NO.16.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 16.( SAWERIGADING BERLAYAR KE NEGERI CINA )

NO.16.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 16.( SAWERIGADING BERLAYAR KE NEGERI CINA )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

(Narasi dan Opening lagu Theme Song I La Galigo )

Kerajaan Aleq cina Ketika fajar sedang menyingsing. Ketika itu We Duppa Sugi, orang kepercayaan bersama dayang-dayang We Cudaiq yang Iain sedang mandi di tepi sungai. Alangkah terkejutnya ketika dari jauh dia melihat perahu Welenrengnge sedang berlabuh dan Anceq Kuliba hamba dari Sawerigading sedang duduk dikelilingi oleh hamba yang memakai gelang dan keris emas. Ia duduk di bawah pohon Majjempangi dengan bulu kumis dan bulu dada yang sangat panjang dan para dayang-dayang itu menyebutnya sebagai orang Bajo.
Para Dayang dayang terkejut melihat orang asing itu. Mereka tak jadi mandi dan tergopoh-gopoh kembali ke Aleq Cinaq dengan hati yang tidak tenteram. We Duppa Sugi segera menyampaikan berita itu kepada dayang-dayang lain yang ada di istana.

WE DUPPA SUGI :

Alangkah terkejutnya kami ketika sedang mandi disungai, Ketika itu
dari jauh kami melihat perahu Welenrengnge sedang berlabuh dan
orang bajo sedang duduk dikelilingi oleh hamba yang memakai
gelang dan keris emas. Ia duduk di bawah pohon Majjempangi
dengan bulu kumis dan bulu dada yang sangat panjang .

Tanpa sengaja bisikan We Duppa Sugi tersebut terdengar oleh We Cudaiq, maka ia segera berlari dan menghempaskan diri ke biliknya peraduannya.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Hari berganti malam, malampun berganti hari. Tiga hari tiga malam We Cudaiq tak bangun-bangun, kerjanya hanya menangis tanpa makan dan tanpa minum. Bukan main terkejutnya We Tenriabang menyaksikan keadaan anaknya sudah kurus dan pucat pasi layaknya bunga yang sedang layu. Segera ia menyapa sang putri menanyakan apa gerangan menimpanya,

WE TENRIABANG :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Cudaiq , semoga Datanglah
semangat kahyanganmu. Apa gerangan yang terjadi sehingga
badanmu kurus dan mukamu pucat seperti itu?

WE CUDAIQ :

Kur jiwamu, Paduka orang tuaku berdua suami istri, semoga
Datanglah semangat kahyanganmu Tuanku, aku takkan
menyembunyikan perasaanku, aku tak ingin menjadi milik orang
Luwuq, seketiduran dengan orang Bajo dan satu sarung dengan
orang yang bukan senegeriku: I Mettang, I Menrokoli dari negeri
Selayar itu.

Alangkah terkejutnya We Tenriabang dan La Sattung Pugiq mendengar ucapan putrinya .

WE CUDAIQ :

Orang Bajo itu, yang dipenuhi badannya bulu dan kumisnya
panjang yang dapat membakar seluruh badanriya, apabila berkata-
kata ucapannya terputus-putus, tak jelas apa yang diucapkannya,
tak terdengar apa yang dibicarakannya.

We Tenriabang dan La Sattung Pugiq hanya bisa berpandang pandangan. Lalu We Tenriabang Berbisik pada suaminya La Sattung Pugiq.

WE TENRIABANG

Paduka Kakanda La Sattung Pugiq, inilah akibatnya mempercayai
ucapan orang lain yang sebenarnya hanyalah cemburu saja pada
sesamanya perempuan .

WE CUDAIQ :

Orang liar itu tak teratur makannya, tak ditenun sarung dan
pakaiannya, tak terlihat asap apinya, tak disaksikan pula
tanah tempat kelahirannya, makanan di kampungnya hanyalah
ular. Ananda We Cudaiq tak mau dijodohkan dan memilih lebih
baik dibuang di tempat yang jauh.

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Mendengar perkataan anaknya yang disertai isak tangis itu, Raja Cina, ayah dari sang putri We Cudaiq tak ingin lagi memaksakan kehendaknya. Setelah mendengar ucapan dan pertimbangan dari penasehatnya, maka iapun berkata pada istrinya.

LA SATTUNG PUGIQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Tenriabang , semoga Datanglah
semangat kahyanganmu .Dinda We Tenriabang janganlah engkau
memaksakan kemauan kita kepada anak kita. Janganlah kita mau
menyamakan dengan pembantu yang lain yang dapat dipaksa
untuk mengikuti keinginan kita. Sebab apabila dia terus-terusan di
dalam bilik, tak mau lagi makan, maka ia bisa saja sakit dan akan
menderita. Apalagi bila ia tidak lagi menerima ratusan nasar dan
ribuan persembahan, itu dapat menyebabkan ia meninggal dunia.

WE TENRIABANG :

Kur jiwamu, Paduka kakanda La Sattung Pugiq , Semoga
Datanglah semangat kahyanganmu. Paduka kakanda, segera
perintahkan To Anaq Kaji memanggil orang banyak untuk segera
mengembalikan harta lamaran pemberian Sawerigading.

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, Maka segera To Anaq Kaji memanggil orang banyak untuk segera mengembalikan harta lamaran pemberian Sawerigading.

PAPARAN ADEGAN 4.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

La Tenriranreng dan La Makkasau dua penasehat Raja Cina mcnyampaikan kepada ayahnya (Penasehat),

LA TENRIRANRENG/LA MAKKASAU :

Kur jiwamu, Paduka Ayahanda Penasehat Raja, Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu , Paduka ayahandamengembalikan harta orang
wangkang itu adalah pantang dilakukan, karena akan mengakibatkan
perang besar dan kehancuran negeri. Sudah dipastikan mereka akan
mengangkat senjata, kendati hanya angin dari gagang tombak mereka
yang menyentuh kita, akibatnya membawa kematian.

PENASEHAT :

Kur jiwamu, Paduka ananda berdua, Semoga Datanglah semangat
kahyanganmu kalau kalian tidak mau membantu berperang, maka kalian
aku perintahkan untuk membantu orang wareq itu. Saya berjanji akan
membelah-belah perahu dan mengikat orang orang Wangkang.

PAPARAN ADEGAN 5.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Malam melingkupi kerajaan Aleq linioq, bintang bintang sepertinya malas memancarkan kerlipnya, malampun gelap tanpa rembulan. Sementara itu Sawerigading mendengar harta lamaran dikembalikan, luluh lantaklah perasaan dan seluruh harapan dalam hatinya. Bahkan berita terakhir yang di dengar dari La Pananrang, sang penasehatnya, bahwa harta yang diangkut selama tiga bulan menuju calon mempelai, pengembaliannya hanya sehari saja. Itu menandakan bahwa tidak seluruh harta yang dibawa semuanya dikembalikan.

Bukan main geramnya hati Sawerigading, dan memerintahkan Untuk memukul gendrang manurung sebagai maklumat perang. Layaknya dalam tradisi perang sebelum para pasukan berkelebat ke tengah-tengah musuh, maka mereka mengucapkan ikrar sumpah perang yang isinya akan mengerahkan seluruh tenaga dan rela mati demi kemenangan. Perlahan-lahan para laskar perang yang berani mati itu berkelebat sambil memegang panji-panji perang mereka masing-masing layaknya hutan lebat yang rapat .

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Di kerajaan Aleq cina perang mulai berkecamuk. Perang tak bisa lagi terhindari , langsung saja pecah membahana, bergantian mereka maju mundur dan ternyata para pasukan We Cudaiq tak sanggup menahan gempuran lawannya. Akhirnya mereka menyerah. Panglima perang Aleq Cina, serta kedua orang tua asuh We Cudaiq dan ratusan pasukannya meninggal. Orang-orang perahu mengamuk dan membakar rumah-rumah penduduk di mana asapnya mengepul ke angkasa dan perlahan-lahan mendekati istana dan terlihat jelas dari istana La Tanete.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan bergegas We Tenriesang saudara We Cudaiq berseru sembari menasehati adiknya supaya segera membuka iendela dan menyaksikan kobaran api akibat ulah orang Wareq.

WE TENRIESANG :

Kur jiwamu, Paduka adinda We Cudaiq , Semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu , Duhai adikku Daeng Risompa, tidurkah engkau, maka
aku membangunkanmu, terbangunkah engkau, maka saksikanlah
kepulan asap api itu. Asapnya sudah mengepul di istana orang tua kita.
Akibat kobaran api yang menyala itu seluruh pasukan andalan orang tua
kita sudah menyerah kepada orang wareq dan menyatakan diri kalah.

WE TENRIESANG :

Lihatlah Paduka Adinda. Bagaikan air bah yang membanjir, linangan air
mata orang yang kalah itu mengalir terus masuk ke pekarangan.
Saudara kita La Tenriranreng dan La Makkasau telah menyerah dan
menggabungkan panji perangnya dengan penghuni wangkang itu. Dia
pulalah yang telah membongkar benteng perisai di Aleq Cina. Kita tak
punya lagi sandaran hidup, semua saudara kita telah menyerah kepada
mereka. Duhai adikku We Cudaiq bangunlah, agar engkau dapat
menyaksikannya sendiri tak ada lagi tempat yang tak diduduki oleh
lawan yang ribuan jumlahnya, termasuk di dalam rumah-rumah kecil
penduduk kampung di Aleq Cina, panglima perang kita ikut tewas.
Karena itu bangunlah engkau We Cudaiq Adikku. Tenangkanlah hatimu
dan pasrahlah untuk dikawini oleh orang yang berperahu emas itu .
Semoga Sawerigading mau mengampuni kita, mau menghentikan
kobaran apinya, dan menenangkan para prajuritnya.

WE CUDAIQ :

Kur jiwamu, Paduka kakanda We Tenriesang , Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Duhai Paduka kakanda We Tenriesang
biarkanlah semua orang Ugiq dan orang Cina habis, tak kupeduli tanah
Ugiq dan negeri Aleq Cina berakhir riwayatnya. Sedikitpun tak akan
Menggoyahkan keputusanku, tak akan beralih pendirianku dan tetap
menolak untuk ditiduri dan diselimuti oleh orang Luwuq yang bukan
sesamaku.

WE TENRIESANG :

Paduka adinda We Cudaiq, Celaka benar engkau, Cudaiq! Engkau
muntahkan seluruh kenikmatan hidupmu, engkau relakan Sebagai
rampasan dan tawanan perang, lalu dijadikan pelayan yang Mengatur
makanan dan tempat tidur. Engkau akan dibawa berlayar dengan orang
yang berperahu emas itu, menuju ke negerinya Aleq luwuq.

WE CUDAIQ :

Dengarlah kataku, Paduka kakanda We Tenriesang! Jika engkau yang
menginginkan orang Luwuq itu, maka engkau sajalah yang kawin
dengan Mettang dan Menrokoli itu. Apabila rumah tanggamu telah baik
maka tinggalkanlah suamimu itu. Kelak apabila perkawinannmu telah
baik maka pilihlah malam tertentu untuk pindah ke tempat orang
Wangkang itu Apabila harta bendanva yang kau inginkan maka
Janganlah aku ini adindamu yang engkau susahkan.

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Sementara itu pasukan Sawerigading meringsek masuk mendekati istana Maka terdengarlah gemuruh Pasukan Sawerigading yang telah meringsek masuk ke Cina Timur untuk meruntuhkan benteng. Di sana-sini masih terlihat pertarungan para pemberani yang saling memperagakan kerisnya, saling bergumul, beradu dada, lalu saling menggulingkan dengan lengkungan keris para remaja tanggung yang pemberani itu. Perisai emas perlindungan para juak beradu bagai kerbau yang saling bertandukkan. Di sana-sini mayat bergelimpangan orang-orang yang tertetak, dan yang luka parah, darahnya membanjir menyilaukan mata. Maka para pasukan orang Ugiq dan orang Cina lari tunggang-langgang yang diburu masuk sampai ke kampungnya.

Perang semakin berkecamuk. La Pananrang telah menjinjing kepala musuh dan Cina Timur sudah terbakar. Hal ini dilakukan agar nyalanya merembes masuk ke istana La Tanete. Dengan begitu ia dapat merampas istri dan anak-anak La Sattung Pugiq, Raja Cina, yang tentu saja yang paling diharapkan adalah menyaksikan wajah cantik sang Putri, I We Cudaiq.

PAPARAN ADEGAN 9.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Meskipun demikian. Untuk menunjukkan kebesaran dan keagungannya, Sawerigading mengingatkan pengawalnya To Sulo Lipu, jangan sampai api itu merembes masuk ke istana La Tanete yang dapat mengejutkan We Cudaiq yang berakibat dia sakit. Karena kalau hal itu sampai terjadi maka sia-sialah pelayaran mereka, meninggalkan jauh tanah leluhurnya, membuat yatim kedua orang tuanya. Dan meninggalkan seluruh kenikmatan istana dan ketinggian derajatnya. Sawerigading berharap kapan saja We Cudaiq luluh hatinya ia tetap setia menunggunya.

Namun nasihat itu terlambat datangnya, Nasehat itu bagai angin lalu saja. Peperangan sudah terlanjur bagaikan meruntuhkan seluruh langit akibat terkena lontaran layangan tombak. Di tengah-tengah kecamuk peperangan itu, La Pananrang berseru agar We Cudaiq segera membuka jendela untuk menyaksikan orang Luwuq dan orang Wareq, orang yang selalu dihinanya, kumisnya dapat diikat, bulu dadanya dapat dijadikan bahan bakar, makannya pada malam hari seperti kalong dan hanya makan ular di kampungnya.

LA PANANRANG :

Wahai Putri We Cudaiq, keluarlah dari bilik peraduanmu, atau segera
saja kau membuka jendela untuk menyaksikan orang Luwuq dan
orang Wareq ini , orang yang selalu kau hinakan, kau selalu
menghina dan mengatakan kumisnya dapat diikat, bulu dadanya
dapat dijadikan bahan bakar, makannya pada malam hari seperti
kalong dan hanya makan ular di kampungnya.

PAPARAN ADEGAN 10 .

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Mendengar seruan itu, maka dengan bergegas We Tenriabang mengingatkan anaknya We Cudaiq untuk segera membukakan jendela dan menyaksikan darah yang sedang membanjir. Ia menyarankan untuk menyerah dan mau menerima saja lamaran orang yang berperahu emas itu.

WE TENRIABANG :

Kur jiwamu, Paduka ananda We Cudaiq , Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Paduka ananda, segeralah engkau
membuka jendela dan menyaksikan darah yang sedang membanjir.
Paduka ananda We Cudaiq, ibunda menyarankan paduka ananda
untuk menyerah dan mau menerima lamaran orang besar yang
berperahu emas itu.

Namun ucapan orang tuanya itu sedikitpun tak membuat hati We Cudaiq bergeming, ia tak bergerak dan mengeluarkan sepatah kata pun. Seluruh penghuni istana bertangisan sembari berdiri dan berseru kepada We Cudaiq agar segera turun saja ke gelanggang untuk berperang melawan mereka. Karena konsekwensinya bila tidak mau dinikahi, maka ia harus melawan mereka habis-habisan. Namun We Cudaiq tiada menjawab sepatah kata pun seruan saudara-sauadaranya.

Dengan bergegas, Para penghuni istana itu kembali mengalihkan seruannya kepada We Tenriabang, Ibu We Cudaiq, agar supaya sudilah mengulurkan tangannya untuk memberikan sesembahan kepada orang Luwuq sebagai pembeli tanah di Aleq Cina, sebab dialah yang selalu memanjakan putrinya yang mengakibatkan hancurnya tanah Ugiq.

PAPARAN ADEGAN 11 .

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan tidak membuang waktu lama lagi, We Tenriabang pun tergopoh-gopoh menghadap Sawerigading dan memohon kiranya sudi mengambil harta sebagai tumbal untuk menghentikan kobaran apinya dan memundurkan pasukannya. la menyatakan tanah Ugiq telah tunduk dan menyerah tanpa syarat.

WE TENRIABANG :

Kur jiwamu, Paduka ananda Sawerigading , Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Paduka ananda, sudilah kiranya ananda
mengambil harta sebagai tumbal untuk menghentikan kobaran api dan
memundurkan pasukan ananda. Kerajaan Aleq cina menyatakan tanah
Ugiq telah tunduk dan menyerah tanpa syarat.
Sawerigading tertegun, diam tanpa kata. Lama baru dia berseru kepada To Sulo Lipu dan menyatakan pendapatnya tentang hal ini. Sebab ia tak ingin memaksakan kehendaknya. la tak ingin kelak keturunannya mewarisi kehinaan di La Tanete, karena kelak keturunannya akan mengetahui bahwa ia adalah hasil perkawinan yang diakibatkan oleh rampasan perang.

PAPARAN ADEGAN 11 .

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Sementara itu saudara saudara We Cudaiq Melakukan perundingan. Maka sepakatlah To Ampanyompa, La Tenriranreng dan La Makkasau, ketiga-tiganya adalah saudara laki-laki We Cudaiq, untuk segera naik ke istana agar dapat menasehati adiknya We Cudaiq. Mereka berharap pikiran dan perasaan We Cudaiq dapat berubah. Namun apa jawaban sang putri, ditengah-tengah isapan tangisnya

WE CUDAIQ :

Kur jiwamu, Paduka kakanda tiga bersaudara, Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Aku akan menerima usulmu duhai kakakku
dengan syarat La Tuppu Cina dan La Tuppu Gellang, orang tua
pengasuhku dapat dihidupkan kembali. Aku juga minta supaya dapat
dihidupkan semua para pasukan andalan orang tuaku.

Mendengar perkataan adiknya We Cudaiq, Bukan main marahnya saudara laki-laki We Cudaiq mendengar permintaan yang tidak masuk di akal itu. Ketiganya meludah sembari bergumam .

LA TENRIRANRENG

Kur jiwamu, Paduka adinda We Cudaiq , Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, We Cudaiq adikku, Engkau akan hancur
kalau sombong dan tinggi hati seperti itu.

Dengan berat hati mereka menyampaikan kembali seluruh ucapan We Cudaiq itu ke Sawerigading, Sawerigading memerintahkan saudara-saudara I We Cudaiq untuk menyampaikan ke We Cudaiq apakah kalau dikabulkan masih ada tambahan syarat yang lain.

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Kembali saudara-saudara We Cudaiq menemui adiknya dan menyampaikan pesan-pesan Opunna Wareq. Maka ketika itulah I We Cudaiq telah luluh hatinya dan bersedia menerima sebagai pendampingnya.

WE CUDAIQ :

Paduka kakanda bertiga, Saya akan menerima Sawerigading Sebagai
Suamiku,Tapi dengan berbagai persyaratan tambahan antara lain
Setelah Sawerigading kelak menjadi suamiku, Sawerigading hanya
boleh datang pada malam hari dan tidak boleh tinggal sampai siang.
Perkawinan tidak boleh diupacarakan. Apabila tengah malam dia
sudah harus kembali, obor dan pelita dimatikan dan tanpa diiringi alat
upacara kerajaan.Tak dituntun alat Lawolo serta tak disambut oleh
Puang Matoa.Tak diperkenankan tangannya menjemput pada tempat
tempayan emas dan kawin resmi, Tujuh susun dinding bilik yang
ditempati ditutup, palangnya di dalam dan dijaga ketat oleh pelayan.
Tujuh susun kelambu tempatnya tidur yang telah dijahit pada bagian
bawahnya. Ujung sarungnya harus dijahit, penutup kepalanya harus
diikat serta bajunya terdiri dari tujuh lapis pula.

PAPARAN ADEGAN 13.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Mendengar perkataan We Cudaiq, Bukan main pusingnya La Tenriranreng dan La Makkasau mendengar permintaan adiknya yang tak pernah ada selesai-selesainya. Hal ini ia serahkan sepenuhnya kepada Sawerigading untuk memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya.

Dengan tidak membuang waktu lagi, segera Sawerigading memerintahkan Panrita Ugiq dan Jemmuq ri Cina untuk mengumpulkan dan menghidupkan kembali mayat-mayat pasukan dan or-ang tua asuh We Cudaiq.

SAWERIGADING :

Kur jiwamu, Paduka Panrita Ugiq dan Jemmuq ri Cina, Semoga
Datanglah semangat kahyanganmu, Panrita Ugiq dan Jemmuq ri
Cina , segeralah untuk mengumpulkan dan menghidupkan kembali
mayat-mayat pasukan dan orang tua asuh We Cudaiq.

To Ampe Manuq dan Panrita Ugiq tidak senang dengan kejadian ini. Dia menganggap bahwa secara fisik ia sudah menang dalam perang, tetapi secara politik sebenarnya sudah kalah.

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Melihat pembangkangan saudara mereka To Ampe Manuq dan Panrita Ugiq, Akhirnya La Pananrang mengusulkan supaya Sawerigading segera naik ke Boting Langiq untuk mengadukan peristiwa ini kepada saudara kembarnya We Tenriabeng.

LA PANANRANG :

Kur jiwamu, Paduka adinda Sawerigading, Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Sebaiknya Paduka Sawerigading naik ke
Boting Langiq Untuk meminta pertimbangan cara penyelesaiannya
pada saudara kembar emas paduka I We Tenriabeng?

PAPARAN ADEGAN 15.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan tidak menunggu waktu lagi Sawerigading segera naik ke Boting langiq Untuk meminta nasehat pada Saudaranya We Tenriabeng.

WE TENRIABENG ;

Kur jiwamu, Paduka kakanda Sawerigading, Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Sawerigading saudaraku, kembalilah ke
bumi Aleq Linoq, Kelak akan menyusul petunjuk cara Penyelesaian
masalahmu di Aleq Linoq.

PAPARAN ADEGAN 16.

(Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo )

Bersamaan dengan naiknya Sawerigading ke Boting Langiq, maka I We Cudaiq pun memerintahkan kepada pengawal istana untuk membuat dinding bilik tujuh lapis yang dilengkapi dengan palang yang kuat di istana La Tanete.

PAPARAN ADEGAN 17.

(closing Narasi dan lagu Theme Song I La Galigo ).

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: