Part 1.Buku 1 Serial Makassar Tidak Rantasa. MENGELOLA SAMPAH RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN. Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

1. Mengenali Sampah di Perkotaan.
Sampah di perkotaan tanpa pengelolaan yang baik akan menimbulkan dampak bagi kualitas kehidupan warganya. Jumlah sampah semakin meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk dengan beragam aktivitasnya. Peningkatan jumlah penduduk kota mengakibatkan peningkatan jumlah produksi dan ragam sampah. Semakin beragam aktivitas warga kota, mengakibatkan semakin beragam pula jenis sampah yang dihasilkan. Karenanya, sampah harus dikelola dan dipandang sebagai sumber daya. Dengan demikian maka kebiasaan membuang sampah harus diubah menjadi mengola sampah.
Didalam UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang ke lingkungan. Sampah adalah sesuatu yang tidak dikehendaki lagi oleh yang si empunya.
Menurut WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Banyak sampah organik masih mungkin digunakan kembali/pendaur ulangan (re-using), walaupun akhirnya akan tetap merupakan bahan/ material yang tidak dapat digunakan kembali.
Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembuatan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan.
Sampah dalam ilmu kesehatan lingkungan sebenarnya hanya sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup. Dari segi ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sampah ialah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi yang bukan biologis (karena human waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya bersifat padat (karena air bekas tidak termasuk didalamnya).
Berdasarkan pengertian tersebut diatas, maka dapat dipahami sampah adalah: Sampah yang dapat membusuk (garbage), menghendaki penanganan dan pengelolaan yang cepat. Gas-gas yang dihasilkan dari pembusukan sampah berupa gas metan dan H2S, bersifat racun bagi tubuh manusia dan mahluk hidup lainnya. Sampah yang tidak dapat membusuk (refuse), terdiri dari sampah plastik, logam, gelas karet dan lain-lain. Sampah berupa debu/abu sisa hasil pembakaran bahan bakar atau sampah. Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, yakni sampah B3 adalah sampah karena sifatnya, jumlahnya, konsentrasinya atau karena sifat kimia, fisika dan mikrobiologinya dapat meningkatkan mortalitas dan mobilitas secara bermakna atau menyebabkan penyakit reversible atau berpotensi irreversible atau sakit berat yang sulit pulih, apabila tidak diolah dengan baik akan menimbulkan bahaya dimasa kini maupun yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan.
2.Dampak Negatif Sampah
Sampah padat yang bertumpuk dan tidak dapat teruraikan dalam waktu yang lama akan mencemarkan tanah. Yang dikategorikan sampah dalam pengertian ini adalah bahan yang tidak dipakai lagi (re-use) karena telah diambil bagian-bagian utamanya dengan pengolahan menjadi bagian yang tidak disukai dan secara ekonomi tidak ada harganya.
Ada tiga dampak sampah terhadap manusia dan lingkungan yaitu :
a.Dampak Terhadap Kesehatan

Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi kehidupan beberapa organisme dan menarik bagi berbagai jenis binatang seperti, lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit.
Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah;
-Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat, bercampur air minum.
– Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang baik.
-Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit)
-Penyakit dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu 
contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk kedalam pencernaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/ sampah.

b.Dampak Terhadap Lingkungan

Rembesan cairan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesiesnya akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang di buang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini pada konsentrasi tinggi dapat meledak.
c.Dampak Terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi

Dampak-dampak terhadap keadaan sosial dan ekonomi tersebut adalah sebagai berikut :

– Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah meningkatnya beban pembiayaan bagi warga yang sakit ketika pasien berobat atau dirawat di rumah sakit.
-Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air menjadi air bersih. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan kotor atau rusak hingga perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.
3. Sumber Sumber Timbulan Sampah.
Diketahui bahwa sumber-sumber timbulan sampah berasal dari :
a.Sampah warga kota/ penduduk
pada suatu pemukiman adalah sampah yang dihasilkan oleh suatu keluarga yang tinggal disuatu bangunan/rumah atau asrama. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya cendrung jenis organik, seperti sisa makanan atau sampah yang bersifat basah, kering, abu plastik dan lainnya.
b.Sampah dari tempat – tempat umum dan perdagangan.
Tempat- tempat umum adalah tempat orang banyak berkumpul ketika melakukan kegiatan. Tempat – tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup besar dalam memproduksi sampah. Di tempat perdagangan seperti pertokoan dan pasar jenis sampah yang dihasilkan umumnya berupa sisa – sisa makanan, sampah kering, abu, plastik, kertas, dan kaleng- kaleng serta sampah lainnya.
c.Sampah dari sarana pelayanan masyarakat milik pemerintah
Yang dimaksud di sini misalnya tempat hiburan umum, pantai, masjid, rumah sakit, bioskop, perkantoran, dan sarana pemerintah lainnya yang menghasilkan sampah kering dan sampah basah.
d.Sampah dari industri
Dalam pengertian ini termasuk pabrik – pabrik sumber alam perusahaan pengolahan kayu dan lain – lain, kegiatan industri, baik yang termasuk distribusi ataupun proses suatu bahan mentah. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering abu, sisa – sisa makanan, sisa bahan bangunan
e.Sampah Pertanian adalah sampah sortiran atau buangan sisa hasil dari tanaman atau binatang daerah pertanian di wilayah urban, misalnya sampah dari kebun, kandang, ladang atau sawah. Sampah yang dihasilkan berupa bahan makanan pupuk maupun bahan pembasmi serangga tanaman dan lainya.
Berbagai macam sampah yang telah disebutkan diatas tadi hanyalah sebagian kecil saja dari sumber- sumber sampah yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari – hari di perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia perkotaan tidak akan pernah lepas dari persoalan sampah.
4 Jenis jenis sampah.
Jenis sampah yang ada di sekitar warga perkotaan cukup beraneka ragam, ada yang berupa sampah rumah tangga, rumah sakit, sampah pasar, sampah industri, institusi/kantor/sekolah, dan sebagainya.
Berdasarkan asalnya, sampah padat dapat digolongkan menjadi dua yaitu sebagai berikut :

a.Sampah Organik
Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan – bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan melalui proses alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik misalnya sampah dari dapur, sisa -sisa makanan, pembungkus (selain kertas, karet dan plastik), tepung , sayuran, kulit buah, daun dan ranting.
b.Sampah Anorganik
Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan non- hayati, baik berupa produk sintetik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik dibedakan menjadi : sampah logam dan produk – produk olahannya, sampah plastik, sampah kertas, sampah kaca dan keramik, sampah detergen. Sebagian besar anorganik tidak dapat diurai oleh alam/mikroorganisme secara keseluruhan (unbiodegradable). Sementara, sebagian lainnya hanya dapat diuraikan tetapi dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya botol plastik, botol gelas, tas plastik, kaleng, sisa kosmetik dan lainnya.
Berdasarkan keadaan fisiknya sampah dikelompokkan atas :
a.Sampah basah (garbage) Sampah golongan ini merupakan sisa – sisa pengolahan atau sisa sisa makanan dari rumah tangga seperti nasi, sayur mayur, lauk pak yang mempunyai sifat mudah membusuk. Karena sifat umumnya adalah mengandung air maka akan cepat membusuk sehingga mudah menimbulkan bau tak sedap.
Sampah kering (rubbish)
Sampah golongan ini memang diklompokkan menjadi dua jenis :
•Golongan sampah tak lapuk. Sampah jenis ini benar-benar tak akan bisa 
lapuk secara alami, sekalipun telah memakan waktu bertahun – tahun, contohnya kaca dan mika.
•Golongan sampah tak mudah lapuk. Sekalipun sulit lapuk, sampah jenis 
ini akan bisa lapuk perlahan – lahan secara alami.
Sampah jenis ini masih bisa dipisahkan lagi atas sampah yang mudah terbakar, contohnya seperti kertas dan kayu, dan sampah tak mudah lapuk yang tidak bisa terbakar, seperti kaleng, paku dan kawat.
5.Pengelolaan sampah.
Pengelolaan sampah terdiri dari beberapa proses yang biasanya dimulai dari proses pewadahan sampah, pengumpulan sampah, pemindahan dan pengangkutan sampah, pengolahan atau pemrosesan sampah (bisa dengan daur ulang sampah yang dapat di daur ulang) hingga akhirnya pada tahapan pembuangan akhir sampah. Istilah pengelolaan sampah pada dasarnya dimaksudkan terhadap sampah yang dikelola yang berguna agar dapat mengurangi dampak negatifnya terhadap lingkungan sekitar, kesehatan, estetika lingkungan serta memberikan kenyamanan.
Pengelolaan sampah dapat juga berguna untuk memperbaiki kondisi lingkungan perkotaan dan sumber daya alam lainnya yang biasanya dapat mengalami kerusakan karena banyaknya sampah. Untuk proses pengelolaan sampah terhadap masing-masing jenis zat (cair, padat dan gas maupun radioaktif) biasanya berbeda-beda tergantung dari setiap wujud zat tersebut. Pengelolaan sampah juga dapat dibedakan antara pengelolaan sampah di perkotaan dan pengelolaan sampah di daerah pedesaan, berbeda juga pengelolaan sampah di suatu negara yang sudah sangat maju dengan negara berkembang atau negara tertinggal, serta juga berbeda antara sampah pada kawasan industri dengan rumah sakit, atau dengan permukiman. Sampah – sampah berbahaya biasanya berasal dari kawasan industri atau rumah sakit yang di kelola oleh industri atau rumah sakit tersebut, sedangkan untuk kawasan permukiman biasanya dikelola oleh pemerintah atau warga setempat.
Dari kegiatan pengelolaan sampah perkotaan tersebut, sebenarnya memiliki tujuan khusus yaitu agar membuat sampah yang ada dapat memiliki nilai ekonomis serta menjadi suatu benda yang tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Sedangkan untuk metode pengelolaan sampah sendiri biasanya tergantung dari beberapa faktor yaitu luasan lahan, jenis tanah yang ada, jenis zat dari sampah yang akan dikelola tersebut serta beberapa faktor lainnya.
6 Metode Pengelolaan Sampah.
Metode-Metode yang biasanya sering digunakan dalam pengelolaan sampah yaitu sebagai berikut :
a.Pembuangan terbuka (Open Dumping)
Diantara beberapa cara pengelolaan sampah yang akan dipaparkan, metode pembuangan terbuka merupakan pengelolaan sampah yang paling sederhana yaitu dengan cara mengumpulkan sampah yang ada pada suatu tempat yang telah disiapkan sebelumnya. Kelebihan serta kekurangan dari cara pengelolaan sampah dengan cara pembuangan terbuka ini adalah:
•Kelebihan
-Investasi awal serta biaya operasional yang relatif rendah;
-Tidak membutuhkan peranan teknologi yang tinggi;
-Dapat menampung berapa pun sampah yang ada tergantung dari luasan lahan;
-Tidak perlu mengumpulkan secara terpisah;
-Tempat pembuangan sampahnya masih dapat digunakan untuk kepentingan lainnya misalnya lapangan, tempat parkir dan sebagainya.
•Kekurangan
-Menimbulkan pencemaran lingkungan yang cukup besar;
-Pilihan lokasi pembuangannya harus jauh dari kawasan permukiman serta kegiatan-kegiatan perkotaan lainnya yang berakibat tingginya biaya transportasi yang perlu dikeluarkan;
-Kebutuhan akan lahan cukup besar;
-Lokasi pembuangan sampah yang digunakan dimanfaatkan lebih lama disebabkan sampah yang ada tidak dipadatkan terlebih dahulu.
b.Penimbunan saniter (Sanitary Landfill)
Berbeda dengan pembuangan terbuka, cara pengelolaan sampah penimbunan saniter lebih sedikit mengakibatkan tercemarnya lingkungan dikarenakan sampah yang ada, dipadatkan terlebih dahulu sebelum ditimbun dengan tanah. Kelebihan dan kekurangan pengelolaan sampah dengan cara penimbunan saniter adalah:
•Kelebihan
-Tidak membutuhkan teknologi tinggi;
-Investasi awal serta biaya operasional yang relatif rendah;
•Kekurangan
-Pilihan lokasi pembuangannya harus jauh dari kawasan permukiman serta kegiatan-kegiatan warga perkotaan lainnya yang berakibat tingginya biaya transportasi yang perlu dikeluarkan;
-Seperti pembuangan terbuka, pengelolaan dengan cara ini juga memerlukan lahan yang luas;
-Pencemaran terhadap air tanah jauh lebih besar dibandingkan dengan pembuangan terbuka, oleh karena itu pemilihan lokasi sedapat mungkin yang jauh dari kemungkinan mencemari air tanah;
Dalam Pengelolaan sampah , pengolahan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan dua tujuan:
1.Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis
2.Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan hidup
Dalam pengelolaan sampah , Beberapa metoda pengolahan sampah yang ditawarkan sebagai berikut :
c.Metode daur ulang,
metode daur ulang adalah proses pengambilan barang yang masih memiliki nilai dari sampah untuk digunakan kembali disebut sebagai daur ulang. Ada beberapa cara daur ulang, pertama adalah mengambil bahan sampah untuk diproses lagi atau mengambil kalori dari bahan yang bisa dibakar untuk membangkitkan listik. Metode metode baru dari daur ulang terus ditemukan dan akan dijelaskan selanjutnya.
d.Pengolahan kembali secara fisik
Metode ini adalah aktivitas paling populer dari daur ulang , yaitu mengumpulkan dan menggunakan kembali sampah yang tealh dibuang, contohnya botol bekas pakai yang dikumpulkan kembali untuk digunakan kembali. Pengumpulan bisa dilakukan dari sampah yang sudah dipisahkan dari awal (kotak sampah/kendaraan sampah khusus), atau dari sampah yang sudah tercampur.
Sampah jenis ini yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum aluminum , kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET , botol kaca , kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa di daur ulang. Daur ulang dari produk seperti komputer atau mobil lebih susah, karena terlebih dulu bagian bagiannya harus diurai dan dikelompokan menurut jenis bahannya.
e.Pengolahan biologis
Material sampah organik, seperti zat tanaman, sisa makanan atau kertas, bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan istilah pengkomposan. Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagi pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.
Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program ( program tong hijau) di Toronto, Kanada, dimana sampah organik rumah tangga , seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk dibuat kompos.
f. Pemulihan energi
Kandungan energi yang terkandung dalam sampah dapat diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menjadi bahan bakar tipe lain. Ini adalah salah satu metude memanfaatkan sampah dalam pemulihan energi. Daur ulang melalui cara ‘perlakuan panas’ bervariasi mulai dari menggunakannya sebagai bahan bakar memasak atau memanaskan sampai menggunakannya untuk memanaskan boiler untuk menghasilkan uap dan listrik dari turbin-generator. Pirolisa dan gasifikasi adalah dua bentuk perlakukan panas yang berhubungan, dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada tekanan tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat, gas, dan cair. Produk cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi dan Gasifikasi busur plasma yang canggih digunakan.
g.Penimbunan darat
Penimbunan darat adalah cara pembuangan sampah dengan cara penimbunan darat atau menguburnya. Metode ini adalah metode paling populer di dunia. Penimbunan ini biasanya dilakukan di tanah yg ditinggalkan, ditelantarkan, atau lubang bekas pertambangan, atau lubang lubang/ ceruk yang dalam. Sebuah situs penimbunan darat yg di desain dan di kelola dengan baik akan menjadi tempat penimbunan sampah yang hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yg tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan, diantaranya angin berbau busuk sampah, akan menarik berkumpulnya hama dan terjadinya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang sangat berbahaya. (peristiwa demikian pernah terjadi di Bandung akibat kandungan gas methan di TPA tiba-tiba meledak dan melongsorkan gunung sampah di tempat itu)
Karakter desain dari penimbunan darat yang modern diantaranya adalah metode pengumpulan air sampah dengan menggunakan bahan tanah liat atau pelapis plastik. Sampah biasanya dipadatkan, untuk menambah kepadatan dan kestabilannya lalu ditutup untuk tidak menarik hama (biasanya tikus). Banyaknya penimbunan sampah mempunyai sistem pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pembakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik yang bermanfaat bagi warga perkotaan.
h.Pembakaran/pengkremasian
Pembakaran sampah atau pengkremasian sampah memanfaatkan temperatur tinggi bisa disebut “Perlakuan panas”. Kremasi mengubah sampah menjadi panas, gas, uap dan abu. Pengkremasian dilakukan oleh perorangan atau oleh industri untuk skala besar. Hal ini bisa dilakukan untuk sampah padat , cair maupun gas. Pengkremasian dikenal sebagai cara praktis untuk membuang beberapa jenis sampah berbahaya, contohnya sampah medis (sampah biologis). Pengkremasian adalah metode yang kontroversial karena dampaknya menghasilkan polusi udara.
Pengkremasian dilakukan di negara seperti Jepang karena lahan yang begitu terbatas. Metode ini tidak membutuhkan lahan seluas penimbunan darat. Sampah diubah menjadi energi (Waste-to-energy=WtE) atau energi dari sampah (Energy-from-Waste = EfW) adalah terminologi untuk menjelaskan sampah yang dibakar dalam tungku dan boiler guna menghasilkan panas/uap/listrik. Pembakaran pada alat kremasi tidaklah selalu sempurna, bahkan sering ada keluhan adanya polusi mikro dari emisi gas yang keluar cerobongnya. Perhatian lebih diarahkan pada zat dioxin yang kemungkinan dihasilkan didalam pembakaran dan mencemari lingkungan sekitar pembakaran. Dilain pihak, pengkremasian seperti ini dianggap positif karena menghasilkan listrik , contoh penerapannya di Indonesia adalah rencana PLTSa Gede Bage di sekitar kota Bandung.
i. Metode penghindaran dan pengurangan
Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah perkotaan adalah pencegahan zat sampah terbentuk, atau dikenal juga dengan “pengurangan sampah”. Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai , memperbaiki barang yang rusak, mendesain produk secara kreativ supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik ), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue), dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman).
j. Pembuatan kompos (Composting)
Pembuatan kompos dapat dikatakan juga dengan “daur ulang”, akan tetapi penggunaannya sudah berubah dari kebutuhan sebelumnya menjadi pupuk untuk tanaman. Kelebihan dan kekurangan pengelolaan sampah dengan cara pembuatan kompos adalah sebagai berikut :
•Kelebihan
-Penggunaan lahan yang jauh lebih sempit dibandingkan dengan 2 metode diatas;
-Setelah selesai dikelola, hasilnya dapat digunakan untuk memupuki tanaman;
-Cara yang relatif murah untuk jumlah sampah yang besar akan tetapi dengan fluktuasi sampah yang kecil
•Kekurangan
-Memerlukan biaya investasi awal yang jauh lebih besar dibandingkan dengan dua metode sebelumnya;
-Memerlukan biaya operasional yang relatif tinggi, dan juga dapat menjadi lebih tinggi lagi apabila sampah yang diolah kapasitasnya lebih kecil dari kapasitas instalasi pembuatan kompos;
-Bahan yang tidak dapat diolah menjadi pupuk kompos, terpaksa harus menjadi sampah lagi;
-Dari poin ke-3 dapat disimpulkan bahwa tidak semua jenis sampah dapat dikelola;
-Untuk kebutuhan jangka panjang, cara ini sangat tidak efektif karena pada masa yang akan datang, jumlah sampah yang tidak dapat diolah menjadi pupuk kompos menjadi lebih besar;
k.Pemanfaatan ulang atau daur ulang (Recycling)
Cara ini digunakan agar membuat sampah yang ada menjadi memiliki nilai ekonomis setelah dikelola. Sampah yang biasanya dikelola dengan cara daur ulang adalah sampah-sampah anorganik. Kelebihan dan kekurangan pengelolaan sampah dengan cara daur ulang adalah sebagai berikut :
•Kelebihan
-Tidak membutuhkan lahan yang besar;
-Bahan yang telah didaur ulang dapat digunakan lagi;
-Metode ini memberikan kesempatan kerja bagi para pemulung.
•Kekurangan
-Memerlukan biaya investasi yang besar serta biaya operasional yang juga lumayan tinggi;
-Pasokan sampah harus memiliki jumlah yang besar dan selalu konstan;
-Tidak semua jenis sampah dapat di daur ulang;
-Sampah yang tidak dapat didaur ulang terpaksa tetap menjadi sampah dan harus dikelola dengan cara yang lainnya atau dibuang;
-Tidak cocok untuk kebutuhan jangka panjang, karena jumlah sampah yang tidak dapat didaur ulang akan bertambah banyak.
Dari beberapa cara pengelolaan sampah tersebut, perlu dipikirkan secara matang kelebihan dan kekurangannya sebelum diaplikasikan ke dalam setiap kegiatan pengelolaan sampah di perkotaan, karena setiap cara pengelolaan sampah tergantung dari beberapa faktor yang dipertimbangkan, entah itu dari sisi biaya, ketersediaan lahan dan sebagainya.
7. Faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Sampah.
Dalam pengelolaan sampah, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengelolaan sampah tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :
-Distribusi serta kepadatan penduduk;
-Rencana penggunaan lahan (land use);
-Kebiasaan masyarakat setempat ( behavior );
-Karakteristik lingkungan fisik, sosial serta ekonomi;
-Karakteristik dari sampah tersebut;
-Kebijakan atau peraturan dari wilayah setempat;
-Ketersediaan sarana seperti sarana pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan maupun sarana pembuangan;
-Lokasi tempat pembuangan akhir;
-Ketersediaan dana;
-Klimatologi.
8.Perencanaan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat.
Dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan, peran serta masyarakat adalah melibatkan masyarakat dalam tindak-tindak administrator yang mempunyai pengaruh langsung terhadap mereka. Peran serta masyarakat sangat erat kaitannya dengan kekuatan atau hak masyarakat, terutama dalam pengambilan keputusan dalam tahap identifikasi masalah, mencari pemecahan masalah sampai dengan pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat diartikan sebagai keikutsertaan, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah baik langsung maupun tidak langsung.

Pengumpulan dan pengangkutan sampah tidak dapat berjalan dengan baik, jika tidak adanya partisipasi masyarakat, sebagaimana yang dilakukan di kota-kota di Indonesia, masyarakat dilibatkan dalam pengumpulan sampah. Sedangkan peran serta masyarakat adalah sistem pengumpulan sampah atas kesadaran masyarakat sendiri untuk membawa sampahnya ke TPS (Tempat Penampungan Sementara) terdekat. Organisaai terasteral (rukun tetangga dan rukun warga) merupakan organisasi penting yang mengkoordinir pengumpulan sampah di permukiman-permukiman yang tidak memiliki akses ke jalan utama. Berdasarkan hal tersebut, sistem pengumpulan sampah khususnya sampah rumah tangga yang saat ini dilakukan didasarkan pada kondisi dan kultur masyarakat. Salah satu pendekatan kepada masyarakat untuk dapat membantu program pemerintah dalam penanganan kebersihan adalah bagaimana membiasakan masyarakat kepada tingkah laku yang sesuai dengan tujuan program tersebut, yang menyangkut:
-Bagaimana mengubah persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib, lancar, dan merata.
-Faktor-faktor sosial, struktur, dan budaya setempat.
-Kebiasaan dalam pengelolaan sampah selama ini.

Tanpa adanya partisipasi masyarakat, semua program pengelolaan sampah (kebersihan) yang direncanakan akan sia-sia. Partisipasi masyarakat akan membangkitkan semangat kemandirian dan kerjasama diantara masyarakat akan meningkatkan swadaya masyarakat.
Perencanaan merupakan suatu proses yang mempersiapkan seperangkat keputusan untuk melakukan tindakan dimasa depan. Tahap perencanaan merupakan tahapan awal dalam proses pelaksanaan program pembangunan pengelolaan sampah. Hal ini dimaksudkan bahwa perencanaan akan memberikan arah, langkah atau pedoman dalam proses pembangunan dimaksud. Pada tahapan ini akan ditelusuri aktivitas atau kegiatan yang dilakukan masyarakat, dimulai dari keterlibatan mereka dalam menyusun rencana program yang diaktualisasikan melalui keaktifannya pada setiap rapat dan inisiatif diadakannya rapat, dan keterlibatan dalam memberikan pendapat, tanggapan masyarakat serta pengembangan terhadap upaya pengelolaan sampah, sampai dengan keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan terhadap program yang direncanakan.
Menurut Alexander Abe, tahapan perencanaan yang harus dilalui yaitu :
-Tahap pembuatan kesepakatan awal, dimaksudkan untuk menetapkan wilayah dari perencanaan, termasuk prosedur teknis yang akan diambil dalam proses perencanaan.
-Perumusan masalah adalah tahap lanjut dari hasil penyelidikan. Data atau informasi yang dikumpulkan di olah sedemkian rupa sehingga diperoleh gambaran yang lebih lengkap, utuh dan mendalam.
-Identifikasi daya dukung yang dimaksud dalam hal ini, daya dukung tidak harus segera diartikan dengan dana kongkrit (money,atau uang), melainkan keseluruhan aspek yang bisa memungkinkan terselenggaranya aktivitas dalam mencapai tujuan dan target yang telah ditetapkan. Daya dukung akan sangat tergantung pada persoalan yang dihadapi, tujuan yang hendak dicapai, aktivitas yang akan datang. Pengelolaan sampah tentu tidak saja dapat di topang dengan gerakan yang hanya ditanamkan pada masyarakat. Hal tersebut di tanamkan pada pemerintah, yang juga bertanggung jawab terhadap persoalan pengolahan sampah ini.
Secara umum, pelaksanaan pekerjaan berdasarkan perencanaan teknis pengelolaan sampah terpadu 3R(reuse, reduce, recycle) yaitu kegiatan penggunaan kembali sampah secara langsung, mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah, memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses pengolahan, maka 5 tahap pelaksanaan pekerjaaan, yaitu : tahap persiapan, tahap pemilihan lokasi, tahap pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat, tahap uji coba pelaksanaan pengelolaan sampah 3R (Reuse, Reduce, Recycle).
Tahap persiapan pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat adalah melakukan persiapan dengan melakukan tindakan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap konsep dasar program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, terutama teknologi komposting di tingkat masyarakat.
Tahap pemilihan lokasi disini merupakan awal dimulainya tahap pengumpulan data calon lokasi yang akan dipilih untuk melaksanakan program pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat.
Tahap perencanaan teknis adalah tahap penyusunan rencana kerja serta melakukan pengadaan peralatan pengelolaan sampah. Peralatan prasarana dan sarana persampahan 3R (reuse,reduce,recycle) yang meliputi penentuan jenis dan jumlah peralatan, baik untuk pemilahan jenis sampah, pewadahan dan pengangkutan dan alat pengolahan sampah untuk menjadi kompos, termasuk mengidentifikasi kebutuhan tempat untuk pengolahan sampah terpadu TPS.
Pengorganisasian tentang pemberdayaan masyarakat dan stakeholder menjadi fasilitator terhadap kegiatan ditingkat komunitas / masyarakat di kawasan lokasi perencanaan. Tahap ini dibagi menjadi 4 kegiatan: melakukan identifikasi lokasi , melakukan sosialisasi pada masyarakat dengan cara memperkenalkan program pengelolaan sampah, pembentukan organisasi, melakukan pelatihan pengelolaan sampah terpadu.
Kegiatan Penyusunan Program Sampah 3R (reuse, reduce, recycle) adalah proses penyusunan rencana pengelolaan sampah terpadu berbasis masyarakat dengan pola 3R adalah: membuat identifikasi permasalahan dan menentukan rumusan permasalahan serta menentukan kebutuhan yang dilakukan dengan metode penyerapan aspirasi masyarakat dan melakukan survei kampung/pemukiman sendiri dan menyusun analisis permasalahan untuk menentukan skala perioritas kebutuhan serta menentukan potensi sumber daya setempat.
Kegiatan menyusun indentifikasi kebutuhan peralatan prasarana dan sarana persampahan 3R (reuse, reduce, recycle) yaitu menentukan jenis dan jumlah peralatan yang dibutuhkan dalam pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat, pewadahan, pengangkutan dan alat pengolahan sampah untuk menjadi kompos.
9.Aspek Pengelolaan Sampah.
Sistem Pengelolaan sampah adalah proses yang meliputi lima aspek, yaitu :
a.Aspek teknis operasional
Aspek teknis operasional pengelolaan sampah meliputi kegiatan-kegiatan pewadahan sampah, pengumpulan dan pengangkutan sampah, pengangkutan sampah, pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir. Keterkaitan antar sub sistim dalam pengelolaan sampah .Tata cara pengelolaan sampah bersifat integral dan terpadu secara berantai dengan urutan yang berkesinambungan yaitu : penampungan/pewadahan,pengumpulan,pemindahan,pengangkutan, pembuangan/ pengolahan.
b.Penampungan sampah dan pewadahan
Proses awal dalam penampungan sampah terkait langsung dengan sumber sampah adalah penampungan. Penampungan sampah adalah suatu cara penampungan sebelum dikumpulkan, dipindahkan, diangkut dan dibuang ke TPA. Tujuannya adalah menghindari agar sampah tidak berserakan sehingga tidak mengganggu lingkungan (SNI 19-2454-2002). Bahan wadah yang dipersyaratkan sesuai Standart Nasional Indonesia adalah tidak mudah rusak, ekonomis, mudah diperoleh dan dibuat oleh masyarakat dan mudah dikosongkan, persyaratan bahan wadah adalah awet dan tahan air, mudah diperbaiki, ringan dan mudah diangkat serta ekonomis, mudah diperoleh atau dibuat oleh masyarakat.
c.Pengumpulan sampah
Pengumpulan sampah yaitu cara atau proses pengambilan sampah mulai dari tempat penampungan / pewadahan sampai ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara). Pola pengumpulan sampah pada dasarnya dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu
Pola individual dan pola komunal (SNI 19-2454-2002) sebagai berikut;
-Pola Individual adalah
proses pengumpulan sampah dimulai dari sumber sampah kemudian diangkut ketempat pembuangan sementara/ TPS sebelum dibuang ke TPA.
-Pola Komunal
adalah pengumpulan sampah dilakukan oleh penghasil sampah ketempat penampungan sampah komunal yang telah disediakan/ ke truk sampah yang menangani titik pengumpulan kemudian diangkut ke TPA tanpa proses pemindahan.
d.Pemindahan sampah
Proses pemindahan sampah adalah memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkutan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tempat yang digunakan untuk pemindahan sampah adalah depo pemindahan sampah yang dilengkapi dengan container pengangkut (SNI 19-2454- 2002).
e.Pengangkutan sampah
Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan di tempat penampungan sementara atau dari tempat sumber sampah ke tempat pembuangan akhir. Berhasil tidaknya penanganan sampah juga tergantung pada sistem pengangkutan yang diterapkan. Pengangkutan sampah yang ideal adalah dengan truck container tertentu yang dilengkapi alat pengepres (SNI 19-2454-2002)

f.Pembuangan akhir sampah
Tempat pembuangan sampah akhir (TPA) adalah sarana fisik untuk berlangsungnya kegiatan pembuangan akhir sampah. Tempat menyingkirkan sampah kota sehingga aman (SK SNI T-11-1991-03).
Pembuangan akhir merupakan tempat yang disediakan untuk membuang sampah dari semua hasil pengangkutan sampah untuk diolah lebih lanjut. Prinsip pembuangan akhir adalah memusnahkan sampah domestik di suatu lokasi pembuangan akhir. Jadi tempat pembuangan akhir merupakan tempat pengolahan sampah.

Menurut SNI 19-2454-2002 tentang teknik operasional pengelolaan sampah perkotaan, secara umum teknologi pengolahan sampah dibedakan menjadi 3 (tiga) metode yaitu : Open Dumping, Sanitary Landfill, Controlled Landfill.
Open Dumping
Metode open dumping ini merupakan sistem pengolahan sampah dengan hanya membuang / menimbun sampah disuatu tempat tanpa ada perlakuan khusus atau sistem pengolahan yang benar, sehingga sistem open dumping menimbulkan gangguan pencemaran lingkungan.

Sanitary Landfill
Metode pembuangan akhir sampah yang dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan, kemudian ditutup dengan tanah sebagai lapisan penutup. Pekerjaan pelapisan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi.
Controlled Landfill 
Metode controlled landfill adalah sistem open dumping yang diperbaiki yang merupakan sistem pengalihan open dumping dan sanitary landfill yaitu dengan penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPA penuh yang di padatkan atau setelah mencapai periode tertentu.

g.Aspek kelembagaan
Aspek kelembagaan merupakan suatu kegiatan yang multi disiplin yang bertumpu pada prinsip teknik dan manajemen yang menyangkut aspek-aspek ekonomi, sosial budaya dan kondisi fisik wilayah dan memperhatikan pihak yang dilayani yaitu masyarakat. Perancangan dan pemilihan organisasi disesuaikan dengan peraturan pemerintah yang membinanya, pola sistem operasional yang ditetapkan, kapasitas kerja sistem dan lingkup tugas pokok dan fungsi yang harus ditangani .
h.Aspek hukum dan peraturan
Hukum dan peraturan didasarkan atas kenyataan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum, dimana sendi-sendi kehidupan bertumpu pada hukum yang berlaku. Manajemen persampahan kota di Indonesia membutuhkan kekuatan dan dasar hukum, seperti dalam pembentukan organisasi, pemungutan retribusi, keterlibatan masyarakat. Dasar hukum pengelolaan kebersihan yang telah disepakati menjabarkan ketentuan tentang :

Pemeliharaan kebersihan.

Kegiatan kebersihan meliputi pemeliharaan kebersihan di jalan umum, saluran umum, tempat umum dan kegiatan lain yang berkaitan dengan kebersihan.

Pengaturan dan penetapan TPS dan TPA.

Pengumpulan dan pengangkutan sampah dari sumber sampah ke 
TPS dan TPA.
Pemusnahan dan pemanfaatan sampah dengan cara-cara yang tidak 
menimbulkan gangguan terhadap lingkungan.
Larangan
-Dilarang membakar sampah dipekarangan/halaman atau tempat- tempat yang dapat menimbulkan bahaya kebakaran atau mengganggu lingkungan.
-Dilarang membuang sampah diluar tempat-tempat yang telah ditentukan/disediakan.
-Dilarang membuang sisa-sisa bangunan dan atau sampah yang berbahaya kedalam tempat sampah.
g.Aspek pembiayaan
Pembiayaan merupakan sumber daya penggerak agar pada roda sistem pengelolaan persampahan tersebut dapat bergerak dengan lancar. Sistem pengolahan persampahan di Indonesia lebih di arahkan kesistem pembiayaan sendiri termasuk membentuk perusahaan daerah. Masalah umum yang sering dijumpai dalam sub sistem pembiayaan adalah retribusi yang terkumpul sangat terbatas dan tidak sebanding dengan biaya operasional, dana pembangunan daerah berdasarkan skala prioritas, kewenangan dan struktur organisasi yang ada tidak berhak mengelola dana sendiri dan penyusunan tarif retribusi tidak didasarkan metode yang benar.
h.Aspek peran serta masyarakat
Peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan kesediaan masyarakat untuk membantu berhasilnya program pengelolaan sampah sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri.
Tanpa adanya peran serta masyarakat semua program pengelolaan persampahan yang direncanakan akan sia-sia. Salah satu pendekatan masyarakat agar dapat membantu program pemerintah dalam keberhasilan adalah membiasakan masyarakat pada tingkah laku yang sesuai dengan program persampahan yaitu mengubah paradigma masyarakat terhadap pengelolaan sampah yang tertib, lancar dan merata, mengubah kebiasaan masyarakat dalam pengelolaan sampah yang kurang baik dan faktor-faktor sosial, struktur dan budaya setempat.
10.Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat
Pasal 16 Undang-undang Lingkungan Hidup No.23 Tahun 1997, menetapkan; tanggung jawab pengelolaan lingkungan ada pada masyarakat sebagai produsen timbulan limbah sejalan dengan hal tersebut, masyarakat sebagai produsen timbulan sampah diharapkan terlibat secara total dalam lima sub sisitem pengelolaan sampah, yang meliputi sub sistem kelembagaan, sub sistem teknis operasional, sub sistem finansial, sub sistem hukum dan peraturan serta sub sistem peran serta masyarakat.
Contoh pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat
Pengelolaan sampah dalam skala rumah tangga berbasis masyarakat di Indonesia, contohnya adalah sebagai berikut :

Pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang ” Sakti ” Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Hal menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini di sebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.
Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam stater kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga.
Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji Takakura dari Jepang. Mr Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistem pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekerja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang ‘memakan’ sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam melaksanakan penelitian, Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Jenis bakteri yang dikembang biakkan oleh Takakura inilah kemudian disematkan sebagai stater kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut ” Takakura Home Method ” yang di lingkungan masyarakat lebih dikenal dengan keranjang sakti Takakura.
Sistem Takakura Home method, Mr. Takakura juga menemukan bentuk-bentuk lain, ada yang berbentuk “ Takakura Susun Method “, atau modifikasi yang berbentuk tas atau container . Penelitian lain yang dilakukan Takakura adalah pengolahan sampah pasar menjadi kompos. Akan tetapi Takakura Home Method adalah sistem pengomposan yang paling dikenal dan paling disukai masyarakat karena kepraktisannya.
Keberhasilan Mr.Takakura menemukan sistem kompos yang praktis tidak saja memberikan sumbangsih bagi teknologi penguraian sampah organik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan sampah berbasis komunitas. Mr. Takakura jauh-jauh datang dari Jepang meneliti dan melakukan pengomposan di Surabaya. Maka pengurangan sampah organik di sumbernya, kini sangat membanggakan Surabaya.
(Sumber : http://www.togarsil aban.com/ 2007/05/09/takakura/ http://olahsampah.multiply.com/journal/item/11/Keranjang_Ajaib_Takaku ra.)
Pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat yang dilakukan di sebuah kawasan di Permata Cimahi telah memakai peralatan yang disebut ”insinerator”. Insinerator adalah alat pembakar sampah yang rendah kadar polusi asapnya. Masyarakat di area ini mengelola sampahnya dengan bantuan insinerator. Warga tak lagi terbebani biaya angkot sampah atau mencium bau busuk dan menyaksikan gunungan sampah. Tiap warga tinggal menyimpan sampah yang dikemas kantong plastik di depan pagar rumah. Petugas sampah akan mengangkutnya dengan grobak, lantas mengirimkannya ke tempat pembuangan yang telah ditentukan. Di tempat pembuangan, seorang petugas akan memasukkannya ke bak insinerator. Sampah itu dibakar. Sampah pun tak mengusik ketenangan dan kenyamanan hidup warga.
Penyelesaian sampah seperti itu memerlukan managemen pengolahan sampah yang tepat. Sampah bukan merupakan persoalan pemerintah semata, tetapi menjadi masalah kita semua. Untuk itu perlu kesadaran dan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.( sumber : http://www.pusdakota.org ). Jenisnya, sampah organik dan anorganik. Selain itu, sampah yang hendak dibuang dikemas rapi dalam kantong khusus ( bioplastic) atau kantong plastik biasa.
Di beberapa taman lingkungan , pemisahan sampah dapat dilakukan dengan menyediakan dua tempat sampah kering dan basah sekaligus. Namun sayang, di Indonesia hal ini belum bisa diterapkan secara merata disetiap wilayah. Kurangnya partisipasi pihak terkait, rendahnya tingkat ekonomi, dan ketidak pedulian masyarakat menjadi faktor penghambat utama. Berbeda dengan negara maju, seperti jepang, yang telah mengelola sampah dengan baik, bahkan memilahnya hingga beberapa jenis.
Sebelum diangkut , sampah ditampung sementara dalam wadah. Tahap ini disebut tahap penampungan sampah. Di masyarakat model tempat sampah sebagai tempat penampungan ada yang dibuat secara permanen atau fleksibel. Tempat sampah permanen berbahan batu bata atau semen membutuhkan biaya dan tempat cukup besar. Untuk membuat satu tempat sampah permanen, minimal dibutuhkan area seluas 1 m2. Agar lebih efesien dan efektif, tempat sampah dapat pula dibuat dengan pemanfaatan barang bekas, seperti karung plastik, drum, kotak kayu, ember, dan wadah tidak terpakai lainnya. Wadah yang digunakan untuk menampung sampah haruslah memiliki kriteria utama yaitu : mudah dibersihkan. tidak mudah rusak ,dapat ditutup rapat, dan ditempatkan di luar rumah. Keempat hal tersebut harus terpenuhi secara baik.
Ketepatan posisi tempat penampungan sampah dalam skala rumah tangga akan turut menjaga kebersihan lingkungan dan hiegienitas penghuni.
Partisipasi memiliki pengertian yaitu keterlibatan masyarakat dalam proses penentuan arah strategi dan kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah, keterlibatan memikul tanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan secara adil dan merata, dan Faktor-faktor yang mempengaruhi peran serta masyarakat terdiri dari 3 hal yaitu :Keadaan sosial masyarakat, Kegiatan program pembangunan dan Keadaan alam sekitar.
11.Pengertian Pengelolaan Sampah Dengan Konsep 3R
Menurut Departemen Pekerjaan, pengertian pengelolaan sampah 3R secara umum adalah upaya pengurangan pembuangan sampah, melalui program menggunakan kembali (Reuse), mengurangi (Reduce), dan mendaur ulang (Recycle).
-Reuse (menggunakan kembali) yaitu penggunaan kembali sampah secara langsung,baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain.
-Reduce (mengurangi) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah.
-Recycle (mendaur ulang) yaitu memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses pengolahan. Mengurangi sampah dari sumber timbulan, di perlukan upaya untuk mengurangi sampah mulai dari hulu sampai hilir, upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi sampah dari sumber sampah ( dari hulu ) adalah menerapkan prinsip 3R .
Tindakan yang bisa dilakukan untuk setiap sumber sampah adalah sebagai berikut:
Rumah Tangga, tindakan yang bisa dilakukan adalah :
-Mengurangi ( Reduce ), melalui tindakan:

a.Menghindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan 
sampah dalam jumlah besar.
b.Menggunakan produk yang bisa di isi ulang, misalnya penggunan lahan 
pencuci yang menggunakan wadah isi ulang.
c.Mengurangi penggunaan bahan sekali pakai, misalnya penggunaan tissu 
dapat dikurangi, menggantinya dengan serbet atau sapu tangan.

Menggunakan Kembali (Reuse), melalui tindakan : 

a.Gunakan kembali wadah/ kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya, misalnya penggunaan botol bekas untuk wadah minyak goreng hasil home industri minyak kelapa atau wadah untuk madu lebah.
b.Gunakan wadah atau kantong yang dapat digunakan berulang ulang misalnya, wadah untuk belanja kebutuhan pokok yang terbuat dari bahan yang tahan lama sehingga dapat digunakan dalam waktu yang lama.

Daur ulang (Recycle), melalui tindakan :
a.Pilih produk atau kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai.
b.Lakukan penggunaan sampah organik menjadi kompos dengan berbagai 
cara yang telah ada atau memanfaatkan sesuai kreaktifitas masing-masing.
c.Lakukan penanganan untuk sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.
Fasilitas Umum ( perkantoran, sekolah )
Mengurangi ( Reduce ) produksi sampah di fasilitas umum; perkantoran, sekolah dengan cara :
a.Penggunaan kedua sisi kertas dan spasi yang tepat untuk penulisan dan 
foto copy,Penggunaan alat tulis yang bisa di isi kembali. Sediakan jaringan informasi dengan komputer ( tanpa kertas );Gunakan produk yang dapat di isi ulang,Hindari bahan yang sekali pakai. Dan Hindari penggunaan bahan dari plastik dalam penjilidan laporan -laporan.
b.Menggunakan kembali ( reuse ), melalui tindakan : Gunakan alat kantor yang bisa digunakan berulang kali.Gunakan alat-alat penyimpanan elektronik yang dapat di apus dan di tulis kembali.

Daerah Komersil
Mengurangi (reduce) sampah di daerah komersil melalui tindakan:
a.Memberikan intensif oleh produsen bagi pembeli yang mengembalikan 
kemasan yang dapat digunakan kembali,Memberikan kemasan/ pembungkus hanya kepada produk yang benar- 
benar memerlukannya.
b.Sediakan produk yang kemasannya tidak menghasilkan sampah dalam 
jumlah besar. Sediakan pembungkus/ kemasan yang mudah terurai.
c.Menggunakan Kembali (reuse)
: Gunakan sampah yang masih dapat di manfaatkan untuk produk lain.,Sediakan perlengkapan untuk pengisian kembali produk umum isi ulang (minyak, minuman).
12.Teknologi Pengomposan
Pengertian pengomposan (Composting) adalah sistem pengolahan sampah organik dengan bantuan mikroorganisme sehingga membentuk pupuk organis (pupuk kompos). Mengolah sampah menjadi kompos (pupuk organik) dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai yang sederhana hingga memerlukan mesin (skala industri atau komersial). Membuat kompos dapat dilakukan dengan metode aerob dan anaerob. Pada pengomposan secara aerob, proses dekomposisi bahan baku menjadi kompos akan berlangsung optimal jika ada oksigen. Sementara pada pengomposan anearob dekomposisi bahan baku menjadi kompos tidak memerlukan oksigen.
Disisi lain pengomposan juga berarti menghasilkan sumber daya baru dari sampah yaitu kompos yang kaya akan unsur hara mikro. Upaya lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah adalah menciptakan metode yang ramah lingkungan dan mudah untuk bisa dilakukan di tingkat kawasan atau rumah tangga, salah satunya adalah dengan membuat kompos di tingkat rumah tangga atau kawasan.
Pengomposan Sampah Skala Rumah Tangga
Program pengomposan skala rumah tangga muncul sebagai akibat tingginya tuntutan untuk menanggulangi problem sampah setiap harinya. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan penanganan sampah skala rumah tangga/ kawasan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengomposan. Hal ini merupakan upaya yang murah dan mudah serta hasilnya bermanfaat.
.
Pengomposan adalah cara yang alamiah mengembalikan material organik ke alam dalam bentuk pengembur tanah atau soil conditioner. Adapun manfaat kompos yang dapat kita manfaatkan adalah :
-Mengembalikan nutrisi ketanah seperti material organik, fosfor, potasium, nitrogen dan mineral.
-Mendukung pengendalian gulma dan pencegahan erosi.
-Meningkatkan daya pegang air dan memperbaiki porositas tanah.
-Meningkatkan kapasitas buffer tanah.
-Menambah unsur hara makro dan mikro tanah.
Dalam proses pengomposan, sampah organik secara alami akan diuraikan oleh berbagai jenis mikroba atau jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain sebagainya. Proses peruraian ini memerlukan kondisi yang optimal seperti kesediaan nutrisi yang memadai, udara yang cukup, kelembaban yang tepat. Makin cepat prosesnya dan makin tinggi pula mutu komposnya.
Di wadah pengomposan atau komposter, mula-mula sejumlah mikroba aerobik (mikroba yang tidak bisa hidup jika tidak ada udara), akan menguraikan senyawa kimia rantai panjang yang dikandungkan sampah, seperti selulosa, karbohidrat, lemak, protein. Menjadi senyawa yang lebih sederhana, gas karbondioksida dan air. Senyawa-senyawa sederhana tersebut merupakan makanan yang berlimpah, mikroba tumbuh dan berkembangbiak secara cepat sehingga jumlahnya berlipatganda.
13.Sosialisasi Penyadaran Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah.
Fenomena persampahan tampaknya bukan hal yang sederhana, karena sepanjang ada kehidupan manusia permasalahan tersebut akan selalu timbul. Walaupun kebijakan persampahan telah tersedia, ditambah dengan bentuk kelembagaannya,tampaknya belum merupakan jaminan mantapnya pengelolaan sampah secara terpadu berkelanjutan, apabila kesadaran masyarakat tidak dibangun. Hal tersebut mengingat bahwa keberhasilan penanganan sampah sangat ditentukan oleh ”niat kesungguhan masyarakat” yang secara sadar peduli untuk menanganinya. Atas dasar itulah pentingnya sosialisasi penyadaran masyarakat baik melalui jalur formal maupun informal yang antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut:
-Penyadaran formal, diberikan kepada generasi muda di sekolah (SD, SLTP, dan SLA) melalui pemantapan kegiatan ”Krida” mingguan.
-Penyadaran informal, diberikan kepada masyarakat dalam kaitannya penanganansampah berbasis kesehatan lingkungan, untuk itu perlunya:
-penyadaran masyarakat, untuk menghargai terhadap alam lingkungannya, agar tidak lagi membuang limbah domestik ke bukan tempatnya, dan masyarakat hendaknya mulai sadar dan berkiprah untuk memilah-milah sampah berdasarkan jenisnya, guna menghindari sumber-sumber penyakit menular, sebagai akibat dari limbah domestik yang cepat membusuk. Pemilihan jenis metodologi yang tepat perlu dipertimbangkan beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut :
-Proses yang digunakan haruslah ramah lingkungan;
-Biaya investasi tidak terlalu tinggi;
-Biaya operasinal dan perawatan pembuatan kompos cukup murah;

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO, SH.SAB.SSN.MS.MH.MM
Sosok multi talenta. Selain sebagai mantan birokrat (plt kadis Tataruang), Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea, Dekan Fakultas Teknik ISTP, Dekan Fakultas Media Rekam IKM, sekarang Rektor Institut Kesenian Makassar, dosen di berbagai perguruan Tinggi di Makassar , seniman dan aktor film, juga salah seorang penulis yang karya-karyanya banyak bertebaran di media massa baik local maupun nasional dan International.Menyelesaikan Sarjana ADM Negara (1982), Sarjana sipil (1990), Sarjana Hukum (2009),Sarjana Administrasi bisnis (2010),sarjana seni film ( 2013) Master Sains di Unhas (1992), Doktor Ilmu-Ilmu Teknik (2004), Magister Hukum (2010) dan magister manajemen (2012) .Mengikuti short course bidang teknik di New Zaeland, Australia, Jepang,thailand,malaysia,China,hongkong,turki, Srilanka dan korea selatan. Sementara di organisasi aktif sebagai Ketua harian PARFI Cabang Sulsel, Ketua BKKI Sulawesi selatan. Ketua LESBUMI dan Ketua ASSEMI.
Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain, Siluet Cinta (puisi), Kota Kekasih (puisi), Bulan di Atas Bara (novel), Antara Bumi dan Langit (novel), Menanti Musim Berganti (novel), buku 42 Kritik Film (kritik film), Arsitektur Tradisional Sulsel Pusaka Warisan Budaya Indonesia,mengolah limbah domestik dengan filter biogeokimia dan ikut dalam antologi Ombak Makassar, Sastra Kepulauan.pintu yang bertemu,baruga ,menepi kesepi puisi,dan nyanyian tiga pengembara , Bugis Dalam peradaban melayu.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: