NO.9.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 9 .( MANGKATNYA RAJA MANDUL SI PERAMPAS )

NO.9.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 9 .( MANGKATNYA RAJA MANDUL SI PERAMPAS )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

(Narasi dan Opening lagu Theme Song I La Galigo )

Pagi menjelang di istana Tompoq Tikkaq, burung burung bertebangan menyambut matahari yang memberikan kecerahan pagi itu. I La Biraja utusan sri Paduka penguasa di Sawammegga menghadap We Adiluwuq .

I LA BIRAJA :

Kur jiwamu, Paduka We Adiluwuq dan Paduka We Datu Sengngeng
semoga Datanglah semangat kahyanganmu. Kutadahkan kedua belah
tanganku,semoga tak terkutuk daku menjawab, tuanku,perkataan ini
bukan kata-kataku melainkan perkataan sesamamu raja.
Adapun yang diperintahkan kepadaku oleh raja mandul suami-
istri.Bukan engkau yang seharusnya didatangi pajak muara dan bea
sungai. Sri Paduka di Sawammegga yang patut memungut pajak pada
para pedagang, yang harus menerima persembahan bea sungai.

Memerah wajah We Adiluwuq Bagaikan bara menyala air muka We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng bersaudara mendengar ucapan I La Biraja.

WE ADILUWUQ :

We Tenrijelloq dan La Tenrigiling tidak malu berkata demikian.
Tidak kembar payung di Tompoq Tikkaq, I La Biraja.
Tidak pula dua payung kerajaan di Sawammegga.
Tempat minumnya We Tenrijelloq menjadi pengapit,
suara gendangnya La Tenrigiling menjadi sumbang.
Rupanya We Tenrijelloq telah jadi raja, I La Biraja,
padahal tak Pernah kuingat ia menerima persembahan
dan bea sungai sebelum meninggal Paduka tuanku
Turung Belae suami-istri. Mereka merampas hartaku,
memindahkan kerajaanku,barulah mereka menarik
pajak pada para pedagang.

I LA BIRAJA :

Kalau begitu Hamba memohon diri, Sri Paduka.”

We Adiluwuq tiada berkata, We Datu Sengngeng pun tiada menjawab.Batara Lattuq bersepupu sekali rnemperkenankannya.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan tidak membuang waktu ,Maka I La Biraja bangkit,bergegas ke Sawammegga,menginjak tangga emas berukir,melangkahi ambang pintu,menginjak lantai papan pinang kemilau,langsung duduk di hadapan We Tenrijelloq suami-istri.Sujud menyembah lalu duduk.

LA TENRIGILING :

Bagaimana gerangan ucapannya anak yatim dua bersaudara?”

I LA BIRAJA :

Adapun yang diucapkan We Adiluwuq dan We Datu
Sengngeng, katanya,Benar-benar We Tenrijelloq
tidak punya rasa malu
cara berbicaranya suami-istri,
memang tak pernah ia menerima
pajak muara dan bea sungai
sebelum Sri Paduka tuanku meninggal.

Marah sekali We Tenrijelloq suami-istri mendengar ucapan We Adiluwuq.La Tenrigiling meludah sembari berkata,

LA TENRIGILING :

Andaikata aku tahu demikian ucapan anak yatim itu
pada saat meninggalnya orang tuanya sudah
kutikamnya dengan keris emas.
Tetapi sekarang sudah ada Opunna Luwuq
bersepupu sekali tegak menghadang
bagaikan dataran tinggi yang melintang sepanjang negeri,
membuat lancang berbicara mulutnya
We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng bersaudara.

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Tiada lagi senang perasaan We Adiluwuq bersaudara mendengar ucapan We Tenrijelloq.Berpaling sambil berkata We Adiluwuq kepada adiknya We Datu Sengngeng.

WE ADILUWUQ :
Janganlah engkau, We Datu Sengngeng,
memalingkan muka memandang pada
suami segaharamu,kalau belum sampai ajalnya
raja mandul perampas itu suami-istri.”

Ucapan saudaranya diiakan oleh We Datu Sengngeng.Tanpa sengaja Batara Lattuq mendengar ucapan We Adiluwuq.I La Tiuleng tertawa saja mendengar ucapan Paduka kakaknya. Sambil tersenyum I La Tiuleng berkata,

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, mutiara bilik bersaudara,
semoga datanglah semangat kahyanganmu.
Apa gerangan yang tak menyenangkan perasaan hatimu?
Siapa lagi yang akan dituruti rayu-rayunya
selain engkau adindaku bersaudara?”

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Suamiku Batara Lattuq ,
semoga datanglah semangat kahyanganmu.
Aku tak menyembunyikan perasaanku, Paduka.
Hatiku hanya akan senang kalau We Tenrijelloq
suami-istri sudah mati.

BATARA LATTUQ :

Tidak usah hal itu yang menyusahkan hatimu adinda We Datu
Sengngeng mutiara bilik yang jarang samanya bersaudara.

WE DATU SENGNGENG :

Paduka suamiku Batara Lattuq. Aku tak mau melihat
raja mandul perampas itu menguasai yang bukan haknya.
Barulah akan senang perasaan hatiku kalau engkau membunuh
We Tenrijelloq suami-istri.

BATARA LATTUQ :

Adinda We Datu Sengngeng, Perintahkanlah orang memungut sepah
Sirih yang telah dikunyah We Tenrijelloq suami-istri .

Berpaling berkata We Datu Sengngeng kepada kakaknya We Adiluwuq.

WE DATU SENGNGENG :

Bagaimana pikiranmu yang jernih bagai mata air itu Paduka Kakanda
We Adiluwuq? siapakah gerangan yang tak dicurigai bila memungut
sepah sirih yang telah dikunyah raja mandul perampas itu ?

WE ADILUWUQ :

Pada pikiranku Barangkali We Unga Waru yang baik Adikku We Datu
Sengngeng Untuk kita suruh pergi mengambil sepah sirih yang telah
dikunyah bibi kita We Tenrijelloq suami-istri.Sebab hanya dia yang arif
bijaksana menyembunyikan gerak sehingga tidak akan dicurigai.

WE DATU SENGNGENG :

Berangkatlah, Wahai Unga We Majang, panggilkan daku We Unga
Waru, dan katakana Engkau dipanggil Paduka adik kita.

Ttdak menunggu waktu lagi, Belum selesai ucapan We Adiluwuq bersaudara maka Unga We Majang berangkat ke istana We Unga Waru,menginjak tangga emas berukir,melangkahi ambang pintu lalu masuk,didapatinya We Unga Waru selesai makan.

WE UNGA WARU :

Silakan duduk, Unga We Majang. Apa gerangan yang menyebabkan
engkau kemari ?

UNGA WE MAYANG :

Unga We Majang , Engkau dipanggil Paduka adik kita We Datu
Sengngeng bersaudara menghadap ke istana.

PAPARAN ADEGAN 4.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan bergegas tanpa menungngu waktu lagi ,Maka We Unga Waru berangkat tanpa mengganti sarung sehari-harinya,dan baju di dada peresap keringatnya,berjalan We Unga Waru bergegas menuju ke istana,menginjak tangga emas berukir,melangkahi ambang pintu kencana, menginjak lantai papan pinang kemilau, melewati dinding tengah, melangkahi sekat istana. Langsung duduk sambil menyembah bersimpuh di hadapan peterana emas
persandingan We Datu Sengngeng bersaudara, disorongkan sirih lalu menyirihlah We Unga Waru.

WE DATU SENGNGENG “

Kur jiwamu, paduka kakanda We Unga Waru ,
semoga datanglah semangat kahyanganmu.
Duduklah dan ambillah sirih, Menyirihlah Kakanda We Unga Waru.

Bergegas We Unga Waru menyambut sirih dari adiknya .We Datu Sengngeng berkata hampir bersamaan berdua dengan We Adiluwuq,

WE DATU SENGNGENG :

Kasihanilah daku, Paduka Kakanda, kaupungutkan daku sepah sirih
yang dikunyah bibiku We Tenrijelloq suami-istri.

Tanpa menunggu waktu lagi, Belum selesai ucapan We Adiluwuq bersaudara maka We Unga Waru berangkat bergegas menuju istana sao loci tempat tinggal We Tenrijelloq menginjak tangga emas berukir, memegang susuran kemilau, menginjak lantai papan pinang emas,bergegas masuk ke Dalam, didapatinya We Tenrijelloq duduk berdampingan suami-istri.

WE TENRIJELLOQ :

Silakan duduk, We Unga Waru.

We Unga Waru sujud menyembah lalu duduk di hadapan We Tenrijelloq yang Membuka cerana emas sambil berkata

WE TENRIJELLOQ :

Ambillah Sirih, Menyirihlah engkau We Unga Waru.

WE UNGA WARU :

Inilah Paduka We Tenrijelloq , sarung indah hasil tenunanku sendiri.

Gembira sekali We Tenrijelloq mengamati warna sarung We Unga Waru.We Tenrijelloq berpaling membuka cerana emas lalu suami-istri menyirih.Tujuh kali ia mengunyah sirihnya lalu dibuangnya. We Unga Waru berpaling mengambil sepah sirih yang dikunyah We Tenrijelloq suami-istri,lalu dibungkusnya dengan daun sirih dan diselipkannya pada ikatan sarungnya.

WE UNGA WARU :

Aku memohon pamit dahulu ,kalau Paduka berkenaan.

We Tenrijelloq suami-istri memperkenankannya.Maka bergegaslah We Unga Waru keluar dan turun menginjakkan kaki pada tangga emas berukir, memegang susuran kemilau, menginjak lantai papan pinang emas,bergegas
Keluar meninggalkan Istana.

PAPARAN ADEGAN 5.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

We Unga Waru berangkat pergi bergegas menuju Tompoq Tikkaq menginjak tangga emas berukir,memegang susuran kemilau,menginjak lantai papan pinang terus masuk kedalam Istana.

WE ADILUWUQ :

Kemarilah, kakak We Waru, duduklah dan menyirihlah.

Maka We Unga Waru naiklah duduk ,mengambil sirih dan menyirih.Lalu Berkatalah We Adiluwuq hamper bersamaan dengan We Datu Sengngeng.

WE ADILUWUQ :

Kusiasati engkau, Kakak We Waru, kuajukan pula pertanyaan
kepadamu,adakah engkau pulang membawa harapan?”

We Unga Waru tersenyum saja sambil membuka mulutnya,

WE UNGA WARU :

Inilah, Adinda We Adiluwuq , sepah sirih yang dikunyah oleh
We Tenrijelloq suami-istri.

Gembira sekali We Adiluwuq bersaudara melihat sepah sirih bekas kunyahan We Tenrijelloq suami-istri,dan diberikannya kepada Batara Lattuq bersepupu sekali lalu disimpan di dalam kampuh emas dan dimasukkanlah sepah itu ke dalam puannya .

BATARA LATTUQ :

Bagaimanakah menurut pikiranmu Paduka Kakanda To Sinilele,
Bagaimana menurut perhitungan kakanda letak matahari?

LA TEMMALURENG :

Adinda Paduka Batara Lattuq, Sinar matahari tidak di barat,
bayang-bayang pun tidak pula di Timur.

BATARA LATTUQ :

Kalau begitu halnya, sudah tiba waktunya kita berangkat.Marilah kita
pergi ke sungai naik perahu, Kakanda,didayungi oleh orang banyak.
To Pananrang, perintahkanlah menurunkan usungan emas
tumpanganku bersepupu sekali.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dalam sekejab saja tanpa membuang waktu ,Maka La Temmallureng memerintahkan untuk menurunkan usungan emas,tumpangan Batara Lattuq bersepupu sekali,Kini usungan sudah siaplah, payung emas pun telah dikembangkan,orang banyak pun telah menunggu di pekarangan,serta juak yang bergelang gading emas.Batara Lattuq berpaling sembari mengusap-usap pinggang istrinya.membalik-balik gelang kalaru emas yang melingkari lengannya.melepas-lepas cincin emas pengikat jari tangannya,
mengelus-elus kuku buatan hiasan jarinya, melengkung-lengkungkan
sanggulnya, melentik-lentikkan ujung jarinya menelusuri dada bajunya, melingkarkan lengan pada lehernya.

BATARA LATUUQ :

Paduka Istriku We Datu Sengngeng. Kasihanilah daku mutiara bilik
yang jarang duanya,engkau berikan sepah sirih yang engkau kunyah,
berikan pula cincin emas yang ada pada jari manismu, engkau ambil
saja pelayan Luwuq ratusan orang.

We Datu Sengngeng membuka cerana emas dan menyirih, lalu diberikan kepada suami segaharanya sambil membuka pula cincin emas di jari manisnya.

La Tenroaji berpaling mengusap-usap pinggang istrinya, mengurut-urut rambutnya yang panjang tergerai,menimang-nimang jari tangannya memijit-mijit pinggang istrinya merayu-rayu bulan purnama yang disayanginya.

LA TENRIOJI

Kasihanilah daku, permata bilik yang jarang tandingannya,
engkau berikan sepah sirih yang engkau kunyah.Berikan pula
kepadaku cincin emas di jari manismu,engkau ambil dayang-dayang
ratusan orang dari Coppoq Meru.

We Adiluwuq membuka cerana emas lalu menyirih,ia berikan sepah sirih yang ia kunyah,kepada suami segaharanya dan membuka cincin emas pada jari manisnya,lalu diberikannya kepada I La Jiriu.

To Pananrang mendekat sambil menyembah dan berkata

TO PANANRANG

Paduka Batara Lattuq.Sudah siap usungan, sudah terkembang
pula payung emasmu.”

Maka I La Tiuleng berdiri bergandengan tangan bersepupu sekali menuju ke depan,diiringi oleh para hamba pembesar kerajaan yang empunya negeri yang indah.Maka mereka bersepupu sekali berangkat diangkut dengan usungan kencana dinaungi payung emas. Diusunglah pula para pemegang kipas diangkatlah ketur peludahan tempat menampung sepah sirih pembesar itu.Di barisan depan boneka ditempatkan,di belakang topeng kayu telah ditempatkan.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi musik tradisi, insert sound effect suara genderang, seruling dan gong )

Genderang besar telah dipukul,seruling telah berbunyi diiringi oleh gong, diramaikan dengan tari Melayu.Alangkah riuhnya kedengaran adat kerajaan pembesar itu. Bersahutan suara kur semangat kahyangan para pembesar. Sudah berangkatlah usungan emas yang ditumpangi Batara Lattuq dan I La Jiriu pergi keluar ke sungai. I La Tiuleng sudah sampai memenuhi pinggir sungai pelabuhan yang tak pernah sunyi di Tompoq Tikkaq.Diletakkanlah usungan emas kendaraan Batara Lattuq bersepupu sekali.

Lalu Batara Lattuq dan 1 La Jiriu berdiri menginjak tangga perahu emas meniti cadik emas, melangkahi barateng gading, duduk bersepupu sekali pada ruangan perahu.Semua orang banyak naik pula, anak perahu dan hamba bergelang emas lengkap pula.La Temmallureng berdiri di haluan perahu sambil berkata,

LA TEMMALURENG :

Segeralah kita berlayar. Mendayunglah orang Selayar,
berkayuh pula orang Waniaga.”

Wangkang itu bagaikan burung yang terbang diangkut oleh layar dan dibawa oleh gelombang, diiringi oleh angin dan berbunyi ditiup bayu. Belum lagi hancur daun sirih itu maka mereka sampai pada pusaran air. Batara Lattuq dan I La Jiriu membuka cerana emas lalu menyirih. Mereka menenggelamkan kempu berisi sepah sirih yang dikunyah We Tenrijelloq suami-istri.

Batara Lattuq dan I La Jiriu kembali lagi. Tingginya sinar surya tinggal sepenggal di barat,matahari terbenam di pinggir langit. Maka wangkang I La Tiuleng tiba berlabuh di muara di Tompoq Tikkaq. Opunna Luwuq dan I La Jiriu berdiri, meniti cadik emas, melangkahi tepi perahu,ditadah dengan usungan kencana,dinaungi payung emas bersepupu sekali masuk ke Tompoq Tikkaq.Bergegas titian pagar indah dipegangkan untuk dilewati para pengusung. Diletakkanlah usungan emas kendaraan pembesar itu.
Lalu Batara Lattuq berdiri bergandengan tangan bersepupu sekali
menginjak tangga emas berukir,melangkahi ambang pintu, menginjak lantai papan pinang, melewati dinding tengah, melangkahi sekat ruangan,didapati istrinya duduk di atas peterana dikelilingi orang pilihan. Bagaikan orang yang minum madu perasaan di dalam hati I La Tiuleng dan I La Jiriu memandang istrinya duduk bagaikan orang Boting Langiq yang turun menjelma. I La Tiuleng dan I La Jiriu langsung masuk duduk mendampingi istri mereka mencumbu bulan purnama kecintaannya mengusap-usap mutiara bilik yang disayanginya, melingkarkan lengan pada leher istrinya.

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Hanya tiga malam setelah datangnya Batara Lattuq bersepupu sekali.We Tenrijelloq suami-istri ditimpa penyakit keras.We Tenrijelloq suami-istri sudah sakit perutnya tinggal berbaring tanpa bergerak bagaikan mayat.Semua anak raja pendamping,pemuka negeri yang mengatur hukum sudah ada.

TO TENRIGILING :

Ada baiknya kalau kita beritahukan Sri Paduka di
Tompoq Tikkaq bersaudara.

Anak raja pendamping itu sepakatlah.Maka bangkit bergegas menuju Tompoq Tikkaq memasuki pekarangan istana,menginjak tangga emas berukir,memegang susuran kemilau,menginjak lantai papan pinang terus masuk,didapatinya We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng duduk berdampingan suami-istri.

LA PANGORISENG :

Kur jiwamu, paduka para hakim ,
semoga datanglah semangat kahyanganmu.
Masuklah duduk, kalian para hakim.

para hakim itu duduk di hadapan peterana emas tempat bersanding We Adiluwuq suami-istri.

BANGSAWAN PENDAMPING :

Kur jiwamu, Paduka We Adiluwuq Suami istri,
semoga datanglah semangat kahyanganmu.
Bibimu suami-istri ditimpa penyakit keras.Mereka
berbaring tanpa berbalik,tak bergerak kaki, tak
bergerak tangan,sungguh keras bagaikan sudah mati.

WE ADILUWUQ :

Kur jiwamu, paduka para hakim ,
semoga datanglah semangat kahyanganmu.
Walaupun mereka meninggal tidak akan
menyusahkan hatiku.”

PAPARAN ADEGAN 9.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Hari hari berlalu tanpa terasa, tiga malam setelah ditimpa penyakit keras berbaring tanpa berbalik suami-istri tak bergerak kaki, tak bergerak tangan tanpa menghiraukan malam atau pun siang.Maka pada tengah malam yang tenang WeTenrijelloq suami-istri sudah dalam keadaan sekarat.Pada waktu dinihari WeTenrijelloq suami-istri meninggal. Bagaikan dahan kayu beserpihan bunyi ratapan, bersahutan bunyi pukulan dada.

PAPARAN ADEGAN 10.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}
Suasana berkabung di Istana Sawammegga sampai juga ke Istana Tompoq Tikkaq. Bagaikan dahan kayu beserpihan bunyi ratapan, bersahutan bunyi pukulan dada.

WE DATU SENGNGENG :

Saya mendengar ratapan, Paduka We Adiluwuq .Arah
ke timur di sekitar Sawammegga daku dengar ratapan
mengatakan ,Sungguh kehilangan daku tuanku, raja mandul tak
mempunyai turunan pengganti lalu pergi ke akhirat.”

WE ADILUWUQ :

Kalau raja mandul perampas itu meninggal, Adikku,
biarlah kita ke Sawammegga.”

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Keesokan harinya We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng bangun,
suami-istri berpisah sarung, membasuh muka pada mangkuk putih,
berkaca di muka cermin,membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya11la bangkit lalu ke depan.suami-istri duduk berdampingan di atas peterana emas.Sudah datang semua bangsawan pendamping,pembesar negeri yang menjadi hakim, di istana sao loci tempat tinggal raja mandul perampas itu mengatur kelengkapan mayatnya,menyiapkan jejeran tempat air mandinya La Tenrigiling suami-istri

LA BIRAJA :

. Lebih baik kita beritahukan Sri Paduka bersaudara
di Tompoq Tikkaq,walaupun mereka tak mau menjamah
mayat ibunda yang tidak melahirkannya. Bagiku lebih
baik kita beritahukan anak yatim dua bersaudara itu.”

Semua bangsawan pendamping sepakat.Maka para hakim di Sawammegga berangkat pergi bergegas ke Tompoq Tikkaq.Menginjak tangga emas berukir,memegang susuran kemilau,naik melangkahi ambang pintu emas,menginjak lantai papan pinang kemilau,langsung masuk melewati dinding tengah, melangkahi sekat ruangan istana,didapatinya We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng duduk berdampingan di atas peterana emas.

TO PANANRANG :

Kur jiwamu, paduka para hakim dan bangsawan pendamping ,
semoga datanglah semangat kahyanganmu. Masuklah duduk,
bangsawan pendamping.”

Lalu pembesar negeri yang menjadi hakim duduk sujud menyembah sambil duduk di hadapan peterana emas tempat bersanding We Datu Sengngeng suami-istri,menyampaikan kabar meninggalnya raja mandul suami-istri.

BATARA LATTUQ :

Dik, pergilah mengantar keberangkatan mayatnya
ibunda yang tidak melahirkanmu.”

WE DATU SENGNGENG :

Mari kita pergi ke Sawammegga, Kakanda.”

We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng sepakatlah.

WE ADILUWUQ :

Paduka Inangda, perintahkan untuk menurunkan usungan emas
kendaraanku bersaudara.

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Memerintahlah We Temmamalaq untuk menurunkan usungan emas kendaraan anak raja yang diasuhnya dua bersaudara.
Lalu dililiti kain sutera indah,dilekati kain cindai,dihiasi gelang kalaru emas,diuluri kain penyambut dengan emas berpilin,
digantungi bokor emas dari Singkiq Wero.

BATARA LATTUQ :

Paduka KakandaTo Pananrang, perintahkar untuk menurunkan
usungan kencana kerajaan .

I LA JIRAU :

La Barang Cina dan Riuq Siduppa, saya perintahkan
untuk menurunkan usungan kencana .

Oddang Sibali dan La Pangoriseng memerintah untuk menurunkan usungan kencana kendaraan I La Tiuleng bersepupu sekali. Usungan sudah siap, payung emas dikembangkan pula. Para juak yang bergelang emas berdiri,pengiring pilihan sudah turun pula.

I La Tiuleng berdiri bergandengan tangan bersepupu sekali. We Datu Sengngeng bersaudara berdiri pula pergi ke depan berjalan diiringi inang pengasuh,dielu-elukan orang pilihan pergi,diangkut dengan usungan kencana,dinaungi dengan payung emas.Hanya satu usungan kencana mereka berdua bersaudara mengendarai.
Para pembawa kipas diusung pula,diangkatlah ketur peludahan
tempat menampung sepah sirih Opunna Luwuq. Di barisan depan boneka ditempatkan,di belakang pamakai topeng kayu ditempatkan.

PAPARAN ADEGAN 13.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Berangkatlah pergi usungan kencana yang ditumpangi We Datu Sengngeng bersaudara,Batara Lattuq bersepupu sekali.

WE ADILUWUQ :

Bagaimana pendapatmu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng
kalau kita tak meratap nanti maka orang akan berkata,Memang
demikianlah kehendak anak yatim itu. Kalau kita meratap
orang akan mengatakan,Pura-pura saja anak yatim itu meratap.

WE DATU SENGNGENG :

Daku tak menyembunyikan perasaan, Kakanda We Adiluwuq,
aku akan meratapi bibi kita perampas itu, kukeluarkan ratapan
sindiranku yang sesungguhnya.

WE ADILUWUQ :

Bagaimanakah bunyi ratapmu, Adinda We Datu Sengngeng?”

WE DATU SENGNGENG :

Begini ratapanku nanti, Paduka Kakanda, Mati sungguh,
matilah daku, karena bibiku perampas itu,pada waktu
belum daku tahu sesuatu yang melahirkanku meninggal
dia mengambil hartaku,memindahkan kerajaanku.Tinggal
lantai dua bilah bambu tiga batang gelegar yang disimpan
untukku bertiga dengan inang pengasuh.Jendela kemilau
pun mereka jolok pula.’Demikian itulah ratapanku,Paduka
Kakanda. Bagaimana pula ratapanmu,Paduka Kakanda?

WE ADILUWUQ :

Beginilah nanti ratapanku, Adikku,pada bibi perampas itu,
Mati daku, mati karena bibi perampasku, meninggal yang
Melahirkanku lalu mereka mengambil hartaku,mereka
merampas kemuliaanku.”

I LA JIRIU :

Memang beginikah kebiasaan istri-istri di Aleq Linoq, Adinda Batara
Lattuq Opunna Luwuq?Walaupun orang sudah berada di tanah
Masihkah saja ia berkata-kata seperti dayang-dayang.”

BATARA LATTUQ :

Paduka, janganlah engkau mengulang perkataan itu tidak
diterima baik ucapan seperti itu oleh mereka yang
mengepalai duduk beradat.”

WE ADILUWUQ :

Mari kita kembali, We Datu Sengngeng.Nanti di istana kita
usulkan perceraian.Rupanya kita merendahkan derajat
mereka itu karena kita berbicara di tengah jalan.

WE DATU SENGNGENG :

Kembalilah, pengangkut usungan.Tak enak perasaanku
Mendengarkan ucapan orang besar yang turun ke Aleq Linoq
mencari jodoh itu karena percakapanku di tengah jalan
rupanya tak berkenan bagi dia.”

Para pengusung tak mau lagi berjalan.

BATARA LATTUQ :

Rupanya raja itu marah,hanya mulutnya kelihatan bergerak
tidak terdengar suaranya berkata-kata, tak enak perasaan
permata bilik yang tiada bandingan kecantikannya
terhadap ucapanmu , Paduka Kakanda.”

Bersamaan raja itu turun dari usungan,tidak mau dinaungi payung bersepupu sekali.I La Tiuleng bersepupu sekali menengadahkan kedua tangan

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, permata bilik yang tiada bandingannya
bersaudara.Semoga datanglah semangat kahyanganmu.
Kasihanilah daku, Paduka Adinda,tenangkan hatimu,
ambil pelayan seratus orang,agar kita sampai
dengan selamat .

I LA JIRIU :

Kasihanilah daku, hiasan istana yang ramai,tenangkanlah
hatimu,ambil dayang-dayang ribuan orang.”

Maka hatinya We Adiluwuq bersaudara tenang kembali.Lalu Batara Lattuq dan I La Jiriu kembali naik ke usungan emas dinaungi payung emas.

I LA JIRIU :

Opunna Luwuq, apakah memang demikian orang di Ale
Lino,walaupun tiada salah ucapan kita wanita itu cepat
sekali tersinggung?”

BATARA LATTUQ :

Memang demikian orang di Ale Lino,begitulah kaum
wanita, Paduka Adinda.Walaupun hanya sepatah kata
ucapan kita yang didengar oleh yang mengepalai adat
dan tak berkenan di hatinya maka mereka cepat sekali
marah.Memang laki-laki itu mempertuankan diri pada
istrinya.Seia sekata hanya dapat dicapai dengan istri yang
mengendalikan rumah tangga,apabila kita menurut
kemauan istri kita.Dan tentu kita menginginkan, Kakanda,
wanita tidak menampakkan kemarahannya.”

Berangkatlah usungan emas yang ditumpangi We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng I La Jiriu dan Batara Lattuq menuju ke Sawammegga.

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Belum hancur daun sirih itu maka mereka sampai di Sawammegga. Titian pagar yang indah dibukakan supaya dapat dilewati para pengangkat usungan.Diturunkanlah usungan emas yang ditumpangi We Adiluvvuq bersaudara,Batara Lattuq bersepupu sekali.Lalu We Datu Sengngeng berdiri bersamaan dengan We Adiluwuq menginjak tangga emas berukir disingkapkan tudung emas,diangkatkan ujung sarungnya,
melangkahi ambang pintu,menginjak lantai papan pinang emas.

We Adiluwuq bersaudara sampai di rumah. Kemudian I La Tiuleng berdiri pula bergandengan tangan bersepupu sekali menginjak tangga emas berukir,memegang susuran kemilau,melangkahi ambang pintu emas, menginjak lantai papan pinang.I La Tiuleng dan I La Jiriu sampai di rumah lalu masuk We Adiluwuq bersaudara I La Jiriu bersepupu sekali duduk di atas permadani emas. Diangkatlah peti jenazah emas raja mandul perampas itu suami-istri.We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng disuguhi sirih lalu menyirih,demikian pula I La Jiriu dan Batara Lattuq. We Datu Sengngeng segera berpaling mengusap-usap peti jenazah emas We Tenrijelloq.

WE DATU SENGNGENG :

Inangda, dengarkan ucapanku,dengarkan ratapanku.
Matilah daku, mati oleh bibi perampasku,daku yatim
selagi tak mengetahui sesuatu meninggal kedua orang
tuaku,lalu diambilnya semua harta bendaku,dipindahkan
kerajaanku, lantai bilahan bambu pun digulungnya,
bahkan dinding anyaman rotan juga dikaitnya,
dihabiskannya semua segala isi istana.”

We Datu Sengngeng berpaling membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya.Rasa hati Batara Lattuq geli mendengarkan
ucapan istrinya.

BATARA LATTUQ :

Sedih sekali kudengar ratapan itu, Paduka Adinda.
Indah sekali kudengar.Kasihani daku, Adik We
Sengngeng,kauulangi ratapanmu kauulangi ratapan
tangismu ambil dayang-dayang ratusan orang.”

We Datu Sengngeng tidak menyahut,tidak dijawabnya sepatah kata pun suami senasibnya.

WE ADILUWUQ :

Mengapa gerangan, Paduka Adinda,engkau menampik
ucapan Opunna Luwuq,ulanglah kembali ratapanmu.”

WE DATU SENGNGENG :

Mati daku, mati karena bibi perampasku daku yatim
selagi belum mengetahui sesuatu, diambil semua harta
bendaku,dipindahkan kerajaanku,ditanggalkan semua
hiasan jariku,lantai bilahan bambu sekalipun digulung,
bahkan dinding anyaman rotan dikait pula.”

Batara Lattuq tertawa lebar,istri I La Jiriu terbahak-bahak pula,
We Adiluwuq sangat geli mendengarkan ucapan saudaranva.
Batara Lattuq tertawa mendengarkan ratapan tangis permata bilik yang tiada bandingan kecantikannya.We Datu Sengngeng berpaling sambil tersenyum.Kini giliran We Adiluwuq berpaling
mengusap-usap peti jenazah yang ditempati mayat We Tenrijelloq.

WE ADILUWUQ :

Mati daku, mati karena bibi perampasku.Orang tuaku
Meninggal maka dirampas harta bendaku,direbut
kemuliaanku, tinggal dua batang lantai bilahan bambu,
tiga batang gelegar disimpan untukku,bertiga dengan
inang pengasuh,yang memelihara dan mengasuhku.”

PAPARAN ADEGAN 15.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Maka tibalah anak raja pendamping para bangsawan kapit, pembesar negeri yang menjadi hakim duduk merapat pada istana sao loci yang ditempati raja mandul perampas itu,mengurus peti jenazahnya memperhatikan kelengkapan kain kafannya.Maka setelah dimandikan mayat kedatuan We Tenrijelloq suami-istri peti jenazah yang ditempati La Tenrigiling suami-istri diangkat
dibawa turun dibungkus kain putih peti jenazah dibawa keluar ke padang. Ribuan orang dayang-dayang yang mengibaskan kipas emas tak membiarkan dihinggapi lalat sampai di tempat penguburannya.Maka dikuburkan mayat We Tenrijelloq suami-istri. Barulah semua rakyat banyak kembali.

WE DATU SENGNGENG :

Kalian semua yang berhimpun di siri anak raja
pendamping,bangsawan kapit,pembesar negeri yang
menjadi hakim,dengarkanlah ucapanku.Kalau sudah
sampai malam yang dipantangkan oleh nenek moyang
setelah meninggal We Tenrijelloq suami-istri,engkaulah
sekalian anak raja pendamping mengatur pengembalian
seperti sediakala di istanaku,harta benda rampasan We
Tenrijelloq suami-istri.”.

( closing dan Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: