersuspensi sebagai parameter untuk sifat fisik limbah cair rumah tangga merupakan faktor yang sangat penting untuk diketahui. Tingginya kadar bahan yang tersuspensi di dalam limbah cair akan meningkatkan kekeruhan limbah. Oleh sebab itu kekeruhan dan padatan tersuspensi mempunyai kaitan yang erat dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain. Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa kekeruhan dan padatan tersuspensi limbah mengalami penurunan yang signifikan, sebagai efek dari tiga perlakuan yang digunakan dalam sistem pengolahan dengan saringan biogeokimia.

Faktor pengenceran limbah cair rumah tangga sebelum diolah, berpengaruh nyata dalam menurunkan kekeruhan dan padatan tersuspensi pada sistem pengolahan yang digunakan. Menurut Zirschky (1986) dalam pengolahan limbah cair diperlukan adanya keseimbangan hidrologi, dalam hal ini keseimbangan antara volume dan konsentrasi kandungan limbah dengan kemampuan bagian-bagian dari sistem yang digunakan agar proses penjernihan dapat berjalan secara efektif. Konsentrasi kandungan limbah yang lebih rendah dapat meningkatkan efektivitas pengendapan bahan-bahan tersuspensi pada saringan anorganik (saringan 1 dan 2), serta meningkatkan efektivitas penyaringan bahan yang tersuspensi di dalam limbah oleh akar tanaman air dan memudahkan terjadinya proses penguraian.

Penggunaan waktu pengolahan atau waktu kontak antara limbah dengan saringan juga berpengaruh terhadap proses penurunan kekeruhan dan padatan tersuspensi selama dalam proses pengolahan. Dalam menghitung Semakin lama waktu kontak yang digunakan, maka semakin efektif pula proses pengendapan, penyaringan dan penguraian bahan tersuspensi, baik pada saringan anorganik maupun pada saringan biologi (biofilter).

Efektivitas saringan yang digunakan, baik saringan anorganik maupun saringan organik cukup tinggi dalam menurunkan kekeruhan dan padatan tersuspensi di dalam limbah cair rumah tangga. Saringan anorganik (saringan 1 dan saringan 2) mampu menurunkan kekeruhan dan padatan tersuspensi cukup signifikan. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya kemampuan bahan-bahan yang digunakan dalam saringan tersebut, yakni kerikil, pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit. Menurut Saeni (1990), pasir dan kerikil yang digunakan sebagai saringan dalam pengolahan limbah cair maupun menurunkan kandungan bahan organik dalam limbah tersebut. Selanjutnya, menurut Untung (1998), bahan-bahan seperti pasir, kerikil, ijuk dan Iain-lain dapat dijadikan media untuk menyaring limbah sedangkan arang batok kelapa berfungsi sebagai penyerap.

Saringan biologis (biofilter) yang menggunakan tanaman Eceng Gondok, juga mampu menurunkan kekeruhan dan padatan tersuspensi yang signifikan. dan berdasarkan uji statistik pada saringan tersebut terjadi penurunan paling besar . Kemampuan tanaman Eceng Gondok untuk menyaring bahan-bahan yang tersuspensi di dalam limbah melalui akarnya merupakan potensi yang sangat penting dalam proses pengolahan limbah cair, sejalan dengan yang dikemukakan oleh Stowell at al (1982) bahwa salah satu fungsi akar tanaman air yang tenggelam di dalam perairan adalah menyaring dan menyerap bahan-bahan yang tersuspensi.

Besarnya penurunan kekeruhan pada pengolahan dengan sistem saringan biogeokimia mencapai 89,46%, dan penurunan padatan tersuspensi juga mencapai 93.67 %. Persentase penurunan tersebut lebih besar dibandingkan dengan beberapa sistem pengolahan sebelumnya, antara lain yang telah dilaporkan oleh Thobanoglous dan Hyde (1987) bahwa pengolahan limbah dengan kolam tanpa tanaman air dapat menurunkan kekeruhan 40 – 60% dan menurunkan padatan tersuspensi 21 – 72%.

  1. b.     Kesadahan limbah

Limbah cair rumah tangga potensial mengalami kesadahan akibat adanya interaksi bahan-bahan kimia tertentu terutama kalsium dan magnesium bikarbonat. Limbah cair rumah tangga yang mengalami kesadahan tinggi sangat berbahaya jika mencemari perairan atau sumber air yang akan digunakan untuk berbagai keperluan.

Pada penelitian ini kesadahan limbah sebelum diolah mencapai 163.53 mg/1, dan setelah melalui proses pengolahan turun hingga 18.25 mg/1, atau 88,84 %. Hal tersebut menunjukkan adanya penurunan yang sangat signifikan. walaupun berdasarkan hasil analisis statistik penurunan tersebut bukan merupakan pengaruh dari interaksi ketiga perlakuan melainkan pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan tersebut.

Faktor pengenceran limbah sebelum diolah dan lamanya waktu kontak antara limbah yang diolah dengan setiap saringan dapat mendukung proses pertukaran ion antara limbah dengan bahan-bahan anorganik yang digunakan sebagai saringan, demikian pula dengan proses pertukaran ion yang berlangsung antara akar tanaman air dengan limbah yang diolah. Menurut Hay (1981), saringan pasir dapat menurunkan kesadahan limbah 4.607 – 7.02 %, dan menurut Saeni (1990), pasir dapat menurunkan kesadahan 4.86 – 11.65 %. Dengan demikian, maka pengolahan limbah cair rumah tangga dengan sistem bigeokimia dapat menurunkan kesadahan dengan persentase yang lebih besar jika dibandingkan dengan beberapa sistem pengolahan yang lain.

 

 

 

 

 

  1. c.     pH limbah

Nilai pH merupakan salah satu parameter yang sangat penting untuk mengukur kualitas air atau limbah. Nilai pH yang baik adalah nilai yang memungkinkan berlangsungnya proses biologis dengan baik di dalam limbah tersebut. Limbah cair yang tidak dalam keadaan netral akan menyulitkan proses biologis sehingga mengganggu proses penjernihan. Nilai pH yang baik bagi limbah cair adalah pH netral (7).

Pada penelitian ini, pH limbah cair rumah tangga sebelum diolah 8.25, dan setelah melalui proses pengolahan turun hingga 7.60, atau 7.79 %. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penurunan pH yang terjadi merupakan kontribusi pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan.

Pada faktor pengenceran, penurunan pH yang paling besar terjadi pada konsentrasi 25%, dan pada faktor waktu kontak penurunan pH yang paling besar terjadi pada waktu kontak 8 jam. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengenceran limbah sebelum diolah dan pengaturan waktu kontak antara limbah dengan saringan dapat mempengaruhi berlangsungnya proses pertukaran ion pada setiap saringan, dan hal tersebut terindikasi dengan terjadinya penurunan pH tertinggi pada konsentrasi limbah paling rendah (25%) dan waktu kontak paling lama (8 jam).

Saringan yang digunakan dalam penelitian ini, baik saringan anorganik maupun saringan biologis telah memberikan kontribusi dalam penurunan pH limbah. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa penurunan yang paling besar terjadi pada saringan biologis (tanaman air). ^Kemampuan tanaman air menurunkan pH disebabkan karena pada akar tanaman air dapat berlangsung proses pertukaran ion yang mendukung terjadinya keseimbangan asam dan basa dalam limbah cair untuk mencapai kondisi netral. Sebagaimana dikemukakan oleh Reed at al (1987) bahwa tanaman air dalam kolam selain berfungsi untuk melindungi perairan dari cahaya matahari juga melakukan penyerapan dan pertukaran ion. Dalam hal ini tanaman air dapat menyerap ion-ion penyebab asam atau basa yang berlebih, atau melepaskan ion-ion yang dapat menetralkan perairan.

Perubahan pH yang terjadi pada penelitian ini lebih besar dibandingkan dengan perubahan pH yang terjadi pada beberapa percobaan pengolahan limbah cair sebelumnya. Diantaranya oleh Middlebrooks (1987) melakukan percobaan dengan kolam aerasi dapat meningkatkan pH limbah hingga 2.5 – 5.5%, dan Yusuf (2001) melakukan percobaan dengan bioremediasi limbah cair, dapat meningkatkan pH limbah hingga 2.99 – 6.9 %.

Penurunan pH limbah yang dicapai pada percobaan ini cukup signifikan merubah pH limbah dari kondisi cenderung basa mendekati kondisi netral, yaitu dari 8.25 menjadi 7.60. Dengan nilai pH tersebut maka limbah yang telah melalui proses pengolahan memungkinkan terjadinya proses biologis dan kimiawi dengan baik tanpa menghasilkan senyawa-senyawa beracun. Dengan demikian maka limbah hasil olahan tersebut aman untuk dilepas ke lingkungan.

  1. d.     ­Nilai BOD dan COD limbah

Nilai BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) merupakan parameter kimia yang sangat penting diketahui dalam menentukan kualitas perairan atau limbah cair. Nilai BOD menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik yang terdapat di dalam limbah secara biologis, sedangkan nilai COD menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada di dalam limbah.

Pada penelitian ini, BOD dan COD limbah cair rumah tangga telah mengalami penurunan yang signifikan setelah melalui proses pengolahan. Penurunan tersebut merupakan pengaruh dari tiga faktor perlakuan yang digunakan, baik berupa pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan maupun interaksi antara ketiganya.

Walaupun penurunan BOD dan COD bervariasi pada setiap tingkat perlakuan. namun hasil akhir dari percobaan ini menunjukkan bahwa penurunan BOD limbah mencapai 91,46 %, dan penurunan COD mencapai 91.6 %. Penurunan BOD dan COD yang dicapai pada percobaan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil yang dicapai oleh Nolte (1986) yang dapat menurunkan BOD dan COD hingga 30 % melalui pengolahan limbah dengan kolam stabilisasi permukaan terbuka. Hasil percobaan ini juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil percobaan yang dilakukan oleh Yusuf (2001) yang dapat menurunkan BOD limbah cair rumah tangga hingga 39.3 % dan menurunkan COD sebesar 43.4%. Namun demikian apabila hasil percobaan ini dibandingkan dengan hasil percobaan yang dilakukan oleh Juhaeni (1999), maka penurunan BOD dan COD yang terjadi lebih rendah, karena Juhaeni berhasil menurunkan BOD hingga 86.25% dan COD 83.25%.

Kemampuan sistem biogeokimia menurunkan BOD dan COD limbah tidak lepas dari peranan bahan-bahan anorganik dan tanaman air yang digunakan untuk menurunkan kandungan bahan organik di dalam limbah. Pada saringan anorganik terjadi penyaringan bahan-bahan organik limbah yang melewati saringan tersebut, yang selanjutnya diuraikan oleh mikroorganisme yang hidup pada sela-sela bahan penyaring tersebut.    Hal tersebut sejalan dengan penemuan Saeni (1990), bahwa saringan pasir dan bahan-bahan anorgaik lainnya mampu menurunkan kandungan bahan organik dalam limbah.

Tanaman Eceng Gondok yang merupakan saringan biologis telah memberikan kontribusi yang paling besar dalam penurunan BOD dan COD limbah pada percobaan ini. Sebagaimana diketahui bahwa akar tanaman Eceng Gondok dapat menyaring bahan-bahan yang terlarut di dalam limbah, termasuk bahan-bahan organik. Selanjutnya bahan organik tersebut diuraikan oleh mikroorganisme yang hidup pada akar tanaman, dan hasil penguraian tersebut sebagian diserap oleh akar tanaman sebagai unsur hara. Dengan demikian maka bahan-bahan organik yang terdapat di dalam limbah akan berkurang, sehingga nilai BOD dan COD limbah menurun. Mekanisme yang dikemukakan di atas sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Suriawiria (1993) bahwa salah satu kemampuan tanaman air yang memiliki mikoriza adalah menguraikan bahan-bahan organik dan anorganik sehingga dapat menurunkan BOD dan COD.                                                    

  1. e.     Nilai BOT limbah

Nilai BOT (Biological Oxygen Total) merupakan salah satu parameter yang penting diketahui untuk menentukan kualitas limbah. Nilai BOT menunjukkan jumlah/total oksigen yang diperlukan untuk aktivitas biologis di dalam limbah.

Pada penelitian ini, BOT limbah cair rumah tangga mengalami penurunan yang signifikan, dan merupakan pengaruh dari ketiga perlakuan yang digunakan baik berupa pengaruh tunggal maupun interaksi antara ketiganya. Walaupun besarnya penurunan BOT bervariasi pada setiap tingkat perlakuan, hasil akhir menunjukkan bahwa penurunan tersebut dapat mencapai 85,18%  dari nilai BOT limbah sebelum diolah.

Pengenceran limbah sebelum diolah dan waktu pengolahan yang lebih lama mendukung terjadinya proses aerasi limbah sehingga dapat meningkatkan kadar oksigen limbah. Demikian halnya dengan saringan, terutama saringan biologis (tanaman air) sangat potensial untuk mensuplai oksigen. sebagaimana diketahui bahwa pada tanaman Eceng Gondok berlangsung proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Dengan meningkatnya kadar oksigen limbah maka jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas biologis di dalamnya menjadi berkurang. Kemampuan tanaman Eceng Gondok meningkatkan kadar oksigen limbah sejalan dengan pendapat Suriawiria (1993), yang mengatakan bahwa kadar oksigen suatu perairan dapat dipengaruhi oleh adanya aktivitas fotosintesis di dalamnya, serta hubungan antara permukaan perairan dengan udara bebas.

  1. f.      Kandungan Kalsium limbah

Pada penelitian ini, kandungan kalsium limbah cair rumah tangga yang diolah mengalami penurunan yang signifikan. Kandungan kalsium limbah sebelum diolah sebesar 78.90 mg/1 dan setelah diolah turun menjadi 5 mg/1, atau mencapai 92,39%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penurunan kandungan kalsium limbah disebabkan pengaruh dari ketiga perlakuan yang digunakan, baik berupa pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan maupun interaksi dari ketiganya.

Penurunan kandungan kalsium bervariasi besarnya pada setiap tingkat perlakuan, namun hasil akhir menunjukkan bahwa penurunan tersebut sangat berarti karena penurunan tersebut menjadikan kandungan kalsium limbah memenuhi syarat yang diperbolehkan untuk limbah, yakni 5-10 mg/1 (Saeni, 1987). Hasil yang dicapai pada penelitian ini lebih baik jika dibandingkan dengan penurunan kalsium yang terjadi pada beberapa percobaan sebelumnya, antara lain yang dilakukan oleh Lies (1999) dengan metode resirkulasi telah berhasil menurunkan kadar kalsium hingga 53.60%. Demikian pula dengan percobaan yang dilakukan oleh Yusuf (2001) dengan bioremediasi. hanya menurunkan kadar kalsium limbah cair rumah tangga sebesar 78%.

  1. g.     Kandungan Klorida limbah

Klorida merupakan salah bahan yang selalu terdapat di dalam limbah cair rumah tangga. Klorida tersebut biasanya berasal dari berbagai sumber antara lain dari sisa pengolahan makanan, rembesan alir laut atau dari kotoran manusia. sebagaimana diketahui bahwa kotoran manusia rata-rata mengandung 6 gram klorida per orang setiap hari (Sugiharto, 1987).

Pada penelitian ini, limbah cair rumah tangga yang digunakan mengandung 74.44 mg/1 sebelum diolah, dan setelah melalui proses pengolahan kandungan tersebut turun hingga 10.56 mg/1. Penurunan tersebut merupakan efek dari pengaruh tunggal masing-masing perlakuan yang digunakan, karena hasil analisis varians menunjukkan bahwa interaksi antara ketiga perlakuan tidak berpengaruh nyata.

Pengenceran limbah sebelum diolah memberikan efek yang berarti terhadap proses penurunan kadar klorida limbah, dan pada penelitian ini tingkat pengenceran yang memberikan efek yang optimal yaitu pada konsentrasi limbah 75%. Hal tersebut berarti bahwa untuk mencapai hasil yang optimal pada pengolahan limbah cair rumah tangga dengan saringan biogeokimia cukup dilakukan pengenceran limbah sampai 75% sebelum limbah tersebut diolah.

Waktu kontak antara limbah dengan saringan juga mempengaruhi proses penurunan kandungan klorida limbah, dan pada penelitian ini waktu kontak yang memberikan efek yang optimal adalah waktu kontak yang menggunakan waktu 8 jam. Hasil mi mengindikasikan bahwa semakin lama waktu yang digunakan untuk menyaring limbah. semakin besar pengaruh yang ditimbulkan terhadap penurunan kandungan klorida limbah. Namun demikian. dalam suatu sistem pengolahan limbah cair rumah tangga. faktor efisiensi waktu tetap harus diperhatikan.

Saringan yang digunakan pada penelitian ini, baik saringan anorganik maupun saringan biologis juga memberikan kontribusi terhadap penurunan kandungan klorida limbah. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa saringan yang memberikan efek yang optimal adalah saringan biologis atau saringan tanaman Eceng Gondok. Kemampuan tanaman Eceng Gondok untuk menurunkan kadar klorida limbah tidak lepas dari kemampuan tanaman tersebut untuk menyaring, mengurai dan menyerap zat tertentu dari perairan, termasuk unsur klor.

Walaupun penurunan kadar klorida limbah cair rumah tangga yang terjadi pada penelitian ini cukup tinggi, namun belum mencapai kadar yang diperbolehkan untuk limbah yakni 0.0-5 mg/1, karena apabila di dalam suatu perairan atau limbah terdapat lebih dari 5 mg/1 klorida, selain akan menimbulkan rasa asin juga menghasilkan senyawa yang toksik sehingga mengganggu kehidupan biota perairan (Sumirat, 1996).

 

Suatu hal yang perlu diketahui bahwa dewasa ini kadar klorida limbah cair rumah tangga sangat suJit untuk diturunkan hingga mencapai kadar aman, oleh karena peningkatan kandungan klorida limbah mengalami peningkatan yang semakin pesat. Momon dan Lya (1997), melaporkan bahwa suatu hasil penelitian tentang kandungan limbah cair rumah tangga menunjukkan bahwa kandungan klorida mengalami peningkatan 190% dari kandungan rata-rata pada setiap 10 tahun. Hal tersebut   mengisyaratkan   perlunya   mencari   metode  yang   lebih   efektif dalam

menurunkan kadar klorida untuk diterapkan dalam sistem pengolahan limbah cair rumah tangga.

  1. h.    Kandungan Amonium limbah­

Limbah cair rumah tangga sebagai bahan buangan yang banyak mengandung bahan organik termasuk sisa-sisa protein, potensial menjadi tempat berlangsungnya proses deaminasi asam amino yang menghasilkan aminium Pada penelitian ini limbah cair rumah tangga yang digunakan mengandung amonium 25.18 mg/1 sebelum diolah. dan kandungan tersebut turun menjadi 4.23 mg/1, atau 83,20 %.

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa penurunan kandungan amonium limbah sebagai efek dari ketiga perlakuan yang digunakan, baik berupa pengaruh tunggal maupun interaksi antara ketiganya. Pengenceran limbah sebelum diolah membantu dalam proses penurunan amonium karena meningkatkan efektivitas penyaringan baik pada saringan anorganik maupun pada saringan biologis.

Pada penelitian ini, tingkat pengenceran yang memberikan efek yang optimal adalah konsentrasi 50%. Hal tersebut berarti bahwa pada untuk mendapatkan hasil yang optimal pada proses pengolahan limbah cair rumah tangga dengan saringan biogeokimia cukup menggunakan pengenceran 50 %.

Pengaturan waktu kontak antara limbah yang diolah dengan masing-masing saringan dapat meningkatkan efektivitas penyaringan limbah. Pada penelitian ini waktu kontak yang memberikan efek optimal adalah waktu kontak 8 jam. Keadaan tersebut mengindikasikan bahwa semakin lama waktu yang digunakan dalam proses penyaringan, semakin besar efek yang terjadi pada penurunan amonium. Namun demikian, perlu diingat bahwa pada setiap proses pengolahan limbah. faktor efisiensi waktu tetap harus diperhatikan.

Penggunaan saringan anorganik dan saringan biologis telah memberikan pula efek yang nyata terhadap penurunan amonium dalam limbah cair rumah tangga. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa saringan yang memberikan efek optimal adalah saringan biologis atau saringan tanam Eceng Gondok. Kemampuan tanaman Eceng Gondok menyaring sisa-sisa bahan yang mengandung protein yang kemudian diuraikan dan diserap, sangat erat kaitannya dengan penurunan amonium di dalam perairan.

Penurunan kandungan amonium yang dicapai pada penelitian ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Assenzo (1986) yang mengolah limbah cair rumah tangga dengan sistem kolam alam dan berhasil menurunkan kandungan amonium sebesar 42 %. Demikian pula dengan yang dilaporkan oleh Juhaeni (1999), bahwa pada sistem pengolahan limbah dengan lumpur aktif, amonium bebas dapat diturunkan sampai 61 %.

 

 

  1. i.      Kandungan Ortofosfat limbah

Posfor yang terdapat di dalam limbah cair rumah tangga pada umumnya dalam bentuk ortofosfat. Posfor tersebut berasal dari buangan manusia. air seni, dan sisa-sisa dari bahan sabun yang digunakan untuk membentuk buih.

Pada penelitian ini limbah cair rumah tangga yang digunakan mengandung ortofosfat 205.40 mg/1 sebelum diolah dan turun hingga 30.46 mg/1 setelah melalui proses pengolahan, atau 85.17 %. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa penurunan tersebut sebagai efek dari ketiga perlakuan yang digunakan. baik berupa pengaruh tunggal maupun interaksi antara ketiganya.

Pengenceran limbah sebelum diolah dapat meningkatkan efektivitas penyaringan dan penurunan kandungan ortofosfat. karena pada konsentrasi limbah yang lebih rendah akan mempermudah proses penyaringan. pengendapan. penguraian serta proses penyerapan. Pada penelitian ini ternyata proses penyaringan berlangsung secara optimal pada konsentrasi limbah 50 %. Dengan demikian, maka untuk memperoleh hasil yang optimal pada pengolahan limbah dengan saringan biogeokimia, cukup menggunakan pengenceran limbah 50 %.

Pengaturan waktu kontak antara limbah dengan setiap jenis saringan berperan dalam proses penurunan kandungan ortoposfat limbah cair rumah tangga yang diolah dengan saringan anorganik dan saringan biologis, Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa lama waktu kontak yang memberikan efek optimal pada penelitian ini adalah 8 jam. Oleh karena waktu kontak 8 jam adalah waktu kontak terlama dalam perlakuan yang digunakan, maka hasil tersebut mengindikasikan bahwa semakin lama waktu kontak antara limbah cair rumah tangga yang diolah dengan saringan yang digunakan, semakin besar pengaruh yang ditimbulkan pada penurunan ortoposfat limbah. Namun demikian, dalam mendisain suatu sistem pengolahan limbah, faktor efisiensi tetap perlu diperhitungkan, termasuk efisiensi waktu, sehingga tidak dapat dianjurkan untuk menggunakan waktu kontak yang terlalu lama.

Penggunaan saringan anorganik dan saringan biologis telah memberikan efek terhadap penurunan kandungan ortoposfat limbah cair rumah tangga yang diolah. Kemampuan setiap jenis saringan yang digunakan untuk menurunkan kadar ortoposfat dalam limbah, berkaitan erat dengan kemampuan bahan-bahan anorganik yang digunakan untuk menyerap dan mengendapkan bahan-bahan terlarut dalam limbah, walaupun dalam pola penurunannya terlihat adanya variasi pada setiap penurunan. Selanjutnya, kemampuan saringan biologis yang terbuat dari tanaman Eceng Gondok untuk menurunkan kadar ortoposfat limbah. juga terkait dengan adanya proses penyerapan posfor oleh permukaan akar tanaman Eceng Gondok, setelah terlebih dahulu terjadi proses penyaringan dan penguraian bahan-bahan terlarut di dalam limbah yang mengandung senyawa posfor. Proses tersebut dapat dikaitkan dengan pendapat Lakitan (1995), yang mengemukakan bahwa pada akar tanaman air terjadi proses penyerapan posfor, karena posfor merupakan salah satu unsur hara esensial yang dapat diperoleh dari perairan tempat tumbuh air tersebut.

Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa pengolahan limbah cair rumah tangga dengan metode saringan biogeokimia dapat menurunkan kadar ortoposfat limbah cair rumah tangga hingga 85.7%. Hasil tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Assemzo dan Reid (1986) yang mengatakan bahwa pengolahan limbah cair dengan menggunakan kolam buatan tanpa tanaman air, dapat menurunkan kadar ortoposfat hingga 30%. Demikian pula jika dibandingkan dengan hasil  penelitian Yusuf (2001), yang  berhasil menurunkan kadar ortoposfat sebesar 55.8%.

Perlu dijelaskan bahwa kadar terendah posfor limbah cair rumah tangga yang diolah pada penelitian ini, yakni 30.46 mg/1 masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan kadar posfor yang diperbolehkan di dalam suatu perairan, karena menurut Sugiharto (1987) dan Yusuf (2001), perairan yang mengandung lebih dari 20 mg/1 akan menyebabkan pertumbuhan ganggang yang berlebihan sehingga terjadi penumpukan massa ganggang, dan pada gilirannya jika massa ganggang tersebut mati, terjadi pembusukan yang hebat dalam perairan tersebut. Tidak tercapainya kadar fosfat yang aman pada penelitian ini, bukan disebabkan karena rendahnya efektivitas sistem pengolahan yang digunakan, akan tetapi lebih disebabkan oleh tingginya kandungan posfor limbah cair rumah tangga sebelum diolah.

  1. j.      Kandungan zat besi limbah

Zat besi merupakan salah satu unsur yang penting untuk diperhatikan, karena kehadirannya di dalam air sering menimbulkan masalah. Zat besi merupakan zat terlarut yang sangat tidak dinginkan karena dapat menimbulkan bau yang tidak sedap pada air minum apabila mencapai konsentrasi 0.31 mg/1. Oleh sebab itu, dalam suatu sistem pengolahan limbah, zat besi selalu merupakan salah satu parameter yang diuji.

Pada penelitian ini, limbah cair rumah tangga yang diolah mengandung zat besi sebesar 2.55 mg/1 sebelum pengolahan, dan turun hingga 0.59 mg/1 setelah proses pengolahan, atau 76,86%. Walaupun penurunan kadar zat besi limbah cukup besar, namun hasil uji statistik menunjukkan bahwa penurunan tersebut bukan merupakan pengaruh dari interaksi ketiga perlakuan yang digunakan, namun merupakan pengaruh tunggal dari masing-masing perlakuan.

Pengenceran limbah cair rumah tangga sebelum diolah dapat meningkatkan efektivitas pengolahan karena dengan konsentrasi yang rendah, proses penyaringan, pengendapan, penguraian dan penyerapan bahan terlarut di dalam limbah, termasuk zat besi dapat berlangsung lebih baik. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tingkat pengenceran limbah yang dapat memberikan efek optimal pada penurunan kadar zat besi adalah konsentrasi 25%. Oleh karena konsentrasi terendah yang digunakan pada penelitian ini adalah 25%. maka hasil tersebut mengindikasikan bahwa semakin rendah konsentrasi limbah yang digunakan, makin efektif sistem pengolahan limbah dengan saringan biogeokimia.

Lama waktu yang digunakan untuk menyaring limbah, juga memberikan efek terhadap penurunan kadar zat besi. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa waktu kontak yang memberikan efek optimal terhadap penurunan kadar zat besi adalah waktu kontak 8 jam. Semakin lama waktu yang digunakan untuk menyaring limbah, semakin banyak pula bahan terlarut yang tersaring, mengendap, terurai dan terserap, termasuk zat besi.

Saringan anorganik dan saringan biologis yang digunakan juga memberikan efek pada penurunan kadar zat besi limbah dalam proses pengolahan. Kemampuan saringan anorganik menurunkan kadar zat besi, terkait dengan kemampuan bahan-bahan yang digunakan untuk menyerap zat besi tersebut. Menurut Saeni (1990), bahan penyaring pasir dapat menyerap zat besi, dan bahan penyaring yang terbuat dari arang dapat mengikat zat besi. Sedangkan menurut Manahan dalam Hasjrul (1999), pada  bahan  penyaring  arang,   pengambilan  zat  besi   dilakukan  dengan  proses pertukaran kation, dimana kation-kation pada permukaan partikel arang ditukar oleh ion besi.

Kemampuan tanaman Eceng Gondok sebagai saringan biologis menurunkan kadar zat besi limbah, tidak lepas dari kemampuan tanaman tersebut menyaring, dan menyerap zat besi melalui akarnya. Sebagaimana diketahui bahwa zat besi merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan, walaupun dalam jumlah yang kecil. Dengan demikian maka dalam kehidupan tanaman Eceng Giondok. penyerapan zat besi berlangsung sebagai suatu upaya pemenuhan kebutuhan. dan kebutuhan tersebut .dapat diperoleh dari perairan tempat tanaman tersebut hidup.

  1. k.    Kandungan Nitrit limbah

Nitrit merupakan salah satu bentuk nitrogen yang sering kedapatan di dalam limbah. Kehadiran nitrit di dalam suatu perairan sangat berbahaya karena dapat menimbulkan keracunan terhadap flora dan fauna dalam perairan tersebut.

Pada penelitian ini, limbah cair rumah tangga yang diolah mengandung nitrit sebesar 0.0100 mg/1 dan setelah melalui pengolahan, turun hingga 0.0010 mg/1. atau 90%. Penurunan tersebut sangat signifikan, dan berdasarkan hasil analisis statistik penurunan tersebut merupakan efek dari ketiga jenis perlakuan, baik berupa pengaruh tunggal maupun interaksi antara ketiganya.

Pengenceran limbah sebelum diolah memberikan efek yang nyata terhadap penurunan kadar nitrit, dan hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengenceran yang memberikan efek optimal adalah konsentrasi 50%. Pengenceran limbah dapat meningkatkan efektivitas proses penyaringan, pengendapan dan penyaringan nitrogen di dalam limbah. Selain itu pengenceran limbah yang disertai peningkatan kadar oksigen dapat menghambat terbentuknya nitrit melalui proses-proses anaerobik.

Waktu kontak antara limbah dengan setiap saringan juga dapat memberi kesempatan terjadinya proses penyaringan, pengendapan dan penguraian agar lebih intensif Dengan demikian proses-proses tersebut dapat memberikan hasil yang lebih baik. Pada penelitian ini, waktu kontak yang memberikan efek optimal terhadap hasil pengolahan limbah adalah waktu kontak 8 jam, yakni waktu kontak terlama yang digunakan pada perlakuan. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa semakin lama waktu kontak yang digunakan, semakin besar pula tingkat penurunan kadar nitrit limbah.

Jenis-jenis saringan yang digunakan pada penelitian ini juga memberikan efek yang nyata terhadap penurunan kadar nitrit, dan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa saringan yang memberikan efek optimal adalah saringan 3 atau saringan biologis. Kemampuan tanaman Eceng Gondok menurunkan kadar nitrit. berhubungan dengan kemampuan tanaman tersebut menyaring dan menyerap nitrogen dari perairan, sebagai salah satu unsur hara yang dibutuhkan. Kemampuan tanaman Eceng Gondok untuk mensuplai oksigen ke dalam perairan juga mempengaruhi kadar nitrit, karena peningkatan kadar oksigen menghambat proses-proses anaerobik. termasuk menghambat pembentukan nitrit.

Persentase penurunan kadar nitrit pada percobaan ini sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil yang dicapai dalam percobaan yang dilakukan oleh Yusuf (2001) dengan bioremediasi limbah cair rumah tangga yang dapat menurunkan kadar nitrit sebesar 86 %. Selanjutnya, kadar nitrit limbah cair rumah tangga yang telah melalui pengolahan dengan saringan biogeokimia ini termasuk dalam kategori memenuhi syarat sehingga aman untuk dibuang ke lingkungan, karena batas maksimal kadar nitrit yang diperbolehkan terdapat di dalam limbah adalah 0.06 mg/1 (Suhardi, 1994).

  1. l.      Kandungan Total Mikroba limbah

Kandungan total mikroba yang dinyatakan dengan Angka Lempeng Total (ALT) merupakan salah satu parameter mikrobiologis limbah yang penting untuk diketahui. Pada penelitian ini, hasil pengolahan limbah cair rumah tangga dengan menggunakan perlakuan berupa pengenceran, pengaturan waktu kontak dan pemisahan saringan.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah total mikroba limbah sebelum diolah adalah sebesar paling tinggi dijumpai pada limbah dengan konsentrasi 100% (tanpa pengenceran), yaitu 4,26 x 105 Cfu/ml, ternyata setelah mengalami pengenceran terjadi penurunan jumlah bakteri yaitu pada konsentrasi 75% = 7.5 x 10″ Cfu/ml, pada konsentrasi 50% = 4.1 x 103 Cfu/ml, dan pada konsentrasi 25% = 6.6 x 102 Cfu/ml. Dengan demikian, faktor pengenceran dapat mengurangi jumlah populasi mikroorganisme.

Adapun perlakuan dengan menggunakan kerikil pada konsentrasi limbah 100%, masih mempunyai jumlah mikroba cukup tinggi, yaitu sampai 106 Cfu/ml. tetapi pada konsentrasi yang lebih rendah, mengalami penurunan sampai 104 Cfu, bahkan pada konsentrasi 25% dijumpai 102 Cfu. Hal tersebut berarti saringan kerikil dapat digunakan untuk menjernihkan limbah cair rumah tangga sekaligus mengurangi jumlah total mikroba, namun jumlah mikrobanya tetap tinggi.

Perlakuan dengan saringan pasir + arang + zeolit, terjadi penurunan jumlah mikroba sampai 2.8 x 103 Cfu/ml. berarti saringan campuran baik digunakan sebagai bahan untuk penjernihan limbah cair dan sekaligus dimanfaatkan sebagai pengikat mikroba. Hal ini disebabkan karena kemampuan saringan campuran bertindak sebagai adsorban atau penjerap.

Pada perlakuan dengan menggunakan tanaman. ternyata terjadi penyaringan (pemurnian) sangat nyata, terutama yang mengalami pengenceran sampai 25% ditemukan mikroba sampai rata-rata 102 Cfu/1. Secara keseluruhan, perhitungan mikroba ternyata semua cara pengolahan limbah cair rumah tangga berhasil mengurangi total mikroba, tetapi yang bagus adalah yang menggunakan campuran pasir + arang + zeolit dengan waktu kontak 8 jam, mampu menurunkan mikroba dari 4.1 x 103 Cfu/ml menjadi 1.0 x 102 Cfu/ml pada pengenceran 50% dan pada pengenceran 25%, dari 6.6 x 102 Cfu menjadi 0.5 x 102 Cfu/ml.

  1. m.   Kandungan MPN Coliform

MPN Coliform merupakan uji untuk mendeteksi adanya pencemaran mikrobiologis dari buangan manusia, oleh sebab itu maka uji ini disebut uji indikator pencemaran mikrobiologik. Secara umum dapat dikatakan bahwa dari semua perlakuan pengolahan, rata-rata dapat menurunkan jumlah Coliform dalam sampel limbah cair rumah tangga . Hal ini nyata terlihat jika dibandingkan dengan sampel limbah cair rumah tangga yang tidak mendapat perlakuan, namun jumlahnya masih tetap tinggi bila dibandingkan dengan standar yang berlaku.

Pengamatan pada perlakuan pengenceran dan waktu kontak dengan berbagai jenis saringan terlihat mempunyai kemampuan untuk menurunkan jumlah MPN Coliform terutama pada perlakuan dengan menggunakan tanaman Eceng Gondok dijumpai rata-rata sampai 102 APM/ml dibandingkan dengan tanpa perlakuan.

  1. n.    Kandungan Bakteri Escherichia coli

Keberadaan E.coli terutama E.coli fecal tidak diharapkan ada di dalam air. Secara umum dari semua perlakuan dapat dikatakan mempunyai kemampuan untuk mengikat bakteri E.coli. Hanya dengan perlakuan menggunakan saringan kerikil ditemukan adanya bakteri E.coli. Hal ini mungkin disebabkan penyiapan saringan kerikilnya tidak dilakukan pembersihan dengan aquades sebelum digunakan sebagai penyaring. Hal serupa juga dijumpai pada saringan pasir. arang dan zeolit.

Namun secara keseluruhan perlakuan, yaitu penggunaan ketiga jenis saringan dapat digunakan untuk menghilangkan bakteri E.coli. terutama pada waktu kontak 8 jam Dari hasil analisis menunjukkan pada waktu kontak 8 jam tidak lagi dijumpai E.coli atau hasilnya semua negatif. Begitu juga dengan perlakuan pengenceran pada 50% dan 25 % dijumpai semua E.coli sudah habis tersaring bila dibandingkan dengan limbah cair rumah tangga pada saringan 0.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.    Kesimpulan
    1. Pengolahan limbah cair rumah tangga dengan sistem filter biogeokimia memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan kadar kandungan bahan pencemar, sehingga dapat meningkatkan kualitas limbah yang diolah sebelum dilepas ke lingkungan.
    2. Efektivitas   sistem  filter   biogeokimia  dalam   menurunkan   kadar   bahan pencemar   limbah cair rumah tangga menunjukkan tingkat yang bervariasi pada setiap parameter yang diuji.. Efektivitas pengolahan untuk penurunan kekeruhan   sebesar   89.46%.    penurunan   padatan   tersuspensi    93.67%, kesadahan 88,84%, pH 6,79%, BOD 91,40%, COD 91,6%, BOT 85,18%, kalsium 92,39%, klorida 85,81%, amonium 83,20%, ortofosfat 85,17%, besi 76,86%, dan nitrit 90%.
    3. Penurunan kadar bahan pencemar menunjukkan persentase yang berbeda antara satu parameter dengan parameter yang lain,  dan pada umumnya persentase penurunan yang dicapai pada penelitian ini  lebih  besar dari persentase penurunan yang dicapai pada beberapa sistem pengolahan limbah yang telah ada.
    4. Penurunan kadar bahan pencemar dalam limbah cair rumah tangga pada umumnya mencapai jumlah yang lebih kecil dari jumlah maksimum yang diperbolehkan   dalam   Baku   Mutu   limbah,   sehingga   kandungan   bahan pencemar tersebut dapat dinyatakan aman untuk dilepas ke lingkungan.
    5. Penggunaan kerikil, pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit secara bersama-sama dengan sistem lapisan   bertingkat untuk menyaring limbah cair rumah tangga dapat memberikan efek secara bersinergi dalam menurunkan kadar bahan pencemar limbah.
    6. Kemampuan tanaman Eceng Gondok untuk menyaring, menguraikan dan menyerap bahan-bahan terlarut di dalam limbah cair menjadi lebih efektif, apabila  limbah yang diolah sebelumnya telah melalui saringan kerikil, pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit.
    7. Pengenceran limbah cair rumah tangga sebelum diolah, memberikan efek yang signifikan terhadap hasil pengolahan. Tingkat pengenceran yang efektif untuk digunakan pada pengolahan limbah dengan sistem saringan  biogeokimia adalah pada konsentrasi 50%, karena ternyata pada konsentrasi tersebut faktor pengenceran memberikan efek yang optimal terhadap penurunan kadar bahan pencemar, dan efek tersebut tidak berbeda nyata dengan konsentrasi yang lebih rendah
    8. Waktu kontak antara limbah cair rumah tangga yang diolah dengan setiap jenis saringan memberikan efek terhadap hasil pengolahan.  Pada pengolahan dengan sistem saringan biogeokimia, ternyata waktu kontak yang memberikan efek paling besar terhadap hasil pengolahan adalah 8 jam, yakni waktu kontak paling lama yang digunakan pada penelitian ini.
    9. Pola penurunan kadar bahan pencemar dalam limbah cair rumah tangga yang diolah dengan sistem saringan biogeokimia memperlihatkan kurva yang bervariasi. Pada umumnya kadar bahan pencemar mengalami penurunan yang pesat dari kondisi sebelum perlakuan ke perlakuan tingkat pertama, dan dari perlakuan tingkat pertama ke tingkat ke dua dan ke tiga menunjukkan variasi perubahan berupa penurunan, peningkatan ataupun stagnan, namun demikian pada perlakuan tingkat ke empat seluruhnya menunjukkan penurunan yang signifikan.

 

  1. B.    Saran
  2. Penggunaan bahan-bahan anorganik seperti kerikil, pasir, arang dan zeolit dan tanaman Eceng Gondok untuk mengolah limbah cair rumah tangga perlu dimasyarakatkan, karena terbukti bahan-bahan anorganik dan tanaman air tersebut memiliki potensi   yang cukup besar dalam menyaring bahan-bahan yang terkandung dalam limbah cair rumah tangga.
  3. Dengan ditemukannya sistem pengolahan limbah cair rumah tangga yang cukup efektif dan berwawasan lingkungan, maka upaya memasyarakatkan sistem pengolahan  limbah  bagi   masyarakat,  perlu  ditingkatkan.   Upaya tersebut dapat dilakukan dengan penyuluhan dan pemberian contoh secara langsung   kepada   masyarakat   tentang   sistem   pengolahan   yang   dapat dilakukan.
  4. Pengolahan limbah cair rumah tangga sebaiknya dilakukan secara kolektif untuk  sekelompok  rumah tangga,  mengingat sistem pengolahan dengan saringan  biogeokimia  dapat  dikembangkan  berdasarkan kebutuhan  atau volume limbah yang akan diolah.
  5. Untuk pemanfaatan sistem saringan biogeokimia pada pengolahan limbah cair rumah tangga, terlebih dahulu diperlukan adanya sosialisasi tentang sistem tersebut agar masyarakat dapat memahami dan mengetahui penggunaannya dengan baik, bahkan jika memungkinkan dapat dikembangkan lebih jauh.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Case, D.  1994. Water Garden Plants. Redwood Books. Trowbridge, Wilthire.

 

Connel, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Universitas Indonesia Jakarta.

 

Darwati. S. 1998. Metode Pendekatan dan Aplikasinya Dalam Menyusun Baku Mutu Efluen IPAL. Jurnal Penelitian Permukiman. 14(4): 49 – 61

 

Debusk, T.A. and KLR. Reddy. 1987. Wastewater Treatment Using Floating Aquatic Microphytes. Magnolia Publishing, Inc. Orlando.

 

EPA [ Environmental Protection Agency ]. 1983. Proces, Theory, Performance and Design Stabilization Ponds in : Municipal Wastewater Stabilization Ponds. Officer of Research and Development Municipal Environmental Research Labiratory. Cincinnati. U.S.A.

 

——–     1886.    Pathogen Reduction,’in :     Control of Pathogen in Municipal

 

Wastewater Sludge for Land Application. Pathogen Equivalency Commite.

 

——–     1989.    POTW In-Plant Control Evaluation,  in :     Toxicity Reduction

 

Evaluation Protocol for Municipal Wastewater Treatment Plant. Risk Reduction Engineering Laboratory Office of Research and Development Commite. Cincinnati.

 

——–    1991.  Aquatic Treatment System, in :   Constructed Wetlands and Aquatic

 

Plant System for Municipal Wastewater Tratnient. Centre of Environment Research Information U.S. Government Printing Officer. Cincinnati

 

——–   1991.   Design of Aquatic Plant System, in :   Constructed Wetland and

 

Aquatic Plant System for Municipal Wastewater Treatment. Centre of Environmental Research Information U.S. Government Printing Officer. Cincinnati.

 

Eric, M. and J. Mike. 1997. Effects of Aerobic and Microaerobic Condition on Aerobic Ammonium-Oxidizing Sludge. Applied and Environmental Microbiology. American Society for Microbiology. 63(6):31-36

 

Fardiaz, S.  1992. Polusi Air dan Udara. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

 

Flynn, E.J. 1986. The New Microbiology. McGraw Hill Book Company. New York.

 

Gaudy, A.F. and E.T. Gaudy. 1980. Microbiology for Environmental Scientis and Engineers. McGraw Hill. New York.

 

Hantzshe, N.N. 1985. Wetland System for Wastewater Treatment. Ecological Concideration in Wetland Tratment of Municipal Wastewater. Van Nostrand Reinhold Co. New York.

 

Haryoto, K.  1985. Kesehatan Lingkungan . Universitas Indonesia. Jakarta,

 

Haryoto, K. 1999. Toksikologi Lingkungan, Zat Kimia dan Medan Elektromagnetik. Universitas Indonesia. Jakarta.

 

Haryoto, K. 1999. Kebijakan dan Strategi pengolahan Limbah dalam Menghadapi Tantangan Global. Dalam : Teknologi Pengolahan Limbah dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional; Jakarta. 13 Juli 1999. BPPT. Jakarta

 

Henze, M., P. Harremoes., J.C. Jansen., and E. Arvin. 1996. Wastewater Treatment. Springer Verlag. Berlin.

 

Hufschmidt, M. 1996. Lingkungan, Sistem Alami dan Pembangunan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta

 

Jenie, B.S.L. dan Rahayu. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta,

 

Juhaeni. 1999. Perbaikan Proses pengolahan Limbah Cair Peternakan. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. Pusat Studi Lingkungan Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia.  19(1):56 – 62.

 

Lakitan, B.  1995. Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

 

Lay, B.W. dan Hastowo.  1992. Mikrobiologi. Penerbit CV. Rajawali. Jakarta.

 

Lies. E.H., H. Wartono dan W. Wardhana. 1999. Manajemen Kolam Air Tawar dengan Sistem Resirkulasi. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Pusat Studi Lingkungan Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia. Jakarta 19(3): 191 – 197.

 

Lucy, W.M. 1995. Mikrobiologi Lingkungan. Universitas Hasanuddin Bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta

 

Metcalf and Eddy. 1978. Wastewater Engineering. TATA McGraw Hill Publishing Company Ltd. New Delhi.

Middlebrooks, E.J. and M.A. Al-Layla. 1987. Handbook of Wastewater Collection and Treatment. Garland STMP Press. New York.

 

Moody…M.  1993. Creating Water Gardens. Landsdowne Publishing. London.

 

Momon, N.M. dan M. Lya. 1997. Tingkat Pencemaran Air Limbah Rumah Tangga. Jurnal Penelitian Permukiman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta

 

NoIte and Associated. 1986. Operation and Maintenance Manual, City of Gustine Wastewater Treatment Facility Improvement. EPA Project. California.

 

Pandia, S., dkk. Kimia Lingkungan. Universitas Sumatera Utara Bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggo, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

 

Reddy, K.R and W.H. Smith. 1987. Aquatic Plants for Water Treatment and Resource Recovery. Magnolia Publishing. Inc. Orlando.

 

Reed, S.C., E.J. Middlebrooks and R.vv. Crites. 1987. Natural System for Waste Management and Treatment. U.S. Environmental Protection Agency.

 

Robinson, P. 1994. The Water Garden’. The Royal Horticultural Society Collection. Conran Octopus Limited. London.

 

Ronald, L.D. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment. John Wiley & Sons. New York.

 

Ryadi, S.  1984. Kesehatan Lingkungan. Penerbit Karya Anda. Surabaya.

 

Saeni, M.S. 1989. Kimia Lingkungan. PAU Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

 

Sarbidi. 1999. Perilaku Masyarakat Permukiman Bantaran Sungai Dalam Mengelola Limbah padat dan Cair. Jurnal Penelitian Permukiman. 15(2):34 -46.

 

Seregeg. I.G. 1998. Efektivitas Saringan Bioremediasi Tanaman Mendong (Scirpus littoralis Schard), Kangkung (Ipomea aquatica Forsk), dan Tale-Talesan (Typhonium Miq), Melalui Uji Coba Lapang Skala Kecil dan Simulasi di Laboratorium [Disertasi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor, Program Pasca Sarjana

 

Soerjani, M. 1987. Lingkungan, Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Universitas Indonesia. Jakarta

 

Stowel, R.R., XC. Ludwig and G. Thobanoglous. 1980. Toward the Rational Design of Aquatic Treatments of Wastewater. Departemen of Civil Engoneering and Land, Air, and Water Resources, University of California California

 

Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah. Universitas Indonesia. Jakarta.

 

Suhardi. 1991. Analisis Air dan Penanganan Limbah. PAU Pangan dan Gizi. Universitas gajah Mada. Yogyakarta,

 

Sumirat S. J.  1996. Kesehatan Lingkungan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Suriawiria, U.  1986. Mikrobiologi Air. Penerbit Alumni. Bandung.

 

Suriawiria, U. 1993. Mikrobiologi Air dan dasar-dasar Pengolahan Buangan Secara Biologis. Penerbit Alumni. Bandung.

 

Tchobanoglous, G. 1987. Aquatic Plant System for Wastewater Treatment. Magnolia Publishing. Orlando.

 

Thiese, A and    CD.    Martin.    1987.    Municipal Wastewater Purification in a Vegetative Filter Bed in Emmitsburg, Maryland. Magnolia Publishing. Orlando.

 

Wagini, dkk. 2000. Studi Fisis daur Ulang Limbah Cair Industri Peternakan Sapi dengan Simulasi Pengenceran. Jurnal Manusia dan Lingkungan. Pusat penelitian Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

 

Yusuf, G. 1992. Pengaruh Pembuangan Limbah Cair Terhadap Kandungan Mikroba Pencemar pada Perairan Pantai Losari Kotamadya Ujung Pandang [Thesis]. Ujung pandang ; Universitas Hasanuddin, Program Pascasarjana

 

Yusuf, G. 2001 Bioremediasi Limbah Rumah Tangga dengan Sistem Simulasi Tanaman Air [Disertasi]. Bogor ; Institut Pertanian Bogor, Program Pascasarjana

 

PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN

Posted October 2, 2013 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

PROBLEMATIKA PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN

                                     * SYAHRIAR TATO *

A.Latar Belakang

Pertumbuhan penduduk yang berlangsung dengan pesat telah menimbulkan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa terutama di wilayah perkotaan. Salah satu aspek yang sangat terasa adalah semakin sulitnya  memenuhi kebutuhan perumahan atau tempat tinggal bagi  penduduk. Hal itu disebabkan karena terbatasnya  kemampuan untuk membangun perumahan yang layak serta semakin terbatasnya  lahan  perkotaan untuk  membangun  permukiman yang mencukupi dan memenuhi syarat.

Dalam pembangunan nasional yang telah dilaksanakan, berbagai masalah telah dihadapi. Salah satu diantaranya adalah masalah kependudukan. Hal ini ditandai dengan pertambahan penduduk yang penyebarannya secara proporsional tidak merata, perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) yang menimbulkan problema sosial, ekonomi, politik dan budaya bagi kota yang didatangi dan desa yang ditinggalkan serta struktur penduduk yang lebih membesar pada usia muda.

Penduduk yang semakin bertambah disertai arus urbanisasi yang tinggi, maka masalah pembangunan dalam hal ini penyediaan sarana permukiman  menjadi  semakin mendesak, terutama di  daerah  perkotaan. Di sisi lain, dengan bertambah pesatnya pembangunan kota, dengan arus urbanisasi yang tinggi dibarengi dengan terjadinya  kecenderungan meningkatnya pembangunan industri baru menyebabkan bertambahnya beban bagi lingkungan perkotaan.  Pembukaan  industri baru menyebabkan semakin  berkurangnya lahan untuk permukiman. Tingginya harga tanah di  pusat kota serta rendahnya pendapatan perkapita  menyebabkan masyarakat cenderung mencari areal permukiman di daerah pinggiran kota dengan lingkungan yang  tidak  memadai serta sarana penunjang yang sangat minim.

Sebagai konsekwensi dari keadaan di atas maka  banyak orang yang terpaksa membangun di atas tanah yang tidak direncanakan semula. Keadaan itu menjadikan lingkungan perumahan tidak teratur dan tidak memiliki  prasarana yang jelas seperti jalan lingkungan, sumber  air bersih,  saluran pembuangan air kotor, persampahan  dan sebagainya.

Suatu daerah permukiman yang tidak memiliki prasarana yang memadai akan menimbulkan berbagai masalah baik ditinjau dari segi kesehatan, keindahan dan kenyamanan, maupun dari segi hukum yang berlaku. Dengan demikian maka tidaklah mengherankan jika pada suatu permukiman kumuh timbul berbagai kasus dengan jumlah dan jenis yang cukup tinggi.

Walaupun keadaan seperti di atas telah dipahami sepenuhnya oleh semua pihak yang berkompeten, namun kemampuan untuk mengatasinya masih sangat dibatasi oleh berbagai  faktor.  Akibatnya keadaan seperti itu  masih banyak dijumpai bukan saja di daerah-daerah  perkotaan, akan tetapi juga pada daerah pedesaan. Di kota-kota besar permukiman kumuh tumbuh secara liar pada umumnya di wilayah pinggiran kota atau pada daerah permukiman lama yang tidak terkendali dengan baik. Juga banyak  ditemukan di tempat-tempat yang sebelumnya bukan  merupakan wilayah permukiman, namun setelah terjadi  perkembangan yang tumbuhan kota maka tempat tersebut berubah  menjadi wilayah permukiman yang tumbuh secara liar. Keadaan seperti itu biasanya banyak dijumpai  pada  tempat-tempat pembuangan sampah kota, atau pada  daerah  yang berawa-rawa dan telah ditimbuni.

Pembangunan  perumahan  rakyat dewasa  ini  memang mendapat  perhatian  yang besar dari  pemerintah  dalam rangka memenuhi salah satu kebutuhan pokok  masyarakat. Pembangunan rumah rakyat di prioritaskan pada masyarakat yang berpenghasilan rendah, mengingat kebutuhan  mereka akan tempat tinggal yang mendesak, terutama di  daerah perkotaan  sehingga  dapat dihindari  tumbuhnya  permukiman. Permukiman kumuh yang lebih banyak lagi.

Kota Makassar yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia, tidaklah lepas dari permasalahan permukiman kumuh seperti yang dikemukakan di atas. Perkembangan dan pertumbuhan kota Makassar yang cukup pesat akhir-akhir ini, di samping memperlihatkan hasil  yang positif juga  menimbulkan  masalah-masalah bagi pemerintah daerah, misalnya arus urbanisasi yang tinggi, kondisi perumahan yang belum  memenuhi standar  dan syarat kesehatan (utamanya di bagian  kota lama), penggunaan tanah kota yang  semrawut lalu lintas kurang teratur, banjir yang terjadi setiap tahun,  pengelolaan sampan yang belum mantap, air bersih yang masih terbatas, jalan-jalan masih banyak mengalami kerusakan dan masalah-masalah lain yang merupakan dampak hasil pembangunan.

Dari  sekian banyak permasalahan yang  dikemukakan di atas, salah  satu diantaranya yang cukup menarik dan menjadi pokok pembahasan dalam tulisan ini adalah permasalahan tentang permukiman kumuh yang  akhir-akhir ini tumbuh semakin pesat. Tercatat hampir  semua kecamatan  yang  berada dalam wilayah  Kota Makassar memiliki daerah permukiman yang kumuh.

Salah satu wilayah kota Makassar yang merupakan tempat tumbuhnya beberapa permukiman kumuh yaitu di Kecamatan Mariso, khususnya pada pesisir pantai wilayah itu. Di wilayah tersebut penduduk setempat berusaha menimbun pantai dengan sampah kemudian mendirikan gubuk-gubuk liar di atasnya. Sehingga dengan pesat tumbuhlah lingkungan permukiman yang padat dan tak teratur.

Para penghuni permukiman kumuh bersikeras menempati tempat itu karena memberikan kemungkinan kepada mereka untuk tetap hidup dan tinggal di kota. Kawasan hunian mereka yang terletak di tengah  atau  di pinggiran kota memberikan aksesibilitas terbaik untuk menuju  ke tempat  kerja atau tempat mencari nafkah. Oleh karena itu umumnya mereka bekerja atau mencari nafkah  di sektor informal yang tempatnya di tengah atau di  pinggiran kota. Oleh sebab itu peremajaan lingkungan  yang menggusur mereka tidak akan menjawab permasalahan,  sebab mereka akan kehilangan akses menuju tempat pekerjaan gilirannya akan menimbulkan berbagai kerawanan sosial .

Pembenahan  lingkungan permukiman yang  diharapkan oleh para penghuni tentunya adalah pembangunan  fasilitas hunian yang memenuhi syarat-syarat kebersihan,  kesehatan, keamanan dan syarat lainnya namun masih dapat terjangkau oleh kemampuan penghasilan mereka. Pembangunan menyebabkan biaya hidup menjadi lebih  tinggi, tidak dikehendaki karena akan mengakibatkan mereka tergusur dan digantikan oleh kelompok lain yang lebih  mapan.

Pemerintah Kota Makassar sebagai unsur pengatur kehidupan kota mempunyai tugas untuk memberikan bimbingan dan pengarahan bagi pengembangan dan penataan kehidupan kota. Untuk itu guna mengatur perkembangan dan tata kehidupan kota diperlukan suatu program yang dapat memberikan garis petunjuk bagi pelaksanaannya.

Kota Makassar dengan berbagai program kota, diharapkan dapat menghimpun dan mengarahkan segala sumber daya yang ada. Peranserta segenap instansi pemerintah serta semua lapisan masyarakat sangat dibutuhkan. Sumbangan fikiran, tenaga dan dana sangat diperlukan di dalam menunjang program ini? mulai dari perencanaan sampai de­ngan pelaksanaannya. Karena dengan keterpaduan semua pihak yang terkait, maka diharapkan program kota dapat. terlaksana dengan baik.

Salah satu komponen dalam program kota  yaitu masalah kesehatan. Program pelaksanaannya dititikberatkan pada penyehatan- lingkungan permukiman melalui swasembada masyarakat demi tercapainya tujuan pembangunan nasional, yakni terbinanya manusia Indonesia seutuhnya yang sehat fisik, mental maupun keadaan sosialnya. Untuk menciptakan kesempatan hidup sehat bagi ma­syarakat dimanapun mereka berada, sangat erat hubungannya dengan upaya peningkatan mutu lingkungan hidup dan perubahan perilaku kesehatan.

Kota Makassar dalam kedudukannya sebagai pusat pengembangan di wilayah Indonesia Bagian Timur, memiliki berbagai daya tarik yang memungkinkan sekelompok masyarakat untuk datang dan bermukim baik untuk sementara, maupun dalam waktu yang lama. Di bagian kota tertentu daerah permukiman kumuh masih dapat ditemukan, dari tahun ke tahun cenderung semakin meningkat. Dengan demikian keadaan ini akan menjadi permasalahan yang semakin serius dan berkepanjangan dari tahun ke tahun, apabila tidak ditanggulangi secara berangsur hingga tuntas.

Seperti diketahui bahwa hidup di lingkungan dengan fasilitas yang serba kekurangan membuat para penghuni harus hidup dengan cara di luar syarat kesehatan. Kebutuhan air bersih misalnya, akan dipenuhi dengan menggunakan secara bersama-sama sumur yang tersedia dan digunakan oleh beberapa keluarga. Cara menggunakan sumber air seperti ini sangat sulit dipertanggungjawabkan guna menjamin mutu sumber air yang bersangkutan. Di samping itu, kebiasaan lain yang merupakan kebiasaan bawaan da­ri kampung halaman sebelumnya adalah membiarkan anak-anak mereka membuang tinja sembarang tempat dan di malam hari para orang dewasapun ikut pula berbuat seperti itu. Untuk merubah cara hidup seperti ini diperlukan proses alih perilaku kesehatan dan membutuhkan waktu yang cukup lama serta pendekatan yang lebih bijaksana.

Masyarakat kota Makassar termasuk masyarakat golongan yang senang jajan. Bila mutu lingkungan hidup tidak diperhatikan dalam bentuk tersedianya air sehat yang memadai serta tersedianya jamban yang bersih, se­hat dan terawat rapih, dapat menyebabkan timbulnya pencemaran dan berbagai macam penyakit terjadi pada  lingkungan permukiman kumuh.

Telah dikemukakan terdahulu bahwa di Kota Makassar jumlah permukiman kumuh cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Hal itu terutama berlangsung di daerah pinggiran kota dan permukiman lama yang tak terkendali. Permukiman kumuh yang tumbuh di wilayah pinggiran kota dan pesisir pantai dapat dijumpai di Kecamatan Mariso, pada beberapa buah kelurahan.

Di Kecamatan Mariso terdapat beberapa buah kelurahan yang memiliki permukiman kumuh. Dua diantaranya adalah Kelurahan Lette dan Kelurahan Bontorannu. Kedua tempat tersebut pada umumnya berada di kawasan pesisir pantai. Kehadiran permukiman-permukiman kumuh di daerah itu pada dasarnya sudah berlangsung lama, keberadaannya tentu saja disebabkan oleh berbagai faktor yang terkait antara satu dengan yang lain.

 

 

 

B. TENTANG PERMUKIMAN KUMUH

Manusia  sebagai makhluk sosial hidup bersama  dengan makhluk lainnya. Karena itu kemudian muncullah kelompok-kelompok rumah yang dinamakan permukiman. Rumah sebagai suatu bangunan merupakan bagian dari suatu permukiman yang utuh.

McAndrew dkk.mengemukakan bahwa kata per­mukiman merupakan terjemahan kata-kata land settlement dan resettlement dan biasanya dikaitkan dengan kata-ka­ta yang mempunyai arti sama yaitu scheme dan project. Pada hakekatnya permukiman adalah hidup bersama, sebab itu fungsi rumah dalam kehidupan manusia adalah sebagai tempat tinggal yang diperlukan oleh manusia untuk memasyarakatkan dirinya.

Pengertian tentang permukiman telah dikemukakan deh beberapa ahli antara lain mengemukakan bahwa, permukiman adalah penataan kawasan yang dibuat oleh manu­sia agar dapat hidup secara. lebih mudah dan lebih baik, memberi rasa bahagia dan rasa aman dan mengandung kesepakatan untuk membangun manusia seutuhnya. Selanjutnya dalam definisi lain dikemukakan bahwa suatu permukiman dapat dilihat sebagai suatu dunia tersendiri dimana pa­ra warganya menemukan identitas mereka, merasa aman, merasa sebagai makhluk sosial, dan dapat ia menyalurkan naluri  untuk berkembang biak  menyambung  keturunannya.

Selanjutnya dikemukakan bahwa permukiman adalah suatu kawasan perumahan yang ditata secara fungsional sebagai suatu sosial ekonomi dan fisik ke tata ruang, lingkungan, sasaran umum dan fasilitas sosial sebagai suatu kesatuan yang utuh dengan membudayakan sumber- sumber daya dan dana, mengelola lingkungan yang ada un­tuk mendukung kelangsungan dan peningkatan mutu kehidupan manusia, memberi rasa aman, tentram, nikmat dan sejahtera dalam keselarasan, keserasian dan keseimbangan agar berfungsi sebagai wadah yang dapat melayani kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari rumusan-rumusan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa permukiman merupakan kawasan perumahan yang sengaja dibuat lengkap dengan prasarana dan fasilitas lingkungan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan penghuninya. Suatu permukiman akan cukup ideal kalau di dalamnya terdapat pengelolaan lingkungan yang memadai.

Untuk dapat menilai bahwa suatu permukiman sehat atau tidak perlu didasarkan pada karakteristik daerah permukiman yang merupakan standar yang telah disepakati. Karakteristik atau standar itu didasarkan pada beberapa aspek yaitu :

  1. Keadaan fisik perumahan yang meliputi organisasi ruang, ukuran ruang, bahan bangunan, ventilasi dan sebagainya.
  2. Fasilitas jalan lingkungan, baik berupa jalan utama, jalan menengah ataupun jalan lokal.
  3. Fasilitas  persampahan, meliputi tempat  penampungan, pembuangan sementara maupun pembuangan akhir, termasuk sistem pengelolaannya.
  4. Fasilitas  air  bersih meliputi  ketersediaan,  cara memperoleh maupun sistem pengelolaannya.
  5. Sarana  pembuangan air kotor, meliputi kualitas saluran kemampuan serta sistem kerjanya.
  6. Fasilitas-fasilitas  sosial lainnya  yang  merupakan kebutuhan  penghuni permukiman, antara lain sarana peribadatan, pendidikan, tempat bermain  anak, dan sebagainya.

Pada kenyataannya banyak wilayah permukiman yang kondisi atau keadaannya berada di bawah standar yang telah ditetapkan. Keadaan seperti itu terutama banyak dijumpai pada negara-negara yang sedang berkembang. Terbentuknya permukiman-permukiman yang tidak memenuhi standar tersebut erat kaitannya dengan pertumbuhan penduduk yang sulit terkendali. Selain itu terjadinya arus urbanisasi yang cukup tinggi telah menimbulkan berbagai masalah di sektor permukiman tersebut. Sebagai akibat dari proses di atas maka terbentuklah permukiman-permu­kiman yang tidak dapat terkendali dengan kondisi  yang sangat  memprihatinkan, dan lebih dikenal  dengan  nama permukiman kumuh.

Menurut Soemadi, terjadinya permukiman kumuh karena besarnya arus urbanisasi penduduk dari pedesaan ke perkotaan. Lebih jauh dikemukakan bahwa perkampungan kumuh adalah bagian kota yang jorok, bangunan-bangunan yang ada tidak memenuhi syarat serta didiami oleh orang miskin, serta fasilitas tempat pembuangan sampah maupun fasilitas air bersih tidak memenuhi persyaratan kesehatan.

Ciri-ciri lain permukiman kumuh adalah letak dan bentuk perumahan yang tidak teratur, sarana dan infrastruktur kota sangat sedikit, bahkan mungkin tidak ada sama sekali, tingkat pendidikan rendah, pendapatan rumah tangga dan pendapatan penduduk rendah, serta kebanyakan bekerja di sektor informal. Dalam keadaan seperti ini mengakibatkan tingkat berfikir dan daya kreasi yang kurang dan sulit menerima sesuatu yang baru seperti pembangunan ke arah perbaikan lingkungan permukiman itu sendiri .

Dari kebutuhan dasar manusia yaitu sandang, pangan dan papan (perumahan) saja masih sulit dipenuhi oleh masyarakat permukiman kumuh. Hal ini dikarenakan oleh pendapatan yang rendah sehingga rumah murahpun sulit mereka miliki. Untuk memenuhi kelangsungan hidup masya­rakat permukiman kumuh mereka membuat rumah darurat dari bahan-bahan   seadanya misalnya papan bekas, karton, seng bekas dan sebagainya.

Apabila diperhatikan lebih jauh tentang ciri perwakilan kumuh yang secara menyeluruh lingkungan ini nampak jelas perbedaannya dengan lingkungan hunian lainnya. Soemadi mengemukakan beberapa ciri yang menonjol da lam suatu permukiman kumuh adalah sebagai berikut   :

  1. Penduduknya sangat padat serta jumlah anak juga besar dan kurang   terurus  dengan   baik.
  2. Warga masyarakat umumnya berpenghasilan rendah de­ngan mata      pencaharian tidak tetap sehingga sulit menjamin pemenuhan kebutuhan sehari-hari, terutama pada saat terjadinya musibah dalam keluarga      (sakit atau   kematian). Sebagai akibat dari keadaan itu, tidak jarang   terjadi seluruh anggota keluarga terpaksa harus mencari penghasilan   tambahan termasuk anak-anak di bawah umur.
  3. Tingkat   kesehatan   dan   pendidikan   pada  umumnya   rendah.
  4. Sarana pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari tidak memadai   seperti   air bersih, tempat pembuangan sampah dan lain-lain.
  5. Kondisi lingkungan sangat kotor sehingga tingkat kesehatan warganya   juga relatif rendah.
  6. Masalah-masalah sosial banyak terjadi, antara lain kenakalan remaja,   tindak kekerasan dan bentuk-bentuk kriminalitas lainnya.
  7. Perasaan masyarakat untuk memiliki lingkungan sangat rendah,  sehingga partisipasi mereka untuk memperbaiki lingkungan juga rendah.

Pertumbuhan dan perkembangan lingkungan permukiman kumuh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pertumbuhan kota-kota besar di seluruh dunia. Lingkungan ini tumbuh berkembang karena perkembangan kota sebagai daerah industri, ekonomi dan perdagangan yang menuntut adanya persyaratan peningkatan kemampuan warga kota untuk menyesuaikan diri. Bagi mereka yang sukses akan mampu meningkatkan kedudukan sosial ekonomi mereka, sedangkan yang tidak mampu akan tersisih dari arus kemajuan dan perubahan kota.

Pada setiap perencanaan dan pembangunan kota selalu diupayakan untuk menata kembali letak dan kondisi berbagai lokasi permukiman. Lokasi-lokasi permukiman baru yang layak juga telah banyak yang dibangun, namun akibat kesenjangan sosial ekonomi di antara warga kota, maka terjadi pula kesenjangan dalam menghuni permukiman baru tersebut. Warga yang tidak beruntung akan tetap menghuni permukiman yang kumuh.

Pertumbuhan sektor industri, ekonomi dan perdaga­ngan secara pesat di satu pihak telah membuka banyak kesempatan kerja namun di lain pihak juga telah menimbulkan  berbagai masalah bagi lingkungan. Semakin menyempitnya lahan di perkotaan membawa dampak yang sangat besar bagi sektor pemukiman. Pergeseran penduduk ke daerah pinggiran kota merupakan awal terbentuknya permukiman liar dan tak terkendali, yang pada akhirnya bermuara pada lahirnya permukiman kumuh.

Suatu hal penting dikemukakan bahwa salah satu penyebab meningkatnya permukiman kumuh di perkotaan ada-lah tingginya arus urbanisasi dari tahun ke tahun. Daya tarik kota tetap saja merupakan faktor penyebab banyaknya orang-orang desa yang mengadu nasib untuk hidup di kota, walaupun pada umumnya tanpa tujuan yang jelas. Pada kenyataannya pat«a warga desa yang masuk ke kota pada umumnya memilih daerah pinggiran kota untuk tempat tinggalnya. Keadaan ini cukup berperan dalam percepatan tumbuhnya suatu permukiman kumuh di pinggiran kota ter­se but .

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa kecenderungan pa­ra pendatang untuk memilih wilayah pinggiran untuk tem­pat tinggalnya antara lain karena pada tempat tersebut mereka tidak terlalu sulit menyesuaikan diri. Selain itu mereka juga masih dapat melakukan kebiasaan-kebiasaan hidup di tempat asalnya karena kurangnya pengawasan. Dari tempat itulah mereka juga dapat memperoleh berbagai macam informasi tentang cara yang dapat dilakukan untuk mencari nafkah, baik untuk sementara maupun untuk  jangka panjang. Akibat dari semua  kenyataan di atas adalah semakin beratnya beban yang dipikul oleh permukiman yang bersangkutan dan semakin sulitnya mengendalikan situasi di dalamnya secara keseluruhan. Secara umum dapat dikatakan bahwa kejadian tersebut telah menciptakan permasalahan permukiman kumuh yang semakin rumit dari waktu ke   waktu.

C.TENTANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN.

Rumah merupakan institusi budaya, bukan saja sebagai hasil kegiatan manusia tetapi juga karena peranannya sebagai tempat dalam menampung, menyalurkan dan pengembangan usaha serta langkah menuju perbaikan taraf hidup manusia. Dengan demikian rumah dapat dilihat sebagai pusat kegiatan budaya: rumah ter-wujud dalam proses pemikiran dan tingkah laku. Selanjutnya ditekankan lagi bahwa rumah menunjukkan tempat tinggal , merupakan mediasi antara manusia dengan dunia, dimana manusia dapat menemukan kembali kekuatannya se-telah lebih dahulu melakukan pekerjaan yang melelahkan dan menghabiskan energi. Rumah juga memberikan keamanan, ketenangan hidup, kemesraan dan kehangatan hidup serta memberikan kebebasan dalam arti pencapaian kebebasan   social   dan   psikologis.

Hidayat mengemukakan bahwa rumah merupakan basis bagi terbentuknya kepribadian manusia, rumah me­rupakan ekspresi dari eksistensi manusia, di rumah pulalah   peri laku   manusia  dibentuk.   Ada   empat tingkat kebutuhan rumah diukur dari tingkat kepuasan yaitu: kebutuhan untuk bernaung dan rasa aman, kebutuhan fisik, kebutuhan sosial dan kebutuhan estetika.

Dalam bentuk materialnya suatu rumah dilengkapi dengan lantai, dinding, dan atap yang kuat merupakan tempat manusia berlindung dan diamankan dari bermacam-macam bahaya.

Harianto mengemukakan bahwa rumah bukannya sekedar tempat terlindung dari terik matahari, hujan, angin dan cuaca buruk lainnya tetapi juga harus bisa memberikan kenyamanan dan ketenteraman bagi para penghuninya.

Pada dasarnya rumah yang layak merupakan impian bagi semua orang. Bagaimana ukuran suatu rumah yang dikatakan layak adalah sukar diberikan rumusan. Masing-masing orang akan memberikan pendapat yang berbeda sesuai tingkat kemampuan, kondisi dan pengalaman seseorang. Sebab itu ukuran kelayakan adalah relatif tergantung pada pribadi masing-masing. Namun demikian da­lam tulisan ini dikemukakan sesuatu pengertian tentang rumah yang layak sebagai berikut.

Rumah yang layak adalah rumah sehat, cukup kuat, biaya yang terjangkau, bentuknya indah dengan ruangan yang cukup, serta berdiri di atas lingkungan yang te-pat. Rumah yang sehat adalah rumah yang memiliki cukup hawa dan aliran udara, cukup penerangan alami dan buatan, cukup air bersih, lancar pembuangan air kotoran dan limbah.

Syarat-syarat dasar perumahan sehat yaitu :

  1. Setiap keluarga mendiami tempat  yang  berdiri sendiri  yang  lengkap dipelihara baik dan  yang  cukup aman serta kokoh strukturnya. Di setiap tempat kediaman minimum harus dipenuhi keadaan :
  2. Jumlah ruang cukup memadai bagi penghuninya.
  3. Adanya jaminan kebebasan pribadi.
  4. Adanya kejelasan pembatas/pemisah antar ruang.
  5. Adanya air bersih yang cukup.
  6. Adanya sarana pembuangan air kotor dan air kotoran.
  7. Adanya MCK (mandi, cuci, kakus).
  8. Adanya ruang penyimpanan (gudang).
  9. Perlindungan dari cuaca yang berlebihan atau  kekurangan.
  10. Adanya udara silang.
    1. Rumah  ditetapkan dalam lingkungan/kawasan permukiman yang direncanakan berdasarkan  prinsip-prinsip tata kota dan daerah. Di lingkungan perumahan harus diusahakan:
      1. Fasilitas  umum seperti : (1) Penyediaan/suplai  air bersih, (2) Jaringan air kotor dan air kotoran,  (3) Pengelolaan sampan.
      2. Udara yang bersih, yang tidak berbau atau mengandung racun, asap, industri, dan debu.
      3. Fasilitas penjagaan keamanan (hankam) dan keamanan dari bahaya kebakaran dan musibah lain.
      4. Fasilitas sosial dan ekonomi/industri,  perdagangan, sosial kebudayaan, pendidikan, ibadah, rekreasi, kesehatan yang terletak tidak jauh/mudah dicapai  dari daerah permukiman.

fungsi dari lingkungan perumahan bukanlah hanya merupakan  bangunan rumah kediaman saja, tetapi pula menyangkut segi kehidupan masyarakatnya termasuk segi-segi sosial ekonomi, kesehatan, dan keserasian bertempat tinggal.

Adisasmita menyatakan ada dua jenis  model lokasi rumah tangga, yaitu :

  1. Faktor  pertimbangan  utama dalam  penentuan  lokasi adalah  biaya ke tempat pekerjaan. Hal ini berarti penentuan lokasi permukiman berpedoman pada  animasi biaya perjalanan.
  2. Pendekatan yang kedua terdiri dari teori-teori  yang menekankan  pemilihan rumah, daerah  dan  lingkungan sebagai penentu utama lokasi permukiman.

Moechtar mengemukakan bahwa lingkungan pe­rumahan merupakan suatu daerah hunian yang perlu dilindungi dari gangguan-gangguan umpamanya gangguan suara, kotoran udara, bau, sehingga daerah perumahan harus bebas dari gangguan tersebut dan harus aman serta mudah mencapai pusat-pusat pelayanan serta tempat kerjanya.

Reksohadiprodjo berkesimpulan bahwa manusia selain memerlukan sandang dan pangan, juga perumahan karena semuanya merupakan kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu sebagai konsekwensinya perlu diciptakan permukiman untuk menampung kebutuhan dasar manusia itu.

Bertolak dari pengertian-pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli tentang perumahan di atas, maka da lam rangka memenuhi. kebutuhan perumahan bagi penduduk perkotaan, kebijaksanaan dan langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut :

  1. Pembangunan perumahan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dimana diselenggarakan dalam lingkup  permukiman terpadu dan dikaitkan dengan kebijaksanaan pengembangan tata ruang dan wilayah dengan memperhatikan aspek-aspek kependudukan dan lingkungan hidup. Pembangunan perumahan tersebut harus disertai dengan penataan dan perbaikan mutu lingkungan permukiman yang sehat, tertib, aman dan serasi, termasuk pengadaan prasarana-prasarana yang diperlukan.
  2. Pembangunan  perumahan  harus dapat  pula  mendorong peningkatan  produksi bahan bangunan  yang  harganya murah tetapi bermutu.
  3. Sarana  pembangunan perumahan dititikberatkan pada pemenuhan kebutuhan  golongan  masyarakat berpenghasilan  rendah, baik  dalam  sektor   formal   maupun informal. Untuk memenuhi kebutuhan sebagian masyarakat berpenghasilan rendah yang be 1urn dapat terjangkau oleh program KPR-BTN (Kredit Pemilikan Rumah-Bank Tabungan Negara), program pembangunan rumah sederhana akan tetap dilanjutkan. Pembangunan yang akan lebih banyak diserahkan kepada prakarsa dan swadaya masyarakat sendiri. Reran serta masyarakat dan pihak swasta yang sudah meningkat akan lebih dikembangkan lagi. Demikian pula pola usaha bersama baik dalam bentuk tradisional maupun yang sudah melembaga dalam suatu organisasi seperti koperasi akan lebih dikembangkan.
  4. Dalam usaha pengadaan rumah dan penyediaan sarana lingkungan yang diperlukannya, efisiensi penggunaan dana akan lebih diperhatikan dan di samping perlunya usaha-usaha yang lebih intensif.

Keadaan  perumahan adalah salah satu  faktor  yang menentukan  keadaan  hygiene dan  sanitasi  lingkungan. Seperti diketahui bahwa perumahan yang tidak cukup atau terlalu  sempit akan mengakibatkan  timbulnya  berbagai penyakit dalam masyarakat.

Ada  empat syarat pokok yang harus  dipenuhi  oleh suatu  rumah untuk dapat digolongkan sebagai rumah  sehat, yakni :

  1. Memenuhi kebutuhan fisiologis.
  2. Memenuhi kebutuhan psikologis.
  3. Dapat menghindarkan terjadinya kecelakaan.
  4. Dapat menghindarkan terjadinya penyakit.

Adapun kriteria dari rumah sehat yang  dikemukakan di atas dapat dijelaskan lebih jauh sebagai berikut :

  1. Memenuhi kebutuhan fisiologis, mencakup aspek-aspek
    1. Suhu ruangan

Suhu ruangan dijaga agar jangan berubah, sebaiknya tetap berkisar antara 25-28°C. Suhu ruangan ini tergantung pada suhu udara luar, pergerakan udara, kelembaban udara, dan suhu benda-benda sekitarnya.

  1. Penerangan.

Harus cukup mendapat penerangan baik siang maupun malam hari. Yang ideal adalah penerangan listrik. Diusahakan agar ruangan-ruangan mendapatkan sinar matahari terutama pagi hari.

  1. Pertukaran hawa (ventilasi).

Pertukaran  harus cukup menyebabkan hawa  ruangan tetap segar. Untuk itu rumah-rumah harus mempunyai jendela yang cukup.

  1. Isolasi suara.

Dinding ruangan harus kedap suara baik terhadap suara yang berasal dari luar maupun dari dalam. Sebaiknya perumahan jauh dari sumber-sumber suara kegaduhan seperti pasar, pabrik, sekolah, lapangan terbang, stasiun bus, stasiun kereta api dan sebagainya.

  1. Memenuhi kebutuhan psikologis, mencakup aspek-aspek :
  2. Keadaan rumah dan sekitarnya, cara pengaturannya harus memenuhi rasa keindahan sehingga rumah tersebut  menjadi pusat kesenangan dan rumah  tangga yang sehat.
  3. Adanya jaminan kebebasan yang cukup bagi setiap anggota keluarga.
  4. Setiap anggota keluarga yang sudah dewasa sebaiknya  mempunyai ruangan  sendiri-sendiri  sehingga tidak terganggu.
  5. Adanya ruangan keluarga untuk dapat berkumpul.
  6. Adanya ruangan tamu.
    1. Menghindari terjadinya kecelakaan :
    2. Konstruksi  rumah dan bahan-bahan bangunan  harus kuat sehingga tidak mudah ambruk.
    3. Perlu adanya sarana pencegahan terjadinya kecelakaan di sumur  kolam, dan sebagainya terutama un­tuk anak-anak.
    4. Diusahakan agar tidak mudah terjadi kebakaran.
    5. Ada alat pemadam kebakaran terutama yang  mempergunakan gas.
      1. Menghindari terjadinya penyakit.
      2. Adanya  sumber air sehat, cukup  kualitas  maupun kuantitasnya.
      3. Harus  ada tempat pembuangan kotoran, sampah  dan air limbah yang baik.
      4. Harus dapat mencegah perkembangbiakan vektor penyakit seperti nyamuk, lalat, tikus dan sebagainya.

Selain hal-hal yang telah dikemukakan di atas perlu pula diperhatikan mengenai situasi lingkungan rumah yaitu :

  1. Pengaturan halaman rumah, antara lain, pertamanan, kebersihan halaman, kelancaran saluran air kotor, penerangan pada ma lam hari cukup sesuai dengan kebutuhan.
  2. Pengaturan  tanah  pekarangan antara  lain:  kandang ternak harus dijaga kebersihannya, kolam ikan  harus sering diganti airnya, pekarangan harus bersih dari sampah atau tanaman dan semak yang tak berguna.
  3. Pembuatan pagar halaman dan pekarangan.
  4. Menjaga kesehatan ternak dan hewan piaraan.

Secara sederhana syarat-syarat bangunan rumah yang dapat dikembangkan baik di perkotaan maupun di pedesaan adalah sebagai  berikut :

  1. Bangunan rumah cukup memenuhi syarat kesehatan.
  2. Lantai harus bersih dan kering : (1) agar mudah dibersihkan, lantai harus rata/datar dan tidak menimbulkan debu bila dibersihkan, (2) agar tetap kering, maka lantai harus berada lebih tinggi dari halaman luar, terbuat dari bahan bangunan yang tidak menghantar air tanah ke permukaan lantai (kedap air) sehingga ruangan tidak lembab.
  3. Udara dalam ruangan hendaknya tidak lembab dan selalu beredar : (1) agar ruang dalam tidak lembab, maka komponen pembatas ruang dalam (lantai, dinding,, 1angit-langit/atap) harus kedap air. (2) agar udara selalu beredar maka dinding harus mempunyai lubang ventilasi sebagai sarana masuknya udara segar dari luar, dan keluarnya udara kotor dalam ruangan. Din­ding pembatas ruang dalam juga diperlukan mempunyai lubang untuk meneruskan keluar dan masuknya udara.
    1. Bangunan rumah memenuhi perasaan nyaman.

Penyediaan ruangan dalam rumah hendaknya mencukupi sesuai kebutuhan. Hal demikian biasanya tergantung dari adat kebiasaan atau kemampuan dari penghuninya. Penataan ruang-ruang dalam rumah agar memenuhi rasa nyaman dapat dilakukan sebagai berikut :

1)    Ruang tidur. Ruang tidur merupakan tempat untuk beristirahat penuh (tidur) dan merupakan tempat yang lebih pribadi, sehingga ruang tersebut  hendaknya : (1) ditempatkan pada bagian rumah yang cukup tenang/ kebisingan kurang. (2) sinar matahari pagi bisa masuk sehingga dipertimbangkan agar jendela menghadap ke timur dan luas jendela diusahakan minimal 1/9 luas ruang tidur (misalnya luas kamar 9m2 maka luas jendela minimal 1 m2. (3) Mempunyai lubang peranginan yang cukup memadai biasanya 1/5 luas jendela. (4) Mempunyai pintu yang bisa ditutup. (5) Warna dinding sebaiknya yang sejuk, seperti hijau muda, biru muda atau putih gelap. (6) Dibagian luar mempunyai penahan sinar mata hari yang biasanya berupa tirai atau pelebaran teoritis kamar atau bisa juga menanam pohon pelindung.

2)    Ruang tamu. Penempatannya di ruangan bagian depan dengan tujuan agar dapat berhubungan langsung dengan jalan ke luar, sehingga muda dicapai oleh tamu tanpa melalui  ruangan  lain yang sifatnya  lebih  pribadi bagi penghuninya.

3)    Ruang makan. Ruang makan selain digunakan untuk kegiatan makan biasanya juga sebagai tempat belajar dan ruang keluarga. Oleh karena itu sebaiknya :

(1)  Dekat dengan dapur, agar penyajian makanan lebih mudah.

(2)  Mempunyai penerangan alami yang cukup besar de­ngan memberikan bukaan jendela yang menghadap ke arah luar, misalnya ke taman/pekarangan.

4)    Dapur. Untuk kegiatan masak memasak, dapur erat hubungannya dengan api, maka sebaiknya :

(1)  Mempunyai lubang-lubang angin/jendela yang cukup

(2)  Bagian  dinding yang dekat dengan api  hendaknya dilapisi dengan seng, sehingga tidak muda terbakar, terutama untuk rumah kayu/bambu.

5)    Kamar mandi, Cuci dan Kakus.

(1)  Pembuatan kamar mandi, Cuci dan Kakus harus  se-demikian rupa agar pembuangan kotoran/1imbah bisa lancar.

(2)  Kamar mandi, Cuci dan Kakus harus mempunyai  lubang angin dan penerangan yang cukup, agar sinar mata  hari dapat masuk dan sirkulasi udara  bisa terjadi  dengan sempurna. Hal tersebut akan  menghindarkan kamar mandi dari ban yang tidak  se-dap, selain itu air di bak akan tetap segar.

6)    Ruang-ruang penunjang.

(1)  Kandang ternak. Penempatan  kandang  ternak tempatnya harus terpisah dengan rumah induk. Hal demikian dimaksudkan agar bau masuk dari kotoran binatang  tidak  mengganggu penghuni  rumah  itu sendiri  maupun tetangga (dalam arti mudah  ter-jangkit penyakit yang disebabkan oleh  banyaknya lalat).

(2)  Lumbung. Seperti halnya dengan kandang  ternak, penempatan lumbung sebaiknya terpisah atap-nya dari rumah induk, dan diusahakan agar di mu-ka lubang tersebut terdapat halaman terbuka yang memungkinkan  dipergunakan untuk menjemur  hasil bumi.

Suatu hal yang tak kalah pentingnya dalam suatu bangunan rumah adalah komponen bangunan rumah itu sen­diri. Bagaimanapun indah dan luasnya suatu bangunan rumah kalau komponen yang menyusunnya tidak memenuhi syarat maka bangunan tersebut tidak akan dapat bertahan lama .

Di Indonesia terdapat bermacam-macam bentuk rumah, tetapi secara garis besar bentuk-bentuk tersebut  dapat dibagi menjadi dua bagian besar yaitu “rumah  panggung” dan “rumah non panggung”. Pada dasarnya struktur  suatu rumah terdiri atas :

  1. Komponen struktur utama, yang terdiri atas  pondasi, kerangka  bangunan utama (tiang, kolom) dan rangka atap, juga rangka untuk rumah panggung.
  2. Komponen non struktur, terdiri atas lantai, dinding, pintu, jendela, langit-langit dan penutup atap. Komponen  struktur utama terdiri dari  bagian-bagian sebagai berikut :
    1. Pondasi. Pondasi adalah salah satu komponen struktur yang berfungsi meneruskan gaya dari segala arah ke tanah. Dengan demikian pondasi berperan penting da-lam hal mendirikan suatu bangunan. Terdapat berbagai macam jenis pondasi, baik ditinjau dari macam beban daya dukung tanah atau jenis bangunan yang didukung. Jenis-jenis pondasi yang dimaksud adalah pondasi pasangan batu kali dengan slof, pondasi umpak rumah non panggung, pondasi umpak rumah panggung, pondasi pasangan batu kali dengan roliag untuk rumah non panggung dan pondasi tiang pancang untuk rumah panggung.
    2. Rangka rumah. baik rumah panggung maupun non panggung mempunyai rangka-rangka dari atas ke bawah yang berfungsi menahan serta meneruskan beban dari segala arah agar mencapai suatu kekompakan atau ikatan, se-hingga bangunan rumah menjadi kuat. Di dalam suatu bangunan rumah terdapat tiga macam rangka utama yaitu :

a)    Rangka atap. Rangka atap  adalah  suatu  bentuk konstruksi yang berfungsi sebagai penopang/penyangga dan sebagai landasan  penutup  atap.  Rangka  atap dibedakan atas dua yaitu ran.gka atap rumah  panggung dan   rangka   atap  rumah  non   panggung.

b)    Rangka dinding. Rangka utama dinding biasanya berupa tiang/kolom yang berfungsi pula sebagai  pengikat  dinding  bangunan agar tidak  goyah.  Mengingat fungsi  rangka tersebut sangat penting  maka  rangka dinding hendaknya memenuhi syarat sebagai berikut :

1)    Merupakan kesatuan yang cukup kuat.

2)    Terbuat dari bahan yang tahan lama dan tidak mudah aus bisa juga bahan yang diawetkan.

3)    Ukuran  kolom hendaknya sesuai  dengan  peraturan yang dapat menahan beban dari semua gaya termasuk gempa bumi.

Rangka  dinding dibedakan atas rangka dinding  rumah panggung dan rangka dinding rumah non panggung.

  1. Lantai rumah panggung. Khusus  untuk rumah  panggung, lantainya merupakan salah satu komponen struk-tur, karena lantai di sini tidak hanya sekedar penutup permukaan tanah, melainkan sebagai satu rangkai-an yang menopang beban, baik beban mati maupun beban hidup dan kemudian meneruskan ke atas tanah. Untuk rangka lantai rumah panggung sebaiknya digunakan bahan yang sejenis dengan rangka rumahnya agar kokoh dan penyelesaian konstruksi bangunannya dapat diselesaikan dengan baik.

Adapun  komponen nonstruktur suatu bangunan  rumah terdiri   dari :

  1. Langit-langit. Tidak semua rumah harus memiliki langit-langit, tetapi ditinjau dari segi  keindahan , kesehatan dan kenyamanan, langit-langit memang  perlu.  Berbagai macam bahan bisa dibuat untuk  langit-langit,  seperti bambu pecah/pelupuh, tripleks,  asbes, semen dan sebagainya.
  2. Dinding pengisi. Dinding berfungsi sebagai  pembatas rumah terhadap bagian luar maupun pembatas ruangan. Konstruksi dinding  hendaknya  memenuhi  persyaratan tertentu seperti :

(a)  Dinding  yang berfungsi sebagai  pemikul  harus dapat mendukung berat sendiri, semua gaya dan  beban termasuk gempa bumi yang bekerja padanya.

(b)  Dinding yang tidak memikul beban. hendaknya  bisa . mendukung berat sendiri.

(c)  Dinding  yang terbuat dari bahan  selain  bambu/kayu, perletakannya harus bersambung dengan  pondasi dimana  bagian  terbawah (15 cm di  bawah  permukaan tanah dan 15 cm di atas lantai) harus memakai lapis-an  kedap  air (trasram). Hal  tersebut  dimaksudkan agar tidak terjadi penyerapan air ke dalam  dinding yang diakibatkan dari resapan air tanah maupun air dari bekas mencuci lantai.

(d)  Dinding yang berfungsi sebagai batas antara  ruang hendaknya mampu meredam suara secukupnya.

Dinding rumah non panggung, penggunaan bahan bangunan untuk komponen dinding bisa lebih banyak variasinya dibanding rumah panggung, seperti misalnya: bat/batako, kayu/papan, bambu/palupuh dengan rangka kayu, kombinasi papan dengan anyaman bambu, kombinasi bata/ batako dengan papan atau anyaman bambu (rumah semi permanen). Sedang untuk rumah panggung, dindingnya dibuat dari bahan yang ringan seperti anyaman bambu, susunan papan/palupuh, kombinasi papan dan anyaman bambu.

  1. Pintu, Jendela, dan Ventilasi. Pintu, jendela, dan ventilasi pada dasarnya merupakan satu kesatuan de­ngan dinding pengisi. Sebagai komponen pelengkap da­ri dinding maka fungsi pintu dari bangunan adalah sebagai jalan keluar dan masuk ke dalam rumah. Untuk itu perencanaan pintu dalam bangunan harus sedemikian rupa, agar sirkulasi (lalu lintas) orang di dalam rumah teratur dan tidak terganggu dengan penempatan perabotan rumah tangga.

Bahan pintu pada umumnya dari kayu atau bambu dengan konstruksi sedemikian rupa sehingga cukup aman dan tahan lama. Demikian pula perencanaan jendela dan ventilasi harus diperhitungkan dengan luas lantai ruangan, yang penting cahaya sinar matahari pagi secara langsung dapat menyinari ruangan.

Sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan bahwa setiap rumah harus mempunyai lubang cahaya dan pertukaran udara yang berupa jendela dan ventil.asi dengan ukuran minimal 1/9 x luas lantai ruangan. Dan seandainya pada dinding tidak mungkin dibuat jende­la, maka dapat dibuat lubang angin (rooster) pada dinding dan lubang cahaya pada langit-langit sehingga ruangan cukup terang dan pertukaran udara dapat terjadi.

D,TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH.

Ada beberapa batasan tentang sampah, diantaranya pengertian menurut American Public Health Association mengatakan bahwa sampah ada-lah sesuatu yang tidak digunakan, tidak terpakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang, yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Sedangkan menurut FKM-UI sampah ialah sesuatu bahan dan benda padat yang terjadi karena berhubungan dengan aktivitas manusia yang tak dipakai lagi, tak disenangi dan dibuang dengan cara-cara seniter kecuali buangan yang berasal dari tubuh manusia.

Banyak lagi ahli yang mengajukan batasan tentang sampah, namun pada prinsipnya mengandung hal yang sama yaitu : adanya sesuatu benda atau zat padat, adanya hubungan dengan aktivitas manusia, benda atau bahan tersebut tidak dipakai dan tidak disenangi lagi, dan di buang dalam arti pembuangannya dengan cara-cara yang diterima oleh umum (perlu pengelolaan yang baik).

Jumlah produksi sampah untuk daerah di Indonesia diperkirakan rata-rata sebesar 2 1 per orang per hari. Untuk daerah Asia sekitar 350 g per orang per hari. Jumlah produksi sampah pada suatu daerah tergantung da­ri beberapa faktor antara lain :

  1. Jumlah, kepadatan serta aktivitas penduduk pada da­erah tersebut makin besar jumlah penduduk makin besar jumlah sampah yang diproduksi. Bila kepadatan penduduk suatu daerah sangat tinggi, maka kemungkinan sampah diserap oleh lingkungan secara alami akan berkurang, karena sempitnya atau tiadanya tanah-tanah lapang yang memungkinkan penyerapan sampah tersebut. Sehingga dengan demikian jumlah sampah yang dikumpulkan akan lebih besar.

Demikian pula di daerah-daerah yang aktivitas penduduknya tinggi, jumlah sampah yang dikumpulkan juga akan meningkat.

  1. Sistem pengumpulan dan pembuangan sampah yang dipakai. Sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah yang dipakai sangat mempengaruhi jumlah sampah yang dikumpulkan. Pengumpulan sampah dengan gerobak, truk dan Iain-lain akan berbeda dengan pengumpulan sampah memakai truk pemadat.

Adanya sampah yang dibakar atau dibuang sendiri oleh yang bersangkutan atau oleh kontraktor sehingga tidak masuk da lam pencatatan Dinas Kebersihan, akan memberi gambaran jumlah sampah yang lebih kecil dari jumlah produksi sampah yang sebenarnya. Makin baik sistem pengumpulan dan pembuangan sampah, makin banyak produksi sampahnya.

  1. Pengambilan bahan-bahan yang ada pada sampah untuk dipakai kembali. Adanya bahan-bahan tertentu pada sampah yang mempunyai nilai ekonomi, oleh golongan tertentu akan diambil kembali untuk dijual. Sebagai contoh, pecahan kaca/gelas, besi, plastik, kertas, karton dan Iain-lain yang masih mempunyai nilai ekonomi yang lumayan akan diambil dan dikumpulkan untuk dijual kembali.

Dengan demikian, jumlah sampah jenis ini yang dikum­pulkan akan berkurang. Hal ini sangat tergantung pada harga pasaran dari bahan-bahan tersebut. Bila harga cukup tinggi maka jumlah sampah jenis ini yang dikumpulkan boleh dikatakan sedikit sekali. Tapi bi-la harga pasaran menurun maka sampah jenis- ini akan bertambah jumlahnya untuk diolah.

  1. Geografi.

Faktor geografi juga mempunyai pengaruh terhadap jumlah serta perubahan komposisi sampah padat. Sebagai contoh, dapat dikemukakan bahwa di daerah pegunungan sampah dari jenis kayu-kayuan akan meningkat, sedangkan di dataran rendah sampah jenis pertanian mungkin menonjol, sedangkan daerah pantai sampah je­nis kerang-kerangan atau hasil-hasil laut yang banyak jumlahnya. Hal ini jelas erat hubungannya dengan aktivitas penduduknya.

  1. Waktu

Jumlah produksi sampah sangat dipengaruhi oleh faktor waktu (hari, minggu, bulan, dan tahun).

Jumlah produksi sampah dalam satu hari bervariasi menurut waktu. Ini erat kaitannya dengan kegiatan manusia sehari-hari misalnya di dapur, pasar, kan-tor, dan Iain-lain. Umumnya pada pagi hari, jumlah sampah lebih sedikit dan akan meningkat antara jam 8.00 sampai jam 14.00 dan mencapai puncaknya sekitar jam 11.00 – 13.00. Kemudian jumlahnya menurun sampai kira-kira jam 16.00.

Hal ini erat hubungannya dengan aktifitas sore hari di Indonesia seperti misalnya setelah magrib pergi ke toko restoran, warung-warung dan Iain-lain disamping aktifitas makan malam di rumah-rumah. Jumlah produksi dalam seminggu juga mengalami varia-si. Bila kita asumsikan bahwa pengumpulan sampah dilakukan tiap hari maka jumlah sampah hari Senin cukup tinggi dan menurun untuk hari Selasa, Rabu dan Kamis. Hari Jumat sampah meningkat lagi sampai hari Minggu. Variasi jumlah produksi sampah itu terutama berlaku di daerah perkotaan sedangkan di pedesaan variasinya tidak terlalu berarti.

  1. Sosial ekonomi.

Faktor sosial ekonomi sangat mempengaruhi jumlah produksi sampah suatu daerah termasuk adat istiadat, taraf hidup serta mental dari masyarakat. Sebagai contoh jumlah produksi sampah di daerah pusat kota jelas akan berbeda dengan jumlah produksi sampah di daerah pinggiran kota. Di daerah yang telah maju jumlah produksi sampahnya berbeda dengan daerah yang masih terkebelakang.

Juga tentang mental dan kebudayaan suatu masyarakat tercermin dalam cara masyarakat tersebut mengelola sampahnya. Sampah yang terkumpul disana sini mencerminkan kebudayaan serta martabat manusia serta bangsanya.

  1. Musim/iklim

Faktor musim atau iklim akan mempengaruhi jumlah produksi sampah. Di Indonesia misalnya, musim hujan kelihatannya sampah meningkat karena adanya sampah terbawah oleh air. Dapat juga terjadi hal sebaliknya yaitu sampah yang terkumpulkan dan terangkut jauh berkurang karena adanya kesulitan dalam mengumpu1kan sampah padahal produksi sampah kenyataannya tetap. Jadi ada sebagian sampah yang tak terangkut. Musim buah-buahan jelas meningkatkan jumlah produksi sam­pah di satu daerah. Juga musim panen, musim liburan sekolah, hari raya dan Iain-lain.

  1. Kebiasaan masyarakat.

Kebiasaan masyarakat di sini dapat diberi contoh, misalnya orang Jepang lebih senang makan makanan mentah sehingga produksi sampah dari jenis ini jelas meningkat. Suku Bali dengan adatnya yang banyak-melakukan sesajen, maka jumlah sampah akan lebih ba­nyak dari suku lain. Juga orang Minang dengan kebiasaan makan makanan khas minang konon jumlah produksi sampahnya lebih tinggi.

  1. Teknoiogi.

Dengan kemajuan teknologi, maka jumlah produksi sam­pah juga meningkat. Sebagai contoh, dulu tidak dikenal adanya sampah jenis plastik, tetapi sekarang plastik  menjadi  masalah dalam  pembuangan  sampah.

Juga sampah berupa kardus, tong-tong, ataupun peti kemas yang besar. Da lam rumah tangga dengan kemajuan teknologi sekarang ini sudah dapat dihasilkan sampah dalam bentuk kulkas, AC, radio, televisi ataupun alat rumah tangga lainnya. Dengan kemajuan teknologi pula, sistem pengangkutan dan pengumpulan sampah menjadi lebih efisien sehingga dengan tenaga mini­mal, dalam waktu singkat sudah dapat mengumpulkan sampah dalam jumlah besar. Namun demikian jumlah produksi sampah ini merupakan resultan dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hal ini perlu diketahui karena erat hubungannya dengan sistem pengelolaan sampah yang akan di1aksanakan.

  1. Sumber sampah.

Jumlah produksi dan komposisi sampah jelas akan berbeda tergantung dari mana sampah tersebut berasal. Sampah-sampah dari rumah tangga jumlah dan komposisinya jelas berbeda dengan jumlah serta komposisi sampah dari pasar, dan berbeda pula dengan sampah yang berasal dari industri.

Adapun  sistem  pengelolaan  sampah  khususnya  di Indonesia telah ditetapkan beberapa persyaratan sebagai berikut :

  1. Penampungan atau pewadahan sampah hendaknya :
  2. Setiap  sampah  yang dihasilkan  harus  ditampung pada tempat sampah.
  3. Sampah-sampah  yang  cepat  membusuk  dan  berbau sebelum ditampung di tempat sampah agar  dimasuk-kan dalam kantong kedap air dan diikat.
  4. Tempat sampah yang dipakai untuk menampung sampah harus  : (1) terbuat dari bahan yang  kedap  air, tak mudah dilubangi tikus dan mempunyai permukaan yang  halus pada bagian dalamnya, (2)  mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpa  mengotori tangan, (3) mudah diisi dan dikosongkan serta mudah dibersihkan.
  5. Tempat sampah berupa bak beton permanen terutama di permukiman, tidak dianjurkan.
  6. Menampung  sampah  di tempat sampah  tidak  boleh melebihi 3 x 24 jam (3 hari).
  7. Tidak diperkenankan membiarkan sampah yang  dapat menampung air menjadi tempat bersarangnya serangga.
  8. Bila  kepadatan lalat di sekitar sampah  melebihi 20 ekor per blok grill, perlu dilakukan pemberantasan dan perbaikan pengelolaan sampah.
    1. Pengelolaan sampah setempat.

Upaya untuk mengurangi volume sampah dengan melakukan  pemusnahan pada sumber sampah, harus  memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a)    Hanya  dilakukan pada permukiman yang  kepadatannya hanya 50 jiwa/ha.

b)    Bila dilakukan pembakaran, asap dan debu  yang dihasilkan  tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan masyarakat sekitarnya.

c)    Bila  sampah  yang  dihasilkan  ditimbun  atau ditanam  pada  lubang galian  tanah,  jaraknya terhadap sumur atau sumber air bersih terdekat minimal 10 m.

  1. Pengumpulan sampah.
    1. Tidak  diperbolehkan mengumpulkan sampah di  luar bangunan tempat pengumpulan sampah sementara.
    2. Tempat  pengumpulan sampah sementara (TF’S)  harus kedap  air,  bertutup dan  selalu  dalam  keadaan tertutup bila tidak sedang diisi atau dikosongkan, serta mudah dibersihkan.
    3. Penempatan  tempat pengumpulan  sampah  sementara yaitu:

a)    Tidak  merupakan sumber bau dan  sumber  lalat dari rumah terdekat.

b)    Dihindarkan sampah masuk dalam saluran air.

c)    Tidak terletak pada tempat yang mudah  terkena luapan banjir.

  1. Pengosongan sampah di tempat pengumpulan sementara harus dilakukan minimal 1 (satu) kali dalam  3 (tiga) hari.
  2. Bila  di tempat tersebut tingkat kepadatan  lalat lebih dari 20 ekor per blok grill atau tikus terlihat  pada siang hari maka harus  dilakukan  pengendalian .
  3. Bila tempat pengumpulan sampah sementara berupa lokasi untuk pemindahan sampan dari alat angkut kecil ke alat angkut besar maka :

a)    Pengosongan  sampan  harus  dilakukan  secepat mungkin, dan tidak diperbolehkan menginap.

b)    Lokasi tersebut dijaga kebersihannya.

  1. Pengangkutan sampah.
    1. Alat  pengangkutan sampah harus  mempunyai  wadah yang  mudah  dibersihkan  bagian  dalamnya  serta dilengkapi dengan penutup.
    2. Setiap  kendaraan keluar dari  tempat  pembuangan akhir sampah, harus selalu dalam keadaan bersih.
    3. Petugas yang mengangkut sampah harus menggunakan perlengkapan kerja sebagai berikut :

a)    Pakaian kerja khusus.

b)    Sarung tangan yang terbuat dari bahan neophrene.

c)    Topi pengaman.

d)    Masker.

e)    Sepatu boot/lars.

  1. Pengolahan sampah.
    1. Lokasi untuk pengolahan sampah harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

a)    Tidak merupakan sumber bau, asap, debu,  kebisingan, dan binatang pengerat bagi  permukiman terdekat.

b)    Tidak  menimbulkan pencemaran bagi sumber  air baku, air minum.

c)    Tidak terletak pada ‘daerah yang mudah  terkena luapan air atau banjir.

  1. Teknik pengolahan yang dilakukan dengan pembakar-an secara tertutup harus :

a)    Emisi  gas dan debu yang keluar dari  cerobong harus memenuhi persyaratan baku mutu lingkungan.

b)    Dalam  hal-hal tertentu dimana populasi  lalat telah  melampaui 20 ekor per blok  grill  atau keberadaannya cukup mengganggu, harus  dilaku­kan pengendalian.

c)    Air bekas cucian alat harus diamankan agar ti­dak menimbulkan masalah pencemaran.

  1. Pembuangan akhir sampah.
    1. Lokasi untuk tempat pembuangan akhir sampah harus memenuhi ketentuan :

a)    Tidak merupakan sumber bau, asap, debu5  kebisingan dan lalat bagi permukiman.

b)    Tidak merupakan sumber pencemaran bagi  sumber air baku untuk minum, dan jarak sekurang-kurangnya 200 m atau lebih,  tergantung  pada struktur geologi setempat serta jenis  sampahnya.

c)    Tidak terletak pada daerah banjir.

d)    Tidak terletak pada lokasi yang permukaan  air tanahnya tinggi .

e)    Tidak merupakan sumber ban, kecelakaan serta harus  memperhatikan  segi  estetika  terhadap jalan besar atau jalan umum.

  1. Pengelolaan  sampah  di tempat  pembuangan  akhir hendaknya :

a)    Melakukan upaya agar lalat, nyamuk, tikus, kecoa, tidak berkembangbiak dan tidak  menimbulkan bau.

b)    Memiliki drainase yang baik dan lancar.

c)    Tempat pembuangan akhir yang dipergunakan untuk  membuang bahan beracun  dan  berbahaya, lokasinya  harus diberi tenda dan tercatat  di Kantor Pemerintah Daerah.

d)    Dalam  hal  tertentu  dimana  populasi   lalat melebihi  20  ekor per blok grill  atau  tikus terlihat pada siang hari atau ditemukan nyamuk aedes.   harus  dilakukan  pemberantasan   dan perbaikan cara-cara pengelolaan sampah.

  1. Pada  tempat pembuangan akhir sampah harus  disediakan alat keselamatan kerja sebagai berikut : (a)  Topi pengaman, (b) Sarung tangan  bagi  yang berhubungan  langsung dengan sampah, (c)  Sepatu kerja, (d) Pakaian kerja khusus yang harus dipakai oleh petugas/orang yang terlibat dalam pengelolaan sampah.
  2. Pada  setiap pembuangan akhir sampah  harus  tersedia alat PPPK.
  3. Pada  setiap pembuangan akhir sampah  harus  tersedia  alat pemadam kebakaran baik berupa  tabung pemadam kebakaran maupun hydran.
  4. Pada setiap pembuangan akhir sampah harus  tersedia fasilitas untuk mencuci kendaraan pengangkut sam­pah.
  5. Tempat pembuangan akhir sampah setelah tidak  dipergunakan lagi sebagai tempat pembuangan  sampah maka tidak boleh digunakan sebagai lokasi  permukiman dan sumber air bersih.

E. TENTANG SARANA AIR BERSIH.

Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Berbagai kegunaan air bagi kehidupan manusia, seperti untuk minum, mandi, mencuci, memasak dan sebagai-nya. Selain itu untuk keperluan umum, air juga dibutuhkan untuk keperluan pertanian, industri, olah raga serta kegiatan-kegiatan lain.

Oleh karena air merupakan kebutuhan vital yang diperlukan manusia setiap saat, maka kehidupan dan aktivitas manusia sama sekali tidak dapat dipisahkan dengan air. Untuk itu hendaknya setiap sarana aktivitas seper-ti permukiman, perkantoran dan lain-lain dilengkapi dengan sumber air yang memenuhi syarat bagi peruntukannya.

Khusus untuk suatu permukiman, keberadaan sumber air merupakan suatu syarat mutlak untuk menunjang kehidupan warganya. Di kota-kota besar pada umumnya telah memiliki sarana air bersih berupa air ledeng yang dikelola oleh suatu Perusahaan Air Minum (PAM) . Namun yang menjadi permasalahan adalah keterbatasan yang dimiliki oleh PAM tersebut sehingga masih sebahagian kecil warga kota yang dapat menikmati sarana air bersih tersebut.

Dengan terbatasnya kemampuan sarana air bersih yang dikelola oleh PAM, maka sebagian warga kota utamanya yang bermukim di wilayah pinggiran kota memenuhi kebutuhannya akan air melalui sumber-sumber lain. Ada beberapa sarana untuk memperoleh air bersih yang biasa digunakan di masyarakat, antara lain berupa air hujan, sumur terbuka, sumur pompa dan lain-lain.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indo­nesia Nomor 416/Men.Kes/Per/IX/1990, Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan da-pat langsung diminum, sedang air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila te­lah dimasak.

Air minum yang memenuhi syarat kesehatan adalah :

  1. Syarat kuantitas

Kebutuhan air untuk daerah perkotaan yaitu 100 – 150 1iter/orang/hari, sedangkan kebutuhan air untuk daerah pedesaan yaitu 60 1iter/orang/hari.

  1. Syarat kualitas
  2. Fisik : Jernih, tidak berwarna, tidak berbau  dan tidak berasa.
  3. Kimiawi : tidak mengandung zat-at yang berbahaya untuk  kesehatan seperti zat beracun,  dan  tidak mengandung  mineral-mineral seperti  zat  organik lebih tinggi dari jumlah yang telah ditentukan.
  4. Mikrobiologi  : tidak mengandung bibit  penyakit, tidak mengandung Escherichiacoli, bakteri  saprofit yang jumlahnya melebihi syarat yang telah di-tentukan dalam setiap 100 ml air.
  5. Radioaktif : Harus bebas dari unsur-unsur  radioaktif seperti sinar alfa dan beta.

Berdasarkan sumbernya, air dapat dibagi atas :

  1. Air presipitasi, misalnya : air hujan, salju, embun.
  2. Air tanah dangkal, misalnya : air sumur dangkal, air sumur pompa tangan, mata air dangkal.
  3. Air  tanah dalam, misalnya : air sumur  dalam,  mata air dalam.
  4. Air permukaan, misalnya s air laut, air sungai,  air danau, air empang.

Berdasarkan sifatnya, air dapat dibedakan atas :

  1. Protective water supply (terlindung ) , terdiri dari : (a)  perpipaan,  (b) sumur pompa tangan,  (c)  sumur artesis,  (d) penampungan air hujan, dan (e) perlindungan mata air.
  2. Non protective water supply (tidak terlindung).

Misalnya sumur gali, sungai, danau dan sebagainya.

Oleh karena sumber air yang terbanyak digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah sumur, maka berikut ini dikemukakan beberapa penjelasan tentang syarat suatu sumur yang memenuhi syarat kesehatan sebagai berikut:

  1. Syarat lokasi
  2. Untuk  menghindari pengotoran, yang harus  diperhatikan adalah jarak sumur dengan cubluk, lobang galian sampah, lobang galian air limbah dan  sumber-sumber pengotoran lainnya. Jarak ini  tergantung pada keadaan tanah dan kemiringan tanah. Pada  umumnya dapat dikatakan jaraknya tidak  boleh kurang dari 10 m.
  3. Dibuat di tempat yang ada airnya di dalam tanah.
  4. Jangan dibuat di tanah rendah yang mungkin terendam bila banjir.
    1. Syarat konstruksi
    2. Dinding sumur 3 m dalamnya dari permukaan tanah dibuat dari tembok yang tidak tembus air (disemen), .agar bila ditimba dinding sumur tidak  runtuh.
    3. 1,5 m  dinding berikutnya (sebelah bawah)  dibuat dari batu bata yang tidak ditembok, untuk  perembesan
    4. Kedalaman  sumur dibuat sampai  mencapai  lapisan tanah  yang mengandung air cukup banyak  walaupun musim kemarau.
    5. Di  atas tanah dibuat dinding tembok  yang  kedap air setinggi 70 cm untuk mencegah pengotoran dari air permukaan dan untuk keselamatan.
    6. Lantai  sumur di tembok 1,5 m lebarnya dari  din­ding sumur dibuat agak miring dan. ditinggikan  20 cm di atas permukaan tanah.
    7. Dasar sumur diberi kerikil agar tidak keruh  bila ditimba.
    8. Permukaan tanah di sekitar bangunan sumur  dibuat miring untuk memudahkan pengeringan.
    9. Saluran pembuangan air limbah di sekitar  sumur hendaknya ditembok sepanjang 10 m.

F.TENTANG JALAN LINGKUNGAN.

Terdapat bermacam-macam jenis jalan yang melintas baik di kota maupun desa menurut bentuk, jenis penggunaan maupun kelasnya. Oleh karena ruang lingkup pembahasan ini terbatas pada keadaan jalan di permukiman kumuh  maka pembicaraan diarahkan pada  jalan-jalan yang sering dijumpai di pedesaan atau pinggiran kota.  Jalan yang sering dijumpai di tempat seperti ini terdiri dari :

  1. Jalan lingkungan

Adalah  jalan  yang  menghubungkan  antara  kelompok rumah  satu  dengan kelompok rumah lain,  atau  dari kelompok rumah ke pusat-pusat pelayanan umum. Secara konstruktif jalan ini bisa dilalui oleh  kendaraan bermotor.

  1. Jalan setapak

Adalah jalan yang menghubungkan antara rumah dengan rumah atau antara jalan lingkungan dengan fasilitas lingkungan.

Secara konstruktif jalan ini tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor.

  1. Trap pada tanah

Pada permukaan tanah yang miring atau yang biasa terdapat di daerah pegunungan untuk mempermudah orang mendaki dan menjaga agar daerah tersebut tidak longsor maka dihalangi dengan cara pembuatan trap penahan. Penahan bisa dibuat dari berbagai macam bahan tergantung dari keadaan setempat.

Syarat-syarat  pembuatan/pengadaan  jalan   adalah sebagai berikut :

  1. Semua jalan harus diperkeras, dapat dengan sirtu (pasir-batu), susunan batu yang dipadatkan, pasangan batu/bata, beton rabat atau diaspal, sehingga  jalan cukup mantap untuk menerima beban di atasnya dan menghindari timbulnya debu.
  2. Muka jalan harus rata (tidak bergelombang), dengan kemiringan badan jalan tertentu agar tidak ada air yang tergenang di tengah jalan.
  3. Badan jalan harus lebih tinggi dari bahu jalan, agar air dari badan jalan dapat mengalir dengan lancar ke arah parit at.au selokan.

Kemiringan bahu jalan + 1 : 30 agar aliran air cukup lancar, tetapi tidak menggerus tanah bahu jalan yang dapat merusak konstruksinya.

  1. Jalan  harus  dilengkapi dengan selokan  atau  parit untuk  menampung air dari jalan  dan  mengalirkannya searah dengan jalan, kemiringan selokan minimal 1:50.
  2. Jarak  antara  jalanan  dengan  bangunan  di   kanan kirinya harus cukup (minimal jarak sisi luar  selokan dengan  bangunan  sama dengan jarak antara sisi luar selokan dengan  jalan), agar aktivitas dari  jalan tersebut  tidak mengganggu aktivitas di  kanan  kiri jalan (suara, debu dan benturan fisik).
  3. Di  sepanjang jalan harus ditanam pohon-pohon untuk peneduh dan penguat jalan dari kemungkinan  kikisan air.
  4. Pada jalan tanjakan/turunan harus dibuat sub  drain (saluran pembuangan di bawah perkerasan jalan) yang melintang  jalan pada jarak-jarak tertentu  (tergantung landai jalan), biasanya antara 15-25 m.
  5. Untuk pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan ja­lan berdasarkan keadaan geografisnya seperti daerah dataran rendah, daerah pegunungan, daerah pantai. , pasangan surut dan sebagainya, harus memperhatikan hal-hal yang disarankan sebagai berikut :

a)    Daerah pantai

Konstruksi jalan harus disesuaikan dengan kondisi pantai, khususnya terhadap air asing yang dapat merusak pasangan dan logam.

b)    Daerah dataran

Pengaruh air dalam badan jalan, air ini biasanya timbul karena : (a) air tanah tinggi, (b) letak sawah/kebun kanan kiri jalan lebih tinggi dari jalan, dan (c) adanya kumpu1an-kumpu1 an air (dalam tanah), biasanya terdapat di. kaki-kaki tanjakan atau turunan.

c)    Daerah pegunungan: (a) pada daerah/tempat-tempat tanjakan/ turunan, agar lebih aman sebaiknya  dibuatkan undakan atau tangga, (b) untuk mencegah  longsor tepi jalan yang berlereng agar dipasang turap/penguat dari bambu, kayu, pasangan atau tanaman, sehingga tanah menjadi stabil dan mantap, dan (c) kalau mungkin bisa dengan cara gali dan uruk setempat.

d)    Daerah pasang  surut :  (a) tiang/kayu penyanggah jalan/jembatan,  agar awet dipilih jenis  yang  baik (keras, tua umumnya dan tidak cacat), (b) jalan harus diberi pagar pengaman agar tidak berbahaya bagi anak kecil atau pejalan di malam hari dan (c) dalam jangka panjang sebaiknya kayu penyangga jalan diganti dengan beton bertulang yang mempunyai ketahanan tinggi .

G. TENTANG DRAINASE.

Saluran pembuangan air limbah yang ada di setiap rumah perlu disalurkan ke bidang penerima yang disebut selokan/parit (bisa terbuka)/ gorong-gorong yang dibuat di sepanjang kanan kiri jalan. Saluran bisa merupakan saluran terbuka atau tertutup yang aliran airnya menuju ke sungai, danau atau saluran yang lebih besar yang akhirnya menuju ke suatu tempat yang jauh dari permukiman .

Ada  3 (tiga) macam selokan/parit yang sering  di-jumpai yaitu :

  1. Selokan yang terbuat dari tanah
  2. Selokan yang terbuat dari batu bata
  3. Selokan yang terbuat dari buis beton.

Adapun syarat-syarat pengadaan/pembuatan  selokan/parit adalah :

  1. Pengadaan/pembuatan parit harus lebih rendah dari badan jalan, agar air dapat mengalir dengan lancar ke arah samping kanan kiri jalan, untuk  selanjutnya ditampung dan dialirkan melalui gorong-gorong menuju ke sungai.
  2. Karena  pembuatan  saluran  bisa  berupa  pipa  buis beton, maka harus dijaga jangan sampai disumbat oleh sampah sehingga untuk itu lubang-lubang harus  cukup besar dan da lam.
  3. Saluran pembuangan di kanan kiri jalan ini harus cu­kup dalam, minimum 0,75 – 1.00 m dengan lebar (garis tengah) minimum 0,75 – 1,5 m.

Untuk pengembangan parit/selokan sebaiknya disesuaikan dengan jalan dan air limbah yang di tampungnya. Sedangkan pemeliharaannya, selain untuk konstruksinya sendiri juga untuk pemeliharaan terhadap kelancaran air limbah. Misalnya dengan mengangkat lumpur pada waktu periode tertentu.

H. PENINGKATAN PERAN SERTA MASYARAKAT.

Tingkat ketersediaan, 5arana perumahan serta infrastruktur pada kawasan permukiman kumuh masih berada jauh di bawah standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk suatu  permukiman sederhana. Hal ini disebabkan oleh  buruknya  keadaan beberapa Prasarana yang ada di dalam permukiman itu .

  1. prasarana yang memerlukan  perhatian  dan prioritas utama dalam upaya pembenahan permukiman kumuh adalah sarana persampahan, jalan lokal serta saluran drainase. Sedangkan untuk prioritas  utama hendaknya  ditujukan  pada sektor  sarana persampahan, jalan lokal,  drainase  dan sarana perumahan.  Sektor-sektor yang  perlu  mendapat prioritas utama di atas adalah termasuk komponen  permukiman yang sangat vital, sedangkan dalam  penataannya dewasa ini masih dalam kondisi jauh dari yang  diharapkan.
  2. 2.    Faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian dan penanganan yang lebih besar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menanggulangi kekumuhan permukimannya adalah tingkat pendidikan dan pengetahuan penduduk, tingkat penghasilan dan jumlah anggota keluarga pada setiap rumah tangga, Ketiga faktor tersebut di atas ternyata masih dalam keadaan yang memprihatinkan karena masih jauh di bawah garis standar yang diharapkan .

Pada bagian akhir tulisan ini dikemukakan beberapa saran berupa langkah-langkah penanggulangan pemukiman kumuh sebagai berikut :

  1. Untuk meningkatkan kondisi permukiman kumuh pada  keadaan yang lebih baik maka disarankan kepada pihak yang berkompeten agar setiap langkah perbaikan senantiasa  didasarkan pada skala prioritas yang disusun berdasarkan hasil penelitian yang akurat. Hal ini dimaksudkan agar permasalahan pada permukiman kumuh tersebut dapat ditangani secara sistematis dan tepat guna.
  2. Diperlukan  adanya keterlibatan  pihak  swasta untuk  ikut  menangani permasalahan permukiman kumuh terutama pada sektor-sektor tertentu. Antara lain dalam pengadaan sarana air bersih, sektor persampahan dan sebagainya. Untuk itu disarankan agar pihak yang berkompeten dapat lebih merangsang tumbuhnya keinginan pihak swasta untuk ikut memikirkan perbaikan kondisi permukiman kumuh itu.
  3. Kebijaksanaan pengembangan tata ruang yang telah dituangkan ke dalam Perda No. 6 tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Kota hendaknya menjadi dokumen acuan dalam pembangunan kota. Dengan demikian peranan pemerintah kota sangat menentukan untuk merencanakan, mengawasi dan mengendalikan pertumbuhan kawasan tersebut agar tidak tumbuh lebih semrawut. Peraturan lebih lanjut dapat dijabarkan melalui  peraturan pola tata guna lahan, peraturan garis sempadam bangunan dan  garis sempadam jalan,  peraturan  garis  sempadam sungai  dan  pantai  serta  pemberian  Izin  Mendirikan Bangunan (IMB).
  4. Agar pemerintah kota menutup lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah kota yang sekian lama dialokasikan pada kawasan tersebut. TPA yang ada pada kawasan  ter­sebut  disamping mencemarkan kawasan pantai, juga  memberi  peluang bagi penduduk untuk menguasai  tanah  dan mendirikan gubuk-gubuk liar di atasnya.
  5. Untuk menanggulangi dan menangani kondisi pemukiman kumuh   pada   kawasan selebihnya, dapat dikemukakan langkah-langkah pengaturan sebagai berikut :

Perumahan

  1. Secara bertahap dilakukan pembangunan rumah susun permanen untuk menampung penduduk dan penghuni yang jumlahnya cenderung semakin meningkat. Konsep pembangunan rumah susun itu didasarkan pada space (ruang) yang tersedia sangat terbatas, sedangkan jumlah penduduk terus meningkat.
  2. Memindahkan sebagian besar penduduk kawasan permukiman kumuh ke lokasi lain, misalnya di daerah pinggiran kota yang ruangnya masih cukup untuk permukiman.

Persampahan

Khusus untuk kawasan permukiman kumuh yang memiliki jalan lokal yang relatif sempit, karena itu belum terjangkau oleh pelayanan armada sampah, maka untuk mengatasinya perlu dilakukan perencanaan yang meliputi motivasi dan kesadaran masyarakat terhadap “sadar kebersihan” mendorong memobilisasi dana dan tenaga masyarakat setempat dalam proses pengumpulan sampah mulai dari tingkat rumah tangga sampai pada tiap-tiap TPS pada masing-masing kelurahan untuk selanjutnya diangkut oleh armada sampah kota. Pengembangan swadaya masyarakat dapat dilakukan melalui Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).

Jalan Lokal

Mengingat bahwa fungsi jalan lokal itu sangat penting terutama dalam peningkatan penyelenggaraan ekonomi, mobilitas penduduk dan kemudahan menjangkau jika terjadi bahaya kebakaran, maka perlu dilakukan penataan kembali (pelebaran dan peningkatan kualitas). Pembangunan jalan di kawasan kumuh pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dengan sistem drainase.

Drainase

Pada prinsipnya pembangunan drainase adalah tanggung jawab pemerintah daerah, namun sejauh mungkin dapat pula ditempuh penggalangan masyarakat berdasar pola kemitraan, misalnya bahan bangunan disediakan oleh pemerintah daerah, sedangkan pekerjaannya diserahkan kepada masyarakat.

Air Bersih

Mengingat bahwa kebutuhan air bersih para penduduk dewasa ini sebagian besar diperoleh dengan jalan membeli, halmana berarti mengurangi penghasilan (menambah pengeluaran). Untuk mengatasi belum tersedianya suplay air bersih di kawasan permukiman kumuh, maka perlu dilakukan perencanaan tentang jaringan distribusi dari Perusahaan Air Minum (PAM).

Masalah permukiman kumuh yang dihadapi oleh semua kota-kota besar yang dampak negatifnya cukup dirasakan kurang menunjang pembangunan kota baik secara ekonomi (kemiskinan) ataupun masalah sosial (pengangguran, tingkat kematian, dll).

Secara tata ruang, tingkat pemanfaatan ruangan sangat tidak sesuai dengan perencanaan kota. Dalam hubungan ini diperlukan suatu rencana penanggulangan permukiman kumuh yang sifatnya menyeluruh antar sektor dan antar instansi. Antar sektor meliputi sarana dan prasarana kota dan sarana penunjang. Antar instansi meliputi pemerintah daerah, departemen PU dan instansi lain yang terkait.

Rencana penanggulangan permukiman kumuh ini merupakan perluasan dari  Peremajaan kota, sehingga dimensi perencanaan penanggulangan permukiman kumuh direncanakan lebih luas dari program yang telah dilaksanakan sebelumnya. Dalam pengadaan dana dalam implementasinya diusahakan untuk mengembangkan pola kemitraan yaitu antara Pemda, masyarakat setempat dan pihak swasta.

Memahami bahwa permasalahan permukiman kumuh di kota-kota besar telah menimbulkan dampak yang negatif terhadap aspek ekonomi, sosial maupun tata ruang kota, maka diperlukan selain rencana induk penanggulangan kawasan kumuh juga perlu dilakukan berbagai kajian yang bersifat akademis tentang seberapa besar dan luas dampak permukiman kumuh terhadap taraf hidup masyarakat serta langkah-langkah penanggulangannya.

Dalam hal peningkatan partisipasi masyarakat untuk menanggulangi kekumuhan permukimannya, disarankan agar sektor pendidikan/ pengetahuan dan jumlah anggota keluarga menjadi sasaran utama dalam upaya penanganan. Disarankan pula agar upaya tersebut dilakukan secara terpadu melalui suatu team atau kelompok yang khusus dibentuk untuk bertugas di kawasan permukiman kumuh dan terdiri dari beberapa bidang keahlian yang dibutuhkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                         DAFTAR  BACAAN

 

Adisasmita, R. 1989. Ekonomi Perkotaan. Fakultas Pasca-sarjana Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.

 

Amiruddin. 1970. Pedoman Standar Minimum untuk Perencanaan Perumahan Rakyat, Ghalia Indonesia, Jakarta.

 

Bintoro, R ,: 1984. Interaksi Desa Kota dan Permasalahannya. Ghalia Indonesia, Jakarta.

 

Blaag, W. 1986. Perencanaan Pembangunan Permukiraan. PT. Garamedia, Jakarta.

 

Budihardjo. 1984. Sejumlah Masalah Pemukiman Kota.. Alumni, Bandung.

 

Canter, L. W. 1977. Environmental Impact Assessment. University of Oklahoma, Norman.

 

Harianto. 1987. Perumahan Rakyat. Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

 

Hidayat, A. 1986. Pedoman Untuk Pembangunan Perumahan Sederhana. Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

 

Hurlock. E. B. 1972. Child Development. licBraw Hill Kogakusha, Tokyo.

 

Kusnopranoto. 1985. Kesehatan Lingkungan. Penerbit Fa­kultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Jakarta.

 

McAndrew. 1983. Permukiman di Asia Tenggara  Transmigrasi  di Indonesia. Gajah Mada  University  Press, Yogyakarta.

 

Mochtar. 1989. Pedoman Perencanaan Lingkungan Pemukiman Kota. Yayasan Penyelidikan Masalah Bangunan, Ja­karta.

 

Reksohadiprodjo. 1984. Perumahan dan  Kebutuhan  Hidup Hanusia. Ghalia Indonesia, Jakarta.

 

Salim,  E. 1985. Ekologi Kota. Kantor Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Jakarta.

 

————— 1987. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. LP3ES, Jakarta.

 

 

Soemadi. 1990. Kebijaksanaan Pembangunan Pemukiman di Perkotaan dan Peremajaan Pemukiman Kumuh Kantor Menteri Perumahan Rakyat, Jakarta.

 

Soeriaatmadja, R. 1985. Butir-Butir Tata Lingkungan. Bina Aksara, Jakarta.

 

Soemarwoto, Q. 1987. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pem­bangunan. Penerbit Jambatan, Jakarta.

 

Suparlan. 1986. Permukiman dan Pembangunan. Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

 

Suwahyo. 1990. Kotamadya Ujung Pandang Menuju Kota Bersinar. Kantor Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Ujung Pandang, Ujung Pandang.

 

Suratmo, G. 1988. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 6ajah Mada University Press, Yogyakarta.

 

Umar, A. 1986. Aspek Kesehatan Penyediaan Air Minum Lephas Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.

 

————– 1990. Dampak Pemukiman Kumuh Terhadap Kesehatan Masyarakat, Ujung Pandang.

 

Wasito, S. 1989. Dampak Perbaikan Air Minum Pada Kese­hatan Anak. Tinjauan dari Segi Kejadian Diare dan Hubungannya dengan Kebiasaan Membuang Kotoran dan Sampah. Bulleting Kesehatan, Vo. 16, Jakarta.

 

Zen, M. 1982. Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup. PT. Gramedia, Jakarta.

PERMUKIMAN NELAYAN KOTA

Posted October 2, 2013 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

PELAYANAN MINIMAL PRASARANA PERMUKIMAN NELAYAN PERKOTAAN .

* SYAHRIAR TATO*

      I. LATAR BELAKANG.

Permukiman merupakan suatu masalah yang kompleks yang berhubungan dan terkait dengan sosial, ekonomi, budaya, ekologi, dan sebagainya. Kompleksitas yang terjadi dalam permukiman  adalah suatu hal yang wajar mengingat hakekat dan fungsi permukiman begitu luas dalam kehidupan manusia, walaupun tidak dengan sendirinya berarti selalu diperhatikan dan diperhitungkan .

Masalah permukiman berkaitan erat dengan  proses pembangunan yang menyangkut masalah sosial, ekonomi dan lingkungan sekitarnya. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Soedarsono, bahwa permukiman adalah satu kesatuan kawasan perumahan lengkap dengan prasarana lingkungan, prasarana umum, fasilitas sosial yang mengandung keterpaduan kepentingan dan keselarasan pemanfaatan sebagai lingkungan kehidupan.

Peningkatan konsentrasi permukiman sering tidak diikuti dengan peningkatan prasarana dan sarana permukiman. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk maka bertambah pula kebutuhan terhadap prasarana permukiman.

Perkembangan suatu kota diiringi juga dengan peningkatan kebutuhan terhadap pelayanan air bersih perkotaan, sehingga pemerintah maupun swasta atau masyarakat dituntut untuk menyediakan prasarana air bersih ini dengan sebaik-baiknya. Kebutuhan ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kualitas hidupnya yang mengalami peningkatan serta kegiatan perkotaan yang juga berkembang pesat. Penyediaan air untuk keperluan kota dapat berarti luas yaitu mulai dari penyediaan air untuk kebutuhan rumah tangga atau disebut dengan domestik sampai dengan penyediaan air untuk kegiatan industri, perdagangan, perkantoran dan kegiatan perkotaan lainnya atau disebut dengan non domestik.

Kegiatan penduduk dapat ditampung dalam ruang-ruang sarana sosial dan ekonomi, tetapi tidak akan  berjalan dengan baik tanpa didukung oleh pelayanan infrastruktur yang memadai. Sebagai contoh, kegiatan perekonomian penduduk suatu wilayah mungkin dapat ditampung pada ruang-ruang yang berupa sarana perekonomian, seperti kawasan perdagangan, jasa, dan industri yang dimiliki oleh wilayah tersebut, tetapi tanpa dukungan penyediaan jaringan infrastruktur yang baik, seperti jaringan jalan, air bersih, pembuangan sampah, drainase, dan sanitasi, kegiatan tersebut tidak dapat berjalan dengan optimal.

Menurut Undang – Undang RI Nomor 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman, permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri dari atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.

Air bersih dibutuhkan masyarakat perkotaan untuk berbagai keperluan seperti untuk air minum, memasak, mencuci, mandi, menyiram tanaman dan mencuci kendaraan dengan jumlah yang sangat berbeda sesuai dengan tingkat kehidupan sosial, ekonomi dan kebiasaan hidup masyarakat. Keterbatasan penyediaan prasarana air bersih perkotaan yang memadai dapat mempengaruhi kehidupan manusia, produktifitas ekonomi dan kualitas kehidupan kota secara keseluruhan. Persyaratan teknis penyediaan air bersih yang baik apabila memenuhi tiga syarat yaitu ketersediaan air dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kualitas air yang memenuhi standar serta kontinuitas dalam arti air selalu tersedia ketika diperlukan.

Prasarana air bersih merupakan salah satu hal yang penting untuk dikaji mengingat air merupakan kebutuhan pokok yang selalu dikonsumsi oleh masyarakat dan juga berpengaruh besar pada kelancaran aktivitas masyarakat tersebut.  Terpenuhinya kebutuhan akan air bersih merupakan kunci utama bagi perkembangan suatu kegiatan dan menjadi elemen penting bagi keberlanjutan suatu produktivitas perekonomian. Sebenarnya proporsi air yang dikonsumsi untuk rumah tangga dan kegiatan perkotaan sangat kecil bila dibandingkan dengan ketersediaan air secara keseluruhan, namun bila dikaitkan dengan air yang harus berkualitas dan tersedia secara kontinu menyebabkan pelayanan air bersih bagi penduduk dan kebutuhan perkotaan seringkali merupakan masalah.

Seperti halnya ketersediaan akan prasarana air bersih di permukiman nelayan Perkotaan , dimana Air merupakan material yang membuat kehidupan terjadi di bumi, menurut dokter dan ahli kesehatan manusia wajib minum air putih 8 gelas per hari. Tumbuhan dan binatang juga butuh air, sehingga dapat dikatakan air merupakan salah satu sumber kehidupan. Semua organisme yang hidup tersusun dari sel-sel yang berisi air sedikitnya 60 % dan aktivitas metabolisme mengambil tempat di larutan air . 

Kebutuhan Air bersih merupakan kebutuhan yang tidak terbatas dan berkelanjutan. Sedangkan kebutuhan akan penyediaan dan pelayanan air bersih dari waktu ke waktu semakin meningkat yang terkadang tidak diimbangi oleh peningkatan jumlah penduduk, peningkatan derajat kehidupan warga serta perkembangan kota/kawasan pelayanan ataupun hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi warga.

Kurangnya debit air bersih yang mengalir di Permukimana Nelayan mengakibatkan kebutuhan masyarakat akan air bersih belum tercukupi. Debit air bersih dari PDAM yang mengalir ke Permukimana Nelayan Perkotaan terbatas, untuk mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat di Permukiman Nelayan menggunakan sumur galian, sumur bor dengan bantuan tenaga surya, walaupun air yang di hasilkan dari sumur bor atau sumur galian ini masih jauh dari standar kesehatan akan tetapi masyarakat terpaksa menggunakan air tersebut untuk meminimalisir kebutuhan setiap harinya.

 

 

II.Pengertian Wilayah dan Permukiman

Pengertian Wilayah adalah : ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional (UU Penataan Ruang RI No. 26 Tahun 2007),  wilayah adalah sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu dimana komponen-komponen wilayah tersebut satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. Sehingga batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis. Komponen-komponen wilayah mencakup komponen biofisik alam, sumberdaya buatan (infrastruktur), manusia serta bentukbentuk kelembagaan. Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar manusia dengan sumberdaya-sumberdaya lainnya yang ada di dalam suatu batasan unit geografis tertentu.

Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan (UU no 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman), sedangkan dalam (Undang-undang No. 4 1992) Permukiman adalah sebagai bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

Menurut Daxiadis  bahwa permukiman adalah penataan kawasan yang dibuat oleh manusia dan tujuannya adalah untuk berusaha hidup secara lebih mudah dan lebih baik (terutama pada masa kanak- kanak) memberi rasa bahagia dan rasa aman  (seperti diisyaratkan oleh Aristoteles) dengan mengandung kesimpulan untuk membangun manusia seutuhnya, sementara Batubara  merumuskan bahwa permukiman adalah suatu kawasan perumahan yang ditata secara fungsional, ekonomi dan fisik tata ruang yang dilengkapi dengan prasarana lingkungan, sarana umum dan fasilitas sosial sebagai satu kesatuan yang utuh dengan membudidayakan sumber daya dan dana, mengelolah lingkungan yang ada untuk mendukung kelangsungan perikatan mutu kehidupan manusia, memberikan rasa aman, tentram dan nikmat, nyaman dan sejahtera dalam keserasian dan keseimbangan agar berfungsi sebagai wadah yang dapat melayani kehidupan, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Pemukiman sering disebut perumahan dan atau sebaliknya. Pemukiman berasal dari kata housing dalam bahasa inggris yang artinya adalah perumahan dan kata human settlement yang artinya pemukiman. Perumahan memberikan kesan tentang rumah atau kumpulan rumah beserta prasarana dan sarana lingkungannya. Perumahan menitikberatkan pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan land settlement. Sedangkan pemukiman memberikan kesan tentang pemukiman atau kumpulan pemukim beserta sikap dan perilakunya di dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitikberatkan pada sesuatu yang bukan bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human). Dengan demikian perumahan dan pemukiman merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat erat hubungannya, pada hakekatnya saling melengkapi.

 

Dari beberapa pengertian mengenai permukiman tersebut di atas, maka permukiman pada dasarnya dapat terbagi ke dalam lima unsur, yaitu: alam (tanah, air, udara, hewan dan tetumbuhan), lindungan (shells), jejaring (networks), manusia dan masyarakat. Alam merupakan unsur dasar. Di dalam itulah diciptakan lindungan (rumah dan gedung lainnya) sebagai tempat manusia tinggal serta berbagai kegiatan lain dan jejaring (jalan, jaringan utilitas) yang memfasilitasi hubungan antar sesama maupun antar unsur yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa permukiman adalah paduan antar unsur manusia dengan masyarakatnya, alam dan unsur buatan.

 

Ada pula yang menganggap bahwa tatanan permukiman terbentuk tidak lain adalah produk pengaturan atau kemampuan institusi. Pandangan Marx juga juga digunakan untuk menelaah terbentuknya susunan permukiman. Menurut pandangan ini pola permukiman adalah produk perjuangan kelas, hasil kemenangan atau kekalahan kelas buruh atas perjuangannya melawan para kapitalis. Bagian lain pandangan Marx yang juga digunakan untuk menerangkan permukiman, adalah proses manipulasi yang dilakukan para kapitalis dalam membuat nilai guna menjadi nilai tukar .

 

Permukiman terbentuk dari kesatuan isi dan wadahnya. Kesatuan antara manusia sebagai penghuni (isi) dengan lingkungan hunian (wadah). Dalam pengaturan permukiman dibutuhkan berbagai pengkajian, tidak hanya terhadap faktor-faktor fisik alami saja, akan tetapi juga harus memperhitungkan karakter manusianya serta kearifan lokal yang berlaku sebagai kehidupan yang utama. Karena esensi permukiman meliputi manusia serta wadahnya (tempat) maka perlu memahami dengan baik hubungan antara elemen – elemen permukiman itu sendiri.

 

III. Pengertian Permukiman Nelayan

Menurut ST. Khadija  arti kata Nelayan terbagi dalam dua pengertian nelayan yaitu :

  1.  Nelayan Sebagai Subyek/Orang; merupakan sekelompok masyarakat manusia yang memiliki kemampuan serta sumber kehidupan disekitar pesisir pantai.
  2.  Nelayan sebagai predikat/pekerjaan; suatu sumber penghasilan masyarakat yang berkaitan erat dengan sektor perikanan dan perairan (laut dan sungai).

Permukiman nelayan adalah merupakan lingkungan tempat tinggal dengan sarana dan prasarana dasar yang sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan dan memiliki akses dan keterikatan erat antara penduduk permukiman nelayan dengan kawasan perairan sebagai tempat mereka mencari nafkah, meskipun demikian sebagian dari mereka masih terikat dengan daratan.

Secara umum permukiman nelayan dapat digambarkan sebagai suatu permukiman yang sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Sedangkan pekerjaan nelayan itu sendiri adalah pekerjaan yang memiliki ciri utama adalah mencari ikan di perairan. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 15/Permen/M/2006 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Pengembangan Kawasan Nelayan, perumahan kawasan nelayan untuk selanjutnya disebut kawasan nelayan adalah perumahan kawasan khusus untuk menunjang kegiatan fungsi kelautan dan perikanan.

 

Pada perkembangannya kampung-kampung nelayan berkembang semakin padat dan tidak tertib karena pertumbuhan penduduk alami dan urbanisasi. Kriteria fisik lingkungan kawasan permukiman nelayan sebagai berikut: (Depertemen Pekerjaan Umum)

  1.  Tidak berada pada daerah rawan bencana
  2.  Tidak berada pada wilayah sempadan pantai dan sungai
  3.  Kelerengan : 0 – 25 %
  4.  Orientasi horizontal garis pantai :  > 600
  5.  Kemiringan dasar pantai : terjal – sedang
  6.  Kemiringan dataran pantai : bergelombang – berbukit
  7.  Tekstur dasar perairan pantai : kerikil – pasir
  8.  Kekuatan tanah daratan pantai : tinggi
  9.  Tinggi ombak signifikan : kecil
  10.  Fluktuasi pasang surut dan arus laut : kecil
  11.  Tidak berada pada kawasan lindung
  12.  Tidak terletak pada kawasan budidaya penyangga, seperti kawasan   mangrove.

Kawasan permukiman nelayan ini dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang memadai untuk kelangsungan hidup dan penghidupan para keluarga nelayan. Kawasan permukiman nelayan merupakan merupakan bagian dari sistem permukiman perkotaan atau perdesaan yang mempunyai akses terhadap kegiatan perkotaan/perdesaan lainnya yang dihubungkan dengan jaringan transportasi.

Pendapat lain disampaikan oleh Departemen Pekerjaan Umum Bidang Cipta karya tentang karakteristik permukiman nelayan adalah :

  1.  Merupakan Permukiman yang terdiri atas satuan-satuan perumahan yang memiliki berbagai sarana dan prasarana yang mendukung kehidupan dan penghidupan penghuninya.
  2.  Berdekatan atau berbatasan langsung dengan perairan, dan memiliki akses yang tinggi terhadap kawasan perairan.
  3.  60% dari jumlah penduduk merupakan nelayan, dan pekerjaan lainnya yang terkait dengan pengolahan dan penjualan ikan.
  4.  Memiliki berbagai sarana yang mendukung kehidupan dan penghidupan penduduknya sebagai nelayan, khususnya dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan eksplorasi ikan dan pengolahan ikan.

Kawasan permukiman nelayan tersusun atas satuan-satuan lingkungan perumahan yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan yang sesuai dengan besaran satuan lingkungan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kawasan perumahan nelayan haruslah mempunyai ataupun memenuhi prinsip-prinsip layak huni yaitu memenuhi persyaratan teknis, persyaratan administrasi, maupun persyaratan lingkungan. Dari berbagai parameter tentang permukiman dan karakteristik nelayan dapat dirumuskan bahwa permukiman nelayan merupakan suatu lingkungan masyarakat dengan sarana dan prasarana yang mendukung, dimana masyarakat tersebut mempunyai keterikatan dengan sumber mata pencaharian mereka sebagai nelayan.

      IV.Karakteristik Kehidupan Masyarakat Nelayan

  1. 1.      Kehidupan Masyarakat Nelayan Ditinjau Dari Aspek Sosial

Hubungan sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat nelayan adalah akibat interaksi dengan lingkungannya. Adapun ciri sosial masyarakat nelayan sebagai berikut:

  1. Sikap kekerabatan atau kekeluargaan yang sangat erat.
  2. Sikap gotong royong/paguyuban yang tinggi.

Kedua sikap telah banyak mewarnai kehidupan masyarakat nelayan yang pada umumnya masih bersifat tradisional. Lahirnya sikap ini sebagai akibat dari aktivitas nelayan yang sering meninggalkan keluarganya dalam kurun yang waktu cukup lama, sehingga timbul rasa keterkaitan serta keakraban yang tinggi antara keluarga-keluarga yang ditinggalkan untuk saling tolong menolong.

Hal ini dapat tercermin pada pola permukimannya yang mengelompok  dengan jarak yang saling berdekatan, sikap gotong royong yang tampak pada saat pembuatan rumah, memperbaiki jala ikan, memperbaiki perahu, dan alat tangkap serta pada upacara adat, ketika akan melakukan penangkapan ikan yang juga dilakukan secara gotong royong di laut yang dipimpin oleh seorang punggawa.

            2. Kehidupan Masyarakat Nelayan Ditinjau Dari Aspek Budaya

Beberapa hal yang telah membudaya dalam masyarakat nelayan adalah kecenderungan hidup lebih dari satu keluarga dalam satu rumah atau mereka cenderung untuk menampung keluarga serta kerabat mereka dalam waktu yang cukup lama, hal ini menyebabkan sering dijumpai jumlah anggota keluarga dalam satu rumah melebihi kapasitas daya tampung, sehingga ruang gerak menjadi sempit dan terbatas. Dan dampaknya itu pula, mereka cenderung untuk memperluas rumah tanpa terencana.

Adapun adat kebiasaan yang turun temurun telah berlangsung pada masyarakat nelayan adalah seringnya mengadakan pesta syukuran atau selamatan, misalnya pada waktu peluncuran perahu baru ketika akan melakukan pemberangkatan, dan saat berakhirnya musim melaut agar pada musim berikutnya mendapatkan hasil yang lebih banyak dan lain-lain.

Masyarakat nelayan pada umumnya mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, menyebabkan kurangnya pengetahuan mereka sehingga menghambat kemajuan nelayan sendiri, antara lain sulitnya bagi pemerintah untuk memberi bantuan dalam bentuk penyuluhan maupun modernisasi peralatan (Mubyarto;1985). Hal  ini juga berpengaruh dalam lingkungan permukimannya, karena rendahnya pengetahuan akan pentingnya rumah sehat yang mengakibatkan mereka menganggapnya sebagai suatu kebutuhan.

3. Kehidupan Masyarakat Nelayan Ditinjau Dari Aspek Ekonomi

Usaha perikanan banyak tergantung pada keadaan alam, sehingga pendapatan nelayan tidak dapat ditentukan.  Tingkat penghasilan nelayan umumnya dibagi atas dua: 

  1. Penghasilan bersih yang diperoleh selama melaut jika seorang “sawi” maka besar pendapatannya sesuai dengan kesepakatan.
  2. Penghasilan sampingan yaitu penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan tambahan, baik pekerjaan itu didapat ketika jadi buruh, bertani dan berdagang maupun pekerjaan atau kerajinan dalam mengelola hasil laut lainnya.

Diamati kondisi ekonomi ketiga kelompok tersebut diatas, maka sepintas lalu dapat dikemukakan bahwa umumnya taraf hidup kehidupan masyarakat nelayan terutama yang menangkap ikan secara tradisional, termasuk paling rendah, sedangkan masyarakat pantai yang bergerak dibidang petempaian/tambak menempati taraf hidup yang lebih baik. Sedangkan untuk yang teratas diduduki oleh masyarakat/pedagang . Desa nelayan umumnya terletak dipesisir pantai, maka penduduk desa tersebut sebagian besar mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan. Melihat bahwa mereka berada pada daerah pesisir sehingga akan bertambah secara berkelompok-kelompok mengikuti pola lingkungan karena adanya faktor laut sebagai faktor pendukung, sehingga penduduk setempat mempunyai tata cara kehidupan yang bersifat tradisional dengan kehidupan yang spesifik pula.

V.Perkembangan Kota dan Dampaknya Terhadap Penyediaan Prasarana Wilayah

Wilayah merupakan tempat tinggal dan tempat bekerja bagi sebagian  penduduk dunia, merupakan tempat yang dapat memberikan peluang atau harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi sekelompok orang dan merupakan tempat yang menarik penduduk dari waktu ke waktu . Dengan berbagai daya tarik yang dimiliki suatu  kawasan, menjadikan sebagai tempat yang menarik untuk dihuni oleh masyarakat. Pada suatu wilayah yang akan menyebabkan wilayah tersebut semakin tumbuh dan berkembang serta meningkatkan perekonomiannya.  

Perkembangan kota yang merupakan bagian dari pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pada dasarnya bukan hanya merupakan kemauan dari pemerintah sendiri, tetapi juga terjadi akibat dari perkembangan penduduk dan semakin banyaknya kebutuhan dari masyarakat kota itu sendiri. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi dan terbatasnya ruang yang tersedia terutama  bagi Kota-Kota pusat pengembangan wilayah dapat menimbulkan persoalan-persoalan diantaranya adalah sebagai berikut:

  1.  Kebutuhan ruang bagi pengembangan sarana dan prasarana kota untuk  memenuhi kebutuhan penduduknya dan segala tuntutannya pada masa yang  akan datang tidak dapat terpenuhi,
  2.  Ekspansi kegiatan perkotaan di wilayah pinggiran yang tidak sesuai dengan  pola kebijaksanaan pengembangan kota telah menimbulkan pola peruntukan  lahan yang tidak teratur,
  3.  Menurunnya kualitas lingkungan kehidupan perkotaan akibat menurunnya  tingkat pelayanan yang ditinjau dari segi rasio antara jumlah sarana dan prasarana yang ada dengan jumlah penduduk.

Perkembangan dan pertumbuhan wilayah juga meningkatkan kebutuhan akan sarana dan prasarana wilayah. Peningkatan tersebut diikuti dengan tuntutan akan pelayanan yang lebih baik dari prasarana kota yang sudah ada. Perkembangan kota dan segala aktivitasnya tidak terlepas dari kebutuhan prasarana pendukung yang lebih lengkap bagi kehidupan penduduk kota seperti air bersih.

Unsur ini merupakan konsekuensi dari suatu kota atau merupakan karakteristik dasar sebagai fungsi sebuah wilayah. Perkembangan penduduk yang tidak disertai dengan pengembangan dan pembangunan prasarana wilayah yang baru membuat prasarana wilayah yang ada tidak dapat melayani lagi kebutuhan penduduk yang semakin besar. Akibatnya adalah terjadi undersupply  dalam pemenuhan kebutuhan penduduk. Besarnya jumlah penduduk yang tidak terlayani oleh prasarana wilayah akan membuat semakin besarnya beban yang ditanggung oleh wilayah tersebut .

Agar prasarana wilayah dapat melayani penduduk yang semakin berkembang, maka perlu dilakukan perhitungan antara tingkat kebutuhan masyarakat dengan tingkat ketersediaan prasarana wilayah sesuai dengan jumlah penduduk yang ada. Perhitungan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan prasarana wilayah pada masa yang akan datang, didapat berdasarkan hasil proyeksi dari jumlah penduduk.

Demikian halnya yang terjadi dalam pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penduduk pada suatu wilayah. Pada beberapa negara berkembang seperti Indonesia, terjadi kesenjangan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penduduk kotanya. Perkembangan kota akibat dari meningkatnya perekonomian dan pembangunan serta ekonomi sosial masyarakatnya menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan prasarana kota seperti sistem jaringan air bersih.

Meningkatnya perekonomian dan pembangunan suatu kota dapat dilihat dari tingkat pendapatan penduduknya serta berkembangnya wilayah perkotaan tersebut. Perkembangan pembangunan jaringan air bersih yang baru, yang tidak dapat mengiringi laju perkembangan penduduk yang ada menyebabkan terjadinya kesenjangan kebutuhan akan air bersih sehingga terjadi penurunan cakupan pelayanan. Tuntutan penduduk perkotaan akan kualitas dan kuantitas yang memadai serta kontinuitas aliran yang merupakan bagian dari operasional dan pelayanan air bersih juga turut mewarnai berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan sistem penyediaan air bersih.

Dalam pembangunan sistem penyediaan air bersih guna pengembangan kota, aspek fisik wilayah seperti topografi, sumber air baku dan perubahan tata guna lahan merupakan aspek yang sangat penting. Tata guna lahan atau tanah, sangat terkait dengan sumber-sumber air baku dan lingkungan bagi pemenuhan kebutuhan akan air bersih perkotaan.

 

  1. A.      Ketersediaan Infrastruktur permukiman nelayan

Infrastruktur adalah Fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air bersih, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan ekonomi dan sosial.

Menurut Grigg, Infrastruktur merujuk pada sistem phisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas public yang lain yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi.

Infrastruktur fisik dan sosial adalah dapat didefinisikan sebagai kebutuhan dasar fisik pengorganisasian sistem struktur yang diperlukan untuk jaminan ekonomi sektor publik dan sektor privat sebagai layanan dan fasilitas yang diperlukan agar perekonomian dapat berfungsi dengan baik. Istilah ini umumnya merujuk kepada hal infrastruktur teknis atau fisik yang mendukung jaringan struktur seperti fasilitas antara lain dapat berupa jalan, air bersih, bandara, kanal, waduk, tanggul, pengolahan limbah, listrik, telekomunikasi, pelabuhan secara fungsional. Infrastruktur selain fasilitasi akan tetapi dapat pula mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat, distribusi aliran produksi barang dan jasa sebagai contoh bahwa jalan dapat melancarkan transportai pengiriman bahan baku sampai ke pabrik kemudian untuk distribusi ke pasar hingga sampai kepada masyarakat.

 

Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa infrastruktur adalah bangunan atau fasilitas-fasilitas dasar, peralatan-peralatan, dan instalasi-instalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk mendukung berfungsinya suatu sistem tatanan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Infrastruktur merupakan aset fisik yang dirancang dalam sistem, sehingga mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

 

Secara lebih spesifik oleh American Publik Work Association  infrastruktur didefinisikan sebagai fasilitas–fasilitas phisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik atau fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan ekonomis sosial .

Menurut Grigg sistem infrastruktur dapat didefiniskan sebagai fasilitas-fasilitas atau struktur-struktur dasar, peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan ekonomi masyarakat.

Definisi Teknik juga memberikan spesifikasi apa yang dilakukan sistem infrastruktur dan menyatakan bahwa infrastruktur adalah asset yang dirancang dalam sistem sehingga memberikan pelayanan publik yang penting.

Dari definisi infrastruktur yang dikemukakan oleh Grigg, infrastrukttur dibagi ke dalam 13 kategori. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel  2.1 Depskripsi Pengertian Infrastruktur

 

No

Deskripsi

Terkait SD Air

1

Sistem penyediaan air : waduk, penampungan air, transmisi dan distribusi, fasilitas pengolahan air (treatment plant)

ü   

2

Sistem pengolahan air limbah pengumpul, pengolahan, pembuangan, daur ulang

ü   

3

Fasilitas pengolahan limbah (padat)

 

4

Fasilitas pengendalian banjir, drainase dan irigasi

ü   

5

Fasilitas lintas air dan navigasi

ü   

6

Fasilitas transportasi: jalan, rel, Bandar udara

 

7

Sistem transit public

 

8

Sistem kelistrikan: produksi dan distribusi (bila sumber PLTA)

ü   

9

Fasilitas gas alam

 

10

Gedung public: sekolah, rumah sakit

 

11

Fasilitas perumahan public

 

12

Taman kota sebagai daerah resapan, te,pat bermain termasuk stadion

ü   

13

Komunikasi

 

Sumber: Robert dan Roestam, 2010.

  1. B.      Prasarana Air Bersih Sebagai Prasarana Fisik Kota

Sarana dan prasarana wilayah menurut Bourne, berperan dalam pembangunan bentuk fisik kota dan kualitas hidup di dalamnya. Semua sarana dan prasana tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup manusia, namun tidak semua sarana dan prasarana kota dapat berperan dalam membangun dan menentukan bentuk fisik kota. Hanya prasarana yang membentuk sistem jaringan yang dapat membangun dan menentukan bentuk fisik kota. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sistem penyediaan air bersih yang merupakan bentuk prasarana dengan sistem jaringan dapat mengarahkan dan membangun bentuk fisik suatu wilayah.

Dengan adanya pertumbuhan penduduk pada suatu wilayah yang sangat pesat di Indonesia, telah menyebabkan timbulnya berbagai macam permasalahan khususnya terkait dengan masalah pelayanan infrastruktur dasar perkotaan seperti sistem drainase kota, sistem saluran limbah, sistem pengelolaan sampah dan air bersih.

Pada dasarnya jumlah kebutuhan pelayanan infrastruktur dasar perkotaan dipengaruhi oleh tiga variabel, yaitu:

  1.  Jumlah penduduk yang dilayani: semakin besar jumlah dan kepadatan penduduk pada suatu kota, menyebabkan semakin besar infrastruktur yang dibutuhkan oleh kota tersebut,
  2.  Luas wilayah yang ditempati oleh penduduk: semakin luas dan tersebarnya penduduk suatu perkotaan menyebabkan semakin besarnya jumlah infrastruktur yang disediakan,
  3.  Pendapatan perkapita: permintaan akan jasa pelayanan umum bersifat elastis terhadap pendapatan (income elastic). Seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat suatu kota, maka masyarakat tersebut cenderung membutuhkan tingkat pelayanan perkotaan yang lebih baik secara kuantitas maupun kualitas.

 

Sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk, penyebaran penduduk dan peningkatan pendapatan masyarakat suatu kota akan sangat mempengaruhi dalam pemenuhan kebutuhan air bersih yang merupakan bagian dari infrastruktur dasar perkotaan.

Prasarana merupakan suatu fasilitas dan instalasi dasar dimana kelangsungan dan pertumbuhan masyarakat sangat bergantung. Prasarana erat kaitannya dengan jumlah penduduk dan sosial ekonomi penduduk. Secara singkat dapat dikatakan bahwa sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, sistem sarana dan prasarana perkotaan akan semakin berkembang, pendapatan penduduk meningkat dan implikasinya timbul tuntutan terhadap berbagai sarana dan prasarana dasar perkotaan bagi wilayah wilayah dan mengarahkan perkembangan dan pembanguna wilayah dengan memanfaatkan pembangunan sarana dan prasarana dasar tersebut.

Tuntutan ini terkait dengan tingkat pelayanan air bersih yang diberikan oleh pemerintah. Salah satu komponen prasarana dasar perkotaan yang cukup penting adalah pelayanan air bersih. Air merupakan salah satu kebutuhan utama manusia yang paling vital. Tanpa air, manusia tidak dapat melangsungkan kehidupannya. Air digunakan pada hampir setiap aspek kehidupan manusia, mulai dari penggunaan untuk rumah tangga sampai pada penggunaan yang lebih luas seperti komersial, sosial, perdagangan dan lain sebagainya.

Menurut Model Penyiapan Program Pembangunan Prasarana dan Sarana Dasar Perkotaan Tahun 1994, pemenuhan kebutuhan air bersih suatu daerah perkotaan dapat dianalisis berdasarkan:

  1.  Faktor Penduduk.

Perubahan penduduk perlu diperhatikan dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bersih perkotaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:  Jumlah penduduk, untuk mengetahui jumlah kebutuhan air bersih yang dipenuhi,  Kepadatan penduduk, semakin meningkatnya kepadatan penduduk di suatu daerah maka akan memerlukan tingkat pelayanan air bersih yang lebih baik,  Laju pertumbuhan penduduk, diperlukan dalam perencanaan yaitu untuk mengetahui kebutuhan penduduk akan prasarana pelayanan air bersih.

  1.  Tingkat Pelayanan.

Tingkat pelayanan yang dicanangkan oleh Pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat pada tahun 2015 (Millenium Development Goals) yang merupakan ukuran cakupan pelayanan, yaitu sebesar 80 % untuk penduduk di daerah perkotaan dan 60 % untuk penduduk di daerah pedesaan. Tingkat pelayanan ini ditentukan berdasarkan jumlah penduduk yang akan memperoleh pelayanan air bersih dibandingkan dengan jumlah penduduk keseluruhan, baik untuk kebutuhan domestik seperti rumah tangga maupun untuk kebutuhan non domestik seperti fasilitas sosial, perkantoran, perdagangan dan industri.

  1.  Jenis pelayanan dan satuan kebutuhan air yang meliputi:
    1. Rumah tangga, baik sambungan langsung maupun kran umum,
    2. Fasilitas sosial,
    3. Fasilitas perdagangan/niaga,
    4. Industri,
    5. Kebutuhan khusus.

 

Menurut Linsey, ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam penggunaan air bersih diperkotaan, yaitu:

  1.  Iklim: pada musim kemarau, kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci, mandi, menyiram tanaman akan semakin meningkat,
  2.  Ciri-ciri penduduk: taraf hidup dan kondisi sosial ekonomi penduduk mempunyai korelasi yang positif dengan kebutuhan air bersih. Penduduk dengan kondisi sosial ekonomi yang baik dan taraf hidup yang tinggi akan membutuhkan air bersih yang lebih banyak daripada penduduk dengan sosial ekonomi yang kurang mencukupi dan memiliki taraf hidup rendah. Meningkatnya kualitas kehidupan penduduk menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas hidup yang diikuti pula dengan meningkatnya kebutuhan akan air bersih
  3.  Ukuran kota: ukuran kota diindikasikan dengan jumlah sarana dan prasarana yang dimiliki oleh suatu kota yaitu permukiman, perdagangan, industri dan lain sebagainya. Semakin banyak sarana dan prasana kota yang dimiliki, maka kebutuhan akan pemakaian air juga semakin besar.

Penggunaan air bersih perkotaan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Besaran kota: membawa pengaruh tidak langsung misalnya komunitas yang lebih kecil cenderung membatasi pemakaian air,
  2. Karakteristik penduduk: terutama tingkat sosial ekonomi, semakin tinggi tingkat pendapatan suatu penduduk maka akan semakin banyak pula air bersih yang digunakan,
  3. Bermacam-macam faktor seperti iklim dan kualitas air.

 

  1. C.       Sistem Pelayanan Air Bersih Perkotaan

Menurut Noerbambang, ada 4 komponen utama  yang termasuk kedalam sistem penyediaan air bersih, yaitu:

  1.  Unit pengumpul/intake air baku (collection or intake work).

Sumber air baku terdiri dari lima sumber dan sistem Pengambilan/ pengumpulan (collection work) yang disesuaikan dengan jenis sumber yang dipergunakan dalam sistem penyediaan air bersih. Sumber air baku sangat berperan penting dalam pemberian      pelayanan air bersih kepada masyarakat. Sumber air baku itu sendiri terdiri atas: 

  1. Air hujan (air hasil kondensasi uap air yang jatuh kebumi),      
  2. Air tanah yang bersumber dari mata air,            
  3. Air artesis atau air sumur dangkal maupun sumur dalam,
  4. Air permukaan (air waduk, air sungai dan air danau),
  5. Air laut,  Air hasil pengolahan buangan.

Dari kelima sumber air baku diatas, sumber air baku yang berasal dari air permukaan merupakan sumber alternative yang banyak dipilih karena kuantitasnya yang cukup besar.

2.   Unit pengolahan air/sistem produksi (purification or treatment work).

Proses pengolahan bertujuan untuk merubah air baku yang tidak memenuhi standar kualitas air bersih, menjadi air yang bersih dan siap untuk dikonsumsi. Sistem produksi dan     pengolahan air bersih disebut juga dengan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang merupakan instalasi           pengolahan air dari air baku menjadi air bersih yang siap untuk diberikan kepada pihak konsumen.

3.   Unit transmisi/sistem transmisi (transmision work).

Sistem transmisi dalam penyediaan air bersih adalah pemindahan atau pengangkutan air dari sumber air bersih yang telah memenuhi syarat secara kualitas atau merupakan suatu           bangunan pengumpul (reservoir), hingga memasuki jaringan pipa sistem distribusi. Lokasi             atau topografi sumber air baku serta wilayah yang berbukit-bukit dapat mempengaruhi terhadap panjang atau pendeknya pipa serta cara pemindahan baik secara gravitasi ataupun dengan sistem pemompaan.

       4. Unit distribusi/sistem distribusi (distribution work).

Sistem distribusi air bersih adalah sistem penyaluran air bersih berupa jaringan pipa yang menghubungkan antara reservoir dengan daerah pelayanan atau konsumen yang berupa sambungan rumah, kran umum atau bahkan yang belum terjangkau oleh sistem perpipaan yang dilayani melalui terminal air/tangki air yang dipasok melalui mobil tangki. Sistem distribusi ini yang terkait dengan umur jaringan perpipaan merupakan sistem yang paling penting dalam penyediaan air bersih. Hal ini mengingat baik buruknya pelayanan air bersih dinilai dari baik tidaknya sistem distribusi, artinya masyarakat hanya mengetahui air sampai kepengguna atau konsumen, dan masyarakat tidak melihat bagaimana prosesnya.

 

ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sistem distribusi air bersih yaitu:

  1. Air harus sampai pada masyarakat pengguna dengan kualitas baik dan tanpa ada kontaminasi (kualitas air yang diproduksi),
  2. Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat setiap saat dan dalam jumlah yang cukup (kuantitas dan kontinuitas air yang diproduksi),
  3. Sistem dirancang sedemikian rupa, sehingga kebocoran atau tingkat kehilangan air pada sistem distribusi dapat dihindari. Hal ini penting karena menyangkut efektifitas pelayanan dan efisiensi pengelolaan,
  4. Tekanan air dapat menjangkau daerah pelayanan walaupun dengan kondisi air bersih yang sangat kritis.

Pada kenyataannya, penyediaan dan pelayanan air bersih menjadi tidak efektif dan efisien. Menurut Ditjen Cipta Karya , faktor-faktor yang sangat dominan dan sering menjadi persoalan dalam air bersih adalah:

  1. Sumber air baku seperti mata air dan air tanah, kualitas dan kuantitasnya semakin menurun dan jaraknya semakin jauh dari daerah pelayanan (aksesibilitas). Air baku adalah air yang belum diolah, diambil dari sumbernya seperti sungai dan atau air tanah yang mempunyai kualitas air yang memenuhi persyaratan standar air baku untuk air bersih. Menurunnya kualitas dan kuantitas air baku bisa juga disebabkan karena faktor kesalahan manusia seperti terjadinya pencemaran lingkungan, kerusakan hutan disekitar daerah aliran sungai atau daerah hulu yang merupakan daerah resapan air (catchment area) dan lain sebagainya,
  2. Belum dimanfaatkannya secara optimal kapasitas produksi terpasang (idle capacity) dari perusahaan air minum yang ada,
  3. Tingkat kebocoran yang masih sangat tinggi baik kebocoran fisik atau teknis melalui jaringan pipa distribusi (akibat umur jaringan pipa yang sudah tua) maupun kebocoran administratif akibat ketidakmampuan para pelaksana atau sistem yang ada.

             D.Pemanfaatan Sumber Daya Air

pemenuhan kebutuhan air bersih pada suatu wilayah  dapat dilakukan dengan cara pemanfaatan sumber daya air, yaitu:

  1.  Mengalirkan air dari sumbernya ke tempat pengguna atau pelayanan umum. Dimana, pelayanan dilakukan oleh pemerintah kota setempat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dengan memanfaatkan sumber air baku yang ada dan diolah serta didistribusikan kedaerah pelayanan atau pelanggan. 
  2.  Mengusahakan sendiri dengan menggali sumur. Penggalian sumur melalui sumur gali atau sumur bor banyak dilakukan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan domestik, niaga dan industri.

Dalam melakukan pelayanannya, Perusahaan Daerah Air Minum selaku stakeholders atau pihak yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola air bersih bagi masyarakat harus memperhatikan aspek pelayanan yang berperan penting dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Aspek pelayanan sangat mempengaruhi langsung karena langsung menyentuh kepada masyarakat selaku pengguna air bersih. Untuk dapat meningkatkan kapasitas pelayanan air bersih kepada masyarakat diperlukan aturan dan kebijakan yang dapat dijadikan sebagai dasar dan pedoman dalam pengelolaan air bersih.

Aturan tersebut bisa berupa undang-undang atau peraturan pemerintah yang berisi aturan, hak dan kewajiban serta dukungan dalam peningkatan kapasitas pelayanan air bersih. Sedangkan kebijakan bisa berupa dukungan dan bantuan pendanaan yang diberikan oleh pihak eksekutif dan legislatif guna mendukung dalam pelayanan air bersih kepada masyarakat.

sistem penyediaan air minum bila dilihat dari bentuk dan tekniknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Sistem penyediaan air minum individual (individual water system atau rural water supply sistem). Sistem ini merupakan sistem yang sangat sederhana seperti halnya sumur-sumur yang digunakan dalam suatu rumah tangga. Secara komponen, sistem penyediaan air minum ini lengkap tetapi secara kapasitas maupun bentuk pelayanannya, sistem ini sangat terbatas.
  2. Sistem penyediaan air minum komunitas atau perkotaan (community municipality water supply system atau public water supply sistem). Sistem ini merupakan sistem yang digunakan untuk suatu komunitas kota dengan bentuk pelayanannya yang menyeluruh untuk kebutuhan domestik, perkotaan maupun industri.

 

E. Sarana Permukiman Nelayan

  1. Tempat Pelelangan Ikan (TPI)

Tempat pelelangan ikan (TPI) adalah tempat jual beli ikan dengan sistem lelang dimana terdapat kegiatan menimbang, menempatkan pada keranjang-keranjang dengan jenis-jenisnya atau digelar di lantai siap untuk dilelang, kemudian pelelangan lalu pengepakan dengan es untuk keranjang/peti ikan yang sudah beku.

Lokasi TPI sebaiknya dekat dengan dengan dermaga sehingga memudahkan pengangkutannya dari kapal-kapal. Kegiatan ini banyak menggunakan air, oleh karena itu sebaiknya dekat dengan air bersih kondisi saluran drainase di lokasi TPI harus baik agar air tidak tergenang sehingga tidak menimbulkan bau yang menyengat.

  1. Tambatan Perahu

Tempat penambatan perahu adalah tempat perahu-perahu bersandar / parkir sebelum dan sesudah bongkar muat ikan. Biasanya berdekatan dengan TPI. Fungsi tambatan perahu sebagai tempat untuk mengikat perahu saat berlabuh dan tempat penghubung antara dua tempat yang dipisahkan oleh laut, sungai maupun danau. Terdapat dua tipe tambatan perahu terdiri dari:

  1. Tambatan tepi, digunakan apabila dasar tepi sungai atau pantai cukup  dalam, dibangun searah tepi sungai atau pantai.
  2. Tambatan dermaga, digunakan apabila dasar sungai atau pantai cukup landai, dibangun menjalar ketengah.
  3. Tempat Penjemuran Ikan

Tempat penjemuran ikan berfungsi untuk mengeringkan ikan sebagai proses pengawetan. Adapun syarat-syarat tempat penjemuran ikan sebagai berikut:

  1. Tempat penjemuran ikan sebaiknya berupa lapangan terbuka atau terkena sinar matahari.
  2. Wadah penjemuran ikan sebaiknya berlubang agar air dapat turun supaya cepat kering dan tidak berkarat.
  3. Tempat penjemuran ikan diusahakan bersih dengan membuat saluran pembuangan.
  4. Sebaiknya ada jaringan drainase supaya tidak ada air yang tergenang sehingga tidak menimbulkan bau.
  5. Lokasi penjemuran ikan sebaiknya mudah di awasi.

 

F.Prasarana Permukiman Nelayan

Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan yang pengadaannya memungkinkan suatu kawasan permukiman nelayan dapat beroperasi dan berfungsi sebagaimana mestinya, seperti : jaringan air bersih dan air limbah, jaringan drainase, jaringan persampahan, dan jaringan jalan.

  1. 1.     Jaringan Jalan

Jaringan jalan merupaka prasarana pengangkutan (transportasi) yang memungkinkan sistem pencapaian dari suatu tempat ke tempat lain dalam pergerakan arus manusia dan angkutan barang secara aman dan nyaman. Berdasarkan SNI 03-6967-2003, jaringan jalan adalah suatu prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu-lintas kendaraan, orang dan hewan

Menurut Adji Adisasmita (2010) prasarana jalan mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, dalam perekonomian dan pembangunan. Hampir seluruh kegiatan manusia dilakukan di luar rumah. Hampir seluruh kegiatan rumah tangga disuplai dari luar rumah. Kegiatan dan kebutuhan manusia, semuanya menggunakan transportasi jalan dan jasa pelayanan jalan, berarti prasarana jalan adalah sangat penting dan sangat besar.

Jaringan jalan di kawasan perumahan menurut fungsinya adalah jalan lokal dan jalan lingkungan dalam sistem jaringan jalan sekunder.

  1. Jalan Lokal

Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

  1. Jalan Lingkungan

Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.

  1. Jalan Setapak

Jalan yang menghubungkan antar rumah didalam kelompok perumahan nelayan secara konstruktif. Jalan ini tidak dapat dilalui oleh kendaraan beroda empat, hanya dapat dilalui oleh kendaraan bermotor dengan becak.

  1. Jaringan Air Limbah / Air Kotor

Limbah adalah air bekas buangan yang bercampur kotoran, air bekas/air limbah ini tidak diperbolehkan dibuang ke sembarangan / dibuang keseluruh lingkungan, tetapi harus ditampung kedalam bak penampungan.

Limbah adalah kotoran dari masyarakat dan rumah tangga dan juga berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta buangan lainnya. Dengan demikian air buangan ini merupakan hal yang bersifat kotoran umum.

limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).

Air limbah domestik adalah air bekas yang tidak dapat digunakan lagi untuk tujuan semula baik yang mengandung kotoran manusia (tinja) atau dari aktifitas dapur, kamar mandi dan cuci dimana kuantitasnya antara 50-70 % dari rata-rata pemakaian air bersih (120-140 liter/orang/hari).

Menurut Undang-Undang No.32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lainnya.

Limbah B3 adalah setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung atau tidak langsung dapat merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup dan atau membahayakan kesehatan manusia.

Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus.

 

           berdasarkan sumbernya, limbah B3 dibagi menjadi 3 bagian:

  1. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik yaitu limbah yang berasal dari kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, inhibitor korosi, pelarutan kerak, pengemasan dan lain-lain.
  2. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluwarsa, tumpahan, sisa kemasan dan pembuangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi
  3. Limbah B3 dari sumber spesifik yaitu limbah B3 yang berasal dari sisa proses suatu industri atau kegiatan manusia.

           Menurut Sugiharto, sumber asal air limbah dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Air Limbah Domestik (Rumah Tangga)

Sumber utama air limbah rumah tangga dari masyarakat adalah berasal dari perumahan dan daerah perdagangan. Adapun sumber lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah daerah perkantoran/lembaga serta daerah fasilitas rekreasi.

  1. Air Limbah Non Domestik (Industri)

Jumlah aliran air limbah yang berasal dari industri sangat bervariasi tergantung dari jenis dan besar kecilnya industri, pengawasan pada proses industri, derajat penggunaan air, derajat pengolahan air limbah yang ada untuk memperkirakan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh industri yang tidak menggunakan proses basah diperkirakan sekitar 50 m3/ha/hari.

 

  1. Jaringan Drainase

drainase berasal dari bahasa inggris, drainage mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Dalam bidang teknik sipil, darinase secara umum dapat didefenisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air irigasi dari suatu kawasan/lahan, sehingga fungsi kawasan/lahan tidak terganggu. Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan sanitasi. Jadi drainase menyangkut tidak hanya air permukaan tapi juga air tanah.

sistem darinase dapat didefenisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Dirunut dari hulunya, bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain), saluran drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor darin), saluran induk (main drain), dan badan penerima (receiving waters). Disepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya, seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air, pelimpah pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando, dan stasiun pompa. Pada sistem yang lengkap, sebelum masuk ke badan air penerima, air diolah dahulu di instalasi pengolahan limbah (IPAL), khususnya untuk sistem tercampur. Hanya air yang telah memenuhi baku mutu tertentu yang dimasukkan ke badan air penerima, sehingga tidak merusak lingkungan.

Secara umum drainase terbagi menjadi:

  1. Drainase Primer adalah saluran utama yang menerima saluran drainase dari drinase sekunder. Dimensi saluran relatif besar yang bermuara pada badan penerima yang dapat berupa sungai, danau, laut, maupun kanal.
  2. Drainase Sekunder adalah saluran terbuka atau tertutup yang menerima aliran air dari drainase tersier / lingkungan, limpahan air permukaan sekitarnya dan meneruskan ke saluran primer.
  3. Drainase Tersier adalah saluran dari yang menerima air dari setiap persil-persil rumah, fasilitas umum dan sarana kota lainnya.
  4. Drainase Lingkungan adalah saluran yang menerima aliran air dari lingkungan dan para warga.
  1. Jaringan Persampahan

Sampah adalah segala sesuatu yang tidak lagi dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat. Sampah ini ada yang mudah membusuk dan ada pula yang tidak mudah membusuk. Yang membususk terutama terdiri dari zat-zat organik seperti sisa makanan, sedangkan yang tidak mudah membusuk dapat berupa plastik, kertas, karet, logam dan sebagainya.

sampah adalah limbah atau buangan yang bersifat padat, setengah padat yang merupakan hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau siklus kehidupan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Sumber limbah padat (sampah) perkotaan berasal dari permukiman, pasar, kawasan pertokoan dan perdagangan, kawasan perkantoran dan sarana umum lainnya.

Adapun Jenis-jenis sampah terbagi atas dua. Yaitu:

  1. Sampah Organik

Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk. Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami dan dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.

Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun-daun kering.

  1. Sampah Anorganik

Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah dan bahkan tidak bisa membusuk. Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tidak dapat diperbaharui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Sebagian dari sampah anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah anorganik pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

 

  1. Jaringan air bersih

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada suatu kawasan permukiman maka adapun kriterianya adalah sebagai berikut :

  1. Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan;
  2. Kebutuhan air rata – rata 100 liter/orang/hari;
  3. Kapasitas minimum sambungan rumah 60 liter/orang/hari dan sambungan kran umum 30 liter/orang/hari.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.

Menurut (NSPM Kimpraswil, 2002) beberapa pengertian tentang air bersih adalah sebagai berikut :

  1.  Sebagai air yang memenuhi ketentuan yang berlaku untuk baku mutu air bersih yang berlaku yang siap diminum setelah dimasak
  2.  Air yang memenuhi persyaratan untuk keperluan rumah tangga
  3.  Air yang dapat dipergunakan oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari dengan kualitas yang memenuhi ketentuan baku mutu air bersih yang ditetapkan
  4.  Air yang aman digunakan untuk air minum dan pemakaian-pemakaian lain karena telah bersih dari bibit-bibit penyakit, zat kimia organik dan anorganik, serta zat-zat radioaktif yang dapat membahayakan kesehatan.
  5.  Air bersih memenuhi syarat kesehatan :
    1. Air yang tidak berwarna (bening atau tembus pandang)
    2. Tidak berubah rasanya dan baunya
    3. Tidak mengandung zat-zat organik dan kuman-kuman yang mengganggu kesehatan

F.Sistem Penyediaan Air Bersih

  1. 1.     Pengertian Sistem Penyediaan Air Bersih

Penyediaan air bersih dapat dilakukan dengan 2 (dua) sistem (NSPM Kimpraswil, 2002) yaitu :

  1. Individual adaah penyediaan air bersih untuk satu rumah, dapat menggunakan sumur gali atau sumur dangkal yang dilengkapi dengan pompa listrik. Penyediaan air bersih dalam satu kompleks perumahan atau industri dengan skala kecil.
  2. Komunal adalah suatu sistem penyediaan air bersih yang melayani kebutuhan air bersih bagi masyarakat/daerah yang dilayani oleh suatu sistem yang dikelola oleh PDAM

Sistem penyediaan air bersih adalah usaha – usaha teknis yang dilakukan untuk mengalirkan air yang belum bersih (air baku) yang belum bersih dari sumber air melalui system pengolahan tertentu hingga didapatkan air yang memenuhi standar lalu disalurkan ke konsumen / pemakai (sudah menjadi air bersih).

Dalam penulisan ini, pengertiannya dibatasi yaitu sistem penyediaan air bersih adalah pengambilan air baku dari sumber air melalui beberapa system pengolahan sampai pada ke rumah pompa (tidak termasuk jaringan menuju ke konsumen).

Sistem penyediaan air dari suatu sumber yang terbaik, dan tergantung pada pada proses yang diperlukan akan menghasilkan air dengan fisik yang baik, bebas dari rasa dan bau yang tidak baik dan bebas dari komponen – komponen yang yangdapat membahayakan dan merugikan pemakainya.

 

  1. 2.     Komponen Utama Penyediaan Air Bersih

Menurut (NSPM Kimpraswil, 2002) komponen utama dalam penyediaan air bersih adalah :

  1. Mata air yaitu tempat pemunculan sumber air tanah yang dapat disebabkan oleh topografi, gradien hidrolik, atau struktur geologi.
  2. Air tanah yaitu sumber air yang berasal dari dalam tanah yang terbagi dalam air tanah bebas dan air tanah tertekan.
  3. Air permukaan yaitu air yang selalu berada di atas permukaan tanah baik dalam keadaan mengalir maupun diam, seperti sungai, danau, waduk, rawa, embung, dan laut.
  4. Air hujan yaitu butiran-butiran air yang jatuh di atas permukaan bumi akibat gaya gravitasi yang berasal dari proses kondensasi awan menjadi uap air yang terjadi di udara.

 

  1. 3.     Unsur–unsur Penyediaan Air Bersih

Menurut Linsley, Unsur –unsur yang membentuk suatu sistem penyediaan air bersih meliputi :

  1. Sumber-sumber penyediaan
  2. Sarana-sarana penampungan
  3. Sarana-sarana pengolahan (ke penampungan)
  4. Sarana-sarana pengolahan
  5. Sarana-sarana penyaluran (dari pengolahan)
  6. Sarana-sarana distribusi

 

G.Kebutuhan Air Bersih

  1. 1.      Pengertian Kebutuhan Air Bersih

Menurut Kodoatie, kebutuhan air yang dimaksud adalah kebutuhan air yang digunakan untuk menunjang segala kegiatan manusia, meliputi kebutuhan untuk rumah tangga (domestik) dan non rumah tangga (Non Domestik) seperti untuk keperluan industri, pariwisata, tempat ibadah, tempat sosial, tempat komersial dan lainnnya. Pemerintah Indonesia telah menyusun program pelayanan air bersih sesuai dengan kategori daerah yang dikelompokkan berdasarkan jumlah penduduk.

Air bersih merupakan kebutuhan pokok manusia, sering digunakan untuk memenuhi keperluan keperluan seperti : kebutuhan rumah tangga, kebutuhan industry, kebutuhan komersil, kebutuhan umum dan lainnya.

Penyediaan air bersih minimal 60 liter/orang/hari dan memenuhi syarat fisik, kimia dan biologis (jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa). Sebaiknya menggunakan dari jaringan bersih, namun jika belum ada jaringan dapat menggunakan sumur apabila air tanah memenuhi syarat, kemudian dengan menambah lawas dan kaporit .

                             Besarnya kebutuhan untuk masing–masing kepentingan tergantung pada  :

  1. Iklim
  2. Cara dan standar hidup
  3. Jenis dan banyaknya industry, pusat pertokoan, kantor dan fasilitas umum lainnya.
  4. Kualitas air
  5. Tekanan dalam pipa – pipa jaringan dan sistem sanitasi yang digunakan
  6. Penggunaan meter ukur

              2. Akibat Ketidaktersediaan Air Bersih

Ketiadaan air bersih dalam suatu wilayah akan mengakibatkan hal– hal sebagai berikut :

  1. Munculnya berbagai macam penyakit
    1.  Penyakit diare. Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian kedua terbesar bagi anak-anak dibawah umur lima tahun. Sebanyak 13 juta anak-anak balita mengalami diare setiap tahun. Air yang terkontaminasi dan pengetahuan yang kurang tentang budaya hidup bersih ditenggarai menjadi akar permasalahan ini. Sementara itu 100 juta rakyat Indonesia tidak memiliki akses air bersih.
    2.  Penyakit cacingan.
    3. Kemiskinan. Rumah tangga yang membeli air dari para penjaja membayar dua kali hingga enam kali dari rata-rata yang dibayar bulanan oleh mereka yang mempunyai sambungan saluran pribadi untuk volume air yang hanya sepersepuluhnya

3. Standar Pemberian Air Bersih

Kebutuhan air pada masa yang akan datangdipengaruhi oleh jumlah pemakaianair serta jumlah kebutuhan tiap pemakaian air.

  1. Kebutuhan air untuk kebutuhan domestik

Kebutuhan air domestik sangat ditentukan oleh jumlah penduduk, dan konsumsi perkapita. Kecenderungan populasi dan sejarah populasi dipakai sebagai dasar perhitungan kebutuhan air domestik terutama dalam penentuan kecenderungan laju pertumbuhan. Pertumbuhan ini juga tergantung dari rencana dari tata ruang.

Estimasi populasi untuk masa depan merupakan salah satu parameter utama dalam penentuan kebutuhan air domestik. Laju penyambungan juga menjadi parameter yang dipakai untuk analisis. Propensitas untuk penyambungan perlu diketahui dengan melakukan survey kebutuhan nyata terutama di wilayah yang sudah ada sistem penyambungan air bersih dari PDAM. Hal ini akan memberikan dampak terhadap perubahan harga dan sikap publik terhadap otoritas suplai air. Untuk penentuan penyambungan yang ada saat ini dapat dipakai sebagai dasar analisis.

Kebutuhan air untuk domestik yaitu kebutuhan air untuk pemakaian air rumah tangga. Pemakaian air untuk rumah tangga disesuaikan dengan pemakaian air bersih minimal yaitu sebanyak 60 liter/orang/hari untuk sambungan langsung dan untuk kran umum mengkonsumsi 30 liter/orang/hari dan melayani 60 jiwa/kran.

  1. Kebutuhan air untuk non domestik

Yang dimaksud kebutuhan air untuk non domestik adalah kebutuhan air untuk sarana penunjang yang mencakup kebutuhan air untuk fasilitas perkantoran, fasilitas peribadatan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas akomodasi, dan fasilitas umum lainnya.

Kebutuhan institusi antara lain meliputi kebutuhan-kebutuhan air untuk sekolah, rumah sakit, gedung-gedung pemerintah, tempat ibadah dan lain-lain. Untuk penentuan besaran kebutuhan ini cukup sulit karena sangat tergantung dari perubahan tata guna lahan dan populasi. Pengalaman menyebutkan angka 5% cukup representatif.

 

 

 

 

 

 

 

Untuk Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang air bersih Depkimpraswil (2002) non domestik dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut :

 

Tabel 2.2 Standar Pelayanan Minimum Air Bersih Non Domestik

No.

Jenis Sambungan

Standar Kebutuhan

Satuan

1.

Pelayanan Umum

1.000

ltr/hr/unit

- Pos Hansip

-   Kantor Desa/Balai Pertemuan

2.

Peribadatan

   

- Mesjid

1.000

ltr/hr/unit

- Mushollah

500

ltr/hr/unit

3.

Pendidikan

   

- TK

1000

ltr/hr/unit

- SD

- SLTP

-  SMA

4.

Kesehatan

   

- Puskesmas

8.000

ltr/hr/unit

- Posyandu

300

ltr/hr/unit

- Balai Pengobatan

- Tempat P. Dokter

5

Perekonomian

   

- Pasar

10,000

ltr/hr/unit

- Pertokoan

1,000

ltr/hr/unit

- Warung

250

ltr/hr/unit

- TPI

10.000

ltr/hr/unit

Sumber : Depkimpraswil, 2002.

 H.Standar Kualitas Air Minum

Standar kualias air minun, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Standar kualitas air minum Indonesia terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.01/Birkhumas/I/1975 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air bersih dan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-3553-1996. Adapun parameter penilaian kualitas air minum yang tercantum pada berbagai peraturan tentang standar kualitas air minum adalah sebagai berikut :

  1.  Pengaruh adanya unsure-unsur tersebut dalam air minum.
  2.  Sumber unsure-unsur tersebut
  3.  Beberapa sifat yang perlu diketahui dari unsure-unsur tersebut
  4.  Efek yang ditimbulkan terhadap kesehatan manusia.
  5.  Alasan mengapa unsur tersebut dicantumkan dalam standar kualitas.

 

  1. a.      Standar kualitas fisik air minum

 

Standar fisik fisika juga dapat dilihat dari kondisi fisik, dan bisa diteliti oleh peneliti saat dilapangan, serta bisa pula di uji di laboratorium untuk lebih jelasnya. Adapun standar kualitas air minum dapat dilhat pada dua standar kualitas fisik dan kimia, sebagai berikut :

  1. Suhu

Suhu air merupakan derajat panas air yang dinyatakan dalam satuan panas derajat Celsius. Suhu air akan mempengaruhi reaksi kimia dalam pengolahan dan penerimaan penduduk akan air tersebut, terutama jika suhunya sangat tinggi. Suhu yang ideal adalah 50’C – 15’C.

 

  1. Warna

Warna air sebenarnya terdiri dari warna asli dan warna tampak, warna asli atau true color adalah warna yang hanya disebabkan oleh substansi terlarut. Warna pada air di laboratorium diukur berdasarkan warna standar yang telah diketahui konsentrasinya. Intensitas warna ini dapat diukur dengan satuan unit warna standar yang dihasilkan oleh 2 mg/l platina (sebagai K2PtCl 6). Standar yang ditetapkan di Indonesian besarnya masksimal 5 unit   

 

  1. Bau dan Rasa

Bau dan rasa pada air minum akan mengurangi penerimaan penduduk terhadap air tersebut. Bau dan rasa biasanya terjadi bersama-sama. Timbulnya rasa pada air minum berkaitan erat dengan bau pada air. Pengukuran rasa dan bau tergantung pada reaksi individul sehingga hasil yang menyangkut bau dan rasa yang menyatakan bahwa dalam air minum tidak boleh terdapat baud an rasa yang tidak diinginkan   

 

  1. Kekeruhan

Kekeruhan merupakan sifat optic dari suatu larutan yang menyebabkan cahaya yang melaluinya terabsorbsi dan terbias dihitung dalam satuan mg/L SiO2, Unit Kekeruhan Nephelometri (UKN). Air akan dikatakan keruh apabila air tesebut mengandung begitu banyak partikel bahan yang tersuspensi, sehingga memberikan warna atau rupa yang berlumpur dan kotor.

 

  1. b.       Standar Kualitas Kimia Air Minum

Standar baku mutu untu mengetahui kualitas air perlu dilakukan uji laboratorium, sehingga kandungan zat-zat kimia dan mikrobiologi dapat diketahui secara rinci, karena hal ini berkaitan dengan kesehatan manusia Standar kualitas secara kimia mengacu pada nilai ambang batas kadar zat-zat kimia dalam air. Berdasarkan parameter yang diterapkan untuk standarisasi kimia air adalah sebagai berikut :

 

  1. Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam atau basa sesuatu larutan. P standar kualitas air minum dalam pH ini yaitu bahwa pH yang lebih kecil dari 6,5 dan lebih besar dari 9,2 . Bila lebih dari standar tersebut. Maka, akan dapat menyebabkan korosi pada pipa-pipa air dan menyebabkan beberapa senyawa menjadi racun, sehingga mengganggu kesehatan.

 

  1. Kalsium (Ca)

Kalsium adalah merupakan sebagian dari komponen yang merupakan penyebab dari kesadaran. Efek yang ditimbulkan oleh kesadaran antara lain timbulnya lapisan kerak pada ketel-ketel pemanas air, pada perpipaan dan juga menurunkan efektifitas dari kerja sabun. Sebagaimana yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI sebesar 75-200 mg/L. Konsentrasi Ca dalam air minum yang lebih rendah dari 75 mg/L dapat menyebabkan tulang rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi 200 mg/L dapat menyebabkan korosi pada pipa-pipa air

 

  1. Zat Organik (sebagai KMnO4)

Adanya bahan-bahan organic dalam air erat hubungannya dengan terjadinya perubahan fisika air, terutama dengan warna, bau, rasa dan kekeruhan yang tidak diinginkan. Standar kandungan bahan organik dalam air minum sesuai Departemen Kesehatan RI maksimal yang diperolehkan adalah 10 mg/L. Pengaruh terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh penyimpangan terhadap standar ini yaitu timbulnya bau yang tidak sedap pada air minum dan dapat menyebabkan sakit perut.

 

  1. Besi (Fe)

Adanya unsur-unsur besi dalam air yang diperlukan untuk memahami kebutuhan tubuh akan unsur tersebut. Zat besi merupakan suatu unsur yang penting dan berguna untuk metabolism tubuh. Untuk keperluan ini tubuh memerlukan 7-35 mg unsur tersebut perhari, yang tidak hanya diperolehnnya dari air. Konsentrasi unsur ini dalam air yang melebihi 2 mg/L akan menimbulkan noda-noda pada peralatan dan bahan-bahan yang berwarna putih. Dalam jumlah kecil Mg dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang akan tetapi dalam jumlah yang lebih besar dari 150 mg/L dapat menyebabkan rasa mual.  

 

  1. Tembaga (Cu)

Tembaga merupakan salah satu unsur yang penting dan berguna untuk metabolisme. Konsentrasi 1 mg/L merupakan batas konsentrasi tertinggi tembaga untuk mencegah timbulnya rasa yang tidak baik. Konsentrasi standar maksimum yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI untuk Cu ini sebesar 0,05 mg/L untuk batas maksimum yang dianjurkan sebesar 1,5 mg/L sebagai batas maksimal yang diperolehkan.  

 

I.Sistem Pengolahan Air Bersih

Pengolahan adalah semua usaha yang dilakukan pada air baku, dari awal hingga  mencapai kualitas air minum yang memenuhi persyaratan .

Menurut Tri sistem pengolahan air ini ada 2 (dua) macam, yaitu sebagai berikut :

  1.  Sistem Pengolahan Lengkap, di sini air baku mengalami pengolahan lengkap yaitu pengolahan fisik, kimiawi dan bakteriologis. Pengolahan ini biasanya dilakukan terhadap air sungai yang keruh / kotor.

 Pada proses pengolahan lengkap terdapat 3 tingkat pengolahan, yaitu:

  1. Pengolahan fisik yaitu: tujuan untuk mengurangi/ menghilangkan kotoran-kotoran kasar, penyisihan lumpur dan pasir, mengurangi zat-zat organik yang ada pada air yang akan diolah. Proses pengolahan secara fisik dilakukan tanpa tambahan zat kimia.
  2. Pengolahan kimia: tujuan membantu proses pengolahan selanjutnya, misalnya pembubuhan tawas supaya mengurangi kekeruhan yang ada.
  3. Pengolahan biologi: tujuan membunuh/memusnahkan bakteri-bakteri terutama bakteri penyebab penyakit yang terkandung dalam air, missal: bakteri collie yang (antara lain penyebab penyakit perut. Salah satu proses pangolahan adalah denga penambahandesifektan misal kaporit.
  4.  Sistem Pengolahan Tidak Lengkap (Sebagian), di sini air baku hanya mengalami proses pengolahan kimia dan atau pengolahan bakteriologis. Secara garis besar tujuan pengolahan air adalah :
    1. Meghilangkan warna, gas yang tidak larut dan hal yang menyebabkan air suram dan menghilangkan bakteri yang menghasilkan mikroorganisme.
    2. Manghilangkan kesadaran air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  BACAAN

 

 

Etal, Rustiadi. Prinsip prinsip pengembangan wilayah graha ilmu 2006

 

Republik Indonesia. “Undang–Undang R.I. Nomor 26 Tentang Penataan Ruang” Tahun 2007.

 

Republik Indonesia. “Undang–Undang R.I. Nomor 1 Tentang Perumahan dan Permukiman” Tahun 2011.

 

Republik Indonesia. “Undang–Undang R.I. Nomor 4 Tentang Permukiman” Tahun 1992.

 

Republik Indonesia, Undang-Undang No.32 ‘Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup” Tahun 2009.

 

Soedarsono. Perumahan dan Permukiman di Indonesia. Bandung: ITB, 1986

 

Blaang, Batubara. Perumahan dan Permukiman di Indonesia. Bandung: ITB, 1986.

 

Kuswartojo, Tjuk. Perumahan dan Permukiman di Indonesia. Bandung: ITB, 2005

 

Khadija ST, Permukiman Nelayan. Yogyakarta :1998.

 

Masri. “Identifikasi Karakteristik Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Nelayan Sungai Limau di Kabupaten Padang Pariaman Dalam Penyediaan Perumahan dan Permukiman.” Tesis Magister 

PROBLEMATIKA RUANG KOTA

Posted October 2, 2013 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

 

REGULASI DAN RUANG KOTA

(Kasus disparitas ruang kota Makassar)

                                                 *SYAHRIAR TATO*

  1. A.      LATAR BELAKANG

Kesamaan pendapat dunia internasional bahwa aktivitas pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam dewasa ini telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan global, sehingga penjagaan kualitas lingkungan hidup sudah menjadi tanggung jawab semua negara, karena dampak negatifnya tidak lagi hanya jauh dari lokasi kegiatan. Dampak pembangunan, tidak dibatasi dengan batas-batas geografi dan administrasi suatu negara.

Berangkat dari pemahaman di atas maka, oleh bangsa-bangsa di dunia mengadakan suatu deklarasi yang disebut dengan “Declaration of The United Nations Conference of the Human Enviroment” di Stockholm, Tahun 1972 (Deklarasi Stokholm) serta “Earth Summit” di Rio de Janeiro, Brasil, Tahun 1992 yang menghasilkan Deklarasi Rio dan Agenda 21, yang mana telah memuat  dan menegaskan berbagai prinsip dan rekomendasi tentang pentingnya konsepsi pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Indonesia juga telah mencanangkan bahwa pembangunan nasional dilaksanakan secara berencana, menyeluruh, terpadu, terarah, bertahap, dan berlanjut, dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata ruang, dalam suatu tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan yang berlandaskan pada Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional  yang ada dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Dengan demikian maka, penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup seyogyanya berdasarkan .norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Pembangunan perkotaan, merupakan bagian dari pembangunan nasional, harus berlandaskan asas keseimbangan, keserasian dan keselarasan dalam perikehidupan, dalam arti keseimbangan antara berbagai kepentingan, yaitu keseimbangan, keserasian, dan keselarasan antara kepentingan dunia  dan akhirat, materil dan spiritual, jiwa dan raga, individu dan masyarakat.

Kota merupakan pusat konsentrasi permukiman dan aktivitas penduduk. Sebagai tempat konsentrasi penduduk, maka kota menjadi pusat inovasi kehidupan perkotaan. Kota berperan penting dan sangat dominan dalam penghidupan dan kehidupan warganya, dalam berbagai kegiatan ekonomi, sosial, politik dan tatanan budayanya. makin besar suatu kota, makin besar pula permasalahan perkotaan yang dihadapinya

Kota sebagai jantung perekonomian nasional memiliki peran yang sangat besar bagi pembangunan, dimana konstribusinya terhadap pemenuhan kebutuhan hidup warganya, melahirkan berbagai permasalahan, seperti kepadatan dan kemacetan lalu lintas, masalah pengelolaan sampah, masalah banjir, masalah ketertiban pemanfaatan ruang, perumahan kumuh dan terjadinya konflik karena adanya alih fungsi lahan.

Umumnya kota kota besar dan metropolitan mengalami permasalahan tata ruang, tidak saja karena kota sejak awal telah dibangun dan bertumbuh secara alami, akan tetapi perkembangan kota yang mengalami pertumbuhan pesat, sering lebih cepat dari konsep tata ruang yang diundangkan karena cepatnya laju pembangunan di perkotaan.

Meskipun kota kota pada umumnya telah dilengkapi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK), bahkan dengan perencanaan yang lebih detail dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah Kota dan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RTRWK, RDTRK) serta perencanaannya yang kedalamannya sudah sampai pada Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) dan Zoning Regulation, namun pengalaman membuktikan bahwa rencana yang telah diundangkan tidak dijadikan sebagai rujukan dalam pemanfaatan ruang berupa pembangunan sarana gedung, perumahan maupun pembangunan sarana dan prasana kota lainnya.

Pengaturan pemanfaatan ruang merupakan salah satu kewenangan pemerintah, mulai tingkat pusat sampai tingkat daerah. Oleh karena itu, dalam proses pengaturan dan pemanfaatan ruang kota harus dilaksanakan secara bersama-sama, terpadu dan menyeluruh, dalam upaya mencapai tujuan pembangunan. seperti yang diamanahkan  dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dalam Pasal 1 ayat 9 yang menyatakan bahwa: “Pengaturan Penataan Ruang adalah upaya pembentukan landasan hukum bagi pemerintah, pemerintah daerah,dan masyarakat dalam penataan ruang.”

 Beberapa strategi pembangunan perkotaan yang termuat dalam RTRWK dan telah dijalankan ditemukan masih terdapat beberapa kelemahan, khususnya dalam pelaksanaan pemanfaatan ruangnya, implementasinya sering terjadi penyimpangan dari rencana yang telah ditetapkan. padahal penyelenggaraan penataan ruang seperti yang tercantum dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor  26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dalam Pasal 3 bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan, berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan nasional dengan :

a. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan.

b. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia,dan

c. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.

Pengaturan dan pemanfaatan ruang merupakan salah satu kewenangan dari pemerintah, mulai tingkat pusat sampai tingkat daerah. proses pengaturan dan pemanfaatan ruang ini dilaksanakan secara bersama-sama, terpadu dan menyeluruh,dalam upaya mencapai tujuan pembangunan,sesuai amanah Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang pada Bab II Pasal 2 yang menyatakan bahwa penataan ruang diselenggarakan berdasarkan asas :

  1. Keterpaduan,
  2. Keserasian, keselarasan, dan kesinambungan,
  3. Keberlanjutan.
  4. Keberdayagunaan dan keberhasilgunaan,
  5.  Keterbukaan,
  6. Kebersamaan dan kemitraan,
  7. Perlindungan kepentingan umum.
  8. Kepastian hukum dan keadilan.
  9. Akuntabilitas.

Pemanfaatan ruang kota yang terus tumbuh untuk membangun berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan transportasi, selain dapat merubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan, juga menyita lahan-lahan tersebut dalam berbagai bentukan pemanfaatan ruang lainnya. Hal tersebut umumnya dapat  merugikan keberadaan ruang yang peruntukannya untuk kawasan lindung atau kawasan non budi daya, yang selama ini dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis.

Pertumbuhan penduduk yang begitu cepat akan mempengaruhi berbagai macam aktifitas di dalam kota dan sebagai konsekuensinya akan berdampak pada pembangunan perkotaan itu sendiri. Sebagaimana yang diketahui bahwa daerah perkotaan berperan sebagai pusat aktivitas perekonomian yang mempunyai peran memberi stimulasi bagi pertumbuhan regional, inter-regional linkage, inter city system dan urban and rural linkage.

Seperti halnya Kota Makassar, yang merupakan kota transit dan kota pelabuhan. Selain dari kedudukannya sebagai  Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan,juga sebagai pusat pengembangan dan pelayanan di kawasan Timur Indonesia. Sebagai ibukota provinsi, pembangunan fisik yang sangat pesat, tidak hanya bertumbuh secara konsentris di pusat kota, tetapi akan berkembang secara merata sampai ke pinggiran kota. pembangunan yang pesat ini terkadang tidak lagi mengikuti konsep tata ruang yang sudah diundangkan, melainkan bertumbuh mengikuti keinginan para pelaku pembangunan itu sendiri. akibatnya kota bertumbuh kurang terkendali, yang berujung pada kesemberawutan dan ketidak seimbangan lingkungan.

Kota Makassar sebagai ibukota provinsi tentu saja sangat pesat pertumbuhan kotanya,dan tentu saja banyak tantangan yang dihadapi dalam membangun kotanya. Tantangan ini terkait dengan fenomena baru yang muncul karena pengaruh globalisasi dan perdagangan bebas. pengaruh akibat peningkatan drastis jumlah penduduk  perkotaan yang menuntut peningkatan sarana dan prasarana fisik perkotaan, begitupun masalah keterbatasan lahan perkotaan, degradasi lingkungan dan kemiskinan kota merupakan masalah utama pemerintah kota untuk mengantisipasinya kedepan.

 Pola pemanfaatan ruang kota  Makassar pada dasarnya telah diatur dalam dokumen Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tahun 2001 dalam  9 bagian wilayah kota dengan pembagian fungsi yaitu fungsi utama dan fungsi penunjang. Kemudian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar 2005-2015. tetapi dalam implementasi pemanfaatan ruangnya banyak terjadi pergeseran peran dan fungsi dari pemanfaatan ruangnya dan menyimpang dari seharusnya, seperti yang diatur dalam peraturan daerah tersebut. Terjadinya  pergeseran fungsi, misalnya dari fungsi untuk perkantoran menjadi perdagangan, dari ruang terbuka hijau untuk publik menjadi ruang untuk perdagangan, atau perubahan dari fungsi utama menjadi fungsi penunjang atau sebaliknya.

 Sebagaimana yang tercantum di dalam Pasal 2 ayat (1) dan (2) Peraturan Daerah Nomor  6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Kota Makassar 2005-2015, bahwa ruang lingkup rencana tata ruang kota Makassar diatur sebagai berikut :

(1) Ruang Lingkup RTRW Kota mencakup strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Kota sampai dengan batas ruang daratan, ruang lautan,dan ruang udara sesuai dengan peraturan per Undang-Undangan yang berlaku.

(2)  RTRW Kota sebagaimana dimaksud ayat (1) Pasal ini berisi : 1. Asas,  Visi dan Misi pembangunan, serta tujuan penataan ruang Kota Makassar; 2. Kebijakan dan strategi pengembangan tata ruang; 3. Struktur dan pola pemanfaatan ruang; 4. Pengelolaan kawasan lindung dan pemanfaatan kawasan budidaya; 5. Pengendalian pemanfaatan ruang; 6. Hak, kewajiban dan peran serta masyarakat.

Kemudian lebih dipertegas lagi dalam Pasal 3 yang menyatakan bahwa RTRW Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 disusun berasaskan:

1. Pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu,serasi, selaras, seimbang, berdaya guna, berhasil guna, berbudaya dan berkelanjutan.

2. Keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum.

 Tata ruang sebagai perwujudan dari bentuk struktur pemanfaatan ruang yang terjadi karena adanya interaksi antar komponen supply dan demand yang mengikuti mekanisme sistem peraturan formal dan informal yang berlaku. umumnya sistem ini diadakan oleh pemerintah, ditambah dengan pola-pola mekanisme pasar yang umum. dalam pengaturan ini pemerintah melakukannya dengan perangkat aturan baik berupa peraturan dari pemerintah/daerah, maupun berupa insentif yang berupa investasi publik untuk infrastruktur umum.

Berkaitan dengan itu,  keikut sertaan  masyarakat dalam program penataan ruang, juga menjadi isu yang masih selalu diperdebatkan. Disatu pihak ada yang menyalahkan ketiadaan partisipasi masyarakat, dan dipihak lain, justru menuding pemerintah yang tidak aspiratif terhadap kebutuhan dan kepentingan rakyat.

Pembelaan terhadap ketidakberdayaan rakyat untuk berpartisipasi secara baik dalam rangka penciptaan  tata ruang kota yang berkualitas, antara lain dilakukan yang mengemukakan bahwa, berbagai kondisi  objektif yang menyebabkan kompleksitas masalah diperkotaan turut didorong oleh adanya unsur mempertahankan kehidupan sebagai unsur social utama yang mewarnai ketidakdisiplinan  golongan miskin di kota untuk membangun pemukiman. Hal ini terkait erat dengan kesulitan kalangan miskin untuk menerima norma-norma hidup yang dipandang sebagai hal baku oleh masyarakat golongan menengah ke atas perkotaan, seperti ketertiban membangun dan pelestarian lingkungan.

Berlawanan  dengan itu, adalah pengungkapan tentang kurangnya kesadaran hukum rakyat (pemakai hukum) sebagai kendala utama dalam rangka menciptakan lingkungan permukiman perkotaan yang aman, tertib, lancar dan sehat .

 Dalam pelaksanaannya kemudian, dan sudah menjadi permasalahan klasik selama ini, adalah program-program pembangunan dan aktivitas yang berkembang seringkali tidak sejalan dengan rencana pemanfaatan ruang. yang pada gilirannya kemudian lalu menimbulkan kerusakan lingkungan dan ketidak seimbangan lingkungan, sehingga pada akhirnya berpengaruh pada pembangunan yang tidak berkelanjutan dan penurunan tingkat kesejahteraan kehidupan, maka dalam sistem tata ruang perlu diatur lebih jelas aspek perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian dalam suatu mekanisme kelembagaan, koordinasi, pelibatan masyarakat dan aturan hukum yang jelas.

Dari hasil review tata ruang kota makassar pada tahun 2008 terlihat begitu tingginya penyimpangan yang terjadi. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat demand untuk pemenuhan kebutuhan infrastruktur dan fasilitas yang dilakukan baik oleh dunia usaha, masyarakat, dan pemerintah padahal disatu sisi keterbatasan supply dan regulasi yang tidak optimal dalam proses pelaksanaan sehari-hari, sehingga permasalahan penataan perkotaan berakibat semakin kompleks,terlihat dalam fenomena, seperti:

        1. Kekacauan penataan kota menyebar sampai pada daerah   pinggiran

        2. Penyebaran area perkotaan miskin tanpa fasilitas perkotaan

3. Kekacauan land use ( housing, industry, comercial, dll)

4. Buruknya lingkungan hidup di perkotaan

5. Permasalahan harga tanah  dan tumpang tindih hak kepemilikan

6. Pertumbuhan penduduk yang sulit dikendalikan,terutama karena pengaruh urbanisasi  dan daya tarik kehidupan perkotaan

B.Penataan Ruang kota.

Pertumbuhan  penduduk di suatu negara menuntut pemerintahnya untuk mampu menyediakan berbagai sarana dan pemenuhan hidup rakyatnya. Kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut, terutama negara menganut paham Welfare state, sebagaimana Indonesia.

Bagi Indonesia, keanekaragaman pemanfaatan sumber daya alam dalam usaha memacu pertumbuhan yang mendukung pemerataan serta peningkatan pertumbuhan ekonomi, diupayakan sejalan dengan kemampuan alam Indonesia yang beraneka ragam dan kebutuhan masyarakat yang semakin beraneka ragam sekali,

Campur tangan pemerintah dalam urusan masyarakat tersebut sesungguhnya merupakan peran sentral, tetapi bukan berarti rakyat berpangku tangan, tanpa peran dan partisipasi sama sekali. Pemerintah  merupakan pemegang otoritas kebijakan publik yang harus memainkan peranan penting untuk memotivasi seluruh kegiatan.

Wilayah  negara Indonesia terdiri dari wilayah nasional sebagai suatu kesatuan wilayah provinsi dan wilayah kabupaten/kota yang masing-masing merupakan sub-sistem ruang menurut batasan administrasi. Dapat digambarkan bahwa di dalam sub-sistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dengan sumber daya buatan, dengan tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda.

Aktivitas pembangunan di atas tentu saja memerlukan lahan dan ruang sebagai tempat  untuk menampung kegiatan dimaksud. Ini berarti berhubungan erat dengan masalah lingkungan tempat aktivitas pembangunan tersebut berlangsung. Penggunaan lahan oleh setiap aktivitas pembangunan sedikitnya akan mengubah rona lingkungan awal menjadi rona lingkungan baru, sehingga terjadi perubahan kesinambungan lingkungan, yang kalau tidak dilakukan penggarapan secara cermat dan bijaksana, akan terjadi kemerosotan kualitas lingkungan, merusak dan bahkan memusnakan kehidupan habitat tertentu    dalam ekosistem bersangkutan.

Melihat kondisi tersebut  di atas, pembangunan di Indonesia, khususnya di beberapa wilayah perkotaan tertentu, harus memiliki suatu perencanaan atau konsep tata ruang, yang dulu disebut dengan master Plan, di mana konsep tersebut  sebagai arahan dan pedoman dalam melaksanakan pembangunan, sehingga masalah-masalah yang akan timbul yang diakibatkan dari hasil pembangunan akan diminimalisir. Namun demikian, konsep tata ruang sebagai pedoman dan arahan pembangunan sebagian besar  masih menunjukkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan arahan yang ditetapkan. Apabila kita melihat hasil pembangunan kota-kota yang memiliki rencana dapat dikatakan hampir sama saja dengan hasil pembangunan kota yang tanpa rencana, sehingga dapat menimbulkan kesan dengan atau tanpa rencana kota hasilnya akan sama saja.

Permasalahan  ini akan menjadi permasalahan hukum yang sangat mendasar karena Pasal 33 ayat (3) UUD NKRI 1945, yang menghendaki kita untuk menggunakan dan memanfaatkan bumi, air dan kekayaan alam yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Oleh karena itu  wilayah kesatuan Republik Indonesia  harus dapat dimanfaatkan serta didayagunakan secara efektif dengan memperhatikan nilai-nilai konsepsi dasar manusia, masyarakat, serta ekosistem yang ada di Indonesia. Selain itu juga  permasalahan lain yang timbul yaitu pada sistem pemerintahan Indonesia, dimana saat ini terjadi perubahan dengan terdistribusinya kewenangan pemerintah pusat ke daerah dalam berbagai kegiatan pembangunan. Apalagi setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dimana daerah diberikan keleluasaan untuk mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya yang dimilikinya.

Agar dalam memahami permasalahan tersebut tidak keluar dari kerangka UUD NKRI 1945, maka perlu kiranya kita kembali kepada pemikiran yang fundamental mengenai tujuan dari negara Republik Indonesia yang terdapat di dalam Pembukaan  UUD NKRI 1945 yang berbunyi sebagai berikut:

“melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,  dan ikut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia …..“

Tujuan pembangunan nasional Indonesia untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 telah mencapai berbagai kemajuan termasuk di bidang ekonomi dan moneter, sebagaimana tercermin pada pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan tingkat inflasi yang terkendali. Sementara itu, dalam pembangunan tersebut terdapat kelemahan struktur dan sistem perekonomian Indonesia yang menimbulkan penyimpangan-penyimpangan antara lain ketidakhati-hatian dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan pada suatu kawasan atau ruang tertentu. Hal tersebut semakin diperparah dengan kurang memadainya perangkat hukum, lemahnya penegakan hukum sehingga mengakibatkan banyaknya disparasi dalam implementasi pemanfaatan ruangnya, pada akhirnya terjadi penyimpangan dari rencana tata ruang wilayah yang telah diatur dalam peraturan daerah yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena hingga saat ini belum ada satu Undang-Undang pun yang merumuskan secara yuridis apa sanksi terhadap pelanggaran terhadap peraturan daerah yang bersangkutan.

Terhadap persoalan ini, menjadi relevan dimunculkan pertanyaan kapan suatu pelanggaran Undang-Undang tata ruang dapat dijerat dengan ketentuan peraturan dan perundangan yang berlaku?.  Kemudian dalam hal-hal apa tindak pelanggaran tata ruang dapat dijerat dengan ketentuan tindak pidana?.

Aturan hukum yang memuat asas lex specialis derogate legi generali dilihat menurut teori sistem hukum dari  B. Terr Hart, termasuk kategori rule of recognition. Mengingat asas ini mengatur aturan hukum mana yang diakui syah sebagai suatu aturan yang berlaku. Dengan demikian, asas ini merupakan salah satu secondary rules, yang sifatnya bukan mengatur perilaku sebagaimana primary rules, tetapi mengatur (pembatasan) penggunaan kewenangan (aparat) negara dalam mengadakan suatu represi terhadap pelanggaran atas aturan tentang perilaku tersebut.

Sebagai asas yang mengatur penggunaan kewenangan, dilihat dari teori tentang criminal law policy dari Ancel, asas lex specialis derogat legi generali merupakan asas hukum yang menentukan dalam tahap aplikasi (application policy). Artinya, persoalannya bukan berkenaan dengan perumusan suatu kebijakan tentang hukum (formulation policy), tetapi berkenaan dengan game-rules dalam penerapan hukum. Dalam hal ini, asas ini menjadi penting bagi aparat penegak hukum apakah suatu peristiwa akan diterapkan aturan yang “ini” atau yang “itu”. Sementara, yang “ini” atau “itu” tersebut ditentukan oleh manakah aturan diantara aturan-aturan tersebut yang bersifat umum, sedangkan manakah aturan-aturan yang lain yang bersifat khusus.

  1. 1.    Pengertian Ruang menurut Undang Undang

Menurut Undang Undang nomor 26 tahun 2007 Pasal 1 ayat 1 : adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut,dan ruang udara,termasuk ruang didalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah,tempat manusia dan makhluk lain hidup,melakukan kegiatan,dan memelihara kelangsungan hidupnya.sedangkan Ruang menurut Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2006 tentang rencana tata ruang kota Makassar Pasal 1 ayat 2 adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.

Pengertian Tata Ruang menurut undang undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 Pasal 1 ayat 2 memberi defenisi bahwa Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang, sedangkan peraturan daerah Nomor  6 tahun 2006 memberi pengertianTata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak.Penataan Ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;  Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang;

Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan  atau aspek fungsional; Wilayah Kota adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Ruang dapat diartikan sebagai wadah kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya dan sebagai sumber daya alam.  Ruang baik sebagai wadah  maupun sebagai sumber daya alam terbatas. Sebagai wadah ia terbatas pada besaran wilayah, sedangkan sebagai sumber daya, ia terbatas daya dukungnya. Oleh karena itu menurut Komar Kantaatmadja, pemanfaatan ruang perlu ditata agar tidak terjadi pemborosan dan penurunan kualitas ruang.

Sedang menurut  D. A. Tisnaamidjaja, yang dimaksud dengan pengertian ruang adalah “wujud fisik wilayah dalam dimensi geografis dan geometris yang merupakan wadah bagi manusia dalam melaksanakan kegiatan kehidupannya dalam suatu kualitas hidup yang layak”.

Ruang sebagai salah satu  tempat untuk melangsungkan kehidupan manusia dalam melaksanakan kegiatan kehidupan manusia, juga sebagai sumber daya alam merupakan salah satu karunia Tuhan kepada bangsa Indonesia. Dengan demikian ruang wilayah Indonesia  merupakan suatu asset yang harus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan bangsa Indonesia secara terkoordinasi, terpadu dan seefektif mungkin dengan memperhatikan factor-faktor lain seperti, ekonomi, social,  budaya, hankam, serta kelestarian lingkungan untuk mendorong terciptanya pembangunan nasional yang serasi dan seimbang.

Ruang (space) diartikan pula sebagai seluruh permukaan bumi yang merupakan lapisan biosfera, tempat hidup tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Ruang dapat merupakan suatu wilayah yang mempunyai batas geografi yaitu batas menurut keadaan fisik, sosial, atau pemerintahan yang terjadi dari sebagian permukaan bumi dan lapisan tanah dibawahnya serta lapisan udara di atasnya.

Pasal 1 Undang-Undang No.26 Tahun 2007, menyatakan bahwa ruang terbagi ke dalam beberapa kategori, yang diantaranya adalah:

  1. Ruang daratan  adalah ruang yang terletak di atas dan dibawah permukaan daratan, termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah.
  2. Ruang lautan adalah ruang yang terletak  di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut dari sisi laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya, di mana  Negara Indonesia  memiliki hak yuridisdiksinya.
  3. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah Negara dan melekat pada bumi, di mana Negara Indonesia memiliki hak yurisdiksi.

Dalam Perda Nomor 6 Tahun 2006 Pasal 2 Ayat 1 disebutkan bahwa ruang lingkup RTRW kota mencakup strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah kota sampai dengan batas ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

  1. 2.    Pengertian Kota dan Perkotaan

Pengertian kota sebagaimana yang dikemukakan oleh Ilhami , bahwa yang disebut dengan kota adalah: kelompok orang-orang dalam jumlah tertentu hidup dan bertempat tinggal bersama dalam suatu wilayah geografis tertentu berpola hubungan rasional, ekonomis dan individualistis.

Pengertian Kota secara struktural adalah suatu area/daerah atau wilayah yang secara administratif memiliki batas-batas dengan di dalamnya terdapat komponen-komponen yang meliputi, antara lain: penduduk dengan ukuran tertentu, sistem  ekonomi, system sosial, sarana maupun infrastruktur yang kesemuanya merupakan kelengkapan keseluruhan.

Pengertian Kota secara fungsional  adalah merupakan pusat pemukiman penduduk maupun pertumbuhan dalam system  pengembangan kehidupan sosial kultural yang luas.

Bintarto mengemukakan bahwa  pengertian kota ditinjau dari segi geografis dapat diartikan: suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan diwarnai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alam dan non alami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya.

Dalam Pasal 1 sub 10 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dinyatakan bahwa : Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Lebih lanjut dinyatakan mengenai kebijakan pengembangan penataan ruang kota dalam Perda No. 6 Tahun 2006, Pasal 7 sebagai berikut:

  1. Memantapkan fungsi Kota Makassar sebagai Kota Maritim, Niaga, Pendidikan, Budaya dan jasa berskala nasional dan internasional;
  2. Memperioritaskan arah pengembangan kota ke arah koridor Timur, Selatan, Utara dan Membatasi pengembangan ke arah Barat agar tercapai keseimbangan ekosistem.
  3. Melestarikan fungsi dan keserasian lingkungan hidup di dalam penataan ruang dengan mengoptimalkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
  4. Mengembangkan sistem prasarana dan sarana kota yang berintegrasi dengan sistem regional, nasional dan internasional.

 

C.Konsepsi Hak Menguasai oleh Negara dalam Penataan Ruang

Hak penguasaan negara termanifestasi dalam mengatur, mengurus dan mengawas. Implementasinya antara lain pada rencana (Het Plan) yang merupakan keseluruhan tindakan yang saling berkaitan dari tata usaha negara yang mengupayakan terlaksananya keadaan tertentu yang tertib/teratur .

Hak Menguasai oleh Negara diatur pada Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa : Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Budi Harsono mengemukakan bahwa hak menguasai oleh negara didasarkan pada teori, negara tanpa harus menjadi pemilik tanahpun, selaku penguasa dapat memberikan tanah-tanah yang dikuasai itu, asal ada peraturan perundang-undangan yang memberikan kewenangan untuk itu.

Dalam Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 pada Pasal 2 ayat (2) dalam mengimplentasikan Hak Menguasai oleh Negara dimana memberikan wewenang kepada negara untuk :

  1. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa;
  2. Menentukan  dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa;
  3. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai,  bumi air dan ruang angkasa.

Adapun kewenangan negara tersebut diatur lebih lanjut dalam Pasal 14 UUPA yang menyatakan bahwa, Pemerintah membuat suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan, bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan yang terkandung di dalamnya :

  1. Untuk keperluan negara.
  2. Untuk keperluan peribadatan dan keperluan suci lainnya.
  3. Untuk keperluan pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial, kebudayaan dan lain-lainnya kesejahteraan.
  4. Untuk memperkembangkan produksi pertanian, peternakan dan perikanan serta sejalan dengan itu.
  5. Untuk memperkembangkan industri, transmigrasi dan pertambangan.

Berdasarkan rencana umum tersebut Pemerintah Daerah mengatur persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan yang terkandung di dalamnya. Implementasi hal kewenangan tersebut diatur dalam Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 pada Pasal 1 sub 2 dan 3 menyatakan bahwa : Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. Sedang apa yang dimaksud dengan Penataan Ruang adalah: Proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

Kartasasmita menyatakan bahwa, Penataan Ruang secara umum mengandung pengertian sebagai suatu proses yang meliputi proses perencanaan, pelaksanaan atau pemanfaatan tata ruang, dan pengendalian pelaksanaan atau pemanfaatan ruang yang harus berhubungan satu sama lain.

Rapoport menyatakan bahwa Tata Ruang adalah suatu yang berada di dalam ruang sebagai wadah penyelenggaraan kehidupan.

 

D.Perencanaan Tata Ruang Kota

Perencanaan Tata Ruang dilakukan guna menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi, sosial, budaya, daya dukung dan daya tamping lingkungan, serta fungsi pertahanan keamanan; mengidentifikasi berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan; perumusan perencanaan tata ruang, dan penetapan rencana tata ruang.

Menurut Budihardjo, penyusunan rencana tata ruang harus dilandasi pemikiran perspektif menuju keadaan pada masa depan yang didambakan, bertitik tolak dari data, informasi, ilmu pengetahuan dan teknlogi yang dapat dipakai, serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor.

Perencanaan kota adalah kegiatan penyusunan dan peninjauan kembali rencana-rencana kota. Sedangkan rencana kota merupakan rencana yang disusun dalam rangka pengaturan pemanfaatan ruang kota yang terdiri atas Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK), Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) dan Rencana Teknik Ruang Kota (RTRK).

Dalam pelaksanaan pembangunan di daerah kota diperlukan rencana tata ruang yang menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan dan pembangunan dalam memanfaatkan ruang. Pedoman tersebut digunakan pula dalam penyusunan program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang, sehingga sesuai dengan rencana tata ruang kota yang sudah ditetapkan.

Implikasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 nampak pada Pasal 4 Keppres Nomor 55 Tahun 1993 yaitu kebutuhan tanah yang diperlukan bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum harus sesuai dan berdasarkan pada rencana umum tata ruang yang telah ditetapkan. Bagi daerah yang belum menetapkan rencana umum tata ruang, pengadaan tanah dilakukan berdasarkan perencanaan wilayah atau kota yang telah ada.

Berkenaan dengan pelaksanaan pembangunan, dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dinyatakan bahwa pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan penataan ruang. Serta dinyatakan pula bahwa dalam menerbitkan izin atau kegiatan wajib diperhatikan rencana tata ruang dan pendapat masyarakat.

Budihardjo menyatakan bahwa Pembangunan berkelanjutan dapat dimaksudkan sebagai pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka, juga bahwa pembangunan yang membutuhkan sumber daya tidak terbatas dihadapkan pada ketersediaan sumber daya seperti konflik pemanfaatan ruang dalam hal ini konflik penggunaan lahan sehingga penggunaan lahan harus dikendalikan.

Ibrahim berpendapat, Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan suatu piranti manajemen pengelolaan kota yang sangat diperlukan oleh manajer kota untuk memastikan bahwa perencanaan tata ruang  dan pelaksanaan pemanfaatan ruang berlangsung sesuai dengan  rencana yang telah ditetapkan. Perencanaan tata ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan dua sisi  dari suatu mata uang. Pengendalian pemanfaatan tata ruang akan berlangsung secara efektif dan efisien bilamana telah didahului dengan perencanaan tata ruang yang valid dan berkualitas. Sebaliknya rencana tata ruang yang tidak dipersiapkan dengan mantap akan membuka peluang terjadinya penyimpangan fungsi ruang secara efektif dan efisien dan pada akhirnya akan menyulitkan tercapainya tertib ruang sebagaimana telah ditetapkan dalam rencana tata ruang.

Deakin, menyebutkan bahwa Manajemen pertumbuhan dikedepankan karena beberapa hal seperti : (1) Permintakatan (zoning) kurang mampu dalam membentuk pertumbuhan, mengendalikan penjadwalan/rentang waktu, menghadapi masalah pendanaan dan lingkungan; (2) Kesulitan memenuhi sarana pelayanan dan infrastruktur yang telah menelan banyak biaya meskipun dengan menaikkan pajak; (3) Terjadinya urban sprawl, polusi udara, hilangnya ruang-ruang terbuka dan persawahan, menyebabkan diberlakukannya aturan-aturan penatagunaan tanah seperti larangan aneksasi lahan, membuat garis batas wilayah perkotaan, daerah “sabuk hijau” (greenbelt area), dan perlindungan daerah pertanian.

Disisi lain Smith, menyatakan bahwa Pengendalian pemanfaatan lahan sangat erat hubungannya dengan manajemen pertumbuhan (growt management). Tujuan/sasaran pengendalian penggunaan lahan adalah manejemen pertumbuhan yang dilaksanakan  melalui empat  perangkat/instrument  yaitu : (1) Instrumen pengaturan (regulatory tools) seperti permitakatan, perizinan lokasi, perizinan bangunan; (2) Instrumen kebijakan penempatan fasilitas pelayanan umum untuk mengarahkan pembangunan (public service location) seperti fasilitas infrastruktur; (3) Instrumen sumber-sumber pendapatan (revenue sources) seperti pajak; (4) Instrumen pengeluaran/belanja langsung dan tidak langsung pemerintah (government expenditure) seperti pembelian lahan dan insentif pajak perumahan.

Devas dan Rakodi menyatakan bahwa banyak pihak berpendapat bahwa pemerintah harus campur tangan untuk mengendalikan, menata keadaan dengan alasan kegagalan mekanisme pasar menciptakan hasil yang memuaskan masyarakat secara keseluruhan, antara lain kegagalan menghasilkan hasil social yang diinginkan, munculnya eksternalitas negative, dan ketidakmerataan pelayanan.

Lebih lanjut disebutkan bahwa pada kenyataan banyak campur tangan pemerintah dalam pembangunan kota justru tidak tepat dan tidak memuaskan. Bahkan dapat diperkirakan bahwa sebab utama kegagalan pengendalian pemanfaatan ruang adalah karena tidak adanya kurangnya kemampuan politik yang kuat dan dukungan masyarakat yang memadai.

Branch, menyatakan Sistem permintakatan (zoning) merupakan cara yang paling banyak digunakan untuk menetapkan penggunaan lahan atau mengatur kegiatan yang diizinkan di atas sebidang lahan. Pada umumnya setiap mintakat disertai dengan batasan-batasan dan/atau persyaratan tertentu yang secara rinci diterapkan untuk setiap penggunaan bangunan yang akan didirikan di atas persil tertentu dalam mintakat tertentu.

Rencana Tata Ruang Wilayah selanjutnya dapat disingkat RTRW merupakan hasil perencanaan pembangunan yang telah ditetapkan di peringkat Kota. Kawasan adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta memiliki ciri tertentu. Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.  Kawasan Budi Daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan.

Kawasan Hijau adalah ruang terbuka hijau yang terdiri dari kawasan hijau lindung dan hijau binaan Kawasan Hijau Lindung adalah bagian dari kawasan hijau yang memiliki karakteristik alamiah yang perlu dilestarikan untuk tujuan perlindungan habitat setempat maupun untuk tujuan perlindungan wilayah yang lebih luas.  Kawasan Hijau Binaan adalah bagian dari kawasan hijau di luar kawasan hijau lindung untuk tujuan penghijauan yang dibina melalui penanaman, pengembangan, pemeliharaan maupun pemulihan vegetasi yang diperlukan dan didukung fasilitasnya yang diperlukan baik untuk sarana ekologis maupun sarana sosial Kota yang dapat didukung fasilitas sesuai keperluan untuk fungsi penghijauan tersebut yang diatur dalam Pasal 15 Perda No. 6 Tahun 2006 yang terdiri dari 13 ayat dan Pasal 49 sampai Pasal 50 yang mengatur mengenai rencana pengembangan kawasan hijau di Kota Makassar.

Kawasan Tangkapan Air adalah kawasan atau areal yang mempunyai pengaruh secara alamiah atau binaan terhadap keberlangsungan badan air seperti waduk, situ, sungai, kanal, pengolahan air limbah dan lain-lain, hal ini diatur dalam Pasal 44 Perda Nomor 6 Tahun 2006. Kemudian Pasal 51 dan 52 mengatur tentang Kawasan Permukiman adalah kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan bagi pengembangan permukiman atau tempat tinggal/hunian beserta prasarana dan sarana. Dalam Pasal 53 diatur tentang Kawasan Bangunan Umum adalah kawasan yang diarahkan dan diperuntukkan bagi pengembangan perkantoran, perdagangan, jasa, pemerintahan dan fasilitas umum/fasilitas sosial beserta fasilitas penunjangnya dengan Koefisien Dasar Bangunan lebih besar dari 20% (dua puluh persen).

Kawasan Bangunan Umum Koefisien Dasar Bangunan Rendah (KDB) adalah kawasan yang secara keseluruhan Koefisien Dasar Bangunannya maksimum 20% (dua puluh persen) diatur dalam Pasal diatur dalam Pasal 54. Kawasan Pusat Kota adalah KT yang tumbuh sebagai pusat Kota dengan percampuran berbagai kegiatan, memiliki fungsi strategis dalam peruntukannya. Kawasan Permukiman Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan bagi pemusatan dan pengembangan permukiman atau tempat tinggal/hunian beserta prasarana dan sarana lingkungannya yang terstruktur secara terpadu; Kawasan Pelabuhan Terpadu adalah KT yang diarahkan sebagai kawasan yang memberi dukungan kuat dalam satu sistem ruang yang bersinergi terhadap berbagai kepentingan dan kegiatan yang lengkap berkaitan dengan aktivitas kepelabuhanan dan segala persyaratannya. Pasal 57 ayat 4 mengatur Kawasan Bandara Terpadu KT yang dan diperuntukkan sebagai kawasan yang memberi dukungan kuat dalam satu sistem ruang yang bersinergi terhadap berbagai kepentingan dan kegiatan yang lengkap berkaitan dengan aktivitas bandara dan segala persyaratannya.

Kawasan Maritim Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan kemaritiman yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid hal ini diatur dalam Pasal 57 ayat 5 Perda No.6 Tahun 2005.

Kawasan Industri Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan industri yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid yang diatur dalam Pasal 57 ayat 6 Perda No.6 Tahun 2006.

Pasal 57 ayat 7 mengatur mengenai Kawasan Pergudangan Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan pergudangan yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Selanjutnya Pasal 57 ayat 8 diatur akan Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan pendidikan tinggi yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid.

Dalam Pasal 57 ayat 9 mengatur Kawasan Penelitian Terpadu adalah yang diarahkan diperuntukkan sebagai kawasan dengan dan pengembangan berbagai kegiatan yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Kawasan Budaya Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan budaya yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid.

Kawasan Olahraga Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan olahraga yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid dan diatur dalam Pasal 57 ayat 11 Perda No. 6 Tahun 2006.

Pada Pasal 57 ayat 12 dan 13 Perda No. 6 Tahun 2006 diatur akan  Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu Adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis dan pariwisata yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang .  Kawasan  Bisnis dan Pariwisata Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis dan pariwisata yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid. Kawasan Bisnis Global Terpadu adalah KT yang diarahkan dan diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis global yang dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan penunjang yang lengkap yang saling bersinergi dalam satu sistem ruang yang solid.

Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun dan perekayasaan industri;  Industri selektif adalah kegiatan industri yang kriteria pemilihannya disesuaikan dengan kondisi Makassar sebagai Kota Maritim, Niaga, Pendidikan Budaya dan Jasa, yakni industri yang hemat lahan, hemat air, tidak berpolusi, dan menggunakan teknologi tinggi.

Tujuan adalah Nilai-nilai dan kinerja yang mesti dicapai dalam pembangunan Wilayah Kota berkaitan dalam kerangka visi dan misi yang telah ditetapkan. Strategi Pengembangan adalah Langkah-langkah penataan ruang dan pengelolaan Kota yang perlu dilakukan untuk mencapai visi dan misi pembangunan Wilayah Kota yang telah ditetapkan.

Ruang Terbuka Hijau yang diatur dalam Pasal 15 Perda No. 6 Tahun 2006 selanjutnya dapat disebut RTH adalah Kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana Kota/lingkungan, dan atau pengaman jaringan prasarana, dan atau budidaya pertanian. Sedangkan rencana struktur pemanfaatan ruang wilayah kota menurut peraturan daerah nomor 6 tahun 2006 Pasal 13 dijabarkan kedalam struktur pemanfaatan ruang kota meliputi : 1. Rencana persebaran penduduk; 2. Rencana pengembangan kawasan hijau;  3. Rencana pengembangan kawasan permukiman; 4. Rencana pengembangan kawasan bangunan umum; 5. Rencana pengembangan kawasan industri; 6. Rencana pengembangan kawasan pergudangan; 7. Rencana pengembangan sistem pusat kegiatan; 8. Rencana pengembangan sistem prasarana; 9. Rencana intensitas ruang.

Selanjutnya rencana persebaran penduduk tertuang dalam Pasal 14,sebagai berikut:

(1) Untuk mewujudkan tata ruang bagian wilayah yang ideal, maka ditetapkan kebijakan persebaran penduduk  dimasing-masing Kota sebagai berikut:

1. Jumlah Penduduk Kawasan Pusat Kota pada Tahun 2015 dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 272.144 jiwa;

2. Jumlah Penduduk Kawasan Permukiman Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 206.922 jiwa;

3. Jumlah Penduduk Kawasan Pelabuhan Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 94.373 jiwa;

4. Jumlah Penduduk Kawasan Bandara Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 92.576 jiwa;

5. Jumlah Penduduk Kawasan Maritim Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 44.381 jiwa;

6. Jumlah Penduduk Kawasan Industri Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 104.160 jiwa;

7. Jumlah Penduduk Kawasan Pergudangan Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 56.049 jiwa;

8. Jumlah Penduduk Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 238.775 jiwa;

9. Jumlah Penduduk Kawasan Penelitian Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 21.073 jiwa;

10. Jumlah Penduduk Kawasan Budaya Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 20.359 jiwa;

11. Jumlah Penduduk Kawasan Olahraga Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 101.278 jiwa;

12. Jumlah Penduduk Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 24.219 jiwa.

13. Jumlah Penduduk Kawasan Bisnis Global Terpadu dibatasi atau dikendalikan sampai sekitar 114.398 jiwa.

Sedangkan dalam ayat (2) Persebaran dan kepadatan penduduk menurut 13 kawasan terpadu Kota di masing-masing kawasan diarahkan.

 

D.Pendekatan Perilaku Alih Fungsi Lahan

Hadi Sabari Yunus , menyatakan Perubahan alih fungsi lahan dipengaruhi  oleh daya tarik tempat, antara lain: (1) Masih luasnya tanah yang tersedia di daerah pemekaran; (2) masih rendahnya harga tanah di daerah pemekaran, sehingga mendorong penduduk untuk tinggal di daerah tersebut; (3) Suasana yang lebih menyenangkan  terutama didaerah pemekaran yang masih mempunyai kondisi lingkungan yang bebas dari polusi; (4) Adanya pendidikan yang mengambil lokasi luar kota; (5) Mendekati tempat kerja.

Perubahan  penggunaan pada dasarnya adalah peralihan fungsi lahan yang tadinya untuk peruntukan tertentu menjadi peruntukan tertentu pula (yang lain). Dengan adanya perubahan penggunaan lahan, daerah tersebut mengalami perkembangan, terutama adalah pada perkembangan jumlah sarana fisik baik berupa perekonomian, jalan maupun sarana dan prasarana lainnya.

Selain distribusi perubahan penggunaan lahan akan mempunyai pola-pola perubahan penggunaan lahan. pada distribusi perubahan penggunaan lahan pada dasarnya dikelompokkan menjadi

  1. Pola memanjang mengikuti jalan,
  2. Pola mengikut sungai
  3. Pola radial
  4. Pola tersebar
  5. Pola memanjang mengikuti garis pantai
  6. Pola mengikuti rel kereta api.

Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi pola perubahan penggunaan lahan tersebut, pada dasarnya adalah karakteristik dari kondisi topografi dan potensi masing-masing daerah.

Dalam penggunaan lahan baik untuk perumahan maupun untuk pertanian harus diperhitungkan beberapa unsure alam seperti ketinggian tempat, ketersediaan air dan lain sebagainya sehingga diharapkan akan tercipta keseimbangan dan keserasian dalam tata guna lahan dan diperoleh manfaat yang optimal dari penggunaannya dan menjaga kelestariannya.

Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang yang direncanakan maupun tidak direncanakan. Wujud struktural adalah susunan unsur-unsur pembentukan rona lingkungan alam, sosial dan buatan secara hirarkis dan struktural berhubungan antara satu dengan lainnya sehingga membentuk tata ruang, diantaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota, prasarana jalan, dan sebagainya. Pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran fungsi serta karakter  kegiatan manusia atau kegiatan alam diantaranya pola lokasi, sebaran pemukiman, industry, dan pertanian serta pola penggunaan tanah pedesaan dan perkotaan.

Bintarto, menyatakan bahwa penggunaan lahan dan tata ruang dapat dipelajari dengan menggunakan suatu metode pendekatan tertentu. Dalam geografi terpadu untuk mendekati atau menghampiri masalah geografi digunakan berbagai macam pendekatan yang secara ekplisit dituangkan kedalam beberapa analisis di bawah ini :

a)    Analisa Keruangan (spatial Analysis) yaitu mempelajari perbedaan-perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting, yang memperhatikan penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang direncanakan.

b)    Analisa Ekologi (ecological analysis) yaitu pendekatan yang memperhatikan interaksi organism hidup dengan lingkungan.

c)    Analisa Kompleks Wilayah (regional complex analysis) yaitu suatu pendekatan yang merupakan kombinasi atau gabungan antara analisa keruangan dengan analisa ekologi.

 

E.Kecenderungan Perubahan Penggunaan Lahan

Pengertian perubahan penggunaan lahan menurut Pierce, adalah merupakan alih fungsi/konversi atau mutasi lahan secara umum menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumber daya lahan dari suatu penggunaan ke penggunaan lainnya.  Namun, sebagai suatu terminology dalam kajian-kajian ekonomis, pengertiannya terutama difokuskan pada proses dialihgunakannya lahan dari penggunaan lahan agraris (kedesaan) menjadi penggunaan lahan yang non-agraris (kekotaan). Proses penggunaan lahan ini melibatkan baik reorganisasi struktur fisik kota secara internal maupun ekspansinya ke arah luar.

Fenomena perubahan penggunaan lahan agraris (kedesaan) menjadi lahan non-agraris (kekotaan), secara teoritis dapat dijelaskan dalam konteks ekonomika lahan yaitu, menempatkan sumber daya lahan sebagai factor produksi. Karena karakteristiknya, maka secara alamiah akan terjadi persaingan dalam penggunaan lahan untuk berbagai aktivitas. Kondisi seperti ini dapat menjadi suatu perubahan dalam penggunaan lahan yang mengarah pada aktivitas yang mempunyai land rent paling tinggi. Secara sederhana dapat dikatakan persediaan lahan relative tetap, sementara permintaan terus bertumbuh dengan cepat, terutama di kawasan perkotaan. Pertumbuhan kebutuhan akan lahan itu didorong oleh pertumbuhan penduduk dan aktivitas social ekonomi yang menyertainya. Interaksi antara permintaan dan penawaran lahan inilah nantinya menghasilkan pola penggunaan lahan mengarah pada aktivitas yang paling menguntungkan. Dalam konteks inilah fenomena perubahan penggunaan lahan agraris (kedesaan) menjadi penggunaan lahan yang non-agraris (kekotaan) tidak dapat dihindari.

Terjadinya fenomena perubahan pemanfaatan lahan agraris menjadi penggunaan lahan non-agraris tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor yang umumnya terjadi diberbagai tempat diantaranya:

 

  1. 1.    Pertumbuhan Penduduk

Suatu wilayah yang memiliki keunggulan komparatif karena statusnya, seperti ibu kota, akan bertumbuh dan berkembang. Awalnya memang hanya berstatus ibu kota, namun karena akses menuju ke ibu kota dibangun dipermudah dengan membuat jalan, maka semakin lama ibu kota menjadi aglomerasi berbagai kegiatan. Penduduk daerah lain yang mengetahui ada sumber mata pencaharian, mulai berdatangan untuk mengadu nasib. Pada saat itulah proses urbanisasi sedang terjadi. Pertumbuhan penduduk kota dapat  meningkat secara drastis, dan kebanyakan dihuni kelompok usia produktif.

Keadaan tersebut menuntut penyediaan lahan untuk menampung aktivitas penduduk, dan tidak menutup kemungkinan pihak ibu kota harus menyediakan sarana pemukiman untuk menampung mereka. Karena lahan di kota pemanfaatannya terbatas dan relative mahal perolehannya, maka dengan terpaksa mereka yang kalah bersaing dalam mendapatkan lahan, mengubah guna lahan yang tersedia menjadi area pemukiman.

  1. 2.    Pertumbuhan Ekonomi

Maju tidaknya suatu daerah biasanya diukur berdasarkan laju pertumbuhan Product Domestic Regional Bruto (PDRB) dalam kurun waktu tertentu. Pada dasarnya pertumbuhan ekonomi daerah akan mendorong peningkatan permintaan lahan untuk berbagai keperluan, seperti : industri, pertanian, jasa dan kegiatan lainnya. Oleh karena persediaan lahan tidak berubah dalam suatu wilayah, maka perubahan atau pertumbuhan ekonomi tersebut akan menggeser peranan sector pertanian  ke sector industry dan jasa yang juga memerlukan lahan untuk kegiatannya. Keadaan demikian, lahan agraris akan mendapat tekanan permintaan untuk penggunaan bagi kepentingan kegiatan diluar sector agraris tersebut.

Perubahan penggunaan lahan menjadi bentuk penggunaan lainnya, tidak terlepas dari situasi ekonomi secara keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menyebabkan beberapa factor ekonomi lainnya tumbuh dengan cepat. Pertumbuhan sector tersebut akan membutuhkan lahan yang lebih luas.

Apabila lahan yang belum terbangun tersebut  letaknya berdekatan dengan pusat pertumbuhan, maka cepat atau lambat area tersebut akan berubah penggunaan lahannya, baik untuk pemikuman, pabrik-pabrik atau untuk sector jasa. Lokasi terjadinya perubahan penggunaan lahan yang didasarkan pada factor peningkatan ekonomi biasanya terletak di areal lahan yang belum terbangun dan bersifat agraris (kedesaan) yang dilalui jalan. Pola pemukiman seperti ini membentuk tipe pita linear mengikuti jalan.

 

  1. 3.    Nilai Jual

Segala aktivitas manusia tidak terlepas dari lahan sebagai factor akativitas produksi. Beberapa hal yang mempengaruhi nilai jual yaitu : 1) Lokasi lahan, semakin dekat dengan akses jalan, biasanya semakin mahal, makanya tidak mengherankan, lahan yang dekat dengan jalan cenderung mengalami perubahan lahan yang cepat. Selain dekat dengan jalan, juga karena lahan tersebut terletak di wilayah perkotaan. 2) intensitas permintaan dan persaingan dalam mendapatkan lahan semakin tinggi.

Reksohadiprojo, memberi pengertian nilai lahan dan sewa lahan berhubungan erat dengan jasa yang dihasilkan oleh karena penggunaan lahan sebagai suatu aktiva.

Lahan disebut aktiva fisik dan memiliki nilai karena memberi hasil selama waktu tertentu. Begitu juga sewa lahan, akan memiliki nilai jasa yang dihasilkan oleh lahan selama periode tertentu apabila dimanfaatkan oleh orang lain dengan perjanjian sewa. Rupanya harga telah menentukan permintaan atas lahan serta mempengaruhi intensitas persaingan untuk mendapatkan lahan. Meski harga lahan masuk dalam perhitungan biaya dalam suatu proses produksi, namun bila sudah didapatkan, dalam jangka panjang lahan menjadi unsur modal yang sering kurang mendapat perhitungan.

 

  1. 4.    Kebijakan Pemerintah

Terjadinya perubahan penggunaan lahan, juga tidak terlepas dari penetapan kebijakan pemerintah. Kebijakan tersebut misalnya adanya privatisasi pembangunan kawasan industry, pembangunan pemukiman skala besar, kota baru dan deregulasi investasi perizinan. Pihak swasta dalam proses pembebasan tanah sulit menyatukan lahan yang terpisah-pisah apalagi hamparan lahan tersebut sebagian telah dibangun pemukiman. Kondisi tersebut tentu tidak menguntungkan investor, karena memerlukan biaya besar untuk pembebasan tanah, maka mereka cenderung memilih lahan luas yang kosong, misalnya hutan, rawa dan lahan pertanian.

Privatisasi pembangunan kawasan industry maupun penentuan kawasan-kawasan lain, tertuang dalam rencana tata ruang yang telah tetapkan oleh pemerintah. Kadang-kadang penentuan kawasan tata ruang ini, tidak terlepas dari pengaruh politik, tawar menawar antara legislative, eksekutif dan para investor tidak menutup kemungkinan, demi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pemerintah melonggarkan aturan penataan ruang dengan memberi ijin investor membangun kawasan industri di lahan produktif misalnya. Sebab  seperti diketahui bersama pihak swasta sebagai investor,  orientasinya adalah keuntungan (profit oriented), sehingga dalam mengalokasikan kegiatan tentunya memilih lokasi yang menguntungkan.

 

F.Perizinan Pemanfaatan Ruang

Perizinan pemanfaatan ruang adalah salah satu bentuk pengendalian pemanfaatan ruang yang bertujuan untuk menjaga agar pemanfaatan ruang dapat berlangsung sesuai dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang yang disepakati antara rakyat dan pemerintah dapat juga merupakan kebijakan operasional pemanfaatan ruang,  berkaitan dengan penetapan lokasi, kulaitas ruang, hukum adat dan kebiasaan yang berlaku, biasanya diselenggarakan oleh Bupati/Walikota di wilayah kaupaten/kota.

Perizinan pemanfaatan ruang sedikitnya memiliki hierarki yang antara lain sebagai berikut: (1) Perizinan peruntukan dan perolehan lahan, berkaitan dengan penetapan lokasi investasi dan perolehan tanah  dalam bentuk izin lokasi; (2) Perizinan pengembangan pemanfaatan lahan berkaitan dengan rencana pengembangan kualitas ruang dalam bentuk persetujuan site plan; (3) Perizinan mendirikan bangunan berkaitan dengan pengambangan tata bangunan dalam bentuk IMB mengenai penertiban dan mekanisme perizinan diatur dalam Pasal 66-67 Perda No. 6 Tahun 2006.

 

G.Pertimbangan Aspek Lingkungan dalam Prosedur Perizinan

Salah satu aspek dalam penataan ruang menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 adalah pengendalian ruang, yang secara praktis dapat diterjemahkan dalam bentuk perizinan terhadap segala bentuk pemanfaatan lahan atau ruang. Pengelolaan lingkungan hidup disuatu wilayah tidak hanya berkaitan dengan penataan ruang dalam penyusunan saja, tetapi juga dalam pelaksanaan, pemantauan, dan pengendaliannya.

Dalam pengelolaan lingkungan hidup wilayah, prosedur perizinan yang berkaitan dengan penataan ruang dapat merupakan sarana dalam mengaitkan secara resmi berbagai pertimbangan tentang lingkungan hidup dalam pelaksanaan pembangunan.

Beberapa prosedur mengenai bentuk perizinan  dalam rangka pengendalian terhadap pelaksanaan produk penataan ruang dan cukup potensial untuk dimuati dengan pertimbangan tentang lingkungan hidup antara lain  adalah prosedur memperoleh izin lokasi, izin usaha, izin perencanaan (planning permit), dan izin mendirikan bangunan (IMB).

  1. Izin lokasi, di wilayah-wilayah yang sudah memiliki rencana tata ruang, izin lokasi ditujukan untuk mengendalikan pelaksanaan pembangunan, agar sesuai dengan yang telah direncanakan. Tentunya hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah memasukkan pertimbangan  tentang lingkungan hidup.
  2. Izin usaha, prosedur memperoleh izin usaha sangat potensial untuk digunakan sebagai sarana untuk memasyarakatkan aturan yang terkait  dengan kegiatan  dampak lingkungan. Setidaknya semua pemrakarsa usaha dagang dan industry dapat dituntut untuk menyertakan UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan), dan UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan) terhadap calon lokasi usaha yang akan dilaksanakannya sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha, karena pemberian izin usaha mempertimbangkan masalah lokasi dan gangguan yang akan ditimbulkan.
  3. Izin Mendirikan Bangunan (IMB), izin mendirikan bangunan sangat tepat untuk digunakan sebagai kendali terhadap persyaratan yang telah ditetapkan untuk membangun sesuai dengan standar-standar yang ditentukan  dalam rencana tata ruang kota. IMB diperlukan untuk mengendalikan aspek  pelaksanaan Tata Ruang Kota.

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 

II.KOTA MAKASSAR DAN DISPARITAS PEMANFAATAN RUANG KOTA

 

  1. A.    Wajah Kota Makassar
    1. 1.    Kondisi Geografis

Secara geografis Kota Makassar berada pada bagian barat Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak pada koordinat 1190, 32’ 59”, Bujur Timur dan 40, 8’ 19” Lintang Selatan dengan ketinggian  antara 0-25 meter dari permukaan laut. Secara administrative Kota Makassar terdiri dari 14 kecamatan, meliputi 142 kelurahan, dengan luas 175,77km2 atao 0,28% dari luas Provinsi Sulawesi Selatan.

Adapun batas – batas wilayah adminstratif Kota Makassar sebagai berikut:

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Maros;
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Takalar;
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros, dan Kabupaten Gowa;
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.

 

 

Jumlah penduduk Kota Makassar pada tahun 2007 tercatat  sekitar 1.223.540 jiwa yang terdiri dari 557.529 jiwa laki-laki dan 573.734 jiwa perempuan dan pada tahun 2008 jumlah penduduk yang tercatat sebanyak 1.253.656 jiwa yang terdiri dari  601.304 jiwa laki-laki dan 652.352 jiwa perempuan sehingga laju pertumbuhan penduduk Kota Makassar adalah rata-rata 1,65 %.

Penyebaran penduduk Kota Makassar tidak merata disetiap kecamatan dimana populasi tertinggi  berada di kecamatan  Tamalate dengan jumlah penduduk 129.967 jiwa sedangkan populasi terendah berada pada kecamatan Ujung Tanah dengan jumlah penduduk 45.807 jiwa.

  

  1. 2.    Sosial Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi suatu wilayah pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai  tujuan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat peningkatan pendapatan masyarakat dapat diketahui dengan beberapa cara salah satu diantarannya adalah dari hasil perhitungan pendapatan regional (PDRB).

 

 

Pertumbuhan ekonomi Kota Makassar terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data BPS Kota Makassar bahwa Product Domestic Regional Bruto (PDRB) Kota Makassar tahun 2008 mencapai angka 15,17 Trilyun rupiah atau mengalami peningkatan, pada tahun 2006 yang nilainya 6.232,6 miliar rupiah

 

  1. 3.    Sosial Budaya

Kondisi  sosial budaya salah satu cermin kehidupan masyarakat kota Makassar  merupakan kota yang masyarakatnya heterogen disebabkan oleh pembaruan penduduk yang beraneka ragam mulai dari suku Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Cina, Jawa dan Papua  ini disebabkan karena Kota Makassar merupakan pusat pertemuan migrasi untuk kawasan Indonesia bagian barat dan timur. Walaupun Kota Makassar terdiri dari pembauran berbagai suku namun masyarakatnya masih menghargai dan menghormati antar sesama masyarakat yang ada di Kota Makassar.

 

  1. B.    Tinjauan Kebijakan Tata Ruang Kota Makassar
    1. 1.    Rencana Tata Ruang (RTRW) Kota Makassar

Pola perkembangan dan struktur  tata ruang Kota Makassar pada dasarnya ditekankan pada dorongan aspirasi dan pembangunan masyarakat di Kota Makassar, juga dengan adanya upaya untuk bentuk antisipasi dari kemungkinan perkembangan yang akan muncul ke depan. Selanjutnya  atas dasar pertimbangan perkembangan kota tersebut maka secara garis besar struktur ruang  Kota Makassar ditetapkan pada pembagian peran dan fungsi dari 13 (tiga belas) kawasan terpadu, 7 (tujuh) kawasan khusus serta 1 (satu) kawasan prioritas berdasarkan revisi RTRW Kota Makassar 2006-20016 (Bappeda Kota Makassar, 2006) dengan mempertimbangkan 9 (Sembilan) aspek utama yaitu : 1. Pengembangan pola persebaran penduduk; 2. Pengembangan kawasan hijau; 3. Pengembangan kawasan pemukiman; 4. Pengembangan kawasan bangunan umum; 5. Pengembangan kawasan industry; 6. Pengembangan kawasan pergudangan; 7. Pengembangan system pusat kegiatan; 8. Pengembangan system prasarana dan 9. Pengembangan pola intensitas ruang .

Sedangkan rencana fungsi struktur tata ruang Kota Makassar telah ditetapkan dalam 9 (Sembilan) BWK yang didalamnya berdasarkan batas administrasi kecamatan dengan luas, fungsi utama dan fungsi penunjang yang dapat dilihat pada tabel berikut: 

 

 

 

 

Tabel.2

Pembagian BWK Tata Ruang Kota Makassar

No.

BWK

 

Kecamatan

Luas (Ha)

 

Fungsi Utama

 

Fungsi Penunjang

  1.

 

A

Ujung Pandang,

Makassar, Wajo, Mariso, Mamajang dan Bontolala

1.331

Pusat perdangan Niaga (CBD) dan Jasa Sosial

-  Rekreasi,Perhotelan

-  Pemerintahan Kota

-  Pemukiman

-  Hutan /Taman Kota

2.

B

Ujung Tanah

594

Transportasi Laut

(Pelabuhan)

-  Pariwisata tirta/bahari

-  Militer

-  Permukiman

3.

C

Tamalate

2.021

Rekreasi pantai & Jasa Pariwisata

-  Perdagangan

-  Permukiman

-  Pendidikan Tinggi

-  Transportasi darat (AKDP)

-  Hutan/Taman Kota

4.

D

Rappocini

923

Jasa Pelayanan

Sosial/Umum

-  Perkantoran(negeri/swasta)

-  Perdagangan

-  pemukiman

5.

E

Panakkukang

1.705

Pusat perdagangan dan jasa sosial

-  Perkantoran

-  Pendidikan Tinggi

-  Pemukiman

-  Transportasi darat (terminal angkot)

-  Hutan Kota

6.

F

Manggala

2.414

Permukiman

-  Jasa Pelayanan Sosial

-  Pendidikan Tinggi

-  Pariwisata/Rekreasi

-  Ruang terbuka hijau/taman kota

7.

G

Tallo

583

Pariwisata dan ruang terbuka (hutan/taman kota)

-  Jasa pelayanan social/umum

-  Permukiman

-  Taman/hutan kota

8.

H

Tamalanrea

3.184

Pendidikan tinggi dan permukiman

-  Industri

-  Perdagangan

-  Jasa pelayanan social/ kesehatan/umum

9.

I

Biringkanaya

4.822

Industri dan Permukiman

-  Transportasi darat (terminal AKAP)

-  Ruang terbuka hijau dan pekuburan

Sumber : Bappeda Kota Makassar,2008

Selanjutnya untuk lebih jelasnya dapat dilihat dipeta pada gambar 1, tentang rencana struktur ruang Kota Makassar Tahun 2006-2016. Kecenderungan arah pengembangan Kota Makassar sangat erat kaitannya dengan adanya desakan fungsi tertentu yang menempati lahan perkotaan, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan fisik terutama pola penggunaan lahan kota.  Sehingga untuk mengimbangi perkembangan penduduk dan kebutuhannya, Pemerintah Kota Makassar memanfaatkan perkembangan tersebut dengan membuat pengelompokan jenis-jenis kegiatan tertentu yang didalamnya sudah mencakup fungsi kota seperti permukiman, jasa pelayanan, perdagangan, pendidikan, kesehatan, industri dan lain sebagainya.

Selain itu, kecenderungan perkembangan ruang fisik Kota Makassar mengacuh pada prinsip dasar rencana struktur tata ruang. Perkembangan yang terjadi dapat dilihat dari adanya kecenderungan orientasi kegiatan pemanfaatan lahan.

  1. 2.     Pesebaran Penduduk

Pertumbuhan penduduk Kota Makassar  yang cukup pesat memberi pengaruh yang cukup signifikan bagi perkembangan Kota Makassar. Berdasarkan data perkembangan jumlah penduduk Kota Makassar pada Tahun 2004 – 2008 (BPS, 2009) yang tercatat adalah jumlah sebanyak 1.253.656 jiwa yang terdiri dari 601.304 jiwa laki-laki dan 652.352 jiwa perempuan sementara itu jumlah penduduk Kota Makassar pada tahun 2007 tercatat  sebanyak 1.235.239 jiwa sehingga dengan demikian maka laju pertumbuhan penduduk Kota Makassar adalah 1,65%.

Sedangkan komposisi penduduk menurut jenis kelamin dapat ditunjukkan dengan rasio jenis kelamin, rasio jenis kelamin penduduk Kota Makassar yaitu sekitar 92,17 persen, yang berarti setiap 100 jiwa penduduk wanita terdapat 92 jiwa penduduk laki-laki. Selain itu pola pesebaran penduduk yang tercipta  dan tersebar di 14 (empat belas) wilayah kecamatan,  secara umum masih  terkonsentrasi di wilayah kecamatan Tamalate, yaitu sebanyak 152.197 jiwa atau sekitar 12,14 persen dari total penduduk,  disusul kecamatan Rappocini sebanyak 142.958 jiwa, (11,40 persen). Kecamatan Panakkukang sebanyak 134.548 jiwa (10,72 persen), dan yang terendah adalah kecamatan Ujung Pandang sebanyak 28.637 jiwa (2,28 persen) (Makassar dalam Angka).

Kepadatan penduduk Kota Makassar yang tercatat, tertinggi ada di wilayah kecamatan Makassar sebesar 32.900 jiwa/km2, dan kecamatan Mariso sebesar 30.009 jiwa/km2, sedangkan untuk kepadatan terendah adalah kecamatan Tamalanrea sebesar 2.800 jiwa/km2, dan kecamatan  Biringkanaya dengan tingkat kepadatan hanya sebesar 2.670 jiwa/km2. Dengan demikian, kecamatan yang tingkat kepadatan penduduknya rendah, masih memungkinkan untuk dikembangkan sebagai kawasan terbangun untuk pemenuhan kebutuhan hunian penduduk yang dilengkapi prasarana dan sarana penunjangnya, dengan berpedoman pada arahan struktur tata ruang Kota Makassar.Laju pertumbuhan dan perkembangan jumlah penduduk yang tersebar di 14 (empat belas) wilayah kecamatan dalam Kota Makassar pada Tahun 2007-2008 dapat dilihat  pada tabel berikut.

Tabel. 3

Jumlah, Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk

Kota Makassar Tahun 2008.

 

No.

 

Kecamatan

Luas

Wilayah

(km2)

Penduduk

(jiwa)

Laju Per-tumbuhan (%) 2007-2008

Kepadatan (jiwa/km2)

2007

2008

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

Ujung Pandang

Wajo

Bontoala

Makassar

Mariso

Mamajang

Rapocini

Panakkukang

Ujung Tanah

Tallo

Tamalate

Manggala

Tamalanrea

Biringkanaya

263,0

199,0

210.0

252,0

182,0

225,0

923,0

1.705,0

594,0

583,0

2.021,0

2.414,0

3.184,0

4.822,0

28.206

34.504

60.850

81.645

53.825

59.533

140.822

132.479

47.723

133.148

150.014

97.556

87.817

126.839

28.637

35.011

61.809

82.907

54.616

60.394

142.958

134.548

48.382

135.315

152.179

99.008

89.143

128.731

0,39

0,32

1,05

0,43

0,86

0,32

1,64

1,21

1,18

2,00

2,16

2,91

1,55

3,45

10.889

17.593

29.433

32.900

30.009

26.842

15.488

7.891

8.145

23.210

7.531

4.101

2.800

2.670

Kota Makassar

17.577,0

1.223.540

1.253.656

1,65

7.132

Sumber : BPS Kota Makassar 2007 & 2008

 Dengan  melihat pesebaran penduduk yang tergambar pada tabel tersebut di atas  maka, kelihatan bahwa kepadatan penduduk terletak di BWK  A yang seharusnya pada fungsi utama merupakan pusat perdagangan dan niaga (CBD) dan jasa sosial sehingga dalam pengambilan kebijakan dalam pembangunan sering khususnya dalam pemberian izin pembangunan akan menyalahi RTRWK Kota Makassar.

Kecamatan yang paling kecil kepadatan penduduknya adalah kecamatan Biringkanaya yaitu hanya  2.670 per km2  dan disusul oleh kecamatan   Tamalanrea dengan kepadatan penduduknya yaitu 2.800 per km2. Dari data tersebut di atas terlihat bahwa pemerintah tidak mampu menyediakan suatu keseimbangan di dalam mengantisipasi laju dan pesebaran penduduk yang seimbang.

Kepala Dinas Kependudukan Kota Makassar (P. Sinaga) menyatakan bahwa adanya pesebaran penduduk yang tidak merata itu adalah suatu fenomena suatu kota di Negara-negara berkembang hal mana disebabkan oleh tata ruang yang disusun untuk kepentingan pemerintah yang berkuasa pada saat itu (wawancara tanggal 10 November 2009).

Tata ruang seyogyanya disusun/direncanakan dalam suatu kerangka pentahapan oleh suatu badan yang betul-betul merancang kota untuk masa depan bukan untuk kepentingan sesaat hal ini disampaikan oleh (Andi Oddang Wawo) Kepala Bagian Tata Ruang Kota Makassar (wawancara tanggal 3 November 2009).

 

  1. 3.    Kawasan Ruang Terbuka Hijau

Perencanaan suatu  kota atau wilayah yang berkesinambungan sangat diperlukan suatu komitmen dari pemerintah maupun masyakat untuk terjaganya suatu lingkungan yang asri dan nyaman.

Dalam ayat 2 Pasal 15 Perda No. 6 Tahun 2006, disebutkan bahwa Kawasan hijau adalah ruang yang terdiri dari kawasan lindung dan hijau binaan. Ruang terbuka hijau yang selanjutnya disebut RTH adalah kawasan  atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat tertentu, dan atau sarana  kota/lingkungan,  dan atau pengaman jaringan sarana prasarana, dan atau budidaya pertanian.

Dalam kepentingan perencanaan  dan pengembangan kawasan hijau di Kota Makassar di bagi dalam kawasan hijau lindung dan kawasan hijau binaan. Kawasan hijau lindung adalah bagian dari kawasan hijau yang memiliki karakteristik alamiah yang perlu dilestarikan untuk tujuan penghijauan yang dibina melalui penanaman, pengembangan, pemeliharaan maupun pemulihan vegetasi yang diperlukan dan didukung fasilitasnya baik yang berupa saran yang berwujud ekologis maupun sarana social kota yang dapat didukung fasilitas sesuai untuk fungsi penghijauan tersebut.

Pasal 15 Perda Nomor 6 Tahun 2006 tentang RTRW Kota Makassar menyatakan bahwa,  pengembangan kawasan hijau lindung dilakukan melalui pembinaan kawasan sesuai dengan fungsinya, meliputi: Kawasan pesisir pantai Utara Kota sebagai kawasan hutan bakau dan  kawasan hilir Sungai Tallo sebagai kawasan hutan bakau dan  area pembibitan mangrove.

Sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 yang dimaksud dengan kawasan hijau binaan meliputi:

  1. RTH berbentuk areal dengan fungsi sebagai fasilitas umum;
  2. RTH berbentuk jalur untuk fungsi pengaman, peneduh, penyangga dan atau keindahan lingkungan.

Pengembangan kawasan hijau binaan yang dijabarkan dalam 13 kawasan terpadu dengan persentase luas ruang terbuka hijau sebagai berikut:

  1. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Pusat Kota ditargetkan sebesar 5% (lima persen) dari luas kawasan pusat Kota, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:
    1. Mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan dalam pusat kota serta hijau produktif di pekarangan;
    2. Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang bagian barat pantai Makassar;
    3. Mempertahankan lahan pemakaman (Perkuburan Arab, Baroanging, Dadi, dan Maccini) dan lapangan olah raga yang ada (Lapangan Hasanuddin, dan Karebosi);
    4.  Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat (Kawasan Lette, Baraya dan Abu Bakar Lambogo);
    5. Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman (Taman Gatot Subroto, Safari, Segitiga Balaikota,  Segitiga Hassanuddin, Segitiga jalan Masjid Raya, Segitiga Pasar Baru, Segitiga Pualam, Segitiga Ratulangi, Segitiga Tugu Harimau, dan THR Kerung-Kerung) serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan dalam pusat kota;
    6.  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
    7.  Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir Sungai Jeneberang terutama pada lingkungan padat.
    8. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Permukiman Terpadu ditargetkan sebesar 7% (tujuh persen) dari luas kawasan pemukiman terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:
      1. Menata kawasan resapan air di daerah Balang Tonjong;
      2.  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga disepanjang jalan dalam kawasan permukiman terpadu serta hijau produktif di pekarangan;
      3. Mempertahankan lahan pemakaman (Perkuburan Islam Panaikang dan Taman Makam Pahlawan) dan lapangan olah raga yang ada (Lapangan Hertasning);
      4. Meningkatkan ruang terbuka di daerah permukiman padat pada Kawasan Sukaria dan sekitarnya dan Perumnas –Toddopuli dan sekitarnya;
      5. Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;
      6. Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hijau produktif sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
      7. Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir Sungai Jeneberang terutama pada lingkungan padat;
      8. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Pelabuhan Terpadu ditargetkan sebesar 7% (tujuh persen) dari luas kawasan pelabuhan terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:
        1. Mendorong peningkatan ruang terbuka hijau pada areal reklamasi pengembangan pelabuhan Soekarno-Hatta, yang sekaligus berfungsi sebagai sarana sosialisasi;
        2.  Menata bagian hilir muara Sungai Tallo;
        3.  Mempertahankan lahan pemakaman Perkuburan Raja-Raja Tallo dan lapangan olah raga yang ada (Lapangan Sabutung-Koptu Harun);
        4.  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan dalam kawasan pelabuhan terpadu serta hijau produktif di pekarangan;
        5.  Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah permukiman padat Sabutung – Barukang dan sekitarnya;
        6.  Melestarikan lingkungan permukiman dengan pengadaan RTH Umum pada Kawasan Sabutung-Barukang dan sekitarnya melalui program perbaikan dan peremajaan lingkungan;
        7.  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hijau produktif sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
        8. penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir Sungai Tallo terutama pada lingkungan padat.
      9. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Bandara Terpadu ditargetkan sebesar 15% (lima belas persen) dari luas kawasan bandara terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:
        1. Mengamankan RTH di sekitar Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandar Udara Hasanuddin dengan budi daya pertanian;
        2.  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;
        3.  Mempertahankan lahan pemakaman Sudiang dan lapangan olah raga yang ada dalam kawasan bandara terpadu;
        4. Mengembangkan penghijauan di -pusat permukiman dalam kawasan bandara udara terpadu seperti Kawasan Perumnas Sudiang, Perumahan Pemerintah Provinsi dan kompleks-komplek perumahan lainnya dalam kawasan ini;
        5.  Mendorong peningkatan ruang terbuka hijau di daerah permukiman berkelompok yang terdapat dalam kawasan terpadu ini;
        6.  Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;
        7.  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
        8.  Mendorong penanaman pohon-pohonbesar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada lingkungan permukiman.
      10. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Maritim Terpadu ditargetkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari luas kawasan maritim terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:
        1. Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai Utara Makassar;
        2. Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;
        3.  Melestarikan taman-taman lingkungan di kawasan permukiman serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa wilayah;
        4. Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hijau produktif sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
        5.  Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman rumah, ruas jalan, terutama pada lingkungan permukiman.
      11. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Industri Terpadu ditargetkan sebesar 7% (tujuh persen) dari luas kawasan industri terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:
        1. Menata jalur hijau binaan di sepanjang jalan tol Makassar;
        2.  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan dalam kawasan;
        3.  Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang seimbang pada areal kawasan industri;
        4. Melestarikan taman-taman lingkungan di dalam kawasan industri dan kawasan permukiman sekitarnya serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;
        5. Mendorong penanaman pohon pada halaman rumah, ruas jalan, pinggir Sungai Tallo terutama pada lingkungan permukiman.
      12. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Pergudangan Terpadu ditargetkan sebesar 5% (lima persen) dari luas kawasan pergudangan terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:
        1. Menata jalur hijau di sepanjang jalan tol Makassar;
        2. Menata bagian hilir muara Sungai Tallo;
        3.  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan dalam kawasan;
        4. Mendorong tersedianya ruang terbuka hijau yang seimbang pada areal kawasan industri;
        5. Mengadakan taman-taman lingkungan dalam kawasan pergudangan melalui program perbaikan dan peremajaan lingkungan;
        6.  Mendorong penanaman pohon-pohon pelindung pada ruas jalan dan pinggir Sungai Tallo.
      13. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Pendidikan Tinggi terpadu ditargetkan sebesar 7% (tujuh persen) dari luas kawasan pendidikan tinggi terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:
        1.  Mengembangkan penghijauan di pusat-pusat kegiatan dalam kawasan pendidikan terpadu (Universitas Hasanuddin, Universitas Cokroaminoto, STIMIK Dipanegara, Universitas Islam Negeri Makassar,  Universitas Muslim Indonesia, Universitas 45);
        2. Menata dan mengembangkan jalur hijau di sepanjang jalan serta hijau produktif di pekarangan;
        3.  Mempertahankan lahan pemakaman (Perkuburan Kristen Pannara) dan lapangan olah raga milik kampus;
        4.  Meningkatkan ruang terbuka hijau di daerah-daerah permukiman yang terdapat dalam kawasan ini;
        5. Melestarikan taman-taman lingkungan yang terdapat dalam kawasan kampus dan permukiman penduduk serta pengadaan RTH Umum melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa kawasan;
        6. Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hijau produktif sebagai RTH sementara pada lahan tidur;
        7. Mendorong penanaman pohon-pohon besar/pelindung pada halaman kampus, rumah, dan ruas jalan.
      14. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Penelitian Terpadu ditargetkan sebesar 55% (lima puluh lima persen) dari luas kawasan penelitian terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:
        1. Mengamankan RTH di sekitar kawasan Lakkang;
        2.  Menata kawasan resapan air di daerah sekitar Lakkang;
        3. Menata bagian hilir daerah aliran Sungai Tallo;
        4. Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif dalam kawasan;
        5. Mendorong pengadaan ruang terbuka hijau di pusat-pusat kegiatan yang akan dikembangkan pada kawasan ini.

10. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Budaya Terpadu ditargetkan sebesar 15% (lima belas persen) dari luas kawasan budaya terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

  1. Mengamankan RTH dalam areal kawasan Taman Miniatur Sulawesi;
  2. Menata bagian hilir daerah aliran Sungai Jeneberang dan Balang Beru;
  3.  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif dalam kawasan pengembangan Taman Miniatur Sulawesi;
  4. Melestarikan taman-taman lingkungan yang terdalam dalam kawasan Taman Miniatur Sulawesi serta pengadaan RTH baru melalui program perbaikan lingkungan, peremajaan di beberapa bagian dalam kawasan ini;
  5.  Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hias dan hijau produktif sebagai RTH sementara pada lahan tidur.

11. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Olahraga Terpadu ditargetkan sebesar 18% (delapan belas persen) dari luas kawasan olahraga terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

  1. Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai bagian Barat Makassar;
  2.  Menata bagian hilir muara Sungai Jeneberang;
  3. Meningkatkan penghijauan di dalam areal pengembangan kawasan;
  4. Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif pada pusat-pusat kegiatan yang akan dikembangkan pada kawasan ini;
  5. Mendorong pembentukan taman-taman Kota dan ruang-ruang terbuka hijau sebagai wadah sosialisasi dan aktivitas warga;

12. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu ditargetkan sebesar 10% (sepuluh persen) dari luas kawasan bisnis dan pariwisata terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

  1. Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai bagian Barat Makassar;
  2. Menata bagian hilir muara Sungai Jeneberang;
  3. Meningkatkan penghijauan di daerah sekitar danau Tanjung Bunga (Sungai Balang Beru) guna menjadi wadah rekreasi dan sosialisasi warga;
  4.  Menata dan mengembangkan jalur hijau berbunga di sepanjang jalan serta hijau produktif di dalam kawasan permukiman Tanjung Bunga;
  5. Meningkatkan ruang terbuka hijau dan taman-taman kota di dalam kawasan Kota Terpadu Tanjung Bunga;
  6. Mendorong pengembangan areal budidaya tanaman hijau produktif sebagai RTH sementara pada lahan tidur;

13. Persentase luas ruang terbuka hijau pada Kawasan Bisnis Global Terpadu ditargetkan sebesar 12 persen (dua belas persen) dari luas kawasan bisnis dan global terpadu, dengan arahan pengembangannya sebagai berikut:

  1. Mengembangkan jalur hijau terbuka di sepanjang garis pantai bagian Barat Makassar;
  2. Menata dan mengembangkan kawasan hijau baru dari proses reklamasi Pantai Losari;
  3. Menata bagian hilir muara kanal Kota;
  4. Menata bagian hilir muara Sungai Balang Beru;
  5. Meningkatkan ruang terbuka hijau melalui pembuatan hutan dan taman-taman Kota secara seimbang dalam kawasan global terpadu.

 

Adanya pengaturan sebagaimana disebut di atas hal itu hanya menjadi slogan saja bahkan hanya menghabiskan dana untuk menyusun karena pada akhirnya bahwa ketika hendak member izin bangunan bagi pengusaha besar/investor  persyaratan untuk RTH dikesampingkan hal ini disampaikan oleh Ahmad Fuadi (pemerhati lingkungan LSM WALHI di Makassar, wawancara tanggal 12 November 2009).

Dalam penelitian yang dilakukan pada wilayah tertentu ditemukan berbagai lahan yang diperuntukkan untuk lahan RTH, tetapi sudah menjadi lahan terbangun itu bisa dilihat disepanjang jalan baik dalam kota terlebih pada jalan keluar kota seperti Jalan Perintis Kemerdekaan itu biasa kita lihat bangunan ruko,  Benteng Rotterdam yang seharusnya tidak dibanguni karena selain lahan tersebut diperuntukkan untuk RTH juga sudah melanggar aturan mengenai situs bersejarah, namun oleh pemerintah masih memberi izin untuk membangun.  

Kota Makasar, ternyata belum memenuhi syarat No.01/2007,tentang  penyediaan  pemanfaatan  ruang  terbuka  hijau wilayah kota (RTHKP) yang mengatur paling sedikit 30 persen.

Hal ini disampaikan Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas, Isa Karmisa Adiputra dalam  Diklat Konservasi Keanekaragaman Hayati (Kebijakan Nasional Pengelolaan Lingkungan Hidup) di Hotel Royal Regency, Makasar (Senin, 25 Juni 2007).

Dijelaskan Isa, dalam UU RTHKP, kota minimal memiliki tanaman kota, hutan kota atau yang biasa disebut  ruang  terbuka  hijau menimal 30 persen. Namun, berdasarkan pengamatan mereka, di Indonesia belum satu pun kota memenuhi syarat tersebut, termasuk Kota Makassar. “Kota-kota di Indonesia belum memenuhi UU tata ruang itu, termasuk Kota Makassar,” terangnya.

Dari penelitian diketahui bahwa tata bangunan dan penggunaan lahan peruntukan untuk RTH belum sesuai dengan apa yang telah diatur dalam Perda Nomor 6 Tahun 2006 Pasal 15 ayat 3. Anggapan ini didukung oleh pendapat responden dari pihak masyarakat sebagaimana yang tergambar dalam tabel berikut:

 

 

 

 

 

Tabel.4

Kesesuaian peruntukan Lahan untuk RTH

No.

Kategori

Frekuensi (F)

Persentase (%)

1.

sesuai

7

14,00

2.

Kurang sesuai

11

22,00

3.

Tidak sesuai

32

64,00

Jumlah

50

100

Sumber : Data Primer 2009

 

 

Pada tabel tersebut di atas memperlihatkan bahwa peruntukan lahan untuk RTH tidak sesuai dengan pemanfaatan lahan dan peletakan bangunan sesuai dengan kawasannya. Contoh pembangunan kawasan pariwisata di muara Sungai Tallo keluarahan Buloa kecamatan Tallo yang seharusnya untuk hutan mangrove dan pembibitannya (kasus Buloa), selain menyalahi Perda No.6 Tahun 2006 khususnya pada Pasal 15 ayat 3  dan terlebih Undang-Undang No. 23 Tahun 2007 tentang  Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 14 dan 15.

Berbeda dengan pendapat dari responden dari aparat yang mana menyatakan bahwa pembangunan  pada kawasan tersebut di atas sudah sesuai karena untuk meningkatkan pendapatan daerah, hal itu bisa dilihat dari tabel sebagai berikut:

Tabel.5

Kesesuaian peruntukan Lahan untuk RTH

No.

Kategori

Frekuensi (F)

Persentase (%)

1.

sesuai

24

63,16

2.

Kurang sesuai

13

34,21

3.

Tidak sesuai

1

2,63

Jumlah

38

100

Sumber : Data Primer 2009

  1. 4.    Kawasan Pemukiman

Perkembangan jumlah penduduk merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi perubahan dan pemekaran kota. Penduduk dan kegiatannya memerlukan lahan untuk memenuhi kebutuhan akan ruang. Selain itu lahan akomodasi setiap pertumbuhan jumlah penduduk maupun perkembangan kegiatan penduduknya.

Dalam penelitian yang dilakukan ditemukan adanya  peletakan pemukiman yang tidak sesuai dengan peruntukan lahan atau inskonsistensi terhadap  apa yang telah ditetapkan sebagaimana yang ditetapkan dalam pembagian kawasan BWK dan Perda Nomor 6 Tahun 2006 yang mana dinyatakan Lebih lanjut dalam Pasal 17  ayat (1) mengenai Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman dikatakan Kawasan permukiman terdiri atas kawasan permukiman dengan kepadatan tinggi dan sedang, dan kawasan permukiman dengan kepadatan rendah. (2) Pengembangan permukiman secara bertahap diarahkan untuk mencapai norma 1 (satu) unit rumah yang layak untuk setiap keluarga. (3) Setiap kawasan permukiman secara bertahap dilengkapi dengan sarana lingkungan yang jenis dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat berdasarkan standar fasilitas umum/fasilitas sosial. (4) Fasilitas Umum/Fasilitas Sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi: 1. Fasilitas Pendidikan; 2. Fasilitas Kesehatan; 3. Fasilitas Peribadatan; 4. Fasilitas Olah Raga/Kesenian/Rekreasi; 5. Fasilitas Pelayanan Pemerintah; 6. Fasilitas Bina Sosial; 7. Fasilitas Perbelanjaan/Niaga; 8. Fasilitas Transportasi. (5) Bangunan campuran pada kawasan permukiman terdiri dari campuran antara perumahan dengan jasa, perdagangan, industri kecil dan atau industri rumah tangga secara terbatas beserta fasilitasnya. (6) Rencana pengembangan kawasan permukiman sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),(2),(3),(4),(5) di masing-masing kawasan terpadu diuraikan sebagai berikut:

  1. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Pusat Kota ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 631,19 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
    1. Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berat dan sedang (Lette, Baraya dan Abu Bakar Lambogo) termasuk kawasan permukiman yang berada di sepanjang bantaran kanal Kota;
    2. Mendorong pengembangan peremajaan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh berat secara terbatas;
    3. Mendorong  pengembangan kawasan permukiman secara vertikal dan memperkecil perpetakan untuk penyediaan perumahan golongan menengah-bawah yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai;
    4. Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkompleks di dalam Kota;
    5. Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khusus pada kawasan pemugaran dan bangunan bersejarah dalam Kota;
    6. Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
    7. Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
    8. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
    9. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Permukiman Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 1.151,80 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
      1. Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan
      2. Mengembangkan kawasan permukiman baru terutama di wilayah bagian Timur Kota (antara jalan lingkar tengah)
      3. Mendorong pengembangan kawasan permukiman KDB rendah beserta fasilitasnya di daerah pengembangan
      4. Permukiman mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkompleks didalam kawasan;
      5. Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
      6. Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
      7. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.

 

  1. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Pelabuhan Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 87,55 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
    1. Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan pelabuhan terpadu;
    2. Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh sedang dan ringan (kawasan pesisir pantai utara, galangan kapal-Paotere) secara terbatas melalui pengembangan secara vertikal, yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai;
    3. Mengembangkan permukiman masyarakat menengah ke atas pada areal reklamasi pantai Utara;
    4. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman di kawasan Kota Tua/Bersejarah dan Pelabuhan Soekarno-Hatta sekaligus melestarikan lingkungannya;
    5. Membatasi pemanfaatan kawasan dengan fungsi tertentu khususnya pada kawasan pemugaran dan atau bangunan bersejarah dalam Kota seperti lingkungan dan bangunan makam raja-raja Tallo;
    6. Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
    7. Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman penduduk;
    8. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
    9. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Bandara Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 154,59 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
      1. Mengarahkan pengembangan kawasan permukiman KDB rendah di sekitar Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan Bandara Hasanuddin dengan upaya mengembangkan budidaya tanaman hijau produktif dan pertanian;
      2. Mendorong pengembangan peremajaan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh;
      3. Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur, yang tersebar dalam kelompok-kelompok perumahan berkelompok dalam kawasan;
      4. Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
      5. Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
      6. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
    10. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Maritim Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 92,59 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
      1. Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh dalam kawasan maritim terpadu berikut dengan penyediaan saranan dan prasarana yang memadai;
      2. Mengembangkan permukiman nelayan yang bernuansa wisata dan berwawasan lingkungan hidup di kawasan Pantai Utara dan pulau-pulau yang dihuni di Kepulauan spermonde;
      3. Mengembangkan kawasan permukiman baru yang sesuai dengan atmosfir kawasan maritim;
      4. Mempertahankan lingkungan permukiman nelayan ‘Untia” yang sudah ada;
      5. Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
      6. Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
      7. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah  ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
    11.  Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Industri Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 106,30 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
      1. Mengembangkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh dalam kawasan industri terpadu secara terukur dan terkontrol;
      2.  Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur yang terdapat dalam kawasan;
      3. Pengembangan dan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh dilakukan melalui pengembangan secara vertikal, dan memperkecil perpetakan untuk penyediaan perumahan golongan menengah-bawah yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai;
      4. Mempertahankan lingkungan permukiman yang teratur;
      5. Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
      6. Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman dalam kawasan industri terpadu;
      7. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
    12. Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman pada Kawasan Pergudangan Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 392,60 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
      1. Mengarahkan pengembangan lingkungan permukiman secara lebih teratur berdasarkan uraian dan arahan perencanaan yang sesuai dengan atmosfir kawasan sebagai kawasan pergudangan;
      2. Mendorong penyediaan fasilitas umum dalam kawasan permukiman yang dikembangkan;
      3. Membatasi pengembangan lingkungan permukiman yang tidak sesuai dengan atmosfir kawasan sebagai kawasan pergudangan.
    13.  Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman pada Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 1.085,16 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
      1. Mengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh ringan (pampang-pesisir sungai pampang) berikut dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai;
      2. Mengembangkan kawasan permukiman KDB rendah dalam areal kawasan;
      3. Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
      4. Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
      5. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.
    14. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Penelitian Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 29,33 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
      1. Mengarahkan pengembangan lingkungan permukiman yang sesuai dengan konsep dan atmosfir wilayah sebagai kawasan penelitian terpadu;
      2. Mengarahkan pengembangkan pola perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman kumuh yang berada pada bagian hilir daerah aliran Sungai Tallo berikut dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai;
      3. Mengembangkan kawasan permukiman KDB rendah dalam areal kawasan;
      4. Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
      5. Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
      6.  Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.

10. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Budaya Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 51,00 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:

  1. Mengarahkan pengembangan lingkungan permukiman yang sesuai dengan konsep dan atmosfir wilayah sebagai kawasan budaya terpadu;
  2. Mengarahkan perbaikan lingkungan pada kawasan permukiman warga dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai;
  3. Membatasi pemanfaatan dan pelestarian lingkungan khususnya pada kawasan pemugaran dan bangunan bersejarah dalam kawasan.

11. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Olahraga Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas187,92 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:

  1. Mendorong pengembangan kawasan permukiman baru berikut dengan penataan lingkungannya yang disesuaikan dengan irama, aroma dan warna kawasan sebagai kawasan olahraga terpadu;
  2. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman dan lingkungannya yang tidak sesuai dengan konsep dan atmosfir kawasan sebagai kawasan olahraga terpadu;
  3. Mendorong penyediaan sarana dan prasarana dalam kawasan permukiman yang dikembangkan dalam kawasan olahraga terpadu.
  4. 12.  Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Bisnis dan Pariwisata Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 134,81 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:
    1. Mengarahkan pengembangan lingkungan permukiman yang sesuai dengan konsep dan atmosfir wilayah sebagai kawasan bisnis dan pariwisata terpadu;
    2. Mempertahankan kawasan permukiman KDB rendah pada daerah permukiman Tanjung Bunga;
    3.  Mempertahankan fungsi perumahan pada kawasan mantap;
    4.  Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman;
    5. Membatasi perubahan fungsi kawasan permukiman yang sudah ada dan sekaligus melestarikan lingkungannya.

13. Rencana pengembangan kawasan permukiman pada Kawasan Bisnis Global Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 95,52 Ha, dengan uraian arahan pengembangannya sebagai berikut:

  1. Mendorong perbaikan dan penataan lingkungan permukiman pada kawasan perencanaan melalui pengembangan secara vertikal, yang dilengkapi sarana dan prasarana yang memadai;
  2. Mengembangkan kawasan permukiman dengan KDB rendah melalui pengembangan permukiman masyarakat menengah atas pada areal reklamasi pantai;
  3. Melengkapi fasilitas umum di kawasan permukiman.

 

Dari wawancara dengan Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah Kota Makassar terungkap (dalam wawancara tanggal 17 Oktober 2009) bahwa koordinasi perencanaan pemanfaatan kawasan Kota Makassar sudah direncanakan melalui penyusunan RTRW yang bertujuan menjaga keserasian pembangunan antar sektor dan mewujudkan peletakan bangunan yang sesuai dengan peruntukan agar tidak terjadi penyimpangan atau disparitas pemanfaatan kawasan. Dengan disusunnya RTRW dan dengan ditetapkannya Perda Nomor 6 Tahun 2006 maka diharapkan dapat menjadi pedoman bagi pelaksanaan pembangunan baik jangka pendek maupun jangka panjang di Kota Makassar, sehingga tata bangunan dapat benar-benar sesuai dengan peletakan bangunan dan perencanaan pembangunan kota  ke depan.

Temuan penelitian diketahui bahwa ada sejumlah faktor yang menyebabkan sehingga tata bangunan masih kurang sesuai dengan peletakan bangunan dan peruntukan kawasan sehingga menyimpang dari RTRW Kota Makassar dan Perda Nomor 6 Tahun 2006, yaitu : (a) koordinasi  penyusunan rencana pengembangan kota masih sangat kurang  sehingga antar instansi terkait tidak terjalin suatu kerjasama yang optimal dalam rangka pengembangan kota. Hal ini dapat dilihat dari sejumlah kegiatan pengembangan yang sudah dilakukan Nampak tidak terdapat kesesuaian mengenai program pembangunan dan pemanfaatan ruang. Contoh: Dinas PU tidak mengkoordinasikan pembangunan jalan dan jembatan dengan PDAM, Telkom, PLN sehingga sering terjadi pembongkaran berulang-ulang karena adanya tumpang tindih program; (b) masing-masing instansi mengutamakan program kerjanya sendiri-sendiri, sehingga ada rencana instansi tidak sesuai dengan RTRW namun tetap dilaksanakan karena adanya kepentingan instansi bersangkutan terhadap pembangunan dan pemafaatan ruang.

Peralihan fungsi lahan basah menjadi lahan terbangun untuk pemukiman seperti daerah Panakukang, Tamalanrea dan Biringkanaya sehingga banyak menimbulkan banjir setiap tahun.

Hasil penelitian ditemukan bahwa fenomena banjir yang menenggelamkan semakin banyak lokasi perumahan dari tahun ke tahun, dimana banjir tidak berkorelasi dengan tingginya curah hujan, sebagaimana di lansir oleh BMG wilayah IV bahwa pada tahun 2007 dengan 2009, namun kondisi banjir ternyata lebih hebat.

 

Hal ini disebabkan cara pengambilan kebijakan yang salah, diduga telah menjadi penyebab utama permasalahan lingkungan di Kota Makassar, seperti kantong-kantong penampungan air sudah tidak ada, pembangunan waduk tunggu dan kanal yang tidak berfungsi baik, perencanaan tata ruang kota yang salah, pembangunan komplek-komplek perumahan yang tidak mengindahkan AMDAL karena pemerintah selalu memberi izin pengembangan tanpa memperdulikan persyaratan yang  diperlukan yang penting “pemasukan”, saluran air yang tidak berfungsi baik karena tidak akrab lingkungan, tertutup sampah atau tidak berhubungan dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan lainnya atau ke tempat pembuangan pembangunan jalan tol yang menutupi daerah resapan air dan aliran air ke laut, kesadaran lingkungan  warga kota yang rendah, dan inskonsistensi pemerintah dalam menjalankan kebijakan.

5.  Kawasan Industri

Sedangkan rencana struktur pemanfaatan ruang wilayah kota menurut Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 khususnya peruntukan kawasan industri  dijabarkan kedalam struktur pemanfaatan ruang kota yang terdapat dalam Pasal 19 ayat 1-4 yang meliputi :

Rencana pengembangan kawasan industri di Makassar hanya diperbolehkan pada 4 (empat) kawasan terpadu sebagai berikut:

  1. Kawasan Pelabuhan Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 43,78 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
    1. Mengarahkan pengembangan industri selektif yang mendukung fungsi pelabuhan secara terpadu;
    2. Mengembangkan kegiatan industri pada kawasan yang terbangun dengan penyediaan dan/atau penambahan fasilitas penunjang beserta penghijauan yang lebih nyaman.
    3. Kawasan Bandara Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 128,83 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
      1. Mengarahkan pengembangan industri berteknologi tinggi yang tidak mengganggu lingkungan hidup sebagai satu kesatuan kawasan berikat;
      2. Mengembangkan industri kecil yang tidak berpolusi dan berwawasan lingkungan hidup.
      3. Kawasan Maritim Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 30,88 Ha, dengan arahan rencana sebagai berikut:
        1. Mengarahkan kegiatan industri yang berlokasi di dekat permukiman hanya untuk jenis-jenis industri kecil dan tidak polutif serta berwawasan lingkungan;
        2. Mengarahkan pengembangan kegiatan industri yang berhubungan dengan kegiatan industri perikanan.
      4. Kawasan Industri Terpadu ditargetkan menempati wilayah perencanaan seluas 531,48 Ha dengan arahan rencana sebagai berikut:
        1. Menjadi pusat dari semua kegiatan pengembangan industri;
        2. Merelokasi industri menengah dan besar dari pusat Kota kedalam kawasan;
        3. Mengatur dan mengendalikan kegiatan industri secara terbatas terhadap kegiatan industri yang berisiko tinggi menimbulkan efek negatif terhadap perkembangan manusia dan lingkungan.

Adanya industry di tengah kota bukannya di kawasan industry menunjukkan bahwa pemerintah tidak pernah mau beritikad baik terhadap lingkungan dan senantiasa melanggar aturan yang sudah dibuat sendiri. Contoh pabrik atap seng yang ada di Panaikang yang sudah nyata melanggar RTRW dan Perda Nomor 6 Tahun 2006 namun tetap saja dipertahankan hal ini telah melanggar Pasal 20 ayat 4. Keberadaan pabrik sermani tersebut sudah sangat tidak sesuai lagi dengan AMDAL karena Air dibelakang komplek itu tidak bisa dipakai karena  menyebabkan gatal-gatal apalagi untuk diminum.

Dan ini lebih berbahaya bahwa dibelakang komplek tersebut merupakan saluran penyediaan air PDAM yang pasti bahwa limbahnya lama kelamaan akan mencemari saluran PDAM tersebut.

Adanya pergudangan yang ditempat di dalam kota sudah sangat menyalahi RTRW dan Perda Nomor 6 Tahun 2006. Sebagaimana yang ditemukan oleh anggota DPRD Kota Makassar dari Komisi A Bidang Pemerintahan yang dipimpin langsung ketuanya Yusuf Gunco di bilangan Jl Veteran Selatan ditemukan beberapa toko bahan yang dijadikan gudang. Bahkan salah satu Toko Sentral Bangunan sengaja membuat gudang tiga lapis dengan panjang sampai 400 meter (Fajar, 25 Oktober 2008).

Selain Toko Sentral Bangunan, pada Sidak bersama antara dewan dan Dinas Tata Bangunan dan Perizinan serta Asisten II Pemkot, Ruslan Abu, juga ditemukan beberapa ruko yang dijadikan gudang sebagai tempat penyimpan barang. Seperti Toko Sama Utama, Bintang Jaya, Veteran Bangunan dan beberapa lainnya.
Ketua Komisi A Yusuf Gunco menegaskan akan memangil semua pemilik usaha untuk meminta kejelasan Izin mulai Surat Izin Tempat Usaha (Situ), Surat Izin Usaha (Siup) termasuk pelanggaran perda terkait gudang dalam kota. “Banyak sekali pelanggaran, seperti Toko Sentral Bangunan barang bangunannya disimpan dalam rumah bahkan dibuat tiga lapis, kemudian Toko Sama Utama memasang bak air di tempat parkir, serta lainnya yang Situ, Siupnya sudah mati beberapa tahun lalu. Kami akan panggil dan meminta kejelasan mengenai izinnya kalau melanggar ditutup sementara hingga izinnya lengkap dan memindahkan gudangnya ke kawasan pergudangan,” terang Yugo disapa akrab.

Sementara itu komentar keras juga dilontarkan anggota komisi A Mustagfir Sabry, gudang dalam kota harus dipindahkan ke kawasan pergudangan di KIMA, kemudian menindak tegas para mafia pergudangan (wawancara, tanggal 27 Oktober 2009). “Kalau melanggar ditutup saja, atau diberikan teguran keras untuk memindahkan gudangnya ke KIMA. Hari Jumat Komisi A akan memanggil mereka meminta kejelasan izinnya,” paparnya.

Asisten II Pemkot Makassar, Ruslan Abu, (wawancara tanggal 15 Oktober 2009) mengakui dalam sidak tersebut masih banyak gudang dalam kota dengan modus operandi ruko dijadikan gudang, termasuk Izin Mendirikan Bangunannya (IMB). “Dari pengalaman ini akan kami tindak tegas pemilik ruko menjadikan rukonya sebagai gudang penyimpangan, tidak boleh itu. Sebab, sudah diatur dalam perda, gudang harus di area pergudangan KIMA,” tuturnya.

Pemilik toko sekaligus dijadikan gudang Sentral Bangunan Henky Gozal, mengaku bahwa tokonya masuk dalam claster gudang, termasuk izin-izinnya yang belum rampung. “Belum lengkap pak izinnya, nanti pak dilengkapi izin-izinnya,” kelit Henky sambil menjawab pertanyaan Yugo saat ditanyai seputar izinnya. Sementara itu, pemilik Toko Sama Utama, Eng Ing Lie, malah mengatakan kenapa mesti dilarang membuat toko besar-besar apalagi memperluas usaha. “Kenapa pemerintah marah kalau mau simpan barang dalam rumah apalagi kalau mau dibangun besar-besar, ditambah lagi dewan marah-marah,” akunya polos .

Beberapa hasil temuan penelitian ini dijalan Rajawali juga terdapat gudang yang cukup besar, kemudian Jalan Laiya, Kubis, Kalimantan, Tallo, Sunu dan Wajo beberapa gudang lainnya yang tidak tersentuh oleh pemkot dan dewan.

 

  1. C.    Peranan Pemerintah

Perencanaan  merupakan titik permulaan dari suatu rangkaian proses yang nantinya akan berpengaruh terhadap kualitas suatu produk, sama halnya dengan RTRW pada suatu kawasan lingkungan dimana diadakan suatu perencanaan dan ini merupakan suatu indipenden variabel yang dalam banyak kasus sangat menentukan atau paling berpengaruh dan amat sulit untuk di antisipasi apabila tidak betul-betul diteliti dan disusun dengan baik.

Perencanaan sebagai sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam suatu pembangunan namun sangat sulit dilakukan. Sehingga menjadi penyebab utama untuk menjadi alasan tidak menjalankan bahkan perencanaan sering dipandang sebagai suatu ritualitas dan formalitas legal belaka.

                     Suatu produk perencanaan yang telah dibuat dengan sebaik mungkin namun dalam implementasinya dibutuhkan suatu pengawasan. Perencanaan dapat berjalan dengan baik apabila dibarengi oleh suatu pengawasan yang baik. Sebaik manapun rencana itu tanpa diikuti oleh pengawasan maka akan menemui suatu kendala yang berat nantinya.

  1. 1.    Aparat

Aparat pelaksana merupakan unsure yang tidak dapat dipisahkan dari pengimplementasian hukum, dan seberapa jauh kemampuan sebuah produk hukum dapat mencapai tujuannya. Biasanya sangat ditentukan oleh tingkat kemampuan seorang aparat pelaksananya.

Karena begitu pentingnya peran aparat pelaksana ini sehingga terdapat dugaan sebagian kalangan menyatakan bahwa kemampuan dan profesionalisme  aparat lebih penting artinya dibandingkan dengan substansi produk hukum, sebagaimana sebuah pameo hukum mengatakan mana yang akan dipilih hukum yang baik tetapi dijalankan oleh aparat yang tidak baik ataukah hukum yang tidak baik dijalankan oleh aparat yang baik tentu kalau kita memilih hukum yang tidak baik dijalankan oleh orang yang baik maka masih ada kemungkinan untuk dijalankan dengan baik dibandingkan apabila dijalankan oleh aparat yang tidak baik sudah pasti tidak baik. Oleh karena itu kekrung sempurnaan sebuah produk hukum akan ditutupi oleh kualitas dan propfesionalisme aparat pelaksana.

Di dalam penelitian ditemukan kelemahan-kelemahan para pegawai negeri bahwa ketidakmampuan dan ketidak profesionalan aparat pemerintah itu dapat diamati dan dilihat  pada instansi/dinas pelaksana teknis, utamanya Dinas Tata Bangunan/Ruang, yang cenderung bekerja dalam paradigm lama, yang tidak konsisten, menggampangkan persoalan, bahkan mengabaikan rencana tata ruang. Kelemahan yang berkaitan dengan aspek kelembagaan yang dimonopoli oleh pegawai negeri tersebut, juga akan sangat membuka kemungkinan bagi terjadinya kolusi dengan pihak pengusaha serta dengan pihak pemerintah sendiri, termasuk dengan DPRD.

Seperti pengalih fungsian tanah di depan situs cagar budaya Benteng Rotterdam yang dibangun ruko. Dimana lahan tersebut ditetapkan sebagai ruang terbuka atau RTH, yang kemudian mendapat persetujuan dari DPR, namun hal ini disoroti sebagai bentuk Kolusi diam-diam antara Pemerintah Makassar dengan DPRD Kota Makassar dengan pengembang.

Indikasi ketidak profesionalan aparat, terutama dapat didentifikasi pada pendekatan yang cenderung terlampau memperioritaskan pendekatan ekonomi jangka pendek sedemikan rupa, sehingga melupakan aspek-aspek social budaya, lingkungan, hukum, serta politis. egoisme pemerintah untuk selalu “memenangkan” pendapatan asli daerah (PAD) dalam menyusun dan melaksanakan program penataan ruang, telah menjadi penyebab utama  berbagai masalah keruangan dan lingkungan di kawasan ini.

Penempatan Terminal Regional Daya di Bagian Barat Kelurahan Daya Kota Makassar, pembangunan komplek-komplek perumahan pada daerah resapan air seperti Panakukang, Tamalanrea, termasuk Tanjung Bunga, ini merupakan sebagian contoh kebijaksanaan perencanaan  ruang yang tidak bijaksana, bahkan tidak berdemensi ruang oleh karena tidak memberikan solusi, bahkan dapat menimbulkan masalah keruangan baru bagi kawasan ini.  

  1. 2.    Rencana

Kualitas ruang, sebagaimana halnya bidang-bidang pembangunan lainya, bagaimanapun akan dipengaruhi secara signifikan oleh kualitas rencananya, karena sebuah rencana tata ruang akan menjadi pedoman bagi pelaksanaan program penataan ruang dan aspek-aspek yang berkaitan dengannya. Sebagaimana telah dikemukakan, terdapat berbagai faktor yang mempengruhi  implementasi sebuah produk hukum, oleh karena dalam masyarakat dimana produk hukum itu akan diberlakukan, terdapat berbagai factor dan keadaan yang tidak mungkin diabaikan dalam perencanaan.

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa selama ini, kecenderungan merahasiakan rencana tata ruang, dengan alasan klasik untuk mencegah spekulasi tanah masih juga berlangsung, sehingga bukan saja warga masyarakat yang tidak mengetahuinya tetapi aparat pemerintahpun tidak tahu menahu mengenai rencana tersebut secara jelas.

Alasan klasik ini sesungguhnya tidak berlaku lagi mengingat bahwa pembatasan akses masyarakat terhadap rencana tata ruang, dalam kenyataannya, tidaklah berhasil mencegah spekulasi tanah, malahan menyuburkan praktek percaloan tanah. Kebiasaaan menyembunyikan rencana tata ruang seperti ini, yang dalam kenyataan di lokasi studi telah berlangsung sejak tahap awal penyusunan rencana, justru telah memuskilkan kesempatan masyarakat luas untuk berpartisipasi, dan menyebabkan ketidak pastian di bidang program penataan ruang.

 

  1. 3.    Konsistensi

Setelah rencana tata ruang  dibuat  dan diberi landasan hukum yang semestinya, maka konsistensi mulai dari tahapan pemberian izin, pengawasan, dan bahkan penertiban, menjadi sangat penting. Penegakan (hukum) tata ruang merupakan suatu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas ruang  dan lingkungan hidup, yang tidak mungkin dilepaskan dari aspek-aspek perencanaan serta kondisi penerimaan masyarakat di mana hukum itu ditegakkan.

Berbagai laporan dan fenomena tentang pelaksanaan hukum telah mengungkapkan betapa konsistensi ini telah menjadi faktor utama dari terjadinya berbagai pelanggaran dan pengabaian  terhadap norma-norma hukum, sehingga berimplikasi pada buruknya kualitas ruang dan lingkungan hidup. Penentu kebijakan dan pengelola perkotaan yang seharusnya menjadi “wasit”, cenderung ikut bermain bahkan menjadi pemain utama, rules of the game telah berubah menjadi game of the rules, dan akibatnya sebagaimana diungkapkan Budihardjo adalah bahwa rencana kota yang telah disusun dengan susah payah menjadi terjungkir balik tidak karuan, dan pada akhirnya, rakyat hanya tinggal diam menjadi “korban aturan”.

Dalam hal adanya kecenderungan pelanggaran/pengabaian terhadap norma-norma tata ruang dan lingkungan hidup, berikut dikemukakan pendapat para responden yang berasal dari aparat  atau birokrasi sebagai berikut:

                                                         Tabel. 6

Pelanggaran/pengabaian terhadap norma-norma Tata Ruang

dan Lingkungan Hidup

No.

Kategori Jawaban

Frekuensi

Persen (%)

1.

2.

3.

 

4.

5.

Pemerintah dan pejabat

Pengembang/Pengusaha

Oknum aparat pemerintah yang berkolusi dengan pengusaha

Masyarakat Umum

Tidak menjawab

2

8

 

12

14

2

5,26

21,05

 

31,58

36,84

5,26

Jumlah

38

100

Sumber : Data Primer 2009

Data tersebut menunjukkan mayoritas pelanggar tata ruang dalam pandangan responden, didominasi oleh masyarakat umum  dimana 14 orang responden atau 36,84% dan kalangan pemerintah yang berkolusi dengan pengusaha yaitu 12 orang responden atau 31,58%, disusul oleh pengembang/pengusaha 8 responden atau 21,05% dan terakhir oleh kalangan pemerintah dan pejabatnya 2 responden atau 5,26%.

Pendapat responden mengenai pelanggar atau pengabaian terhadap norma-norma tata ruang dan lingkungan hidup dari kalangan masyarakat dapat dilihat pada table berikut:

                                                            Tabel. 7

Pelanggaran/pengabaian terhadap norma-norma Tata Ruang

dan Lingkungan Hidup

No.

Kategori Jawaban

Frekuensi

Persen (%)

1.

2.

3.

 

4.

5.

Pemerintah dan pejabat

Pengembang/Pengusaha

Oknum aparat pemerintah yang berkolusi dengan pengusaha

Masyarakat Umum

Tidak menjawab

4

12

 

24

8

2

8,00

24,00

 

48,00

16,00

4,00

Jumlah

50

100

Sumber : Data Primer 2009

Data tersebut menunjukkan mayoritas pelanggar tata ruang dalam pandangan responden yang berasal dari masyarakat umum, didominasi oleh kalangan pemerintah yang berkolusi dengan pengusaha yaitu 24 orang responden atau 48,00%, disusul oleh pengembang/pengusaha 12 responden atau 24,00% dan terakhir oleh kalangan pemerintah dan pejabatnya 4 responden atau 8,00%.

“Kolusi, Korupsi dan Nepotisme” antara pemerintah dengan kalangan pengusaha/pengembang atau unsur  masyarakat tertentu ini terbukti dipandang sebagai faktor  dominan dalam kesembrawutan dan keburukan kualitas tata ruang kota, dan lemahnya sector penegakkan hukum ini belum juga tertangani dan masih saja menjadi slogan-slogan dan komoditas politik belaka.

Hal demikian ini, terjadi oleh karena komitmen jangka panjang pemerintah yang masih dipertanyakan, terutama inkonsistensi aparat yang tetap menerbitkan izin membangun pada lokasi-lokasi yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang kota dan tidak sesuai ditinjau dari aspek lingkungan hidup. Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan Kota Makassar, Andi Oddang Wawo menyatakan bahwa inskonsistensi demikian cenderung terjadi oleh karena pemerintah daerah berdalih bahwa PAD tidak akan masuk dan tidak terpenuhi targetnya jika keinginan investor tidak dipenuhi. Hal senada juga disampaikan oleh ketua REI Sulsel bahwa hal ini pemberian izin perumahan yang tanpa memperhitungkan kelayakan lahan  dan amdalnya sehingga membuat suatu perumahan kumuh baru (wawancara tanggal 16 November 2009).

Konsistensi ini tidak saja disyaratkan pada dinas/instansi yang bertanggung  jawab langsung di bidang ini yaitu Dinas Tata Bangunan/Dinas Tata Ruang serta Badan Pertanahan Nasional, tetapi juga instansi lain yang semestinya mendukungnya. Tidak jarang terjadi bahwa instansi pendukung atau lembaga pendukung seperti DPRD, justeru mem-back up pelanggar tata ruang, hal ini dikemukakan oleh Andi Oddang Wawo.

 

Pada pihak lain, kesemberawutan tata ruang terjadi  oleh karena adanya oknum-oknum masyarakat yang membangun tanpa IMB, yang penyebabnya biasa karena mereka tidak tahu tata ruang kota (oleh karena tidak disosialisasikan) atau karena Kolusi dengan pemberi Izin ungkap Nasran Mone (Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar) (wawancara tanggal 24 Oktober 2009).

Saling menyalahkan lempar tanggung jawab demikian itu, makin menunjukkan bahwa masalah konsistensi dalam rangka penegakan norma-norma tata ruang dan lingkungan hidup, sudah semakin disadari sebagai faktor yang sangat berpengaruh terhadap buruknya kualitas ruang dan lingkungan hidup, terutama di perkotaan. Alam tidak lagi menjadi  “penyebab utama” dari suatu kondisi lingkungan, tetapi telah sering tergeser perannya oleh faktor-faktor  non-alamiah berupa hasil kerja manusia yang tidak  bijaksana mengelola sumber daya alam.

Berkaitan dengan hal itu, dalam kenyataannya, penilaian responden terhadap kepatuhan hukum aparat pemerintah, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

                                                         Tabel.8

Pandangan Responden tentang Kepatuhan Hukum Aparat

No.

Kategori Jawaban

Frekuensi

Persen (%)

1.

2.

3.

 

4.

5.

Belum

Hanya bekerja jika diawasi pimpinan

Hanya bekerja baik jika ada keuntungan pribadi

Ya, baik

Tidak menjawab

18

13

 

14

3

2

36,00

26,00

 

28,00

6,00

4,00

Jumlah

50

100

Sumber : Data Primer 2009

Dari tabel 8 tersebut di atas menunjukkan bahwa, mayoritas responden menilai bahwa aparat pemerintah belum melaksanakan tugasnya secara baik dalam rangka menata ruang dan lingkungan hidup yaitu 18 responden 36,00%, serta hanya bekerja dengan baik jika ada keuntungan pribadi yang diperolehnya dari pekerjaan itu  14 responden atau 28,00%; sebesar 26,00% atau 13 responden menilai bahwa aparat hanya bekerja jika diawasi oleh pimpinan, dan hanya  6,00% atau 3 responden  yang menilai kualitas kerja aparat sudah baik serta 2 responden atau 4,00 % yang tidak menjawab.

           4.Pengawasan

Tindakan pengawasan merupakan salah satu tindakan pokok sehubungan dengan koordinasi perencanaan tata ruang. Pengawasan yang dimaksud adalah pengawasan dalam hal implementasi RTRW yang bertujuan untuk mewujudkan kesesuaian peruntukan kawasan dan tidak terjadinya penyimpangan atau disparitas terhadap pembangunan di Kota Makassar. Tindakan pengawasan penting dilakukan karena saat ini nampak bahwa salah salah satu aspek pengawasan belum dilaksanakan dengan baik adalah pengawasan melalui mekanisme perizinan yang dikelola sehingga ada sejumlah pembangunan yang dilaksanakan baik oleh masyarakat maupun pemerintah tidak sesuai dengan peruntukan kawasan.

Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa tindakan pengawasan pemanfaatan ruang  Kota Makassar masih kurang dilaksanakan. Hal mana dapat dilihat atau dapat tercermin dari tanggapan responden pada tabel berikut:

 

 

                                                             Tabel.9

Pengawasan Pemanfaatan Peruntukan Kawasan Kota Makassar

No.

Kategori Jawaban

Frekuensi (F)

Persen (%)

1.

2.

3.

Tidak dilakukan

Kurang dilakukan

Dilakukan

8

18

12

21,05

47,37

31,58

Jumlah

38

100

 Sumber : Data Primer 2009

Tanggapan responden aparat pada table 9 tersebut di atas  memperlihatkan bahwa pelaksanaan pengawasan untuk pemanfaatan kawasan di Kota Makassar dapat dilaksanakan dengan baik, efektif dan efisien, karena  sejumlah 18 orang responden atau  47,37 persen responden memberi tanggapan kurang dilakukan dan 12 orang responden atau 17,05 persen responden yang memberikan tanggapan dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel.10

Pengawasan Pemanfaatan Peruntukan Kawasan Kota Makassar

No.

Kategori Jawaban

Frekuensi (F)

Persen (%)

1.

2.

3.

Tidak dilakukan

Kurang dilakukan

Dilakukan

28

15

7

56,00

30,00

14,00

Jumlah

50

100

Sumber : Data Primer 2009

Tanggapan responden yang berasal dari masyarakat  berbeda dengan tanggapan responden aparat pada table 9 itu bisa dilihat pada table 10 tersebut di atas  memperlihatkan bahwa pelaksanaan pengawasan untuk pemanfaatan kawasan di Kota Makassar belum dilaksanakan dengan baik, efektif dan efisien, karena  sejumlah 28 orang responden atau  56,00 persen responden memberi tanggapan kurang tidak dilakukan dan hanya 7 orang responden atau 14,00 persen responden yang memberikan tanggapan dilakukan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pengawasan terhadap pemanfaatan peruntukan kawasan di Kota Makassar menyebabkan kesesuaian kawasan dengan pelaksanaan pembangunan kota semakin bertambah yang menyebabkan penataan kota tidak dapat dilaksanakan secara optimal.

 

Pelaksanaan pengawasan untuk mewujudkan kesesuaian kawasan di Kota Makassar yang belum dilaksanakan dengan efektif disebabkan karena kerjasama antar instansi bahkan lembaga yang belum berjalan sesuai harapan, seperti penerbitan IMB yang tidak memperhatikan dan berpedoman pada RTRW sehingga ada kesan meskipun IMB yang diterbitkan melanggar RTRW namun aparat tetap menerbitkan IMB tersebut. Selain itu aparat belum dapat bertindak dengan tegas dengan membongkar bangunan-bangunan yang dianggap tidak sesuai dengan RTRW, menyebabkan semakin bertambahnya bangunan yang dibangun tidak sesuai dengan peruntukan kawasan.

Dari penelitian yang dilakukan, diketahui jumlah bangunan yang dibangun tidak sesuai dengan peruntukan kawasan dalam tiga tahun terakhir nampak meningkat, sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

Tabel.11

Kondisi Bangunan yang tidak sesuai dengan peruntukan

di Kota Makassar

No.

Jenis Bangunan

2007

2008

2009

1.

2.

3.

Permanen

Semi Permanen

Biasa

46

57

73

62

66

75

72

78

96

Jumlah

176

203

246

Sumber : Dinas Tata Ruang Kota Makassar 2009

Data di atas menunjukkan bahwa bangunan yang pembangunannya tidak sesuai dengan peruntukan kawasan di Kota Makassar baik bangunan permanen, semi permanen maupun  bangunan biasa meningkat dalam tiga tahun terakhir ini. Peningkatan tersebut cenderung besar jumlahnya pada setiap tahun yang menunjukkan bahwa pelaksanaan pengawasan masih kurang baik dilakukan terhadap pemanfaatan ruang.

 

  1. 4.    Sanksi

Salah satu hal terpenting yang dimiliki oleh Undang-undang Penataan Ruang (UUPR) No. 26 Tahun 2007 dan tidak ditemukan dalam UUPR sebelumnya adalah pemberian sanksi terhadap pelanggar tata ruang. Sanksi akan diberikan kepada pengguna ruang yang melanggar peruntukan tata ruang. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Penataan Ruang Nasional Iman Soedradjat dalam acara Dialog Tata Ruang Bersama Ditjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum

Iman menambahkan, terkait operasionalisasi sanksi di daerah, saat ini masih belum efektif diberlakukan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pengguna ruang yang melanggar Peraturan Daerah (Perda) yang berlaku di wilayah tersebut. Oleh karena itu, dengan pemuatan pasal-pasal tentang sanksi dan denda tersebut, kini baik pejabat maupun anggota masyarakat yang melanggar amanat tata ruang harus bersiap-siap berhadapan dengan hukum.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pemberian sanksi bagi pelanggar tata ruang dapat diberikan melalui tiga tingkatan. Yakni hukuman pidana tiga tahun dan denda 500 juta bagi pengguna yang sengaja merubah peruntukan ruang, pidana 8 tahun dan denda 1,5 Milyar bagi pengguna yang mengakibatkan kerugian bagi masyarakat dan pelanggaran yang menimbulkan korban jiwa akan dikenakan hukuman pidana sampai 15 tahun dan denda 5 Milyar. “Sanksi-sanksi pidana dan administratif tersebut telah tertuang dalam UU Penataan Ruang, khususnya Pasal 69,”. Namun bahwa sanksi ini tidak pernah dijalankan bahkan hanya tinggal  sebagai dokumen, oleh karena sanksi yang sering dijatuhkan hanya berlaku bagi masyarakat kecil.

Kepala Dinas Tata Ruang Andi Oddang Wawo  mengungkapkan bahwa pemberian sanksi terhadap pelanggar tata ruang, seperti yang tertuang dalam UUPR belum diaplikasikan di Kota Makassar. Hal ini dikarenakan, saat ini Kota Makassar sedang mempersiapkan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang disesuaikan dengan UU No. 26 Tahun 2007 dan Perda  Tata Ruang yang ada saat ini masih mengacu pada UUPR yang lama ( UU No. 24 Tahun 1992). “Ditargetkan tahun 2016 Perda RTRW tersebut telah selesai dan kemudian dilakukan sosialisasi kepada masyarakat luas, sebelum sanksi-sanksi pelanggaran terhadap Perda diberlakukan,”.(wawancara tanggal 24 Oktober 2009)

 

  1. D.    Peranan Masyarakat

Berbagai kajian telah mengungkapkan pengaruh hal-hal yang berkaitan dengan komponen masyarakat terhadap semua program pembangunan, seperti kesadaran hukum, karakteristik budaya, kemampuan sosial ekonomis, serta kebutuhan, aspirasi, dan potensi masyarakat.

Sebagaimana telah dikemukakan pada pembahasan sebelumnya bahwa salah satu penyebab utama kesemberawutan tata ruang di perkotaan adalah oleh karena rendahnya kesadaran hukum rakyat selaku pemakai hukum. Akan tetapi, hal ini belum dapat digeneralisasikan keabsahannya, oleh karena berbagai kondisi dan karakteristik masyarakat baik suku, daerah dapat saja melahirkan perbedaan kualitas kesadaran hukum, apalagi berbagai kajian perkotaan telah menemukan  bahwa “kelapukan dan kehancuran kota” tidaklah disebabkan oleh masyarakat kotanya, melainkan oleh system ekonomi kapitalistik.

Berangkat dari hal tersebut maka dalam penelitian ini akan melihat seberapa besar kualitas kesadaran hukum masyarakat tersebut dapat melahirkan partisipasi, yang pada akhirnya akan bermuara pada kualitas tata ruang dan lingkungan hidup di Kota Makassar.

  1. 1.    Kepatuhan Hukum Masyarakat

Kepatuhan hukum adalah salah satu indikator tumbuhnya partisipasi masyarakat, dan untuk itu diperlukan kesesuain antara norma hukum dengan perasaan hukum masyarakat, oleh karena kadar nilai intrinsik seseorang akan mendorongnya  atau tidak untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan atau dilarang.

Masyarakat adalah merupakan subyek sekaligus obyek pembangunan, dan merupakan pengguna ruang terbesar, sehingga perannya pun menjadi sangat penting dalam menentukan kualitas ruang dan lingkungan. Di dalam konteks keruangan, semakin besar jumlah penduduk, maka semakin besar pula ruang yang dibutuhkan, sehingga akan semakin sulit pula memenuhinya, dan dalam situasi demikian, kualitas kepatuhan hukum masyarakat pun menjadi penting.

Para responden, yang dipilih untuk mewakili populasi penelitian, menilai kualitas kepatuhan hukum masyarakat terhadap norma-norma tata ruang dan lingkungan hidup, sebagaimana tergambar pada tabel di bawah ini:

                                                          Tabel.12

Kepatuhan Hukum Masyarakat

No.

Kategori Jawaban

Frekuensi (F)

Persentase (%)

1.

2.

 

3.

4.

5.

Tidak sama sekali

Masih banyak keperluan yang mendesak.

Perlu keteladanan pemerintah

Ya, patuh/taat

Tidak menjawab

2

 

18

10

7

1

5,26

 

47,37

26,32

18,42

2,63

Jumlah

38

100

 Sumber : Data Primer 2009

Dari jawaban responden menunjukkan bahwa mayoritas rakyat/masyarakat melihat masih banyaknya kebutuhan lain yang lebih mendesak ketimbang pentaatan terhadap norma-norma tata ruang dan lingkungan hidup, seperti kewajiban memiliki IMB, batas-batas roling, larangan parkir/berjualan/membuang sampah disembarang tempat, daerah bebas becak, dan sebagainya itu 47,37%, masih perlunya keteladanan pemerintah 26,32%, menaati 18,42%,  dan bahkan sebanyak 5,26% menilai norma-norma tersebut tidak ditaati sama sekali.

                     Persentase pengakuan responden yang bersikap taat terhadap norma tata ruang dan lingkungan hidup yang begitu kecil 15,26%, kiranya telah menjadi pembenar terhadap kondisi dan kualitas kepatuhan hukum masyarakat yang rendah secara kuantitasnya, dan secara kualitatif juga rendah dengan adanya jawaban para responden yang menilai masih adanya keperluan-keperluan mendesak ketimbang pentaatan terhadap norma-norma tersebut, dan juga yang menilai keteladanan pemerintah belum mengkondisikan masyarakat untuk taat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel.13

Kepatuhan Hukum Masyarakat

No.

Kategori Jawaban

Frekuensi (F)

Persentase (%)

1.

2.

 

3.

4.

5.

Tidak sama sekali

Masih banyak keperluan yang mendesak.

Perlu keteladanan pemerintah

Ya, patuh/taat

Tidak menjawab

1

 

22

15

10

2

2,00

 

44,00

30,00

20,00

4,00

Jumlah

50

100

 Sumber : Data Primer 2009

Dari jawaban responden menunjukkan bahwa mayoritas rakyat/masyarakat melihat masih banyaknya kebutuhan lain yang lebih mendesak ketimbang pentaatan terhadap norma-norma tata ruang dan lingkungan hidup, seperti kewajiban memiliki IMB, batas-batas roling, larangan parkir/berjualan/membuang sampah disembarang tempat, daerah bebas becak, dan sebagainya itu 44,00%, masih perlunya keteladanan pemerintah 30,00%, menaati 20,00%,  dan bahkan sebanyak 2,00% menilai norma-norma tersebut tidak ditaati sama sekali.

Kondisi demikian ini mengindikasikan bahwa ketidakmampuan sosial ekonomi masyarakat telah menjadi faktor utama ketidaktaatan mereka terhadap norma-norma hukum, sehingga dengan demikian, pendekatan yuridis formal belaka, tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan melainkan harus lebih dahulu dilakukan pengamanan terhadap aspek-aspek non-hukum yang menyebabkan demikian, terutama factor kemiskinan.

Fenomena bangunan liar pada hampir semua pinggiran kota, bangunan-bangunan/warung-warung semi permanen  di sepanjang trotoar jalan yang merupakan areal atau batas roling. Pelanggaran tidak mungkin diatasi tanpa penanganan terhadap aspek ketidakmampuan ekonomi sebagai pemicu utamanya, hal ini juga menyebabkan kalangan miskin menjadi akrab dengan kekumuhan, kesembrawutan, serta  berbagai bentuk ketidakteraturan, sehingga mereka menjadi kurang/tidak mampu mengenali dampak-dampak lingkungan secara baik.

Hal ini berbeda dengan kalangan pengembang/pengusaha bukan karena ketidakmampuan mereka sehingga membuat suatu pelanggaran terhadap norma-norma tata ruang dan lingkungan hidup, tetapi karena keserakahan mereka sehingga tidak mempedulikan semua norma  yang ada di masyarakat.

 

  1. 2.    Penyaluran Aspirasi dan Partisipasi

Partisipasi, sebagai “a process of involving  people; especially those directly effected, to difine the problem  and involve solution with them”, lebih ditekankan pada usaha pelibatan masyarakat dalam rangka mendefinisikan permasalahan, dan mencari pemecahan masalah yang bersangkutan (John Friedman, 1989 : 140).

Dengan demikian, hampir tidak mungkin mengharapkan adanya partisipasi tanpa pelibatan dan pengakomodasian kepentingan masyarakat dalam sebuah program pembangunan. Paradigm modern di bidang penataan ruang, sudah meninggalkan pola-pola lama, di mana pemerintah dan staf perencananya yang menjadi “pemeran utama”, bahkan “main sendiri”, menuju pendekatan baru yang  mengubah posisi pemerintah menjadi sekedar fasilitator, dan masyrakatlah yang justeru diberi peran utama mengingat bahwa kepentingan masyarakatlah yang mesti diakomodasi di dalamnya.

Hasil penelitian , menunjukkan bahwa kadar pelibatan dan pengakomodasian aspirasi masyarakat dalam rencana tata ruang rendah, sebagaiman yang tergambar pada tabel berikut:

 

 

 

 

 

Tabel.14

Keterwakilan Aspirasi/Kepentingan Masyarakat

dalam Rencana Tata Ruang.

No.

Kategori Jawaban

Frekuensi (F)

Persentase (%)

1.

 

 

 

2.

 

 

 3.

 

 

4.

 

5.

Rakyat tidak punya peran apa-apa, karena Pemerintah bertindak menurut kehendak dan kepentingan sendiri

Suara dan kepentingan rakyat hanya “didengarkan”, belum diperhatikan.

Rakyat belum terwakili secara baik (DPR/LSM belum berperan baik)

Ya, Aspirasi dan kepentingan sangat rakyat diperhatikan

Tidak menjawab

 

 

 

8

 

 

20

 

 

18

 

3

1

 

 

 

16,00

 

 

40,00

 

 

36,00

 

6,00

2,00

Jumlah

50

100

Sumber: Data Primer 2009

Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa mayoritas responden berpendapat bahwa suara dan kepentingan rakyat barulah sekedar “didengar” dalam rangka program penataan ruang 40,00%, rakyat belum terwakili secara baik oleh karena  DPR serta LSM belum berperan 36,00%, bahkan sebagian responden melihat bahwa rakyat tidak punya peran apa-apa 16,00%, dan hanya sebesar 6,00% responden yang menilai bahwa aspirasi dan kepentingan rakyat sangat diperhatikan.

Tabel.15

Keterwakilan Aspirasi/Kepentingan Masyarakat

dalam Rencana Tata Ruang.

No.

Kategori Jawaban

Frekuensi (F)

Persentase (%)

1.

 

 

 

2.

 

 

 3.

 

 

4.

 

5.

Rakyat tidak punya peran apa-apa, karena Pemerintah bertindak menurut kehendak dan kepentingan sendiri

Suara dan kepentingan rakyat hanya “didengarkan”, belum diperhatikan.

Rakyat belum terwakili secara baik (DPR/LSM belum berperan baik)

Ya, Aspirasi dan kepentingan sangat rakyat diperhatikan

Tidak menjawab

 

 

 

3

 

 

7

 

 

8

 

20

1

 

 

 

7,89

 

 

18,42

 

 

21,05

 

52,63

2,63

Jumlah

38

100

Sumber: Data Primer 2009

Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa mayoritas responden yang berasal dari aparat pemerintah berpendapat bahwa suara dan kepentingan rakyat sudah diperhatikan dalam rangka program penataan ruang dimana 20 responden atau 52,63%, rakyat belum terwakili secara baik oleh karena  DPR serta LSM belum berperan 21,05%, bahkan sebagian responden melihat bahwa rakyat tidak punya peran apa-apa karena pemerintah bertindak menurut kehendak sendiri  hanya 7,89%,.

Dari kedua table tersebut di atas terlihat kontradiktif karena dipandang dari kepentingan masing masing responden namun bahwa apa yang di dapat di lokasi penelitian, dapat dikemukakan bahwa program penataan ruang belum mengakomodasi aspirasi dan kepentingan rakyat secara baik, dan cenderung masih didominasi aspirasi/kepentingan pemerintah, sehingga derajat keterwakilan rakyat masih sangat kurang. Di dalam kondisi seperti ini, akan sulit sekali diharapkan sebuah kerja sama dari rakyat, oleh karena tidak adanya kepercayaan dan keterbukaan, yang merupakan syarat penting bagi adanya partisipasi, oleh karena tidak adanya kekuatan atau hak masyarakat dalam pengambilan keputusan, mulai dari tahap identifikasi masalah sampai kepada pelaksanaan kegiatan penataan ruang.

Kekuatan dalam artian kemampuan untuk taat, juga berarti tingkat kewenangan untuk ikut mengontrol program penataan ruang akan menjadi syarat bagi tersalurnya keinginan dan aspirasi rakyat, dan mereka hanya akan berpartisipasi jika memiliki kekuatan untuk turut menentukan pengambilan keputusan pada setiap tahap kegiatan oleh karena kepentingan terakomodasi.

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

  1. Pelaksanaan Tata Ruang di Kota Makassar saat ini belum sesuai  Perda Nomor 6 Tahun 2006 tentang Tata Ruang Kota Makassar, dimana dalam penelitian banyak ditemukan penggunaan ruang yang tidak sesuai dengan peruntukan sehingga penataan ruang dan lingkungan di Kota Makassar ke depan semakin hari semakin rumit.
  2. Peranan pemerintah dalam pengendalian Tata ruang di Kota Makassar  dari segi pembuatan dan penyusunan sudah ada dengan adanya RTRW dan Perda Nomor 6 Tahun 2006 tentang Tata Ruang Kota Makassar, namun bahwa didalam mengimplementasikan kedua hal tersebut pemerintah belum ada keinginan untuk melaksanakannya dengan baik karena adanya kepentingan sesaat dari pemerintah yang berkuasa dan ego dari setiap instansi serta tidak adanya koordinasi antar instansi.
  3. Peranan masyarakat dalam pengendalian Tata Ruang di Kota Makassar secara umum bahwa pengendalian tata ruang oleh masyarakat dipengaruhi oleh kesadaran hukum, budaya, sosial ekonomi dan potensi masyarakat. Kesadaran hukum masyarakat akan hal ini masih sangat dipengaruhi  oleh faktor ekonomi dan budaya sehingga untuk mewujudkan tata ruang dan lingkungan hidup belum bisa diwujudkan. Disisi lain bahwa penyaluran aspirasi rakyat baru sebatas didengarkan sehingga partisipasi masyarakat  tidak terlalu mendukung penataan ruang dan lingkungan hidup.

 4.Diharapkan supaya pemerintah konsisten dalam pengalihan lahan sesuai dengan peruntukkannya sebagaimana diatur dalam Perda Nomor 6 Tahun 2006. Seperti: Pemberian IMB, Gudang tidak boleh lagi ada di dalam kota, rolling jalan sehingga kalau pelebaran jalan tidak susah lagi. Pengawasan harus dijalankan khususnya dalam pemberian Izin Mendirikan Bangunan dimana setiap pemohon betul-betul memenuhi persyaratan seperti AMDAL/Rekomendasi Bapedalda untuk para pengembang.

           5.Agar partisipasi masyarakat  dapat menunjang implementasi penataan ruang, maka perlu penjaringan aspirasi yang lebih objektif jangan hanya merupakan formalitas belaka.

 

 

                              DAFTAR BACAAN

 

Abdurrahman,1983. Beberapa Aspek tentang Hukum Agraria, Alumni, Bandung

Abrar, 1994, Aspek Hukum Pertanahan dalam Rencana Umum Tata Ruang di Kotamadya Ujung Pandang, Pascasarjana Unhas, Ujung Pandang

Adisasmita, Rahardjo, 2004. Teori Lokasi dan Pengembangan Wilayah, Penerbit Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Makassar.

—————, 2007. Pembangunan Kawasan dan Tata Ruang, Penerbit Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Makassar.

————–,2008, Teori Pertumbuhan Kota (Perkotaan). Penerbit Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Budihardjo, Eko.1997, Tata Ruang Perkotaan, Alumni Bandung.

Bintarto, 1989. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya, Ghalia Indonesia, Jakarta

Budihardjo, 1997, Lingkungan Binaan dan Tata Ruang Kota, Alumni, Bandung.

—————, 1997, Tata Ruang Perkotaan, Alumni, Bandung

—————, 1999, Sejumlah Masalah Pemukiman Kota, Alumni, Bandung.

—————, 2000, Kota Berkelanjutan, Alumni, Bandung.

Chapin, F.Stuart Jr dan Kaiser, Edward J, 1979, Urban Land Use Planning, Edisi 3, London University of Illionis Press.

Deakin, Elizabeth, 1989, Growth Control and Management: A Summary and Review of  Emperical Research, dalam Brower, DavidJ,. Godshalk, David R, Porter, Douglas R, (ed), Understanding Growth Control – Critical Issues and A Research Agenda, Washington D.C., The Urban Land Institute.

Devas, Nick, Carole Rakodi, eds., 1993, Managing Fast Growing Cities: New Approaches to Urban Planning and Management in the Developing World, New York : John Willey & Sons.

Harsono Boedi, 1996, Hukum Agrarai Indonesia: Himpunanan Peraturan-Peraturan Tanah, Djambatan, Jakarta.

Husen, Harun M.,1997, Lingkungan Hidup: Masalah Pengelolaan dan Penegakkan Hukumnya, Bumi Aksara, Jakarta.

John Friedmann, 1993, Planning in The Public Domain, From Knowledge to Action. Forum Perencanaan Pembangunan, Volume I Nomor 2 , Desember 1993, hlm. 137 – 141.

Karyoedi, Moechtarram, 1997. Kepranataan Kota Baru, Makalah disajikan pada seminar Manajemen Kota Baru menuju Abad 21. Laboratorium Perencanaan Wilayah dan Kota ITB.

Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan,  Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Muchsin, 1998, Keefektifan  Hukum tentang Tata Guna Tanah dalam Pembangunan Lingkungan Permukiman Perkotaan di Jawa Timur. Disertasi, PPS UNAIR.

Rachmad Baro, 1991, Mencari identitas Hukum dalam Pembangunan, Makalah disajikan pada Seminar LKP Studi Hukum dan Pembangunan Universitas ’45 Ujung Pandang.

Yusuf A.W. 1976. Aspek Pertanahan dalam Perencanaan Kota, Pro Justitie, Majalah Hukum tahun V-VIII No. 14, Unpar, Bandung.

 

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Peraturan Pemerintah RI. Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.

Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 6 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar 2005-2015.

 

 

 

 

PEMANFAATAN SEMPADAN SUNGAI SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU

Posted October 2, 2013 by syahriartato
Categories: TULISAN POPULAIR

RUANG TERBUKA HIJAU PADA KAWASAN SEMPADAN SUNGAI .

              * Dr.Ir.Drs.Syahriar Tato.SH.SAB.SSn.MS.MH.MM.IAP *

               Ruang  terbuka  hijau  merupakan  bagian  penting  dari  struktur  pembentuk  kawasan,  dimana  ruang  terbuka  hijau  memiliki  fungsi  utama  sebagai  penunjang  ekologis  kawasan  yang  juga diperuntukkan  sebagai  ruang  terbuka  penambah  dan  pendukung  nilai  kualitas  lingkungan  dan budaya  suatu  kawasan.  Keberadaan  ruang  terbuka  hijau  sangatlah  diperlukan  dalam mengendalikan dan memelihara integritas dan kualitas lingkungan. Ruang terbuka hijau memiliki  dua  fungsi  utama,  yaitu  fungsi  intrinsik  sebagai  penunjang  ekologis  dan  fungsi  ekstrinsik  yaitu  fungsi  arsitektural  (estetika),  fungsi  sosial  dan  ekonomi.  Ruang  terbuka  hijau  dengan  fungsi ekologisnya bertujuan untuk  menunjang keberlangsungan fisik suatu kawasan dimana ruang terbuka hijau  tersebut  merupakan  suatu  bentuk  ruang  terbuka  hijau  yang  berlokasi,  berukuran  dan  memiliki  bentuk  yang  pasti  di  dalam  suatu kawasan.  Sedangkan  ruang  terbuka  hijau  untuk fungsi-fungsi  lainnya  (sosial,  ekonomi,  arsitektural)  merupakan  ruang  terbuka  hijau  pendukung  dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kawasan tersebut, sehingga dapat berlokasi dan  berbentuk  sesuai  dengan  kebutuhan  dan  kepentingannya,  seperti  untuk  keindahan,  rekreasi,  dan  pendukung  arsitektur. Proporsi  30%  luasan  ruang  terbuka  hijau  kawasan  diantaranya terdiri dari 20% untuk publik dan 10% untuk privat merupakan  ukuran  minimal  untuk  menjamin  keseimbangan  ekosistem  baik  keseimbangan  sistem  hidrologi  dan  keseimbangan  mikroklimat,  maupun  sistem  ekologis  lain  yang  dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, ruang terbuka bagi aktivitas  publik serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kawasan.

 

 Gambar.1. Ruang terbuka hijau perkotaan

                 Daerah Sempadan Sungai, khususnya diperkotaan yaitu sungai yang membelah kota, dimana pemenuhan 20% RTH untuk publik, 2% diharapkan berasal dari RTH sempadan sungai, sekaligus sebagai  kawasan  yang  berfungsi  sebagai penyangga erosi yang terjadi pada pinggiran sungai, sehingga sungai dapat terjaga dari perluasan atau penyempitan aliran sungai yang diakibatkan lonsor atau erosi.

                Namun kenyataannya sempadan sungai hanya sebahagian yang ditanami pepohonan yaitu daerah pinggiran tanggul, sehingga sempadan sungai diharapkan bisa dimanfaatkan secara optimal dalam penataan RTH.

              Hal tersebut diatas dikarenakan tidak memiliki konsep yang jelas, melihat potensi sempadan sungai , sebaiknya konsep RTH yang berorentasi, pada pengembangan wisata dan rekreasi. Dengan konsep ini  Sungai yang merupakan salah satu trasportasi air bagi pemerintah dan  masyarakat yang berfungsi sebagi tempat penghubung terhadap wilayah sekitarnya, dapat mengundang pariwisata lokal maupun manca negara sebagai tujuan persinggahan untuk rekreasi sehingga kawasan sempadan sungai bukan saja hanya sebagai wilayah transpotasi air semata tetapi juga sebagai wilayah tujuan wisata, juga sangat perlu dijaga kelestarian dan kebersihan lingkungan baik dari pencemaran air, udara atau kerusakan daripada sempadan sungai.

Daerah sepanjang sempadan pada kenyataannya tidak didukung oleh adanya ruang terbuka hijau  yang mampu berfungsi secara  ekologis,  estetika  maupun  sosial  budaya  dan  ekonomi,  hal  tersebut  terjadi  dikarenakan adanya ketidakseimbangan proporsi dan distribusi ruang terbuka hijau pada daerah sempadan sungai,  sehingga  diperlukan  adanya  konsep  ruang  terbuka  hijau  yang  mampu  memenuhi proporsi  dan  distribusi  ruang  terbuka  hijau  sehingga  mampu  memenuhi  fungsinya  sebagai penunjang  kualitas  ekologis,  estetika,  serta sosial  budaya  dan  ekonomi  dari  kawasan

              Ruang terbuka hijau

Gambar 2. Ruang terbuka hijau daerah resapan air.

 Dalam kaitannya dengan lansekap kota, ruang terbuka hijau pada daerah sempadan sungai merupakan  suatu  bagian  penting  dari  keseluruhan  lansekap  ruang,  dimana  ruang  terbuka  hijau berfungsi sebagai penunjang kualitas ekologis lansekap .  Jika dilihat kondisi ruang terbua hijau sepanjang daerah sempadan sungai yang tersebar belum merata dan keberadaan ruang terbuka hijau yang ada belum menujukkan fungsi yang maksimal dalam interaksi terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga ruang terbuka hijau yang ada pada sepanjang sungai,  terkesan masih gersang, yang membuat masyarakat enggan berinteraksi, dalam melakukan aktivitas, seperti olah raga jogging di sepanjang koridor jalan inpeksi yang ada, atau melakukan rekreasi. Sebagaimana dalam suatu wilayah perkotaan  proporsi dan distribusi ruang terbuka hijau Kota sesuai dengan kebutuhan kota terutama kebutuhan masyarakat,  maka  kualitas  ekologis  lansekap  kota  akan  terpenuhi  dan  kualitas  hidup  masyarakat kota  akan  semakin  meningkat.  Molnar,  menyatakan  bahwa  untuk  memenuhi  kebutuhan  ruang  terbuka  hijau  bagi  masyarakat  perkotaan  ada  beberapa  aspek  utama  yang  harus  dipertimbangkan  yaitu  hubungan  antar  ruang  terbuka  hijau  dengan  lingkungan  sekitar,  ruang  terbuka  hijau  harus  ditujukan  untuk  kepentingan  masyarakat    yang  tetap  memperhatikan  aspek  estetika dan fungsional, mengembangakan pengalaman substansial dari ruang terbuka hijau (efek dari garis, bentuk, tekstur dan warna), disesuaikan dengan karakter lahan dan karakter pengguna,  memenuhi  semua  kebutuhan  teknis  dan  pengawasan  yang  mudah.  Melalui  penjabaran  referensi  tentang ruang terbuka hijau tersebut untuk dapat mewujudkan ruang terbuka hijau didalam suatu  wilayah perkotaan yang mampu berfungsi secara ekologis, estetis dan memiliki nilai sosial budaya dan  ekonomi  maka  dibutuhkan  adanya  proporsi  dan  distribusi  ruang  terbuka  hijau  yang  ideal terhadap suatu wilayah perkotaan, akan tetapi tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat sebagai  pengguna serta kebutuhan kota tersebut. 

               Ruang terbuka hijau (RTH) kota merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Kawasan hijau kota terdiri atas pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau Daerah Aliran Sungai, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olahraga, kawasan hijau pekarangan. Ruang terbuka hijau diklasifikasi berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur vegetasinya .

 

gambar.3. Ruang terbuka hijau daerah sempadan sungai

Beberapa pengertian tentang Ruang Terbuka Hijau diantaranya adalah :

1. Ruang yang didominasi oleh lingkungan alami di luar maupun didalam   kota, dalam bentuk taman, halaman, areal rekreasi kota dan jalur hijau

2. Ruang-ruang di dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk areal/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur yang dalam pengguanaannya lebih bersifat terbuka pada dasarnya tanpa bangunan yang berfungsi sebagai kawasan pertamanan kota, hutan kota, rekreasi kota, kegiatan olah raga, pemakaman, pertanian, jalur hijau dan kawasan hijau pekarangan.

  3. Fasilitas yang memberikan konstribusi penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan permukiman, dan merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam kegiatan rekreasi.

 

 

Gambar.4.Ruang terbuka hijau daerah aliran sungai               

Daerah Aliran Sungai disingkat DAS ialah istilah geografi mengenai sebatang sungai, anak sungai dan area tanah yang dipengaruhinya. Daerah aliran sungai dapat menjadi sangat besar, contohnya daerah aliran sungai Mississippi meliputi lebih dari setengah Amerika Serikat. Ini berarti lebih dari setengah wilayah AS dialiri Mississippi dan anak-anak sungainya. Batas wilayah DAS diukur dengan cara menghubungkan titik-titik tertinggi di antara wilayah aliran sungai yang satu dengan yang lain.

          Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada Daerah aliran Sungai ( DAS ) adalah salah satu contoh pelayan publik yang bersifat  fisik yang tidak boleh diambaikan oleh pemerintah daerah. Keberadaan RTH sangat penting, kalau diibaratkan tubuh manusia maka RTH merupakan Paru-paru Kota yang harus ada dan harus dalam kondisi sehat (terpelihara dengan baik). Ketika RTH ukurannya terlalu kecil berarti kondisi kota sudah tidak layak huni karena kesehatan masyarakat seperti dipertaruhkan dengan polusi udara yang semakin hari semakin parah. Manfaat lain RTH adalah untuk memperbaiki cadangan air tanah serta mengurangi resika longsor pada Daerah Aliran Sungai. UU No. 26 Tahun 2007 Pasal 29  ayat (2) menyebutkan “Proporsi ruang terbuka hijau kota paling sedikit 30 (tiga puluh) persen dari luas wilayah kota. “ Demikian juga Daerah Aliran Sungai (DAS) harus memiliki areal RTH sebanyak 30 % dari luas wilayah DAS. Salah satu contoh, Kota Tegal merupakan salah satu kota yang RTH nya masih sangat minim (baru 6 % ) demikian juga  RTH di DAS juga tidak diperhatikan  sama sekali. Melihat kondisi semacam ini sebenarnya masyarakat kota Tegal telah tinggal diwilayah yang tidak sehat dan nyaman. Bagaimana tidak ? Pencemaran CO2  di udara dari kendaraan bermotor setiap hari semakin  meningkat sementara tumbuh-tumbuhan yang berfungsi untuk menyerap CO2 buangan dari kendaraan bermotor sangat minim. Ini berarti kadar CO2 yang kita hirup dan masuk kealiran darah kita setiap hari juga meningkat. Minimnya RTH juga ikut meningkatkan laju Pemanasan Global.

               Contoh lain adalah Frekuensi banjir di sungai Deli semakin sering terjadi dan bertambah. Banjir kiriman maupun banjir karena curah hujan tinggi, membuat masyarakat tidak nyaman, terutama masyarakat yang bermukim di kawasan jalur hijau atau garis sepadan sungai. Banjir menimbulkan dampak psikologis/ moril dan kerugian harta/ materil pada masyarakat. Kampung Aur merupakan potret banjir Kota Medan, setiap kali hujan lebat turun dan banjir kiriman datang wilayah ini akan kebanjiran, karena kawasan ini merupakan dataran rendah Kota Medan sepanjang Hulu ke Hilir Mencermati persoalan serius di DAS Deli ini, perlu dilakukan penelitian sehingga analisis, hasil, kesimpulan dan saran menjadi langkah dan upaya untuk mengelola RTH di kawasan jalur hijau sungai. Penelitian dilakukan dengan metodologi kualitatif, teknik penentuam sampel dilakukan secara Purposive sampling dengan 25 orang warga masyarakat di lingkungan 2, 3 dan 4. dan untuk mengetahui persoalan DAS Deli secara konfrehensif maka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang mengundang Wakil Kepala Dinas Pengairan Sumatera Utar, Akademisi, WALHI, dan Media. Kasus ini sangat berarti untuk mengambil langkah dan solusi terhadap pengelolaan DAS Deli. Setelah mengetahui permasalahan diseputar pengelolaan RTH di DAS Deli khususnya Kampung Aur dan data faktual dari masyarakat dan stockholder. Seandainya kondisi di biarkan begitu saja maka dampak yang dirasakan masyarakat akan semangkin parah, oleh karenya optimalisasi pengelolaan RTH di jalur hijau DAS Deli tidak bisa ditawar-tawar, langkah awal pengosongan pemukiman dari kawasan jalur hijau sungai harus dilakukan, bersinergi dengan program Pemerintah merelokasi pemukiman di jalur hijau atau pemukiman ilegal dengan membangun tempat pemukiman yang lebih ramah lingkungan, tidak selalu trauma dengan banjir berupa pemukiman sehat atau rumah susun sederhana tampa memberatkan warga, konfensasi yang wajar dan terajangkau tidak sulit untuk mengajak masyarakat memulai hidup menuju lingkungan yang ramah dan sehat ( Syahriar Tato )

                                            DAFTAR BACAAN.

Menteri Pekerjaan Umum. 2008. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan. Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta.

 

Hakim R. 2006. Rancangan Visual Lansekap Jalan. Panduan Estetika Dinding Penghalang Kebisingan. Bumi Aksara. Jakarta.

 

Irwan Z.D. 2005. Tantangan Lingkungan dan Lansekap Hutan Kota. Pustaka Cidesindo. Jakarta.

 

Irwan Z.D. 2007. Prinsip-prinsip Ekologi. Ekosistem, Lingkungan dan Pelestariannya. Bumi Aksara. Jakarta.

 

Irwan Z.D. 2007. Fungsi Taman Hutan Kota. Pendidikan Network. http://www. Artikel Pendidikan Network – hutan kota.html. (29 Maret 2009).

 

Sastrawijaya, A.T. 2000. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta.

Sibarani J.P. 2003 Potensi Kampus Universitas Sumatera Utara Sebagai Salah Satu Hutan Kota Di Kota Medan. Fakultas Pertanian Program Studi Budidaya Hutan Universitas Sumatera Utara. Medan

 

Bumbata. 2009. Melestarikan Ruang Terbuka Hijau Kota. http://www. melestarikan ruang terbuka hijau kota.htm. (29 Maret 2009).

 

Qadarian Pramukanto, Pengembangan rekreasi alam dan pedesaan, pengembangan kawasan penyangga perlindungan komunitas biotic dan identitas masyarakat lokal. Staf pengajar Departemen Arsitektur Lansekap Fakultas Pertanian  IPB. Mahasiswa program Doktor pada Seoul NationalUniversity, Korea Selatan.

 

Keraf A.S. 2007. Etika Lingkungan. Buku Kompas. Jakarta.

 

Purnomohadi, Ning. 2002. Pengelolaan RTH Kota dalam Tatanan Program BANGUN PRAJA Lingkungan Perkotaan yang Lestari di NKRI. Widyaiswara LH, Bidang Manajemen SDA dan Lingkungan. KLH.

 

Zubir I. 2009. Ruang Terbuka Hijau dan Peraturan Lansekap Kota. http://www. Ruang terbuka hijau dan peraturan lansekap kota «.html. (29 Maret 2009).

Tjokrowinoton M. 2007. Pembangunan Dilema dan Tantangan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

 

Dyayadi. 2008. Tata Kota Menurut Islam. Konsep Pembagunan Kota Yang Ramah Lingkungan, Estetik, dan Berbasis Sosial. Khalifa. Jakarta.

 

 

 

 

 

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.