Part 2.Buku 1 Serial Makassar Tidak Rantasa. MENGELOLA SAMPAH RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN. Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

Part 2.Buku 1 Serial Makassar Tidak Rantasa.
MENGELOLA SAMPAH RUMAH TANGGA DI PERKOTAAN.
Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

14.pengelolaan Sampah di Tempat Pembuangan Akhir

Terdapat paling tidak 5 cara yang dikenal secara umum dalam pengolahan sampah yaitu; (1) Open Dumps, yang mengacu pada cara pembuangan sampah pada area terbuka tanpa dilakukan proses apapun. (2) Landfills, adalah lokasi pembuangan sampah yang relatif lebih mbaik daripada open dumping dengan cara yaitu sampah yang ada di tutup dengan tanah kemudian dipadatkan dan setelah lokasi penuh maka lokasi landfill akan ditutup tanah tebal dan kemudian lokasi tersebut dijadikan tempat parkir. (3) Sanitary Landfils, yaitu menggunakan material yang kedap air sehingga rembesan air dari sampah tidak akan mencemari lingkungan sekitar, namun biaya sanitary landfill relatif lebih mahal. (4) Incenerator, yaitu dilakukan pembakaran sampah dengan terlebih dahulu dengan memisahkan sampah daur ulang, biasanya proses pembakaran sampah dilakukan alternatif terakhir atau lebih difouskan pada penanganan sampah medis. (5) Pengomposan, yaitu proses biologis yang kemudian organisme kecil mengubah sampah organik menjadi pupuk. (Anatomi 2004).

Masalah-masalah yang dapat timbul akibat open dumping dan landfill yang tidak terkontrol adalah sebagai berikut :
1.Lahan yang luas akan tertutup oleh sampah dan tidak dapat digunakan untuk tujuan lain.
2.Cairan yang dihasilkan akibat proses penguraian dapat mencemari sumber air.
3.Sungai dan pipa air minum mungkin teracuni karena bereaksi dengan zat-zat atau polutan sampah.
15.Mengelola sampah dengan model Biopori.
Secara alami, biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.

Keuntungan biopori dalam pemanfaatannya antara lain :
-Bio-pore dapat mengakumulasikan limbah organik secara efisien. Limbah dapur dan sampah pekarangan dapat dimasukkan ke dalam Biopore ini.
-Biopore sangat efektif menampung air hujan yang jatuh di pekarangan rumah dan meresapkannya ke dalam tanah.
-Limbah organic dalam bio-pore dap[at mengalami dekomposisi menjadi kompos.
-Bio-pore juga berfungsi sebagai reservoir air tanah di sebelah bawahnya

Biopori belum menjadi hal yang populer bagi masyarakat, karena pendidikan lingkungan hanya terpaku pada tanaman. Tetapi dengan biopori ini kita akan menjadi penyelamat 3 dimensi bumi yakni , darat , laut dan udara .

Biopori mencangkup banyak bahkan seluruh masalah yang kerap terjadi oleh manusia , lebih dinominasikan untuk masalah tanah . Biopori menyelamatkan ekosistem bawah tanah dan sangat menguntungkan bagi manusia , disatu sisi dia kecil dan tidak dipedulikan tetapi dia membawa manfaat yang dapat membawa lingkungan sekitar menjadi lebih subur.

Menyelamatkan bumi dari Dampak Lingkungan Akibat Sampah.

Sampah dapat menimbulkan bahaya atau gangguan terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Adapun berbagai dampak yang dapat ditimbulkan oleh sampah antara lain sebagai berikut.

Pencemaran Udara.
Biogas dapat Iepas ke udara ambien dan dapat bermigrasi secara lateral melalui tanah dan batu.Biogas juga dapat mengalami infiltrasi ke dalam bangunan-bangunan dan mengalami akumulasi metan sehingga dapat menimbulkan ledakan yang berbahaya.

Menurut Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui “sanitary landfill”. dihasilkan substansi kimia dalam bentuk gas seperti CH4, CO2, NH3, dan H2S. Perhatian khusus diberikan pada CH4 karena dapat diubah menjadi bahan berbahaya (HCHO) kemudian dihasilkan CO2. jalur perubahan CH4 menjadi CO2 mengikuti jalur-jalur reaksi tertentu. Gugus OH dapat terbentuk oleh pelepasan NH3 di udara. Gas CO2, NH3, dan H2S dapat diubah menjadi H2CO3, HNO3, dan H2SO4 berturut-turut dalam sehari.Diperkirakan hal tersebut akan berpengaruh terhadap terjadinya hujan asam.

Bau busuk sampah memiliki dampak emosional terhadap penduduk yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah . Bau digunakan sebagai alasan penduduk untuk mencegah dibangunnya TPA. Bau busuk yang ditimbulkan sampah organik terjadi tatkala proses penguraian ( dekomposisi) berlangsung dalam kondisi tanpa oksigen atau intensitas aerasi rendah (anaerob) , atau kadar air atau kelembaban rendah maupun terlalu kering serta suhu yang tidak kondusif bagi bekerjanya bakteri pengurai. Pada kondisi prasyarat bagi berlangsungnya penguraian (dekomposisi) material organik tidak terpenuhi, bakteri akan diam dan tidur (dorman) , saat sama akan terjadi reaksi anaerobik dan menimbulkan gas H2S maupun methana ( CH4) . Kedua jenis gas inilah yang dirasakan sebagai bau busuk.

Efek fisik gas H2S pada tingkat rendah dapat menyebabkan terjadinya gejala-gejala sebagai berikut : Sakit kepala atau pusing Badan terasa lesu,Hilangnya nafsu makan
Rasa kering pada hidung, tenggorokan dan dada,Batuk – batuk ,Kulit terasa perih.
Dampak akibat sampah menumpuk antara lain :

Pencemaran Udara.

Sampah dapat menyebabkan pencemaran udara, misalnya bau busuk, asap, dan sebagainya. Sampah menimbulkan biogas yang mengandung banyak metan dan karbondioksida serta bahan berbahaya lainnya.Ibu-ibu, yang tinggal di sekitar TPA, yang terkontaminasi biogas memiliki fisiko tinggi kelahiran bayi dengan berat badan rendah dan mempengaruhi umur kehamilan. Individu yang terpapar biogas berhubungan dengan gangguan hipertensi pada saat kehamilan, “stillbirths”” (kematian janin pada kehamilan tua), cacat bawaan. Dampak tersebut tergantung pada sifat, waktu , dan tingkat kontaminasinya.

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa beberapa bahan dalam biogas dapat mengganggu perkembangan embrio, fetus, dan dapat menyebabkan kemandulan, kematian, berat badan kelahiran rendah, dan kelainan bawaan.

Menurut California Waste Management Board (1988), biogas mengandung karbon dioksida, dan bahan-bahan lain seperti karbon disulfida, merkaptan, dan bahan lainnya. Biogas tersebut dihasilkan oleh dekomposisi anaerobik dari bahan organik.

Pencemaran Air akibat sampah.

Sampah juga dapat menimbulkan pencemaran air permukaan dan air tanah karena “pembasuhan” sampah oleh air hujan. Selain itu sampah dapat menyumbat saluran air dan got sehingga menimbulkan banjir.

Lindi (“leachate”) merupakan cairan yang dihasilkan oleh penguraian sampah yang terbilas oleh adanya air,baik yang terkandung dalam sampah itu sendiri maupun dari luar (rembesan air hujan atau air tanah). Dampak negatif secara signifikan terhadap air permukaan dan kualitas air tanah merupakan polusi yang disebabkan oleh lindi.Karakteristik pencemar yang dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang dibuang. Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturut-turut sekitar 30,000 mgi1, 20 mg/l, dan 60 mg/l (Japan International Cooperation Agency). Untuk kondisi di Indonesia yang sampahnya didominasi oleh sampah organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi didominasi oleh besarnya BOD yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000 ppm atau lebih.Hal ini menyebabkan sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran air secara serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk dikontrol. Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam sampah, evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah, sedangkan kualitas lindi berhubungan erat dengan kadar BOD dan COD.Karakteristik pencemar yang dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang dibuang. Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturut-turut sekitar 30,000 mg/l, 20 mg/l, dan 60 mg/l. Untuk kondisi di Indonesia yang sampahnya didominasi oleh sampah organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi didominasi oleh besarnya BOD yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000 ppm atau lebih.

Hal ini menyebabkan sampah sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran air secara serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk dikontrol. Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam sampah, evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah.

Penurunan Derajat Kesehatan Masyarakat.

Dampak sampah terhadap penurunan tingkat kesehatan penduduk akan semakin tinggi jika sampah tidak dikelola dengan baik. Keadaan kesehatan di daerah pemukiman dapat diukur dengan jumlah kasus penyakit kolera dan penyakit menular lainnya. Dinyatakan oleh WHO dan Bank Dunia bahwa kolera adalah penyakit endemik, pada tahun 1974 terdapat 51.399 kasus atau “case fatality rate” 8,8%. Tingkat laju angka kematian di Indonesia pada tahun tersebut adalah 14,4 permil. Selanjutnya dinyatakan bahwa sebagian besar dari kematian tersebut disebabkan oleh penyakit menular. Penyakit menular itu disebabkan keadaan yang sangat buruk, pada saat itu dalam bidang sanitasi dan kesehatan lingkungan, seperti kurangnya sarana penyediaan air minum dan sistem air buangan yang tidak baik, masalah sampah yang belum terpecahkan, dan kurangnya kesadaran sebagian besar penduduk tentang pemeliharaan kesehatan lingkungan. Akibat dari keadaan lingkungan pemukiman yang buruk tidak saja merugikan dari segi kesehatan, tetapi juga memiliki dampak yang merugikan secara tidak langsung terhadap aspek-aspek sosial ekonomi pada umumnya.

Sampah dapat menjadi sarang lalat, tikus, kecoak, dan jasad renik yang dapat menjadi pembawa ataupun sumber penyakit. Selain itu, populasi pembawa penyakit (“vector”) dapat meningkat oleh aktifitas pengangkutan dan pembuangan sampah

Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit.Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:

Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit). Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernaaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.

Selain yang disebutkan diatas, juga ada beberapa Dampak Lingkungan Akibat Sampah yang dapat dikemukakan sebagai berikut :
-Kecelakaan.
Sampah juga dapat menyebabkan kecelakaan misalnya terkena pecahan kaca, paku, dan lain- lain. Selain itu dapat juga menyebabkan kebakaran, gangguan asap yang dapat mengganggu pandangan dan membahayakan arus lalu lintas.

-Penurunan Keindahan dan kenyamanan.
Sampah selain menyebabkan pencemaran, penurunan kesehatan penduduk, dan kecelakaan, juga dapat mengganggu keindahan. Sampah yang tercecer dan tidak dibuang pada tempat semestinya akan terlihat tidak rapi dan mengganggu keindahan tempat sekitarnya.Sejumlah dampak negatif dapat ditimbulkan dari keberadaan TPA. Dampak tersebut bisa beragam:
Pelepasan gas metana yang disebabkan oleh pembusukan sampah organik (metana adalah gas rumah kaca yang berkali-kali lebih potensial daripada karbon dioksida, dan dapat membahayakan penduduk suatu tempat.
Isu lingkungan, kerusakan, dan pengelolaanya menjadi isu utama beberapa dekade terakhir ini. Berbagai dampak yang terjadi dari adanya kerusakan lingkungan kian terasa; perubahan iklim, memanasnya suhu permukaan bumi, hingga berbagai bencana alam lainya. Negara di dunia juga sudah mencoba mengatasi berbagai kerusakan lingkungan dengan bermacam cara, salah satunya adalah dengan mengadakan Earth Summit di Rio De Janeiro pada tahun 1992. Manifesto dari pertemuan tersebut adalah terbentuknya Agenda 21 yang mewajibkan masing-masing Negara merumuskan kebijakan strategis nasional dalam menerapkan pembangunan berkelanjutan.

Indonesia sendiri telah merumuskan Agenda 21 yang telah disesuaikan dalam konteks nasional dan dikelompokan menjadi empat area, salah satunya adalah pengelolaan limbah. Agenda ini dirumuskan terutama dengan sasaran untuk memperbaiki kondisi dan kualitas lingkungan hidup manusia serta mengungari proses degradasi lingkungan (Setiawan, 2007). Pada dasarnya dalam pengelolaan limbah, terdapat berbagai macam cara baik itu pengelolaan dengan menggunakan teknologi tinggi, ataupun pengelolaan dengan cara sederhana. Masyarakat di Indonesia sendiri sudah banyak mempraktekkan berbagai macam cara pengelolaan limbah dengan menggunakan cara-cara sederhana.

Limbah anorganik adalah limbah yang berasal bukan dari makhluk hidup. Limbah anorganik ini memerlukan waktu yang lama atau bahkan tidak dapat terdegradasi secara alami. Beberapa limbah anorganik diantaranya kain, plastik, kaleng, dan bahan gelas atau beling. Salah satu pemanfaatan limbah anorganik adalah dengan cara proses daur ulang (recycle). Daur ulang merupakan upaya untuk mengolah barang atau benda yang sudah tidak dipakai agar dapat dipakai kembali. Beberapa limbah anorganik yang dapat dimanfaatkan melalui proses daur ulang, misalnya plastik, gelas, logam, dan kertas.

Sampah anorganik adalah jenis sampah yang sulit untuk didaur ulang secara alami di dalam tanah. Oleh karena itu, resiko sampah plastik untuk dibuang secara sembarangan lebih besar dibanding sampah organik yang dapat terurai oleh tanah. Di sisi lain, pengepul sampah hanya membeli sampah plastik yang tidak berwarna atau polos. Sampah-sampah jenis ini kemudian hanya berakhir sebagai limbah yang kebanyakan cara penyelesaiannya adalah dengan cara dikubur. Padahal, sampah plastik yang dikubur didalam tanah tidak akan terurai hingga lebih dari 200 tahun.

Permasalahan sampah plastik berwarna dan kain ini disikapi oleh masyarakat Desa Sukunan Yogyakarta dengan mengelola sampah plastik dan kain menjadi berbagai kerajinan. Pengelolaan ini dilakukan sendiri oleh masyarakat atau dikenal dengan istilah pemberdayaan masyarakat. Adalah sebuah pendekatan pembangunan yang membuat masyarakat menjadi titik utama pelaku pembangunan. Segala rumusan kebutuhan, rencana, hingga implementasi kegiatan dibuat oleh, dari, dan untuk masyarakat itu sendiri. Dengan tujuan agar target dan sasaran kegiatan pembangunan bisa mengena dengan tepat dan berdampak langsung dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Ife, 2005). Dan pemberdayaan masyarakat ini sudah sangat terasa bagi masyarakat Desa Sukunan dampak dan manfaatnya. Berikut adalah beberapa kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sukunan dan bisa contoh yang sangat baik bagi kita semua.

16.Kerajinan Sampah Plastik

Sampah plastik dapat di daur ulang dan diubah menjadi barang-barang kreatif seperti tas belanja, penutup magic jar, dompet dan lainya. Dengan pemilihan sampah-sampah plastik sisa minuman berenergi atau minuman anak yang memiliki warna menarik, ibu-ibu menyulap sampah-sampah plastik tersebut menjadi barang-barang lucu yang dapat dijual. Ternyata tidak hanya berproduksi secara komersil, Ibu-Ibu pengrajin juga bisa memberikan pelatihan-pelatihan pengelolaan sampah plastik tersebut kepada para wisatawan yang datang. Sebuah alternatif bagi wisatawan untuk dapat mulai berpikir kreatif dengan mengubah sesuatu yang tiada harganya menjadi sesuatu yang bernilai jual.

Cara membuat kerajinan-kerajinan tersebut adalah sebagai berikut. Sampah-sampah plastik tersebut dengan teliti dipilih sesuai dengan kelayakannya. Setelah terpilah sampah plastik mana yang akan digunakan sebagai bahan dasar kerajinan, lalu para ibu kembali menyeleksi sampah-sampah plastik sesuai dengan model yang akan dibuat. Menentukan model dan ukuran dari kerajinan dan bahan yang akan digunakan sangatlah penting agar tidak terjadi kesalahan dalam pembuatan. Setelah siap, sampah-sampah plastik tersebut dijahit untuk dirangkai sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Ketelitian dan keterampilan juga diperlukan dalam membuat kerajinan dari sampah plastik ini walaupun cara pembuatanya tidak sesulit pembuatan kerajinan dari daun kering ataupun bahan-bahan organik lain.

a.Memanfaatkan Kain Perca

Selain mengelola limbah atau sampah plastic, masyarakat Desa juga dengan kreatif menggunakan ketrampilan mereka untuk membuat kerajinan dari kain perca atau kain sisa. Dengan motif yang beraneka ragam, memang pemanfaatan kain perca sangatlah sulit karena itu banyak kain sisa yang akhirnya tidak digunakan untuk apapun. Namun di tangan masyarakat, kain-kain perca bisa kembali diubah menjadi sesuatu yang unik dan menarik seperti tas, tempat botol, sarung bantal, dompet, dan lainya.Nilai seni yang diberikan oleh kerajinan kain perca dapat dilihat pada pemilihan motif yang berbeda-beda pada kain, namun bisa disinergikan sehingga membentuk barang yang terlihat seperti baru. Penggunaan kain perca bermotif etnis juga digunakan untuk memperlihatkan kesan etnik dan memberikan identitas local pada barang-barang kerajinan ini.

Hal yang pertama kali harus dilakukan untuk membuat kerajinan kain perca ini tentu saja mengumpulkan sisa-sisa kain baik itu sisa kain rumah tangga ataupun dari perusahaan konveksi. Setelah itu kain perca diseleksi sesuai dengan ukuran dan motif yang diinginkan. Barulah kain-kain itu nantinya dirangkai dengan cara dijahit hingga membentuk benda-benda yang diinginkan semisal tas, dompet, atau lainya.

b.Wisata Edukasi Lingkungan

Memang di Sukunan ini tidak hanya terkenal dari hasil produksi barang daur ulang, tetapi juga terkenal karena Wisata Edukasi yang bertemakan lingkungan atau Ecotourism. Wisata edukasi mengenai sistem pengolahan sampah di Desa Sukunan ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi masyarakat luas. Wisatawan akan diajak berkeliling desa untuk melihat lebih dekat sistem pengolahan sampah Desa Sukunan. Wisatawan akan ditunjukkan bagaimana aktivitas rumah tangga di Desa Sukunan sudah mulai biasa untuk memilah-milah sampah antara sampah organik dan anorganik. Ketika keliling desa, wisatawan akan melihat ketersediaan tong-tong penampungan sampah di setiap sudut gang yang telah dikategorikan dalam 3 jenis sampah yang kini juga telah banyak digunakan masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Selain itu, jalanan di Desa Sukunan juga terlihat bersih dari sampah karena terciptanya kesadaran masyarakat Sukunan untuk membuang sampah berdasarkan jenis dan pada tempatnya.

17. Dampak dan Manfaat

Pengelolaan sampah secara mandiri yang dilakukan oleh masyarakat perkotaan dapat memberikan beberapa manfaat antara lain:

a. Meningkatnya nilai-nilai sosial
Meningkatnya nilai-nilai kerekatan sosial ditandai dengan meningkatnya nilai-nilai pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan tentunya menjadi sebuah tujuan utama adanya pengelolaan sampah secara mandiri. Masyarakat dilatih bekerjasama untuk menentukan program-program rencana kegiatan bagi pembangunan di pemukimannya tanpa ketergantungan terhadap pihak-pihak lain. Adanya kemandirian tersebut membuat masyarakat lebih memahami apa yang mereka butuhkan dan bersama-sama memikirkan apa yang akan mereka lakukan untuk membangun lingkungan tempat tinggal mereka, agar selalu bersih dan ramah lingkungan.

b. Meningkatnya nilai-nilai ekonomi
Sampah-sampah yang didaur ulang oleh masyarakat dapat menjadi berbagai kerajinan bisa dijual dan tentunya akan memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat. Walaupun jumlah keuntungan dari penjualan barang daur ulang tersebut tidak signifikan, setidaknya itu dapat terus momotivasi masyarakat untuk berkreasi dan sekaligus peduli dengan lingkungannya.
Seiring dengan itu dapat pula mengembangkan objek wisata edukasi yang dapat ditawarkan pada wisatawan hingga dapat menjadi sebuah sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat. Nama pemukiman yang sampah dan lingkungannya dikelola secara baik akan terus dikenal, dijadikan tempat study banding dan akan selalu mengundang wisatawan untuk datang menikmati sajian wisata edukasi bertema ekologi.

c. Meningkatnya nilai-nilai ekologi
Sumbangan terbesar yang bisa diberikan oleh masyarakat dimanapun baik di kota mapun di desa adalah peningkatan nilai-nilai ekologi kawasan tersebut. Konsensus yang telah dibentuk oleh masyarakat itu memberikan sebuah pola hidup ramah lingkungan dengan cara peduli dan mau secara langsung terlibat dalam aksi-aksi pengelolaan limbah. Masyarakat perkotaan dapat memberikan contoh nyata bahwa limbah-limbah anorganik yang pernah dikatakan sebagai limbah yang tidak bermanfaat dapat di daur ulang dan ternyata bisa dimanfaatkan pula sebagai bahan sebuah karya kreativ kerajinan. Kegiatan ini membuat sampah-sampah di lingkungan sekitar pemukiman berkurang .

DAFTAR BACAAN.

Bebassari, Sri. 2008. Integrated Municipal Solid Waste Management toward ZERO WASTE Approach. Center for Assessment and Application of Environmental Technology. Jakarta. Selasa, 16 Desember 2008, 08.13 WIB. (http://www.pudsea.ugm.ac.id/ document/ bebassari.pdf).

Hadi, Sudharto P. 2005. Dimensi Lingkungan : Perencanaan Pembangunan. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.

Hadiwiyoto, S. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Idayu. Jakarta.

Kementrian Negara LH. 2007. Panduan Penerapan Eko-Efisiensi Usaha Kecil dan Menengah Sektor Batik. Kerjasama Kementrian Negara LH dan Deutsche Gesselschaft fuer Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH dalam kerangka Program Lingkungan Hidup Indonesia – Jerman (Pro LH). Jakarta.

Neolaka, Amos. 2008. Kesadaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta.

Notoatmojo, Soekitjo. 1985. Pengantar Ilmu Perilaku. Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Jakarta.

Sastroasmoro, Sudigdo dan Ismael, Sofyan. 2000. Dasar-dasar -Metodologi Penelitian Klinis. Bagian Fakultas Kedokteran UI. Jakarta.

SNI, 1994.
Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan (SNI 19-3964-1994). Badan Standar Nasional. Jakarta.

Soemarwoto, Otto. 2004. Atur Diri Sendiri : Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Susilo, Rachmad K. Dwi. 2008. Sosiologi Lingkungan. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Suyoto, Bagong. 2008. Rumah Tangga Peduli Lingkungan. Prima Media, Jakarta.

SNI T-13-1990-F tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, Badan Standar Nasional. Jakarta.
SNI -T-12-1991-03. Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman. Badan Standar Nasional. Jakarta.

SNI T-13-1990-F tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan. Badan Standar Nasional. Jakarta.

SNI -T-11-1991-03. Tata cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah. Badan Standar Nasional. Jakarta.

UU 18/2008 ttg Pengelolaan Sampah
UU 23/97 ttg Lingkungan Hidup
UU No 7/2004 ttg SDA
UU 32/2004 (otonomi daerah)
PP 16/2005 (perlindungan air baku)
PP 38/2007 (kewenangan Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah kab/Kota)
Permen PU 21/PRT/M/2006 (Kebijakan & Strategi Nasional Persampahan) NSPM (SNI) bidang persampahan

Syafrudin, CES, Ir. MT, 2004, Model Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat, Makalah pada Diskusi Interaktif: Pengelolaan Sampah Perkotaan Secara Terpadu, Program Magister Ilmu Lingkungan UNDIP.

Rangkuti, F. 2003. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Reksohadiprodjo, Sukanto, dan Brodjonegoro, Andreas B.P. 1982. Ekonomi Lingkungan : Suatu Pengantar. BPFE. Yogyakarta.

Riasmini, M. 2006. Peran Tenaga Kesehatan Dalam Pemberdayaan Masyarakat Untuk Mewujudkan Desa Siaga. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan Depkes. Jakarta.

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO, SH.SAB.SSN.MS.MH.MM
Sosok multi talenta. Selain sebagai mantan birokrat (plt kadis Tataruang), Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea, Dekan Fakultas Teknik ISTP, Dekan Fakultas Media Rekam IKM, sekarang Rektor Institut Kesenian Makassar, dosen di berbagai perguruan Tinggi di Makassar , seniman dan aktor film, juga salah seorang penulis yang karya-karyanya banyak bertebaran di media massa baik local maupun nasional dan International.Menyelesaikan Sarjana ADM Negara (1982), Sarjana sipil (1990), Sarjana Hukum (2009),Sarjana Administrasi bisnis (2010),sarjana seni film ( 2013) Master Sains di Unhas (1992), Doktor Ilmu-Ilmu Teknik (2004), Magister Hukum (2010) dan magister manajemen (2012) .Mengikuti short course bidang teknik di New Zaeland, Australia, Jepang,thailand,malaysia,China,hongkong,turki, Srilanka dan korea selatan. Sementara di organisasi aktif sebagai Ketua harian PARFI Cabang Sulsel, Ketua BKKI Sulawesi selatan. Ketua LESBUMI dan Ketua ASSEMI.
Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain, Siluet Cinta (puisi), Kota Kekasih (puisi), Bulan di Atas Bara (novel), Antara Bumi dan Langit (novel), Menanti Musim Berganti (novel), buku 42 Kritik Film (kritik film), Arsitektur Tradisional Sulsel Pusaka Warisan Budaya Indonesia,mengolah limbah domestik dengan filter biogeokimia dan ikut dalam antologi Ombak Makassar, Sastra Kepulauan.pintu yang bertemu,baruga ,menepi kesepi puisi,dan nyanyian tiga pengembara , Bugis Dalam peradaban melayu.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: