NO.19.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO EPISODE 19.( ASMARA YANG BERGELORA DI SENRIJIWA )

NO.19.NASKAH SANDIWARA RADIO LEGENDA I LA GALIGO

EPISODE 19.( ASMARA YANG BERGELORA DI SENRIJIWA )

Naskah/Skenario: DR. SYAHRIAR TATO.
Supervisi : PROF. NURHAYATI RACHMAN.

(Adabtasi Naskah oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan Buku II editor Prof Nurhayati Rahman ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

PAPARAN ADEGAN 1.

(Opening Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Di Senrijiwa rombongan Sawerigading disambut dengan upacara yang meriah. Orang banyak mengagumi kegagahan kegantengan Sawérigading, sambil mengatakan bahwa beruntung sekali We Cudaiq yang dapat mempersuamikannya, sedang La Galigo adalah orang muda yang tiada bandingannya, mudah-mudahan I La Galigo mau kawin di negeri kita ini.
Sudah sampai Sawérigading dan La Galigo di depan istana. Tujuh puluh macam alat perupacaraan yang dipergunakan Wé Tenrirawé ibu La Mappanyompa. Dia mengangkat talam, menaburkan bertih emas waktu menginjak tangga. Bergumam semua orang banyak menyaksikan ketururunan dewa dua beranak.

WE TENRIRAWE :

Kuur jiwamu Sawerigading Opunna Warek, Semoga
tetap semangat kehiyanganmu, naiklah di istanamu
kupersilahkan semua wahai anak datu tujuh-puluh.

PAPARAN ADEGAN 2.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan agungnya mereka Bergandengan tangan Sawerigading dan La Galigo memasuki ruang tengah. Penuh sesak istana, dikipas-kipasi oleh dayang-dayang. We Tenrirawé sendiri yang menyuguhkan sirih kepada Sawérigading dan I La Galigo. Sawérigading menjemput sirih pada sepupunya, sedang La Tenripeppang mengangkatkan tempat sirih kepada To Appémanuk dan anak raja pendamping lainnya.

WE TENRIRAWE :

Nikmatilah kalian hasil tanahmu di Wadeng.Silahkan
makan kalian, terimalah juga pemberian kami yang
berupa ribuan juak berpontoh, pontoh emas, kado
berisi tenunan Melayu.
Tak ada perbedaan Wadeng, Luwu dan Aléq Cina
Nikmatilah kalian isi hidanganmu, hanya demikianlah
perjamuan kami orang yang dihanyutkan, orang
buangan.Orang yang terbuang di rantau tak ada
sanak saudaranya.

SAWERIGADING :

Kuur jiwamu adinda We Tenrirawe, Semoga saja
tetap semangat kehiyanganmu. Kita senasib wahai adikku,
terbuang bagaikan daun
kayu yang diterbangkan angin.’’

OPUNNA WADENG :

Kuur semangat dan jiwamu dua bersepupu sekali.
Jangan demikian ucapanmu. Tidak ada tempat di
permukaan bumi yang bukan milik manurung
di Aléq Luwu dan Tompoq Tikkaq.

TO PALENNARENG :

Saya yang sudah datang juga dari Luwu ini Untuk
menyampaikan bahwa kedatangan saya di Wadeng
adalah mewakili Paduka Raja di Aleq Luwug,karena
La Mappanyompa datang ke Luwu memanggilnya
untuk menghadiri upacara di Senrijawa.
Paduka Raja di Luwu mengatakan bahwa Walaupun
hanya salah satu anak Sawérigading yang
ditempatkan di Luwu, senanglah rasa rindu sedihku.

PAPARAN ADEGAN 3.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Sementara itu juga, Para datu bawahan kerajaan berkunjung ke Wadeng, Untuk melihat dan menjamu Sawérigading dan La Galigo. Sawerigading Opunna Warek turun ke gelanggang menyabung ayam bersama dengan anak datu tujuh-puluh.
Sudah tiba juga rombongan Wé Pawawoi saudara perempuan Opunna Wadeng, orang cantik dari Majang Bombang diiringi dengan alat perupacaraan lengkap. Sawérigading sangat tertarik pada orang itu, karena bentuk mulut merapat, badan menggiurkan, sama dengan kecantikan I Wé Cudaiq Daéng Risompa.

WE PAWAWOI :

Kuur jiwamu Sawerigading Opunna Warek, Semoga saja
tetap semangat kehiyanganmu.Saya membawa harta kepada
To Botoe I La Galigo
untuk dijadikan taruhan sabungan nanti di Senrijawa.

SAWERIGADING

Kuur jiwamu adinda We Pawawoi, Semoga saja
tetap semangat kehiyanganmu. sudah ribuan perempuan yang
kulihat, belum ada yang menyamai dengan I Wé Cudai kecuali
Wé Pawawoi.

PAPARAN ADEGAN 4.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Semakin lama waktu berlalu, Sudah penuh sesak tamu di Senrijawa. Banyak istana yang dipersiapkan untuk Para tamu undangan. Tamu undangan dijemput dengan tari bissu dan barisan pancangan umbul-umbul serta dipatahkan bambu emas di depan rombongan Sawérigading dan Opunna Wadeng. Penghuni istana Senrijawa turun semua menjemput dengan pakaian kebesarannya. Ramai sekali perupacaraan penjemputan. Gendang kerajaan dibunyikan terus menerus. Wé Tenrisumpalak turun ke perahu menjemput orang tuanya.Tertegun orang orang menyaksikan kecantikan Tenrisumpalak yang bagaikan anak dewa turun dari langit

PAPARAN ADEGAN 5 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, Para undangan sudah turun ke gelanggang untuk mengadakan sabungan ayam, kecuali Sawérigading karena masih merasa letih. Para pengiring dan pendamping Sawérigading turun semua ke gelanggang. Ramai sekali sabungan. Sudah tiba pula kelompok I La Galigo dengan ratusan juak andalan pengikut pengiringnya.
Rombongan raja-raja lainpun sudah tiba dengan pengiring yang berpakaian kilau kemilau. Sudah datang juga selain I La Galigo adalah To Kellinngé. Raja ini walaupun sementara tidur satu selimut dengan isterinya, akan Tetapi tiba-tiba teringat dan terbayang di kepalanya tentang kemenangan ayam , sertamerta saja terbangun dan menari melenggangkan badan, meliukkan lengan mulusnya di atas kasur.

La Galigo mau melihat bagaimana To Kellinngé itu menari kalau ayamnya menang. Diapun mengajak To Kellinnge mengadu ayam di gelanggang.
Pada mulanya To Kellinngé tidak mau mengadu ayam dengan remaja seperi La Galigo itu. Tetapi atas permintaan La Galigo supaya dua nama yang sama dapat nampak di atas panggung disaksikan oleh orang banyak, diapun mengiakannya.
To Tenriwalek mengabulkan permintaan La Galigo. Diapun sudah siap naik di panggung sabungan, diangkutkan ayam mulianya, sedang La Galigo memilih ayam bodohnya sudah siap menyusul naik di panggung sabungan.
Masing-masing mengasah tajinya, membulang memasang gajungnya kemudian bersama-sama naik di panggung disaksikan juga oleh penghuni istana. Aduan ayampun dimulai. Tujuh kali saja saling menggelepur, ayam Datunna Cina mati terkapar. Menari melengganglah Datunna Kelling mengibaskan berkeliling destarnya, hampir menginjak saja ujung sarung To Padamani. Turut tertawa geli-hati anak datu tujuh-puluh menyaksikan tariannya.

PAPARAN ADEGAN 6.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

I La Galigo mengajak lagi bertaruh dengan aduan ayamnya. Sudah berseliweran orang banyak memasang taruhan. Tiga kali saja saling menggelepur, mati terkaparlah ayam Datunna Kelling. Giliran La Galigo lagi mengayun melambaikan destarnya, disaksikan gadis gadis pingitan di jendela istana.Gadis pingitanpun mempercakapkan tentang kegagahan, ketampanan dan kegantengan I La Galigo yang bagaikan bulan purnama, hanya disayangkan dia bersifat angkuh dan sombong memandang enteng saja raja sesamanya.

PAPARAN ADEGAN 7.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Setelah ramai sabungan di Senrijawa, turunlah Sawerigading Opunna Warek dengan pakaian kebesaran kehiyangannya, pergi duduk berdampingan dengan anaknya, didampingi oleh pengawal kerajaan .Bagaikan adu laga Dalam perang , para raja itu Saling mengadu ayam handalannya. Tak kedengaran lagi ucapan mulut orang banyak. Gendang berdengung-dengung dan upacara bissu di istana, teriakan pemain judi memekakkan telinga di gelanggang. Nyanyian bissu dilantungkan berganti-ganti oleh para bissu.

Semakin lama semakin Membanjir datangnya tamu undangan. Salah satunya bernama Senngeng Risompa Daéng Mangkauk, perempuan cantik yang tidak mau bersuami kalau bukan yang disukai. Banyak sekali yang melamarnya belum ada yang diterima.

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Sawérigading naik di atas juruk emas, kelompok bissu mengayun menarikan peralatannya, I La Sarasa anak Pallawa Gauk dari Tompo Tikka menebarkan bertih emas mengayunkan belira keemasan sambil mengucap mantera.
Bersamaan semua para aparat kerajaan berganti-ganti naik pada juruk emas sedang Sawerigading naik di puncaknya dikelilingi obor api menyala, bagaikan dewa yang baru turun dari kayangan.

Senngeng Risompa si cantik yang tidak mau kawin, khusyuk berdoa memohon kepada dewa di langit supaya Sawérigading mau memperisterikannya . Dia mengambil selembar sirih, lalu menuliskan cinta berahinya, kemudian mengirim kepada Sawérigading, agar dia rela memperisterikannya. Tunduk tertegun dan tertawa Sawerigading membaca daun sirih itu. Hari ini seharian penuh Sawérigading menerima surat yang sama dari perempuan lain.
Sawérigading menjawabnya dengan ucapan yang tak dapat didengar orang lain.

SAWERIGADING

Engkau cinta kepadaku, saya lebih cinta mendalam dihatiku
kepadamu. Hanya sayang sekali, dewa sudah lama sekali
menutup perjodohanku. Andai kata engkau dan aku
bertemu sejak dahulu, pada waktu itu aku masih selalu
dilanda asmara.Memang di dalam hatiku menggelora walaupun hanya
melihat bayanganmu. Di samping itu rupanya hatimu tergoda sekali
padaku secara mendalam melalui sudut pandangan pengelihatan
urat-urat matamu. Rupanya engkau menyimpan keinginan yang dapat
menjadi penyakit tak terobati atas terkabulnya lagi keinginan rasa
hatiku. Hanya aku sampaikan bahwa sudah lampau masa nya
keinginanku pada perempuan.

Termenung Senngeng Risompa atas bisikan hati Sawérigading. Matanya masih melotot melihat ketampanan Sawérigading yang ingin sekali menjadi jodohnya. Sawérigading sudah turun dari juruk emas. Makananpun sudah dipersiapkan. Para penyabung mulai makan kemudian turun kegelanggang.

PAPARAN ADEGAN 9.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

La Galigo pun juga tak berhenti didatangi bisikan hati para gadis pingitan.. Sudah banyak bilik perempuan silih berganti dimasuki secara sembunyi.

PAPARAN ADEGAN 10.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Bagaikan anak dewa turun dari langit kecantikan cucu Wé Tenrirawé itu. Berpakaian indah semua penghuni istana, anak raja sebayanya, para pelayan pembantunya, inang pengasuh dan orang dalamnya. Bunyi-bunyian dan peralatan bissu mulai memekakkan telinga.
Ratusan Puwang Matowa mengiringinya dengan nyanyian bissu, ribuan sebayanya penghuni istana mengiringi dan mendampinginya. Bagaikan saja bulan purnama kecantikannya berjalan diangkatkan ujung sarungnya. Ada yang mengangkatkan tempat sirih, ketur peludahannya. Tiba-tiba tak dapat mengangkat kakinya. Menyanyi-dewalah Tunek Mangkauk, kemudian menyapu badan anaknya sambil menjanjikan hadiah sebuah kampung besar, agar turut naik di Saoturu keemasan tanpa dilihat oleh para tamu undangan.
Tiga kali La Mappanyompa mengucapkan janji hadiah, diangkatlah Tunek Mangkauk oleh Puwang Matowa untuk dinaikkan pada juruk emas, disertai aduan alosu soda tanpa dilihat oleh orang banyak.

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

I La Galigo meminta kepada Wé Tenribali, agar We Tenrabali yang cantik itu dapat keluar menampakkan diri untuk disaksikan oleh orang banyak.Saya akan memberikan hadiah padamu.

SAWERIGADING :

Ananda I Lagaligo, mengapa lagi orang yang akan bersanding
dengan La Tenriliweng itu dipanggil.

WE TENRIBALI :

walaupun tanpa hadiah aku akan keluar juga. Hanya tadi tidak
keluar karena masih ada orang Ruwang Letté yang merasuki Tetapi
karena sudah selesai ’’tuppu juruk’’ orang langit itu sudah tak
mengikat lagi.

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Sementara itu ,Para penghuni bilik sudah berpakaian indah kemudian We Tenribali si tunas mangkauk itu diberi pakaian dan perhiasan ala orang langit. Berangkat keluarlah diiringi oleh dayang-dayang, pelayan dan pengasuhnya.
Setelah sampai Wé Tenribali di luar dikelilingi mata memandang. Bagaikan bulan purnama kecantikannya. Dipersilahkan duduk oleh Sawerigading Opunna Warek. I La Lagaligo menyuruh pelayan pembantu memberikan sirih pinang. Ia mempersilahkan We Tenribali menyirih, sambil memberikan hadiah berupa pelayan pembantu untuk dijadikan penghuni dan pendamping di istana. Pamadeng Letté Sawérigading memperhatikannya, bagaikan bentuk badan dan warna kulit I Wé Cudaiq waktu mula sampainya di Latanete.

SAWERIGADING :

Sungguh Luar biasa kecantikan Wé Tenribali. Entah siapa nanti
menjadi jodohnya. Banyak orang cantik di Cina Tetapi sepertinya
lain juga keadaan kecantikan Wé Tenribali.

PAPARAN ADEGAN 13.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Pesta Upacarapun semakin meriah, bunyi gendang berbunyi terus bagaikan mau runtuh Senrijawa karena acara keramaian semalam suntuk. Sawérigading kembali ke istana, dibereskan tempat tidurnya, sekelambu berdua dengan To Palennareng.

TO PALENNARENG :

Kuur jiwamu Dinda Sawerigading Opunna Warek, Semoga
tetap semangat kehiyanganmu. Dinda Sawerigading,ada surat emas
datang semalam diantar oleh angin. Rupanya ada tambatan hatimu
di tempat ini. Kubaca surat itu, berderai air mataku karena aku
mengenang waktu kita masih remaja di Luwu, berjaga-jaga di luar
kelambumu.

SAWERIGADING :

Kuur jiwamu kanda Palennareng, Semoga tetap semangat
Kehiyanganmu. Diamlah kanda Palennareng, memang Senngeng
Risompa ingin sekali kuperisterikan. Menggelegar cinta di Dalam
hatiku juga tetapi bagiku perjodohan itu sudah ditutup mati
oleh To Palanroé . Bagiku cinta itu hanya bagaikan bunga layu
yang jatuh sudah bersatu dengan tanah.

Sawerigading menatap langit langit bilik peraduan berhayal tentang Sengngeng risompa.

SAWERIGADING :

Kuur jiwa datu itu. Mungkin akan terbuka perjodohannya
juga. Mungkin ada Sawérigading lain akan berjodohan
dengannya. Sudah dua tiga kali datang suratnya kepadaku
melalui angin. Kutanggalkan pontoh emasku dan cincin buatan
kehiyanganku dari jari manisku, kuberikan angin Untuk
diantarkan kepadanya sebagai penutup malu dan rasa
kecewanya. Supaya mereka tidak merasa kecewa karena telah
kutolak permintaannya,

TO PALENNARENG :

Maaf dinda Sawerigading kalau saya masih penasaran untuk
menanyakan tentang kecantikan We Tenribali.

SAWERIGADING :

ada tiga ratus datu mangkauk hanya dialah yang paling cantik.
Kecantikannya tak manpu dinda melepaskan pandangan
mataku untuk beralih pandangan darinya, tak memuluskan
makanan langgar di kerongkonganku, sayangnya I Wé Cudaiq
sudah merebut perjodohanku

TO PALENNARENG :

Kanda mempertanyakan lagi apakah We Tenribali tidak bisa
meminjamkan lengan tempat berbantalnya I Wé Cudaiq
Datunna Cina, betis tampat belitan betisnya supaya dia bisa
berjodohan dengan Senngeng Risompa itu.

SAWERIGADING :

KandaTo Palennareng agar berbicara Jangan besar suaranya
nanti didengar angin lalu menyampaikannya pada I Wé Cudaiq
di istana Latanété.

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Menjelang tengah hari La Galigo dan rombongannya naik di istana untuk menyirih.La Galigo menjumpai surat emas pada tempat sirih orang tuanya.

I LAGALIGO :

Ternyata tiada akhir-akhirnya gelora cinta itu bagi ayahanda
Sawerigading. Paduka Tuan kita pun yang sudah tua, bukan lagi
remaja sebagai raja muda, masih menggelora asmaranya dan
dapat melanda gelora asmara cinta perempuan yang melihatnya.

PAPARAN ADEGAN 15 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Angin yang diutus oleh Senngeng Risompa sudah sampai di Boting Langiq, menyampaikan kepada Bissu Rilangi We Tenriabéng bahwa dia telah disuruh oleh Senngeng Risompa mengantar surat cinta kepada Sawérigading.Karena Sawérigading tidak mau, maka putuslah harapan gelora cintanya.

WE TENRIABENG

mungkin besok-besok kalau Sengngeng ri Sompa selalu
bertemu dengan Sawerigading, maka Sawérigading akan
terlena juga.

Wé Tenriabéng menyuruh angin itu ke Cina membohongi We Cudaiq Datunna Cina bahwa Sawérigading sudah kawin di Senrijawa. Anginpun melanglang buana menembus angkasa berangkat ke Cina menyampaikan berita kepada I We Cudaiq bahwa mungkin ada mimpinya semalam. Itu berarti berita penyampaian tentang perkawinan Sawérigading di Senrijawa.

WE CUDAIQ :

Kejadian yang demikian itu tidak usah diherankan. Memang
Sawérigading adalah laki-laki yang selalu didambakan oleh
wanita di mana saja dia berada. Bagaikan mau keluar-lepas
biji mata wanita yang melihatnya. Setiap malam semangatnya
datang di pembaringannya dan menyatakan rasa dirinya
bagai makan tidak kenyang, minum tak lepas dahaga tanpa
ada perempuan bersamanya di negeri orang.

PAPARAN ADEGAN 16.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Dengan sembunyi sembunyi ,Tak lepas sudut mata Sawérigading mencuri pandang kepada Senngeng Risompa. Dalam hatinya mengatakan tidak ada bedanya dengan I Wé Cudaiq. Timbul di dalam hatinya untuk kawin sembunyi secara rahasia. Diambilnya selembar sirih lalu meniupnya, maka jadilah daun sirih itu berbicara bak manusia. Disuruh pergi kepada Senngeng Risompa tanpa dapat dilihat dan didengar oleh orang luar.

SAWERIGADING

Adinda Sengngeng ri Sompa ,aku terpana melihat rupamu
yang menawan,rasanya mau jatuh pingsan melihatmu. Saya
ingin dikasihani agar dapat diterima bayanganku untuk masuk
ke dalam bilik adinda Senngeng Risompa, berbaur juga
semangatnya kelak kalau berada dalam kelambumu itu. Kiranya
adinda Senngeng Risompa dapat menumpangkan aku di tempat
tidurmu, meminjam tempat berbaring di bawah bulan puranama yang
menaunginya, dijadikan tamu mulia dalam bilik, saling mengangkat di
dalam sarung, satu semangat dan jiwa berdua.

SENGNGENG RISOMPA

bukan begitu yang dinda harapkan. Dinda berkeinginan
dilamar dengan baik secara terhormat di kerajaanku. Mohon
maaf sebesar-besarnya kalau hal itu tidak diiakan.

PAPARAN ADEGAN 17.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

Daun sirih kembali kepada Sawérigading menyampaikan apa jawaban Senngeng Risompa itu kepadanya. Tertawa saja Sawérigading mendengarnya. Berdiri Sawérigading sambil meninggalkan bayangannya, sedang badannya berjalan tanpa dilihat orang lain pergi duduk di hadapan Daéng Risompa.Sawérigading memijit jari Senngeng Risompa waktu disuguhi sirih, sampai kelihatan pucat marah wajahnya. Sawérigading sudah mengetahui ketidak mauan Senngeng Risompa, karena semua wanita yang dipijit jarinya biasanya tertawa, kecuali dia.

SAWERIGADING :

Saya minta dikasihani utamanya semngat kehiyanganku
tercederai. Saya cuma menginginkan naungan kelambu.
Jiwaku sudah tergiur atas keelokan paras dinda
Senngeng Risompa.

SENGNGENG RISOMPA :

kiranya jangan terkejut hati orang besar junjunganku, tak
diperbuat yang demikian, tak tertanam di dalam hati berkasih-
kasihan secara sembunyi.Yang diinginkan olehku adalah saling
berjodohan disaksikan oleh semua orang banyak. Sayapun
tidak menyembunyikan keinginan untuk berjodohan karena
kegagahan Sawérigading yang diidamkan, ketampanannya
melenakan mataku, saya ingin membanggakan diri kalau
dapat berjodohan dengan opu penyabung yang bagaikan sinar
matahari cerah kulitnya. Oleh karena kakanda Sawérigading
tidak mau membagi cintanya dengan I Wé Cudaiq maka sayapun
menyabarkan hati.

(closing dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo )

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: