NO 8.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 8 . ( PERKAWINAN DUA ANAK RAJA TITISAN DEWA )

NO 8.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 8 . ( PERKAWINAN DUA ANAK RAJA TITISAN DEWA )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

(Narasi dan Opening lagu Theme Song I La Galigo )

Kembali pagi datang menjelang .Baru saja matahari mulai merekah maka Batara Lattuq Opunna Wareq menurunkan jangkar dan melipat layar, serta mengerahkan orang yang banyak.mereka semua berlomba mendapatkan air tawar lalu mandi. Diremaskan Opunna Luwuq air langirnya.Lalu Batara Lattuq berdirI membuka sarung sutera pakaiannya, baru diremaskan daun jeruknya dan dioleskan pembersih badan kahyangannya.Segera Batara Lattuq berdiri melepaskan pakaian bahagian bawah, lalu diganti sarung basahan untuk mandi berlangir, Setelah mandi Batara Lattuq memerintahkan Untuk
turun ke darat.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka kakanda La Pananrang dan To Sinilele
Semoga Datang lah semangat kahyanganmu
Berangkatlah, La Pananrang dan To Sinilele,
ke istana meminjam ruangan, agar kita diterima
menumpang di istana I We Marupeq,di istana
We Mattinio yang tinggal dalam ruangan.”

Dengan bergegas tanpa membuang waktu lagi, La Tenrilollong dan La Temmallureng segera duduk di ruangan perahu mengenakan pakaian lengkapnya, sarung sutera kuning bersulam dihiasi buluh emas. Tiga kati di bagian atas, dengan destar sutera merah berhiaskan sulaman emas murni, gelang gading dan keris emas.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

Maka La Temmallureng berangkat naik ke darat. Lebih seratus orang beriringan dinaungi dengan payung emas, berjalan diiringi pengikut bergelang gading,melewati kampung di Sawammegga, melalui Singkiq Wero hingga tiba di tengah negeri mulia Tompoq Tikkaq. Serentak berpaling memandang takjub semua orang banyak di Sawammegga, di Singkiq Wero dan di Tompoq Tikkaq. Bagaikan tempat piring berjejer barisan wajah-wajah di sela-sela jendela emas kilau-kemilau,di istana tempat tinggalnya raja mandul perampas itu.Semua pengasuh segeharanya We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng pelayan istana sebayanya orang yatim itu saling berbisik,

DAYANG 1 :

Mudah-mudahan To Palanroe merahmati,sehingga
datanglah kemari seorang raja besar hendak memungut
anak yatim dan berjodoh dengan orang kecewa,
meminang raja adikku,adik yang kuiringi.Supaya kita
kembali semua ke tempat semula di istana agung
manurung yang ditinggalkan Paduka Turung Belae
suami-istri,agar kembali lagi ke tempat semula raja adik
kita bersaudara.

DAYANG 2 :

Jangan demikian ucapanmu perempuan,nanti didengar
Paduka raja kita lalu kita diasahkan keris emas,maka
kita semua akan mati.”

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

Utusan Batara Lattuq berlalu melewati Istana Sawamegga.Yang empunya negeri di Sawammegga berpaling membuka jendela lalu menjenguk mengikuti pandangan mata orang asing itu,bergegas menuju istana anak yatim,langsung masuk ke dalam pagar.

LA TENRIGILING :

Orang dari mana gerangan asalnya yang tak
mengetahui bahwa sudah mati pemilik negeri di
Tompoq Tikkaq,telah meninggal suami-istri?
Maka akulah yang mempersatukan kerajaannya dan
yang didatangi persembahan orang banyak,pajak
muara dan sewa sungai.Akulah sekarang yang
didatangi tamu,para penguasa jauh yang di seberang
lautan,di sinilah mereka datang,di istana tempat
tinggalku lalu kujadikan mereka tamu.”

I LA BIRAJA :

Kabarnya orang besar yang ada di luar Paduka La Tenrigiling.
Yang melabuhkan perahu di muara,konon ia adalah
putera datu manurung di Luwuq,yang menetas di bambu
betung anak tunggal sibiran tulangnya Yang Muncul di
Busa Empong.Memang si anak yatimlah yang
mendorong perahunya lalu berlayar meninggalkan
Aleq Luwuq ,ia ingin mencurahkan harapan di Tompoq
Tikkaq.

La Tenrigiling dan We Tenrijelloq termenung mendengarkan ucapan I La Biraja. Akhirnya payung emas dilipat yang menaungi To Sinilele, ia lalu melangkahi sela gelegar langsung masuk dan berdiri tegak di sebelah selatan tangga sambil menguping,tetapi tak ada suara yang didengarnya.Barulah ia memegang susuran emas naik menelusuri bendul melangkahi sela-sela gelegar bergegas masuk ke Dalam berdiri tepat pada tiang tengah rumah,
sambil menoleh ke kiri dan ke kanan namun tak ada orang yang dilihatnya.Semut pun tak juga ada.Cecak bocciliq tak ada satu pun yang Nampak pada balok kemilau melintang di tengah Campulokkoq pun tak ada juga,bahkan angin dari sela lantai pun enggan berhembus.Tak satu pun senjata kerajaan yang tampak,hanya pecahan tembikar yang kelihatan,
lalu ia masuk ke bahagian selatan.

PAPARAN ADEGAN 4.

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

To Sinilele terheran-heran melihat istana agung bagaikan bukit,meskipun tak ada orang yang kelihatan.Kembali lagi To Sinilele berpegang pada susuran lalu turun.Baru tiga anak tangga yang dilewati tiba-tiba seekor cecak berbunyi di ujung balok melintang.La Temmallureng menengadah sambil mencari, lalu berbunyi lagi cecak di balok melintang kemilau.La Temmallureng lalu mondar-mandir dari selatan ke timur.Menengadah sambil melihat-lihat di sela gelegar pada lambung istana terlihat olehnya dua gelegar dan tiga bilah lantai dan tiga pula orang yang menempatinya. Maka sejenak La Temmallureng berdiri terpaku,terkejut perasaan hatinya,pusing oleh keindahan dan mabuk oleh kecantikan,hampir hilang kesadarannya selama sepenanak nasi.

PAPARAN ADEGAN 5.

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

To Sinilele duduk termenung tak dapat menenangkan perasaannya. Lama sesudah itu barulah tenang hatinya dan kembali lagi ke istana,
melangkahi ambang pintu emas, menginjak lantai melangkahi sela gelegar,bergegas masuk ke Dalam ke lambung istana ,langsung sujud menyembah lalu duduk di hadapan We Temmamalaq.Setelah melepas lelah To Sinilele duduk,lalu inang pengasuh berpaling sambil berkata.

WE TEMMAMALAQ :

Kur jiwamu, Paduka Tuanku
Semoga Datang lah semangat kahyanganmu
Memang bodoh orang yang bertanya,membawa
kedunguan kalau tak diberitahu.Di mana gerangan
kampung halaman tempat tinggalmu hai orang asing?

TO SINILELE :

Kur jiwamu, Paduka Inangda
Semoga Datang lah semangat kahyanganmu
Kami ini orang Luwuq yang di atas wangkang, orang
Wareq yang mengendarai perahu.Batara Lattuq
Opunna Luwuq yang menyuruh saya meminjam
ruangan di istanamu,minum air tawar yang dingin.
Semoga ada belas kasihmu Paduka, pada anak kita
Opunna Luwuq, orang yang berlayar dan berlabuh
di Tompoq Tikkaq.”

WE TEMMAMALAQ :

Seandainya masih hidup Turung Belae suami-istri,
maka ialah yang duduk di ruangan ini menerima tamu
yang datang dan pembesar negeri,menerima tamu
asing dari seberang lautan.Tetapi semenjak negeri di
Tompoq Tikkaq ditimpa musibah,penguasa negeri
Turung Belae suami-istri dilanda susah dan dikena
bencana.Maka istana negeri kini berpindah pada raja
mandul perampas,ialah tempat didatangi para
pembesar negeri yang datang dari seberang lautan,
tempat disinggahi tamu yang datang.”

LA TEMMALLURENG :

Tetapi istana emas yang didiami manurung di Tompoq
Tikkaq tujuan kami mendorong perahu lalu berlayar.
Ruangan istana emas yang ditinggalkan Paduka Turung
Belae suami-istri yang menjadi tumpuan cita-cita Batara Lattuq
Opunna Luwuq,istana lengkap yang ditempati anak
yatim itu yang menyebabkan kami menegakkan tiang
layar kemilau, kami layari tempat yang jauh yang
menjadi harapan Opunna Luwuq, Ibunda, sudilah
engkau menumpangkannya.”

WE TEMMAMALAQ :

Kur jiwanya hai pembesar, kusembah segala
kemuliaannya, ia yang menghendaki ruangan orang
yang dikena hukuman To Palanroe, dan mau tinggal
menumpang.Tetapi tanpa diberitahu, Paduka, telah
menyaksikannya ke mana harta bendamu akan kau
simpan, Ananda, padahal kendati sebilah bambu pun
tak ada,gelegar hanya tiga batang disertai dua bilahan
bambu, anyaman rotan dinding istana tidak ada juga
Sudah rapuh pula tali penggantung para-para tempat
penyimpanan.”

TO SINILELE :

Kur jiwamu, Inangda,datanglah semangat
kahyanganmu.Janganlah demikian ucapanmu,
semuanya aku telah saksikan.Biarlah kami yang akan
memberinya lantai.Kualasi ia dengan lampit,kututupi ia
dengan permadani serta kain nan indah, kuperbaiki tali
penggantung para-para tempat penyimpanan, kusisipi
anyaman rotan sekat dinding istana. Semoga engkau,
Inangda,menaruh kasih menerima adikku menumpang.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

Dengan bergegas Pergilah To Pananrang dan To Sinilele menyampaikan pesan dari Batara Lattuq kepada inang pengasuh,

TO PANANRANG :

Kami mengantarkan harta benda,ada seribu dayang-
dayang.Sekian pula bakul yang berisi gelang emas,
sekian pula peti rotan yang berisi tenunan Melayu,
pembuka pintu memasuki rumah sebagai tanda
perkenalan ,pengganti pinang sekarat,penukar sirih
selembar.Semoga kauizinkan naik ke istana sibiran
tulangmu ,minum air tawar yang dingin,mudah-mudahan
ada belas kasihmu menerima Opunna Luwuq Sebagai
penyambung istana besar dan penutup atap yang
tinggi.Beliau menaruh harapan pada anak yatim yang
sulung. Mudah-mudahan ada belas kasihmu
mengambilnya sebagai lembaran kain sutra,
engkau naikkan di ujung lampit emas Opunna Luwuq.'”

WE TEMMAMALAQ :

Kur jiwanya Opunna Luwuq , semoga datang semangat
kahyangannya.Tidak kutampik perkataannya, tidak
mungkin jadi berjodoh We Adiluwuq kalau belum
terlaksana perjodohan We Datu Sengngeng.
Sebabnya maka demikian ucapanku, Paduka Adinda,
karena Paduka Turung Belae’. memesankan kepada
anaknya, katanya, Engkau We Adiluwuq akan aku
tinggalkan dua beradik,tidak daku izinkan engkau
mendahului jodoh Paduka adikmu.Sebabnya aku
larang engkau kawin lebih dahulu, nanti engkau
tinggalkan adikmu maka semakin kesepian We Datu
Sengngeng.Tetapi walaupun demikian ucapanku dapat saja
berjodoh anak raja belaianku tapi harus sama
derajatnya dengan orang Ruallette yang turun
menjelma,atau orang Toddang Toja yang muncul ke
bumi, sesamanya berdarah putih.Itulah sebabnya
maka agak terlambat perjodohannya bersaudara
.karena Paduka manurung suami-istri mengatakan,
Hanya akan berjodoh sibiran tulangku jika sesamanya
berdarah putih, keturunan Ruallette turun menjelma
di dunia.

LA PANGORISENG :

Itulah sebabnya kami berlabuh di Tompoq Tikkaq,
karena berkata Paduka tuanku Manurungnge
Batara Guru di Aleq Luwuq suami-istri,
Di Tompoq Tikkaq tempat sederajat denganmu,
sesama orang Senrijawa yang turun menjelma,
sesama orang Toddang Toja yang muncul ke bumi.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi music tradisi, Insert sound effect suara genderang )

Genderang besar dibunyikan,seruling bambu ditiup pula diikuti gong dan diramaikan musik Melayu.La Tau Panceq mulai memetik rebab emasnya,La Tau Buleng membunyikan mong-mong kencananya,La Oroq Kelling membunyikan serulingnya. Bedil pun disulut,maklumat bahwa orang Ruallette turun menjelma di Tompoq Tikkaq.Batara Lattuq berangkat didahului oleh tarian alosu emas dan sabungan arumpigi emas,untuk memasuki Sawammegga melalui negeri Tompoq Tikkaq langsung masuk ke
Singkiq Wero.

Bagaikan pohon radda akan patah suara jendela yang dibuka
penduduk di Sawammegga,di Tompoq Tikkaq dan di Singkiq Wero.
Bulu roma penduduk kampung berdiri melihat Batara Lattuq berlalu bagaikan orang Boting Langiq yang turun menjelma.We Tenrijelloq pun gemetar badannya waktu melihat bagaikan air bah yang membanjir, bagaikan topan yang menghempas para orang perahu itu.

PAPARAN ADEGAN 8 .

(Narasi dan Illustrasi music tradisi, Insert sound effect suara genderang )

Rombongan Batara Lattuq tiba di dalam pagar.Diletakkanlah usungan emas
kendaraan Opunna Luwuq. la bangkit menginjak tangga emas berukir, memegang susuran kemilau,menginjak lantai papan pinang,terus masuk ke lambung istana.Kemudian Batara Lattuq duduk di hadapan We Adiluwuq.I La Tiuleng termenung menyaksikan We Adiluwuq,tidak ada yang menyamainya,tidak ada yang menandingi kecantikannya bersaudara.

BATARA LATTUQ :

Hai para remaja Aleq Luwuq pengawal dekat,
suguhilah sirih tuanmu yang empunya rumah.

Bergegas para pelayan, orang Dalam melipat sirih dan mengiris pinang. Batara Lattuq sendiri yang menyuguhi sirih pada talam emas.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu paduka Inangda, semoga datang semangat
Kahyanganmu. Menyirihlah, Inangda, beri pula sirih anakmu
yang membelakang itu.

We Adiluwuq berpaling menampakkan muka memandang lalu menyirih. Sementara We Datu Sengngeng enggan menampakkan muka.

WE TEMMAMALAQ :

Mengapakah engkau ananda We Sengngeng, tidak balik
menyirih.Nanti tamu itu berkata, Congkak benar anak yatim ini.'”

Maka We Datu Sengngeng berbalik mengambil sirih segulung dari samping pada talam emas.Sirih itu diremasnya tanpa disirih.

WE TEMMAMALAQ :

Mengapakah engkau Ananda tidak menyirih.
Nanti orang mengatakan, Pantaslah ia yatim piatu.

BATARA LATTUQ :

Inangda, janganlah demikian ucapanmu.
Sudah berapa bulankah Inangda We Datu Sengngeng
padam pelita jiwanya Paduka yang empunya istana di
Tompoq Tikkaq?

WE TEMMAMALAQ :

Tujuh malam peti jenazah emas di istana.
Hanya tiga malam saja turunnya peti jenazah emas
harta bendanya dirampas,jendela emas yang indah
dibongkar,semua lantainya di dalam digulung pula
Hanya tinggal dua bilah lantai dan tiga batang
Gelegar,tiga orang pula yang menempatinya.Tujuh
bulan saja lamanyaTunrung Belae dikubur
maka anaknya pergi membuang diri di tempat yang
jauh.Tiga puluh malam lamanya anak-anak itu
membuang diri baru mereka kembali lagi ke
istana.Tujuh malam lamanya setelah mereka kembali
membuang diri datang berita adanya perahu
berlabuh di muara.

BATARA LATTUQ :

Inangda, janganlah engkau ulang lagi ucapanmu,
sebab pilu sekali rasa hatiku di Dalam mendengar
Ketentuan To Palanroe yang kedua kalinya.Tak adakah
perintang duta yang menghalangi lamaran anakmu?

WE TEMMAMALAQ:

Setahu saya tidak ada kami simpan perintang duta dan
penolak lamarannya sesama raja.Semoga berakhir
sekarang kejahatan raja mandul perampas itu.
Tiada hari yang sepi dari kedatangan utusan
sesamamu raja,sebelum meninggal orang tuanya
tetapi tak ada yang sepadan dengannya.

BATARA LATTUQ :

Inangda, ambillah bissu pelayan ratusan.Sekian pula
bakul Cina yang berisi kain patola, engkau bawa
anakmu ke dalam.Jangan duduk di ruangan depan
menjadi tumpuan mata memandang orang banyak.

WE TEMMAMALAQ ;

Paduka Ananda We Datu Sengngeng dan ananda We Adiluwuq
ringankanlah dirimu masuk ke Dalam bilik.

Maka We Adiluwuq bergegas bangkit masuk ke dalam mengiringi adiknya
We Datu Sengngeng

BATARA LATTUQ :

Berdirilah, para dayang mengantar Paduka adikmu.

PAPARAN ADEGAN 9.

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

Belum selesai ucapan Opunna Luwuq para dayang bangkit mengikuti We Adiluwuq bersaudara.Bergemuruh suara lantai dilewati oleh orang yang bergelang sekati,para dayang yang rambutnya panjang tergerai melewati dinding tengah.Bagaikan arus mengalir linangan air mata pengasuh itu ketika ia melihat tak saling memberi jalan para bissu dayang,padahal bukan dayang kepunyaan anak raja asuhannya.We Adiluwuq bersaudara langsung duduk di atas permadani hamparan emas.

Bergegas La Pangoriseng bangkit terus ke depan.We Adiluwuq duduk membasahi pangkuannya dengan air mata yang bercucuran.
Setelah La Pangoriseng tiba di ruangan depan ia lalu duduk di hadapan Batara Lattuq.

LA PANGORISENG :

Kur jiwamu paduka adikku, semoga datang semangat
Kahyanganmu.Telah jadi engkau kawin besok, Adikku.”

Wajah I La Tiuleng bagaikan orang yang ayam sabungannya menang mendengar ucapan saudaranya.Akhirnya Niatannya Untuk mengawini we datu Sengngeng akan terwujud juga.

PAPARAN ADEGAN 10 .

(Narasi dan Illustrasi music tradisi, Insert sound effect suara musik perkawinan )

Prosesi perkawinan dua anak raja titisan dewa itupun dimulai. Kedua mempelai diperintahkan berdiri pada beringin emas lalu Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng dijahit dalam sarung lambang perjodohannya dan diikat nasibnya bersama .Puang Matoa di Luwuq berdiri di muka pelaminan .

PUANG MATOA DI LUWUQ :

Belilah kalian seorang petani yang belum pernah
memegang gagang luku, belum pernah mengayunkan
cambuk emas, belum pernah menyelempang tali luku,
tetapi tak pernah lapar orang banyak.

LA PANGORISENG :

Saya yang membeli petanimu, Puang Matoa di Luwuq, dengan
dayang-dayang ratusan orang. Sekian pula bakul Cina yang
berisi tenunan Melayu.”

PUANG MATOA DI WAREQ :

Belilah kalian seorang penenun,yang belum pernah
mengangkat arek sutera,belum pernah memangku
gulungan kain tenun,belum pernah menayang belera
emas,belum pernah memutar jentera kencana,dan tak
lusuh sarung baju bissu pelayan sebayanya,namun isi
lumbung besar tempat menimbun harta bendanya
tak pernah berkurang.”

WE ADILUWUQ :

Sayalah yang membeli tukang tenunmu, Puang Matoa di Wareq,
dengan kain sarung ratusan lembar.Sekian pula bakul
Cina yang berisi tenunan Melayu.”

PUANG MATOA DI LUWUQ :

Putuskanlah jahitannya, Puang Matoa di Wareq.”

Puang Matoa di Luwuq dan Puang Matoa di Wareq segera duduk.
Batara Lattuq tersenyum saja .

BATARA LATTUQ :

Baliklah kemari We Datu Sengngeng,hadapkan wajahmu
memandangku.Isi wangkang emas tumpanganku milikmu
semua, Paduka Adinda.”

Tak kunjung We Datu Sengngeng menampakkan muka.Menunduk terus sambil meneteskan air matanya bercucuran.We Adiluwuq sendiri yang mengusapkan air mata Paduka adiknya yang bercucuran.

WE ADILUWUQ :

Mengapakah nian, Paduka Adinda,engkau tiada mau
Berpaling menampakkan muka kepada orang besar itu.
Jangan merajuk demikian itu, Paduka Adinda, jangan
mempermalukan kami, Adikku.tak ada lagi yang mesti kita
ucapkan,karena demikianlah kehendak To Palanroe.Nanti
orang lain akan berkata,Bagaimana dia tidak rakus pada
pemberian,karena ia raja yang miskin tak berpunya.'”

LA PANGORISENG :

Kur semangatmu, Paduka Adinda,janganlah demikian
ucapanmu.”

Opunna Luwuq Batara Lattuq duduk saja memandang istrinya.

BATARA LATTUQ :

Agaknya aku telah ditakdirkan oleh dewa raja yang
beruntung mendapatkan ratu yang tiada banding
kecantikannya.Maka ialah menjadi jodohku
sesamaku berdarah putih dan disembah.

PAPARAN ADEGAN 11 .

(Narasi dan Illustrasi music tradisi, Insert sound effect suara musik perkawinan )

Diangkatlah piring mangkuk tempat makannya Batara Lattuq. dinaungi kain sutera tipis membayang, ditindih dengan gelang berpilin.Tangan Opunna Luwuq dibasuhkan.

BATARA LATTUQ :

Berbaliklah kemari, engkau makan, Adinda We Datu Sengngng,
ambil ribuan di Luwuq, ratusan di Wareq.

We Datu Sengngeng tak kunjung berkata,tiada menjawab sepatah pun ucapan Batara Lattuq.

BATARA LATTUQ :

Kasihanilah aku, adik We Sengngeng,engkau
berbalik makan, Adikku.

We Datu Sengngeng tak kunjung berkata,tiada menjawab sepatah kata pun suami sejodohnya.

WE ADILUWUQ :

Mengapakah, We Sengngeng, engkau tidak mau
makan? Nanti orang mengatakan bahwa pantaslah ia
begitu, karena ia raja yang miskin, ia hanya
mengharapkan harta pemberian.”

Maka We Datu Sengngeng berbalik.Batara Lattuq sendiri membasuhkan jari tangan istrinya.We Datu Sengngeng hanya menggenggam nasi tanpa memasukkannya ke dalam perut.Tiada juga si yatim itu menampakkan mukanya.Air mata yang bercucuran para pengasuh dan We Adiluwuq bersaudara tak tertahankan lagi.

Hanya tiga kali Batara Lattuq menyuap maka ia berhenti.Dibasuhkan kembali jari tangannya lalu berkumur membersihkan mulut.Tiada diletakkan tempat minuman yang dihadapi La Pangoriseng bersaudara.Batara Lattuq tertawa saja memandang istrinya.Maka Batara Lattuq bangkit naik duduk di atas pelaminan emas merangkul istrinya.We Datu Sengngeng enggan disentuh
dengan jari suami segaharanya.

BATARA LATTUQ :

Paduka Adinda We Datu Sengngeng,
berbaliklah menghadapkan wajahmu kepadaku,
supaya kupandang wajahmu,ambil saja
dayang-dayang ribuan orang.

LA PANGORISENG :

Adik We Sengngeng, berpalinglah menampakkan
wajah pada kakakmu,ambil saja dayang-dayang
ratusan orang daripadaku.Sekian pula lipatan kain
sutera,ambillah pula gading berbilah pada pergelanganku

BATARA LATTUQ :

Adik We Sengngeng, berpalinglah menampakkan
muka kepadaku,ambillah tujuh negeri yang indah,
masing-masing ratusan sumber pajaknya Sebagai
pemasukan di kala suka dan duka.Ambillah pula tujuh
ratus anak orang kaya.Ambillah pula anak raja lima
ratus orang.

Namun tak sekali pun We Datu Sengngeng berpaling kepada Suaminya.

WE ADILUWUQ :

Berpalinglah kemari, Paduka Adinda,menampakkan
muka dan memandang suami segaharamu.Engkau
tidak ditakdirkan merajuk karena Paduka Tunrung
Belae’ suami-istri telah meninggal.Kita akan
kehilangan siriq, Adik,terimalah ini sebagai kehendak
To Palanroe.Nanti semua orang mengatakan,
Bagaimana dia tidak rakus pada pemberian,karena ia
adalah raja miskin tak berpunya.”‘

Maka We Datu Sengngeng berbalik menampakkan wajahnya lalu memandang suami segaharanya.Bergegas Batara Lattuq menindih paha bulan purnama yang disayanginya.We Datu Sengngeng segera menghindar,kesal dan membelakangi duduk,enggan disentuh tangannya.

BATARA LATTUQ :

Adakah pernah, duhai hiasan balairung yang ramai,
bulan pengisi bilik, tak kuturuti kehendakmu?
Engkau mutiara bilik yang tiada duanya,tak ada yang
lain duduk mengepalai balairung selain engkau.
Hanya engkaulah, Paduka Adinda,permaisuriku di
istana agung manurung.

PAPARAN ADEGAN 12 .

(Narasi dan Illustrasi music tradisi, Insert sound effect suara musik perkawinan )

Hari berganti hari, bulan berganti bulan.Tak terasa Maka tiga bulan setelah We Datu Sengngeng duduk bersanding di atas pelaminan emas,sekian pula lamanya suami-istri tak nampak di beranda,tak kenal siang atau malam.Sang raja makan di dalam kelambu emas saja.Mandi berlangir pada papan emas yang satu.

PAPARAN ADEGAN 13 .

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

Malam selalu membawa sepi dan rindu. Di suatu malam yang tenang Manurungnge suami-istri diliputi rasa rindu pada anak yang dikasihinya. Berdebar-debar rasa hatinya di Dalam Paduka We Nyiliq Timoq Yang Muncul di Busa Empong karena terkenang anaknya Batara Lattuq.

WE NYILIQ TIMOQ :

Sudah menjelang setahun kepergian anakku,barulah
seperti sekarang ini terasa rinduku,betapa sedih hatiku
mengenang tunas penggantiku.Alangkah baiknya, datu
manurung,engkau perintahkan ke timur ke Tompoq
Tikkaq Bajeng Tangkiling yang biasa mengarungi
samudera,mengarungi laut dan menyampaikan berita.

BATARA GURU :

Berangkatlah, Bajeng Tangkiling,pergi ke timur ke
Tompoq Tikkaq.Sampaikan kepada I La Tiuleng Batara
Lattuq.Katakan padanya,Selama engkau tinggalkan
negerimu,hanya air mata yang merundung
Manurungnge suami-istri, kerjanya hanya menggigit
ujung ikat pinggangnya saja.Bawalah kemari istrimu
ke Luwuq mengepalai peradatan memelihara
kemuliaanmu.Kupasangi emas berpilin pergelanganmu,
kuhadiahkan juga benang sutera jari tanganmu,engkau
bawakan kirimanku kepada anakku,air mata pada bokor
putih sedap malam dalam buli-buli.

PAPARAN ADEGAN 14 .

(Narasi dan Illustrasi music tradisi )

Belum selesai ucapan Manurungnge Batara Guru, maka angin bertiup dengan kencang mengarungi samudera dan menyeberangi laut.Pada waktu dinihari yang cerah Bajeng Tangkiling suruhan Manurungnge sampai di Tompoq Tikkaq segera berhembus, menggoyangkan daun-daun kayu.Berembus masuk ke dalam bilik tempat tidur Batara Lattuq,menyingkap kelambu emas yang mengitari We Datu Sengngeng, bergoyangan rumbai-rumbai pucuk enau emas,membuat bergetar segala hiasan dan bersentuhan pula giring-giring yang permai.Bersinggungan bokor emas dengan hiasan dinding bilik kencana tempat peraduan Batara Lattuq Opunna Luwuq.

BAJENG TANGKILING ANGIN :

Semoga tak terkutuk daku, orang Ruallette,datang
kemari turun menjelma membangunkan engkau
di bilikmu.

Angin itu sedang mendapati nyenyak sekali tidurnya Batara Lattuq suami-istri.Tiba-tiba terdengar oleh I La Tiuleng ucapan angin itu. Batara Lattuq berpaling menggeser diri melepas pelukannya mengganti lengannya dengan bantal emas,sebagai bantal tidur istrinya.Bergegas Batara Lattuq bangun duduk menyelimuti istrinya dengan puluhan sarung,kemudian membuka cerana emas lalu menyirih.

BATARA LATTUQ :

Menyirihlah, yang tak kulihat wajahmu,yang
membangunkanku pada dinihari yang cerah ini.

BAJENG TANGKILING ANGIN :

Saya ini adalah kakakmu Si Angin dari Luwuq.
Paduka Manurungnge suami-istri menyuruhku
kemari,diikatnya lenganku dengan emas berpilin,
dililitnya pula jari tanganku benang halus.
Semenjak engkau merantau meninggalkan
Negerimu air mata saja yang menyertai
Manurungnge suami-istri,
ikat pinggangnya saja yang terus digigitnya.
Adinda, hendaknya engkau membawa istrimu ke
Luwuq memimpin peradatan dan mengatur perintah
memelihara akan kemuliaanmu.

(Closing dengan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

SELESAI

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: