NO 6.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 6 . ( PULANGNYA ANAK YATIM KE TOMPOQ TIKKAQ )

NO 6.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

 

EPISODE 6 . ( PULANGNYA ANAK YATIM KE TOMPOQ TIKKAQ )

 

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.

Supervisi               : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

 

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

 

PAPARAN ADEGAN 1.

 

(Narasi dan Opening lagu Theme Song I La Galigo )

 

Angin menderu diatas Istana Tompoq Tika yang sepanjang musim dilanda kemarau.Suatu hari Ketika fajar menyingsing kokok ayam masih bersahut-sahutan,We Temmamalaq bangun dari tidurnya lalu ke depan istana , dilihatnya di bawah tangga istana, We Adiluwuq bersaudara bergegas masuk ke dalam pekarangan istana .Dengan tergesa-gesa We Temmamalaq berdiri menaburkan beras segenggam.Pengasuh itu menangis melihat anak yatim bersaudara telah bersimpuh ditangga istana.

 

         WE TEMMAMALAQ :

        

         Kur jiwamu, Paduka Ananda bersaudara,datanglah

         semangat kahyanganmu, naiklah kemari di istana, anak dua

         beradik,We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng putri putri kerajaan

       Tompoq Tika.

           

PAPARAN ADEGAN 2.

 

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

 

Dengan gemulai seperti juga anak titisan dewata, We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng menaiki tangga,berpegang pada susuran kemilau dan melangkahi ambang emas,menginjak lantai yang berkilauan, anak yatim bersaudara itu melangkahi sela gelegar.Alangkah gembiranya inang pengasuh itu dan langsung saja memeluk kedua putri raja asuhannya itu.

           

         WE TEMMAMALAQ :

        

         Anak-anakku yang cantik jelita , naiklah kemari pada lambung istana

       pada lorong rumah raja ini.Paduka Ananda, aku bersyukur,karena kita

         bertemu kembali di istana, Nak, kau lihat sendiri ,sudah kulepaskan

       tanda berkabungku sebab engkau masih hidup dua bersaudara dan aku

       pun masih hidup kau dapati disini .”

           

Lalu kedua putri raja itu, We Adiluwuq bersaudara duduk pada lambung istana lalu kedua anak yatim itu memijit perutnya sembari berkata.

           

         WE ADILUWUQ :

        

           Aku sangat lapar Inangda We Temmamalaq .masihkah ada yang bisa

         dimakan didalam dapur istana ?

 

         WE TEMMAMALAQ :

          

           Kalau begitu biarlah Untuk ananda berdua akan kubuatkan engkau

         bubur, Paduka Ananda.

 

         WE ADILUWUQ :

          

           Inangda We Temmamalaq, siapakah yang memberikan engkau beras

         makanan?”

           

         WE TEMMAMALAQ :

        

       Aku cari upah menumbuk padi siang malam sepeninggalmu ananda

         We Adiluwuq

 

PAPARAN ADEGAN 3.

 

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

 

Dengan bergegas We Temmamalaq Sang Inang Pengasuh itu lalu berdiri membuatkan anak yatim itu bubur pada pecahan kuali.Kini sudah masaklah nasinya dan matang pula lauknya.

           

       WE ADILUWUQ :

        

         Siapa pula Inangda yang memberi engkau ikan besar yang kau

         masak itu ?”

 

         WE TEMMAMALAQ :

        

         Nak, dengan kerja keras aku mencari upah mengambil air

         sepeninggalmu.”

 

We Temmamalaq inang Pengasuh itu bangkit mengambilkan piring yang pecah dan menyendokkan bubur untuk anak raja asuhannya itu.

           

         WE ADILUWUQ :

        

         Inangda We Temmamalaq, Ambillah bara api, Inangda,aku ingin

         mengangkatkan jasad dewa arwah Turung Belae suami-istri.Nanti

         sesudah diangkatkan jasad dewa arwahnya,barulah daku, Inangda,

         makan bersama bersaudara.”

 

Bangkitlah Inang Pengasuh mengambil bara api pada pecahan pedupaan.Masih ada tersisa secuil dupa kemenyan dibungkus dengan cabikan kain cindai.Segera We Adiluwuq bangkit lalu duduk pada pangkal tiang turus rumah.Dibakarnya dupa itu untuk tolak bala Untuk kedua arwah orang tuanya.

           

       WE ADILUWUQ :

        

         Makanlah engkau yang tinggal pada tiang lurus rumah,

         mudah-mudahan terbukti kata bissu,semoga benarlah mimpi

         nyata yang dirasuk dewa langit lalu bissu menari sambil

         mengatakan, I La Jiriu tak akan terbuka jodohnya kalau

         bukan We Adiluwuq yang ia peristrikan.Batara Lattuq tak

         akan bertemu jodohnya kalau bukan We Datu Sengngeng

         yang ia persuntingnya .”

 

Kemudian We Datu Sengngeng bangkit berdiri dan juga ikut membakar

dupa tolak bala.    

 

         WE DATU SENGNGENG :

          

           Makanlah engkau yang tinggal pada tiang lurus rumah,

            semoga di sini akan berlabuh para pedagang pelayar,

            membawa wangkang lalu berlabuh di muara,

           supaya dialah yang berjodoh dan berkesampaian cintanya.

           

PAPARAN ADEGAN 4.

 

(Narasi dan Illustrasi music tradisi ,insert sound effect suara cecak dan tokek )

 

Bunyi cecak pun bersahut-sahutan mengiakan pada balok melintang nan kemilau.Kini anak yatim itu bersaudara mulai makan.Sesudah makan mereka pergi mandi pada pecahan tempayan emas.Sesudah mandi mereka mengeringkan badan pada sepotong bangku.

           

         WE ADILUWUQ :

        

         Wahai Inangda We Temmamalaq , di mana gerangan engkau simpan

       Gelang emas yang melingkari lenganku dan sarung indah pakaianku

         bersaudara?”

           

         WE TEMMAMALAQ ;

        

         Telah Kubungkus dengan kain bertambal,kututupi dengan

         pecahan tempayan ,kugantung di bawah dapur.Karena Pernah We

       Tenrijelloq menanyakannya, katanya, Inangda, apakah gerangan ini

         yang digantung di bawah dapur? Kujawab ia dengan mengatakan,Tahi

         bayi hambamu tuanku,Saat mulanya Barang barang itu terlentangnya

         pada permadani emas.'”

           

PAPARAN ADEGAN 5.

 

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

 

Dengan Bergegas We Temmamalaqpun bangkit menelusuri bendul lalu melangkahi sela gelegar, tunduk mengambil pakaian tua yang digantung lalu kemudian dibawakannya anak raja asuhannya. We Adiluwuq sendiri yang membuka pengikatnya, lalu mengeluarkan gelang emas pakaiannya,juga sarung sutera penghias dirinya.Maka We Adiluwuq menyaksikan kembali, gelang emas yang pernah melingkari lengannya, enam puluh lima biji sebelah,disekat oleh gelang lolaq bepermata,dihiasi cincin berukir yang berat melingkari jari tangannya,dan kuku tiruan emas,serta anting-anting puluhan tahil.Lalu ia pun memasang pakaiannya,sarung sutera merah bersulam,yang bermotif ular sawah,dijelujur dengan ular merah,bersandar pada orang pendek, disulam emas tujuh kati bahagian bawahnya, lima kati di bahagian atasnya.Dipadu dengan baju sutera merah bersulam,bermotif mayang kemilau bertaburan,bunga bintang yang berhamburan,yang dihinggapi burung garuda,dan berpinggir emas tiga kati.

 

PAPARAN ADEGAN 6.

 

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

 

Sementara Waktu itu pula, We Datu Sengngeng mengenakan gelang emas yang melingkari lengannya.enam puluh lima biji sebelah,disekat dengan gelang lolaq bepermata,cincin berukir yang berat,kuku tiruan emas, anting-anting puluhan tahil.Ia pun mengenakan sarung mengkilap bersulam,dengan motif gambar ular sawah,dipadu dengan motif ular merah,tersandar pada orang pendek, dan dihinggapi burung garuda tujuh kati di bahagian bawahnya, lima kati di bahagian atasnya, berkalungkan bunga matahari dan dibubuhi dengan emas sekati.

 

PAPARAN ADEGAN 7.

 

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

 

 

         WE TEMMAMALAQ :

        

         Anakku We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng,Ambillah sirih dari

         cerana emas, menyirihlah kalian dengan daun sirih biar selembar

       saja,pinang kecil walau cuma sekerat.

           

         WE ADILUWUQ :

        

         Inangda We Temmamalaq,siapa lagi yang memberikanmu

         selembar sirih dan pinang kecil?

           

         WE TEMMAMALAQ :

        

         Aku mencari upah dengan memintal benang sepeninggalmu,

         Paduka Ananda We Adiluwuq.

 

We Adiluwuq mengambil sirih,ia pun mengerat pinang itu dengan jari berhias kuku tiruan.Anak yatim bersaudara sama-sama menyirih.Alangkah senang perasaan anak-anak raja kakak beradik itu.Lalu We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng berbaring.

           

        

       WE ADILUWUQ :

        

         Inangda We Temmamalaq, entah mengapa perasaanku tiada tenang,

         ujung jari kakiku sakit,kejang-kejang kedua betisku, hampir putus

       nyawaku,kacau-balau di dalam perasaanku, mataku tiada hendak

       tertidur saat berbaring, Inangda.”

                                    

         WE TEMMAMALAQ :

        

         Makanya tenanglah engkau, Paduka Ananda,supaya enak

         perasaanmu bersaudara.”

           

Dengan bergegas We Temmamalaq Inang Pengasuh itu segera memangku betis anak raja yang diasuhnya,mengusap-usap badannya bersaudara.Maka nyenyak sekali tidurnya anak yatim kakak beradik berdua.Mata We Temmamalaq tak dapat lagi terpejam menjaga anak raja yang diasuhnya

membasahinya dengan air mata siang dan malam.

 

PAPARAN ADEGAN 8.

 

(Narasi dan Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

 

Dalam sekejab saja La togeq langiq Batara Guru turun Dari Boting Langiq Ke Aleq Linoq.Ketika tengah hari dengan teriknya memanggang bumi, Ketika itupun Batara Guru sampai sudah di istananya, Ia langsung duduk di atas peterana emas manurung, dikipas dengan kipas emas dari Senrijawa, dikitari kipas emas dari Ruallette’.Setelah sepemakanan sirih duduk melepas lelah Manurungnge, barulah We Nyiliq Timoq berpaling mendekati batara Guru.

 

         WE NYILIQ TIMOQ :

 

         Kur jiwamu, Paduka Suamiku Batara Guru,datanglah semangat

         kahyanganmu .Bagaimana gerangan ucapannya Baginda I La Patotoq

         suami-istri,kakanda Batara Guru?”

           

         BATARA GURU :

          

         Kur jiwamu, Paduka Istriku We Nyiliq Timoq,datangla semangat

         kahyanganmu Sri Baginda suami-istri berkata, Adinda,Seandainya

         bulan Lalu engkau naik ke Boting Langiq,sebelum ditimpakan

          musibah negeri Tompoq Tikkaq, engkau mintakan jodoh

         yang sederajat untuk Batara Lattuq,sesamanya orang

         Ruallette diturunkan ke bumi,sesamanya orang Toddang

         Toja dimunculkan ke dunia.Tetapi We Pada Uleng telah

         mati,La Urung Mpessi pun sudah meninggal. Ada dua

         anaknya perempuan,tetapi sudah dirampas harta bendanya,

            dipindahkan kerajaannya,lalu mereka membuang diri ke

         tempat yang jauh.Berkata juga Sri Baginda, Adinda,

         Janganlah hatimu gusar karena belum ada isi usungan

         yang sederajat dengan anakmu.Turun saja dahulu ke Ale

         Lino, akan kupulangkan We Adiluwuq bersaudara ke

        karnpungnya,tinggal menetap di istananya,lalu datang

         berlabuh perahu emas yang ditumpangi anakmu ke Tompoq

         Tikkaq.Akan kuturunkan nanti, Ananda,perahu emas yang

         akan dipakai berlayar mencari jodoh sederajatnya di

         Tomp’oq Tikkaq,yang sama-sama keturunan dari langit,

         yang diturunkan menjelma di Ale Lino, sesamanya berdarah

         putih.Lengkap dengan anak perahunya diturunkan ke Ale

         Lino.Moga-moga tak terhalang kepergiannya, tak akan

         kandas perahunya menemui isi usungan sederajatnya.

 

PAPARAN ADEGAN 9.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo).

 

Ayam berkokok bersahut-sahutan, Ketika fajar menyingsing di Aleq linoq, La Togeq Langiq Batara Guru dan istrinya We Nyiliq Timoq bangun membasuh muka pada mangkuk putih,berkaca pada cermin, membuka cerana emas lalu menyirih, duduk berdampingan suami-istri di atas peterana manurung.

 

         BATARA GURU :

        

         Kur jiwamu, Paduka istriku We Nyiliq Timoq,

         Datanglah semangat kahyanganmu.

         Sebaiknya La Tenrioddang dan To Appamadeng,

         Adinda We Nyiliq Timoq perintahkan

         untuk memanggang kerbau ribuan banyaknya.

         Perintahkan pula agar memanggii Puang Matoa

         sang pemilik negeri indah yang kerasukan lalu menari bissu

         di daerah sekeliling Luwuq dan sekitar Wareq,

         supaya mereka membawa perlengkapan bissunya di gelanggang

         mengupacarai kampak menebang kayu arawaq,

         engkau perintahkan mereka keluar ke muara menghiasi bambu,

       menabur menrawe, dan memercikkan air suci.

 

PAPARAN ADEGAN 10.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo).

 

Belum selesai ucapan Manurungnge maka bangkit To Tenrioddang bersamaan berangkat La Marempoba memerintahkan menangkap kerbau ribuan ,mendatangkan Puang Matoa yang menjaga negeri nan indah. Belum lagi hancur daun sirih itu maka datang Puang Matoa dinaungi payung emas di gelanggang.Upacara bissu kini sudah bergemuruh,menderu suara anak mengaji yang banyak, tak saling memberi jalan untuk dilewati,anak buahnya mencabik pucuk enau,membuat hiasan, memercikkan air suci, menebang kayu arawaq,menghias bambu dan memasang menrawe,memancangkan tonggak di pinggir sungai. Ribuan banyaknya tambatan kerbau cemara bertanduk emas,semuanya diikat dengan emas berpilin dari Leteng Nriuq.

Kini rampunglah semua lalu To Tenrioddang dan To Appamadeng berangkat naik ke istana.Sujud menyembah lalu duduk di hadapan Manurungnge suami-istri.

           

           TO TENRIODDANG :

            

            Kur jiwamu, Paduka Batara Guru Dan Paduka We Nyiliq

           Timoq,datanglah semangat kahyanganmu

             Hamba sudah rampungkan semua peralatan upacara

             kahyangannya puang manurung, yang kerasukan lalu menari

             bisu dan berbicara dengan orang Ruallette.

           

PAPARAN ADEGAN 11.

 

( Narasi dan Illustrasi music Tradisi, insert sound Effect bunyi halilintar dan Guntur serta angin kencang ).

 

Angin Bertiup dengan lembutnya ,Pada saat tengah hari yang cerah di Aleq Linoq, bayang-bayang sudah tidak di timur,sinar matahari pun tidak di barat,tiba-tiba Aleq Linoq menjadi gelap,jari tangan dibalik pun tidak nampak.Tujuh kali halilintar bersahut-sahutan, sabung-menyabung kilat dan petir,sambung-bersambung suara guntur,bergoyangan pohon-pohon,menurunkan penyadap,menjinakkan kerbau bersama gembala, menyesatkan orang di hutan.Bagaikan hendak terbongkar istana,seperti hendak melayang puncak rumah,bagaikan hendak runtuh Peretiwi,tiba-tiba tegak pelangi di tengah laut,menyala-nyala api dewa yang beriringan dengan topan dan badai serta awan mendung dan kabut tebal.Bergetaran badan orang Luwuq, terkejut-kejut orang Wareq.Setelah jelas sampai di bumi perahu besar manurung,

barulah Batara Guru membuka cerana emas lalu menyirih. Berpaling ia membuka jendela emas lalu menjenguk, menyembah naik ke Boting Langiq,menadahkan kedua belah tangan ke Peretiwi,menghentikan topan dan memadamkan kilat.

           

         BATARA GURU :

        

        Maafkanlah kami, Paduka Datu Patotoqe ,hentikanlah

         topan, padamkan dahulu kilat dan petir.

 

Tiba Tiba saja, Bagaikan topan sengaja dipadamkan,bak kilat dan petir dihentikan, awan bagai disisihkan,sementara kilat yang menyala-nyala telah padam, matahari bersinar terang. Maka muncul wangkang besar yang manurung,memenuhi pelabuhan yang tak pernah sunyi.

 

         BATARA GURU :

        

         Wahai La Tenrioddang dan To Appamadeng, perintahkan Untuk

         memanggil orang Luwuq dan orang Wareq,supaya keluar

         menjemput di sungai wangkang besar, manurung dari boting Langiq

 

Sekejab mata saja, Belum selesai ucapan Manurungnge La Tenrioddang dan To Appamadeng memerintah agar segera memanggil orang Luwuq dan orang Wareq Supaya keluar ke sungai menyambut wangkang emas manurung dari Boting Langiq.

 

PAPARAN ADEGAN 12.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo )

 

Hari berlalu dengan cepatnya. Ketika fajar menyingsing keesokan harinya berkumpullah orang Luwuq dan orang Wareq,juga para anak raja pendamping     dan anak bangsawan kapit,pembesar negeri yang menjadi hakim, anak orang kaya para penghulu yang menumpangi usungan gading,tumpangan anak raja pendamping pada berdatangan di hadapan istana lengkap manurung di Ale Luwuq.

           

         BATARA GURU :

      

         Kur jiwamu, Paduka to Tenrioddang,datanglah semangat kahyanganmu,

         perintahkan untuk mempersiapkan upacara kerajaanku.Perintahkan

       juga untuk menurunkan usunga emas tumpanganku,

         usungan kilat tumpangannya ibunda La Rumpang Langiq. Perintahkan

       pula untuk menurunkan usungan kencana emas Batara Lattuq dan

       payung emas yang akan Menaunginya.

 

Bergegas La Tenrioddang pergi ke depan menunjukkan telunjuk jari tangannya agar diturunkan kelengkapan upacara kahyangan Manurungnge. Usungan emas tumpangan We Nyiliq Timoq juga telah turun beserta usungan kencana tumpangan Batara Lattuq.Maka rampunglah semua upacara kahyangan Manurungnge.Batara Guru segera berdiri ditudungi dengan payung emas,We Mata Timoq pun diangkut dengan usungan emas,dinaungi dengan payung kemilau manurung. Para pembawa kipas telah diusung,demikian pula cerana tempat meludah penampung sepah sirihnya

Manurungnge suami-istri dan Batara Lattuq.Para penari dodoq telah maju ke depan,berlarian pula para pemakai topeng.diiringi gong dan dendang Melayu.La Tau Buleng memetik rebab emasnya,La Tau Panceq membunyikan talloq-talloqnya,La Kabenniseng meniupkan ratusan seruling bambu.

 

PAPARAN ADEGAN 13.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo).

 

Seperti pawai pasukan Dewa. Berangkatlah usungan emas yang ditumpangi Batara Guru suami-istri dan Batara Lattuq,didahului oleh barisan tarian alosu emas,beserta sabungan arumpigi dan emas sekati,lalu menyeruduk di bawah menrawe emas,hingga tiba di sungai.Usungan emas yang ditumpangi Manurungnge” suami-istri dan anaknya tiba memenuhi tanjung tempat berlabuh perahu.

           

         BATARA GURU :

        

         La Tenrioddang, perintahkanlah agar segera memercikkan air

         suci,bunyikan genderang yang ramai,juga pasanglah

         menrawe,dan pancangkan bambu emas tempat berlalunya

         wangkang tanah manurung.

 

PAPARAN ADEGAN 14.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo).

 

Selesailah sudah dipercikkan air suci,dan ratusan kerbau cemara telah dibakar.Belum hancur daun sirih itu maka selesai upacara perahu itu.Bagaikan kabut yang menjulang asap api dengan bayang-bayang yang bergumpalan.Belum hancur daun sirih itu rampung semua perintah La Tenrioddang.Makanan kini telah terhidang,wajan besar telah diangkat,guci-guci yang aneka ragam berjejeran,pelayan yang meladeni sudah siap pula.

 

Maka bangkit orang Dalam yang tak pernah melewati sekat tengah,mencabik daun mengalas baki,menghidangkan nasi dan meletakkan lauk-pauk. Rampung pula semua makanan awam orang banyak, lengkap pula makanan Manurungnge suami-istri ditempatkan pada talam emas,tempat aneka ragam bahan makanannya.Dihidangkan pula piring mangkuk tempat makanan pembesar negeri yang indah.Kini telah terhidang semua talam emas,baki-baki emas telah berjejer,cukup semua makanan awam orang banyak.

 

Kini dibasuhkan jari tangan Manurungnge Batara Guru bersama istri dan anak.Turut pula dibasuhkan tangan para pembesar negeri indah.

Lalu para bangsawan itu saling mempersilakan dan orang banyak pun turut makan. Bagaikan kilat cahaya mangkuk emas tempat minum para anak raja pendamping.Bagaikan punai melayang terbang seliweran mangkuk Jawa.Para juak makan dan minum pada piring yang indah-indah.

 

Tujuh kali menyuap Manurungnge Batara Guru suami-istri lalu berhenti demikian pula Batara Lattuq bersaudara.Dikembalikan piring

tempat makanan Manurungnge, serta talam emas yang ditempati

aneka ragam bahan makanannya.Demikian pula semua piring tempat makanan pembesar kerajaan yang memerintah negeri indah. Para anak raja semua berhenti makan,piring-piring lalu diletakkan,dikembalikan pula ke tempatnya mangkuk jawa tempat minum orang banyak.Kini dibersihkanlah tangan

 

PAPARAN ADEGAN 15.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo).

 

Pesta besar-besar Selama tujuh hari sesudah datangnya wangkang emas manurung,sekian pula lamanya gemuruh bunyi genderang di muara.Kini tiba hari yang ditentukan oleh To Palanroe. Keesokan paginya ketika fajar menyingsing Manurungnge Batara Guru suami-istri bangun, membasuh muka pada mangkuk putih,berkaca di muka cermin,disuguhi sirih lalu menyirih suami-istri. Matahari mulai naik, surya ada di tengah langit.

           

         BATARA GURU :

        

         Bangkitlah, I La Tiuleng,ringankan dirimu, Paduka Ananda,

         untuk memakai pakaian orang Boting Langiq.

           

Belum selesai ucapan Manurungnge Batara Guru suami-istri maka Batara Lattuq bangkit mengenakan pakaian orang Boting Langiq,sarung bersulam bulan bersinar dipadukan destar pelangi dan bintang berkilau,dan ikat pinggang sutera biru muda,diselipi keris emas,yang diturunkan bersama Manurungnge,serta gading dipilah dari Coppoq Meru. Maka bangkit pula semua pembesar kerajaan penguasa negeri indah dan para raja pengikut Batara Lattuq,mengenakan pakaiannya yang serasi.Kini semua sudah lengkap upacara kahyangan Manurungnge.la pun segera berdiri lalu turun,

dijemput dengan usungan kemilau.

 

Tak lama kemudian berangkatlah usungan kemilau yang ditumpangi Manurungnge Batara Guru bersama istri dan anak,dibarengi gemuruh upacara kahyangannya.Segala macam bunyi-bunyian telah berbunyi,

mereka sampai di sungai,diletakkan usungan kemilau yang ditumpangi Manurungnge Batara Guru tiga beranak.

           

         BATARA GURU :

        

         Engkaulah, Batara Lattuq, yang menumpangi wangkang

         Tanete Manurung.Engkau, La Pangoriseng,yang

         menumpangi Banynyaq Lompae.Engkau, La Temmallureng,

         yang menumpangi Mariogae.Engkau, La Temmalolo,

         yang menumpangi La Siang Langiq.Engkau, La

         Tenriangkeq,yang menumpangi Belo Banawa.

         Engkau, I La Lumpongeng,yang menumpangi Anging Laloe.

      Masing-masing seribu orang hamba bergelang gading

         disertai seratus orang pendayungnya,dan tiga ratus dayang-

         dayang pelayannya. Sedangkan wangkang anete Manurung,

         seribu orang pendayungnya,sekian pula dayang-dayang

         pelayannya.Ribuan pelayan lelaki Luwuq,sekian pula

         pelayan perempuan orang Senrijawa, pembawa kipas orang

         Ruallette.Sementara engkau bersaudara, La Pangoriseng,

         satu perahu semua dengan adikmu.

           

PAPARAN ADEGAN 16.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo).

 

Maka Bergegas Batara Lattuq bersaudara berangkat menginjak tangga perahu emas, meniti cadik emas dan melangkahi baraieng gading,

langsung duduk pada wangkang kemilau,dinaungi dengan payung emas.Semua saudara Batara Lattuq naik,anak perahu para pembesar,penguasa negeri yang indah sudah lengkap.

Maka orang Luwuq dan orang Wareq pun naik semua.

           

         BATARA LATTUQ :

        

         Kembalilah engkau Paduka Ayahanda Batara Guru dan Ibunda We Nyiliq Timoq, Anakda berangkat dulu Sri Paduka suami-istri.”

           

         BATARA GURU :

        

         Berlayarlah, Anakku Batara Lattuq ,setelah engkau jauh meninggalkan

         negerimu, Nak,barulah aku dan ibumu kembali ke Luwuq.

 

PAPARAN ADEGAN 17.

 

( Narasi dan Illustrasi theme song I La Galigo).

 

Tak menunggu waktu, Segera La Temmallureng memerintahkan untuk menegakkan tiang emas, mengembangkan layar bersulam bulan dan naga.

Terkembanglah layar wangkang Tanete Manurung itu.Bagaikan pelangi dipandang mata,kembaran layar sutera dari tiang perahu yang ditegakkan.Tak ubahnya memandang bulan di tengah langit

kilauan layar sutera yang dikembangkan itu,wangkang emas yang menuju keTompoq Tkaq,menerangi laut dan menyinari pinggir pantai,cahaya hiasan perahu manurung itu.

 

      LA TEMMALLURENG :

 

       Hai orang Selayar, mendayunglah, mengayuh juga orang Waniaga.”

           

Serentak orang Selayar itu bergerak mengayunkan dayungnya,dan orang Waniaga itu berbalik bertelekankan kayuhnya.Bagaikan orang bersamburan di lautan itu,ditimpa kayuh emas orang banyak.Bagai burung beterbangan perahu itu dibawa oleh layar serta didorong angin,dibawa oleh ombak dan ditahan oleh badai.Alangkah semarak wangkang Tanete itu dipandang mata didorong oleh Arus di atas air pergi menuju ke Tompoq Tikkaq.

           

( Closing Illustrasi theme song I La Galigo).

 

SELESAI.

 

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: