Mempertahankan Nilai Kearifan Budaya Lokal Sulawesi Selatan, Sebuah Keniscayaan?

Manusia mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan di muka bumi ini karena kemampuan berpikir secara ”metaforik” dan menggunakan seluruh indra untuk beraktivitas.
Kemampuan berpikir secara “metaforik” itu tercermin dalam “simbol” yang penuh ungkapan makna dalam apresiasi gerak untuk menyampaikan pesan, pengalaman, bahkan ungkapan perasaan kepada sesamanya secara efektif, etis dan berkemanusiaan.

Dengan simbol yang diungkapkan itulah, manusia mampu berhubungan secara langsung atau tidak langsung menembus batas komunitas dan generasi dalam suatu “interaksi” sosial budaya.

Semakin luas jaringan dan intensitas interaksi sosial budaya yang berkembang pada komunitas lokal dengan komunitas “asing” di luar komunitasnya, maka semakin besar peluang untuk mengembangkan masyarakat dan “kebudayaannya”.

Sebaliknya semakin terisolir suatu komunitas dari lintasan orbitasi sosial budayanya, apalagi menutup diri dari pergaulan dengan komunitas luar, maka semakin besar hambatannya untuk mengembangkan pembaharuan “budaya” yang kini tidak lagi mengenal batas geografik, negara dan bangsa.

Ralp Linpton seorang antropolog kenamaan Amerika menyatakan bahwa didunia ini tidak ada lagi masyarakat yang berhak menyatakan bahwa “kebudayaannya” masih asli.

Selebihnya merupakan hasil tukar menukar dan pinjam meminjam unsur kebudayaan yang diserap secara murni ataupun dimodifikasikan. Demikian pula sebagian besar pengembangan unsur kebudayaan “setempat” biasanya merupakan pengembangan yang diilhami oleh pengaruh kontak “budaya” dengan pihak luar.

Demokrasi dan reformasi, suatu fenomena baru dalam interaksi sosial budaya memberi warna dan nuansa baru dalam tatanan kehidupan global, suka tidak suka, akan memengaruhi dan memberi dampak positif dan negatif.

Dampak negatif bila tidak diproteksi secara dini mengakibatkan dunia kebudayaan kita menjadi semakin terpuruk dan sangat menderita. Hal ini diperparah dengan “model” pendekatan pembangunan di negara kita yang tercinta ini lebih prioritas pada pembangunan ekonomi dan politik.

Nilai “kebendaan” menjadi sangat kuat dan menonjol, sementara nila nilai non ekonomi, nilai-nilai batin dan nilai nilai “spiritual” merosot tajam. Ukuran keberhasilan seseorang cenderung dinilai secara “ekonomi kebendaan”.

Sementara nilai nilai moral, nilai nilai batin dan spiritual, nilai kewibawaan, keadilan dan nilai nilai “kearifan budaya leluhur” menjadi komoditas eceran. Kondisi seperti ini masih ditambah lagi dengan kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Teknologi komunikasi, teknologi informasi, menjadi media yang sangat menarik mengantar masuknya kebudayaan barat, “kebudayaan otak” ke negeri kita, dan menyingkirkan “kebudayaan rasa” yang dimiliki sebagai “nilai warisan” nenek moyang kita.

Dengan kemajuan tersebut, sekarang batas budaya antar bangsa sudah semakin tidak jelas. Semua aspek kehidupan bangsa telah tercemari nilai-nilai kebendaan tersebut. Dunia pendidikan sudah mengabaikan mutu, sementara yang dikejar adalah ijazah.

Ukuran terhormat bagi seseorang hanya dinilai pada jumlah kekayaan yang dimiliki menjadikan komunitas etnis atau masyarakat tradisional, sangat sulit untuk mempertahankan “budaya” lokal sebagai warisan leluhur mereka.

Masyarakat tradisional Indonesia pada umumnya percaya akan adanya suatu tatanan, aturan tetap, yang mengatur segala apa yang terjadi di alam dunia yang dilakukan oleh manusia.

Tatanan atau aturan itu bersifat “Stabil”, “Selaras” dan “Kekal’”. Aturan itu merupakan tatanan “budaya” sebagai sumber segala kemuliaan dan kebahagiaan manusia. Apapun yang dilakukan manusia harus sesuai atau selaras dalam tatanan kehidupan alam sekitarnya.

Apabila tidak bertentangan dengan alam, niscaya hidupnya akan tenang dan damai. Yang menyimpang dari tatanan dan aturan merupakan “dosa” yang patut menerima sanksi atau hukuman.

Masa itu perbuatan manusia selalu berdimensi dua, yaitu “mistik” dan “simbolik”. Untuk mengungkap kepercayaan akan makna hidup, manusia memakai tanda tanda atau “simbolik”,
dua macam tanda penting, pertama : “mitos asal”, atau tafsir tentang makna hidup berdasarkan asal kejadian masa lalu. Kedua : “Ritual” upacara berupa perlakuan simbolis yang berfungsi untuk memulihkan harmoni tatanan alam dengan manusia,
agar manusia terhindar dari malapetaka dan memberikan keselamatan dan kesejahteraan dalam kehidupannya. Inilah dasar-dasar filosofi yang mengatur “Budaya” masyarakat tradisional.
Pola pemikiran masyarakat tradisional pada umumnya hidup dalam budaya “kosmologi”. Awalnya, kehidupan manusia hanya terbatas pada kehidupan dirinya sendiri, “Egocentrum”.
Kemudian manusia mengembangkan dorongan naluri dan nalarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, maka kehidupan ”egocentrum” akan menjadi bagian integral dari kehidupan Habitat sekitarnya, yang diatur dalam sebuah tatanan “budaya” atau “kebudayaan”.
Masyarakat tradisional sering dianggap sebagai masyarakat yang hidup dalam suasana kepercayaan leluhur yang dipengaruhi oleh “ethos budaya” dan mempunyai sifat-sifat khusus, antara lain kekhususan itu ditandai dengan cara mempertahankan suasana hidup selaras, harmonis dan seimbang dengan kehidupan “habitat” sekitarnya.
Keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya, pola hubungan antar manusia. Hubungan manusia dengan habitat sekitarnya didasarkan pada anggapan bahwa eksistensinya hidup dalam kosmos alam raya dipandang sebagai suatu tatanan yang “teratur” dan “tersusun” secara “hirarkis” dalam sebuah “tatanan budaya” yang terjaga.
Malinowski dengan konsep tentang “Cultural Universal” melihat unsur-unsur kebudayaan universal yang dimiliki oleh masyarakat tradisional maupun masyarakat modern terdiri dari tujuh unsur, yaitu bahasa termasuk aksara, sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem teknologi, religi dan kesenian.

Tujuh unsur universal ini menjadi wujud nyata dari tatanan budaya yang menjadi bayangan cerminan dari kehidupan manusia dari masa ke masa.

Dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, terdapat “value” atau nilai nilai budaya yang berasal dari “value” masyarakat tradisional lokal, dan telah menjadi suatu tatanan “budaya”
yang dianggap mengatur dan mengikat sehingga patut dijadikan sebagai pedoman hidup bagi semua perilaku dan pengambilan keputusan karena nilai itu dianggap etis, logis, mulia, sakral, mengandung harapan masa depan, dan menjadi identitas jati diri dan karakter bangsa.
Nilai budaya dipahami sebagai konsepsi yang hidup dalam alam pikiran dari sebagian besar masyarakat tradisional sebagai sesuatu yang berharga dalam hidup. Karena itu nilai menjadi dasar dari kehidupan manusia dan menjadi pedoman ketika orang akan melakukan sesuatu.
Koentjaraningrat berkata; bahwa nilai budaya suatu masyarakat bisa berubah. Terjadinya perubahan nilai itu menunjukkan bahwa nilai budaya tidak muncul begitu saja.

Nilai budaya suatu masyarakat diproduksi, dipertahankan, dan dikomunikasikan melalui media seperti; media pendidikan, sistem ekonomi, organisasi, upacara tradisional, kesenian tradisional, maupun arsitektur tradisionalnya.

Kita tidak akan mampu menolak modernitas kebudayaan sebagai konsekuensi dunia yang mengglobal. Setiap kebudayaan selalu mengalami perubahan dari masa ke masa.

Perubahan itu tergantung dari dinamika masyarakatnya. Terjadinya perubahan tatanan budaya bukan hanya disebabkan oleh pengaruh eksternal, tetapi juga akibat pengaruh internal karena berubahnya cara pandang masyarakat tradisional terhadap perubahan kehidupan dan penghidupan mereka.

Kebudayaan memang bersifat dinamis, berkembang dan mengalami pengaruh lingkungan strategisnya yang menjadikan kebudayaan berubah dari waktu ke waktu. Perubahan itu menyebabkan beberapa unsur kebudayaan universal mencapai puncak orbitasi dalam kulminasinya dan mempunyai nilai yang semakin tinggi.

Nilai tersebut menjadi kebanggaan dan merupakan jati diri etnis yang bersangkutan.
Abu Hamid berpendapat bahwa Etnis Bugis Makassar mencapai puncak kebudayaannya ketika ditemukannya aksara lontara dan sistem komunikasi dengan bahasa etnis Bugis Makassar.

Di dunia ini tidak semua etnis mempunyai aksaranya sendiri. Sedangkan sistem etika dan moral sebagai nilai utama orang Bugis Makassar, seperti lempu (kejujuran), getteng (tegas dan konsisten), sipakatau (saling menghargai), dan ada tongeng (berkata benar). Menjadi rujukan dalam berbagai aspek kehidupan.

Kepemimpinan etnis Bugis Makassar dengan penerapan nilai kearifan budaya dan etos kerja selalu memberikan spirit tinggi di dalam bertindak, seperti; taro ada taro gau (satunya kata dan perbuatan), sipatuo sipatokkong, abbulo sibatang.

Dalam interaksi sosial budaya beberapa kartakter penting seperti ; barani (keberanian), macca (pintar), makkareso (berusaha), mappasitinaja (kewajaran dan kepatutan sepertinya memberikan warna keagungan dan keanggunan dalam jatidiri dan karakter para pemimpin dan decision maker orang Bugis Makassar.

Namun bumi semakin panas dan mengglobal, dunia sepertinya tanpa sekat. Hampir semua nilai essesial itu menjadi luntur dan mengalami degradasi yang sulit dihindari.
Identifikasi “esensi”

kearifan budaya lokal yang menunjukkan identitas dan karakter budaya lokal mestinya terlihat secara jelas dalam konsep ketahanan budaya lokal yang mestinya nilai kaearifan budaya lokal tetap terjaga dan menjadi niilai yang tetap ada untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal.

Untuk menuju ke arah ketahanan budaya lokal dan Pelestarian “Esensi” dan Pengembangan “Substansi” unsur unsur budaya universal, perlu tetap diupayakan :

• Memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan berlandaskan warisan kearifan budaya lokal.

• Memahami substansi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dikembangkan ke dimensi kekinian, sejalan waktu dan kemajuan teknologi yang berorientasi ke masa depan.

• Bahwa mempertahankan jati diri dan karakter etnis lokal amatlah penting di tengah deraan arus modernisasi dan kecenderungan universalisasi.

• Namun hidup dan kehidupan memang berhak berkembang sehingga perubahan lingkungan strategis etnis perlu diperhitungkan untuk pengembangan dan ketahanan budaya etnis lokal.

Semakin cepat dilakukan kajian untuk menggali kearifan budaya lokal semakin baik, para sesepuh, cendekia bidang budaya, sosiologi dan arsitektur tradisional, diadopsi pengetahuannya kekonsep ketahanan budaya,

sehingga kita dapat merajut kembali kejayaan budaya etnis lokal Sulawesi Selatan untuk diwujudkan di kekinian(Syahriar tato)

Explore posts in the same categories: SENI DAN BUDAYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: