NO.14 NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 14. ( BATARA LATTUQ DIMABUK CINTA )

NO.14 NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 14. ( BATARA LATTUQ DIMABUK CINTA )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

( Opening Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Berada di Aleq Luwuq Batara Lattuq sepertinya dimabuk cinta. Sudah tujuh malam Opunna Luwuq berada di dalam kelambu yang indah, tak kenal sore atau pagi, bahkan raja itu makan di dalam kelambu, mandi bersama pada papan emas. Sekian pula lamanya tak hendak tidur matanya , jenang mulia yang menyiapkan makanan raja.

Ketika langit cerah keesokan harinya, mentari baru saja mulai bersinar. Batara Lattuq suami-istri bangun mencuci muka pada mangkuk putih, berkaca pada cermin, diangkatkan sirih lalu menyirih pada talam emas. Raja suami-istri itu saling menukar ampas sirih. Batara Lattuq berdiri bergandengan tangan suami-istri keluar dari bilik diiringi oleh orang-orang pilihan. Ruangan kemilau bergemuruh dilewati orang dekat segaharanya We Datu Sengngeng menuju keluar lalu duduk di atas pelaminan emas dikelilingi oleh pemegang kipas. Dengan gembira Batara Lattuq Mendekati We Datu SEngngeng.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng ,datanglah
semangat kahyanganmu Kasihanilah aku, wahai permata pelaminan
emas, engkau mengunyah sirih lalu berikanlah ampas sirihmu
kepadaku sebagai penguat jiwaku, Adinda,duduk di atas pelaminan
emas.”

Mendengar rayuan Batara Lattuq , We Datu Sengngeng tersenyum saja
membuka cerana emas lalu menyirih dan memberikan pada suami segaharanya. Gembira sekali penguasa negeri menerima ampas sirih dari mulut istri kesayangannya, sembari tertawa ia berkata,

BATARA LATTUQ ;

Adinda We Datu Sengngeng, bagai madu kurasakan campuran
kapurnya, bagai gula pencuri sirihnya, bak tebu kuning asalnya
suguhan ini, begitu manis yang kurasakan.

We Datu Sengngeng hanya tersipu malu, Tak menyahut We Datu Sengngeng, tak menjawab sepatah kata pun pada lelaki segaharanya. We Tenriulle dan We Tenrisuiq sudah datang pula duduk di hadapan raja adiknya. We Datu Sengngeng segera berpaling menyodorkan cerana .

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka kakanda bertiga ,datanglah
semangat kahyanganmu .Silakan menyirih Ibunda La
Pananrang, menyirih pulalah, Ibunda La Sinilele, dan Ibunda
La Massaguni.”

Dengan Bergegas ketiganya mengambil sirih pada adiknya dan menyirih, lalu serentak ketiganya, We Tenriulle, We Tenrisuiq dan We Unga Waru menyirih.

WE TENRIULLE :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng ,datanglah
semangat kahyanganmu ,Paduka Adinda, marilah kita turun mandi
berlangir pada lintang tengah emas yang ditempati pancuran emas,
dari air sumur harum, air pembersih dan batu kemenyan, tempat
berpijaknya orang di dalam istana emas, papan emas yang akan kita
duduki mandi berlangir,pasir manik-manik tempatnya menumpuk
sarung dan baju para pelayan, kayu bertangkai tempatnya
menyangkutkan keris emas para penyabung. Dilengkapi pula
wewangian yang mengalir bersama air, berdinding mayang kemilau
yang engkau simpan di hati permata datu penyabung.Tersendat tak
berbatas perasaan hati orang yang tinggal dalam mahligai emas itu.
Dik, kita tak lagi merasa sebagai Manusia kalau selesai mandi
pada lintang tengah emas. Kain permadani tempat kita menginjak,
batu kemenyan tempat mengeringkan badan sesudah mandi,
berteduh pada pohon Maloku emas, ditutupi tangkai pohon cendana
dan garu lewa, tumbuh berjejeran dengan bunga tangkiling,ditutupi
bunga kelapa yang tumbuh berjejer.Beruluran dengan langir busa
dan jeruk yang harum, saling beruluran pula sirih yang rimbun pohon
kelapa dan pohon beringin, dikelilingi permainan yang tak
membosankan dan aneka ragam burung-burung, dikelilingi pagar yang
rimbun, Tak ada satu pun yang dicari tak ditemui tumbuh-tumbuhan
yang aneka ragam,

PAPARAN ADEGAN 2 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Alangkah senangnya hati We Datu Sengngeng mendengar ucapan saudara sesusuan segaharanya Opunna Luwuq. We Datu Sengngeng segera berdiri mengenakan pakaiannya, Sarung bersulam bunga berhias bunga mellawe bermotif ular menreli, baju satin merah yang disulam berbentuk gambar mayang kemilau, dikelilingi pangkal lengannya gelang emas,enam puluh lima sebelah-menyebelah diapit dengan gelang bepermata, cincin tuangan berukir kuku palsu emas, anting-anting puluhan tahil buatan Mata Soloq lalu muncul di dunia. Maka We Datu Sengngeng segera berdiri berjalan diiringi oleh kakaknya We Tenriulle berpegang pada We Unga Waru dan dipegangkan ujung sarungnya. We Tenrisuiq yang memegang pangkal lengannya diiringi oleh dayang-dayang. Batara Lattuq berdiri mengikutinya menggenggam lengan istrinya bergandengan tangan masuk.

Maka bergemuruhlah istana dilewati oleh dayang-dayang, orang dalam yang tak pernah melewati sekat tengah.Mereka tiba di ruang tengah emas. menuangkan langir busanya dan memeraskan jeruk harumnya. diramu dengan air harum pembersih badan kahyangannya

Maka Batara Lattuq suami-istri berdiri sama-sama memakai pakaian mandi sembari membuka sarung pakaiannya lalu duduk pada papan emas, rambutnya dikeramas dengan air kelapa badannya disiram dengan air kelapa untuk menghilangkan dakinya. Barulah mereka mendekati pancuran emas mandi berlangir pada air mengalir menghilangkan bau dan menanggalkan daki sembari menggosok keringat yang bergumpal.

Maka pendamping yang tak melewati sekat tengah, dayang-dayang segaharanya We Datu Sengngeng berdiri pula membuka pakaiannya,
berdesakan mendekati pancuran emas mandi berkecimpung pada tengah tiang emas. Saling melempar sepah langir, saling memeras sepah limau. Para dayang-dayang bergembira bergantian mendekat di bawah pancuran mas. Setelah We Datu Sengngeng suami-istri selesai mandi ia pun duduk pada kursi emas, air yang masih melekat pada bagian tubuhnya dibersihkan, rambut panjang halusnya diuraikan pada baki lonjong diramaikan kipas emas orang Senrijawa, dipercikkan air harum, dipasangkan pakaiannya suami-istri.

Maka Batara Lattuq bangkit bergandengan tangan istrinya masuk diiringi oleh dayang-dayang,diramaikan oleh hamba dewa, didahului oleh inang pengasuh yang masih masih membekas timangannya. Menggemuruhlah lantai yang dilewati orang yang bergelang emas masuk duduk di ruangannya duduk berdampingan suami-istri dikelilingi pedupaan yang puluhan banyaknya, diasapi kemenyan harum. Bagaikan kabut yang naik asapnya. Alangkah gembira penguasa di Ale Luwuq mengusap-usap pinggang bulan purnama kesayangannya, membelai-belai rambut panjangriya nan halus, Membalik -balik gelang emas yang melingkari lengannya, membuka-buka cincin emas yang menghiasi jari tangan istri kesayangannya.Bagaikan orang yang menang ayam andalannya

PAPARAN ADEGAN 3 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Manurungnge Batara Guru suami-istri menyaksikan keturunannya duduk berdampingan pada pelaminan emas. Para pengasuh memerintahkan agar tempat minuman segera dihidangkan dan kuali besar diangkat. Dayang-dayang pelayan berseliweran. Tujuh puluh pelayan lelaki Luwuq
pelayan Manurungnge, mengibaskan kipas emas orang Senrijawa.
Terangkatlah talam kemilau tempat makanan Manurungnge suami-istri,telah terangkat pula tempat makanan

Sementara itu Batara Lattuq suami-istri. Berbarengan tempayan Kelling peradatannya, bersamaan semua makanannya raja-raja yang memerintah negeri indah, bersamaan dengan talam-talam tempat makanan anak raja pendamping. Tempat minuman telah terbuka berseliweran baki-baki yang diangkat. Bagaikan arus angkutan hidangan itu berputar, tersedia pulalah makanan orang banyak.

Para pegawai istana duduk berdempet-dempetan. Dibersihkanlah jari tangan Manurungnge suami-istri, Opunna Luwuq suami-istri.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Adinda We Sengngeng, berbaliklah makan,
ambillah ribuan di Luwuq, ratusan di Wareq.”

We Datu Sengngeng tak menyahut, penguasa dari Sawammegga tiada menjawab sepatah kata pun. I La Tiuleng sendiri membersihkan jari tangan istrinya, maka We Datu Sengngeng makan, menyuap bersamaan sang raja.
Orang banyak pun ikut makan. Bagaikan bintang beriringan mangkuk emas tempat minumnya anak raja yang berpayung emas. Bagaikan burung bangau yang berterbangan kisaran mangkuk Jawa tempat minumnya orang banyak. Bagaikan kilat yang melintas pangkal lengan orang yang bergelang emas, orang yang bergelang bosara yang mengibaskan kipas emas dan memegang kipas emas, tak membiarkan dihinggapi lalat talam emas tempat makanan Manurungnge.Anak raja pendamping, para pelayan yang bergelang gading emas saling mempersilakan minum. Belum berkurang isi baki ditambah lagi, belum habis setengah tempat minuman dituangi lagi.
Tujuh kali Manurungnge suami-istri menyuap lalu berhenti, demikian pula We Datu Sengngeng dan Batara Lattuq. jari tangannya dibersihkan lagi, mencuci mulut dan berkumur-kumur, disuguhi sirih lalu menyirih. Semua hidangan dikembalikan,tempayan aneka ragam diangkat pula.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Adinda We Sengngeng, kasihanilah aku
marilah kita masuk ke bilik, aku sudah mengantuk, Adinda yang mulia,
aku ingin sekali berbaring dan memejamkan mata, ambillah dayang-
dayang dan ribuan hamba dewa.”

We Datu Sengngeng tiada menyahut, penguasa di Sawammegga tiada menjawab sepatah kata pun. Batara Lattuq langsung berdiri menggendong istrinya membawanya masuk ke dalam bilik, menyerudukkannya ke dalam kelambu menenggelamkan ke dalam pelukannya lalu berbaring satu bantal berdua suami-istri. Alangkah gembiranya hati Batara Lattuq berpesta di dalam kelambu melabuhkan kerinduannya dalam pelukan lalu nyenyaklah tidurnya.

PAPARAN ADEGAN 4 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, siang berganti malam , Sudah tujuh bulan We Datu Sengngeng tinggal di Aleq Luwuq dalam istana bujuk rayunya diiakan, ucapannya tak ditolak. Sekian pula lamanya Batara Lattuq tak keluar mengunjungi gelanggang, tak muncul di gelanggang bawah pohon asam. Kerjanya hanya di bilik saja bersenda gurau dengan istrinya tak memberi waktu mengenang negerinya.Betul-betul tak menginjakkan kaki di gelanggang tak menyaksikan ayam bersabung yang selalu memabukkan tamu yang datang. Padahal ramai sekali sabungan ayam tak henti-hentinya kedengaran teriakan pemain judi di gelanggang, tak habis-habisnya berdatangan raja penyabung yang ketagihan di gelanggang.

PAPARAN ADEGAN 5 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Tak terasa Sudah setahun We Datu Sengngeng di Luwuq sudah mahir pula memerintah pada istana agung yang manurung mengawasi daerah taklukan Opunna Luwuq, dikelilingi oleh para pengabdi sekolong langit dan sepetala bumi. Ketika mentari di rembang senja bayang-bayang sudah ke timur, cahaya matahari sudah di barat, kenangan bagi yang merindu, kenangan bagi orang yang saling mencintai, dicekamlah hati We Adiluwuq perasaan rindu pada adiknya.Tak terasa mengalir air matanya yang berlinang. Pemilik istana manurung itu menghempaskan diri lalu berbaring di atas permadani emas mencucurkan air mata kerinduannya. Tak henti-hentinya berdetak-detak jantungnya, berdebar-debar dadanya memikirkan saudaranya.

La Tenroaji berpindah duduk di samping istrinya mengusap-usap pinggang permata pelaminan yang disayanginya.

LA TENRIOJI :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Adiluwuq , datanglah semangat
kahyanganmu, Paduka Adinda, apakah gerangan yang tak
mengenakkan perasaanmu pada lelaki yang memanjakanmu,
yang tak menolak kehendakmu? Adakah rayuanmu yang tak kupenuhi
hingga engkau berbaring membungkus kepalamu dan menginjak
ujung sarungmu?

Mendengar rayuan suaminya La Tenrioji , We Adiluwuq hanya menangis sambil Memeluk suaminya.

WE ADILUWUQ :

Kur jiwamu, Paduka Kakanda La Tenrioji , datanglah semangat
kahyanganmu , Paduka Kakanda Suamiku, Aku dicekam kerinduan
pada adikku, jangan-jangan saudaraku ditimpa penyakit keras,
sampai demikian perasaan hatiku pada orang yang terbuang bagai
daun di Luwuq. Atau dudukkah gerangan adikku pada negeri rantaunya
memandang sekelilingnya, tanpa seorang pun keluarganya, orang yang
satu tembuni dengannya. Jangan-jangan dia dalam keadaan tak enak
perasaannya mengenang negeri indah tempat lahirnya.

Mendengar keluhan kerinduan istrinya We Adiluwuq, Saat itu tunduklah To Lette Ileq memeluk dengan mesra pinggang istrinya.

LA TENRIOJI :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Adiluwuq , datanglah semangat
Kahyanganmu Paduka Adinda, hentikanlah air matamu yang
berlinang, bangunlah menenangkan hatimu kita masuk saja ke bilik.
Hari sudah malam, lampu kerajaan telah dihidupkan pelita-pelita telah
dinyalakan. Kalau kamu sama-sama masih hidup kapan-kapan saja
kamu pasti bertemu lagi, saudaramu yang satu tembuni denganmu.

We Adiluwuq tiada menyahut tiada menjawab sepatah kata suami segaharanya dari Boting Langiq. I La Jiriu berdiri menggendong istrinya membawanya masuk ke dalam bilik, menyerudukkannya ke dalam kelambu, membaringkannya di atas permadani hanya satu bantal mereka berdua.
Alangkah bahagianya To Lette Ileq mendekap bulan purnama kesayangannya, bak ikat pinggang pangkal lengannya melilit pada pinggang isi bilik yang disayanginya . We Adiluwuq masih tak henti-hentinya mencucurkan air mata kerinduan pada adiknya sambil mengenangkan pula Sri Paduka orang tuanya di alam arwah yang bersamaan meninggal suami-istri. La Tenroaji hanya duduk saja merayu-rayu isi usungan segaharanya
menghibur hati mutiara pelaminan yang ia turuti kemauannya.Tak terasa We Adiluwuq nyenyak sekali tidurnya.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Sementara itu pada tengah malam yang hening We Datu Sengngeng dicekam pula kerinduan pada kerajaan kekuasaannya. Dikenangnya pula semua saudara yang dianggap orang tuanya.We Datu Sengngeng tak tenang lagi duduk di atas permadani emas, mengenangkan saudaranya, kerinduan yang tak terhingga pada kakaknya. Dikenangnya pula kedua orang tuanya di alam arwah yang keduanya meninggal hanya satu hari menuju ke alam arwah.Tak henti-hentinya berdebar hati We Datu Sengngeng,berdebar-debar deburan jantungnya mengenang saudara pengganti ibunya.Tak henti-hentinya bercucuran air matanya yang mengalir. Lalu Batara Lattuq terjaga dari tidurnya didengarnya suara isak tangis isi usungan segaharanya .I La Tiuleng segera memeluk hiasan pelaminan kesayangannya, meliliti lengan pinggang isi bilik segaharanya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Adinda We Sengngeng. Paduka Adinda,
apakah gerangan yang tak mengenakkan perasaanmu pada suami
kesayanganmu? Adakah gerangan, wahai penghuni istana, yang
menyanggah sabdamu, tak menuruti rayuanmu? Sejak engkau
berkuasa di Luwuq, menerima persembahan yang banyak, tak satu
pun jua, Adinda yang mulia, isi usungan lain yang datang membayang
di dalam hati sanubariku.”

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka suamiku Batara Lattu , datanglah semangat
kahyanganmu . Bukan demikian perasaanku, Opunna Luwuq,
aku hanya dicekam kerinduan, Paduka, pada saudara yang satu
tembuni denganku.Tinggallah gerangan ratu kakakku memandang
pada istananya, atau barangkali ditimpa penyakit keras saudara
pengganti ibundaku, yang tak lagi bersua denganku.”

Segera saja Batara Lattuq Opunna Luwuq memeluk, membelai-belai pinggang isi bilik segaharanya.permata yang dinaungi payung emas.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda, semoga datanglah semangat
kahyanganmu,duhai penghias bilik dari Aleq Luwuq. Paduka Adinda
kasihanilah aku, lupakanlah dahulu negeri Tompoq Tikkaq,mudah-
mudahan engkau panjang umur,kelak engkau bertemu dengan
kakak kita.”

We Datu Sengngeng tiada menyahut ,tak henti-henti air matanya mengalir. Opunna Luwuq terus saja membelai-belai pinggang isi bilik segaharanya, membujuk rayu istrinya.Tak terasa We Datu Sengngeng nyenyak sekali tidurnya suami-istri.

PAPARAN ADEGAN 7 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

We Datu Sengngeng bermimpi menyaksikan dirinya naik perahu di laut lalu diturunkan kepadanya bakul emas diulur melalui gelang emas,gantungannya adalah pelangi,dan isinya adalah sebiji telur.Telur itu lalu pecah dan menetas isinya seekor jantan dan seekor betina.Ayam jantan terbang ke Tana Ugiq, ayam betina naik ke Boting Langiq.
Ketika langit terang keesokan paginya We Datu Sengngeng bangun berpisah sarung suami-istri, perasaannya sedih di dalam hati mengenang mimpinya, mimpi yang nyata.la lalu mencuci muka pada mangkuk putih,berkaca di muka cermin,membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya.

We Datu Sengngeng berdiri lalu keluar bergandengan tangan suami-istri diiringi oleh dayang-dayang diramaikan oleh hamba dewa.

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Kebetulan sekali Manurungnge Batara Guru terbangun dari tidurnya duduk dikerumuni oleh hamba dewa.Yang menjadi tunas di dunia menengadah sambil menegur We Datu Sengngeng.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu, Kemarilah, Ananda We Datu Sengngeng
suami-istri, masuklah duduk di atas permadani emas.”

Dengan bergegas Maka We Datu Sengngeng suami-istri masuk duduk lalu menyembah di hadapan Manurungnge,diangkatkan sirih lalu menyirih.

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Ayahanda Batara Guru , datanglah semangat
Kahyanganmu, Apa gerangan makna mimpiku tadi malam, tuanku,
aku menyaksikan diriku naik perahu di laut, aku lalu diturunkan bakul
emas gelang emas tali pengulurnya, pelangi gantungannya. Aku
mengambilnya dan kulihat isinya, ternyata sebutir telur isinya, wahai
Paduka. Lalu menetas telur itu seekor jantan dan seekor betina.
Adapun ayam jantan, Sri Paduka, terbang ke Tana Ugiq, tiba di Aleq
Cina. Adapun ayam betina itu naik ke Bo ting Langiq.”

BATARA GURU :

Engkaulah We Datu Sengngeng, sudah dipersiapkan memperoleh
tunas pengganti Batara Lattuq dan nanti kembar emas bayimu,
kelak yang laki-laki akan merantau ke Tana Ugiq, mencari jodoh
di Aleq Cina. Sedang yang perempuan akan naik ke Boting Langiq
berjodohan di Ruallette. Rupanya dia ingin diikuti jejaknya di Boting
Langiq dan menginjakkan kaki di Peretiwi.

Batara Guru Manurungnge suami-istri seia sekata. Alangkah terkejut We Datu Sengngeng, bagai tak hendak merapat jiwanya Batara Lattuq mendengar ucapan raja dewa yang melahirkannya.

WE NYILIQ TIMOQ ;

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu, Ananda We Sengngeng Janganlah
La Rumpang Langiq dan We Datu Sengngeng,tersentak hatimu
karena ucapanku sebab mimpi tidurmu sangat jelas dan benar.
Putera mahkota kerajaanmu kelak kembali lagi ke Luwuq.
Biarlah aku turun ke Peretiwi bertemu orang tuaku.

BATARA GURU :

Biarlah daku naik ke Boting Langiq menyampaikan pada Paduka
Palingeqe sebab mereka berdua haruslah sepakat.Tak tahulah nanti
bagaimana kehendak To Palanroe. Perintahlah, Apung ri Toja,
We Saung Nriuq dan We Lele Ellung, mempersiapkan upacara
Kahyanganku berdua dengan adikmu yang muncul.

Tanpa menunggu waktu lagi, Belum selesai ucapan Manurungnge We Saung Nriuq dan We Lele Ellung berangkat memerintahkan mempersiapkan upacara kahyangan yang muncul itu. Anak tangga emas dibungkus dengan kain berbunga dari Sese Ileq, lantai pun dihampari kain cindai dari Abang Lette sampai keluar untuk tempat berpijaknya Manurungnge dan usungan kemilau orang yang muncul. semua dayang pengiring turun pula bersamaan turun pula usungan emas tumpangan Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng.

PAPARAN ADEGAN 9 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Serentak orang banyak pun turun berdiri menunggu di pekarangan hamba dewa yang manurung, hamba dewa yang muncul. Perlengkapan upacara sangiang Manurungnge siaplah, payung emas telah berkembang,usungan emas tumpangan We Datu Tompoq dinaungi dengan kain ileq warani. Usungan emas yang dipersiapkan untuk We Datu Sengngeng ditudungi kain aluq warani dari Wawo Unruq, dijalin dengan tali emas dari Saung Langiq, dihiasi dengan ukir emas dari Mata Soloq,dibentangi kain emas berukir dari Toddang Toja, dililiti kain Melayu dari Ruallette, dihampari kain Majang-mpatara orang Saung Langiq dijalin dengan emas dari Singkiq Wero
dihiasi dengan gelang emas dari Limpo Bonga , dibentangi kain berukir emas orang Singkiq Wero.

Berangkatlah Puang Matoa yang memerintah negeri indah menghamparkan permadani emas pada lantai tempat berpijaknya Manurungnge sampai di luar di muara di pinggir laut. Maka berangkatlah Manurungnge suami-istri, We Datu Sengngeng dan Batara Lattuq menuju keluar diangkatkan ujung sarungnya, dipegangkan pangkal lengannya,bertelekan pada bangsawan tinggi segaharnya diiringi hamba dewa, diramaikan orang pilihan, diapit oleh para pengipas. Alangkah gemuruhlah ruangan istana dilewati oleh penghuni bilik yang ramai. Maka Manurungnge tiba melangkahi ambang pintu, serentak bersamaan semuanya naik ke usungannya, dinaungi payung kemilau didudukkan di atas pundak usungan kemilau tumpangan We Nyiliq Timoq dan Manurungnge dan Batara Lattuq suami-istri.

Gendang emas manurung telah berbunyi, seruling titing Ncawa pun telah ditiup diikuti bunyi gong dan diramaikan musik Melayu. Kecapi emas dipetik ula gamaru emas yang berkilau diguncang-guncang,tiupan seruling emas yang ratusan serta raungan mungmung melengking pula. thing Ncawa kembali dibunyikan diikuti oleh suara gong dan diramaikan musik Melayu. Bedil pun diletupkan membahana gemuruh bunyi asapnya sampai di langit.
Orang Luwuq menyanyi jangki, orang Butung menyanyi baenrong, orang Toraja menyanyi benanong orang Laioda menyanyi sengo-sengo, membuat tak saling mendengar suara para hamba Jawanya Manurungnge.

PAPARAN ADEGAN 10 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan bergegas To Tenriangkeq berdiri mempersiapkan keberangkatan usungan tumpangan pengiring ratu perempuan, serta isi usungan kapit.
Tiga ratus usungan emas di depan sekian pula di belakang usungan kilat manurung.Tujuh ribu usungan emas di sebelah kanannya, sekian pula usungan cermin di sebelah kirinya. Bagaikan bunyi kayu yang bergesekan bunyi gerakan usungan, bagaikan danau yang meluap kelihatannya payung emas naungan anak raja bersentuhan daun payung emas, berolengan usungan-usungan berdempetan para pengiring, tak saling memberi tempat berdiri pemikul usungan emas tumpangan pengikut ratu perempuan, bangsawan tinggi kapit, bangsawan raja pendamping, penghulu yang menjadi hakim, anak orang kaya polempang.

Di antara usungan kemilau Manurungnge dengan usungan kilat orang yang muncul terdapat usungan guntur tumpangan Batara Lattuq suami-istri. Bagaikan matahari yang terbit, surya yang mulai bersinar payung emas Manurungnge. Bagaikan api setan peresola menyala payung matahari dari yang muncul menjelma. Bagaikan matahari yang terbit naik berarak dipandang mata payung kemilau naungan Batara Lattuq suami-istri. Barisan dayang-dayang yang ratusan, hamba dewa yang manurung, serta hamba sangiang yang muncul memanjang di depan.

Dentuman senjata meriam sebagai maklumat menginjak negeri Manurungnge di Luwuq tak dibiarkan berhenti. Bersahut-sahutan bunyi genderang diiringi tarian yang tak berhenti, para bissu pun kini menari.Puang Lolo melenggang menyabung alosu emas, mengadu arumpigi emas sekati. Serentak semuanya membunyikan upacara kerajaan hamba Jawa Manurungnge. La Oroq Kelling memetik kecapi emas, La Tau Buleng membunyikan talloq-talloq, La Tau Panceq membunyikan mungmung, La Keni-Keni meniup ratusan seruling tulali emas. La Kabenniseng menggoyangkan gamaru emas.

Alangkah ramainya upacara kerajaan Manurungnge bersambungan bunyi upacara kahyangan We Datu Tompoq. Para pembawa kipas diusung, diangkat pula ketur peludahan tempat membuang sepah sirihnya. Di bagian depan tempat para penari dodoq, di bagian belakang para penari topeng. Berbaris memanjanglah hamba Jawa Manurungnge bersarung tak berbaju, berbaju tak bersarung mengangkatkan seleguri yang dihiasi bunga malilu yang dijolok, dicelah-celah rumah yang dituruni hasil bajakan.

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Tanpa menunggu waktu lama lagi, Mulailah berangkat usungan kemilau tumpangan Manurungnge, diiringi cahaya dan diramaikan oleh topan, didahului oleh api dewa, diantar angin kencang.Sejenak angin tak berhembus dan mentari tak bersinar daun kayu pun enggan bergoyang saat orang yang dijadikan tunas di Kawaq. Manurungnge turun di tanah. pengangkut usungan berangkat diiringi para hamba yang bergelang, diramaikan anak raja dan bangsawan tinggi, para pengusung berangkat bergegas, para pengiring pun mengayunkan tangannya . Belum lagi hancur daun sirih itu maka mereka tiba di pelabuhan perahu menelusuri pasir bertaburan. pelabuhan yang tak pernah sunyi di pinggir laut. Diletakkanlah usungan kemilau Untuk jadi tumpangan Manurungnge suami-istri.

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan anggunnya We Nyiliq Timoq berdiri mengenakan pakaian indah dari Uriq Liuq.sarung bermotif air dan bintang bertaut disulam dengan emas murni dari Abang Lette baju satin kuning berhias bunga ditaburi hiasan emas murni dari Toddang Toja, bermotif bulan dari Boting Langiq, berkaitan bunga matahari dari Leteng Nriuq, gelang emas dari Peretiwi,sambil bergoyangan kipas emasnya, sembilan biji obor diselipkan di atasnya.

Setelah itu We Datu Tompoq berangkat diiringi hamba dewa sesamanya muncul. Semua pengiring berdiri pula. Bagaikan ikatan sanggul yang memabukkan orang-orang yang berpakaian indah itu. Orang banyak saling berdempetan orang yang bergelang bosaraq saling bersentuhan gelang emasnya, sama memakai ikat kepala sambil bergoyangan pinang goyang emasnya. Pada bergoyanganlah pinang goyangnya yang di ujungnya emas sekati dan mengenakan destar emas.

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, We Nyiliq Timoq lalu berdiri dan diangkatkan talam emas yang dipenuhi beras aneka warna, diapit oleh anak sangiang diangkatkan ujung sarungnya, lalu ia menghamburkan bertih emas aneka warna, menjatuhkan telur dan sirih berikat sambil mengucapkan nazar di samudera, melemparkan sirih di sebelah kanannya, gelagah di sebelah kirinya diiringi ucapan mantera-mantera, sambil menengadah ke Boting Langiq menadahkan tangan ke Peretiwi. Lalu guntur bersahutan tujuh kali sabung-menyabung kilat petir dan angin kencang beriringan dengan topan saling beradu dengan angin ribut.

PAPARAN ADEGAN 13 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

We Nyiliq Timoq berdiri meniti pada gelombang yang berhempasan di atas laut. la turun melalui gelombangpada lapisan-lapisan laut. Kilat petir di atasnya belum lagi padam, pelita masih saja menyala ia tiba di Toddang Toja, terus menuju ke Peretiwi, pakaian We Nyiliq Timoq menyinari laut, menerangi seluruh Peretiwi. Kebetulan sekali Opu Samudda berada di Uriq Liu di naungan pohon ara Tanra Tellu, sedang menghadapi orang Toddang Toja yang berkumpul, begitu pula penguasa-penguasa di Peretiwi, penguasa di Uriq Liuq semuanya sedang berkumpul para hamba dewa pengikut Guru ri Selleq di Peretiwi. Serentak semua orang Peretiwi berpaling memandang pada orang yang dijadikan tunas di dunia yang datang dari Ale Lino. We Nyiliq Timoq pelan-pelan mendekat,

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan bergegas We Nyiliq Timoq sujud menyembah lalu duduk di hadapan datu sangiang yang melahirkannya. Bergegas Guru ri Selleq mempersilakan anak keturunannya, menjemputnya dengan obor emas buah hatinya.

GURU RI SELLEQ :

Kur jiwamu, Anak We Timoq, semoga datang semangat kahyanganmu
hiasan istana di Toddang Toja.

Opu Talaga berdiri bergandengan tangan buah hatinya masuk melewati pekarangan agung naik menuju istana yang gemerlap, masuk melewati sekat agung dan melewati sekat kemilau. la mendatangi ibundanya sedang bertahta di atas peterana bulan duduk dikelilingi dayang-dayang dari Toddang Toja, diapit oleh anak sangiang segaharnya. Sinauq Toja menengadah sambil memandang lalu bertemu pandanglah Paduka yang dilahirkannya .Alangkah senang hati penguasa di Peretiwi menyaksikan buah hatinya.

SINAUQ TOJA :

Kur jiwamu, Anak We Timoq, semoga datang semangat kahyanganmu
Kemarilah, wahai puteri mahkota yang kujadikan tunas di Kawaq.
Kur jiwamu, We Nyiliq Timoq, silakan duduk di atas peterana bulan.

We Nyiliq Timoq sujud lalu menyembah di hadapan peterana agung yang diduduki ibundanya.Sinauq Toja sendiri langsung menggenggam lengan anaknya.

GURU RI SELLEQ :

Ananda We Nyiliq Timoq, naiklah kemari duduk di atas
peterana bintang.

Bergegas We Nyiliq Timoq naik duduk di atas peterana agung berdampingan duduk dengan ratu ibundanya, diapit oleh orang tua kahyangannya, disuguhi sirih lalu menyirih.

SINAUQ TOJA :

Apa gerangan keperluanmu, Ananda We Nyiliq Timoq, sampai engkau
turun ke Peretiwi menurunkan derajat negeri Toddang Toja?
Sejak engkau menjelma di dunia mengikuti sepupu sekalimu di Aleq
Luwuq belum pernah engkau menginjak istana tempat engkau
dibesarkan, rumah dewa tanah rumpah darah kedatuanmu. Apakah
engkau bertengkar dengan suami sepupu sekalimu? Atau telah
rapuhkah taji ayamnya Batara Guru hingga kalah dalam penyabungan
ayam sepupu sekalimu? Atau kena musibahkah negerimu
menyebabkan padi tahunanmu tidak menjadi? Atau kalahkah Dalam
peperangan suami yang membesarkanmu? Adakah gerangan raja di
Aleq Lino, yang ingin menandingi kekuasaanmu menyamakan derajat
kedudukanmu?”

We Nyiliq Timoq menadahkan kedua tangan pada kedua orang tuanya

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu, Paduka kedua orang tuaku, semoga datang semangat
Kahyanganmu. Aku tak bertengkar mulut, Paduka, dengan hambamu
Batara Guru, tak rapuh pun taji ayamnya sepupu sekaliku. Tak gagal
panenan tahunan negeriku, Paduka, juga tak kalah dalam berperang
para pasukanku di Ale Luwuq.Tak satu pun raja di dunia ini, Paduka,
yang ingin menyamai kedudukanku ,Hanya hambamu Batara Lattuq,
juga hambamu We Datu Sengngeng sudah tua, Paduka, sudah
menahun tinggal di Luwuq belum juga memangku tunas putera
mahkota, padahal tiada duanya yang pernah tinggal di perutku.
Itulah, Paduka, yang menggusarkan hatiku aku sangat mengharapkan
wahai Paduka, sudilah engkau merahmatinya engkau berikan tunas
pengganti, Paduka, hambamu I La Tiuleng dan We Datu Sengngeng.”

PAPARAN ADEGAN 15 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Yang menetas di Wajang-mpajang dan yang berkuasa di Toddang Toja bersamaan merangkul anaknya.

GURU RI SELLEQ :

Kur jiwamu, Ananda We Nyiliq Timoq, semoga datang semangat
Kahyanganmu Naiklah saja dulu, We Nyiliq Timoq, sudah ada tunas
pengganti yang diberikan padamu tetapi nanti di Boting Langiq
diturunkan oleh saudaraku I La Patotoq di Ruallette, barulah berisi
kandungannya We Datu Sengngeng. Perintahkanlah Batara Guru
naik ke Boting Langiq bertemu dengan ayah bunda kahyangannya.
Setelah sepakat Boting Langiq dan Peretiwi barulah kamu diberikan
tunas pengganti, ia itulah cucuku.

(Closing dengan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: