NASKAH SANDIWARA RADIO EPISODE 1. I LA GALIGO

NO 1.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

( EPISODE 1. WE ODDANG RIUQ )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

( Opening Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo ).

Atas kehendak Patotoqe, bersamaan terciptanya Kerajaan Langit di “Boting Langiq”, tercipta juga Kerajaan Peretiwi yang berada di dunia bawah ” Uriq Liuq “.

Patotoqe kemudian mengirim saudara kembar perempuannya bernama Sinauq Toja menjadi penguasa di Kerajaan Peretiwi.
Sinauq Toja bersama dengan suaminya Guru Riselleq,yang juga saudara kembar Datu Palingeq istri Patotoqe, Untuk menjadi penguasa dwi-tunggal di Kerajaan Peretiwi di istana kerajaan Uriq Liuq.

Di antara Kerajaan Langit dan Kerajaan Peretiwi yang dihuni oleh para dewa, tercipta juga Kerajaan Bumi di “ Aleq Linoq “. Namun untuk waktu yang sangat lama, Kerajaan Bumi di Aleq Linoq dibiarkan kosong tanpa penghuni.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Fajar menyingsing di Boting Langiq tempat kediaman pasangan dewata Datu Patotoq dan Datu Palingeq. Begitu bangun dari tidur, mereka menyuruh untuk memanggil anak bungsu perempuan mereka yang bernama We Oddang Riuq supaya datang menghadap.

PATOTOQE :

Dayang , Panggilkan anakku We Oddang Riuq segera datang
menghadap kami ayah bundanya.

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Berbilang waktu berlalu, namun anak mereka itu tidak mau keluar dari biliknya. Karena setiap kali We Oddang Riuq keluar dari biliknya, semua penghuni Boting Langiq,terutama para anak dewata seakan akan menjadi gila melihat kecantikannya, sehingga semuanya berkeinginan untuk memperisterikannya tanpa mempedulikan perbedaan derajat yang terbentang diantara mereka. Hal itu dianggap Pamali dan dapat mangakibatkan bencana di Boting Langiq.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Kenyataan ini membawa kekhawatiran di kalangan para Dewa di Boting Langiq, hingga pada akhirnya Patotoqe dan isterinya Datu Palingeq berkeputusan anaknya We Oddang Riuq harus dikawinkan segera dengan calon suami yang sederajat dengan We Oddang Riuq, yang dia akan pilih sendiri.

PATOTOQE :

Kur jiwamu, Paduka Istriku Datu Palingeq,semoga datanglah
semangat kahyanganmu , sepertinya, mau tidak mau anak kita
We Oddang Riuq harus segera kita kawinkan. Tetapi siapa anak
dewata yang sederajat yang pantas Untuk menjadi suaminya?

PAPARAN ADEGAN 4.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Untuk memungkinkan pemilihan calon suami We Oddang Riu ,maka diadakanlah pesta sabungan ayam besar, dengan ketentuan semua anak dewata sebagai penyabung. Gagasan itu adalah ide seorang dewata yang bernama Oddang Mpatara dan bergelar To Palanroe ri Ale Kawa , yang berarti “Si Pandai Besi di lnduk Bumi”. Oddang Mpatara adalah kakak Patotoqe dan Datu Palingeq yang bersemayam di puncak Gunung Latimojong, gunung suci di tanah Luwuq.

ODDANG MPATARA :

Untuk menentukan calon suami dari We Oddang Riuq, Kita
akan mengadakan pesta sabungan ayam secara besar-besaran
dan mengundang semua anak dewata yang sederajat
dengannya Sebagai penyabung.

PAPARAN ADEGAN 5.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Namun Ketika We Oddang Riuq keluar ke gelanggang sabungan ayam, Arena seakan bertabur cahaya , karena dari wujud tubuh We Oddang riuq terpancar cahaya begitu gemerlap karena cahaya kecantikannya, sehingga tertembus olehnya tujuh lapis kelambunya dan tujuh lapis pakaiannya, dan kelihatan seolah-olah wujud tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang membalutnya. Akibatnya, para anak dewata penyabung pingsan semua; dan mereka barulah tersadar kembali sesudah mereka dipercikkan dengan air suci yang dinamakan “air tawar yang dingin dari Latimojong” dengan menggunakan rambut panjang We Oddang Riuq sendiri sebagai pemercik.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Kejadian di arena sabung ayam itu menjadi kenyataan pahit yang harus diterima oleh pasangan dewata Patotoqe dan isterinya Datu Palingeq.Mereka menarik kesimpulan bahwa anak mereka We Oddang Riuq harus pergi tinggal jauh dari langit. Telah bulat hati mereka mengambil keputusan untuk mengulurkannya ke Dunia tengah “ Aleq Linoq “

PATOTOQE :

Kur jiwamu, Paduka istriku Datu Palingeq,semoga datanglah
semangat kahyanganmu , Ikhlaskan Anakmu We Oddang Riuq
Untuk di ulurkan Ke Aleq linoq, ini sudah suratan takdir yang
telah digariskan dewata padanya, Untuk menjadi titisan dewata
di Aleq linoq.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Prosesi mengulurkan We Oddang Riuq ke Aleq Linoq sesuai tata cara yang berlaku Untuk para dewata pun telah direncanakan . Supaya proses itu dapat dilakukan dengan baik , terlebih dahulu We Oddang Riuq harus tidak disadarkan terlebih dahulu, dan untuk itu dia diperciki dengan “air kebingungan” yang dinamakan “uwae maling”. Prosesi ini dilakukan sendiri oleh Datu Patotoqe dengan memakai ujung kerisnya. Lalu kemudian, We Oddang Riuq dibaringkan ke dalam usungan tempat dia akan diulur ke dunia bawah “ Aleq Linoq”.

DATU PALINGEQ :

Kur jiwamu, Paduka Anakku We Oddang riuq , semoga
Datanglah semangat kahyanganmu , turunlah Engkau ke Aleq
Linoq,Turunlah bersama cinta kami para Dewata di Boting
langiq, hanya bentukmu anakku We Oddang Riuq akan
Berubah, bukan nasibmu. Nasibmu ialah dicintai oleh semua
orang , dan akan terus dicintai oleh semua orang.

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Kabar tentang akan diulurkannya We Oddang Riuq Ke Dunia Tengah “ Aleq Linoq” membuat Kerajaan Boting Langiq menjadi Geger. Semua anak dewata mengamuk termasuk di antaranya saudara kembar We Oddang Riuq yang bernama Aji Palewo dan anaknya Simpuru Siang. Mereka bertekad mau menyusul ke Bumi kalau We Oddang Riuq jadi diulurkan ke Aleq Linoq. Patotoqe khawatir Jangan-jangan Boting Langiq menjadi kosong kalau hal itu sampai terjadi, rencana penguluran akhirnya ditiadakan. Namun We Oddang Riuq sudah terlanjur dipingsankan, tidak mungkin lagi dia disadarkan kembali. Terpaksa We Oddang riuq diperlakukan dan diupacarakan seperti orang mati selama 40 hari dan 40 malam.

PAPARAN ADEGAN 9.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Pada hari keempat puluh, pada waktu Datu Patotoqe sedang berdo’a “napalari-na ajimemenna”, timbullah ide baru dalam pikirannya. Sebaiknya, We Oddang Riuq diciptakan kembali dengan mewujud Dalam bentuk lain oleh Papunnaie. Yang dimaksudkan dengan nama Papunnaie yaitu “Yang Mempunyai Kita”, ialah Dewata Seuwae, atau Tuhan yang Tunggal. Bentuk baru yang dimaksudkan bagi We Oddang Riuq ialah padi atau Sangiang Serri.

PAPARAN ADEGAN 10.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Datu Patotoqe dan isterinya berunding dengan To Palanroe serta dengan dewata lain yang bernama To Paqbareq-bareq-ede “Si Pembuat”, kakak mereka yang juga bersemayam di Gunung Latimojong di tempat yang bernama Leteng Riuq.

TO PAQBAREQ BAREQ EDE :

Kur jiwamu, Paduka Adikku Patotoqe dan paduka adikku Datu
Palingeq , semoga Datanglah semangat kahyanganmu.
Janganlah adinda berdua khawatir akan nasib anakda We
Oddang Riuq, karena hiasan kuku We Oddang Riuq akan
menjadi ikan besar yang beraneka macam, sedangkan
rambutnya yang terjalin panjang akan menjadi pohon kelapa
yang akan menghasilkan buah kelapa yang enak , serta tuak
yang sedap diminum sebagai lauk pauk pengiring nasi.

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Agar Supaya We Oddang Riuq dapat berubah bentuk menjadi Sangiang Serri, Maka dilakukan prosesi yang berlaku atas perkenaan para Dewata. We Oddang Riuq harus dulu dicincang halus seperti tepung. Yang diminta melakukan pekerjaan itu adalah dewata , adik Datu Patotoq yang bernama Billaq Takkajo Wero Sianre yang berarti “Kilat yang Beradu, Petir yang Sabung-menyabung”. Dewata itu adalah penguasa negeri Marapettang, yaitu sebuah negeri yang merupakan pintu gerbang masuk ke dunia orang mati di lautan sebelah barat. Namun Billaq Takkajo enggan melakukan pekerjaan itu, karena katanya nasib yang sudah ditentukan bagi seseorang tidak boleh diubah.

BILLA TAKKAJOE :

Kur jiwamu, Paduka Adikku Patotoqe dan paduka adikku Datu
Palingeq , semoga Datanglah semangat kahyanganmu,nasib
yang sudah ditentukan bagi seseorang tidak boleh diubah.maaf
adinda tak mampuh melaksanakan perintah Paduka.

PATOTOQE :

Kur Jiwamu, Paduka Adinda Billaq Takkajoe, hanya bentuk
wujud We Oddang Riuq akan diubah, bukan nasibnya. Nasibnya
ialah dicintai oleh semua orang dan sesudah dia menjadi padi,
We Oddang Riuq akan terus dicintai oleh semua orang.

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Tetapi Billaq Takkajoe tetap saja masih ragu-ragu, Ia masih saja khawatir kalau-kalau orang tidak menyukai We Oddang Riuq sesudah dia menjadi Sangiang Serri nanti.
Untuk meyakinkannya, To Palanroe bertitah kepada Billaq Takkajoe .

TO PALANROE:

Jadilah atas kehendak Dewata , salah satu perhiasan kuku We
Oddang Riuq menjadi ikan, sehelai rambutnya menjadi kelapa,
dan sepotong baju suteranya yang bersungkitan menjadi
sorghum atau gandung yang kuning, putih dan merah, sekoi
atau jawawut yang berkaitan, jelai yang berbulir, segala macam
sayur-sayuran dan ribuan burung.

DATU PALINGEQ :

Lalu, semuanya dimasak dan dihidangkan kepada penghuni
langit yang sangat senang dengan makanan itu.

Dalam sekejab saja semua terhidang didepan para dewata, para Dewata lalu melahapnya tampa tersisa sebulirpun.

PARA DEWA :

Sungguh enak rasanya makanan Sangiang Serri ini?

TO PALANROE :

Ini baru lauk-pauknya. Tapi yang akan disebut padi jauh lebih
Enak dari lauk-pauk itu.

PAPARAN ADEGAN 13.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Sekarang Billaq Takkajo siap sedia untuk mencincang We Oddang Riuq. Untuk Pekerjaan itu diperlukan prosesi supaya rohnya dapat dipindahkan ke dunia orang mati yang disebut Amalingeng atau “tempat kebingungan” oleh dewata penguasanya yang bernama La Wero Ileq atau “Kilauan Kilat”, sesudah diseberangkan melalui “api bernyala”.

Sebelum pekerjaan itu dimulai, para pendeta Bissu mengadakan upacara yang disebut “Lawolo”, dengan menyanyikan lagu suci . Lalu We Oddang Riuq dicincang di atas batu yang disebut “batu kilat” yang berasal dari Gunung Latimojong, dan hasil cincangannya dimasukkan ke dalam sebuah guci yang dijaga selama 70 hari dan 70 malam.

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Setelah 70 hari dan 70 malam terlewati ,tibalah saatnya guci itu akan dibuka. Waktu guci itu mau dibuka, tutupnya baru mau terbuka sesudah Puang Matoa atau pendeta agung dari Leteng Riuq menyanyikan sebua lagu suci yang disebut memmang, dan sesudah To Palanroe membaca mantranya. Akhirnya, guci itu terbuka, ternyata We Oddang Riuq sudah berubah bentuk menjadi sebatang padi.

PAPARAN ADEGAN 15.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Prosesi penguluran padi ke sebelah barat Dunia Tengah , pada suatu tempat yang dinamakan “pusar tanah kemenyan”. Dalam prosesi itu, timbul banyak kesulitan. Pertama-tama usungan Sangiang Serri tidak mau bergerak sebelum dua Puang Matoa menyanyikan memmangnya . Sesudah dia tiba di Dunia tengah “Aleq Linoq”, padi tidak mau tegak meskipun dua Puang Matoa lain memercikkannya dengan air suci passiliq dan meskipun para Bissu melakukan saboq yaitu tarian keliling yang diiringi nyanyian. Malah para penari Bissu itu tertimpa kebisuan. Baru sesudah Datu Patotoq dan Datu Palingeq sendiri turun ke Bumi dan membaca mantra mereka, padi mau juga tegak meskipun belum mau menghijau.

PAPARAN ADEGAN 16.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Sesudah To Palanroe mengucapkan lagi memmang dan memercikkan para pengikut Sangiang Serri dengan air suci, mereka itu menjelma menjadi macam-macam binatang perusak padi seperti burung pipit, walang sangit, ulat, belalang dan babi, sedangkan ibu susuan We Oddang Riuq menjelma menjadi si kucing yang tiga macam warna bulunya atau meong mpalo karellae, yaitu penjaga dan pembela padi.

Sementara itu ribuan sepupunya yang berderajat lebih rendah daripada We Oddang Riuq , yang tadinya mau memperisterikannya, menjelma menjadi badai yang biasa merusakkan padi, sedangkan tujuh sepupunya yang sederajat dengan dia menjelma menjadi tujuh perbintangan yang mendatangkan hujan yang baik bagi padi.

Kemudian ikan-ikan besar segala macam yang berasal dari hiasan kuku We Oddang Riuq di serahkan kepada Billaq Takkajo yang menjadi penjaganya di “sungai yang gelap gulita” di Marapettang, dan baru akan dapat ditangkap oleh manusia yang betul-betul rajin menyembah dewata.

PAPARAN ADEGAN 17.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Sesudah tujuh bulan di Bumi, padi telah berkembang biak. Pada suatu hari Sangiang Serri menjelma kembali berbentuk We Oddang Riuq dan dia naik kembali ke Ujung Langit diikuti oleh ibu susuannya. Di situ, dia memberitahukan Datu Patotoq dan Datu Palingeq bahwa yang makan padi di Bumi hanya binatang-binatang dan burung-burung, sedangkan belum ada manusia yang tahu makan padi; mereka makan sagu terus. Maka pasangan dewata mengambil keputusan, cucu To Palanroe yang bernama Lette’ Pataloq, anak Tellettuq Sompa, akan dikawinkan dengan We Remmang Guttuq dan mereka akan diulur ke Bumi uniuk memberikan pengajaran tentang padi kepada manusia.

PAPARAN ADEGAN 18.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Pada pesta perkawinan Letteq Pataloq dengan We Remmang Guttuq itu, diadakan jamuan besar, dan untuk itu dibakar ribuan kerbau serta ikan yang terbang sendiri dari Marapettang ke Langit, dan dimasak pula lauk-pauk serta nasi, yang baru untuk pertama kali dirasakan rasanya oleh seisi Langit. Baru para dewata dan anak dewata dapat meyakinkan diri tentang kesedapan nasi itu. Sesudah upacara perkawinan selesai dan sesudah memmang diucapkan lagi oleh Pendeta Agung Puncak Langit, pasangan Letteq Pataloq dan We Remmang Guttuq diulurkan ke pusat Bumi, di mana mereka akan mengajarkan manusia caranya menuai dan menumbuk padi, memasak nasi, dan menjalankan upacara yang wajib bagi pertanian padi.

PAPARAN ADEGAN 19.

(Narasi dan Illustrasi music + sound effect ).

Meskipun demikian, Sangiang Serri belum puas sepenuhnya, karena di Bumi belum ada saudara sederajat dengan dia yang dapat menemaninya. Katanya, Letteq Pataloq dan isterinya hanya kemenakan, yang tidak dapat mendampinginya. Oleh sebab itu, Datu Patotoq memberitahu bahwa dia akan menurunkan anak sulungnya sendiri, yaitu La Togeq Langiq Batara Guru, yang akan menjadi raja di Luwuq, dan bahvva Batara Guru itu akan disusul oleh banyak lagi to manurung dan to tompoq yang akan mendirikan kerajaan-kerajaan lain. Sesudah dia mendengar perkataan itu, Sangiang Serri kembali ke tempat kediamannya di Bumi di mana dia makin berkembang biak.

(closing Illustrasi music + sound effect ).

PENUTUP.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: