BULAN BIRU DIATAS KAMPUS

BULAN birU

DIATAS KAMPUS

 

karya

syahriar tato

Para Pelaku

Donna

Andi Makkawaru

Andi Darauleng

Gaffar

Si Om

( Ir Mariolo umur pertengahan )

Riechee

Ory

Dr Mahfud

Seorang Pemuda

dan

beberapa figuran

mahasiswa mahasiswi

Masyarakat Desa

Ceritera ini hanya fiktif belaka, nama pemeran maupun tempat kejadian hanya imajinasi penulis.

 

BULAN BIRU DIATAS KAMPUS

Karya

Syahriar Tato

FADE OUT

FADE IN

TRADE MARK

FADE OUT

FADE IN

SCENE 01

EXTERIOR

SEBUAH KAMPUS

SIANG HARI

(Suasana pulang Kuliah disebuah kampus. Siang itu terasa hiruk pikuk. Ramai lalu lalang mahasiswa mahasiswi dikoridor. Sesekali diselingi canda diantara obrolan mereka. Sekelompok mahasiswa, juga masih Nampak asyik ngobrol disalah satu pojok sekolahan. Dari arah ruang kuliah muncul Donna dan Ory yang jalan bergegas sambil menyandang tas sekolahnya. Menyusuri koridor kearah perpustakaan. Mata Donna mencari seseorang diantara para mahasiswa yang lagi ngobrol, tetapi yang dicari tak ditemui).

DONNA

Ory, aku cari doi dulu ya. Nanti aku nyusul pulang.

ORY

(menggoda) Si doi lagi. Kamu serius dengannya ? Apanya sih yang menarik ? Nampaknya, Si Om lebih ca’em menggoda).

(Donna mencubit temannya dengan gemas. Ory menjerit kaget).

DONNA

Si Om lagi… si Om lagi. Ambil saja untukmu. Aku kan Cuma butuh duitnya (tertawa). Sudah yah, bye bye. Hati-hati dijalan cewe’…

 

ORY

Yeah… sampai jumpa.

(Keduanya berpisah. Ory berjalan kearah keluar kampus sedangkan Donna menghilangkan diujung koridor).

CUT TO :

SCENE 02

INTERIOR

RUANG KELAS KAMPUS

SIANG HARI

( dosen prasarana sedang mengajar didepan kelas. Rahman seorang mahasiswa baru asal Malaysia duduk diantara beberapa siswa lainnya, kemudian asyik memperhatikan pelajaran yang dijelaskan oleh pak dosen. Dari balik kaca jendela, muncul wajah DONNA sambil memberi kode pada Rahman. DONNA memperlihatkan sebuah sampul sepucuk surat dan memberi kode agar Rahman segera keluar kelas).

(Rahman tersenyum melihat gaya DONNA dari balik kaca, dia membahas kode dengan menunjukkan jam tangannya, bahwa sebentar lagi pelajaran telah berakhir).

(Para mahasiswa bangkit dari tempat duduknya dan menghambur keluar ruangan. RAhman keluar kelas belakangan langsung disodori surat oleh DONNA).

DONNA

Surat buatmu. Tadi aku mengambilnya dari ruang tatausaha. (bercanda) kiriman duit ya ? Traktir dong.

RAHMAN

Wow surprise. Akhirnya datang juga surat dari orang tuaku. Aku kira mereka sudah lupa padaku.

(Rahman Segera membuka sampul surat dan membacanya. DONNA heran melihat perubahan tingkah Rahman kekasihnya. Beberapa mahasiswa yang ada disekitarnya, juga ikut memandang heran).

DONNA

Rahman kenapa. Ada apa denganmu. Kok kelihatan dongkol sekali.

 

 

RAHMAN

Lebih baik kamu baca surat ini. Apa yang selama ini kuimpikan akhirnya kandas juga.

(Rahman menyerahkan surat kepada Donna, segera saja Donna membacanya. Setelah mengerti maksud surat itu dengan spontan Donna meremas-remas surat itu dan dengan murung memandangi Rahman,Rahman hanya diam. Tiba-tiba Donna membalikkan badan dan dengan gontai meninggalkan Rahman yang tertegun melihat sikap Donna).

RAHMAN

Donna, tunggu. Kenapa kamu.

(Donna hanya memandangi Rahman dalam hayalnya menerawang, kedukaan Nampak jelas meronai wajahnya).

CUT TO:

SCENE 03

EXTERIOR

KAMPUS BIRU

SIANG HARI

(Dari kejauhan).

 

CUT TO:

SCENE 04

EXTERIOR/INTERIOR

RUMAH KOST DONNA DAN ORY

MALAM HARI

(Rumah kost mereka tidak terlalu besar, sederhana saja. Terletak disebuah pemukiman rumah kelas menengah. Ada kolam kecil didepannya. Ketika itu suasana depan rumah telah sepi dari lalu lalang penghuninya, sudah larut malam).

 

 

 

DONNA (OS)

Aku sangat berat, melepas kepergian rieche. Kata orang dikotanya bertabur wanita-wanita cantik, akh. (menghela nafas).

(Ory dengan sabar menghadapi keluhan sahabatnya Donna).

DONNA

Aku takut Rieche tidak kembali lagi kemari, Ry. Bagaimana jadinya kehidupanku kelak, tanpa Rieche.

ORY

Jangan berpikir yang bukan-bukan, non. Makin banyak yang kau pikir, makin pusing kepalamu. Hidup, mati dan jodohkan ditangan Tuhan (pause) kalau memang Rieche bukan jodohmu, disinipun dia akan digaet gadis lain…’tul nggak!

DONNA

Aku khawatir. Ory…

ORY

Khawatir sih boleh saja. Tapi jangan berlebihan dong. Kamu musti percaya pada kesungguhan cinta Rieche. Diakan hanya ingin menemui Orang Tuanya. Masa-studinya disinikan belum selesai.

DONNA

Aku percaya. Tapi hari pasti berlalu begitu lambat. Mestikah aku menghiting hari demi hari… Jika terlalu lama berpisah, segalanya bias saja terjadi.

ORY

Yah ‘ndak mesti non…

DONNA

Disana Rieche membutuhkan seseorang untuk bias diajak bicara dari hati kehati Rieche memerlukan seseorang yang bias diajak pergi minum, nonton atau kemana saja. Nah, lama-lama, bisa keterusan.

ORY

Lho, kok curiga amat, non…

DONNA

Lelaki, mana bisa dipercaya.

(Ory menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk meyakinkan sahabatnya).

CUT TO:

SCENE 05

INTERIOR

FAST FOOD RESTAURANT

SIANG

(Donna menghirup coca-cola, sementara Rieche berusaha untuk meyakinkan Donna).

RIECHE

Percayalah padaku DONNA. Kalau mau berkhinat, tidak usah jauh-jauh, pakai pulang segala. Disini juga bisa, kan banyak yang cantik, sensual lagi. Kalau aku naksir, belum pasti dia mau. Dan, aku toh tetap memilihmu. Tujuh bulan kita pacaran, toh aku tetap jujur dan setia padamu !

DONNA

Itu karena aku selalu disisimu.

RIECHE

Lho, kok tidak percaya.

DONNA

Itu. Karena tiap hari kita masih bias bertemu dan kita bias saling mengisi hari-hari kita bersama.

RIECHE

Jadi, kamu tidak percaya padaku ?

DONNA

Aku percaya. Tapi, kekuatan manusia itu ada batasnya. Setelah lama berpisah, aku tidak bisa menyalahkan-mu kamu kalau pada akhirnya terjerat juga.

RIECHE

Nah, itukan namanya tidak percaya ,

DONNA

Aku tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi.

RIECHE

Jadi, aku harus bagaimana.

DISOLVE TO FLASHES:

SCENE 06

INTERIOR

SEBUAH PUSKESMAS

SIANG HARI

(Donna terbaring lemas dipembaringan. Pada bangku disisi tempat tidur Nampak Rieche dan beberapa siswa menunggui Donna siuman dari pingsannya. Ketika Donna membuka matanya Ory memperkenalkan Rieche padanya. Adegan ini dalam lamunan Donna).

ORY

NON, ini Rieche yang menolongmu. Ia siswa pertukaran pelajar dari Selandia Baru (berbisik) suku Maori. Satu sekolah dengan kita, cuman kelasnya beda, ia anak kelas III IPS.

DONNA

(Donna mengulurkan tangannya menyalami Rieche) terima kasih…

 

CUT TO :

SCENE 07

EXTERIROR/INTERIOR

BEBARAPA TEMPAT

SIANG / MALAM

(Beberapa menggambarkan perjalanan cinta kasih Rieche dan Donna antara lain):

  1. Saat mereka minum bertiga dengan Ory dikantin sekolah. Datang teman-teman siswa mereka membawa Koran dan menceritakan tentang kerusuhan yang terjadi ditanah air. Tak lama kemudian Ory pergi bersama siswa lainnya. Tinggal mereka berdua menikmati coca – cola dingin didepannya.
  2. Disebuah sekolah model nampak Donna dan beberapa peragawati sedang memperagakan berjalan diatas cat walk. Disudut lain Nampak Rieche dengan tekun menungguinya. Ketika mereka pulang lelaki ssetengah baya itu terlihat sedang parkir diseberang jalan. Ia melihat Donna. Donna terlihat dongkol.
  3. Disebuah mikrolet Nampak Donna bersama Rieche diantara penumpang lainnya. Malam itu sangat dingin dan sepi. Tiba-tiba, dipenghujung jalan yang sunyi. Beberapa penumpang tiba-tiba menodongkan badik kearah Donna dan Rieche. Penodong itu menjarah dompet dan jam tangan yang dipakai Donna sangat ketakutan sementara Rieche terlihat kebingungan.
  4. Dan seterusnya diatur sutradara untuk membuat adegan yang manis dan romantis.

DISOLVE TO:

 

SCENE 08

EXTERIROR

PANTAI TANJUNG MERDEKA

SENJA

(Donna tersadar dari lamunannya ketika tiba-tiba Rieche menegurnya).

RIECHE

Percayalah Honey… kalau keadaan sudah membaik disini, saya akan segera datang menemuimu. Dan saya akan bicarakan hubungan kita ini dengan orang tuaku disana.

CUT TO:

SCENE 09

EXTERIROR

RUMAH KOST RIECHE

MALAM

Jalanan didepan rumah kost Rieche sudah sepi. Rumah-rumah disekitarnya juga sudah menutup pintu. Malam telah larut. Sinar lampu dari rumah kost Rieche dibeberapa kamar sudah dipadamkan. Suara lolong anjing dikejauhan ikut memecah dikegelapan malam yang dingin ini.

CUT TO:

SCENE 10

INTERIOR

RUMAH KOST RIECHE

MALAM

(Malam itu, Rieche dan Donna terdiam. Ketika mata mereka menangkap tas dan koper yang tersusun rapi dipojok ruangan, barulah mereka sadar bahwa esok hari adalah saat perpisahan mereka, Rieche akan ke Wellington – Selandia Baru).

(Mereka saling berpandangan, dan kesedihan yang paling memilukan itu terlihat jelas. Tak terasa air mata Donna meleleh dari kelopak matanya, ketika kembali matanya memandang koper dan tas itu).

(Dan selagi Donna tertegun tak terasa lengan Rieche telah melingkar dibahunya dengan lembut. Sambil menahan isaknya, Donna memalingkan wajahnya).

(Dan ketika Rieche meraih tubuhnya kedalam pelukannya, Donna hanya sanggup menyembunyikan wajahnya didada lelaki itu. Rieche seolah tak dapat menahan kesedihannya ketika merasakan air mata Donna menembus kemejanya dan membasahi dadanya. Rieche serasa tak ingin pergi karena tidak sampai hati meninggalkan kekasihnya).

RIECHE

(Berbisik sendu) Kamu tahu honey… Aku sebenarnya tak ingin pergi… Disini aku sudah seperti dinegeri sendiri…

DONNA

Tetaplah disiniku bersamaku.

RIECHE

Tapi. Orang tuaku di Wellington sana, sangat mengkhawatirkan keberadaanku disini. Keadaan negerimu semakin kacau. Berita mengenai kekacauan ini, mereka bisa baca setiap saat dikoran disana. Entah, sampai kapan akan berakhir kerusuhan-kerusuhan ini, kita tidak tahu,kan…

DONNA

Tapi, kenyataannya kamu tetap aman-aman saja masih sehat wal-afiat tak kurang suatu apapun.

RIECHE

Ya, aku tahu. Tapi aku adalah anak satu-satunya dari orang tuaku. Aku harus pulang dulu. Nanti kalau keadaan tenang aku pasti kembali.

 

 

 

 

 

 

 

CUT TO:

SCENE 11

EXTERIROR

PANTAI TANJUNG MERDEKA

SENJA

(Donna memandang sayup kearah lautan lepas. Perahu-perahu kecil merayap lambat tertiup angin sepoi-sepoi. Disampingnya duduk Rieche dengan bersidekap tangan mamanadang tepi batas cakrawala. Mereka berdiam diri, membiarkan angin laut menerpa dirinya. Donna asyik memandang buih-buih ombak yang berkejaran memecah ditanggul pantai ia tenggelam dalam lamunan panjang disaat pertama mengenal Rieche).

FLASHES TO:

SCENE 12

EXTERIROR

BELAKANG SMU

SIANG HARI

(Suasana jam istirahat pelajaran Nampak begitu ceria. Beberapa siswa nampak bermain basket ball dihalaman tengah. Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk dan teriakan tawuran. Beberapa siswa lari berhamburan menyelamatka diri. Nampak Donna dan Ory dengan panic berlari kebelakang sekolah dan tak perduli lagi dengan sepatunya yang tertinggal. Ketika langkah mereka dihadang oleh sungai kecil yang membentang dibelakang sekolah mereka, kontan saja Donna menceburkan diri kesungai dan tanpa sadar kalau ia tidak bisa berenang. Untunglah seorang siswa lelaki dengan sigap menolong dan membawanya keseberang. Donna sempat pingsan dipundak lelaki itu).

(Ruang menjadi hening. Hanya isak tangis Donna yang mengisi kesunyian malam. Dengan lembut Rieche menyadarekan Donna ke sofa).

RIECHE

Sudahlah. Hapus air matamu honey… kan kamu mau makan diluar.

DONNA

(Menghapus air matanya) Lebih baik kita tak usah keluar rumah, kamu harus bangun pagi besok, lebih baik mala mini istirahat saja.

RIECHE

Tapi, kita kan harus merayakan perpisahan ini dengan makan malam bersama.

DONNA

Sudahlah. Aku tidak lapar, kalau kau lapar, aku akan buatkan makanan untukmu.

RIECHE

Oh, no thanks, aku juga tidak lapar.

(Mereka akhirnya larut dalam suasana hening. Tangan mereka saling menggenggam. Dan… sepertinya ada strom yang mengalir disekujur badan mereka. Rieche meraih Donna kedalam dekapannya. Mereka saling merangkul melepas gejolak yang selama ini terpendam dalam diri mereka. Mereka sepertinya sangat berat untuk berpisah. Rieche membimbing Donna yang pasrah kearah kamar tidur dan mereka beradu bagai ombak dan pantai).

CUT TO:

SCENE 13

EXTERIROR

KAMAR KOST RIECHE

MALAM

(Suasana yang hening membawa mereka ketempat tidur. Baju dan pakaian dalam mereka telah teronggok diujung tempat tidur. Napas mereka memburu. Dan ketika keduanya tersadar dari kebersamaan yang mempesona ini. Mereka tersentak. Tetapi, semua telah terjadi. Donna menangis dengan sia-sia menyesal kelalaian mereka barusan Donna mengangkat mukanya memandangi wajah Rieche. Ada ketulusan yang Donna lihat pada pancaran mata rieche kekasihnya itu. Mereka berpelukan lagi seakan tak ada yang bisa memisahkan mereka lagi).

CUT TO:

SCENE 14

INTERIROR

BANDAR UDARA HASANUDDIN

SIANG MALAM

(Rieche melepas pelukan pada Donna, ketika sound system dibandara itu terdengar memanggil).

OUT SOUND

Para penumpang pesawat Garuda Indonesia GA. Dengan nomor penerbangan 751 tujuan Denpasar dipersilahkan naik kepesawat udara melalui pintu tiga… ladies and gentement… etc…

(Rieche membisiki Donna dengan janjinya untuk kembali).

RIECHE

Percayalah honey. Aku tidak akan meninggalkanmu untuk selama-lamanya. Aku pergi dulu yah…

(Kepada Ory yang ikut mengantarnya Rieche meinitip pesan).

RIECHE

Titip Donna ya Ory…

(Ory mengangguk. Ia ikut merasakan kesedihan sahabatnya Donna tak mampu untuk berkata-kata lagi. Ia hanya tersenyum tipis saja. Rieche mengecup kening Donna dan segera masuk kedalam ruang keberangkatan dan bergabung dengan penumpang lainnya. Air mata Donna akhirnya jatuh juga ketika Rieche menghilang dipintu ruang keberangkatan).

 

CUT TO:

SCENE 15

INTERIROR

RUANG TIDUR KAMAR KOST DONNA

MALAM

(Ory sudah lama tidur pulas disamping Donna yang sedari tadi tidak bisa memejamkan matanya. Ia gelisah terus, sementara itu ia selalu membayangkan saat terakhir berpisah dengan Rieche. Kadang rasa takut datang bila ia membayangkan bahwa benih yang ditabur Rieche akan menjadi kenyataan. Dipuncak kegelisahaannya, akhirnya dia tertidur juga. Sementara adzan subuh telah terdengar sayu-sayup dikejauhan sana).

 

CUT TO:

SCENE 16

INTERIROR

SEBUAH BEAUTIQUE

SIANG HARI

(Donna dan Ory sedang belanja disebuah butik ketika si Om tiba-tiba dating menyapa).

SI OM

Lagi belanja, nih… wah pilihan warnanya mantap-mantap. Siapa dulu dong orangnya.

(Donna terkejut mendengar sapaan yang tiba-tiba).

DONNA

Ah, Om ngaget-ngagetin saja. Kirain siapa… (berbisik pada Ory) Si Om lagi.. Si Om lagi sebel deh.

ORY

Sst, …ini kesempatanmu non… prortin saja… tapi, aku dapat bagian ya non…

DONNA

(Sambil mencubit temannya) Ah, kamu lagi… Matre amat sih ini orang…

SI OM

Ayo, ambil saja semua yang kau sukai. Tidak usah malu-malu, ayo… Ory juga boleh silahkan.

ORY

(Berbisik) Ayo non ambil cepetan… nanti Si OM keburu berubah pikiran.

(Donna mencubit temannya lebih keras. Ory berteriak kaget. Mereka akhirnya tertawa melihat kelucuan itu, Si Om pura-pura bodoh).

SI OM

Silahkan…

CUT TO:

SCENE 17

INTERIROR

RUANG KELAS DISEBUAH SMU

SIANG HARI

(Pelajaran hari itu terasa semakin panjang. Konsentrasi Donna tidak bisa berkonsentrasi penuh. Ingatannya selalu pada Rieche. Walau guru yang member pelajaran dikelas hari itu sangant disenangi oleh para siswa karena gayanya menarik dan simpatik).

(Sesekali Ory menyikut tangan Donna, memngingatka agar ia memperhatikan pelajaran, apabila ia melihat sahabatnya agak terlena dengan lamunannya. Sampai pelajaran selesai dan teman-teman mereka berbubaran tapi Donna kehilangan gairahnya).

 

CUT TO:

SCENE 18

INTERIROR

RUANG TIDUR RUMAH KOST DONNA

PAGI HARI

(Tempat tidur acak-acakan. Donna masih pulas tidur. Ory keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah).

ORY

Eh, eh… eh… nona besar, … kok masih tidur. Ayo bangun dong non… ini sudah jam berapa. Nanti terlambat sekolah.

DONNA

Aduh… kepalaku pusing Ry…

(Donna tidak menyelasaikan ucapannya karena tiba-tiba saja ia bangun dan langsung menghambur masuk kekamar mandi. Dari balik pintu yang tertutup kedengaran Donna muntah. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Donna keluar dengan wajah dengan muka yang pucat dan kusut).

ORY

Hei, wajahmu agak pucat non… terlambat tidur ya semalam ? masuk angin ?

(Donna menggelengkan kepala sambil duduk dipinggir pembaringan)

DONNA

Badanku rasanya remuk, Ory. Sejak kemarin perutku mual terus. Sepertinya kepingin muntah terus.

ORY

Oh yang begitu sih biasa saja, sakit perempuan. Aku juga kalau haid sering mual. Apa kamu sekarang sedang haid, non ?

DONNA

(Menggeleng) Perasaan sih sudah terlambat seminggu. Kenapa ya ? jangan-jangan…

ORY

Jangan-jangan… kenapa non ?

DONNA

Jangan-jangan… Achhhh !

(Donna tidak menyelesaikan kalimatnya, karena tiba-tiba saja ia terasa sangat mual naik kelehernya dan kembali ia menutup mulutnya).

 

CUT TO:

SCENE 19

INTERIROR

RUANG PRAKTEK DR. MAHFUD

SORE

(Dokter Mahfud keluar dari ruang periksa dan duduk dimejanya menulis sesuatu pada kertas resep. Dari ruang periksa menyusul keluar Donna sambil memperbaiki letak roknya, kemudian ia mengambil tempat duduk disamping Ory dihadapan Dokter Mahfud).

  1. MAHFUD

(Ramah) Selamat nyonya, anda positif…

(Donna kaget, ia memandangi Dr. Mahfud seperti tak percaya. Ia memandang Ory, tetapi Ory hanya tersenyum dan megedipkan mata member isyarat).

DONNA

Hamil ? Apa tidak salah dok… ?

 

  1. MAHFUD

Hmm… Kenapa ? Nyonya tidak gembira mendengar kabar baik ini ?

(Donna tidak menjawab ia hanya memandang kepada Ory, wajahnya Nampak semakin pucat).

 

CUT TO:

SCENE 20

EXTERIROR

BEBERAPA JALAN RAYA

SIANG

(Dalam imaji Donna ada ratusan kendaraan yang terjebak kemacetan dan ratusan suara klakson bunyi serentak sahut-menyahut saling tak mau kalah).

 

CUT TO:

SCENE 21

INTERIROR

RUANG KAMAR KOST DONNA

MALAM

(Kegembiraan Donna kini menjadi sirna, ketika dokter memastikan dirinya hamil. Ia bingung dan resah, melihat keadaan itu Ory memeluknya sambil mencoba menghibur temannya).

ORY

Maaf non. Bukan maksudku membuat hatimu sedih. Tapi karena Rieche tidak ada disini, maka kita harus memikirkan bagaimana jalan keluarnya.

DONNA

(Balas memeluknya) Tidak apa-apa Ory. Begitu besar perhatianmu padaku. Tapi saat ini aku betul-betul bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Orang tuaku jauh dikampung. Mereka sudah tua. Mereka mengirimkan aku sekolah kemari untuk belajar dan menjadi seorang sarjana. Bukan untuk mempunyai anak gelap diperutku. Aku takut Ory. Aku tahu mereka akan sangat kecewa jika mengetahuinya. Aku telah mencoreng arang dikening mereka.

(Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tidak tahu harus apa. Tiba-tiba Ory sepertinya mendapat ide).

 

ORY

Donna, jangan marah ya. Aku ad aide. Tapi aku tak tahu, kamu setuju atau tidak.

DONNA

Apapun idemu, aku akan setuju, kalau menjadi jalan keluar dari kemelut ini, kenapa tidak.

ORY

Bagaimana kalau benih itu kita gugurkan saja ?

(Donna hanya mampu terdiam mendengar usul temannya).

 

CUT TO:

SCENE 22

EXTERIOR/INTERIROR

BEBERAPA TEMPAT-TEMPAT

SIANG / MALAM

(Beberapa adegan yang menggambarkan usaha Donna dan Ory).

  1. Donna dan Ory membeli obat/jamu peluntur pada bakul jamu dikaki lima dan meminumnya disitu.
  2. Donna diurut oleh dukun urut dan meminumkan Donna ramuan menggugurkan kandungan. Ory membantu memegang kaki Donna“.
  3. Semua upaya gagal, malah kandungan Donna semakin kentara.
  4. Ory sedang mengikuti pelajaran dikelas. Bangku disebelahnya yang biasa ditempati Donna kelihatan kosong. Begitupu ketika pulang sekolah terlihat Ory berjalan sendiri menyusuru koridor sekolah.
  5. Donna duduk melamun sendiri dijendela rumah kostnya, tukang pos dating. Donna cepat-cepat keluar dari rumah menyonsong tukang pos, tetapi ternyata tak ada surat untuknya tetapi untuk tetangga sebelah rumahnya.
  6. Lembar kelendar yang dengan cepatnya berpindaj kebula-bulan berikutnya, super impose dengan kegiatan-kegiatan Donna dan Ory dalam kegelisahan melihat kandungan Donna semakin kentara.

CUT TO:

SCENE 23

INTERIROR

RUMAH A. MAKKAWARU

MALAM

(Andi Makkawaru mondar mandir dengan muka yang tegang menahan amarahnya. Sementara Donna duduk bersimpuh didepan ibunya Andi Darauleng sambil menangis terisak menjelaskan aib yang menimpah dirinya).

DONNA

Begitulah ayah kejadiannya, semua terjadi diluar kesadaran kami karena takut akan berpisah. Ampunkan kami berdua Ayah… Ibu…

A.MAKKAWARU

Lantas, dimana tanggung jawab Rieche sebagai seorang laki-laki.

DONNA

Saya yakin Rieche akan bertanggung jawab bila ia kembali dari Wellington, ayah…

A.MAKKAWARU

Huh, begitu mudahnya kah ? syukur kalau dia kembali. Kalau tidak bagaimana lagi pula dia orang asing. Urusannya pasti akan lebih rumit. Sementara perutmu kian membesar dan desa ini akan gempar dengan omongan-omongan yang menyakitkan hati, dan itu akan terus berlansung terus sampai Rieche datang, begitu ? Huh… kalau aku tidak ingat ibumu yang tiap hari mendambakan anaknya menjadi sarjana, saya tidak tahu apa yang akan terjadi.

(Dipuncak kekesalannya Andi Makkawaru meninggalkan ruangan itu dengan membanting pintu).

 

CUT TO:

SCENE 24

EXTERIROR

RUMAH A. MAKKAWARU

PAGI

(Hari masih pagi, penduduk desa itu masih lelap dalam hening. Dijendela Nampak Donna duduk termenung dengan wajah yang murung ketika tiba-tiba keheningan pagi dikagetkan oleh bunyi gitar dan suara bernyanyi seorang pemuda desa).

PEMUDA

(Bernyanyi lagu Rhoma Irama) Donna… Donna… Donna Primadona Desa… Donna… Donna… Donna… Primadona Desa… Izinkan kumemetikmu… untukmu kutanamkan dalam jambangan hati… sanubariku… hai bunga, primadona desa…

(Dengan p;erasaan jengkel, Donna kejendela. Pemuda itu tertawa cekakan. Ketika seorang pemuda lainnya lewat disitu ia menegur sambil mengumpat).

PEMUDA

Sombong betul si Donna sekarang, cish… mentang-mentang sekolah dikota, dia berlagak tidak kenal kita lagi… keterlalua.

CUT TO:

SCENE 25

EXTERIROR

DANAU PINGGIR DESA

SORE

Andi Makkawaru sedang melamun ketika tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya. Ia menolehnya dan isterinya Andi Darauleng telah berdiri disitu.

A.DARAULENG

Pulang Daeng. Aku telah mencarimu kemana-mana dan ternyata kamu disini.

(Andi Makkawaru menghela nafas, berusaha tersenyum pada isterinya).

A.MAKKAWARU

Ya disini aku mendapat sedikit ketenangan. Sepertinya baru kemarin kita bermain diair terjun itu bersama Donna. Sepertinya begitu cepat semua yang manis itu berubah menjadi kepahitan yang harus kita telan juga. Sudah terlalu tua kita rupanya Uleng.

(Isterinya mengelus rambut suaminya yang dibeberapa tempat telah kelihatan berubah).

A.DARAULENG

Sudahlah Daeng… Semuanya itu adalah kehendak ALLAH yang tidak bisa kita hindari. Aku juga sangat kecewa dan terpukul dengan aib celaka ini. Donna yang kudambakan menjadi kebanggan kita nyatanya justru membawa petaka yang memalukan dihari tua kita. Tapi kita mau bilang apa, jelek, begitu ia tetap adalah anak kita. Apakah harus kita singkirkan dari hidup kita ?

(Andi Makkawaru tidak langsung menjawab pertanyaan isterinya. Ia memandang jauh kemata isterinya dan ia melihat beban kekecewaan yang dalam seperti tiada tertepi. Ia mengnggenggam tangan isterinya dengan lembut dan menariknya agar duduk disebelahnya).

A.MAKKAWARU

Lalu menurutmu kita harus bagaimana Uleng ? apakah kita harus menerima keadaan Donna dengan apa adanya sekarang ?

A.DARAULENG

Ya.Suka atau tidak suka semuanya telah didepan mata, kita harus berjiwa besar dan mau menerimanya dengan ikhlas. Kita orang tuanya. Tempat satu-satunya ia bergantung saat ini. Kalau kita tidak menerimanya, kepada siapa lagi ia meminta tolong.Akankah kita biarkan dia terlunta-lunta menerima hinaan orang seorang diri ?

(Andi Makkawaru lagi terdiam. Ada kontradiksi didalam dirinya antara menolak dan menerima apa yang dikatakan isterinya).

A.DARAULENG

Jangan ragu Daeng. Bayi dalam kandungan Donna adalah cucu kita. Dia menanti uluran tangan kita. Uluran tangan Datonya. Tidakkah kamu ingin dipanggil Dato oleh cucumu yang bakal lahir nanti ?

(Perkataan isterinya seakan merusak langsung hati nuraninya. Pelan, akhirnya gunung es dihatinya mencair juga).

A.MAKKAWARU

Baiklah Uleng. Apa yang kita alami ini, ikhlas kuterima sebagai kehendaknya. Benar kamu katakan, kita harus berjiwa besar menerimanya. Mudah-mudahan ada hikmahnya. Kita harus segera mencari jalan keluar agar aib ini bisa tertutupi. Masyarakat didesa ini belum bisa menerima hal semacam ini.

A.DARAULENG

Ya. Kita harus mencari jalan yang terbaik, Daeng.

A.MAKKAWARU

Satu-satunya jalan ia harus secepatnya kita kawinkan sebelum perutnya kian membesar.

A.DARAULENG

Tapi apakah Donna akan mau ?

A.MAKKAWARU

Itu tidak penting. Aku bicara dengan keluarga dekat kita. Suka atau tidak suka Donna harus berbesar hati menerimanya. Hanya inilah satu-satunya jalan yang terbaik buatnya dan kita.

A.DARAULENG

Apa tidak kita coba dulu menghubungi pacar Donna di Wellington.

A.MAKKAWARU

Mana keburu dalam posisi seperti ini. Lagi pula Wellington itu jauh diseberang lautan. Makan waktu lama dan keburu orang disini tahu Donna bunting.

A.DARAULENG

Ya. Baiklah. Kita harus gerak cepat. Mudah-mudahan Donna dapat meneroma ide kita ini.

A.MAKKAWARU

Ia harus menerimanya.

(Keduanya lalu beranjak dan meninggalkan tempat itu dengan keputusan yang telah mantap).

 

CUT TO:

SCENE 26

INTERIROR

RUMAH A. MAKKAWARU

SIANG

(Andi Makkawaru dan isterinya menghampiri anaknya, menjelaskan keputusan mereka. Donna kaget mendengar apa yang dikatakan ayahnya yang bagai vonnis terakhir buatnya).

(Semula ia menolak, namun akhirnya dia tidak berdaya dan pasrah dengan apa yang dikatakan ayahnya. Andi Makkawaru keluar dari rumahnya. Andi Darauleng berusaha untuk menghibur Donna yang menagis dipangkuan ibunya. Rasa-rasanya sia-sia air mata Donna tertumpah, keputusan ayah dan ibunya tidak akan lagi berubah. Semuanya untuk kebaikan keluarga dimata masyarakat didesa itu).

 

 

 

 

 

 

CUT TO:

SCENE 27

EXTERIROR

JALANAN DEPAN RUMAH A. MAKKAWARU

SIANG

(Donna menitipkan surat untuk diposkan ke Ory pada sais bendi yang kenalannya. Ia menulis surat pada Ory sahabatnya, menceritakan apa yang dihadapinya didesa).

CUT TO:

SCENE 28

EXTERIROR

RUMAH KOST DONNA DAN ORY

SORE

(Pak pos membunyikan lonceng sepedanya didepan rumah kost. Dari dalam rumah keluar Ory dengan memakai hotpans, menyonsong pak pos dan menerima surat yang diberikan kepadanya).

(Dengan santainya ia membuka sampul surat yang ternyata surat dari Donna didesa. Surat itu dibacanya sambil duduk didepan pintu rumah. Agak terkejut ia mendengar dari surat itu bahwa Donna dikawinkan dengan kerabat dekatnya untuk menutupi rasa malu keluarganya. Ia termenung setelah membaca habis surat itu).

 

CUT TO:

SCENE 29

EXTERIOR/INTERIROR

RUMAH A. MAKKAWARU

SIANG/MALAM

  1. Ada kesibukan kecil dalam rumah A.Makkawaru disertai isteri dan famili menerima keluarga kerabatnya yang dating melamar Donna sore itu. Dikamarnya Donna menangis terisak, seakan tidak perduli dengan apa yang sedang terjadi diruang depan.
  2. Lain hari… kelihatan kesibukan dirumah itu seperti akan hajatan perkawinan bendi berhenti disepan rumah. Ory turun dengan bawaannya. Di anak tangga Ory berpelukan dengan Donna.
  3. Lain harinya lagi… Donna memandangi rembulan yang bersinar penuh dari jendela rumahnya. Ada kesibukan mempersiapkan perkawinan dalam rumah.
  4. Dan hari ini… akhirnya Donna duduk dipelamin dengan mempelai laki-lakinya. Suaminya adalah Gaffar. Lelaki yag kelihatannya kurang jantan dan agak feminim. Usianya beberapa tahun lebih dari Donna. Donna tidak merasakan kegembiraan itu, pikirannya pada Rieche di Wellington. Tidak juga ketika ayah dan ibunya serta famili yang lain minta foto berasama dengannya. Ia keliahatan tidak bersemangat. Ory memandang Donna dengan iba dipojokan rumah. Mereka berpelukan lama ketika tamu telah berkurang.

(Pengantin lelaki tersenyum terus menerima ucapan selamat dari para tetamu).

 

CUT TO:

SCENE 30

EXTERIOR/INTERIROR

BEBERAPA TEMPAT

SIANG/MALAM

(Hari-hari selanjutnya adalah kehidupan Donna dengan Gaffar suaminya. Beberapa adegan yang menggambarkan perjalanan waktu dan makin bertumbuhnya perut Donna yang kian menampakkan kandungannya antara lain dapat divisualkan).

  1. Donna dengan dingin melayani suaminya dimalam pengantin. Gaffer sangat bernafsu dan menggelora berkesan kasar dalam menyelusuri tubuh isterinya. Dipuncak gairahnya, Gaffar kelihatan tidak sanggup menyelesaikannya. Ia loyo dan tidak bertenaga. (Simbolisasi dari lilin menyala yang membengkok loyo, ternyata gaffer mengidap penyakit impotensi).
  2. Makkawaru mengajak isterinya masuk kedalam kamar, seakan tidak mau mendengar pertengkaran Donna dengan Gaffar yang mempersoalkan kandungannya. Dipuncak pertengkaran mereka. Gaffer meninggalkan rumah itu.
  3. Ory membaca surat Santhy yang berisi keluahan dari sahabatnya, tak terasa air matanya jatuh setelah membaca surat itu. Tidak lama kemudian Si OM muncul dan menanyakan mengapa Ory menangis, Ory hanya diam tetapi ia memberikan surat itu untuk dibaca, selesai membaca surat itu Si OM dengan bergegas menaiki mobilnya dengan niatan menemui Donna dikampung).

 

 

 

 

 

 

 

 

CUT TO:

SCENE 31

INTERIROR

WARUNG DESA

PAGI

(Gaffar Nampak diantara beberapa lelaki desa sedang minum kopi juga disitu juga Nampak si pemuda desa yang sering mengganggu Donna. Pada rona wajah Gaffar terlihat kegusaran yang amat sangat).

PEMUDA

Kelihatannya bung Gaffar tidak bergembira pagi hari ini, ada apa ya ? Biasanya kalau pengantin baru, apalagi isteri masih muda dan cantik, orang akan bahagia.

(Gaffar hanya berdiam diri. Sang Pemuda mendekatinya dan berbisik).

PEMUDA

Bung menghadapi problem ya… Ceritakan padaku. Mungkin aku dapat membantu bung.

 

(Gaffar tidak menjawab. Kelihatannya ia ragu. Tetapi, kemudian ia mau juga menceritakan problemanya kepada pemuda itu).

 

PEMUDA

Oh soal itu. Itu bukan problema… Dikota aku mempunyai teman yang menjual obat kuat… pasti tokcer… dan sekaligus kita uji coba disana… okey ?

 

(Gaffar sekali lagi tidak menjawab. Tapi ia mengikuti juga langkah pemuda itu yang membawanya kekota).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CUT TO:

SCENE 32

INTERIROR

KAMAR RUMAH BORDIL

SIANG

(Gaffar duduk dipinggir pembaringan sedang disampingnya duduk seorang perempuan yang denga genitnya merayu. Ditangannya segelas air yang telah dicampur dengan jamu obat kuat “ gonogini” siap untuk diminum. Nampak keraguan diwajah Gaffar tetapi akhirnya obat itu diminum juga. Selang beberapa saat wajah Gaffar memerah, nafasnya kencang memburu. Diraihnya wanita itu dengan kasar dan garang kemudian dibaringkannya ditempat tidur. Tetapi tiba-tiba matanya terbeliak. Nafasnya melemah. Dan detak jantungnya berhenti. Ternyata fisik dan jantungnya tidak kuat menerima terjangan reaksi obat kuat itu. Perempuan pelacur itu menjerit histeris mendapatkan kenyataan itu).

 

CUT TO:

SCENE 33

EXTERIOR/INTERIROR

RUMAH A. MAKKAWARU

SORE HARI MENJELANG MAGHRIB

(Andi Makkawaru sedang menikmati kopi bersama isterinya diteras rumah. Dibalik jendelah napak Donna duduk termenung. Perutnya sudah kelihatan besar sekali. Tiba-tiba dari penghujung jalan sebuah sepeda motor yang dipacu sangat kencang dan tiba-tiba dihentikan disepan rumah).

PEMUDA

Celaka Puang… celaka ! Bung Gaffar meninggal sore tadi dikota… dan… dan ia meninggal dirumah bordil. Diatas tubuh seorang perempuan pelacur.

A.MAKKAWARU

Apa maksudmu… ?

(Donna tersentak kaget menrima berita itu, dengan tidak disadarinya ujung bajunya tersingkap dan perutnya yang membesar terlihat dengan jelas. Mata Pemuda itu terbelalak seolah tidak percaya).

 

CUT TO:

SCENE 34

INTERIROR

WARUNG DESA

SENJA MENJELANG MALAM

(Beberapa lelaki sedang berkumpul disana menikmati kopi, ketika tiba-tiba pemuda itu muncul).

PEMUDA

Celaka… pantas desa ini sial betul!. Panen tak jadi, banjirlah… Gempa bumi dan segala macam cobaan… Ternyata… Donna itu pembawa sialnya… ternyata ia hamil besar.

PEMUDA LAIN

Ada urusan apa kita pada kehamilan Donna. Ia kan sudah punya suami.

PEMUDA

Tapi… mana mungkin ia bisa hamil… buyng Gaffar itu bukan lelaki… ia impoten aku tehu persis itu… lagi pula Gaffar dengan Donna menukah belum sebulan, ia kan ? ah. Pezinah… betul-betul sial. Kita harus mengusir Donna… suaminya mati siang tadi dikota karena kena sialnya. Sebentar lagi seisi kampong ini akan ketularan sial, kalau kita tidak mengusir atau merajamnya. Aya tunggu apa lagi mari….

CUT TO:

SCENE 35

EXTERIOR

RUMAH A. MAKKAWARU

MALAM

(Donna baru saja bersiap untuk menuruni tangga rumahnya, ketika pemuda itu bersama beberapa warga kampung muncul tiba-tiba mengepung rumah itu).

PEMUDA

Itu dia perempuan sial itu… ! Ayo tangkap jangan sampai dia lepas… ! Rajam dia…

(Donna sangant terkejut menerima kenyataan itu. Sementara itu lemparan warga desa hamper mengenai dirinya).

 

DONNA

Ada apa… !

Apa yang terjadi sebenarnya… ?

PEMUDA

Tidak usah banyak Tanya…! Kau perempuan pezinah, pembawa sial kampong kita ini. Ayo hajar dia, jangan sampai lolos.

(Donna dengan ketakutan mencoba melarikan diri dari warga desa. Ketika itu, tiba-tiba Si OM muncul dan menarik Donna kearah mobilnya).

SI OM

Ayo naik kemobil Om cepat !

(Donna segera naik kemobil. Ketiak Si Om hendak menyusul naik tiba-tiba sebuah batu melayang dan mengenai kepala Si Om. Si Om tersungkur jatuh dengan kepala berlumuran darah).

SI OM

Ayo… lari… selamatkan dirimu… jangan pedulikan OM… lari… cepat…

(Donna segera pindah kebelakang stir dan menancap mobil itu kearah lain).

CUT TO:

SCENE 36

EXTERIOR

RUMAH A. MAKKAWARU

MALAM

(Si Om yang jatuh tersungkur menjadi kerumunan warga desa yang lagi marah. Ketika itu Andi Makkawaru muncul dan mencegah warga yang lagi kalap itu).

A.MAKKAWARU

Tunggu… Jangan main hamik sendiri… jangan mendengar hasutan dari orang yang tak bertanggung jawab. Persoalan ini biar aku yang tanggung jawab…

(A.Makkawaru mendekati Si Om dan membalikkan badannya. Ia terbelakak ketika mengenali Si Om.

A.MAKKAWARU

Mariolo… Ternyata kau…

FLASHES TO:

SCENE 37

(CUPLIKAN SCENE 28 PADA SINETRON “ANTARA BUMI DAN LANGIT”)

EXTERIOR

KAMPUS

SIANG HARI

(A.Darauleng baru saja menyelesaikan kuliahnya ketika A.Makkawaru sepupunya mencegatnya.

A.MAKKAWARU

Pulang kuliah ? Sendiri ?

A.DARAULENG

Yah… (Acuh tak acuh)

A.MAKKAWARU

Saya antar, yah… Kebetulan saya tidak ada kuliah hari ini.

A.DARAULENG

Tidak usah… Saya bisa pulang sendiri. Lagi pula… apa pedulimu (Ketus).

A.MAKKAWARU

Saya punya tanggung jawab kekeluargaan, saya sepupumu, saya dijiodohkan sejak kecil denganmu.

A.DARAULENG

(Mencibir) Kuno !

A.MAKKAWARU

(Penasaran) Bagaimanapun saya tidak rela calon istri saya pulang bersama orang lain… terutama si Mariolo turunan “ata” itu.

(Dengan kasar andi makkawaru menarik andi Darauleng agar mau pulang bersamanya ketika itu Ir. Mariolo muncul sehingga Andi Makkawaru melepaskan tangannya dan berlalu).

A.MAKKAWARU

Saya akan laporkan ini kepada Petta, biar tahu rasa kalian…

 

DISOLVE TO:

SCENE 38

(CUPLIKAN SCENE 29 PADA SINETRON “ANTARA BUMI DAN LANGIT”)

INTERIOR

RUMAH PETTA LOLO

MALAM HARI

(Petta Lolo bersama isterinya Andi Bungawali sedang berbincang-bincang dengan serius. Dihadapannya Andi Makkawaru duduk dengan muka sedih).

PETTA LOLO

Keterlaluan Darauleng… ia telah mencoreng arang dimuka seluruh keluarganya kita. Bunga… masalah ini harus kita carikan jalan keluarnya (Berpikir). I Daraulaeng harus segera kita nikahkan dengan Andi Makkawaru.

A.BUNGAWALI

Tapi… !

Bukankah Darauleng masih kuliah ?

PETTA LOLO

Akh…! Hentikan saja kuliahnya! Apa artinya pendidikan tinggi kalau merusak etika, merusak Adat Istiadat kita.

CUT TO:

SCENE 39

(CUPLIKAN SCENE 31 PADA SINETRON “ANTARA BUMI DAN LANGIT”)

INTERIOR

MOBIL SEDAN

SIANG HARI

(Keduanya Nampak berdiam diri, mereka larut dalam persoalan yang mereka hadapi).

A.DARAULENG

Rio… bagaimanapun… Aku tidak mau berpisah denganmu…! Aku tidak mau jadi korban Tradisi seperti yang dialami oleh ribuan perempuan yang berada dinegeri ini selama puluhan bahkan ratusan tahun.

IR.MARIOLO

(Hanya terdiam).

A.DARAULENG

Bawa aku pergi dari sini… kemana saja kau suka… jauh dari negeri ini… dimana tidak ada lagi perbedaan derajat, antarea kau dan aku… !

IR.MARIOLO

(Hanya terdiam).

A.DARAULENG

Kenapa diam saja…? Takut… ? atau tidak mau mengambil resiko ! Baiklah aku turun disini ! selamat tinggal !

(ketika itu Andi Makkawaru dengan teman-temannya yangmengenderai motor menyalip dan menghentikan mobil).

A.MAKKAWARU

(berteriak) Uleng ! turun dari mobil itu… (sambil meraba-raba pinggangnya untuk mencari badiknya). Apakah kau benar-benar ingin mempermalukan seluruh kelurga kita.

(Andi makkawaru menarik Andi Darauleng dari atas mobil, sementara teman-temannya mengelilingi mobil Ir.Mariolo. Setelah Andi Darauleng naik diboncengannya, segera saja motor Andi Makkawaru melaju meninggalkan tempat itu).

 

 

CUT TO:

SCENE 40

(CUPLIKAN SCENE 40 PADA SINETRON “ANTARA BUMI DAN LANGIT”)

INTERIOR

RUMAH A.MAKKAWARU

MALAM HARI

(Luapan kemarahan A.Makkawaru ditumpahkan kepada prabot yang ada diruangn itu. Sementara Andi Darauleng duduk terdiam dengan wajah pucat pasih).

A.MAKKAWARU

Siapa ! Siapa lelaki jahannam itu… ! pasti dia, kubunuh lelaki itu… (sambil memukul-mukul dinding).

A.DARAULENG

(Diam)

A.MAKKAWARU

Kau ! Kau laknat. Kau rusak juga perkawinan kita ! kau cemarkan nama rumpun keluarga kita, adat kita, keterlaluan… (Menanmpar andi Darauleng.

 

DISOLVE TO:

SCENE 41

EXTERIOR

RUMAH A.MAKKAWARU

MALAM

(Si Om sekarat dalam pelukan Andi Makkawaru).

SI OM

Kau.. (Dengan suara melemah)

A.MAKKAWARU

Ya Mariolo… Ternyata Tuhan masih mempertemukan kita.

 

SI OM

Donna…?

A.MAKKAWARU

Ia.. Anakmu… Aku membesarkannya seperti anakku sendiri, aku menyayanginya !

SI OM

Terima kasih… Ach, terima kasih… jaga anakku baik-baik… anak kita… achhhh

(Andi Makkawaru tidak menjawab, tetapi matanya memancarkan keharuan yang sangat dalam. Begitupun sampai Si Om Sakratulmaut dipangkuannya).

 

CUT TO:

SCENE 42

EXTERIOR

RUMAH KOST DONNA DAN ORY

MALAM

(Sebuah mobil dihetikan dengan tiba-tiba. Donna turun dengan muka ketakutan dan menggedor pintu rumah kost dengan tergesa-gesa).

DONNA

Ory… Ory… buka pintu… Ory, dimana kamu !

(walaupun sekian kali digedor tapi pintu tak dilakukan juga karena ternyata Ory tidak dirumah. Dengan putus asa Donna menyandarkan diri dipintu,samapai ketika dengan tidak percaya matanya nanar menangkap sosok tubuh Rieche berjalan kearahnya. (slow motion) Donna dengan histeris menghambur kepelukan Rieche dan memnagis sesugukan.

DONNA

Oh Rieche. Akhirnya kau kembali juga Honey. Setelah sekian lama kau tinggalkan aku diatas bara kehidupan…

DISOLVE TO:

SCROLL TITLING

SELESAI

BULAN BIRU

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: