POTENSI DAN HARAPAN MASA DEPAN KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU (KAPET) PAREPARE.

POTENSI DAN HARAPAN MASA DEPAN KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU (KAPET) PAREPARE.

Tulisan Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.MS.MH.MM..IAP.

* Tim Ahli Kapet Parepare bidang Infrastruktur.

Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) adalah suatu kawasan yang memiliki cepat tumbuh, mempunyai potensi unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi daerah sekitarnya, melalui pendekatan pengembangan wilayah secara terpadu.Pembentukan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) ini diharapkan dapat mengembangkan wilayah tersebut,dan dapat memberikan dampak positif  ekonomi berdasarkan konsep growth centers yang diasumsikan dapat menimbulkan trickling down effects.

Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare  terbentuk berdasarkan Keppres No. 164/1998 merupakan perwujudan dari keinginan bersama untuk membangun potensi kawasan yang meliputi 5 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. yaitu Kota Parepare, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Barru, Kabupaten Sidenreng Rappang dan Kabupaten Enrekang atau yang dikenal dengan kawasan Ajattapareng, agar mampu berkembang dan maju dibanding dengan kawasan lainnya yang ada di Indonesia, dengan sektor unggulan yang dikembangkan adalah pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pertambangan dan pariwisata.

Potensi sumber daya alam Sulawesi Selatan bernilai ekonomi tinggi dan merupakan peluang usaha bagi investor Domestik dan Asing. Namun kenyataan menunjukkan bahwa kesempatan peluang usaha ini belum banyak dimanfaatkan oleh investor. Oleh karena itu Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) merupakan langkah dan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memacu pertumbuhan dan pemerataan pembangunan. Pemerintah telah menetapkan 13 KAPET di berbagai daerah dengan strategi dimana suatu daerah diberikan kemudahan-kemudahan bagi dunia usaha untuk berperan serta dalam kegiatan pembangunan.

Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Parepare yang berlokasi di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, wilayahnya meliputi Kota Parepare, Kabupaten Barru, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Sidrap, dan Kabupaten Enrekang.

Kawasan KAPET Parepare terletak dibagian Utara Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan dengan jarak antara 80-250 KM dari Kota Makassar, yang dihubungkan jaringan jalan nasional . Adapun batas-batas kawasan KAPET Parepare adalah sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Polman dan Kabupaten Tana Toraja
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pangkep
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Wajo dan Kabupaten Soppeng
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Pembentukan KAPET Parepare berdasarkan pada asas meningkatkan daya tarik kawasan, peningkatan sektor unggulan, peningkatan unggulan lokasi, pemberdayaan kelembagaan, dan keterkaitan fungsional antar kawasan yang mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

KAPET Parepare diharapkan berfungsi sebagai pusat produksi komoditi pertanian dan non pertanian dan industri Pengolahan, sehingga Kota Parepare sebagai pusat jasa dan perdagangan untuk mendorong kegiatan ekonomi dan agro industri di wilayah belakangnya (hinterland).

Dalam konteks ASEAN, KAPET parepare termasuk dalam wilayah kerjasama regional yang tergabung dalam : Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philipina East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA), yang merupakan bentuk kerja sama bilateral Negara-negara ASEAN untuk wilayah bagian timur.

gambar 1.Peta kawasan Kapet Parepare  :

Deskriptif Kabupaten Barru

Kabupaten Barru merupakan salah satu Kabupaten yang berada di pesisir Barat Propinsi Sulawesi Selatan, terletak antara koordinat 4o 05’ 49” – 4o 47’ 35” Lintang Selatan dan 11949’  16” Bujur Timur. Luas wilayah kurang lebih 1.174,72 km2 (117.427 Ha).  Berjarak kurang lebih 100 km sebelah utara Kota Makassar .

Batas wilayah Kabupaten Barru, secara administratif adalah sebagai berikut:

-Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Parepare dan Kabupaten Sidrap

-Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Bone

-Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene Kepulauan

-Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makasssar.

Kabupaten Barru yang merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan, dengan Ibu Kota Sumpang Binangae. Pada awalnya terdiri dari lima kecamatan dengan 24 desa, kemudian terjadi pemekaran desa menjadi 36 desa. Pada tahun 2001 dilakukan pemekaran kecamatan dan desa menjadi tujuh kecamatan  yakni Kecamatan Tanete Riaja, Kecamatan Pujananting, Kecamatan Tanete Rilau, Kecamatan Barru, Kecamatan Balusu, Kecamatan Soppeng Riaja dan Kecamatan Mallusetasi,  yang meliputi 40 Desa dan 14 Kelurahan.

Dari segi topografi, pada umumnya Kabupaten Barru berupa dataran tinggi dan perbukitan yang berada pada ketinggian 100 – 500 meter dari permukaan laut (mdpl). Wilayah tersebut berada di sepanjang Timur Kabupaten, sedangkan bagian barat, topografi wilayah dengan ketinggian 0 – 20 m dpl berhadapan dengan selat Makassar.

Ketinggian wilayah Kabupaten Barru 0 – 25 meter dari permukaan laut ,seluas 26.319 Ha ( 22,40 %); 25  – 100 m dpl seluas 12.543 Ha ( 10,68 %); 100 – 500 m dpl seluas 52.781 Ha (44,93 %); 500 – 1.000 mdpl seluas 23.812 Ha (20,27 %); 1.000 – 1.500 m dpl seluas 1.941Ha ( 1,65 % ) dan > 1.500 m dpl seluas 75 Ha  ( 0,06 %).

Jenis tanah di Kabupaten barru didominasi oleh jenis Regosol seluas 41.254 Ha (38,20 %); Mediteran seluas 32.516 Ha     (27,68 %); Litosol seluas 29.043 Ha ( 24,72 %); Alluvial seluas 4.659 Ha (12,48 %).

Kabupaten Barru memiliki sifat geologi yaitu seri endapan gunung api yang meliputi 27,59 % dari total wilayah Kabupaten, dengan berbagai jenis batuan penyusunnya. Litologi  penyusun daerah Kabupaten Barru dapat dibagi menjadi 11 kelompok: 1)Kompleks Ophiolit Barru, 2) Batuan Malihan, 3) Kompleks Melange, 4) Formasi Balangbaru, 5) Formasi Mallawa, 6) Formasi Tonasa, 7) Formasi Camba, 8) Anggota Batuan Gunung Api Camba, 9) Anggota Batu Gamping Formasi Camba, 10) Batu Gamping Formasi Walanae dan 11) Endapan Alluvium.

Berdasarkan tipe iklim dengan metode zone agroklimatologi yang berdasarkan pada bulan basah (curah hujan lebih dari 200 mm/bulan) dan bulan kering (curah hujan kurang dari 100 mm/bulan), di Kabupaten Barru terdapat seluas 71,79 persen wilayah ( 84.340 Ha) dengan tipe iklim C yakni mempunyai bulan basah berturut-turut 5 – 6 bulan (Oktober sampai dengan Maret), dan bulan kering berturut-turut kurang dari 2 bulan (April sampai dengan September).

Total hari hujan selama setahun di Kabupaten Barru sebanyak 113 hari dengan jumlah curah hujan sebesar 5.252 mm. Curah hujan di Kabupaten Barru berdasarkan hari hujan terbanyak pada bulan Desember- Januari dengan jumlah curah hujan  1.335 mm dan 1.138 mm sedangkan  hari hujan  masing-masing 2 hari dengan jumlah curah hujan masing-masing 104 mm dan 17 mm.

Gambar 2. Peta Administrasi Kabupaten Barru

Penggunaan lahan di Kabupaten Barru di dominasi oleh penggunaan lahan jenis hutan. Penggunaan lahan untuk perumahan hanya sebesar 1,82 % atau seluas 2141,5 Ha. Kabupaten ini juga memiliki potensi di bidang pertanian. Hal ini dapat dilihat dari luas area persawahan sebesar 10,55 % dan kebun campur seluas 7,06 %. Untuk lebih jelas mengenai penggunaan lahan di Kabupaten Barru dapat di lihat pada tabel berikut ini.

Tabel  1. Sumberdaya Lahan Kabupaten Barru Tahun 2009

No

Penggunaan Lahan

Barru

Luas(ha)

%

1

Perumahan

2141.5

1.82

2

Jasa

-

-

3

Industri

-

-

4

Perusahaan

-

-

5

Tegalan

3267

2.78

6

Sawah

12389

10.55

7

Tambak

2056

1.75

8

Kolam

-

-

9

Hutan

76465

65.09

10

Padang

10546.5

8.98

11

Jalan

-

-

12

Tidak diusahakan

320

0.27

13

Perkebunan

489.5

0.42

14

Kebun campur

8297.5

7.06

15

Danau

-

-

16

Pertambangan

-

-

17

Lain-lain

1500

1.28

          Sumber : Barru dalam Angka 2009

Kabupaten Barru terletak di sebelah selatan Kota Parepare. Kabupaten ini dilintasi jalan utama Provinsi Sulawesi Selatan. Area pemukiman berada di sebelah barat kabupaten. Hal ini dipengaruhi oleh keberadaan Selat Makassar dan jalan utama trans Sulawesi. Untuk lebih lanjut dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 3. Peta Pemanfaatan Lahan Kabupaten Barru

p

Kabupaten Barru yang merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan, dengan Ibu Kota Sumpang Binangae. Pada awalnya terdiri dari lima kecamatan dengan 24 desa, kemudian terjadi pemekaran desa menjadi 36 desa. Pada tahun 2001 dilakukan pemekaran kecamatan dan desa menjadi tujuh kecamatan  yakni Kecamatan Tanete Riaja, Kecamatan Pujananting, Kecamatan Tanete Rilau, Kecamatan Barru, Kecamatan Balusu, Kecamatan Soppeng Riaja dan Kecamatan Mallusetasi,  yang meliputi 40 Desa dan 14 Kelurahan.

Tabel 2.Jumlah dan Kepadatan Penduduk di Kabupaten Barru

Tahun 2009

No

Kecamatan

Luas Wilayah (km2)

Jumlah Penduduk (jiwa)

Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)

1 Tanete Riaja

174,29

21.538

123

2 Tanete Rilau

79,17

32.542

411

3 Barru

199,32

34.137

171

4 Soppeng Riaja

78,90

17.197

217

5 Mallusetasi

216,58

24.710

114

6 Pujananting

314,26

12.472

39

7 Balusu

112,20

17.829

158

    T o t a l

1174,72

160.425

136

Sumber: Bappeda Kabupaten Barru, 2009

Jumlah penduduk Kabupaten Barru berdasarkan data terakhir 2009  tercatat sebesar 160.425  jiwa dengan kepadatan rata – rata 136 jiwa /km2.

Dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat di Kabupaten Barru diklasifikasikan masih rendah karena masih didominasi oleh penduduk yang tidak tamat SD. Jumlah yang tidak atau belum tamat SD sebanyak 51.125 orang (32,15 %), tamat SD 47.277 orang (29,73 %), tamat SLTP 25.268 (15,89 %), tamat SLTA 20.355 (12,80 %), tamat SMK 5.534 orang (3,48%), tamat Diploma I/II 3.005 (1,89%), tamat Akademi/ Diploma III 1.606  (1,01%), tamat Universitas/ S2/S3 4.850 (6,48%)

Dari segi ketenagakerjaan, sebahagian besar penduduk memiliki mata pencaharian utama dari sektor pertanian, yaitu  sebesar 25.026 orang, sektor Perdagangan besar, perdagangan eceran, rumah makan, dan hotel sebesar 8.610 orang, sektor jasa perusahaan dan jasa kemasyarakatan 7.801 orang, sektor angkutan, pergudangan dan komunikasi 3.145 orang, sektor industri pengolahan sebesar  2.773 orang, sektor bangunan sebesar 1.934 orang dan lain-lain sebanyak 746 orang.

Gambaran makro perekonomian daerah tahun 2010 dapat dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Barru, PDRB Kabupaten Barru pada tahun 2006 atas dasar harga berlaku mencapai Rp.892.995,857 (juta) atau meningkat sebesar 8,06 % dibanding dengan tahun 2009 dan atas dasar harga konstan sebesar Rp. 575.260,19 (juta).Sebagai dampak pertumbuhan PDRB pada taun 2010 tersebut diikuti laju pertumbuhan ekonomi  sebesar 4,55 persen.

Tabel  3.Perkembangan PDRB Kabupaten Barru Atas Dasar Harga

Berlaku dan Harga Konstan Pada Tahun 2008-2010

 No.

Tahun

PDRB atas Dasar Harga Berlaku

(Juta Rp.)

PDRB atas Dasar Harga Konstan

(Juta Rp.)

PERTUMBUHAN Ekonomi (%)

1

2

3

2008

2009

2010

701,643.70

795,558.06

 831,659.37

524,304.20

550,220.31

575,260.19

4,22

4,94

4,55

Rata-rata 2008-2010

4,57

Sumber: Bappeda Kabupaten Barru, 2010

 

Selanjutnya struktur ekonomi wilayah ini masih didominasi oleh sektor pertanian dimana pada tahun 2010 peranan sektor pertanian sebesar 49,24 persen dibanding pada tahun 2009 sebesar 48,89 persen, sektor pertambangan dan penggalian pada tahun 2010 sebesar 1,43 persen dibandingan dengan tahun 2009 sebesar 1,32 persen, sektor industri pengolahan sebesar 4,06 persen tahun 2010 dibandingan dengan tahun 2009 sebesar 3,91 persen, sektor listrik, gas dan air pada tahun 2010 sebesar 0,91 persen dibandingan dengan tahun 2009 sebesar 0,84 persen, sektor bangunan pada tahun 2010 sebesar 6,47 persen dibandingan dengan tahun 2009 sebesar 6,05 persen, sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar  11,14 persen pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar  10,98 persen, sektor angkutan dan komunikasi pada tahun 2010 sebesar 4,27 persen dibandingan dengan tahun 2009 sebesar 4,75 persen, sektor lembaga keuangan, persewaan dan jasa perusahan tahun 2010 sebesar 6,25 persen dibandingan dengan tahun 2009 sebesar 5,88 persen dan sektor jasa-jasa pada tahun 2010 sebesar 16,23 persen dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar 17,38 %.

 

Tabel 4. Distribusi Persentase  PDRB  Kabupaten Barru Menurut  Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan, Tahun 2009 -2010 

NO.

Sektor

2008

2009

2010

Pertumbuhan 2008-2010

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Pertanian

Pertambangan dan Penggalian

Industri  Pengolahan

Listrik, Gas dan Air

Bangunan

Perdagangan, Restoran dan Hotel

Angkutan dan  Komunikasi

Lembaga Keuangan,

Jasa-Jasa

50,09

1,31

4,06

0,84

6,12

11,16

4,14

5,88

16,39

48,89

1,32

3,91

0,84

6,05

10,98

4,75

5,88

17,38

49,24

1,43

4,06

0,91

6,47

11,14

4,27

6,25

16,23

-0,10

0,07

-0,03

0,06

0,14

-0,18

-0,04

0,26

-0,17

                  T o t a l

100,00

100,00

100,00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bappeda Kabupaten Barru, 2010

Dari hasil perkembangan pendapatan daerah tersebut diatas, maka pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun 2010 sebesar 4,55 persen dibanding tahun 2009 sebesar 4,94 persen. Dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, maka secara langsung juga berdampak pada kenaikan pendapatan perkapita pada tahun 2010 yang mencapai Rp.5,185,587.70, dibandingkan dengan pendapatan perkapita pada tahun 2009 sebesar Rp. 5,009,149.03 (atas dasar harga berlaku).Prasarana dan sarana perhubungan merupakan kebutuhan pokok dalam rangka penyelenggaraan pelayanan distribusi arus barang, jasa dan penduduk. Prasarana dan sarana perhubungan yang telah tersedia sampai dengan tahun 2009 antara lain:

-prasarana perhubungan darat yang terdiri dari; terminal induk sebanyak 1 unit; terminal pembantu sebanyak  2 unit; jalan sepanjang 735,17 km yang dibagi menjadi jalan negara sepanjang 71,40 km, jalan propinsi sepanjang 33,90 km dan jalan kabupaten sepanjang 629,87 km; jembatan sepanjang 1.881,9 meter dengan jumlah 183 buah;

.

foto 1.pelabuhan Garongkong Kabupaten Barru

-prasarana perhubungan laut yang terdiri dari pelabuhan rakyat di Awerange, pelabuhan penyeberangan di Garongkong (dalam proses  pembangunan).

-Perhubungan Laut : Pelabuhan Awerange. Untuk memasarkan barang dan berbagai komoditi dari dan ke Kabupaten Barru, tersedia pelabuhan rakyat Awerange dengan panjang dermaga 70 meter, lebar 8 meter: Pelataran, panjang 40 meter, lebar 4 meter dan fasilitas pergudangan.  

-Pelabuhan Penyeberangan : Garongkong (dalam proses   pembangunan)      Prasarana dan sarana telekomunikasi dan informasi yang telah tersedia sampai dengan tahun 2004 antara lain telepon dengan kapasitas terpasang sebanyak 1.712 satuan sambungan, kapasitas terpakai 1.561 satuan sambungan dengan kepadatan telepon 158/10.000 jiwa, jumlah telepon umum kartu 3 unit dan telepon umum koin 18 unit. Selain itu di Kabupaten Barru juga telah tersedia layanan telekomunikasi seluler yaitu telkomsel, satelindo, Pro Xl disamping ketersediaan layanan telepon desa dengan sistem IP-base sebanyak 288 satuan sambungan dan akses internet melalui  website pemerintah daerah.

Saluran irigasi yang telah dibangun dan dimanfaatkan sampai dengan tahun 2009 terdiri dari saluran primer sepanjang 8.551 m saluran sekunder sepanjang 4.275 m dan saluran tersier sepanjang 8.551 m dengan areal sawah yang dapat diairi seluas 2.850 Ha, atau 21,87 persen dari luas sawah 13.029 Ha.

Drainase sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan permukiman yang sehat. Berkaitan dengan hal tersebut sampai dengan tahun 2009 telah dibangun dan berfungsi saluran drainase sepanjang 116.109 meter dengan tangkapan wilayah genangan yang mampu diserap seluas 31.952 Ha.

Penggunaan air bersih merupakan salah satu indikator keluarga sehat sehingga penggunaan air bersih baik melalui upaya masyarakat maupun melalui upaya pemerintah (PDAM) semakin ditingkatkan. Jumlah pengguna air bersih sampai dengan tahun 2009 berjumlah 150.734 jiwa dari total jumlah penduduk 159.698 jiwa atau mencapai 94,39 persen dengan rincian jenis sumber air bersih, meliputi sumur gali mencapai 111.872 jiwa dan PDAM sebesar 38.862 jiwa. Kapasitas pelayanan air minum yang terpasang melalui PDAM mencapai 139 liter/detik dan yang terpakai baru sebesar 94,5 liter/detik dengan jaringan perpipaan sepanjang 174,697 km, meliputi pipa transmisi 9,836 km dan pipa distribusi sepanjang 164,861 km.

Sumber energi listrik yang tersedia di Kabupaten Barru yang bersumber dari PLN dengan kapasitas 16.905,4 KVA/KWH. Jumlah desa/kelurahan yang terjangkau jaringan listrik dari PLN sampai dengan tahun 2009 sebanyak 52 Desa (96,30 %) dengan jumlah pelanggan sebanyak 27.246 rumah tangga (64,50 %).

Sumber Air Baku Balusu direncanakan Untuk pemenuhan kebutuhan akan air bersih di kawasan pelabuhan garongkong, dan daerah sekitarnya, terdapat sumber air baku terdekat di wilayah balusu. Sumber air baku Balusu merupakan sumber air baku terdekat yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan, sehingga pemenuhan akan kebutuhan air bersih diwilayah pelabuhan Garongkong dan sekitarnya dapat terpenuhi.

Pelabuhan Garongkong berada di Kabupaten Barru yang terletak di Kecamatan Barru sebagai pelabuhan nasional. Pengembangan pelabuhan ini dapat menjadikan Pelabuhan Garongkong menjadi salah satu ikon atau andalan dalam pengembangan kawasan maritim sebagai urat nadi perekonomian bagi Kabupaten Barru dan wilayah sekitarnya. Peranan Pelabuhan Garongkong dimasa yang akan datang mampu mendukung perkembangan wilayah regional dan nasional. Pelabuhan ini akan melayani kegiatan perdagangan di Kabupaten Barru dan sekitarnya. Komoditas pertanian dan pertambangan di Kabupaten Barru dapat terakomodir dengan baik melalui keberadaan Pelabuhan Garongkong. Ekspor hasil tambang dengan komoditas marmer dan semen dapat terlayani dengan baik sehingga mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Barru melalui penerimaan pajak.

Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Polejiwa adalah Lokasi terpilih industri perikanan terpadu berdasar pada arahan Pemerintah Kabupaten Barru, yaitu: terintegrasi dengan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Polejiwa, lokasi ini berada pada Kelurahan Tellumpanua, Kecamatan Tanete Rilau.Fasilitas industri perikanan terpadu sangat didukung dengan keberadaan fasilitas Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Polejiwa, sehingga investasi pabrik tidak lagi memerlukan fasilitas pendukung, seperti: dermaga, bengkel perahu, pangkalan BBM, dan pabrik es, karena semua fasilitas tersebut telah disiapkan di PPI.

Potensi dan Masa depan Kabupaten Barru

Prasarana dan sarana perhubungan merupakan kebutuhan pokok dalam rangka penyelenggaraan pelayanan distribusi arus barang, jasa dan penduduk. prasarana perhubungan darat yang terdiri dari; terminal induk sebanyak 1 unit; terminal pembantu sebanyak  2 unit; jalan sepanjang 735,17 km yang dibagi menjadi jalan negara sepanjang 71,40 km, jalan propinsi sepanjang 33,90 km dan jalan kabupaten sepanjang 629,87 km; jembatan sepanjang 1.881,9 meter dengan jumlah 183 buah;prasarana perhubungan laut yang terdiri dari pelabuhan rakyat di Awerange, pelabuhan penyeberangan di Garongkong (dalam proses  pembangunan).

Perhubungan Laut : Pelabuhan Awerange. Untuk memasarkan barang dan berbagai komoditi dari dan ke Kabupaten Barru, tersedia pelabuhan rakyat Awerange dengan panjang dermaga 70 meter, lebar 8 meter: Pelataran, panjang 40 meter, lebar 4 meter dan fasilitas pergudangan.

Pelabuhan Penyeberangan : Garongkong (dalam proses   pembangunan)

Sumber Air Baku Balusu.Untuk pemenuhan kebutuhan akan air bersih di kawasan pelabuhan garongkong, dan daerah sekitarnya, terdapat sumber air baku terdekat di wilayah balusu. Sumber air baku Balusu merupakan sumber air baku terdekat yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan, sehingga pemenuhan akan kebutuhan air bersih diwilayah pelabuhan Garongkong dan sekitarnya dapat terpenuhi.

Pelabuhan Garongkong

Pelabuhan Garongkong berada di Kabupaten Barru yang terletak di Kecamatan Binangae sebagai pelabuhan nasional. Pengembangan pelabuhan ini dapat menjadikan Pelabuhan Garongkong menjadi salah satu ikon atau andalan dalam pengembangan kawasan maritim sebagai urat nadi perekonomian bagi Kabupaten Barru dan wilayah sekitarnya. Peranan Pelabuhan Garongkong dimasa yang akan datang mampu mendukung perkembangan wilayah regional dan nasional. Pelabuhan ini akan melayani kegiatan perdagangan di Kabupaten Barru dan sekitarnya. Komoditas pertanian dan pertambangan di Kabupaten Barru dapat terakomodir dengan baik melalui keberadaan Pelabuhan Garongkong. Ekspor hasil tambang dengan komoditas marmer dan semen dapat terlayani dengan baik sehingga mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Barru melalui penerimaan pajak.

Potensi Kawasan kota Parepare

Secara geografis wilayah kota Parepare terletak ± 155 km arah utara kota Makassar dengan posisi 03o – 06o litang selatan dan 118o – 121o bujur timur. Adapun letak kota Parepare ditinjau dari aspek adminstrasi  berbatasan dengan :

-Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pinrang

-Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sidenreng Rappang

-Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Barru

-Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Kondisi ketinggian Wilayah Kota Parepare bervariasi antara 0 meter sampai 500 meter diatas permukaan laut. Kota Parepare seluas 99,33 Km2 merupakan areal berbukit – bukit dan bergunung-gunung. Kurang lebih   85 % wilayah Kota Parepare terdiri atas perbukitan, bergelombang dan bergunung dan berkisar 15 % dengan topografi datar yang berada dibagian barat dan merupakan  pusat kegiatan perekonomian di Kota Parepare. Ketinggian rata-rata wilayahnya 25 meter dari permukaan laut, sedang ketinggian bagian berbukit mencapai 500 meter dari permukaan laut.

Gambar 3. Diagram Lokasi Administrasi Kota Parepare

Menurut ketinggiannya, letak kota Parepare :

Tabel 5. Kondisi Wilayah Kota Parepare berdasarkan Kemiringan Lereng

Lereng

Kriteria

Luas (Ha)

Presentase (%)

0  – 2

2   – 15

15  –  4

>  40

Datar

Landai

Berbukit

Berbukit

1096,90

1096,90

2199,64

3215,04

14,4

14,4

28,9

42,3

Jumlah

          7608,48

100,00

Sumber : Dinas Sumber Daya Alam Kota Parepare, 2009 – 2010

Temperatur udara rata-rata di Kota Parepare adalah 28,5°C dengan suhu minimum 25,7°C dan suhu maksimum 31,6°C, dimana temperatur udara tertinggi terjadi pada Bulan Desember dan temperatur minimum terjadi pada Bulan Januari, maret, Juni dan Agustus.

Namun dalam tahun-tahun terakhir, keadaan  musim di Kota Parepare kadang tidak menentu. Pada bulan-bulan dimana seharusnya turun hujan dalam kenyataan tidak ada hujan sama sekali, atau sebaliknya pada bulan kemarau bahkan terjadi hujan berkepanjangan. Hal ini dimungkinkan berkaitan dengan berhembusnya angin alnino dan pemanasan global akibat kebakaran hutan yang cukup luas di beberapa Propinsi.

Berdasarkan pembagian tipe iklim menurut Oldeman, Kota Parepare termasuk dalam iklim C2, dimana jumlah bulan basah berkisar antara 5 – 6 bulan dan bulan kering antara 2 – 3 bulan.

Formasi geologi yang terdapat di Kota Parepare sebagai pembentuk struktur batuan di Wilayah Kota Parepare antara lain endapan alluvial, batu gamping koral. Selain itu di Kota Parepare juga terdapat batuan vulkanik seperti stuff, breksi, konglomerat dan lava.

Nilai pH tanah di Kota Parepare cukup bervariasi yaitu 5,6 – 6,5; 6,6 – 7,5.  Jenis tanahnya antara lain alluvial kelabu tua, aluvial hidromorf, assosiasi alluvial kelabu dan alluvial coklat.

Sungai yang ada di Kota Parepare  yaitu sungai Karajae, sungai Paroko dan Sungai Lauleng Sungai Karajae dari muara sampai pada percabangan pertama panjang 2,04 Km, lebar bervariasi antara 70 meter hingga 150 meter ( Muara ). Dari percabangan pertama kearah hulu lebar berkisar antara 10 meter hingga 70 meter. Kondisi air dari muara sungai  samapi 2 kilmeter kearah hulu bersifat asin dan payau, sedangkan lebih dari 2 kilometer kearah hulu adalah bersifat tawar. Dari hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan volume air tawar yang setiap saat dapat tertampung pada badan sungai tanpa adanya bendungan mencapai 445.600 meter kubik.Sungai  Panroko daerah alirannya terletak pada bagian tengah dan bagian tengah , menempati sekitar 35% dari luasya, dengan luas 2869 Ha. Wilayah tersebut mencakup wilayah perbukitan pada bagian timur dan wilayah pedaratan pada bagian barat. Bentuk pengaliran sungai adalah paralel (searah) dari arah hulu, dengan arah pengaliran relatif timur laut – barat daya. Sungai panroko bermuara di Selat Makassar dan Teluk Pare. Sungai Lauleng  daerah aliran sungainya terletak pada bagian utara dengan areal yang sempit, menempati sekitar 5% dari laus daerah peyelidikan, dengan luas areal mencapai 305,6 Ha. Wilayah tersebut meliputi perbukitan bergelombang  lemah dan sebagian wilayah pedataran. Bentuk pengaliran air sungainya adalah meranting dari arah hulu, dengan arah pengaliran relatif timur – barat  dengan bermuara di Selat Makassar dan Teluk Pare.

Posisi Parepare dilihat dari peta administratif Pemerintahan Propinsi Sulawesi Selatan, tetap menjadi penting dengan   ditetapkan    kedudukan  kantor Badan Koordinasi Wilayah I (dulunya Kantor  Pembantu Gubernur) di Kota Parepare.

Secara administrasi pemerintahan Kota Parepare terbagi ada 3 (tiga) wilayah Kecamatan.  Sedang dari segi kebijaksanaan pembangunan daerah dalam sistem pengembangan kawasan, Parepare ditetapkan sebagai Pusat Kawasan Andalan. Bahkan secara khusus dalam perannya di Kawasan Timur  Indonesia (KTI), Kota Parepare adalah satu di antara 28 Kabupaten / Kota di  Propinsi   Sulawesi Selatan,   terpilih dan ditetapkan sebagai Pusat Pengembangan  Kawasan Unggulan KTI.

Tingkat perkembangan kelurahan / desa di Kota Parepare disajikan pada tabel berikut ini :

Tabel 6. Tingkat Perkembangan Desa / Kelurahan di Kota Parepare

Tahun 2009

No.

Kecamatan

Jumlah Desa/

Kelurahan

Tingkat Perkembangan Desa

Swadaya

Swakarya

Swasembada

1.

2.

3.

Bacukiki

Ujung

Soreang

9

5

7

-

-

-

2

-

-

7

5

7

Jumlah

21

-

2

19

     Sumber : Kota Parepare dalam Angka, 2010

 

 

Penggunaan lahan terbesar di Kota Parepare adalah penggunaan lahan untuk hutan. Luas penggunaan lahan untuk perumahan tergolong cukup besar yakni sebesar 427,94 Ha atau sebesar 4,41 %. Penggunaan lahan paling kecil adalah untuk kolam, yaitu sebesar 7,51 Ha atau sebesar 0,08 % dari luas total Kota Parepare. Secara lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 7. Sumberdaya Lahan Kota Parepare Tahun 2009

No

Penggunaan Lahan

Parepare

Luas (ha)

%

1

Perumahan

437.94

4.41

2

Jasa

71.9

0.72

3

Industri

17.32

0.17

4

Perusahaan

59.02

0.59

5

Tegalan

2273.02

22.88

6

Sawah

993.2

10.00

7

Tambak

14.55

0.16

8

Kolam

7.51

0.08

9

Hutan

3890.95

39.17

10

Padang

2026.32

20.40

11

Jalan

141.13

1.42

12

Tidak diusahakan

-

-

13

Perkebunan

-

-

14

Kebun campur

-

-

15

Danau

-

-

16

Pertambangan

-

-

17

Lain-lain

-

-

Sumber : Parepare dalam Angka 2010

Jumlah penduduk Kota Parepare pada tahun 2009 sebanyak 115.169 jiwa yang tersebar secara tidak merata pada seluruh wilayah kota. Penduduk tersebut tersebar dalam 21 kelurahan, dimana kelurahan yang paling banyak penduduk adalah kelurahan Lapadde sebanyak 10.030 jiwa, sedangkan kelurahan yang paling kecil penduduknya adalah Kelurahan Watang Bacukiki sebanyak 1.421 jiwa. Perbedaaan dari jumlah penduduk menandakan bahwa tingkat intensitas guna lahan yang berbeda. Penyebaran penduduk yang tidak merata tersebut, mengakibatkan terjadinya kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi dan kepadatan penduduk rendah. Kelurahan dengan kepadatan penduduk tinggi adalah Kelurahan Bukit Indah, Lapadde, Ujung Lare dan Kampung Pisang, sedangkan kelurahan dengan kepadatan penduduk rendah adalah Kelurahan Watang Bacukiki. seperti diperlihatkan pada tabel berikut ini :

Tabel 8. Tingkat Kepadatan dan Penyebaran Penduduk Kota Parepare

Dirinci Menurut Kelurahan, Tahun 2009

No

Kecamatan/Kelurahan

Jumlah Penduduk (Jiwa)

Luas

(Ha)

Kepadatan (Jiwa/Ha)

1

Kecamatan Bacukiki

48369

79,70

606.89

2

Kecamatan Ujung

29681

11,30

2626.64

3

Kecamatan Soreang

38259

8,33

4592.92

Jumlah

116309

99,33

1170.94

Sumber : Kota Parepare dalam Angka, 2010

 

Kota Parepare pada tahun 2009 mempunyai jumlah penduduk sebanyak 115.169 jiwa, dimana penduduk yang bekerja pada sektor jasa sebanyak 13,93 %, pada sektor perdagangan 13,13%, dan pada sektor perangkutan dan komunikasi sebanyak 3,65%, sedangkan prosentase penduduk yang bekerja pada sektor lain relatif sedikit. Hal tersebut memberikan informasi bahwa mayoritas penduduk bekerja pada sektor jasa, perdagangan, dan perangkutan. Hal tersebut memberikan asumsi bahwa Kota Parepare adalah kota jasa perdagangan yang harus ditunjang oleh sistem perangkutan yang baik. Untuk lebih jelasnya dapat diperlihatkan pada tabel berikut :

Tabel 9. Jumlah Penduduk Dirinci Menurut Mata Pencaharian

di Kota Parepare Tahun 2009

No

Mata Pencaharian Penduduk

Jumlah Penduduk (Jiwa)

Prosentase (%)

1. Pertanian

3.384

2,94

2. Pertambangan dan Galian

48

0,04

3. Industri

2.052

1,78

4. Listrik, Gas dan Air

78

0,07

5. Konstruksi

1.342

1,17

6. Perdagangan

15.127

13,13

7. Angkutan dan Komunikasi

4.207

3,65

8. Keuangan

609

0,53

9. Jasa

16.039

13,93

10.. Lain-lain

72.283

62,76

Jumlah

115.169

100,00

Sumber : Kota Parepare dalam Angka, 2010

 

Prasarana jaringan jalan di Kota Parepare ditinjau dari aspek pengawasan terbagi dalam 3 bagian yaitu jalan Nasional Trans Sulawesi Makassar –  Palu Manado jalur Barat dan Jalur Timur 37,40 Km dengan konstruksi aspal hotmix kondisi mantap dan daya dukung jalan 15 ton/as kendaraan, jalan Propinsi 4 km dan jalan Kota 178,35 km, dengan lebar dari badan jalan berbeda-beda antara 12 meter s/d 6 meter. Jalan negara merupakan jalan poros Parepare-Makassar, Parepare-Barru, dan Parepare-Sidrap, sedangkan jalan propinsi merupakan jalan-jalan protokol dalam kota yang dilalui angkutan antar kota dan jalan kota meliputi semua jalan yang terdapat dalam wilayah kota Parepare. Panjang jalan Daerah : 157,85 km dengan konstruksi aspal hotmix kondisi mantap dan daya dukung jalan 6 s/d 15 ton/as kendaraan. Termasuk di dalamnya jalan arteri sekunder yang menghubungkan prasarana ekonomi seperti Pelabuhan, Kawasan Industri, pergudangan, terminal induk.

Terminal yang merupakan prasarana dengan fungsi utama sebagai tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang dan sebagai distribusi dan akumulasi penumpang dan kendaraan. Kota Parepare sebagai kota simpul jasa transportasi mempunyai 3 terminal yaitu terminal induk Lumpue, terminal pembantu Lapadde dan terminal pembantu Soreang.

Pelabuhan yang ada di Kota Parepare merupakan pelabuhan ekspor-impor, dan merupakan pelabuhan kedua terbesar di Sulawesi Selatan setelah pelabuhan Soekarno Hatta Makassar. Oleh karena itu pelabuhan yang ada sekarang ini perlu ditingkatkan fungsinya sesuai dengan kegiatan masing-masing seperti pelabuhan barang dan penumpang (Labukkang), pelabuhan milik Pertamina (Watang Soreang), serta pelabuhan rakyat sebagai pusat koleksi dan distribusi Kota Parepare yang wilayah pelayanannya mencakup wilayah pengembangan bagian tengah, wilayah pengembangan bagian utara dan wilayah pengembangan bagian timur. Jangkauan pemasarannya mencapai tingkat antar pulau, bahkan ekspor terutama untuk komoditi pertanian dan peternakan.

Jenis pelabuhan yang ada di Parepare adalah :

-Pelabuhan Barang dan Penumpang. Pelabuhan ini terdiri dari 3 (tiga) pangkalan yaitu Pangkalan Nusantara, Pangkalan Cappa Ujung dan Pangkalan Lontangnge.

-Pelabuhan Khusus  Pertamina. Jumlah dermaga 1 unit dengan luas 75 m2. Kedalaman air 8 meter. Melayani kapal tanker untuk kegiatan bongkar BBM, rata-rata 60-65 unit kapal/tahun, jumlah tangki 9 unit.

-Dermaga hewan. Jumlah dermaga 1 unit dengan luas 750 m2. Kedalaman air 7 meter. Melayani kapal-kapal khusus angkutan hewan.

Di Kota Parepare sub sektor telekomunikasi telah dilaksanakan secara terarah dan terpadu, dimana pembangunan sarana dan prasarana telekomunikasi tersebut telah menjangkau seluruh kota dengan sistem sambungan telepon otomat.   Di Kota Parepare telah beroperasi Telkomsel, Satelindo, Excelcomindo, Fren dan PT. Telkom dengan jumlah satuan sambungan 454.739.

Sarana komunikasi lainnya adalah satu unit kantor pos yang terletak di Kecamatan Ujung yang menyediakan berbagai pelayanan antara lain pengiriman surat ke dalam dan luar negeri, pengiriman paket, pengiriman uang melalui wesel pos, pelayanan internet / provider (telkomnet dan speedy) dan lain sebagainya

Jaringan Air Bersih   (air tawar), potensi air tawar (air baku) yang tersedia : 905 Liter / detik berasal dari air tanah dangkal, air permukaan (sungai) dan mata air. Sedangkan system air bersih untuk kebutuhan air minum, dikelola oleh PDAM dengan kapasitas terpasang 205 Liter / detik dan kapasitas terpakai 165 Liter / Detik, tersisa 40 Liter / detik.

Sumber listrik di Kota Parepare berasal dari ( PLTU Tello di Makassar, PLTG di Sengkang,PLTD di Suppa dan PLTA di Bakaru). Keempat pembangkit listrik diatas disalurkan ke box transmisi dengan kapasitas 150 KV dari transmisi  tersebut disalurkan kebeberapa gardu induk di Parepare.Kapasitas listrik terpasang di Kota Parepare adalah 16 MVA (12,8 MW) dan kapasitas terpakai sebanyak 7,6 MVA (6,08 MW). Sehingga masih tersisa sebesar 8,4 MVA (6,72 MW).

Selain berpeluang sebagai pusat pertumbuhan, kota Parepare juga berpeluang sebagai pelayanan industri manufaktur yang difokuskan pada agro industri di pusatkan di kelurahan Lapadde. Kelurahan Watang Soreang yang mempunyai laut cukup dangkal dan dekat dengan Pelabuhan Cappa ujung dan Pasar Sentral Lakessi sangat potensial berkembang menjadi daerah reklamasi untuk mengakomodir kemungkinan tumbuh kembangnya pergudangan, industri manufaktur dan pusat perdagangan grosir. Fasilitas pergudangan (Dolog Lapadde) yang ada di Kelurahan Lapadde cenderung akan mempengaruhi tumbuh kembangnya industri dan fasilitas penunjang lain di sekitarnya.

Kota Parepare juga berpeluang untuk pengembangan jasa dan perdagangan juga pengembangan pariwisata. Berbagai objek wisata kota yang berada di sepanjang jalur jalan akses utama wisatawan mancanegara yang menuju dan dari Tana Toraja dapat menarik sebagai koridor wisata yang damai, indah, berdaya guna dan berhasil guna bagi wisatawan. Penataan dan peremajaan fasilitas perbelanjaan yang ada saat ini seperti pasar sentral, pasar senggol dan fasilitas pertokoan seperti pusat niaga, dilakukan di samping pertimbangan fungsinya sebagai fasilitas perbelanjaan juga akan didesain lebih bagus agar dapat menjadi objek wisata belanja yang digemari baik masyarakat lokal, regional maupun wisatawan mancanegara ayang sering melewati kota ini menuju maupun pulang dari Tana Toraja.

Potensi dan harapan masa depan kawasan kota Parepare.

Jalan.

Prasarana jaringan jalan di Kota Parepare ditinjau dari aspek pengawasan terbagi dalam 3 bagian yaitu jalan Nasional Trans Sulawesi Makassar –  Palu Manado jalur Barat dan Jalur Timur 37,40 Km dengan konstruksi aspal hotmix kondisi mantap dan daya dukung jalan 15 ton/as kendaraan, jalan Propinsi 4 km dan jalan Kota 178,35 km, dengan lebar dari badan jalan berbeda-beda antara 12 meter s/d 6 meter. Jalan negara merupakan jalan poros Parepare-Makassar, Parepare-Barru, dan Parepare-Sidrap, sedangkan jalan propinsi merupakan jalan-jalan protokol dalam kota yang dilalui angkutan antar kota dan jalan kota meliputi semua jalan yang terdapat dalam wilayah kota Parepare.

Panjang jalan Daerah : 157,85 km dengan konstruksi aspal hotmix kondisi mantap dan daya dukung jalan 6 s/d 15 ton/as kendaraan. Termasuk di dalamnya jalan arteri sekunder yang menghubungkan prasarana ekonomi seperti Pelabuhan, Kawasan Industri, pergudangan, terminal induk.

Terminal.

Terminal yang merupakan prasarana dengan fungsi utama sebagai tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang dan sebagai distribusi dan akumulasi penumpang dan kendaraan. Kota Parepare sebagai kota simpul jasa transportasi

Foto 3. Kawasan pergudangan di Lapadde kota Parepare.

mempunyai 3 terminal yaitu terminal induk Lumpue, terminal pembantu Lapadde dan terminal pembantu Soreang.

Pelabuhan

Pelabuhan yang ada di Kota Parepare merupakan pelabuhan ekspor-impor, dan merupakan pelabuhan kedua terbesar di Sulawesi Selatan setelah pelabuhan Soekarno Hatta Makassar. Oleh karena itu pelabuhan yang ada sekarang ini perlu ditingkatkan fungsinya sesuai dengan kegiatan masing-masing seperti pelabuhan barang dan penumpang (Labukkang), pelabuhan milik Pertamina (Watang Soreang), serta pelabuhan rakyat sebagai pusat koleksi dan distribusi Kota Parepare yang wilayah pelayanannya mencakup wilayah pengembangan bagian tengah, wilayah pengembangan bagian utara dan wilayah pengembangan bagian timur. Jangkauan pemasarannya mencapai tingkat antar pulau, bahkan ekspor terutama untuk komoditi pertanian dan peternakan.

Jenis pelabuhan yang ada di Parepare adalah :

foto 4. Kawasan pelabuhan Parepare.

-Pelabuhan Barang dan Penumpang. Pelabuhan ini terdiri dari 3 (tiga) pangkalan yaitu Pangkalan Nusantara, Pangkalan Cappa Ujung dan Pangkalan Lontangnge.

-Pelabuhan Khusus  Pertamina. Jumlah dermaga 1 unit dengan luas 75 m2. Kedalaman air 8 meter. Melayani kapal tanker untuk kegiatan bongkar BBM, rata-rata 60-65 unit kapal/tahun, jumlah tangki 9 unit.

-Dermaga hewan. Jumlah dermaga 1 unit dengan luas 750 m2. Kedalaman air 7 meter. Melayani kapal-kapal khusus angkutan hewan

Selain berpeluang sebagai pusat pertumbuhan, kota Parepare juga berpeluang sebagai pelayanan industri manufaktur yang difokuskan pada agro industri di pusatkan di kelurahan Lapadde. Kelurahan Watang Soreang yang mempunyai laut cukup dangkal dan dekat dengan Pelabuhan Cappa ujung dan Pasar Sentral Lakessi sangat potensial berkembang menjadi daerah reklamasi untuk mengakomodir kemungkinan tumbuh kembangnya pergudangan, industri manufaktur dan pusat perdagangan grosir. Fasilitas pergudangan (Dolog Lapadde) yang ada di Kelurahan Lapadde cenderung akan mempengaruhi tumbuh kembangnya industri dan fasilitas penunjang lain di sekitarnya.

Kota Parepare juga berpeluang untuk pengembangan jasa dan perdagangan juga pengembangan pariwisata. Berbagai objek wisata kota yang berada di sepanjang jalur jalan akses utama wisatawan mancanegara yang menuju dan dari Tana Toraja dapat menarik sebagai koridor wisata yang damai, indah, berdaya guna dan berhasil guna bagi wisatawan. Penataan dan peremajaan fasilitas perbelanjaan yang ada saat ini seperti pasar sentral, pasar senggol dan fasilitas pertokoan seperti pusat niaga, dilakukan di samping pertimbangan fungsinya sebagai fasilitas perbelanjaan juga akan didesain lebih bagus agar dapat menjadi objek wisata belanja yang digemari baik masyarakat lokal, regional maupun wisatawan mancanegara yang sering melewati kota ini menuju maupun pulang dari Tana Toraja.

Potensi kabupaten Pinrang

Kabupaten Pinrang merupakan wilayah propinsi Sulawesi Selatan yang secara   geografis terletak pada koordinat antara  4º10’30” sampai 3º19’13”Lintang Selatan  dan 119º26’30”  sampai 119º47’20”Bujur Timur.  Daerah ini berada pada ketinggian 0 – 2.600 meter dari permukaan laut.

Kabupaten Pinrang berada ± 180 Km dari Kota Makassar, dengan memiliki luas   ±1.961,77 Km2, terdiri dari tiga dimensi kewilayahan meliputi dataran rendah, laut dan dataran tinggi. Kabupaten Pinrang secara administratif pemerintahan terdiri dari 12 (dua belas) Kecamatan, 36 Kelurahan dan 68 Desa yang meliputi 81 Lingkungan dan 168 Dusun. Sebagian besar dari wilayah kecamatan merupakan  daerah pesisir yang memiliki luas 1.457,19 Km2 atau 74,27% dari luas keseluruhan Wilayah Kabupaten Pinrang dengan panjang garis pantai ± 93 Km.

Adapun batas wilayah Kabupaten Pinrang sebagai berikut  :

-Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja

-Sebelah Timur berbatasan dengan  Kabupaten Enrekang dan Sidrap

-Sebelah Barat berbatasan dengan  Selat Makassar serta Kabupaten Polewali

-Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Parepare.

-Kondisi Topografi Wilayah Kabupaten Pinrang bervariasi dari kondisi   datar hingga  berbukit.  Keadaan wilayah  berdasarkan kelerengan  disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 10. Keadaan Wilayah Berdasarkan Kelerengan di Kabupaten Pinrang

Lereng

Kriteria

Luas (Ha)

Presentase (%)

0  – 2

2   – 15

15  –  4

>  40

Datar

Landai

Berbukit

Berbukit

100.370,2

15.696,8

50.246

29.864

51,1

8,1

25,6

15,2

Jumlah

196.177

     100,00

                             Sumber : Dinas Sumber Daya Alam Kabupaten Pinrang, 2008 – 2009

 

                                Klasifikasi iklim menurut  Smith-Ferguson, tipe iklim Wilayah Kabupaten Pinrang     termasuk tipe A dan  B dengan curah hujan terjadi pada bulan Desember hingga Juni dengan curah hujan tertinggi terjadi pada  bulan Maret.  Musim kemarau terjadi pada bulan Juni sampai Desember.  Kriteria tipe iklim    Oldeman-Syarifuddin bulan basah di Kabupaten Pinrang tercatat 7 – 9  bulan, bulan lembab  1 – 2  bulan dan bulan kering 2 – 4  bulan.  Tipe iklim menurut klasifikasi   Oldeman – Syarifuddin adalah iklim  B dan C.  Curah hujan tahunan berkisar antara 1073 mm sampai 2910 mm, Evaporasi rata-rata tahunan di Kabupaten Pinrang berkisar antara 5,5 mm/hari sampai  8,7 mm/hari. Suhu rata-rata normal antara 27°C dengan kelembaban udara 82% – 85%.

                               Secara administrasi pemerintahan Kabupaten Pinrang yang  beribukota Pinrang terdiri dari 12 kecamatan yang terdiri dari 36 Kelurahan, 68 Desa, 81 Lingkungan dan 168 Dusun. Gambaran administrasi pemerintahan  di Kabupaten Pinrang disajikan pada diagram lokasi dan tabel berikut  ini

Tabel 11. Gambaran Administrasi Pemerintahan di Kabupaten Pinrang

No.

Kecamatan

Ibukota

Kecamatan

Kel.

Desa

Dusun

Lingk.

RK/

RW

RT

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7

8.

9.

10.

11.

12.

Suppa

M. Sompe

M. Bulu

W. Sawitto

Patampanua

Cempa

Duampanua

Lembang

Lanrisang

Tiroang

Paleteang

Batu Lappa

Majenang

Langnga

Bua

Pinrang

Teppo

Cempa

Lampa

Karawa

JampuE

Tiroang

Paleteang

B. Lappa

2

2

2

8

4

-

5

2

-

5

6

-

8

7

7

-

6

7

9

12

7

-

-

5

21

15

18

-

14

17

24

26

19

-

-

12

5

4

5

17

10

-

10

4

-

12

14

-

62

48

58

51

55

34

83

94

37

26

38

25

138

87

137

113

107

79

159

185

71

65

90

51

Jumlah

36

68

168

81

611

1282

                      Sumber: Kabupaten Pinrang dalam angka 2009

                                           Gambar .5. Peta Administrasi Kabupaten Pinrang

Penggunaan lahan di Kabupaten Pinrang di dominasi oleh penggunaan lahan jenis hutan yaitu sebesar 93.360 Ha, atau sebesar 47,59 Ha. Kabupaten ini juga memiliki potensi di bidang pertanian yang ditunjukkan oleh besarnya area persawanan dan perkebunan. Area pemukiman di Kabupaten Pinrang ini memiliki luas 11.167 Ha atau sebesar 5,69 %.

Tabel 12. Sumberdaya Lahan Kabupaten Pinrang Tahun 2009

No

Penggunaan Lahan

Pinrang

Luas(ha)

%

1 Perumahan

11.167

5.69

2 Jasa

-

-

3 Industri

-

-

4 Perusahaan

-

-

5 Tegalan

-

-

6 Sawah

43.907,5

22.40

7 Tambak

15.795,5

8,06

8 Kolam

1.365

0.70

9 Hutan

93.360

47.59

10 Padang

6.905

3.52

11 Jalan

-

-

12 Tidak diusahakan

-

-

13 Perkebunan

13.140

6.8

14 Kebun campur

-

-

15 Danau

-

-

16 Pertambangan

-

-

17 Lain-lain

10.337

52.27

Sumber : Pinrang dalam Angka 2010

 

Kabupaten Pinrang berbatasan langsung dengan pantai, yaitu pantai di Teluk Mandar. Kabupaten ini terletak di utara Kota Parepare. Seperti halnya Kota Parepare, Kabupaten Pinrang memiliki kota bentuk struktur ruang melintang dari utara ke selatan.  Hal ini dipengaruhi oleh keberadaan jalan trans Sulawesi yang berada di bagian barat Provinsi Sulawesi Selatan. Pusat kota berada di tengah wilayah Kabupaten Pinrang.

Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pinrang mengalami perubahan dari waktu ke waktu, penyebaran penduduknyapun memperlihatkan hasil yang cenderung tidak merata.  Gambaran  mengenai  jumlah penduduk, jumlah rumah tangga, maupun mengenai kepadatan penduduk.Jumlah penduduk Kabupaten Pinrang berdasarkan data terakhir Desember 2007 tercatat sebesar 335.270 jiwa dengan kepadatan rata – rata 170 jiwa /km2.

Dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat di Kabupaten Pinrang diklasifikasikan cukup baik hal ini diindikasikan dari banyaknya pencari kerja yang masih didominasi oleh penduduk yang tamat SMU.

Tabel 13. Gambaran Penduduk Kabupaten Pinrang, Tahun 2009

No. Kecamatan Luas

Wilayah

(Km ²)

Jumlah Penduduk (Jiwa) Sex Rasio (%) Jumlah Rumah Tangga
LK PR Total
1. Suppa

74,20

13884

14738

28622

94,21

6572

2 M.  Sompe

96,99

13291

15015

28306

88,52

6535

3 M. Bulu

132,49

12189

13835

26024

88,10

6309

4 W. Sawitto

58,97

20517

23107

43624

88,79

11116

5 Patampanua

136,85

15068

16182

31250

93,12

6685

6 Cempa

90,30

8145

8588

16733

94,34

4106

7 Duampanua

291,86

21754

23445

45199

92,79

9701

8 Lembang

733,09

19002

19631

38633

96,80

8249

9 Lanrisang

73,01

8269

9241

17510

89,48

3967

10 Tiroang

37,29

9266

9967

19233

92,97

4768

11 Paleteang

77,73

14666

16013

30679

91,59

6699

12 Batu Lappa

158,99

4596

4861

9457

94,25

1952

Jumlah

1.961,77

160647

174623

335270

92,00

76659

Sumber: Kabupaten Pinrang dalam Angka 2011

Prasarana dan sarana perhubungan merupakan kebutuhan pokok dalam rangka penyelenggaraan pelayanan distribusi arus barang, jasa dan penduduk. Prasarana dan sarana perhubungan yang telah tersedia sampai dengan tahun 2009 antara lain:

Jalan Nasional Kabupaten Pinrang dilalui jalan Nasional Trans Sulawesi Selatan Makassar  – Mamuju. Panjang jalan Nasional di wilayah ini ± 84,91 Km dengan konstruksi aspal hotmix dengan kondisi baik dan daya dukung jalan 15 ton / as kendaraan.Jalan Daerah,Panjang jalan Daerah ± 647,37 Km dengan konstruksi aspal hotmix dengan kondisi baik dan daya dukung jalan 6 s/d 15 ton / as kendaraan. Termasuk di dalamnya jalan arteri sekunder yang menghubungkan prasarana pendukung seperti  PLTA Bakaru dan PLTD Suppa.     Prasarana dan sarana telekomunikasi dan informasi yang telah tersedia sampai dengan tahun 2009 antara lain telepon dengan kapasitas terpasang sebanyak 8.534 satuan sambungan. Selain itu di Kabupaten Pinrang juga telah tersedia layanan telekomunikasi seluler yaitu telkomsel, satelindo, Exelcomindo disamping ketersediaan layanan telepon desa dan akses internet.

Sungai merupakan sumber air terbesar yang ada di Kabupaten Pinrang. Selain itu, sumber air berasal dari sumur umum sebanyak 245 buah, air grafitasi 27 buah, sumur dangkal 175 buah. Di samping itu, penyediaan air bersih dilakukan oleh Perusahaan Daerah air Minum (PDAM), cakupan pelayanan yang dilakukan PDAM Pinrang terhadap masyarakat kota dan sekitarnya mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sumber air bersih tersebut berasal dari sungai dengan kapasitas 50 liter/detik. Pelayanan air bersih tersebut sudah menjangkau berbagai lapisan masyarakat baik untuk kepentingan rumah tangga maupun untuk industri. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan dunia usaha akan energi listrik, di Kabupaten Pinrang telah dibangun beberapa  pembangkit listrik :

-PLTA Bakaru  dengan kapasitas 2 X 63 MW

-PLTD Suppa dengan kapasitas 60 MW

-PLTA Teppo dengan kapasitas 3 X 5,40 MW

Kawasan Perikanan Tambak, pengembangan tambak udang memiliki potensi yang cukup besar, terutama udang yang merupakan komoditas dalam perdagangan “seafood” dunia, karena kira-kira 60 % dari produksi udang, masuk menjadi komoditas perdagangan. Ada

Foto 2.bendungan benteng di kabupaten Pinrang.

empat pasar dunia yang penting dalam memasarkan komoditi udang yaitu : Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa dan bagian dunia lain yaitu : Hongkong, Singapura, Jerman Australia, Malaysia, Inggris, Perancis, Belanda, Belgia dan Luxemburg. Namun demikian satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam pengembangan tambak adalah

Foto 3.PLTA Bakaru di Kabupaten Pinrang.

bagaimana agar kondisi hutan bakau (mangrove) yang saat ini telah dinilai mengalami kerusakan yang cukup parah, bisa tetap dilestarikan sejalan dengan pengembangan tambak itu sendiri, mengingat kedua hal ini saling memiliki keterkaitan dan saling menunjang. Pengembangan udang difokuskan di kabupaten Barru dan Kabupaten Pinrang.

Potensi dan masa depan kawasan kabupaten Pinrang

Kawasan Perikanan Tambak.

Di sub sektor perikanan, pengembangan tambak udang memiliki potensi yang cukup besar, terutama udang yang merupakan komoditas dalam perdagangan “seafood” dunia, karena kira-kira 60 % dari produksi udang, masuk menjadi komoditas perdagangan. Ada empat pasar dunia yang penting dalam memasarkan komoditi udang yaitu : Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa dan bagian dunia lain yaitu : Hongkong, Singapura, Jerman Australia, Malaysia, Inggris, Perancis, Belanda, Belgia dan Luxemburg. Namun demikian satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam pengembangan tambak adalah bagaimana agar kondisi hutan bakau (mangrove) yang saat ini telah dinilai mengalami kerusakan yang cukup parah, bisa tetap dilestarikan sejalan dengan pengembangan tambak itu sendiri, mengingat kedua hal ini saling memiliki keterkaitan dan saling menunjang. Pengembangan udang difokuskan di kabupaten Barru dan Kabupaten Pinrang.

 

Potensi Kabupaten Sidrap.

Kabupaten Sidrap merupakan  salah satu Kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan dengan ibukota di Pangkajene Sidenreng. Secara geografis Kabupaten Sidrap  berada pada posisi 3O 43’ – 4O 09’ Lintang Selatan (LS) dan 119O 41’ – 120O 10’ Bujur Timur (BT). Kabupaten Sidenreng Rappang terletak pada bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan  180 km dari Makassar ibu kota provinsi. Memiliki luas wilayah 1883,25 km2. Secara administrasi, kabupaten Sidenreng Rappang berbatasan dengan:

-Sebelah Utara: Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Enrekang

-Sebelah Timur   : Kabupaten Luwu dan Kabupaten Wajo.

-Sebelah Selatan : Kabupaten Barru dan Kabupaten Soppeng

-Sebelah Barat    : Kota Parepare dan Kabupaten Pinrang.

Wilayah Kabupaten Sidrap dibagi menjadi 11 Kecamatan yang terdiri 67 desa dan 38 kelurahan. Total desa dan kelurahan sebanyak 105 dengan rincian distribusi desa/ kelurahan per kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 14. Luas Wilayah dan Jumlah Desa/ Kelurahan di Kabupaten

Sidenreng Rappang

No

Kecamatan

Luas (Ha)

Jumlah Desa

  Jumlah Kelurahan
1. Panca lautang

15.393

7

3

2. Tellu Limpoe

10.320

3

6

3. Watang Pulu

15.131

5

5

4. Baranti

5.389

4

5

5. Panca Rijang

3.402

4

4

6. Kulo

7.500

6

0

7. Maritengngae

6.590

5

7

8. Sidenreng

12.081

5

3

9. Dua Pitue

6.999

7

2

10. Pitu Riawa

21.043

10

2

11. Pitu Riase

84.477

11

1

Total

188.325

67

38

Sumber : Sidenreng Rappang  dalam angka 2010

 

Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang  mempunyai topografi yang bervariasi dari datar, berombak, bergelombang berbukit, dan bergunung dengan ketinggian dari  nol sampai lebih besar 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Hampir keseluruhan wilayahnya memenuhi persyaratan ketinggian tempat untuk pertumbuhan bagi jenis tanaman pangan dan tanaman perdagangan, yang umumnya  menghendaki tempat dengan ketinggian 0 – 100 meter dpl., bahkan. untuk jenis tanaman dataran tinggi di atas 1000 m.dpl masih tersedia areal 21.663 ha atau kurang lebih 9 % dari areal wilayah.  Sedangkan potensi terbesar adalah pada ketinggian 0 – 500 m. dpl. Seluas 198 557 ha atau 81,18 % dari keseluruhan areal lahan tersedia.  Selain ketinggian dari permukaan laut yang bervariasi,  lahan di wilayah Kabupaten  Sidenreng Rappang juga mempunyai spesifkasi  dalam hal kemiringan (kelas lereng). Hampir separuh (42,01 %) wilayahnya mempunyai lahan dengan kelas lereng 0 – 2 %, bahkan terdapat tiga kecamatan (Maritengngae,  Pancarijang, Baranti) yang seluruh lahannya hanya mempunyai kelas lereng 0 – 2 %. Kelas lereng yang lebih besar 40% mencakupi 35,42 % wilayahnya Kabupaten Sidenreng Rappang sedangkan sisanya bervariasi 2 – 15 % dan 15 – 40 %.

Curah hujan di Kabupaten Sidenreng Rappang menyebar dari 1160 mm/tahun sampai dengan 2625 mm/tahun. Temperatur harian rata-rata bervariasi antara 24,30C sampai 31,50C.  Berdasarkan peta Agro Klimatologi Propinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Sidenreng Rappang mempunyai ragam tipe iklim C1, D1, D2, E2, dan E3.

Musim hujan terjadi pada periode bulan April Sampai September sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Oktober sampai Maret setiap tahunnya. Terdapat 38 sungai di  yang berfungsi mengalirkan air utntuk dapat dimanfaatkan sebagai pengairan seperi  Sungai Bila  yang dapat mengairi sawah untuk sebahagian wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang dan Kabpaten Wajo.

Foto 4..Kawasan Sentra Padi Di Kabupaten Sidenreng Rappang.

Foto 5.bendung Bila di Kabupaten Sidenreng Rappang.

Panjang keseluruhan sungai yang mengalir di sembilan Kecamatan di Kabupaten Sidenrang Rappang adalah 231.660 m.

Di Kabupaten Sidenreng Rappang terdapat jenis tanah Alluvial (24,01 % wilayah), Regosol ( 11,05 %), Grumosol (3,57 %), Mediteran  ( 5,76 %), Podsolik merah kuning ( 55,61%). Tanah Podsolik hanya terdapat di Kecamatan Dua Pitue dan Maritengngae.  Sedangkan jenis Tanah  alluvial  dan tanah Regosol  terdapat di   Kecamatan Baranti, Dua Pitue, Maritenggae, Panca Lautan, Panca Rijang dan Tellu Limpoe. Ditunjang oleh kemiringan lahan dan jenis tanah yang sesuai, maka tidak mengherankan jika lahan pertanian di Kabupaten Sidenreng Rappang didominasi oleh lahan persawahan.

Data pemanfaatan lahan di Kabupaten Sidenreng Rappang menunjukkan lebih seperempat (27.57%) wilayahnya dimanfaatkan untuk persawahan, yaitu seluas 46.294,86 ha. Untuk pertanian di lahan kering (ladang/tegalan, kebun campuran, perkebunan) digunakan areal seluas 30.315,46 ha (18,05 %).  Sedangkan untuk peternakan tersedia lahan padang rumput seluas 19.153,66 ha (11,41 %)  serta belukar yang dapat dimanfaatkan untuk peternakan seluas 2.266,05 ha (1,35 %).  Faktor pendukung  bagi keberhasilan penggunaan lahan untuk pertanian di Kabupaten Sidenreng Rappang dapat diindikasikan dari luas hutan yang masih tersedia yakni 62.357,51 ha (37,13%) yang berfungsi sebagai pengendali terjadinya banjir dan sedimentasi serta tingkat kesuburan tanah.

Semua kondisi yang dikemukakan ini, memberi dukungan yang sangat signifikan (tingkat kepercayaan 95 %) bagi julukan Kabupaten Sidenreng Rappang sebagai daerah agraris dan salah satu daerah pemasok pangan terbesar di Sulawesi Selatan.

Penggunaan lahan di Kabupaten Sidrap di dominasi oleh penggunaan lahan jenis hutan. Di area ini tidak memiliki area pertambangan. Penggunaan lahan terbesar kedua adalah penggunaan lahan jenis sawah. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Sidrap memiliki potensi yang cukup besar di bidang pertanian. Tidak hanya persawahan, kegiatan pertanian di kabupaten ini di dukung oleh sektor perkebunan. Hal ini ditunjukkan oleh luas lahan jenis perkebunan dan kebun campur.

 Gambar .6. Peta Administrasi Kabupaten Sidenreng Rappang

  Tabel 15. Sumberdaya Lahan Kabupaten Sidrap Tahun 2009

No

Penggunaan Lahan

Sidrap

Luas

(ha)

%

1 Perumahan

4.280

2.27

2 Jasa

-

-

3 Industri

-

-

4 Perusahaan

-

-

5 Tegalan

281

0.15

6 Sawah

46.985

24.95

7 Tambak

-

-

8 Kolam

782

0.41

9 Hutan

61.366

32.58

10 Padang

18.447

9.80

11 Jalan

-

-

12 Tidak diusahakan

1.792

0.95

13 Perkebunan

13.925

7.40

14 Kebun campur

2.896

11.27

15 Danau

-

1.54

16 Pertambangan

-

-

17 Lain-lain

16.342

8.69

Sumber : Sidrap dalam Angka 2010

 

 

Berdasarkan pencatatan penduduk tahun 2009 di Kabupaten Sidenreng Rappang tercatat jumlah penduduk sebanyak  248.768  orang , terdiri atas laki-laki 120.241 orang dan Perempuan sebanyak 128.528 orang. Sex Ratio 93 artinya untuk setiap 100 orang penduduk perempuan terdapat 93 orang laki-laki. Kepadatan penduduk tercatat sebesar 131 jiwa/km2. Anggota rumah tangga (ART) sebanyak 4 orang  dengan beban tanggungan anggota yang bekerja sebesar 2,72 orang (dibulatkan 3 orang). Data kependudukan di Kabupaten Sidrap selengkapnya disajikan pada tabel berikut :

Tabel 16. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kecamatan,Jenis Kelamin dan

Sex Ratio di Kabupaten Sidrap  Tahun 2009

No.

Kecamatan

Jenis Kelamin

Jumlah

Sex Ratio

Laki-laki

Perempuan

1

Panca Lautang

7994

8826

16820

90.57

2

Tellu Limpoe

9951

11243

21194

88.51

3

Watang Pulu

12552

13025

25577

96.37

4

Baranti

12500

13678

26178

91.39

5

Panca Rijang

11966

12921

24887

92.61

6

Kulo

5097

5406

10503

94.28

7

Maritengngae

19370

20796

40166

93.14

8

Sidenreng

7494

8004

15498

93.63

9

Pitu Riawa

11654

12202

23856

95.51

10

Dua Pitue

12500

13453

25953

92.92

11

Pitu Riase

9162

8974

18136

102.09

Jumlah

120241

128528

248768

93.55

Sumber: Sidenreng Rappang Dalam Angka, 2010

 

Keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi diukur dengan proporsi penduduk yang masuk dalam pasar kerja, yaitu penduduk yang bekerja atau mencari pekerjaan. Banyaknya penduduk yang masuk dalam pasar kerja menunjukkan jumlah penduduk yang siap  terlibat dalam angkatan kerja. Ukuran yang digunakan untuk mengukur partisipasi penduduk dalam angkatan kerja adalah suatu ukuran yang disebut Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). TPAK merupakan ratio jumlah angkatan yang kerja terhadap seluruh usia kerja (penduduk usia 10 tahun keatas).

Proporsi penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan merupakan salah satu ukuran untuk melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja.  Selain itu, indikator tersebut juga bisa digunakan sebagai ukuran untuk menunjukkan struktur perekonomian suatu wilayah.  Kabupaten Sidenreng Rappang sebagai wilayah agraris, maka potensi yang besar diandalkan dari sektor pertanian. Hal ini akan  sejalan tingginya persentase tenaga kerja di sektor  pertanian  daripada sektor lainnya.

Di Kabupaten Sidenreng Rappang jumlah penduduk angkatan kerja sebanyak  111,795 orang  terdiri atas angkatan kerja yang sedang mencari kerja sebanyak 27,405 orang  atau sebesar 24.51 % dari penduduk angkatan kerja dan yang kedua adalah angkatan kerja yang sementara bekerja sebanyak 84,390 orang atau 75.49% dari penduduk angkatan kerja.

Penduduk yang bukan angkatan kerja (anak-anak dan lansia) berjumlah 90,524 orang terbagi atas 35,061 orang atau  38.73 % yang masih sekolah, sebagian besar (51.90 %) atau sebanyak 46,980 orang mengurus RT dan lainnya sebesar 8,483 orang atau 9.37%. Ratio beban tanggungan angkatan kerja yang sementara kerja terhadap penduduk bukan angkatan kerja dan pencari kerja  adalah sebesar 0.75, artinya setiap seratus orang yang bekerja menanggung beban  sebanyak 75 orang yang tidak bekerja.

Lapangan kerja utama penduduk Kabupaten Sidrap adalah sektor pertanian (54.33 %), hal ini disebabkan karena sebagian besar penggunaan lahan di wilayahnya adalah lahan pertanian tanaman pangan dan khususnya lahan persawahan. Sektor lainnya yang juga menyerap tenaga kerja cukup besar adalah sektor jasa & perdagangan (16.80%) dan sektor jasa perusahaan & kemasyarakatan (11,24%).

Tabel 16. Profil Ketenagakerjaan di Kabupaten Sidrap Tahun 2009

No

Uraian

Jumlah

(Orang)

1

  Angkatan kerja

         111,795

 

  -Sementara Bekerja

            84,390

 

  -Mencari Pekerjaan

             27,405

2

Bukan angkatan kerja

           90,524

 

Sekolah

             35,061

 

Mengurus RT

              46,980

 

Lainnya

                8,483

3

Lapangan Usaha:

             84,390

 

- Pertanian

             45,849

 

- Pertambangan & Penggalian

               1,653

 

- Listrik, gas & air minum

                     87

 

- Industri   Pengolahan

                  6,264

 

- Bangunan

              2,175

 

- Jasa dan Perdagangan

              14,181

 

- Angkutan, pergudangan & komunikasi

               4,350

 

- Keuangan, sewa bangunan & tanah

                348

 

- Jasa perusahaan & kemasyarakatan

                9,483

4

% Bekerja Terhadap Angkatan Kerja

               75.49

5

% Angkatan Kerja Thd Penduduk Usia Kerja

                   59.60

Sumber: BPS Provinsi Sulawesi Selatan, 2009

 

Prasarana dan sarana perhubungan merupakan kebutuhan pokok dalam rangka penyelenggaraan pelayanan distribusi arus barang, jasa dan penduduk. Prasarana dan sarana perhubungan yang telah tersedia sampai dengan tahun 2009 antara lain untuk menunjang dan memperlancar arus lalu lintas darat di daerah ini terdapat satu unit terminal induk yang berada di daerah Lawawoi dan 4 terminal pembantu masing-masing berada di Kecamatan MaritengngaE, Panca Rijang, Dua Pitue dan Tellu Limpoe; jalan sepanjang 1.275,77 km yang dibagi menjadi jalan negara sepanjang 70,40 km, jalan propinsi sepanjang 40,35 km dan jalan kabupaten sepanjang 1.165,02 km.

Pelayanan komunikasi di Kabupaten Sidrap dilaksanakan oleh PT. Telkom guna memperlancar komunikasi antar masyarakat pengguna jasa telepon kabel, disamping itu untuk pengguna jasa telepon seluler atau Handphone, dengan adanya pemasangan antena (BTS) dari  PT. Telkomsel dan PT. Satelindo untuk daerah tertentu dan sekitarnya seperti Kecamatan MaritengngaE, Kecamatan Panca Rijang begitu juga Kecamatan Dua PituE, maka kebutuhan akan telekomunikasi khususnya telepon seluler dapat terlayani di Kabupaten Sidrap.

Sarana komunikasi lainnya yang ada di Kabupaten Sidrap masih terbatas, hal ini dapat dilihat dari jumlah Kantor Pos yang ada, hanya terdapat di Kota Pangkajene, Rappang, Amparita dan Tanru Tedong.

Di Kabupaten Sidrap terdapat 38 daerah aliran sungai yang tersebar pada 7 kecamatan, diantaranya Sub DAM Rappang, SUB DAS Betao, Sub DAS Kalempang, Sub DAS Bila/Tanru Tedong serta Sub Saddang yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih untuk rumah tangga, juga untuk irigasi dan industri kecil.  Sungai ini berpotensi untuk pembangkit listrik tenaga air. Daerah aliran sungai mempunyai debet rata-rata 575.001,84 liter/detik atau cadangan 575. Literdetik.

Sumber air bersih di Kabupaten Sidrap bersumber dari PDAM dan air permukaan. Sumber air yang berasal dari PDAM dominan dimanfaatkan oleh masyarakat perkotaan khususnya Kota Panca Rijang, Kecamatan MaritengngaE, disamping Kota-kota Kecamatan lainnya di Kabupaten Sidrap. Sedangkan sumber air yang menggunakan sumur dangkal atau air sungai umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat pedesaan, disamping itu pula sumber air ini dimanfaatkan penduduk perkotaan sebagai air cuci dan lain-lain.

Pelayanan PDAM di Kota maupun di pedasaan adalah untuk kebutuhan domestik (rumah tangga), komersial dan sosial (non domestik). Sumber air bersih yang digunakan PDAM yaitu sumur bor 4 unit di Pangkajene dan 2 unit di Rappang dengan kapasitas 36 liter/detik dengan jumlah pelanggan sebanyak 2.476 yaitu 2.370 (96%) domestik dan 106 (4%) non domestik.

Penyedia layanan listrik yang hampir memenuhi kebutuhan masyarakat Sidrap baik untuk perkantoran, industri, serta rumah tangga di lakukan oleh salah satu Badan Usaha Milik Negara yang berbentuk Persero yakni   PT. PLN (Persero), namun sumber dari daya yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan berasal dari interkoneksi PLTA Bakaru Pinrang, karena Kabupaten Sidrap belum memiliki sumber listrik tersendiri ini disalurkan ke PLN Ranting yang berada di setiap yang ada, bahkan PLTA ini hampir mensuplai kebutuhan listrik se Sulawesi Selatan dan Tenggara.Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa dari 11 kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Sidrap,  semua mendapat suplai Listrik dari sumber yang sama.

Potensi andalan wilayah :

-Bendung Torere

Dalam rangka sinegitas Pemerintah Daerah Kabupaten Sidrap terhadap program peningkatan swasembada beras nasional, pemerintah daerah melakukan daya upaya untuk memenuhi kebutuhan petani akan air untuk pertanian. Dan salah satu proritas pengembangan infrastruktur adalah pembangunan Bendungan dan jaringan irrigasi Torere di daerah irigasi Torere Kecamatan Panca Lautang.

-Kawasan Penghasil Beras.

Untuk padi, tekad pemerintah untuk mempertahankan Swasembada beras mengharuskan peningkatan produksi padi secara terus menerus sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Dengan angka pertumbuhan produktivitas padi seperti sekarang, Indonesia telah menjadi importir beras dan bahkan diprediksi pada tahun 2010 Indonesia akan mengimport sekitar 530.000 ton. Dengan demikian produksi padi KAPET Parepare diharapkan dapat menjadi subtitusi impor dan memasok pasar nasional.

Dari beberapa fakta diatas Wilayah KAPET Parepare yang merupakan salah satu wilayah penghasil beras terbesar di Indonesia yang dijadikan sebagai lumbung stok nasional sehingga selama ini telah menghasilkan produksi yang manfaatnya dirasakan dan sebagian besar produksinya untuk memenuhi kebutuhan pangan, baik lokal maupun nasional perlu mengambil inisiatif dalam pengembangan agribisnis di wilayahnya khususnya dalam perberasan baik dalam produktifitas maupun dalam pengolahan produknya.

Padi merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Sidenreng Rappang. Hal ini sangat memungkinkan karena memiliki luas areal yang cukup potensial diantara wilayah penghasil beras lainnya dikawasan Bosowasipilu.

-Kawasan Penghasil Ternak

Sektor peternakan merupakan salah satu potensi yang sangat berpeluang untuk dikembangkan di Kabupaten Sidrap, mengingat luas lahan untuk pengembangan kawasan peternakan masih sangat terbuka.

Untuk meningkatkan peran ternak sapi bagi perekonomian dan untuk meningkatkan pendapatan petani / peternak di Wilayah KAPET Parepare, maka di daerah ini masih terbuka lebar peluang bagi calon investor untuk melakukan kegiatan usahanya di bidang ternak sapi. Hal ini didukung dengan tersedianya lahan, limbah hasil pertanian sebagai bahan baku pakan ternak serta adanya dukungan yang akan diberikan pemerintah daerah dalam bentuk : Penyediaan/ pencadangan lahan untuk perusahaan inti, mempercepat proses perijinan, pembinaan kelompok tani / ternak atau koperasi, pemeriksaan dan diagnosa penyakit dan fasilitas pemakaian RPH sesuai dengan kapasitas.

Kabupaten Enrekang secara geografis terletak di bagian Utara Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan dengan jarak ± 240 Km yang berupa wilayah dataran tinggi. Adapun posisi geografis Kabupaten Enrekang adalah pada 3°10’00” – 3°05’00” Lintang Selatan dan di antara 119°03’08” . 120°01’00” Bujur Timur dengan luas wilayah sekitar 1.786,01 Km2 (Lebih kurang 2,86 % dari luas Provinsi Sulawesi Selatan.

Ditinjau dari segi administrasi, wilayah Kabupaten Enrekang terdiri dari 11 kecamatan, yang terdiri dari 111 Desa/kelurahan. Adapun batas wilayah Kabupaten Enrekang.Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja;

-Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu;

-Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Sidenreng Rappang

-Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Enrekang

                        Gambar 7. Peta Administrasi Kabupaten Enrekang

Kabupaten Enrekang didominasi oleh topograpi yang curam. Daerah dengan Topografi  datar sampai landai hanya terdapat di kecamatan-kecamatan Maiwa, Malua, Enrekang selatan, dan Enrekang,namun luas wilayah dengan topografi ini meliputi <= 25 % dari total luas wilayah Kecamatannya. Hal ini tentunya merupakan faktor penghambat dalam pemanfaatan lahan secara intensif. Oleh karenanya, pemanfaatan utama harus diarahkan  pada perkebunan dengan jenis tanaman jangka panjang dan kehutanan yang tidak menerapkan pemanenan hasil melalui tebang habis.

Rata-rata curah hujan pada beberapa stasiun periode tahun 2003 ­- 2005 dan tipe iklim menurut Schmidt dan Ferguson (1951) setiap wilayah mempunyai curah hujan yang berbeda-beda. Curah hujan di Kabupaten Enrekang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Kabupaten lain yang ada di Sulawesi Selatan. Curah Hujan tertinggi selama kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir ini terjadi pada Mei tahun 2009 dengan curah hujan yaitu 410 mm dengan jumlah hari hujan selama 19 hari.

Musim hujan selama periode tiga tahun terakhir dimulai dari bulan Desember sampai dengan April dengan hari hujan minimum rata-rata 2­15 hari perbulan. Musim kemarau terjadi pada Mei sampai dengan Nopember dengan curah hujan rata-rata relatif rendah yaitu 63,75 mm perbulan.

Struktur geologi Kabupaten Enrekang memiliki karakteristik yang kompteks dicirikan oleh morfologi wilayah yang bervariasi. Berdasarkan morfologinya maka wilayah Kabupaten Enrekang dapat dibagi menjadi 9 (sembilan), yaitu:

-Brown Forest Soil yang banyak terdapat di Kecamatan Kabere yang merupakan daerah perbatasan dengan Kabupaten Enrekang.

-Meditarian coklat keketabu-tabuan yang banyak terdapat di wilayah Kecamatan Alla, Kecamatann Anggeraja, Kecamatan Baraka dan Kecamata Enrekang.

-Mediteran Coklat banyak terdapat di Kecamatan Anggeraja dan Kecamatan Alla.

-Podsolik Coklat dengan bahan induk tufa volkan macam terdapat di Wilayah Kecamatan Enrekang dan Kecamatan Maiwa.

foto 9. Gunung Bambapuang di Kabupaten Enrekang.

-Podsolik Coklat dengan bahan induk batuan pasir serfik dan tufa banyak terdapat di Wilayah Kecamatan Anggeraja, Kecamatan Baraka dan Kecamatan Enrekang.

-Podsolik kekuningan dengan bahan induk seksis terdapat di Wilayah Kecamatan Maiwa, Kecamatan Baraka dan Kecamatan Alla.

-Podsolik merah kekuningan dengan bahan induk batu pasir terdapat di Wilayah Kecamatan Maiwa.

-Podsolik violet dengan bahan induk serpih dan batu pasir terdapat di Wilayah Kecamatan Maiwa atas, Kecamatan Baraka dan Kecamatan Alla.

-Kompleks podsolik coklat kelabuan dan regosol terdapat di wilayah Kecamatan Maiwa.

Morfologi pegunungan vulkanik mempunyai relief topografi tinggi. Batuan pegunungan adalah batuan gunung api dari formasi Latimojong, menyebar di bagian Timur Wilayah Kabupaten Enrekang dengan arch penyebaran ke Utara Selatan. Formasi Latimojong tersusun dari batuan sedimen fiat berselingan dengan batuan gunung api (vulkanik), batu pasir tufaan berselingan dengan tufa, batu pasir, batu lanan dan batu lempung umumnya mengeras kuat dan sebagian kurang padat. Tebal pelapisannya ± 4-100 cm, tufanya berbutir halus hingga mapilli, mengandung fosil foriminifera kecil yang menunjukkan umur miosen tengah sampai miosen akhir dan diendapkan dalam lingkungan neuritik.

Sementara itu ditinjau dari struktur batuan sebagai pembentuk geologi, maka dapat dibedakan atas 14 jenis batuan, yaitu :

-Batuan lempung yang menyebar hampir merata pada semua wilayah Kecamatan di Kabupaten Enrekang

-Batuan Koalin yang terdapat di Kecamatan Baraka

-Batu gamping banyak terdapat di Kecamatan Maiwa, Kecamatan Baraka, Kecamatan Anggeraja Kecamatan Curio, Kecamatan Alla dan Kecamatan Enrekang.

-Batu Marmer, terdapat di Kecamatan Baraka dan Anggeraja

-Pasir Kuarsa, banyak terdapat di Kecamatan Alla dan Anggeraja

-Serpih, yaitu terdapat di kecamatan Baraka

-Batu Pasir, yaitu terdapat hampir di semua kecamatan di Wilayah Kabupaten Enrekang, kecuali Kecamatan Bungin dan Kecamatan Curio.

-Tufa, yaitu hanya terdapat di Kecamatan Cendana

-Basal, terdapat di Kecamatan Enrekang dan Kecamatan Cendana

-Andesit, banyak terdapat di Kecamatan Anggeraja, Kecamatan Maiwa dan Kecamatan Baraka.

Sungai utama di wilayah Kabupaten Enrekang adalah Sungai Saddang, Sungai Bulu Cenrena, Sungai Mata Alto, dan Sungai Malua, yang mengalir dari daerah perbukitan/pegunungan yang tersusun dari berbagai formasi geologi, terdiri dari batuan sedimen, batuan beku, batuan volkan, dan batuan malihan. Sungai-Sungai di Kabupaten Enrekang mengalir dengan perbedaan gradien yang rendah sehingga terbentuk sungai-sungai yang berkelok-kelok. Pola ini dicirikan oleh terbentuknya dataran banjir yang cukup luas, dan terdapatnya bekas-bekas sungai (meander) di sepanjang jalur aliran. Khusus untuk dataran banjir sungai Mahakam diantara Melak dan penyinggahan, membentuk dataran rawa yang cukup luas bergabung dengan dataran rawa dari danau Jempang. Dataran rawa ini umumnya tergenang di musim penghujan dan sebagian surut di musim kemarau. Dalam kondisi surut, wilayahnya banyak dimanfaatkan penduduk setempat sebagai lokasi penanaman palawija.

Penggunaan lahan di Kabupaten Enrekang di dominasi oleh penggunaan lahan jenis hutan, yaitu sebesar 61,21 Ha atau sebesar 109.330 Ha. Kabupaten Enrekang memiliki area pertambangan seluas 22,40 %. Di KAPET Parepare, hanya Kabupaten Enrekang yang memiliki potensi di sektor pertambangan. Area persawahan hanya sedikit sekali yang berada di Kabupaten Enrekang ini. Hal ini dapat dikarenakan Kabupaten Enrekang yang terletak di area pegunungan.

Tabel 17. Sumberdaya Lahan di Kabupaten Enrekang Tahun 2009

No

Penggunaan Lahan

Enrekang

Luas (ha)

%

1 Perumahan

167.43

0.09

2 Jasa

32

0.02

3 Industri

-

-

4 Perusahaan

-

-

5 Tegalan

-

-

6 Sawah

167.43

0.09

7 Tambak

-

-

8 Kolam

-

-

9 Hutan

109330

61.21

10 Padang

298.96

0.17

11 Jalan

-

-

12 Tidak diusahakan

201.05

0.11

13 Perkebunan

-

-

14 Kebun campur

722

0.40

15 Danau

-

-

16 Pertambangan

40008.88

22.40

17 Lain-lain

27673

15.49

Sumber : Enrekang dalam Angka 2010

Perkembangan penduduk Kabupaten Enrekang mengalami perkembangan yang cukup variatif setiap tahunnya. Jumlah penduduk Kabupaten Enrekang pada tahun 2009 sebesar 185.527 jiwa Kecamatan Alla dengan jumlah penduduk terbesar yakni 30.115 jiwa dan luas 75,74 Km2. Penyebaran penduduk berdasarkan data tersebut di Kabupaten Enrekang relatif tidak merata.

Secara lebih jelas, Proporsi tingkat kepadatan penduduk yang tidak merata dan perkembangan jumlah penduduk Kabupaten Enrekang secara lebih nyata tentang periode 2009 diperlihatkan tabel berikut:

Tabel 18. Gambaran Penduduk Kabupaten Enrekang Tahun 2009

No.

Kecamatan

Luas

(Km2)

Jumlah Penduduk (Jiwa)

Kepadatan

(Jiwa/Km)

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

1

Maiwa

392,87

11491

11335

22826

58.10

2

Enrekang

291,19

14619

14911

29530

101.41

3

Baraka

159,15

10479

9993

20472

128.63

4

Anggeraja

125,34

11807

11730

23537

187.79

5

Alla

75,74

15476

14639

30115

397.61

6

Bungin

236,84

2179

1983

4162

17.57

7

Cendana

91,01

4204

4335

8539

93.82

8

Curio

178,51

7298

6870

14168

79.37

9

Malua

40,36

4148

4200

8348

206.84

10

Buntu Batu Mario

126,65

6127

5746

11873

93.75

11

Masalle

68,35

6180

5777

11957

174.94

Jumlah

1.786,01

94008

91519

185527

103.88

Sumber: Kabupaten Enrekang dalam angka 2010

Jenis Lapangan Usaha atau biasa disebut sebagai mata pencaharian penduduk dapat diklasifikasikan dalam bidang: pertanian, perdagangan, Jasa­-jasa dan lainnya. Struktur penduduk menurut jenis usaha dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 19. Jumlah Penduduk Kabupaten Enrekang Menurut Lapangan Usaha (Jiwa) Tahun 2009

No.

Lapangan

Usaha

Jumlah

Persentase (%)

2005

2009

2005

2009

1. Pertanian

60.812

63.074

75,72

75,72

2. Perdagangannn

4.356

8.113

9,74

9,74

3. Jasa-jasa

5.250

6.756

8,11

8,11

4. Lainnya

3.447

5.356

6,43

6,43

Jumlah

73.865

83.299

100

100

Sumber: Kabupaten Enrekang Dalam Angka 2005-2009

 

Dilihat dari tingkat pendidikan masyarakat di Kabupaten Enrekang diklasifikasikan cukup baik hal ini diindikasikan dari banyaknya pencari kerja yang masih didominasi oleh penduduk yang tamat SMU.

Perkembangan pembangunan sarana dan prasarana di Kabupaten Enrekang pada saat ini dapat dikatkan cukup baik hal ini disebabkan jaringan jalan di Ibukota Kabupaten sampai Ibukota Kecamatan dan desa  telah terlayani dan sebahagian besar beraspal. Angkutan Kota tersedia setiap hari untuk mengangkut penumpang dan barang kesemua jalur dalam wilayah Kabupaten Enrekang.

Meskipun daerah ini telah memiliki prasarana jalan memadai utamanya jalan Negara , jalan propinsi seluruhnya aspal hotmix, namun masih terdapat beberapa desa utamanya desa terpencil / terisolir masih terdapat kondisi jalan tanah yang dapat dilewati dengan perjalanan kaki atau kendaraan hewan.

Adapun sarana jalan di Kabupaten Enrekang terlihat pada tabel  berikut :

Tabel  20.      Panjang dan Kondisi Jalan Kabupaten Enrekang

Tahun 2009

No

Jenis jalan

Panjang Jalan

Kondisi Jalan

Baik

Sedang

Rusak

Rusak Berat

1. Jalan Negara

-       Aspal

-       Kerikil

85,16

-

77,95

-

6,76

-

0,45

-

-

-

2. Jalan Propinsi

-       Aspal

-       Kerikil

18,00

10,00

-

6,00

-

2,00

-

-

-

3. Jalan  Kec/Desa

-       Aspal

-       Kerikil

-       Tanah

165,75

138,92

268,83

122,63

219,57

148,19

322,03

Total 3

573,5

122,63

219,57

148,19

322,03

Total 1+2+3

676,66

210,58

232,33

150,64

322,64

Sumber:Dep.hub Kabupaten Enrekang 2009

 

Panjang jalan yang ada di Kabupaten Enrekang sebanyak 676,66 Km yang terdiri dari jalan Negara 85,16 Km seluruhnya aspal, jalan propinsi 18,00 Km juga seluruhnya aspal dan jalan kabupaten 573,5 Km.Ditinjau dari kondisi jalan, terdapat 210,58 Km adalah jalan baik, 232,33 Km jalan sedang, 150,64 Km jalan rusak dan 322,64 Km jalan rusak berat.

Prasarana telekomunikasi yang terdapat di Kabupaten Enrekang antara lain telepon, kantor pos dan giro, telegram dan wartel. Disamping itu juga tersedia Faximile dimana dijumpai pada kantor-kantor Pemerintah dan Swasta. Pelayanan telepon umum ditempatkan pada tempat-tempat umum, namun masih sangat terbatas. Kebutuhan sambungan telepon untuk Kabupaten Enrekang masih terbuka untuk pelanggan baru, terutama bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya di daerah tersebut.

Sungai merupakan sumber air terbesar yang ada di Kabupaten Enrekang. Disamping itu, penyediaan air bersih dilakukan oleh Perusahaan daerah Air Minum (PDAM), cakupan pelayanan yang dilakukan PDAM Enrekang terhadap masyarakat kota dan sekitarnya mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pelayanan air bersih tersebut sudah menjangkau berbagai lapisan masyarakat baik untuk kepentingan rumah tangga maupun untuk industri.

Pelayanan listrik di Kabupaten Enrekang dilakukan oleh salah satu BUMN yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sumber pembangkit listrik di Kabupaten Enrekang berasal dari interkoneksi dari PLTA Bakaru yang disalurkan ranting/sub ranting PLN Kabupaten Enrekang.

Potensi  andalan Wilayah

Kawasan Penghasil Kopi

Kopi merupakan komoditas unggulan bagi KAPET Parepare, baik itu kopi robusta maupun kopi arabica. Kabupaten Enrekang yang merupakan salah satu Wilayah dari KAPET Parepare merupakan penghasil kopi kedua terbesar di Sulawesi Selatan sesudah Kabupaten Tana Toraja. Pada tahun 2009 produksi kopi kabupaten ini mencapai 6.231 ton dengan luas areal penanaman 10.444 ha dan dengan  kapasitas produksi 1.500 kg ha/tahun.

Kawasan Penghasil Holtikultura dan Agrowisata

Produk hortikultura Kabupaten Enrekang memiliki potensi untuk dikembangkan selain menjadi komoditas unggulan ekspor juga sangat prospek untuk dikembangkan menjadi wisata agro. Untuk tahun 2006 saja terhampar lahan perkebunan hortikultura seluas 7.188 ha yang tersebar diberbagai kecamatan di kabupaten ini belum lagi hamparan kebun kopi yang menawan yang mencapai       10.444 ha.

Kabupaten berudara sejuk ini memiliki kondisi fisiografis yang menarik. 42,29% dari luas daerahnya memiliki kemiringan lereng diatas 40° dan seluas 42,45% terdiri dari kemiringan lereng antara 15°- 40°. Selebihnya seluas 15,26% merupakan dataran rendah yang terletak dibagian tengah meliputi Kecamatan Enrekang dan Kecamatan Maiwa. Dengan kondisi wilayah tersebut Kabupaten ini sangat bervariasi dalam hal sumberdaya alam yang dapat dikembangkan khususnya dalam bidang perkebunan hortikultura.

Berdasarkan penyebaran potensi hortikultura di Kabupaten Enrekang, maka daerah yang paling potensial dan strategis bagi pengembangan agro wisata berbasis hortikultura adalah Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang. Lokasi agro wisata ini berlokasi di Dusun Bossok Desa Sumilan dengan luas lahan 10 Ha.

Potensi dan harapan masa depan kawasan kabupaten Enrekang

Kawasan Penghasil Kopi

Kopi merupakan komoditas unggulan bagi KAPET Parepare, baik itu kopi robusta maupun kopi arabica. Kabupaten Enrekang yang merupakan salah satu Wilayah dari KAPET Parepare merupakan penghasil kopi kedua terbesar di Sulawesi Selatan sesudah Kabupaten Tana Toraja. Pada tahun 2004 produksi kopi kabupaten ini mencapai 6.231 ton dengan luas areal penanaman 10.444 ha dan dengan  kapasitas produksi 1.500 kg ha/tahun.

Kawasan Penghasil Holtikultura dan Agrowisata

Produk hortikultura Kabupaten Enrekang memiliki potensi untuk dikembangkan selain menjadi komoditas unggulan ekspor juga sangat prospek untuk dikembangkan menjadi wisata agro. Untuk tahun 2006 saja terhampar lahan perkebunan hortikultura seluas 7.188 ha yang tersebar diberbagai kecamatan di kabupaten ini belum lagi hamparan kebun kopi yang menawan yang mencapai 10.444 ha.

Kabupaten berudara sejuk ini memiliki kondisi fisiografis yang menarik. 42,29% dari luas daerahnya memiliki kemiringan lereng diatas 40° dan seluas 42,45% terdiri dari kemiringan lereng antara 15°-40°. Selebihnya seluas 15,26% merupakan dataran rendah yang terletak dibagian tengah meliputi Kecamatan Enrekang dan Kecamatan Maiwa. Dengan kondisi wilayah tersebut Kabupaten ini sangat bervariasi dalam hal sumberdaya alam yang dapat dikembangkan khususnya dalam bidang perkebunan hortikultura.

Berdasarkan penyebaran potensi hortikultura di Kabupaten Enrekang, maka daerah yang paling potensial dan strategis bagi pengembangan agro wisata berbasis hortikultura adalah Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang. Lokasi agro wisata ini berlokasi di Dusun Bossok Desa Sumilan dengan luas lahan 10 Ha.

foto 7. Kawasan industri Maiwa Kabupaten Enrekang

gambar 8.Peternakan di Kawasan industry Maiwa kabupaten Enrekang.

Bahan Bacaan .

1.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);

2.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2008 tentang      Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004   tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia           Tahun 2008 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Republik         Indonesia Nomor 4844);

3.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang      Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara   Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140; Tambahan Lembaran            Negara Republik Indonesia Nomor 5059);

4.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang      Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009   Nomor 153; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor         5072);

5.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang      Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010   Nomor 130; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor         5168);

6.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2011 tentang        Perumahan dan Kawasan Permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia      Tahun 2011 Nomor 7; Tambahan Lembaran Negara       Republik Indonesia            Nomor 5188);

7.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999           tentang          Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran       Negara Republik     Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan         Lembaran Negara Republik         Indonesia Tahun  Nomor 3838);

8.Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4532);

9.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

10.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor  4833);

11.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010        Tentang  Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara        Republik        Indonesia Tahun 2010 Nomor 21; Tambahan Lembaran             Negara Republik     Indonesia Tahun  Nomor  5103);

12.Keputusan Presiden RI Nomor 33 Tahun 1991 tentang Penggunaan   Tanah Bagi Kawasan Industri;

13.Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan         Nasional       di Bidang Pertanahan;

14.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 66/PRT/1993, tentang        Teknis Penyelenggaraan Bangunan Industri Dalam Rangka Penanaman Modal;

15.Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2006 tentang            Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Berita      Negara Republik     Indonesia  Tahun 2006 Nomor 276);

16.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang     Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;

17.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang     Pedoman      Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung   dan Lingkungan;

18.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 06/PRT/M/2007 tentang     Pedoman Umum  Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;

19,Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor            41/PRT/M/2007 tentang Kriteria Teknis Kawasan Budidaya;

20.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 11/PRT/M/2009 tentang     Pedoman Persetujuan Substansi dalam Penetapan Rancangan          Peraturan Daerah   tentang RTRW Provinsi dan RTRW Daerah beserta        Rencana Rincinya;

21.Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15/PRT/M/2009 tentang     Pedoman Penyusunan RTRW Provinsi;

22.Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/KPTS/2009 tentang    Pedoman Penyusunan RTRW Kabupaten;

23.Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 17/KPTS/2009 tentang    Pedoman Penyusunan RTRW Kabupaten;

24.Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009      tentang          Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan

KAPET PARE PARE

About these ads
Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: