RUMAH TRADISIONAL SULAWESI SELATAN

MENGENAL RUMAH TRADISIONAL

          DAERAH SULAWESI SELATAN

                  

                    * Syahriar Tato*

 

A.Kebudayaan dan Arsitektur Tradisional.

Manusia beraktifitas mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan dimuka bumi ini, berbekal kemampuan berfikir secara ”metaforik” serta memanfaatkan seluruh indranya. Kemampuan berfikir secara “metaforik” itu terwujud dalam kreativitas penciptaan berbagai “symbol”, berisi ungkapan makna yang digunakan ketika berkomunikasi menyampaikan pesan, kesan, harapan, pengalaman, bahkan ungkapan perasaan kepada sesamanya.

Komunikasi secara simbolik itu dilakukan dengan efektif, etis dan manusiawi untuk membangun kesepahaman. Dengan menggunakan simbol-simbol  yang diciptakannya, manusia dapat saling berhubungan baik secara langsung maupun tidak, hingga pergaulannya kemudian semakian luas hingga menembus batas antar personal, komunitas, etnis, nasion bahkan generasi pada suatu skala “interaksi” sosial budaya.

Ketika interaksi sosial budaya suatu masyarakat semakin luas maka kian beragam dan kompleks jaringan yang dilakoninya. Semakin tinggi intensitas interaksi sosial budaya yang dikembangkan oleh suatu komunitas lokal dalam pergaulannya dengan komunitas diluarnya, maka semakin besar pula peluang masyarakat tersebut untuk mengembangkan “kebudayaan”-nya. Sebaliknya semakin terisolir suatu komunitas dari lintasan orbitasi sosial budayanya, atau  semakin mereka menutup diri dari pergaulan dengan luar komunitasnya, maka semakin kuat pula hambatan yang dihadapi dalam mengembangkan “budaya”nya.

Kini, dimasa interaksi sosial budaya masyarakat semakin luas dan terbuka, mengarahkan mereka menuju suatu keadaan imajiner, dimana masyarakat semakin mengabaikan batas geografis, etnografis, negara bahkan bangsa.

Ralp Linpton seorang antropolog kenamaan Amerika menyatakan bahwa didunia ini tidak ada lagi masyarakat yang berhak menyatakan bahwa “kebudayaannya” masih asli. Selebihnya merupakan hasil tukar menukar dan pinjam meminjam unsur kebudayaan yang diserap secara murni ataupun dimodifikasikan. Demikian pula sebagian besar pengembangan unsur kebudayaan “setempat” biasanya merupakan pengembangan yang diilhami oleh pengaruh kontak “budaya” dengan pihak luar.

Di Indonesia, perkembangan semangat demokrasi dan reformasi menjadi fenomena  umum yang turut mendorong terjadinya pola interaksi sosial budaya baru. Masyarakat semakin terbuka. Suka tidak suka, perkembangan demokrasi dan reformasi tersebut telah mendorong pengaruh yang memberi dampak positif sekaligus negatif. Perkembangan positif yang telah terjadi adalah berkembangnya keterbukaan, transparansi, penegakan hukum dan hak azasi, memberi warna dan nuansa baru dalam tatanan pergaulan dan kehidupan kemasyarakatan, baik di tingkat lokal, regional maupun global. Sebaliknya, dampak negatif juga pasti terjadi, karena meningkatnya transportasi dan informasi yang mengantarkan “budaya” baru. Bila tidak ada filterisasi dan proteksi secara dini, keterbukaan dapat mengakibatkan infiltrasi kebudayaan yang membawa nilai-nilai baru yang tidak semuanya baik dan sesuai dengan nilai luhur yang dimiliki hingga dapat menimbulkan dekadensi kebudayaan. Kebudayaan lokal akan cenderung semakin terpuruk dan akhirnya porak poranda kehilangan identitas. Kondisi ini, kian diperparah karena anutan “model” pembangunan di Indonesia, sementara masih lebih bertumpu pada prioritas pembangunan ekonomi yang kapitalistis.

Dalam masyarakat kapitalistis, nilai ekonomis cenderung menjadi tujuan utama yang sangat kuat menonjol, serta mempengaruhi sendi kehidupan secara keseluruhan. Sementara disisi lain nilai-nilai non ekonomi, nilai-nilai batin dan nilai-nilai “spiritual” terus tergerogoti hingga keberadaannya merosot tajam. Ukuran keberhasilan seseorang cenderung dinilai dalam pencapaian skala materialistis -“ekonomi kebendaan” semata. Sementara nilai-nilai moral, nilai-nilai batin dan spiritual, nilai kewibawaan, keadilan dan nilai-nilai “kearifan budaya leluhur” terabaikan, bahkan nilai-nilai itu seolah menjadikan semacam komoditas eceran.

Kondisi seperti itu diperparah lagi dengan kekurangsiapan sebagian besar masyarakat Indonesia mengantisipasi kemajuan yang sangat pesat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Teknologi komunikasi dan teknologi informasi sudah semakin canggih. Keberadaannya telah secara cepat menjadi katalisator yang sangat cepat, menarik dan mentransformasi masuknya kebudayaan mancanegara. Orang-orang ingin serba bergegas cepat. Tak heran jika yang nampak pesat berkembang kemudian adalah budaya opportunis dan hedonis yang lebih mengunggulkan rasio-“kebudayaan otak”, berbanding terbalik dengan sensitifitas “kebudayaan rasa” yang cenderung pelan karena segala sesuatu perlu proses dan pengendapan, penghayatan. Kebudayaan rasa berintikan pada proses, solidaritas dan empati bagi sesama. Suatu yang sesungguhnya memiliki tempat terhormat dalam kepribadian bangsa Indonesia sebagai wujud dari “nilai warisan” nenek moyang bangsa.

Dampak berbagai dari kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, telah menjadikan batas-batas antar bangsa sudah semakin tidak jelas, hampir semua aspek kehidupan bangsa sudah saling berinteraksi secara bebas, bercampur. Komunitas etnis atau masyarakat tradisional perlahan memudar, mereka sudah sangat sulit untuk hanya mempertahankan ciri khas “budaya” lokalnya sebagai unggulan warisan leluhur mereka saja. Keluhuran budaya lokal yang adiluhung dan bersahaja itu, kian tercemari nilai-nilai kebendaan dan pragmatisme. Kenyataannya terlihat pada apa yang terjadi didunia pendidikan, banyak orang yang mengabaikan mutu, sementara yang dikejar adalah bagaimana cara memperoleh selembar ijazah. Ukuran terhormat bagi seseorang hanya dinilai pada pencapaian prestasi sesaat, atau bagaimana memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya, penguasaan power kekuasaan sebesar-besarnya tetapi mengabaikan bagaimana cara atau proses mencapainya.

Padahal, masyarakat tradisional Indonesia sesungguhnya sangat percaya akan pentingnya suatu proses yang membentuk tatanan, acuan tetap, yang mengatur segala apa yang terjadi secara harmonis. Tatanan atau acuan itu bersifat “Stabil”, “Selaras” dan “kekal’” karena lahir dari proses yang panjang. Kepercayaan dan pemahaman akan tatanan dan acuan yang mengatur itu kemudian mengendap, mengkristal, menjadi landasan nilai “budaya”, menjadi sumber segala anutan, ukuran kemuliaan dan kebahagiaan manusia. Sesungguhnya, apapun yang dilakukan manusia haruslah sesuai atau selaras dalam harmoni tatanan kehidupan alam sekitarnya. Bila tidak bertentangan dengan keselarasan dan harmoni alam, niscaya hidup manusia akan tenang dan damai. Sebaliknya perbuatan manusia yang menyimpang dari tatanan dan aturan itu, akan menjadi “dosa”, penyimpangan yang bisa berakibat terjadinya sangsi, hukuman pembawa malapetaka.

Pada masyarakat tradisional Indonesia, perbuatan manusia itu selalu berdimensi dua atau “dwimatra”; yaitu “mistik” dan “simbolik”. Untuk mengungkap kepercayaan akan makna hidup, manusia menggunakan tanda – tanda atau “simbol”. Ada dua macam tanda penting, pertama : “mitos asal”, atau tafsir tentang makna hidup berdasarkan asal kejadian masa lalu. Kedua : “Ritual” berupa upacara atau perlakuan simbolis yang berfungsi atau dimaksudkan untuk memulihkan harmoni tatanan alam agar tetap selaras dengan manusia, agar manusia dapat terhindar dari malapetaka dan mendapatkan keselamatan serta kesejahteraan dalam kehidupan. Itulah dasar-dasar filosofi yang mewarnai “Budaya” masyarakat tradisional Indonesia.

Pola pemikiran masyarakat tradisional pada umumnya hidup dalam budaya “kosmologi” yang menyeluruh. Awalnya, kehidupan manusia hanya terbatas dan berpusat pada kehidupan dirinya sendiri, “Egocentrum”. Kemudian manusia mengembangkan diri melalui dorongan naluri dan nalarnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya, maka kehidupan ”egocentrum” kemudian berubah menjadi bagian integral dari kehidupan habitat sekitarnya, yang diatur dalam sebuah tatanan “budaya” atau “kebudayaan”.

Masyarakat tradisional sering dianggap sebagai masyarakat yang hanya hidup dalam suasana kepercayaan leluhur semata yang di pengaruhi oleh “ethos budaya” lokal yang ekslusif serta mempunyai sifat-sifat khusus. Kekhususan itu ditandai dari cara mereka mempertahankan suasana hidup selaras, harmonis dan seimbang dengan kehidupan “habitat” sekitarnya. Keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya, menjadi pola pengendali hubungan antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Hubungan manusia dengan habitat sekitarnya itu didasarkan pada anggapan bahwa eksistensi hidup ada dalam rangkuman makrokosmos alam raya. Suatu tatanan yang selalu “teratur”, tersusun” dan berulang” secara “hirarkis” otomatis dalam sebuah “tatanan budaya” yang terjaga.Ketika bicara tentang “kebudayaan” secara komprehensif, maka “arsitektur” adalah salah satu wujud hasil karya seni budaya. Keterkaitan hubungan antara kebudayaan suatu bangsa dengan arsitektur, tergambar pada telaahan masing –masing unsurnya. Telaah arsitektur pada umumnya berpijak pada unsur – unsur ”konsep”, cara “membangun” dan “wujud nyata” dari “bangunan” sebagai suatu lingkungan buatan dalam rekayasa lingkungan sekitarnya. Telaahan “kebudayaan” selalu berpijak pada unsur-unsur buah pikiran “idea”, perbuatan, sikap dan prilaku “behavior” serta hasil karya seni “artefak”.

Arsitektur sebagai hasil karya seni budaya diakui sebagai salah satu wujud kebudayaan yang dapat dijadikan cerminan dari kehidupan manusianya, dari masa ke masa.          Arsitektur sebagai unsur kebudayaan, laksana salah satu bentuk bahasa “non-verbal” manusia yang bernuansa simbolik. Arsitektur adalah alat komunikasi manusia secara “non verbal” yang mempunyai nuansa sastrawi. Tidak jauh berbeda dengan sastra verbal yang metaforik. Arsitektur itu sendiri dapat dipahami melalui wacana metafor keindahan, dari sudut pandang itu akan dikenali karakteristiknya. Dalam naskah kuno sastra jawa dan kitab sastra “lontara” Bugis Makassar secara jelas dapat ditemukan relevansi antara lingkungan dan kehidupan budaya manusia, hal tersebut terwujud pada penggambaran bentuk “rumah adat” yang diciptakannya.

                                                                                            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1.Rumah Tradisional minangkabau (http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Gadang)

 

 

B.Konsep Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan.

Dalam masyarakat tradisional Sulawesi Selatan, segala sesuatu yang menyangkut kehidupan masyarakat selalu dilakukan bersendikan adat istiadat. Adat istiadat menjadi semacam pedoman dalam berpikir dan bertindak sesuai pola kehidupan masyarakatnya. Terwujud baik dalam tingkah laku, cara berinteraksi, termasuk perlakuan dalam tata cara membangun rumah di dalam lingkungan alam sekitarnya.

Adat istiadat dan kepercayaan adalah warisan nenek moyang yang mengisi inti kebudayaan. Hal tersebut dipercaya sebagai warisan yang diterima langsung dari sang pengatur tata tertib kosmos untuk menjadi pengarah jalannya lembaga-lembaga sosial. Oleh sebab itu berbagai upacara, pesta dan upacara kemasyarakatan yang berdasarkan pada adat istiadat, tetap diadakan untuk menjaga kesinambungan dan pelestarikan prosesi budaya bangsa. Termasuk tata cara atau prosesi pembuatan rumah.

Tata cara pembuatan rumah menurut konsep arsitektur tradisional Sulawesi Selatan, merujuk pada pesan atau wasiat yang bersumber dari kepercayaan dan adat istiadat yang dianut masyarakat Sulawesi Selatan; mulai dari pemilihan tempat, penentuan arah peletakan rumah, bentuk arsitektur, hingga penyelenggaraan upacara ritual ketika proses membangunnya.

Rumah tradisional Bugis Makassar

Konsep arsitektur masyarakat tradisional Bugis-Makassar bermula dari suatu pandangan hidup ontologis, bagaimana memahami alam semesta secara “universal”. Filosofi hidup masyarakat tradisional Bugis Makassar yang disebut “Sulapa Appa”, menunjukkan upaya untuk “menyempurnakan diri”. Filosofi ini menyatakan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk “Segi Empat”. Filosofi yang bersumber dari “mitos” asal mula kejadian manusia yang diyakini terdiri dari empat unsur, yaitu : tanah, air, api, dan angin.

Bagi masyarakat tradisional Bugis-Makassar yang berfikir secara totalitas, maka rumah tradisional Bugis Makassar dipengaruhi oleh pemahaman: “Struktur kosmos” dimana alam terbagi atas tiga bagian yaitu “alam atas” , “alam tengah”, dan “alam bawah”,. Abu Hamid (1978:30-31) dalam “Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan” menuliskan bahwa  rumah tradisional orang Bugis tersusun dari tiga tingkatan yang berbentuk “segi empat”, dibentuk dan dibangun mengikuti model kosmos menurut pandangan hidup mereka, anggapannya bahwa alam raya (makrokosmos) ini tersusun dari tiga tingkatan, yaitu alam atas atau “banua atas”, alam tengah “banua tengah” dan alam bawah “banua bawah” . Benua atas adalah tempat dewa-dewa yang dipimpin oleh seorang dewa tertinggi yang disebut “Dewata Seuwae” (dewa tunggal), bersemayam di “Botting-Langik” (langit tertinggi). Benua tengah adalah bumi ini dihuni pula oleh wakil-wakil dewa tertinggi yang mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi serta menggawasi jalannya tata tertib kosmos. Benua bawah disebut  “Uriliyu” (tempat yang paling dalam) dianggap berada di bawah air. Semua pranata-pranata yang berkaitan dengan pembuatan atau pembangunan rumah harus berdasarkan kosmologis yang diungkap dalam bentuk makna simbolis-filosofis, yang diketahuinya secara turun-temurun dari generasi kegenerasi.

Menurut Mangunwijaya (1992:95-96), bahwa bagi orang-orang dahulu, tata wilayah dan tata bangunan alias arsitektur tidak diarahkan pertama kali demi penikmatan rasa estetika bangunan, tetapi terutama demi kelangsungan hidup secara kosmis. Artinya selaku bagian integral dari seluruh “kosmos” atau “semesta raya” yang keramat dan gaib.

Beberapa hal yang penting diketahui bahwa dalam proses mendirikan rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar, mereka selalu meminta pertimbangan dari “Panrita Bola” atau Panre bola untuk pencarian tempat, menunjukkan arah yang dianggap cocok dan baik. Panre Bola menguasai ilmu pengetahuan tentang tata cara pengerjaan rumah; dimulai dari pemilihan jenis kayu, menghitung berapa tiang (aliri), berapa pasak (pattolo) yang akan dipakai, Termasuk pengerjaan elemen-elemen atau ornamen bangunan rumah hingga akhirnya merekostruksi rumah yang diinginkan serta perlengkapannya. Dalam hal ini peranan seorang Panrita Bola sangat menentukan melalui nasehat-nasehat mereka yang akan menjadi pegangan bagi penghuni rumah; kepercayaan tentang adanya pengaruh kosmologis sudah sangat dimaklumi masyarakat Bugis-Makassar.

Beberapa wasiat yang menjadi perhatian dalam hal menentukan arah rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar misalnya: sebaiknya menghadap kearah terbitnya matahari, menghadap kedataran tinggi, atau menghadap ke salah satu arah mata angin.

Selain itu salah satu faktor pertimbangan lain yang selalu diperhitungkan adalah pemilihan waktu saat mendirikan rumah. Adapun hari ataupun bulan yang baik, biasanya ditentukan atas bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian dalam hal memilih waktu.

Untuk pendirian rumah, biasanya didahului oleh serangkaian upacara-ritual. Pada tahap selanjutnya secara berurutan mulailah mendirikan rumah dengan mengerjakan pemancangan tiang pusat rumah yang disebut ”posi’bola” terlebih dahulu, menyusul pemasangan tiang tiang yang lain, hingga pekerjaan selesai dikerjakan secara keseluruhan.

Seperti kebanyakan rumah tradisional di indonesia, rumah Bugis Makassar juga dipengaruhi oleh adanya strata sosial penghuninya. Rumah tradisional Bugis-Makassar pada dasarnya  terwujud dalam beberapa macam yaitu :

Rumah Kaum Bangsawan “Arung” atau “Karaeng”.

Untuk rumah bangsawan “Arung” atau “Karaeng” yang memegang jabatan, pada puncak rumah induk terdiri dari tiga atau lebih sambulayang /timpalaja. Tiang kesamping dan kebelakang berjumlah 5 hingga 6 batang, sedang untuk bangsawan biasa jumlah tiang kesamping dan kebelakang 4 hingga 5 tiang.

Rumah Orang Kebanyakan “Tosama”,

Untuk rumah “Tosama” atau orang kebanyakan/masyarakat umum terdiri dari 4 buah tiang kesamping dan kebelakang, puncak sambulayang/timpalaja hanya dua susun.

Rumah Hamba sahaya “Ata” atau “Suro”,

Bentuk rumah “Ata” atau “Suro”- hamba sahaya berukuran yang lebih kecil, biasanya hanya terdiri dari tiga petak, dengan sambulayang/ timpalaja yang polos.

Pada umumnya rumah tradisional Bugis-Makassar berbentuk panggung dengan penyangga dari tiang yang secara vertikal terdiri atas tiga bagian yaitu :

– Rakkeang / Pammakkang, terletak pada bagian atas. Disini melekat plafond tempat atap bertumpu dan menaungi, juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan padi sebagai lambang kehidupan/kesejahteraan pemiliknya. Selain itu dimanfaatkan menjadi tempat penyimpanan atribut adat kebesaran.

– Ale bola / kale balla, terletak pada bagian tengah. Dibagian ini ada sebuah tiang yang lebih ditonjolkan diantara tiang tiang lainnya. Ruangannya terbagi atas beberapa petak dengan masing – masing fungsinya. Biasanya ruang ini menjadi tempat pusat aktivitas interaksi penghuni rumah.

– Awaso / siring, terletak pada bagian bawah rumah. Bagian ini dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan alat cocok tanam, alat bertukang, pengandangan ternak, dan lain lain.

Sedang secara horisontal ruangan dalam rumah terbagi atas tiga bagian   yaitu :

 “Lontang ri saliweng/padaserang dallekang”, letaknya diruang bahagian depan.

 “Lontang ri tengnga/padaserang tangnga”, terletak diruang bahagian tengah.

 “Lontang ri laleng / padaserang riboko”, terletak diruang bahagian belakang.

Selain ruang ruang tersebut, masih ada lagi tambahan dibagian belakang   “Annasuang” atau “Appalluang”- ruang dapur, dan ruang samping yang memanjang pada bagian samping yang disebut “tamping”, serta ruang kecil di depan rumah yang disebut “lego-lego” atau “paladang”- tempat berbincang atau bercengkerama.

Sebagaimana diketahui dalam konsep arsitektur tradisional Bugis- Makassar, memandang kosmos terbagi atas tiga bagian, maka secara struktural rumah tradisional Bugis  Makassar terbagi atas :

Struktur bagian bawah, Berdirinya tiang ditunjang oleh beberapa konstruksi sambungan yang disebut: “Pattoddo” (Makassar), “Pattolo” (Bugis), berfungsi untuk menghubungkan/menyambung antara tiang satu dengan tiang yang lainnya dengan arah melebar rumah. Bahan biasanya dari kayu jati, batang kelapa, dan lain-lain. “Palangga” (Makassar), “Arateng”  (Bugis), terbuat dari balok pipih yang panjangnya lebih sedikit dari panjang rumah. Bahan yang digunakan dari bahan batang kelapa, lontar, bambu dan lain-lain. Fungsinya yaitu: Penahan berdirinya tiang-tiang rumah, dan Sebagai dasar tempat meletakkan pallangga caddi/tunabbe sebagai dasar tumpuan lantai. Pada rumah bangsawan jumlahnya biasanya 5 hingga 6 batang (sesuai petak rumah),untuk rakyat biasa 4 batang. Pondasi/ “Umpak”, tempat meletakkan tiang agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah.

Struktur badan rumah, komponen komponen utama bagian ini adalah :

1.Lantai, berdasarkan status penghuninya maka lantai rumah tradisional terdiri dari ; Untuk golongan bangsawan “Arung, lantai rumah biasanya tidak rata karena adanya “tamping” yang berfungsi sebagai sirkulasi, bahan lantai dari papan. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa “Tosama”  umumnya rata tanpa tamping. Golongan hamba sahaja “Ata”  umumnya dari bambu.

2.Dinding untuk bahan penutup digunakan gamacca, papan, dengan sistem konstruksi ikat dan jepit. Konstruksi balok anak, merupakan penahan lantai, dan bertumpu pada balok pallangga lompo/arateng. Jumlahnya ganjil dengan jarak rata-rata 20 hingga 50 cm.

Struktur dan konstruksi bagian atas rumah terdiri dari konstruksi kap/atap yang merupakan suatu kesatuan yang kokoh dan stabil untuk menahan gaya.

Komponennya terdiri atas : Balok makelar soddu” atau “suddu”. Terletak ditengah antara balok pengerat dan balok skor, berfungsi sebagai tempat kedudukan balok  bubungan dan kaki kuda-kuda. Sistem konstruksinya dengan sistem ikat/takik pen, dengan ketinggian disesuaikan dengan status penghuninya. “Arung”       = ½  lebar rumah + 1 siku + 1 jengkal telunjuk + 3 jari pemilik, Golongan “Tosama” = ½ lebar rumah + 1 telapak tangan, Golongan “Ata” = ½ lebar rumah + 1 siku + tinggi kepala + kepalan tangan pemilik.

Kaki Kuda – kuda  “Pasolle”. Berfungsi sebagai tempat kedudukan balok-balok gording dan sebagai penahan bidang atap sistem konstruksinya menggunakan sistem ikat, takik, dan paku pen. Balok pasolla berbentuk pipih ± 3/12 cm. Balok bangunan “Coppo”, berfungsi sebagai tempat bertumpunya balok “suddu”, kaso, dan bahan atap. Sistem konstruksinya, balok bubungan diletakkan diatas balok makelar yang ditakik kemudian diperkuat dengan paku pen, dimensi balok ± 4/12 cm.

Balok pengerat “Pattoddo riase” atau “Pannoddo”, adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dari tiap baris arah lebar rumah. Panjangnya lebih sedikit dari lebar rumah, dimensi 4 x 12,5 x 14, atau 6 x 15 cm. Sistem konstruksinya, bila tiang dari bahan bambu maka tiang dan balok pengerat ditakik ± 1/3 dari diameter, kemudian diikat. Bila segi empat, tiang dilubangi setebal penampang balok pengerat kemudian padongko di tusuk pada setiap lubang dari tiang. Bahan biasanya batang lontar, kelapa, jati, dan lain-lain. Balok blander “Bare” atau “Panjakkala”, adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dalam arah memanjang. Fungsinya adalah sebagai ring balok, pendukung kaso, tempat memasang timpalaja dan tempat meletakkan balok rakkeang. Sistem konstruksinya biasanya menggunakan pen, ikat, dan diperkuat dengan pasak. “Barakapu”, sebagai tempat memakukan / mengikat papan lantai “Rakkeang” atau “Pammakkang”.

Rakkeang/Pammakkang, sebagai tempat penyimpan barang dan lain-lain, bahannya dapat berupa bambu atau papan. Sistem konstruksinya, jepit dan ikat.

Sambulayang” atau “Timpalaja”, merupakan bagian konstruksi atas yang berupa bidang segitiga dan dibuat berlapis. Sistem konstruksinya, rangka utama berpegang, bertumpu pada balok nok, pada kedua ujung bagian bawah terletak pada balok “Pattikkeng”.

Les plank “Ciring”, berupa papan yang dipasang pada ujung sisi depan dan belakang atap. Fungsinya sebagai penahan angin yang berpegang pada balok gording dengan sistem sambungan pen dan lubang, ujungnya kadang diberi hiasan “Ornamen”. Atap, bahan dari nipa, rumbia, alang alang, atau daun lontar. Bentuk pelana dengan sudut antara  30 hingga 40°.

Ragam Hias dan Ornamen

Ragam hias “Ornamen” pada rumah tradisional Bugis-Makassar merupakan salah satu bagian tersendiri dari bentuk dan corak rumah tradisional Bugis-Makassar. Selain berfungsi sebagai hiasan, juga dapat berfungsi sebagai simbol status pemilik rumah. Ragam hias umumnya memiliki pola dasar yang bersumber dari corak alam, flora dan fauna.

Ornamen corak alam; Umumnya bermotifkan kaligrafi dari kebudayaan islam.

Ornamen flora corak tumbuhan , Umumnya bermotifkan bunga/ kembang, daun yang memiliki arti rejeki yang tidak putus putusnya, seperti menjalarnya bunga itu, disamping motif yang lainnya.

Ornamen fauna corak binatang, Umumnya bentuk yang sering ditemukan adalah : Kepala kerbau yang disimbolkan sebagai bumi yang subur, penunjuk jalan, bintang tunggangan dan status sosial. Bentuk naga yang diartikan simbol wanita yang sifatnya lemah lembut, kekuatan yang dahsyat. Bentuk ayam jantan yang diartikan sebagai keuletan dan keberanian, agar kehidupan dalam rumah senantiasa dalam keadaan baik dan membawa keberuntungan.

Penempatan ragam hias ornamen tersebut utamanya pada

 

                                                                       

                                                                                                                

 

 

 

Gambar 2. Ornamen dan ragam hias bugis makassar

 (http://suku-bugis.blogspot.com/p/rumah-rumah-adat-orang-bugis.html

 

sambulayang/timpalaja, jendela, anjong, dan lain-lain. Penggunaan ragam hias tersebut menandakan bahwa derajat penghuninya tinggi.

 

Gambar  3.  Rumah Tradisional Makassar

 (http://suku-bugis.blogspot.com/p/rumah-rumah-adat-orang-bugis.html

D.Rumah tradisional Mandar

Identitas Arsitektur Tradisional Mandar tergambar dalam bentuk rumah tradisional yang disebut ”boyang” . dikenal adanya dua jenis boyang, yaitu : ”boyang adaq” dan ”boyang beasa”. ”Boyang adaq” ditempati oleh keturunan bangsawan, sedangkan ”boyang beasa” ditempati oleh orang biasa. Pada ”boyang adaq” diberi penanda sebagai simbolik identitas tertentu sesuai tingkat status sosial penghuninya. Simbolik tersebut, misalnya ”tumbaq layar” yang bersusun antara 3 sampai 7 susun, semakin banyak susunannya semakin tinggi derajat kebangsawanan seseorang. Sedangkan pada boyang beasa, ”tumbag layar” nya tidak bersusun. Simbolik lain dapat dilihat pada struktur tangga. Pada boyang adaq, tangganya terdiri atas dua susun, susunan pertama yang terdiri atas tiga anak tangga, sedangkan susunan kedua terdiri atas sembilan atau sebelas anak tangga. Kedua susunan anak tangga tersebut diantarai oleh pararang­­­. sedangkan boyang beasa, tangga tidak bersusun.

Rumah tradisional Mandar berbentuk panggung yang terdiri atas tiga bahagian, sama ”Ethos Kosmos” yang berlaku pada etnis Bugis Makassar. Bagian pertama disebut ”tapang” yang letaknya paling atas, meliputi atap dan loteng. Bagian kedua disebut ”roang boyang” , yaitu ruang yang ditempati manusia, dan bagian ketiga disebut ”naong boyang” yang letaknya paling bawah. Demikian pula bentuk pola lantainya yang segi empat, terdiri atas ”tallu lotang” (tiga petak). Petak pertama disebut ”samboyang” (petak bagian depan), petak kedua disebut ”tangnga boyang” (petak bagian tengah) dan petak ketiga disebut ”bui’ lotang” (petak belakang).

Tatanan dan aturan rumah adat, tiga susun dan tiga petak menunjukkan makna pada filosofi orang Mandar yang berbunyi : ”da’dua tassasara, tallu tammallaesang” (dua tak terpisah, tiga saling membutuhkan). Adapun dua yang tak terpisahkan itu adalah aspek hukum dan demokrasi, sedangkan tiga saling membutuhkan adalah aspek ekonomi, keadilan, dan persatuan.

Struktur bangunan rumah orang mandar, terdiri dari bagian paling atas, yaitu ”ate” (atap). Atap rumah berbentuk prisma yang memanjang ke belakang menutupi seluruh bagian atas rumah.

Pada masa lalu, rumah-rumah penduduk, baik boyang adaq maupun boyang beasa menggunakan atap rumbia. Hal ini disebabkan karena bahan tersebut banyak tersedia dan mudah untuk mendapatkannya. Pada bagian depan atap terdapat ”tumbaq layar” yang memberi ”identitas” tentang status penghuninya. Pada ”tumbaq layar” tersebut dipasang ornamen ukiran bunga melati. Di ujung bawah atap, baik pada bagian kanan maupun kiri diberi ornamen ukiran burung atau ayam jantan. Pada bagian atas penutup bubungan, baik di depan maupun belakang dipasang ornamen yang tegak ke atas. Ornamen itu disebut ”teppang”.

Di bawah atap terdapat ruang yang diberi lantai menyerupai lantai rumah. Ruang tersebut diberi nama ”tapang”. Lantai tapang tidak menutupi seluruh bagian loteng. Pada umumnya hanya separuh bagian loteng yang letaknya di atas ruang tamu dan ruang keluarga. Tapang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpang barang-barang. Bila ada hajatan dirumah tersebut, tapang berfungsi sebagai tempat menyimpan bahan makanan sebelum dihidangkan atau didistribusikan. Pada masa lalu, ”tapang” tersebut sebagai tempat atau kamar calon pengantin wanita. Ia ditempatkan pada kamar tersebut sebagai tindakan preventif untuk menjaga ”siriq” (harga diri). Untuk naik ke tapang, terdapat tangga yang terbuat dari balok kayu atau bambu. Tangga tersebut dirancang untuk tidak dipasang secara permanen, hanya dipasang pada saat akan digunakan.

Rumah orang Mandar, baik boyang adaq maupun boyang beasa mengenal tiga petak ruangan yang disebut lotang. Ruangan tersebut terletak di bawah tapang yang menggunakan lantai yang terbuat dari papan atau bilah bambu. Adapun ketiga ”lotang” ruangan tersebut adalah : ”Samboyang”, yaitu petak paling depan. ”Tangnga boyang”, petak bagian tengah rumah. Petak ini berfungsi sebagai ruang keluarga, di mana aktivitas keluarga dan hubungan sosial antara sesama anggota rumah tangga. ”Bui boyang”, petak paling belakang. Petak ini sering ditempatkan ”songi” (kamar) untuk anak gadis atau para orang tua seperti nenek dan kakek. Penempatan songi untuk anak gadis lebih menekankan pada fungsi pengamanan dan perlindungan untuk menjaga harkat dan martabat keluarga. Sesuai kodratnya anak gadis memerlukan perlindungan yang lebih baik dan terjamin.

Ketiga petak di dalam roang boyang tersebut memiliki ukuran lebar yang berbeda. Petak yang di tengah biasanya lebih lebar dibanding dengan petak-petak yang lainnya. Sedangkan petak yang paling depan lebih lebar dibanding dengan petak yang paling belakang.

Khusus pada boyang adaq, di dalam roang boyang terdapat ruangan atau petak yang lantainya lebih rendah ”tambing” atau ”pelleteang”. Letaknya selalu dipinggir dengan deretan tiang yang kedua dari pinggir, mulai dari pintu depan ke belakang. Ruangan ini merupakan tempat lalu lalang anggota keluarga. Olehnya itu, pemasangan lantai yang terbuat dari papan agak dijarangkan agar berbagai kotoran, seperti debuh, pasir, dan sebagainya dapat lebih mudah jatuh ke tanah. Selain itu, ruang ini juga berfungsi untuk menerima tamu dari kalangan masyarakat biasa dan ata (budak).

Bangunan tambahan yang diletakkan di belakang bangunan induk disebut ”paceko” (dapur). Bangunan tersebut biasanya dibuat secara menyilang dengan bangunan induk. Panjangnya minimal sama dengan lebar bangunan induk, dan lebarnya minimal sama dengan satu petak bangunan induk. Bangunan ini disertai ruang yang lapang, sehingga mempunyai banyak fungsi. Pada ”paceko” juga tersedia tempat buang air kecil yang disebut ”pattetemeangang”.

Bangunan tambahan yang ada di depan rumah yang disebut dengan ”lego-lego” (teras). Bangunan ini biasanya lebih sempit dibanding dengan bangunan tambahan bagian belakang. Kendati demikian, bangunan tersebut tampak lebih indah dihiasi berbagai ornamen, baik yang berbentuk ukiran maupun yang berbentuk garis-garis vertikal dan horisontal. Fungsi bangunan ini adalah sebagai tempat sandaran tangga depan, tempat istirahat pada sore hari dan tempat duduk sebelum masuk rumah.

Rumah tradisional Mandar, baik ”boyang adaq” maupun boyang beasa pada umumnya mempunyai dua tangga, yaitu tangga depan dan tangga belakang. Setiap tangga mempunyai anak tangga yang jumlahnya selalu ganjil. Jumlah anak tangga pada setiap tangga berkisar 7 sampai 13 buah. Jumlah tersebut disesuaikan dengan tinggi rumah. Pada umumnya, boyang adaq memiliki anak tangga yang lebih banyak, yaitu berkisar 11 sampai 13 buah. Sedangkan ”boyang beasa” sekitar 7 sampai 9 buah. Pada boyang adaq, tangga depannya bersusun dua dilengkapi dengan pasangan. Sedangkan ”boyang beasa”, tangganya tidak bersusun dan tidak dilengkapi pegangan.

Terdapat ruang di bawah lantai yang disebut ”naong boyang” (kolong rumah). Pada masa lalu, kolong rumah hanya berlantai tanah. Ditempat itu sering dibuatkan ”rambang” sebagai kandang ternak. Ada kalanya sebagai tempat manette (menenun) kain sarung bagi kaum wanita.

Bagian yang lain pada rumah adalah rinding (dinding). Dinding rumah terbuat dari kayu (papan) dan bambu (taqta dan alisi ). Pada umumnya, boyang adaq mempunyai dinding yang terbuat dari papan. Sedangkan boyang beasa selain berdinding papan, juga ada yang berdinding taqta dan alisi, rumah yang berdinding taqta dan alisi, penghuninya berasal dari golongan ata (beasa). Dinding rumah dirancang dan dibuat sedemikian rupa sesuai tinggi dan panjang setiap sisi rumah dan dilengkapi jendela pada setiap antara tiang. Hal itu dibuat secara utuh sebelum dipasang atau dilengketkan pada tiang rumah. Pembuatan dinding seperti itu dimaksudkan untuk lebih memudahkan pasangannya, demikian pula untuk membukanya jika rumah tersebut akan dibongkar atau dipindahkan.

Mendirikan rumah ”boyang” melalui suatu tahapan kegiatan yang meliputi persiapan, membangun ”boyang” dan hasil kegiatan berupa ”bangunan” atau rumah tradisional. Dalam proses persiapan ada beberapa hal yang patut diperhitungkan, yaitu bahan baku yang tersedia dari lingkungan alam sekitar (lokal) maupun dari luar (dari daerah lain), menyiapkan ”pappapia buyang” (tukang dan ahli) sesuai latar belakang sosial budaya penghuninya. Gaya arsitektur tradisional banyak dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang tersedia disekitar lingkungan alam setempat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.rumah tradisional Mandar. (http://abdillahmandar.wordpress.com/galeri-foto/buku-tamu/rumah-adat-mandar)

Suatu bangunan rumah ”boyang” tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi memiliki nilai dan makna tersendiri sesuai dengan adat istiadat masyarakat tradisional Mandar. Olehnya itu, suatu rumah tradisional memiliki ciri khas terutama pada tipologi, interior/eksterior, dan ornamen yang ada didalamnya.

Membangun rumah tradisional mandar memerlukan beberapa rangkaian kegiatan seperti musyawarah antar sesama keluarga atau kerabat, pemilihan lokasi atau tempat mendirikan rumah, dan pengadaan bahan baku untuk tiang, lantai, atap dan sebagainya.

Bagi orang Mandar, setiap akan membangun rumah ”boyang” senantiasa didahului dengan suatu pertemuan antara seluruh keluarga atau kerabat. Dalam pertemuan tersebut dilakukan musyawarah, yang biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang lebih tua dan banyak tahu tentang nilai-nilai dan adat istiadat dalam masyarakat tradisionalnya. Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam pelaksanaan musyawarah dihadirkan pula pappapia boyang (tukang ahli rumah). Musyawarah lebih diutamakan pada penilaian status sosial yang akan menempati rumah tersebut. Sebab dari status sosial yang akan menempati rumah tersebut. Dapat diketahui jenis dan bentuk rumah yang akan dibangun. Kalau yang bersangkutan berstatus bangsawan, maka jenis rumah yang akan dibangun adalah ”boyang adaq”, bila yang bersangkutan berasal dari golongan masyarakat biasa, maka rumah yang akan dibangun adalah ”boyang beasa”. Dalam musyawarah tersebut penilaian dan penentuan susunan tumbaq layar juga dibicarakan.

Pemilihan waktu mendirikan ”boyang” juga sangat penting, karena terkait dengan kepercayaan masyarakat tradisionalnya. Menurut mereka, ada waktu yang baik dan ada waktu yang buruk. Waktu yang baik selalu dihubungkan dengan ”keberuntungan” dan ”keselamatan”. Pemilihan waktu. Sedangkan waktu yang buruk selalu dihubungkan dengan ”bala”, bencana dan ketidak mujuran, karena itu kegiatan awal dalam memulai mengerjakan rumah senantiasa berpedoman pada waktu-waktu baik, hari-hari baik adalah senin, kamis, dan jumat. Bulan-bulan tertentu dianggap kurang baik, seperti Muharram, Syafar, Jumadil Awal, dan Dzulkaiddah.

Pemilihan tempat mendirikan ”boyang” sangat terkait dengan kepercayaan tradisi masyarakat tentang adanya tanah yang baik dan kurang baik untuk dibanguni ”boyang”. Tanah yang baik adalah tanah yang agak keras, tidak lembek. Biasanya berada pada daerah yang relatif sedikit tinggi atau bukit. Selain itu, tanah tersebut sebaiknya ”berbau wangi”. Tanah seperti ini memberi makna keharuman, agar keluarga mereka kelak dapat memperoleh kebahagiaan, keharmonisan dalam rumah tangga.

Orientasi rumah ”boyang” yang paling baik adalah berorientasi pada arah yang mengandung makna positif, yaitu arah timur tempat matahari terbit. Arah pergerakan matahari yang menanjak naik mengandung makna kebaikan, yaitu selalu bertambah ”naik” . dalam pengertian ini, yang diharapkan selalu bertambah adalah nasib baik, terutama rezki dan amal kebijakan. Dengan arah rumah ketimur, cahaya matahari pagi dapat menyinari ruang lego-lego hingga kedalam rumah. Setelah agama Islam masuk di daerah Mandar, maka muncullah pandangan baru bahwa arah barat juga baik. Arah barat dianggap menghadap ke kiblat.

Sedangkan bahan bangunan diusahakan dan diambil dari lingkungan alam sekitar. Penebangan ayu (kayu) dan bambu biasanya disesuaikan dengan waktu baik. Waktu-waktu baik adalah sama halnya pada saat memulai membangun rumah ”boyang”. Pada saat menebang kayu, yang pertama harus ditebang adalah bahan untuk membuat possi arring (tiang pusat). Jenis kayu yang diperuntukkan untuk possi arring tidaklah sembarang, biasanya kayu ”sumaguri” dan ”cawe-cawe” . kedua jenis kayu tersebut mengandung makna simbolis. Untuk jenis sumaguri mengandung makna ”empati kepada seluruh masyarakat”. Jadi, jenis kayu tersebut banyak digunakan pada possi arriang rumah adaq. Sedangkan jenis kayu cawe-cawe mengandung makna ”semangat atau mengairahkan”. Jenis kayu tersebut pada umumnya digunakan untuk ”possi arriang” rumah biasa. Hal ini dimaksudkan agar penghuninya kelak senangtiasa bersemangat atau bergairah dalam mengarungi kehidupan dunia.

Penebangan kayu untuk ”possi arriang” harus dilakukan oleh ”sando boyang”. Sebelum melakukan penebangan, ”sando boyang” melakukan upacara ritual yang dilakukan sendiri dirumahnya. Waktu penebangan diupayakan pada hari-hari baik. Adapun hari baik menebangan kayu untuk ”possi arriang” adalah hari ke 14 terbitnya bulan, orang Mandar menyebutnya ”tarrang bulan” (terang bulan), atau pada hari ke delapan sebelum tenggelamnya bulan. Penebangan kayu dilakukan pada pagi hari sekitar jam 09.00. Penebangan kayu dapat dilakukan oleh beberapa orang,  tetapi pekerjaannya harus dimulai oleh sando boyang. Ada hal yang penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan pada saat menebangan kayu, yaitu kayu tersebut harus tumbang dan jatuh kearah matahari terbit. hal ini dimaksudkan agar cahaya matahari senantiasa menerangi rumah yang akan dibangun. Dalam pengertian ini terdapat makna simbolis, bahwa diharapkan kelak rumah yang akan dibangun itu senantiasa dalam kondisi yang terang bercahaya.

Pembangunan rumah tradisional ”boyang”, dimulai dari pembuatan tiang  ”arriang”.  Setiap rumah memiliki tiang minimal 20 batang. Tiang tersebut diatur dan disusun berjejer kesamping dan kebelakang. Setiap jejeran ke samping biasanya terdiri atas lima batang. Sedangkan jejeran ke belakang biasanya empat batang (tidak termasuk tiang paceko). Kelima tiang yang berjejer ke samping diupayakan memiliki lekukan dan bengkok yang sama. Dalam pembuatan ”arriang”, pekerjaan pertama yang harus dibuat adalah ”possi arriang” (tiang pusat). Setelah ”possi arriang” usai dikerjakan, maka dilanjutkanlah pekerjaan pada seluruh tiang rumah lainnya. Pekerjaan seluruh tiang tersebut harus diperhatikan ujung-pangkalnya. Semua tiang pangkalnya harus berada di bawah, tidak boleh terbalik.

Bagi rumah tradisional yang mempunyai paceko dan lego-lego, maka harus menggunakan minimal lima tiang tambahan untuk Paceko dan dua atau empat tiang untuk lego lego.

Rumah tradisional Mandar yang terdiri atas tallu lontang, jumlah pasak yang dibutuhkan sebanyak 18 buah. Pasak tersebut terdiri atas empat untuk passolor, empat untuk baeq, lima araiang diaya dan aratang naong. Selain itu, bilamana rumah tersebut mempunyai tambing, maka harus ditambah lagi aratang diaya dan aratang naong masing-masing satu buah. Bila rumah tersebut ditambah paceko, maka harus ditambah lagi passollor dan baeq sebanyak lima buah. Sedangkan aratang diaya dan aratang naong masing-masing dua buah. Selain pasak, terdapat pula balok kayu yang bentuknya pipih menyerupai pasak. Kayu ini disebut pambalimbungan (tulang punggung, paling diatas tempatnya). Jumlahnya tiga buah, masing-masing satu buah untuk rumah induk, paceko dan lego-lego.

Lantai rumah tradisional Mandar terbuat dari papan (kayu) dan lattang, ”Lattang” biasanya dipilih  tarring (bambu) yang besar dan sudah tua. Lattang ini biasanya dipakai pada lantai paceko.

Dinding rumah tradisional Mandar pada umumnya terbuat dari papan, alisi dan taqta. Pada dinding sisi depan rumah, biasanya dilengkapi tiga ”pepattuang” (jendela) dan satu ”ba’ba” (pintu). Dinding sisi depan ini biasanya dilengkapi ornamen pada bagian luar di bawah jendela. Pada dinding sisi kanan dan kiri rumah biasanya juga dilengkapi  dengan pepattuang sebanyak dua atau tiga buah.

Pepattuang berbentuk segi empat yang rata-rata terdiri atas dua daun jendela yang berukuran sekitar 100 x 40 cm. Daun jendela itu dapat dibuka ke kiri dan ke kanan. Letak pepattuang biasanya berada antara dua buah tiang rumah. Untuk memperindah, pepattuang ini biasanya diberi ornamen berupa ukiran dan terali dari kayu yang jumlahnya selalu ganjil. Terali-terali tersebut ada yang dipasang secara vertikal dan ada yang horisontal. Secara vertikal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan Tuhannya. Sedangkan secara horisontal mempunyai makna hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Pemasangan ornamen seperti itu hanya tampak pada jendela yang ada di bagian depan dan sisi kiri kanan rumah. Pemasangan ornamen berupa ukiran dan terali-terali juga dapat dilihat pada bangunan tambahan di depan rumah, yaitu lego-lego.

Prosesi ritual menurut kepercayaan masyarakat tradisional  Mandar biasanya dimulai dari ”possi arriang”. Pada ”possi arriang” diikat lipaq (sarung) dan mukena atau kebaya. Sarung melambangkan jiwa laki-laki dan kebaya atau mukena sebagai jiwa perempuan. Kedua jiwa tersebut harus menyatu di dalam ”possi arriang” kemudian tiang ”possi arriang” disiram dengan air dari dalam cerek. Air yang tersisa di dalam cerek tadi dimasukkan dalam botol kemudian digantung pada ”possi arriang” . segala bahan kelengkapan upacara mattoddoq boyang, seperti tebu, pisang, kelapa juga digantung pada ”possi arriang” . Bahan kelengkapan upacara biasanya digantung setelah rumah berdiri.

Bilamana rumah ”boyang” akan diberi tambahan bangunan, seperti paceko dan lego-lego, maka setelah bangunan induk berdiri tegak dilanjutkan pendirian tiang paceko. Tambahan untuk Paceko biasanya terdiri atas satu deretan tiang yang jumlahnya enam batang ditambah satu batang di dekat tangga belakang. Setelah tiang berdiri, dilanjutkan pemasangan aratang naong dan aratang diaya yang dikuatkan dengan passanna. Seluruh tiang paceko juga diberi batu arriang. Setelah pendirian tiang paceko, dilanjutkan pula pada pendirian tiang lego-lego. Untuk boyang adaq, jumlah tiang lego legonya sebanyak empat batang. Sedangkan boyang beasa jumlah tiang lego legonya sebanyak dua batang.

Ragam Hias dan Ornamen

Pada umumnya rumah tradisional, baik rumah bangsawan maupun rumah orang biasa di tana Mandar, memakai ”ragam hias ornamen”. Pada bagian atap, dinding, plafon dan sebagainya. ”Ornamen” selain berfungsi sebagai hiasan atau ornamen, juga berfungsi sebagai identitas sosial, dan makna-makna budaya dalam masyarakat. Corak “ornamen” umumnya bersumber dari alam sekitar manusia seperti flora, fauna, gambaran alam, agama dan kepercayaan namun tidak semua flora, fauna dan sebagainya dapat dijadikan corak “ornamen”.

F. Rumah tradisional Toraja

Etnis Toraja mendiami dataran tinggi di kawasan utara Sulawesi Selatan. Pada umumnya wilayah permukiman masyarakat Toraja terletak di pegunungan dengan ketinggian 600 hingga 2800m di atas permukaan laut. Temperatur udara kawasan permukiman masyarakat Toraja berkisar pada 150 hingga 300C. Daerah ini tidak berpantai, budayanya unik, baik dalam tari-tarian, musik, bahasa, makanan, dan kepercayaan Aluktodolo yang menjiwai kehidupan masyarakatnya. Keunikan itu terlihat juga pada pola permukiman dan arsitektur tradisional rumah mereka, upacara pengantin serta ritual upacara penguburannya.

Kondisi Tana Toraja, tang dipegunungan dan berhawa dingin diduga mendasari ukuran pintu dan jendela yang relatif kecil, lantai dan dindingnya dari kayu yang tebal. Ukuran atap rumah tradisional Toraja yang terbuat dari susunan bambu sangat tebal. Wujud konstruksi ini sangat diperlukan untuk menghangatkan temperatur udara interior rumah.

Masyarakat Tradisional Tana Toraja didalam membangun rumah tradisional mengacu pada kearifan budaya lokal–Kosmologi mereka yaitu  :

Konsep ‘pusar’ atau ‘pusat rumah’ sebagai paduan antara kosmologi dan simbolisme

-Dalam perspektif kosmologi, rumah bagi masyarakat Toraja merupakan mikrokosmos, bagian dari lingkungan makrokosmos.

-Pusat rumah meraga sebagai perapian di tengah rumah, ataupun atap menjulang menaungi ruang tengah rumah dimana atap menyatu dengan asap-father sky

-Pusat rumah juga meraga sebagai tiang utama, seperti a’riri possi di Toraja, possi bola di Bugis, pocci balla di Makassar dimana tiang menyatu dengan mother earth

Pada masyarakat tradisional Toraja, dalam kehidupannya juga mengenal filosofi “Aluk A’pa Oto’na” yaitu empat dasar pandangan hidup : Kehidupan Manusia, kehidupan alam leluhur “Todolo”, kemuliaan Tuhan, adat dan kebudayaan. Keempat filosofi ini menjadi dasar terbentuknya denah rumah Toraja empat persegi panjang dengan dibatasi dinding yang melambangkan “badan” atau “Kekuasaan”. Dalam kehidupan masyarakat toraja lebih percaya akan kekuatan sendiri, “Egocentrum”. Hal ini yang tercermin pada konsep arsitektur rumah mereka dengan ruang-ruang agak tertutup dengan “bukaan” yang sempit.

Selain itu konsep arsitektur tradisional toraja, banyak dipengaruhi oleh ethos budaya “simuane tallang” atau filosofi “harmonisasi” dua belahan bambu yang saling terselungkup sebagaimana cara pemasangan belahan bambu pada atap rumah adat  dan  lumbung.  Harmonisasi  didapati  dalam  konsep arsitektur “Tongkonan” yang menginteraksikan secara keseluruhan komponen “tongkonan” seperti : Rumah, lumbung, sawah, kombong, rante dan liang, didalam satu sistem kehidupan dan penghidupan orang toraja didalam area tongkonan. Selain itu, makro dan mikro kosmos tetap terpelihara didalam tatanan kehidupan masyarakat tradisional toraja, dimana rumah dianggap sebagai “mikrokosmos”.

 

 

 

        

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6.  Rumah tradisional Tongkonan Toraja(http://www.indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja/article/100/tongkonan-rumah-adat-toraja-yang-mengagumkan-penuh-makna)

Tata letak rumah tongkonan berorientasi Utara – Selatan, bagian depan rumah harus berorientasi Utara atau arah Puang Matua “Ulunna langi’” dan bagian belakang Rumah ke Selatan atau arah tempat roh-roh “Pollo’na Langi’”. Sedangkan kedua arah mata angin lainnya mempunyai arti kehidupan dan pemeliharaan, pada arah Timur dimana para Dea “Dewata” memelihara dunia beserta isinya ciptaan “Puang Mutua” untuk memberi kehidupan bagi manusia, dan arah Barat adalah tempat bersemayam “To Membali Puang” atau tempat para leluhur “Todolo”. Atau selalu ada keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Kesemuanya ini diterjemahkan menjadi satu kata sederhana yaitu “keseimbangan” dan secara arsitektural “keseimbangan” selalu diaplikasikan kedalam bentuk “simetris” pada bangunan. Dari sini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prinsip dasar Arsitektur Tradisional Toraja adalah simetris, keterikatan dan berorientasi.

1. Rumah Adat Tradisional Tongkonan.

Tongkonan, rumah adat Toraja adalah merupakan bangunan yang sangat besar artinya, karena peranannya yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Toraja. “Tongkonan” dalam fungsinya terbagi menjadi 4 macam tingkatan yaitu :

–  “Tongkonan Layuk”, kedudukannya sebagai rumah tempat membuat peraturan adat istiadat.

– ” Tongkonan Pokamberan/Pokaindoran”, yaitu rumah adat yang merupakan tempat melaksanakan aturan dan perintah adat dalam suatu masalah daerah.

–  “Tongkonan Batu A’riri”, yaitu tongkonan yang tidak mempunyai peranan dan fungsi sebagai tempat persatuan dan pembinaan keluarga dari keturunan pertama tongkonan itu, serta tempat pembinaan warisan, jadi mempunyai arti sebagai tiang batu keluarga.

–   “Tongkonan Pa’rapuan”, fungsinya sama dengan Tongkonan Batu A’riri tetapi tidak boleh diukir seperti tiga tongkonan diatas dan tidak memakai Longa.

Sedangkan fungsi dan kegunaan penataan lantai bangunan tradisional rumah adat Toraja, dibedakan atas :

–  ”Banua Sang Borong” atau ”Banua Sang Lanta”, adalah rumah untuk para Pengabdi kepada Penguasa Adat, pada jaman sekarang ini banyak didapati di kebun kebun. Pada rumah ini hanya terdapat satu tiang untuk melaksanakan kegiatan sehari hari.

–  ”Banua Dang Lanta’’”, adalah bangunan yang tidak mempunyai peranan adat seperti ”Tongkonan Batu A’riri” yang terdiri dari dua ruang yaitu Sumbung sebagai tempat tidur dan Sali sebagai dapur.

–  ”Banua Tallung Lanta’’”, yaitu bangunan pemerintahan adat Toraja yang mempunyai tiga ruang. Ruang ruang itu adalah Sumbung, Sali dan Tangdo’ yang berfungsi sebagai tempat upacara pengucapan syukur dan tempat istirahat tamu tamu.

–  ”Banua Patang Lanta’’”, yaitu bangunan tongkonan tertua dari penguasa adat yang memegang fungsi adat ”Togkonan Pasio’ aluk”.

Dalam proses pembangunan bangunan tradisional Toraja ini pengerjaannya dibagi menjadi 2 tahap yaitu  :

–  ”Tahap Mangraruk”, yaitu sebagai pekerjaan permulaan untuk mengumpulkan seluruh bahan bahan bangunan yang diperlukan .

–  ”Tahap Ma’ Tamben” atau ”Ma’ Pabendan”, yaitu membangun suatu tempat untuk menyimpan bahan bangunan yang dinamakan “Barung” atau ”Loko Pa’ Tambenan”, dimana semua bahan bangunan diolah diukur untuk persiapan pendirian bangunan tersebut.

 

 

 

 

Setelah semua pekerjaan tersebut diatas sudah selesai, dilanjutkan dengan pengerjaan ”Ma’ Pabendan”. Pekerjaan ini adalah pekerjaan permulaan dari pembangunan karena semua bahan bangunan sudah disiapkan, melalui tahap-tahap sebagai berikut  :

–   ”Tahap Pabenden Leke’”, yaitu tempat membuat bangunan yang merupakan tempat mendirikan bangunan sampai selesai. Jadi bangunan rumah adat Toraja selama didirikan seolah olah tidak terkena sinar matahari dan hujan.

–  ”Tahap No’ton Parandangan’”, yaitu mengatur dan menanam batu pondasi yang dipahat atau asli yang sudah cukup baik untuk menjadi batu pondasi.

–  ”Tahap Ma’ Pabendan’”, yaitu mendirikan tiang tiang bangunan utama diatas batu parandangan yang sudah diatur dalam ukuran persegi panjang.

–  ”Tahap Ma’ A’riri Posi’”, yaitu mendirikan satu tiang tengah bangunan yang merupakan salah satu tiang yang mempunyai arti dalam pembangunan rumah adat Toraja.

–  ”Tahap Ma’ Sangkinan Rindingan”, yaitu pekerjaan memasang dinding pengosokan berjejer keliling bangunan dan kayu Sangkinan Rindingan ini sama besar dan tingginya begitu pula pada jarak pemasangannya kecuali pada bagian sudut bangunan.

– ”Tahap Ma’ Kamun Rinding”, yaitu pemasangan semua dinding yang dimasukkan dari atas ke dalam Sangkinan Rinding melalui semacam jaluran rel sebagai bingkai yang terpasang mati.

–  ”Tahap Ma’ Petuo”, yaitu pemasangan 4 buah kayu Ma’ Petuo sebagai tumpuan bagi kayu bubungan.

–  ”Tahap Ma’ Kayu Beke’i”, yaitu pemasangan kayu diatas kayu Ma’ Petuo sebagai tempat mengatur kayu kayu membentuk segitiga dengan badan rumah.

–  ”Tahap Ma’ Paleke’ Indo Tekeran”, yaitu semua kayu yang panjangnya 3,5 m, dengan persilangan pada ujung atasnya dan ujung bawahnya disambung pada kayu Rampanan Papa’ sebagai tempat mengatur kayu kecil kecil yang bernama Tarampak.

–  ”Tahap Ma’ Rampani”, yaitu tempat menumpunya kayu Rampanan yang fungsinya mengikat dan mengatr atap.

– ”Tahap Ma’ Palaka Indo’ Para”, yaitu merupakan bagian depan agak miring dari bagian atap bangunan.

–  ”Tahap Ma’ Paringgi”, yaitu pemasangan kayu pamiring yang membentuk longa dan berpangkal pada kayu Rampanga Papa Longa.

–  ”Tahap Ma’ Pabendan Tulak Somba”,  yaitu pemasangan kayu Tulak Somba menopang bagian depan dan bagian belakang Longa.

–  ”Tahap Ma’ Benglo Longa”, yaitu tangga pembantu pemasangan semua bagian dari Longa dan bila telah selesai maka Ma’ Benglo Longa dibongkar.

–  ”Tahap Ma’ Papa”, yaitu merupakan pekerjaan yang sangat berat karena pemasangan Tarampak sampai ke bubungan tidak boleh berhenti.

Semua bangunan rumah adat Toraja mempunyai peranan dan fungsi tertentu, fungsi fungsi tersebut tidak akan berubah sepanjang letak dari bangunan itu tidak berubah yaitu atap menghadap keutara sebagai orientasi bangunan. Faktor inilah yang menyebabkan konstruksi dan arsitektur bangunan tetap sebagai dasar perancangan Tongkonan, karena adanya hubungan pandangan keyakinan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan dari bangunan.

Jadi bagian bagian dari rumah adat Toraja pulalah yang menentukan struktur arsitekturnya antara lain ; rumah adat Toraja dibagi atas 2 bagian besar yaitu dengan menarik garis besar dari utara ke selatan yang dibedakan dengan nama Kale Banua Matallo dan Kale Banua Matumpu’ yaitu bagian rumah sebelah timur dan bagian rumah sebelah barat.

Sedangkan bagian luar dan dalam dibagi sebagai berikut  :

Interior rumah adat Toraja.

–  ”Suluk Banua”, yaitu kolong dari bangunan rumah yang dibentuk oleh tiang tiang yang dihubungkan oleh sulur yang dinamakan roroan. Peranannya sebagai tempat mengurung hewan hewan ternak pada malam hari untuk menjaga tuannya diatas rumah.

–  ”Kale Banua”, yaitu bagian badan dari bangunan yang terdiri dari ruang/petak mulai utara ke selatan.

–  ”Pentiroan”, yaitu jendela jendela pada seluruh badan rumah yang kelihatan pada 4 sisi. Jendela jedela itu adalah  :

  • Pentiroan Tingayo”, yaitu 2 buah jendela yang terletak dibagian muka rumah menghadap ke utara. Jendela ini dapat terbuka dan tertutup setiap saat.
  • Pentiroan Matallo”, yaitu jendela yang terletak disebelah timur bangunan, pemasangannya pada tengah bangunan pada ruang tengah. Jendela ini dibuka pada pagi hari dan dibuka terus pada waktu upacara pengucapan syukur.
  • Pentiroan Mampu’ ”, yaitu jendela yang terletak disebelah barat bangunan. Jendela ini dibuka pada waktu ada upacara pemakaman orang mati.
  • Pentiroan Pollo’ Banua”, yaitu jendela yang terletak dibelakang rumah menghadap ke selatan. Jendela ini terbuka terus pada waktu upacara kematian atau bila didalamnya ada orang yang sakit.

–  ”Longa” bagian menjulang dari atap bangunan di sebelah utara dan selatan. Lobang ini berjumlah 3 buah dan tidak tertutup dengan ukuran 10 x 15 cm.

–  ”Rattiang” atau disebut juga loteng yaitu bagian atas dari rumah yang sebagian ditutupi atap. Berfungsi untuk menyimpan peralatan dan pakaian upacara adat.

1. Rumah Adat Toraja, ragam hias dan ornamen.

”Tingayo Banua” atau ”Lindo Banua”, yaitu bagian muka bangunan yang digunakan sebagai tempat melakukan upacara pengucapan syukur dan pemujaan.

 

Matallo Banua”, yaitu bagian sebelah timur atau kanan bangunan sebagai tempat acara pemujaan kepada Dea.

–  ”Matampu Banua”, yaitu bagian bangunan sebelah barat.

– ”Pollo Banua”, yaitu bagian belakang bangunan sebagai tempat pelepasan orang mati.

 

 

 

 

 

 

Gambar.5. RAGAM HIAS DAN ORNAMEN TORAJA

(http://www.indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja/article/100/tongkonan-rumah-adat-toraja-yang-mengagumkan-penuh-makna)

Ragam hias “Ornamen” rumah adat Toraja adalah sebagai berikut

  ”Kabongo”, yaitu kayu yang dibentuk seperti kepala kerbau dengan tanduk asli tanduk kerbau yang mengartikan bahwa Tongkonan ini adalah Tongkonan pemimpin masyarakat dengan kata lain tempat melaksanakan peranan dan kekuasaan adat Toraja.Katik” adalah bentuk kepala ayam jantan yang berkokok. Perletakan Katik ini adalah diatas kuduk dari Kabongo yang mengartikan pimpinan yang menjalankan pemerintahan pada masyarakat tertentu.  “A’riri Posi’” yaitu tiang tengah pada bangunan rumah adat Toraja yang hampir kelihatan berdiri sendiri diantara ruang selatan dan ruang tengah. “Tulak Somba” yaitu tiang tinggi penopang ujung depan dan belakang bangunan adat Toraja yang dinamakan Longa. Fungsinya sebagai tiang penopang sekaligus tempat melekatnya tanduk karbau hasil pesta mendirikan rumah. “Passura” yaitu ukiran tradisional pada bangunan adat Toraja yang bukan hanya sebagai hiasan, tetapi melambangkan sesuatu hal atau kegiatan serta problem kehidupan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6.ragam hias rumah toraja (http://www.indonesia.travel/id/destination/477/tanatoraja/article/100/tongkonan-rumah-adat-toraja-yang-mengagumkan-penuh-makna)

G. Rumah Tradisional Sulawesi Selatan, Dari Masa Kemasa.

Perkembangan arsitektur tradisional dipengaruhi oleh banyak faktor seperti : waktu, pengaruh budaya luar, pola hidup, ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Dari masa lampau hingga masa kini ada 4 masa perkembangannya yang dapat ditelusuri yaitu  : Masa arsitektur tradisional, Masa arsitektur klassik, Masa arsitektur modern serta Masa arsitektur post modern.

Masa arsitektur tradisional : pada masa ini budaya asli dan pola hidup masyarakat tradisional berkembang didalam masyarakat tanpa ada pengaruh luar, arsitektur tradisional merupakan pilihan satu-satunya. Secara tradisi, bangunan hanya berfungsi sebagai rumah tinggal ataupun sebagai tempat bermukim keluarga.

Arsitektur tradisional sangat dipengaruhi oleh keadaan dan potensi alam sekitarnya yang sering diambil menjadi motif utama pemberi corak. Terutama pengaruh iklim, curah hujan, tumbuh-tumbuhan yang dipakai sebagai bahan bangunan dan batu-batuan. Arsitektur tradisional Toraja misalnya, mempunyai sudut kemiringan atap yang tajam karena curah hujan di daerah ini besar. Bambu dipakai sebagai atap dan plafound karena banyak hutan bambu di Tana Toraja. Demikian pula halnya bahan kayu yang dipakai sebagai tiang dan dinding.

Perihal ragam hias ornamen arsitektur tradisional Sulawesi Selatan yang sering ditemukan dan banyak memberi warna, dipakai menghiasi dinding dan tiang sesuai tradisi masing masing etnis. Ornamen dipakai sebagai ungkapan arti simbol simbol suatu benda yang dianggap mempunyai arti khas dalam penghidupan dan kehidupan masyarakat tradisional etnis bersangkutan.

Masa Arsitektur Klassik adalah masa berkembangnya arsitektur klassik dari Eropa yang masuk ke Indonesia. Arsitektur Klassik disebut pula “Arsitektur Kolonial” karena gaya ini hadir pada zaman kolonial. Model arsitektur klasik sangat berbeda dengan arsitektur tradisional. Perbedaan itu terlihat dalam hal konsep, prinsip dasar, bentuk tata ruang, bahan bangunan, struktur dan konstruksi. Sejak masa ini, arsitektur tradisional mulai tersisihkan.

Arsitektur Klasik mencakup gaya Renaissance, Ghotic dan Barouq. Gaya arsitektur ini  lebih dikenal melalui rancangan Istana Raja dan Gereja di Eropa, yang kemudian menyebar keseluruh dunia seiring penyebaran agama Katolik dan Protestan.

Gaya gaya klasik ini terlihat pada Gereja yang lebih menekankan pada konsep sakral yaitu : Manusia itu kecil dihadapan Tuhan. Para arsitektur menerjemahkannya kedalam bahasa non verbal dengan menampilkan bangunan, ruangan atau komponen bangunan yang berskala mega atau melampaui skala manusia. Misalnya, bangunan besar dengan lantai atau permukaan tanah yang ditinggikan, kolom yang besar, ruangan yang sangat luas dan plafond tinggi dan berorientasi keatas. Cara penyelesaian arsitektur seperti ini dikenal sebagai cara untuk memperoleh wibawa dan menekankan perasaan manusia yang berada di dekatnya atau didalamnya sehingga merasa lebih kecil dan tidak berarti didekat bangunan atau kolom yang besar, atau didalam ruangan yang luas dengan plafond yang tinggi itu. Disini peran proporsi dan skala dari bangunan, ruang dan komponen sangat penting.

Dimasa arsitektur klassik ini, penggunaan bahan bangunan, tata ruang, bentuk bangunan, struktur dan konstruksi menjadi lain. Bahan bangunan lokasi seperti ; kayu, bambu, dan rerumputan untuk bahan atap mulai kurang dipakai. Karena semen, batu merah, beton dan besi jauh lebih menjamin kekuatan dan keawetan      bangunan. Arsitektur tradisional yang lebih mengutamakan penggunaan bahan bangunan alamiah mulai dilupakan.

Gaya arsitektur klassik terus tumbuh,  berkembang dan mewarnai karakter berbagai bangunan penting, tidak hanya pada Gereja tetapi juga bangunan Pemerintah Kolonial dan perumahan mereka. Begitupun ketika pedagang Cina, masuk ke Indonesia, mereka juga membawa gaya arsitektur Cina, seperti terlihat pada rumah ibadah “Klenteng” dan perumahan didalam “Kampung Cina” yang masih dapat dilihat di beberapa kota besar di Indonesia.

Masa Arsitektur Modern : Konsep arsitektur modern menekankan faktor “fungsionalisme” dan “efesiensi” . Ilmu pengetahuan dan teknologi arsitektur modern memberi warna lain bagi perkembangan kearsitekturan, misalnya desain dan teknologi bahan bangunan. Konsep arsitektur modern pada dasarnya lebih menekankan fungsionalisme dan efesiensi yang mengutamakan kenikmatan penghuni  dan keleluasaan ruang gerak manusia. Pemakaian bahan bangunan pun menjadi lebih bebas dan beragam.

Dalam perkembangan selanjutnya, arsitektur modern ini mendominasi karya-karya arsitektur di Indonesia. Ternyata arsitektur modern sebagai suatu konsep yang mengutamakan fungsionalisme dan efisiensi itu lebih mampu mewadahi aktifitas manusia moderen sampai sekarang.

Masa Arsitektur Post-Modern adalah model arsitektur masa kini. Arsitektur Post –Modern ini memunculkan kembali arsitektur tradisional. Ini juga menjadi suatu pertanda bahwa arsitektur di Indonesia sedang mencari bentuk lain seiring dengan kecenderungan masyarakat dan para arsitek memanfaatkan warisan budaya masa lampau untuk menemukan  identitas baru yang dapat dipakai sebagai simbol dalam era globaliasi ini. Identitas, karakter dan ciri khas sangat penting untuk dihadirkan kembali.  Pada masa ini, funsionalisme dan efisiensi menjadi tidak mengikat lagi, mulai tidak dipersoalkan.

Gaya arsitektur Post-Modern yang sedang melanda dunia kearsitekturan juga merambah masuk ke Indonesia melalui kota-kota besar. Gaya post-modern ini lebih menonjolkan simbolisme, klasik, ornamen, warna-warni dan bentuk yang unik. Nampaknya gaya ini menoleh dan menggali dan memanfaatkan keunikan arsitekturan tradisional dan seni masa lampau untuk berimajinasi ke masa depan.

Gaya arsitektur tradisional yang beranekaragam di Indonesia menjadi sumber inspirasi utama dalam pengayaan gaya post-modern ini selanjutnya. Beberapa arsitektur modern masa kini, dirancang dan dibangun dengan mengawinkannya dengan unsur-unsur arsitektur tradisional tetapi terkadang bauran dengan unsur tradisional itu sendiri, menjadi rancu akibat dari perbedaan prinsip dasar, filosofi dan konsepnya. Masalah lain akan timbul bila dua macam atau lebih arsitektur tradisional yang berbeda disatukan di dalam satu gubahan arsitektur, seperti Toraja dengan Bugis, Toraja dengan Bali, Toraja dengan Jawa, atau kombinasi lainnya. Meskipun demikian arsitektur tradisional masih memiliki dan menampilkan persamaan yaitu : unsur vertikal dan horisontal. Bahkan kedua unsur ini dapat ditemukan pada seluruh gaya arsitektur tradisional di Indonesia.

Pada arsitektur masa kini dimana modernitas dan tradisional muncul bersamaan, nampaknya ada kecenderungan untuk menjawab keinginan masyarakat tampil lebih eksis, beridentitas etnis dan menyatakan status sosial melalui arsitektur tradisional sebagai simbol agar mempunyai “nilai Aktualisasi” . Cara pernyataan diri ini menjadi lebih menarik karena tradisionalisme ditarik hadir dalam pola hidup modern. Kemudian muncullah masalah-masalah akibat benturan antara tradisional dengan modernitas. Unsur tradisional memang hadir tetapi lepas dari prinsip dasar dan norma norma khasnya.

H. Rumah Tradisional Sulawesi Selatan Dalam Konteks Ketahanan Budaya Lokal.

Pemanfaatan model arsitektur tradisional pada bangunan masa kini, ternyata sering dianggap tidak lagi mampu sepenuhnya mengikuti dinamika kebutuhan masyarakat. Seringkali dianggap terjadi ketidakserasian antara keberadaan model arsitektur tradisional yang boleh dikatakan cenderung stagnan, dengan dinamika tuntutan kehidupan moderen yang selalu cepat berubah dengan variasi-variasinya. Pada banyak kasus, karena penerapan model arsitektur tradisional yang salah, tidak mengabaikan kaidah-kaidah sebagaimana mestinya mengakibatkan bangunan atau rumah itu bermasalah. Pemahaman seperti itulah yang mendasari pertimbangan hingga penerapan model baru pada arsitektur rumah atau bangunan masa kini dengan corak kekinian pula, tidak mau  mengadopsi potensi arsitektur rumah tradisional.  Kalau pun ada upaya-upaya menyerap model arsitektur rumah tradisional, maka proses adopsi itu secara umum masih belum cukup memuaskan karena hadir hanya sebagai tempelan artistik pemanis, sebatas ornamen ringan semata, bukan karena pertimbangan aktualisasi kekayaan arsitektur tradisional.

Ada pula paradigma yang menilai bahwa dalam konteks waktu, tradisional diidentikkan dengan masa lalu yang kuno dibanding dengan modern, ultra modern atau pasca modern yang sepenuhnya mencerminkan kekinian terbaru. Itu salah satunya yang menyebabkan rumah berarsitektur tradisional yang mengandung berbagai kearifan itu dinilai kuno, ketinggalan zaman hingga pelan-pelan mulai ditinggalkan pemangku kepentingan.

Padahal, sangat penting disadari bahwa transformasi model arsitektur tradisional ke arsitektur moderen sebenarnya dapat terproses secara baik dalam penataan ruang dan lingkungan dari waktu ke waktu, jika saja hal tersebut terus dilakukan dalam kesadaran tinggi. Mencari wujud arsitektur tradisional untuk rumah yang baru dengan penerapan secara bijak dan mematuhi kaidah-kaidah dengan tepat. Semakin cepat dilakukan transformasi akan semakin besar dan efektif manfaatnya bagi masyarakat. Alasan inilah yang mendasari pemikiran; pentingnya berbagi kesadaran untuk sama-sama berusaha menggali dan memahami kembali kearifan dan keunggulan yang terkandung dalam ranah arsitektur rumah tradisional. Kearifan dan keunggulan yang mulai tak diabaikan, ditinggalkan atau bahkan cenderung dilupakan itu. Ini perlu segera direvitalisasi.

Hasil penelusuran, pengkajian dan pelestarian kearifan lokal dalam yang masih dimiliki, perlu ditransformasikan untuk menjadi bekal pengetahuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi pengembangan ilmu arsitektur, untuk generasi sekarang dan generasi penerus, serta bagi kelestarian alam dan lingkungan.

Penerapan wujud identitas dan karakter budaya lokal pada arsitektur rumah tradisional diberbagai kawasan wisata, seharusnya terus menerus dilakukan secara konsepsional. Agar dapat terlihat secara jelas bagaimana esensi kearifan budaya lokal yang diterapkan itu ternyata masih bisa sangat fungsional. Konsep arsitektur tradisional yang diterapkan pada kawasan wisata budaya lokal,  bisa berperan menjadi transformator atas nilai yang ingin diwariskan untuk memperkokoh ketahanan budaya lokal sekaligus nasional.

Perlu pula selalu diperhitungkan, bagaimana penataan suatu kawasan wisata budaya dan sekitarnya yang menyatu dalam konsep arsitektur rumah tradisional setempat. Misalnya dengan penataan secara menyeluruh atas bangunan dan lingkungan diseputar Bola Soba dan juga Balla Lompoa – rumah khas Bugis Makassar. Di kawasan itu, perlu dengan sengaja ditata suatu lanskap yang berorientasi pada arsitektur etnis Bugis-Makassar nan harmonis, misalnya; dengan menanam pohon lontara atau pohon pandan di tamannya sebagai salah satu cara mempertahankan aura masa lalu.

Suatu obyek arsitektur memang dapat menyandang lebih dari satu atribut kategorisasi, bergantung dari sudut pandang yang menilainya: Jika Rumah Tradisional Bugis Makassar seperti : Balla Lompoa, Bola Soba, dalam kenyataannya bahwa dibangun oleh masyarakat tradisional Bugis-Makassar berdasarkan kaidah budaya Bugis-Makassar, maka itu merupakan “Arsitektur etnis Bugis Makassar”; demikian pula bila mengingat “Balla Lompoa” tercipta berdasarkan kaidah dari bakuan teknik arsitektur yang telah diwariskan secara turun-temurun, maka itu merupakan ‘arsitektur tradisional’; Jika ditilik dari strata masyarakat bangsawan yang membangun dan menggunakannya maka Balla Lompoa masuk dalam kategori “arsitektur klasik”.

Begitu pula dengan Tongkonan ma’dandan atau batu a’riri yang merupakan “arsitektur etnis” Toraja, sekaligus merupakan “arsitektur tradisional”. Keberadaan model Tongkonan bisa dan perlu dikembangkan secara berkelanjutan sekaligus dipadukan dengan konsep arsitektur modern, apalagi mengingat Tana Toraja sebagai dareah tujuan wisata Sulawesi Selatan yang wisatawannya datang dari manca negara, tentunya mereka datang karena ingin menikmati keunikan budaya Toraja, salah satunya adalah melihat bentuk serta mengapresiasi arsitektur Tongkonan yang unik itu.

Untuk mewujudkan ketahanan budaya dan konteks pelestarian “Esensi” dan pengembangan “Substansi” arsitektur tradisional Sulawesi Selatan maka;

-Perlu upaya memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan sebagai warisan budaya.

-Perlu upaya memahami substansi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dikembangkan ke dimensi kekinian, seiring dengan perubahan waktu dan kemajuan teknologi yang bergerak ke masa depan.

-Bahwa mempertahankan jatidiri dan karakter etnis lokal amatlah penting di tengah deraan arus modernisasi dan kecenderungan universalisasi. Hal tersebut dapat ikut ditransformasikan melalui kesadaran akan keunggulan budaya yang dimiliki.

-Hidup dan kehidupan memang berhak terus berkembang seiring zamannya, namun perubahan lingkungan strategis etnis yang mengadopsi kearifan-kearifan lokal perlu pula terus ikut diperhitungkan dan dipertahankan guna menjadi roh bagi pengembangan sekaligus dan meningkatkan ketahanan arsitektur berciri tradisional.

Semakin cepat dilakukan kajian untuk menggali nilai dari kearifan arsitektur tradisional lokal dampaknya akan semakin baik, termasuk upaya-upaya transformasi, pewarisan nilai dan teknologi arsitektur tradisional dari para sesepuh, cerdik cendekia bidang budaya, sosiologi dan para arsitek rumah tradisional . Diharapkan dengan terwujudnya kelestarian arsitektur tradisional  Sulawesi Selatan dapat merajut kembali kejayaan masa lalu dan menjadi kebanggaan masa kini. Warisan itu diwujudkan dalam explicit knowledge, yang sangat kita perlukan dalam memantapkan  ketahanan budaya lokal etnis oleh generasi masa kini dan generasi penerus mendatang.

 

                                                   BAHAN  BACAAN

  • Abbas, Ibrahim (1999), Pendekatan Budaya Mandar.
  • Hamid, Abu (1986). Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan. Makassar : Antropologi Unhas.
  • Budi Santoso (1997), Pembangunan Nasional Indonesia dengan Berbagai Persoalan Budaya dalam Masyarakat Majemuk.
  • Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan (2005), Informasi dan Potensi Investasi Pariwisata Sulawesi Selatan
  • Djauhari Sumintardja (1998), Kompendium Sejarah Arsitektur
  • Djauhari Sumintardja (1988), The House in  Tana Toraja (Traditional Housing in Indonesia).
  • Faisal (2007), Arsitetur Tradisional Mandar Provinsi Sulawesi Barat
  • Josef Prijotomo (1988), Pasang surut arsitektur di Indonesia
  • Koentjaraningrat (1993), Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan
  • Kostof, S. (1991), A History of Architecture. Rituals and Settings.
  • Mangunwijaya,YB, (1992) Wastu Citra, Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-sendi Filsafatnya Beserta Contoh-contoh Praktis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
  • Mattulada (1982), Geografi Budaya Daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Depdikbud
  • Nasrul Baddu (1990), Rumah tradisional Bugis Makassar
  • Ronald Arya (2005), Nilai-nilai Arsitektur Tradisional Jawa
  • Rudofsky, B. 1964. Architecture Without Architects.
  • Sampebulu, DR, Ir, M.Eng, (1990), Tradisionalisme dalam arsitektur masa kini
  • Saliya Yuswadi, Ir, M.Arch, (1992), Ragam Hias dalam arsitektur Tradisional Toraja
  • Sachary, A. (2005). Pengantar Metodologi Penelitian Budaya Rupa. Desain, Arsitektur, Seni Rupa, dan Kriya.
  • Tangdilintin, LT, (1979), Tongkonan (Rumah adat Toraja) dengan struktur seng dan konstruksinya.
  • Tjahjono, G. Editor. (2001). Indonesian Heritage. Vol. 6. Architecture.
  • Tuan, Y.F. (1974).Topophilia. A Study of Environmental Perception, Attitudes, and Values.
  • Rinwar Karim, Muktahim, Adnin Sakti, (1992), Arsitektur tradisional Bugis Makassar.
  • Yudono Ananto, Prof, DR, Ir, MSc, (2008) Kearifan arsitektur tradisional rumah panggung dalam hunian modern.

Wikantari Ria, DR, Ir, M.Arch, (2008), Kearifan arsitektur lokal Kawasan Timur Indonesia : Tinjauan Ragam Lintas Etnik.

(http://www.indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja/article/100/tongkonan-rumah-adat-toraja-yang-mengagumkan-penuh-makna)

(http://abdillahmandar.wordpress.com/galeri-foto/buku-tamu/rumah-adat-mandar)

(http://suku-bugis.blogspot.com/p/rumah-rumah-adat-orang-bugis.html

 

(http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Gadang)

Advertisements
Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s


%d bloggers like this: