kumpulan kritik film di harian fajar oleh Syahriar Tato

MISI MILITER YANG GAGAL

 

Judul                    :    Black Hawk Down

Naskah                :    Mark Bowden

Skenario               :    Ken Nolan

Produksi              :    Columbia Pictures

Produser              :    Jerry Bruckhaeimer, Ridley Scott

Sutradara             :    Ridley Scott

Pemain                 :    Josh Harnett, Eric Bana, Ewan McGregor, Tom Sizemore, William Fichter,  Jeremy Piven, Sam Shepard.

I

ni    kisah    nyata.    Ini    film    perang    tei kegagalan    misi    militer    Amerika    Serikat Mogadishu,    Somalia,    setelah    gagal    pul; Vietnam. Tapi ini film perang yang anti perang, mengingatkan Amerika terhadap  misi  militernya belahan dunia.

Mengadopsi buku yang merupakan karya jurnalistik Black Hawk Down : A Story of Modern War, karya Mark Bowden, film ini menceritakan kisah nyata yang mengerikan yang terjadi pada 3 Oktober 1993 ketika Amerika, yang merupakan bagian dari operasi penjaga perdamaian PBB, melakukan misi penangkapan terhadap Jenderal Mohammad Farah Aidit sekaligus untuk mengakhiri perang sipil di Somalia.

Misi dimulai pukul 15,30 dan diplot hanya setengah jam. Hampir 100 orang tentara Amerika, diperintahkan oleh Kapten Mike Steele, didrop menggunakan helikopter ke dalam ibukota Mogadishu. Di luar dugaan, pasukan Amerika menghadapi perlawanan dari tentara rukyat Mogadishu. Helikopter Black Hawk terjatuh, dan upaya evakuasi harus dilakukan. Di sinilah cerita terpusat. Selama 18 jam, para serdadu tersebut terjebak dan terluka di daerah musuh di Mogadishu. Minim bekal dan perlengkapan karena perkiraan misi yang molor. Hingga akhirnya bantuan datang, meski terlambat.

Dalam pertempuran itu misi militer Amerika gagal. 18 tentara Amerika terbunuh dan 73 luka-luka. Diperkirakan korban dari Somalia berjumlah 1.000 orang. Inilah kegagalan taktik militer Amerika kali kedua setelah perang Vietnam.

Mark Bowden menulis Black Hawk Down pada 1997 sebagai artikel bersambung untuk The Philadelphia Inquirer. Sebelumnya. peristiwa dramatis dan memalukan bagi kebijakan luar negeri Amerika itu tak pernah diungkap. Tak ada wartawan di sana untuk meliput.  Bowden  menggarap liputan ini  selama empat tahun. Karena liputan ini oplah The Philadelphia Inquirer melonjak. Begitu juga sukses dalam bentuk multimedia; film dokumenter, internet, dan buku yang masuk dalam jajaran buku terlaris.

Setting adegan film ini dibuka dengan kisah singkat masuknya pasukan penjaga perdamaian dunia asal AS di Somalia pada tanggal 3 Oktober 1993 setelah terjadi pertumpahan darah besar-besaran akibat perang antar etnis di Somalia.

Film ini juga menggambarkan bagaimana pasukan AS bertempur selama 18 jam dan mereka terkepung di wilayah kota Mogadishu yang dikuasai oleh kelompok milisi di bawah komando Aidit. Namun dengan Team-Work yang kompak, kesetiakawanan yang tanpa pamrih, bahu membahu dalam menghadapi situasi serta tekad takkan meninggalkan kawan yang cidera, akhirnya mereka berhasil keluar dengan selamat setelah melalui “pengganyangan” habis-habisan. Mereka dicincang, dicabik-cabik tubuhnya, satu persatu gugur. Barulah pada tanggal 4 Oktober 1993, pasukan “rescue” tiba dan berhasil mengungsikan sisa rangers yang masih hidup ke markas besar mereka.

Film ini merupakan garapan terbaru Ridley Scott setelah sukses melalui Gladiator. la berhasil menghadirkan ketegangan sekaligus kengerian peristiwa itu. Yang paling penting sebenarnya, apakah Amerika mau belajar dari kegagalan ini?

KOMEDI HOROR YANG TAK GAIB

 

Judul                    :    Home on Terror Tract

Pemain                 :    John, Ritter, Brayn Craston, Rachel York, David Delnise

Musik                  :    Brian Tyler

Skenario               :    Clint Hutchison

Sutradara             :    Lance W. Breesen & Clint Hutchison

I

ni Barat. Bukan Timur. Maka ketika ada cerita horror atau mistik, hanyalah semata dijadikan hiburan. Seperti halnya Harry Porter ataupun cerita yang lebih misterius lainnya yang telah difilmkan. Selain hiburan, juga sekaligus penerus impian atau khayalan anak semasa kecil. Segala hai, bisa saja terjadi walau hanya dalam hayalan.

Bagi   masyarakat  Timur,   tentulah   beda.   Dimana,   hal mistik sangat dipercaya.  Tidak sekedar hiburan,  tapi juga sudah menjadi “panduan”. Lihatlah film-film misteri yang menyerbu layar kaca. Ratingnya tinggi. Malah banyak yang meyakininya sebagai hal yang nyata. Nyata yang bagi mereka di Barat, adalah lelucon.

Jadilah komedi ketika cerita horror digelar. Alurnya, seorang sales real estate yang harus memasarkan rumah-rumah bekas. la terancam ‘dipecat’ (sangat misteri) bila tak mampu memasarkannya Sementara, ia punya kewajiban moral untuk menceritakan “alasan apa sehingga rumah ditinggalkan pemiliknya”. Jadi di Timur, sangatlah dipercaya bahwa rumah yang kosong bisa jadi ada “makhluk halus” yang menjaganya. Ataupun berbagai misteri yang sulit dijabarkan secara logika alias akal sehat.

Pertarungan logika dengan absurditas itulah yang disatukan “Home of Terror Tract”. Adakah misteri itu adalah pemutarbalikan fakta ataukah kenyataan? Pun ada tiga cerita yang berlandas pada penawaran rumah bekas yang dilakukan si sales (John Ritter) kepada pasangan suami (Brayn Craston) dan isterinya (Rachel York) yang baru tiga bulan menikah.

Rumah pertama, diceritakan tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Frank pada Louis, suami kekasihnya Sarah. Awalnya, Louis berencana membunuh Frank-Sarah yang ditemukan berbugil-ria di tempat tidur. Nyatanya, saat detik-detik terakhir Sarah tergantung di tali yang dijadikan modus operandi seakan korban bunuh diri, malah Louis tertembak oleh Frank.

Mayat Louis dibuang ke danau. Sementara Sarah selalu bermimpi dan dihantui kedatangan mayat suaminya untuk membalas dendam. Maka ketika Frank kembali dari danau untuk menyelam mengambil kunci mobil di kantong Louis, ia tertembak oleh Sarah yang menyangka “mayat hidup” Louis yang datang seperti dalam mimpi-mimpinya Lalu ia gantung diri dengan tubuh dipenuhi oleh lumpur. Pun analisa polisi, Sarah adalah pembunuh para kedua pria tersebut sebelum bunuh diri. Sementara si sales, menggiring pada sebuah misteri yang absurd.

Rumah kedua, bercerita soal kera yang mampu membunuh. Jennifer si anak manja, menemukan kera Tapi ayahnya menolak. Ia sangat benci pada kera itu. Apalagi ketika menemukan anjingnya mati dibunuh oleh kera. Juga saat penangkap hewan yang didatangkan, ikut tewas. Aksi kera itu berlanjut. Ibu Jennifer dibantai. Tapi tak tampak kera membunuh. Hanya sang ayah yang diserang oleh sang kera. Sehingga, Jennifer membunuh ayahnya dengan alasan membela diri, sebab melihat ayahnya berubah jadi garang dan ganas. Namun versi si sales, kera misterius itu adalah pembunuh.

Bagaimana rumah ketiga yang ditawarkan? Dihuni keluarga Goodwin yang harmonis. Namun, dua tahun berikutnya, anaknya yang remaja, Sean, dikira mengalami gangguan kejiwaan. Padahal, Sean mengaku selalu melihat alam bawah sadarnya (seperti telepati pada setiap calon korban yang akan dibantai secara keji. Dan cerita itulah yang dipaparkan pada seorang psikiater yang menurut Sean akan dibunuh oleh si pria bertopeng “nenek”.

Si psikiater merasa yang dicari polisi sebagai “nenek si pembunuh” adalah Sean. Ia tak percaya Sean mampu melihat hal gaib. Apalagi korban yang dibunuh antara lain adalah guru Sean serta kekasihnya. Itu sebabnya, ketika mengingatkan   si  psikiater,   Sean  malah   terluka.   Oleh pembelaan versi si sales, pembunuhnya bukan Sean tapi si “nenek pembunuh”.

Rumah-rumah yang ditawarkan tak jadi dibeli. Si sales marah. Ia membunuh sang suami. Adapun si isteri, melarikan diri di kompleks perumahan yang dipadati penghuni gila dan sadistis, seperti cerita sebelumnya. Tapi, ending film malah lucu. Tidak menakutkan. Sebab, pertarungan antara logika dan misteri gaib, dimenangkan secara eksplisit pada logika. Artinya, cerita aneh dan janggal itu, hanyalah isapan jempol yang pantas menjadi cerita lucu. Hanya komedi berbentuk horror yang tidak memberi muatan gaib. Namun, tetap berlandas pada pertimbangan logika kebenaran.

DOMBA PELONCO DAN SERIGALA KARISMATIK

Judul                    :    Taining Day

Pemain                 :    Denzel Washington, Ethan Hawke

Skenario               :    David Ayer

Sutradara             :    Antoine Fuqua

Produksi              :    Warner Bros

D

i halaman buku-buku definisi keadilan bisa jadi sangat jelas. Potret penjahat aparat hukum jelas bedanya Di dunia nyata, belum tentu. Di situ das solen dan das sein tidak lagi bersesuaian. Semua berselimut kabut. Serba samar-samar. Seperti dalam Training Day. Hampir setiap hari terjadi perang jalanan entah itu antar geng pengedar narkoba maupun antar penduduk itu sendiri yang menuntut penegak hukum bekerja maksimal. Selain mengakibatkan korban yang mati, kondisi seperti itu pada gilirannya juga menyisakan “korban” hidup yang bisa berbalik menjadi ancaman yang tidak kalah berbahayanya. Salah satu di antara korban hidup itu adalah detektif kepolisian Los Angeles Sersan Alonzo Harris (Denzel Washington), veteran karismatik berpengalaman 13 tahun dalam pemberantasan narkotik.

Pengalaman mengajarinya bahwa menjalankan tugas jalanan dengan cara baku sesuai buku bisa membuat orang mati konyol. Karena itu, dia sering kali menyelesaikan tugasnya dengan metode yang membuat orang sulit membedakan siapa pelanggar dan siapa penegak hukumnya.

Cara kerja itulah yang dia cekokkan ke benak Jake Hoyt (Ethan Hawke), polisi pelonco muda-lugu-idealis direkrut untuk timnya. Hanya dalam waktu satu kali 24 jam Jake shock karena dia mendapati dirinya tidak tahu lagi mana penjahat, mana penegak hukum.

Film produksi Warner Bross arahan Antoine Fuqua itu telah mengantar Denzel Washington dan Ethan Hawke meraih piala Oscar masing-masing sebagai aktor dan aktor pembantu terbaik Academy Award 2002. Meskipun cerita yang ditulis David Ayer temannya sudah klise, tetapi Denzel Washington dan Ethan Hawke berhasil menghidupkannya, serta memaksa penonton untuk ikut larut ke dalamnya.

Penonton pelan-pelan digiring masuk ke dalam persoalan yang sedang mereka perdebatkan, kejahatan, penegakan hukum, keadilan. Hal yang begitu dekat dengan pengalaman sehari-hari. Kedua pemeran tersebut sanggup merepresentasikan kondisi masyarakat yang cuma punya dua pilihan. Menjadi kawanan domba, atau serombongan serigala.

Ketika itu, nasib orang berujung pada dua titik jadi mangsa atau pemangsa Lhomme par Ihomme. Homo homini lupus. Bahkan ada satu sosok yang tampil sebagai mangsa dan pemangsa sekaligus. Sebagaimana sosok Alonzo Harris, yang di dalam dirinya terakumulasi hasrat untuk menegakkan hukum, naluri untuk tetap bertahan hidup, dan kenyataan yang tidak bisa dihindarinya, membuat orang tidak tahu apakah harus kasihan atau benci kepadanya.

Padahal penjahat dan penegak hukum merupakan dua hal kontradiktif, sekontras kulit Nigger Alonzo dengan bule Jake. Mestinya, mudah diidentifikasi siapa yang siapa.

Hampir persis dengan Law Enforcement yang kini tengah terjadi di Indonesia Di sini, sesuatu yang seharusnya bisa dilihat dengan kaca mata hitam putih, sudah semakin kabur. Dengan kaca mata transparan sekalipun, orang tetap kesulitan membedakan mana domba, mana serigala Siapa pengacara, siapa penjahatnya. Mana hakim, mana terdakwanya

Orangpun jadi apatis. Tidak percaya lagi kepada keadilan. Lalu memilih pengadilan jalanan di tepi jalan, di naungan pohon rimbun, di kedai kopi Cina Namun, semua itu tidak berarti bahwa orang-orang tidak tahu persoalannya. Mereka merupakan “silent majority” yang sedang menunggu, entah apa.

Sejarah suatu ketika membuktikan bahwa bambu runcing pernah menang melawan mitraliur. Maka tidak tertutup kemungkinan, tanduk domba suatu saat bisa merontokkan taring-taring serigala Artinya, kekuasaan bisa tumbang oleh kemarahan rakyat kecil. Sebab, semutpun bisa membunuh gajah.

SEBELAS ‘JAGOAN PEMBOBOL RUMAH JUDI

Judul                           :    Ocean’s Eleven

Produksi                     :    Warner Bros

Produser                     :    Jerry Weintraub

Naskah/Skenario         :    Ted Griffin

Sutradara                    :    Steven Soderbergh

Pemain                        :    George Clooney, Matt Damon, Andy Garcia, Bradd Pitt, Julia Robert, Don Cheadle, Casey Affleck, Scot Caan, Elliot Gould, Bernei Hac, Carl Reiner, Shaobo Qin.

M

oyang bugs kita berpesan bahwa, ada tiga “ta” yang  menjadi  “aral   melintang”   seorang  lelaki untuk mencapai puncak “orbitasi” kelelakiannya, yaitu: menempatkan wanita sebagai pemuas nafsu birahi, menumpuk harta sebagai pemuas nafsu serakah dan memburu tahta sebagai pemuas ambisi kekuasaan. Tiga “la” itu pula, kalau tidak terkendalikan. Dengan baik, menyebabkan seorang lelaki tersungkur ke lembah yang paling hina dan nista.

Tiga “ta” pun terkadang menjadi sumber konflik dan perebutan antara manusia yang “bernama” lelaki. Tematik konflik dan perebutan tiga “ta” sudah banyak diproduksi dalam bentuk film oleh sineas Hollywood. Film Ocean’s Eleven ini pun sudah merupakan produksi ulang dengan judul sama yang diproduksi tahun 60an dengan memasang mega bintang Hollywood masa itu seperti Frank Sinatra, Etean Martin, Sammy Davis dan lainnya lagi.

Film ini bercerita tentang Daniel Ocean (George Clooney) seorang residivis kambuhan yang baru saja bebas dari penjara setelah mendekam selama 4 tahun. Daniel alias Danny datang ke Las Vegas, kota judi terbesar di Amerika, setelah mendapat informasi kalau di kota itu terdapat tiga kasino yakni Mirage, MGM dan Bellagiu yang dikuasai oleh Terry Benedict (Andi Garcia), mafia judi kota Las Vegas yang terkenal sangat kejam dan berdarah dingin, tetapi mempunyai simpanan uang yang melimpah dan tersimpan dalam sebuah kubah besi. Bahkan konon, setiap malam minggu ketiga kasino milik Bartender bisa mengumpulkan “doku” sampai $150 juta per malam.

Kenyataan ini membuat Danny menjadi tergiur dan berniat untuk membobol kubah besi milik Benedict. Untuk itu ia berkomplot dengan teman “seprofesinya” dan merencanakan pembobolan bertepatan dengan malam pertarungan kejuaraan tinju kelas berat yang akan menampilkan    juara    bertahan    Lennox    Lewis,    yang sebagaimana biasa akan dihadiri oleh Benedict.

Strategi operasipun dirancang dengan merekrut orang-orang dengan keahlian dan keterampilannya masing-masing, seperti Rusty Ryan (Brad Pitt) sang penjudi ulung, teman lama Danny. Linus Caldwell (Matt Damon) si tukang copet, putra mitra kerja Danny yang bernama Bobby Caldwell. Juga ada Bashertarr (Don Cheadle), ahli bahan peledak dan pembongkar lemari besi.

Ada si saudara kembar Virgil dan Turk Malloy (Cassey Affleck dan Scoot Caan). Kemudian juga ada Saul Bloom (Carl. Reiner) gaek “perlente” yang ditugasi menyamar sebagai milyarder Yahudi. Ikut serta pula Frank Catton (Bernei Mac) si penjudi, penipu ulung yang bekerja sebagai bandar judi kasino milik Benedict.

Ada juga pemain akrobat Yen (Shaobo Qin). Dan sebagai penyandang dana operasi adalah Reuben Tishkoff (Elliot Gould), mantan pemilik kasino yang dibangkrutkan oleh Benedict. Tentu saja Reuben dendam dan ingin membalaskan sakit hatinya.

Dalam setting cerita selanjutnya, hampir saja rencana operasi ini gagal ketika secara tidak sengaja Rusty Ryan mengetahui kalau Tess (Julia Roberts), kurator museum arkeologi kota Las Vegas, yang menjadi kekasih Benedict adalah mantan istri Danny yang telah lama dicari-carinya. Kenyataan ini menimbulkan prasangka Ryan kalau operasi ini sengaja dirancang oleh Danny untuk memperalat mereka. Tess sebenarnya terpaksa menjadi kekasih Benedict karena merasa ditinggalkan oleh Danny.

Padahal Danny sendiri meringkuk di penjara karena tertangkap  tangan  melakukan  penjarahan   barang  antik bernilai jutaan dollar di sebuah museum kota.

Tapi benarkah Danny hanya tergiur dengan uang Baiedict? Jawabannya bisa ditebak. Danny masih mencintai mantan isterinya. Steven Soderbergh yang tahun lalu sukses dengan Traffic dan Erin Brockovich, memang punya strategi sendiri dengan mengumpulkan bintang-bintang besar dalam film ini. Penampilan mereka alami, santai. Dialog-dialognya cerdas, alurnya mengejutkan.

Di akhir cerita, misi “Ocean’s Eleven* memang berhasil dan Danny pun dapat berkumpul kembali dengan Tess, hartanya yang tak ternilai. Uang dapat, cintapun kembali.

CUMA DIMENGERTI LELAKI

 

 

Judul                    :    A Bout A Boy

Naskah/Skenario  :    Paul Weitz

Sutradara             :    Paul Wiitz & Chris Weitz

Pemain                 :    Hugh Grant, Tony Collete, Rachel Weisz, Nicolas Hoult

U

ntuk  mengerti  perempuan,   bagi  lelaki   itu sangat  sulit.  Wanita adalah wujud makhluk yang sangat sulit ditebak. Lantas bagaimana dengan lelaki?   Adakah   sangat   mudah   ditebak   dan dimengerti keinginannya? Tentulah tidak!  Sebab, tidak sedikit  kaum  pria yang tak  mampu  dimengerti  oleh pasangannya ataupun teman wanitanya.

Apa yang menjadi keinginan lelaki, termasuk segala kelemahannya,   akan   lebih   mudah   dimengerti   oleh sesama kaumnya. Malah banyak lelaki yang tidak mendapatkan jodoh lalu dituding dengan ragam negatif, misalnya terlalu memilih. Padahal, banyak hal yang tersembunyi di balik ketegaran seorang pria. Apalagi iika sudah menyangkut pekerjaan. Makanya, kerap ada pameo bahwa “jangan tanya pada lelaki apa pekerjaannya”

Betulkah lelaki sulit dimengerti kecuali oleh kaumnya sendiri ? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab Paul Weitz yang membuat skenario “A Bout A Boy”. Film yang terkesan untuk remaja ini, lebih memaparkan permasalahan kaum pria untuk bisa dimengerti. Sebab, pria atau perempuan, pada dasarnya sama-sama sulit dipahami jika tidak mencoba untuk bisa menerima apa adanya. Toh, setiap individu tanpa melihat gender, mempunyai kelebihan dan kelemahan. Dan tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Diceritakan tentang seorang pria bujangan dan tak memiliki pekerjaan bernama Will (Hugh Grant) yang diperingatkan oleh temannya yang baru saja mendapatkan anak agar menyadari dirinya jika sudah berusia 38 tahun. Will telah berusaha mencintai seorang gadis, tetapi selalu gagal. Hingga akhirnya, ia memilih untuk mencari jodoh pada perkumpulan orang tua tunggal yang anggotanya para ibu yang umumnya ditinggal oleh suami.

Di perkumpulan tersebut Will mengaku mempunyai anak bernama Ned dan Ibu Ned meninggalkannya. Di akhir pertemuan Will mendapatkan teman kencan bernama Susi yang mempunyai anak berusia sekitar 2 tahun. Suatu hari ada acara rekreasi orang tua tunggal. Will diajak oleh Susi dan diharapkan Will membawa serta Ned namun Will mengaku Ned dijemput oleh lbunya. Susi membawa serta anak temannya, Fiona, yang bernama Markus (Nicholas Hoult).

Markus anak yang selalu kelihatan berwajah riang namun ia sering mendapat masalah di sekolah, sering menjadi bahan ejekan teman-teman sekolah dan siapapun yang berteman dengan Markus akan dibenci. Markus anak yang sangat menyayangi ibunya demikian pula ibunya.. Markus merasa ada yang tak beres pada ibunya karena ibunya sering menangis terutama pada pagi hari.

Sepulang piknik, Fiona (Toni Collette) ditemukan oleh Markus dalam keadaan tidak sadar karena mencoba melakukan bunuh diri. Dan akhirnya ia tertolong ketika dibawa ke rumah sakit.

Untuk menyelamatkan ibunya, Markus punya ide mencarikan ibunya pasangan. Markus menelepon Will agar mengajak ibunya makan siang. Awalnya Will menolak namun akhirnya setuju karena tak punya pekerjaan. Toh, Will tak punya gairah untuk berkencan dengan Fiona, begitu pula sebaliknya.

Lantas bagaimana kelanjutan alur cerita yang menampakkan Markus berusaha menjodohkan ibunya dengan Will yang hidup dari royalty lagu gereja ayahnya? Yang pasti, film ini penuh dengan high comedy yang tak terduga. Apalagi, mampu menelanjangi hati terdalam kaum pria. Sebab, film ini secara blak-blakan membuka    tirai yang membungkus   misteri   kaum   pria   yang   selama   ini dianggap tidak ada.

Pada akhirnya, dapat dipahami bahwa untuk memahami alur berpikir kaum pria, hanya bisa dimengerti pula oleh kaumnya. Tidak percaya? Simak saja “A Bout A Boy”!

 

 

BILA CINTA ITU GAGU

 

Judul                    :    Eight Leggend Freak

Pemain                 :    David Arquette, Kuri Wuhrer, Scott Terra

Cerita/Kisah        :    Ellory Elkayem & Randy Kornfield

Sutradara             :    Ellory Elkayem

S

ETELAH 10 tahun meninggalkan kampung, Chris M Cormick    menemukan kenyataan bahwa kampungnya kini dicekik krisis ekonomi karena pendapatan utama masyarakatnya yakni tambang emas, sudah tak memberinya lagi harapan. Ayahnya yang sudah almarhum, sebelumnya sudah berkoar-koar pada masyarakat akan adanya emas di gua-gua. Namun, seorang tokoh masyarakat bernama Wade yang memiliki Prosperity Mall meyakinkan penduduk untuk pindah dan menjual lahan-lahan pertambangan.

Chris menolak. la yakin akan pernyataan ayahnya. Apalagi, ia pulang untuk merajut kembali masa depannya yang terputus. la berharap bisa mengatakan cinta pada Sam Parker, sheriff janda dari dua anak yang sudah remaja. Juga ia akan berterus terang, mengapa ia meninggalkan kota kecilnya yakni karena memukul suami Sam yang berselingkuh.

Namun, untuk menyatakan cinta itu memang gagu. Cinta adalah sesuatu yang sulit dikatakan tetapi bisa dirasakan. Hal yang diketahui Sam, walau terlambat dari ayah Chris. Kegaguan itu terus menyelimuti hidup Chris hingga suatu peristiwa besar yang nyaris merenggut nyawa penduduk, termasuk keduanya, untuk harus menyatakan cinta. Tapi, ternyata Chris tetap gagu. Malah, Sam begitu lancar mengatakan isi hati Chris yang akan diucapkan. Dan menyatakan rasa cinta itu ternyata begitu gampang, tapi tidak bagi Chris.

Kisah cinta sejati tersebut dikemas dalam cerita remaja yang berbentuk semi-ilusi dan sedikit ilmiah lewat film “Eight Legged Freak”. Walau tampaknya film yang dibaurkan animasi itu lebih memfokuskan penyerbuan laba-laba raksasa yang menyerupai monster ke kota kecilnya Chris, tapi cinta yang sepertinya ditempelkan justru menjadi inti dan benang merah alur. Apalagi, dibenturkannya tata cara percintaan masa silam si ibu dengan si anak yang sedang memasuki masa pancaroba.

“Aku bukan Mama yang ketika berusia 16 tahun sudah hamil!” Begitu protes Ashley (Doug E. Doug Scarlet) terhadap Sam Parker (Kuri Wuhrer). Dan hal itu dibuktikan Ashley ketika dicumbui oleh kekasihnya. Ia berontak dan mengingat pesan ibunya untuk tidak terjebak pada nafsu yang berkedok cinta.

Pengalaman memang ilmu yang sejati. Sam bisa tahu bahwa cinta yang dilumuri seks adalah kepura-puraan bagi lelaki, sementara bagi perempuan adalah penyerahan diri secara bulat. Pun ia bisa rasakan cinta sejati Chris (David Arquette) yang tidak melihat seks sebagai ujung tombak cinta.

Terlepas dari kisah cinta itu, film yang musiknya digarap John Ottman, lebih mengutamakan petualangan anak bernama Mike (Scott Terra) yang menjadi tokoh utama pengungkapan – keberadaan laba-laba mutan raksasa yang terkontaminasi zat beracun metan yang sengaja didatangkan pihak yang ingin menguasai lahan-lahan pertambangan tersebut. Mike menjadi kunci tentang laba-laba. Namun, film berbau animasi ini (sepertinya) meniru keberhasilan banyak film ilmiah-animasi.

Berubahnya laba-laba menjadi raksasa mengingatkan kita pada kisah Godzilla yang tercemar radio aktif di laut lalu menyerang kota besar di Amerika Serikat, Sementara pada film ini, laba-laba raksasa sudah beranak pinak dan menyerang penduduk kota kecil yang lebih tepat disebut kampung. Laba-laba pun sudah menjadi trade-mark “Spider-man” yang tahun ini terbilang sukses. Hal lain yang mendekatkan film terkenal yakni penampilan tokoh Mike yang berkacamata. Dengan wajah imut-imut, mengingatkan ktta pada tokoh “Harry Potter”.

Akan tetapi, sutradara Ellory Elkayem mampu menjadikan “Eight Legged Freak” terkemas sebagai film yang layak tonton. Apalagi, digarap untuk tidak menakut-nakuti penikmat dengan beragam sound effect yang aneh-aneh. Malah terkesan komedi. Toh, fokus utamanya memang kisah cinta atau lebih tepatnya disebut pelajaran cinta bagi ABG (Anak Baru Gede) yang menjadi sasaran produksi film tersebut.

CINTA SEGITIGA PERAMPOK BANK

Judul                    :    Bandits

Pemain                 :    Bruce Willis, Billy Bob Thornton, Cate Blanchet, Troy Garity

Naskah                :    Harley Peyton

Sutradara             :    Barry Levinton

M

ERAMPOK ternyata tidak selalu dengan tindak kekerasan, kekejaman, sadisme, ataupun tindakan di luar batas kemanusiaan. Bila saja dengan cara yang lebih lunak, simpatik, manusiawi, dan unik. Sehingga, terkadang harta si korban sudah terkuras habis, tapi barulah tersadar jika sudah dirampok setelah pelakunya berlalu. Hal tersebutlah yang ingin dipampangkanMetro Goldwyn Mayer Pictures  &  Hyde Park Entertainment yang memproduksi “Bandits”. Film garapan sutradara kawakan Barry Levinton ini merupakan “comedy crime” yang diilhami oleh kisah nyata petualangan dua bandit yang berprofesi perampok bank.

Pun film ini menjadi sangat menarik karena dimodifikasi sedemikian rupa sehingga kesegaran sebagai film komedian lebih dominan ketimbang sebagai film crime. Apalagi, penyuguhan adegan dengan setting “flash back” dengan dibumbui kisah cinta segitiga para tokoh cerita.

Bermula dari kaburnya dua narapidana, Jou Blake (Bruce Willis) dan Terry Collins (Billy Bob Thornton) dari penjara Oregon di negara bagian Selatan Amerika Serikat. Mereka berhasil lolos dari penjara dengan cara yang sangat unik dan sederhana, yaitu ketika dengan tenangnya Blake melumpuhkan sopir truk semen lalu mengambil alih kemudi untuk selanjutnya menabrakkan demi menjebol pintu gerbang penjara.

Tentu saja hal yang tak terduga ini membuat panik para sipir penjara dan dengan dukungan polisi, mereka mengubur Blake dan Collins. Tapi berkat ‘kelihaian profesi’, mereka pun berhasil menyelamatkan din lalu bersembunyi di sebuah vila yang hanya dihuni oleh dua remaja yang lagi “rendezvous” gelap.

Dengan ‘meminjam’ mobil kedua remaja itu, mereka pun buron sambil sesekali merampok bank, ketika keuangan menipis. Caranya, tentu saja dengan merampok bank dengan ciri unik dan menjauhi kekerasan. Misalnya menodongkan spidol yang menirukan pistol ke tengkuk satpam lalu melucuti senjata.

Modus operandi yang unik ini, dengan cepatnya membuat Blake-Collins tersohor sebagai perampok bijak di seantero wilayah Oregon hingga ke California. Adapun Balah satu cara yang terunik yakni sebelum bank dirampok, maka pada malam sebelumnya mereka menumpang tidur di rumah direktur bank, calon korbannya. Barulah keesokan harinya mengajak sang direktur ke banknya untuk dirampok sebelum pegawai dan para nasabah berdatangan.

Meski keluarga direktur ikut disandera, tetapi Blake-Collins tetap memperlakukan mereka dengan sikap. sopan, penuh tata krama dan simpatik. “Misi’ perampokan mereka semakin sukses, apalagi ketika kawan lama mereka, Harvey Pollard (Troy Bority) ikut bergabung.

Namun, sesukses apapun, di hati kecilnya juga ingin mengakhiri kejahatan lalu menjalani hidup yang baik. Blake sendiri ingin membuka hotel di Meksiko bila uangnya telah cukup untuk modal usaha. Namun rencana itu berantakan ketika Kate Wheeler (Gate Plancheet) secara tidak sengaja ikut bergabung.

Kate, ibu rumah tangga yang dilanda frustrasi, melihat perilaku suaminya Charles Wheeler (Bobby Slayton) secara tidak sengaja menabrak Collins yang saat itu mencari tumpangan. Karena panik dan gugup, Collins memaksa Kate membawanya ke tempat persembunyian Blake. Dan di sinilah awal petaka yang hampir saja memorak-porandakan “kekompakan” tim dan persahabatan antara Blake-Collins. Ketika itu, Kate dan Blake saling jatuh cinta pada pandangan pertama yang berlanjut dengan kisah cinta tak kenal waktu di sela-sela kesibukan merampok bank.

Akan tetapi cinta memang misterius. Sebagai wanita yang kesepian dan labil, Kate pun di suatu kesempatan jatuh cinta pada Collins. Maka terjadilah “cinta segitiga”. Bagaimana kisah selanjutnya? Yang pasti, suami Kate tetap mengira isterinya disandera bandit.

Film ini memang tak membutuhkan kepenatan berpikir. Penonton disuguhi alur cerita yang tidak berbelit. Mumi hiburan walau pada dasarnya yang difilmkan ini adalah kisah nyata. Dan disitulah kepiawaian Barry Levinton menggiring setting dan alur cerita. Lalu memberi penegasan bahwa bandit itu tidak selamanya sadis. Ya, ibarat Si Pitung maupun Robin Hood. Bedanya: hasil rampokan Blake-Collins, untuk mereka sendiri.

MENGUBAH ALUR SEJARAH HIDUP

Judul                    :    Femme Fatale

Pemain                 :    Antonio Banderas, Rebecca Romijn-Stamos

Naskah                :    Brian De Palma

Sutradara             :    Brian De Palma

 

M

ASA depan seseorang, ditentukan oleh dirinya sendiri. Pesan bijak itu telah dilontarkan Nabi Muhammad s.a.w. ratusan tahun silam yakni, “Nasib sebuah kaum tidak akan berubah jika bukan kaum   itu   sendiri  yang  mengubahnya.”  Artinya,   alur sejarah hidup bisa diubah jika ada kesempatan untuk mengubahnya, yang tentunya dari jelek menjadi baik.

Adakah   setiap   orang punya  kesempatan  untuk berubah? Tentulah jawabnya “ya” jika mau mengoreksi dan selalu mengintrospeksi perjalanan hidupnya ke belakang kemudian mereka-reka masa depan yang selalu terbentang penuh tantangan, Walau nyatanya hidup itu ibarat perjudian yang selalu belum jelas. Namun, bila seseorang itu selalu bergelimpangan dosa lalu berhasrat menjadi orang baik, mengapa tidak?

Hidup memang penuh teka-teki dan sulit terduga. Malah kerap di suatu kehidupan, kita mendapatkan hal-hal yang sulit dimengerti. Apalagi jika berbau “kebetulan”, misalnya di suatu tempat ada orang yang mirip dengan kita. Di mana kita adalah seorang penjahat. dan yang mirip dengan kita itu adalah seseorang yang hidupnya mapan. Adakah kita berusaha mengubur masa depan orang itu lalu menggantikan posisinya? Dapatkah kita tenang karena kita pasti selalu diburu-buru oleh kejahatan masa silam kita?

Bercerita kebetulan dan mengubah nasib hidup yang tidak tenteram itulah yang ditawarkan Brian De Palma yang merangkap sutradara dan penulis skenario “Femme Fatale”. Film bersetting Perancis ini pun tidak sekedar hadir totalitas sebagai film action. Ada sisi kemanusiaan paling dalam yang tergali secara naluriah. Juga sekaligus menawarkan keberadaan Perancis sebagai negeri mode, keindahan kotanya, keluwesan bahasanya, film, gadis cantik, perhiasan mewah, lesbian, paparazzi, serta beragam corak kehidupan di negeri itu.

Walau “menjual nama besar Antonio Banderas yang berdarah Latin dan dikenal sebagai aktor laga, action, dan drama percintaan, alur cerita ternyata lebih menokohkan   Rebecca   Romijn-Stamos   yang   berperan sebagai Laure atau lily yang wanita jahat yang hidupnya menantang maut. Laure inilah yang punya kesempatan untuk menggantikan peran kehidupan lily yang kehilangan suami dan anak. Sampai hatikah Laure membiarkan lily frustrasi dan bunuh diri?

Film yang diproduseri Tarak Ben Ammar dan musiknya digarap Ryuchi Sakamoto ini, dimulai dengan “scene” Laure yang dijadikan sebagai robot perampok untuk mencuri “ular”, perhiasan bertahtahkan berlian bernilai $10 juta US. Berlian “ular” itu berfungsi sebagai pengganti baju yang melilit di bagian depan model yang memakainya dalam pesta pemutaran perdana sebuah film yang disutradarai Peter Coyle.

Racine pun menugaskan Laure mengambil perhiasan tersebut. Laure lolos masuk ke hotel tempat pameran sebagai fotografer dan menggoda sang model masuk toilet. Keduanya melakukan adegan lesbian sambil Laure mencopoti satu-satu perhiasan yang melilit di tubuh sang model. Tapi, aksinya terdeteksi. Bodyguard Peter Coyle berhasil menembak Racine sebelum ia dibunuh. Laure marah. la yang dijanji pencurian tanpa senjata dan kekerasan menemukan bukti bahwa ia ditipu Racine. Ia kemudian membawa perhiasan yang telah dipreteli.

Racine tidak terima telah diperdaya oleh Laure. Bersama rekannya, ia mencari Laure yang hilang bagai tertelan bumi. Ternyata, Laure yang dicetak tanpa nama karena paspornya telah diambil Racine harus berupaya keras untuk mendapatkan paspor. Tapi ia malah masuk gereja yang secara kebetulan jenazah yang disemayamkan adalah suami dan puteri Lily yang mirip wajah Laure. Pun Lily diburu untuk diberi ucapan duka.

Rekan Racine berhasil menemukan Laure lalu membuangnya dari gedung tinggi. Kebetulan sekali, Laure jatuh di tumpukan kain dan di situ ada sepasang suami-isteri yang mencari Laure yang disangka Lily. Laure dibawa ke rumah Lily. Saat mandi, Lily pulang lalu mengambil pistol dan menempelkan ke pelipisnya.

Haruskah Laure membiarkan Lily bunuh diri lalu peran Lily, ia ambil sebagai pengganti kehidupannya yang hilang? Jawabannya ada pada “mimpi” yang berada dalam alam bawah sadar Laure ketika berendam di bak mandi. Makanya, saat bertemu Nicolas Bardo (Antonio Banderas) di kehidupan nyata, ia merasa aneh.

Femme Fatale yang jika diartikan secara gambling, wanita fatal, memang seakan menyiratkan kesuksesan film “Femme Nikita”. Akan tetapi, pesan kemanusiaan dan masa depan yang bisa diprediksi itu, menjadi kekuatan film ini, sekaligus pembeda kedua film garapan Perancis tersebut.

MAGIS CINTA BERBURU HANTI

 

Judul                    :    Thirteen Ghost

Pemain                 :    F. Murray Abraham, Tony Shalhoub, Shannon Elizabeth, Embenth Davidtz

Sutradara             :    Steve Back

Produksi              :    Cokumbia Pictures & Warner Bros Pictures

 

C

INTA  itu   dahsyat.  Tak  ada batasan  waktu, ruang, ras, harta, maupun agama. Cinta pun selalu bersemayam di keabadian, sebab penuh tragedi   dan   misteri.   Cinta   melanda   siapapun,   tak terkecuali. Tak peduli mereka yang telah menjadi arwah sekalipun, di mana mereka rela bergentayangan untuk mencari cintanya yang abadi.  Konon, Count Dracula sang   “pencinta   abadi”,   pahlawan   perang  salib  yang legendaris itu, demi cintanya yang membara kepada isterinya, rela bergentayangan ribuan tahun menembus batas ruang dan waktu untuk menemukan kembali cinta isterinya yang mati bunuh diri karena frustrasi mendengar kabar kematiannya di medan perang.

Karena landasan cinta pula, seorang arwah mampu mengungkapkan motif dan siapa pembunuhnya lalu menyelamatkan kekasihnya, seperti pada film Ghost yang kian melambungkan Demi Moore itu. Dan kisah seputar hantu dan misteri cinta itu, yang dikemas secara melankolis serta tragis dengan nuansa horor dan gaib sudah banyak diproduksi sineas Hollywood, misalnya “Dracula Lover”. Namun, tetaplah ada sisi lain yang ditampilkan, seperti halnya film Thirteen Ghosts” yang disutradarai Steve Back.

Diceritakan Cyrus Kriticus (F Murray Abraham), seorang “ghost buster” yang mempunyai hobi aneh yaitu memburu dan memelihara hantu ganas. Perburuan Cyrus ini didasari oleh rancangan “skematik setan” dari sebuah buku kuno yang berasal dari abad ke-15, di ; mana saat itu Eropa sedang menggalakkan revolusi industri dan teknologi mekanikal. Di dalam buku kuno itu dinyatakan bahwa untuk menguasai kehidupan yang kekal dan kemampuan prediksi kehidupan masa depan, maka seseorang harus menguasai 13 hantu dengan fungsinya masing-masing sebagai syarat untuk membuka “mata neraka” ke dunia.

Untuk mewujudkan ambisinya itu, Cyrus selama berpuluh-puluh tahun menggelar “perburuan hantu” dengan  menggunakan  alat  ciptaannya berupa “mesin setan”. Hasil buruannya kemudian disekap dalam sebuah bangunan antik yang dilengkapi dengan peralatan berteknologi tinggi.

Namun belum lagi ambisi Cyrus terwujudkan dan hantu buruannya baru berjumlah 12 hantu, mendadak Cyrus menghilang secara misterius. Hal ini terungkap ketika Arthur (Tony Shalhoub), keponakan Cyrus ditemui oleh pengacara Bourne (Ben Moss) yang membawa sebuah surat wasiat yang menyatakan Arthur menerima warisan dari Cyrus yang baru saja meninggal dunia, berupa sebuah bangunan antik yang mewah. Arthur sendiri merasa aneh menerima warisan itu karena pamannya yang misterius itu sudah puluhan tahun tak pernah terlihat.

Diantar oleh Bourne, Arthur mengajak kedua anaknya, Kathy (Shannon Elizabeth) dan Bobby (Alec Roberts) serta pelayannya, Maggie (Rah Digga) untuk melihat rumah warisan itu. Di rumah terpencil tersebut, Rafkin (Matchew Lillard), seorang mantan pegawai Cyrus yang menyamar sebagai tukang listrik serta Kalina (Embeth Davidtz) yang mantan asisten Cyrus juga ikut bergabung masuk ke dalam rumah misterius yang penuh dengan peralatan yang canggih.

Kedua mantan bawahan Cyrus itu bergabung karena meyakini kalau di dalam rumah itu terdapat harta karun yang tidak ternilai harganya. Tetapi, begitu mereka masuk, mereka malah terjebak karena secara otomatis semua pintu tertutup dan mereka tidak bisa keluar lagi. Dan di sinilah dimulai adegan berdaya kejut tinggi ketika mereka diteror oleh kedua belas hantu yang terkurung dalam rumah misted as itu. Celakanya, hantu itu hanya dapat terlihat bila menggunakan kacamata khusus. Dalam cekaman teror yang bertubi-tubi, kedua anak Arthur malah terperangkap dalam jebakan “mata neraka”.

Bagaimana kisah selanjutnya? Berhasilkah Arthur membebaskan anak- anaknya? Ternyata terungkap di akhir cerita kalau Arthur .sengaja dijebak oleh. Cyrus. Karena untuk menyempurnakan syarat membuka “mata neraka”, Cyrus harus menangkap setan ke-13 dari arwah orang yang meninggal karena derita lama. Dan harapan itu ada pada Arthur yang isterinya tewas karena kebakaran. Toh, hantu si isteri yang juga tersekap, menolong Arthur dan kedua anaknya.

Kekuatan dan magis cinta itulah yang dilupakan Cyrus. Kekuatan yang juga kerap dilupakan oleh banyak orang. Padahal, hanya berbekal cinta, kita bisa hidup abadi hingga kapan pun mencintai dan dicintai!

BERBURU KEKUASAAN DALAM PENJARA

Judul                    :    The Last Castle

Produksi              :    Dream Works Pictures

Sutradara             :    Rod Lurie

Pemain                 :    Robert Redford, James Gandolfini, Mark Ruffalo, Clifton Collins JR

P

ENJARA itu bukan saja ditujukan bagi nara-pidana.  Apalagi, jika penjara itu  terletak di tempat yang terkucilkan.  Bagi sipir,  mereka juga adalah manusia-manusia yang terpenjara.  Bedanya, hanya pada si penjaga dan yang dijaga. Namun, walau ada perbedaan kekuasaan, si penguasa terkadang ingin lebih dari  segalanya.  Sehingga,  bisa menjadi tangan besi, absolut, otoriter, dan kekuasaan tak terbatas lainnya.

Apalagi, seperti sebuah kapal, maka hanya boleh ada satu nahkoda. Pertempuran secara efektif hanya dapat dimenangkan dengan pengorbanan sekecil mungkin bila taktik dan strategi operasinya disusun oleh satu komandan. Maka, kekuasaan itu pun diwujudkan walau seorang pemimpin membawahi penjara bagi orang-orang militer yang kenyang asam-garam peperangan.

Begitulah yang digambarkan dalam penjara militer “Last Castle”, dimana hanya boleh ada satu pengelolanya yang mempunyai kewenangan otonom dan kekuasaan otoriter. Bila kekuasaan menjadi plural, maka konflik psikologis manajemen tak mungkin terhindarkan. Tematik konflik manajemen inilah yang coba diungkapkan Rod Lurie yang menyutradarai film Last Castle.

Dikisahkan tentang Irwin (Robert Redford), veteran perang Vietnam, jenderal berbintang tiga yang dijebloskan ke penjara militer “Last Castle” karena melakukan pembangkangan terhadap perintah penarikan pasukannya dari medan perang oleh Presiden AS selaku “Komando Tertinggi”. Apalagi pembang­kangan itu didakwakan sebagai penyebab delapan orang pasukannya “mati konyol” dalam pertempuran.

Di penjara militer yang dipimpin secara tangan besi oleh Kolonel Winter (James Gandolfinl), Jenderal Irwin yang kharismatik ini relatif dalam waktu singkat mendapat dukungan dari para narapidana, karena Irwin seorang “tokoh komando” legendaris dengan keahlian mengatur taktik dan strategi perang. Banyak pertem­puran yang dimenangkannya yang mengharumkan nama US Army dan Bangsa Amerika.

Meskipun Irwin tergolong gaek dan uzur, dengan kharismatiknya yang tinggi, ia mampu menyusun kekuatan secara diam-diam untuk melakukan pemberontakan narapidana. Tapi Winter dapat mencium upaya pemberontakan itu. Apalagi sejak awal kehadiran Irwin telah menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak senangnya ketika Irwin mengomentari dirinya, bahwa seseorang yang senang mengoleksi pistol antik adalah orang yang tidak pernah menghadapi pertempuran secara fisik di medan perang.

Sebagai orang yang berwenang di Last Castle, Kolonel Winter merasa eksistensi kekuasaannya terganggu oleh kehadiran Jenderal Irwin. la bertekad untuk menindak tegas para narapidana yang berani membangkang apalagi mencoba memberontak. Untuk itu ia tidak segan unjuk gigi dengan memerintahkan Kopral Zamorro (David Alford) menembak Aquilar (Clifton Collins, Jr), karena menolak perintahnya untuk tetap tiarap setelah sirine tanda bahaya dibunyikan.

Target berikutnya adalah menyingkirkan Irwin, si duri dalam daging yang dinilai sebagai dedengkot pemberontakan para narapidana. Untuk itu ia memanfaatkan Yates (Mark Ruffalo) sebagai informan untuk memata-matai gerakan pemberontakan narapidana. Berhasilkah Yates ?

Ternyata Yates masih mempunyai hati nurani sebagai seorang marinir, dan ayahnya pernah menjadi anak buah Irwin. Ia tidak tega berkhianat. Pun ia lalu berbalik mendukung Irwin.

Konflik semakin tajam ketika Irwin sebagai mantan Jenderal berbintang tiga, yang terkenal mahir mengatur siasat dan menggelar strategi perang dengan sandi benteng, mampu menguasai “perang dahsyat” yang berkibar dalam penjara. Secara profesional militeristik, Irwin beserta seluruh narapidana berhasil membalik situasi dan mengakibatkan ratusan sipir militer terkurung dalam penjaranya sendiri. Kesempatan itu digunakan oleh Irwin untuk memasang terbalik bendera Amerika sebagai pertanda kondisi darurat-bahaya di dalam penjara “Last Castle”.

Tentu saja Winter berusaha untuk menghadapi rencana Irwin dan berhasil menembaknya. Tetapi winter pun di akhir cerita ditawan oleh Kapten Peretz (Steve Burton), pengawalnya sendiri yang tidak respek pada kezaliman Winter. “Perang” aktualisasi diri dan kekuasaan ini berakhir seperti pepatah kuno, “menang jadi arang, kalah jadi debu”.

 

 

 

WANITA MENCARI KEHORMATANNYA

Judul                    :    Malena

Pemain                 :    Monica Belucci, Guseppo Sulfaro

Dasar Cerita        :    Lucino Vincensoni

Skenario               :    Guseppo Tornatore

Sutradara             :    Huseppo Tonatore

A

DA adagium yang hidup di tengah masyarakat Bugis-Makassar   yang   bila diartikan berbunyi “Jika ayah meninggal maka hilang kehormatan; jika    ibu    meninggal    maka    hilang    kasih    sayang.” Maknanya jelas! Malah jika sosok ayah hilang di sebuah rumah tangga, yang paling kelimpungan pertama kali justru  sosok ibu.  Apalagi, jika berlabel “janda muda” yang cantik lagi.

Tidak sedikit seorang janda muda yang dibebani cap “genit”, pengganggu   suami orang, dan tudingan negatif lainnya. Terlebih sangat susah menemukan ada lelaki yang memberi bantuan pada seorang janda tanpa dibarengi pamrih yang niatnya sangat jelek. Maka jadilah beban batin yang menerpa seorang perempuan kian bertambah. Kehormatannya tercabik-cabik. la seperti sulit memilih jalan yang penuh onak.

Belum janda pun, seseorang yang ditinggal suaminya merantau, akan terterpa gossip. Beragam tudingan ditujukan padanya, apalagi bila wanita itu pandai bersolek. Banyak lelaki yang meliriknya, lalu dipenuhi angan-angan untuk meniduri si wanita tersebut. Pun keinginan untuk memiliki si wanita secara seksualitas belaka akan terang-terangan bila menjanda. Pria hidung belang berlomba-lomba seperti acara tujuh balasan.

Lantas bagaimana mengembalikan kehormatan yang hilang itu bagi perempuan yang ditinggal suami lalu tewas di perantauan? Apalagi bila si wanita yang kehilangan segala pegangan terpaksa “menjual diri” demi perutnya dan juga paksaan kaum pria yang tak henti menginginkan tubuh moleknya? Hal itulah yang ingin dijawab “Malena”. Film Italia ini menyuguhkan kisah seorang anak lelaki yang dipenuhi ilusi serta obsesif terhadap tubuh perempuan bernama Malena.

Diceritakan film yang mengambil setting tahun 1941 di Italia, masa-masa kegilaan Hitler melakukan penyerbuan demi NAZI Jerman-nya dan, Italia di era fasis, Malena Scordia (Monica Belucd) ditinggal suaminya, Nino Scordia, demi atas nama perang ke Afrika Utara. Di kotanya, Cascelcuto, Malena tinggal sendiri. Tapi ia terterpa gossip bahwa ia berselingkuh. Padahal nyatanya ia rajin berkunjung ke rumah seorang pria yang sangat dicintainya yang tak lain adalah ayahnya sendiri, Prof. Bonsignore.

Alur bergaya autobiografi yang mengambil satu episode masa puber terhadap seorang remaja berusia 12 tahun ini, menempatkan Malena seakan fokus utama cerita. Terlebih ketika suami Malena dikabarkan tewas dalam pertempuran. Maka bergantianlah pria, dan beragam pejabat, mendatangi secara sembunyi-sembunyi ke rumah Malena. Dan akhirnya, si ayah ikut termakan isu yang kemudian mengunci rumah untuk kehadiran puteri satu-satunya itu.

Malena kian kehilangan pegangan ketika ayahnya tewas tertimbun reruntuhan yang dibombardir pesawat tempur Jerman. Ia harus memilih sembarang pria demi hidupnya, termasuk menjadi pelacur bagi tentara-tentara Jerman. Makanya ia dicampakkan dan diusir ketika sekutu pimpinan Amerika Serikat menguasai Italia yang saat itu dipimpin oleh II Duke dan mengusir Jerman. Malena terbuang dari kota kecilnya dan harus pergi jauh dengan tubuh terluka serta tanpa bekal makanan.

Perang usia. Amerika menjaga Italia. Nino, suami Malena, pulang. Tangannya puntung. Ia menemukan rumahnya yang dikuasai pengungsi dan tanpa Malena. Ia berkeliling mencarinya, tapi tak ada yang mau buka mulut. Akhirnya, Amaroso Renato (Gusseppo Suifaro) memberanikan diri mengirim surat pada Nino. Apalagi, Renato merupakan satu-satunya yang tahu ketulusan cinta Malena terhadap Nino   karena dia setiap saat mengikuti dan mengintip Malena yang menjadi pujaannya lewat aneka hayalan.

Malena pulang kampung bersama suaminya yang berhasil menemukannya. la kembali merajut segala kehormatannya yang pernah tercampak. Seperti sebuah dialog dalam film itu bahwa “kehormatan bisa didapatkan di tempat hilangnya kehormatan itu”. Sementara Renato tetap menjadikan Malena sebagai ilusi dan menenggelamkan perempuan lain hingga ia tua.

Film ini tergarap secara apik. Keberanian Monica Belucci memamerkan kemolekan tubuhnya seperti pada “Brotherhood of the Wolf” tetap konsisten. Perannya yang sangat berani, kian menghidupkan alur film yang musiknya digarap apik pula oleh Ennio Morricone.

“MARSINAH”, HITAM-PUTIH PERADILAN

J

IKA   para   terdakwa   pembunuh   Marsinah dinyatakan   bebas   oleh   Mahkamah   Agung, lantas siapa pembunuh sebenarnya?” Itulah kalimat ending yang diucapkan pemeran Marsinih, adik Marsinah yang mengomentari kenyataan kabut tebal yang menyelimuti kematian buruh pabrik PT Catur Putra Surya Sidoarjo, Jawa Timur, yang ditemukan tewas 9 Mei 1993 di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk. Memang,   terdakwa   pembunuh   Marsinah   telah disidangkan. Malah, Mutiari telah menjalani hukuman yang divoniskan padanya. Sementara Yudi Astono (Direktur PT CPS Porong), Suwono (Kepala Satpam PT CPS Porong), Ayib (Kabag Produksi), Suprapto (Bagian Kontrol), sempat pula menjalani hukuman yang rata-rata divonis 12 tahun, sebelum pernyataan bebas dikeluarkan MA.

Adapun Mutiari yang malah lebih dulu ‘divonis’ oleh media massa sebagai pesakitan yang bersalah, takkan mampu melupakan “kisah tragisnya”, dituding sebagai bagian dari pembunuhan yang keji. Dan kisah hidup Mutiari inilah yang ditampilkan sutradara Slamet Rahardjo pada film “Marsinah (Cry Justice)”. Naskah yang digarap Slamet secara bareng-bareng dengan Eros Djarot, Karsono Hadi, Agung Bawantara, dan Tri Rahardjo, memberi tawaran terhadap buruknya sistem peradilan dan kekuasaan negeri ini di era Orde Baru. Apalagi, hingga kini, misteri pembunuh, Marsinah, masih tetap terselubung.

Digarap ala film dokumenter, Marsinah (Cry Justice) menceritakan upaya Hari Sarwano (Toshan Wiryawan) yang mencari isterinya, Mutiari (Diah Arum) yang hilang sejak awal Oktober 1993, setelah beberapa hari sebelum diperiksa* oleh polisi. Teman-teman kerja Mutiari yang ingin dikonfirmasi, ternyata juga raib. Ke mana mereka menghilang? Pun Hari tak menemukan jawaban. Sementara ayahnya meminta ia menceraikan isterinya yang dianggap pembunuh itu, walau sedang hamil.

Ternyata, Mutiari dan kawan-kawannya yang dijemput oleh orang-orang tak dikenal, disekap di kantor Kodim. la didera siksaan Psikologis. Teman-temannya disiksa secara fisik. Dijadikan “hiburan” bagt tentara. Mereka dipaksa merancang pembunuhan pada Marsinah. Kok mengapa tentara yang menyidiknya?

Hitam-putih peradilan Indonesia yang cenderung abu-abu itu pun dibuka secara transparan. Sangat telanjang. Penangkapan yang tidak prosedural, sebab dilakukan secara pencidukan dan penculikan. Surat penangkapan diberikan pada keluarga setelah 19 hari menghilangnya mereka. Polisi “Ikhlas” melanjutkan penyidikan setelah diserahkan oleh tentara. Jaksa penuntut umum begitu arogan mengajukan mereka ke meja hijau. Hakim pun tak peduli saran dan kegelisahan pembela atas adanya berbagai kejanggalan pada para saksi.

Tanpa sungkan-sungkan, siksaan yang menerpa Mutiari diperlihatkan, termasuk saat mengalami pendarahan dan keguguran. la nyaris gila. Adapun suaminya, menuntut akan mempraperadilankan kepolisian. Tapi, upayanya kandas. Polisi lebih cepat menjadikan Mutiari sebagai tersangka yang awalnya Cuma saksi -mendahului sidang bagi terdakwa pembunuh langsung.

Adapun kehidupan Marsinah berusia 23 tahun yang dianggap bandel itu, juga diperlihatkan. Pejuang nasib buruh itu tampak gigih mengurusi nasib kawan-kawannya, apalagi ketika dituding sebagai PH. Padahal, awalnya ia bersama 17 kawannya hanya memperjuangkan kenaikan upah pokok, pada 4 Mei 1993, dari Rp. 1.700 per hari menjadi Rp. 2.250. Nilai Rp. 550 itulah yang diperjuangkan Marsinah dan mengantarnya ke kematian yang misterius.

Siapa pembunuh Marsinah? Teka-teki itu tak terjawab, tapi dapat dirasakan keberadaannya sejak lama. Apalagi bila melihat sajian film yang musiknya diarsiteki oleh Djaduk Ferianto ini. Adakah akibat gertakan Marsinah untuk membeberkan rahasia perusahaan yang tak terungkap itu? Rahasia Apa? Adakah pembuatan arloji bermerek yang dibuat secara illegal? Tak jelas.

Menilik sajian film semi dokumenter ini, mengingatkan kita pada film “JFK”. Di mana teka-teki kematian John F. Kennedy masih misterius, sebab hanya menjadikan Lee Oswald sebagai tertuduh lalu dibunuh sebelum diadili. Namun lewat “JFK”, bisa terasa adanya konspirasi tingkat tinggi dari Pentagon untuk membunuh presidennya.

Pun bila mencari cela pada “Marsinah”, hanyalah ketidaktelitian pencatat skrip ketika tiga polisi membawa suami Mutiari menemui isterinya. Dua diantaranya memakai jaket. Tapi ketika masuk sel tahanan, tak ada yang memakai jaket. Secara logika, menghadap pemimpinnya  saja  memakai jaket, boro-boro melepas ketika harus menemui tahanan.

Yang pasti, film ini mengingatkan kita pada banyak hal, termasuk ketika Sentong dan Karta dinyatakan bebas oleh MA setelah dihukum bertahan-tahun. Juga, teringat akan nasib Nursalampessy di Makassar yang sempat akan mempraperadilankan nasibnya yang dituding sebagai pembunuh, tapi nyatanya ia malah divonis penjara seumur hidup. Nasib! Ya, nasib peradilan kita yang tak jelas di mana letak nilai keadilannya.

 

SANG HERO TERLIBAT VOODOO

Judul                    :    Scooby Doo

Pemain                 :    Freddie Prinzo JR, Sarah Michelle Gellar, Mathew Lilard, Linda Cardellini, Rowan Atkinson

Skenario               :    James Gunn

Sutradara             :    Raja Gosnell

S

UKSES Spiderman telah “merangsang’ pembuat film    kakap    sekelas    Warner    Bros    untuk menghidupkan   kembali   legenda-legenda   hero yang   muasalnya   dari   komik   hingga   film   kartun. pemerannya bukan lagi kartun, tapi benar-benar hidup. Apalagi, cerita klasik yang telah mendarahdaging dengan penikmatnya, tak pernah mati. Sang hero selalu hidup hingga kapan pun, yang kemudian dilanjutkan ke generasi penerusnya. Intensitas penampakan cerita yang setiap saat diperbaharui, membuat legenda fiktif itu terus menerus hidup di sepanjang masa.

Intensitas legenda fiktif pun kerap dijadikan sebagai cerita ilmiah. Misalnya, kemunculan kembali Godzilla yang di awal kehadirannya di era 50-an, sudah dibentuk sebagai makhluk langka peninggalan purbakala yang masih berhubungan dengan dinosaurus. Namun, penampilan terakhirnya malah sudah berubah bentuk. Godzilla merupakan kadal kecil yang mengalami proses mutan akibat limbah nuklir yang bocor di lautan Pasifik akibat penelitian Perancis.

Tak sedikit cerita fiktif yang merupakan hero bagi penikmatnya sejak kemunculan sang tokoh, telah disesuaikan dengan zamannya. Setting ilmiah lebih ditonjolkan. Namun, ternyata teori itu disungsang oleh Graig Titley dan James Gunn yang menghidupkan kembali Scooby Doo sebagai cerita di kekinian. Yakni, bila alur-alur setting Scooby Doo, kebanyakan pembuktian ilmiah untuk melawan keberadaan hantu, maka kehadiran empat tokoh dan seekor anjing bernama Scooby Doo itu selalu membuktikan bahwa “tidak ada hantu”. Toh lewat film terbaru yang diproduksi Warner Bros lewat tangan dingin sutradara Raja Gosnell, malah merujuk pada fantasi horor yang nyaris nyata.

Memang, tampaknya alur Scooby Doo tak lepas dan stereotype yang telah puluhan tahun terbangun dalam file-file imajinatif penikmat film-film kartunnya. Seperti diceritakan di awal film ini, “Mystery Inc.” yang merupakan label kelompok detektif di mana Scooby Doo termasuk tokohnya, memecahkan kasus misteri “Hantu Luna” yang kerap mengganggu. Toh, dibuktikan bahwa tak ada hantu, yang ada seorang manusia yang menggunakan trik modern untuk bisa terbang.

Pada dasarnya, Scooby Doo di layar lebar, hampir sama dengan kisah-kisah Scooby Doo di film kartun. Mystery Inc. yang beranggotakan Fred (Freddie Prinzo Jr) pimpinan kelompok, Velma (Linda Cardellini) yang cerdas selalu bisa menjelaskan sesuatu dengan dasar ilmu pengetahuan, Daphne (Sarah Michelle Gellar) yang. cantik dan pemberani, Shaggy (Mathew Lillard) yang agak penakut dan Scooby Doo si anjing cerdas yang selalu bersemangat bila diberi snack meskipun ia ketakutan.

Film ini dimulai kala Daphne diculik oleh hantu Luna di pabrik mainan. Teman-temannya berhasil menolong dan mereka pun memecahkan misteri hantu-bantuan yang ada di lokasi tersebut. Namun kelompok Mystery Inc. bubar akibat masing-masing anggota merasa dirinyalah yang paling berjasa dalam memecahkan misteri. Terlebih adanya ucapan terima kasih dari aktris terkenal Pamela Anderson yang memerankan Pamela.

Dua tahun kemudian mereka mendapat undangan untuk memecahkan kasus di Spooky Island. Di awal pertemuan mereka masih saling cuekan, setelah ketemu hantunya mereka kembali kerjasama. Emil Mondavarius (Rowan Atkinson) yang mengundang mereka ke Spooky Island   menjelaskan   bahwa   anak-anak   remaja   yang mengunjungi pulau datang dengan wajah gembira tapi mereka pulang dengan wajah yang aneh dan kasar terhadap orang sekitarnya.

Misteri aneh itulah yang harus diungkapkan. Ternyata, di pulau itu terdapat pemuja Voodoo. Ada pemimpin yang menggunakan tubuh Mondavarius, sementara rohnya disimpan di sebuah belanga khusus. Kemampuan mencuri roh dari tubuh manusia yang bertajuk “photoplasma” itu dimungkinkan lewat alat medium “prasasti”.

Siapa tokoh di balik photoplasma itu? Ternyata Scrapy Doo -ponakan Scooby Doo-, yang terbuang dari kelompok Mystery Inc. karena selalu berbuat ulah. Scrapy menginginkan kekuatan Scooby Doo menjadi miliknya. Dan lewat ritus voodoo itulah, ia menghimpun kekuatan.

Menjadikan Scooby Doo ke layar lebar, terbilang menarik. Apalagi, sistem animasi tetap dipertahankan untuk tokoh Scooby Doo dan Scrapy. Malah pemunculan aktor terkenal seperti Rowan Atkinson yang selalu berperan sebagai Mr. Bean maupun kemunculan Pamela Anderson, tenggelam oleh kebesaran legenda “Scooby Doo”.

MUKJIZAT PESAN TERAKHIR

Judul                    :    Signs

Pemain                 :    Mel Gibson, Josaquin Phoenix, Cherry Jones, Scom Cuklin

Musik                  :    James Newton Howard

Skenario               :    M. Night Shyamalans

Sutradara             :    M. Night Shyamalans

P

ESAN terakhir sebelum kematian dari seseorang adalah sebuah petunjuk. Bukan sekedar wasiat untuk   membagi-bagikan   harta.   Tak   jarang, sesuatu   mukjizat   tentang  masa  depan.   Malah   pada masyarakat   Bugis   Makassar   diyakini  jika   seseorang sedang menghadapi sakratul maut, bola matanya yang hitam menghilang’ melihat sebuah masa depan yang akan dijalaninya.

Seperti tanda atau isyarat maupun firasat yang diperlihatkan seseorang yang akan pergi menghadap Ilahi, barulah disadari setelah orang itu mati. Kita pun tersentak. Tersadar. Terbangun dari sebuah tidur panjang tentang suatu makna yang telah diberikan tapi kita tidak menyadarinya. Makanya, tanda-tanda itulah yang mestinya harus selalu diwaspadai. Mawas!

Kematian adalah sesuatu yang pasti bagi makhluk hidup. Tak ada satu pun yang bisa mengelaknya. Namun haruskah kematian itu ditakuti? Haruskah kematian menghantui kita? Ataukah kematian itu adalah kesalahan Tuhan yang tak memberi kita kesempatan berumur panjang dan menikmati hidup sampai puas?

Beragam pertanyaan tentang kematian dibeberkan dalam film “Signs”. Seperti dalam pengertian kata “sign” itu yang berarti tanda, maka tanda-tandalah yang ingin dipaparkan untuk dikemukakan dalam film yang skenario dan sutradara sekaligus produsernya dikuasai penuh oleh M. Night Shyamalans. Intinya : kematian memberi tanda, begitupula kehidupan.

Tanda-tanda itulah yang harus disadari. Seperti pesan Collen kepada suaminya, pendeta Graham Hess sebelum mati karena terjepit oleh truk yang menabraknya. “Biarkanlah Morgan bermain game, suruh Bo mengikuti kakaknya karena kakaknya akan melindunginya, bilang pada Graham agar selalu melihat, dan pada Merril agar mengayunkan kuat-kuat stik baseballnya.” Pesan itulah yang selalu menghantui Graham, tapi ia tak pernah tahu artinya.

Akhirnya kematian itu akan datang juga. Malah akan menimpa umat manusia di seluruh dunia. Hal itu ditandai dengan munculnya makhluk luar angkasa semacam “alien” di perkebunan jagung Graham (Mel Gibson). Awalnya keluarga Hess menduga ada saringan perkebunan jagung yang sengaja merusak kebunnya dengan bentuk tanda. Namun setelah muncul tayangan peristiwa di televisi yang mengabarkan adanya makhluk asing, keluarga itupun memilih men3’elesaikan masalahnya sendiri.

Emosi dan ketegaran hidup menghadapi alien yang sekali menjemput ajal itulah yang dimainkan dalam “Signs” yang musiknya digarap secara apik walau dengan sangat sederhana oleh Newton Howard. Digambarkan suasana batin Graham yang membenci Tuhan karena kematian isterinya Collen lalu menyaksikan bakal kematian puteranya, Morgan (Scorn Cuklin). Dan perjuangan hidup itulah yang akhirnya tetap berfokus bahwa kematian dan kehidupan itu adalah mukjizat dari Tuhan.

“Signs” merupakan film yang memainkan emosi penonton. la tidak. meledak-ledak dipenuhi ketegangan lewat visual seperti pada film-film yang dimainkan Mel Gibson yang kali ini memilih bermain secara watak. Bukan keheroan yang menjadi inti cerita. Tapi, permainan emosi yang menuju klimaks dengan membeberkan berbagai pertanyaan yang harus dijawab. Apalagi, semua simbol dan tanda yang mendukung alur cerita, merupakan satu kesinambungan dan keterikatan yang saling padu.

Misalnya tentang air yang sangat ditakuti Bo (Cherry Jones) yang berusia sekitar empat tahunan lalu menyimpan air di gelas yang seterusnya ditaruh di berbagai tempat di rumahnya. la selalu merasa bahwa air itu ada kumannya. Toh, terjawab juga bahwa air itu senjata ampuh untuk melukai alien. Begitupula soal sakit asmanya Morgan yang termasuk inti cerita dalam menghadapi kematian. Juga kehidupan baseballnya Merril (Josaquin Phoenix) yang dengan stiknya, membunuh alien lewat pukulan keras.

Film ini terbilang cemerlang dengan memainkan segala emosi penonton yang larut seakan menyaksikan film yang nyata. Sebagai film fiksi-ilmiah, “Signs” mampu menyajikan dirinya sebagai film yang penuh pesan kehidupan yang berada di sekitar kita tanpa memandang agama, suku, bangsa, dan tempat. Apalagi, permainan watak para pemerannya, sangat luar biasa. Film yang tidak sekedar memberi tanda untuk jempol, tapi banyak hal yang bisa dibawa pulang sebagai bahan renungan dalam kehidupan ini sebelum kita mati.

BILA CINTA BERLUMUR DOSA

Judul                    :    Original Sin

Pemain                 :    Antonio Banderas, Angelina Jolie, Thomas Jane

Musik                  :    Terace Blanchard

Skenario               :    Michael Christofer

Sutradara             :    Michael Christofer

C

INTA itu dahsyat! Kekuatannya tak terkalahkan. Walau dipenuhi kebohongan, dan segala tipu daya, cinta tetap suci. Karena cinta lahir dari jiwa yang terdalam, yang tak bisa dibuat-buat maupun dimanipulasi. Dan misteri itu takkan dapat dijawab secara logika. Pun, bila cinta berlumur dosa, ia tetap agung. Tak percaya?

Masih banyak yang menyamakan  cinta itu  sama dengan seks. Maka ketika sebuah cerita digagas untuk mencari kemurnian cinta yang tak bisa dibedakan antara kemurnian dosa, yang ditemukan adalah cinta itu adalah dosa ketika tak memiliki cinta. Tapi bila cinta itu ada, penuh dengan kesuciannya, takkan ada yang mampu membedakannya sebagai dosa.

Mencari rumusan cinta itulah, Cornell Woolrich memaparkannya secara blak-blakan lewat novel “Walls into Darkness”. Dan naskah dahsyat itu kemudian diangkat ke layar lebar oleh Michael Christofer yang bertindak sebagai penulis skenario sekaligus menyutradarainya. lewat label “Original Sin”. Intinya : “Ini bukan cerita cinta. Ini cerita tentang cinta”. Cinta yang memberi kekuatan di atas bara kehancuran.

Diawali setting “flashback”, seorang perempuan terpidana mati di balik tembok penjara, menceritakan kisah hidupnya sebagai penyebab dari kehidupan yang bakal menjeratnya ke tiang gantungan. Cerita yang berkisar berada di akhir abad ke-19 di sebuah negara Latin.

Dikisahkan Luis Antonio Vargas (Antonio Banderas) yang tinggal di Santiago, ingin menikahi sahabat penanya dari negara Amerika. Alasannya, Santiago adalah masa kini yang bakal jadi silam, sementara Amerika adalah masa depan. Dan pemilik perusahaan kopi itu pun meminta Julia Russel datang.

Hari kedatangan Julia (Angelina Jolie) disambut dengan suka cita oleh Luis yang langsung menikahinya pagi itu juga. Sebelumnya Julia mengaku telah membohongi Luis dengan mengirimi foto orang lain agar Luis tidak jatuh cinta padanya karena kecantikannya. Pun Luis mengaku bahwa ia bukan pegawai pada perusahaan kopi seperti dalam suratnya tetapi ia pemilik perusahaan tersebut.

Luis sangat bahagia dengan perkawinannya. Seperti ungkapan sahabat Luis bahwa perkawinan yang bahagia itu, seperti mati dalam bahagia. Ungkapan rasa bahagia Luis pada isterinya diwujudkan dengan memberikan kewenangan pada isterinya untuk menggunakan rekening bank Luis. Hal ini membuat sahabat Luis mengingatkan, “cinta selalu memberi dan nafsu selalu menerima”.

Kebahagiaan Luis terusik setelah kedatangan kakak Julia dari Amerika di kantor Luis yang menyatakan balasan surat yang diterima bukan dari adiknya tetapi dari orang lain karena tulisannya berbeda. Dengan kemarahan yang besar Luis kembali ke rumah mencari isterinya. Tapi isterinya telah pergi dan sebelumnya telah menarik seluruh isi rekening milik Luis.

Luis kecewa. Patah hati,. Marah. Di tempat hiburan, bertemu lagi dengan detektif Walter Doowns (Thomas Jane) dari Amerika yang sebelumnya ingin bertemu Julia. Luis minta Walter mencari Julia yang ternyata buronan. Tujuannya bukan untuk mencari uangnya, tapi ingin membunuhnya.

Petualangan mencari Julia dimulai dengan mencari informasi di kapal dan pelabuhan. Diperoleh info bahwa Julia Russel yang ada pada foto yang dikirim dari Amerika, ternyata terlihat bersama “Julia Russel” yang menjadi istri Luis. la salah seorang anggota pemain teater dari Amerika yang pentas di Santiago.

Luis dan detektif melanjutkan perjalanan ke Havana mencari Julia. Di Havana, Luis temukan Julia yang ternyata bernama Bonny Castel. Isterinya’ ini mengaku disuruh oleh Billy. Malah mengungkapkan kasus pembunuhan terhadap Julia Russel asli yang dilakukan Billy. Tapi sekali lagi atas nama cinta, Luis tak mampu membunuh Bonny. la mencintai “Julia”*, siapapun namanya, yang turun dari kapal dan ia nikahi. Makanya, ia melindungi Julia ketika sang detektif menemukan Julia lalu menembaknya.

Bagaimana kisah selanjutnya yang ternyata si detektif gadungan itu adalah Billy yang menyamar, tidak mati karena pistol berisi peluru hampa? Yang pasti, klimaks cerita terjadi pada adegan-adegan berikutnya. Termasuk kala Luis harus menenggak racun tikus yang disiapkan Bonny, walau ia tahu. Ya, semuanya demi cinta!

Lewat “Original Sin”, kita takkan menemukan aksi Antonio Banderas yang awal-awal kiprahnya di dunia akting, banyak memainkan peran kekerasan. Malah, tubuh kekarnya kali ini tidak diwarnai kekuatan tubuh, tapi rasa, la melawan dengan “kasih” dan “cinta”. Seperti halnya, ketika membintangi Two”. Dan film ini lebih nikmat, karena sajian adegan dipenuhi musik yang mengantar ke alur-alur romantika.

KEBAHAGIAAN ANAK ADOPSI

Judul                    :    Snow Dogs

Pemain                 :    Cuba Gooding, James Cobum

Naskah                :    Tommy Swedlow, Cs

Sutradara             :    Bian Levant

A

PA yang dicari orang ketika sudah mencapai kemapanan?   Adakah   seperti   lagu   dangdut “yang kaya  makin  kaya”  dimana  seseorang Id an menumpuk kekayaan? Ataukah kegelisahan akan jati diri yang lebih jelas lalu bertanya pada dirinya sendiri bahwa apakah pilihan hidupnya sudah pasti dan benar?

Kemapanan terkadang merupakan suatu awal untuk mencari jati diri yang lebih hakiki. Malah akan menjadi awal dari segala awal bila ternyata menemukan diri bahwa kita bukanlah siapa-siapa maupun apa-apa. Itupun jika ada kesadaran yang menggelitik batin untuk menemukan diri yang sebenar-benarnya. Apalagi jika ternyata kita bukanlah darah daging dari orang tua yang selama ini memelihara kita.

Berbekal ‘kesalahan’ orang tua yang menutup rahasia seseorang yang diadopsi, produser Jordan Kerner yang pernah sukses memproduksi film komedi “George of the Jungle” bersama sutradara Brian Levant yang sukses menangani “Beethoven”, lahirlah “Snow Dogs” yang merupakan paduan garapan serius tapi konyol dan sangat lucu. Di tengah pencarian muasal genetika di Alaska itu, hadir falsafah kehidupan yang bisa berasal dari kaum mana pun.

Alur cerita dimulai ketika Teddy Brooks bercita-cita menjadi dokter gigi seperti ayahnya. la pun berhasil menjadi dokter gigi yang sukses di Miami, 25 tahun berikutnya. Teddy (Cuba Gooding) malah menjadi bintang iklan yang memberi senyuman dengan penampakan gigi putih. Hingga akhirnya ia mendapat surat wasiat. Toh, ia tertarik untuk mencari orang tuanya yang asli. Apalagi, ia penasaran karena barulah ia tahu jika punya ibu kandung bernama Lucy Watkins.

Film yang musik dan sound efeknya dikerjakan ‘ John Debney itu pun berlanjut ke kehidupan Alaska yang dipenuhi salju. Bagai film dokumenter tentang pariwisata keindahan alam Alaska yang alami (natural) dengan butir-butir saljunya, Ted (sapaan akrabnya Teddy) yang berkulit hitam itu harus berupaya keras menemukan siapa ayahnya. Sebab, ibunya hanya memberikan wasiat tentang barang-barang peninggalan yang bagi Teddy tidak ada harganya.

Ted nyaris patah arang lalu pulang ke Miami andai gadis hitam yang cantik (Joanna) tak memberinya jawab. Namun ia bingung ketika menemukan bahwa ayahnya berkulit putih dan terbilang sosok lelaki tua yang ditakuti masyarakat Tolketna. Malah, pria itu adalah orang yang selalu ingin membeli anjing-anjing peninggalan Lucy dengan harga murah. Dan setiap mencari tahu tentang keaslian ayah serta watak ibunya, Thunder Jack atau James Johnson yang diperankan aktor kawakan James Coburn memilih. untuk menawar harga anjing-anjing yang merupakan anjing lomba dalam balapan salju.

“Snow Dogs” pun nyaris sempurna menggabungkan beragam bentuk film. High comedy yang mengikutkan anjing-anjing seperti keberhasilan “Dalmatians” ikut menguatkan alur cerita. Tapi anjing tidak menjadi fokus utama sehingga film yang menawarkan falsafah “hidup, tidak terjebak pada komedi murahan. Apalagi ketika James Johnson nekat menembus badai demi juara lalu hilang di tengah bukit salju, lalu Ted pergi mencarinya demi suatu kebenaran akan jati dirinya.

Maka obor “Arctic” yang dipadamkan bila semua peserta lomba sudah memasuki garis finish,’ dibiarkan tetap menyala berhari-hari demi menanti dua nyawa yang tak jelas hidup-matinya di sergapan badai salju, Keduanya selamat. Ted tahu di mana Johnson berada, yakni di tempat ia juga pernah diselamatkan oleh Johnson. Dan di gua itulah, Johnson dan Lucy berhubungan hingga melahirkan Teddy.

Di pertemuan ke-dua di gua itu pula, Johnson membeberkan kebenaran yang lebih hakiki bahwa ia sangat mencintai Lucy. Juga mencintai anak yang dilahirkan. Tapi, Lucy merasa sebagai penakluk bukit salju dengan anjing-anjingnya, menyadari ketidakmampuannya membesarkan anak. Dan ia yakin bahwa di tangan orang lain, anaknya akan sukses.

Bagaimana akhir cerita yang melibatkan pula perasaan cinta Ted terhadap Barb? Yang pasti, film yang diproduksi Walt Disney dan skenarionya digarap secara bersama-sama oleh Tommy Swerdlow, Michael Goldberg, Mark Gibson, serta Philip Halprin, mampu memberi penawaran berpikir tanpa jejalan pemaksaan. Penikmat film disajikan kenyataan hidup yang bisa saja terjadi di mana saja, termasuk berada di sekitar kita. Toh, kita bisa terkontemplasi sambil tertawa.

 

 

 

 

 

 

DENGAN APA ADA CINTA ?

Judul                           :    Ada Apa Dengan Cinta

Naskah/Skenario         :    Jujur Prananto

Sutradara                    :    Rudi Soejarwo

Produksi                     :    Miles Production

Produsen                    :    Mira Lesmana dan Riri Reza

Pemain                        :    Dian Sastro Wardoyo – Nicholas Saputra – Frans Tumbuan – Ttti Kamal  –  Adiwiniawirasti  –  Sissi Priscillia – Ladya Cheryl

C

INTA itu absurd.-Tak dapat di “nyata”kan dan di”sentuh” secara fisik dengan perilaku kasat mata. Bicara tentang cinta, maka tak satupun kata yang dapat mengungkapkannya secara jelas dan defenitif. Tak ada alat yang dapat mengukur ataupun   menakar   kadarnya.   Tak   ada   mediator, perangkat serta tatanan yang bisa mengatur untuk merasakan keberadaannya. Kecuali dirasakan secara gaib. Cinta merupakan misteri yang dapat memberi kekuatan bagi seseorang untuk merubah perilaku dan jalan hidupnya.

Ada penyair yang mengibaratkan cinta seperti anak panah bermata dua dan bersayap dusta. Begitu ia menghujam ke dalam lubuk hati seseorang, maka ia akan memberikan rasa ganda. Kebahagiaan sekaligus penderitaan dan kesedihan. Tetapi adakah yang*mampu menolak kehadiran cinta meskipun di dalam prosesinya terkadang diakhiri dengan perpisahan dan air mata.

Banyak film Indonesia yang diproduksi dan bercerita tentang remaja dengan tematik cinta. Sebut saja film Cinta Pertama, Gita Cinta di SMA, Romi dan Juli, Pengantin Remaja, Pernikahan Dini dan banyak lagi lainnya yang kesemuanya bercerita tentang kisah cinta remaja dan problematiknya.

Film “Ada Apa Dengan Cinta” yang diproduksi oleh Miles Production, merupakan film remaja yang dipersiapkan untuk menyambut hari kasih sayang “Valentine Day”.

Film ini bercerita tentang kisah cinta remaja yang penuh dengan “keegoisan”. Meskipun film ini cuma menghadirkan dua bintang muda yang masih tergolong bintang pendatang baru di dunia sinema’ Indonesia sebagai pelakon utama, namun film ini mampu bertahan di posisi teratas sebagai film Indonesia terlaris di awal tahun 2002. Dian Sastrowardoyo dalam film ini mampu bermain apik dan memukau berkat pengalaman akting pertamanya di film “Pasir Berbisik”. Begitu juga halnya dengan Nicholas Saputra, super model remaja yang baru pertama kali ini bermain film.

Film ini bercerita Cinta (Dian Satrowardoyo) seorang remaja gaul yang punya seabrek prestasi di sekolahnya, terutama di bidang penulisan karya sastra. Karena itu cinta dan kawan akrabnya (Titi Kamal, Ardinia Wirasti, Sissi Prisilia, Ladya Cheryl), ditugasi mengelola unit kegiatan siswa di bidang publikasi dan penerbitan.

Suatu ktika SMUnya mengadakan. lomba penulisan puisi. Tentu saja, sebagaimana biasanya, Cinta dijagokan oleh kawan-kawannya untuk menjadi juara. Tetapi siapa nyana, kali ini juaranya direbut siswa lain. Dengan rasa penasaran Cinta mencari tahu siapa sebenarnya sang juara itu. Dan itulah awal dari “petaka” yang menimpa dirinya. Cinta jatuh cinta untuk yang pertama kalinya di usianya yang “sweet seventeen” pada Rangga (Nicholas Saputra), pemuda yang berbeda latarbelakang kehidupan dengannya, termasuk kehidupan kesehariannya.

Ketertarikan Cinta pada Rangga, karena menilai Rangga orangnya cuek, suka menyendiri dan tidak suka menonjolkan diri. Perilaku Rangga ini sebenarnya dilatarbelakangi keretakan kedua orang tuanya. Ibunya bersama saudaranya meninggalkan Rangga dan ayahnya, karena ketidakcocokan kepribadian. Trauma inilah yang menyebabkan Rangga kurang serius menanggapi perasaan Cinta.

Di akhir cerita, Cinta kebingungan seorang diri berdiri di persimpangan jalan untuk memilih jalan hidup yang mana yang harus dijalani. Memilih Rangga yang kehidupannya sangat berbeda dengannya, ataukah memilih kelompok gaulnya yang selama ini memposisikan Cinta sebagai tempat curhat (Curahan Hati). Setting cerita menukik tajam, ketika rangga akhirnya, memutuskan untuk meninggalkan Cinta, dan pindah sekolah ke Sydney, Australia. Seperti pilihan kata hatinya yang dituliskan dalam buku puisi yang ditinggalkan untuk Cinta : “…Perempuanku // Seperti juga ibuku yang perempuan // Pergi meninggalkan cintanya …//”.

Kisah cinta remaja ini berakhir sedih. Karena memang cinta tidak harus saling memiliki. Cinta adalah absurd. Seperti banyak orang yang selalu bertanya tentang cinta: Dengan apa ada cinta?

 

 

 

 

 

 

MISI “DAMPAK SAMPINGAN”

Judul                        :    Collateral Damage

Produksi                   :    Warner Bros Picture – Belair Enternainment

Produser                   :    Steven Reuther & David Forther

Naskah/Skenario      :    Ronald Rose, David, Peter Griffiths

Sutradara                  :    Andrew Davis

Pemain                     :    Arnold Schwarzenegger, Cliff Curtis, Francesca Neri, Elias Kofeas, John Turturro

A

DAKAH manusia yang tidak menginginkan kedamaian  dan  kebahagiaan  ? Jawabnya, tentu saja tidak ada. Karena kedamaian dan kebahagiaan   adalah   dambaan   dan   tujuan   hidup setiap     manusia     normal.     Namun     kebahagiaan manusia tidak selalu kekal. Terkadang “terhempas” dan “terenggut” secara paksa.

Kebahagiaan yang terenggut, terkadang membuat manusia hilang keseimbangan, bahkan cenderung melakukan hal-hal nekat dan membabi buta. Apalagi bila bencana yang menimpa dirinya atau orang yang dicintainya dianggap sepele oleh orang lain, dianggap korban mereka “dampak sampingan” (Collateral Damage) saja. Hati yang luka dapat membuat orang nekat dan menjadikan dirinya apa saja, termasuk menjadi residivis, teroris atau “serigala” sekalipun.

Film aksi “Collateral Damage” ini, menyajikan cerita fiktif tentang Kapten Gordy Brewer (Arnold Schwarzenegger), seorang komandan regu pemadam kebakaran kota Los Angeles yang mempunyai dedikasi dan tanggung jawab tinggi dalam melaksanakan tugas. Gordy pun sebagai kepala rumah tangga menjalani hidupnya secara bersahaja, hidup rukun dan bahagia bersama isterinya Anna dan seorang putra semata wayang bernama Matt.

Tetapi nasib terkadang berkata lain, ketika suatu hari isterinya mengantar anaknya ke dokter, Gordy yang terlambat menjemput, sangat terkejut dan “shock” ketika di depan matanya sendiri menyaksikan aksi teroris yang meledakkan gedung konsulat jenderal Kolombia dan menewaskan kedua orang yang dicintainya. Adegan dramatis dipertontonkan ketika beberapa detik sebelum ledakan terjadi, Gordy masih sempat melambaikan tangan kepada isteri dan anaknya.

Di tengah malapetaka yang tidak terduga dan berlangsung cepat itu, Gordy sempat melihat seorang “Polisi” yang dicurigainya memasang bom dan meledakkan gedung konsulat kolombia itu. Setelah rekaman wajah polisi itu dicocokkan dengan file FBI maupun CIA, ternyata polisi palsu itu adalah Claudio Perrini (Cliff Curtis), sang “serigala” yang menjadi dedengkot gerilyawan teroris Kolombia, yang di negerinya dijuluki El Lobo.

Tindakan teroris ini sebenarnya untuk mengingatkan kepada Amerika, negara “sok berkuasa” itu, agar jangan mencampuri urusan dalam negeri Kolombia. Meskipun Kolombia saat ini sedang berkibar perang sipil. Sebenarnya yang menjadi target £1 Lobo adalah Konsulat Jenderal Kolombia dan pihak Atase Militer Amerika Serikat. Namun ternyata dalam insiden itu, banyak warga sipil kota Los Angeles yang menjadi korban, termasuk anak dan isteri Gordy. Tapi pihak El Lobo menganggap korban dari kalangan penduduk sipil hanya “kerusakan” bertaraf dampak sampingan (Collateral Damage) saja.

Kenyataan ini membuat Gordy kalap dan nekat, karena kedua orang yang dicintainya dianggap barang yang tidak berarti, barang “sampingan” saja. Apalagi setelah ia mengetahui pemerintah AS dan Kolombia malah berunding dengan pihak gerilyawan teroris Kolombia. Kenyataan ini membuat Gordy bertekad untuk membalas dengan caranya sendiri.

Diam-diam Gordy menyusun rencana untuk menyusup masuk ke Kolombia, meskipun ia dicegat oleh Peter Brandt (Elias Koteas) seorang agen CIA. Sebenarnya diam-diam Brandt mendukung rencana Gordy, karena ia sendiri punya rencana lain untuk memanfaatkan Gordy dan menumpangkan misi menumpas sindikat pemasok narkotik ke seantero Amerika yang berpusat di Kolombia, dan dikuasai gerilyawan teroris Kolombia pimpinan El Lobo.

Hasil akhirnya mudah saja ditebak menonton film ini memang tidak perlu berpikir rumit. Kisahnya sederhana, dan mudah ditebak. Lagi-lagi Amerika menunjukkan kejagoannya dengan tokoh ‘superhero’ yang menumpas teroris seorang diri. Seperti juga film Arnold lainnya, Collateral Damage penuh adegan kekerasan. Kelebihan film ini hanya sensasi karena penundaan peredarannya karena Tragedi World Trade Center (WTC). inilah yang membuat film ini menjadi menarik.

CINTA DALAM KEHIDUPAN BARU

Judul                    :    Angel Eyes

Pemain                 :    Jennifer Lopez, Jim Caviezel, Sinia Braga, Terrence Howark

Naskah                :    Gerald Dipego

Sutradara             :    Luis Mandoki

T

AK  perlu   menunggu   “forty  the   new  live” untuk mendapatkan kehidupan baru. Bukan lagi  sernata usia 40 misteri yang memberi kekuatan  dan  kemampuan  bagi  seseorang untuk berubah.  Mendapatkan dunianya yang lebih baik, apalagi setelah terpuruk.

Bicara cinta memang tak pernah bisa diberi jawaban jika timbul pertanyaan. Yang ada adalah rasa. Dan rasa itu sangat sulit dijabarkan. Karena cinta itu adalah mata malaikat. Mata bidadari. Maka takkan ada yang mampu menolak kehadiran cinta, walau harus melatarbelakangi masalah yang paling brutal sekalipun. Cinta itu, seperti kata Doel Sumbang, “Anugerah, maka berbahagialah”.

Cinta yang gaib itulah yang disodorkan Gerald Dipego yang dikemas secara baik oleh Luis Mandoki. Apalagi, dibintangi artis nyanyi yang dikenal bersuara merdu dan seksi, Jennifer Lopez, serta aktor yang cool Jim Caviezel. Maka jadilah alur “Angel Eyes” mengalir sangat nikmat. Cerita yang memasukkan berbagai unsur cinta, dipadu dalam suatu kemasan yang apik.

Diceritakan Sharon Pogue (Jennifer Lopez) yang selalu gagal membangun cinta. Sebab setiap bertemu teman kencan, ia risih ditanya soal asal-usul dan tetek bengek lainnya yang berkaitan dengan dirinya secara pribadi. Polwan yang bertugas di salah satu polsek Chicago ini, harus selalu bersabar menerima olok-olok rekan kerjanya soal kegagalannya mendapatkan pacar.

Karena cinta itu gaib, maka Sharon tak tahu mengapa ia diselamatkan oleh seseorang Catch (Jim Caviezel), ketika moncong pistol, yang sudah ditembakkan ke tubuhnya yang memakai baju pelindung itu, siap ditembakkan lagi ke wajahnya. Sharon selamat. Catch merasa mereka dipertemukan bukan karena kebetulan. Tapi bermula dari “goresan”.

Misteri itu kemudian terjawab. Catch yang merupakan hantu menurut rekan kerja Sharon karena tak punya marga, adalah salah satu korban kecelakaan yang diselamatkan oleh Sharon setahun sebelumnya. Catch adalah Steve Lambert, penipu terompet yang handal di sebuah pub. Dan memilih untuk bersembunyi  dari  kehidupan  nyata karena merasa  ia  telah  bersalah  menewaskan   anak  dan isterinya pada kecelakaan itu.

Sementara Sharon juga punya masalah. Ia ditolak oleh keluarganya. Ia adalah anak yang terbuang. Pasalnya ia memenjarakan ayahnya yang memukuli ibunya. Tapi, ayah dan ibunya yang cerai, memilih untuk menikah kembali. Adapun Sharon tetap tak diakui sebagai anak, walau dalam hati kecil ayahnya, ia tetap dirindukan. Toh, dua hati itu, Sharon dan Steve, mampu melawan kekerdilan berpikirnya tentang masa silam yang membelenggu kehidupannya. Mereka menemukan cinta. Menemukan mata malaikat.

Ya, cinta itulah yang ditawarkan film produksi Franchise Pictures dan Canton Company. Alur cerita dan kemasan yang apik. Apalagi tidak sekonyong-konyong menjadikannya murahan maupun film musical. Pun keraguan akan Jennifer Lopez yang lebih dikenal sebagai penyanyi yang bertumbuh seksi, tidak terbukti. Jennifer mampu memperlihatkan akting prima yang masih terbilang baru baginya. la tampil tanpa menjual suara dan tubuh seksinya. Walau, tetap juga ada penampakan terhadap tubuhnya yang aduhai. Tapi, tidak diijinkan eksploitasi untuk menutupi kekurangan akting Jennifer. Sebab, artis cantik itu memang pantas disejajarkan dengan artis lainnya di Hollywood.

Terlepas dari kepiawaian Jennifer Lopez itu, kemampuan Marco Beltrian yang mengarsiteki musik “Angel   Eyes”,   patut   diberi  jempol.   Film   mampu menukik klimaks dengan sound efek yang terjaga. Walau tidak terjebak pada musikalisasi, tapi mampu memberi warna asal-usal Jennifer pada dunia musiknya. Terlebih, mampu memberi suasana cinta yang gaib itu tanpa teka teki yang menyulitkan.

SPIDER-MAN JADI NYATA

 

T

OKOH    masa    kecil    kita,    justru    bukan pahlawan sebenarnya.  la adalah epos dari dongeng.   Begitu   pula,   pahlawan-pahlawan kartun dari Amerika yang merambah ke berbagai negeri, termasuk Indonesia. Maka kita pun mengenal Batman, Mr. Robin. Hulk, dan beragam tokoh lainnya, termasuk Spider-Man.

Cerita Spider-Man yang disutradarai Sam Raimi inilah yang diangkat kembali kekinian. Adakah ia menjadi film anak-anak seperti animasi kartun yang telah lama kita kenal itu? Ternyata tidak. Cerita digadang-gadangkan ke kehidupan kini, tanpa melupakan inti cerita. Makanya, tak mengherankan jika Presiden AS Geroge W. Bush meluangkan waktu untuk menyaksikan pahlawan kartun yang menjadi ‘nyata’.

Kembalinya Spider-Man kekinian, tidaklah semata menjadi milik anak-anak. Tapi, malah bisa memberi hiburan dan mengembalikan file-file masa kecil kita tentang kepahlawanan seorang tokoh, walau itu hanya fiksi, Yang pasti, kita selalu merindukan sosok pahlawan dalam kehidupan kita, sepanjang masa.

Setting cerita Spider-Man kali ini, tidaklah jauh beda dengan inti cerita dalam kartun-kartun. Spider-Man (Tobey Maguire) jatuh cinta pada gadis tetangganya, Mary Jane (Kristen Dunst) yang juga teman sekolahnya. Di Mid Town. Dikenal sebagai Peter Parket, Spider-Man adalah seorang siswa yang punya rasa simpati pada lawan jenis, seperti teman-teman lainnya. Apalagi Mary lebih menyukai Flash, teman sekolah yang ganteng dan kaya. Juga sempat menyukai Harry Osborn (James Franco), sahabat Peter.

Kekuatan Spider-Man tak pernah diketahui Peter, la baru merasakan kekuatan dahsyat itu, setelah pulang dari study tour ke Fakultas Science University Columbia. Di tempat inilah ayah Harry, Dr. Norman Osborn (Willem Dafoe) bekerja. Di laboratorium tempat study tour, Peter memotret berbagai objek laba-laba. Di antara spesies laba-laba, ada satu spesies yang 15 ekor dalam satu kandang, lepas. Lalu menimpa ke tangan kanan dan menggigit Peter, ketika memotret Mary Jane dengan latar belakang laba-laba.

Pulang dari study tour, Peter sakit. Dan setelah sehat, esoknya ia ke sekolah. Saat itulah, ia tersadar telah memiliki kekuatan super ketika menolong Mary di kantin sekolah. Makanan yang dijatuhkan Mary dapat tertata apik kembali berkat Peter. Namun, Flash tak terima. Keduanya berkelahi. Tapi peter punya kekuatan laba-laba sehingga bisa mengeluarkan cakar di tangannya untuk berjalan di dinding.

Peter pun berkeinginan untuk merebut Mary dari tangan Flash. Berbagai car a diupayakan Peter untuk mendapat perhatian Mary. Namun, ketika juara “smack down”, hadiah yang mestinya $3,000, tak ia dapatkan sebab ia ditipu oleh penyelenggara lomba. Padahal uang itu direncanakan untuk membeli mobil. Makanya, ia membiarkan perampok yang menjarah tempat “smack down” itu lolos, walau akhirnya ia menyesal. Sebab perampok itu membunuh lalu membawa kabur mobilnya Paman Ben-nya.

Setelah lulus SMU, Peter pindah ke New York. Ia tinggal bersama sahabatnya, Harry. Dan suatu malam, ia bertemu Mary Jane yang menjadi pelayan toko. Mary berpesan agar Harry yang menjadi pacarnya, tidak diberi tahu.

Sementara itu, di perusahaan Oscorp memperkenalkan suatu alat tentang dan suatu formula pada angkatan bersenjata. Tapi, Dr. Norman nekat melaksanakan uji coba pada dirinya. Hasilnya ia menjadi sadis di luar alam sadarnya. Malah, ia melempar teman yang membantunya yaitu Dr. Cornor Stron. Besok paginya Dr. Norman terbangun di rumahnya seakan baru mengalami mimpi buruk dan dikabarkan kepadanya bahwa Dr. Cornor Stron tewas.

Adapun Peter yang mencari kerja, menolak tawaran Dr. Norman yang ingin mencarikannya pekerjaan. Ia lebih tertarik pada iklan di Harian Guble yang mencari orang yang bisa mendapatkan foot-foto Spider-Man beraksi, Peter memasang kamera otomatis.

Pun, Dr. Norman marah saat mengetahui bahwa asset perusahaan telah terjual ke perusahaan saingannya dalam hal kerjasama penyediaan peralatan pada bagian angkatan bersenjata Amerika. la kemudian datang menyerang dengan busana yang bisa membuatnya terbang, yang ia produksi. la yang dikenal sebagai Green Goblin, mengobrak-abrik hotel tempat pesta angkatan bersenjata. Dan tentulah, Spider-Man datang untuk mengatasi masalah tersebut.

Cinta kemudian bisa datangnya belakangan. Namun, sudah terlambat. Mary Jane yang ditolong oleh Spider-Man karena menjadi korban penculikan, justru mengingat peter. Namun, Peter menampik cinta sejati itu. Sebab, menurutnya, tanggungjawabnya menolong orang bukan karena pamrih. Dan ia pun menegaskan bahwa semakin besar kekuatan, maka makin besar tanggung jawab. Dan di akhir cerita, Peter berujar “Kekuatan yang kuperoleh adalah anugerah sekaligus kutukan”.

LAPORAN MINORITAS YANG TERABAIKAN

Judul                    :    Minority Report

Sutradara             :    Steven Spielberg

Skenario               :    Scoot Frank, Jon Cohen

Pemain                 :    Tom Cruise, Max von Sydow, Colin Farrel, Samantha Morton, Kathrin Morris.

Produksi              :    20th Century Fox

A

PA jadinya bila kejahatan sudah diketahui sebelum dilakukan?   Akankah   itu   berarti kejahatan akan bisa dicegah? Atau, jangan-jangan ini malah jadi awal penangkapan orang-orang tak bersalah? Inilah tampaknya, yang dilontarkan Minority Report.

Mengambil setting tahun 2054, Washington DC disebut-sebut sebagai tempat paling aman untuk ditinggali. Alasannya, di sana ada Department of Pre-Crime, Departemen Prakejahatan. Ini satgas elit yang punya tiga anggota dengan kemampuan meramal. Ketiga peramal yang disebut precog ini bisa melihat pembunuhan berlangsung sebelum pembunuhan itu terjadi.

Berdasarkan itu, satgas bisa menangkap pelaku sebelum ia benar-benar membunuh, menyelamatkan korban, dan mencegah kejahatan. Departemen ini dipimpin Burgess (Max von Sydow), dengan detektif John Anderton (Tom Cruise) sebagai tangan kanannya.

Spektakuler dan menakjubkan memang. Hasilnya kota Washington DC aman, tenteram. Tingkat kejahatan, khususnya pembunuhan selama kurun waktu 6 tahun terakhir menurun drastis sampai ke tingkat “zero limit”. Karena setiap upaya pembunuhan yang akan dilakukan- oleh siapapun akan terdeteksi secara dini dan akurat serta dengan segera dapat dicegah sebelum terjadi. Tapi benarkah sistem ini tidak memiliki kelemahan sedikitpun?

Inilah yang coba diungkap John Anderton ketika bola merah yang dikeluarkan ‘peramal’ menyebut dirinya sebagai pelaku suatu pembunuhan. Anehnya, calon korbannya pun seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Setting adegan menukik tajam ketika “perburuan” besar-besaran anggota pre-crime yang bersenjata super canggih dan peralatan radar yang berdeteksi tinggi mulai. Konflik psikologispun terjadi karena mereka diperhadapkan pada kenyataan, memburu mantan komandan yang mereka segani. Tapi hukum harus ditegakkan, kendati harus meniadakan “azas praduga tak bersalah”.

Anderton sendiri meyakini dirinya tidak bersalah dan ingin membuktikan dirinya tidak akan menjadi pembunuh sampai pada detik terakhir waktu yang ditentukan. Anderton nekat menerobos laboratorium dan menculik Agatha (Samantha Morton), primadona pre-cog yang mempunyai kepekaan visi yang sangat tajam untuk membantunya membongkar misteri prediksi dirinya. Siapa sebenarnya yang menjebaknya, dan apa sebenarnya motif di balik rekayasa prediksi terhadap dirinya?

John pun diperhadapkan pada pernyataan, “akuratkah ramalan para pre-cog itu?” jangan-jangan, ramalan mereka bisa dikendalikan seseorang. Belum lagi, Dr. Hinerman, sang penemu sistem pre-crime menyebut tentang laporan minoritas (minority report) yang sering diabaikan.

Tapi jangan dulu menuduh film ini hanya membuat dahi berkerut. Kalau anda mencintai film action dan futuristic, minority report menyajikan ini semua. Dalam film ini sulit membedakan mana rekayasa komputer, mana pula yang nil. Tak seperti sutradara lain yang suka pamer canggih, sehingga tak mengganggu nuansa riil.

Tom Cruise juga dipilih bukan sekedar demi nama besar. Tom telah membuktikan mampu menghidupkan jagoan laga dan menggetarkan dalam ruang dramatik. Selebihnya, sebagai karya, Minority bisa dibilang masterpiece baru Spielberg setelah Close Encounters of the Third Kind atau Raiders of the Lost Ark.

HERO BARU SANG ROCKER

Judul                      :    Turbulence 3 (Heavy Metal)

Sutradara                :    Jorge Montesi

Skenario                 :    Wade Ferley

Pemain                   :    Craig Sheffer, Gabriel Anwar, Joe Montega, Sharon     Alexander, Rutger Hauer.

P

ERNAHKAH anda menonton film Air Force One? Di   situ   diceritakan   tentang  kepahlawanan presiden Amerika Serikat yang diperankan Harrison Ford, mega bintang Hollywood yang secara fantastic  seorang diri menumpas kawanan teroris yang membajak pesawat yang ditumpanginya.

Film-film yang berlatarbelakang kisah heroik warga Amerika dalam menghadapi teroris dan kawanan pembajak sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Sebut saja Air Port 1970 disusul Air Port 1975, Air Port 1977, Air Port 1979, Concorde, Turbulence 1 yang diproduksi tahun 1997, Turbulence 2 yang diproduksi tahun 2000 dan terakhir Turbulence 3.

Kesemuanya adalah kisah-kisah fiktif yang direkayasa dalam upaya aktualisasi ego dan keangkuhan mereka. Sampai pada bulan September .’.001, dunia terhenyak dan membelalakkan mata seolah tidak percaya menerima kenyataan ketika terjadi pembajakan pesawat komersial dan kemudian ditabrakkan ke menara kembar WTC di New York.

Kejadian ini meruntuhkan pamor dan keangkuhan Amerika dan dunia barat. Tentu saja Amerika berang dan menyatakan perang terhadap terorisme. Film Turbulence 3 dengan sub judul Heavy Metal diproduksi oleh perusahaan film Kanada Trimark Pictures, yang disutradarai oleh Jorge Montesi menceritakan tentang sebuah kelompok Band Death Metal yang dipimpin oleh Rocker “Pangeran Kegelapan” Slade Craven (Rutger Hauer) yang di puncak ketenaran kelompok ini mengundang reaksi yang kontroversial di tengah masyarakat dunia, karena di setiap penampilan kelompok ini selalu disertai dengan adegan kekerasan dan berbau sadisme serta setting-setting yang diwarnai teror-teror yang mencekam. Kelompok ini banyak dicekam dan dituding sebagai pengikut sekte pemuja setan.

Kenyataan ini membuat Slade Craven sang Rocker bersepakat dengan kelompoknya untuk membubarkan band Death Metal dengan menggelar konser terakhir di atas pesawat Jumbo Jet ICA 747 dengan melibatkan 40 fans fanatiknya yang bersedia membeli tiket penerbangan Los Angeles – Toronto untuk mendukung pagelaran terakhir kelompok Rocker pujaan mereka.

Digambarkan di awal film ketika pesawat baru saja tinggal landas dan tanda kenakan sabuk pengaman belum lagi dipadamkan, konser yang hingar bingar itupun dimulai dengan setting adegan yang mencekam, di tengah ancaman cuaca buruk dan pusaran badai Turbulence yang mengancam di depan pesawat.

Suasana mulai membosankan ketika pada pemunculan keduanya Slade Craven terlambat sekitar 10 menit, sehingga suasana di dalam pesawat mulai tidak terkendali. Setting teror mulai menukik ketika dalam pemunculannya yang kedua Craven mengacungkan pistol ke arah penggemarnya. Suasana semakin shock dan mencekam dan tidak terkendali lagi, ketika serta merta Craven (duplikat) menembak kapten pramugara. Ketegangan pun terjadi di tengah penerbangan dan cuaca di luar pun semakin memburuk.

Pesawat ternyata disabot dan dikuasai oleh kelompok pembajak dari sekte anti Kristus yang dipimpin oleh Erica (Sharon Alexander) si “Perempuan Penjaga Pintu Gerbang” yang bermaksud membajak pesawat kemudian menabrakkannya ke sebuah gereja tua di sebuah kota kecil “Stull” di kawasan Timur Alaska.

Untunglah di tengah kemelut yang mencekam, Craven (ash) dapat membebaskan diri dari sekapan dan melumpahkan Craven duplikat, dan juga membunuh Erica.

Suasana sedikit terkendali. Agen-agen FBI yang dikomandani oleh Frank Garner (Joe Montega) menyebar untuk melacak siapa yang berada di belakang skenario pembajakan ini. Kate Hayden (Gabrielle Anwar) agen wanita FBI yang sejak semula mencurigai kemungkinan adanya sabotase, ketika memperoleh informasi adanya penyusupan yang ikut menayangkan konser akbar itu kepada fans Death Metal yang berjumlah lebih dari sepuluh juta netter secara illegal dengan bayaran 10 dollar per netter.

Craven akhirnya dapat membuktikan bahwa dirinya bukan sekedar rocker handal tapi juga sebagai “hero baru” yang bisa menyelamatkan dan menghadapi kawanan teroris, bahwa ia juga mampu mendaratkan pesawat dengan selamat atas panduan Nick yang ternyata juga fans beratnya.

KEJAHATAN VERSUS KEBAJIKAN

Judul                    :    The Lord of The Rings

(The Felloeship of the Ring

Pemain                 :    Elijah Wood, Billy Boyd, Dominic Monaghan, Ian McKellen

naskah                 :    G.R.R. Tolkien

Skenario               :    Peter Jackson Cs

Sutradara             :    Peter Jackson

S

EJAK bumi  diciptakan, dan manusia melakoni “kodratnya” sebagai Khalifah, sejak itu     pula     pertentangan     kebajikan     dan kejahatan     berlangsung     secara     abadi     Bergulir sepanjang rotasi zaman. Konon karena kodrat inilah, sang iblis  penguasa kegelapan jadi  cemburu dan tidak mau      mengakui “rekomendasi” untuk menggoda. merayu dan menaklukkan manusia, agar manusia menjadi pendosa.

Kejahatan dan kebajikan biasanya disimbolkan hitam dan putih, gelap dan terang. Dua nuansa yang selalu bertentangan, berseteru, dan tidak bisa disekutukan. Dua unsur yang mengandung karakter yang berbeda. Berseberangan dengan dua kutub yang tidak bisa ditarik titik pemisahnya.

Tematik konflik hitam putih, perseteruan kejahatan dan kebajikan inilah yang diangkat dalam film “the Lord of the Rings” berdasarkan buku trilogy dongengnya G.R.R. Tolkien. Film ini digarap secara kolosal dengan setting zaman purba dan didukung spesial efek yang canggih. Dibintangi oleh sejumlah aktor dan artis sekaliber Christopher Lee dan Cate Blanchett. Dalam peredarannya, film ini meledak dan mencatat prestasi box office, sama larisnya “Harry Potter”. Di awal film, berkisah “Dark Lord Sauron”, raja iblis penguasa kegelapan. Sauron yang berambisi menguasai bumi. Untuk itu, Sauron menciptakan sebentuk “cincin induk” yang di dalamnya bercokol roh jahat. Cincin ini semacam wasiat untuk memenangkan pertempuran melawan penghuni jagad raya. Satu persatu komunitas makhluk hidup di jagad raya ini ditundukkan, kemudian roh rajanya dimasukkan ke sembilan “cincin pengawal”.

Suatu ketika Sauron dapat dikalahkan dan terbunuh dalam pertempuran melawan persekutuan komunitas manusia dan komunitas penyihir Elf. Cincin induk itupun terpental dan menghilang tak tentu rimbanya selama lima ratus tahun. Ternyata cincin  setan  itu  disembunyikan oleh Gollum, semacam makhluk misterius dari bagian bumi yang gelap dan terasing.

Ketika Gollum lengah, cincin setan itu menggelinding jatuh ke pinggiran hutan desa Shire, dan ditemukan oleh Bilbo Beggins (Ian Holm), seorang petualang dari komunitas Hobbit, manusia kate yang dalam film ini digambarkan sangat lugu, bersahaja dan kelihatan bodoh. Tapi usia mereka mencapai ratusan tahun.

Seorang kakek penyihir, Gandalf (Ian MacKellen) sadar betapa bahayanya jika cincin setan itu jatuh ke tangan makhluk yang tidak bertanggungjawab. Karena siapapun yang memakainya akan dirasuki oleh roh jahat yang bercokol di dalamnya. Gandalf beri saran agar Bolbo menyerahkan cincin itu pada ponakannya Frodo Beggins (Elijah Wood) dan membawanya ke gunung Doom, tempat cincin itu dibuat, dan dimusnahkannya di sana. Hal itu dilakukan untuk mencegah kekuatan jahat merajalela di jagad raya.

Setting adegan tegangpun dimulai dengan tempo permainan berdaya kejut tinggi mengikuti perjalanan petualangan Frodo yang meninggalkan Desa Shire bersama sahabatnya, Pippin, Merry, dan Samwise (Sean Astin, Dominic Monaghan, Billy Boyd). Mereka dikawal Elrond (John Rhys), Pangeran Elf Legolas (Orlando Bloom), Baromir (Sean Bean) dan Aragon (Viggo Montersen), serta dilindungi kekuatan supranatural Ratu Galadrill (Cate Blanchett) dan Peri Arwen (Liv Tyler).

Dalam perjalanan mereka menghadapi pengajaran pasukan iblis Ringwrath, utusan Dark Lord Sauron untuk merebut kembali cincin tersebut. Belum lagi menghadapi kakek penyihir Saruman (Christopher Lee), juga harus menghadapi sesepuh Elf yang mengangkat dirinya menjadi Lord of Mordor yang ternyata juga berambisi merebut cincin itu untuk menghidupi kembali kekuatan Suaron dan pasukan iblisnya. Pasukan berkuda berkerudung hitam penjelmaan roh sembilan raja taklukan Sauron yang mengisi “cincin pengawal” nyaris. merebut kembali cincin induk, namun luput karena Frodo Beggins Cs bisa melewati dinding Moria dan berhasil masuk ke goa yang ternyata dihuni oleh Monster, Troll bermata satu, Isildur dan Balrog si iblis purba. Bagaimana akhir pengajaran para iblis itu? Yang jelas, sebagai kelanjutan kisah trilogy “Lord of the Rings” maka penonton dibuat penasaran untuk mengikuti penayangan dua film berikutnya, dalam sub judul “the Two Tower” dan “the Return of the King”. Dan tentulah tetap berfokus pada kejahatan versus kebajikan.

 

 

 

 

PENTINGNYA KEUTUHAN KELUARGA

Judul                        :    Spy Kids

Pemain                     :    Antonio Banderas, Carla Gugino, Alexa Vega, Daryl Sabara

Naskah/Skenario      :    Robert Rodriquez

Sutradara                  :    Robert Rodriquez

Produser                   :    Elizabeth Aueliam & Robert Rodriquez

Produksi                   :    Miramax International

E

GO, ambisi dan ketamakan manusia untuk menguasai dunia dan sesamanya terkadang tidak terkendali. Merupakan “noktah hitam” bagi sejarah panjang manusia dalam peradabannya, sejak jaman purba sampai kini, jaman super modern. Apresiasi teknologi canggih, perlombaan senjata super mutakhir, gelar perang dengan dalih menumpas terorisme, untuk kekuatan dan pengaruh, merupakan upaya manusia untuk mengaktualisasikan ego, ambisi dan keserakahannya.

Salah satu film dari sekian banyak film yang bercerita tentang “noktah hitam” itu adalah film Spy Kids, yang diproduksi Miramax International atas prakarsa Robert Rodriquez, seorang sineas muda Mexico yang berbakat luar biasa. Bayangkan dalam film ini, ia bertindak selaku penulis naskah skenario, sutradara sekaligus produser.

Spy Kids bercerita tentang bencana yang mengancam dunia karena ambisi dan ketamakan Fegan Floop (Allan Cuming) yang ingin menguasai dunia dengan menciptakan “tentara baru” pasukan monster, thumb-thumb dan robot cloning menirukan anak-anak tokoh-tokoh dunia yang terkenal dengan maksud menghancurkan keluarga mereka.

Proyek Floop ini ini didukung oleh para ilmuwan berintelegensia tinggi dalam sebuah laboratorium rahasia di dasar laut. Floop sendiri kesehariannya adalah seorang entertainer dan presenter TV. Floop yang sering muncul membawakan acara untuk anak-anak. Dalam pemunculannya dibantu oleh monster, thumb-thumb dan robot ciptaannya. Tentu saja Floop dan ciptaannya menjadi idola dan gandrungan anak-anak sedunia.

Dua agen rahasia andalan OSS. Gregorio Cortez (Antonio Banderas) dan Ingrid Cortez (Carla Gugino) yang telah menikah dan memulai hidup baru dan telah dikarunia dua orang anak, Carmen (Alexa Vega) dan Juni (Daryl Sabara), terpaksa direkrut kembali meskipun mereka telah lama mengundurkan diri dari dinas OSS.

Kisah sebenarnya berfokus pada Gregorio dan Ingrid yang tenang dan cenderung membosankan di mat a kedua anaknya, Carmen dan Juni. Dari sisi kedua anak ini, kehidupannya terasa biasa saja. Dongeng yang diceritakan menjelang tidur oleh sang ibu pun terasa berulang-ulang, tentang sepasang mata-mata dari dua negara yang jatuh cinta dan akhirnya menikah.

Tetapi kehidupan mereka berubah ketika mengetahui bahwa orang tua mereka adalah mantan agen rahasia paling hebat. Masalahnya, Gregorio dan Ingrid, setelah balasan tahun absen dari berbagai petualangan, ternyata gagal menjalankan misi rahasia dan ditahan oleh Fegan Floop.

Kini, mereka berdua sendirian dan terpanggil untuk menyelamatkan kedua orang tua. mereka. Pengalaman pertama mereka beraksi sebagai agen rahasia terasa kocak dan menghibur. Mulai dari berhadapan dengan berbagai alat-alat canggih hingga berduel dengan karakter-karakter lucu yang ganas dalam program Floop.

Penampilan Banderas dan keluarganya boleh dibilang sukses dalam menyampaikan pesan-pesan tentang kebutuhan dan keharmonisan keluarga. Karena, terbukti, menjadi agen rahasia cilik jauh lebih “mudah” ketimbang menjaga kebutuhan dan kehangatan keluarga.

Film semakin seru ketika setting adegan menukik menggambarkan petualangan fantastis dari agen cilik “ganda campuran” yang dengan keberanian “super hero” menerbangkan jet tempur dan menerobos ke markas besar Floop di dasar lautan dan memporak-porandakan “tentara baru” ciptaannya. Yang dapat dipetik dari film ini adalah pesan moral yang terungkap dalam dialog kedua agen cilik ini. Bagaimanapun sulitnya tugas yang diemban, jangan sampai menyampingkan kebutuhan keluarga.

MENJUAL MIMPI-MIMPI CINTA

Judul                    :    America’s Sweethearts

Pemain                 :    Julia Roberts, Billy Crystal, Ctherine Zeta-Jones, John Cursack

Naskah                :    Billy Crystal dan Peter Tolan

Sutradara             :    Joe Roth

B

ILA Billy Crystal yang artis komedi Hollywood ingin bermain-main     ibaratnya saat ia memandu acara penganugerahan Oscar yang menjadi    langganan acaranya, tetaplah    menjadi menarik. Kelihatan santai dan dibuat-buat, tapi tetap mendahulukan kreativitas yang cerdas. Menjadikan setting cerita tidak lagi menjadi inti, tapi berfokus pada satu tujuan yang disenangi  manusia yakni ketulusan cinta.

Menggarap komedi bagi Billy bukan hal sulit, apalagi ia tetap menjadi bagian dari film itu sebagai pemain. Walau harus memerankan tokoh yang ada di sekitar tempat bekerja. Maka aktor inipun membuat cerita tentang keberadaan artis dan kru film Hollywood, dan memberi kepercayaan pada rekannya, Joe Ruth untuk menyutradarainya Dan untuk lebih menghidupkan cerita, tokoh-tokohnya bukan sekedar ciptaan dan imaji, tapi sungguhan, sesuai film yang pernah ada. Artisnya pun keren. Nama-nama yang popular.

Apa yang ingin digarap Billy yang dalam “America’s Sweethearts” ini tampil sebagai peran Lee (kru studio yang ditugaskan melakukan Junket, perjalanan kerja yang sifatnya berlibur)? Seperti film Hollywood lainnya, jualan cinta tetap didominasikan. Kalaupun ceritanya agak unik dan lain karena mengambil setting lingkungan sendiri. Toh, cinta kan bisa bersemi di mana saja.

Film yang dibintangi Julia “Pretti Woman” Roberts kali ini tidak menjadikannya tampak sebagai tokoh utama. Walau pada inti cerita, ia tampil sebagai pemeran utama. la berperan sebagai Kiki, adik bintang terkenal, Gwen Harrison (Catherine Zeta Jones). Kakaknya ini berselingkuh dengan Hector (Hank Alzaria), sementara suaminya yang aktor dan teman bermainnya dalam film “America’s Sweetheats”, Eddie Thomas (John Cur sack) ia campakkan.

Billy yang berperan Lee kemudian tampil sebagai mediator dan pengendali cerita. Ia berada di tengah lingkup para pemeran. Pun demi pekerjaan, ia harus melakukan “junket” ke tempat terpencil yang jauh di Nevada untuk membangun kembali imej terhadap Eddie dan Gwen demi mempromosikan film terbaru mereka, “Time Over Time” yang dibuat oleh Hal Heidman, sutradara eksentrik yang sangat aneh. Dan film tersebut belum jelas bentuknya. Makanya, Lee harus memfokuskan perhatian pers pada hubungan intim Eddie Gwen yang retak satu tahun enam bulan sebelumnya.

Pun peran Kiki melebihi perekat. la menjadi asisten Gwen. Malah lebih tepat disebut budak. Segala kebutuhan Gwen menjadi tugasnya, termasuk memandikannya. Sementara Eddie yang pernah secara tidak sadar, saat mabuk alkohol, mencium Kiki yang saat itu masih gembrot. Toh, cinta mereka tak bisa disembunyikan. Keduanya saling mencintai.

Ada kalimat Kiki yang bercerita soal “barang bekas yang selalu dibuang kakaknya untuk dirinya”. la diberi pakaian yang tak lagi disukai oleh Gwen. Namun, Gwen sempat syok ketika tahu Kiki berhubungan intim dengan suaminya yang ia rencanakan memberinya surat cerai. Adegan di seputar inilah, kita seperti diingatkan pada cerita film “Kama Sutra” produksi 1997 yang disutradarai Lidia Dean Richer. Di mana, Maya (Naveen Andrewa) yang selalu mendapat barang bekas dari “majikannya”, Tara, ia malah mendahuluinya “berhubungan intim” dengan Raja suami Tara.

Lewat gaya humor, alur cerita dirangkai secara ringan dan tanpa beban psikologis. Sifatnya menghibur. Cinta ditabur dalam kebencian dan kerinduan. Dikemas tanpa ditutup-tutupi, namun tetap ada ending yang terjaga. Ritme klimaks sangat apik untuk menemukan happy ending. Sehingga “barang bekas* itu tidak selalu menjadi bentuk kekalahan tapi malah bisa menjadi kemenangan. Toh, jualan cinta takkan pupus dimakan waktu. Pun jika dibarengi mimpi sekaligus, cinta itu tetap indah, terlebih bagi mereka yang sedang jatuh cinta.

KUNGFU TEMBUS “TIME TUNNEL”

Judul                      :    The One

Remain                   :    Jet Li, Delroy Lindo, Carla Gugino

Sutradara                :    James Wong

Naskah                   :    Glen Morgan dan James Wong

F

ILM   produksi   Hongkong  tidak  lagi  hanya berkutat   di   Asia.   Malah,   bintang   sekelas Jacky Chang lewat  Shanghai  Noon,  sudah menembus    dua    tahun    silam.    Dan    Hollywood melihatnya sebagai pangsa pasar yang tidak boleh disepelekan.   Apalagi,   legenda   Bruce   Lee   pernah merobek-robek kepiawaian akting bintang laga di era 70-an.

Masihkah film garapan yang menokohkan per an orang  Cina  berkutat di    dunia silat ataupun pengagungan falsafah kunonya? Tampaknya tidak. Sebagai barometer perfilman Asia yang diakui masyarakat sinema Paman Sam, kehebatan kungfu yang tetap ditonjolkan. Keindahan memainkan gerak tubuh dalam ilmu beladiri tetap menjadi jualan utama setiap film yang dibuat. Makanya film “the One” garapan James Wong yang menggandeng Glen Morgan dan Steve Chasman sebagai produser, hanya menyandarkan falsafah Cina ala kadarnya karena unsur laga yang lebih diutamakan.

Itu sebabnya, “the One” tidak memberikan pelajaran falsafah kuno Cina yang sarat pesan dan ajaran kemanusiaan. Karena, alur film yang dipenuhi trik montase dan trik kamera, lebih mengutamakan fiksi ilmiah yang digandrungi masyarakat modern. Akibatnya, ajaran Cina yang terkenal hebat itu, ditempelkan begitu saja pada film yang menjadikan Jet Li memerankan tiga tokoh yang kepribadiannya sama.

Memang, tidak bisa menemukan akting kuat Jet Li sekelas Eddie Murphy yang memerankan tujuh tokoh sekaligus yang sangat berbeda dalam “Nutty Professor” (The Klumps). Jet Li tetap konsisten pada perannya sebagai jago berkelahi. Kepribadian ganda yang dimainkan pun tidak membingungkan.

Sebab tokoh pertama adalah dirinya sendiri sebagai penjahat dari sebuah planet antah berantah yang kemudian dipertemukan dengan “dirinya” yang juga penjahat untuk dibunuh. Adapun peran ketiganya yang menjadi inti cerita, adalah “dirinya” sebagai polisi yang tetap tampil “jahat” dalam nilai kebenaran yang ada pada dirinya sebagai jago kungfu.

Mengenai alur film yang bertemakan kisah semacam “time tunnel” ini dimulai dari penegasan fiksi ilmiah yang telah lama didengung-dengungkan penggemar “UFO* di Amerika Serikat yakni bahwa di kehidupan ini merupakan parallel. Maksudnya ada kehidupan yang sama di tempat berbeda-beda. Jadilah Gabriel Yunlaw (Jet Li) mencari orang yang wajah dan kepribadiannya sama di planet lain, khususnya Bumi.

Didukung unsur sound effect dan musik yang digarap Trevor Rabin, cerita digiring ke dunia nyata masyarakat bumi. Yunlaw kemudian membunuh “kembarannya” yang merupakan penjahat dan sedang menjalani hukuman di sebuah penjara. Dan setting cerita dijelaskan bahwa keadaannya di bumi, malah Amerika Serikat, karena ada label “police” di baju petugas.

Korban itu merupakan orang yang ke 123 dibunuh oleh Yunlaw. Pasalnya ia harus membunuh semua orang yang mirip dengan dirinya di seluruh planet agar kekuatannya bisa paripurna. Karena setiap usai membunuh, maka kekuatan orang yang dibunuh menjadi miliknya seperti film Highlander yang mempertahankan nilai-nilai konvensional.

Namun, kegilaan Yunlaw harus dihentikan. Ia terus dicari oleh dua petugas yang dikirim planet asalnya. Tapi, ketika berhasil ditangkap lalu dikembalikan lewat lorong waktu (time tunnel) “FTA”, masih bisa lolos saat menjelang eksekusi. Seorang perempuan menyelamatkannya sehingga bisa leluasa mencari orang ke-124 (orang terakhir yang mirip dirinya untuk dibunuh. Dan ia berharap, setelah dua tahun membunuh, ilmunya segera sampai pada tahapan tertinggi.

Yunlaw akhirnya harus berhadapan Gabe (Jet Li) yang memiliki kepandaian hampir setara dengan dirinya. Walau awalnya Gabe mengira Yunlaw datang untuk membebaskan penjahat kelas kakap Ronnie, tapi akhirnya tersadar bahwa ia diburu “dirinya”.

Tapi, akhirnya Gabe dituntun petugas planet yang selalu jengkel tertangkap pada sistem prosedur yang harus ia terapkan untuk menangkap Yunlaw.

Bagaimana akhir cerita Fiksi Ilmiah yang menjadikan Kungfu terjebak ke dalam “time tunnel” ini? yang pasti harus ada “the One” untuk menyelesaikan masalah, sementara tak boleh Gabe membunuh Yunlaw, sebab, menurut cerita, alam semesta akan kacau. Toh, Jet Li dalam kondisi dan bentuk peran apapun harus tetap hero dan nomor satu. Ia adalah “the One”!

 

 

 

SUPRANATURAL DI TENGAH MEGAPOLIT

Judul                    :    The Gift

Pemain                 :    Cate Blanchett, Giovanni Ribisi, Keanu Reeves

Naskah                :    Billy Bob Thompson & Tom Epperson

Sutradara             :    Sam Raimi

B

ICARA   hal   gaib   bagi   orang   super  maju, seperti      masyarakat      Amerika      Serikat, hanyalah  imajinasi yang menjadi hiburan. Segala bentuk kehidupan, selalu ditarik ke pemikiran rasional.

Sehingga, yang sifatnya irrasional, selalu saja ditolak. Sebab, teori ada musababnya, adalah lebih dominan. Dan selalu saja dibuktikan secara ilmiah.

Adakah semua orang maju, khususnya yang ada di level super megapolitan hanya berfokus pada pemikiran rasional belaka? Tidakkah hal gaib berupa supranatural, masih hidup di kekinian? Tanpa menampik kehadiran film produksi Hollywood yang tidak sedikit menyajikan sinema misteri yang intinya gaib, banyak bacaan yang mengungkap masyarakat AS yang super maju itu masih banyak yang percaya akan hal-hal yang sulit diterima akal.

Percaya pada supranatural itu, telah dilakukan oleh ibu negara Nancy Reagan (Isteri Ronald Reagan, Presiden AS selama dua periode, 1981-1989). Nancy sangat percaya pada hasil ramalan astrolog Joan Quigley. Malah, semua tindakan penting presiden, termasuk waktu operasi bedah setelah tertembak, hingga pertemuannya dengan presiden Uni Sovyet Mikhail Gorbachev, diatur astrolog. Dan apa yang dilakukan Nancy dan dipatuhi Reagan tersebut, sempat membuat geger masyarakatnya.

Hal gaib memang sangat sulit dibuktikan kecuali Henpan bakat (gift), Tapi bagaimana jika seorang peramal terjebak pada pembunuhan dan harus mengungkapkannya seorang diri? Film berjudul “the Gift” menawarkan sebuah konsep keberadaan seorang peramal di tengah kehidupan masyarakat yang berbudaya megapolit.

Film “the Gift” bercerita tentang susahnya jika punya tiga anak yang masih kecil. Apalagi, jika tanpa ayah yang tewas karena kecelakaan di pertambangan. Itu   sebabnya, Annie (Gate Blanchet) kelimpungan mengurusi anak sambil mencari nafkah. Tapi, ia beruntung diberi bakat oleh Tuhan. Seperti neneknya, ia memiliki kekuatan supranatural untuk bisa mengetahui kejadian masa silam dan yang akan terjadi. Namun, tidak bisa ‘membaca’ hal yang berkaitan dengan pribadinya. Makanya, ia tak mampu menahan suaminya barangkali kerja ketika hari kecelakaan itu walau sudah mengingatkan. Dari kemampuan meramal itulah, ia menerima klien di kota kecilnya, Brixon.

Sebagai orang tua murid, ia harus ke sekolah karena seorang puteranya selalu terlibat perkelahian. Annie pun bertemu sang guru Wayne (Greg Kinnecer) yang saat bersamaan juga mengenalkan calon isterinya, Jessica (Katie Holmes). Dan Jessica sempat minta komentar sesuai ramalan adakah keduanya akan bahagia. Tapi, Annie yang “melihat” pensil jatuh di kaki Jessica yang penuh lumpur, di samping kaki Wayne yang tetap rapi tak mau mengatakan hasil “bacaannya”.

Di antara klien Annie, ada pemuda Buddy (Giovanni Ribsi) yang punya masa silam yang hitam. Ia sering diperkosa oleh ayahnya. Dia ia selalu mengaku akan berbuat negatif jika melihat batu warna biru yang ternyata tattoo di bawah pusat ayahnya. Toh, Buddy kemudian membakar ayahnya. Juga ada Vallery (Hillary Swank) yang selalu mengeluhkan perlakuan suaminya yang ringan tangan, Donnie Barksdale (Keanu Reeves).

Donnie tak suka isterinya diramal oleh Annie. Malah mengancam akan membunuh beserta anak-anaknya jika tetap menerima Annie sebagai klien. Namun, cerita kemudian menyatu pada satu masalah. Jessica tewas sesuai “panduan” Annie lewat kartu, mimpi dan ‘melihat langsung’, mayatnya ditemukan di empang milik Donnie.

Siapa pembunuh Jessica? Adakah Donnie yang malam pembunuhan, terlihat menampar korban yang ternyata pacar gelapnya. Atau tuan Duncan, pengacara ayah korban yang juga punya hubungan gelap. Atau Vallery karena cemburu? Atau kekasihnya sendiri, si Wayne yang juga mencintai Annie? Atau Budd}’? Dan kematian anak orang kaya itulah yang mengantar Annie terjebak ke dalam inti cerita. la terjebak pembunuhan, sehingga merasa terpojok karena dianggap sebagai dalang masalah.

The Gift” ini mengantar penontonnya untuk sadar bahwa ada dunia lain yang mengitari kita selama ini. Walau tidak dalam bentuk misteri yang memeras otak, ataupun yang membuat tegang. Alur film beranjak menuju klimaks tanpa henti. S^tiap masalah Annie. Sehingga, tema misteri yang disajikan, tidak melarutkan penonton ke arah misteri yang runyam, tapi hanya bersandar pada kerja otak untuk memecahkan pembunuhan.

Memang, mengasyikkan jika penonton cerita misteri tanpa harus ketakutan di bangku penonton. Sambil menyimak kenyataan bahwa percaya atau tidak, hal gaib selalu saja ada di sekitar kita tanpa mengenal tempat.

BILA HARI KIAMAT TIBA

Judul                    :    Judgment Day

Pemain                 :    Ice T, Suzy Amis, Mario Van Peebles

Naskah                :    William Carson

Sutradara             :    John Terlesky

I

NGAT Armageddon ? Pasti ingat akting Bruce Willis yang mempesona      ketika harus mengorbankan   dirinya   demi   anak   dan   umat manusia di bumi.  la sadar bahwa calon menantunya yang ikut dalam misi menghancurkan sebuah planet yang akan membuat bumi hancur, memilih menjadi “pahlawan” untuk bunuh did di planet yang akan ia hancurkan bersama dirinya.

Tapi, Judgment Day yang diproduseri Paul Hertzberg dan Lisa Hansen, tidak berbicara pengorbanan sekelas Armageddon. Namun landasan ceritanya hampir sama. Ketika benda langit jatuh ke bumi dan membuat hari kiamat. Dan keduanya sama bahwa keperkasaan manusia yang diciptakan oleh Tuhan, mampu melanggengkan kehidupan. Di mana, kemajuan teknologi akan mampu mengatasi segala ancaman, termasuk “andai itu keinginan Tuhan”.

Dikisahkan sebuah meteor raksasa akan jatuh ke bumi. Tapi, penguasa di departemen pertahanan bagian antariksa, memilih bungkam. Takut jika rakyat di Amerika Serikat maupun masyarakat dunia, panik. Lalu seperti pasrah menunggu hari kiamat. Sementara seorang pendeta dari sebuah sekte yang tahu bahwa sudah saatnya hari kiamat, berupaya keras untuk menjaga “keinginan Tuhan” agar tidak ada intervensi kecerdasan manusia untuk menghalangi kiamat itu.

Digambarkan di awal film setelah orasi sang pendeta melawan narkoba, kota Peru yang damai suatu hari tiba-tiba hancur diterpa asteroid. Pihak keamanan Amerika mengetahui dan membuat mereka khawatir karena beberapa jam kemudian San Francisco akan diterpa benda angkasa serupa. Mereka sibuk mengatasi masalah ini. Pimpinan keamanan memutuskan akan menggunakan teknologi nuklir Torr yang telah ditolak uji cobanya oleh kongres meskipun penasehatnya telah coba mencegah.

Maka Dr. David Corbett sang peneliti yang telah dipecat dihubungi kembali. Tapi sayang pihak keamanan yang ditugaskan menjemputnya terkecoh oleh anak buah Thomas Payne (Mario van Peebles) pimpinan sekte New Tabarates. Sekte ini beranggapan bahwa benturan asteroid ke bumi tidak boleh dicegah karena itu kehendak Tuhan alam semesta. Untuk menyelamatkan Corbett agen FBI Tyrell (Suzy Amis).

Tyrel terpaksa membatalkan pertemuan dengan tunangannya di San Francisco. Tyrell minta bantuan personil atau mitra kerja dari pimpinan keamanan namun ditolak sebab dicurigai ada orang dalam yang membocorkan informasi.

Untuk keadaan yang sangat genting ini tidak ada satupun yang dapat dipercaya mendampingi Tyrell, maka Tyrell mohon izin mengeluarkan seorang tahanan yang bernama Matthew Reese (Ice T) untuk mendampinginya. Sebab, Tyrell punya dendam pribadi dengan Payne yang membuat keluarganya tewas.

Matthew akhirnya membuktikan bahwa dirinya bukan penjahat yang harus menjalani hukuman selama 12 tahun, dari dua tahun penjara yang sudah ia jalani. la terpaksa membunuh karena melawan Payne yang ia tuding membuat anak isterinya ikut sekte yang salah. Ia yang menemani Tyreil yang pacarnya Corbett. Hingga kemudian meteor yang akan menghancurkan bumi, mampu digagalkan.

Memang film ini tidak terlalu menawarkan keheroan yang berlebihan. Juga tidak menampilkan kritik pedas, kecuali hanya sekilas menegaskan bahwa proyek dari hasil penelitian Corbett yang harus dijalankan, tapi karena ada kedekatan pihak kongres dan presiden dengan peneliti lain, akhirnya Corbett tersingkir. Begitu juga penopang cerita tentang ancaman narkoba, hanya sebagai pelengkap bumbu cerita.

Setting lebih menekankan pertentangan pemikiran agama pada salah satu ayat dalam kitab suci bahwa saat hari kiamat tiba. Dan paham inilah yang ditonjolkan Thomas Payne. Kemudian dipertentangkan dengan kemajuan teknologi. Apalagi masih dalam kitab suci itu, ada penegasan bahwa manusia yang menentukan dirinya sendiri. Sehingga, pro-kontra itulah yang tersaji.

Seperti pada Armageddon, Judgment Day ini pun memenangkan teknologi. Tapi pembeda pokoknya, tokoh utama bukan sebagai hero yang berhubungan langsung dengan asteroid yang bakal jatuh ke bumi. Tapi, menyelamatkan pakar yang tahu teknologi.

Kalaupun mencari kebenaran dari inti cerita kita harus memilih apakah harus berlandaskan ke kitab suci secara kaku atau lugas dengan mengait pada ayat lainnya, tidaklah menjadi utama. Sebab, cerita digiring pada action dan ilmiah yang diramu dalam kaitan perayaan hari raya, seperti Natal dan Tahun Baru.

Yang jelas, bila hari kiamat tiba manusia takkan mengetahuinya secara pasti. Kalaupun masih bisa terdeteksi, maka bisa diraba bahwa manusia punya waktu untuk berusaha maksimal.

HANTU PHOBIA VIETNAM

 

Judul                        :    We Were Soldiers

Pemain                     :    Mel Gibson, Madeleine Stowe, Greg Kenner, Sam Elliot

Musik                      :    Nick Glennie Smith

Naskah/Sutradara     :    Randal Wallace

 

T

ERNYATA, takut warna bisa membuat orang menjadi kejam, sadis dan bertindak di luar batas   kemanusiaan.   Takut   “warna  merah’ misalnya, yang salah satu wujudnya adalah Perang Vietnam. Di sana, beribu-ribu orang mati, disiksa, hilang, cacat, sakit jiwa, karena sesuatu yang oleh Noam Chomsky disebut “a hysterical Red Scare”.

We Were Soldiers garapan Randall Wallace yang kini sedang diputar di bioskop-bioskop merupakan tontonan yang juga mengangkat tema tersebut. Hanya saja, film yang diangkat dari buku “We Were Soldiers Once and Young” karya bersama pensiunan Letnan Jenderal Harold G. Moore dan jurnalis Joseph L. Gallowt, itu lebih banyak mengeksplorasi sisi-sisi manusiawi seorang komandan dalam memimpin anak-anak buahnya ke “medan pembantaian”.

Bermula dari dibantai habisnya satu kesatuan kavaleri Perancis oleh gerilyawan Viet Kong di bawah komando Letnan Nguyen An pada 1954- Amerika Serikat, yang kemudian melibatkan diri dalam perang tersebut, membentuk sebuah resimen kavaleri udara yang mengganti kuda dengan helikopter sebagai eksperimen untuk menghadapi gerilyawan Viet Kong. Letnan Kolonel Hal Moore jebolan Harvard dengan segudang pengalaman tempur ditunjuk untuk memimpin resimen tersebut.

Dengan dibayang-bayangi kekhawatiran mengalami pembantaian seperti yang pernah dialami pasukan Perancis, Hal Moore kemudian memimpin dan kemudian diterjunkan bersama anak buahnya ke medan tempur yang dikenal dengan nama “Lembah Bayang Kematian” tanpa tahu berapa jumlah musuh yang harus dihadapi.

Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Hal Moore hanya punya 395 pasukan itupun akan diterjunkan ke medan perang dalam beberapa gelombang. Sementara musuh yang harus dihadapi belakangan diketahui berjumlah 4000 orang. Padahal dia telah bersumpah untuk membawa sebanyak mungkin pasukannya pulang dari medan pertempuran.

Film ini tidak cuma bercerita kejadian di medan perang. Digambarkan pula bagaimana perasaan cemas isteri yang setiap kali dicekam rasa takut melihat kedatangan taksi yang membawa telegram kematian orang yang mereka cintai, Bagaimana Julie, isteri Hal Moore, terpaksa mengambil alih tugas tukang taksi untuk mengantarkan telegram ke rumah orang yang tewas di bawah pimpinan suaminya. Bagaimana dia sendiri terus menerus mengatasi ketakutan-ketakutannya.

Secara umum, film ini penuh dengan dialog yang sangat menyentuh rasa kemanusiaan. Baik yang dilakukan di medan perang, maupun yang terjadi jauh di garis belakang pertempuran di rumah-rumah mereka yang sedang bertempur.

Selain kuat dari segi dialog, We Were Soldiers juga didukung dengan permainan yang sangat menawan Mel Gibson (Hal Moore), Madeleine Stowe (Julie Moore), serta Sam Elliot yang memerankan Joe Galloway (wartawan perang yang mencoba memahami arti sebuah perang).

Ditambah lagi dengan dukungan musik yang digarap dengan begitu manis oleh Nick Smith. Iringan musik bertempo lambat dengan lirik lagu yang sangat menggugah mampu mengurangi kesan kekerasan yang timbul dari film ini. Dapat dikatakan Nick Smith telah membuat sebuah komposisi musik perang dengan wanna berbeda. Bukan musik yang penuh “semangat” (membunuh) akan tetapi justru membuat orang untuk terhenyak diam (merenung).

Apalagi Randall Wallace yang menggunakan teknik gambar slow motion pada adegan-adegan mengerikan, memaksa orang untuk menahan nafas. Berhenti sejenak. Berpikir. Demikian pula dengan gambar-gambar fotografis yang ditampilkan sebagai background yang terpadu bagaikan dialog tersendiri yang sulit diwakili dengan kata-kata. Sementara narasi yang disisipkan semakin menguatkan kesan film ini sebagai kisah nyata. Bukan hasil isapan jempol.

Namun, setelah sekian banyak film ber-setting Vietnam dibuat, Hollywood ternyata masih terus memproduksi film-film seperti itu. Apakah itu pertanda Amerika yang selama ini sangat membanggakan diri sebagai super hero terus dikejar rasa penasaran karena telah begitu dipermalukan di Vietnam? Ataukah sekedar sebagai semacam refleksi, kritik diri betapa sia-sianya membangun kekuatan berdasarkan ketakutan-ketakutan?

Kini, setelah kebanggaan Amerika kembali dipermalukan di kandang sendiri dengan runtuhnya gedung World Trade Center yang menjadi simbol dominasi kemakmuran mereka akankah muncul phobia baru? Yang pasti, setelah peristiwa      11 September 2001 itu, tampaknya tanda-tanda ke arah itu mulai terasa. Afghanistan bisa jadi baru permulaan. Seterusnya ? Awas terorisme!

Bagaimanapun juga, terlepas dari ada tidaknya propaganda Amerikanisme, We Were Soldiers layak jadi tontonan. Siapa tahu Aceh dan Papua adalah Vietnam. Hanya ketakutan. Cuma phobia. Siapa tahu?

 

MEMATIKAN RASA TAKUT DAN HARAPAN

Judul                    :    Ticker

Pemain                 :    Steven Seagal, Tom Sizemore, Dennis Hopper, Jaime Presley

Skenario               :    Paul B. Marcolis & Albert Pyun

Sutradara             :    Albert Pyun

B

ERANI hidup, tentu harus pula berani mati. Namun, kenyataannya:      lebih banyak manusia yang takut mati.  Malah, tak siap mati. Dan selalu berpikir akan adanya hari esok yang lebih cemerlang tanpa perdulikan  kodrat  lahiriah bahwa seseorang akan termakan usia. Lalu hidup kelewat optimis dengan beragam obsesi.

Namun, bagaimana jika rasa takut mati itu serta harapan hidup, dimatikan dengan segala kesadaran? Sementara, harus berhitung detik untuk mampu menyelamatkan orang lain, termasuk dirinya sendiri. Pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh para penjinak bom. Sebab, sambil melawan melajunya waktu dengan hitungan detik, seorang penjinak bom harus mematikan rasa takut dan segala harapan hidupnya. la tak bisa lagi berpikir tentang hari esok.

Mengawinkan pematian rasa takut dan harapan itu dengan “sekali berarti sesudah itu mati” (meminjam istilah Chairil Anwar), pun sepertinya sangat pas. Akan tetapi, jika penjinak bom harus berhadapan teroris yang memiliki falsafah seni bahwa karya seni itu jauh lebih berharga ketimbang penciptanya, maka bisa jadi sebuah perbenturan atas dua kepentingan yang menarik untuk disikapi. Apalagi, bila si teroris menganggap dirinya sebagai Michelangelo yang karyanya tetap hidup sepanjang masa dan selalu dikenang.

Pembenturan semacam itulah yang disajikan Albert Pyun yang menyutradarai “Ticker” produksi NU Image and Artisan Entertainment. Mengandalkan bintang laga terkenal sekelas Steven Seagall, film yang musiknya diarsiteki Tony Riparetty ini, mengajak masyarakat dunia untuk tidak takut menghadapi kematian. Juga sekaligus mengajak untuk tetap bersikap tenang menghadapi ancaman bom yang setiap saat berada di sekitar kita. Tapi, mampukah kita tenang ? Sementara selalu saja ada orang-orang gila yang dipenuhi dendam dan beragam permasalahan hidup yang tak jelas juntrungannya.

Dikisahkan adanya ahli bom yang mencari hidup dengan ‘bermain-main’ dengan bom. Malah, nekat (namanya juga teroris) menyandera senator Wyman yang akhirnya semua kekuatan keamanan Amerika Serikat tertuju ke sana. Padahal, itu hanyalah pengalih perhatian. Sebab, bom yang meledak justru di tempat lain.

Bahan-bahan bom yang dahsyat itu, ditengarai oleh pemimpin penjinak bom, Glass (Steven Seagall), digunakan terorisme tingkat dunia yang pernah mengacau Afrika dan Timor Timur. Tak jelas mengapa Timor Timur disebut-sebut, adakah hanya sekedar sample atau memang ada konspirasi kekuatan dunia asing yang melibatkan diri pada urusan Indonesia saat negeri ini masih berada dalam naungan negeri kita?

Peristiwa satu tahun itu takkan pernah dilupakan Glass, apalagi ketika polisi di bidang narkotika, Nettless (Tom Sizemore) yang juga anak isterinya tewas terkena bom, membawakannya temuan yang materialnya ternyata mengandung zat-zat bahan peledak yang sangat berbahaya, setelah rekannya Fuzzy tewas tertembak penjahat. Dan kedua tokoh ini pun terlibat ke dalam pencarian untuk menjinakkan bom. Sementara Nettless harus pula melawan dirinya sendiri, menaklukkan rasa takut.

Berkat izin Kapten Gordon, Nettless mampu melibatkan diri pada pencarian atas kejahatan teroris bernama Alex Swan (Dennis Hopper). Apalagi, Claire (Jaime Presley) kekasih Swan yang ditangkap Nettless hanya mau bicara pada Nettless. Sementara keadaan makin runyam sebab Swan yang menganggap dirinya sebagai pelukis terkenal Michelangelo itu tak mau berhenti meledakkan San Francisco jika Claire tidak dilepas.

Pun Claire mampu meyakinkan Nettless bahwa untuk meredam peledakan bom di berbagai sudut kota, hanya satu jalan: melepaskan dirinya! Toh, harapan itu tak sulit, sebab polisi sangat yakin bahwa Claire akan membawa polisi pada Swan sebagai otak teror bom. Akan tetapi, ternyata otak dari segala otak teroris, adalah Claire sendiri. Kok bisa? Ternyata, semuanya hanya berlandas pada dendam.

Suami Claire, Brandon Manning yang merupakan seorang arsitek terkenal, dibunuh dan dinyatakan bunuh diri setelah berusaha mengungkapkan kejahatan pemerintah yang membangun gedung Balai Kota di atas bekas pembuangan limbah. Dendam itulah yang membawa Claire memperalat Swan yang ahli bom untuk meledakkan Balai Kota.

Lewat film ini, kita tak bisa temukan kepiawaian Steven Seagall lagi seperti penampilannya yang sangat hero di “the Patriot” ataupun film-film laga lainnya. Pasalnya, tubuhnya yang kini tambun dan sudah termakan tua, telah menyulitkan dirinya bergerak bebas. Sehingga perkelahian yang diperlihatkan, terkesan dipaksakan dan mengada-ada. Toh, film ini pula tak mampu menyeret kita ke dalam konflik yang menegangkan. Atau bisa jadi, itu memang disengaja untuk menghadirkan “matinya rasa takut” itu.

INTRIK KEJI BUAT PENDATANG!

Judul                    :    Brotherhood of the Wolf

Pemain                 :    Samuel le Bihan, Mark Dacascos, Monica Belucci, Emillie Dequenne, Jeremie Reiner, Vincent Cassel

Skenario               :    Stephane Cabel

Sutradara             :    Christophe Gans

H

IJRAH  adalah jalan terbaik bagi  manusia bila di suatu tempat,  merasa tak mampu berbuat apa-apa lagi. Namun, jika keberadaannya    dianggap membahayakan posisi politis bagi orang lain, tentulah tidak akan mulus di negeri  orang. Hal tersebut, tampaknya tidak jauh beda dengar keberhasilan para pendatang di Ambon, Poso,   Sambas,   Sampit,   dan  tanah  rusuh  lainnya. Sebab, awal dari pertikaian adalah kedengkian at as keberhasilan pendatang.

Pergesekan antara pendatang dengan si pemilik tanah kelahiran, nampaknya bukan cerita baru bagi setiap daerah pijak di belahan bumi ini. Bukan hanya Ambon, Poso, Sambas, apalagi jika keberhasilan si pendatang tidak lagi sekedar di bidang perekonomian saja, tapi juga kekuasaan. Maka saat-saat itulah, pertikaian tidak bisa dihindari dan cenderung menjadi penghancuran horizontal. Dia tak peduli, berapa jumlah rakyat tewas sia-sia. Sebab, yang utama adalah ambisi politik yang ujungnya kekuasaan.

Walau tak berhubungan dengan tanah-tanah konflik di negeri Indonesia, alur cerita yang ditawarkan film “Brotherhood of the Wolf” yang diproduksi Studio Coral, merupakan implikasi dari kisah nyata yang selalu terjadi di daerah konflik. Adapun soal ribuan nyawa melayang. para ambisius yang avonturir itu, tak peduli. Sebab, baginya : tujuan atas kekuasaan yang menjadi obsesinya, dapat terwujud, walau dengan beragam alasan dan latar belakang. Dan paling mudah adalah menuding kambing hitam, termasuk menuding serigala sebagai biang keladi.

Diceritakan, munculnya serigala siluman di kawasan pedalaman Gevadon Perancis di tahun 1766. Di kawasan terpencil dan terisolasi hutan belukar dan perbukitan itu, tiba-tiba terkoyak dan menjadi kawasan menakutkan dengan munculnya monster serigala yang luar biasa ganasnya. Pun korban berjatuhan dan ratusan penduduk mati terkoyak. Anehnya, korban rata-rata wanita dan anak-anak saja, dan di tubuh korban ditemukan serpihan logam yang mirip taring serigala.

Penduduk Gevadon dicekam teror dan tahyul bahwa siluman itu adalah utusan Tuhan untuk memperingati raja yang dianggap membangkang terhadap gereja Roma. Untuk itu, ilmuwan kerajaan Gregoire de Fronsac (Samuel le Bihan) ditugasi Raja Louis XV untuk mengusut teror serigala siluman yang telah membantai tidak kurang dari 123 wanita dan anak-anak. Di samping itu, raja juga menyiapkan hadiah bagi siapa saja yang dapat membunuh serigala siluman itu. Hasilnya, ratusan serigala “tak berdosa” yang bermukim di kawasan hutan Gevadon terbunuh oleh pemburu dan kesatria yang tergiur oleh tingginya hadiah yang dijanjikan oleh Raja Perancis itu.

Adapun Fronsac dalam menjalankan misinya, disertai saudara angkatnya, Mani (Mark Dacascos), pemuda Indian Amerika yang ahli kungfu Cina. Dan ketika Fronsac bertualang dan berperang melawan Inggris di daratan Amerika, ia hampir tewas kalau saja ia tidak ditolong oleh Mani. Pemuda yang tidak bicara ini adalah satu-satunya yang hidup dari komunitas suku Iroquoi yang telah ditumpas oleh pasukan Perancis.

Kedatangan Fronsac dan Mani di Gevadon disambut oleh bangsawan muda Marquis Thomas d Apcher (Jeremie Renier) di purinya. Marquislah yang membantu Fronsac untuk mengungkap kasus serigala siluman. Dari mayat-mayat korban serigala siluman itu ditemukan keganjilan dan ketidaklogisan, seperti sulitnya    memperkirakan  besarnya monster dan apakah mungkin terbuat dari logam atau sebagian zatnya terbuat dari logam karena ditemukan serpihan-serpihan logam pada setiap korbannya itu.

Ketika kasus ini belum lagi terungkap, Raja Louis menugasi Beauteme, kesatria kerajaan kepercayaannya untuk menggantikan Fronsac yang ditarik kembali karena dianggap gagal. Dan dalam waktu singkat, kesatria mengumumkan bahwa ia telah berhasil membunuh sang serigala dan “menutup” kasus serigala siluman ini. Padahal, menurut Fronsac, yang dibunuh Beauteme adalah serigala biasa.

Pada musim panas berikutnya, Fronsac dan Mani kembali ke Gevadon dengan dua alasan, yaitu mengungkap tuntas mengenai serigala siluman dan kembali menemui gadis pujaannya Marianne Monangiis (Emilie Dequenne). Ternyata di balik kasus monster serigala ini tersembunyi intrik keji yang didalangi oleh tokoh-tokoh penguasa lokal yang dimotori oleh Jean-Francois de Morangias (Vincent Cassel), Kakak Marianne yang sejak kedatangan Fronsac merasa tidak senang. Namun misi Fronsac itu berhasil mengungkap kasus ini karena dibantu oleh utusan Roma, Sylvia (Monica Bellucci) yang juga jatuh hati pada Fronsac.

Nah! Haruskah negeri ini mendatangkan “Fronsac” dan “Sylvia” untuk mengusut kerusuhan yang sepertinya tak mengenai kata henti. Toh, masyarakat di daerah rusuh, sudah lama bosan bertikai.

 

VAMPIR PUN IKUTI MODE

Judul                    :    Queen of Dammer

Pemain                 :    Stuart Townsend, Aaliyah, Marguerite Moreau, Vincent Perez

Skenario               :    Scott Abbottdan dan Michael Petroni

Sutradara             :    Michael Rymer

Produksi              :    Warner Bros

P

ENGISAP darah itu tidak kuno lagi. busananya modern, mengikuti   zaman.   Malah,   terlibat dan terkenal sebagai penyanyi rock. Kok bisa? Pasalnya,  vampir juga pernah terbuat dari tubuh manusia.   la   mestinya   punya   rasa.   Namun   bagi “pervampiran”, membuka kedok dan rahasia mereka, adalah pengkhianatan.

Cerita tentang vampir yang bagai kelelawar penghisap darah, bukan cerita baru bagi masyarakat Barat, Mereka mempercayainya’ seperti meyakini Spiderman, Batman, dan tokoh imaji lainnya. Kehadiran Vampir bak nyata di kehidupan sehari-hari, khususnya bagi masyarakat Inggris, seperti halnya kuntilanak, pocong, “poppok”, leak, ataupun “parakang” di negeri kita. Sesuatu yang tidak nyata tapi dianggap nyata.

Sebagai film, vampir telah mendapatkan tempat sebagai alur cerita yang selalu menantang untuk digali. Buktinya, cerita dan ide-ide soal vampir itu, selalu saja bermunculan. Apalagi, didukung industri perfileman sekelas Hollywood. Maka jadilah, vampir menjadi sebuah toko yang tak pernah mati. la hidup terus sepanjang masa, seperti keberadaan vampir itu sendiri.

Kenyataan itu pula yang ingin disampaikan dan diwujudkan Scott Abbottdan dan Michael Petroni dalam membuat screenplay (skenario) lalu diwujudkan Michael Rymer sebagai sutradara pada film “Queen of the Damraer”. Apalagi, para pembuat film ini, termasuk Warner Bross, melihat peluang pada hobi generasi muda dalam kekinian, dimana musik rock yang sudah dilabeli “musik setan” oleh kalangan tertentu, menjadi setting cerita.

Dan ‘dukungan’ lain yang kian membuat film ini menarik, sebab sang ratu yang di akhir cerita, tewas, ternyata benar-benar tewas di alam nyata. Aaliyah yang   memerankan tokoh Akhassa, tewas akibat kecelakaan pesawat, tahun 2001. Itu sebabnya, sebagai sub-title akhir film, dituliskan “in memoriam for Aaliyah”. Akhir hidup yang tragis, bagai berada dalam film yang ia bintangi.

Film yang bersetting lokasi London lalu ke berbagai kota di Amerika Serikat, menceritakan tentang Leastet (Stuart Townsend) yang terbangun dari tidurnya selama seratus tahun karena mendengar hingar-bingar musik rock. Pun ia mengikuti selera mode lalu tampil sebagai artis terkenal yang. dipuja karena menyebut dirinya sebagai vampir. Walau ia dianggap melucu dan mengaku-ngaku sebagai vampir, ia tak peduli. Tujuannya : memanggil vampir-vampir keluar untuk bangkit kembali.

Pada dasarnya, Leastet mencari sesosok vampir yang membuatnya penasaran di kehidupan sebelumnya. Siapa yang membuatnya penasaran? Adakah Marius (Vincent Perez), tetua vampir yang menjadikan Leastet sebagai vampir? Ataukah salah satu korban yang membuatnya patah hati? Yang pasti, cerita terus bergulir. Dan pengungkapan itu justru dilakukan Jesse (Marguerite Moreau), gadis keturunan vampir yang ‘dijaga’ untuk tetap menjadi manusia.

Jesse yang merupakan peneliti tentang vampir justru jatuh cinta pada Leastet. Ia ingin menjadi vampir agar bisa menemani lelaki pujaannya itu. menghadapi berbagai ancaman dari kalangan tokoh vampir setelah selalu membeberkan rahasia vampir. Apalagi, Leastet tak kunjung menghisap darah Jesse.

Akhirnya yang dicari Leastet muncul juga. Wanita pujaannya adalah Akhassa, ratu vampir, ibu dari segala vampir, yang selalu menghabisi manusia karena manusia dianggapnya sebagai binatang. Ibarat sikap manusia terhadap sapi, ayam, dan segala hewan yang menjadi kebutuhannya. Seperti itu pula vampir yang menjadikan manusia sebagai makanannya.

Bagaimana akhir cerita kehidupan vampir yang berada di kehidupan kekinian itu ? Leastet dan Jesse yang menentukan. Jesse tetap berkeyakinan bahwa vampir bisa dibebaskan dari kegelapan. Mungkinkah?

Film yang tidak memberi penggambaran menakutkan seperti film-film bersetting vampir sebelumnya, “Queen of the Dammer” ini malah sebaliknya. Kian memberi hiburan segar, khususnya penggemar lagu-lagu rock kegemaran kaum muda. Walau, secara tersirat, si penulis naskah seakan menegaskan kedekatan “setan” dengan musik-musik cadas yang sangat dekat pula dengan alkohol dan narkoba. Dan jawabnya yang riil ada pada interpretasi kita masing-masing, termasuk vampir ikuti mode atau pemusik ikuti jejak vampir.

TRAGEDI VAMPIR RAS BARU

Judul                    :    Blade II

Pemain                 :    Wesley Snipes, Kris Kristofferson, Leonor Varela, Ron Perimen, Luke Gross, Norman Reeds, Thomas Kretschmann, Danny John Jules.

Sutradara             :    Guillermo del Toro

Cerita                   :    David S. Goyer

Produksi              :    New Line Cinema

H

OMO homini lupus, manusia adalah serigala pemangsa bagi sesamanya.  Kondisi paling jelek ini dialami manusia telah ribuan tahun terjadi, ketika manusia telah kehilangan kodratnya sebagai   khalifah, pengatur alam semesta. Demi kekuasaan dan ego pribadi, manusia tega “memangsa” sesama manusia dan menjadikan dirinya sentra akumulasi sifat manusia, binatang dan iblis.

Ide memangsa sesama inilah yang coba diungkapkan oleh sutradara Guillermo del Toro dalam film “Blade II” ini. Dimana setting cerita berkisar kehidupan para vampir, yaitu sebagai pemangsa atau mangsa, sebab kelangkaan manusia sebagai makanan utama, dan berkembang pesatnya komunitas vampir yang memaksa mereka untuk saling memangsa.

Dikisahkan tentang Blade (Wesley Snipes), si “daywalker” pejalan siang yang merupakan sosok manusia setengah vampir, terlahir dari rahim seorang ibu korban vampir ketika hamil tua. Blasteran vampir-manusia ini tidak lagi merupakan makhluk yang haus darah karena ia beruntung disembuhkan oleh ilmuwan Whistler (Kris Kristofferson) yang punya misi menumpas kaum vampir. Sebagai balas budi, Blade mencari Whistler ke seantero pelosok bumi, ketika mendengar kalau Whistler diculik sekawanan kelompok vampire dan disekap di bahagian kota prahara.

Dengan ilmu kungfu yang tinggi dan gerakan secepat kilat, blade menjadi super hero sekaliber Superman, Batman, Spiderman, dengan misi utamanya menumpas kaum vampire yang menjadikan manusia sebagai mangsa utama. Maka jadilah Blade sebagai musuh utama dan target operasi “perburuan” para vampire.

Damaskinos (Thomas Kretschmann), raja vampire membentuk Blood Pack, tim vampire yang terdiri dari enam jagoan elite vampire dari berbagai pelosok dunia yang dikomandani Reinhardt dan anggotanya Chupa, Pendeta, Lighthammer, Verlaine dan Snowman. Tim ini semula dibentuk untuk menangkal misi Blade. Namun situasi cepat berubah ketika muncul kawanan The Reapers, super vampire yang ganas luar biasa. Damaskinos lalu mengutus puteranya Nyssa (Leonor Varela) dan Asad (Danny Jhon Jules) untuk menawarkan “persekutuan” dengan Blade untuk melawan kawanan The Reapers, ras vampir baru yang doyan memangsa sesama vampir. Tampilan mereka amat ganas dengan keanehan yang mengerikan karena mulut mereka bisa terbuka lebar ke samping ketika menerkam dan melahap mangsanya.

Blade pun ditunjuk memimpin tim khusus yang terdiri dari vampir pilihan antara lain, Asad, Nyssa, Scud, Benhardt cs dan Whistler untuk memerangi The Reapers yang dipimpin oleh Jared Nomak (Luke Goss), vampire buas dan kejam yang kemampuannya berimbang dengan Blade, karena mempunyai kemampuan yang sama, yaitu kebal terhadap peluru perak, senyawa bawang putih dan sinar ultra violet. Nomak telah lama mencari Blade, karena beranggapan Blade adalah satu-satunya hambatan untuk mencapai ambisinya demi menguasai dunia siang dan dunia kegelapan.

Tim Blade pun menghadapi banyak tantangan, karena lawan memang tangguh, apalagi Blade sendiri tidak bisa mempercayai Benhardt cs yang setiap saat mengintip peluang untuk berkhianat dan menghabisi Blade.

Akhirnya Blade menemukan siapa sebenarnya dalang dari tragedi yang melanda para vampir. Damaskinos, ternyata mempunyai ambisi menciptakan “Ras” vampire baru yang unggul, tahan terhadap peluru perak, senyawa bawang putih dan sinar matahari dengan memanfaatkan ilmuwan dan kelompok the Reapers untuk menciptakan teror.

CINTA DUNIA MAYA JADI NYATA

Judul                    :    Ping Guo Yao Yi (Expec a Miracle)

Pemain                 :    Daniel Chan, Joey Yung, Hek Zu Min, Lo Zhi Chang

Sutradara             :    Shunya Ito

S

ETIAP orang punya tempat berkeluh kesah. Ada yang menumpahkannya pada teman, ada juga yang menumpahkannya dalam kata-kata pada buku diary. Juga ada yang bersurat-suratan seperti yang dilakukan RA. Kartini di masanya.

Ada via radio CB yang bercerita lewat udara. Namun di kekinian, tempat menyalurkan keluh kesah, bertambah. Banyak yang melakukannya via internet dengan cara “chating”.

Mencari sahabat lewat dunia maya, sangat mengasyikkan. Wajah tak perlu dikenal. Jenis kelamin pun bisa diganti. Toh, canda dan keakraban bisa tercipta di setiap saat. Perbincangan dengan hanya menulis dalam bentuk kata yang terkirim tanpa mendapatkan hambatan maupun pembatas, bisa sangat mengasyikkan. Termasuk bila ingin menumpahkan unek-unek.

Lantas bagaimana jika orang yang kita ajak “chating” selama ini dan kita keluhkan masalah cinta kita, ternyata orang yang sangat dekat dengan kita? Padahal, cinta adalah sesuatu yang agung.

Adakah harus menjadi . luntur dan menjadi mainan jika hanya diungkapkan lewat icon-icon dan simbol pada teman di dunia maya dengan masing-masing memakai nama samaran?

Cinta selalu misteri. Tak mudah ditebak. Malah cinta itu seperti sebuah ungkapan dalam film Ting Guo Yao Yi”, bagai apel.

Ada yang terlihat dari luar masih rnuda, tapi di dalamnya manis, ada yang kulitnya bagus tapi isinya busuk. Artinya, cinta tak bisa hanya dilihat dan dirasakan hanya sekilas dan tidak mendalam.

Tersebutlah Song Dan Ru (Joey Yiing) yang memakai nama samaran Little Angel yang punya sahabat internet bernama Deep Blue (Danial Chang). Setiap permasalahan Song, ia beberkan pada Deep termasuk ketika mulai bekerja sebagai guru pengganti, setelah lulus sekolah. Kenakalan murid-muridnya ia tuturkan lewat internet. Ia bisa plong sebab punya teman diskusi dan berbagi duka.

Selain sebagai guru, song punya kerja sampingan sebagai foto model. Namun ketika pemotretan, ia bermasalah dengan Jet, Fotografernya, Song tak henti diolok-olok oleh Jet, fotografernya. Malah ia hanya disuruh menimba air hingga lelah.

Semua demi alasan untuk mendapatkan momen gambar yang bagus. Tapi, Jet memang hanya usil. Dan ketika Song minta air minum, Jet memberi bekas air minumnya lalu mengatakan bahwa dirinya penderita Aids.

Song tetap menagih janji pemotretan, tapi Jet membuatnya marah. Saat Song marah, Jet mau memotret Song dalam keadaan tertawa. Song mencoba namun hasilnya tidak memuaskan hingga ia diusir.

Saat song pulang ia dihadang oleh seorang pria yang mengancamnya harus membayar utang. Song memohon jangan disakiti, dan menyampaikan agar diberi waktu karena belum punya uang dan ibunya di rumah sakit.

Jet menolongnya, Song diajak pemotretan dan setelah selesai pemotretan langsung diberi honor. Rupanya yang mengancam Song, adalah adik Jet yang pura-pura sebagai preman.

Lewat dunia maya, Song menceritakan semua dukanya pada Deep Blue. Juga menceritakan bahwa ia jatuh cinta pada bosnya, tapi tak menyebut nama. Hanya mengatakan si bos itu mulutnya bau.

Adapun Jet, juga jatuh cinta pada Song tapi dipendam. Keduanya sama-sama menahan diri. Song mengatakan dirinya sudah punya pacar, begitupula sebaliknya. Hingga, di suatu pesta, datang adik Jet minta uang pada kakaknya. Takulah Song bahwa ia telah ditipu oleh Jet. Hubungan Jet dan Song berantakan.

Song mengadu pada Deep Blue dan menyebut nama lelaki yang ia cintai itu. Jet yang ternyata Deep Blue merasa bodoh tidak mengetahui jika orang yang ia cintai juga adalah Song yang memakai nama Little Angel . Dan keduanya sepakat bertemu, tapi Song tak tahu siapa Deep Blue. Toh, Jet masih mengusili Hong.

Bagaimana kisah cinta lewat dunia maya itu? Tentulah selalu happy ending. Karena cinta memang membuat semua orang berbahagia. Ya, cinta itu rahasia seperti buah apel. Untuk menggapainya, banyak saluran yang bisa dipakai, termasuk internet.

Atau adakah bedanya? Kalau pun ada, hanya pada teka-teki yang tak terjawab. Pun hasilnya sama: cinta bisa jadi nyata!

TERORISME, PHOBIA AMERIKA!

Judul                    :    Air Panic

Pemain                 :    Rod Rowland, Kristanna Loken, Ted Sharkelford, Alexander Enberg

Musik                  :    Serge Colbert

Skenario               :    Adam Gierasch, Jace Anderson

Sutradara             :    Bob Misoroski

D

UA  menara  kembar,  World Trade  Center belum   runtuh   dihantam  pesawat-pesawat teroris  yang  ditengarai   milik  Osama  bin Laden, 11 September 2001, telah banyak film yang menceritakan  ancaman  teroris.  Jika ketika masih perang dingin, Uni Sovyet dijadikan kambing hitam, maka pasca perang dingin, Islam fundamentalis yang jadi sasaran.

Kini, bukan hanya Islam fundamentalis atau yang militan dituding pada setiap peristiwa pengeboman dan sejenisnya, tapi sudah menyangkut Islam sebagai agama. Di beberapa negara, sudah menyatakan sikap musuhnya adalah Islam. Malah terorisme sudah banyak diidentikkan dengan Islam.

Betulkah tudingan sudah demikian parahnya? Yang pasti, pengecapan militan yang teroris itu sudah terlabeli di pundak yang beragama Islam. Banyak orang yang mengalami kesulitan masuk negara lain, seperti Jepang, jika namanya mengandung unsur-unsur penampakan Islam yang berasal dari Timur Tengah.

Jika sebelumnya hanya terbatas Islam fundamentalis dari negara-negara Arab yang kerap digambarkan dalam film-film hero Hollywood, kini CIA dan dipublikasikan Majalah Time bahwa pusat teroris itu berada di Indonesia sebagai negara yang penduduknya mayoritas Islam dan terbesar di antara negara Islam lainnya.

Cap teroris adalah momok menakutkan bagi umat Islam. Sementara di Amerika Serikat, phobia yang masyarakat dan pemimpinnya rasakan adalah terorisme. Mereka terperangkap pada ketakutan-ketakutan. Dan kian takut setelah WTC runtuh, yang bukan lagi sekedar imajinasi.

Setelah WTC runtuh, pembuat film Hollywood berhayal akan bahaya terorisme. Mereka membayangkan bagaimana bahayanya jika menara-menara pencakar langit di kota-kota AS diruntuhkan dengan teknologi canggih hang mereka buat sendiri. Imajinasi itu berubah  menjadi  kenyataan. Film-film itu secara langsung telah mengajari para penjahat untuk meledakkan gedung-gedung dengan pengajaran seperti yang terlihat pada film-film.

Tersebutlah “Air Panic”. Ada tiga kecelakaan pesawat yang secara beruntung terbakar di udara selama satu pekan. Kecelakaan terjadi di Seattle, Honolulu, dan yang terakhir terjadi di Denver pada tanggal 4 Juli, bertepatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.

Kecelakaan di Denver menghantam salah satu gedung pencakar langit. FBI menganggap Deno Down kelompok teroris dari Pakistan yang bertanggung-jawab. Tetapi Neil (Rod Rowlan) dari FAA justru berpendapat hal itu tidak mungkin. Karena kelompok teroris tersebut termasuk teroris kelas kecil. Mereka tidak akan mampu mengerjakan pekerjaan sebesar itu. Neil menduga justru ada pihak lain yang melakukan dengan cara mengendalikan sistem komputer.

FBI tidak setuju dengan analisa Neil. Malah, Neil mencurigai pesawat dengan penerbangan 672 juga telah dikendalikan komputernya maka ia bersusah payah ke bandara mencegah penerbangan tersebut. Namun saat pesawat tersebut dihentikan oleh pilot malah pesawat bergerak karena sistem komputerisasi pesawat tersebut dikendalikan oleh Cain di markasnya.

Cain mengambil alih sistem navigasi pesawat dari rumahnya. Cain mengemudikan pesawat sekehendak hati, termasuk mengatur gerak ke atas, atau tiba-tiba diterjunkan ke bawah hingga pilot mengalami patah leher saat mencoba memberi arahan pada penumpang bahwa ia tidak akan membiarkan orang lain mengendalikan pesawatnya. Penjahat ini ibarat bermain game di depan komputer saja.

Air panic adalah gambaran tentang berbagai prediksi yang tertuang dalam film. Adakah WTC juga dihancurkan seperti pada film tersebut lalu memvonis Al-Qaeda sebagai biang keladinya ? Kita masih menunggu kepastian yang sepertinya sulit terjawab. Sebab, AS sudah menjatuhkan vonis. Dan korbannya adalah Islam, termasuk pengeboman di Bali. Ya, semoga Air Panic memberi kita petunjuk untuk bisa lebih rasional sambil membiarkan semua proses hukum berjalan.

IMAJI DI PENGHUJUNG KIAMAT

Judul                    :    Reign of Fire

Pemain                 :    Matthew Mc Conaughey, Christian Bale, Izabella Scourpo, Gerard Butlr.

Skenario               :    Gregg Chabot, Kevin Peterka, dan matt Greenberg

Sutradara             :    Rob Bowman

O

RANG beriman, pastilah percaya pada hari kiamat.  Kapan hari terakhir itu, tak jelas. Namun, tentang hancurnya   bumi   yang dihuni manusia ini, sudah kerap dibeberkan orang dalam bentuk film maupun cerita dalam buku dan komik. Dunia hancur dengan beragam latar belakang. Toh,    semuanya masih dalam taraf imajinasi.

Manusia habis  di  muka bumi  ini,  merupakan suatu kepastian. Yang pernah ada pasti tiada. Tapi haruskah manusia pasrah begitu saja, sementara manusia sebagai khalifah di bumi telah diberikan kemampuan oleh Tuhan untuk berusaha semaksimal mungkin. Segala upaya harus dilakukan demi mempertahankan hidup. Apalagi bila hidup orang lain ikut tergantung pada kita.

Lantas bagaimana sikap kita andai bumi ini hancur bukan karena kehancuran yang selama ini kita bayangkan, tapi karena proses alamiah dari pergesekan antara metabolisme sesama makhluk hidup. Apalagi jika ternyata, diakibatkan oleh keserakahan umat manusia yang dengan tidak sengaja memunculkan makhluk lain yang pernah ada. Dan keliaran imajinasi yang pernah ditawarkan pemikir Sartre telah membuat manusia modern untuk melakukan kebebasan berpikir secara humanis individualis.

Imajinasi yang diagungkan Sartre itulah yang coba ditawarkan Gregg Chabot dan Kevin Peterka yang membuat cerita lalu menjadikannya dalam bentuk skenario lewat film “Reign of Fire”. Naskah yang digarap sutradara Rob Bowman pun menghasilkan satu tawaran pemikiran tentang kemungkinan yang terjadi pada manusia di muka bumi ini. Terlebih, garapan animasinya dikerjakan secara apik.

Diceritakan tentang seorang bocah di London, Quinn yang menemui ibunya, Karen yang bekerja di mega proyek pengeboran ke perut bumi. Ternyata, pengeboran  tertunda karena mata bor tertumbuk pada benda yang sangat keras. Kala Quinn diminta oleh anak buah Karen untuk melihat ke dalam gua yang menghambat mata bor itu, Quinn melihat adanya naga purba yang mampu menyemprotkan api.

Naga purba itupun terbangun dan melesat ke muka bumi. Peristiwa itu telah berlalu lama. Quinn (Matthew Me Conaughey) sudah besar. la telah mencatat peristiwa yang menewaskan ibunya itu sebagai phobia yang telah menjadi epidemi. Apalagi naga purba itu telah meneror umat manusia yang mengakibatkan populasi manusia kian berkurang. Malah, Quinn yang bersembunyi di suatu daerah, merasa jika komunitasnya adalah manusia terakhir yang berhasil selamat dari kejaran naga purba yang terbang di angkasa dengan lidah apinya yang sangat dahsyat ganasnya.

Bala bantuan akhirnya tiba. Di bawah pimpinan Denton Van Zan (Christian Bale), pasukan marinir AS ini mengajak Quinn untuk menangkap naga purba. Sebab jika hanya menunggu hingga naga itu mati, sangatlah sulit, walau naga itu akan saling memakan jika tak ada lagi manusia yang mereka temukan. Bersama Alexandra (Izabella Scorupco), Quinn dan Van Zan mencari naga jantan yang ditengarai hanya satu ekor. Dan Quinn sangat tahu sarangnya, sebab di tempat kerja ibunyalah bermula.

Film yang berdurasi 120 menit ini, terbilang mampu menyedot emosi penonton. Hal itu dimungkinkan karena peranan animasi yang cemerlang yang didukung garapan musik Edward Shcarmuk serta visual effeknya Richard Houver, mampu membuat penonton untuk berimajinasi sesuai imajinasi penulis naskah “Reign of Fire”. Dan film ini merupakan fiksi ilmiah yang ditawarkan secara natural. Sehingga, kita terbuai oleh keasyikan alur cerita yang tidak membuat kita takut. Padahal, kita sedang menyaksikan peristiwa di tahun 2020 ketika imaji kita berada di ujung kiamat.

 

MASJID AL AQSHA DIBOM, TERJADI PD III!

Judul                    :    The Order

Pemain                 :    Jean Clude Van Damme, Charlton Heston, Brian Thomson

Cerita                   :    Danny Lerner

Skenario               :    Lesm Weldon dan Jean C. Van Damme

Sutradara             :    Sheldon Lettich

N

EGERI ini, di tahun 2002, pernah dihebohkan kisah tentang keinginan dan obsesi Menteri Agama yang mencoba menggali situs Batu Tulis di Bogor. Menurutnya, ada harta karun yang bisa membiayai negara yang sedang dilanda krisis ini jika   berhasil   ditemukan.   Namun   penggalian   itu akhirnya  dihentikan. Masyarakat Parahyangan marah, protes, karena tak setuju peninggalan nenek moyang mereka diobrak-abrik. Dan akhirnya, Menteri Said Agil Husein Al Munawar rninta maaf.

Tidak sedikit orang berburu harta karun dengan jalan menggali di tempat yang ternyata dikeramatkan. Kuburan digali sudah sering. Apalagi, kuburan yang diperkirakan menyimpan banyak barang yang sangat berharga, Malah, perburuan harta karun itu seperti mimpi saja. Tapi, tak sedikit yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Strategi menyembunyikan harta karun memang telah dilakukan manusia terdahulu agar sulit ditemukan generasi berikutnya. Paling mudah dengan cara menggali dalam tanah lalu ditimbuni. Sementara Firaun membuat piramida dengan cara yang sangat rumit untuk dimasuki. Beragam pintu rahasia yang bisa menjebak orang di dalamnya, terpasang dengan teknologi tinggi di masanya yang hingga kini masih tetap misteri.

Lantas bagaimana jika harta karun yang luar biasa besarnya itu ternyata tersembunyi di bawah tempat persembahyangan, seperti masjid tua Al Aqsha? Haruskah masjid itu dibongkar, diratakan dengan tanah, lalu digali? Setting cerita inilah yang kemudian diangkat ke layar perak oleh Sheldon Lettich.

Alur film dibuka dengan scene Perang Salib di Kota Suci Yerussalem di era masa silam. Le Vaillant kecewa atas perang itu lalu membentuk sebuah sekte yang kemudian dikenal sebagai The Order”, lengkap dengan kitab suci The Fazar. la membuatnya di Gua Mount Olives. Sekte ini punya peta yang tertera dalam kitab. Dan peta itu menunjukkan lokasi harta yang tertimbun.

Cerita kemudian berlanjut. Dikisahkan Rudy Cafmeyer (Van Damme), penyelundup benda purbakala yang selalu lolos dari jeratan hukum. Rudy ke Israel mencari ayahnya Oscar Cafmeyer (Charlton Hestoin), professor arkeologi yang telah menemukan bagian terakhir kitab Fazar yang diduga menghilang setelah tiba di Tel Aviv. Pesan terakhir Oscar, bahwa ia berada di rumah temannya, Prof. Waif Finlay.

Saat tiba di Tel Aviv Rudy mengalami pemeriksaan yang ketat oleh Letnan Dalia Barr dengan alasan di Bulan Ramadhan umat Islam banyak berkunjung ke Yerussalem. Rudy dijemput Waif Finlay yang kemudian menyerahkan kunci kotak titipan di Bank Noriah tempat bagian terakhir kitab Fazar disimpan. Dan di penghujung cerita, dikisahkan rencana peledakan terowongan yang ada di bawah Masjid Al Aqsha karena di sanalah harta karun yang hampir dua millennium itu tersimpan.

Hollywood tak bosan membuat film yang menyudutkan umat Islam. Namun film ini mencoba memberi pemahaman bahwa jika umat Islam diobok-obok terus, maka bisa terjadi Perang Dunia (PD) ke-tiga. Seperti dalam sebuah dialog dalam film ini, “Jika Masjid Al Aqsha kau bom, maka akan terjadi PD III.”

Sebagai tontonan, The Order” terbilang baik walau tidak kelewat baik. Van Damme pun tidak lagi hanya mengandalkan otot melulu. Apalagi, jika hanya untuk sekedar menjadikannya pembanding atas kondisi politik global yang tampaknya telah terjadi penyeragaman atas kemauan AS sebagai polisi dunia. Toh, film ini memberi gelitik pemikiran yang lebih menyimpang dari kebiasaan AS.

 

NYATA TERLIHAT DARI MATA ROH

Judul                    :    The Others

Pemain                 :    Nicole Kidman, Fonnula Flanagan, Christopher Eccleston, Elaine Cassidy, eric Sykes, Alakina Mann, James Bentley, Rence Asherson

Sutradara             :    Alejandro Amenabar

T

ERSEBUTLAH Grace yang tinggal di sebuah rumah   besar.   la   punya   dua  anak,   Anne berusia  tujuh   tahun   dan   Nicholas   empat tahun, Suaminya dikabarkan tewas di medan perang. Ketiganya ditemani tiga pembantu rumah tangga, Ny. Bertha  Mills  bertugas  masak  dan  mengasuh  anak, Lynda membersihkan rumah, dan Mr. Tuttle tukang kebun.

Anne bermasalah. la tidak mau belajar Alkitab yang diajarkan ibunya. Sementara Grace menilai hanya Alkitab yang bisa dipercaya, sebab buku cerita hanya dongeng yang penuh kebohongan dan omong kosong. Tapi, Anne merasa tidak semua isi Alkitab benar. Makanya, Anne dipisahkan dengan adiknya agar Nicholas tidak terpengaruh.

Grace punya masalah penyakit Migrain dan tak bisa mendengar suara gaduh, termasuk bunyi piano. Malah tak mau punya radio, teve, hingga telepon, sebab ia tak mau terganggu. Seluruh tirai harus selalu tertutup bila kedua anaknya Anne dan Nicholas melewati suatu ruangan karena mereka menderita alergi cahaya yang parah. Tidak ada listrik, hanya menggunakan lampu minyak tanah. Anne menganggap ibunya gila sedangkan Nicholas yakin tidak.

Suatu saat, Anne menyampaikan bahwa di rumah mereka ada orang lain yang kadang ia lihat. Ada Victor, kedua orang tua Victor, dan neneknya. Menurut Anne, Victor adalah keluarga penyihir. Ayah Victor jago piano. Grace malah sempat mendengar suara gaduh, tapi tidak menemukan siapa-siapa.

Grace dan Anne yakin ada hantu di rumahnya, sebab sewaktu rumah itu dibeli ada kuburan di halamannya. Grace bergegas ke desa untuk menemui pendeta, ia menganggap rumahnya perlu diberkati karena ada roh yang tidak tenang di dalamnya dan memerintahkan kepada Mr. Tuttle agar mencari kuburan di sekitar rumahnya. Pulangnya, ia bertemu suaminya yang kabarnya telah tewas di tengah kabut yang tebal.

Bagaimana mengusir hantu yang ada di rumahnya? Grace tak punya cara. Sebab, ia kemudian menemukan tiga kuburan yang di dalamnya jenazah ketiga pembantunya yang ia bisa kenali lewat foto dan tahun kematian 1891. Dan ternyata…Grace telah lama mati. Ia membunuh kedua anaknya dengan menyekap pakai bantal lalu  diri.

AWAS PENYAKIT TAKUT!

Judul                    :    K-19 The Widowmaker

Pemain                 :    Harrson Ford, Liam Nelson, Peter Sarsgaar

Cerita                   :    Louis Nowra

Naskah                :    Christopher Kyle

Musik                  :    Klaus Badelt

Sutradara             :    Katryn Biglow

R

ADIASI nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima adalah bukti   penghancuran   yang   sangat dahsyat. Radioaktif memakan      korban manusia,  tumbuhan,  dan hewan,  hingga beberapa waktu yang panjang. Makanya, fobia radiasi nuklir adalah momok yang tak bisa ditawar-tawar. Walau di kekinian,   fobia   masyarakat   internasional   adalah terorisme.

Mengapa orang takut pada terorisme? Adakah Kalah hebat dibanding radiasi nuklir? Yang pasti, ketakutan itu sendiri adalah penyakit yang lebih dahsyat. Sebab, takut itu bisa membuat seseorang lupa diri. Malah tak sadar menjual harga diri dan rasa nasionalisme. Seperti halnya di tanah rusuh, seseorang melawan, membunuh, dan melakukan perbuatan anarkis lainnya karena akibat dari rasa takut yang berlebihan.

Antara penyakit takut yang bisa menular ke sumsum nurani orang itulah yang dipertentangkan dengan radiasi nuklir dari sebuah kapal selam di tahun 60-In dalam film K-19 The Widowmaker. Inti ceritanya, pengujian sekaligus pengiriman kapal selam ke daerah kekuasaan Amerika Serikat dan \ NATO oleh angkatan laut Uni Soviet. Namun hakikat dari pesan alur cerita adalah ketika harus memerangi rasa takut. Sebab, rasa takut yang berlebihan malah akan meninggalkan pikiran sehat, termasuk harga ini ;

Cerita dimulai ketika pemimpin Soviet berencana memulai pengoperasian kapal selam bernama K-19 yang dilengkapi persenjataan nuklir ke kutub untuk pengujian dan selanjutnya jika berhasil dikirim ke laut lepas di perbatasan Washington dan New York. Padahal, kapal selam itu belum rampung benar dan masih dalam taraf pengujian. Adapun yang diserahi tugas memimpin adalah Kapten Vostrikov (Harrison Ford) menggantikan posisi Kapten Misha Polenin (Liam Nelson) yang digeser menjadi pejabat eksekutif.

Ada beberapa anak buah Polenin yang tidak terima pergantian tersebut. Malah melakukan kudeta ketika kapal selam rusak di sekitar daerah NATO. Mereka memilih untuk menyelamatkan diri ketimbang mengikuti ‘kegilaan’ Vostrikov yang tak mau meminta bantuan pada AS karena itu artinya pengkhianatan terhadap negara. la tak mau menyerahkan anak buahnya sebagai pecundang, apalagi menyerahkan kapal selam yang merupakan kebanggaan Soviet.

Radiasi nuklir kian membuat ketakutan. Fasilitas kapal yang tidak memadai, termasuk obat-obatan, menghilangkan semangat hidup awak kapal selam. Mereka harus menyelamatkan hidup, tapi dengan cara apa. Pasrah, tidak mungkin. Takdir? Mereka tak percaya karena negerinya menganut paham komunis. Sementara sang kapten terus berusaha memperbaiki kapal, walau dengan harus mengorbankan anak-anak buahnya.

Kudeta gagal karena Polenin yang secara tidak langsung ‘dicud otaknya’ oleh Vostrikov, tak menginginkan tindakan pengecut itu. Dan ia mengatakan alasannya ketika penyelamat dari Soviet menemukan mereka bahwa tindakan itu salah. Yang pasti, tugasnya pada anak buahnya yang memaksakan kehendak, “Saya memang kehilangan posisi, tapi saya tidak kehilangan harga diri!”

Cerita ini diangkat dari kisah nyata ketika Perang Dingin masih berlangsung di era kepemimpinan Kruschev dan John F. Kennedy. Peristiwa pengiriman kapal selam bermuatan nuklir ini dirahasiakan hingga berakhirnya Perang Dingin dengan hancurnya Soviet dan bersatunya Jerman. Lalu dibuka ke pentas dunia dalam bentuk film.

Namun, sebagai jawara dunia, Hollywood yang membuat film ini tetap merasa sebagai negara superior. Keberadaan K-19 dipotret secara kacamata AS, termasuk olok-olok kekalahan pasca perang dingin. Setidaknya, Soviet adalah pecundang yang tak pernah menghargai pejuang, rakyat, dan segala yang berbakti buat negerinya. Film dibeberkan secara gamblang dengan sindiran tentang “begitu tidak apa-apanya Soviet ternyata di kala itu”.

Dan tentaranya, hanyalah sekelompok orang yang merasa punya harga diri. Padahal, mereka berbekal ketakutan yang merupakan penyakit yang paling berbahaya! Toh, film ini tetaplah nikmat disimak walau meninggalkan keotentikan, seperti halnya dalam penggunaan bahasa yang tak secuil pun memakai bahasa Soviet!

CINTA ITU ADA DI SEKITAR KITA

Judul                    :    The Tuxedo

Pemain                 :    Jackie Chan, Jennifer Love Hewitt, Jason Isaacs, Ritchie Coster

Skenario               :    Michael J. Wilson & Michael Leeson

Sutradara             :    Kevin Donovan

T

IDAK   sedikit   orang   cantik   maupun   lelaki gagah yang kesulitan menemukan pacar atau pasangan hidup.  Masalahnya sepele, hanya karena    tidak   memperhatikan    tanda-tanda    atau perasaan   orang  lain  yang  berada   di   sekitarnya. Terkadang, imaji melambung ke tempat lain, padahal kenyataannya : kekasih sejati ada di sampingnya.

Cinta itu tetaplah terkait perasaan. Walau tetaplah misteri dan sulit ditebak. Keinginan dan harapan, kerap tidak sinkron. Malah, tidak jarang seseorang minta tolong pada teman untuk mewujudkan impian, padahal ternyata cinta itu adalah teman baik itu sendiri. Sehingga, jika tanda-tanda, seperti uring-uringan ada di sekitar kita, maka waspadailah. Jika merasa klop, nikmatilah cinta itu sebagaimana mestinya. Karena seperti kata Doel Sumbang, “cinta itu anugerah, maka berbahagialah!”

Materi cinta itu pula yang digagas pembuat cerita Phill Hay, Matt Manfredi, dan Michael J Wilson yang kemudian dilayarlebarkan oleh Kevin Donovan lewat The Tuxedo”. Walau dibungkus alur cerita tentang pemberantasan kejahatan, tapi intinya tetaplah cinta. Apalagi, alur dibuka dengan kegrogian Jimmy Tong (Jackie Chan) menyatakan perasaan hatinya pada seorang gadis cantik penjaga gallery lukisan (diperankan Debi Mazar). Dan ditutup kesadaran akan makna kecantikan seorang wanita.

Diceritakan. Jimmy Tong sebagai sopir bagi seorang miliuner, Clark Devlin (Jason Isaacs) yang merupakan seorang agen pemerintah, CSA yang memberantas kejaiiatan. Namun, Devlin yang liebal itu sekarat setelah terkena serpihan bom. Akhirnya, Jimmy yang tak sengaja memakai “tuxedo” yang dibuat secara mutakhir dan bisa digunakan secara serba bisa, menggantikan posisi bosnya. la bekerjasama dengan agen Double N (Jennifer Love Hewitt)    memberantas   kegiatan    Barning   (Ritchie Coster) yang memproduksi air mineral yang mengandung bakteri yang membuat seseorang terkena dehidrasi lalu tewas.

Berbekal busana “tuxedo” canggih itu> Jimmy bisa bela diri hingga menyanyi. Semua kegiatan dan kehebatan, sekonyong-konyong bisa dilakukan oleh bekas sopir taksi itu. Akan tetapi, kedoknya terkuak setelah hasil rekaman memperlihatkan wajah Devlin yang berbeda jadi wajah Jimmy. Pun Duuble N mengusir Jimmy dan menyita “tuxedo” milik Devlin di saat penyelidikan sudah di ambang finish.

Double N secara terpaksa harus memberi “tuxedo” pada Banning karena ia tertangkap. Dan Banning akhirnya tahu kehebatan “tuxedo” itu lalu bersiap melepas serangga-serangga yang mematikan ke alam bebas lewat air sehingga bisa membunuh banyak orang lalu menguasai dunia. Sementara Jimmy yang pulang ke rumah bosnya, menemukan hasil penyelidikan Devlin, juga menemukan adanya “tuxedo” serupa yang juga hebat. Maka ia kemudian kembali ke markas Banning untuk menghentikan upaya jahat Banning.

Bagaimana upaya Jimmy? Tentulah film-film yang berlandas fiksi dengan keheroan sang tokoh, selalu diakhiri kemenangan. Selalu “happy ending”. Tapi, Jimmy tetaplah tidak mampu menuntaskan harapannya untuk menyatakan cinta pada penjaga gallery itu. Ia gagap. Kikuk, apalagi ditimpali campur tangan banyak orang yang berusaha menolongnya. Juga gangguan yang dilakukan Double N yang nama aslinya Delaila yang ternyata diam-diam jatuh cinta pada Devlin eh… Jimmy Tong.

Mengharapkan aksi Jackie Chan yang hebat kungfu dan gelitik humornya, tetaplah bisa dinikmati pada “The Tuxedo”, walau tentulah tak sehebat ketika bermain dalam “Shanghai Noon” yang merupakan kiprah suksesnya di Hollywood setelah meninggalkan Hongkong. Film ini hanya lebih melegitimasi keberadaan Jackie Chan di percaturan film western. Dan itu telah ia buktikan !

 

 

 

 

SETIAP AYAH, PAHLAWAN BAGI ANAKNYA

Judul                    :    Road to Perdition

Pemain                 :    Tom Hanks, Paul Newman, Jude Law, Tyler Hoechilin, Jennifer Jason Leigh, Stanley Tucci, Daniel Craig

Naskah                :    Davi Self

Sutradara             :    Sam Mendes

T

AK ada orang tua yang bisa membagi kasih sayang secara merata. Itulah perasaan bagi anak yang selalu terungkapkan. Karena, ada saja ada anak yang merasa dimanja, dan ada yang dipinggirkan. Betulkah orang tua membeda-bedakan anaknya? Mampukah   orang   tua   membagi   kasih sayang tanpa ada yang bisa dinomorduakan?

Bagi anak, orang tua adalah panutan. Khususnya bagi sosok ayah. Di mana anak, ayah adalah sosok yang dibanggakan. Begitu pula bagi ayah, anak adalah sosok yang harus selalu dilindungi dalam kondisi apapun. Tentu berbeda dengan sikap Nabi Nuh yang harus membiarkan anaknya hanyut dilanda air bah karena tidak mengikuti ajaran sang nabi. Di banyak ayah maupun ibu, anak adalah segala-galanya.

Lantas, haruskah tetap orang tua, khususnya ayah melindungi anak yang jelas-jelas bersalah? Bagaimana sikap seorang ayah yang harus pula menjaga anaknya dari ancaman saudara angkatnya? Haruskah pula si ayah angkat mementingkan anak angkat ketimbang anak kandung? Jika harus memilih, tentulah anak kandung tetaplah yang harus dilindungi. Sebab, ayah tentulah tetap pahlawan bagi anaknya. Tema itulah yang disodorkan David Self yang diejawantahkan sutradara Sam Mendes yang sukses lewat “American Beauty” ke layar lebar lewat film “Road to Perdition”.

Diceritakan tentang kisah hidup Michael Sullivan (Tyler Hoechilin) yang bersama ayahnya berada di jalan di tahun 1931 di sebuah kota Amerika Serikat untuk memburu orang yang mengancam hidupnya setelah ia menyaksikan Cornor. Namun, Mike harus menerima kenyataan bahwa bekas bosnya, Nitti, pun melindungi Cornor ketika ia mengadu nasib di Chicago. Toh, Mike kemudian bekerjasama dengan anaknya yang baru berusia 12 tahun untuk merampok bank, menjarah uang milik Connor yang dicuri dari ayahnya.

Namun mike harus pula menghindari dari kejaran pembunuh bayaran yang maniak memotret korban pembantaian. Selama dalam pelarian itulah, sekaligus membalas dendam, Michael menceritakan kisah kehidupannya. Sehingga, jika ada yang bertanya tentang ayahnya, apakah orang jahat atau orang baik, maka jawabannya sama yaitu .: Mike Sullivan adalah ayahku! Suatu ketika Michael bertanya pada ayahnya, mengapa ia dibedakan dengan adiknya Peter yang dimanja. Mike menjawabnya dengan kalimat yang penuh makna. “Peter itu anak manis, sementara kau, lebih mirip dengan aku. Dan aku ta^ ingin kau seperti aku!”

“Road to Perdition” yang diperankan aktor-aktor top sekelas Tom Hank dan Paul Newman, memang terbilang film berkelas. Apalagi langganan Oscar, Tom Hanks dikenal memilih-milih peran. Dan perannya kali ini dalam film yang diproduksi Twentieth Century Fox dan Dream Works Pictures, tetaplah memukau.

Kekerasan yang biasanya ditampilkan dalam cerita-cerita tentang mafia, tidak terasa kalau gambaran pembantaian dipertontonkan , dalam banyak adegan. Akan tetapi, kekerasan itu hilang seiring irama musik yang digarap Thomas Newman. Kita seakan hanya diperhadapkan pada pilihan bagaimana cara melindungi anak dari ancaman bahaya, meski kita harus membunuh. Sebab, sosok setiap ayah memang pahlawan bagi anaknya.

KLONING MANUSIA MALAH LUCU!

Judul                    :    Repli-Kate

Pemain                 :    Ali Landri, James Roday, Tedd Robnert, Anerson, Kurt Fuller, Desmond Asken, Eugenk Levy

Naskah                :    Stuart Gibbs

Sutradara             :    Frank Longo

S

UKSES domba dikloning yang bernama Dolly beberapa     tahun     silam,     memang     telah mengejutkan masyarakat dunia. Malah timbul ide   gila   untuk   mengkloning   orang-orang   super. Sebab, hanya dengan sehelai rambut saja, replika seseorang bisa dihidupkan.  Namun, keinginan gila itu    hanya    sebatas    wacana    saja    karena    para rohaniawan dan tokoh agama menolak ide tersebut.

Keinginan sebagian kecil ilmuwan itu tentang kloning manusia tetaplah ada. Akhir-akhir ini, santer kembali diwacanakan tentang pentingnya manusia dikloning. Alasan utamanya : belum jelas untung-ruginya sehingga harus dicoba terlebih dahulu. Yang pasti negeri adidaya sekelas Amerika Serikat masih bertahan untuk melarang pengkloningan manusia, termasuk uji coba.

Bagaimana efek dan kemungkinan yang bisa terjadi jika manusia dikloning? Akankah bumi ini bisa dipenuhi orang-orang super yang diciptakan secara kloning atau bumi ini malah dipenuhi manusia kembar? Semuanya masih samar dan penuh tanda tanya. Dan suatu kelak, bisa jadi kloning terhadap manusia itu terjadi. Maka bersiap-siaplah menghadapi saringan baru yakni bayangan kita sendiri !

Akan tetapi, sebelum para pakar kloning berhasil mewujudkan obsesinya, Stuart Gibbs telah melanglang buana dengan ide gilanya itu. Malah ia mengkloning manusia tidak melalui proses penitipan dalam rahim, tapi langsung besar. Langsung sesuai dengan aslinya! Ide inilah yang ditangkap oleh Frank Longo yang mengangkat cerita fiksi ilmiah itu ke dalam film bertajuk “Repli-Kate”.

Diceritakan, Max, Henry, dan Felix yang mahasiswa di sebuah universitas, melakukan penelitian kloning terhadap hammer atas bimbingan professornya, Dr. Fromer. Hammer itu dikloning menggunakan sampel darah yang diteteskan pada CD dengan bantuan hiper replikator. Hasilnya, langsung dihasilkan hammer dewasa yang sama dengan induknya.

Sementara itu, tersebutlah Kate, seorang reporter yang meliput kegiatan di laboratorium tempat Max dan kedua kawannya melakukan penelitian kloning. Saat memegang hammer hasil cloning itu, tangannya tergigit. Dan tanpa sengaja, darah dari jari Kate, terpercik di CD.

Max tidak mengetahui kalau darah yang ada di CD adalah Kate. la langsung memproses darah tersebut dan muncullah replika Kate. Kloning manusia yang menyerupai aslinya. Namun Max dan Hendri kebingungan. Keduanya takut bila diketahui telah mereplika seseorang, sebab belum ada izin mengkloning manusia.

Alur film ternyata menjadi komedi. Cerita bergulir tentang beragam kemungkinan yang bias terjadi bila hasil cloning manusia itu di ajarkan pada hal-hal yang berada pada lingkungannya, termasuk seks. Lantas bagaimana jika Kate bertemu dengan Replikanya? Apalagi. ketika hammer hasil kloning itu meledak karena disuntikkan suatu zat. Max dan Hendri takut kalau replika Kate juga ikut hancur.

Replika Kate asli di sebuah departemen store. Adegan lucu tersajikan. Namun Kate baru tahu jika ada replikanya ketika Kate replika itu diculik. Dan cerita terus bergulir ke adegan komedi sampai sang Professor, Dr, Fromer di dalam Sebuah acara pidato penemuannya tentang penelitian cloning dengan bantuan hiper replikator, ternyata dikacau dengan munculnya replika dirinya yang tampil dengan gaya “Bloon”.

Lewat film ini, kita tak bisa” meniru untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, namun tidak berarti ” apa-apa bila dibandingkan dengan kekuasaanNya di dalam penciptaan.

Advertisements
Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: