NO.10 .NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 10 .( KEMBALINYA BATARA LATTUQ KE ALEQ LUWUQ )

NO.10 .NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 10 .( KEMBALINYA BATARA LATTUQ KE ALEQ LUWUQ )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

(Narasi dan Opening lagu Theme Song I La Galigo )

Siang berganti malam, hari berganti hari , bulan berganti bulan, Tak Terasa Tiga Bulan sudah masa perkabungan di Sawammegga . setelah meninggal We Tenrijelloq suami-istri, maka seluruh hartanya yang telah dirampas dikembalikan, dinaikkan ke istana We Adiluwuq bersaudara.Selama tujuh hari orang banyak mengangkut baru selesai dikembalikan aneka ragam harta benda We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng.

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka kakanda We Adiluwuq ,
Semoga Datanglah semangat kahyanganmu
Paduka Kakanda, bagaimana rendapatmu tentang
kegelisahan Kakanda Batara Lattuq Opunna Luwuq
rupanya tamu-tamu kita itu sudah tiada tenang hatinya ,
pembesar sudah rindu kepada orang tua kahyangannya.
Tapi hatiku selalu gusar karena aku ingin memperbaharui
kuburan Paduka ayahanda kita suami-istri,
baru daku meninggalkan negeri kita Kakanda.”

WE ADILUWUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu, Perintahkanlah
To Tenrigiling dan To Tenriulle, perintahkanlah Untuk
memanggil rakyat banyak di Sawammegga,di Singkiq
Wero dan di Tompoq Tikkaq, supaya keluar esok hari
memperbaharui kuburan tempat makamnya Sri Paduka
ayahanda Turung Belae suami-istri. Perintahkan pula,
Tenrisaungeng, memanggang kerbau ribuan ekor.
Kita jamu raja penyabung yang negerinya di seberang laut,
kita adakan perhelatan besar bagi jasad dewa mayatnya
Sri Paduka Turung Belae suami-istri.”

PAPARAN ADEGAN 2 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Segera saja perintah We Datu Sengngeng dilaksanakan. Bagaikan ombak berhempasan perintah To Tenrigiling dan To Tenriulle, memanggang kerbau ribuan ekor lalu dipanggil rakyat banyak supaya keluar membaharui kuburan emas tempat peristirahatan akhir yang kemilau.Mereka baharui pula semua yang di sampingnya diberi tiang kayu lakkaq bersisipkan kayu garu lewa di walasuji bambu emas dibuatkan atap emas yang akan menaunginya. Rakyat kembali semua ,gelanggang telah siap ditutup dengan papan emas. Maka undangan penyabung yang negerinya di seberang laut berhimpun. Berkumpullah para penjudi di arena, penyabungan yang ramai tak tertakar emas murni yang diperjudikan, tak diukur lagi para gembala yang dipertaruhkan di arena emas terus menerus,hanya malam yang mengantarainya, barulah berhenti menyabung orang banyak itu.

PAPARAN ADEGAN 3 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Upacara keramaian berlangsung meriah.Selama tujuh hari berlangsung pesta penyabungan para pembesar kerajaan yang diundang untuk menghadiri dan meramaikan upacara .Kemudian upacara keramaian ditutup dan para undangan itu dijamu dengan ribuan dayang-dayang. Sekian pula peti rotan
yang berisi emas murni. Para undangan pembesar kerajaan berpamitan,To Pananrang dan To Sinilele memperkenankannya.
Maka Setelah kalah To Tenrigiling,To Tenriangkeq dan To Tenriulle.
Para penjudi itu kembali ke negerinya masing-masing.Tujuh hari setelah diperbaharui kuburan raja yang emas, tempat peristirahatan akhir yang permai,Batara Lattuq menjadi gelisah, rindu pada orang tua kahyangannya. Tak mau lagi duduk tenang di atas permadani emasnya. Pelayaran ke negerinya sudah terpikir dalam hatinya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka kakanda We Adiluwuq, semoga
Datanglah semangat kahyanganmu Kasihanilah daku
We Adiluwuq, persiapkan adikmu We Datu Sengngeng
pergi mengikutiku ke Aleq Luwuq,sebab sudah lama sekali
aku tinggalkan negeri indah tempat daku dibesarkan,
kujadikan yatim orang yang melahirkanku.”

Bagaikan buah buni yang berguguran bercucuran air mata We Adiluwuq mendengarkan kata kata Batara Lattuq .

WE ADILUWUQ :

Kur jiwamu, Paduka Batara Lattuq,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu
Sri Paduka ayahanda pemah mengatakan, Ada pun yang
jauh tambatan jodohnya ialah yang mengambil dua
bahagian harta benda yang kutinggalkan.
Mudah-mudahan kita panjang umur, engkau melahirkan
anak sebagai pengganti, kembali ke sini dan kita
kembarkan payung,kita membagi dua cukai negeri.”
Ada baiknya, We Datu Sengngeng, kita duakan
kehormatan yang ditinggalkan Sri Paduka ayahanda kita.
Kita membagi dua harta milik kita bersama baru engkau
berlayar ke Aleq Luwuq.

BATARA LATTUQ :

To Tenrigiling, perintahkanlah memanggil rakyat banyak,
bangsawan pendamping, bangsawan tinggi kapit,
pembesar negeri yang menjadi hakim supaya datang
kemari berkumpul di istana.

PAPARAN ADEGAN 4 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan bergegas, tanpa menunggu waktu lagi,To Tenrigiling pun memerintahkan memanggil rakyat banyak di Tompoq Tikkaq, di Sawammegga dan di Singkiq Wero. Belum lagi hancur daun sirih itu sudah berkumpul anak raja pendamping, bangsawan tinggi kapit, pembesar negeri yang menjadi hakim. Maka kerajaan dibagi dua.We Adiluwuq mendapatkan Sawammegga dan sekitamya,We Datu Sengngeng mendapatkan
Singkiq Wero dan sekitamya.Tompoq Tikkaq berada di tengah-tengah.
Kedua bersaudara bersepakatlah.

WE DATU SENGNGENG :

Paduka Kakanda We Adiluwuq. Akan kubawa inangda
We Temmamalaq menyertaiku

WE ADILUWUQ :

Paduka Adinda We Datu Sengngeng .Dua tiga orang
inang pengasuh yang ada di istana
yang menyabung nyawa ketika harta kita dirampas
pilihlah pengasuh segahara kita untuk kaubawa.”

WE DATU SENGNGENG :

Terimakasih Kakanda We Adiluwuq. Akan kubawa pula
kakanda We Tenrilekkeq,We Tenriulle
dan Tenrisaungeng.Kubawa juga We Unga Waru, We
Temmalate,We Tenriukkeq, We Maddilangiq dan We
Maddewata.We Mappameneq saja yang tinggal Sebagai
ganti diriku memelihara kebesaranku. Kubawa semua
inang pengasuh, anak raja pendamping ,bangsawan kapit,
pembesar negeri yang mengatur hukum.”

Sepakatlah keduanya turunan raja iru bersaudara atas pembagian kerajaan peninggalan kedua orange tua mereka raja di Tompoq Tikkaq.

WE ADILUWUQ :

Paduka Inangda We Temmamalaq, perintahkanlah menurunkan
harta benda yang akan dibawa We Datu Sengngeng.Yang engkau
ambil ialah harta milikku berdua.Jangan hendaknya harta orang
Wareq. Seandainya belum lagi penuh wangkang emas manurung
barulah kauambil harta kekavaan yang banyak dari Coppoq Meru.

PAPARAN ADEGAN 5 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Tak menunggu waktu lama lagi, Bagaikan ombak berhempasan perintah We Temmamalaq untuk menurunkan harta kekavaan vang banyak segera dilakukan .Bersamaan berdiri semua orang yang berambut panjang sambil menjunjung semua.Orang banyak itu tak saling memberi jalan masing-masing membawa barang pergi ke muara. Memanjang iringan arta yang aneka ragam. Barang kekayaan yang banyak mengalir keluar ke tempat dimana berhimpunnya perahu .Rakyat banyak pun berteriak ketika melihat harta yang aneka ragam itu barang kekayaan yang bermacam-macam yang akan dibawa We Datu Sengngeng.

WE ADILUWUQ :

Perintahkan, La Jawa Paseq dan To Anjalika, supaya
dipisahkan harta pusaka anak raja pendamping yang
ribuan jumlahnya.Sekian pula anak orang kaya yang
dibawa mengikuti We Datu Sengngeng,sebab hatiku
berkata,Apakah aku nanti yang meninggal tak disaksikan
oleh saudaraku, atau ia yang meninggal aku tak melihat
lagi Paduka adikku?

PAPARAN ADEGAN 6 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan bergegas La Jawa Paseq sudah keluar ke muara mengumpulkan orang banyak yang akan dibawa berlayar oleh We Datu Sengngeng.

WE ADILUWUQ :

Berikan juga ribuan anak raja, sekian pula bangsawan
mulia,tiga ratus bangsawan, ambillah pula harta benda
yang bagi dua bea cukainya.Semoga kita beruntung
mendapatkan . Keturunan kita membagi dua bea cukai
negeri.kita kembarkan payung addatuang .”

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Selama lima belas malam orang banyak mempersiapkan, malam saja yang mengantarainya barulah orang berhenti ke muara.To Pananrang dan To Sinilele berangkat keluar ke tempat berhimpunnya perahu, berdiri di pinggir tanjung, pelabuhan indah yang tak pernah sunyi ,memerintah sambil menunjukkan jarinya bersaudara supaya diangkut harta benda yang aneka ragam,kekayaan yang bermacam-macam.Sedialah semua perahu yang akan mengarungi pelayaran laut yang jauh.Sudah terhias wangkang emas,perahu besar pendamping,pengiring perahu mulia yang ribuan jumlahnya. Mengapunglah Pelapangkuru dan Binanongnge,orang banyak pun sudah naik ke atas.Tujuh ribu perahu yang terapung tujuh ratus perahu besar dua ribu pelapangkuru.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Datu Sengngeng,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu.Kasihanilah daku,
Adinda We Sengngeng,ambil saja tujuh Negeri ratusan
sumber bea cukaiyang akan menemanimu dalam suka
dan duka pemberianku dari ayahandaku ketika aku dilahirkan
di Aleq Luwuq, daku diberi oleh Sri Paduka Batara Guru.
Sudilah, Adinda, keluar besok ke muara.

We Datu Sengngeng langsung turun dari peterana dan merebahkan dirinya
Kepangkuan suaminya, We Datu Sengngeng menangis.

WE DATU SENGNGENG :

Kakandaku Paduka We Adiluwuq benar-benar akan terbelah
bambu kita bersaudara,benar-benar kita akan saling berjauhan.

We Adiluwuq berpaling mengusap-usap pinggang adiknva. Kawan hidup kesayangan La Tenrio ji menangis.

WE ADILUWUQ :

Paduka Adinda We Datu Sengngeng, engkau akan berlayar
ke Aleq Luwuq meminjam tempat kediaman.Jika engkau nanti
tiba di muara jangan menunggu pemberian baru engkau
mau naik.Jangan engkau tinggal merajuk di tangga.
Jangan menerima pemberian, baru engkau mau naik.
Engkau tak membawa kedudukan padahal kemuliaan
kaudatangi di negeri suamimu pembesar itu.

Batara Lattuq segera bangkit dari peterana lalu duduk di dekat istrinya, memeluk pinggang kawan hidup kesayangannya merayu-rayu bulan purnama yang dilayarinya, melingkarkan lengannya pada leher istrinya We Datu Sengngeng.

BATARA LATTUQ :

Kakanda Paduka We Adiluwuq , perasaanku tersentak-sentak
karena engkau tak mengizinkan adikmu menerima pemberian
di Aleq Luwu dan hadiah di Wareq.Kalau aku selamat dan
keinginanku terkabul,We Datu Sengngeng dengan selamat tiba di
Aleq Luwuq, keluarga dekatku akan berkumpul dari banyak penjuru
menyebutkan pemberiannya dan menyatakan hadiahnya.

WE ADILUWUQ :

Baiknya Adinda Batara Lattuq. Paduka Inangda We Temmamalaq,
perlntahkanlah memanggil para hamba tukang masak agar
menyediakan nasi untuk bekal yang akan dibawa We Datu
Sengngeng. Perintahkan juga supaya memanggil rakyat banyak di
Singkiq Wer untuk bersiap berlayar ke Aleq Luwuq.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Pagi menjelang Di Tompoq Tikkaq. Ketika fajar menyingsing ,Batara Lattuq suami-istri bangun membasuh muka pada mangkuk putih, berkaca di depan cermin, membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya. Batara Lattuq berdiri bergandengan tangan suami-istri menuju ke depan, langsung duduk di samping saudaranya We Adiluwuq .

WE ADILUWUQ :

Kur jiwamu, Paduka Batara Lattuq suami-istri ,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu.Sekiranya We Datu
Sengngeng akan terkabul keinginannya selamat sampai
di Aleq Luwuq, engkau melahirkan anak di negeri tempat
kamu terdampar, apabila laki-laki yang kaulahirkan namakan ia
La Tenritappuq Mase-Masena Ncajiangnge ngngi.
Kalau perempuan kaulahirkan namakan ia We Tenriabeng
Perintahkanlah ia kembali ke Tompoq Tikkaq pengganti
dirimu untuk kupandang. Kalau aku melahirkan anak
sebagai calon pengganti sepeninggalmu semoga
berkenan To Palanroe memberikanku jalan untuk dilalui
daku melahirkan calon pengganti.Kalau laki-laki kuberi
ia nama La Tenriwerruq Samo Tinrona Ncajiangnge
ngngi. Kalau perempuan kuberi ia nama We Tenrirawe
Samo Tuaqna Ncajiangnge ngngi, orang tuanya di langit.
Perintahkanlah anakmu berlayar ke Tompoq Tikkaq
seia sekata bersepupu sekali.Jangan sampai We Datu
Sengngeng,kaulupakan janji kita ketika kita membuang
diri ke tempat yang jauh di hutan belantara yang lebat.

Serentak menangis semua inang pengasuh segaharanya, pengasuh sebayanya mendengarkan ucapan anak raja peliharaannya yang mengharukan itu.

WE DATU SENGNGENG :

Atas Pammase Dewata, Semoga panjang umur kita, Paduka
Kakanda We Adiluwuq ,Semoga To Palanroe memperkenankan
harapan kita,kita sama-sama melahirkan calon pengganti di tempat
daku terdampar dan bertemu jodohku.Daku kembali lagi kemari,
Paduka kakanda We Adiluwuq. Lalu kita melaksanakan nazar kita,
Kita pancangkan ribuan patok emas,kita tambatkan ratusan
ekor kerbau cemara, kita laksanakan nazar kita,karena kita
diberi kebaikan oleh dewa.”

PAPARAN ADEGAN 8 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Siang meninggalkan pagi. Mataharipun telah naik memancarkan cahayanya, para pengiring sudah menunggu di pekarangan, bangsawan pengikutnya,
para bangsawan tinggi kapit sudah turun pula.Sudah datang semua bangsawan pendamping pembesar negeri yang menjadi hakim para turunan raja kapit dan anak orang kaya penghulu negeri. Rakyat pun tak saling memberi tempat berdiri di pekarangan.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka kakanda To Pananrang dan paduka Kakanda
To Sinilele ,Semoga Datanglah semangat kahyanganmu. Segeralah
Kakanda To Pananrang dan To Sinilele, perintahkanlah menurunkan
usungan emas tumpanganku,usungan emas tumpangan Paduka
adikmu We Datu Sengngeng.

Dengan bergegas To Pananrang memerintah menurunkan peralatan upacara kedatuan Opunna Luwuq suami-istri.Kini telah diturunkan usungan emas tumpangan Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng dililiti kain sutra halus membayang dari Sappe Ileq,dinaungi kain sutra halus membayang dari Singkiq Wero,dihiasi bokor emas dari Wideq Langiq,direntangi kain sambutan emas berpilin dari Limpo Bonga.Maka turun pulalah usungan emas tumpangan We Adiluwuq suami-istri dililiti kain cindai,dinaungi kain kembang matahari,dihiasi bokor emas,dihiasi gelang emas,direntangi kain sambutan emas berpilin.

Di pekarangan telah menunggu usungan gading tumpangan anak raja pendamping,bangsawan tinggi kapit, pembesar negeri yang mengatur hukum.Kini payung emas manurung telah terkembang.Upacara dewa kahyangan Batara Lattuq sudah siap dan lengkap semua.To Pananrang berdiri langsung naik ke istana lalu duduk di hadapan peterana emas yang diduduki Batara Lattuq suami-istri.

TO PANANRANG :

Kur jiwamu, Paduka Adinda Batara Lattuq, Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu. Adinda Batara Lattuq Opunna Luwuq,
upacara dewa kahyanganmu sudah lengkap semua Usungan
emas tumpanganmu sudah menunggu,payung emas manurung
telah dikembangkan.

BATARA LATTUQ :

Baiklah kakanda To Pananrang . Adindaku We Datu Sengngeng,
lihatlah Sinar matahari sudah ke barat, bayang-bayang sudah ke
timur.Kasihanilah aku agar engkau meringankan badanmu kita
berangkat pergi keluar ke muara. Engkau ambil tujuh negeri
ratusan sumber bea cukainya yang akan menemanimu
dalam suka dan duka. Hadiahku dari ibundaku Yang
Muncul di Busa Empong dengan usungan emas diiringi
oleh busa air.Itu .Hadiah yang diberikan kepadaku ketika aku
pertama kali telentang di atas permadani emas karena
daku tidak mau menyusu.

PAPARAN ADEGAN 9 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng menuju ke depan lalu duduk di atas peterana emas, berdampingan duduk bersaudara.

WE ADILUWUQ :

Adindaku Paduka We Datu sengngeng. sungguh kita akhiri
kesenangan kita bersaudara. Bila engkau mati di negeri rantaumu,
maka daku tak melihatmu.Atau daku yang akan padam pelita
kehidupanku, maka engkau pun tidak melihatku.

WE DATU SENGNGENG :

Kakanda Paduka We Ailuwuq, benar-benar kita terbelah bamboo
bersaudara.Tinggallah engkau di Tompoq Tikkaq, daku tinggal
di Aleq Luwuq.Semoga To Palanroe mengasihi hingga kita tetap
Hidup daku selamat sampai di Ale Luwuq, di negeri tempatku
terdampar daku punya anak dan engkau pula punya calon
pengganti, kita kawinkan keturunan kita.”

Bagaikan arus meluncur bercucuran air matanya We Datu Sengngeng, sambil berkata di dalam hatinya.

WE DATU SENGNGENG :

Semoga daku diperlakukan oleh suamiku Batara Lattuq Sebagai
istri terhormat.Sebab masih di Tompoq Tikkaq saja daku sudah
sebagai istri. Jika daku nanti di Aleq Luwuq maka sepilah siang
dan malamku.Daku tak mau pergi ke Luwuq.Nanti daku sampai
di negerimu hanya malam yang sepi saja kutemui.

BATARA LATTUQ :

Kur semangatmu, Paduka Adinda Istriku,datanglah semangat
kahyanganmu.Sungguh tak ada di sini duamu yang mengepalai
duduk beradat di istana agung manurung tak seorang pun istriku
yang lain. Engkau permaisuri tunggal, Andinda We Datu
Sengngeng, kakandamu Tidak ada duamu yang menerima
sesembahan di Ale Luwuq .Sebab tak ada duaku, Adik,bagi kedua
ayah bundaku.Aku adalah anak tunggal Sri Paduka yang muncul di
busa Empong.Tetapi kalau engkau tiada percaya ,tanyalah kepada
kakanda La Pangoriseng bersaudara apakah ada orang lain yang
kujadikan kepala duduk beradat.Tidak ada pula duaku dari
Sri Paduka ibundaku We Nyiliq Timoq .

WE ADILUWUQ :

Paduka Adinda We Datu Sengngeng,engkau meluncur bagai jarum
Tak bersampul.Janganlah dikau tamak terhadap harta, jangan dikau
menunggu pemberian yang banyak. Nanti orang akan berkata
Bagaimana ia tiada tamak pada Harta tak mengingini pemberian
yang banyak ,dia raja miskin yang meluncur bagaikan jarum tak
bersampul. Nanti orang akan berkata, Adinda We Datu Sengngeng
Raja orang Tompoq Tikkaq mengikut ke Aleq Luwuq tiada membawa
tanah sebungkah, beras Segenggam lebih-lebih lagi akan adanya
harta kekayaannya.Hanya kemiskinan saja yang ia bawakan kita.
Bila terurai simpul ikatan perkawinannya engkaulah To Pananrang
dan To Sinilele, kuharap mengasihaninya untuk mengiringi
wangkang emas tumpangan We Datu Sengngeng pulang kembali
ke Tompoq Tikkaq.”

BATARA LATTUQ :

Kur semangat Paduka adinda We Datu Sengngeng ,Semoga
Datanglah semangat kahyangannya. Andai jatuh sehelai bulunya
niscaya kutanam kembali,andai putus rambut kesayangannya akan
kusambung kembali.Semoga Patotoqe mengasihi aku ingin
membawa mati Paduka adinda istriku.hanya pada sebilah tongkat
kami meniti ke akhirat satu peti mayat daku berdua.”

I LA JIRIU :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu Berangkatlah, Adinda We
Datu Sengngeng ke depan,ambil dayang-dayang ribuan orang dari
Coppoq Meru, sekian pula bakul yang berisi gelang emas.

Tak membuang waktu yang lama, Maka We Adiluwuq berdiri bergandengan tangan bersaudara pergi ke depan dan langsung turun disambut oleh usungan kencana, dinaungi payung manurung.Penyeru semangat kahyangan Batara Lattuq tak saling mendengar lagi.

PAPARAN ADEGAN 10.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Gemuruh nian upacara kahyangan aneka ragam dari Opunna Luwuq.Mereka tiba di tempat berhimpunnya perahu lalu usungan itu diletakkan. I La Tiuleng berdiri mengangkat istrinya meniti pada cadik emas, melangkahi barateng gading masuk duduk di ruang duduk wangkang kemilau.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Kakanda We Adiluwuq suami istri ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu. Paduka Kakanda berdua ,
tinggallah engkau di negerimu,Selamat tinggal di istanamu suami-
istri semoga kita tetap hidup dan tetap saling mengingat dalam
suka dan duka.

WE ADILUWUQ :

Kur jiwamu,Paduka Batara Lattuq,Semoga. Datanglah semangat
Kahyanganmu.Berlayarlah, Paduka Adinda berdua suami istri
semoga tidak kandas wangkang emas tumpanganmu hingga
sampai di Aleq Luwuq.

WE DATU SENGNGENG :

Paduka Kakanda We Adiluwuq , tinggallah engkau suami-istri,
selamat tinggal pula engkau semua anak raja pendamping.”

WE ADILUWUQ :

Paduka Adinda We Datu Sengngeng , berlayarlah engkau Semoga
tidak kandas wangkang emas tumpanganmu hingga sampai
di Aleq Luwuq,mengharap kasih di tempat kamu terdampar.

La Pangoriseng bersaudara berdiri di tepi wangkang dinaungi payung emas.

LA PANGORISENG :

Angkatlah jangkar emas, turunkan kemudi kencana.”

Tak Menunggu waktu yang lama, Maka jangkar emas diangkatlah, kemudi kencana diturunkan pula. Serentak orang Selayar bergerak mengayunkan dayung orang Waniaga saling berpaling mengkayuh. Bagaikan orang bersemburan air laut itu ditimpa kayuh emas.Belum lagi hancur daun sirih itu para nelayan di Tompoq Tikkaq sudah tertinggal.

To Pananrang dan To Sinilele memerintah untuk mendirikan tiang Layar dikembangkan layar sutra aneka ragam.Bertepatan naiknya air pasang angin kencang bertiup sudah terpasang pula hiasan perahu yang sepadan.
Bagaikan burung beterbangan wangkang itu diangkat oleh layar dan dibawa gelombang didorong oleh angin kencang. Berlayarlah semua perahu mulia pendamping ribuan perahu besar pelapangkuru dan binanong. Bagaikan kampung yang bergerak perahu itu, bak hutan bergerak wangkang emas yang mengiringinya. Maka We Adiluwuq duduk di tempat berhimpun perahu ,membiarkan air matanya bercucuran memandangi wangkang emas tumpangan saudaranya. Setelah tiada tampak dari pandangan barulah diberangkatkan usungan emas tumpangannya We Adiluwuq suami-istri kembali ke Tompoq Tikkaq.

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Malam berganti malam.Telah lima belas malam terus berlayar Batara Lattuq. Kayuh tiada dilepas,juru batu yang tak lengah dan juru mudi yang hati-hati tidur bergiliran.Tujuh pedoman mulia ditempatkan pada tiang
meninjau medan dan memperhatikan batu karang.Keesokan harinya ia sampai di Maloku melabuhkan wangkang emas tumpangannya .La Pangoriseng memerintahkan menurunkan layar, merebahkan tiang dan mengumpulkan orang banyak.Sudah siap rupanya orang Maloku berdiri berbaris rakyat banyak di tempat berhimpun perahu.La Tenripeppang dan To Addaremmeng berangkat meniti cadik emas dan melangkahi barateng gading. To Addaremmeng sujud menyembah sambil duduk di hadapan Opunna Luwuq.disuguhi sirih lalu menyirih.

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Lima belas malam lamanya Batara Lattuq berlayar sejak ia meninggalkan Maloku,kayuh tak pernah dilepas,juru batu yang tak pernah lalai,juru mudi yang berhati-hati bergantian pergi tidur.Tujuh pedoman mulia bersandar pada tiang melihat medan, memperhatikan batu karang di laut yang luas.Keesokan harinya mereka sampai melabuhkan wangkang emas tumpangannya
Opunna Luwuq di Taranati. Agaknya To Paranrengi sudah menunggu di muara.Orang banyak berdiri berbaris bergegas menginjak tangga perahu kencana,meniti cadik emas, melangkahi barateng gading.To Sinilele bersaudara memerintahkan untuk berlabuh, menggulung layar, menurunkan jangkar emas dan mengerahkan orang banyak.Orang Taranati itu sujud menyembah lalu duduk di hadapan Batara Lattuq disuguhi sirih untuk menyirih.

PAPARAN ADEGAN 13.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

.Lima belas hari lamanya Batara Lattuq berlayar terus bagaikan burung gerak layarnya tiada dilepas kayuh,nakhoda yang tiada lengah,juru mudi yang berhati-hati bergantian pergi tidur.Tujuh pedoman bersandar pada tiang melihat medan dan memperhatikan batu karang di laut lepas.Pada waktu dinihari muara sungai telah di depan,tempat berlabuh di Sunra Timur.
Keesokan harinya berlabuhlah wangkang emas tumpangan Batara Lattuq di Sunra Timur.Agaknya To Wideq Apung sudah menunggu,orang banyak berdiri berjejer.Bergegas To Wideq Apung menginjak tangga perahu emas,meniti cadik kemilau, melangkahi barateng gading.Sujud menyembah sambil duduk dihadapan Batara Lattuq ,disuguhi sirih Untuk menyirih.

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Tak kurang waktunya dari Tiga malam saja Opunna Luwuq berlayar setelah meninggalkan Sunra Timur bak burung beterbangan rombongan wangkang mereka.Tak pernah para pengayuh beristirahat,para juru batu yang tiada lengah juru mudi yang selalu berhati-hati bergantian pergi tidur memperhatikan medan dan mengamati karang di lautan lepas .Keesokan harinya Opunna Wareq tiba melabuhkan wangkang emas tumpangannya menuju ke Gima di negerinya La Tenritattaq, Datu Gima.Agaknya orang Gima telah menunggu berdiri berjejer di tempat berhimpun perahu.Raja Gima keluarlah diiringi hamba bergelang emas pinggangnya gemerlap dilekati keris emas,diramaikan bangsawan tinggi,dinaungi payung emas.
Datu Gima tertawa saja memandang kemanakannya di tengah perahu.Raja suami-istri itu duduk bertindih paha bersandar pada bantal emas dikelilingi oleh bangsawan tinggi yang dimuliakan, diapit oleh para pengipas, dipangkukan cerana emas tempat sirihnya,tak membiarkan berada di lampit ketur peludahan buangan sepah sirihnya.Bergegas Datu Gima menginjak tangga perahu emas, meniti cadik emas, melangkahi tepi perahu.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka pamanda Datu Gima,semoga
Datanglahsemangat kahyanganmu Silakan kemari, Paduka
masuklah duduk di atas permadani emas.

Lalu Datu Gima duduk di samping kemanakannya Batara Lattuq

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Datu Sengngeng ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu Adik We Sengngeng, berilah
sirih Paduka sepupu sekali sederajatnya Paduka ibunda Yang
Muncul di Busa empong.

We Datu Sengngeng cepat berpaling menyuguhi cerana emas tempat sirihnya.

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Pamanda Datu Gima,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu .Menyirihlah, Sri Paduka
Datu Gima.

Bergegas Datu Gima menyambut sirih pada menantu kemanakannya.

DATU GIMA

Kur semangatmu, Batara Lattuq suami-istri, datanglah
semangat kahyanganmu.Selamat datang di negerimu
kujemput dikau dengan tarian bissu kuantar melewati
pancangan bambu berhias emas memasuki Ale Gima,
kupatahkan bambu emas kemilau masuk ke Dalam
negerimu,kuundangkan opu penyabung dan pembunuh
ayam duduk bersama menakar emas di bawah pohon
asam,kukembalikan dikau pada tempatmu semula.”

BATARA LATTUQ :

Tidak hamba tampik perhatianmu Paduka tuanku,jangan karena
itu lalu engkau berkecil hati, tuanku, karena hamba tak singgah di
negerimu,sebab bergegas kepergian hamba sudah lama sekali
tuanku,kutinggalkan negeri indah tempat hamba dibesarkan.
Sudah tiga kali berulang datang utusan sepupu sekali, tuanku.
Demikian kata sang bayu,Sri Paduka ayah bundamu ditimpa
penyakit keras,karena tak melihat daku.Karena itulah, tuanku, maka
bergegas keberangkatan hamba.Siapatah lagi, tuanku,yang
menjadi sandaran hati Hamba kalau bukan tuanku?”

DATU GIMA :

Kur semangatmu, Paduka Ananda Batara Lattuq ,kemarilah
Semangat kahyanganmu suami-istri.Selamat sampai di negerimu
memuaskan hati ayah bundamu.Semoga tak sampai meninggal
Manurungnge suami-istri. Kalau engkau, Anak Tiuleng,sampai
dengan selamat di Aleq Luwuq. katakanlah kepada Sri Paduka
ayahandamu,Aku ditahan oleh sepupu sekalimu Datu Gima,
tetapi aku tak singgah.’

BATARA LATTUQ :

PadukaTuanku, semoga hamba selamat tiba, pasti hamba
menyampaikannya kepada sepupu sekalimu.Janganlah berkecil
hati karena hamba tak singgah. Semoga panjanglah umur kita,
tetap saling tolong-menolong dalam suka dan duka.”

DATU GIMA :

Paduka anakda We Datu Sengngeng, ambillah tujuh negeri
di sebelah barat Lautan tempat aku menumpuk harta,tempat
menyimpan emas perakku.Jadikan ia persinggahan sekali-sekali.
Ambil juga peti rotan ratusan buah yang berisi tenunan Melayu
. Sekian pula peti gading yang dipenuhi emas murni, ribuan dayang-
dayang orang pilihan yang hasil tangannya indah tidak mengenal
sarung yang sobek, baju yang lusuh,lengannya semua berlilitkan
gelang emas.Engkau ambil mereka, Ananda We Datu Sengngeng,
sebagai pengganti pinang sekerat penukar daun sirih selembar,
karena kutahan dikau namun tak mau singgah.

Batara Lattuq suami-istri sujud menyembah Datu Gima.

BATARA LATTUQ :

Kur semangatmu, Sri Paduka Datu Gima,datanglah semangat
kahyanganmu.Janganlah, tuanku,merasa berkecil hati
karena hamba tak singgah menginjak negeri.Siapatah lagi jadi
sandaran hatiku kalau bukan tuanku? Hamba bermohon diri Untuk
berlayar, tuanku sebab tergesa-gesa keberangkatan kami.”

DATU GIMA :

Pegang teguhlah semangat kahyanganmu semoga engkau tiba
dengan selamat di Ale Luwuq berjumpa dengan Paduka ayah
bundamu suami-istri,semoga kau melahirkan anak perempuan atau
laki-laki,aku akan berlayar ke Aleq Luwuq.”

PAPARAN ADEGAN 15.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Lima belas malam setelah berlayar yang bermahkota emas di Ale Luwuq,para pengayuh tiada beristirahat,para juru batu yang tak pernah lengah,juru mudi yang berhati-hati bergantian pergi tidur.Tujuh pedoman mulia bersandar pada tiang meninjau medan dan mengamati batu karang di lautan. Ketika dinihari mereka telah menghadapi Jawa Timur.Agaknya La Tenriulle sudah menunggu di pinggir tanjung pelabuhan yang tak pernah sunyi.Orang banyak sebentar singgah mengambil air tawar,kemudian berlayar lagi .Sejenak La Tenriulle terperangah karena orang besar itu tidak singgah.Raja Jawa berdiri cepat memerintahkan menurunkan perahu dan mengapungkan wangkang lalu mereka naik bersama rombongan membawa harta benda dan dayang-dayang sebagai persembahan.Semua negeri yang pernah disinggahi perahu
menyusul semua membawa persembahan banyak ke Aleq Luwuq.

PAPARAN ADEGAN 16.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Empat puluh lima malam Opunna Luwuq berlayar terus sejak meninggalkan Jawa Timur.Pada tengah malam yang tenang ia pun telah menghadapi muara yang luas tempat orang banyak mandi di Aleq Luwuq.Terkaget-kaget semua orang banyak menyaksikan negeri indah tempat mereka dibesarkan.Bagaikan suara burung nuri yang berlaga hamba yang bergelang emas, bagai burung nuri yang berkelahi suara orang banyak saat melihat muara besar tempat berlabuh di Aleq Luwuq.Tak ubahnya gemuruh halilintar suara teriakan anak-anak raja ketika melihat negeri indah tempat mereka dibesarkan.Meriam pun disulut sebagai maklumat berlabuhnya wangkang orang besar. Diperintahkanlah oleh To Pananrang dan To Sinilele melengkapi upacara adat Paduka adiknya sebagai penyambut semangat tunas Manurungnge di Luwuq.Bunyi genderang yang ramai bersahut-sahutan sebagai pertanda suara irama gembira para bissu menari berputar-putar, bunyi letusan meriam tak dibiarkan berhenti.

PAPARAN ADEGAN 17.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Manurungnge Batara Guru sedang terjaga dari tidurnya mendengar bunyi letusan meriam bersamaan dengan pukulan gendang irama gembira, sambung-menyambung suara teriakan orang banyak.

BATARA GURU :

Sudah datang rupanya anak kita We Datu Tompoq,perahu anak
kita sudah berlabuh di muara.Bagaikan saja suara burung nuri yang
mabuk kudengar teriakan orang banyak.Tak hentinya-hentinya pula
kudengar bunyi letusan meriam.Tampaknya keinginan anak kita
sudah terkabul.

Bagaikan orang yang mencicipi madu perasaan di dalam hati We Nyiliq Timoq. We Datu Tompoq ri busa Empong.

BATARA GURU :

Hai We Saung Nriuq, perintahkan menyulut obor dan menyalakan
Pelita dihalaman istana.

Tak menunggu lama lagi,Belum selesai ucapan Manurungnge,pelita pun telah menyala.Ibunda La Pangoriseng telah memerintah.kan pula menyalakan pelita di mangan orang besar itu.

PAPARAN ADEGAN 18 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Bangun bersamaan semua,segenap isi istana emas manurung. Manurungnge suami-istri bangkit duduk membasuh muka pada mangkuk putih,berkaca di depan cermin,membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya.la berdiri dan pindah duduk di balairung berdampingan suami-istri dikelilingi oleh dayang-dayang orang Senrijawa.

WE NYILIQ TIMOQ :

Hai Welong Talaga dan Apung ri Toja, perintahkan
mengantarkan kain sutra alas kakinya Puang Matoa
supaya semua berkumpul di gelanggang, mempersiapkan
perlengkapan upacara bissunya supaya ia berada di
gelanggang memercikkan air suci, mengupacarai
kampak,menebang kayu arawaq, menghiasi bambu,
mengatur menrawe, tempat yang akan dilewati pengantin.
Supaya segera mengadakan kenduri besar pada tempat
I La Tiuleng diberi buah bokor dan tangkai rantai kalung
berakarkan gelang berkait, berdaunkan kain sutra,
berselendang kain yang indah.Kuinginkan ia tiba pada
upacara gelanggang emas berbaris,di hadapan istana
kencana manurung semuanya ditutup papan kemilau,
dan berjejeran dayang-dayang dibalut kain sutra tipis
membayang dari Toddang Toja,dinaungi kain wajang
mpatara dari Saung Nriuq,ditempa dengan emas berpilin,
diuluri kain berujung gading dari Mata Soloq,dibentangkan
kalung berukir orang Uluwongeng.Tujuh ratus pancang
bambu berhias tempat yang dilewati anak yang kulahirkan.
Perintahkan pula, Apung ri Toja,melengkapi hiasan
peterana emas tempat duduknya pengantin,dibalut kain
cindai dari Toddang Toja,dihiasi bunga matahari dari
Ruallette dengan gelang berukir orang Mata Soloq,
diulurkan kain penyambut dengan gelang emas dari Wawo
Unruq,ditudungi dengan kain ampe warani dari Boting
Langiq, digantungi bokor kencana dari Uluwongeng
dibentangkan kalung berukir orang Singkiq Wero upacara
kahyangan anak yang kulahirkan.

( Closing dengan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: