NO.13 NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 13. (UPACARA DEWA LANGIQ )

NO.13 NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 13. (UPACARA DEWA LANGIQ )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Alangkah senangnya Batara Guru Manurungnge suami-istri melihat anak menantu kemanakannya bagaikan orang Senrijawa yang menjelma di dunia. Tak ubahnya orang yang menikmati rasa madu di dalam hatinya We Nyiliq Timoq,Yang Muncul di Busa Empong menatap anak menantu yang disayanginya, tak satu pun bandingannya yang pernah ia lihat,di Boting Langiq dan di Toddarig Toja.Opu Talaga segera bergeser duduk di samping We Datu Sengngeng lalu membuka pakaian anak menantu kemanakannya. We Nyiliq Timoq sendiri memasangkan gelang emas yang meliliti lengannya,
cincin emas pada jari manisnya, mengganti sarung sutra kebesarannya, baju penutup dadanya. Ditukarnya sarung satin merah bersulam penutup dada dari Wawo Unruq berpinggirkan emas, dipasangkan selendang warna kuning yang disulam dengan emas murni buatan orang Mata Soloq .

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng ,datanglah
semangat kahyanganmu. Ringankanlah badanmu permata pelaminan
emas yang cantik, masuklah ke negerimu, engkaulah pemilik istana
emas manurung, istana guntur yang diturunkan. Janganlah tinggal di
muara diembus angin, diterpa bayu. Duhai, Ananda We Datu
Sengngeng, kuhitungkan engkau hadiah yang banyak, adakah duanya
Batara Lattuq yang pernah tidur dalam perutku,jangan engkau tinggal
merayu-rayu.”

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Engkau adalah anakku We Datu Sengngeng,
sedang Batara Lattuq hanyalah menantuku.

Alangkah terenyuhnya hati mendengar perkataan kedua Mertuanya, We Datu Sengngeng tak menyahut,Tiada menjawab sepatah kata pun. Menunduk saja ia mencucurkan air matanya. Orang banyak sudah mulai sibuk mendarat di pelabuhan perahu. Saat itu We Nyiliq Timoq berdiri menggenggam pangkal lengan anak menantu kemenakannya

WE NYILIQ TIMOQ

Berdirilah, Paduka anada We Datu Sengngeng, kita masuk ke
negerimu, matahari sudah tinggi, orang banyakmu sudah siap
pula menunggu.”

Dengan bergegas tak menunggu waktu lagi, Maka Batara Lattuq berpaling menggenggam lengan istrinya mempermain-mainkan gelang emas yang melingkari lengannya sambil berkata,

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka istriku We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu. Kasihanilah aku, hiasan bilik emas yang
ramai, ringankan badanmu naik, Adinda kita masuk ke negeri kita,
engkaulah pewaris tunggal Paduka Batara Guru suami-istri.”

BATARA GURU :

Ananda We Datu Sengngeng, ringankanlah badanmu kita masuk
ke negerimu sendiri Aleq Linoq.

Segera saja We Datu Sengngeng berdiri bersamaan dengan Batara Guru Manurungnge diiringi dengan hamba dewa. Bergegas Batara Lattuq berdiri segera menggenggam lengan istrinya bergandengan tangan suami-istri,
diapit oleh ibunda kahyangannya, oleh mertua bibinya diiringi oleh hamba dewa, didahului oleh orang-orang dekat segaharanya, berpegang pada bangsawan tinggi sambil disingkapkan ujung sarungnya dan kedua pangkal lengannya diangkat,suami-istri didudukkan dalam usungan emas, dinaungi payung emas. Bak matahari yang mulai terbit dipandang mata. Berangkat pulalah semua usungan emas, Tumpangan anak raja pendamping dinaungi dengan payung emas, para bangsawan pengiring, isi usungan yang turun, isi bilik yang muncul. Bagaikan bunyi kayu yang bergesekan suara goyangan usungan yang ditumpangi anak raja Luwuq, keturunan sangiang dari Wareq, tak saling memberikan jalan dilewati usungan cermin para pengiring.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Segera sajatanpa menunggu waktu lagi , diberangkatkan usungan emas tumpangan Batara Lattuq suami-istri dan Manurungnge suami-istri, diberangkatkan dengan upacara dan doa dewa, diramaikan dengan kur semangat dari Boting Langiq, ditaburi dengan bertih emas dari Senrijawa, diiringi Puang Matoa, diramaikan dengan upacara raja. Bedil pun segera dibunyikan bunyi mesiu berdentuman pula .Bagaikan guntur di langit suara bunyi meriam sebagai maklumat menginjak negeri orang yang ditetapkan menjadi tunas di dunia. Kini telah pergi pemikul usungan emas tumpangan Manurungnge, bersamaan berangkat usungan emas yang ditumpangi oleh pengantin yang diapit oleh penguasa kerajaan, diramaikan oleh bangsawan tinggi, diiringi anak raja penghulu negeri. Tujuh ribu usungan emas di depan payung emas, sekian pula usungan gading di belakangnya. Ribuan usungan cermin di sebelah kanannya, sekian pula di sebelah kirinya. Alangkah ramainya kur semangat kahyangan pengantin itu. Lalu lalanglah orang yang bergelang emas dan yang bergelang besar, kepalanya dihiasi emas dengan pinang goyang emas.

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Berbarengan dengan itu Puang Lolo pun kini telah menari ,tak henti-hentinya mengadu alosu emas menyabung arumpigi emas sekati. Alangkah ramainya upacara para puang itu diiringi doa dewa untuk pengantin, disertai upacara kerajaan dari Senrijawa.Para bissu bertopeng turut menari, Puang Lolo pun telah mengadu alosu emas, menyabung arumpigi emas melewati pancangan bambu menrawe dan mematahkan bambu emas. Ribuan banyaknya anak orang kaya pengikut Manurungnge menghamburkan emas dan menebarkan gelang emas berukir, sedikit pun tak menyayangkan hartanya. Opunna Luwuq suami-istri melewati menrawe pula. Alangkah ramainya upacara kerajaan negeri yang indah,bergemuruh tak henti-hentinya Puang Lolo mengiringi masuk ke menrawe para anak raja dari Sawammegga, para penguasa negeri taklukan We Datu Sengngeng. Serentak berpaling menghamburkan gelang, menaburkan perhiasan emas, melemparkan kain sutra tanpa menyayangi sedikit pun hartanya. Pengantin berjalan diiringi upacara dan diramaikan kur semangat, ditaburi bertih emas dari Abang Lette,diiringi tari aduan alosu emas serta sabungan arumpigi emas.Tiga ribu bambu emas tempat yang dilewati pengantin itu yang berakar pagar terjalin, berdaun kain cindai dari Toddang Toja, bertangkai kalung yang berkait bermayang kain indah keling, berpucuk guntur,berbunga satin merah dan berbuah poci. We Datu Sengngeng menginjak pada belubu emas diiringi tarian alosu emas, diberangkatkan dengan ucapan doa dewa. Pengantin itu melewati bambu emas lagi, upacara Puang Matoa pun kembali ramai, para bissu bertopeng juga menari lagi, tak henti-hentinya menaburkan bertih emas mengadu alosu emas dan menyabung arumpigi sampai memasuki Aleq Luwuq.

PAPARAN ADEGAN 4.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Bergantian anak raja, bangsawan tinggi kapit, penghulu negeri yang menjadi hakim, kerabat bangsawan raja,serta anak orang kaya menyodorkan hadiah, menyampaikan pemberian pada pengantin. Tidak kurang dari seratus orang pengipas, ribuan kain patola, puluhan peti kayu yang berisi gelang emas hadiah anak raja pendamping. Aleq Luwuq pun tumpah-ruah oleh orang banyak , Bagaikan akan tumpah negeri sangiang yang manurung dipadati oleh suara orang banyak. Para penguasa yang memerintah negeri indah tak saling memberi jalan di pekarangan. Bagaikan danau yang meluap payung emas naungan raja, usungan pun saling bermiringan di hadapan istana emas manurung ,bersentuhan daun payung emas. Para hamba yang banyak tak saling memberi tempat berdiri turut meramaikan dan diramaikan naungan pohon telah disinari cahaya gelang, di bawah pohon asam pun disinari emas,
kemilau pakaian lengkap menyinari pekarangan istana manurung itu.

PAPARAN ADEGAN 5.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Batara Lattuq Opunna Luwuq telah tiba melewati arena tata upacara di hadapan istana emas manurung yang diberi dinding kain indah Kelling,
dinaungi kain bermotif keris, dibentangi hiasan emas berpilin pada pohon beringin emas yang terbalik, sampai menutupi kaki tangga.Para penguasa yang memerintah negeri indah bersamaan naik pula, tiga kali saja berkeliling pada penutup bubungan kaki tangga menaburkan gelang emas tak menyayangi harta yang banyak, menghamburkan gelang emas melambaikan ikat pinggang emas sambil menuntun kerbau cemara dan saling berpaling menebarkan gelang. Para penguasa taklukan Opunna Luwuq, telah masuk duduk di istana agung emas diapit oleh api menyala yang dikelilingi oleh pagar anyaman emas dan diramaikan seliweran kipas emas orang Abang Lette, dikelilingi oleh kipas emas orang Senrijawa.Saat itu Opunna Wareq turun di bawah tangga emas diiringi oleh kur semangat sambil dihamburi bertih emas, bertih emas aneka warna dari Ruallette’, berjalan melewati ruang istana diperintahkan menendang talam emas dan menginjak tanah menroja dari Ruallette We Datu Sengngeng suami-istri. Usungan emas manurung kini telah dihentikan lalu diusung naik ke atas kain upacara pareteng yang dibuhul kedua ujungnya dengan gelang naga. Puang di Lae-Lae naik ke istana memegang lawolo bersebelahan dengan tempat tempat menurun Istana emas di Coppoq Meru. We Appang Langiq tinggal di bawah pada peterana emas menerima lawolo bersebelahan dengan I We Salareng dan Puang di Wareq bersenandung kur semangat tunas dewa. Hanya tujuh kali disenandungkan doa bisu maka sepakatlah para pembawa lawolo itu. Barulah We Datu Sengngeng ditaburi bertih emas, bertih emas dari Ruallette.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda Batara Guru suami istri , datanglah
semangat kahyanganmu, ringankanlah badanmu suami-istri, naiklah ke
atas istana tempati istana dewa yang diturunkan sambil kusebutkan
engkau harta yang banyak. Bukankah tiada duamu di sini, yang
dijadikan penghuni istana Batara Lattuq? Tiada bertentangan sedikit
pun saat kukatakan, Engkau, We Datu Sengngeng, adalah anakku
sedangkan I La Tiuleng Batara Lattuq hanyalah menantuku.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan tak membuang waktu lagi, Maka Batara Lattuq berdiri menggenggam lengan istrinya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Adik We Sengngeng, kasihanilah aku ,
ringankanlah badanmu naik ke atas istana, tak kuduakan ambang
bilikmu, tak kutinggalkan bilik tempat tidurmu, tak ada tempat lain
orang banyak membawa persembahan, tak ada duanya tempat
menengadah hamba dewa manurung, tidak ada duamu permata
pelaminan menerima persembahan harta yang banyak sekolong langit
dan sepetala bumi.”

Dengan anggunnya We Datu Sengngeng berangkat bergandengan tangan suami-istri, We Nyiliq Timoq suami-istri juga menginjak tangga emas berukir, dipegangkan susur kemilau dan emas berpilin, mayang kelapa dari Limpo Bonga, melangkahi ambang pintu emas, menginjak lantai papan pinang emas. Bagaikan hujan deras taburan bertih emas dari atas istana.

WE SAUNG NRIUQ :

Kur jiwamu, Paduka Ananda,semoga datang semangat kahyanganmu
suami-istri. Naiklah ke mari ke stanamu, masuklah ke tengah tengah
ruangan istanamu.”

Dengan agungnya, Batara Lattuq suami-istri dan Batara Guru Manurungnge suami-istri masuk. Bagaikan angin yang bergemuruh bunyi tangga emas saat dilewati oleh para penguasa yang mengiringi pengantin itu, langsung duduk menempati petak luar, dikerumuni pandangan orang asing itu. Tiba pulalah semua di rumah hati ruangan pengiring, isi bilik yang ramai.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

We Nyiliq Timoq Datu Tompoq lalu masuk bergandengan tangan menantu kemenakannya, Batara Lattuq bergandengan tangan Manurungnge, We Lele Ellung di sebelah kirinya, We Saung Nriuq di sebelah kanannya,To Jabiara yang memegangkan ujung sarungnya, Apung ri Toja mengangkatkan pangkal lengannya masuk. Ruangan kemilau gemuruh dilewati oleh anak raja, bangsawan tinggi, isi bilik yang ramai. Maka Manurungnge tiba di Dalam duduk di atas peterana kemilau. We Datu Sengngeng suami-istri juga duduk di hadapan Manurungnge. We Nyiliq Timoq Datu Tompoq sendiri membersihkan butiran peluh anak menantu kesayangannya diramaikan oleh kipas emas dari Abang Lette, dikelilingi oleh kipas emas dari Senrijawa, lalu diperciki air mawar dan diembusi angin kipas. Maka duduklah semua, penguasa pengantar We Datu Sengngeng.

BATARA GURU :

Kakanda Welong Talaga, perintahkanlah agar segera melengkapi
upacara dewa langit pada pengantin itu untuk dipersandingkan
pada pelaminan kemilau.”

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan segera saja, tanpa membuang waktu lagi, Belum selesai ucapan Manurungnge bagaikan ombak yang berhamburan perintah kedua orang itu untuk melengkapi upacara kerajaan pengantin itu. Alangkah sibuknya Puang Matoa pengawas negeri indah. Tarian bissu siap menyambut Batara Lattuq suami-istri, dibawa berkeliling pada pelaminan orang Ruallette, diikat wettang taoq orang Limpo Bonga,diamat-amati Puang Matoa,kur semangat orang Ruallette bergemuruh, dan ia pun dihamburi bertih emas diapit obor emas, dengan pagar anyaman dan api menyala, diangkatkan mayang kemilau, dipertemukan pada tempayan emas. Lalu pohon beringin emas yang besar ditegakkan, disuruh memegang pada janur orang Uluwongeng lalu duduk bersanding pada pelaminan kemilau, dihamparkan permadani sutra. Ia diperintahkan menghadap ke arah timur, diarahkan bersama pengikat jodohnya, dijejerkan nasibnya, dipertautkan perkawinannya ,disamatinggikan jiwanya, lalu makan pada piring pesta upacara. Setelah itu ia diberi minum madu harum perekat orang yang tinggal seistana, lalu dilelehkan minyak sangiang agar tak terpisahkan perjodohannya. Disatukan bayang-bayangnya, dijahit simpul perjodohannya, disatukan jahitan baju sutra We Datu Sengngeng, dengan destar ikat kepala Batara Lattuq disambung ukuran tingginya, lalu dikaitkan di bahagian atas pelaminan. Setelah itu ia disuruh mengambil sesuatu dalam tempayan emas, We Datu Sengngeng mendapatkan bulu parenreng sedangkan Batara Lattuq mendapatkan citta marola. Meraba lagi bulan purnama Tompoq Tikkaq dapat selleq sioja
sedangkan penguasa di Watang Mpareq dapat batu bertangkai. Meraba lagi mutiara pelaminan dari Singkiq Wero dapat penno-penno, dan La Rumpang Langiq dapat riu-riu. We Datu Sengngeng mengambil lagi daun sirih bertemu serat, sedangkan Opunna Luwuq mendapat pinang bertangkai. Tujuh kali mereka bergantian mengambil di dalam tempayan emas masing-masing menaikkan tenunan Selayar. Lalu dijahit dengan jarum emas perjodohannya
dijejerkan dengan nasibnya, dipertautkan dengan perkawinannya. Doa para bissu lagi ramai, tak henti-hentinya bergemuruh para puang, para bissu pun meniup serulingnya ,menembangkan kur semangat keturunan sangiang .Doa para bissu sangatlah ramainya dan taburan bertih emas tak henti-hentinya. Saat itu Unrai Sugiq berdiri bersamaan Unrai Tompoqmenegakkan obor emas
pengantin suami-istri itu sebanyak tiga kali.

PAPARAN ADEGAN 9.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Sementara itu , Maka Puang Matoa dari Latimojong berdiri bersamaan Puang dari Luwuq di hadapan pelaminan sembari berkata,

PUANG MATOA :
Wahai sekalian, belilah penenun yang belum pernah memangku
gulungan tenun emas, tak pernah mengayunkan belera emas,
belum pernah memutar jentera pemintal emas, belum pernah
mengangkat benang sutra,namun tak jua berkurang isi lumbung
besarnya tak pernah tergulung sarung baju dayang-dayang
segaharanya tak pernah luntur pakaian mulia hamba segaharanya.

Dengan anggunnya We Nyiliq Timoq berdiri di depan pelaminan diapit oleh hamba dewa, ujung sarungnya diangkatkan, bertelekan pada anak bangsawan sambil berkata,

WE NYILIQ TIMOQ :

Hai Puang Matoa, aku yang membeli penenunmu, dengan ratusan
dayang-dayang yang berpakaian sarung sutra berbunga naga
dengan baju satin merah bersulam.”

INANG PENGASUH :

Penenunmu laku, Puang Matoa, berapakah harga penenunmu
yang tak menerima pembeli emas?”

We Nyiliq Timoq Ibunda Batara Lattuq kembali duduk di atas pelaminan kemilau. Berdiri di depan pelaminan We Appang Langiq, Puang di Wareq,
We Sessung Nriuq dari Coppoq Meru,

WE NYILIQ TIMOQ :

Wahai sekalian, belilah tukang bajak, tak memegang luku dan tak
menyelempang pengendali emas, belum pernah menyayunkan
cambuk emas, tak juga pernah menginjak pematang,tapi tak berkurang
isi lumbungnya yang banyak tak pernah lapar hamba andalannya,
tak lusuh pakaian hamba pribadinya.

Manurungnge Batara Guru sertamerta berdiri di hadapan pelaminan dan berkata,

BATARA GURU :

Sayalah yang membeli tukang bajakmu, Puang Matoa, dengan bissu
manurung dan dayang-dayang ratusan orang, sekian pula gembala
berpakaian lengkap sebagai saksi yang benar terhadap jualanmu.
Berapakah harga tukang bajakmu yang belum pernah memegang
tangkai luku itu?”

Batara Guru Manurungnge kembali duduk berdampingan suami-istri. Alangkah gembira ibunda La Pangoriseng bersama ibunda La Temmallureng,

La Pangoriseng berkata,serempak bersamaan semuanya berkata dengan La Pananrang, To Sinilele, To Buluq Tana,To Panangngareng, To Sawe Ase, To Pattaungeng,To Pinanrasi, To Pinammile’, To Pinanrakka,To Pinassumpu, To Seppennenna, To Mareopu, To Maragellung, To Maretengnga, To Marasepe,To Buluq Tana, To Sawe Ase, To Manedara, orang tua We Rompe Sodda ayah bunda We Rompe Gading yang melahirkan We Rompe Lama ratu ibunya Mattangkiluwuq, semua yang dilahirkan Manurungnge, semuanya berkata :

PARA BANGSAWAN :

Kamilah yang membeli tukang bajakmu, Puang di Luwuq, dan tukang
tenunmu, Puang di Wareq. Dengan ribuan orang pilihan, sekian pula
gembala berpakaian lengkap, ratusan peti Cina yang berisi tenunan
Melayu, sekian pula peti kayu yang berisi emas, harga pada raja
adindaku yang kudampingi.”

PAPARAN ADEGAN 10.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Seusai semua anak raja itu mengucapkan semua pemberiannya, surutlah mereka duduk, lalu diputus jahitan perjodohan. Para bissu raja mengambil pembeli kur semangat sekati setiap remaja. We Tenriulle segera berdiri bersamaan dengan We Unga Waru dan We Tenrisuiq, semua berpakaian sarung bermotif pagar berduri, bunga berbentuk mayang kemilau dengan baju satin dari Sese Ileq, berselendang sutera merah yang disulami emas murni. Pangkal lengan mereka dililiti gelang emas,enam puluh lima sebelah-menyebalah, diapit gelang lolaq bepermata, dan memakai cincin berukir hiasan jari tangannya, kuku hiasan emas dan anting-anting, emas di muka, emas di belakang.

WE TENRIULLE :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu , Paduka Adinda We Datu Sengngeng
ambillah dayang-dayang masing-masing seribu yang lengannya
semua dikaiti gelang emas, berpakaian sarung bersulam dengan baju
satin merah yang juga bersulam, berselendang kain dusiq warani,
ratusan bakul yang berisi tenunan Melayu, sekian pula tempaya Seram
yang ditempati emas murni sebagai ganti pinang sekerat hidangan
sirih selembar.”

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka kakanda We Tenriulle , datanglah
semangat kahyanganmu Silakan duduk, Paduka Kakanda
di hadapan pelaminan agung.

Lalu ketiganya duduk di hadapan pelaminan emas yang diduduki raja adiknya.I La Tiuleng berpaling sambil berkata pada We Datu Sengngeng perempuan kesayangannya,
BATARA LATTUQ :

Adinda We Datu Sengngeng, yang sebelah selatan itu adalah
penguasa istana kakanda La Pangoriseng, orang tua La Pananrang.
Yang di tengah itulah penyambung lidah segaharanya kakanda La
Temmallureng orang tua La Sinilele.Yang di sebelah utara itulah isi
usungan segaharanya, kakanda La Tenriwesang yang melahirkan
La Massaguni.”

Dengan tidak menunggu waktu lagi , We Datu Sengngeng tergesa-gesa menyuguhinya cerana sambil berkata,

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka pembesar istana Aleq Luwuq sekalian , datanglah
semangat kahyanganmu , Paduka silakan menyirih.”

Tergesa-gesa We Tenriulle, We Tenrisuiq dan We Unga Waru mengambil sirih, lalu menyirih pada cerana pengantin itu. Setelah itu mereka bergantian berdiri menyebutkan hadiahnya, di hadapan pelaminan emasnya orang yang dipersiapkan memelihara istana keturunan Manurungnge. Para pelayan itu tak saling memberi tempat duduk di hadapan pelaminan emas. Tidak kurang ratusan dayang-dayang hadiahnya ,ribuan gembala pemberiannya.

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan tidak membuang waktu lama lagi, Batara Lattuq lalu berdiri bergandengan tangan suami-istri turun dari pelaminan kemilau diiringi oleh hamba dewa, didahului oleh penghulu negeri lalu duduk pada permadani selebar langit di hadapan Batara Guru Manurungnge, berdampingan duduk suami-istri, diseliweri oleh kipas emas orang Senrijawa, dikelilingi oleh kipas emas orang Ruallette, diembusi dengan angin buatan dan diperciki air harum. Alangkah gembira Manurungnge suami-istri menyaksikan keturunannya duduk berdampingan suami-istri. Bagaikan kembar emas bersanding di atas permadani selebar langit. Perempuannya sangat cantik, sedangkan laki-lakinya sangat tampan, pasangan yang cocok keindahannya.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Menyirihlah, Ananda We Sengngeng,
menyirih pula ananda Batara Lattuq, hanya kalian suami-istri yang
kuharap mewarisi kekuasaanku di masa datang.”

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Tanpa membuang waktu lagi, Segera We Datu Sengngeng mengambil sirih lalu menyirih suami-istri alangkah bahagianya hati orang besar itu duduk dikelilingi para penguasa negeri. To Tenriangkeq dan To Appareppaq memerintahkan agar dihidangkan tempat minuman dan segera diangkat kawah besar. Mondar-mandirlah bissu pelayan dayang-dayang pilihan istana. Ribuan dayang-dayang berpakaian lengkap orang Ruallette dipadati semua gelang emas pangkal lengannya mengayunkan gelangnya dari emas berpilin mengangkat tempat minuman dan mangkuk. Maka berdiri pula pelayan lelaki dari Luwuq dan gadis-gadis pembawa kipas dari Senrijawa yang membawa hiasan emas serta pinang goyang pada ikat kepalanya, masing-masing mengangkat bamboo kemilau mengayunkan kipas emas dari Senrijawa tanpa membiarkan dihinggapi lalat bahan makanan Manurungnge, Diangkat talam kemilau peradatan Manurungnge suami-istri bersamaan baki kemilau yang berisi santapan Batara Lattuq suami-istri. Lalu ditutupi kain yang ditindis gelang emas, dilengkapi dengan gading berukir bersama tempayan kemilau,
sebagai adat raja manurung di Luwuq.Setelah itu diangkatkan makanannya La Pangoriseng bersaudara,bersama dengan tempayan emas tempat hidangan makanan para penguasa dari timur Dihidangkan pula semua makanan para penguasa negeri taklukan Manurungnge, bangsawan tinggi yang bersamaan turun dengan yang menetas di bambu betung, Bersamaan pula bahan makanan keturunan sangiang yang muncul bersama We Nyiliq Timoq. Tempat minuman dibuka maka saling berseliweranlah baki-baki yang diangkat. Bagaikan arus yang berpapasan perangkat makanan itu. Semua talam emas berjejeran, tempat-tempat minuman pun telah tertata dan persiapan makanan orang banyak sudah cukup. Maka pelayan pilihan berseliweran mengangkat tempat minuman dan mangkuk-mangkuk .Orang yang bergelang emas duduk berdempet-dempetan sambil mengibaskan kipas emas yang tak membiarkan dihinggapi lalat bahan makanan para pembesar .

PAPARAN ADEGAN 13.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Segera saja tangan Manurungnge suami-istri dan Batara Lattuq suami-istri dicucikan. Batara Lattuq sendiri yang membersihkan jari tangan istrinya sembari berkata

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu ,Berpalinglah makan, mutiara pelaminan
orang Ale Luwuq,hiasan istana orang Watang Mpareq, masukkanlah ke
dalam perutmu bahan makanan hasil tanahmu di Luwuq. Bukankah
telah kujanjikan pemberian yang banyak dan tak bertentangan
ucapanku, saat kukatakan, Nanti di Luwuq, Paduka Adinda, engkau
persatukan kerajaan Sri Paduka Manurungnge suami-istri.”

Namun We Datu Sengngeng tak juga menyahut tiada menjawab sepatah kata pun mutiara pelaminan yang tiada duanya di Lauq Saddeng. Batara Lattuq sendiri membersihkan jari tangan istrinya. Lalu serentak berdua Batara Guru Manurungnge berkata,

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Makanlah, mutiara pelaminan orang
Tompoq Tikkaq, bulan purnama orang Sawammegga, ambil saja istana
emas di Watang Mpareq yang bersamaan aku muncul di Kawaq.
Bila kelak To Palanroe merahmati engkau melahirkan anak di Luwuq,
dialah yang akan menyatukan semua kerajaanku.”

Segera saja We Datu Sengngeng pun cepat berpaling menggenggam Sangiang Serri tanpa memasukkannya ke dalam perut. Manurungnge suami-istri ikut makan,bersamaan menyuap raja itu suami-istri. Semua anak raja serentak bersamaan makan, saling mempersilakan makan minum anak yang berpayung emas,anak raja pendamping, para pembesar negeri yang menjadi hakim .Bagaikan bintang bertaburan mangkuk-mangkuk minuman para penguasa yang memerintah negeri indah. Bagaikan bara yang bertebaran
pangkal lengan orang yang bergelang emas yang mengibaskan kipas emas, yang memegang kipas emas, tak membiarkan dihinggapi lalat bahan makanan penguasa bintang-bintang di Watang Mpareq, Bagaikan burung putih yang beterbangan kisaran mangkuk-mangkuk Jawa tempat makan minumnya orang banyak,belum habis setengah tempat minuman ditambah lagi, belum berkurang isi baki dipenuhi lagi, tak henti-hentinya minuman, begitu pula makanan lengkap dan tempat minuman para hamba yang bergelang emas.

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Berbarengan Dibunyikanlah La Wero Ileq gong emas manurung, bunyi genderang sebagai maklumat upacara makan minumnya raja manurung di Luwuq. Alangkah asyiknya makan raja itu dan bahagia sekali Manurungnge suami-istri menyaksikan bulan purnama kesayangannya. Semua para penguasa Luwuq dan Wareq dan daerah-daerah tetangga tanah dewa manurung telah datang. Telah berkumpul pula para istri penguasa taklukan Luwuq permaisuri-permaisuri yang termasyhur kecantikannya,
isi bilik yang penuh pujian, tetapi tak satu pun yang menandingi kecantikan We Datu Sengngeng.Tak satu pun yang menandingi keelokan wajahnya anak menantu kesayangannya. Dipandang dari depan tak tercela,dari belakang pun tak tercela, sebab cocok semua tataran bentuk tubuhnya dan serasih tinggi badannya serasi dengan rambutnya yang indah dengan lilitan putaran sanggul yang halus. Bagai poci yang rapat dengan penutupnya, katupan kedua bibirnya yang indah.Bagai wijen berjejer giginya yang teratur, berlesung sebelah pipinya, beralur tiga garis lehernya yang jenjang, bak piring yang bertebaran turun di antara penutup dada bajunya.Tak ubahnya menatap dewa hanya karena berbicara maka ia Manusia dan karena bergerak maka ia penghuni bumi.

PAPARAN ADEGAN 15.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Sementara itu Sudah seharian penuh anak raja itu makan-minum. Anak yang berpayung emas itu sudah dimabuk tuak, berbicara sendirian karena mabuk, saling mengenang bangkai ayamnya sembari menyebutkan pula di belakang, memperbarui yang sudah lusuh dan mencuci yang sudah luntur. Hanya tujuh kali Manurungnge suami-istri menyuap maka ia pun kenyang, demikian pula We Datu Sengngeng dan Batara Lattuq. Manurungnge suami-istri dan Batara Lattuq suami-istri lalu membersihkan mulut dan berkumur, disuguhi sirih lalu menyirih. Maka orang banyak pun berhenti pula. Semua tempat minuman dibereskan, dikembalikan pula talam-talam emas, perlengkapan peradatan pembesar itu. Alangkah gembira anak raja itu. Bagai suara burung nuri yang berkicau para hamba yang bergelang emas, teriakan anak yang berpayung emas. Bagaikan negeri akan melimpah karena suara orang banyak itu. Orang Luwuq bernyanyi baenrong, orang Wareq bersenandung jangki, orang Mengkokaq menembang sengo-sengo, orang Toraja berdendang bunaneng,
bersenandung pulalah seruling yang ratusan dari orang Wekkeng, bergantian mereka berdiri menarikan kain selendang orang Selayar diramaikan oleh orang Sadeng.

PAPARAN ADEGAN 16.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Ketika matahari di rembang senja maka datanglah anak raja Luwuq, bangsawan tinggi orang Wareq, penghulu negeri dan hakim-hakim di Luwuq yang dipercaya menyelesaikan masalah di Watang Mpareq berdesak-desakan tak saling memberi tempat duduk di hadapan pengantin itu. Sama mengiringi dayang-dayang pembawa sirih, kain sutra dan emas untuk pengantar penyuguh sirih, tak kurang ratusan orang dayang-dayang, ribuan kain sutra lalu disuguhi sirih lalu menyirih pada talam emas. Orang Luwuq dan orang Wareq itu menyembah semua sambil berkata,

ANAK RAJA LUWUQ :

Masing-masing seribu dayang-dayang, Paduka Batara Guru ,sekian
banyaknya pula gembala, ribuan potongan kain dan emas Sebagai
pengantar sirih kepada Paduka.

Batara Guru Manurungnge menerimanya dengan anggukan ucapan orang banyak itu. Semua orang banyak terkesima menyaksikan kecantikan We Datu Sengngeng. Semua orang Luwuq dan orang Wareq Kagum.

ORANG ORANG LUWUQ :

Tak satu pun padanannya We Datu Sengngeng di Luwuq ini,
jarang pula tandingannya di kolong langit dan di petala bumi.
Bila dipandang raut wajahnya bagai bulan purnama yang muncul,
bagaikan matahari terbit yang muncul di atas gunung warna kulit dan
bentuk kecantikannya. Bagaikan orang Senrijawa yang menjelma di
bumi, orang Peretiwi yang muncul ke dunia. Serasih benar raja itu
suami-istri, lelakinya sangat gagah, perempuannya sangat cantik,
tak tercela bagian depannya, tak tercela bagian belakangnya. Keduanya adalah raja besar orang Boting Langiq dan raja pengganti
dari Peretiwi.

ORANG BANYAK :

Mudah-mudahan To Palanroe merahmati orang besar itu dan
melahirkan anak, perempuan atau laki-laki. Kelak akan menjadi putera
mahkota pada kerajaan yang turun bersamanya Sri Paduka Batara
Lattuq suami-istri.”

Melihat sambutan orang banyak, Alangkah gembira Batara Lattuq mengusap-usap pinggang istrinya, penghias bilik dan bulan purnama kesayangannya, membelai-belai rambutnya yang panjang , membalik-balik gelang emasnya
yang meliliti pangkal lengannya, membuka-buka cincin emasnya yang menghiasi jari tangannya ,memaut-maut kuku hiasan emas di jari-jarinya lalu melilitkan lengannya pada lehernya yang jenjang permata bilik kekasihnya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu , Paduka Istriku We Datu Sengngeng,
ambillah ribuan di Ale Luwuq, hitung pulalah ratusan di Watang
Mpareq, ringankan badanmu Adinda kita masuk ke dalam bilik
aku mengantuk sekali, dimabuk tuak dan pusing oleh isi
tempat minuman.”

Namun We Datu Sengngeng tidak menyahut, tiada menjawab sepatah kata pun pemilik kerajaan di Sawammegga. Opunna Luwuq tak dapat lagi menahan keinginan yang luar biasa menghilangkan ingatan hatinya.
la berdiri sambil menggendong permata bilik cinta pertamanya langsung membawanya masuk ke dalam bilik, menyerudukkannya ke dalam kelambu, dan meletakkannya di atas permadani sambil membaringkan pada dadanya yang bak piring, mendekapnya bagai mengayuh, melingkarinya bak pembulang menghinggapinya bagai burung ,mengusap-usapnya bagai ayam sabungan, menaikinya ke Boting Langiq, menurunkannya di Peretiwi. Lalu menidurkannya di alam arwah, menunjukkannya kampung sempurna tempat berkeliling di Maloku barulah raja merapatkan dirinya.Nyenyak sekali tidurnya.

PAPARAN ADEGAN 17.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Malampun segera datang. Setelah matahari terbenam pelita dinyalakan dan lampu menyala di dekat pintu bilik. Maka Manurungnge berjalan bergandengan tangan suami-istri, berjalan dipegangkan ujung sarungnya, diangkatkan pangkal lengannya, bertelekan pada bangsawan tinggi,
lalu masuk dan langsung duduk di atas permadani emas. Kembali pula semua pada tempatnya para anak raja Luwuq, penghulu negeri Wareq dan bangsawan tinggi kapit. Semua orang banyak sudah turun memerintah para pengasuh untuk melengkapi upacara dewa kahyangan Manurungnge. Genderang emas manurung dibunyikan, gong emas yang dipikul berbunyi, maka suara genderang bergemuruh seiring suara alu yang bertalu-talu.

Para penari bertopeng menari berbarengan suara kur semangat kahyangannya.Nyanyian upacara orang Ruallette dimulai,anak lelaki orang Luwuq gadis-gading pengiring pembawa kipas saling memainkan alat upacara. Tengah malam barulah berhenti semua kegiatan penghuni istana sao denra itu.

( closing Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: