mengolah limbah cair rumahtangga di perkotaan

MENGELOLA LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN.

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

Limbah Cair Rumah Tangga di Perkotaan

Limbah cair rumah tangga di perkotaan adalah salah satu bahan sisa dari aktivitas manusia sehari-hari yang dibuang sepanjang waktu. Bahan sisa tersebut berupa air yang telah digunakan meliputi air buangan dari kamar mandi, kakus, tempat cuci juga tempat memasak.

Pada awalnya bahan sisa tersebut sepertinya tidak akan menimbulkan masalah karena dapat dibuang ke lingkungan dengan aman. Hal tersebut dimungkinkan karena volume dan jenis kandungan limbah cair rumah tangga terbilang masih relatif kecil, sehingga lingkungan masih mampu menetralkannya secara alami. Namun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas di rumah tangga, menyebabkan volume dan jenis kandungan limbah cair yang dihasilkan semakin besar pula. Peningkatan tersebut menyebabkan kemampuan lingkungan untuk menetralisir semakin menurun, akibatnya limbah cair rumah tangga telah menimbulkan berbagai masalah, baik terhadap manusia maupun lingkungan hidup.

Kota Makassar, merupakan salah satu kota terbesar di kawasan timur Indonesia yang mengalami perkembangan sangat pesat, termasuk dalam pertambahan jumlah penduduk. Hal tersebut turut mempengaruhi aktivitas di rumah tangga, sehingga volume limbah rumah tangga yang dihasilkan pun mengalami peningkatan yang sangat besar. Keadaan tersebut menunjukkan besarnya potensi terjadinya peningkatan volume limbah cair yang dihasilkan rumah tangga, sekaligus besarnya potensi terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Hingga saat ini, Kota Makassar belum memiliki sistem pengolahan limbah rumah tangga secara khusus. Sistem pembuangan secara langsung masih dilakukan melalui saluran-saluran pembuangan yang bermuara ke perairan pantai, terutama Pantai Losari. Berbagai fenomena berupa gangguan dan ancaman terhadap lingkungan mulai dapat disaksikan di sepanjang saluran pembuangan limbah di sekitarnya, Demikian pula adanya pada areal pantai lokasi pembuangan limbah sebagai dampak dari sistem pembuangan langsung yang dilakukan selama ini.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa dampak yang terjadi mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pembusukan dan perubahan warna limbah, baik pada saluran pembuangan maupun pada tempat penampungan akhir, selain sangat mengganggu keindahan dan kenyamanan. Juga menjadi media penyebaran berbagai jenis kuman penyakit .

Rusaknya berbagai fasilitas perkotaan, seperti fisik saluran pembuangan (drainase) yang setiap saat dilalui oleh limbah cair rumah tangga merupakan kerugian yang cukup besar. Akibatnya, hilang sudah berbagai jenis ikan dan biota perairan dari pesisir, merupakan salah satu contoh rusaknya ekosistem perairan, sebagai dampak dari meruahnya limbah cair rumah tangga yang tidak diolah. Contoh kasus seperti itu merupakan bukti dan dasar pertimbangan yang sangat kuat, bahwa sudah saatnya masalah limbah cair rumah tangga mendapat perhatian yang sangat besar dalam pengelolaannya, guna menyelamatkan Kota Makassar dari ancaman limbah cair rumah tangga.

Efek buruk yang ditimbulkan oleh limbah cair rumah tangga telah banyak dirasakan oleh masyarakat, terutama di daerah perkotaan. Terjadinya berbagai jenis gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kuman yang berasal dari lingkungan sangat erat kaitannya dengan limbah rumah tangga. Demikian pula dengan terjadinya pembusukan dan perubahan warna pada perairan dalam saluran-saluran pembuangan, berkaitan erat dengan masuknya limbah rumah tangga pada saluran tersebut. Rusaknya ekosistem perairan menyebabkan semakin langkanya beberapa jenis biota, baik pada perairan darat maupun pantai. Kerusakan-kerusakan yang terjadi. selain merusak lingkungan, juga mengganggu kehidupan manusia.

Pada dasarnya pengolahan limbah cair telah banyak dilakukan di berbagai tempat, dengan menggunakan sistem pengolahan yang berbeda-beda. Umumnya sistem pengolahan limbah yang telah dilakukan berupa pengolahan secara fisik, antara lain dengan kolam pengendapan, parit terbuka, saringan percikan, dan sebagainya. Namun demikian, sistem pengolahan tersebut belum memberikan hasil yang maksimal karena masih memiliki kelemahan-kelemahan tersendiri dalam pengoperasiannya. Oleh sebab itu, diperlukan suatu upaya untuk mengembangkan sistem pengolahan limbah cair yang lebih baik dibanding yang telah ada, agar dapat diperoleh hasil yang lebih baik untuk menanggulangi masalah limbah cair rumah tangga yang semakin membutuhkan penanganan serius.

Pengertian Limbah Cair Rumah Tangga

Beberapa pengertian tentang limbah cair rumah tangga telah dikemukakan oleh para ahli, yang pada garis besarnya memiliki kesamaan. Echler dan Steel dalam Sugiharto (1986) mengemukakan bahwa limbah adalah cairan yang dibawa oleh saluran air buangan. Selanjutnya, Metcalf dan Eddy (1978) memberi batasan tentang air buangan (wastewater) sebagai kombinasi dari cairan dan sampah-sampah cair yang berasal dari daerah permukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air hujan yang ada. Selanjutya Metcalf & Eddy (2003), mendefinisikan limbah berdasarkan titik sumbernya sebagai kombinasi cairan hasil buangan rumah tangga (permukiman),instansi perusahaaan, pertokoan, dan industri dengan air tanah, air permukaan, dan air hujan

Sumber-sumber limbah cair :

Kegiatan rumah tangga
Kegiatan industri
Kegiatan rumah sakit dan aktivitas yang bergerak di bidang kesehatan
Kegiatan pertanian, peternakan
Kegiatan pertambangan
Kegiatan transportasi
Macam limbah cair :

Limbah cair organik
Limbah cair an organik dan gas.
Dengan demikian, air buangan adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan Limbah cair rumah tangga adalah air yang telah digunakan yang berasal dari rumah tangga atau permukiman, perdagangan, daerah kelembagaan dan daerah rekreasi, meliputi air buangan dari kamar mandi, WC, tempat cuci atau tempat memasak.

3.Sumber-Sumber Limbah Cair Rumah Tangga

Oleh karena cakupan pengertian limbah cair rumah tangga cukup luas, maka jika dipetakan tempat-tempat yang merupakan penghasil atau sumber limbah tersebut adalah :

Daerah Permukiman
Daerah permukiman merupakan kumpulan rumah tinggal keluarga dengan berbagai kondisi mulai dari rumah pondok sederhana sampai rumah mewah, termasuk di dalamnya hotel dan apartemen yang berpenghuni tetap .Limbah yang dihasilkan oleh sumber tersebut relatif besar dengan intensitas aliran yang hampir merata sepanjang hari. Limbah yang dihasilkan relatif seragam karena berasal dari kegiatan yang sejenis, yakni kamar mandi. tempat cuci dan tempat memasak.

Daerah Perdagangan
Daerah perdagangan meliputi berbagai tempat kegiatan perdagangan seperti pusat perbelanjaan, rumah makan, bar dan tempat-tempat pencucian. Limbah yang dihasilkan dari daerah perdagangan, tergantung pada jenis kegiatan dan bahan yang dikelola pada tempat tersebut. Demikian pula dengan intensitas aliran limbahnya mencapai puncak pada jam-jam kerja atau saat kegiatan berlangsung.

Daerah Kelembagaan
Sumber limbah cair dari daerah kelembagaan ada beberapa tempat, antara lain perkantoran, sekolah, rumah sakit dan penjara. Kandungan limbah cair dari sumber-sumber tersebut bervariasi sesuai tempat asalnya. Limbah rumah sakit banyak mengandung mikroorganisme patogen sebagai bahan buangan dari aktivitas medis di samping kandungan lainnya. Dari sekolah, pada umumnya berupa urine dari bekas cucian dari aktivitas di tempat tersebut.

Daerah Rekreasi
Sumber limbah cair yang termasuk dalam daerah rekreasi meliputi tempat atau fasilitas yang mendukung dalam suatu kawasan untuk rekreasi termasuk tempat dan fasilitas di luar kawasan yang berfungsi sebagai sarana rekreasi, istirahat dan hiburan

4.Kandungan Limbah Cair Rumah Tangga

Limbah cair rumah tangga sebagai bahan sisa dari berbagai aktivitas, mengandung berbagai komponen. Kandungan tersebut menjadi dasar untuk menentukan sifat dari limbah cair, yang terdiri atas sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologis (Suriawiria, 1986).

Sifat Fisik
Limbah cair rumah tangga yang sudah terkumpul dan masih dalam keadaan baru dan dalam keadaan aerob berbau busuk yang hampir seperti bau minyak tanah berbaur dengan bau tanah, berwarna abu-abu kekuning-kuningan. Limbah cair septik yang tersimpan cukup lama, mempunyai bau yang lebih menyengat terhadap indra penciuman. Bau yang dominan pada keadaan tersebut adalah bau telur busuk dari asam belerang dan merkaptan, yang dapat dijadikan ciri dari suatu tangki septik. Air limbah yang telah mengalami proses septik umumnya berwarna hitam.

Sifat fisik yang penting diketahui meliputi beberapa aspek, yaitu : suhu, kekeruhan dan padatan tersuspensi. Sifat-sifat fisik tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Kekeruhan. Kekeruhan limbah cair rumah tangga ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan organik yang terkandung di dalam limbah berupa zat-zat yang mengendap, tersuspensi dan terlarut (Suriawiria, 1986). Biasanya tingkat kekeruhan pada limbah cair rumah tangga cukup tinggi (tergantung pada sumbernya) dan akan terus meningkat di lingkungan apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu.

Padatan tersuspensi. Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap secara langsung. Penentuan padatan tersuspensi sangat berguna dalam analisa perairan tercemar dan air buangan, dapat digunakan untuk mengevaluasi kekuatan air buangan domestik. Padatan tersuspensi terdiri atas partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil dari sedimen, misalnya tanah, bahan-bahan organik tertentu dan sel-sel mikroorganisme.

Sifat Kimia
Komponen kimia yang terdapat dalam limbah cair rumah tangga, ada yang larut dan ada pula yang tidak larut. Jumlah dan macam komponen tersebut relatif tak terbatas, menyebabkan karakteristik kimia limbah tersebut sangat kompleks. Komponen yang menyusun limbah cair rumah tangga digolongkan dalam dua kelompok, yaitu zat organik dan zat anorganik.

Kelompok zat organik dalam limbah cair rumah tangga, terdiri atas :

Golongan karbohidrat
Golongan protein
Golongan lemak dan minyak
Golongan senyawa fenol
Golongan zat bersifat surfaktan
Adapun golongan anorganik antara lain terdiri atas :

Kandungan Kalsium
Kandungan Klorida
Kandungan Amonium
Kandungan Posfat
Kandungan Besi
Kandungan Nitrit, dan lain-lain.

Kandungan bahan kimia limbah cair rumah tangga dapat merusak lingkungan melalui beberapa cara. Bahan organik terlarut dapat menghabiskan oksigen di dalam limbah serta akan menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu bahan organik akan berbahaya apabila bahan tersebut merupakan bahan beracun. Sifat-sifat kimia limbah cair rumah tangga yang penting untuk diketahui antara lain :

Nilai pH.

Nilai pH mencirikan keseimbangan antara asam dengan basa dalam limbah dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen. Adanya karbonat (CO32″), hidroksida (OH”) dan bikarbonat (HCO3″) menaikkan kebasaan air. Sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan keasaman. Nilai pH air tawar berkisar 5.0 – 9.0 (Saeni, 1989), sedangkan nilai pH limbah cair rumah tangga biasanya lebih rendah sehingga menyulitkan dalam proses biologis.

Oksigen terlarut ( Dissolved Oxygen = DO ).

Oksigen merupakan zat kunci dalam menentukan kehidupan di dalam air atau limbah. Kekurangan oksigen akan berakibat fatal bagi kebanyakan hewan akuatik seperti ikan. Adanya oksigen juga dapat menyebabkan keadaan yang fatal bagi banyak jenis mikroba anaerobik. Konsentrasi oksigen terlarut selalu merupakan hal yang utama yang harus diukur dalam menentukan kualitas air atau limbah (Saeni, 1989). Oksigen memegang peranan penting dalam pengolahan limbah secara biologik, karena bila oksigen bertindak sebagai aseptor hidrogen, mikroorganisme akan memperoleh energi maksimum. Untuk mempertahankan sistem aerobik diperlukan konsentrasi oksigen terlarut minimal 0.5 mg/liter (Jenie dan rahayu, 1993).

Biological Oxygen Demand (BOD).

Biological oxygen demand merupakan suatu parameter kualitas limbah yang penting untuk diketahui, karena BOD menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk merombak bahan organik dalam limbah tersebut secara biologis. Limbah dengan BOD tinggi tidak dapat mendukung kehidupan organisme yang membutuhkan oksigen. Uji BOD adalah salah satu roetode analisis yang paling banyak digunakan dalam penanganan limbah. Uji tersebut mencoba untuk menentukan kadar pencemaran dari suatu limbah, dalam pengertian, kebutuhan mikroba terhadap oksigen dan merupakan ukuran tak langsung dari bahan organik yang ada dalam limbah.

Chemical Oxygen Demand (COD).

Yang dimaksud dengan COD limbah adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam satu liter limbah. Nilai COD yang tinggi menunjukkan adanya pencemaran oleh zat-zat organik yang tinggi (Suhardi, 1991). Untuk menentukan total zat organik dalam limbah dapat dilakukan dengan cara tak langsung yaitu menentukan COD. Disebut cara tak langsung karena yang ditentukan adalah kebutuhan oksigen untuk menambah zat organik secara kimiawi. Cara tersebut cukup relevan dan banyak digunakan untuk berbagai kepentingan.

Klorida.

Kadar klorida dalam air alami dihasilkan dari rembesan klorida yang ada dalam batuan dan tanah serta dari daerah pantai dan rembesan air laut. Kotoran manusia mengandung sekitar 6 gram klorida setiap orang per hari. Pengolahan secara konvensional masih kurang berhasil untuk menghilangkan bahan tersebut, dan dengan adanya klorida dalam air atau limbah menunjukkan bahwa air atau limbah tersebut telah mengalami pencemaran.

Kesadahan.

Kesadahan adalah hasil dari adanya hidroksi karbonat dan bikarbonat yang berupa kalsium, magnesium, sodium, potasium atau amoniak. Dalam hal ini yang paling penting adalah kalsium dan magnesium bikarbonat. Pada umumnya air limbah adalah basa yang diterimanya dari penyediaan air, air tanah, dan bahan tambahan selama digunakan di rumah.

Posfor.

Posfor terdapat di dalam limbah melalui hasil buangan manusia, baik secara langsung maupun berupa sisa-sisa aktivitas terutama dari air mandi dan bekas cucian. Sebagian besar posfor yang terdapat dalam limbah cair rumah tangga adalah dalam bentuk ortoposfat, yakni dapat mencapai 80% dari total posfat yang ada di dalam limbah tersebut .

Nitrogen.

Dalam limbah, nitrogen biasanya terdapat dalam bentuk ammonia, nitrit dan nitrat. Dalam konsentrasi yang tinggi, berbagai bentuk nitrogen bersifat racun terhadap flora dan fauna tertentu. Senyawa-senyawa nitrogen terdapat dalam keadaan terlarut atau sebagai bahan tersuspensi, dan merupakan senyawa yang sangat penting dalam air dan memegang peranan dalam reaksi-reaksi biologi perairan. Nitrogen bersama-sama dengan posfor akan meningkatkan pertumbuhan ganggang dalam perairan. Nitrogen akan cepat berubah menjadi nitrogen organik atau amonia nitrogen. Amonia kemudian digunakan oleh bakteri untuk proses oksidasi ke nitrit dan akan cepat berubah ke nitrat. Best Merupakan salah satu unsur yang penting dalam air sehingga kehadirannya di dalam limbah sering menimbulkan masalah. Besi adalah zat terlarut yang sangat tidak diinginkan karena dapat menimbulkan bau yang tidak enak pad air minum apabila mencapai konsentrasi 0.31 mg/1.

Sifat biologis
Sifat biologis limbah cair rumah tangga ditandai dengan kandungan organisme di dalam limbah tersebut. Walaupun pada umumnya merupakan mikroorganisme, namun ada juga diantaranya yang berupa makroorganisme dari hewan dan tumbuhan tingkat rendah. Menurut Gaudy (1980), di dalam limbah rumah tangga pada umumnya ditemukan mikroorganisme golongan bakteri, jamur, ganggang, protozoa, virus, rotivera dan cristacea. Namun diantaranya yang sangat penting untuk diketahui adalah golongan bakteri, protozoa dan virus, karena ketiga golongan mikroorganisme tersebut sangat erat kaitannya dengan penyebaran berbagai jenis penyakit melalui limbah cair rumah tangga.

Bakteri.

Bakteri adalah organisme kecil yang pada umumnya bersel satu, tidak berklorofil, berkembangbiak dengan pembelahan secara biner. Hidup bebas secara kosmopolitan, khususnya di udara, di dalam tanah, air, bahan pangan, tubuh manusia, hewan atau pada tanaman .

Pada umumnya bakteri hidup secara saapropitik pada buangan hewan, manusia dan tanaman yang banyak menimbulkan penyakit. Kehidupan bakteri dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu, kelembaban, konsentrasi oksigen, nutrisi, ketersediaan air dan keasaman.

Sel bakteri berbentuk batang, bulat dan spiral, dengan diameter antara 0.5-3.0 mikron, meskipun ada yang mencapai panjang sampai 15 mikron. Struktur sel terlihat bahwa sel dikelilingi oleh lapisan pembungkus (slime layer) yang terdiri atas polisakarida. Dinding sel sangat penting dalam pemberian bentuk dan ketegangan selnya.

Bakteri yang tergolong autotrof menggunakan CO2 sebagai sumber zat karbon, sedangkan bakteri heterotrof menggunakan energi yang berasal dari reaksi kimia dengan sinar matahari. Bakteri yang membutuhkan O2 terlarut di dalam limbah atau air sebagai usaha untuk mengoksidasi bahan organik, disebut bakteri aerob, sedangkan yang tidak memerlukan O2 untuk proses tersebut dikenal sebagai bakteri anaerob .

Bakteri merupakan kelompok mikroorganisme terpenting di dalam limbah cair. karena banyak diantaranya yang dapat digunakan menghilangkan bahan-bahan tertentu yang tidak diinginkan. Namun demikian banyak pula diantaranya yang kehadirannya di dalam limbah cair akan memperburuk keadaan limbah tersebut. Protozoa. Protozoa adalah kelompok mikroorganisme yang umumnya motil, bersel tunggal dan tidak mempunyai dinding sel (Jenie dan Rahayu, 1993). Seperti halnya dengan kelompok protista, protozoa dapat dijumpai pada air permukaan, air tanah, lumpur, debu, tinja, dan juga di lautan. Ukurannya beberapa ratus kali lebih besar dibandingkan dengan bakteri.

Salah satu jenis protozoa yaitu Pramaecium berbentuk elips dengan panjang 200 mikron dan lebar 40 mikron. Protozoa dapat hidup dengan syarat kehidupan yang minimal, sebab mikroba tersebut dapat menggunakan bakteri maupun mikroba lainnya sebagai sumber makanannya.

Selain berperan dalam proses penjernihan air, protozoa juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia Di dalam sistem pengolahan limbah cair, protozoa menjadi penting peranannya karena mikroba tersebut dapat memakan bakteri sehingga jumlah sel bakteri yang ada tidak berlebihan. Disamping itu protozoa akan mengurangi bahan organik yang tidak terolah dalam sistem penanganan dan membantu menghasilkan efluen dengan mutu yang lebih tinggi dan lebih jernih. Virus. Virus adalah parasit kecil yang bukan merupakan sel karena tidak mempunyai inti sel, membran sel maupun dinding sel. Virus berkembangbiak dalam kehidupan sel dan semuanya tidak akan berdaya apabila berada di luar kehidupan sel. Ukuran virus berkisar antara 200 – 400 milimikron, terdiri atas sekitar 100 tipe virus yang dikeluarkan melalui ekskreta manusia lewat saluran pencernaan dan banyak dijumpai pada sumber air.

Dalam limbah cair terdapat rata-rata 100 – 500 virus setiap 100 ml limbah. Apabila virus tersebut tidak dibasmi pada proses pengolahan limbah cair dan mencemari badan air, maka jumlahnya akan menjadi lebih banyak.

Perhatian utama terhadap virus apabila terdapat di dalam limbah cair atau perairan dengan konsentrasi tinggi. Sejumlah penyakit yang disebabkan oleh virus digolongkan sebagai penyakit yang ditularkan melalui air (water borne disease), seperti penyakit polio dan hepatitis (Arya, 1999). Walaupun virus yang terdapat dalam suatu perairan konsentrasinya rendah, tidak menjamin bahwa perairan tersebut aman. Hal itu disebabkan karena setiap virus mampu menimbulkan infeksi.

Efek Buruk Limbah Cair Rumah Tangga

Air yang tercemar akan terlihat berubah, baik dari segi warna, bau, dan lainnya. Sementara bahan pencemar dan perubahan karakteristiknya dalam air atau badan air dipengaruhi oleh beberapa keadaan. Perilaku pencemar dalam sistem perairan dipengaruhi oleh keseimbangan kelarutan dimana suatu zat kimia bercampur dengan suatu cairan membentuk sebuah sistem yang homogen.

Defenisi pencemaaran air antara lain disebutkan dalam PP.No.82 tahun 2001. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya. Air yang menyimpang dari keadaan normalnya disebut air tercemar, ukuran air bersih dan tidak tercemar tidak hanya ditentukan oleh kemurnian air.

Sesuai dengan pengertian limbah cair rumah tangga yang merupakan bahan sisa, berarti limbah cair adalah benda yang tidak digunakan lagi. Akan tetapi bukan berarti bahwa tidak perlu lagi dilakukan pengolahan, karena apabila tidak dikelola secara baik, akan menimbulkan gangguan terhadap lingkungan dan kehidupan yang ada.

Beberapa gangguan yang terjadi sebagai efek buruk dari limbah cair rumah tangga,yaitu : gangguan kesehatan, gangguan kehidupan biotik, gangguan terhadap keindahan, serta gangguan berupa kerusakan barang atau benda.

Gangguan Terhadap Kesehatan
Limbah cair rumah tangga sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia, mengingat banyaknya penyakit yang dapat ditularkannya Sebagai media pembawa penyakit, di dalam limbah cair banyak terdapat mikroba patogen yang dapat mengganggu kesehatan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Mikroba patogen yang biasa terdapat di dalam limbah cair rumah tangga antara lain golongan bakteri, seperti Vibrio. Salmonella dan Bacillus, dan dari golongan Protozoa seperti Entamoeba dan Paramaecium ( Sumirat, 1996 ). Demikian pula dengan golongan virus, banyak terdapat di dalam limbah rumah tangga, walaupun pola penularannya belum diketahui dengan jelas.

Limbah cair rumah tangga yang mengandung ekskreta yakni tinja dan urine, sangat berbahaya karena banyak mengandung mikroba patogen. Mikroba patogen tersebut mempunyai kemampuan hidup dan bertahan di dalam lingkungan dalam jangka waktu tertentu, tergantung jenis mikrobanya.

Mikroba patogen yang ada dalam limbah cair rumah tangga sangat berpengaruh terhadap peran air dalam penyebaran penyakit. Semakin besar volume limbah cair yang memasuki suatu perairan, semakin potensial pula perairan tersebut menyebarkan penyakit.

Mikroba patogen yang memasuki perairan merupakan penyebab berbagai macam penyakit menular. Penyakit tersebut dapat menular bila air yang mengandung mikroba patogen itu dipakai oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Adapun jenis-jenis mikroba yang dapat menyebar melalui air, adalah virus, bakteri dan protozoa.

Cara lain penyebaran mikroba patogen dari air kotor adalah melalui insekta yang bersarang atau hidup pada air tersebut. Insekta yang mengandung berbagai jenis penyakit tersebut menyebar dan menyerang manusia dengan cara masing-masing. Semakin kotor suatu perairan, semakin banyak mengandung insekta yang dapat menyebarkan bibit penyakit.

Gangguan Terhadap Biota Perairan
Tingginya kadar bahan pencemar yang terdapat di dalam limbah cair menyebabkan turunnya kadar oksigen yang terlarut di dalamnya Hal tersebut akan mengganggu kehidupan yang membutuhkan oksigen di dalam air.

Selain disebabkan oleh kurangnya oksigen terlarut, kematian di dalam limbah juga disebabkan oleh adanya zat-zat beracun. Kematian yang terjadi selain menimpa hewan-hewan, juga terhadap bakteri yang seharusnya dapat berperan dalam proses penjernihan limbah. Akibatnya proses penjernihan limbah menjadi terhambat .

Gangguan Terhadap Keindahan
Banyaknya bahan organik yang terdapat di dalam limbah cair rumah tangga menyebabkan terjadinya proses-proses pembusukan yang menghasilkan bau sangat mengganggu. Selain menimbulkan bau busuk, proses tersebut juga akan menyebabkan kondisi limbah menjadi licin atau berlendir dengan penampakan yang sangat buruk .

Dampak lain dari tingginya kadar bahan organik di dalam limbah cair rumah tangga adalah terbentuknya warna hitam atau warna lain yang sangat mengganggu pemandangan. Hal tersebut akan menjadi lebih parah jika terjadi pada kawasan rekreasi.

Gangguan Terhadap Benda dan Barang
Apabila limbah mengandung karbondioksida yang agresif maka akan mempercepat terjadinya proses pengkaratan pada benda yang terbuat dari besi yang dilalui oleh limbah tersebut. Selain itu limbah yang berkadar pH rendah ataupun yang tinggi, akan menimbulkan pula kerusakan terhadap benda-benda yang dilaluinya.

Lemak yang berupa zat cair pada waktu dibuang ke saluran akan menumpuk secara kumulatif pada saluran karena mengalami pendinginan dan akan menempel pada dinding saluran, yang pada akhirnya akan menyumbat aliran limbah .

Sistem Pengolahan Limbah Cair Rumah Tangga

Salah satu gagasan dan pemikiran yang dapat dikemukakan dalam upaya mengembangkan sistem pengolahan limbah cair rumah tangga adalah kemungkinan untuk memadukan secara bersinergi antara beberapa cara pengolahan dalam suatu model. Dalam hal ini pemanfaatan sistem saringan yang memanfaatkan bahan-bahan anorganik dan sistem saringan yang memanfaatkan tanaman air dipadukan dalam suatu model yang diberi nama Saringan Biogeokimia.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu sistem pengolahan limbah cair yang selama ini sering digunakan adalah penyaringan limbah cair menggunakan berbagai jenis bahan anorganik, seperti kerikil, arang batok kelapa, sabut kelapa, pasir dan zeolit. Sistem tersebut dianggap cukup efektif karena bahan-bahan anorganik yang digunakan rata-rata memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar bahan pencemar di dalam limbah cair, baik melalui proses filtrasi maupun proses penyerapan. Namun demikian dari hasil pengamatan di lapangan, menunjukkan bahwa limbah cair yang telah melalui proses pengolahan dengan sistem penyaringan bahan anorganik masih mengandung bahan pencemar yang cukup tinggi sehingga masih memerlukan pengolahan lebih lanjut agar limbah tersebut dapat memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan dan layak untuk dilepas ke lingkungan atau dimanfaatkan untuk keperluan lain.

Pemanfaatan tanaman air sebagai saringan biologis untuk limbah cair rumah tangga didasarkan pada berbagai hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman air memiliki kemampuan untuk meningkatkan kualitas limbah cair rumah tangga. Hal tersebut memungkinkan karena di dalam tubuh tanaman air berlangsung suatu mekanisme yang dapat mempengaruhi bahan-bahan yang terkandung di dalam limbah cair rumah tangga.

Kemampuan tanaman air untuk meningkatkan kualitas limbah cair, antara lain dikemukakan oleh Stowel et al. (1980), bahwa ada beberapa fungsi tanaman air pada sistem pengolahan limbah cair, yaitu bagian akar dan batang tanaman dapat menyerap dan menyaring bahan yang terlarut di dalam limbah cair serta dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Bagian tanaman yang berada di permukaan air, dapat melindungi perairan dari sinar matahari sehingga mencegah pertumbuhan ganggang, mengurangi pengaruh angin, dan mentransfer gas dari udara ke perairan, dari perairan ke tanaman atau sebaliknya.

Kehadiran tanaman air di dalam kolam pengolahan limbah sangat potensial untuk menyaring dan menyerap bahan yang terlarut di dalam limbah, melangsungkan pertukaran dan penyerapan ion, serta memelihara kondisi perairan dari pengaruh angin, sinar matahari dan suhu.

Rangkaian fakta tentang kemampuan sistem saringan anorganik serta pembuktian adanya kemampuan tanaman air untuk menurunkan kadar bahan pencemar di dalam limbah cair, menjadi dasar pemikiran peneliti untuk mengembangkan suatu sistem pengolahan limbah cair rumah tangga dengan cara menggabungkan antara kedua potensi tersebut menjadi suatu sistem pengolahan limbah cair yang lebih efektif. Dalam hal ini penggabungan dilakukan antara sistem saringan anorganik dengan saringan tanaman air sehingga sistem pengolahan tersebut dapat digolongkan sebagai Sistem Filter Biogeokimia.. Hasil penggabungan tersebut menghasilkan sistem pengolahan limbah secara bertahap, yakni tahap pertama dengan pengolahan secara filter geokimia, dan tahap ke dua pengolahan dengan biofilter yang menggunakan tanaman air. Diharapkan agar sistem pengolahan tersebut dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam upaya pengolahan limbah cair permukiman, sehingga masalah yang ditimbulkan oleh limbah cair nunah tangga selama ini dapat ditanggulangi.

Beberapa Cara Pengolahan Limbah Cair

Air limbah yang tercemar, bila langsung dialirkan ke lingkungan (seperti sungai atau badan air lainnya), akan mengakibatkan terjadinya pencemaran pada badan air tersebut. Pengelolaan air limbah ditujukan agar dapat memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Baku mutu air perlu dikendalikan, sehingga pengambilan air juga akan terkendali dan dapat terjaga ketersediaan sumber air baik air permukaan maupun air tanah dalam. Akan tetapi karena kurangnya pengawasan dan tingkat kesadaran masyarakat, maka sering terjadi penyumbatan muka air tanah dangkal sehingga kekurangan air bersih di berbagai tempat.

Keberadaan air limbah mutlak dikelola agar tidak melampaui ambang batas toleransi lingkungan. Dasar hukum yang mengatur pengelolaan ini terkait dengan Penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Instalasi ini sangat penting, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 dinyatakan bahwa Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sangat diperlukan dalam upaya menurunkan kadar parameter pencemar dalam limbah, agar diperoleh limbah cair dengan kualitas baik dan memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Limbah cair ini lazimnya dibuang ke perairan umum, sedangkan di sisi lain perairan umum sangat sering manfaatkan untuk berbagai keperluan masyarakat.

Pengolahan Limbah Cair Sebelum Dibuang Ke Lingkungan
Pengolahan limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan atau ke badan-badan air terutama ditujukan untuk melindungi lingkungan hidup terhadap pencemaran yang ditimbulkannya. Secara alamiah, lingkungan mempunyai kemampuan yang cukup besar untuk menetralkan limbah cair yang masuk ke lingkungan tersebut. Namun demikian, kemampuan tersebut mempunyai keterbatasan, sehingga perlu dilakukan upaya untuk melindungi dan menjaga kelestariannya.

Dewasa ini telah ditemukan beberapa cara untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan, baik untuk limbah industri maupun untuk limbah rumah tangga. Namun demikian, penerapan teknologi pengolahan limbah tersebut belum sampai menjangkau limbah rumah tangga. Hal tersebut disebabkan antara lain karena tingginya biaya yang diperlukan, sulitnya menerapkan sistem atau cara tersebut, serta masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengolahan limbah cair rumah tangga.

Adapun cara pengolahan limbah cair yang selama ini telah ditemukan, baik untuk industri maupun untuk rumah tangga adalah sebagai berikut:

1.Pengenceran

Pengolahan limbah cair dengan cara pengenceran, yakni dengan menurunkan konsentrasi limbah sampai cukup rendah sebelum dibuang ke lingkungan. Dalam keadaan tertentu dapat pula dilakukan proses pengolahan sederhana terlebih dahulu, antara lain dengan pengendapan dan penyaringan (Pandia, et al. 1995).

Pesatnya pertumbuhan penduduk dan perkembangan pada semua sektor kehidupan, maka cara tersebut tidak dapat lagi dipertahankan mengingat volume dan kandungan limbah semakin besar. Selain itu, sistem pengenceran memiliki kekurangan, antara lain oksigen terlarut di dalam perairan cepat habis, sehingga mengganggu kehidupan organisme. Cara tersebut juga dapat meningkatkan pengendapan zat-zat padat yang mempercepat pendangkalan dan menyebabkan terjadinya penyumbatan dan banjir.

2.Irigasi luas

Pengolahan limbah cair dengan metode Irigasi Luas pada umumnya digunakan di daerah-daerah di luar kota atau di pedesaan karena memerlukan tanah yang cukup luas dan tidak dekat dengan permukiman penduduk. Limbah cair dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali pada sebidang tanah dan air akan merembes masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit. Pada keadaan tertentu limbah cair dapat digunakan untuk pengairan ladang, pertanian atau perkembangan dan sekaligus berfungsi sebagai pupuk ( Haryoto, 1985 ).

3.Kolam oksidasi

Pengolahan limbah cair dengan sistem Kolam Oksidasi biasa juga disebut Kolam Stabilisasi, atau Lagoon, yang biasanya digunakan untuk mengolah limbah cair yang dihasilkan oleh suatu kelompok masyarakat. Prinsip kerjanya adalah pemanfaatan pengaruh cahaya matahari, ganggang, bakteri dan oksigen dalam pembersihan alamiah.

Limbah cair dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman 1 sampai 1.5 meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Luas kolam tergantung pada volume limbah yang akan diolah dan biasanya digunakan luas lahan sebesar 4072 m2 untuk setiap 100 orang. (Haryoto, 1995). Lokasi kolam minimal berjarak- 500 meter dari daerah permukiman dan ditempatkan di daerah terbuka yang memungkinkan adanya sirkulasi angin. Cara kerja Kolam oksidasi adalah sebagai berikut:

Komponen-komponen yang berperan dalam proses pembersihan alami adalah cahaya matahari, algae, bakteri dan oksigen.
Algae dengan butir klorofil, di dalam limbah cair melakukan proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari sehingga tumbuh dengan subur.
Pada proses fotosintesis untuk pembentukan karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh klorofil di bawah pengaruh cahaya matahari terbentuk O2. Oksigen tersebut digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair. Selain itu terjadi pula penguraian zat-zat padat, sehingga terjadi pengendapan. Dengan demikian, nilai BOD dan padatan tersuspensi di dalam limbah cair’ akan berkurang, sehingga relatif aman bila dibuang ke badan-badan air. Menurut Darwati dan Rahim (2002), pengolahan limbah cair dengan kolam oksidasi dapat menurunkan BOD dab COD sampai 90%.

4.Saringan percikan

Cara pengolahan limbah cair dengan Saringan Percikan menganut prinsip pengolahan dengan mekanisme aliran yang jatuh dan mengalir perlahan-lahan melalui lapisan batu untuk kemudian disaring. Saringan percikan terbuat dari bak yang tersusun oleh lapisan materi yang kasar, keras, tajam dan kedap air. Bentuk bak dan lapisannya disesuaikan dengan sistem distribusinya. Secara skematis, sistem Saringan Percikan disajikan pada Gambar .

Adapun cara kerjanya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Limbah cair rumah tangga dialirkan masuk ke bak penyaringan melalui pipa influent. Melalui pipa distributor yang mempunyai lubang pemercik, limbah tersebut dijatuhkan secara perlahan pada batu-batuan penyaring yang tersusun sedemikian rupa dengan kemiringan sekitar 10 %.
Setelah melalui penyaringan oleh batuan, limbah secara perlahan mengalir ke bak penampungan efluen yang dilengkapi pipa pembuangan.
Melalui pipa efluen, limbah cair yang telah jernih dan diuji kandungannya, dilepas ke lingkungan.

b.. Sistem Pengolahan Mekanik dan Biologis

Cara ini merupakan sistem pengolahan yang lebih kompleks, karena pengolahan secara mekanik merupakan pengolahan primer, sedangkan pengolahan biologis merupakan pengolahan sekunder. Sistem tersebut terutama digunakan pada daerah perkotaan dan umumnya dapat mengolah berbagai jenis limbah cair baik yang berasal dari rumah tangga maupun dari industri.

Adapun proses kerja sistem tersebut adalah sebagai berikut:

Pada pengolahan primer, pekerjaan pertama adalah menghilangkan kotoran yang berukuran besar seperti sampah, kayu, besi dan bangkai, dengan cara mengalirkan limbah cair melalui saringan kawat besi yang bergaris tengah 2.5 cm. Semua benda kasar dengan garis tengah lebih dari 2.5 cm akan tertahan, selanjutnya limbah cair dialirkan ke saluran endapan kerikil atau pasir.
Limbah cair dialirkan ke tangki pengendapan pertama (primary sedimentation) ke dasar tanki. Lumpur kasar tersebut kemudian dipompa keluar dan dimasukkan dalam tangki pelumat (sludge digestion tank), selanjutnya dimasukkan ke dalam tangki pengeringan. Limbah cair yang tertinggal diolah lebih lanjut dan dialirkan ke pengolahan sekunder.
Pada pengolahan sekunder, bakteri-bakteri aerobik tumbuh dan melakukan dekomposisi secara aerobik. Bakteri-bakteri tersebut memerlukan banyak oksigen yang berasal dari udara. Salah satu cara mendapatkannya adalah dengan menyemprotkan cairan ke dalam bak yang berlapisan kerikil yang berfungsi sebagai penyaring. Cairan lain yakni dengan menyemprotkan oksigen dari dasar tangki ke dalam tangki aerasi.
Cairan dialirkan ke dalam tangki pengendapan terakhir (final sedimentation tank) yang berisi lumpur dan mikroorganisme. Endapan lumpur aktif (activated sludge) sebagian besar digunakan kembali dan dimasukkan ke dalam tangki aerasi. sisanya dibuang setelah dilumatkan dan dikeringkan.

c.. Bahan Anorganik Penyaring Limbah

Berbagai macam cara digunakan untuk mengolah limbah cair. diantaranya : pasir, ijuk, arang batok, kerikil, pasir, ijuk dan kerikil merupakan bahan media penyaring, sedangkan arang batok merupakan bahan media penyerap (Untung, 1998).

Pasir
Saringan pasir bertujuan untuk mengurangi kandungan lumpur dan bahan-bahan padat yang ada pada air limbah rumah tangga serta dapat menyaring bahan padat terapung. Ukuran pasir untuk menyaring bermacam-macam, tergantung jenis bahan pencemar yang akan disaring. Semakin besar bahan padat yang perlu disaring, semakin besar ukuran pasir.

Ukuran pasir yang lazim dimanfaatkan berukuran 0,4 mm – 0,8 mm dengan diameter pasir sekitar 0,2 mm – 0,35 mm serta ketebalan 0,4 m – 0,7 m (Untung. 1998). Menurut Saeni et al, (1990) bahwa saringan pasir mampu menurunkan bahan organik.

Di samping itu saringan pasir menurut Hay (1981) dapat menurunkan kesadahan air dengan keefektifan penyaringan 4.607 – 7.02%. Hal ini disebabkan karena pasir merupakan jenis senyawa silica dan oksigen yang dalam air berupa koloid yang mengikat OH pada permukaan membentuk lapisan pertama yang bermuatan negatif.

Bahan penyaringan pasir dan ijuk dapat menyerap Fe2+ (di samping pertukaran ion pada pasir), dimana Fe2+ dijerat oleh OH (pada pasir) atau asam-asam humus (pada ijuk) membentuk lapisan kedua.

Arang Batok Kelapa
Arang batok ialah arang yang berasal dari tempurung kelapa Tempurung tersebut dibakar sampai menjadi arang. Selain menyerap bahan-bahan kimia pencemar, arang batok juga berfungsi untuk mengurangi warna dan bau air kotor (Untung. 1998).

Ada dua bentuk arang batok yang biasa dipakai. Pertama, butiran berdiameter 0,1 mm. Ke dua berbentuk bubuk berukuran 200 mesh. Karena berfungsi sebagai penyerap mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang terkandung di dalam limbah cair, maka setelah beberapa waktu kemudian tidak efektif lagi. Ciri ketidak efektifannya ialah air yang sudah tersaring tidak begitu jernih lagi. Jika hal tersebut terjadi, maka arang batok perlu dicuci dengan air bersih atau bahkan diganti dengan yang baru. Arang batok butiran dapat diaktifkan lagi melalui pembakaran ganda (Slamet, 1984).

Dalam proses penyaringan dengan bahan arang terjadi pertukaran kation Fe2+ dengan Ca2+ dan Mg2+, sehingga berlangsung pengikatan Fe dan terjadi penambahan nilai kesadahan filtrat (Saeni, et al. 1990). Pada bahan penyaring arang, pengambilan Fe2+ dilakukan proses pertukaran kation, dimana kation-kation pada permukaan partikel arang ditukar oleh ion besi. Di samping itu bahan saringan arang mengandung bahan organik yang tinggi, sehingga dapat menarik bahan organik dari air yang disaring (Manahan, 1977).

Karbon Aktif
Karbon aktif adalah karbon yang mempunyai kadar C yang tinggi serta mempunyai daya adsorbsi yang besar. Karbon aktif dapat dibuat dengan berbagai cara yaitu dengan cara pemanasan karbon pada suhu yang tinggi, kurang lebih 500°C, atau dengan menambah asam fosfat/seng klorida pada karbon (Lado, 1997).

Karbon dapat diperoleh dari pembakaran kayu atau tempurung kelapa Karbon tersebut belum aktif karena masih mengandung abu dan zat-zat ikutan lainnya, sehingga kurang efektif jika langsung digunakan sebagai penyerap (adsorben).Karbon yang telah diaktifkan mempunyai permukaan yang besar sehingga kontak resapan terhadap zat yang terabsorbsi makin lebih besar. Hal tersebut disebabkan karena karbon aktif mempunyai pori-pori yang banyak (Lado, 1997).

Kerikil
Kerikil dipakai bersama dengan pasir dan arang, dan umumnya diletakkan pada lapisan dasar. Menurut Saeni, at al, (1990), pasir dapat menurunkan kesadahan air dengan keefektifan penyaringan berturut-turut 4,86 – 11,65% dan dapat meningkatkan NH4+. Secara skematis bangunan pengolahan air limbah dengan saringan anorganik, dapat dilihat pada Gambar 4.

d..Tanaman Air

Jenis-Jenis Tanaman Air
Tanaman air merupakan bagian dari vegetasi penghuni bumi ini yang media tumbuhnya adalah perairan. Penyebarannya meliputi perairan air tawar, payau sampai ke lautan dengan beragam jenis dan bentuk, serta sifat-sifatnya. Walaupun masih banyak diantaranya belum diketahui, sebagian dari tanaman tersebut telah lama dikenal, bahkan telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan (Sunanto, 2000).Pada perairan air tawar, umumnya tanaman air tumbuh secara alami menempati bagian-bagian perairan yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing. Namun pada perkembangan selanjutnya, banyak terjadi perubahan pada komposisi kehidupan tanaman air tersebut akibat gangguan keseimbangan ekologis pada tempat tumbuhnya. Akibatnya, tidak sedikit dijumpai kehidupan tanaman air yang tidak seimbang, seperti terjadinya dominasi satu jenis tanaman air, bahkan ada diantara jenis tanaman tertentu yang mengalami kepunahan.

Berdasarkan karakteristiknya, tanaman air dapat dibagi dalam empat golongan, yaitu :

Tanaman air penghuni bagian tepi perairan (Marginal Aquatic Plant).
Sesuai dengan bentuk akar, batang dan daun tanaman yang termasuk golongan tersebut dapat hidup pada bagian tepi suatu perairan, yakni pada bagian yang dangkal sampai bagian yang tidak tergenang air. Beberapa contoh tanaman air yang termasuk dalam golongan marginal aquatic plant adalah tanaman juncus, sagitari, scirpus dan iris.

Tanaman air penghuni bagian permukaan ( Floating Aquatic Plant).
Tanaman air yang tergolong floating aquatic plant adalah tanaman air yang hidup terapung di permukaan perairan dengan posisi akar yang melayang di dalam air. Bentuk akar yang terjurai memungkinkan tanaman tersebut menyerap zat-zat yang diperlukan, terutama dari bahan yang terlarut dan melayang di dalam perairan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah tanaman azolla, lemna, eicchornia, salvinia dan spirodella.

Tanaman air yang hidup di dalam perairan (Submerged Aquatic Plant).
Tanaman jenis ini hidup di dalam perairan dengan seluruh bagian tubuhnya terendam di dalam air. Akarnya menyentuh dasar perairan, namun sebagian diantaranya melayang, sedangkan batang dan daunnya bergerak mengikuti arah gerakan air. Posisi tanaman air jenis ini sangat menunjang untuk menjadi saringan bagi berbagai jenis bahan terlarut yang ada di dalam perairan, sehingga sangat membantu dalam proses penjernihan. Yang termasuk dalam golongan ini adalah tanaman hydrilla, cllitriche, chara dan elodea.

Tanaman air yang tumbuh pada dasar perairan (Deep Aquatic Plant).
Tanaman air yang tergolong deep aquatic plant adalah tanaman air yang tumbuh pada dasar perairan dengan akar tertanam kuat pada bagian dasar tersebut, sedangkan batangnya berdiri kuat menopang daun dan bunga yang muncul pada permukaan air. Tinggi serta posisi batang biasanya tergantung pada kedalaman perairan tempat hidupnya, sehingga akan dijumpai tinggi batang yang bervariasi serta posisi yang berbeda-beda. Tanaman air yang termasuk golongan ini adalah ponogethon, nuphar dan nympahaea.

Selanjutnya tanaman air dapat dibagi dalam empat tipe, yaitu:

Tanaman air oksigen (Oxygenerator)
Tanaman air yang termasuk dalam Tanaman Air Oksigen adalah tanaman air yang mampu membersihkan udara sekaligus menyerap kandungan garam yang berlebihan di dalam air. Seluruh bagian tanaman tersebut tenggelam di dalam air.

Tanaman air lumpur.
Sesuai dengan namanya, tanaman air golongan tersebut habitat aslinya adalah daerah berlumpur dan sedikit digenangi air. Ada yang menganggap bahwa Tanaman Air Lumpur sama dengan marginal aquatic plant, dengan pertimbangan bahwa tempat hidupnya sama-sama dipinggiran kolam.

Tanaman air pinggir (marginal aquatic plant)
Tanaman Air Pinggir memiliki akar dan batang yang terendam di dalam air. Namun sebagian besar batangnya justru menyembul ke permukaan air. Selain batang, bagian daun dan bunganya juga berada di atas permukaan air.

Tanaman air mengapung (floating aquatic plant)
Tanaman ini tidak memerlukan tanah untuk media tumbuhnya, melainkan mengapung di permukaan air. Tanaman Air Mengapung hidup dengan cara menyerap udara dan unsur hara yang terkandung di dalam air. Tanaman tersebut memiliki keunggulan dalam kegiatan fotosintesis, penyediaan oksigen dan penyerapan sinar matahari

Kemampuan Tanaman Air Menstabilkan Limbah Cair
Kenyataan di lapangan pada masa lampau menunjukkan bahwa limbah cair rumah tangga yang dialirkan kedalam kolam-kolam yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman air, akan keluar dalam keadaan jernih. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa di dalam kolam tersebut telah terjadi proses penjernihan melalui penyaringan oleh tanaman air ( Marianto, 2001 ).

Kemampuan tanaman air untuk menjernihkan limbah cair akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian. Berbagai penemuan tentang hal tersebut telah dikemukakan oleh para ahli, baik yang menyangkut proses terjadinya penjernihan limbah maupun menyangkut tingkat kemampuan beberapa jenis tanaman air tertentu. Bahwa tanaman air memiliki kemampuan secara umum untuk mensupport komponen-komponen tertentu di dalam perairan, dan hal tersebut sangat bermanfaat dalam proses pengolahan limbah cair.

Selanjutnya fungsi tanaman air pada proses pengolahan limbah cair dapat dijelaskan bahwa pada proses pengolahan limbah cair dalam kolam yang menggunakan tanaman air, terjadi proses penyaringan dan penyerapan oleh akar dan batang tanaman air, proses pertukaran dan penyerapan ion, dan tanaman air juga berperan dalam menstabilkan pengaruh iklim, angin, cahaya matahari dan suhu. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa terjadi sinergi antara penggunaan kolam pengolahan dengan tanaman air dalam hal menstabilkan limbah. Tanaman air dapat melakukan berbagai, proses yang menunjang kestabilan limbah, sedangkan kolam selain juga berperan secara langsung dalam proses penstabilan, juga berperan sebagai media tumbuh tanaman air tersebut.

Pengujian dan pemanfaatan kemampuan tanaman air untuk pengolahan limbah cair juga telah dilakukan di beberapa tempat, yang pada umumnya menunjukkan hasil yang positif.

Tabel 1.

Fungsi tanaman air pada proses pengolahan limbah cair

Bagian Tanaman Air

Fungsi

Akar dan atau batang yang ada di dalam perairan
Menekan pertumbuhan bakteri
Menyaring dan menyerap bahan-bahan larut
Batang atau bagian lain yang ada pada permukaan perairan
Menahan cahaya matahari, sehingga dapat mencegah pertumbuhan algae
Memperkecil pergerakan air akibat pengaruh angin, yang selanjutnya mempengaruhi pertukaran gas antara perairan dengan udara bebas
Sangat penting dalam mentrasnfer gas dari dan ke bagian tanaman yang ada di dalam perairan

Sumber : EPA, (1991)

Suriawiria (1993) mengemukakan bahwa penataan tanaman air dalam suatu bedengan-bedengan kecil dalam kolam pengolahan dapat berfungsi sebagai saringan hidup bagi limbah cair yang dilewatkan pada tempat tersebut. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan tanaman air untuk menyaring bahan-bahan yang larut di dalam limbah cukup potensial untuk dijadikan bagian dari usaha pengolahan limbah cair.

Pada penelitian lain, Seregeg (1998) mengemukakan bahwa ada beberapa jenis tanaman air yang memiliki efektivitas tinggi jika digunakan sebagai tanaman penyaring pada sistem pengolahan limbah cair? yaitu tanaman Mendong (Scirpus littoralis), Kangkung (Epomea aquatica), dan Tales-Talesan (Typhonium, sp). Sedangkan Yusuf (2001) yang telah melakukan penelitian terhadap kemampuan beberapa jenis tanaman air dalam proses bioremediasi limbah cair rumah tangga mengemukakan bahwa tanaman Mendong (Iris sibirica). Teratai (Nymphaea firekrest), Kiambang (Spirodella polyrrhiza) . dan Hidrilla (Hydrilla verticillata) memberikan efek dalam persentase yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain terhadap peningkatan kualitas limbah cair rumah tangga Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa tanaman Mendong yang dikombinasikan dengan Teratai dapat menurunkan suhu limbah sebesar 3.57%, menurunkan kekeruhan sebesar 51,09%, menurunkan padatan tersuspensi 50.74%, meningkatkan pH 2,99%, meningkatkan oksigen terlarut 29,10%, menurunkan BOD 14,55%, menurunkan kandungan Coliform sebesar 46,88%, dan menurunkan Escherichia coli sebesar 45,00%.

Manfaat Tanaman Air Terhadap Lingkungan
Kehidupan berbagai jenis tanaman air di alam, seringkali luput dari perhatian orang. Selain karena kehadirannya terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia, tanaman air juga dianggap sebagai sesuatu yang biasa karena dapat dijumpai dimana-mana. Hal tersebut menyebabkan terjadinya perlakuan-perlakuan yang sangat merugikan, antara lain berupa pembatasan hidup dan pemusnahan berbagai jenis tanaman air.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kualitas hidup manusia, maka nilai dan manfaat tanaman air mulai terungkap satu persatu. Manfaat tanaman air dalam menghasilkan oksigen pada proses fotosintesis merupakan hal yang sangat penting artinya bagi lingkungan sekitarnya. Oksigen yang dilepaskan ke udara sangat bermanfaat baik untuk kehidupan manusia, maupun kualitas lingkungan itu sendiri.

Dalam hal keindahan, tanaman air juga sangat potensial untuk dikembangkan. Sebagaimana diketahui bahwa selain bentuk-bentuk tanaman air yang cukup unik dan menarik, beberapa diantaranya mempunyai bunga atau daun dengan warna yang sangat indah. apabila tanaman-tanaman air di dalam suatu kolam ditata dengan baik dalam suatu konfigurasi yang sesuai, maka akan menghasilkan pemandangan yang sangat indah dengan nilai estetika yang tinggi.

Upaya untuk memanfaatkan tanaman air sebagai tanaman hias telah banyak dilakukan dan dikenal sebagai “water garden”, namun upaya tersebut sampai saat ini masih terbatas pada pekarangan rumah atau perkantoran. Untuk itu perlu pemikiran untuk mengembangkannya, baik dalam hal fungsi dan manfaat maupun cakupannya. Salah satu alternatif pengembangan tersebut adalah melalui penataan kolam pengolahan limbah cair rumah tangga dengan tanaman air pada suatu permukiman.

Eceng Gondok Sebagai Biofilter Limbah Cair

Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu tanaman air yang populer di Indonesia, yang awalnya didatangkan dari Brazil. Eceng gondok termasuk sejenis tanaman air yang hidup terapung (floating aquatic plant), yang memiliki kemampuan berkembang biak cukup tinggi serta kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dengan demikian, dalam waktu yang singkat, tanaman eceng gondok dapat menutupi permukaan perairan dan mempercepat pendangkalan. Oleh karena itu, eceng gondok berpotensi untuk menimbulkan gangguan terhadap kelestarian lingkungan.

Selain memiliki sifat merugikan, eceng gondok juga dapat mendatangkan keuntungan, antara lain kemampuannya untuk menyerap berbagai zat pencemar di dalam air. Lubis dalam Sjahrul (1998) mengatakan, beberapa peneliti melaporkan bahwa eceng gondok dapat menyerap berbagai zat pencemar dalam air dan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban pencemaran lingkungan. Dengan demikian bila tanaman eceng gondok dikelola dengan baik dan dipanen secara teratur dapat berperan dalam penanggulangan pencemaran air .

Suatu hasil percobaan menunjukkan bahwa dalam tubuh eceng gondok dapat berlangsung proses yang sangat efisien untuk membersihkan limbah industri yang dapat dihancurkan secara biologia (Neis, 1989). Eceng gondok juga dapat menyerap senyawa-senyawa fenol, eceng gondok yang memiliki bobot kering sebesar 2.75 gram dapat menyerap 100 mg fenol dari air suling atau air sungai selama 72 jam atau 1 ha eceng gondok dapat menyerap 160 kg fenol selama 3 hari. Selanjutnya, Gopal (1987) mengemukakan bahwa eceng gondok dapat memindahkan sejumlah senyawa sintetik termasuk pestisida dari air yang telah tercemar pestisida. Juga dilaporkan bahwa dari sejumlah studi ditemukan bahwa telah terjadi pengurangan jumlah Coliform dalam limbah yang ditanami dengan eceng gondok. Pengurangan tersebut disebabkan karena terjadinya akumulasi bakteri di sekitar akar eceng gondok. Kejadian tersebut telah dimanfaatkan untuk membasmi epidemik kolera yang tersebar di Bangladesh.

Welverton dan Donald (1979) menyatakan bahwa di Amerika Serikat pemakaian gulma air sebagai penjernih pencemar yang telah digunakan meluas karena biaya operasinya tidak mahal Jadi cara tersebut cukup baik diterapkan di negara berkembang seperti di Indonesia. Cara pengelolaan eceng gondok sebagai salah satu cara untuk menanggulangi pencemaran ialah menjaga supaya ada populasi terbatas eceng gondok yang berfungsi sebagai penyaring zat pencemar. Banyaknya zat yang terserap oleh eceng gondok, tergantung pada konsentrasi dari jenis pencemar dalam larutan media pertumbuhan.

Pencemaran perairan oleh limbah penduduk dan industri dapat merangsang pertumbuhan eceng gondok hingga populasinya mengganggu keseimbangan lingkungannya. Dengan pengelolaan yang baik, yaitu menjaga populasi tertentu, eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai penyaring zat pencemar dalam limbah. Pengelolaan eceng gondok yang dapat disarankan adalah dengan cara mekanis yang diikuti dengan pemanfaatan bahan organiknya menjadi pupuk, makanan ternak, bahan kerajinan, pulp, media tumbuh jamur merang, biogas dan Iain-lain

Saringan Organic Sebagai Filter Limbah Cair Rumah Tangga.

Peranan Saringan Anorganik
Saringan anorganik tersusun dari lapisan materi kasar, keras, tajam dan kedap air. Limbah rumah tangga yang melewati saringan tersebut diharapkan dapat tersaring bahan-bahan yang mengambang, terapung, kekeruhan, warna dan bau.

.Proses Penyerapan
Limbah cair rumah tangga pada dasarnya mengandung bahan-bahan tercemar. Proses yang memegang peranan penting dalam penyaringan polutan adalah proses penjerapan pada permukaan pasir, kerikil, karbon aktif dan zeolit. Saringan pasir dan kerikil pada proses penyaringan limbah cair rumah tangga mampu menahan endapan lumpur dan logam. Kemampuan pasir dan kerikil menjerap pulutan dalam limbah cair didasarkan atas pertukaran kation. Arang atau karbon aktif mampu menjerap polutan karena strukturnya yang berpori-pori dan memiliki permukaan yang luas persatuan volume. Bau dan warna limbah cair juga dapat dihilangkan oleh arang. / Mineral zeolit merupakan jenis bahan galian yang murah dan dapat didapatkan di pasaran. Zeolit adalah bahan penukar ion yang dapat digunakan pada prose penjernihan air karena kemampuannya menyerap dan menyaring molekul, sebagai penukar kation dan katalis. Oleh karena itu, zeolit sangat tepat digunakan untuk pengolahan limbah rumah tangga, diantaranya sebagai penghilang bau, pengika logam Ca, Mg, Fe, Mn dan logam berat lainnya serta dapat menyerap gas.

c.Keterkaitan Antara Tanaman Air Dengan Kandungan Limbah Cair Rumah Tangga Dalam Ekosistem

Proses sirkulasi kesetimbangan antara bahan konsumsi dan lingkungan alam berjalan melalui proses industri. Manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan sehari harinya menggunakan hasil industri sebagai bahan konsumsi mereka Residu dan manusia yang terkumpul dalam limbah rumah tangga yang mengandung berbagai polutan terbuang ke dalam badan air sampai terbentuk pencemaran perairan.

Bahan residu yang dihasilkan dari aktivitas manusia dalam limbah rumah tangga terbuang ke lingkungan air dan tanah. Banyak dari residu dalam limbah mengandung logam, zat organik dan zat anorganik lain tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme air. Akibatnya, bahan residu dan limbah cair menjadi polutan dan tersebar ke komponen lingkungan. Polutan di dalam lingkungan akan tersirkulasi bersama-sama dengan semua bahan yang lain dalam proses pertumbuhan tanaman air Dalam proses metabolisme, polutan akan menjadi bagian dari struktur selular dalam tanaman air.

Dari gejala yang ada, tampak bahwa ada faktor-faktor yang berpengaruh pada proses penyerapan dan sekaligus mempengaruhi proses penjernihan limbah rumah tangga. Tanaman air yang tumbuh pada lingkungan air yang sudah tercemar juga nampak ada faktor-faktor yang berpengaruh dalam pembentukan habitatnya sehingga mampu menyerap berbagai jenis polutan air. Untuk memecahkan masalah pengurangan kadar polutan sampai pada tingkat di bawah ambang batas standar (baku) mutu lingkungan, dibuat suatu model sinergi saringan biogeokimia. Saringan tersebut diharapkan mampu menyaring polutan dalam limbah cair rumah tangga sampai didapatkan hasil pengolahan yang optimal.

Skema keterkaitan antara saringan geokimia dan biologi dengan bahan pencemar dalam ekosistem, disajikan pada Gambar 4.

Penelitian Limbah Cair Rumah Tangga Oleh Syahriar Tato.

Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan, yakni dari bulan September 2003 sampai bulan Pebruari 2004. Adapun tempat pelaksanaan penelitian ini adalah dalam wilayah Kota Makassar, dengan perincian:

Lokasi pengambilan limbah cair rumah tangga, yakni dalam kawasan Perumahan Asindo, Perumnas Toddopuli, dan pada kawasan Permukiman Kampung Lette. Ketiga tempat tersebut diharapkan dap at mewakili karakteristik limbah cair rumah tangga dalam wilayah Kota Makassar, baik dari segi kandungan, jenis dan volumenya.
Tempat pemasangan instrumen penelitian, dalam hal ini tempat pelaksanaan percobaan atau pengolahan limbah, menggunakan lokasi pada halaman belakang Kantor Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulawesi Selatan, Jl. Urip Sumoharjo. No. 96 Makassar. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa jarak dengan lokasi pengambilan limbah dan jarak dengan lokasi untuk pengujian kandungan limbah, cukup menguntungkan.
Selanjutnya, tempat pengujian kandungan limbah, yakni di Laboratorium Kimia dan Mikrobiologi Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin.
Simpulan dan Rekomendasi

Sebagai simpulan dan rekomendasi yang dapat diberikan oleh hasil penelitian tersebut terhadap pemerintah kota Makassar.

Simpulan

Pengolahan limbah cair rumah tangga dengan sistem filter biogeokimia memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan kadar kandungan bahan pencemar, sehingga dapat meningkatkan kualitas limbah yang diolah sebelum dilepas ke lingkungan.
Efektivitas sistem filter biogeokimia dalam menurunkan kadar bahan pencemar limbah cair rumah tangga menunjukkan tingkat yang bervariasi pada setiap parameter yang diuji.. Efektivitas pengolahan untuk penurunan kekeruhan sebesar 89.46%. penurunan padatan tersuspensi 93.67%, kesadahan 88,84%, pH 6,79%, BOD 91,40%, COD 91,6%, BOT 85,18%, kalsium 92,39%, klorida 85,81%, amonium 83,20%, ortofosfat 85,17%, besi 76,86%, dan nitrit 90%.
Penurunan kadar bahan pencemar menunjukkan persentase yang berbeda antara satu parameter dengan parameter yang lain, dan pada umumnya persentase penurunan yang dicapai pada penelitian ini lebih besar dari persentase penurunan yang dicapai pada beberapa sistem pengolahan limbah yang telah ada.
Penurunan kadar bahan pencemar dalam limbah cair rumah tangga pada umumnya mencapai jumlah yang lebih kecil dari jumlah maksimum yang diperbolehkan dalam Baku Mutu limbah, sehingga kandungan bahan pencemar tersebut dapat dinyatakan aman untuk dilepas ke lingkungan.
Penggunaan kerikil, pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit secara bersama-sama dengan sistem lapisan bertingkat untuk menyaring limbah cair rumah tangga dapat memberikan efek secara bersinergi dalam menurunkan kadar bahan pencemar limbah.
Kemampuan tanaman Eceng Gondok untuk menyaring, menguraikan dan menyerap bahan-bahan terlarut di dalam limbah cair menjadi lebih efektif, apabila limbah yang diolah sebelumnya telah melalui saringan kerikil, pasir silika, arang batok kelapa dan zeolit.Pengenceran limbah cair rumah tangga sebelum diolah, memberikan efek yang signifikan terhadap hasil pengolahan. Tingkat pengenceran yang efektif untuk digunakan pada pengolahan limbah dengan sistem saringan biogeokimia adalah pada konsentrasi 50%, karena ternyata pada konsentrasi tersebut faktor pengenceran memberikan efek yang optimal terhadap penurunan kadar bahan pencemar, dan efek tersebut tidak berbeda nyata dengan konsentrasi yang lebih rendah
Waktu kontak antara limbah cair rumah tangga yang diolah dengan setiap jenis saringan memberikan efek terhadap hasil pengolahan. Pada pengolahan dengan sistem saringan biogeokimia, ternyata waktu kontak yang memberikan efek paling besar terhadap hasil pengolahan adalah 8 jam, yakni waktu kontak paling lama yang digunakan pada penelitian ini.
Pola penurunan kadar bahan pencemar dalam limbah cair rumah tangga yang diolah dengan sistem saringan biogeokimia memperlihatkan kurva yang bervariasi. Pada umumnya kadar bahan pencemar mengalami penurunan yang pesat dari kondisi sebelum perlakuan ke perlakuan tingkat pertama, dan dari perlakuan tingkat pertama ke tingkat ke dua dan ke tiga menunjukkan variasi perubahan berupa penurunan, peningkatan ataupun stagnan, namun demikian pada perlakuan tingkat ke empat seluruhnya menunjukkan penurunan yang signifikan.
Rekomendasi

Penggunaan bahan-bahan anorganik seperti kerikil, pasir, arang dan zeolit dan tanaman eceng gondok untuk mengolah limbah cair rumah tangga perlu dimasyarakatkan, karena terbukti bahan-bahan anorganik dan tanaman air tersebut memiliki potensi cukup besar dalam menyaring bahan-bahan yang terkandung dalam limbah cair rumah tangga.
Dengan ditemukannya sistem pengolahan limbah cair rumah tangga yang cukup efektif dan berwawasan lingkungan, maka upaya memasyarakatkan sistem pengolahan limbah bagi masyarakat, perlu ditingkatkan. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan penyuluhan dan pemberian contoh secara langsung kepada masyarakat tentang sistem pengolahan yang dapat dilakukan.
Pengolahan limbah cair rumah tangga sebaiknya dilakukan secara kolektif untuk sekelompok rumah tangga, mengingat sistem pengolahan dengan saringan biogeokimia dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan atau volume limbah yang akan diolah.
Untuk pemanfaatan sistem saringan biogeokimia pada pengolahan limbah cair rumah tangga, terlebih dahulu diperlukan adanya sosialisasi tentang sistem tersebut agar masyarakat dapat memahami dan mengetahui penggunaannya dengan baik, bahkan jika memungkinkan dapat dikembangkan lebih baik..
BAHAN BACAAN
Case, D. 1994. Water Garden Plants. Redwood Books. Trowbridge, Wilthire.

Connel, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Universitas Indonesia Jakarta.

Darwati. S. 1998. Metode Pendekatan dan Aplikasinya Dalam Menyusun Baku Mutu Efluen IPAL. Jurnal Penelitian Permukiman. 14(4): 49 – 61

Debusk, T.A. and KLR. Reddy. 1987. Wastewater Treatment Using Floating Aquatic Microphytes. Magnolia Publishing, Inc. Orlando.

EPA [ Environmental Protection Agency ]. 1983. Proces, Theory, Performance and Design Stabilization Ponds in : Municipal Wastewater Stabilization Ponds. Officer of Research and Development Municipal Environmental Research Labiratory. Cincinnati. U.S.A.

——– 1886. Pathogen Reduction,’in : Control of Pathogen in Municipal

Wastewater Sludge for Land Application. Pathogen Equivalency Commite.

——– 1989. POTW In-Plant Control Evaluation, in : Toxicity Reduction

Evaluation Protocol for Municipal Wastewater Treatment Plant. Risk Reduction Engineering Laboratory Office of Research and Development Commite. Cincinnati.

——– 1991. Aquatic Treatment System, in : Constructed Wetlands and Aquatic

Plant System for Municipal Wastewater Tratnient. Centre of Environment Research Information U.S. Government Printing Officer. Cincinnati

——– 1991. Design of Aquatic Plant System, in : Constructed Wetland and

Aquatic Plant System for Municipal Wastewater Treatment. Centre of Environmental Research Information U.S. Government Printing Officer. Cincinnati.

Eric, M. and J. Mike. 1997. Effects of Aerobic and Microaerobic Condition on Aerobic Ammonium-Oxidizing Sludge. Applied and Environmental Microbiology. American Society for Microbiology. 63(6):31-36

Fardiaz, S. 1992. Polusi Air dan Udara. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Flynn, E.J. 1986. The New Microbiology. McGraw Hill Book Company. New York.

Gaudy, A.F. and E.T. Gaudy. 1980. Microbiology for Environmental Scientis and Engineers. McGraw Hill. New York.

Hantzshe, N.N. 1985. Wetland System for Wastewater Treatment. Ecological Concideration in Wetland Tratment of Municipal Wastewater. Van Nostrand Reinhold Co. New York.

Haryoto, K. 1985. Kesehatan Lingkungan . Universitas Indonesia. Jakarta,

Haryoto, K. 1999. Toksikologi Lingkungan, Zat Kimia dan Medan Elektromagnetik. Universitas Indonesia. Jakarta.

Haryoto, K. 1999. Kebijakan dan Strategi pengolahan Limbah dalam Menghadapi Tantangan Global. Dalam : Teknologi Pengolahan Limbah dan Pemulihan Kerusakan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional; Jakarta. 13 Juli 1999. BPPT. Jakarta

Henze, M., P. Harremoes., J.C. Jansen., and E. Arvin. 1996. Wastewater Treatment. Springer Verlag. Berlin.

Hufschmidt, M. 1996. Lingkungan, Sistem Alami dan Pembangunan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta

Jenie, B.S.L. dan Rahayu. 1993. Penanganan Limbah Industri Pangan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta,

Juhaeni. 1999. Perbaikan Proses pengolahan Limbah Cair Peternakan. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. Pusat Studi Lingkungan Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia. 19(1):56 – 62.

Lakitan, B. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Lay, B.W. dan Hastowo. 1992. Mikrobiologi. Penerbit CV. Rajawali. Jakarta.

Lies. E.H., H. Wartono dan W. Wardhana. 1999. Manajemen Kolam Air Tawar dengan Sistem Resirkulasi. Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Pusat Studi Lingkungan Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia. Jakarta 19(3): 191 – 197.

Lucy, W.M. 1995. Mikrobiologi Lingkungan. Universitas Hasanuddin Bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta

Metcalf and Eddy. 1978. Wastewater Engineering. TATA McGraw Hill Publishing Company Ltd. New Delhi.

Middlebrooks, E.J. and M.A. Al-Layla. 1987. Handbook of Wastewater Collection and Treatment. Garland STMP Press. New York.

Moody…M. 1993. Creating Water Gardens. Landsdowne Publishing. London.

Momon, N.M. dan M. Lya. 1997. Tingkat Pencemaran Air Limbah Rumah Tangga. Jurnal Penelitian Permukiman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta

NoIte and Associated. 1986. Operation and Maintenance Manual, City of Gustine Wastewater Treatment Facility Improvement. EPA Project. California.

Pandia, S., dkk. Kimia Lingkungan. Universitas Sumatera Utara Bekerjasama dengan Pusat Studi Lingkungan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Reddy, K.R and W.H. Smith. 1987. Aquatic Plants for Water Treatment and Resource Recovery. Magnolia Publishing. Inc. Orlando.

Reed, S.C., E.J. Middlebrooks and R.vv. Crites. 1987. Natural System for Waste Management and Treatment. U.S. Environmental Protection Agency.

Robinson, P. 1994. The Water Garden’. The Royal Horticultural Society Collection. Conran Octopus Limited. London.

Ronald, L.D. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment. John Wiley & Sons. New York.

Ryadi, S. 1984. Kesehatan Lingkungan. Penerbit Karya Anda. Surabaya.

Saeni, M.S. 1989. Kimia Lingkungan. PAU Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Salisbury, F.B. and C.W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Sarbidi. 1999. Perilaku Masyarakat Permukiman Bantaran Sungai Dalam Mengelola Limbah padat dan Cair.Jurnal Penelitian Permukiman.15(2):34-46.

Seregeg. I.G. 1998. Efektivitas Saringan Bioremediasi Tanaman Mendong (Scirpus littoralis Schard), Kangkung (Ipomea aquatica Forsk), dan Tale-Talesan (Typhonium Miq), Melalui Uji Coba Lapang Skala Kecil dan Simulasi di Laboratorium [Disertasi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor, Program Pasca Sarjana

Soerjani, M. 1987. Lingkungan, Sumberdaya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. Universitas Indonesia. Jakarta

Stowel, R.R., XC. Ludwig and G. Thobanoglous. 1980. Toward the Rational Design of Aquatic Treatments of Wastewater. Departemen of Civil Engoneering and Land, Air, and Water Resources, University of California California

Sugiharto. 1987. Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah. Universitas Indonesia. Jakarta.

Suhardi. 1991. Analisis Air dan Penanganan Limbah. PAU Pangan dan Gizi. Universitas gajah Mada. Yogyakarta,

Sumirat S. J. 1996. Kesehatan Lingkungan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Suriawiria, U. 1986. Mikrobiologi Air. Penerbit Alumni. Bandung.

Suriawiria, U. 1993. Mikrobiologi Air dan dasar-dasar Pengolahan Buangan Secara Biologis. Penerbit Alumni. Bandung.

Tato,Syahriar 2003 ,model teknologi pengolahan limbah cair rumah tangga dengan filter biogeokimia.Desertasi.

Tchobanoglous, G. 1987. Aquatic Plant System for Wastewater Treatment. Magnolia Publishing. Orlando.

Thiese, A and CD. Martin. 1987. Municipal Wastewater Purification in a Vegetative Filter Bed in Emmitsburg, Maryland. Magnolia Publishing. Orlando.

Wagini, dkk. 2000. Studi Fisis daur Ulang Limbah Cair Industri Peternakan Sapi dengan Simulasi Pengenceran. Jurnal Manusia dan Lingkungan. Pusat penelitian Lingkungan Hidup Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Yusuf, G. 2001 Bioremediasi Limbah Rumah Tangga dengan Sistem Simulasi Tanaman Air [Disertasi]. Bogor ; Institut Pertanian Bogor, Program Pascasarjana.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO,SH.SAB.SSN.MS.MH.MM.

Nama : DR. IR.DRS.SYAHRIAR TATO.SH.SAB.SSN.MS.MH.MM
Status : Dosen Tetap Yayasan Pendidikan Bosowa
Dosen (NIDN) : 09.2102.5101
Dosen sertifikat : 12109101012869.
Pangkat akademik : Lektor Kepala (25 oktober 2004-
SKEP.07/34/BP/U- 45/X/04),

Pangkat PNS : Pangkat pengabdian IV/d, Pembina Utama
Madya (Kep.Presiden RI no.18/K TAHUN 2011).

7.Kelompok Keahlian : 1.Perencanaan Prasarana Wilayah dan Kota.

Perencanaan Kawasan Wisata.
Konsep dan Struktur Tata Ruang.
Civil Engineering.
Penyehatan dan pencemaran lingkungan.
Penyutradaraan dan Keaktoran.
No. KTP : 7371092102510001.
Pasport : A.3948304.
10.Kelamin : Laki-Laki

11.Agama : Islam

12.Kota/Tanggal Lahir : Pinrang , 21 pebruari 1951

13.Jabatan Akademik : 1).Direktur Pascasarjana STIK Tamalate 2008-2011.

2) Dekan Fakultas Teknik ISTP Makassar 2010-2011.

3).Rektor IKM. 2014.

14.Instansi Induk : Universitas “45” Makassar.

15.Riwayat Pendidikan

Strata Sarjana Muda (SM)
Tanggal Lulus : 12 agustus 1975(tahun 1970-1975)
Gelar : Bachelor of Architec Engineering (BAE)
Nama PT : Akademi Teknologi Negeri
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Arsitektur
Judul perancangan: Perencanaan bangunan gedung perpustakaan Ujung
Pandang
– Pembimbing : Ir. Winardi sukowiyono.

Strata Satu ( S1 )
Tanggal Lulus : 26 Maret 1984 (1980-1984)
Gelar : Doktorandus ( Drs )
Nama PT : STIA-LANRI
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Administrasi Negara.
Judul Skripsi : Implementasi program terpadu Pemugaran Perumahan
Desa di Propinsi Sulawesi Selatan Ditinjau dari
Administrasi Pembangunan
Pembimbing : Dr. HM. Syukur Abdullah MPA
Strata Satu (S1)
Tanggal Lulus : 10 maret 1990 (1984-1990)
Gelar : Insinyur (Ir)
Nama PT : Universitas Muslim Indonesia
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Teknik sipil.
Judul Skripsi : Model Pengelolaan Bangunan Gedung dengan Metode
Gabungan GUNCHART-CPM-HANNUM CURVE.
Pembimbing : Ir.HM. Ridwan Abdullah, Msc.

Strata Satu (S1)
Tanggal Lulus : 6 April 2009 (2006-2009)
Gelar : Sarjana Hukum ( SH )
Nama PT : Universitas Satria Makassar
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Hukum Pidana.
Judul Skripsi : Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Keyakinan Hakim
dalam Proses Pembuktian Menurut Hukum Acara Pidana
Pembimbing : HM. Yunus Idy.SH.MH dan Djonny.SH.MH

Strata Satu (S1)
Tanggal Lulus : 15 November 2011 (2008-2011)
Gelar : Sarjana Administrasi Bisnis (SAB)
Nama PT : STIA-YPA-AH
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Administrasi Bisnis.
Judul Skripsi : Faktor yang Mempengaruhi Retribusi Penerimaan
Pengelolaan PDAM Kabupaten Pinrang ditinjau dari segi
Administrasi Bisnis
Pembimbing : Dr. Drs. Amiruddin Semma dan Muhammad
Amiruddin,SE.
Strata Satu (S1).
Tanggal Lulus : 27 juni 2013.(2008-2013)

Nama PT : Institut Kesenian Makassar
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Seni Media Rekam Film dan Televisi.
Judul Karya : Karya Penciptaan Film Pendek berjudul TANDA CINTA
– Pembimbing : Machfud Ramli,S.Sos dan Yohan C Tinungki,S.Mus,M.Sn.

Strata Dua (S2)
Tanggal Lulus : 17 Oktober 1992.( 1990-1992)
Gelar : Magister Sains ( MS )
Nama PT : Universitas Hasanuddin
Kota Asal PT : Makassar.
Bidang Ilmu : Pencemaran dan Penyehatan Lingkungan.
Judul Tesis : Studi Tingkat Kekumuhan Permukiman pada
Kawasan Pantai Kota Madya Ujung Pandang.
Pembimbing :Ir.Yulianto Sumalyo,Prof.Dr.Rahardjo
Adisasmita,Dr.Ir.Sampe Paembonan,MS.
Strata Dua (S2)
– Tanggal lulus : 27 Mei 2010.(2008-2010)

– Gelar : Magister Hukum.( MH )

– Nama PT Universitas Kristen Indonesia Paulus.

– Kota Asal PT : Makassar.

– Bidang Ilmu : Hukum Tata Negara dan Pemerintahan.

– Judul Tesis : Analisis Yuridis Pemanfaatan Ruang Berdasarkan

Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2006 Tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar.

Strata Dua (S2)
– Tanggal lulus : 30 April 2012(2010-2012)

– Gelar : Magister Manajemen ( MM )

– Nama PT : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pengembangan Bisnis dan

Manajemen

– Kota Asal PT : Jakarta

– Bidang Ilmu : Manajemen .

– Judul Tesis : Pengaruh Faktor Pembiayaan untuk Meningkatkan

Pengelolaan Persampahan Kota Makassar

– Pembimbing : Prof.Dr.Masngudi,SE dan Dr,Wier Ritonga ,SE,MM.

Strata Tiga (S3 )
Tanggal Lulus : 16 Juli 2004 (1996-2004)
Gelar : Doktor (Dr)
Nama PT : Universitas Hasanuddin.
Kota Asal PT : Makassar
Bidang Ilmu : Studi Ilmu Teknik.
Judul Disertasi : Model Teknologi Pengolahan Limbah Cair dengan Filter
BiogeoKimia

Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Muh.Arief.Dipl.Ing
Prof. Dr. Syahrul. M,Agr.

Prof. Dr. Ir. Muh.Saleh Pallu,M.Eng.

Prof, Dr. Ir. Mary Selintung, MSc

Penghargaan atas karya bakti.
Satya Karya 1985 Mentri Pekerjaan Umum
Satya Lencana 10th 1997 Presiden RI
Satya Lencana 20th 2003 Presiden RI
Satya Lencana 30th 2009 Presiden RI.
ASEAN EXSECUTIVE AWARD 2004

Daftar karya ilmiah dan populer yang ditulis .
NO

JUDUL TULISAN

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Kebijakan system perencanaan terhadap pembangunan perkotaan

2005

Jurnal SPASIAL Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2005

2.

Tata Guna lahan – system transportasi sebagai sub system dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan

2006

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Mei 2006

3.

Hambatan dalam system pembangunan perkotaan yang berkelanjutan

2007

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2007

4.

Pengelolaan sampah perkotaan sebagai sebuah sistem

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2008

5.

Struktur Spasial wilayah peri urban sebagai system dari tata ruang kota

2008

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, Juni 2008

6.

Pendekatan system dalam struktur spasial wilayah peri urban

2009

Jurnal SPASIAL, Perencanaan wilayah dan Kota Univ. 45, April 2009

Daftar Artikel Dosen selama 10 tahun terakhir
NO

JUDUL ARTIKEL

TAHUN

DITERBITKAN SEBAGAI : *)

1.

Air Sumber kehidupan, masihkah lestari

2003

Artikel dalam Majallah “sinergi”no6 Tahun I, Oktober 2003

2.

Sastra tutur tradisional etnis bugis Makassar, masihka memukau?

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

Menstimulasi peran aktif public dalam apresiasi Film dan sinetron Indonesia

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 1 Tahun 2003

4.

Manajemen Strategik organisasi seni budaya

2003

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 2 Tahun 2003

5.

Filter Biogeokimia, Mengolah limbah cair perkotaan

2004

Artikel dalam Majallah

“ Sinergi” no1. Tahun I, Januari 2004

6

1 Milyard Orang Dambakan Air

2004

Artikel dalam Majallah “sinergi”no3 Tahun. II

Maret 2004

Manajemen seni budaya menggapai produktifitas melalui kerjasama tim

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 3 Tahun 2004

Mungkinkah membangun seni budaya”Beraura” tradisi di Sulawesi Selatan

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 5 Tahun 2004

Menjadikan seni tradisional siplemen pencapaian kemandirian local

2004

Artikel dalam Majallah “BKKI-NEWS” Edisi 6 Tahun 2004

10.

Meniru Istambul Turki Mengembangkan Wisata Kota ( Tinjauan Pemamfaatan Ruang Kota untuk kebutuhan wisata)

2005

Artikel dalam Majallah “Mimbar Aspirasi”Edisi 44 Februari 2005

11.

12.

Identifikasi kawasan terpilih pusat pengembangan desa dikabupaten Majene propinsi sulawesi barat.

Juridical analysis Utilization of space based regulation member 6 0n the spatial plan area of the city Makassar

Desember 2012

Jurnal SPASIAL vol 8 no.2 ISSN : 1411-3899

13.

Arahan pengembangan kawasan strategi kota galesong kabupaten takalar

2010

Jurnal SPASIAL vol 8 no.1- ISSN : 1411-3899

14.

15.

Evaluasi rencana Kawasan Agropoitan di kawasan matakali-kabupaten polewali mandara sulawesi barat.

Disparitas pemanfaatan ruang terhadap PERDA no 6 tahun 2006 tentang RTRW kota Makassar.

2010.

2010

Jurnal Tekstur kota

Vol 1 no 2-ISSN 2086-7786.

Jurnal Tekstur kota

Vol 2 no 1-ISSN 2086-7786.

Karya Ilmiah
1.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Journal of Science and Technology integration vol.III, januari 2011, ISSN : 1675-8437.Selangor Malaysia

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

Sebagai

:

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

Tahun-Bulan

:

2010 (4 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Area Development Minapolitan coastal communities to improve economy Gowa

2.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar International book expo 2012 malaysia

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

Sebagai

:

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

:

Biaya sendiri

Tahun-Bulan

:

2012 (2 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur tradisional sulawesi selatan warisan budaya etnis lokal Indonesia.

3.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar arsitektur tradisional minahasa dan suku tobadij papua

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

:

Satker balai pengembangan teknologi perumahan tradisional makassar (APBN)

Tahun-Bulan

:

2009 (6 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Arsitektur rumah tradisional minahasa dan suku tobadij papua.

4.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar Dinas tataruang dan permukiman Sulawesi Selatan.

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Tim teknis

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tata ruang dan permukiman.(APBN )

Tahun-Bulan

:

2008 (6 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Identifikasi kawasan Resapan air kawasan metropolitan Mamminasata

5.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata ruang dan Pemukiman Sulawesi Selatan

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Tim teknis

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan permukiman (APBN)

Tahun-Bulan

:

2008 (4 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan masterplan Kawasan Agropoiltan Allakuang kabupaten Sidenreng Rappang.

6.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Dinas Tata Ruang dan Permukiman Sulawesi Selatan

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Tim teknis

Jenis Pembiayaan

:

Dinas Tataruang dan Pemukiman ( APBN)

Tahun-Bulan

:

2009 (4 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Penyusunan Master plan Kawasan Agropoitan Mangbotu Kabupaten Luwu Timur

7.

Jenis Karya Ilmiah

:

Buku ilmiah

Dipublikasikan pada

:

De la macca ISBN no 978-602-263-009-8

Dilaksanakan secara

:

Mandiri

Sebagai

:

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

:

Mandiri

Tahun-Bulan

:

2013

Judul Karya Ilmiah

:

Cara sederhana mengolah sampah perdesaan.

8.

Jenis Karya Ilmiah

:

Penelitian

Dipublikasikan pada

:

Seminar pada Bapeda Kabupaten Boven digoel

Dilaksanakan secara

:

Kelompok

Sebagai

:

Tim teknis

Jenis Pembiayaan

:

APBD Kab, Boven Digoel

Tahun-Bulan

:

2013 (6 bulan)

Judul Karya Ilmiah

:

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) kabupaten boven Digoel

9.

Jenis Karya Ilmiah

Buku ilmiah

Dipublikasikan pada

Penerbit Lamacca press-ISBN no, 979-3897-49-2

Dilaksanakan secara

Mandiri

Sebagai

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

Mandiri

Tahun-Bulan

2009.

Judul Karya Ilmiah

Arsitektur Tradisional Sulawesi Selatan,Pusaka warisan budaya indonesia.

10.

Jenis Karya Ilmiah

Buku ilmiah

Dipublikasikan pada

De la macca-ISBN no 978-979-3897-36-3

Dilaksanakan secara

Mandiri

Sebagai

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

Mandiri

Tahun-Bulan

2010

Judul Karya Ilmiah

Mengolah limbah cair rumah tangga dengan filter biogeokimia

11.

Jenis Karya Ilmiah

Buku Ilmiah

Dipublikasikan pada

De la Macca.ISBN 978-602-263-008-1

Dilaksanakan secara

Mandiri

Sebagai

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

Mandiri

Tahun-Bulan

2013.

Judul Karya Ilmiah

Mari membangun kawasan hijau dan bangunan hijau yang ramah lingkungan

12.

Jenis Karya Ilmiah

Buku ilmiah

Dipublikasikan pada

De la macca.ISBN 978 602 263 010 4

Dilaksanakan secara

Mandiri

Sebagai

Penulis Utama

Jenis Pembiayaan

Mandiri

Tahun-Bulan

2013

Judul Karya Ilmiah

Potensi dan harapan masa deoan kawasan pengembangan ekonomi terpadu (Kapet) parepare

Kegiatan dalam dan luar negeri .

No.

Jenis Kegitan

Tempat dan Waktu Kegiatan

Jenis Partisipasi

Penyaji

Peserta

1.

Earthquake Engeenering for reconstruction

University of Victoria,wellington selandia baru 1996

Peserta

2.

Earthquake Disaster Management

Universityof new

south wales-

sidney australia 1996

peserta-

3.

Training of Water suplly Engineering

OECF/JICA.Tokyo jepang 1997

peserta-

4.

OzWater conference

and Exebhition

Perth australia 2004

Penyaji

5.

Studi Kawasan Agropolitan

HPTI Bangkok Thailand tahun 2003

peserta-

6.

Bussiness& Industries Conference –Exhibition

Istambul-turki 2006

Penyaji

7.

Asia Pasific Academic consortium for Public Health conference

Yonsei university-seoul-korea selatan 2011

penyaji

8.

International book expo and exebhition

Kualalumpur.malaysia tahun 2012

penyaji

9.

AsiaPasific Academic Consortium for Public Health confrence.

Colonbo – srilanka 2012

penyaji

10.

Pelatihan teknik Manajemen Information sistem program nasional Pengembangan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2009

Narasumber

11.

Pelatihan teknis Training of trainers program PANSIMAS

DITJEN CIPTA KARYA

Tahun 2008

Narasumber

12.

Sosialisasi UU No.26 tahun 2007 tentang penataan ruang

DISTARKIM Sulsel tahun 2009

Narasumber

13.

Pelatihan-AparatPemerintah kabupaten/kota se SulSel

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

14.

Pelatihan-Pengendalian Pemanfaatan Ruang RTR Provinsi Sulsel

12-14 Juni 2013, Dinas Tarkim Provinsi Sulsel

Narasumber

15.

Pelatihan teknis pilihan teknologi dalam pembangunan prasarana dan sarana sanitasi dan air limbah.

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

16.

Pelatihan aparat pemda kab/kota, Strategis pengembangan kab/kota berbasis rencana tata ruang kota

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Narasumber

17.

Lokakarya nasional master plan dan perencanaan teknis kerjasama kota metropolitan mamminasa

Ditjen Bangda Depdagri – Jakarta tahun 2009

Narasumber

18.

Timteknis/Kelompok-kerja Pembangunan-kotabaru Mamminasata

Dinas Tarkim Provinsi Sulsel 2009.

Pengarah

19

20.

21.

22

23.

24.

25

26

27

28.

Seminar nasional Arsitektur rumah dan Permukiman Tradisional Kawasan Timur Indonesia.

Disseminasi peraturan perundang undangan penataan bangunan dan lingkungan.

Seminar-nasional,ibukota negara,harapan dan tantangan

Studi optimalisasi pelabuhan Ferry Mamuju propinsi sulawesi Barat

Studi Kelayakan Pembangunan Dermaga bala-balakang kabupaten Mamuju Sulawesi barat

Seminar Penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Minapolitan kab. Luwu timur.

Seminar nasional penerapan konsep bangunan hijau pada bangunan gedung.

International seminar on urban and regional planning

Pelatihan-Manajemen persampahan .

Bimbingan teknis pemanfaatan citra satelit untuk informasi spasial sumber daya lahan.

Badan Litbang PU,tahun 2010

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2010.

Pemerintah propinsi Sulawesi-Selatan

tahun 2011.

Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009. Pemerintah propinsi Sulawesi Barat 2009.

BPSPL Makassar 2010

DITJEN CIPTA KARYA tahun 2012.

ASPI-tahun 2011.

DISTARKIM Sulsel

Tahun 2012.

LAPAN-thn 2012

Penyaji

Narasumber

Narasumber

Tim Pakar

Tim pakar

Penyaji

penyaji

penyaji

—-

peserta-

peserta

29.

Pelatihan Teknis Sistem Informasi Manajemen Kawasan Ekonomi Terpadu( Berbasis GIS)

Ditjen Tata Ruang-UNHAS-LAPAN

Tahun 2013.

peserta

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: