NO 12 .NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 12.( MANURUNGNGE MENYAMBUT KEDATANGAN MENANTU )

NO 12 .NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 12.( MANURUNGNGE MENYAMBUT KEDATANGAN MENANTU )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

( Opening Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Tidak menunggu Waktu lagi ,Belum selesai ucapan I La Tiuleng Batara Lattuq maka La Pangoriseng bersaudara berangkat meniti di atas cadik emas, melangkahi barateng gading, naik mendarat di pelabuhan beriringan rombongan ribuan banyaknya,terus-menerus melalui negeri, berjalan melewati negeri indah,melalui pekarangan istana, naik ke tangga emas berukir, memegang susur kemilau emas, berpintal mayang kelapa dari Limpo Bonga,melangkahi ambang pintu emas,menginjak lantai papan pinang kemilau, terus masuk melalui dinding tengah,melangkahi sekat istana. Didapatinya Manurungnge Batara Guru suami-istri duduk berdampingan di atas peterana istana.To Pananrang bersaudara langsung duduk pada ujung permadani emas di hadapan Manurungnge.

TO PANANRANG :

Kur jiwamu, Paduka Batara Guru suami-istri , Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu. Adapun yang diperintahkan adikku yang
menguasai negeri taklukan di Watang Mpareq, Bukan harta benda,
yang ditunggu pengantin wanita, bukan kerajaan yang dinanti hambamu
si yatim itu, la tinggal di muara sungai karena Sri Paduka Batara Guru
suami-istri sendirilah yang diharapkan adikku suami-istri datang keluar
untuk menjemput Paduka adikku Batara Lattuq suami- istri. Andaikata
engkau, Paduka,tak berkeinginan turun ke sungai, adikku suami-istri
akan kembali lagi ke Tompoq Tikkaq tanpa membawa warisanmu, juga
akan ditinggalkan nya tahta kerajaanmu, tak akan berlayar dengan
perahu emas tumpanganmu.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Maka yang dijadikan tunas di dunia tersenyum mendengar ucapan keturunannya. Batara Guru Manurungnge berpaling sambil berkata pada Istrinya We Nyiliq Timoq yang bersamaan dengannya datang ke dunia,

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka We Nyiliq Timoq istriku ,semoga
Datanglah semangat kahyanganmu,Ringankanlah dirimu, We
Datu Tompoq kita menjemput keturunan kita. Siapa lagi yang
akan dituruti rayuannya kalau bukan Batara Lattuq suami-
istri.Sebab dialah yang diharapkan oleh rakyat dinaungi payung
di Aleq Luwuq, akan berkuasa di Watang Mpareq menerima upeti
yang berpeti banyak sekolong langit dan sepetala bumi.
Selama muncul ke dunia, belum pernah engkau berkunjung ke
muara, menampakkan diri untuk dilihat orang dan disaksikan oleh
orang luar pada pelabuhan perahu.”

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu, Paduka Suamiku Batara Guru , Semoga
Datanglah semangat kahyanganmu. Kenapa Sial benar aku
karena I La Tiuleng raja atau bukan raja, barulah dia yang
menurunkan derajatku menghina kedudukanku, aku tak sudi
tinggal menunggu dipandang dan diamati oleh orang luar, kenapa
saya yang diharapkan keluar ke muara? Merajuk benar nian We
Datu Sengngeng pada suami sederajatnya, sombong benar pada
mertua bibinya, berkata yang tak boleh dibantah. Jangan dia
mengira dirinya keturunan Iangit yang menjelma lantas aku
menuruti kemauannya dan rayuannya Batara Lattuq. Selama aku
menjelma di dunia meninggalkan negeri indah tempatku
dibesarkan tak pernah aku keluar ke muara,
kecuali pada saat berangkatnya Batara Lattuq berlayar ke
timur menuju Tompoq Tikkaq, aku keluar ke muara sungai.”

Mendengar rajukan istrinya , Batara Guru Tersenyum saja Dewa yang menetas di bambu betung, Batara Guru menjawab ucapan dewi cantik
yang dicintainya.

BATARA GURU :

Benar sekali ucapanmu, Paduka Adinda,tak satu pun
perkataanmu yang kusalahkan.Tetapi biarlah kali ini kita
turuti kehendak keturunan kita.Adakah gerangan duanya
I La Tiuleng, yang pernah mendekam di dalam perutmu?
Tigakah gerangan putera mahkota kita?Sama tunggalnya
dengan La Togeq Langiq tiada duanya I La Tiuleng
putera mahkota masa depan kita.”

WE NYILIQ TIMOQ :

Paduka Kakanda Batara Guru, Biarlah dulu kutenangkan
perasaanku, setelah itu barulah aku siap berangkat ke muara.”

PAPARAN ADEGAN 3 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan tidak membuang waktu lama lagi, Batara Guru Manurungnge mengadakan upacara tolak bala . diangkatkan mangkuk lalu mencuci muka pada mangkuk putih dan berkaca pada cermin kemilau, berkumur-kumur dan membersihkan mulut, disuguhi sirih lalu Menyirih.Sesudah itu perasaan We Datu Tompoq sudah baik .We Mata Timoq berdiri diapit oleh saudara sesusuan yang muncul bersamanya, berpegang pada bangsawan tinggi, diangkatkan lengannya dengan pakaian kebesaran yang indah, sarung bersulam kemilau bermotif naga, bergambar taburan mayang kemilau, berurai gambar ular sawah Toddang Toja, baju bersulam bunga matahari berpinggir emas sekati, bertaburan bunga berbintang, disulam emas murni dari Limpo Bonga, dililiti lengannya dengan gelang emas dari Abang Lette, bepermata intan mengkilat, disekat gelang lolaq bepermata bintang bersinar cincin mengkilat di tangan kanannya cincin berukir di tangan kirinya, kuku palsu emas dari Mata Soloq, berselendang kain cindai dari Wawo Unruq ,memakai ikat kepala emas dilengkapi dengan emas dari orang Abang Lette, dilengkapi pinang goyang kayu cendana emas dari Uluwongeng. Demikian pula para penghuni istana, semua berpakaian indah, tidak satu pun yang sama pakaiannya.

PAPARAN ADEGAN 4 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Begitu pula halnya dengan Batara Guru , dengan anggunnya menyusul berpakaian sarung bertatakan bulan di langit, dijahit dengan motif bintang bertabur dengan ikat kepala bermotif bintang, dijahit berpinggir emas sekati, disulam dengan emas murni dari Wawo Unruq, dililitkan ikat pinggang berkilat kahyangannya, berdempetan dengan pengikat keris mayang kelapa, mengenakan gelang berjalur bermotif bulan. Lalu Manurungnge duduk bersebelahan permaisurinya disuguhi sirih lalu menyirih. We Saung Nriuq, We Lele Ellung, Apung Talaga dan To Jabiara berpakaian lengkap pula dengan sarung kebesaran bak bintang kejora ,baju satin yang berkilauan, dililiti tangannya dengan gelang emas,enam puluh lima sebelah-menyebelah disekat gelang lolaq, cincin berukir indah menghiasi jari tangannya. We Appang Langiq berdiri ,mengenakan pakaian indah sarung bermotif naga dengan baju satin merah bersulam, dihiasi emas murni dari orang Abang. berselendang warna kuning dari orang Singkiq Wero.

Lengkaplah sudah semuanya pakaian yang indah para gadis penghuni istana tnanurung dan para bangsawan tinggi kapit. Tak satu pun yang sama pakaiannya anak bangsawan penghuni istana itu. Ribuan dayang-dayang dari Toddang Toja memakai sarung bermotif bunga warn dan naga, serta baju satin merah yang disulam, gelang emas enam puluh lima sebelah-menyebelah, disekat gelang lolaq dan kuku palsu emas masing-masing memakai ikat kepala dengan pinang goyang emas cendana, berpakaian kain bermotif bulan, Tujuh ribu hamba dewa memakai sarung bercorak kemilau bernaga, dijahit dengan emas bertaburan puluhan kati, berseiendang warna kuning, kuku hiasan emas, dan anting-anting puluhan tahil emas di muka, emas di belakang, beruntaian warna pelangi,masing-masing mengenakan ikat kepala,dengan pinang goyang kayu cendana emas.Tiga ribu anak raja orang Wiring Langiq berpakaian sarung berwarna pisang kemilau. berseiendang berwarna bunga jambu tnellaweq, masing-masing dipenuhi tangannya gelang emas cincin emas berukir, hiasan jari tangannya,kuku palsu emas dan anting-anting, masing-masing mengenakan ikat kepala emas dan dilengkapi pinang goyang emas cendana, sambil memegang bakul emas, dipenuhi bertih emas dan sirih berlipat cara orang Senrijawa sebagai pengantar orang Boting Langiq. Tujuh ratus anak bangsawan murni,memakai sarung bermotif bulan bernaga, destar bersulam dari timur dipadu keris emas bersarung serta gading berukir yang berkilauan semua ditimpa oleh cahaya keris emas.Sekian pula penguasa kerajaan dari negeri taklukan Manurungnge berpakaian sarung bermotif bulan naga, dengan ikat kepala bergambar bintang,keris emas dan gelang naga. Tujuh ribu anak bangsawan murni berpakaian sarung sunrapi bunga berhias dengan destar yang disulam,keris emas dan gelang besar.

PAPARAN ADEGAN 5.

(Narasi dan Illustrasi music tradisi, insert sound effect suasana acara Dewa }

Dengan bergegas To Tenrilekkeq dan To Appareppaq memerintahkan melengkapi persiapan acara dewa Manurungnge. Maka serentak turunlah semua anak raja pendamping anak bangsawan kapit, orang kaya penghulu negeri. Anak dewa manurung turun pulalah bersamaan turun semua para hamba yang ratusan jumlahnya. We Sese Ellung memerintahkan menghamparkan permadani sutera berwarna kuning keluar sampai ke muara sungai tempat berpijaknya Manurungnge suami-istri. Ditabuhlah genderang besar dibarengi dengan tiupan seruling serta petikan kecapi emas, pukulan gong yang diramaikan musik Melayu. Berdengung-dengung senandung bunyi-bunyian itu melengking mendayu suara seruling yang ratusan La Oroq Kelling dan La Tau Panceq membunyikan talloq-talloqnya . menarilah orang bertopeng dan pemakai topeng kayu. Bagaikan buah buni langkas pakaian orang banyak, tak ubahnya matahari yang terbit payung emas naungannya anak yang berpayung emas sembari duduk menunggu di gelanggang di bawah pohon asam.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Usungan emas tumpangannya Batara Guru Manurungnge diturunkan bersama usungan kilat tumpangan We Nyiliq Timoq Yang Menjelma di Busa Empong. Payung kebesaran yang muncul dan payung matahari yang manurung dikembangkan. Lalu usungan emas tumpangan Manurungnge suami-istri dibungkus dengan kain appiq warani dinaungi dengan kain halus dari Sese Ileq, dipertautkan dengan ikatan emas, dihiasi dengan gelang dari Mata Soloq digantungi dengan gelang gading berukir dari Limpo Bonga. Serentak semua pelayan Luwuq dan gadis-gadis pembawa kipas turun pula.
Tujuh puluh hamba dikorbankan, sekian pula orang pendek serta orang bule, tempat berpijaknya Manurungnge. Upacara sangiang Manurungnge lengkap.

TO TENRILEKKEQ :

Kur jiwamu, Paduka Batara Guru suami-istri ,Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu Paduka Manurunnge, kini telah siap usungan
emas tumpanganmu, telah berkembang pula payung emas naunganmu.

Dengan agungnya , Maka Batara Guru suami-istri bangkit turun dari peterana menuju keluar, berjalan diiringi oleh pengasuh segaharanya sembari dipegangkan lengannya dan diangkatkan ujung sarungnya, berpegang pada bangsawan tinggi, diapit oleh saudara sesusuan mulianya. Maka bergerak pulalah berangkat seisi bilik yang manurung serta penghuni istana yang muncul. Tarian bissu mengiringi keberangkatan datu manurung suami-istri, diiringi dengan doa-doa pada dewa, diantar oleh Puang Matoa, diramaikan dengan upacara orang Senrijawa, didahului petir, kilat, dan guntur yang bersahut-sahutan sebagai pertanda Manurungnge suami-istri menuju keluar, disambut dengan usungan emas manurung, disertai upacara dipartauti kipas emas dari Ruallette, serta diseliweri kipas emas orang Senrijawa. Diusunglah pembawa kipas, diturunkan pula ketur peludahan tempat meludah, yang akan ditempati pembuangan sepah sirih orang besar itu. Meriam dibunyikan, tak henti-hentinya bunyi letusan meriam sebagai maklumat.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Manurungnge suami-istri telah turun ke kampung ,Di depannya terdapat usungan emas tumpangn We Saung Nriuq, We Lele Ellung.Apung Talaga dan To Jabiara saling berdempetan dengan usungan emas Tenritalunruq, Apung Mangngenreq,Tenrisaungeng dan We Sese Ileq.Tujuh ribu usungan emas di belakang Manurungnge, sekian pula di depannya. Ribuan usungan gading di sebelah kanannya, sekian pula di sebelah kirinya berangkat diiringi hamba ratusan, diantar hamba dewa semuanya mengenakan ikat kepala yang dihiasi pinang goyang emas cendana, masing-masing mengayunkan destar emasnya, sarung berwarna kuning dan baju bersulam serta selendang mayang kemilau. Bagaikan bara api yang bertaburan lengan orang yang bergelang emas Puang Matoa pun telah berjalan ke depan, pengawas negeri yang indah.Tak saling memberikan jalan untuk dilewati para pengikutnya yang ribuan diiringi bunyi caleppa.Maka Puang Lolo saling berpegangan,para bissu juga sudah menari, mengadu alosu emas menyabung arumpigi emas sekati,para bissu menari tak henti-hentinya dengan tarian topeng, terus-menerus menaburkan bertih.Bagaikan kayu yang bergesekan buyinya usungan gading tumpangan para ratu pengiring. Bagaikan danau yang meluap payung emas naungan para penghuni istana yang ramai.

PAPARAN ADEGAN 8 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Pengangkut usungan kemilau yang ditumpangi Manurungnge suami-istri berangkat diiringi cahaya, diantar kilat, petir dan topan, didahului angin kencang, diapit kilat yang sabung-menyabung. Kini matahari tak bersinar dan angin pun tak berhembus ,bahkan daun kayu pun enggan bergerak. Burung-burung man’ semua yang berani melewati Manurungnge. Bagaikan air deras mengalir keluarnya orang banyak, meski barisan depan sudah tiba di pelabuhan perahu namun belum juga berhenti mengalir dan membanjir keluarnya orang banyak. Maka Manurungnge sampai di pelabuhan perahu. Bagaikan matahari yang naik yang bersinar terang hiasan usungan kemilau manurung tiba memenuhi pinggir pantai yang tak pernah sunyi tak saling memberi tempat berdiri pada pelabuhan perahu. Bagaikan bara menyala tampaknya payung emas perlindungan Manurungnge bagaikan api setan peresola yang menyala cahaya payung naungannya We Nyiliq Timoq, Yang Muncul di Busa empong diiringi usungan emas, dipandu oleh busa air,
dinaungi bintang dari Saung Langiq. Sangiang Mpajung telah turun menyabung kilat, mengadu peti dan menyalakan api dewa diikuti oleh kilat petir, Rukkelleng Mpoba mengadu api dan mempertemukan angin ribut. Bagaikan Peretiwi itu akan longsor dan langit pun akan runtuh. Pelangi yang berwarna tujuh datang di tengah wangkang kemilau berhadapan dengan kegelapan malam. dibalikkan tangan sekali pun orang tak saling mengenal wajah lagi. Guntur bergemuruh lagi, kilat dan petir saling menyabung. Boting Langiq bagaikan akan runtuh, Peretiwi pun bagai akan longsor. Maka pemberian We Datu Sengngeng meluncur dari langit, dari Paduka kakeknya Manurungnge di langit. Ribuan perahu emas dipenuhi harta benda. Puluhan ribu pula dayang-dayang orang Toddang Toja, masing-masing lengannya dipenuhi gelang emas,dan semuanya memakai sarung bersulam, berselendang kain berwarna kuning yang melingkar pada Sese Ileq, serta bergoyangan pinang goyang emas di kepalanya, yang dikenakan pada ikat kepalanya masing-masing mengangkat talam emas, yang ditempati bertih emas. Bagaikan hujan keras taburan bertih emas.Kini dayang-dayang orang Abang telah berdatangan.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka istriku We Datu Sengngeng , semoga
Datanglah semangat kahyanganmu Adinda We Datu Sengngeng,
bangunlah tenangkan hatimu.Telah ada harta benda pemberian Sri
Paduka dari Boting Langiq saling bertemulah harta dan dayang-
Dayang pemberian Paduka kita Linrung ri Toja di Peretiwi. Adinda
We Datu Sengngeng, telah ada pula usungan emas tumpangan
Sri Paduka Batara Guru Manurungnge suami-istri menjemputmu
dengan kur semangat.”

PAPARAN ADEGAN 9 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan Anggunnya We Datu Sengngeng bangun duduk membasuh muka pada mangkuk putih, berkaca di muka cermin, membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya.We Datu Sengngeng lalu berdiri mengenakan pakaian indah, sarung bersulam bermotif naga, bertaburan mayang kemilau, berurai gambar ular sawah dari Boting Langiq, disulam bermotif bunga bintang, berlilitkan ular menreli, tujuh kati di bagian bawahnya,lima kati di atasnya, baju satin merah bersulam orang Wawo Unruq,dengan sulaman emas orang Uluwongeng. Lengannya dililiti gelang emas orang Toddang Toja, enam puluh lima sebelah-menyebelah, diapit gelang lolacj bepermata, bintang bersinar dari Abang Lette,cincin tempaan berukir, yang melingkari jarinya ,kuku palsu emas, anting-anting emas di muka, di belakang.We Datu Sengngeng lalu berdiri berjalan diiringi inang pengasuh, diapit oleh bangsawan tinggi, diramaikan oleh pengasuhnya. Mutiara bilik sendiri menaburinya bertih emas. Batara Lattuq segera berdiri menggenggam lengan istrinya, bergandengan tangan suami-istri menunggu berdiri di geladak perahu.

Maka tibalah semua anak raja pendamping, para bangsawan kapit, anak orang kaya penghulu negeri, anak raja taklukan Manurungnge.Tak saling memberi jalan untuk dilewati pada pelabuhan perahu para pengasuh segaharanya, La Pananrang, La Massaguni,La Sinilele dan Panrita Ugiq,
tak saling mendengar bunyi aduan ribuan kadidi,tettillaguni dan anak beccingnya. semua keluarga Manurungnge. Bagai kayu yang bergesekan, goyangan usungan emas tumpangan ratu perempuan pengiring. Bagaikan danau yang meluap payung emas naungan bangsawan tinggi kapit
sampai tiba di pelabuhan perahu memadati pinggir pantai yang tak pernah sunyi, orang banyak itu tak saling memberi tempat berdiri.

PAPARAN ADEGAN 10 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan Bangga We Datu Sengngeng berpaling pada lelaki yang segaharanya, saat melihat berjejal usungan cermin pengiring itu bagaikan matahari yang bersinar payung emas yang menaunginya, menyinari laut dan menerangi samudera, menerangi semua pinggir laut , akaian kebesaran anak raja pendamping bangsawan mulia kapit itu, bagai api setan peresola menyala payung kemilau Manurungnge, bagaikan kilat yang sabung-menyabung payung matahari yang muncul,

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Suamiku Batara Lattuq ,Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu Aku bertanya, Opunna Luwuq, adakah yang
melebihi kemuliaanmu di tempat lain yang dikerumuni oleh pengasuh
dinaungi payung emas, diramaikan oleh bunyi aduan kadidi emas
ribuan tettillaguni dan anaq beccing, diseliweri nyanyian bissu Sebagai
penopang jiwanya, yang mengasapi jalan dapur emasnya pantangan
setan Sunra dan menjauhkannya dari maksud jahat setan peresola?”

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Datu Sengngeng ,Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu Dinda, janganlah engkau mengira, karena
ingin lamaranku diterima, maka ketika di Tompoq Tikkaq kukatakan
kepada kakanda We Adiluwuq,Tak ada payung kembar di Luwuq juga
tak ada duanya suguhan emas yang dimunculkan di Watang Mpareq.
Aku adalah raja tunggal, tidak ada duaku pada ibu Kahyanganku juga
tak ada duaku yang disembah oleh orang Banyak di Ale Luwuq, di
Watang Mpareq.Tak ada duaku menerima persembahan yang banyak
sekolong langit dan sepetala bumi. Adapun Adinda We Datu
Sengngeng,anak raja yang kaulihat mengasapi jalan dengan asap
pedupaannya, tak henti-hentinya membunyikan upacara kerajaan,
itulah keturunannya, kakak kita La Pangoriseng bersaudara, sedang
membentangkan jalan, ia saudaraku tak seibu. Kesemuanya itu adalah
cucu Sri Paduka Manurungnge.Tak satu pun yang menentang, Adik,
kelak kita bawa dalam kehidupan suka dan duka.Adapun yang dinaungi
payung kejora,dinaungi tudung payung kemilau, menumpangi usungan
emas, itulah, Sri Paduka ayahandaku Batara Guru tak ada antara
usungan kemilau tumpangannya suami-istri.”

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan sekejab waktu saja, Manurungnge suami-istri tiba di pelabuhan perahu. Orang banyak sudah tak saling memberi jalan bagaikan pelabuhan perahu akan tumpah-ruah oleh suara gemuruh orang banyak. Upacara dewa kahyangan. Manurungnge suami-istri berseliweran. Kini usungan emas manurung diletakkan, juga usungan kilat yang muncul lalu disingkapkan kain patola gunri yang meliputi usungan emas tumpangan Manurungnge suami-istri. We Nyiliq Timoq segera bangkit, bergandengan tangan suami-istri, diapit bangsawan tmggi sebelah-menyebelah, ujung sarungnya disingkap dan kedua belah lengannya dibimbing, diramaikan seliweran kipas dari Ruallette,
dikelilingi kipas emas dari Senrijawa,sambil meniti di atas cadik emas, melangkahi pinggir perahu. We Datu Sengngeng sendiri menaburi bertih emas Sri Paduka mertuanya.

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka manurung suami-istri, datanglah semangat
kahyanganmu. Semoga aku tak kualat pada kemuliaan warisanmu dan
tak durhaka pada kerajaan di hadapanmu ,raja dewa dari Ruallette, datu
sangiang dari Toddang Toja. Naiklah kemari, Sri Paduka, pada
wangkang emas manurung masuklah ke dalam perahu.”

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Paduka We Nyiliq Timoq, Yang Muncul di Busa Empong segera berpaling
menggenggam pangkal lengan anak menantu yang disayanginya
bersebelahan dengan Manurungnge. Ketiga raja itu berpegangan tangan masuk duduk di ruangan perahu Walinono, Manurungnge suami-istri bertindihan paha. Seketika itu Batara Lattuq datang pula duduk berdampingan suami-istri di hadapan raja dewa yang melahirkannya, sembari diseliweri kipas emas, dikelilingi kipas emas dari Senrijawa. Batara Lattuq sendiri yang mengangkat sirih untuk Manurungnge.We Datu Sengngeng pun mengangkat sirih, mempersilakan menyirih Yang Muncul di Busa Empong. diringi usungan emas dan didorong oleh busa air. Alangkah gembira Manurungnge suami-istri segera mengangkat We Datu Sengngeng lalu memangku anak menantu yang dikasihinya, mengusap-usap pinggangnya, membelai-belai rambutnya yang halus nan panjang, mempermain-mainkan gelang emas yang meliliti lengannya sembari meremas-remas jari tangannya.

BATARA GURU ;

Kur jiwamu, Ananda We Datu Sengngeng, semoga datanglah
semangat kahyanganmu, hiasan istana di Sawammegga,
permata bilik di Singkiq Wero, bulan purnama orang Tompoq
Tikka. ambil tujuh negeri yang semuanya berpenghasilan
Ratusan sebagai penyambung hidup siang dan malam.
Ambillah peralatan agung yang bersamaan denganku turun
ke dunia. Ambil pulalah kain danriora, tujuh puluh depa
lebarnya dan tiga ratus depa panjangnya yang tujuh kali sehari
berubah warna.”

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu, Ananda We Datu Sengngeng, semoga datanglah
semangat kahyanganmu. Anak We Sengngeng, ambillah gelang emas
yang bersamaan denganku muncul di dunia, kain indah yang
bersamaku muncul di Kawaq. Bila digunakan pada tengah hari maka
siang pun menjadi gelap gulita,dibalik jari tangan pun tak akan Nampak
dan tak kelihatan wajah orang lain. Apabila dikenakan pada waktu
tengah malam bagaikan matahari terbit dari balik gunung. Bilamana
negeri kena musibah lalu dikenakan di tengah-tengah kampung
maka serta merta kemarahan sangiang akan berhenti. Bila panen
tahunan tak jadi dikenakan di tengah padang maka penduduk pun
panen padi. Ambillah pula, Ananda We Datu Sengngeng, piring
tempatku mandi pemberianku dari Boting Langiq,ribuan anak raja pergi
mandi, tak juga terinjak pinggirnya. Ambil pula hiasan istana dari
Sawammegga, alat Peringgi yang ditempati burung emas permainan
Yang tak pernah menjemukan aku, saat pertama kali muncul ke
dunia. Engkau ambil pula, mutiara pelaminan, ikat kepala
sudallangiq yang bersamaanku muncul ke dunia, tujuh puluh
depa lebarnya lebih seratus depa panjangnya, yang tujuh kali
sehari berubah warna, warisanku dari tuanku yang berkuasa
di Toddang Toja, yang diberikan padaku saat dipersiapkan
muncul ke dunia. Bila dikenakan pada tengah hari bagai tirai
yang dipandang. Bila dikenakan tengah malam bagaikan
mentari yang bersinar menyilaukan mata, tak ubahnya bulan
purnama. Bila dipandang sekali lagi, bagaikan mata hari
bersinar di atas gunung, bak memandang surya. Bila diulang
sekali lagi, tak ubahnya awan yang beriringan.
Bila diulang lagi memandangnya maka bagaikan memandang bintang
yang muncul. Bila diulang memandangnya lagi bagaikan kilat dengan
guntur yang bersahut-sahutan di tengah-tengah istana. Bila diulang lagi
memandangnya bagaikan bara menyala Kelihatannya di tengah istana
dewa yang diturunkan.Itulah Anak We Datu Sengngeng, pemberianku
yang tak terhitung dari Sri Paduka yang berkuasa di Peretiwi saat aku
dipersiapkan muncul ke dunia.”
Ananda We Datu Sengngeng, ambil pulalah dayang-dayang
hamba dewa yang ribuan banyaknya, pembawa kipas yang
bersamaku turun ke dunia berpakaian sutra yang bermotif
bulan naga, berbaju satin merah yang disulam lengan mereka
dililiti gelang emas.”

BATARA GURU :

Anak We Datu Sengngeng, semoga engkau mujur, engkau
melahirkan anak di Luwuq,kemauanmu adalah kemauan
terhormat engkau suami-istri. Duhai, permata bilik,
kusebutkan engkau hadiah dari negeriku, kuhitungkan
engkau harta benda karena tiada duamu penghuni bilik
yang menghiasi istana I La Tiuleng. Engkau We Datu Sengngeng,
ratu tunggal di negerimu menerima persembahan yang
ribuan banyaknya sekolong Iangit dan sepetala bumi.”

(closing Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: