NO.18.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 18 .( I LA GALIGO PENYEBAR CINTA )

NO.18.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 18 .( I LA GALIGO PENYEBAR CINTA )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

Dengan tak terasa waktu berlalu demikian cepatnya. I La Galigo pun Tumbuh sebagai anak yang dilimpahi kasih sayang berlebihan, I La Galigo sudah jadi terbiasa menyalahgunakan posisinya sebagai pangeran putera mahkota, sebagai keturunan langsung Batara Guru Sang Manusia Pertama dan Datu Patotoqe Yang Maha Kuasa. Jika ia kalah di gelanggang adu ayam, I La Galigo mengingkari kekalahannya lalu meraih senjata dan membunuhi ayam yang menang aduan. I La Galigo adalah si congkak pongah dan angkuh yang menamakan dirinya Raja yang tiada taranya, baik di Kahyangan maupun di Dunia Bawah.Tanpa pandang bulu ia merayu perempuan manapun yang ia sukai, baik yang masih lajang maupun yang sudah bersuami.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Cinta terkadang membuat Manusia tidak berpikiran sehat dan wajar lagi. Ketika suatu waktu I La Galigo jatuh cinta pada We Tenrigangka yang sudah bersuami. Untuk mencapai hasratnya itu, I La Galigo merekayasa berita bohong bahwa mertua We Tenrigangka sakit. Suami WeTenrigangka pun berangkat menjenguk orang tuanya,dan I La Galigo pun menggunakan kesempatan itu menyelinap bagai pencuri masuk ke bilik We Tenrigangka ,merampas hati perempuan itu dengan memakai kesaktian pemberian Ayahandanya Sawerigading .

Ketika tidak lama berselang suami We Tenrigangka pulang, I La Galigo pun terpaksa pergi setelah dipaksa oleh We Tenrigangka, agar tidak terjadi keributan, dengan menyamar dalam pakaian perempuan. Sifat lain yang tidak terpuji selain mencuri dan berdusta I La Galigo banyak melakukan tindakan yang merupakan campuran antara keburukan dan kekanak-kanakan. Bahkan anak dan isterinya La Mappanganro dan Karaeng Tompoq misalnya, mencari perkara kepadanya karena sepak terjangnya yang kurang terpuji.

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Mendengar sifat buruk anaknya I La Galigo yang tidak terpuji itu, Maka Sawerigading pun mengutus I La Galigo kembali berlayar ke Ale Luwuq untuk mengambil peralatan bissu disana. I La Galigo dikawal oleh tujuh puluh pengawal khususnya berlayar menuju Ale Luwuq. Pelayaran I La Galigo dari Negeri Cina menuju Aleq Luwuq sangat cepat dibanding dengan pelayaran Sawerigading dari Aleq Luwuq menuju Negeri Cina. Kalau pelayaran Sawerigading selama berbulan-bulan, maka pelayaran I La Galigo hanya dalam sehari saja. Padahal perahu yang mereka tumpangi sama yaitu Perahu Welenrengnge. I La Galigo meninggalkan Negeri Cina pagi hari dan tiba di Aleq Luwuq pada malam hari.

PAPARAN ADEGAN 4 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Mendengar kabar kedatangan I La Galigo , maka dengan bergegas La Pangoriseng bersaudara menuju istana Lakko Manurungnge ri Aleq Luwu. Diperintahkannya kepada segenap rakyat untuk berkumpul di depan istana. Setelah seluruhnya berkumpul, mereka kemudian bersama-sama berangkat menuju pelabuhan menjemput I Lagaligo untuk mendarat, menjejakkan kaki dipusat Kerajaan Luwu.Maka dalam sekejap mata saja, Berdatanganlah segenap rakyat di negeri Luwu, memenuhi halaman istana raja Luwu. Rakyat banyak itu riuh rendah, karena bersuka cita atas kedatangan I Lagaligo yang sebentar lagi akan dijemput di muara.

PAPARAN ADEGAN 3 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Kerajaan Aleq Luwuq menjadi semarak dan suasana kerajaan menjadi hidup kembali karena kedatangan I La Galigo. Timbullah kembali semangat hidup rakyat luwu, karena datangnya putra mahkota I La Galigo Opunna Ware. Lalu tudak berselang lama, tibalah I La Galigo ke istana Lakko Manurungnge. Setelah tiba dilihatnya jamuan lengkap, ditunggui oleh puluhan dayang-dayang Istana.

I LA GALIGO :

Apa gerangan yang telah terjadi wahai para dayang dayang,
sehingga di sini tersedia jamuan lengkap yang kalian tunggui,
padahal tidak ada raja yang saya lihat duduk dihadapan kalian ?”

DAYANG DAYANG :

Kur jiwamu, Paduka tuan, semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu. Santapan sehari-hari wahai Paduka yang mulia Untuk
Baginda Sawerigading yang pergi berlayar mengasingkan dirinya
dinegeri yang jauh. Seorang pula yang telah gaib melayang naik ke
Botting-Langiq WeTenriabeng, adik kembar Sawerigading, Kepada
mereka berdualah yang disiapkan santapannya.

I LA GALIGO :

Wahai ibunda Inang pengasuh, Kumpulkan segenap dayang-dayang
ini wahai Inang. Janganlah kalian menunggui jamuan, padahal di
hadapan kalian tidak ada seorangpun raja yang bersantap.”

PAPARAN ADEGAN 4 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, maka dengan segera I La Galigo meneruskan langkahnya hingga ke ruangan tempat penyimpanan Genrang mpulaweng Manurungnge Mai ri Luwu. Lalu diraihnya Genrang itu, kemudian ditabuhnya bersama-sama dengan La Sulolipu, suara genrangnya bertalu-talu. Tak ubahnya bunyi genrang apabila Sawerigading yang menabuh bersama La Pananrang.

PAPARAN ADEGAN 5 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Sementara itu di negeri Aleq Cina Sawerigading tidak pernah keluar dari bilik peraduan. Ketika ia melihat istrinya Dalam keadaan sedih, Maka bangkitlah Sawerigading dari tempat tidurnya sambil mendekati We Cudaiq

SAWERIGADING :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Cudaiq ,semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu, Telah tiba wahai adinda We Cudaiq, putramu I La
Galigo di Aleq Luwuq. Kanda dapat mendengarkan bunyi gendangnya
sampai kemari.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Sementara itu di Aleq Luwuq, Batara Lattuq Terbangun Mendengar bunyi tabuhan genrang ,Batara Lattu’ pun menggeliat diatas pembaringannya .

BATARA LATTUQ :

Telah tiba nian putranda Sawerigading di Aleq Luwuq, bermukim di
Tanah leluhurnya Wattang mpare sambil menabuh genrang emas
mpluaweng manurungnge, datang bersama-sama La Pananrang.

PENGAWAL KERAJAAN :

Ampun Paduka tuanku Batara Lattuq, Konon kabarnya wahai
Paduka yang mulia! Dia adalah putranda dari ananda Sawerigading
Yang berbalasan dengan putranya La Pananrang menabuh
genderang di luar.”

BATARA LATTUQ :

Kalau begitu, Suruhlah ia masuk ke dalam kamarku, agar aku
bertutur sapa dengan bocah itu.”

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, Maka berjalanlah I Lagaligo memasuki kamar kakeknya, Batara Lattu. Iapun menghaturkan sembah sujud sebanyak tiga kali, kemudian mengambil tempat duduk dihadapan Batara Lattuq .

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka cucunda, semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu.Tinggallah dikau di Luwuq wahai ananda Galigo
menemaniku, selaku pengganti ayahandamu menjadi
Pangeran Mahkota di ibu kota kerajaan Aleq Luwuq.”

Dengan bergegas , tanpa menunggu waktu lama lagi, I La Galigo menghaturkan sembah sujud pada Batara Lattuq.

I LA GALIGO :

Kur jiwamu, Paduka nenenda Batara Lattuq , semoga Datanglah
semangat Kahyanganmu.Tapak tangan hamba hanya sekedar
gumpalan darah, tenggorokan hamba pun tak ubahnya kulit
bawang.Semoga nian hamba tidak kualat Dalam menjawab titah
paduka.Mohon restu paduka yang mulia. Hamba tidak dapat
tinggal menetap diAleq Luwuq ini, sebab adinda We Tenridio
sedang terserang penyakit parah. Ia mengidap penyakit yang
menuntut diadakannya upacara tradisi di negeri Aleq Luwuq,
sebagaimana halnya yang pernah dilakukan bagi Baginda Ratu
yang mulia, Mallajangnge ri Kalempi’na Demikianlah wahai Paduka
yang mulia, sehingga ayahanda tercinta Sawerigading Opunna
Ware menitahkan hamba untuk menjemput Genrang mpulaweng
anurungnge di Aleq Luwuq ini.

BATARA LATTUQ :

Kalaupun demikian berangkatlah ke tanah Ugi wahai cucunda
Galigo untuk mengantarkan Genrang pluaweng Manurungnge.
Kelak, setelah selesai penyelenggaraan upacara selamatan bagi
We Tenri Dio, kembalilah kemari untuk menggantikan ayahandamu
Sawerigading sebagai penguasa di Wattang mpare.

Hari berganti hari, hari berganti bulan, Berkisar satu tahun lamanya I Lagaligo tinggal di Luwu menunggui kakek dan ibu-ibu tirinya, barulah I Lagaligo bersama segenap sepupunya dan seluruh pengiringnya berlayar kembali menuju Cina. Diboyonglah Genrang mpulaweng Manurungnge ri Luwu bersamanya.

Upacara selamatan We Tenri Dio pun diselenggarakan. Sudah empat puluh hari empat puluh malam lamanya penduduk bergembira ria di Latanete sambil memanggang kerbau. Berdatanganlah segenap sepupu I Lagaligo yang perempuan untuk menyaksikan keramaian di Latanete.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Pendopo penuh sesak dengan penduduk yang berdatangan dari seganap penjuru. Tiada terkatakan ramainya suasana di Cina. Para anak-anak Datu yang tujuh puluh orang itu saling bergantian menabuh genderang, sehingga bunyinya pun bertalu-talu tiada hentinya. Tiada sekejappun genderang itu berhenti ditabuh silih berganti. I Lagaligo berpasangan dengan I La Sulolipu, La Pawennari dengan Sida’Manasa To Bulo’E, La Patenrongi dengan I La Pallajareng, dan berpasanganlah La Tenripale To Lamuru’E dengan La Pammusureng.

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Upacara selamatan pun semakin ramai, Para anak datu yang tujuh puluh orang itu tidak kunjung terlelap. Ingin pulalah I Da’Batangeng, Punna Lipu’E Cina Rilau, puteri La Makkasau menyaksikan keramaian di Latanete.

IBUNDA RATU :

Kur jiwamu, Paduka ananda I Da Batangeng , semoga Datanglah
semangat Kahyanganmu. Wahai anada I Da’Batangeng! Janganlah
hendaknya anand berkunjung ke Aleq Cina, hanya untuk menyaksikan
keramaian di Latanete ,Sinukkerenna I La Galigo dari Luwu, Cobo’-
cobonna maccariwakka I La Semmaga, tidak menyegani sesamanya
raja, dianggapnya bahwa hanya dirinyalah raja yang berkuasa di
kolong langit. Jangan sampai ditahannya usungan tumpanganmu dan
tidak dibiarkannya dikau pulang kembali ke negerimu Cina Rilau.

LA MAKKASAU :

Kur jiwamu, Paduka ibundanya I Da Batangeng , semoga Datanglah
semangat Kahyanganmu, Mengapakah gerangan wahai ibundanya
I Da’Batangeng, maka dikau tidak memperkenankan keinginan putrimu
pergi ke Cina untuk menyaksikan keramaian di Latanete. Kalaupun
ternyata usungannya ditahan I La Galigo Apakah salahnya jikalau ia
dijodohkan dengan sepupunya itu. Biarlah putri kita pergi ke Cina
menyaksikan keramaian di Latanete.”

PAPARAN ADEGAN 9.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan tidak membuang waktu lagi, Maka berdandanlah I Da’Batangeng, bersalin pakaian yang indah lalu berangkatlah menuju Cina Untuk menyaksikan keramaian di Latanete. Hanya dalam sekejap saja maka tibalah usungan yang membawa I Da’Batangeng. Ia lalu turun di depan istana.
Ketika itu I La Galigo sedang mengadu ayam di atas arena adu ayam.
Ketika La Galigo menoleh, dilihatnya sepupunya yang sedang turun dari usungan, lalu melangkahkan kaki naik ke istana.

I LA GALIGO :

Siapakah gerangan putri mahkota nan cantik jelita yang barusan tadi
tiba dengan usungan ?”

LA PALLAJARENG :

Rupanya dinda Galigo tidak mengenal sepupu kita Punna Lipu’E Cina
Rilau. Ia bernama I Da’Batangeng, puteri Baginda La Makkasau.”

Serta merta I La Galigo mencampakkan ayam jagonya lalu bergegas melangkah ke istana untuk menyusul I Da’Batangeng. La Galigo langsung menuju ke atas pelaminan menabuh genderang, berpasangan dengan La Sulolipu. Tabuhan genderangnya berbunyi seperti suara manusia

SUARA GENDRANG

Dahului-dahuluilah si orang Walana itu. Cegat, cegatlah si
orang Solo’. Dahuluilah bersanding di atas pelaminan emas.
Sungguh takkan kubiarkan Punna Lipu’E Cina Rilau kembali
kenegerinya. Saya berkeinginan menyandera usungan putri
juwita dari Cina Rilau.”

Bergantian pamandanya menasehati La Galigo, demikian pula ayahandanya turut menasehati.

SAWERIGADING :

janganlah wahai ananda Semmagga engkau menyandera
usungan dari Cina Rilau. Jangan sampai hal itu menurunkan
martabat pamandamu La Makkasau. Jikalau susungan
putrinya tersandera. Biarkalah sepupumu itu kembali ke
kampung halamannya.”

I La Galigo tidak sudi mendengarkan nasehat ayahnya Sawerigading.

I LA GALIGO :

Perkenankanlah wahai ayahanda adindaku I Da’batangeng
tetap tinggal di istana Latanete, sementara itu ayahanda
mengirimkan utusan untuk meminangnya pada baginda
La Makkasau di Cina Rilau.”

SAWERIGADING :

Mengapakah gerangan wahai ananda Galigo engkau
berkeinginan menyandera usungan dari Cina Rilau, padahal
kita tidak menguasai wilayah kekuasaan pamandamu. Kita
tidak dapat memaksakan kehendak sendiri terhadapnya.”

Namun I La Galigo sudah lupa diri, tidak sudi lagi mendengarkan nasehat.

PAPARAN ADEGAN 10.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Sementara itu, Dalam waktu yang bersamaan, selagi Anak anak datu sedang asyik menyabung ayam di gelanggang, Wé Tenridio yang bergelar Batari Bissu anak Sawérigading yang dinasibkan menjadi bissu sejak kecil, khusud menengadah ke langit berkomunikasi dengan orang kayangan suami langitnya yang bernama To Sompa Riwu ,To Sompa Riwu turun dari langit menjemput Wé Tenridio menaikkannya ke Boting Langiq. Dalam masa perjalanannya ke Boting Langiq, dia melihat dunia yang ditinggalkan itu besarnya hanya bagaikan sebuah kempu.

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan sekejab saja We Tenridio tiba di Boting Langiq. Setiba Wé Tenridio di Boting Langiq, dia mendengar dari bawah bunyi gendang besar, gendang upacara Wé Tenribali saudara La Mappanyompa, yang sedang mengadakan upacara di Senrijawa. Wé Tenridio meminta kepada suaminya agar dapat diturunkan sebentar ke Senrijawa untuk menyaksikan upacara sepupunya itu, tanpa dapat dilihat oleh orang lain.

Setibanya di Senrijawa, dia melihat menyaksikan ada tiga ratus orang anakarung yang memegang peralatan bissu dan menyaksikan juga kecantikan Wé Tenribali saudara La Mappanyompa.To Sompa Riwu meminta kepada Wé Tenridiyo agar dapat menampakan dirinya supaya dapat dilihat dan dijemput kedatangannya oleh Wé Tenribali. Wé Tenridiyo pun menampakkan diri dan dijemput oleh Wé Tenribali, tetapi karena tidak mau duduk kalau bukan tikar-guntur yang diduduki sedang di Senrijawa tidak ada tikar yang demikian, maka neneknya yang ada di Boting Langiq segera menurunkan tikar-guntur untuk diduduki oleh We Tenridiyo.Bagaikan bara menyala kelihatan di dalam bilik tikar-guntur yang diturunkan dari langit itu.

Setelah selesai menyabung ayam di gelanggang, To Sompa Riwu yang bergelar Datunna Soppéng, masuk ke dalam bilik, Wé Tenridio tidak nampak. Rupanya dia sedang turun mandi pada piring manurung, tidak mau berhenti.
Datunna Soppéng menanggalkan pakaiannya lalu melompat masuk ke dalam air untuk menjemput isterinya, tetapi tidak bisa di tangkap karena berobah menjadi bayangan.Datu Soppéng membujuknya, khawatir nanti sakit isterinya, tetapi We Tenridio tidak mau. Dia mau berhenti mandi kalau dijaring dengan sarang laba-laba yang tali penariknya dari seutas rambut. Sampai tengah malam mereka berdua terus terapung di atas air.
Datu Wéttoing di Boting Langi memaklumi hal ini. Segera memerintahkan agar laba-laba emas dikeluarkan dari sarangnya untuk membuat sarang dan mencabut selembar rambutnya sebagai tali penariknya untuk menjala Wé Tenridio. Dengan perasaan geli dia menerima dan memperhatikan jala sarang laba-laba emas itu, diapun menjala isterinya, menaikkannya kemudian mengganti pakaiannya lalu pergi tidur. Tidur berbulan madu sepanjang malam.

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Pada Waktu yang lain, Puluhan ribu pendamping Sawérigading, La Galigo dan anak datu tujuh-puluh beriringan di tengah laut, saling bersorakan menuju ke Senrijawa menghadiri upacara saudara La Mappanyompa. La Mappanyompa adalah anak angkat Sawérigading. Dalam pelayarannya ke Senrijawa mereka singgah di suatu pulau dan memerintahkan supaya Ladunrung Séreng, komandan burung beserta kelompoknya pergi mencari mangga manis yang ada di pulau itu. Hanya sebuah mangga saja yang didapat Ladunrung Sereng.

SAWERIGADING :

Tak sampai hatiku memakan buah mangga ini tanpa I We Cudaiq, ibu
Wé Tenridio. Antarlah buah ini ke Latanété supaya dia makan saja
dengan anaknya.

PAPARAN ADEGAN 13.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan bergegas Ladunrung sereng menuju istana di Latanete. Sesampai di Latanété, Ladunrung Séreng memberikan buah itu kepada I Wé Cudaiq sambil menyampaikan pesan. I Wé Cudaiq menerimanya sambil menitipkan juga makanan kesukaan Sawérigading.

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Ditengah laut bertemulah rombongan perahu To Palennareng yang juga akan menuju ke Senrijawa, sebagai pengganti diri Batara Lattuq orang tua Sawérigading, yang tidak berkesempatan hadir di Senrijawa.

Sementara itu La Galigo menatapkan mata memperhatikan keberangkatan perahu La Tenroaji .

I LAGALIGO :

Memang cantik sekali kelihatan Wé Tenriolle isteri La Tenroaji tadi
. Mudah-mudahan dia bercerai, lalu aku memperisterikannya.

Mendengar perkataan I La Galigo , maka Tertawalah orang orang seperahu mendengar perkataan I La Galigo.

TO APPEMANUQ :

Mengapa engkau mencintai orang yang lebih tua dari ibumu. Mudah-
mudahan engkau beruntung Galigo engkau dapat mrngawininya
kalau dia bercerai dengan suaminya

LA MASSAGUNI :

Kalau demikian, Wé Walek itu dinasibkan tak jauh dari orang Aleq
Luwuq, karena Sawérigading juga pernah kawin sembunyi dengan
dia sewaktu kecilnya. Rupanya sudah dinasibkan anaknya lagi
mengganti bapaknya, melilitkan lengan pada pinggang Wé Walek
serta membantalkan pada lengan La Galigo.’’

Suasana Diatas perahu Walenrengnge menjadi ramai, semua Berteriak bergembira di sekeliling perahu Lawélenréng. Bagaikan mau tumpah air laut.

TO PALENNARENG :

Rupanya kau SAwerigading, sudah menyerahkan kekuasaan
besarmu, jabatan kekuasaanmu, kedudukan tinggimu kepada
I La Galigo.

SAWERIGADING :

memang La Galigolah yang sudah dinaungi payung manurung
memerintah kolong langit di permukaan bumi.

TO PALENNARENG :

Sayang sekali engkau tidak mengizinkannya ke Luwu untuk
bertemu dengan kedua Sri Paduka Batara Lattuq orang tuamu yang
sudah lama sekali merindukanmu.

SAWERIGADING :

Saya tak dapat berpisah dengan I La Galigo. Mudah- mudahan
keturunannya nanti yang dapat menggantiku ke Luwu.

PAPARAN ADEGAN 15.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Tak diduga sebelumnya, Rupanya ada utusan Opunna Wadeng menunggu di tengah laut menjemput dan mempersilahkan Sawérigading singgah dahulu di Wadeng untuk menikmati perjamuan Wé Tenrirawé isteri Opunna Wadeng, sepupu sekali Sawerigading. Nanti bersama sama dengan rombongannya menuju ke Senrijawa. Penjemputan dipersiapkan secara besar-besaran.

TO PALENNARENG :

Dinda Sawerigading, saya dengar dibicarakan dulu dinda mau
mengawini Wé Tenrirawé, sepupu sekali yang telah diperisterikan
oleh Opunna Wadeng.

SAWERIGADING :

Keinginan itu tinggal keinginan Kanda To Palennareng. Setelah
Saya memperisterikan I Wé Cudaiq. Memang sebelum itu pikiranku
tak pernah melupakan kecantikan Wé Tenrirawé.

PAPARAN ADEGAN 16 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Sementara itu Rombongan Sawérigading sudah mendekat di pantai Wadeng. Sawerigading dijemput secara besar-besaran. Tak henti-hentinya senapan dibunyikan. Bunyi gendang kerajaan dipukul bertalu-talu pertanda bahwa keturunan manurung di Luwu akan tiba di pelabuhan. Bagaikan banjir datangnya penjemput di pantai. Opunna Wadeng datang dengan bergegas tanpa menaiki usungan keemasan lagi.

SAWERIGADING :

Kanda La Sinilele, Mengapa keadaan laut di luar pantai Wadeng
jauh sekali bedanya dengan keadaan waktu kita datang pada
beberapa tahun yang lalu?.

LA SINILELE :

Paduka Sawerigading , memang kita masuk dari arah yang lain. Kita
ini melalui simpang arus laut yang angker.Kelihatan tinggi melangit
arus yang berpapasan. Kabarnya di sinilah biasa berkubur perahu
besar pelaut.

SAWERIGADING :

Kalau begitu Kanda La Sinilele, Mari kita tantang keangkeran
samudra ini, supaya penghuninya jangan merasa sombong terus.

PAPARAN ADEGAN 17.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan tangkasnya Perahu rombongan Sawérigading menerobos arus pusaran air raksasa yang diiringi kilat guntur dan petir yang menyebabkan perahu rombongan Sawérigading tertahan dihantam arus. Sawérigading mengeluarkan ilmu dari tempat sirihnya yang dapat menghembuskan topan, petir halilintar ke laut. Rombongan perahunya dapat melalui gunungan air laut yang biasa ditakuti orang untuk melaluinya sekalipun mereka adalah anak dewa. Tertawa saja La Tenripeppang yang sedang berada di pantai ketika menyaksikan hal itu.Demikian tinggi gunung air laut itu, sampai Sawérigading dapat melihat Jawa Timur dan Jawa Barat, Sama Barat dan Maloku.

TO PALENNARENG :

Dinda Sawerigading, kalau melihat istana Maloku dan Ternate itu
terbayang lagi di hatiku istana La Maddaremmeng waktu ke sana.

SAWERIGADING :

Ketika itu kakanda To Palennareng, makananpun tak dapat
kutelan, tak mau lewat di kerongkonganku karena selalu
mengenang WeTabacina, si cantik molek lagi sangat manis yang
pandai mengeluarkan ucapan dan cendekia berfikir itu.

PAPARAN ADEGAN 18.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Mengingat Kenangan itu menyebabkan air mata Sawérigading berlinang linang, mengenang keberadaannya dulu di sana, waktu bertemu perempuan yang bernama Wé Tabacina. Kecantikannya bagaikan anak dewa yang turun dari langit. Suatu malam sesudah makan malam, Wé Tabacina membereskan tempat peraduan Sawérigading.

SAWERIGADING :

Kur jiwamu, Paduka adinda We Tabacina, semoga Datanglah
semangat Kahyanganmu Adinda ratu We Tabacina sebenarnya
badan ratu yang kuinginkan jadikan bantal?

WE TABACINA :

Kur jiwamu, Paduka kakanda Sawerigading, semoga Datanglah
semangat Kahyanganmu Kanda Sawerigading,siapa lagi yang
harus ditaati keinginannya selain orang besar seperti kanda

We Tabacinapun tertawa sambil senyum menggoda, Sawérigading juga terlena, lalu berangkatlah mereka bersama masuk ke peraduan.

SAWERIGADING :

Paduka adinda We Tabacina. andai pun kanda kembali ke
negeriku, aku akan merana dirindu khayal di tengah malam karena
mengingat rindu bersamamu di tengah malam. Mungkin salah
satu obat untuk mengatasinya adalah membuka jendela dan
menjenguk melepaskan pandangan mata kearah Maloku.

PAPARAN ADEGAN 19.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Segera saja Sawérigading naik di pantai digeserkan orang untuk berlalu. Duduk bersama Sawérigading dengan La Tenripeppang, disuguhi sirih sambil mendengar ucapan kuur semangat orang Wadeng kepada Sawérigading atas keikhlasannya singgah dahulu di Wadeng sebelum meneruskan pelayarannya ke Senrijawa..

PAPARAN ADEGAN 20.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Gembira sekali I La Galigo setelah selamat melintasi gunungan air laut dan pusaran papasan pusaran air laut yang angker itu. Rembang tengah hari, rombongan perahu sudah sampai berlabuh di pantai Wadeng, dijemput dengan letusan senapan yang bunyinya bagaikan petir bersambungan.

Sudah merapat juga perahu Lawélenreng tumpangan raja muda La Galigo yang sudah diserahi jabatan menjadi yang dinaungi payung di Luwu Segera juga dijemput untuk turun ke darat. Kuur semangat diucapkan kepada La Galigo sebagai tamu kehormatan, sebagai tanda gembira. Opunna Wadeng memberi hadiah kepada La Galigo sebuah kampung yang bernama Wadeng Barat yang ditempati gunung emas dapat mengeluarkan emas murni, berpianak bagaikan kerbau. La Galigo dipersilahkan naik ke darat untuk bertemu dengan bibinya Wé Tenrirawe sepupu sekali Sawérigading.

Rombongan La Galigo naik ke darat memenuhi pantai dengan pakaian indah dijemput dengan bunyi-bunyian aneka macam. Tujuh puluh usungan emas mengiringinya, Dijemput dengan upacara bissu oleh Puang Matowa. Bagaikan petir guntur suara letusan senapan sebagai maklumat bahwa tunas dewa menginjak negeri. Gendang emaspun dibunyikan, sekali pukul tujuh kali bergema, gemanya sampai ke langit.
Kedengaran juga di seluruh permukaan bumi. Berseliweran orang banyak bagaikan mau runtuh tanah di negeri Wadeng, diberlalukan melalui pancangan umbul-umbul serta diperpatahkan bambu emas.

( closing Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo ).

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: