NO.15 . NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 15 .( SAWERIGADING MENGAYUH KE NEGERI CINTA )

NO.15 . NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 15 .( SAWERIGADING MENGAYUH KE NEGERI CINTA )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Seperti yang telah digariskan oleh para dewata di Boting Langiq maka tibalah waktunya Semua keturunan dari Dewata yang masih tersisa di Dunia Tengah Aleq Linoq akan ditarik naik ke Boting Langiq . Batara Guru manurunge mulai merasa tak betah lagi di Aleq Linoq . Ia membagi-bagikan kepada saudara tiri Batara Lattuq suatu daerah tersendiri, yang semuanya takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Aleq Luwuq. Batara Lattuq sendiri yang akan menggantikannya dalam pemerintahannya atas Kerajaan Aleq Luwuq. Setelah itu naiklah Batara Guru dan We Nyiliq Timoq ke naik keatas Boting Langiq dengan semua generasinya, terutama para selirnya.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo, Insert sound Effect suara Halilintar berdentum dan gejolak alam }

Ketika tiba waktunya, maka pelangi pun diturunkan dan Batara Guru dengan memakai pakaian Boting Langiq, dengan membacakan suatu mantra yang diucapkan puja dipanjatkan ke Boting Langiq dan Dunia Bawah Uriq Liuq, maka seketika itu halilintar berdentum sebanyak tujuh kali, para pengawal-pengawal Sang Pencipta turun ke Bumi membawa badai, pelangi sapta warna masuk ke dalam bilik Batara Guru, Batara Guru pun bergerak dan berangkat dengan pelangi ke Boting Langiq bersama We Nyiliq Timoq dan isteri-isteri lainnya diiringi oleh gejolak alam. Rantai Langit pun diuraikan, maka terbukalah gerbang Langit dan tinggal di Boting langit untuk selama-lamanya. Anak-anak dan keturunannya di tinggalkan di Bumi Aleq Linoq termasuk anaknya Batara Lattuq, yang akan menggantikan tahtanya sebagai Datu di Aleq Luwuq .

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dari perkawinan Batara Lattuq dengan We Datu Sengeng, maka lahirlah anak kembar emas. Yang laki-laki diberi nama Lawe atau La Ma’dukelleng atau Sawerigading, dan yang perempuan bernama We Tenriabeng. Saat proses kehamilan We Datu Sengeng, Sawerigading ditempatkan dalam satu batang bambu betung. Dan nama yang disematkan mempunyai makna Sawe berarti menetas dan Ri Gading berarti di atas bambu bentung.

PAPARAN ADEGAN 4.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Kedua anak Kembar emas itu, Sawerigading dan We Tenriabeng , Ketika empat puluh hari disusukan oleh ibu kandungnya, kedua anak kembar emas itu diserahkan kepada ibu susu secara terpisah. Namun sebelum anak kembar emas itu lahir, Batara Lattuq mendapat pesan dari neneknya Datu Patotoqe di Boting Langiq bahwa kalau anakmu lahir, kalau ia laki-laki maka buatkanlah olehnya kamar dengan Tirai Pelindung diistana kerajaan Aleq Luwuq itu, agar tidak ada yang saling melihat antara satu dengan sama lain, karena kalau ia melihat nanti saudaranya yang perempun, tentu jatuh cintalah ia dan akhirnya ia akan memperistrikannya. Jika terjadi perkawinan antara Sawerigading dengan We Tenriabeng terjadi, maka sudah dianggap telah melanggar ketentuan alam bumi dan langit. Maka akan terjadi bencana di seluruh negeri akan mengalami bencana yang luar biasa.

PAPARAN ADEGAN 5.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Agar tidak melanggar adat Ketentuan Patotoqe tersebut, Datu Luwuq pun membesarkan kedua anak kembarnya tersebut secara terpisah. Ia lalu menyembunyikan anak perempuannya We Tenriabeng di atas loteng istana sejak masih bayi.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Berbilang waktu telah berlalu dan kedua anak kembar emas itu telah dewasa. Suatu waktu Sawerigading bersama sejumlah pengawal istana diutus oleh ayahnya berlayar ke Negeri Taranati Ternate untuk mewakili Kerajaan Aleq Luwuq dalam sebuah pertemuan para pangeran. Namun sebenarnya tujuan utama Sawerigading diutus pergi jauh ke Ternate karena saudara kembarnya We Tenriabeng akan dilantik menjadi bissu dalam sebuah upacara umum kerajaan, yang tentu saja tidak boleh dihadirinya karena dikhawatirkan akan bertemu dengan We Tenriabeng.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Selama pelayaran Sawerigading kenegeri taraniti ternate , semua isi perahu yang bertugas tak seorang pun yang kelihatan lengah, tidur berganti-gantian terutama pengamanan haluan. Setelah kurang lebih sepuluh hari dalam pelayaran , di suatu pagi yang cerah, rupanya agak cepat sang surya bercahaya memancarkan sinar yang sangat menyengat bagi jiwa sanubari Sawerigading, terombang-ambing yang sangat jauh dari daratan. Maka terkenanglah Sawerigading akan kedua paduka Ayah Bundanya Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng.

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Sebagai seorang putra Dewata titisan Dewa di Boting Langiq dan Dewa di Uriq Liuq, Sawerigading mempunyai kesaktian dapat melihat barang yang berlindung atau yang di lindungi. Dapat pula berbicara dengan rumpun keluarganya di Boting Langiq . Dengan menoleh kebelakang meluruskan arah pandangannya kearah istana ayah bundanya di Aleq Luwuq. Dari jarak yang begitu jauh terlihat olehnya seorang “Putri” keluar di serambi depan istana di arak oleh orang banyak ke singgasana penobatannya, dibawah payung kebesarannya dikalungi dengan Ulla Menreli .Melihat kejadian itu tentu saja Sawerigading sangat terkejut, Ia menyampaikan hal itu kepada kakak sepupunya La Pananrang .

SAWERIGADING :

Kur jiwamu, Paduka kakanda La Pananrang , semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Aku sangat Heran Kakanda La Pananrang,
Kepadaku disampaikan bahwa aku adalah anak tunggal dari kerajaan
Aleq Luwuq.Takkan ada raja yang akan dinaungi payung Kerajaan
selain aku Sawerigading? Yang akan menerima Pengabdian
dan Penerima Upeti di Watampareq ini ?

LA PANANRANG:

Kur jiwamu, Paduka adinda Sawerigadig , semoga Datanglah
semangat kahyanganmu .Apa gerangan Maksud Perkataan Dinda
Sawerigading? Apa yang dinda cemaskan ?

SAWERIGADING :

Aku Melihat dari kejauhan, ditengah tengah ruang singgasana
Kerajaan Aleq Luwuq , ada Payung Rangkile , Payung Kebesaran
kerajaan diulurkan diatas Mahkota serta digelungi selendang
warna warni. Sepertinya ada raja muda yang akan dinobatkan?

Mendengar perkataan Sawerigading, La Pananrang sangat penasaran mendengar Maksud perkataan Sawerigading, Tapi Ia lebih Memilih diam.

SAWERIGADING :

Kakanda Paduka La Pananrang. Dari Kejauhan ini aku dapat melihat
dari puncak Istana ada memancar cahaya ke Boting Langiq. Putarlah
perahu Wakkang Weroe, Kita segera Kembali ke Aleq Luwuq, Untuk
mengetahui secara jelas apa sebenarnya yang telah terjadi disana?

PAPARAN ADEGAN 9.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, seketika diputarlah haluan menuju arah Aleq Luwuq, tidak berapa lama berlabuhlah perahu Wekkang Weroe ri Toddang Pelle . maka tersiarlah kabar bahwa telah terdampar Sawerigading bersama sepupu-sepupunya yang beritanya sampai di istana aleq Luwuq, maka cepat-cepatlah We Tenri Abeng masuk ke dalam kamarnya dan disaat itu pula Sawerigading sudah sampai bersama sepupunya di istana .

PAPARAN ADEGAN 10.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Setelah sampai ke istana Aleq Linoq, Sawerigading segera saja bersimpuh di hadapan kedua ayah bundanya Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng.

SAWERIGADING :

Kur jiwamu, Paduka Ayahanda Batara Lattuq suami istri, Semoga
Datanglah semangat kahyanganmu, Apa gerangan musabab hingga
kedua datu junjunganku mengatakan, bahwa akulah anak tunggal dari
perut ibundaku We Datu Sengngeng? Dari Pelayaranku ke Ternate aku
dapat Melihat dengan Jelas Payung Rangkile Dibentangkan diatas
Singgasana ini?

BATARA LATTUQ

Kur jiwamu, Paduka ananda Sawerigading , semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Perempuan siapa Gerangan yang ananda
Sawerigading lihat diatas singgasana itu?

SAWERIGADING :

Ampun Paduka Ayahanda Batara Lattuq, Sungguh aku melihatnya sangat dekat dari sini.Saya dekat terlihat di pelupuk mata ananda.

BATARA LATTUQ

Apa Ananda Sawerigading tidak salah melihat oleh karena tebalnya
kabut fajar dan embun pagi, Mungkin yang Ananda Sawerigading lihat
itu adalah Perempuanmu sendiri We Panangare?

SAWERIGADING :

Ayahanda Paduka Batara Lattuq. Apakah mungkin tidak dapat
Kubedakan We Panangare dengan perempuan yang aku lihat secara
jelas didepan pelupuk mataku , Sedang We Panangare tidak Pernah
Lepas dari Pelukanku pada malam hari ?

BATARA LATTUQ

Atau mungkin yang kau lihat itu We Bulu Tana, Anakku Sawerigading?

SAWERIGADING :

Juga tidak mungkin ayahanda Paduka Datu ? Tidak pantas pula rasanya
jika tidak dapat kubedakan, karena iapun selalu Dalam rangkulanku
pada malam hari.

Mendengar semua sanggahan anaknya Sawerigading, Maka Termenunglah Batara Lattu Seperti Tidak Dapat Lagi Menjawab Perkataan Anaknya itu yang seluruhnya benar. Batara Lattuq kemudian berpaling kearah istrinya We Datu Sengngeng sepertinya minta persetujuan.

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka kakanda Batara Lattuq, semoga Datanglah
semangat kahyanganmu. Kakanda Batara Lattuq,Kenapa junjunganku
tidak mau berterus terang kepada anakda Sawerigading bahwa yang
dilihatnya itu adalah saudara kembar emasnya sendiri yang bernama
We Tenriabeng. Berilah penjelasan yang sebenarnya, karena ananda
Sawerigading itu bukanlah anak yang baru keluar dari kandungan yang
masih berada diatas tapak tangan dukun beranak.

SAWERIGADING :

Kur jiwamu, Paduka kedua orang tuaku, semoga Datanglah semangat
kahyanganmu .Wahai kedua orang tuaku.apa sebab musabab waktu
kecilku kalian sembunyikan , dan mengatakan bahwa aku adalah anak
tunggal yang keluar dari perut ibundaku We Datu Sengngeng?

WE DATU SENGNGENG

Wahai anakku Sawerigading. Ketahuilah bahwa, Karena riwayat
keturunan kita dari nenekmu di Boting langiq yang turun kedunia tengah
ini maupun yang turun didunia bawah, selalu saja terjadi dan turun
temurun Setiap laki laki semuanya pasti tertarik dan jatuh cinta pada
saudara perempuannya sendiri. Itulah sebabnya pesan leluhur kita di
boting langiq Untuk membuatkan kamu dinding pelindung ditengah
ruang istana ini ,supaya kalian jangan saling melihat antara satu dengan
yang lainnya.

SAWERIGADING :

Wahai kedua Paduka kedua orang tuaku, datu junjunganku Walaupun
kalian mengatakan We Tenriabeng itu adalah saudara sekandung
sedarah , tapi aku menganggapnya sekedar kabar yang belum tentu
benar. Kalau memang benar ia saudaraku apa salahnya ia datang
menemuiku Untuk menenteramkan jiwaku?

Mendengar kata kata Sawerigading yang tidak lagi menuruti akal pikiran yang sehat, Kedua orang tuanya menjadi gusar mendengar tutur kata dan sikap pembangkangan anaknya Sawerigading, yang tidak mau mendengar nasehat itu.Ternyata tanda-tanda yang dikhawatirkan Batara Guru atas Sawerigading terhadap adik kembar emasnya sudah terjadi.

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Sebenarnya jauh sebelumnya Sawerigading telah mendengar kabar burung itu . Ketika itu Sawerigading, putera mahkota kerajaan Aleq Luwuq, tengah menjambangi makam neneknya di negeri Tompoq Tikkaq, negeri Matahari Terbit. Di sana ia diberitahu rahasia terbesar kerajaan. Bahwa Di bagian terlarang istana, hiduplah seorang gadis kelewat cantik yang berjalan dengan pakaian serampangan dan menghabiskan waktu dengan mabuk mandi dan bercakap dengan segala jenis burung, seorang makhluk langit yang dititipkan ke dunia.

Dengan berbagai cara, Sawerigading mencari jalan menerobos Larangan istana. Dalam sebuah pesta besar di istina luwuq,Tanpa sengaja Ketika itu sawerigading melihat adik kembarnya We Tenriabeng, Begitu melihat gadis tersebut, sukmanya terbang. Ia jatuh cinta pada gadis yang ternyata adik kembarnya We Tenriabeng, makhluk paling cendekia dalam seluruh kisah kosmologi Bugis. Sawerigading langsung terpincut dan jatuh hati. Perasaan dan pikiran Sawerigading tidak pernah tentram lagi siang dan malam yang terbayang hanyalah adik kembarnya we tenriabeng dan Sawerigading bahkan berniat menikahinya.

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

SAWERIGADING :

Kur jiwamu, Paduka kedua orang tuaku, semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu. Wahai kedua Paduka kedua orang tuaku, kedua datu
junjunganku Walaupun kalian mengatakan We Tenriabeng itu adalah
saudara sekandung sedarah, tapi ananda mau mengawini adinda
We Tenriabeng.

Bagaikan mendengar bunyi Guntur di siang hari , Kedua datu itu sangat kaget Mendengar keinginan Sawerigading tersebut, Dengan sangat berang ayahnya Batara Lattuq berupaya mencegahnya.

BATARA LATTUQ :

Paduka ananda Sawerigading, itu sangat pamali dan melanggar
Ketentuan dewata. mengawini saudara sendiri adalah penyebab petaka
yang maha dahsyat. ruttung langi sebbo tana. Ananda Sawerigading
perbuatan semacam itu Merupakan pantangan keras bagi adat
kerajaan dewata.

Mendengar kata ayahnya Batara Lattuq, Sawerigading bersedih dan merasa kecewa. Akibatnya, selama 9 hari dan 9 malam ia membungkus diri, mulai dari kepala sampai kaki tertutup rapat, sanbil mencucurkan air mata karena memikirkan nasibnya

PAPARAN ADEGAN 13.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Karena cintanya di tolak oleh saudara kembar emasnya We Tenriabeng Saweigading menjadi uring uringan. Sejumlah kesintingan, seperti memanggang berhari-hari semua anak Luwu di bawah matahari dengan harapan agar mereka juga menderita sebagaimana dirinya, masih dilakukan Sawerigading sebelum akhirnya adik kembarnya datang menemui Sawerigading . Bissu belia yang bahkan lebih cerdas dari dewa-dewa ini berupaya keras menghadapi kakaknya yang lebih mencemaskan bahkan ketimbang setan.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Datu Sengngeng, semoga Datanglah
Semangat kahyanganmu, sebaiknya engkau adinda Suruh saja anakmu
We Tenri Abeng Untuk menenangkan dan menyadarkan saudaranya
Sawerigading, Kemudian berikan sepenuhnya Kepada kemauan Dewa
Patotoqe Di Boting Longi, Semoga Yang Maha Mulia Boting Langiq
Mau menunjukkan kepadanya Seorang wanita yang sama raut
mukanya Dengan saudaranya We Tenriabeng.

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, maka diantarlah keluar We Tenriabeng menemui Saweigading. Didapatinya Sawerigading bergelimang air mata dalam selimut yang menutupi sekujur tubuhnya. Dengan langkah yang pelan We Tenriabeng lalu duduk disampingnya, seraya diulurkan tangannya dengan jari jemari yang halus di berikannya selimut di atas kepalanya lalu diusap dahinya kemudian dirabah dadanya untuk merasakan turun naik nafasnya, keluarlah suara halus dari mulutnya :

WE TENRIABENG :

Kur jiwamu, Paduka kakanda Sawerigading, semoga Datanglah
Semangat kahyanganmu, tidurkah engkau kakanda Sawerigading,
orang yang keliru setinggi langit, selayang tertutup mata hatinya
tidurkah engkau?

WE TENRIABENG:

Kakanda Sawerigading, Pantas kalau tubuhmu besar, seperti juga
kebodohanmu. Aku tak pernah menduga kalau ini akan terjadi.
Sampai hatimu menempatkan aku selalu Dalam kenanganmu
untuk menjadikan aku permata hatimu. Bukankah didalam Sebuah
pembuluh Emas janin kita pernah ditempatkan bersama. Lalu kita terlahir
bersama pula sebagai Manusia kembar emas ditapak tangan seorang
dukun yang bergelimang darah kita.

Sawerigading tersentak mendengarnya. lalu ditanggalkannya selimutnya seraya mengusap air mata yang meleleh dipipi adindanya We Tenriabeng.

SAWERIGADING:

Kur jiwamu, Paduka adinda We Tenriabeng, semoga Datanglah
Semangat kahyanganmu Adikku we Tenriabeng, gerak gerikmu yang
tenang dan anggun, membuatku mabuk kepayang. Aku tidak mampu
menelan sesuap nasi sekalipun, tubuhmu yang tinggi semampai itu
membuatku tak bisa lena sejenakpun.

WE TENRIABENG:

Ampunkan dinda Kakanda Sawerigading, Kata katamu itu yang terucap
Tanpa sadar, sudah cukup pamali bagi kita. Apalagi kalau kata kata
itu terbuktikan dengan adanya perkawinan antara kita, dua orang
bersaudara seketurunan ? Kita akan dikutuk oleh Patotoqe dan para
dewa dengan malapetaka yang dahsyat.

Tetapi Sawerigading tetap kokoh pada pendiriannya dan tak Bergeming dengan perkataan Adiknya We Tenriabeng.

WE TENRIABENG:

Kakanda Sawerigading. Andaipun aku menuruti rayuanmu, itu artinya
kita melanggar pantangan serta menentang kehendak Maha Dewa
Palanroe.Tentu kita akan mengalami kesulitan karena kita tidak
mungkin diterima oleh orang orang di Aleq luwuq ini.

SAWERIGADING

Adindaku We Tenriabeng, Kalaupun kita tidak diterima oleh
orang banyak di luwuq , Adindaku akan kubawa ke Tompoq
Tikka , daerah kekuasaan sepupu kita Datu Pallawa Gauq. “

WE TENRIABENG:

Apakah kakanda Sawerigading tidak mengetahui tentang
malapetaka yang menimpah Tompoq Tikka? Orang orang
kampong kelaparan , lesung yang tadinya dipakai menumbuk
padi,sekarang semuanya diletakkan terbalik karena tidak
digunakan lagi.butir butir padi harus dikuliti satu persatu baru
dimasak.Ini semua terjadi gara gara perkawinan “ dinru lawing
mallaweng”,kakak sepupu kita Pallawa Gauq kawin dengan
saudaranya We Tenrirawe.Apakah kebodohan ini akan
muncul lagi diantara kita?Azab bencana akan terulang lagi
bila kita melanggar pamali ini? Dan kaka sepupu kita We
Tenrirawe juga dibuang ke Tompoq Tikka selagi bumi
dikabut gelapnya malam.

Sawerigading dan We Tenriabeng terdiam, hanyut Dalam pikiran masing masing.

SAWERIGADING

Kalau bagiku, Lebih baik adinda We Tenriabeng kubawa naik
ke Boting Langiq, kedaerah permukiman dewa Rembang
Ri Langiq, yang juga sepupu kita.

WE TENRIABENG:

Cukuplah rasanya orang orang di Bumi ini mengetahui
kebodohan mu? Jangan lagi kita menjadi buah bibir di
Boting langiq nantinya?

SAWERIGADING

Kalau begitu lebih baik saya bawa Dinda We Tenriabeng ke kerajaan
Peretiwi di Uriq Liuq ?

PAPARAN ADEGAN 15.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Segala macam penjelasan kosmis pemali insest dan kabar adanya putri Cina lebih cantik dari si adik, tak dapat masuk ke benak Sawerigading si kepala batu yang terus mendesaknya menikah. Setengah putus asa, We Tenriabeng sendiri hampir luluh melihat cinta tak berbatas itu.

WE TENRIABENG:

kakanda Sawerigading, rebahkanlah badanmu ke atas pangkuanku. Ku
tenangkan pikiranmu.Tutuplah yang terbuka Peliharalah dan
bersihkanlah apa yang kotor, Perbaikilah ketenangan jiwamu.

Seketika itu juga Sawerigading pun merebahkan diri di atas pangkuan We Tenri Abeng. Dengan tidak disadari ia bermimpi melihat seorang wanita yang sama raut wajanya dengan We Tenri Abeng. Setelah ia sadar kembali dari mimpi, ia masih dipangkuan We Tenriabeng.

WE TENRIABENG:

apa yang kau lihat di dalam tidurmu Wahai kakandaku Sawerigading ?

SAWERIGADING :

Saya melihat seorang perempuan yang rona mukanya sama dengan
raut mukamu, sedang bentuk tubuhnya sama pula bentuk tubuhmu
yang tinggi semampai itu

WE TENRIABENG:

Mimpi itu buah dari tidur, boleh benar boleh juga bersifat kenangan.
Kakanda Sawerigading! Bercerminlah kamu ke atas kuku jari jemariku
ini, maka rapatkanlah matamu untuk menatap bayangan yang ada
dalam kuku adinda ?

PAPARAN ADEGAN 16.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Keajaiban dewapun terjadi. Melalui kuku We Tenriabeng, Sawerigading dapat melihat di bawah kolom langit, dapat dilihatnya istana Kerajaan Cina, terlihat We Cudai di dalam istana. Sawerigading melihat dengan seksama wajah perempuan itu. We Cuddai Daeng Risompa, putri dari Lasettung Pugi Datunna Cina bersama ibundanya datu We Tenri Abang.

WE TENRIABENG

Kakanda Sawerigading.We Cudaiq, Itulah perempuan masa depanmu
Kanda Sawerigading, bila berdiri akan sama tinggi, raut muka seperti
pinang dibelah dua, postur tubuh yang tinggi semampai sangat sulit
dibedakan seakan-akan di dalam suatu rumah emas aku berdua,
adapun warna kulit perempuan yang kau amati itu laksana daun kempiri
yang jatuh melayang di pinggir jalan.

maka termenunglah Sawerigading memikirkan kekuasaan dan kesaktian yang dimiliki oleh We Tenriabeng, pikirnya benar adindaku ini bukan manusia biasa sungguh benar bahwa We Tenriabeng adalah penjelmaan dewa dibumi.

PAPARAN ADEGAN 17.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Begitupun kemudian We Tenriabeng memperlihatkan kesaktiannya yang lain. Lalu dimintanya si kakak berbaring dan ditiupkannya sebentuk mimpi. Mimpi erotis tersebut di dalamnya Sawerigading sempat dengan Sang Dewi Cina dalam satu sarung.

WE TENRIABENG:

Jika nantinya I We Cudaiq tak lebih elok dari diriku, Kanda
Sawerigading boleh balik ke Luwuq Untuk mempersuntingku

Untuk membuktikan kebenaran kata-katanya, We Tenriabeng memberikan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincinnya kepada Sawerigading.

WE TENRIABENG:

Jika rambut ini tidak sama panjang dengan rambut We Cudaiq, gelang
dan cincin ini tidak cocok dengan pergelangan dan jarinya, Saya akan
menerima suntingan kakanda Sawerigading, dan kita runtuhkan langit,
kita ubah hukum dewata, kita kubur rembulan, melangkahi pemali,
duduk bersanding bersaudara”.

-Mendengar bujukan We Tenriabeng, Sawerigading Nampak sangat gelisah.

SAWERIGADING:

. kalau begitu adinda, bagaimana usaha kita untuk sampai di daerah
perempuan itu, sedang menurut penglihatan saya berada di tempat
yang sangat jauh lagi diantarai oleh lautan yang luas
Adindaku We Tenriabeng, puteri yang dimaksud sangat jauh, sedangkan
perahuku sudah rapuh. Untuk berlayar ke Negeri Cina, Sawerigading
harus menggunakan kapal besar yang terbuat dari kayu welérénngé
yang mampu menahan dari hantaman badai dan ombak besar di
tengah laut.

WE TENRIABENG :

Paduka kakanda Sawerigading. Soal itu tak perlu kakanda susahkan,
itu batang welenreng di kau-kau sebagai pohon yang menjelma bersama
istana luwu ini, suruh tebanglah ia, untuk kau buat perahu yang akan
kanda tumpangi menuju ri lifu’na we cuddaiq daeng ri sompa,

PAPARAN ADEGAN 18.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka ananda Sawerigading, semoga Datanglah
Semangat kahyanganmu Wahai, Putraku Sawerigading! Untuk
Memenuhi keinginanmu memperistri We Cudai, besok pergilah ke hulu
Sungai Saqdan menebang pohon welérénngé raksasa untuk
dibuat perahu.

Dengan tidak membuang waktu lagi, berangkatlah Sawerigading ke tempat yang dimaksud ayahnya itu. Ketika sampai di tempat itu, ia pun segera menebang pohon raksasa tersebut. Anehnya, walaupun batang dan pangkalnya telah terpisah, pohon raksasa itu tetap tidak mau roboh. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa.

Keesokan harinya, Sawerigading kembali menebang pohon ajaib itu, tapi hasilnya tetap sama. Kejadian aneh ini terulang hingga tiga hari berturut-turut. Sawerigading pun mulai putus asa dan sangat galau memikirkan apa yang penyebabnya.

PAPARAN ADEGAN 19.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Mengetahui kegalauan hati kakandanya Sawerigading, pada malam harinya We Tenriabeng secara diam-diam pergi ke hulu Sungai Saqdan. Hanya sekali tebasan, pohon raksasa itu pun roboh ke tanah. Konon sewaktu Walenreng itu ditebang karena beratnya langsung mematahkan sebuah gunung.

Pembuatan perahu dilakukan di dunia bawah Uriq Liuq dan baru dimunculkan kedunia tengah Aleq Linoq. Dengan ilmu yang dimilikinya, We Tenriabeng segera mengubah pohon raksasa itu menjadi sebuah perahu layar yang siap untuk mengarungi samudera luas.

Keesokan harinya, Sawerigading kembali ke hulu Sungai Saqdan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pohon welérénngé raksasa yang tak kunjung bisa dirobohkannya kini telah berubah menjadi sebuah perahu layar.

SAWERIGADING

Wahai Paduka Dewata, siapa gerangan yang melakukan semua ini?
Ah, tidak ada gunanya aku memikirkan siapa yang telah membantuku
membuat perahu layar ini. Yang pasti aku harus segera pulang Untuk
menyiapkan perbekalan yang akan aku bawa berlayar ke Negeri Cina.

PAPARAN ADEGAN 20.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

tiba-tiba di tanah Luwu di aleq Linoq terjadi gelap gulita. Kilat terjadi sambung menyambung, petir dan guntur membahana di angkasa, memekakkan telinga. Seakan-akan dunia mau kiamat. Tiga hari tiga malam terjadi gelap gulita. Akhirnya juga dihari keempat tenang kembali, awan berarak, alampun cerah, orang-orang dikejutkan dengan adanya tujuh buah perahu yang berjejer dipelabuhan, kesemuanya lengkap dengan peralatan dan tak ada yang terkecuali, semuanya telah di hiasi oleh perhiasan emas karena bungkalan emas itu sekeliling pelabuhan menjadi terang. Diantara ketujuh perahu itu satu diantara sangat besar. Itulah perahu dari batang Walenreng yang besar itu,diberi nama La Welenreng.

Dengan segera berkemaslah Sawerigading akan memulai pelayarannya bersama semua pemberani lainnya yaitu La Pananrang, La Massaguni, Lapanrita Ugi, Jemmu Ri Cina, Setti Menyala, Setti Ri Gau dan semua sepupunya yang jumlahnya tujuh puluh orang.setelah lengkap dan selesai semua barang keperluan seperti persediaan makanan dan peralatanperalatan, dibukalah sure-sure’ untuk menghadapi hari apa yang baik untuk mereka memulai pelayarannya.

PAPARAN ADEGAN 21.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Maka segera dimulailah Pelayaran Sawerigading ke daerah Cina, setelah putus hari yang dipilihnya itu hari rabu, hari ke tujuh belas dalam bulan itu setelah selesasi peralatan yang akan dibawahnya itu, turunlah Sawerigading bersama sepupu-sepupunya ditandai oleh orang banyak bangkitlah Sawerigading mengarahkan jiwa dan raganya, seperti bermunajat ke Boting Langi untuk menyatakan sumpahnya, kehadapan maha Dewa Topalanroe lalu memalingkan pandangan Ketoddang Toja serta mengulurkan kedua tapak tangan mengarah ke peretiwi tempat kedewaan neneknya Sinau Toja.

SAWERIGADING :

Dengarkanlah saya aturkan wahai tuhanku Paduka Dewata.
beginilah sukmaku pilu meratap, hancurlah aku sampai
anak cucuku,padam bagai pelita hamburlah bagai
tungku.Selanjutnya tak perlulah mendapat fajar harapan
hidup untuk anak cucuku, kalau aku pulang kembali ke
Wanua Luwu ini,wahai engkau La Welenreng!Berakhirlah
engkau berdiri ditempatmu dan akan berakhir juga duduk
Ri Mangkauku di Luwu

Seketika itu menangislah orang-orang yang mendengarkan sumpah itu terutama kedua orang tuanya lalu bangkit pulalah Batara Lattu menyampaikan harapan kepada neneknya To Palanroi Ri Boting Langiq

BATARA LATTUQ :

Ampun Tuanku To Palanroi Ri Boting Langiq. Janganlah
mendengarkan sumpah orang yang dimabuk angan angan
dan buta mata hatinya. Kalau Anakku dapat Kembali dengan
selamat dan dapat bertahta diatas Singgasana, dibawah
naungan Payung Kebesaran Kerajaan Luwuq.Dan Apabila
mendapat Kemenangan tanpa sehelaipun rambutnya yang
tercabut, Saya akan Mempersembahkan seekor kerbau
Cemara yang bertanduk Emas Murni, Sebagai tumbal
kepada Maha Dewa.

PAPARAN ADEGAN 22.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Turunlah Sawerigading ke perahu La Welenreng dengan lengkap pakaian kerajaan Luwu, di bawah Pajung Pulaweng di arak oleh keluarga istana dan diluarnya yang sama-sama mencucurkan air mata.naiklah Sawerigading, yang langsung merebahkan diri di tengah-tengah ruangan perahu La Welenreng seraya menyelimuti sekujur tubuhnya dengan air mata yang terus menerus mengalir membasahi pipinya. Kemudi-kemudi sudah terpasang, jangkar pun telah dibongkar, layar sudah mulai dikembangkan, bertolaklah La Wakkang Weroe di iringi La Welenreng.

PAPARAN ADEGAN 23.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Batara Lattu dan Datu Sengngeng kehilangan semangat ,dan sangat sedih seketika . Airmata kedua datu itu mengalir mengiringi kepergian anaknya.

WE DATU SENGNGENG

amasEangnga’ ana’arung maddanrengngE,
mutompongengnga’ gajangpulaweng sE’sumange’mu,
aja’ kuonro tujumatai lao sompe’na sebbukatikku.
Mati bukanlah apa-apa, dibanding terpisah dengan
“sebbukatinna”,buah hatiku tersayang.

Tiada seorangpun yang berani menjawab. Hingga I La Panguriseng membujuknya dengan penuh kesedihan.

BATARA LATTU

kurru jiwamu anri pongratu, rini’ sumange’ torilangimu.

( Closing dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: