NO 7.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 7. ( BATARA LATTUQ BERLAYAR KE TOMPOQ TIKKAQ )

NO 7.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 7. ( BATARA LATTUQ BERLAYAR KE TOMPOQ TIKKAQ )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LAGALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor ProfNurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

(Narasi dan Opening lagu Theme Song I La Galigo )

Berbilang waktu sudah Pelayaran batara Lattuq keTompoq Tikkaq bersama para pengawal.Tujuh hari telah terlewati Batara Lattuqberlayar meninggalkan Aleq luwuq ,para pengayuh tak pernah beristirahat,paranakhoda yang sangat cermat serta para juru batu yang sangat hati-hati.bergantian pergi tidur.Tujuh kelasi bersandar pada tiang memperhatikan jalannyapelayaran dan mengamati batu karang .Kini telah nampak Pujananti dan AnrobiringTampaknya La Tenriulle beserta rombongan telah menunggu di muara.

LA TENRIULLE :

Kur jiwamu, Paduka Batara Lattuq,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu
Singgahlahkemari, Wahai Paduka Batara Lattuq
OpunnaLuwuq, di negerimu engkau masukkan ke
dalamperut hasil tanahmu di Pujananti.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka La Tenriule ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu
Baiksekali ucapanmu Tenriulle.hanya langit saja
Diatas perkataanmu.Tetapi sangat tergesa-gesa
keberangkatanku dan cepat-cepatpelayaran
wangkangku.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi music Tradisi, insert soundEffect suara gemercik air sungai di muara)

Meskipun bergegas namun Batara Lattuq tetap menerimaUndangan La Tenriulle. Akhirnya mereka hanya menjamu Batara Lattuq di muarasungai. Tidak sampai sepemakanan sirih waktu berlalu , selesai sudah perjamuanitu.Setelah Selesai makan Batara Lattuq berlayar kembali.Sembilan hari sembilanmalam Batara Lattuq sudah berlayar, maka Batara lattuq Opunna Luwuq telahmelampaui Pujananti.

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan Illustrasi music Tradisi, insert soundEffect suara gemercik air sungai di muara)

Waktu demi waktu berlalu,Ketika fajar menyingsingkeesokan paginya maka Mata Soloq telah di depan mata.Tampaknya La Tenriukkeqtelah menunggu di sungai menyambut perahu emas yang ditumpangi Batara Lattuq OpunnaLuwuq.La Tenriukkeq bangkit meniti cadik emas, melangkahi barateng gading danlangsung sujud menyembah, lalu duduk di hadapan batara lattuq Opunna Luwuq.

LA TENRIUKKEQ :

Kur jiwamu, Paduka Batara Lattuq ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu
Kasihanilah aku, Opunna Luwuq,engkau singgah di
negerimu di Mata Soloq, minum air tawaryang
dingin,engkau masukkan ke dalam perut hasil tanahmu.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka La Tenriukkeq ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu
Baik sekali ucapanmu Tenriukkeq, hanya langitlah di
atas perkataanmu,tetapi daku tak singgah sekarang,
sebab sangat bergegas kepergianku mencapai secepat-
cepatnya Tompoq Tikkaq tujuanpelayaranku.”

PAPARAN ADEGAN 4.

(Narasi dan Illustrasi music Tradisi, insert soundEffect suara gemercik air sungai di muara)

Waktu berlalu dengan cepatnya. Rombongan BataraLattuq masih tetap berlayar dengan Tujuan pasti, yaitu Tommpoq Tikkaq. Tiga bulansesudah meninggalkan Aleq Luwuq pada dini hari yang cerah Batara Lattuq tiba diGima.Keesokan harinya mereka merapatkan perahu emas tumpangannya. Kebetulansekali La Tenritattaq Raja Gima keluar ke muara mandi beramai-ramai dengan parapengikutnya,mengelilingi sungai beserta para hamba yang bergelang emas, RajaGima La Tenritattaq berpaling sambil memandang memperhatikan perahu emastumpangan Batara Lattuq.Perhiasan perahu emas itu menerangi laut dan menyinarisungai.

LATENRITATTAQ :

Kur jiwamu, Paduka Batara Lattuq ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu
Naiklah kalian semua ke darat paduka Batara Lattuq
orangbesar yang melabuhkan perahunya di muara.

Dengan bergegas segera naik semua hamba yangbergelang emas. La Tenritattaq berdiri di ujung tanjung menyambut rombonganBatara Lattuq.

LA TENRITATTAQ :

Kurjiwamu, Paduka pengiring Batara Lattuq ,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu
Memangbodoh yang bertanya,membawa kedunguan
kalautak diberitahu.Di mana gerangan negeri tempat
tinggalmu, hai orang besar yang empunya perahu emas
ini?Dimana letak negeri indah tempat yang menumpangi
wangkangkencana yang dinaungi payung emas ?

TO PANANRANG :

Kur jiwamu, Paduka La Tenritattaq ,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu
Sayahambamu La Pangoriseng dari Takkebiro, La
Temmallurengdari Tanete.Perahu emas ini adalah
tumpanganadikku Batara Lattuq, putera sepupu
sekalimu Yang Muncul di Busa empong, putra
mahkota kesayangan Datu Manurungnge di Luwuq,
berlayar mencari jodoh yang sederajatnya
di Tompoq Tikkaq.

LA TENRITATTAQ :

Rupanya pemilik negeri di Ale Gima yang sedang
berlabuh di negerinya,sungguh bodoh kami yang
gegabah tak memperhatikannya. Kurjiwamu, Batara
Lattuq,datanglah semangat kahyanganmu.Naiklah
kemari di darat, Anakku,kembali ke negeri asalmu
kusambut engkau dengan tari bissu ,menelusuri
pancangan bambu berhias,memasukikampong
halamanmu,kupatahkan engkau bambu emas,kuadakan
untukmu kenduri besar kuundangkan opu penyabung
sesamamu raja yang memerintah,duduk bersama sambil
bertaruh di arena.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka La Tenritattaq,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu
Baiksekali ucapanmu, Paduka,hanya langit saja di atas
perkataanmu,tetapi sangat bergegas kepergianku.
Biarlah daku berlayar mencapai cita-citaku.

Maka Batara Lattuq melabuhkan wangkang emas yangditumpanginya.Datu Gima tergesa-gesa menginjak tangga perahu kencana,meniticadik emas, melangkahi barateng gading.

BATARA LATTUQ :

Silakan duduk Paduka La Tenritattaq ,duduklah
di atas hamparan Permadani emas.

Raja Gima lalu duduk di samping kemanakannya, disuguhiratusan ikat daun sirih dan puluhan tangkai pinang.

LA TENRITATTAQ :

Kasihanilah daku paduka La Rumpang Langiq,
engkaunaik ke darat Anakku, di negerimusendiri,
minum air tawar yang dingin,
engkau masukkan dalam kerongkongan
hasil tanahmu di Gima.
Biarlah saya yang menanggung mahar orangSelliq
pemberianmu, hadiah berupa sarung sutera merah.

BATARA LATTUQ :

Baik sekali ucapanmu, Paduka La Tenritattaq
hanya langit saja di atas perkataanmu,
namun kupohonkan maaf tak singgah dinegerimu.
Biarlah aku berlayar menggapai cita-citaku.

La Tenritattaq Raja Gima berpaling sambil berkatakepada La Tenripeppang.

LA TENRITATTAQ :

Pergilah, La Tenripeppang menjemput inangpengasuh
untuk kemanakanku sebanyak tiga ratus orang,
sebanyak itu pula penghulu negeri pendampingnya,
ratusan pengasuh anak orang kaya.
Ambil pula hamba biasa yang banyak,
serta ribuan bakul yang berisi tenunanMelayu.

PAPARAN ADEGAN 5.

(Narasi dan Illustrasi music Tradisi, insert soundEffect suara gemercik air sungai di muara)

Maka dengan bergegas La Tenripeppang segera pergimenjemput pengasuh,
inang pengasuh segaharanya Batara Lattuq.Belum hancurdaun sirih itu,orang banyak berkumpul di sungai datang berjejal di pelabuhanperahu.

LATENRITATTAQ :

Paduka Ananda Batara Lattuq,
ambillahinang pengasuh segaharamu
tigaratus orang,sekian pula penghulu negeri
pendampingmu, ratusan inang pengasuh orang kaya
dariAle Gima,ribuan bakul berisi hiasan emas.
Ambillah engkau, hai Anak Raja,masing-masing sepuluh
orangpenjaga ayam,serta sepuluh peti yang berisi
tenunanMelayu.”

BATARA LATTU :

Ananda mohon diri pada pamanda
LaTenritattaq Raja Gima.

LATENRITATTAQ :

Pegangteguhlah semangat kahyanganmu,
PadukaAnanda Batara Lattuq,
semogatak kandas perahu emas tumpanganmu,
danterkabul hendaknya cita-citamu.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo ,insert suara gemercik air)

Hanya empat puluh malam Batara Lattuq berlayar,terlampauilahMaloku.Para pengayuh tak pernah beristirahat, bergantian pergi tidur nakhodayang tak pernah keliru,juru mudi yang selalu waspada.Pada dini hari yang cerahmereka menghadapi Tompoq Tikkaq.

Keesokan harinya bangunlah anak yatim bersaudara membasuhmuka pada mangkuk putih,berkaca di muka cermin, membuka cerana sambil menyirihmenenangkan hatinya.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

We Adiluwuq dan We” Opu Sengngeng membuka ceranalalu masing-masing mengambil sirih selembar.Kemudian mereka mengenakan sarung suterapakaiannya dan mengenakan gelang emas yang melilit pada lengannya.
We Adiluwuq memakai sarung sutera merah yangbersulam,
dijelujur dengan ular sawah besar,dan gambar ularpanjang serta mayang kemilau yang bertaburan dibarengi bunga bintangbertebaran,bersandar pada orang bule,dan dihinggapi burung garuda.Tujuh kati dibagian bawahnya,lima kati di bagian atasnya, berselendang emas yang dipinggirnya terdapat emas tiga kati,dan gelang emas enam puluh lima buahsebelah-menyebelah.
Cincin bepermata yang dituang,kuku tiruan emas,anting-anting puluhan tahil.

We Datu Sengngeng pun mengenakan pakaiannya,sarungkemilau yang bersulam,disulami dengan motif ular sawah besar dengan gambar ularpanjang serta mayang kemilau yang berhamburan,’ditaburi bungamatahari,bersandar pada orang pendek,dihiasi burung nuri berlaga,berkalungkansutera merah, digantungi buluh emas orang Abang Lette.Terdapat tujuh kati dibahagian bawahnya,lima kati di bahagian atasnya pakaian lengkap We DatuSengngeng.Bagaikan orang Senrijawa
yang turun ke dunia,orang Toddang Toja yang muncul kebumi,
serasi benar pakaian dan kelengkapannya bersaudara.
Lalu mereka duduk di selatan tangga.

WEADILUWUQ :

Kurjiwamu, Paduka adinda We Datu Sengngeng,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu.Palingkan wajahmu kearah
muara,lihatlahadikku We Datu Sengngeng, orang apakah gerangan
yangmenumpangi perahu emas itu?”

WEDATU SENGNGENG :

Kurjiwamu, Paduka Kakanda We Adiluwuq,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu
Sedari tadi, Paduka daku perhatikan perahuitu.Bagaikan
matahari bersinar,bak surya yang sedangmerekah dipandang
mata,menerangi laut dan menyinarisungai,menyinari seluruh
pantai,cahaya tiang emas dan layar sutera,beserta kajangan
indah tenda kemilau hiasan perahu itu,baratenggading dan
cadikemas,dayung kencana serta kalung berukir,mayang
kelapamenghiasi pengikat punggung wangkang.Berjumbai-
jumbai melaju ke depan,rajutan beribu hiasanlayar.Dari mana
gerangankampung halamannya mereka yang mem’bawa
layarnya berlabuh di muara?”

WE ADILUWUQ :

Dinda We Datu Sengngeng,diamlah engkau,perhatikan
saja layar sutera aneka ragam itu.
Kalauorang Maloku yang singgah,atau orang Buton yang
berlabuh perahunya,mereka membawa burung nuri yang
pandai bercakap,dan fasih berbahasa Bugis serta lancar
berbahasa Jawa.Tetapi kalau orang Waniaga yang singgah di
negeri kita,mereka membawa aneka ragam permadani
Melayu.Kalau Jawa Saburo yang berlabuh di Tompoq
Tikkaq,mereka membawa gilingan, minyak kesturi,kemenyan
dandupa mereka diperdagangkan.Tetapi kalau Jawa Cina yang
berlabuh di negeri kita,mereka membawa tenunan Melayu
serta menjual sutera gajah.Dan jika Jawa Peringgi yang
melabuhkan perahu emas tumpangannya,maka menjual guci
Kelling serta membawa mangkuk bertelinga.Kalau Jawa Patani
berlabuh perahu tumpangannya di Sawammegga,maka mereka
mengangkut senjata api serta menjual mesiu.”

WE ADILUWUQ :

Dulu adikku We Datu Sengngeng,bila yang datang berlabuh
adalah perahu emas tumpangan orang yang jauh tempat
tinggalnya,kita tinggal memilih menurut kesukaan kita
aneka ragam harta benda pedagang.Tetapi bukankah tidak lagi
disinggahi Jawa kaya negeri Tompoq Tikkaq,tidak lagi
menerima persembahan harta orang Selayar istana lengkap
tempat tinggal kita?Dulu, sebelum padam jiwa orang tua kita
suami-istri semuanya menyerahkan persembahan, pajak
sungai dan cukai muara.Seandainya kita tunjukkan tempat
tinggal orang dari seberang itu,kita berikan juru bahasa yang
sebahasa maka mereka berjualan.Tetapi kalaumereka datang
mengamati inang pengasuh untuk menyambut dan
mengasuhnya,kita hormati ia dengan sutera gajah, kain yang
indah.Tetapi kita, Paduka Adinda,yang dalam kesusahan dan
kesulitan ini karena orang tua kita suami-istri meninggal,
kerajaan tempat tinggal kita yang tak bertara
telah kehilangan nama baiknya.

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Bulan berganti bulan, hari berganti hari.Tak terasaTujuh bulan sudah Batara Lattuq meninggalkan Ale Luwuq,sekian lamanya pula WeNyiliq Timoq tanpa menghiraukan lagi malam atau siang.Sekian pula lamanya takmemakan bahan makanan kesukaannya.Maka naiklah Tenritalunruq menasehatinya.

TENRITALUNRUQ :

Kur jiwamu, Paduka We Nyiliq Timoq ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu
Bangunlah, Adik To Tompoq.Bukankarena kesusahan
anakmu berlayar,hanya jodoh yang dilayari anakmu
hingga ia meninggalkan negeri indah tempatnya dibesarkan.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka istriku WeNyiliq Timoq ,
semoga Datanglah semangat kahyanganmu.
Di Luwuqkah engkau kehendaki ia mencari jodohnya
anak kita, Adinda,sehingga kelakbangsawan
campuran yang dinaungi payung emas di Luwuq?”

Barulah kemudian We Nyiliq Timoq bangun berdirimembasuh muka pada mangkuk putih,berkaca di depan cermin,membuka cerana emaslalu menyirih menenangkan hatinya.

PAPARAN ADEGAN 10.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Pagi yang cerah Di Sawammegga.Ketika mentari mulaiterbit,maka Opunna Luwuq tiba merapatkan perahu emas yang ditumpanginya diSawammegga,didapatinya orang sedang mencari ikan di laut, bagaikan tempurungsemua lututnya,masing-masing mengenakan puluhan tanda berduka,hanya tinggalkulitnya yang mengikat sampai tak terburai ruas tulangnya.

TO PANANRANG :

Kur jiwamu, Para nelayan Sawammegga
semoga Dilindungi nasibmu oleh Pattotoqe.
Memang bodoh orang yangbertanya,membawa
kedunguan kalau takdiberitahu.Apa gerangan nama
negeri indah yang dihadapi perahu kencana
tumpanganku?Tidak kedengaran kokok ayamnya
biarpun anak-anak tak seorangjuga yang bermain.”

PENCARI IKAN :

Kur jiwamu, Paduka tuanku ,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu
Kutadahkan telapak tanganku,Paduka,bak kulit bawang
tenggorokanku,semoga tak terkutuk daku
menjawabmu.Sudah tujuh tahun, Paduka,negeriini
ditimpamusibah meskipun diluku bagaimana pun tidak
akanmenjadi panenan Sangiang Serri.Walaupun ia
pindahkanke negeri asing, Paduka,ujung pematang
sawahnya,asalkanmereka orang Tompoq Tikkaq,
makagagal segala yang memberi kehidupan.”

PAPARAN ADEGAN11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo ,insert sound effect suara gemercik air sungai di muara)

Tak Membuang waktu sekejabpun, Maka Batara Lattuq merapatkan perahu emas yangditumpanginya pada belat itu.Didapatinya ribuan nelayan lututnya menyerupaitempurung semua,bertumpuk tanda berduka pada lengannya.
Tinggal kulitnya yang menahan maka tak terburaitulangnya.
Terkejut sekali para nelayan itu.Tanpa mengikat lagibelatnya
mereka naik pada sampan masing-masing kembali di atasperahu mereka.

LA PANGORISENG :

Memang bodoh orang yang bertanya, membawa
kedunguan kalau tak diberitahu.Apakah gerangan
nama negeri indah yang dihadapi oleh perahu
emas tumpanganku?”

NELAYAN :

Semoga tak terkutuk hamba menjawabmu tuanku.
Tompoq Tikkaq di sebelah barat,Sawammegga di
sebelah timur, Singkiq Wero di tengah.

LA SINILELE :

Kalau boleh aku bertanya?Siapa pula nama
yang dinaungi payung emas di
Tompoq Tikkaq dan diSawammegga?”

NELAYAN :

Sudah meninggal dunia raja negeri Tompoq Tikkaq
sudah pindah ke akhirat yang dinaungi payung emas
di Sawammegga.Tetapi kalau, Paduka ingin
meminjam ruangan di istana pergilah ke Singkiq
Wero,di istana negerinya raja yang mandul
perampas itu.”

TO SINILELE :

Aku ini ingin pergi meminjam ruangan di istana
We Adiluwuq dan We Opu Sengngeng.”

NELAYAN

Baru hamba pulang dari istana,biarpun lantainya tak
ada juga,anyaman rotan dinding istana itu sudah
tak ada lagi.

LA PANGORISENG :

“Apakah tidak ada anaknya raja tompoq Tikkaq Turung Belae?”

NELAYAN :

Hanya dua orang anaknya,laludirampas harta
bendanya,dan dipindahkan kerajaannya.Hanya
dua bilah lantai yang sisa untuknya,tiga batang
gelegar dan tiga orang pula yang menempatinya
Jendela emasnya telahdibuka,anyaman rotan
dinding istana itu pun telah diturunkan.Maka mereka
bersaudara pergi membuang diri di tempat yang
jauh.Hamba tidak tahu apakah sudah kembali
ke istananya.

Perasaan Batara Lattuq bagaikan diiris-iris mendengarucapan nelayan itu.

BATARA LATTUQ :

Bagaimanakah pendapatmu, To Sinilele dan To
Pananrang,bukankah hanya untuk anak yatim itu
kita turunkan perahu dan kita merantau dan
berlayar,padahal ia tak ada lagi kita temui.”

LA PANGORISENG :

Saya kira, Adinda, cukup baik tanda-tanda kokok ayam
ketika kita bersiap berlayar meninggalkan Ale Luwuq.
Sembilan hari dan sembilan malam aku berbaring
di permadani memintakan engkau jalan untuk dilalui,
maka datanglah burung bertengger pada tiang agung
berbunyi gembira dan suaranya membubung ke
langit.Tujuh malam kita dalam pelayaran saat kita
sampai di Maloku,kita minum air tawar lalu melanjutkan
pelayaran, meninggalkan Maloku,tiba-tiba muncul
buaya mengulurkan tangan kanannya di depan perahu
emas tumpangan kita. Menurut aku, Adinda,
itu pertanda baik bagi kita.”

BATARA LATTUQ :

To Sinilele, berikanlah beras makanan kepada nelayan
itu, masing-masing sepuluh karung.Sebab cerita baik
itu pasti berpindah, Paduka, berita itu akan tersebar.”

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo ,insert suara gemercik air sungai di muara)

Kembali pagi datang menjelang .Baru saja mataharimulai merekah maka Batara Lattuq Opunna Luwuq sampai menyangkutkan cadik padapohon padada, terbayang-bayang di pohon tuwung,menurunkan jangkar dan melipatlayar, serta mengerahkan orang yang banyak.mereka semua berlomba mendapatkanair tawar lalu mandi.Diremaskan Opunna Luwuq air langirnya.Lalu Batara LattuqberdirI membuka sarung sutera pakaiannya,.baru diremaskan daun jeruknya dandioleskan pembersih badan kahyangannya.Segera Batara Lattuq berdiri melepaskanpakaian bahagian bawah, lalu diganti sarung basahan untuk mandi berlangir,agardapat menghilangkan dan membersihkan bau badan serta melulurkan keringat dandakinya.

Setelah Batara Lattuq mandi dipasangkan kembalisarung sutera pakaiannya lalu dilepaskan sarung bawah pakaian mandinya,
kemudian duduk pada ruang tengah perahu,disapukan airmandi
yang masih melekat pada pinggangnya,dikelilingi olehpedupaan emas, diliputi oleh asap dupa,diperebutkan oleh kipas emas,
diperlagakan oleh kipas emas orang Abang Lette.Parapelayan istana datang pula turun hendak mandi. Kebetulan sekali perahu sedangberlabuh

PAPARAN ADEGAN13.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo)

Bergegas para pelayan itu kembali lagi ke Sawammeggatergesa-gesa menuju istana sao loci We Tenrijelloq.

LATENRIGILING :

Adaapa gerangan kalian pulang tanpa mandi, hai pelayan?

PELAYAN :

Hamba datang hendak mandi, Paduka,kebetulan sekali
kamimelihat wangkang berlabuh menegakkan bulu roma
danmenggetarkan badan.

LATENRIGILING :

Berangkatlah, I La Biraja, Guling Ripare, amatilah orang
yangada dalam perahu itu.

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo ,insert suara gemercik air sungai di muara)

Dengan Bergegas Maka I La Biraja, Guling Ripareberangkat bersama, turun dan berjalan lalu mengayunkan tangan cepat.Belumhancur daun sirih itu ia tiba di muara menyaksikanorang perahu itu.I La Birajatak berkata-kata apa-apa,langsung kembali ke Sawammegga menaiki tangga emasberukir memegang susuran emas, menginjak lantai papan pinang emas.Segera iamenyembah lalu duduk di hadapan La Tenrigiling.

LA BIRAJA :

Wangkang yang ada di luar, Paduka Tuanku ,menegakkan bulu
roma dan menggetarkan badan.

Bergegas La Tenrigiling turun menuju ke sungai.LaTenrigiling berdiri di tepi tanjung .

LA TENRIGILING :

Kur jiwamu, Paduka tuanku ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu
Memang bodoh orang yang bertanya,membawa
kedunguan kalau tak diberitahu.Dimana gerangan
negeri tempat tinggalmu ? pembesaryang
berperahu emas?”

LA TEMMALLURENG :

Kur jiwamu, Paduka tuanku ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu
Adikku Opunna Luwuq yang melabuhkan perahu.Dia
akan menuju ke Tompoq Tikkaq meminjam
ruangan.Semoga pemilik istana mengizinkannya.

LA TENRIGILING :

Siapa yang akan engkau datangi?Kalau cuma sekadar
mau meminjam ruangan pergilah ke Sawammegga ke
istana sao loci kediamanku.

LA PANGORISENG :

Aku dan adikku Batara Lattuq akan menuju ke Tompoq Tikkaq.”

LA TENRIGILING :

Lalu siapa yang akan kaudatangi?Bukankah anak
yatim itu sudah tidak ada,mereka pergi membuang
diri di tempat yang jauh. Dan seandainya jodoh yang
kaulayari,masih ada kemanakanku,We Tenripau
namanya,Daeng Palennaq gelarnya,anak kemanakan
yang aku cintai.

LA PANGORISENG :

Bukan We Tenripau yang dipikirkan Batara Lattuq Opunna
Luwuq,bukan pula Daeng Palennaq yang diinginkan adikku.
Bukan itu yang menyebabkan ia pergi berlayar.
Biar saja sampai matahari terbenam rembang
senja,menunggu jodohnya anak kemanakanmu, We
Tenrijelloq, sebab bukan dia yang dipikirkan oleh raja
Batara Lattuq adikku.”

PAPARAN ADEGAN15.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo)

Tak menunggu waktu lagi,La Tenrigiling kembali lagike istananya, menginjak tangga emas berukir,memegang susuran kemilau,menginjaklantai papan pinang terus masuk,didapatinya We Tenrijelloq sangat bersedih.
La Tenrigiling masuk duduk di samping istrinya.

WE TENRIJELLOQ :

Unga We Majang, pergilah memanggilkanaku
We Maddettia.

Dengan bergegas Pelayan itu bangkit lalupergi,berjalan bergegas sambil mengayunkan tangan dengan cepat.Belum lagihancur daun sirih itu,ia sampai di istana tempat tinggal We Maddettia,menginjaktangga emas berukir,melangkahi ambang pintu,menginjak lantai papan pinangkemilau langsung masuk.

WE MADDETTIA :

Marilah kemari, Unga We Majang,duduk di atas
permadani.Apa gerangan yang diperintahkan
kepadamu oleh pemilik istana sao loci emas itu?”

UNGA WE MAJANG :

Engkau dipanggil Sri Paduka pemilik istana sao loci
pergi ke istana.”

PAPARAN ADEGAN16.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan bergegas We Maddettia berangkat berjalan mengayungtangan dengan cepat.Belum lagi hancur daun sirih itu,maka ia sampai memasukipagar istana,menginjak tangga berukir,memegang susuran kemilau,naik ke atasmenginjak lantai papan pinang emas,langsung masuk melewati dinding tengahmelangkahi sekat istana.

WE TENRIJELLOQ :

Kemarilah, We Maddettia,duduklah engkau
di atas permadani emas.”

We Maddettia segera duduk di hadapan WeTenrijelloq.disuguhi
sirih lalumenyirih.

WE TENRIJELLOQ :

Menyirihlah, Puang Matoa, lalulihatlah di Dalam
tenunanmu, apa geranganmaksud Opunna Wareq
membawa perahu danberlayar menuju
ke Tompoq Tikkaq?”

We Maddettia berpaling lalu melihat di dalam tenungdan menyebutkan ramalannya.

WE MADDETTIA :

Ampun paduka Tuanku We Tenrijelloq.Rupanya
anak yatim akan bertemu jodohnya.”

We Tenrijelloq sangat kaget mendengar ramalan PuangMatoa, tapi tak Nampak diraut mukanya.We Tenrijelloq hanya termenung mendengarkanucapan We Maddettia itu.

( closing illustrasi music etnis )

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: