NO 11.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 11.( BATARA LATTUQ DAN DATU SENGNGENG )

NO 11.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 11.( BATARA LATTUQ DAN DATU SENGNGENG )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Pagi menjelang Di Aleq Luwuq, Ketika fajar menyingsing ,Batara guru suami-istri bangun membasuh muka pada mangkuk putih, berkaca di depan cermin, membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya. Setelah itu Batara guru berdiri bergandengan tangan suami-istri kembali menuju ke bilik peraduan. Ketka itu bergegas Masuk Welong Talaga bersamaan Apung ri Toja kedalam menyibak tirai manik emas sehingga buli-buli emas kemilau bersentuhan, jumbai janur emas bergetaran.

WE NYILIQ TIMOQ :

Siapa gerangan pelayan yang tak mengindahkan larangan menginjak
bilik emas tempat tidurku sampai buli-buli emas bersentuhan
anyaman berjumbai yang mengelilingiku bergetaran?Tampaknya ia
ingin menjatuhkan martabatku.

WELONG TALAGA :

Kur jiwamu, Paduka We Nyiliq Timoq suami-istri ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu Kutadahkan telapak tanganku,
Paduka,bak kulit bawang.tenggorokanku,semoga tak terkutuk hamba
menjawabmu.Saya hambamu Welong Talaga dan Apung ri Toja yang
menemanimu muncul di dunia, bersamamu menjelma di Watang
Mpareq.Anak kita Batara Lattuq suami istri telah datang kemari
Paduka, melabuhkan perahu di muara. Kampung manakah yang
seharusnya didatangi hambamu We Datu Sengngeng? Negeri indah
yang mana pula yang diberikan kepada pengantin perempuan itu?”

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu, Paduka Wellong Talaga ,Semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu .Seharusnya bukan saya yang menyebutkan
pemberian pada menantu kemanakan yang datang ?merapatkan diri
di Ale Luwuq,mengisi balairung di Watang Mpareq.Apakah ada
negeri yang indah kubawa muncul kecuali Watang Mpareq,kampong
sangiang yang kudatangi, lalu kuisi orang yang banyak?Setelah
Batara Lattuq lahir, barulah daku berhak memerintah di Aleq Luwuq,
mengepalai duduk beradat di istana sao denra manurung.
Sri Paduka Manurungnge yang kauberitahukan, supaya beliaulah
yang memberikan hadiah pada menantu kemanakannya, negeri
indah mana nanti yang akan diberikan kepada We Datu Sengngeng.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Belum selesai ucapan We Nyiliq Timoq keduanya bergegas berangkat
pindah tempat ke bilik kemilau yang ditempati berbaring Batara Guru Manurungnge,menyibak janur emas dari Sappe Ileq yang mengelilingi Manurungnge.Lalu Apung Talaga dan Welong ri Toja duduk.

BATARA GURU :

Siapa gerangan orang yang menginjak bilik kemilau?

APUNG TALAGA :

Kur jiwamu, Paduka Batara Guru ,Semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu. Kutadahkan telapak tanganku, tuanku,bak kulit
Bawang tenggorokanku,semoga tak terkutuk hamba menjawabmu,
raja sangiang orang Boting Langiq. Ada di luar, Sri Paduka suruhan
terpercaya anak kita penguasa kerajaan di Aleq Luwuq.Di muara
telah berlabuh wangkang emas tumpangan hambamu I La
Tiuleng.Negeri indah yang mana gerangan yang akan ditunjukkan
untuk didatangi hamba We Datu Sengngeng?Siapa pula yang Paduka
tunjuk Untuk Mewakilimu menuju ke muara? Tuanku, negeri indah
mana yang akan kauberikan hambamu We Datu Sengngeng?”

BATARA GURU :

La Pangoriseng bersaudara yang mewakiliku keluar ke
muara,menyebutkan hadiah yang banyak pada pengantin
wanita itu.Ikut pula bersamanya para anak raja yang
berpayung emas memberi hadiah yang banyak kepada
We Datu Sengngeng.Kauberikan tujuh negeri yang ditempati
ratusan gudang tempat menyimpan harta kekayaanku
tempat menimbun segala persembahan.Hamba Jawaku yang
akan memberikan pengganti pinang sekerat,penukar daun
sirih selembar,ribuan hamba dewa yang diturunkan To
Palanroe .Sekian pula peti emas yang ditempati pakaian
indah dari Saung Langiq, sekian pula peti kilat berisi alat
upacara dari Saung Langiq,agar We Datu Sengngeng mau
meringankan badan datang ke negerinya.”

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Belum selesai ucapan Manurungnge Welong Talaga dan Apung ri Toja berangkat menuju ke depan lalu duduk di samping Daeng Samana, bersamaan berdua berkata,

WELLONG TALAGA:

Batara Guru berkata, La Pangoriseng bersaudara mewakiliku
Menyerahkan hadiah yang banyak pada pengantin wanita itu,
memberikan tujuh negeri, supaya ia mau meringankan
badan mendatangi negerinya.

LA TENRIEMPENG :

Berapa banyak pembesar kerajaan dari Lauq Sadeng
yang mengantar kemari ananda yang berpayung emas itu?

TO TENRILEKKEQ :

Semoga tidak terdengar hendaknya anak menantu
kesayangan kita,meluncur bak jarum tak bersampul
kemari pengantin itu,hamba lelaki sekali pun tak ada
yang mengiringinya.Hanya sepuluh orang pembesar
kerajaan yang datang mengantarnya ke sini.
Kesemuanya itu adalah sepupu sekalinya Sri Paduka
Turung Belae.Ada pun pengasuh yang menyertainya,
ada pembawa cinaga gading tumpuq kadidi yang beribu.
tettillaguni dan anaq beccing.Kakaknya yang Menjaga
nama baiknya yang diwariskan kepada adiknya hingga
banyak orang yang meramaikannya.
Sekiranya kecantikan yang engkau cari pada menantu
Kita tak ada yang dapat dicela dari bentuk tubuhnya
sepadan raut muka dan perawakannya.Tidak selobang
jarum pun yang dapat kucela pada perawakannya yang
gemulai anak yatim itu,pada wajahnya yang ayu We Datu
Sengngeng.Kalau kemuliaan yang engkau tanyakan
lepas segala dari genggamannya harta benda warisan
lengkapnya.Hanya dua batang gelegar dan tiga bilahan
bambu untuknya bertiga dengan inang pengasuh
segaharanya.Cecak berlari sekalipun, tak akan kita temui
di istananya,dan telah dibongkar anyaman rotan dinding
istana yang ditempatinya,dibuka semua istana tempat
tinggalnya.Kamilah yang mengerjakan lantainya.
memasanginya dinding yang kukuh,mengalasinya dengan
permadani untuk kami duduki, kami naikkan harta benda,
kekayaan yang tak terhitung.

PAPARAN ADEGAN 4.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Tanpa sengaja ucapan To Tenrilekkeq terdengar Manurungnge suami-istri. Bagaikan awan berarak air mukanya. Dengan marah ia berkata,

BATARA GURU :

Berani benar engkau semua berkata-kata,wahai anak raja
pendamping,bangsawan tinggi pengapit.Bagaikan tak ada
langit di atasmu.Tidakkah engkau dengar ia yang dimurkai
oleh dewa?Apakah memang engkau tidak diberitahu
kemauan To Palanroe?
Maka hartanya dirampas, kerajaarmya dipindahkan,dibuka
gelang emas yang melingkari lengannya.Cincin emas yang
ada di jari manisnya dilucuti,dihabiskan orang pilihan
bawahannya inang pengasuhnya nan beratus. Dibuka
dinding rotannya istana lengkap tempat tinggalnya.Memang
bukan kekayaannya yang tak terhitung anak yatim itu yang
kuingini, bukan pula kerajaaNya
Turung Belae kuharapkan dilayari oleh sibiran tulangku.
Sebab sejak di Boting Langiq sudah dipertemukan
Jodohnya ,ditetapkan oleh I La Patotoq di Boting Langiq
tak ada raja yang berdarah putih di Luwuq,sedang aku tak
mau diganti oleh darah campuran,saya tak ingin raja yang
dinaikkan untuk dinaungi payung emas di Aleq Luwuq,tiada
raja yang sama derajatnya di Wareq.Karena itulah ia
merantau jauh, melayari sesamanya di Boting Langiq
,dan sesama tempatnya di Peretiwi.”

PAPARAN ADEGAN 5.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Bagaikan orang yang disihir anak raja pendamping,semua penghuni istana itu tidak berani berkata-kata mendengar ucapan Manurungnge.

WE NYILIQ TIMOQ :

Kembali riwayatku berulang pada anak menanti kemanakanku, tak
membawa kerajaannya mengikut kemari ke Aleq Luwuq,We Datu
Sengngeng telah mewarisi takdir di Peretiwi, raja miskin yang tak
ada kerajaannya.”

BATARA GURU :

We Nyiliq Timoq Paduka istriku tercinta, janganlah hal itu menjadikan
perasaanmu tersinggung akan ucapan kurang baiknya anak raja
pendamping. Adakah gerangan, Paduka Adinda, adakah duanya
Batara Lattuq raja pengganti di Ale Luwuq dinaungi payung emas
di Watang Mpareq?”

We Datu Sengngeng tak berhenti bergerak dari duduknya. Berkedip mata ibu La Pangoriseng,yang melahirkan La Temmallollong, menunjuk ke peta dalam.
Bagaikan burung saja bicaranya Sang Paduka,hanya mulutnya yang kelihatan bergerak , tak kedengaran suara ucapannya.

TO TENRIANGKEQ :

La Palippui bersaudara sudah datang, dan besok La
Rumpang Mpoba juga akan datang, demikian pula La
Mappapellung dari Coppoq Meru, semuanya datang
beriringan suami-istri.Ada juga La Jawa Paseq dari
Sawammegga, laki-laki yang memperistri We Jampu
Cina,pembesar kerajaan di Uluwongeng. Kesemua itu
adalah paman anak yatim itu, kesemua itu adalah
sepupu sekali Paduka Turung Belae suami-istri.”

WE SAUNG NRIUQ :

Banyak juga yang kudengar pembesar kerajaan orang
Tompoq Tikkaq yang mengantarnya kemari. Agaknya
engkau ingin saja mendengar ucapan Manurungnge
yang kurang baik.”

Tiada menyahut Daeng Samana, tiada jawaban sepatah kata pun To Tenrilekkeq.

WE NYILIQ TIMOQ :

Paduka Apung ri Toja dan Welong Talaga, perintahkan
membawakan kain sutra jemputan Puang Matoa.
Suruh pula memanggil anak raja pendamping, bangsawan
tinggi di Watang Mpareq agar semua berkumpul di muara
menjemput sibiran tulangku.”

APUNG RI TOJA :

Baiknlah paduka tuanku We Nyiliq Timoq, Setelah hamba naik
barulah semua anak raja pendamping berkumpul di sini.”

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Di halaman Kerajaan Aleq Luwuq ,kini penuh orang banyak yang sudah berdiri berjejeran menunggu.To Tenriangkeq memerintahkan menghampari permadani di bawah pohon asam lalu dilapisi dengan kain sutera tenunan Melayu tempat berpijaknya pengantin wanita itu sampai di luar di muara. Diturunkanlah usungan gading tumpangan penghuni balairung manurung, pendamping raja yang muncul,lalu dililiti dengan permadani sutra orang Toddang Toja, dinaungi dengan kain wajang mpatara, dianyami ikatan emas, digantungi gelang emas, diuluri kain jemputan emas berpilin. Kini sudah turun dayang-dayang pengiring, hamba dewa manurung,juga anak raja bangsawan kapit serta bangsawan raja pendamping.

BATARA GURU :

We Saung Nriuq, We Lele Ellung, Welong Talaga, Apung
ri Toja, To Jabiara, pergilah ke muara beriringan dengan
anak raja pendamping sebagai pengganti diriku
menyambut kur semangat pengantin wanita itu, berilah
negeri sebagai hadiah bagi We Datu Sengngeng.Tujuh
negeri kauberikan kepada pengantin wanita itu, kau
berikan tujuh negeri We Datu Sengngeng, pengganti
pinang sekerat, penukar daun sirih selembar, agar sudilah
ia meringankan badannya untuk memasuki negerinya,
ia tempati istana emas manurung,dan dialah yang
empunya balairung pada istana sao denra manurung.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan bergegas ,Maka We Saung Nriuq, We Lele Ellung,Apung Talaga, To Jabiara bangkit diiringi dayang-dayang, diramaikan oleh hamba dewa langsung turun lalu duduk di atas usungan gading, dinaungi payung emas. Ribuan banyaknya usungan gading dipersiapkan tumpangan anak raja pendamping untuk barisan depan.Sekian pula di barisan belakang usungan emas tumpangannya ibunda La Pangoriseng bersaudara. Bagaikan air mengalir barisan orang banyak di Ale Luwuq pergi menjemput di muara. Bagaikan danau yang meluap payung emas yang menaungi pembesar kerajaan yang wanita, bangsawan tinggi perempuan, didahului oleh tarian alosu emas, dan sabungan arumpigi emas.Puang Matoa di depan yang kesurupan lalu menari bissu, gemuruh kedengaran suara upacara kahyangan sebagai tanda kedewaan orang besar itu, hingga tiba di luar muara,berkumpul di pelabuhan perahu Orang banyak tak saling memberi jalan untuk dilewati, tak saling memberi tempat untuk berdiri. Bunyi genderang berdengung di pelabuhan perahu,

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan gemulai beralunlah Puang Lolo, menari pula para bissu, menarikan alosu emas dan mengadu arumpigi, saling memperlagakan tellotali,
menyambut doa dewa pengantin wanita itu. Maka Batara Lattuq sampai melabuhkan perahunya di muara sungai.

Perahu-perahu yang ditumpangi para penguasa dari negeri yang
indah tak saling memberi jalan untuk dilewati Dengan Saling berebutan masuk melabuhkan perahu-perahu pengiring nan anggun wangkang tumpangan orang banyak pelapangkaru dan binanong. Serentak semua orang banyak bergerak merebahkan tiang, melipat layar, menurunkan jangkar dan mengumpulkan para pengikutnya. Sebab memang telah dipersiapkan jajaran menrawe tempat yang dilewati pengantin.Bagaikan tebing yang miring
jejeran para penguasa yang menjemput.Maka usungan diletakkan. We Saung Riuq, We Lele Ellung Apung Talaga, To Jabiara berangkat menapaki tangga perahu meniti di atas cadik, melangkahi barateng gading. Didapatinya We Datu Sengngeng berbaring sembari menutup kepalanya dengan sarung
mengalirkan air mata kerinduannya pada saudara pengganti ibunya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Inangda dan paduka orang besar ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu Kemarilah, tuanku, duduk
di atas permadani emas.”

Dengan tak menunggu waktu lama lagi, Maka duduklah ibu La Pangoriseng serta orang yang melahirkan La Temmallureng, juga ratu ibunya I La Lumpongeng dan yang melahirkan La Temmallollong. Opunna Luwuq sendiri menyuguhinya cerana emas.

BATARA LATTUQ :

Ambillah daun sirih dan pinang. Ini sajalah dahulu yang engkau
Menyirih Inangda, sirih yang ada pada ceranaku. Setelah bangun
ratu anakmu yang memiliki istana emas barulah engkau menyirih
dari sesamamu wanita.”

Tergesa-gesa ketiganya menerima sirih dari anaknya. We Datu Sengngeng bangun duduk. Batara Lattuq berpaling sambil berkata pada perempuan sepupu sekalinya,

BATARA LATTUQ :

Inilah Paduka Adinda We Datu Sengngeng, ibu-ibu yang bukan
melahirkanku, ibu kakak kita La Pangoriseng, melahirkan La
Temmallureng, ibunya La Tenriesaq dan La Temmallollong. Mereka,
Adikku, adalah penghuni istana Paduka Manurungnge, mereka
mewakili Paduka Manurungnge suami-istri.”

Segera saja We Datu Sengngeng sendiri menyuguhi sirih lalu menyirih
ibu yang bukan melahirkannya. Bergegaslah ketiganya mengambil sirih pada anaknya bersamaan mereka berkata,

WE SAUNG NRIUQ :

Kur jiwamu, Paduka Anakku,semoga datanglah semangat
kahyanganmu mutiara bilik orang Tompoq Tikkaq,hiasan istana di
Ale Luwuq. Masuklah ke Negerimu. kemarilah ke bagian tengah
istanamu. Kamilah yang mewakili Paduka Manurungnge suami-istri
mengantarkan engkau hadiah.Tujuh negeri diberikan kepadamu
pemberian Paduka suami-istri ,agar engkau datang ke negerimu
mewarisi istana emas manurung. Engkau diberi pula tujuh negeri
indah oleh para penguasa yang mengiringi pengantin sebagai
pengganti pinang sekerat, pengganti daun sirih selembar,sudilah
engkau meringankan badanmu ,engkau menuju ke Aleq Luwuq.

Ibu La Pangoriseng kembali berkata, serentak semuanya berkata ibu yang bukan melahirkan Batara Lattuq,

IBU LA PANGORISENG:

Paduka Ananda We Datu Sengngeng, ringankanlah dirimu kita
berangkat ke negerimu.Jangan engkau tinggal saja di sungai
diembus angina dan diterpa bayu. kurang pantas dipandang mata.
Engkaulah permata bilik akan menerima hadiah yang banyak,
engkau anak yang tiada duanya dari Batara Lattuq yang pernah
menetap dalam rahimnya.Yang Muncul di Busa empong. Engkau
adalah hiasan tunggal, di istana sao denra .

PAPARAN ADEGAN 9.

(Narasi dan Illustrasi musicTradisi ).

We Datu Sengngeng tiada menjawab, tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya tunduk saja mengalirkan air matanya yang bercucuran mengenangkan kemalangan nasibnya. Saat itu Batara Lattuq berpaling menghapus air mata istrinya yang bercucuran.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Datu Sengngeng , semoga
Datanglah semangat kahyanganmu, Kasihanilah aku duhai permata
bilik orang Aleq Luwuq, hiasan istana di Watang Mpareq,
tenangkanlah hatimu, engkau ringankan badanmu kita masuk ke
negeri kita, engkaulah pewaris tunggal Sri Paduka suami-istri.”

Sekali lagi We Datu Sengngeng cuma membisu. We Datu Sengngeng tiada menjawab tidak mengucapkan sepatah kata pun pada suami yang menuruti rayuannya yang tak menolak segala keinginannya.Tak sedikit pun berubah, terus saja mengalir air matanya yang bercucuran. Batara Lattuq kembali berpaling sembari membelai-belai istrinya dan menghapus air matanya yang bercucuran serta merayunya dengan hadiah yang banyak. Tiga kali Opunna Luwuq mengajaknya, tak juga bergeming hati We Datu Sengngeng akan rayuan itu bukanlah harta benda yang ada dalam hatinya.

WE DATU SENGNGENG :

Paduka Kakanda Batara Lattuq, Bukan hadiah yang kuidamkan
Opunna Luwuq, aku tak rakus pada harta. Mengapa aku mesti
mengharapkan harta padahal aku ke sini tak membawa apa-apa,
tiada pula kerajaanku ikut engkau tahu dewa telah menyiksaku tiada
duanya. Tak kupeduli akan putus perkawinan kita, Opunna Luwuq,
atau semakin erat takdir kita, aku tak akan Berangkat karena yang
kutunggu adalah Paduka Manurungnge suami-istri. Kalau bukan
beliau sendiri yang datang, Sri Paduka Batara Guru suami-istri
menjemput orang yang ke Luwuq, aku seperti daun dibawa angin saja
jikalau tak mau Sri Paduka Manurungnge suami-istri mengurangi
kemuliaanNya turun ke muara sungai, mempersilakan aku naik ke
rumah, biarlah aku pulang dengan sampan kau kembalikan aku ke
negeriku. Walaupun aku ratu yang sengsara, miskin dan yatim piatu,
tiada tempatku mengadu aku tidak mau dianggap rendah pun tidak
mau turut mengharapkan. Karena begitulah pesan kakakku ketika aku
bersiap mengikutimu menuju Luwuq, aku tidak mau direndahkan
kemuliaanku oleh datu manurung di Luwuq. Sebab sederajat juga
kedudukan ibundaku di Boting Langiq ,sama pula derajatnya di
Peretiwi, lalu dijelmakan di bumi dan dijodohkan oleh To Palanroe.
Sri Paduka ayah bundaku adalah orang kaya lalu hartaku dirampas
dan kerajaanku dipindahkan.”

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, hiasan istana orang Sawammegga ,Semoga datanglah
semangat kahyanganmu,permata bilik di Singkiq Wero. Paduka Istriku
janganlah mengulang ucapanmu itu tak seorang pun ratu yang
kekurangan yang dijelmakan oleh To Palanroe.”

PAPARAN ADEGAN 10.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

We Datu Sengngeng sangat gundah gulana atas penyambutan ini.We Datu Sengngeng menghempaskan diri lalu berbaring membungkus kepala dan kakinya menginjak ujung sarungnya,berlinang-linang air matanya mengenang negeri indah tempat tinggalnya di Tompoq Tikkaq.

BATARA LATTUQ :

Pergilahlah kembali ke Istana Paduka Kakanda La Pangoriseng dan
La Temmallollong, sampaikan pada Paduka Batara Guru Manurungnge
suami-istri, Kalau bukan tuanku manurung sendiri keluar ke muara
menjemput hambamu , Paduka We Datu Sengngeng ,biarlah dia
kembali ke Tompoq Tikkaq dan menyerahkan payung emasmu
tak dibawanya sebagai warisan, biarlah tak ubahnya tapak tangan
tersapu pada kerajaanmu mendatang, karena ditinggalkan oleh
putera mahkotamu.'”

To Pananrang dan To Sinilele mengiakan ucapan raja adiknya. Dan tanpa menunggu waktu lama lagi, mereka bergegas kembali ke Istana Aleq Luwuq.

WELLONG TALAGA :

Biarlah aku naik Paduka Ananda Batara Lattuq, mengiringi para
bangsawan pendamping menjemput Sri Paduka Batara Guru
suami-istri.”

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, Welong Talaga berangkat naik ke darat diantar usungan emas, dinaungi payung emas,diiringi dayang-dayang dan para penguasa. Maka La Pangngoriseng bersaudara berangkat pindah duduk pada lantai perahu .langsung duduk di dekat pintu bilik emas yang ditempati We Datu Sengngeng.

LA PANGORISENG :

Kur jiwamu, Paduka Adikku We Datu Sengngeng ,semoga datanglah
Semangat kahyanganmu,putri hiasan istana orang Sawammegga,
permata bilik orang Singkiq Wero. Ambillah tujuh negeri yang ada
lengkiang banyak dari Manurungnge, yang di dalamnya penuh sesak
harta Sri Paduka pengganti pinang sekerat, penukar selembar daun
sirih.Tenangkan hatimu masuklah ke negerimu. Jangan ringgal di
muara sungai diembus angin, diterpa bayu nanti engkau dihinggapi
perasaan yang tak enak, Paduka. Ribuan hitungan peti kemilau,
tempat menyimpan emas murni orang Wawo Unruq sebagai ucapan
selamat atas kedatanganmu,ringankanlah badanmu,kita menuju
ke istanamu.”

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Kakanda La Pangoriseng ,semoga datanglah
Semangat kahyanganmu. Kakanda bukan hadiah yang kuidamkan,
bukan pula harta benda yang kudambakan. Engkau tahu kemiskinanku,
Kakanda, semua keinginanku hilang di Tompoq Tikkaq. Engkau pun
telah menyaksikan semua, hai anak bangsawanLuwuq. Engkau juga
telah mengetahui pesan ratu kakakku We Adiluwuq ketika engkau
semua datang di istana saat aku menuju merantau ke Aleq Luwuq.
Demikian ucapannya, Duhai, We Datu Sengngeng,engkau akan pergi
merantau ke Aleq Luwuq kalau engkau telah sampai di Watang Mpareq
tanpa menyaksikan sendiri datu manurung suami-istri di Luwuq menuju
ke muara menjemputmu masuk ke negerinya. jangan sekali-sekali
engkau mendarat, kembalilah engkau ke negeri kemiskinanmu, ke
wilayah kekuasaanmu. Karena sama derajatnya negeri di Aleq Luwuq
dan di Tompoq Tikkaq, sama pangkatnya Wareq dengan Sawammegga
tak ada bedanya antara Singkiq We’re dan Sabbang Mparu. Sama
derajatnya pula ukuran kemuliaannya Sri Paduka di Boting Langiq lalu
diturunkan ke dunia. Setinggi juga payung Emasnya yang melahirkan
kita di Toddang Toja, lalu dimunculkan ke mari ke Kawaq.Itulah yang
selalu mengganggu hatiku, karena aku sangat berhati-hati dan takut
pada saudaraku yang tak ubahnya ibundaku.”

Mendengar ucapan We Datu Sengngeng, La Pangoriseng bersaudara tunduk tersenyum membenarkan dalam hati ucapan ratu adiknya.

LA PANGORISENG :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng,semoga datanglah
Semangat kahyanganmu. Jangan demikian ucapanmu sekolong langit
sepetala bumi telah memaklumi sama pangkatnya negeri di Aleq
Luwuq dan di Tompoq Tikkaq, sama derajatnya Sawammegga dan
Watang Mpareq, masih sepupu sekali manurung di Ale Luwuq dengan
manurung di TompoqTikkaq.Yang menjelma di Watang Mpareq dan
yang menjelma di Sawammegga bersepupu sekali. Paduka Datu
Palingeq diToddang Toja dan Patotoqe di Boting Langiq juga masih
bersaudara. Keduanya menempatkan tunasnya di bumi memerintah
negeri atas namanya.”

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Datu Sengngeng, semoga datanglah
Semangat kahyanganmu, sebabnya aku berlayar ke Tompoq Tikkaq
karena tak ada yang sederajat denganku di daerah lain yang dapat
diterima oleh Sri Paduka Batara Guru suami-istri Untuk mengganti
kemuliaannya, itulah sebabnya aku berlayar ke Tompoq Tikkaq.”
Kakanda La Pangoriseng , kalau saja Sri Paduka Batara Guru suami-
istri tak mau meringankan badannya keluar ke muara sungai,menjemput
menantu kemanakannya, aku pun tak akan mau naik ke rumah.
Biarlah aku juga kembali ke Tompoq Tikkaq. Aku biarkan kemuliaannya,
biar saja kehilangan semua pakaian, aku kembali ke Tompoq Tikkaq.”

WE DATU SENGNGENG :

Tinggal saja Suamiku Batara Lattuq Opunna Luwuq, di kerajaan
Kebesaranmu biarlah aku sendiri kembali ke daerah kemiskinanku
ke kerajaan kekuasaanku.

BATARA LATTUQ:

Pergilah Kakanda To Pananrang dan Kakanda To Sinilele, beriringan
La Tenripeppang dan La Makkarodda, sampaikan saja kepada
Paduka Manurungnge suami-istri, anakmu suami- istri akan kembali ke
TompoqTikkaq apabila engkau tak mau mengurangi kemuliaanmu
untuk keluar menjemput keturunanmu, dia tak akan membawa
warisanmu, dia juga akan meletakkan kerajaanmu, tak melayarkan
wangkang emas tumpanganmu dia akan kembali ke Sawammegga.

( Closing dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo)

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: