NO 5.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO ( EPISODE 5 . BATARA LATTUQ )

NO 5.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

 ( EPISODE 5 . BATARA LATTUQ )

 Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.

Supervisi           : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

 

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku I LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

 

PAPARAN ADEGAN 1.

 

( Opening-Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo ,insert sound effect suara burung beterbangan )

 

Waktu berlalu dengan cepatnya. Setelah sekian lama perkawinan antara La Togeq Langiq batara guru dengan We Nyiliq Timoq, begitupun akhirnya We Nyiliq Timoq hamil dan mulai mengidam. Sejumlah besar benda-benda ajaib yang diinginkannya yang sangat sulit diperoleh. Batara Guru menyuruh burung La Manrusereng dan berbagai jenis burung lain untuk mencari segala yang diminta oleh We Nyiliq Timoq. Maka Dalam sekejab mata saja berterbanganlah burung-burung itu ke segala arah, dalam waktu singkat kembalilah mereka dengan membawakan segala yang diingini oleh Sang Puteri We Nyiliq Timoq.Batara guru mengajaknya bersiram dengan lengkap, setelah itu barulah disajikan segala santapan yang diidamkannya.

 

PAPARAN ADEGAN 2 .

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo ,insert sound Effect suara burung berterbangan ).

    

Walaupun sudah terpenuhi segala keinginannya, Akan tetapi ngidam We Nyiliq Timoq makin aneh, We Nyili Timoq masih menginginkan lagi hal hal yang aneh lainnya.

                

                 WE NYILIQ TIMOQ ;

                

                 Kakanda Togeq Langiq Batara Guru ,kalau Engkau benar benar

                 mencintai Adinda dan mencintai anakmu kelak yang akan lahir

                 Adinda menginginkan air pasang sampai ke kaki istana, karena

                 Adinda ingin melihat kapal-kapal berlabuh di situ, melihat nelayan

                 mengangkat naik jaringnya dan melihat mereka menangkap

                 ikan-ikan ajaib yang ada di samudera yang terdalam.

 

PAPARAN ADEGAN 3 .

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo ,insert sound effect suara air laut pasang dan angin kencang).

 

Dengan bergegas La Togeq Langiq Batara Guru memakai pakaian kebesarannya dengan segala tanda-tanda kemanurungannya, lalu Ia duduk di atas singgasana, menyembah ke Boting Langiq dan Dunia Bawah Uriq Liuq dan menghimbau Sinauq Toja untuk menaikkan air pasang sampai ke kaki istana sesuai dengan permintaan We Nyiliq Timoq.

 

Sang Maha Dewi Sinauq Toja mendengarnya, kemudian Guru Riselleq pun memerintahkan memanggil Dewa Dewa Dunia Bawah berkumpul. La Balaunnyiq pun datang dengan raja-raja bawahannya. Pada tengah hari mulailah badai dan taufan mengamuk, suasana di Bumi Aleq Linoq gelap gulita, pelangi yang tujuh warna nampak dekat dengan tiang agung istana, air yang selalu diidam-idamkan oleh We Nyiliq Timoq telah sampai ke Dunia Tengah Aleq Linoq.

 

Tak Lama kemudian, Cuaca menjadi cerah lagi, We Nyiliq Timoq menjadi puas melihat ikan dari hasil jaring juga telah ada. Batara Guru dan We Nyiliq Timoq bersiram sekali lagi dalam peraduan istana, setelah itu We Nyiliq Timoq memakan makanan yang dibawakan oleh para burung.

 

PAPARAN ADEGAN 4 .

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo ,insert sound Effect suara perang tanding antar raja raja bawahan ).

 

Hari hari berlalu demikian cepatnya. Kehamilan We Nyiliq Timoq genap sudah tujuh bulan, datanglah para dukun bersalin untuk melakukan kewajibannya. Puang matoa datang berkunjung lengkap dengan segala sesuatu yang diperlukan. Hari-hari menjelang Sang Permaisuri bersalin ternyata hari-hari yang sangat sulit. La Togeq Langiq Batara Guru memerintahkan raja-raja bawahan Luwu dan Ware’ datang menghadap dengan membawa kelengkapan perang mereka. Ketika mereka dengan anak buahnya berkumpul, diperintahkanlah mereka untuk saling menyerang, juga orang-orang kate, bulai dan lain-lain. Mereka bertarung dan saling membunuh.

 

PAPARAN ADEGAN 5 .

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo ,insert sound effect suara orang mau melahirkan ).

 

Batara Guru pun membaca mantera sambil memanggil puteranya yang belum lahir dengan namanya agar keluar dari Rahim We Nyiliq Timoq ibunya.

 

           BATARA GURU :

          

           Wahai anakku junjungan orang banyak di Kerajaan

           Aleq Linoq,Keluarlah Engkau dari Rahim Ibundamu,

           Sesungguhnya Engkau adalah titisan Dewa dari Boting

           Langiq dan titisan Dewa dari Uriq Liuq.Kau akan menjadi

           raja Luwuq dan Wareq, karena Aku akan naik kembali

           ke Boting Langiq segera Setelah engkau di lahirkan,kerajaan Aleq

           Linoq akan kuwariskan kepadamu.

 

PAPARAN ADEGAN 6 .

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo ,insert sound effect suara orang melahirkan,suara badai dan angin kencang serta bumi yang bergoncang ).

 

Maka lahirlah Batara Lattuq, kelahirannya disertai mengamuknya unsur-unsur alam sulapa eppa yaitu tanah, air, angin dan api ,sehingga Bumi menjadi gelap gulita. Batara Guru bersukacita dengan puji-pujian yang diucapkan oleh para dukun bersalin tentang sang bayi. Sambil memberikan hadiah-hadiah diajaknya bayi itu memekik. Hadiah itu terdiri dari benda-benda pusaka yang dibawanya dari Boting Langiq, yakni sebuah keris beserta kain pengikatnya. Sang bayi pun semakin memekik. Lalu Batara Guru memberikannya lagi hadiah-hadiah yang lain berupa cincin yang berasal dari Datu Patotoqe dan Datu Palingeq serta sebuah penutup kepala yang terbuat dari emas.Pada akhirnya Batara Guru sang ayah berhasil menghentikannya memekik.

 

PAPARAN ADEGAN 7.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo,insert sound effect suara rombongan pawai dan mengucapkan puji pujian ).

 

We Saungriwu memasukkan tali pusarnya ke dalam sebuah guci kemudian menutupnya dengan sehelai kain yang sangat berharga,dibuatkannya tempat meletakkan guci itu di samping tiang agung istana. Tujuh hari setelah kelahiran Batara Lattuq, pada pagi harinya tali pusarnya dibawa turun dari istana dalam suatu usungan, di atasnya dikembangkan sebuah payung, seorang bissu dalam usungan itu memangkunya dalam sebuah peti kecil, para bissu laki-laki memanggil “ Kur Sumanga” dengan riangnya. Pawai Para Bissu itu berkeliling Istana sebanyak tiga kali.

 

PAPARAN ADEGAN 8 .

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo,insert sound effect suara rombongan pawai dan mengucapkan puji pujian ).

 

Manakala Batara Lattuq telah berusia tiga bulan, We Nyiliq Timoq berkehendak menempatkannya di atas ayunan yang tinggi. Batara Guru memanggil ketiga puang matoa datang, raja-raja bawahan Luwu dan Ware’ dan Kau-Kau juga dipanggilnya, demikian pula kesatria-kesatria dan orang-orang besar dari negeri-negeri seberang lautan. Para puang memegang pimpinan dalam mempersiapkan peralatan. Ayunan dilumuri dengan darah binatang yang telah disembelih. Keesokan harinya, pagi-pagi mereka masuk ke dalam istana sambil menyajikan litani disamping ayunan yang dibawa ke bagian depan istana, diiringi oleh bissu-bissu yang sedang melakukan seremoni. Tiba di tempat sang bayi dibaringkan dalam istana, ayunan dilumuri sekali lagi dengan darah dan diberi tirai.

 

                              

                   PARA PUANG MATOA

                  ( diucapkan berulang ulang)

                  

                   Kur semangatmu putra titisan dewata, para bissu akan Menjaga

                 anak raja yang diasuhnya membasahinya dengan air mata siang

                 dan malam.

 

PAPARAN ADEGAN 9 .

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo,insert sound effect suara orang menyabung ayam ).

 

Waktupun berlalu dengan cepatnya.Tujuh tahun sesudah diadakan upacara pijak tanah Batara Lattuq dengan kenduri yang sangat besar,diundanglah sekolong langit dan sepetala bumi,selama itu pula gelanggang sabungan ayam tetap ramai.Tiada hari tanpa pembesar dari penguasa negeri indah,bertempat tinggal di seberang lautan,yang sejak muda telah terbiasa mengasah taji,

lalu Batara Lattuq tumbuh menjadi besar di dalam gelanggang,Para anak raja berdatangan main judi di Ale Luwuq. Selama itu pula Batara Lattuq bersaudara tak membiarkan sunyi gelanggang itu.Menyabung Ayam dengan ramai dari hari ke hari saja yang dikerjakannya.

 

PAPARAN ADEGAN 10.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo, ).

 

Pada suatu hari Manurungnge suami-istri menuju ke depan balairung mengepalai duduk beradat.Manurungnge mencari anaknya Batara Lattuq.

 

               BATARA GURU :

              

               Kur jiwamu, Paduka adinda We Nyiliq Timoq,semoga Datanglah

             semangat kahyanganmu .Kemanakah Gerangan anakmu Adinda We

             Nyiliq Timoq,tiada nampak olehku Batara Lattuq di ruang balairung ?

 

               WE NYILIQ TIMOQ :

              

               Kur jiwamu, Paduka kakanda Batara Guru,semoga Datanglah

             semangat kahyanganmu.Sudah tiga bulan anakmu Batara Lattuq

             gelisah karena Perempuan,Tiada tenang karena gadis-gadis.

               Setiap matahari terbit ia pergi ke gelanggang ditimbuni sirih

               kiriman gadis-gadis.Tujuh kali ia datang di ke kampong

               dalam sehari.Setelah berada di luar kampong baru ia

               diramaikan dengan adat kebesarannya.

 

               BATARA GURU :

                

               Hai Adinda We Nyiliq Timoq,tidakkah sudah kukatakan

               padamu .Perhatikanlah makanan para hamba karena tujuh

                 kali mereka makan dalam sehari, tiga kali makan Dalam

               semalam.Jagalah baik-baik pakaian hamba bergelang sebaya

               Anakmu Batara Lattuq, karena merekalah pengiring kemana

               anakmu pergi.

 

PAPARAN ADEGAN 11.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo, ).

 

Bergegas La Togeq Langiq Batara Guru dan We Nyiliq Timoq segera berdiri menuju ke depan, langsung ke ruang tamu disaksikan oleh kerabat kerajaan.

We Nyiliq Timoq membuka jendela kemudian menjenguk keluar maka tampaklah anaknya Batara Lattuq duduk dikerumuni dayang-dayang yang bergelang emas, diramaikan oleh inang pengasuh, Batara Lattuq melepas ayam dan mengangkat sabungan andalannya,sedikit pun tak canggung berada di tengah orang banyak.Bagaikan anak orang Boting Langiq turun menjelma dan bertingkah sepantas dewa, tak canggung berada di tengah orang banyak melepas ayam dan mengangkat sabungan,di bawah naungan payung emas.

 

 

                 WE NYILIQ TIMOQ :

                

                 Lihatlah tingkah anakmu wahai Datu manurung Kakanda Batara

               Guru, kiranya sudah saatnya anak kita duduk bersanding pada

               pelaminan emas kemilau. Sebaiknya kita carikan isi usungan

               kencana sesamanya raja yang memerintah, yang sederajat,

               berdarah putih,sesamanya keturunan berdarah langit turun

               menjelma,atau turunan Toddang Toja yang muncul ke dunia.

 

                 BATARA GURU :

                

                 Hanya tiga negeri indah tempat manurung berharap.yaitu

                 Luwuq,Tompoq Tikkaq dan Wewang Nriuq. Hanya yang menjadi

                 halangan karena kabamya Tompoq Tikkaq pernah ditimpah

                 musibah,Sangiang Serri tidak dipanen,padi menjadi ilalang,

                   jewawut menjadi rumput, semua bahan makanan demikian

                 pula halnya.Segala yang berisi tak dapat dipanen.Kendati mereka

                 memindahkan ke negeri asing ujung pematang sawahnya,

                   tetapi apabila mereka orang Tompoq Tikkaq, maka hampalah

                 segala bahan makanannya.”

 

                   BATARA GURU :

                  

                   Kalau demikian adanya. Sengngeng Mallino adindaku We Nyiliq

                 Timoq. biarlah daku naik ke Boting Langiq menghadap Penguasa

                   Boting Langiq Datu Patotoqe suami-istri. memohonkan isi

                   Usungan yang sederajat dengan anak kita.Atas kehendaknya Sri

                 Paduka Di Boting Langiq,barulah La Rumpang Langiq Batara

                 Lattuq mendapatkan jodohnya.”

                  

PAPARAN ADEGAN 11.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo, ).

 

Ketika waktu tengah hari yang cerah di Aleq Linoq , bayang-bayang tidak di timur,sinar matahari sudah tidak di barat,Batara Guru bangkit mengenakan pakaian yang dipakai turun ke dunia, lalu duduk pada peterana emas, membuka cerana lalu menyirih,menghening cipta dan membaca mantera, menyembah ke atas ke Ruallette,menadahkan kedua tangan ke Peretiwi.

 

             BATARA GURU :

            

             Berbunyi Tujuh kalilah halilintar bersahut-sahutan,

             bersahut-sahutanlah kilat dan guntur,

             sabung-menyabung guntur,

             berbalas-balasanlah petir,

             Berpijar-pijar api dewa

             Yang dirangkai dengan topan dan awan mendung

 

maka seketika datanglah gelap gulita, tiada terlihat tapak tangan meskipun dibalik.Istana bagai hendak melayang,bumi bagai hendak runtuh,

bergoyangan pepohonan kayu yang menjadi pemagar kampung

memabukkan penyadap,menjinakkan kerbau bersama gembala

menyesatkan orang di hutan.Kini pelangi yang tujuh warna tegak berdiri di tengah-tengah ruangan istana.

 

PAPARAN ADEGAN 12.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo, insert sound effect suara Guntur dan halilintar ).

 

Maka Bagai kilat Batara Guru naik ke Boting Langiq diantar oleh guntur, diangkat oleh petir halilintar, dituntun oleh api dewa,diikuti oleh awan,awan mendung dan topan,diramaikan oleh badai.

 

Batara Guru kini telah sampai di Senrijawa menuju ke istana guntur menggelegar,dibukakan pekarangan kemilau,menaiki anak tangga kilat langsung naik,dipegangkan susuran kilat, melangkahi lantai papan kemilau.

Datu Palingeq menyambut kedatangan Batara Guru di Istana Boting Langit.

 

                       DATU PALINGEQ

                      

                       Kur jiwamu, Paduka anakda Batara Guru ,semoga

                       Datanglah semangat kahyanganmu.Masuklah duduk anakda

                       Batara Guru, di atas permadani kemilau.

           

                       PATOTOQE :

                      

                      

                       Kur jiwamu, Paduka anakda Batara Guru ,semoga

                       Datanglah semangat kahyanganmu.anakda Batara Guru

                     menyembahlah tiga kali,baru engkau duduk,sebab Walaupun

                     engkau kulahirkan,engkau adalah manusia sedang aku adalah

                       dewa. Engkau telah kutempatkan menjadi manusia di dunia

                       untuk meneruskan kemuliaan atas namaku di bumi.

 

Bergegas Batara Guru segera menyembah tiga kali,kemudian masuk duduk

di atas permadani kahyangan,lalu disorongkan cerana kilat tempat sirihnya Mutia Unruq.

 

                         DATU PALINGEQ

                          

                         Ambillah sirih dan Menyirihlah anakda Batara Guru

                           Sang kekasih We Nyiliq Timoq

           

                           PATOTOQE :

                          

                           Apakah gerangan hajatmu anakda Batara Guru,

                           hingga engkau naik ke Boting Langiq,membuat hambar

                         negeri di Senrijawa karena telah mengasapinya dengan bau

                         manusia? Bukankah semua warisanmu telah kusediakan di

                         Aleq Linoq ?

           

Batara Guru menyembah kepada Mutia Unru dan To Palanroe.

 

                           BATARA GURU :

                          

                           Sebabnya aku naik ke Boting Langiq

                           karena hambamu yang engkau jadikan bibit di dunia

                           telah besar Tuanku,sudah saatnya duduk

                           bersanding di atas pelaminan emas,

                           maka daku berkata,Biarlah daku menemui

                           orang tuaku di Boting Langiq

                          memintakan jodohnya yang sederajat

                           yang sama-sama keturunan langit,

                           yang sama-sama berdarah putih.’

                           Sebab tak ada padanannya, Paduka,

                           di Ale Luwuq dan di Watang Mpareq,

                           sedang aku tak mau diganti oleh bangsawan campuran.

 

                           PATOTOQE :

 

                             Andaikata bulan yang lalu engkau naik ke Boting

                             Langiq,sebelum kujatuhi musibah negeri di Tompoq

                             Tikkaq.Tetapi kini La Urung Mpessi telah mati,We

                             Pada Uleng telah meninggal pula,padahal dia

                             mempunyai dua orang anak perempuan.

                             Segala harta bendanya telah dilucuti,

                             kerajaannya dipindahkan,seluruh kemuliaannya

                             telah dibuang.

 

                             DATU PALINGEQ :

                          

                             Maka mereka membuang dirinya di tempat yang jauh.

                             Sebabnya aku mencabut nyawanya,kujatuhi musibah

                             negeri itu,We Pada Uleng dan La Urung Mpessi,

                             pernah mengadakan hajatan , mereka mengundang

                             sekolong langit dan sepetala bumi,tetapi tak ada tamu

                             yang datang sehingga dingin nasinya,

                             lalu dibuangnya ke tanah,dibawanya Sangiang Serri

                             ke sungai,dan membuangnya pada air mengalir.Maka

                             kuperintahkan Paddengngeng,Peresola,orang Sunra ,

                             orang Alebboreng Pulakalie,turun ke bumi memberi

                              bencana negeri Tompoq Tikkaq.Tersebutlah segala

                             bahan makanan dan biji-bijian gagal,

                             kendati mereka pindahkan ke negeri asing ujung

                             pematang sawahnya,jika mereka orang Tompoq

                             Tikkaq, maka segala biji-bijian tidak akan menjadi.

 

Batara guru termenung mendengarkan perkataan kedua orangtuanya.

 

                             PATOTOQE :

                            

                            Anakda Batara Guru, janganlah hendaknya

                             engkau menyusahkan hatimu,karena belum ada jodoh

                             yang sederajat dengan keturunanmu.

                             Sudah kupulangkan We Adiluwuq bersaudara

                             di kampungnya kembali bersemayam di istananya.

                             Tiga puluh malam lamanya membuang diri

                             di tempat yang jauh lalu keduanya kembali lagi di

                             kampungnya.

           

                             DATU PALINGEQ

                            

                             Anakda Batara Guru, turunlah dahulu,

                             nanti kuperintahkan untuk menurunkan anakmu

                             perahu emas yang akan ditumpanginya berlayar

                             mencari jodoh sederajatnya di Tompoq Tikkaq.

                               Janganlah hal ini menyusahkan hatimu di Aleq Linoq.

                               Semuanya di Boting Langiq dipersiapkan

                              mahar orang Selli, pemberian yang banyak,

                               serta hadiah yang tak kembali dari Batara Lattuq,

                               perlengkapan upacara perkawinannya,

                               harta benda yang dibawa berlayar,

                               pergi mencari jodoh sederajatnya.

                               Kelak akan kujelmakan di bumi,   

                               kuturunkan ke Aleq Luwuq,

                               yang disertai kelengkapan yang sempurna

                               perahu besar yang manurung

                               dimunculkan di atas air beserta anak perahunya.

                               Sembilan hari nanti lamanya anakda Batara Guru,

                               setelah engkau kembali dari Boting Langiq

                               akan muncul di atas air,

                               engkau lihat perahu besar yang diturunkan,

                               Mariogae, La Siang Langiq, Rakka-Rakkae,

                               Banynyaq Lompae, I La Patibo, Anging Laloe,

                               I La Tiwajo, Angin Tengnga6 dan Banynyaq Lompae,

                             ada seribu perahu pengiringnya.

                               Sekian pula banyaknya perahu besar pendampingnya

                               perahu besar yang manurung.

                               Ratusan tumpangan orang banyak,

                               tak terhitung lagi perahu mulia pengiringnya,

                             perahu emas yang manurung.

                               Nanti engkau beri korban di sana,

                               engkau perciki dengan air suci emas,

                               engkau jemput dengan tarian,         

                               kau patahkan untuknya bambu emas,

                               kau sambut ia dengan kur semangat.

                               Lima malam setelah diupacarakan

                               barulah mereka berlayar ke Tompoq Tikkaq.

                               Semoga tak terhalang kepergiannya,

                               tak kandas perahu emas tumpangannya

                             hingga menemui isi usungan sederajatnya.”

           

PAPARAN ADEGAN 13.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo, insert sound effect suara Guntur dan halilintar ).

 

Segera pula Batara Guru minta pamit ke Kerajaan Aleq Linoq.To Palanroe suami-istri mempersilakan.Batara Guru turun diangkat oleh petir berbalasan, didahului oleh badai,diramaikan oleh api dewa,bertelekan pada pelangi, melangkahi mega yang berarak.

 

Ketika tengah hari di Aleq Linoq.Batara Guru telah sampai di istananya,

langsung duduk di atas peterana emas manurung,dikipas dengan kipas emas dari Senrijawa,dikitari kipas emas dari Ruallette’.Setelah duduk melepas lelah We Nyiliq lalu menyapa.

 

                 WE NYILIQ TIMOQ :

                

                 Kur jiwamu, Paduka kakanda Batara Guru,semoga

                 Datanglah semangat kahyanganmu

                 Bagaimana gerangan ucapannya

                 Baginda Datu Patotoqe suami-istri?”

           

                 BATARA GURU :

                

                 Kur jiwamu, Paduka Adinda We Nyiliq Timoq ,semoga

                Datanglah semangat kahyanganmu. Sri Baginda suami-istri

               berkata, Adinda,Seandainya bulan lalu      

                 engkau naik ke Boting Langiq,         

                 sebelum ditimpakan musibah negeri Tompoq Tikkaq,

                 engkau mintakan jodoh yang sederajat untuk

                 Batara Lattuq,sesamanya orang Ruallette

                 diturunkan ke bumi,sesamanya orang

               ToddangToja dimunculkan ke dunia.

               Tetapi We Pada Uleng telah mati,

                 La Urung Mpessi pun sudah meninggal.

                 Ada dua anaknya perempuan,

                 tetapi sudah dirampas harta bendanya,

                 dipindahkan kerajaannya,

                 lalu mereka membuang diri ke tempat yang jauh.

                 Patotoqe juga menjanjikan Janganlah hatimu gusar

                 karena belum ada isi usungan

                 yang sederajat dengan anakmu.

               Turun saja dahulu ke Aleq Linoq,

                   akan kupulangkan We Adiluwuq bersaudara

                 ke karnpungnya,tinggal menetap di istananya,

                   lalu datang berlabuh perahu emas

                   yang ditumpangi anakmu ke Tompoq Tikkaq.

                  Akan kuturunkan nanti,

                   perahu emas yang akan dipakai berlayar

                   mencari jodoh sederajatnya di Tomp’oq Tikkaq,

                  yang sama-sama keturunan dari langit,

                   yang diturunkan menjelma di Ale Lino,

                 sesamanya berdarah putih.

                   Lengkap dengan anak perahunya diturunkan

                 ke Aleq Linoq.Moga-moga tak terhalang kepergiannya,

                 tak akan kandas perahunya menemui

                 isi usungan sederajatnya.

           

( closing Illustrasi theme song I La Galigo).    

 

SELESAI.

 

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: