PERMUKIMAN NELAYAN KOTA

PELAYANAN MINIMAL PRASARANA PERMUKIMAN NELAYAN PERKOTAAN .

* SYAHRIAR TATO*

      I. LATAR BELAKANG.

Permukiman merupakan suatu masalah yang kompleks yang berhubungan dan terkait dengan sosial, ekonomi, budaya, ekologi, dan sebagainya. Kompleksitas yang terjadi dalam permukiman  adalah suatu hal yang wajar mengingat hakekat dan fungsi permukiman begitu luas dalam kehidupan manusia, walaupun tidak dengan sendirinya berarti selalu diperhatikan dan diperhitungkan .

Masalah permukiman berkaitan erat dengan  proses pembangunan yang menyangkut masalah sosial, ekonomi dan lingkungan sekitarnya. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Soedarsono, bahwa permukiman adalah satu kesatuan kawasan perumahan lengkap dengan prasarana lingkungan, prasarana umum, fasilitas sosial yang mengandung keterpaduan kepentingan dan keselarasan pemanfaatan sebagai lingkungan kehidupan.

Peningkatan konsentrasi permukiman sering tidak diikuti dengan peningkatan prasarana dan sarana permukiman. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk maka bertambah pula kebutuhan terhadap prasarana permukiman.

Perkembangan suatu kota diiringi juga dengan peningkatan kebutuhan terhadap pelayanan air bersih perkotaan, sehingga pemerintah maupun swasta atau masyarakat dituntut untuk menyediakan prasarana air bersih ini dengan sebaik-baiknya. Kebutuhan ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kualitas hidupnya yang mengalami peningkatan serta kegiatan perkotaan yang juga berkembang pesat. Penyediaan air untuk keperluan kota dapat berarti luas yaitu mulai dari penyediaan air untuk kebutuhan rumah tangga atau disebut dengan domestik sampai dengan penyediaan air untuk kegiatan industri, perdagangan, perkantoran dan kegiatan perkotaan lainnya atau disebut dengan non domestik.

Kegiatan penduduk dapat ditampung dalam ruang-ruang sarana sosial dan ekonomi, tetapi tidak akan  berjalan dengan baik tanpa didukung oleh pelayanan infrastruktur yang memadai. Sebagai contoh, kegiatan perekonomian penduduk suatu wilayah mungkin dapat ditampung pada ruang-ruang yang berupa sarana perekonomian, seperti kawasan perdagangan, jasa, dan industri yang dimiliki oleh wilayah tersebut, tetapi tanpa dukungan penyediaan jaringan infrastruktur yang baik, seperti jaringan jalan, air bersih, pembuangan sampah, drainase, dan sanitasi, kegiatan tersebut tidak dapat berjalan dengan optimal.

Menurut Undang – Undang RI Nomor 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman, permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri dari atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.

Air bersih dibutuhkan masyarakat perkotaan untuk berbagai keperluan seperti untuk air minum, memasak, mencuci, mandi, menyiram tanaman dan mencuci kendaraan dengan jumlah yang sangat berbeda sesuai dengan tingkat kehidupan sosial, ekonomi dan kebiasaan hidup masyarakat. Keterbatasan penyediaan prasarana air bersih perkotaan yang memadai dapat mempengaruhi kehidupan manusia, produktifitas ekonomi dan kualitas kehidupan kota secara keseluruhan. Persyaratan teknis penyediaan air bersih yang baik apabila memenuhi tiga syarat yaitu ketersediaan air dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kualitas air yang memenuhi standar serta kontinuitas dalam arti air selalu tersedia ketika diperlukan.

Prasarana air bersih merupakan salah satu hal yang penting untuk dikaji mengingat air merupakan kebutuhan pokok yang selalu dikonsumsi oleh masyarakat dan juga berpengaruh besar pada kelancaran aktivitas masyarakat tersebut.  Terpenuhinya kebutuhan akan air bersih merupakan kunci utama bagi perkembangan suatu kegiatan dan menjadi elemen penting bagi keberlanjutan suatu produktivitas perekonomian. Sebenarnya proporsi air yang dikonsumsi untuk rumah tangga dan kegiatan perkotaan sangat kecil bila dibandingkan dengan ketersediaan air secara keseluruhan, namun bila dikaitkan dengan air yang harus berkualitas dan tersedia secara kontinu menyebabkan pelayanan air bersih bagi penduduk dan kebutuhan perkotaan seringkali merupakan masalah.

Seperti halnya ketersediaan akan prasarana air bersih di permukiman nelayan Perkotaan , dimana Air merupakan material yang membuat kehidupan terjadi di bumi, menurut dokter dan ahli kesehatan manusia wajib minum air putih 8 gelas per hari. Tumbuhan dan binatang juga butuh air, sehingga dapat dikatakan air merupakan salah satu sumber kehidupan. Semua organisme yang hidup tersusun dari sel-sel yang berisi air sedikitnya 60 % dan aktivitas metabolisme mengambil tempat di larutan air . 

Kebutuhan Air bersih merupakan kebutuhan yang tidak terbatas dan berkelanjutan. Sedangkan kebutuhan akan penyediaan dan pelayanan air bersih dari waktu ke waktu semakin meningkat yang terkadang tidak diimbangi oleh peningkatan jumlah penduduk, peningkatan derajat kehidupan warga serta perkembangan kota/kawasan pelayanan ataupun hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi warga.

Kurangnya debit air bersih yang mengalir di Permukimana Nelayan mengakibatkan kebutuhan masyarakat akan air bersih belum tercukupi. Debit air bersih dari PDAM yang mengalir ke Permukimana Nelayan Perkotaan terbatas, untuk mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat di Permukiman Nelayan menggunakan sumur galian, sumur bor dengan bantuan tenaga surya, walaupun air yang di hasilkan dari sumur bor atau sumur galian ini masih jauh dari standar kesehatan akan tetapi masyarakat terpaksa menggunakan air tersebut untuk meminimalisir kebutuhan setiap harinya.

 

 

II.Pengertian Wilayah dan Permukiman

Pengertian Wilayah adalah : ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional (UU Penataan Ruang RI No. 26 Tahun 2007),  wilayah adalah sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu dimana komponen-komponen wilayah tersebut satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. Sehingga batasan wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis. Komponen-komponen wilayah mencakup komponen biofisik alam, sumberdaya buatan (infrastruktur), manusia serta bentukbentuk kelembagaan. Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar manusia dengan sumberdaya-sumberdaya lainnya yang ada di dalam suatu batasan unit geografis tertentu.

Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan (UU no 1 tahun 2011 tentang perumahan dan permukiman), sedangkan dalam (Undang-undang No. 4 1992) Permukiman adalah sebagai bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

Menurut Daxiadis  bahwa permukiman adalah penataan kawasan yang dibuat oleh manusia dan tujuannya adalah untuk berusaha hidup secara lebih mudah dan lebih baik (terutama pada masa kanak- kanak) memberi rasa bahagia dan rasa aman  (seperti diisyaratkan oleh Aristoteles) dengan mengandung kesimpulan untuk membangun manusia seutuhnya, sementara Batubara  merumuskan bahwa permukiman adalah suatu kawasan perumahan yang ditata secara fungsional, ekonomi dan fisik tata ruang yang dilengkapi dengan prasarana lingkungan, sarana umum dan fasilitas sosial sebagai satu kesatuan yang utuh dengan membudidayakan sumber daya dan dana, mengelolah lingkungan yang ada untuk mendukung kelangsungan perikatan mutu kehidupan manusia, memberikan rasa aman, tentram dan nikmat, nyaman dan sejahtera dalam keserasian dan keseimbangan agar berfungsi sebagai wadah yang dapat melayani kehidupan, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Pemukiman sering disebut perumahan dan atau sebaliknya. Pemukiman berasal dari kata housing dalam bahasa inggris yang artinya adalah perumahan dan kata human settlement yang artinya pemukiman. Perumahan memberikan kesan tentang rumah atau kumpulan rumah beserta prasarana dan sarana lingkungannya. Perumahan menitikberatkan pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan land settlement. Sedangkan pemukiman memberikan kesan tentang pemukiman atau kumpulan pemukim beserta sikap dan perilakunya di dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitikberatkan pada sesuatu yang bukan bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human). Dengan demikian perumahan dan pemukiman merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat erat hubungannya, pada hakekatnya saling melengkapi.

 

Dari beberapa pengertian mengenai permukiman tersebut di atas, maka permukiman pada dasarnya dapat terbagi ke dalam lima unsur, yaitu: alam (tanah, air, udara, hewan dan tetumbuhan), lindungan (shells), jejaring (networks), manusia dan masyarakat. Alam merupakan unsur dasar. Di dalam itulah diciptakan lindungan (rumah dan gedung lainnya) sebagai tempat manusia tinggal serta berbagai kegiatan lain dan jejaring (jalan, jaringan utilitas) yang memfasilitasi hubungan antar sesama maupun antar unsur yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa permukiman adalah paduan antar unsur manusia dengan masyarakatnya, alam dan unsur buatan.

 

Ada pula yang menganggap bahwa tatanan permukiman terbentuk tidak lain adalah produk pengaturan atau kemampuan institusi. Pandangan Marx juga juga digunakan untuk menelaah terbentuknya susunan permukiman. Menurut pandangan ini pola permukiman adalah produk perjuangan kelas, hasil kemenangan atau kekalahan kelas buruh atas perjuangannya melawan para kapitalis. Bagian lain pandangan Marx yang juga digunakan untuk menerangkan permukiman, adalah proses manipulasi yang dilakukan para kapitalis dalam membuat nilai guna menjadi nilai tukar .

 

Permukiman terbentuk dari kesatuan isi dan wadahnya. Kesatuan antara manusia sebagai penghuni (isi) dengan lingkungan hunian (wadah). Dalam pengaturan permukiman dibutuhkan berbagai pengkajian, tidak hanya terhadap faktor-faktor fisik alami saja, akan tetapi juga harus memperhitungkan karakter manusianya serta kearifan lokal yang berlaku sebagai kehidupan yang utama. Karena esensi permukiman meliputi manusia serta wadahnya (tempat) maka perlu memahami dengan baik hubungan antara elemen – elemen permukiman itu sendiri.

 

III. Pengertian Permukiman Nelayan

Menurut ST. Khadija  arti kata Nelayan terbagi dalam dua pengertian nelayan yaitu :

  1.  Nelayan Sebagai Subyek/Orang; merupakan sekelompok masyarakat manusia yang memiliki kemampuan serta sumber kehidupan disekitar pesisir pantai.
  2.  Nelayan sebagai predikat/pekerjaan; suatu sumber penghasilan masyarakat yang berkaitan erat dengan sektor perikanan dan perairan (laut dan sungai).

Permukiman nelayan adalah merupakan lingkungan tempat tinggal dengan sarana dan prasarana dasar yang sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan dan memiliki akses dan keterikatan erat antara penduduk permukiman nelayan dengan kawasan perairan sebagai tempat mereka mencari nafkah, meskipun demikian sebagian dari mereka masih terikat dengan daratan.

Secara umum permukiman nelayan dapat digambarkan sebagai suatu permukiman yang sebagian besar penduduknya merupakan masyarakat yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Sedangkan pekerjaan nelayan itu sendiri adalah pekerjaan yang memiliki ciri utama adalah mencari ikan di perairan. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 15/Permen/M/2006 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelenggaraan Pengembangan Kawasan Nelayan, perumahan kawasan nelayan untuk selanjutnya disebut kawasan nelayan adalah perumahan kawasan khusus untuk menunjang kegiatan fungsi kelautan dan perikanan.

 

Pada perkembangannya kampung-kampung nelayan berkembang semakin padat dan tidak tertib karena pertumbuhan penduduk alami dan urbanisasi. Kriteria fisik lingkungan kawasan permukiman nelayan sebagai berikut: (Depertemen Pekerjaan Umum)

  1.  Tidak berada pada daerah rawan bencana
  2.  Tidak berada pada wilayah sempadan pantai dan sungai
  3.  Kelerengan : 0 – 25 %
  4.  Orientasi horizontal garis pantai :  > 600
  5.  Kemiringan dasar pantai : terjal – sedang
  6.  Kemiringan dataran pantai : bergelombang – berbukit
  7.  Tekstur dasar perairan pantai : kerikil – pasir
  8.  Kekuatan tanah daratan pantai : tinggi
  9.  Tinggi ombak signifikan : kecil
  10.  Fluktuasi pasang surut dan arus laut : kecil
  11.  Tidak berada pada kawasan lindung
  12.  Tidak terletak pada kawasan budidaya penyangga, seperti kawasan   mangrove.

Kawasan permukiman nelayan ini dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang memadai untuk kelangsungan hidup dan penghidupan para keluarga nelayan. Kawasan permukiman nelayan merupakan merupakan bagian dari sistem permukiman perkotaan atau perdesaan yang mempunyai akses terhadap kegiatan perkotaan/perdesaan lainnya yang dihubungkan dengan jaringan transportasi.

Pendapat lain disampaikan oleh Departemen Pekerjaan Umum Bidang Cipta karya tentang karakteristik permukiman nelayan adalah :

  1.  Merupakan Permukiman yang terdiri atas satuan-satuan perumahan yang memiliki berbagai sarana dan prasarana yang mendukung kehidupan dan penghidupan penghuninya.
  2.  Berdekatan atau berbatasan langsung dengan perairan, dan memiliki akses yang tinggi terhadap kawasan perairan.
  3.  60% dari jumlah penduduk merupakan nelayan, dan pekerjaan lainnya yang terkait dengan pengolahan dan penjualan ikan.
  4.  Memiliki berbagai sarana yang mendukung kehidupan dan penghidupan penduduknya sebagai nelayan, khususnya dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan eksplorasi ikan dan pengolahan ikan.

Kawasan permukiman nelayan tersusun atas satuan-satuan lingkungan perumahan yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan yang sesuai dengan besaran satuan lingkungan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kawasan perumahan nelayan haruslah mempunyai ataupun memenuhi prinsip-prinsip layak huni yaitu memenuhi persyaratan teknis, persyaratan administrasi, maupun persyaratan lingkungan. Dari berbagai parameter tentang permukiman dan karakteristik nelayan dapat dirumuskan bahwa permukiman nelayan merupakan suatu lingkungan masyarakat dengan sarana dan prasarana yang mendukung, dimana masyarakat tersebut mempunyai keterikatan dengan sumber mata pencaharian mereka sebagai nelayan.

      IV.Karakteristik Kehidupan Masyarakat Nelayan

  1. 1.      Kehidupan Masyarakat Nelayan Ditinjau Dari Aspek Sosial

Hubungan sosial yang terjadi dalam lingkungan masyarakat nelayan adalah akibat interaksi dengan lingkungannya. Adapun ciri sosial masyarakat nelayan sebagai berikut:

  1. Sikap kekerabatan atau kekeluargaan yang sangat erat.
  2. Sikap gotong royong/paguyuban yang tinggi.

Kedua sikap telah banyak mewarnai kehidupan masyarakat nelayan yang pada umumnya masih bersifat tradisional. Lahirnya sikap ini sebagai akibat dari aktivitas nelayan yang sering meninggalkan keluarganya dalam kurun yang waktu cukup lama, sehingga timbul rasa keterkaitan serta keakraban yang tinggi antara keluarga-keluarga yang ditinggalkan untuk saling tolong menolong.

Hal ini dapat tercermin pada pola permukimannya yang mengelompok  dengan jarak yang saling berdekatan, sikap gotong royong yang tampak pada saat pembuatan rumah, memperbaiki jala ikan, memperbaiki perahu, dan alat tangkap serta pada upacara adat, ketika akan melakukan penangkapan ikan yang juga dilakukan secara gotong royong di laut yang dipimpin oleh seorang punggawa.

            2. Kehidupan Masyarakat Nelayan Ditinjau Dari Aspek Budaya

Beberapa hal yang telah membudaya dalam masyarakat nelayan adalah kecenderungan hidup lebih dari satu keluarga dalam satu rumah atau mereka cenderung untuk menampung keluarga serta kerabat mereka dalam waktu yang cukup lama, hal ini menyebabkan sering dijumpai jumlah anggota keluarga dalam satu rumah melebihi kapasitas daya tampung, sehingga ruang gerak menjadi sempit dan terbatas. Dan dampaknya itu pula, mereka cenderung untuk memperluas rumah tanpa terencana.

Adapun adat kebiasaan yang turun temurun telah berlangsung pada masyarakat nelayan adalah seringnya mengadakan pesta syukuran atau selamatan, misalnya pada waktu peluncuran perahu baru ketika akan melakukan pemberangkatan, dan saat berakhirnya musim melaut agar pada musim berikutnya mendapatkan hasil yang lebih banyak dan lain-lain.

Masyarakat nelayan pada umumnya mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, menyebabkan kurangnya pengetahuan mereka sehingga menghambat kemajuan nelayan sendiri, antara lain sulitnya bagi pemerintah untuk memberi bantuan dalam bentuk penyuluhan maupun modernisasi peralatan (Mubyarto;1985). Hal  ini juga berpengaruh dalam lingkungan permukimannya, karena rendahnya pengetahuan akan pentingnya rumah sehat yang mengakibatkan mereka menganggapnya sebagai suatu kebutuhan.

3. Kehidupan Masyarakat Nelayan Ditinjau Dari Aspek Ekonomi

Usaha perikanan banyak tergantung pada keadaan alam, sehingga pendapatan nelayan tidak dapat ditentukan.  Tingkat penghasilan nelayan umumnya dibagi atas dua: 

  1. Penghasilan bersih yang diperoleh selama melaut jika seorang “sawi” maka besar pendapatannya sesuai dengan kesepakatan.
  2. Penghasilan sampingan yaitu penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan tambahan, baik pekerjaan itu didapat ketika jadi buruh, bertani dan berdagang maupun pekerjaan atau kerajinan dalam mengelola hasil laut lainnya.

Diamati kondisi ekonomi ketiga kelompok tersebut diatas, maka sepintas lalu dapat dikemukakan bahwa umumnya taraf hidup kehidupan masyarakat nelayan terutama yang menangkap ikan secara tradisional, termasuk paling rendah, sedangkan masyarakat pantai yang bergerak dibidang petempaian/tambak menempati taraf hidup yang lebih baik. Sedangkan untuk yang teratas diduduki oleh masyarakat/pedagang . Desa nelayan umumnya terletak dipesisir pantai, maka penduduk desa tersebut sebagian besar mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan. Melihat bahwa mereka berada pada daerah pesisir sehingga akan bertambah secara berkelompok-kelompok mengikuti pola lingkungan karena adanya faktor laut sebagai faktor pendukung, sehingga penduduk setempat mempunyai tata cara kehidupan yang bersifat tradisional dengan kehidupan yang spesifik pula.

V.Perkembangan Kota dan Dampaknya Terhadap Penyediaan Prasarana Wilayah

Wilayah merupakan tempat tinggal dan tempat bekerja bagi sebagian  penduduk dunia, merupakan tempat yang dapat memberikan peluang atau harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi sekelompok orang dan merupakan tempat yang menarik penduduk dari waktu ke waktu . Dengan berbagai daya tarik yang dimiliki suatu  kawasan, menjadikan sebagai tempat yang menarik untuk dihuni oleh masyarakat. Pada suatu wilayah yang akan menyebabkan wilayah tersebut semakin tumbuh dan berkembang serta meningkatkan perekonomiannya.  

Perkembangan kota yang merupakan bagian dari pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pada dasarnya bukan hanya merupakan kemauan dari pemerintah sendiri, tetapi juga terjadi akibat dari perkembangan penduduk dan semakin banyaknya kebutuhan dari masyarakat kota itu sendiri. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi dan terbatasnya ruang yang tersedia terutama  bagi Kota-Kota pusat pengembangan wilayah dapat menimbulkan persoalan-persoalan diantaranya adalah sebagai berikut:

  1.  Kebutuhan ruang bagi pengembangan sarana dan prasarana kota untuk  memenuhi kebutuhan penduduknya dan segala tuntutannya pada masa yang  akan datang tidak dapat terpenuhi,
  2.  Ekspansi kegiatan perkotaan di wilayah pinggiran yang tidak sesuai dengan  pola kebijaksanaan pengembangan kota telah menimbulkan pola peruntukan  lahan yang tidak teratur,
  3.  Menurunnya kualitas lingkungan kehidupan perkotaan akibat menurunnya  tingkat pelayanan yang ditinjau dari segi rasio antara jumlah sarana dan prasarana yang ada dengan jumlah penduduk.

Perkembangan dan pertumbuhan wilayah juga meningkatkan kebutuhan akan sarana dan prasarana wilayah. Peningkatan tersebut diikuti dengan tuntutan akan pelayanan yang lebih baik dari prasarana kota yang sudah ada. Perkembangan kota dan segala aktivitasnya tidak terlepas dari kebutuhan prasarana pendukung yang lebih lengkap bagi kehidupan penduduk kota seperti air bersih.

Unsur ini merupakan konsekuensi dari suatu kota atau merupakan karakteristik dasar sebagai fungsi sebuah wilayah. Perkembangan penduduk yang tidak disertai dengan pengembangan dan pembangunan prasarana wilayah yang baru membuat prasarana wilayah yang ada tidak dapat melayani lagi kebutuhan penduduk yang semakin besar. Akibatnya adalah terjadi undersupply  dalam pemenuhan kebutuhan penduduk. Besarnya jumlah penduduk yang tidak terlayani oleh prasarana wilayah akan membuat semakin besarnya beban yang ditanggung oleh wilayah tersebut .

Agar prasarana wilayah dapat melayani penduduk yang semakin berkembang, maka perlu dilakukan perhitungan antara tingkat kebutuhan masyarakat dengan tingkat ketersediaan prasarana wilayah sesuai dengan jumlah penduduk yang ada. Perhitungan tingkat kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan prasarana wilayah pada masa yang akan datang, didapat berdasarkan hasil proyeksi dari jumlah penduduk.

Demikian halnya yang terjadi dalam pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penduduk pada suatu wilayah. Pada beberapa negara berkembang seperti Indonesia, terjadi kesenjangan dalam pemenuhan kebutuhan air bersih bagi penduduk kotanya. Perkembangan kota akibat dari meningkatnya perekonomian dan pembangunan serta ekonomi sosial masyarakatnya menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan prasarana kota seperti sistem jaringan air bersih.

Meningkatnya perekonomian dan pembangunan suatu kota dapat dilihat dari tingkat pendapatan penduduknya serta berkembangnya wilayah perkotaan tersebut. Perkembangan pembangunan jaringan air bersih yang baru, yang tidak dapat mengiringi laju perkembangan penduduk yang ada menyebabkan terjadinya kesenjangan kebutuhan akan air bersih sehingga terjadi penurunan cakupan pelayanan. Tuntutan penduduk perkotaan akan kualitas dan kuantitas yang memadai serta kontinuitas aliran yang merupakan bagian dari operasional dan pelayanan air bersih juga turut mewarnai berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan sistem penyediaan air bersih.

Dalam pembangunan sistem penyediaan air bersih guna pengembangan kota, aspek fisik wilayah seperti topografi, sumber air baku dan perubahan tata guna lahan merupakan aspek yang sangat penting. Tata guna lahan atau tanah, sangat terkait dengan sumber-sumber air baku dan lingkungan bagi pemenuhan kebutuhan akan air bersih perkotaan.

 

  1. A.      Ketersediaan Infrastruktur permukiman nelayan

Infrastruktur adalah Fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air bersih, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan ekonomi dan sosial.

Menurut Grigg, Infrastruktur merujuk pada sistem phisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas public yang lain yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi.

Infrastruktur fisik dan sosial adalah dapat didefinisikan sebagai kebutuhan dasar fisik pengorganisasian sistem struktur yang diperlukan untuk jaminan ekonomi sektor publik dan sektor privat sebagai layanan dan fasilitas yang diperlukan agar perekonomian dapat berfungsi dengan baik. Istilah ini umumnya merujuk kepada hal infrastruktur teknis atau fisik yang mendukung jaringan struktur seperti fasilitas antara lain dapat berupa jalan, air bersih, bandara, kanal, waduk, tanggul, pengolahan limbah, listrik, telekomunikasi, pelabuhan secara fungsional. Infrastruktur selain fasilitasi akan tetapi dapat pula mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat, distribusi aliran produksi barang dan jasa sebagai contoh bahwa jalan dapat melancarkan transportai pengiriman bahan baku sampai ke pabrik kemudian untuk distribusi ke pasar hingga sampai kepada masyarakat.

 

Secara lebih luas dapat dikatakan bahwa infrastruktur adalah bangunan atau fasilitas-fasilitas dasar, peralatan-peralatan, dan instalasi-instalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk mendukung berfungsinya suatu sistem tatanan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Infrastruktur merupakan aset fisik yang dirancang dalam sistem, sehingga mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

 

Secara lebih spesifik oleh American Publik Work Association  infrastruktur didefinisikan sebagai fasilitas–fasilitas phisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik atau fungsi-fungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan ekonomis sosial .

Menurut Grigg sistem infrastruktur dapat didefiniskan sebagai fasilitas-fasilitas atau struktur-struktur dasar, peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan ekonomi masyarakat.

Definisi Teknik juga memberikan spesifikasi apa yang dilakukan sistem infrastruktur dan menyatakan bahwa infrastruktur adalah asset yang dirancang dalam sistem sehingga memberikan pelayanan publik yang penting.

Dari definisi infrastruktur yang dikemukakan oleh Grigg, infrastrukttur dibagi ke dalam 13 kategori. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel  2.1 Depskripsi Pengertian Infrastruktur

 

No

Deskripsi

Terkait SD Air

1

Sistem penyediaan air : waduk, penampungan air, transmisi dan distribusi, fasilitas pengolahan air (treatment plant)

ü   

2

Sistem pengolahan air limbah pengumpul, pengolahan, pembuangan, daur ulang

ü   

3

Fasilitas pengolahan limbah (padat)

 

4

Fasilitas pengendalian banjir, drainase dan irigasi

ü   

5

Fasilitas lintas air dan navigasi

ü   

6

Fasilitas transportasi: jalan, rel, Bandar udara

 

7

Sistem transit public

 

8

Sistem kelistrikan: produksi dan distribusi (bila sumber PLTA)

ü   

9

Fasilitas gas alam

 

10

Gedung public: sekolah, rumah sakit

 

11

Fasilitas perumahan public

 

12

Taman kota sebagai daerah resapan, te,pat bermain termasuk stadion

ü   

13

Komunikasi

 

Sumber: Robert dan Roestam, 2010.

  1. B.      Prasarana Air Bersih Sebagai Prasarana Fisik Kota

Sarana dan prasarana wilayah menurut Bourne, berperan dalam pembangunan bentuk fisik kota dan kualitas hidup di dalamnya. Semua sarana dan prasana tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup manusia, namun tidak semua sarana dan prasarana kota dapat berperan dalam membangun dan menentukan bentuk fisik kota. Hanya prasarana yang membentuk sistem jaringan yang dapat membangun dan menentukan bentuk fisik kota. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sistem penyediaan air bersih yang merupakan bentuk prasarana dengan sistem jaringan dapat mengarahkan dan membangun bentuk fisik suatu wilayah.

Dengan adanya pertumbuhan penduduk pada suatu wilayah yang sangat pesat di Indonesia, telah menyebabkan timbulnya berbagai macam permasalahan khususnya terkait dengan masalah pelayanan infrastruktur dasar perkotaan seperti sistem drainase kota, sistem saluran limbah, sistem pengelolaan sampah dan air bersih.

Pada dasarnya jumlah kebutuhan pelayanan infrastruktur dasar perkotaan dipengaruhi oleh tiga variabel, yaitu:

  1.  Jumlah penduduk yang dilayani: semakin besar jumlah dan kepadatan penduduk pada suatu kota, menyebabkan semakin besar infrastruktur yang dibutuhkan oleh kota tersebut,
  2.  Luas wilayah yang ditempati oleh penduduk: semakin luas dan tersebarnya penduduk suatu perkotaan menyebabkan semakin besarnya jumlah infrastruktur yang disediakan,
  3.  Pendapatan perkapita: permintaan akan jasa pelayanan umum bersifat elastis terhadap pendapatan (income elastic). Seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat suatu kota, maka masyarakat tersebut cenderung membutuhkan tingkat pelayanan perkotaan yang lebih baik secara kuantitas maupun kualitas.

 

Sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk, penyebaran penduduk dan peningkatan pendapatan masyarakat suatu kota akan sangat mempengaruhi dalam pemenuhan kebutuhan air bersih yang merupakan bagian dari infrastruktur dasar perkotaan.

Prasarana merupakan suatu fasilitas dan instalasi dasar dimana kelangsungan dan pertumbuhan masyarakat sangat bergantung. Prasarana erat kaitannya dengan jumlah penduduk dan sosial ekonomi penduduk. Secara singkat dapat dikatakan bahwa sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, sistem sarana dan prasarana perkotaan akan semakin berkembang, pendapatan penduduk meningkat dan implikasinya timbul tuntutan terhadap berbagai sarana dan prasarana dasar perkotaan bagi wilayah wilayah dan mengarahkan perkembangan dan pembanguna wilayah dengan memanfaatkan pembangunan sarana dan prasarana dasar tersebut.

Tuntutan ini terkait dengan tingkat pelayanan air bersih yang diberikan oleh pemerintah. Salah satu komponen prasarana dasar perkotaan yang cukup penting adalah pelayanan air bersih. Air merupakan salah satu kebutuhan utama manusia yang paling vital. Tanpa air, manusia tidak dapat melangsungkan kehidupannya. Air digunakan pada hampir setiap aspek kehidupan manusia, mulai dari penggunaan untuk rumah tangga sampai pada penggunaan yang lebih luas seperti komersial, sosial, perdagangan dan lain sebagainya.

Menurut Model Penyiapan Program Pembangunan Prasarana dan Sarana Dasar Perkotaan Tahun 1994, pemenuhan kebutuhan air bersih suatu daerah perkotaan dapat dianalisis berdasarkan:

  1.  Faktor Penduduk.

Perubahan penduduk perlu diperhatikan dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bersih perkotaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:  Jumlah penduduk, untuk mengetahui jumlah kebutuhan air bersih yang dipenuhi,  Kepadatan penduduk, semakin meningkatnya kepadatan penduduk di suatu daerah maka akan memerlukan tingkat pelayanan air bersih yang lebih baik,  Laju pertumbuhan penduduk, diperlukan dalam perencanaan yaitu untuk mengetahui kebutuhan penduduk akan prasarana pelayanan air bersih.

  1.  Tingkat Pelayanan.

Tingkat pelayanan yang dicanangkan oleh Pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat pada tahun 2015 (Millenium Development Goals) yang merupakan ukuran cakupan pelayanan, yaitu sebesar 80 % untuk penduduk di daerah perkotaan dan 60 % untuk penduduk di daerah pedesaan. Tingkat pelayanan ini ditentukan berdasarkan jumlah penduduk yang akan memperoleh pelayanan air bersih dibandingkan dengan jumlah penduduk keseluruhan, baik untuk kebutuhan domestik seperti rumah tangga maupun untuk kebutuhan non domestik seperti fasilitas sosial, perkantoran, perdagangan dan industri.

  1.  Jenis pelayanan dan satuan kebutuhan air yang meliputi:
    1. Rumah tangga, baik sambungan langsung maupun kran umum,
    2. Fasilitas sosial,
    3. Fasilitas perdagangan/niaga,
    4. Industri,
    5. Kebutuhan khusus.

 

Menurut Linsey, ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam penggunaan air bersih diperkotaan, yaitu:

  1.  Iklim: pada musim kemarau, kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci, mandi, menyiram tanaman akan semakin meningkat,
  2.  Ciri-ciri penduduk: taraf hidup dan kondisi sosial ekonomi penduduk mempunyai korelasi yang positif dengan kebutuhan air bersih. Penduduk dengan kondisi sosial ekonomi yang baik dan taraf hidup yang tinggi akan membutuhkan air bersih yang lebih banyak daripada penduduk dengan sosial ekonomi yang kurang mencukupi dan memiliki taraf hidup rendah. Meningkatnya kualitas kehidupan penduduk menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas hidup yang diikuti pula dengan meningkatnya kebutuhan akan air bersih
  3.  Ukuran kota: ukuran kota diindikasikan dengan jumlah sarana dan prasarana yang dimiliki oleh suatu kota yaitu permukiman, perdagangan, industri dan lain sebagainya. Semakin banyak sarana dan prasana kota yang dimiliki, maka kebutuhan akan pemakaian air juga semakin besar.

Penggunaan air bersih perkotaan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Besaran kota: membawa pengaruh tidak langsung misalnya komunitas yang lebih kecil cenderung membatasi pemakaian air,
  2. Karakteristik penduduk: terutama tingkat sosial ekonomi, semakin tinggi tingkat pendapatan suatu penduduk maka akan semakin banyak pula air bersih yang digunakan,
  3. Bermacam-macam faktor seperti iklim dan kualitas air.

 

  1. C.       Sistem Pelayanan Air Bersih Perkotaan

Menurut Noerbambang, ada 4 komponen utama  yang termasuk kedalam sistem penyediaan air bersih, yaitu:

  1.  Unit pengumpul/intake air baku (collection or intake work).

Sumber air baku terdiri dari lima sumber dan sistem Pengambilan/ pengumpulan (collection work) yang disesuaikan dengan jenis sumber yang dipergunakan dalam sistem penyediaan air bersih. Sumber air baku sangat berperan penting dalam pemberian      pelayanan air bersih kepada masyarakat. Sumber air baku itu sendiri terdiri atas: 

  1. Air hujan (air hasil kondensasi uap air yang jatuh kebumi),      
  2. Air tanah yang bersumber dari mata air,            
  3. Air artesis atau air sumur dangkal maupun sumur dalam,
  4. Air permukaan (air waduk, air sungai dan air danau),
  5. Air laut,  Air hasil pengolahan buangan.

Dari kelima sumber air baku diatas, sumber air baku yang berasal dari air permukaan merupakan sumber alternative yang banyak dipilih karena kuantitasnya yang cukup besar.

2.   Unit pengolahan air/sistem produksi (purification or treatment work).

Proses pengolahan bertujuan untuk merubah air baku yang tidak memenuhi standar kualitas air bersih, menjadi air yang bersih dan siap untuk dikonsumsi. Sistem produksi dan     pengolahan air bersih disebut juga dengan Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang merupakan instalasi           pengolahan air dari air baku menjadi air bersih yang siap untuk diberikan kepada pihak konsumen.

3.   Unit transmisi/sistem transmisi (transmision work).

Sistem transmisi dalam penyediaan air bersih adalah pemindahan atau pengangkutan air dari sumber air bersih yang telah memenuhi syarat secara kualitas atau merupakan suatu           bangunan pengumpul (reservoir), hingga memasuki jaringan pipa sistem distribusi. Lokasi             atau topografi sumber air baku serta wilayah yang berbukit-bukit dapat mempengaruhi terhadap panjang atau pendeknya pipa serta cara pemindahan baik secara gravitasi ataupun dengan sistem pemompaan.

       4. Unit distribusi/sistem distribusi (distribution work).

Sistem distribusi air bersih adalah sistem penyaluran air bersih berupa jaringan pipa yang menghubungkan antara reservoir dengan daerah pelayanan atau konsumen yang berupa sambungan rumah, kran umum atau bahkan yang belum terjangkau oleh sistem perpipaan yang dilayani melalui terminal air/tangki air yang dipasok melalui mobil tangki. Sistem distribusi ini yang terkait dengan umur jaringan perpipaan merupakan sistem yang paling penting dalam penyediaan air bersih. Hal ini mengingat baik buruknya pelayanan air bersih dinilai dari baik tidaknya sistem distribusi, artinya masyarakat hanya mengetahui air sampai kepengguna atau konsumen, dan masyarakat tidak melihat bagaimana prosesnya.

 

ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sistem distribusi air bersih yaitu:

  1. Air harus sampai pada masyarakat pengguna dengan kualitas baik dan tanpa ada kontaminasi (kualitas air yang diproduksi),
  2. Dapat memenuhi kebutuhan masyarakat setiap saat dan dalam jumlah yang cukup (kuantitas dan kontinuitas air yang diproduksi),
  3. Sistem dirancang sedemikian rupa, sehingga kebocoran atau tingkat kehilangan air pada sistem distribusi dapat dihindari. Hal ini penting karena menyangkut efektifitas pelayanan dan efisiensi pengelolaan,
  4. Tekanan air dapat menjangkau daerah pelayanan walaupun dengan kondisi air bersih yang sangat kritis.

Pada kenyataannya, penyediaan dan pelayanan air bersih menjadi tidak efektif dan efisien. Menurut Ditjen Cipta Karya , faktor-faktor yang sangat dominan dan sering menjadi persoalan dalam air bersih adalah:

  1. Sumber air baku seperti mata air dan air tanah, kualitas dan kuantitasnya semakin menurun dan jaraknya semakin jauh dari daerah pelayanan (aksesibilitas). Air baku adalah air yang belum diolah, diambil dari sumbernya seperti sungai dan atau air tanah yang mempunyai kualitas air yang memenuhi persyaratan standar air baku untuk air bersih. Menurunnya kualitas dan kuantitas air baku bisa juga disebabkan karena faktor kesalahan manusia seperti terjadinya pencemaran lingkungan, kerusakan hutan disekitar daerah aliran sungai atau daerah hulu yang merupakan daerah resapan air (catchment area) dan lain sebagainya,
  2. Belum dimanfaatkannya secara optimal kapasitas produksi terpasang (idle capacity) dari perusahaan air minum yang ada,
  3. Tingkat kebocoran yang masih sangat tinggi baik kebocoran fisik atau teknis melalui jaringan pipa distribusi (akibat umur jaringan pipa yang sudah tua) maupun kebocoran administratif akibat ketidakmampuan para pelaksana atau sistem yang ada.

             D.Pemanfaatan Sumber Daya Air

pemenuhan kebutuhan air bersih pada suatu wilayah  dapat dilakukan dengan cara pemanfaatan sumber daya air, yaitu:

  1.  Mengalirkan air dari sumbernya ke tempat pengguna atau pelayanan umum. Dimana, pelayanan dilakukan oleh pemerintah kota setempat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dengan memanfaatkan sumber air baku yang ada dan diolah serta didistribusikan kedaerah pelayanan atau pelanggan. 
  2.  Mengusahakan sendiri dengan menggali sumur. Penggalian sumur melalui sumur gali atau sumur bor banyak dilakukan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan domestik, niaga dan industri.

Dalam melakukan pelayanannya, Perusahaan Daerah Air Minum selaku stakeholders atau pihak yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola air bersih bagi masyarakat harus memperhatikan aspek pelayanan yang berperan penting dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Aspek pelayanan sangat mempengaruhi langsung karena langsung menyentuh kepada masyarakat selaku pengguna air bersih. Untuk dapat meningkatkan kapasitas pelayanan air bersih kepada masyarakat diperlukan aturan dan kebijakan yang dapat dijadikan sebagai dasar dan pedoman dalam pengelolaan air bersih.

Aturan tersebut bisa berupa undang-undang atau peraturan pemerintah yang berisi aturan, hak dan kewajiban serta dukungan dalam peningkatan kapasitas pelayanan air bersih. Sedangkan kebijakan bisa berupa dukungan dan bantuan pendanaan yang diberikan oleh pihak eksekutif dan legislatif guna mendukung dalam pelayanan air bersih kepada masyarakat.

sistem penyediaan air minum bila dilihat dari bentuk dan tekniknya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Sistem penyediaan air minum individual (individual water system atau rural water supply sistem). Sistem ini merupakan sistem yang sangat sederhana seperti halnya sumur-sumur yang digunakan dalam suatu rumah tangga. Secara komponen, sistem penyediaan air minum ini lengkap tetapi secara kapasitas maupun bentuk pelayanannya, sistem ini sangat terbatas.
  2. Sistem penyediaan air minum komunitas atau perkotaan (community municipality water supply system atau public water supply sistem). Sistem ini merupakan sistem yang digunakan untuk suatu komunitas kota dengan bentuk pelayanannya yang menyeluruh untuk kebutuhan domestik, perkotaan maupun industri.

 

E. Sarana Permukiman Nelayan

  1. Tempat Pelelangan Ikan (TPI)

Tempat pelelangan ikan (TPI) adalah tempat jual beli ikan dengan sistem lelang dimana terdapat kegiatan menimbang, menempatkan pada keranjang-keranjang dengan jenis-jenisnya atau digelar di lantai siap untuk dilelang, kemudian pelelangan lalu pengepakan dengan es untuk keranjang/peti ikan yang sudah beku.

Lokasi TPI sebaiknya dekat dengan dengan dermaga sehingga memudahkan pengangkutannya dari kapal-kapal. Kegiatan ini banyak menggunakan air, oleh karena itu sebaiknya dekat dengan air bersih kondisi saluran drainase di lokasi TPI harus baik agar air tidak tergenang sehingga tidak menimbulkan bau yang menyengat.

  1. Tambatan Perahu

Tempat penambatan perahu adalah tempat perahu-perahu bersandar / parkir sebelum dan sesudah bongkar muat ikan. Biasanya berdekatan dengan TPI. Fungsi tambatan perahu sebagai tempat untuk mengikat perahu saat berlabuh dan tempat penghubung antara dua tempat yang dipisahkan oleh laut, sungai maupun danau. Terdapat dua tipe tambatan perahu terdiri dari:

  1. Tambatan tepi, digunakan apabila dasar tepi sungai atau pantai cukup  dalam, dibangun searah tepi sungai atau pantai.
  2. Tambatan dermaga, digunakan apabila dasar sungai atau pantai cukup landai, dibangun menjalar ketengah.
  3. Tempat Penjemuran Ikan

Tempat penjemuran ikan berfungsi untuk mengeringkan ikan sebagai proses pengawetan. Adapun syarat-syarat tempat penjemuran ikan sebagai berikut:

  1. Tempat penjemuran ikan sebaiknya berupa lapangan terbuka atau terkena sinar matahari.
  2. Wadah penjemuran ikan sebaiknya berlubang agar air dapat turun supaya cepat kering dan tidak berkarat.
  3. Tempat penjemuran ikan diusahakan bersih dengan membuat saluran pembuangan.
  4. Sebaiknya ada jaringan drainase supaya tidak ada air yang tergenang sehingga tidak menimbulkan bau.
  5. Lokasi penjemuran ikan sebaiknya mudah di awasi.

 

F.Prasarana Permukiman Nelayan

Prasarana adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan yang pengadaannya memungkinkan suatu kawasan permukiman nelayan dapat beroperasi dan berfungsi sebagaimana mestinya, seperti : jaringan air bersih dan air limbah, jaringan drainase, jaringan persampahan, dan jaringan jalan.

  1. 1.     Jaringan Jalan

Jaringan jalan merupaka prasarana pengangkutan (transportasi) yang memungkinkan sistem pencapaian dari suatu tempat ke tempat lain dalam pergerakan arus manusia dan angkutan barang secara aman dan nyaman. Berdasarkan SNI 03-6967-2003, jaringan jalan adalah suatu prasarana perhubungan darat dalam bentuk apapun, meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu-lintas kendaraan, orang dan hewan

Menurut Adji Adisasmita (2010) prasarana jalan mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, dalam perekonomian dan pembangunan. Hampir seluruh kegiatan manusia dilakukan di luar rumah. Hampir seluruh kegiatan rumah tangga disuplai dari luar rumah. Kegiatan dan kebutuhan manusia, semuanya menggunakan transportasi jalan dan jasa pelayanan jalan, berarti prasarana jalan adalah sangat penting dan sangat besar.

Jaringan jalan di kawasan perumahan menurut fungsinya adalah jalan lokal dan jalan lingkungan dalam sistem jaringan jalan sekunder.

  1. Jalan Lokal

Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

  1. Jalan Lingkungan

Jalan lingkungan merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.

  1. Jalan Setapak

Jalan yang menghubungkan antar rumah didalam kelompok perumahan nelayan secara konstruktif. Jalan ini tidak dapat dilalui oleh kendaraan beroda empat, hanya dapat dilalui oleh kendaraan bermotor dengan becak.

  1. Jaringan Air Limbah / Air Kotor

Limbah adalah air bekas buangan yang bercampur kotoran, air bekas/air limbah ini tidak diperbolehkan dibuang ke sembarangan / dibuang keseluruh lingkungan, tetapi harus ditampung kedalam bak penampungan.

Limbah adalah kotoran dari masyarakat dan rumah tangga dan juga berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta buangan lainnya. Dengan demikian air buangan ini merupakan hal yang bersifat kotoran umum.

limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).

Air limbah domestik adalah air bekas yang tidak dapat digunakan lagi untuk tujuan semula baik yang mengandung kotoran manusia (tinja) atau dari aktifitas dapur, kamar mandi dan cuci dimana kuantitasnya antara 50-70 % dari rata-rata pemakaian air bersih (120-140 liter/orang/hari).

Menurut Undang-Undang No.32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lainnya.

Limbah B3 adalah setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung atau tidak langsung dapat merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup dan atau membahayakan kesehatan manusia.

Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus.

 

           berdasarkan sumbernya, limbah B3 dibagi menjadi 3 bagian:

  1. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik yaitu limbah yang berasal dari kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, inhibitor korosi, pelarutan kerak, pengemasan dan lain-lain.
  2. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluwarsa, tumpahan, sisa kemasan dan pembuangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi
  3. Limbah B3 dari sumber spesifik yaitu limbah B3 yang berasal dari sisa proses suatu industri atau kegiatan manusia.

           Menurut Sugiharto, sumber asal air limbah dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Air Limbah Domestik (Rumah Tangga)

Sumber utama air limbah rumah tangga dari masyarakat adalah berasal dari perumahan dan daerah perdagangan. Adapun sumber lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah daerah perkantoran/lembaga serta daerah fasilitas rekreasi.

  1. Air Limbah Non Domestik (Industri)

Jumlah aliran air limbah yang berasal dari industri sangat bervariasi tergantung dari jenis dan besar kecilnya industri, pengawasan pada proses industri, derajat penggunaan air, derajat pengolahan air limbah yang ada untuk memperkirakan jumlah air limbah yang dihasilkan oleh industri yang tidak menggunakan proses basah diperkirakan sekitar 50 m3/ha/hari.

 

  1. Jaringan Drainase

drainase berasal dari bahasa inggris, drainage mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Dalam bidang teknik sipil, darinase secara umum dapat didefenisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air irigasi dari suatu kawasan/lahan, sehingga fungsi kawasan/lahan tidak terganggu. Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan sanitasi. Jadi drainase menyangkut tidak hanya air permukaan tapi juga air tanah.

sistem darinase dapat didefenisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Dirunut dari hulunya, bangunan sistem drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor drain), saluran drainase terdiri dari saluran penerima (interceptor darin), saluran induk (main drain), dan badan penerima (receiving waters). Disepanjang sistem sering dijumpai bangunan lainnya, seperti gorong-gorong, siphon, jembatan air, pelimpah pintu-pintu air, bangunan terjun, kolam tando, dan stasiun pompa. Pada sistem yang lengkap, sebelum masuk ke badan air penerima, air diolah dahulu di instalasi pengolahan limbah (IPAL), khususnya untuk sistem tercampur. Hanya air yang telah memenuhi baku mutu tertentu yang dimasukkan ke badan air penerima, sehingga tidak merusak lingkungan.

Secara umum drainase terbagi menjadi:

  1. Drainase Primer adalah saluran utama yang menerima saluran drainase dari drinase sekunder. Dimensi saluran relatif besar yang bermuara pada badan penerima yang dapat berupa sungai, danau, laut, maupun kanal.
  2. Drainase Sekunder adalah saluran terbuka atau tertutup yang menerima aliran air dari drainase tersier / lingkungan, limpahan air permukaan sekitarnya dan meneruskan ke saluran primer.
  3. Drainase Tersier adalah saluran dari yang menerima air dari setiap persil-persil rumah, fasilitas umum dan sarana kota lainnya.
  4. Drainase Lingkungan adalah saluran yang menerima aliran air dari lingkungan dan para warga.
  1. Jaringan Persampahan

Sampah adalah segala sesuatu yang tidak lagi dikehendaki oleh yang punya dan bersifat padat. Sampah ini ada yang mudah membusuk dan ada pula yang tidak mudah membusuk. Yang membususk terutama terdiri dari zat-zat organik seperti sisa makanan, sedangkan yang tidak mudah membusuk dapat berupa plastik, kertas, karet, logam dan sebagainya.

sampah adalah limbah atau buangan yang bersifat padat, setengah padat yang merupakan hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau siklus kehidupan manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Sumber limbah padat (sampah) perkotaan berasal dari permukiman, pasar, kawasan pertokoan dan perdagangan, kawasan perkantoran dan sarana umum lainnya.

Adapun Jenis-jenis sampah terbagi atas dua. Yaitu:

  1. Sampah Organik

Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk. Sampah Organik terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lain. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami dan dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos.

Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun-daun kering.

  1. Sampah Anorganik

Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah dan bahkan tidak bisa membusuk. Sampah Anorganik berasal dari sumber daya alam tidak dapat diperbaharui seperti mineral dan minyak bumi, atau dari proses industri. Sebagian dari sampah anorganik secara keseluruhan tidak dapat diuraikan oleh alam, sedang sebagian lainnya hanya dapat diuraikan dalam waktu yang sangat lama. Sampah anorganik pada tingkat rumah tangga, misalnya berupa botol, botol plastik, tas plastik, dan kaleng.

 

  1. Jaringan air bersih

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada suatu kawasan permukiman maka adapun kriterianya adalah sebagai berikut :

  1. Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan;
  2. Kebutuhan air rata – rata 100 liter/orang/hari;
  3. Kapasitas minimum sambungan rumah 60 liter/orang/hari dan sambungan kran umum 30 liter/orang/hari.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak.

Menurut (NSPM Kimpraswil, 2002) beberapa pengertian tentang air bersih adalah sebagai berikut :

  1.  Sebagai air yang memenuhi ketentuan yang berlaku untuk baku mutu air bersih yang berlaku yang siap diminum setelah dimasak
  2.  Air yang memenuhi persyaratan untuk keperluan rumah tangga
  3.  Air yang dapat dipergunakan oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari dengan kualitas yang memenuhi ketentuan baku mutu air bersih yang ditetapkan
  4.  Air yang aman digunakan untuk air minum dan pemakaian-pemakaian lain karena telah bersih dari bibit-bibit penyakit, zat kimia organik dan anorganik, serta zat-zat radioaktif yang dapat membahayakan kesehatan.
  5.  Air bersih memenuhi syarat kesehatan :
    1. Air yang tidak berwarna (bening atau tembus pandang)
    2. Tidak berubah rasanya dan baunya
    3. Tidak mengandung zat-zat organik dan kuman-kuman yang mengganggu kesehatan

F.Sistem Penyediaan Air Bersih

  1. 1.     Pengertian Sistem Penyediaan Air Bersih

Penyediaan air bersih dapat dilakukan dengan 2 (dua) sistem (NSPM Kimpraswil, 2002) yaitu :

  1. Individual adaah penyediaan air bersih untuk satu rumah, dapat menggunakan sumur gali atau sumur dangkal yang dilengkapi dengan pompa listrik. Penyediaan air bersih dalam satu kompleks perumahan atau industri dengan skala kecil.
  2. Komunal adalah suatu sistem penyediaan air bersih yang melayani kebutuhan air bersih bagi masyarakat/daerah yang dilayani oleh suatu sistem yang dikelola oleh PDAM

Sistem penyediaan air bersih adalah usaha – usaha teknis yang dilakukan untuk mengalirkan air yang belum bersih (air baku) yang belum bersih dari sumber air melalui system pengolahan tertentu hingga didapatkan air yang memenuhi standar lalu disalurkan ke konsumen / pemakai (sudah menjadi air bersih).

Dalam penulisan ini, pengertiannya dibatasi yaitu sistem penyediaan air bersih adalah pengambilan air baku dari sumber air melalui beberapa system pengolahan sampai pada ke rumah pompa (tidak termasuk jaringan menuju ke konsumen).

Sistem penyediaan air dari suatu sumber yang terbaik, dan tergantung pada pada proses yang diperlukan akan menghasilkan air dengan fisik yang baik, bebas dari rasa dan bau yang tidak baik dan bebas dari komponen – komponen yang yangdapat membahayakan dan merugikan pemakainya.

 

  1. 2.     Komponen Utama Penyediaan Air Bersih

Menurut (NSPM Kimpraswil, 2002) komponen utama dalam penyediaan air bersih adalah :

  1. Mata air yaitu tempat pemunculan sumber air tanah yang dapat disebabkan oleh topografi, gradien hidrolik, atau struktur geologi.
  2. Air tanah yaitu sumber air yang berasal dari dalam tanah yang terbagi dalam air tanah bebas dan air tanah tertekan.
  3. Air permukaan yaitu air yang selalu berada di atas permukaan tanah baik dalam keadaan mengalir maupun diam, seperti sungai, danau, waduk, rawa, embung, dan laut.
  4. Air hujan yaitu butiran-butiran air yang jatuh di atas permukaan bumi akibat gaya gravitasi yang berasal dari proses kondensasi awan menjadi uap air yang terjadi di udara.

 

  1. 3.     Unsur–unsur Penyediaan Air Bersih

Menurut Linsley, Unsur –unsur yang membentuk suatu sistem penyediaan air bersih meliputi :

  1. Sumber-sumber penyediaan
  2. Sarana-sarana penampungan
  3. Sarana-sarana pengolahan (ke penampungan)
  4. Sarana-sarana pengolahan
  5. Sarana-sarana penyaluran (dari pengolahan)
  6. Sarana-sarana distribusi

 

G.Kebutuhan Air Bersih

  1. 1.      Pengertian Kebutuhan Air Bersih

Menurut Kodoatie, kebutuhan air yang dimaksud adalah kebutuhan air yang digunakan untuk menunjang segala kegiatan manusia, meliputi kebutuhan untuk rumah tangga (domestik) dan non rumah tangga (Non Domestik) seperti untuk keperluan industri, pariwisata, tempat ibadah, tempat sosial, tempat komersial dan lainnnya. Pemerintah Indonesia telah menyusun program pelayanan air bersih sesuai dengan kategori daerah yang dikelompokkan berdasarkan jumlah penduduk.

Air bersih merupakan kebutuhan pokok manusia, sering digunakan untuk memenuhi keperluan keperluan seperti : kebutuhan rumah tangga, kebutuhan industry, kebutuhan komersil, kebutuhan umum dan lainnya.

Penyediaan air bersih minimal 60 liter/orang/hari dan memenuhi syarat fisik, kimia dan biologis (jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa). Sebaiknya menggunakan dari jaringan bersih, namun jika belum ada jaringan dapat menggunakan sumur apabila air tanah memenuhi syarat, kemudian dengan menambah lawas dan kaporit .

                             Besarnya kebutuhan untuk masing–masing kepentingan tergantung pada  :

  1. Iklim
  2. Cara dan standar hidup
  3. Jenis dan banyaknya industry, pusat pertokoan, kantor dan fasilitas umum lainnya.
  4. Kualitas air
  5. Tekanan dalam pipa – pipa jaringan dan sistem sanitasi yang digunakan
  6. Penggunaan meter ukur

              2. Akibat Ketidaktersediaan Air Bersih

Ketiadaan air bersih dalam suatu wilayah akan mengakibatkan hal– hal sebagai berikut :

  1. Munculnya berbagai macam penyakit
    1.  Penyakit diare. Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian kedua terbesar bagi anak-anak dibawah umur lima tahun. Sebanyak 13 juta anak-anak balita mengalami diare setiap tahun. Air yang terkontaminasi dan pengetahuan yang kurang tentang budaya hidup bersih ditenggarai menjadi akar permasalahan ini. Sementara itu 100 juta rakyat Indonesia tidak memiliki akses air bersih.
    2.  Penyakit cacingan.
    3. Kemiskinan. Rumah tangga yang membeli air dari para penjaja membayar dua kali hingga enam kali dari rata-rata yang dibayar bulanan oleh mereka yang mempunyai sambungan saluran pribadi untuk volume air yang hanya sepersepuluhnya

3. Standar Pemberian Air Bersih

Kebutuhan air pada masa yang akan datangdipengaruhi oleh jumlah pemakaianair serta jumlah kebutuhan tiap pemakaian air.

  1. Kebutuhan air untuk kebutuhan domestik

Kebutuhan air domestik sangat ditentukan oleh jumlah penduduk, dan konsumsi perkapita. Kecenderungan populasi dan sejarah populasi dipakai sebagai dasar perhitungan kebutuhan air domestik terutama dalam penentuan kecenderungan laju pertumbuhan. Pertumbuhan ini juga tergantung dari rencana dari tata ruang.

Estimasi populasi untuk masa depan merupakan salah satu parameter utama dalam penentuan kebutuhan air domestik. Laju penyambungan juga menjadi parameter yang dipakai untuk analisis. Propensitas untuk penyambungan perlu diketahui dengan melakukan survey kebutuhan nyata terutama di wilayah yang sudah ada sistem penyambungan air bersih dari PDAM. Hal ini akan memberikan dampak terhadap perubahan harga dan sikap publik terhadap otoritas suplai air. Untuk penentuan penyambungan yang ada saat ini dapat dipakai sebagai dasar analisis.

Kebutuhan air untuk domestik yaitu kebutuhan air untuk pemakaian air rumah tangga. Pemakaian air untuk rumah tangga disesuaikan dengan pemakaian air bersih minimal yaitu sebanyak 60 liter/orang/hari untuk sambungan langsung dan untuk kran umum mengkonsumsi 30 liter/orang/hari dan melayani 60 jiwa/kran.

  1. Kebutuhan air untuk non domestik

Yang dimaksud kebutuhan air untuk non domestik adalah kebutuhan air untuk sarana penunjang yang mencakup kebutuhan air untuk fasilitas perkantoran, fasilitas peribadatan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas akomodasi, dan fasilitas umum lainnya.

Kebutuhan institusi antara lain meliputi kebutuhan-kebutuhan air untuk sekolah, rumah sakit, gedung-gedung pemerintah, tempat ibadah dan lain-lain. Untuk penentuan besaran kebutuhan ini cukup sulit karena sangat tergantung dari perubahan tata guna lahan dan populasi. Pengalaman menyebutkan angka 5% cukup representatif.

 

 

 

 

 

 

 

Untuk Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang air bersih Depkimpraswil (2002) non domestik dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut :

 

Tabel 2.2 Standar Pelayanan Minimum Air Bersih Non Domestik

No.

Jenis Sambungan

Standar Kebutuhan

Satuan

1.

Pelayanan Umum

1.000

ltr/hr/unit

– Pos Hansip

–   Kantor Desa/Balai Pertemuan

2.

Peribadatan

   

– Mesjid

1.000

ltr/hr/unit

– Mushollah

500

ltr/hr/unit

3.

Pendidikan

   

– TK

1000

ltr/hr/unit

– SD

– SLTP

–  SMA

4.

Kesehatan

   

– Puskesmas

8.000

ltr/hr/unit

– Posyandu

300

ltr/hr/unit

– Balai Pengobatan

– Tempat P. Dokter

5

Perekonomian

   

– Pasar

10,000

ltr/hr/unit

– Pertokoan

1,000

ltr/hr/unit

– Warung

250

ltr/hr/unit

– TPI

10.000

ltr/hr/unit

Sumber : Depkimpraswil, 2002.

 H.Standar Kualitas Air Minum

Standar kualias air minun, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Standar kualitas air minum Indonesia terdapat dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.01/Birkhumas/I/1975 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air bersih dan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-3553-1996. Adapun parameter penilaian kualitas air minum yang tercantum pada berbagai peraturan tentang standar kualitas air minum adalah sebagai berikut :

  1.  Pengaruh adanya unsure-unsur tersebut dalam air minum.
  2.  Sumber unsure-unsur tersebut
  3.  Beberapa sifat yang perlu diketahui dari unsure-unsur tersebut
  4.  Efek yang ditimbulkan terhadap kesehatan manusia.
  5.  Alasan mengapa unsur tersebut dicantumkan dalam standar kualitas.

 

  1. a.      Standar kualitas fisik air minum

 

Standar fisik fisika juga dapat dilihat dari kondisi fisik, dan bisa diteliti oleh peneliti saat dilapangan, serta bisa pula di uji di laboratorium untuk lebih jelasnya. Adapun standar kualitas air minum dapat dilhat pada dua standar kualitas fisik dan kimia, sebagai berikut :

  1. Suhu

Suhu air merupakan derajat panas air yang dinyatakan dalam satuan panas derajat Celsius. Suhu air akan mempengaruhi reaksi kimia dalam pengolahan dan penerimaan penduduk akan air tersebut, terutama jika suhunya sangat tinggi. Suhu yang ideal adalah 50’C – 15’C.

 

  1. Warna

Warna air sebenarnya terdiri dari warna asli dan warna tampak, warna asli atau true color adalah warna yang hanya disebabkan oleh substansi terlarut. Warna pada air di laboratorium diukur berdasarkan warna standar yang telah diketahui konsentrasinya. Intensitas warna ini dapat diukur dengan satuan unit warna standar yang dihasilkan oleh 2 mg/l platina (sebagai K2PtCl 6). Standar yang ditetapkan di Indonesian besarnya masksimal 5 unit   

 

  1. Bau dan Rasa

Bau dan rasa pada air minum akan mengurangi penerimaan penduduk terhadap air tersebut. Bau dan rasa biasanya terjadi bersama-sama. Timbulnya rasa pada air minum berkaitan erat dengan bau pada air. Pengukuran rasa dan bau tergantung pada reaksi individul sehingga hasil yang menyangkut bau dan rasa yang menyatakan bahwa dalam air minum tidak boleh terdapat baud an rasa yang tidak diinginkan   

 

  1. Kekeruhan

Kekeruhan merupakan sifat optic dari suatu larutan yang menyebabkan cahaya yang melaluinya terabsorbsi dan terbias dihitung dalam satuan mg/L SiO2, Unit Kekeruhan Nephelometri (UKN). Air akan dikatakan keruh apabila air tesebut mengandung begitu banyak partikel bahan yang tersuspensi, sehingga memberikan warna atau rupa yang berlumpur dan kotor.

 

  1. b.       Standar Kualitas Kimia Air Minum

Standar baku mutu untu mengetahui kualitas air perlu dilakukan uji laboratorium, sehingga kandungan zat-zat kimia dan mikrobiologi dapat diketahui secara rinci, karena hal ini berkaitan dengan kesehatan manusia Standar kualitas secara kimia mengacu pada nilai ambang batas kadar zat-zat kimia dalam air. Berdasarkan parameter yang diterapkan untuk standarisasi kimia air adalah sebagai berikut :

 

  1. Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan asam atau basa sesuatu larutan. P standar kualitas air minum dalam pH ini yaitu bahwa pH yang lebih kecil dari 6,5 dan lebih besar dari 9,2 . Bila lebih dari standar tersebut. Maka, akan dapat menyebabkan korosi pada pipa-pipa air dan menyebabkan beberapa senyawa menjadi racun, sehingga mengganggu kesehatan.

 

  1. Kalsium (Ca)

Kalsium adalah merupakan sebagian dari komponen yang merupakan penyebab dari kesadaran. Efek yang ditimbulkan oleh kesadaran antara lain timbulnya lapisan kerak pada ketel-ketel pemanas air, pada perpipaan dan juga menurunkan efektifitas dari kerja sabun. Sebagaimana yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI sebesar 75-200 mg/L. Konsentrasi Ca dalam air minum yang lebih rendah dari 75 mg/L dapat menyebabkan tulang rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi 200 mg/L dapat menyebabkan korosi pada pipa-pipa air

 

  1. Zat Organik (sebagai KMnO4)

Adanya bahan-bahan organic dalam air erat hubungannya dengan terjadinya perubahan fisika air, terutama dengan warna, bau, rasa dan kekeruhan yang tidak diinginkan. Standar kandungan bahan organik dalam air minum sesuai Departemen Kesehatan RI maksimal yang diperolehkan adalah 10 mg/L. Pengaruh terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh penyimpangan terhadap standar ini yaitu timbulnya bau yang tidak sedap pada air minum dan dapat menyebabkan sakit perut.

 

  1. Besi (Fe)

Adanya unsur-unsur besi dalam air yang diperlukan untuk memahami kebutuhan tubuh akan unsur tersebut. Zat besi merupakan suatu unsur yang penting dan berguna untuk metabolism tubuh. Untuk keperluan ini tubuh memerlukan 7-35 mg unsur tersebut perhari, yang tidak hanya diperolehnnya dari air. Konsentrasi unsur ini dalam air yang melebihi 2 mg/L akan menimbulkan noda-noda pada peralatan dan bahan-bahan yang berwarna putih. Dalam jumlah kecil Mg dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang akan tetapi dalam jumlah yang lebih besar dari 150 mg/L dapat menyebabkan rasa mual.  

 

  1. Tembaga (Cu)

Tembaga merupakan salah satu unsur yang penting dan berguna untuk metabolisme. Konsentrasi 1 mg/L merupakan batas konsentrasi tertinggi tembaga untuk mencegah timbulnya rasa yang tidak baik. Konsentrasi standar maksimum yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI untuk Cu ini sebesar 0,05 mg/L untuk batas maksimum yang dianjurkan sebesar 1,5 mg/L sebagai batas maksimal yang diperolehkan.  

 

I.Sistem Pengolahan Air Bersih

Pengolahan adalah semua usaha yang dilakukan pada air baku, dari awal hingga  mencapai kualitas air minum yang memenuhi persyaratan .

Menurut Tri sistem pengolahan air ini ada 2 (dua) macam, yaitu sebagai berikut :

  1.  Sistem Pengolahan Lengkap, di sini air baku mengalami pengolahan lengkap yaitu pengolahan fisik, kimiawi dan bakteriologis. Pengolahan ini biasanya dilakukan terhadap air sungai yang keruh / kotor.

 Pada proses pengolahan lengkap terdapat 3 tingkat pengolahan, yaitu:

  1. Pengolahan fisik yaitu: tujuan untuk mengurangi/ menghilangkan kotoran-kotoran kasar, penyisihan lumpur dan pasir, mengurangi zat-zat organik yang ada pada air yang akan diolah. Proses pengolahan secara fisik dilakukan tanpa tambahan zat kimia.
  2. Pengolahan kimia: tujuan membantu proses pengolahan selanjutnya, misalnya pembubuhan tawas supaya mengurangi kekeruhan yang ada.
  3. Pengolahan biologi: tujuan membunuh/memusnahkan bakteri-bakteri terutama bakteri penyebab penyakit yang terkandung dalam air, missal: bakteri collie yang (antara lain penyebab penyakit perut. Salah satu proses pangolahan adalah denga penambahandesifektan misal kaporit.
  4.  Sistem Pengolahan Tidak Lengkap (Sebagian), di sini air baku hanya mengalami proses pengolahan kimia dan atau pengolahan bakteriologis. Secara garis besar tujuan pengolahan air adalah :
    1. Meghilangkan warna, gas yang tidak larut dan hal yang menyebabkan air suram dan menghilangkan bakteri yang menghasilkan mikroorganisme.
    2. Manghilangkan kesadaran air.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR  BACAAN

 

 

Etal, Rustiadi. Prinsip prinsip pengembangan wilayah graha ilmu 2006

 

Republik Indonesia. “Undang–Undang R.I. Nomor 26 Tentang Penataan Ruang” Tahun 2007.

 

Republik Indonesia. “Undang–Undang R.I. Nomor 1 Tentang Perumahan dan Permukiman” Tahun 2011.

 

Republik Indonesia. “Undang–Undang R.I. Nomor 4 Tentang Permukiman” Tahun 1992.

 

Republik Indonesia, Undang-Undang No.32 ‘Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup” Tahun 2009.

 

Soedarsono. Perumahan dan Permukiman di Indonesia. Bandung: ITB, 1986

 

Blaang, Batubara. Perumahan dan Permukiman di Indonesia. Bandung: ITB, 1986.

 

Kuswartojo, Tjuk. Perumahan dan Permukiman di Indonesia. Bandung: ITB, 2005

 

Khadija ST, Permukiman Nelayan. Yogyakarta :1998.

 

Masri. “Identifikasi Karakteristik Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Nelayan Sungai Limau di Kabupaten Padang Pariaman Dalam Penyediaan Perumahan dan Permukiman.” Tesis Magister 

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: