JURNAL VOLUME 3

 

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

96
800×600

Normal
0

false
false
false

EN-US
JA
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;}

STUDI ARAHAN PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN

DAS LAWO KABUPATEN SOPPENG

 

Oleh : Syahriar Tato

 

Abstrak

Kerusakan sungai umumnya disebabkan oleh hilangnya hutan di daerah hulu sebagai akibat dari penebangan pohon yang tidak diikuti oleh peremajaan kembali, peladangan yang berlokasi di daerah pinggiran sungai serta terjadinya sedimentasi yang diakibatkan oleh erosi berkepanjangan tanpa adanya pengendalian dan dapat berakibat terjadinya luapan banjir yang pada akhirnya menggenangi daerah perumahan dan permukiman penduduk. Permasalahan utama yang mengakibatkan kerusakan lingkungan sungai sebagai akibat adanya permukiman di sekitar bantaran sungai tanpa memperdulikan aturan sempadan sungai. Perubahan status sosial ekonomi masyarakat dan kekurangmampuan sebagian warga diduga dengan sendirinya akan berdampak pada peningkatan intensitas untuk bermukim disekitar bantara sungai dengan harapan dapat membuka lahan perkebunan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Disisi lain dengan terbukanya lahan disekitar bantara sungai akan menyebabkan mudahnya terjadi penurunan (degradasi tanah) dan semakin tingginya tingkat erosi yang dapat ditimbulkan. Untuk menjaga DAS Lawo, maka diperlukan arahan pengelolaan dan pemanfaatannya.

 


A.    Pendahuluan

 

Daerah aliran sungai (DAS) merupakan suatu kawasan yang dibatasi oleh pemisahan topografi  yang menampung, menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang jatuh diatasnya kedalam suatu sistem pengaliran sungai atau tempat tertentu sesuai dengan kepentingan. Salah satu usaha pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan kaitannya dengan pengendlian aliran sungai adalah untuk memenuhi keselamatan penduduk dari bahaya ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Kondisi demikian disebabkan oleh rusaknya system tata lingkungan pada daerah aliran sungai, terutama pada bagian hulu. Daerah hulu yang merupakan pengatur lingkungan  (condition environment), telah terjadi kerusakan lingkungan, sepeti: perambahan hutan lindung, perubahan fungsi lahan dari hutan menjadi kebun campuran, dari kebun menjadi lahan pemukiman, yang berakibat terhadap tingginya aliran permukaan (run-off), air hujan yang jatuh hanya sebagian kecil yang meresap kedalam tanah, dimana sebagian besar mengalir di permukaan yang menuju kesungai sebagai badan air. penambangan Kondisi demikian diperparah oleh adanya Galian C didaerah aliran sungai bahkan dibadan sungai, sehingga membuat ekosistem sungai rusak. Dampak air yang ditimbulkan adalah rendahnya debit air yang masuk di daerah irigasi pada musim kemarau, yang mengakibatkan berkurangnya luas lahan budidaya dari tahun ketahun. Kondisi ini kalau di biarkan terus berlangsun akan berdampak terhadap menurunnya produksi terutama sektor pertanian, yang merupakan salah satu sektor andalan kabupaten soppeng. Salah satu sungai yang terdapat di Kabupaten Soppeng  adalah Sungai Lawo yang melintasi di empat Kecamatan yaitu Kecamatan Lalabata, Donri-Donri, Ganra dan Kecamatan Lilirilau, dengan luas kawasan DAS ± 17.104.45  Ha. Untuk meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan di DAS Lawo, maka perlu di lakukan suatu kajian guna menyusun rencana pengelolaan kaitannya dengan alokasi berbagai kegiatan budidaya dan non budidaya yang dapat di lakukan dalam a DAS Lawo, dengan tujuan kondisi debit air pada musim kemarau dan musim penghujan tidak terlalu jauh berbedah dan pada saat musim hujan DAS tersebut tidak menimbulkan banjir yang dapat merugikan. Disamping untuk mendapatkan hasil ekonomis yang optimal dari hasil kegiatan budidaya tanpa merusak ekosistem lingkungan DAS Lawo.

Proses Pengendalian DAS Lawo bertujuan untuk mewujudkan rasa aman dikalangan masyarakat yang hidup di daerah sekitar aliran sungai dan melestarikan ekosistem, flora dan fauna serta jenis-jenis biota yang hidup didalam sungai. Dengan demikian pengendalian daerah aliran sungai pada prinsipnya ditujukan untuk meminimalkan ancaman banjir, kerusakan ekosistem sungai, kelestarian fungsi sungai dan yang terpenting adalah  tuntutan hidup masyarakat dapat berjalan sesuai dengan koridor untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya, jauh dari bahaya yang dapat diakibatkan oleh luapan air sungai yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

B.    Tujuan dan Sasaran Penelitian

1. Tujuan  

Tujuan pelaksanaan penelitian  pengelolaan dan pemanfaatan DAS Lawo sebagai berikut: Untuk menentukan konsep pengelolaan DAS Lawo, sehingga terjadi kesimbangan antara daerah budidaya dan non-budidaya dan untuk mempertahankan dan memperbaiki lingkungan sistem hidrologis Sungai Lawo.

3.  Sasaran Pekerjaan

Sasaran yang ingin dicapai dalam pelaksanaan studi arahan pengelolaan dan pemanfaatan  DAS Lawo sebagai berikut :

(1)  meningkatkan stabilitas tata air,

(2)  meningkatkan stabilitas tanah,

(3)  meningkatkan pendapatan petani, dan

(4)  meningkatkan perilaku masyarakat ke arah kegiatan konservasi.

 

C.   Tinjauan Teoritis.

1.   Karakteristik DAS.

Air adalah salah satu sumberdaya alam yang memiliki sifat yang unik, dilihat dari kemampuannya untuk memugar diri (self restoring capability). Ditinjau secara setempat air dapat menyusut atau habis, akan tetapi secara keseluruhan air tidak akan habis selama faktor-faktor pembentuknya tetap ada dan tetap berfungsi. Air dapat disebut sebagai sumberdaya yang mengalir (flowing resources), sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai suatu “static resources”, tetapi sebagai suatu  “dynamic resources”,. Pada dasarnya DAS merupakan suatu wilayah yang menampung air, menyalurkan air tersebut dari suatu aliran ke seperangkat aliran tertentu dari hulu ke hilir dan berakhir di suatu tubuh/badan air bumi seperti danau atau laut.

DAS juga merupakan suatu gabungan sejumlah sumberdaya darat. Sumberdaya yang menjadi unsur suatu DAS ialah iklim, geologi atau sumberdaya mineral, tanah, air, flora dan fauna, manusia, dan berbagai sumberdaya budaya, sedemikian rupa sehingga DAS dapat dikatakan merupakan suatu sumberdaya yang bergatra ganda dan terdiri atas berbagai macam sumberdaya tunggal. Tiap sumberdaya pembentuk DAS memerlukan penanganan yang berbeda-beda tergantung pada watak, kelakuan dan kegunaan masing-masing.

 

2.     Pengelolaan DAS.

Pengelolaan DAS biasanya ditujukan kepada pengelolaan dua unsurnya yang dianggap penting, yaitu sumberdaya tanah dan sumberdaya air. Unsur-unsur lain seperti; iklim, vegetasi, dan manusia diperlakukan sebagai faktor-faktor dalam pengelolaan. DAS dapat dibagi menjadi dua satuan pengelolaan yakni satuan pengelolaan DAS hulu mencakup seluruh daerah tadahan atau daerah kepala sungai, dan satuan pengelolaan DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Pengolahan DAS hulu ditujukan untuk mencapai hal-hal berikut;

a)     Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha pengendalian banjir.

b)     Memperlancar infiltrasi air ke dalam tanah,

c)     Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud-maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia,

d)     Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimumkan produksi

Perlakuan terhadap DAS hulu merupakan bagian terpenting dari keseluruhan pengelolaan DAS karena hal itu akan menentukan manfaat-manfaat besar yang dapat diperoleh atau peluang yang terbuka dalam pengelolaan DAS hilir. Pada prinsipnya DAS hulu perlu dikelola dengan penekanan utama sebagai fungsi konservasi.

Perlakuan terhadap daerah hilir akan menentukan seberapa besar manfaat yang secara potensial dapat diperoleh dari pengelolaan daerah hulu akan benar-benar terwujud. Dengan kata lain, pengelolaan daerah hilir bertujuan meningkatkan daerah tanggapnya terhadap dampak pengelolaan DAS hulu. Pengelolaan DAS hilir dengan demikian mempunyai peranan melipatgandakan pengaruh perbaikan yang telah dicapai di DAS hulu. Menurut pandangan ekologis, maka daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang, atau lingkungan pengendali (conditioning environment)  dan daerah hilir sebagai daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumen. Seperti telah diuraikan sebelumnya, model matematik yang mewakili suatu sistem selalu meliliki unsur-unsur sebagai berikut (Mize and Cox, 1968): Berdasarkan hal tersebut diatas, jumlah air didalam tiap komponen input, output, dan laju transfer dapat dapat digambarkan dalam tabel 1.

 

Tabel: 1.

Keadaan Sistem Hidrologi DAS

Komponen

(1)

(2)

(3)

Banyaknya Komponen

X1

X2

X3

Input

a1

a2

a3

Output

Z1

Z2

Z3

Transfer ke Komponen

(1)

(2)

(3)

                                   (1)

F12

0

Transfer dari komponen (2)

F21

F23

                                   (3)

0

F32

 

 

3.     Tata Guna lahan dan Perilaku DAS.

Tata guna lahan memiliki keterkaitan dengan sumberdaya air DAS dalam beberapa aspek sebagai berikut;

a)     Tata guna lahan memberikan dampak terhadap curah hujan. Lahan yang penuh ditutupi kanopi pepohonan akan dapat meningkatkan curah hujan sekitar 5 – 6 %.

b)     Tata guna lahan berdampak besar terhadap kelembaban tanah. Lahan yang tertutup dengan pepohonan menyebabkan berkurangnya radiasi dan tiupan angin dipermukaan tanah, sehingga tanah menjadi lebih lembab.

c)     Tutupan kanopi pepohonan yang rapat dapat mengurangi debit banjir dengan periode ulang pendek, meningkatkan aliran dasar (base flow), serta meningkatkan pengisian air tanah.

d)     Pengolahan yang tidak tepat dapat meningkatkan erosi dan pengendapan sedimen, akibatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir menjadi berlipat ganda dan umur reservoir menjadi lebih pendek. Upaya penghijauan  dan konservasi lahan lebih efektif untuk pengurangan sidementasi dan debit air/banjir.

e)     Tata guna lahan juga memberikan dampak terhadap kualitas air.

4.     Hutan dan Pengaruhnya bagi Air.

a)     Ekosistem Hutan Alam

Struktur hutan yang masih utuh terdiri dari pohon-pohon yang sangat besar dan tinggi sampai kepada pohon-pohon Perdu dan tumbuhan yang merambat yang semuanya tersusun dalam lapisan tujuk yang rapat. Hutan yang masih utuh terdiri dari strata-strata atau lapisan-lapisan tajuk. Lapisan-lapisan tajuk ini terbentuk sebagai akibat dari persaingan dimana pada akhirnya jenis-jenis tertentu akan lebih dominan dari pada jenis yang lain. Pohon-pohon yang tinggi pada lapisan teratas akan mengalahkan pohon-pohon yang lebih rendah, dan merupakan jenis-jenis yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan.

b)     Peredaran Air.

1.     Intersepsi.

Intersepsi merupakan suatu proses dimana sebagian dari curah hujan  tertahan leh tajuk pohon dan sebagian besar diuapkan kembali ke udara. Air hujan yang ditahan oleh tumbuhan selain diuapkan kembali dari permukaan tanah, juga dalam jumlah yang kecil mungkin di absorbsi melalui daun ke dalam jaringan tanaman (Jeffrey, 1964).

Apabila jumlah dan intensitas curah hujan rendah, maka sebagian besar dari air hujan akan ditahan oleh tajuk dan langsung diluapkan kembali ke udara. Hal ini berarti  bahwa untuk curah hujan yang kecil, persentase yang diintersepsi akan besar. Sebaliknya apabila jumlah dan intensitas curah hujan besar maka persentase yang diintersepsi akan menjadi kecil. Dalam penelitian Malchanov (1963) pada tegakan spurce (Picea sp) yang lebat daunnya, ternyata dapat mengintersepsi lebih dari 68% curah hujan yang tidak lebat.

2.     Air Lolos (Throughfall)

Air lolos adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui lapisan tajuk. Sebelum mencapai permukaan tanah, air ini telah melalui suatu struktur lapisan tanah yang rapat, mulai dari lapisan pohon-pohon yang dominan sampai pada lapisan semak belukar dan serasah. Dengan demikian kecepatan dan besarnya butir-butir hujan yang mencapai tanah sudah sedemikian kecil sehingga tidak lagi merupakan bahaya bagi kerusakan tanah.

3.     Aliran Batang (Stemflow)

Aliran batang adalah bagian dari curah hujan yang mencapai permukaan tanah melalui batang pohon. Aliran batang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yang terpenting adalah architektur pohon, struktur tegakan (stratifikasi), kulit batang dan letak serta posisi daun.

Pengukuran stemflow pada suatu hutan selalu hijau yang rapat di Balnco (Huttel, 1962) pada petak seluas 300 meter persegi dengan 16 pohon yang masing-masing dipasangi saluran plastik berbentuk spiral pada dasar batang menunjukkaan bahwa aliran batang kurang dari 1% air lolos (UNESCO, 1978).

4.     Penguapan (Evapotranspiration)

Penguapan merupakan proses perubahan face cair menjadi uap. Proses ini berlangsung pada berbagai permukaan air, tanah tanaman untuk kemudian terlepas ke atas atmosfir sebagai uap air. Laju penguapan sangat dipengaruhi oleh radiasi, suhu, kelembaban, kecepatan angin, tekanan udara di atmosfir dan jumlah air yang tersedia untuk diuapkan. Dikemukakan selanjutnya bahwa terdapat korelasi antara evatranspirasi total dengan kedalaman akar. Perakaran yang dalam dari jenis-jenis pohon menyebabkan evapotranpirasi lebih besar dibandingkan  dengan jenis-jenis  herbal yang mempunyai perakaran dangkal. Hal ini sangat penting  diperhatikan dalam menentukan luas hutan lindung didaerah-daerah dengan ketinggian yang tinggi. Hubungan ketinggian dan evapotranspirasi telah diukur seperti tabel di bawah ini :

 

Tabel 2.

Evapotranspirasi pada berbagai ketingggian

Ketinggian

(m, dpl)

0

500

1.000

1.500

2.000

2.500

3.000

Evapotransp.

mm/hr

4,36

3,79

3,29

2,85

2,49

2,16

1,85

Evapotransp

mm/tahun

1.590

1.380

1.200

10,40

9,10

7,90

6,80

Sumber :  Ramsay, D.M. (ed). 1976..

 

D.    Gambaran  DAS Sungai Lawo

1.     Topografi

Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl, bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl, dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl. Wilayah DAS Sungai Lawo, lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0% hingga lereng > 45%. Untuk kemudahanya lereng dikelompokkan menjadi 5 kelas, yaitu: Lereng 0 – 7%, Lereng  8 – 15%, Lereng 15 – 25%, lereng 26 – 45% dan Lereng > 45%. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S), dan panjang lereng > 50 m.

 

2.     Geologi dan Jenis Tanah

Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua, gromosol, mediterian coklat, mediterian coklat regosol, dan litosol yang tersebar dari hulu – hilir. Sedangkan tekstur tanah berfariasi dari hulu – hilir DAS. Bagian hulu DAS tekstur tanah antara lain: lempung berpasir dan liat berpasir. Tengah DAS antara lain: liat berpasir dan lempung berpasir. Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain: lempung berpasir, lempung berliat, dan liat.

 

 

3.     Hidrologi dan Klimatologi

Kondisi hidrologi DAS lawo berdasarkan data dari Dinas PSDA Kabupaten Soppeng  debit sungai rata-rata per 15 Agustus 2007  adalah 427, 64 (L/det). Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai  berfariasi antara 8 – 30 m, kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik, sedangkan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS lawo berupa genangan permanen, priodik, dan temporer. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama  disekitar pinggiran danau tempe. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan.

Temperatur udara di Kabupaten Soppeng berada  sekitar ± 24 0  sampai 30 0 . Keadaan angin berada pada kecepatan lemah sampai sedang. Curah hujan Kabupaten Soppeng pada tahun 2005 berada pada intensitas 90,54 mm dan 9,9 hari hujan/bulan. Rata-rata curah hujan menurut bulan di Kabupaten Soppeng tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu 295 mm dan yang terendah yakni bulan Agustus dan Oktober yakni 0 (tidak hujan), sedang rata-rata hari hujan di Kabupaten Soppeng tertinggi bulan April 19,6 hari dan terendah bulan Agustus dan Okotober yakni 0 (tidak hujan). Kondisi ini menyebar merata keseluruh wilayah Kabupaten Soppeng, termasuk wilayah DAS Lawo.

 

4.     Erosi dan Sedimentasi

Aktifitas penduduk didaerah sekitar DAS secara tidak terkendali akan memberikan dampak terhadap perubahan kondisi fisik sungai terutama dalam bentuk erosi dan transpor sedimentasi dan akan berlanjut dengan proses pendangkalan dibagian dasar sungai sehingga akan mempengaruhi pola aliran air sungai baik di bagian hulu, tengah, maupun di bagian hilir DAS. Kondisi DAS sungai lawo terutama dalam bentuk erosi dan sedimentasi, dimana bagian hulu DAS ditemukan beberapa bagian sungai yang sudah mengalami perubahan fisik dalam bentuk erosi.

 

5.     Struktur dan Tipologi DAS

§  Daerah Hulu DAS

Karakteristik hulu DAS Lawo secara umum merupakan kawasan hutan lindung yang memiliki kerapatan hutannya baik dan sampai saat ini masih tetap dipertahankan fungsi hutannya terutama penduduk yang bermukim disekitar hulu DAS  sebagai kawasan yang dapat memberikan perlindungan dibagian hulu hingga hilir DAS, namun di beberapa bagian sungai terutama kondisi fisik sungai telah mengalami perubahan alur sungai yang dapat mempengaruhi pola aliran air sungai yang tidak mengikuti  alur sungai yang sebenarnya di mana aliran air mengalir dibagian kiri kanan sungai dan membentuk delta di bagian tengah sungai.

§  Daerah Tengah DAS

Bagian tengah DAS  merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS, kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS, sehingga dalam proses penanganannya perlu diperhatikan  pula guna menjaga keberlangsungan hubungan antara hulu, tengah, dan hilir DAS dalam menjalankan fungsi hidrologinya.  Kondisi fisik bagian tengah DAS, dibeberapa tempat  telah mengalami perubahan dalam bentuk alur air sehingga air tidak mengalir di bagian tengah sungai, bahkan terjadi kering di bagian tengah sungai.

§  Daerah Hilir Das

Kondisi bagian hilir DAS Lawo dari segi fisik sungai umumnya sudah mengalami degradasi  terutama dalam bentuk sedimentasi. kondisi ini dibiarkan berlanjut terus menerus maka akan berlanjut dengan proses pendangkalan di bagian tengah sungai dan akan mengganggu keberlangsungan ekosistem pada hilir DAS itu sendiri.

 

E.  Analisis Wilayah DAS Lawo

1.     Analisis geomorfologis

Ketinggian merupakan salah satu faktor fisik yang berpengaruh terhadap suhu udara. Ketinggian di wilayah hulu DAS Lawo ± 100 meter dpl, bagian tengah DAS ± 180 – 500 meter dpl, dan bagian hilir DAS ± 32 meter dpl.Wilayah DAS Sungai Lawo, lereng/kemiringan berkisar dari lereng 0 – 7% hingga lereng > 45%. Sedangkan bentuk lereng memanjang (U – S), dan panjang lereng > 50 m, sebagaimana pada tabel 3.

 

Tabel: 3.

Klasifikasi dan Luas Lereng di Wilayah DAS Lawo

 

   No

Klasifikasi

Luas

(Ha)

%

1

0 – 7

11.863,92

69

2

8 – 15

486,34

3

3

16 – 25

2.502,46

15

4

25 – 45

1.391,19

8

5

>45

860,54

5

Jumlah

17.104. 45

100

Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan 2007

 

Apabila dianalisis lebih lanjut maka kondisi lereng 0 – 7% sebagian besar penutupan lahannya adalah sawah dan rawa, sehingga untuk pemanfaatan lahannya dapat diperuntukan sebagai budidaya lahan kering ataupun lahan basa dan permukiman. Lereng 8 – 15% sebaiknya diperuntukan sebagai budidaya lahan kering atau lahan basah. Lereng 16 – 25% pemanfaatannya sebaikknya sebagai budidaya tanaman tahunan/tanaman semusim jenis vegetasi berupa cengkeh, kopi, cokelat, dan lainnya vegetasi tersebut berfungsi sebagai jalur hijau juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Lereng 25 – 45% vegetasinya tetap dipertahankan selain itu juga dapat di manfaatkan sebagai budidaya tanaman tahunan yang berbasis pada huta rakyat, agrovorestri dan hutan kemasyarakatan. Sedangkan lereng  >45% vegetasinya tetap dipertahankan dan dilestarikan, karena berfungsi sebagai kawasan penyangga, pengaturan tata air, dan kawasan lindung, selain itu juga kondisi lereng ini dapat terjadi tanah longsor sehingga kelestariannya tetap dijaga.

 

2.     Analisis geohidrologis.

Geohidrologis dimaksudkan untuk mengetahui kondisi berupa kerapatan drainase, debit air sungai, dan genangan. Analisis ini sebagai dasar indikator dalam mengetahui kondisi hidrologis wilayah DAS Lawo, guna merumuskan strategi penanganan dan arahan pemanfaatannya.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dimana lebar badan sungai  berfariasi antara 8 – 30 m, kecepatan air rata-rata 41 – 54 detik, dan kedalaman sungai antara 10 – 100 cm. sedangkan genangan yang terjadi di wilayah DAS Lawo berupa genangan permanen, priodik, dan temporer. Genangan sebagian besar terjadi dibagian hilir DAS terutama  disekitar pinggiran danau tempe. Sedangkan di bagian hulu DAS tidak terdapat genangan. Kerapatan drainase adalah panjang aliran sungai per kilometer persegi luas DAS seperti tercantum dalam rumus di bawah ini:

Dd =  L/A

 

 

 

 

 

Dd=  Kerapatan Drainase (km/km)

=  Panjang Aliran Sungai (km)

A  =  Luas DAS (km2)

 

Dari hasil analisis yang dilakukan diperoleh kerapatan drainase wilayah DAS Lawo adalah 0,386 km/km. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sistem pengaliran (drainase) DAS Lawo dalam kondisi sudah terganggu (tidak normal), artinya jumlah air larian total semakin besar, sehingga tingkat infiltrasi yang terjadi di wilayah DAS Lawo akan semakin kecil. Kondisi ini perlu adanya upaya-upaya penanganan yang harus dilakukan seperti pemantapan fungsi kawasan lindung terutama penghijauan kembali pada daerah-daerah yang kategori vegetasinya sudah dalam kondisi yang tidak diharapkan, serta pengaturan kembali pola penggunaan lahan di wilayah DAS lawo guna menghindari kemungkinan dampak negatif yang akan terjadi. Sedangkan dari data yang diperoleh maka Besarnya kecepatan permukaan aliran sungai (Vperm dalam m/dt) dapat dihitung dengan rumus:

 

Vperm = L/t

 

 

 

 

 

L Jarak Antara dua Titik Pengamatan (m)

t  =  Waktu Perjalanan Benda Apung (detik)

 

Dari hasil perhitungan diatas maka diperoleh kecepatan permukaan aliran sungai rata-rata adalah 1,06 m/dt. Berdasarkan data di atas dan hasil perhitungan kecepatan permukaan aliran rata-rata maka besarnya debit air dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Bernoulli  atau sering juga dikenal sebagai the continuity equation. Pada persamaan ini nilai Q diperoleh dari perkalian antara kecepatan aliran V (m/dt) dan luas penampang melintang A (m2) atau secara matematis:

Q = A V

 

 

 

 

 

Q =   Debit (m3/dt)

A =   Kecepatan Aliran (m/dt)

V =  Luas Penampang Melintang   (m2)

 

Dari hasil analisis yang dilakukan maka diperoleh debit air rata-rata DAS Lawo adalah 9,328 m3/dt.

 

Tabel: 4.

Jenis dan Luas Genangan di Wilayah DAS Lawo

 

No

Jenis Genangan

Luas (Ha)

1

Permanen

76,53

2

Periodik

845,46

3

Temporer

307,13

4

Non Genangan

15.875,33

          Jumlah

17.104.45

Sumber: Hasil Analisis Tim Perencanaan  2007.

 

 

3.     Analisis Jenis Tanah

Wilayah DAS Lawo terdapat jenis tanah Alluvial kelabu tua, gromosol, mediterian coklat, mediterian coklat regosol, dan litosol yang tersebar dari hulu hingga hilir. Sedangkan tekstur tanah bervariasi. Bagian hulu dan tengah DAS tekstur tanah berupa lempung berpasir dan liat berpasir.  Sedangkan tekstur tanah di bagian hilir DAS antara lain lempung berpasir, lempung berliat, dan liat.

Bagian hulu DAS terdapat jenis tanah mediterian coklat regosol dan litosol, jenis tanah ini mudah tererosi karena teksturnya berupa pasir berlempung sehingga penutupan lahannya harus tetap di jaga untuk menjaga agar tidak terjadi erosi/tanah longsor. Bagian tengah DAS terdapat jenis tanah gromosol dan mediterian cokelat. Di mana jenis tanah ini adalah jenis tanah subur, karena mempunyai lapisan atas/soluin tanah yang dalam ± 100 cm, sehingga memungkinkan untuk budidaya tanaman jangka panjang. Sedangkan jenis tanah yang terdapat di bagian hilir DAS adalah alluvial kelabu tua. Jenis tanah ini merupakan hasil dari proses endapan lumpur dari hasil sedimentasi yang terjadi, sehingga sifatnya relatif subur, yang sesuai untuk lahan/kegiatan budidaya lahan basah.

 

4.     Analisis Geologi

Berdasarkan pengamatan tim dilapangan ditemukan beberapa titik yang terdapat erosi dan longsor terutama  di bagian hulu DAS yang mempunyai kelerengan kisaran 25 sampai >40, kondisi ini diduga sebagai akibat lemahnya struktur geologi, dan keberadaan vegetasi kurang mengimbangi kondisi struktur geologi yang ada sehingga mudah terjadinya erosi dan longsor. Hal ini perlu adanya upaya penanganan berupa pemilihan jenis vegetasi yang akan dibudidayakan harus memiliki sistem perakaran yang dapat mendukung struktur geologi yang ada.

5.  Analisis Potensi SDA

a.  Analisis SDA Kehutanan

Pada kawasan hulu DAS status hutan sebagian besar adalah hutan lindung, sehingga kedepan kawasan hutan tersebut tetap dijaga dan dilestarikan, karena kawasan ini merupakan daerah resapan dan penyimpanan air, disisi lain kerapatan pohon sudah mulai berkurang, disebabkan karena terjadinya penebangan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan belum sadar akan pentingnya pelestarian hutan, sehingga masyarakat perlu diberikan pemahaman tentang fungsi pelestarian lingkungan disekitarnya, dan harus dipertegas dengan aturan yang ada, dimana bagi oknum masyarakat yang merusak kawasan hutan tanpa memiliki dasar yang jelas harus diberikan sanksi berdasarkan peraturan yang berlaku.  Sedangkan pada kawasan DAS tengah dan hilir DAS seluruh kawasan bukan hutan lagi melainkan kawasan budidaya, sehingga pemanfaatan lahan di daerah tersebut harus memperhatikan kaidah-kaidah konservasi agar pemanfaatannya  tidak merusak lingkungan ekosistem wilayah DAS.

b.  Analisis SDA Pertanian

Pembukaan lahan pertanian di wilayah daerah aliran sungai (DAS) harus dilakukan dengan tetap  memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lingkungan sehingga tidak akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan seperti erosi, pencemaran air, perubahan siklus hidrologi, dan meningkatnya laju sedimentasi. Kegiatan pertanian lahan basah adalah kegiatan pertanian yang memerlukan air terus menerus sepanjang tahun, dengan komoditas utamanya adalah padi sawah (wetland rice). Pertanian lahan basah memerlukan kedalaman efektif tanah minimal 60 cm. Produktifitas dan kualitas mutu panen cenderung menurun bila kedalaman efektif tanah menurun. batas ambang kedalaman efektif tanah ini adalah 30 cm. Sedangkan tekstur tanah yang terbaik bagi jenis pertanian lahan basah adalah tanah yang berliat, berdebu halus, sampai berlempung halus. Tanah yang berkuarsa sangat tidak sesuai untuk pengembangan pertanian kecuali kandungan kuarsanya sedang. Dari hasil analisis yang dilakukan di wilayah DAS Lawo, terdapat penyebaran lahan yang sesuai bagi pengembangan budidaya pertanian lahan basah, terutama dalam hal tekstur tanah dan kedalaman efektif tanah.

 

c. Analisis Sumberdaya Air

Potensi Sungai Lawo sebagai sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan perlu dikelola dengan baik terutam dalam hal pengaturan berbagai pemanfaatan lahan yang ada disekitar Sungai Lawo agar dampaknya  tidak mengganggu kondisi hidrologi sungai baik dari segi fisik sungai, kuantitas, maupun kualitas air, sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan seperti sumber air bersih, pertanian, perikanan, peternakan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

 

6.  Analisis Aliran Sungai Lawo

a.  Analisis DAS Hulu

Bagian hulu DAS biasanya memiliki karakteristik antara lain; merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase  tinggi, kelerengan diatas 15 %, bukan daerah banjir, jenis vegetasi adalah tegakan hutan. Pemanfaatan potensi sumberdaya hutan dan sumber daya lahan berupa perambahan hutan dan perladangan di suatu wilayah DAS yang cenderung meningkat tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi akan memberikan dampak positif terhadap DAS dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat penyediyaan sumber air dapat terganggu. Kondisi hulu DAS Lawo umumnya didominasi oleh kawasan hutan lindung yang berperan penting dalam mendukun proses hidrologi DAS masih tetap terjaga, namun kenyataannya terdapat adanya perambahan hutan yang kemudian dijadikan sebagai perladangan masih tetap terjadi. Untuk itu perlu adanya  tindakan berupa sosialisasi yang diberikan kepada masyarakat agar masyarakat menyadari pentingnya fungsi hutan dan bahaya terjadinya kerusakan lingkungan berupa erosi dan tanah longsor.

 

b.  Analisis DAS Tengah.

Pemanfaatan potensi  sumberdaya lahan seperti perladangan tanpa mengikuti kaida-kaidah konservasi tanah dan air misalnya penggunaan input (pupuk dan pestisida) yang berlebihan akan berimplikasi langsung terhadap kandungan unsur pada tanah dan akan berpengaruh kepada daya dukung tanah sehingga tanah mudah tererosi dan juga berpengaruh terhadap penurunan kualitas air tanah, juga penebangan vegetas di daerah pinggiran sungai untuk perluasan areal perladangan dapat memberikan tingkat erosi yang terjadi di wilayah DAS.

Aktifitas penduduk di sekitar bantaran sungai yang cenderung meningkat tanpa memperhatikan kaidah-kaidah konserfasi tanah dan air, akan menimbulkan berbagai problem lingkungan seperti erosi yang dapat mempengaruhi produktifitas lahan, dan  memberikan dampak terutama di daerah hilir DAS dalam bentuk transpor sedimentasi yang akan mengganggu sistem hidrologi DAS. 

 

c.  Analisis DAS hilir.

Karakteristik hilir DAS memiliki ciri antara lain; merupakan daerah pemanfaatan, kerapatan drainase kecil, kelerengan dibawah 8 %, dibeberapa daerah merupakan daerah banjir, pemakaian air diatur oleh bangunan irigasi, jenis vegetasi didominasi oleh tanaman pertanian.

Bagian hilir DAS disamping sebagai daerah pemanfaatan juga sebagai daerah penadah tentunya akan menanggung berbagai resiko yang terjadi di suatu wilayah DAS. Banjir yang terjadi di wilayah DAS lawo umumnya terdapat di bagian hilir DAS, dimana pada musim hujan banjir dapat merusak areal persawahan bahkan sampai ke pemukiman penduduk, tinggi banjir yang terjadi ± 1 m.

Sedimentasi sebagai hasil dari proses erosi yang terjadi di DAS dapat menyebabkan terjadinya pendangkalan pada sungai, bendungan, waduk, saluran-saluran irigasi, dan muara-muara sungai karena adanya sedimentasi ditempat tersebut. 

Berdasarkan kondisi di atas maka perlu adanya upaya-upaya yang harus dilakukan seperti pengaturan berbagai aktifitas terutama di wilayah hulu DAS agar tidak mengganggu fungsi kawasan hutan lindung, dan peningkatan fungsi sistem irigasi yang ada, serta pengaturan penggunaan air irigasi agar dapat mengairi semua sawah yang ada di wilayah  DAS Lawo secara umum dan khususnya wilayah hilir DAS sebagai daerah pemanfaatan berbagai aktifitas.

 

7.  Analisis Pengemb. Wisata.

a.     Pengembangan Wisata Air.

DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS  memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air, potensi ini dapat dilakukan melalui upaya pembangunan waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu, disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) berdasarkan daya dukung kawasan.  

 

b.     Pengembangan Agrowisata

Pengembangan agrowisata pada suatu lokasi perlu dilakukan kajian lokasi secara matang, seperti;  (i) pemilihan berdasarkan Karakteristik alam, dan (ii) Pemilihan berdasarkan potensi wilayah. Aktifitas penduduk di wilayah DAS lawo yang pada umumnya adalah petani, dengan memanfaatkan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan kebiasaan (massangki) dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi, serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo.

 

c.  Pengembangan Ekowisata.

DAS Lawo terutama di bagian hulu DAS, memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata. Hal ini di tandai dengan adanya berbagai keunggulan-keunggulan yang dimiliki berupa keindahan alam pegunungan,  keberadaan satwa, salah satunya adalah monyet yang tersebar khususnya di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat setempat dan lingkungan ekologis di DAS Lawo agar lebih lestari.

 

F.  Strategi Pengelolaan dan Pemanfaatan DAS Lawo

1. Arahan Strategi Penanganan DAS.

Mengacu pada PP No. 22 tahun 1982 tentang tata pengaturan air, dinyatakan bahwa pendekatan dalam pengembangan, perlindungan dan penggunaan sumberdaya air didasarkan atas pendekatan wilayah sungai. DAS sendiri merupakan suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah yang mengalir dari permukaan tanah ke sungai dari hulu hingga hilir, yang akan banyak dipengaruhi oleh kondisi vegetasi  pada setiap bagian dari daerah alirsan sungai tersebut.

 

a.  Strategi Penanganan DAS Hulu

Berdasarkan aspek ekologi daerah hulu dikelola sebagai daerah penyumbang (donor) atau sebagai lingkungan pengendali (conditiong environment). DAS hulu merupakan seluruh daerah tadahan/kepala sungai, proses penanganan ini berupa;

§  Meningkatkan kemampuan fungsi retensi DAS hulu terhadap aliran permukaan melalui pemantapan fungsi kawasan lindung.

§  Mengendalikan aliran permukaan lebih yang merusak sebagai usaha mengendalikan banjir.

§  Memperlancara infiltrasi air ke dalam tanah.

§  Mengusahakan pemanfaatan aliran permukaan untuk maksud yang berguna bagi kesejahteraan manusia.

§  Mengusahakan semua sumberdaya air dan tanah untuk memaksimalkan produksi.

§  Mempertahankan dan melestarikan hutan lindung yang terdapat di satuan pengelolaan DAS Hulu.

§  Meminimalisir tingkat erosi dan longsor yang terjadi melalui pendekatan Eko-Enggineering dengan memanfaatkan vegetasi setempat.

 

b.  Strategi Penanganan DAS Tengah                                                                                                                                                        

Bagian tengah DAS  merupakan daerah transisi antara bagian hulu dan hilir DAS, kaitannya dengan hubungan antara bagian hulu dan hilir DAS melalui daur hidrologi tidak terlepas dari peranan bagian tengah DAS, dengan strategi berupa;

§  Meningkatkan fungsi retensi DAS tengah melalui pengembangan prasarana pengairan berupa waduk tangkap dalam menahan air yang mengalir dari arah hulu DAS, serta menjaga keberadaan vegetasi sekitarnya dalam membantu kemampuan retensi  terhadap aliran permukaan.

§  Menentukan dan menyesuaikan jenis budidaya yang dapat dikembangkan pada setiap unit lahan.

§  Menentukan sistem budidaya yang dapat dilakukan pada setiap permukaan lahan.

§  Mencegah atau mengendalikan banjir dan sedimentasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan.

 

c. Strategi Penanganan DAS Hilir

Berdasarkan tinjauan aspek ekologi, DAS hilir merupakan daerah penerima (acceptor) atau lingkungan konsumsi. DAS hilir mencakup seluruh daerah penyaluran air atau daerah bawahan. Proses penanganannya berupa;

§  Mencegah atau mengendalikan banjir dan sidementasi sehingga tidak merusak atau menurunkan kemampuan lahan.

§  Meningkatkan daya guna air dari sumber-sumber air tersedia.

§  Memperbaiki pengaturan pemanfaatan lahan untuk meningkatkan kemampuan lahan.

§  Meliorasi tanah dan kalau perlu dilakukan  reklamasi tanah.

2.  Arahan Pemanfaatan Lahan.

a.  Rencana Kawasan Lindung.

Sebagai kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, terdapat dibagian hulu DAS yaitu berupa kawasan hutan lindung. Luas kawasan lindung yang merupakan kawasan DAS hulu seluas 860,56 hektar dengan vegetasi adalah hutan, sedangkan  DAS hulu yang merupakan daerah lindung namun vegetasinya bukan hutan, maka harus dihutankan kembali dengan vegetasi tanaman yang sesuai seperti kemiri dan sukun. Dengan tujuan disamping bernilai lingkungan juga bernilai ekonomis.

Kawasan Perlindungan setempat meliputi garis sempadan sungai, waduk tangkap, dan kawasan sekitar mata air, dimana proses pengaturannya dilakukan mulai dari hulu hingga ke hilir DAS Lawo.

b.  Rencana Pemanfaatan Budidaya.

Berdasarkan potensi yang terdapat di wilayah DAS Lawo terutama potensi pertanian yang dominan, maka dilakukan rencana pemanfaatan kawasan budidaya yang meliputi budidaya lahan kering dan lahan basah.

 

·  Budidaya Lahan Kering.

Arahan pemanfaatan lahan dengan kegiatan budidaya lahan kering, merupakan jenis tanaman yang dapat dibudidayakan seperti kelapa dalam, kemiri, bambu, kakao, kopi, dan lainnya. Pengembangannya  diarahkan di daerah DAS tengah, sedangkan di daerah hulu DAS bisa dikembangkan jenis budidaya berupa kemiri, jambu mente, lada, dan tembakau, namun harus memperhatikan keberadaan kawasan hutan lindung yang ada sehingga tidak terganggu fungsi lindungnya.

·  Budidaya Lahan Basah.

Berdasarkan pola penyebaran jenis tanah terutama dalam hal tekstur dan kedalaman efektif tanah, maka jenis budidaya pertanian lahan basah (padi sawah) pengembangannya terutama diarahkan di daerah hilir dan di daerah tengah DAS. 

 

3.  Arahan Prasarana Lingkungan.

a.  Rencana Pengembangan Waduk.

Prasarana lingkungan berupa waduk tangkap, rencana pengembangannya diarahkan pada daerah perbatasan antara hulu dan tengah DAS, dimana lokasi ini sebelumnya masuk dalam rencana pembangunan waduk tangkap, namun dalam rencana ini diupayakan agar waduk tersebut selain berfungsi untuk menunjang kegiatan seperti pertanian dan berbagai pemanfaatan lainnya juga berfungsi sebagai tempat wisata yang berskala lokal.

b.  Rencana Irigasi.

Sedangkan prasarana irigasi, diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi dominan berupa jenis pertanian lahan basah terutama di daerah hilir dan tengah DAS, dengan mempertimbangan kapasitas sistem irigasi yang ada sehingga dapat mengaliri semua areal sawah. 

 

4.  Arahan Prasarana Wisata.

a.  Pengembangan Wisata Air.

DAS Lawo khususnya di bagian hulu DAS  memiliki potensi air yang masih mengalir sepanjang tahun dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata air. Pengembangan wisata ini diarahkan pada daerah yang memiliki potensi untuk dibangun prasarana air berupa waduk tangkap yang fungsinya menampung air yang berasal dari bagian hulu, disamping untuk kebutuhan sistem irigasi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pariwisata (wisata air) dengan berdasarkan kepada daya dukung kawasan. 

 

b.  Pengembangan Agrowisata.

Prospek pengembangan agrowisata di wilayah DAS Lawo mempunyai peluang yang baik mengingat potensi yang ada sangat beragam dan khas. Perpaduan antara kekayaan komoditas agraris dengan bentuk keindahan alam dan budaya masyarakat setempat merupakan kekayaan obyek wisata yang amat bernilai. Aktifitas penduduk di wilayah DAS Lawo yang pada umumnya adalah petani, cenderung terdapat di daerah tengah dan hilir. Dengan demikian pengembangan agro wisata diarahkan di daerah tengah dan hilir DAS, dengan memanfaatkan potensi pertanian yang ada dan kebiasaan masyarakat dalam melakukan kegiatan pertanian seperti pada waktu tiba musim panen padi dikenal dengan ”massangki” dimana masyarakat berkelompok untuk memanen padi, serta bentuk keindahan alam tentunya sangat memiliki potensi untuk pengembangan Wisata Agro di wilayah DAS Lawo.

 

c.  Pengembangan Ekowisata.

Ekowisata merupakan kegiatan pariwisata atau wisata terbatas yang memanfaatkan tatanan, nilai dan fungsi ekologi sebagai obyek dan tujuan kepariwisataan. Konsep ini lahir akibat keprihatinan dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan yang terancam oleh pembangunan, serta ekowisata menjadi alat bagi penyadaran terhadap upaya pelestarian lingkungan yang tidak mungkin mengorbankan masyarakat yang tinggal dan hidup didalam atau sekitar kawasan lingkungan.

Pengembangan ekowisata DAS Lawo diarahkan pada daerah-daerah yang memiliki potensi pengembangan, terutama di bagian hulu DAS, memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata yang meliputi keindahan alam pegunungan,  keberadaan satwa liar, salah satunya adalah monyet yang tersebar di wilayah hulu DAS Lawo serta potensi lain yang dapat dikembangkan dalam mendukung pengembangan potensi ekowisata dengan memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat dan lingkungan ekologis di wilayah DAS Lawo agar lebih lestari.

 

5.  Arahan Sistem Permukiman.

a.   Areal Permukiman di Daerah Hulu.

Keberadaan pemukiman di daerah hulu DAS perlu diperhatikan agar tidak mengganggu fungsi kawasan lindung. Agar tidak mengganggu fungsi kawasan dan wilayah DAS secara keseluruhan, maka diperlukan upaya-upaya  penanganan pelarangan perluasan kawasan pemukiman serta penyiapan lokasi pemukiman yang layak dalam berbagai aspek agar penduduk setempat dapat direlokasi ke tempat yang disiapkan.   

b.  Areal Permukiman di Daerah Hilir.

Penanganan pemukiman di luar daerah hulu diarahkan terutama pada daerah tengah dan hilir DAS, dimana proses penanganannya berupa pengaturan garis sempadan sungai, larangan pembuangan sampah ke dalam sungai serta pengaturan fungsi kawasan lainnya yang dapat dilakukan agar penduduk dapat terhindar dari berbagai resiko lingkungan berupa banjir dan erosi agar lingkungan wilayah DAS dapat terjaga dalam mendukung berbagai pemanfaatan.

 

G.   Rekomendasi.

Berdasarkan hasil kajian DAS Lawo, maka terdapat beberapa rekomendasi yang harus dilakukan untuk dapat mengelola dan melindungi DAS Lawo, sehingga dapat lebih berkelanjutan, sebagai berikut;

1)    Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus dilakukan secara terpadu, karena berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 kawasan DAS merupakan kawasan strategis lingkungan yang senantiasa harus dilindungi.

2)    Diprediksi DAS Lawo sepuluh tahun kedepan, apabila tidak dilakukan perbaikan dan perlindungan DAS Lawo, maka akan terjadi kerusakan yang lebih parah.

3)    Masyarakat yang bermukim dalam kawasan lindung, seharusnya direlokasi pada suatu tempat dalam bentuk transmigarasi lokal.

4)    Untuk dapat mempercepat implementasi, maka sebaiknya dilakukan sosialisasi, terutama kepada masyarakat yang bermukim dalam wilayah DAS Lawo.

5)    Pengelolaan dan perlindungan DAS Lawo harus menjadi komitmen bersama seluruh stakeholder.

6)    Pembangunan Waduk tangkap, harus memperhatikan kepemilikan lahan yang termasuk dalam areal rencana waduk, sehingga dapat dilakukan lebih manusiawi.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Asdak, C., 2004. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

 

Asdak, C., 1990. Biophysical relationships needed to perform economic evaluation of watershed management program, Padjajaran University Press, Bandung.

 

Brooks, K.N., P.F. Folliott, H.M., 1994. Policies for sustanaibel Development. The role of watershed management. The environment and natural resources policy adn training project. New York.

 

Black, P.E., 1991. Watershed Hydrology. Prentice Hall, Englewood  Cliffs, New Jersey.

 

Easter, K.W., 1985. Integrated watershed management research for developing countries. East- West center Worshop report. Honolulu H.I.

 

Gray, D.M., 1970. Handbook on the principles of hydrology, National Research Council of Canada.

Sungai

X3

Vegetasi

X1

 

Advertisements
Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: