KETIKA OMBAK MENEPI

              “KETIKA OMBAK MULAI MENEPI”

          

           Naskah : Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.MS.MH.IAP

 

  1. – CREDIT TITLE – DISSOLVE

Gambar-gambar latar credit titel memperlihatkan sebuah

Perkampungan Nelayan di pinggiran sebuah kota pantai. Kampung nelayan dengan Mayoritas penduduknya adalah para nelayan miskin dan pengangguran. Sebuah kampung dengan metaphora kaum miskin yang mencoba membangun peradaban sosialnya disitu,dipinggir pantai yg tidak tersentuh infrastuktur permukiman nelayan yg layak dan memadai. Dan segala kejadian pada cerita ini akan berlangsung disitu. –

Dissolve

 

  1. EXT- PAGI.

Empat orang muda (tiga wanita, seorangnya lelaki), bergerak, berjalan, mengitari perkampungan nelayan dipesisir sebuah pantai. Satu dari mereka membawa bundel map berisikan leaflet dan brosur. – dissolve

 

  1. EXT – PAGI.

Di sudut-sudut kawasan hutan bakau yang rusak, atau dikawasan terumbu karang yg rusak, nampak beberapa orang pemuda tengah memasang jerat kepiting bakau.Sebagian lagi minum ballo tuak dari sari buah tala’ atau ballo ase dari sari beras ketan.suara mereka sangat gaduh terdengar diselingi makian dan ungkapan ungkapan khas para nelayan makassar menghangatkan suasana,Tiba tiba suasana jadi gaduh sesaat dan debat sengit sengit terjadi karena ada yang melakukan kecurangan,sedang yang lain tak mau menerima.

Gaffar yg bertubuh tegap ala petinju klas kampong,tiba tiba muncul dari salah satu arah sambil berteriak mengancam.

GAFFAR.

Pammari,hentikan.Siapa duluan yang main curang, ayo mengakuko,                                                                                     .     sebelum ku palappo….

Seorang diantaranya yang bertubuh kecil bernama I Bota menjawab.

BOTA.

Siapa lagi kalau bukan I Coa…

COA.

Apa..? jangan ko macam macam Bota,kusingkulu ko itu?

BOTA.

Kau Kadere..? Ka kau ricuh tong…!

KADERE.

Apa..? jangan ko macam macam Bota, beraninya kau menuduh aku?

Mau apa kalian,…apa kalian mau coba mancak ku?

Tapi suasana gaduh itu menjadi senyap,ketika seorang dari mereka melihat kompoi pemuda pendatang tadi. Seseorang yang melihat kompoi itu menyeru, “Polisi!”. Seruan itu mengagetkan yang lain. Maka yang lain pun melongok dengan perasaan was-was kearah kompoi pemuda itu. Tetapi kemudian rasa was-was itu hilang saat tahu kalau kompoi itu hanyalah sekumpulan pemuda biasa. (gambar memperjelas kompoi pemuda itu). Seorang dari penjudi itu bertanya, “siapa mereka!?”

Cut To

 

 

  1. – PAGI MENJELANG SIANG. Ruang pertemuan Balai Desa/Kelurahan.

Nampak Pak Lurah tengah melakukan pertemuan dengan warganya. Beberapa diantaranya adalah pemuda putus sekolah. Pak lurah Memperkenalkan tamunya para pemuda pendatang(tutorial) itu.

 

 

 

 

 

 

Pak Lurah

Mereka adalah para tutorial/fasilisator yang sengaja datang dan memilih pengabdi di wilayah kita ini. Untuk itulah bapak, ibu semua saya undang di tempat ini untuk berkenalan dengan mereka. Dan tentunya kita semua berharap, dengan kehadiran mereka disini, akan dapat membantu memperbaiki tata kehidupan dan taraf penghidupan kita. terutama terhadap lingkungan wilayah kita ini yang tersisihkan, karena dianggap sebagai kampong yg terkebelakang dan berada dibawah garis kemiskinan. (pada para pemuda itu) bagaimana adik-adik? (pemuda itu ngangguk) dan satu hal yang patut kita syukuri, karena ada pemuda seperti mereka yang mau memilih mengabdi di tempat seperti ini. Dan pilihan untuk memilih tempat seperti ini, tentunya tidak sekadar memilih. Tetapi ada niat, maksud yang tulus dari mereka untuk berbagi. Dan sebagai lurah, itulah yang dapat saya tangkap, hingga saya pun bergairah, dan tulus pula mau menerima mereka, dan berharap, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudaraku demikian pula adanya. Bagaimana?

Seorang warga mengacung.   Pak Lurah mempersilahkannya bicara.

Cut To. Dissolve

 

  1. Quintinity Scane 03.

Seorang ibu muda (I Naimong) terlihat menjewer telinga suaminya salah seorang penjudi yang kedapatan sedang berjudi. Seperti anak kecil si suami dijewer dan di renreng (digiring) jalan, dan menjadi perhatian warga. Sambil menahan sakit si suami memohon. Si Suami itu kita sebut, I Kadere.

 

I kadere

Sudahmi kodong Naimong, sudahmi! Ampumma’!

 

I Naimong

Tidak memang tong, tidak! Sekarang sudah jelas, itu uang selalu habis kau pakai botoro’. Berjudiko selalu! Dan selalu kau bilang, tidak ada hasil goyang becanu!

I Kadere

Ampumma’ istriku, ampumma!

I Naimong

Tidak! (melepaskan jewernya, menagih) mana itu uang

hasil kau aggoyang. Mana!

I Kadere

(meringis memelas) habiski sayangkuuuu…!

I Naimong

Memang tong! (kembali menjewer dan menyeret)

Beberapa orang yang melihatnya tertawa. Ada pula yang takut dan tertawa sembunyi sembunyi, karena takut ikut di salahkan.Tapi ada juga yang berani nimpali

 

.penjudi 1.

“sudah amblas terkuras campalle naimong…

 

Penjudi 2.

Naimong,..sudah seminggu I kadere accampalle disini

 

Penjudi 3.

Katanya dia habis jual tanah warisannya

 

Penjudi 4.

Sekarang malah dia berutang lagi kepada saya duaratus ribu…

 

I kadere.

Setang ngaseng anne…sahabat macam apa kalian ini..?bukannya membantu,malah kalian menambahi masalahku kodong…..

 

 

I naimong terus menjewer telinga I kadere,jewerannya membuat sang suami kian meringis kesakitan,sang istri tak bergeming dengan keluhan suaminya.malah sang istri yang cukup tambung ini kian berangas.

Cut To. Dissolve.

  1. Quintinity Scane 04.

Suasana pertemuan semakin serius. Nampak salah seorang dari pemuda itu sedang mempersentasekan program pendidikan usia dini dan program pendidikan luar sekolah(kejar paket A dan B). Seorang pemuda itu kita sebut, Norman khan . Dan warga yang baru saja habis mendengar, bertepuk tangan.

Norman khan.

Terima kasih bapak bapak, ibu ibu,saudara saudara sekalian, terima kasih, terima kasih! Dan semoga saja, program yang coba kami gagas untuk kerja pengabdian kami di kampung ini akan terasa manfaatnya.

(mempresentasikan gambar gambar praga) :

bapak-bapak, ibu-ibu, saudara sekalian, inilah gambar sederhana map wilayah kampung kita ini dengan segala kondisinya. Yang setelah sekian lama kami amati untuk program kami, maka kami berkesimpulan, perlunya ada konsep penataan kampung dan peningkatan proses belajar di usia dini dan proses belajar luar sekolah,yg akan kita integrasikan. Baik terhadap perbaikan lingkungan fisik, maupun pada pemberdayaan kualitas warganya, terutama terhadap warga generasi mudanya. dan selanjutnya, apakah masih ada yang ingin bertanya?

Seorang mengacung. Dia seorang wanita bernama Naya. Cantik kemenakan dg gassing.

Norman khan

Silahkan…?

Naya

Sejak tadi, kakak belum memperkenalkan nama. Siapa nama kakak?

(semua menimpali)

Norman khan

Maaf,.. maaf… nama saya, Norman,norman khan! Dan tiga rekan saya…

Ketiganya berpose, dan masing-masing memperkenalkan namanya. Masing-masing mereka; yudi, Anie, dan Ajib. Warga bertepuk tangan, dan kemudian pertemuan itupun bubaran. Disela bubaran, terlihat Pak Lurah memanggil Naya, dan diperkenalkannya pada Norman khan serta tiga rekannya.

Pak Lurah

Perkenalkan… ini Naya, anak dari adiknya dg gassing,tokoh masyarakat yg disegani di kampong ini. Kemenakannyalah begitu. Naya ini sesungguhnya anak kota besar. Dari Jakarta. Sengaja memilih tinggal disini, karena ingin dekat dengan keluarga dan tanah kelahirnya. Maklum sejak kecil ia di Jakarta.

Norman khan.

Oh… (mengangguk) lalu, daeng gassing itu, siapa pak Lurah?

Pak Lurah

Bisa dikatakan pemodal yg sering meminjamkan dana pada penduduk kampong kalau memerlukan modal usaha, dia tokoh masyarakat yang dihormati dan disegani di kampung ini. Sekali-sekali, nanti nak Naya bisa mengajak jalan-jalan kesana.

 

Norman khan.

Terima kasih, pak Lurah.

Norman khan mengangguk setuju. Mereka bergerak.

 

Cut To.

  1. Siang Hari

Beberapa orang payabo(pemulung) tengah mengais. Mengorek-ngorek, menggaruk, mengkait-kait isi dari tempat pembuangan sampah. Para payabo itu, I rambo, I bota, I tambaru, I Sikko dan lainnya. Sambii mengais sampah mereka mengobrol.

I Rambo

Hebat, kampong kita ini mau dirubah, katanya!

 

I bota

Bukan dirubah Rambo, tapi diatur!

 

I Rambo

Diatur bagaimana, bota!?

 

I bota

Diatur supaya hidup ta bede sehat dan sejahtera, Rambo.

 

I Rambo

Bagaimana bisa sehat dan sejahtera, kalau kita ini memang orang-orang miskin dan tak punya.

 

I Tambaru

E, bota, Rambo, kalian berdua salah… menurut pak Lurah, kampong kita nanti kena program bede,yg bisa menjadikan kita lepas dari belenggu kemiskinan dan kebodohan,….bede ?.

 

I Sikko

Ihc, mana mungkin tambaru,kita ini sudah ditakdir jadi orang yg miskin dan bodoh,nenekna,nenek nenekta dari dulu juga sudah miskin.iyya toh?

 

I Tambaru

Memang Sikko. Tapi ini pak Lurah yang bilang.

 

I Sikko

Berarti, mimpi ki disiang bolong itu Pak Lurah?

 

I Tambaru

Bukan cuma mimpi tapi abbebe disiang bolongki pak lurah.

 

i Sikko

Ihc, bagaimana kau punya maksud abbebe, Tambaru.

I Tambaru

Kalau kau punya maksud Sikko?

I Sikko

Maksudku…mustahil bisa tercapai itu maksudnya pak lurah(tertawa ngakak)

I bota

Eh, begini saja tidak usah kita pusing. Pokoknya kita ikut saja. baik, tidak baik, pokoknya baik.

I Rambo

Betul bota. Sedangkan ini saja kotoran sampah, baik kita rasa, ha..ha..ha…

Sebuah truk sampah datang, membuang sampah disitu. Para pemulung itu senang hatinya. Bersama berseru. “Alhamdulillah!”

Cut to.

 

  1. Halaman Rumah daeng gassing.

Nampak terlihat Coa dan gope tengah melayani (menadah) barang sisa yang dijual para pemulung. Keduanya menimbang dan membayar. Seorang pemulung mengkomplain, karena merasa harga barangnya kemurahan. Pemulung itu I bota.

I bota

Kenapa Cuma sebegini harganya? Yang dikilo tadi itu, almunium. Bukan plastik bassi biasa.

Coa

Cocokmi itu, cocokmi!tea mako jai bicarai,nalangngereki sallang karaeng nga.

I bota

Tidak cocok. Karena itu saya punya barang, almunium.

Coa

Almunium, tambaga, basi, seng, pokoknya sama. Sama-sama barang bekas!,tena modala nu assulu ….

I bota

Tapi harganya?

Coa

Harganya sudah saya kasih, dan sudah kau ambil.   Itu! (menunjuk tangan I Kilo yang memegang uang)

I bota

Cuma ini? Tidak ada tambahna?

Coa

Ditambah, kalau lunasimi cicilan utangmu sama karaeng ta. Jadi kalau kau mau tambah, sana pergi lagi kau rappung dan bawa hasil yg lebih banyak telaco…..

I bota pasrah, lalu pergi. Sambil memperhatikan I coa tertawa.Gope mendekati, menagih.

 

Gope

Mana?

Coa

Ini! (memberi uang hasil korupsi kecil kecilannya) ambil, dan yang

penting jangan sampai karaeng bos tahu.

Gope

Sip! (memberi jempol)

Keduanya mesra, merokok. Seorang pemuda berkendaraan HD (hampir Devidson), atau motor biasa dengan asesorisnya yang ramai oleh lampu-lampu bekas, muncul. Pemuda itu kita sebut karaeng caddi, karena disekitar tubuh kecilnya dan pakaiannya banyak dihiasi asesoris. Karaeng caddi turun dari motornya mendekati Coa-Gope.

Karaeng caddi

Bagaimana bos, ini saya punya motor?

Coa-Gope

Dasyat! (bersamaan memberi jempol. Gope meneruskan) dan kalau mau lebih dasyat lagi, baqaimana kalau pakai ini. (memperlihatkan rongsokan almunium yang dijual I bota tadi)

Karaeng caddi

Harganya?

Coa

20 ribu saja! (padahal tadi, ia hanya memberi I bota uang sebesar 2000 saja)

karaeng caddi

Oke de.. tapi…

Coa

Tapi agasi?

Karaeng caddi

I Naya, mana doi!?

Gope

Gampang!

Karaeng caddi

Tapi, sok-sok saya lihat dia sekarang, Gope!?

Gope

Memang begitu wanita, sombong!

Karaeng caddi

Tapi sombongna, sombong Iain-Iain.

 

Gope

Memang begitu sombong kota,tapi Sombong bagaimana yg karaeng maksudkan?

 

Karaeng caddi

Cuetki! Tidak lagi mau menyahut kalau kusapa. Tidak seperti biasanya. Saya curiga, dia begitu, gara-gara itu anak anak mudayyaka. Dan itu anak anak pendatangnga, datang dikampung kita ini, hanya bikin masalah saja. (menghasut) macam-macam saja dia mau buat. Dan katanya dia mau bikin ruang terbuka hijau. Setiap warga harus sadar menanam pohon,dan pupuknya dibuat dari kompos sampah. Ada lagi tanaman obat di pekarangan kalau tanaman itu, tanaman obat,jadi kalau kita sakit obatnya dipetik dipekarangan saja! Lalu ada juga program belajar usia dini dan luar sekolah. Karena katanya warga di kampung kita ini sudah lalai belajar dan melupakan dengan apa yang namanya pendidikan dan moral agama. Program Seni Budaya. Bikin Workshop musik yang alat musiknya dari barang bekas. Selanjutnya mau bikin Radio Komunitas. Untuk Komunikasi dan imformasi di Kampong kita ini. Dan yang paling celaka Coa, Gope…   ada program lingkar jalan warga. Swadaya ½ meter. Dimana setiap Warga harus mengiklaskan tanahnya diambil setengah meter untuk jadi jalan. Dan itu kacau kan, kacau!!

Asyik mereka ngobrol, Karaeng gassing muncul. Melihat itu karaeng caddi menepi, pergi sembunyi-sembunyi dengan motornya. Karaeng gassing hanya melihat selintas.

Karaeng gassing

Coa…?

Coa

lye, karaeng boss!

Karaeng gassing

gope…?

Gope

lye, juga karaeng bos!

Karaeng gassing

Nae anjo?

Coa

Karaeng caddi karaeng bos!

Karaeng gassing.

karaeng badu’E (badut)

Keduanya mengiyakan.   Karaeng gassing duduk dikursi kesayangannya.

 

Disollve to

  1. Jalan Lintas di perkampungan itu.

Terlihat karaeng caddi yang mengendarai kendaraannya tiba-tiba berhenti. Sesuatu ia lihat dikejauhan. Sesuatu itu adalah Norman khan yang berjalan beriringan bersama Naya diiringi rekannya yang lain. Melihat itu hati karaeng caddi emosi. Marah oleh rasa hatinya yang cemburu. Tetapi kemudian dilihat olehnya para pemuda itu saling berpisah. Naya berjalan sendiri. Melihat kesempatan itu, Karaeng Caddi mengejar mengikuti Naya. Tepat pada jalan yang agak sepi, karaeng caddi menyusuli naya. Naya agak was-was mendengar deru suara motor karaeng caddi.

Karaeng caddi

Naya… (dari atas motornya)

Naya

Kenapa?

 

Karaeng caddi

Mau saya antar?

 

Naya

Tidak usah. Naya mau jalan saja. (terus saja jalan, acuh)

 

Karaeng caddi

(semangat, lekas-lekas turun dan” motornya, mengejar naya) kalau begitu kita jalan-jalan saja. (Naya tak menggubris) tapi kalau kita jalan,.. (berpikir), bagaimana dengan motorku. (melihat motornya yang ia tinggalkan. Celakanya, beberapa orang payabo mengelilingi motornya, dan berusaha mencungkil beberapa assessoris motornya. Karaeng caddi bingung gelagapan. Lekas-lekas ia balik ke motornya meninggalkan Naya yang mengambil kesempatan untuk lekas-lekas pergi menjauhinya) he, heee! (mengusir para payabo. Lalu berbalik ke Naya yang sudah tak kelihatan. Dia kecele, dan terlihat dongkol) Sial!

 

Cut to.

  1. Qoutinity Scane 07

Coa-Gope nampak sedang mempengaruhi, memanasi hati karaeng gassing, perihal masalah yang tadi disampaikan karaeng caddi kepadanya. Yakni program Norman khan dan rekannya.

 

Karaeng gassing

Begitu dia bilang?

 

Coa

Begitu karaeng bos. Bahkan katanya, ada juga program jalan lintas warga – Swadaya setengah meter. Untuk program itu karaeng bos, diharapkan warga mau merelakan tanahnya 1/2 meter untuk memperluas jalan kampung.

 

Karaeng gassing

Ihc, diambil kita punya tanah ½ meter!?

 

Coa

Begitu katanya, karaeng bos.

Karaeng gassing

Ihc, paccena! Lalu siapa yang ganti itu harga tanahnya?

Gope

Tidak ada karaeng bos. Karena itu namanya, swadaya.

 

Karaeng gassing

Tidak bisa, tidak cocok itu. Dan kasih tahu itu mereka… jangan dia mau macam-macam di kampung ini! Dan kasih tahu juga, kalau dia harus tahu, siapa saya ini,…karaeng gassing!

 

Coa

Setiap hari karaeng bos. Setiap hari mereka mengumpulkan anak-anak muda di kampung kita ini.

 

Karaeng gassing

Menghasut!

 

Coa

Begitulah karaeng bos.

Karaeng gassing

Dan mungkin juga itu I Naya saya punya keponakan sudah dihasutnya. Karena setiap hari dia minta izin untuk ke balai pertemuan.


Gope

Tentumi itu, karaeng bos!

 

Karaeng gassing

Awas! (melihat naya muncul)

 

Naya

Karaeng.. sedang apaki, karaeng?

 

Karaeng gassing.

Hmmm! (acuh)

 

Melihat itu Naya heran. Sesuatu nampak berubah pada omnya itu. Dan ia pun kemudian bergerak masuk. Tapi karaeng gassing mencegahnya.

Karaeng gassing

Naya..

 

Naya

Ya, Karaeng…

 

Karaeng gassing

Darimana? Dan kenapa disenja gelap seperti ini, kau masih berkeliaran?

 

 

Naya

Dari balai pertemuan karaeng.. ikut pertemuan dengan pak lurah.

 

Karaeng gassing

Ikut dengar-dengar apa yang dikatakan anak muda itu!?

 

Naya

BetuI karaeng. Dan Naya suka sekali dengan apa yang mereka akan lakukan di kampung ini Karaeng. Betah rasanya Naya disini, karaeng.

 

Karaeng gassing

Kegiatan apa!? Itu Kegiatan swadaya ½ meter!?

Naya

Betul, karaeng… menarik sekali gagasan itu. Setiap warga harus merelakan tanahnya seluas ½ meter untuk memperluas jalan. Dan cara itu bagus. Karena dengan diperluasnya jalan, maka secara ekonomi, harga rumah yang ditinggali mereka menjadi mahal harganya. Tapi bukan karena harga itu yang membuat Naya tertarik Karaeng. Melainkan karena cara berpikir. Merubah cara berpikir masyarakat kampung ini. Itu! Bayangkan kalau selama ini, warga hanya berpikir memperluas rumahnya, memperluas halaman, ruang tamu, kamar dan sebagainya, tanpa memikirkan hal pital seperti jalan sebagai fasilitas umum untuk bersama. Padahal nilai harga itu akan lebih tinggi nilainya kalau akses jalan bagus dan luas.

Karaeng gassing

Tapi tidak! Pokoknya saya tidak mau, kalau halaman rumah ini harus diambil ½ meter.

 

Naya

Karaeng…?

 

Karaeng gassing

Hah, sudah! Pokoknya mulai besok, tak kuizinkan kau ke balai desa itu Naya! Tidak! Apalagi ikut dengar-dengar apa yang dikatakan anak muda itu! Tidak, dan awas! Dan sekarang kau masuklah! Basuh kau punya muka yang ayu itu, dan simpan baik-baik!

Dan dengan perasaan cemas Naya pun kemudian bergerak masuk.

 

Cut To.

  1. EXT/INT. – Balai Pertemuan

Beberapa anak remaja, muda-mudi sedang berhadapan dengan kegiatan belajar paket seni budaya, memainkan musik yang alat musiknya terbuat dari barang sisa, bekas dan rongsokan/Diantaranya adalah botol. Seorang tenaga pelatihnya seniman tulen. Gondrong awutan ala Jegger. Lidah Rolling Stone pada gambar T. Shirt nya. Kita sebut dia, Sangkala Stone. Sedang Norman yang terlihat mendampinginya nampak gelisah. Sangkala Stone melatih, memperagakan ilmunya.

Sangkala Stone

Coba, ayo coba! Pukul, dan jangan ragu. Intinya adalah di filling. Rasa. Ayo mainkan rasa. Coba, doooooo!

 

Semua ikut

Doooooooo!

 

Sangkala Stone

Do re, re dooooo! (mendekati Norman yang gelisah) kenapa bos?

 

Norman khan

Naya, Kenapa yah tidak hadir…? Padahal seharusnya dia yang bertanggungjawab mengkoordinir kegiatan ini.

 

Sangkala Stone

Iya, bos… ga enak ni, ga ada Naya. Ga mut, gitu !ho! Semuanya fals, falssssssssss!

Anie, salah seorang rekan wanita Norman yang juga fasilitator itu datang dengan beberapa bibit tanaman.

 

Anie

Kita dapat tambahan dua puluh bibit tanaman pohon pelindung. Juga bibit tanaman obat. Ada tobo-tobo, ginseng, dan seladri. Saya akan mengarahkan anak-anak remaja untuk menanamnya.

 

Sangkala stone

Ya, tapi itu gampang! Cuma ditanam saja. tapi ini,… tidak bisa kalau tidak ada Naya. tidak mut!   “

  1. – Balai Pertemuan

sementara itu ditempat yang sama. Hanya pada ruang yang tertutup, salah seorang kawan Norman sedang memberi petunjuk bagaimana cara menyiar dan menggunakan mikropon untuk radio komunitas.

Yudi

Nah para pendengar, mari kita dengarkan bersama-sama (petunjuk tersebut diikuti oleh yang sedang diberi latihan) selanjutnya, bagaimana cara menutup acara siaran. (mencontoh) nah, para pendengar… terima kasih atas atensinya atas acara ini. Demikian, dan sampai jumpa di udara… (contoh itu diikuti oleh yang sedang diberi latihan) selanjutnya kita berlatih, bagaimana cara memberi informasi kepada para pendengar. (mencontoh) pendengar setia radio Komunitas… dimana pun anda berada, anda adalah teman setia kami. untuk anda, kami sampaikan informasi penting.

 

Cut to.

  1. Halaman Rumah Karaeng gassing.

Terlihat Coa-Gope sedang melayani, menimbang barang sisa dari salah seorang pemulung. Dia I bota. Sementara itu, karaeng gassing duduk, dan tengah asyik mendengarkan siaran Radio komunitas. I bota terlihat

protes.

 

I bota

Kenapa Cuma sepuluh ribu, bos. Saya kira itu harga Kompos, seribu satu kilonya.

 

Coa

E, bota jangan banyak protes. Itu harga dulu. Harga kompos sekarang ini sudah turun. Lima ratus sekilonya.

 

Bersamaan dengan itu terdengar informasi dari radio komunitas.

Radio

Pendengar setia radio komunitas, dapat kami informasikan, bahwa harga jual kompos sampai hari ini, 1.100 perkilonya. Untuk bibit mangga…

 

I Bota

Nah tu… 1.100 perkilonya bos. (marah) kalau begini caranya, lebih baik tidak jadi saya jual komposku. Batal! (mengambil barang, dan mengembalikan uangnya, lalu pergi)

 

Karaeng Gassing (heran melihat I Bota yang berlalu itu)

He, kenapa itu! Dan kenapa dia batal menjual Komposnya!?

 

Coa

Batal, karena siaran Radio itu, karaeng bos!

 

Karaeng gassing

Berapakah harga yang dikatakan ini radio?

 

Coa

1.100 perkilonya, karaeng bos!

 

Karaeng Gassing

Padahal berapa kita terima biasanya?

 

Coa

Sembilan ratus , karaeng bos!

 

Karaeng Gassing

Berarti salah ini, radio.

 

Coa

Salah, karaeng bos!

 

Karaeng Gassing

Tapi kenapa sampai ada suara seperti itu dari radio ini?

 

Gope

Radio Komunitas, Karaeng Bos. Radio yang dibuat oleh anak-anak muda pendatang itu di kampung kita ini, Karaeng bos!

Karaeng Gassing

Surokauwang ! Tambah tidak cocok mi ini katallassangnga. Bukan Cuma halaman rumah dia mau rusak. Tapi juga kita punya usaha. Harus kita usir mereka. Usir!

 

Coa

Gampang, karaeng bos! Kalau Cuma usir, gampang itu!

 

Karaeng Gassing

Caranya?

Coa (mendekati Karaeng Gassing, dan berbisik)

Yang penting ada sedikit biaya untuk kasih mereka mabuk, Karaeng bos!

 

Karaeng Gassing

Kalau Cuma itu, lakukan! Usir mereka, usir!

 

Cut To.

 

  1. Continuity Scane 10. – Ruang Pertemuan

Sangkala Stone terus mengarahkan para pemusik botol. Hanya untuk kali ini, nada, bunyi musik yang diperdengarkan telah nampak apik dan harmonis.

 

Dissolve.

 

  1. Continuity Scane 10 – Ruang Pertemuan

Berapa anak-anak remaja, khusus para wanitanya sedang menanam, menata tanaman, disekitar tempat tersebut.Ada juga yg melakukan proses pembuatan kompos dan pengolahan sampah dengan prinsip 4 R.

 

Dissolve

 

  1. Continity Scane 10 – Ruang Pertemuan

Salah seorang rekan Norman Khan yang selalu bersongkok sedang mengajar anak-anak dikampung itu mengaji.Ada juga yg mengajar kelompok bermain /belajar Usia Dini,Ada juga yang mengajar kelompok pendidikan non formal lainnya.

 

Cut To.

  1. Di sebuah Jalan.

Terlihat Norman Khan beriringan jalan bersama Pak Lurah. Norman Khan mempresentasikan program sedang berlangsung pada pak Lurah.

 

Norman Khan

Semoga dengan radio komunitas yang kami buat itu, akan mempermudah memberi informasi kepada warga, akan pentingnya proses belajar”learning by doing”, belajar sambil bekerja menata lingkungan permukiman mereka,meningkatkan pengetahuan dan produktifitas mereka agar penghasilan mereka meningkat. Dan kami bersyukur pak… banyak warga ramai-ramai mulai menanam pohon pelindung , dan radio itu dapat pula kami gunakan sebagai media pembelajaran. Dan itu terbukti, banyak orang tua yang menyuruh anak-anaknya mengikuti pengajian dasar. Kebetulan satu dari kami, pernah ikut pembinaan pengajian di pesantren. Ajib namanya pak… sedang pembinaan seni yaitu seni musik, bertujuan mengasa rasa keindahan dan kreativitas itulah mengapa kami memanfaatkan barang-barang sisa itu sebagai alat musik.

 

Pak Lurah

Luar biasa… senang rasanya saya melihatnya. Tidak hanya niat yang mulia dan tulus. Tapi juga sangat kreatif.

Norman Khan

Terima kasih pak Lurah…

 

  1. EXT/INT. – Malam. Disebuah Warung.

Warung Miras yang property botolnya sebagian besar produk import terlihat tertata rapi disitu. Dan Karaeng Caddi bersama beberapa pemuda lain, diantaranya, I Rambo, I Bota, I Kadere, I Tambaru dan berapa pemuda lainnya sedang pesta miras ditraktir Coa – Gope disitu.

 

Karaeng Caddi

Ayo minum, minum! (mabuk dan oleng). Bagaimana Coa, Gope…? Minum kan?

Coa

Minum, minum silakan minum. Saya yang traktir!

Gope

Saya juga!

I Bota

Kita minum untuk Karaeng caddi! Hidup Karaeng Caddi! Bos kita! Bos kita yang paling gagah di kampung ini!

I Tambaru

Dan itulah, kenapa I Naya kepincut hatinya.

 

Karaeng Caddi (Tiba-tiba marah)

He, diamko, diam! Jangan kau coba sebut-sebut lagi nama itu! Bagi Karaeng Caddi… wanita bernama Naya itu telah hilang! Lenyap terkubur dihati ini!   (memegang-megang dadanya). Dan

sekarang tidak ada yang bisa kita lakukan untuknya, kecuali…

 

I Bota

Kecuali apa karaeng caddi?

Karaeng Caddi

Kecuali mengusir anak-anak muda pendatang Itu. Terutama itu I Norman Khan! Sebab gara-gara dia, itu hatinya I Naya berpaling. Barpaling dari hatiku kassina’! dan aku Karaeng caddi ini, merana jadinya! Patah, patah, o’ patah hatiku!

(terus nyerocos dan mabuk, oleng sambil nyanyi lagu bang oma,”primadona desa” yg dirobah nama donna menjadi naya) .

minum, minum, ayo minum!

Coa-Gope terus menuangkan minuman, hingga semua ikut oleng dan mabuk. Sesudah menuangkan minuman, Coa membayar, lalu mengajak Gope beranjak.

 

  1. EXT/INT. Rumah Karaeng Gassing.

Karaeng Gassing terlihat tengah sibuk dengan barang bekas hasil tadahannya. Sementara itu Naya dalam rumah memperhatikan, mengintai apa yang sedang dikerjakan Karaeng Gassing. Coa-Gope tak lama kemudian muncul memberi laporan.

Coa-Gope

Tabe, karaeng bos…

 

Karaeng gassing

Hmmm, kenapa? angngapako?!

Coa

Beres karaeng bos! Semuanya sudah teratur rapi. Semuanya, terutama itu karaeng caddi, mabuk!

 

Gope

Dan dendamnya pada Norman Khan karaeng bos, begitu kuat karena mabuknya.

 

Diam-diam Naya mencuri dengar dari balik dinding.

 

Coa

Yang pasti tidak hanya diusir, karaeng bos! Tapi juga akan bonno’ dipukuli!

 

Gope

Biar dia rasa, karaeng bos!

 

Diam-diam Naya menyelinap pergi. Pergi memberi kabar pada Norman Khan atau Pak Lurah kalaukalau terjadi rencana jahat yang akan dilakukan oleh karaeng caddi dkk.

 

Cut To.

 

  1. Jalanan, tidak jauh dari ruang pertemuan dimana Sangkaia Stone bersama anak-anak remaja sedang berlatih musik.

 

Pak Lurah

Baiklah dik Norman.. untuk kali pertemuan kita sampai disini Dulu .. rasanya sudah hampir larut malam. Insya Allah, besok atau kapan, saya berusaha datang lagi.

Norman Khan

Terima kasih pak Lurah.

Mereka berpisah, tinggallah Norman Khan sendiri. Norman Khan bermaksud bergerak menuju tempat dimana Sangkala Stone sedang berlatih. Tetapi belum sempat bergerak, Naya muncul dengan raut wajah cemas..

Naya

Kak Norman, kak norman, gawat!

Norman Khan

Kenapa dik Naya? Ada Apa?

Naya

Karaeng caddi, bersama para pemuda kampung mencari kak Norman. Mereka akan berbuat ulah.

Norman Khan

Yah, tapi apa masalahnya? Kenapa dengan mereka!??

Naya

Nanti Naya ceritakan. Sekarang sebaiknya kak Norman menghindar. Mereka sedang menuju kemari. (terdengar suara rombongan Karaeng Caddi yang bergerak kearah mereka gambar memperlihatkan rombongan itu) nah, itu mereka! Ayo tinggalkan tempat ini!

Norman Khan

Tidak Naya… akan saya hadapi mereka, sekaligus mengetahui ada apa dengan mereka.

 

Naya ( cemas)

Tapi…

Norman Khan

Sebaiknya Naya kejar pak lurah, dan beritahukan masalah ini kepadanya. Ayo!

 

Naya

Baik! (bergerak kearah pak lurah pergi)

 

Tinggallah Norman Khan sendiri, yang kemudian didatangi pasukan karaeng caddi. Dengan jumawa, mabuk, dan oleng, Karaeng caddi mendikte Norman Khan.

Karaeng caddi

0′ rupanya dia ada disini!   (memerintah) Bota, Rambo, Tambaru, dan kau kadere, ayo sikat, dan keroyok dia!

Tapi keempat pemulung itu bingung, heran, saling lihat.

“keroyok”???”

Karaeng caddi

Yah, kita ini kesini, untuk urusan ini! Mengeroyok dial

(menunjuk Norman Khan)

itulah kenapa kalian ditraktir minum.

Keempat kembali saling lihat, heran. I Bota memajui karaeng caddi.

 

I Bota

0’jadi kami ditraktir minum untuk urusan ini?

Karaeng caddi

Itumi dongoooo! Ayo sikat!

 

Dengan marah I Bota memajui, dan mencekal kra baju karaeng caddi.

 

I Bota

0′ jadi kau mau memperalat yah!? Dari pada dia yang kami sikat, lebih baik, kau yang kubonnyo karaeng caddi! (mengajak tiga rekannya yang lain) ayo kawan-kawan, lebih baik dia yang kita sikat!

Ketiganya teriak “Setuju!” , dan menyerbu mengeroyok karaeng caddi. Karaeng caddi kalang kabut. Norman Khan justru melerai.

 

Norman Khan

Jangan,Jangan!

Tapi Bota cs tak perduli, terus menggebuk, dan bersamaan dengan itu,Naya, Pak Lurah dan pasukan Sanggakala Stone, juga teman teman Norman khan muncui. Pak Lurah melerai.

Pak Lurah

Stop! Stop! (melindungi karaeng caddi) saya minta agar tidak ada pemukulan. Serahkan masalah ini kepada saya.

I Tambaru

Tapi belum rasanya saya, pak lurah. Baru satu kali memukul kodong.

 

 

Pak Lurah

Itu sudah cukup! Dan masalah ini tidak hanya disini. Apa yang dilakukan oleh karaeng caddi ini ada yang melatarbelakangi. Maksud saya ada dalang dibalik perbuatannya.

 

I Rambo

Siapa dia pak Lurah!?

I Kadere

Yah, ayo kita sikat!

 

Pak Lurah

Kalau kalian mau tahu, ayo semua ikut saya!

 

Pak Lurah bergegas bergerak, diikuti lainnya.

 

Cut to.

  1. Tidak jauh dari tempat usaha karaeng gassing.

Terlihat Coa dan Gope sedang adu jotos, baku gulat memperebutkan hasil korupsi menilep uang karaeng gassing.

Gope

Tidak bisa, masa kau lebih banyak!

 

Coa

Saya lebih banyak, karena saya yang punya ide!

 

Gope

Tapi itu ide jahat!

 

Coa

Jadi?

 

Gope

Kalau begitu cara baginya, lebih baik kita baku pukul!

 

Coa

Oke!

 

Mereka baku pukul, gulat. Pak lurah bersama rombongan muncul. Melerai, sekaligus mencekal Coa-Gope. Seterusnya semua bergerak mencari karaeng Gassing.

 

  1. Halaman belakang Rumah Karaeng Gassing, tepatnya di dalam kakus cemplung.

Ketika melihat rombongan pak lurah dan Norman khan datang mencarinya,karaeng gassing lari bersembunyi kedalam kakus cemplung di belakang rumah.Tak lama kemudian Terdengar dan terlihat Karaeng Gassing meraung-raung dan teriak- teriak meminta tolong. Apa yang terjadi? Rupanya karaeng gassing terjatuh dan terbalur tinja disitu. Dan hampir saja Karaeng Gassing mati terkubur tinja jika saja, Pak Lurah bersama rombongan tidak cepat datang menolong.

 

  1. jalan kampung . Senja.

 

Terdengar suara serine ambulan mengangkut Karaeng Gassing, sebagai tanda cerita pun berakhir.

 

Makassar, 28 ramadhan 2011

Cerita & Scenario ditulis oleh

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato,SH,MS.MH.IAP

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: