PART I. KRITIK FILM UNGGULAN DR SYAHRIAR TATO YANG DIMUAT DI HARIAN FAJAR.

MISI MILITER YANG GAGAL

Judul : Black Hawk Down
Naskah : Mark Bowden
Skenario : Ken Nolan
Produksi : Columbia Pictures
Produser : Jerry Bruckhaeimer, Ridley Scott
Sutradara : Ridley Scott
Pemain : Josh Harnett, Eric Bana, Ewan McGregor, Tom Sizemore, William Fichter, Jeremy Piven, Sam Shepard.

Ini kisah nyata. Ini film perang tentang kegagalan misi militer Amerika Serikat Mogadishu, Somalia, setelah gagal perang Vietnam. Tapi ini film perang yang anti perang, mengingatkan Amerika terhadap misi militernya di berbagai belahan dunia.
Mengadopsi buku yang merupakan karya jurnalistik Black Hawk Down : A Story of Modern War, karya Mark Bowden, film ini menceritakan kisah nyata yang mengerikan yang terjadi pada 3 Oktober 1993 ketika Amerika, yang merupakan bagian dari operasi penjaga perdamaian PBB, melakukan misi penangkapan terhadap Jenderal Mohammad Farah Aidit sekaligus untuk mengakhiri perang sipil di Somalia.
Misi dimulai pukul 15,30 dan diplot hanya setengah jam. Hampir 100 orang tentara Amerika, diperintahkan oleh Kapten Mike Steele, didrop menggunakan helikopter ke dalam ibukota Mogadishu. Di luar dugaan, pasukan Amerika menghadapi perlawanan dari tentara rukyat Mogadishu. Helikopter Black Hawk terjatuh, dan upaya evakuasi harus dilakukan. Di sinilah cerita terpusat. Selama 18 jam, para serdadu tersebut terjebak dan terluka di daerah musuh di Mogadishu. Minim bekal dan perlengkapan karena perkiraan misi yang molor. Hingga akhirnya bantuan datang, meski terlambat.
Dalam pertempuran itu misi militer Amerika gagal. 18 tentara Amerika terbunuh dan 73 luka-luka. Diperkirakan korban dari Somalia berjumlah 1.000 orang. Inilah kegagalan taktik militer Amerika kali kedua setelah perang Vietnam.
Mark Bowden menulis Black Hawk Down pada 1997 sebagai artikel bersambung untuk The Philadelphia Inquirer. Sebelumnya. peristiwa dramatis dan memalukan bagi kebijakan luar negeri Amerika itu tak pernah diungkap. Tak ada wartawan di sana untuk meliput. Bowden menggarap liputan ini selama empat tahun. Karena liputan ini oplah The Philadelphia Inquirer melonjak. Begitu juga sukses dalam bentuk multimedia; film dokumenter, internet, dan buku yang masuk dalam jajaran buku terlaris.
Setting adegan film ini dibuka dengan kisah singkat masuknya pasukan penjaga perdamaian dunia asal AS di Somalia pada tanggal 3 Oktober 1993 setelah terjadi pertumpahan darah besar-besaran akibat perang antar etnis di Somalia.
Film ini juga menggambarkan bagaimana pasukan AS bertempur selama 18 jam dan mereka terkepung di wilayah kota Mogadishu yang dikuasai oleh kelompok milisi di bawah komando Aidit. Namun dengan Team-Work yang kompak, kesetiakawanan yang tanpa pamrih, bahu membahu dalam menghadapi situasi serta tekad takkan meninggalkan kawan yang cidera, akhirnya mereka berhasil keluar dengan selamat setelah melalui “pengganyangan” habis-habisan. Mereka dicincang, dicabik-cabik tubuhnya, satu persatu gugur. Barulah pada tanggal 4 Oktober 1993, pasukan “rescue” tiba dan berhasil mengungsikan sisa rangers yang masih hidup ke markas besar mereka.
Film ini merupakan garapan terbaru Ridley Scott setelah sukses melalui Gladiator. la berhasil menghadirkan ketegangan sekaligus kengerian peristiwa itu. Yang paling penting sebenarnya, apakah Amerika mau belajar dari kegagalan ini?

KOMEDI HOROR YANG TAK GAIB

Judul : Home on Terror Tract
Pemain : John, Ritter, Brayn Craston, Rachel York, David Delnise
Musik : Brian Tyler
Skenario : Clint Hutchison
Sutradara : Lance W. Breesen & Clint Hutchison

Ini Barat. Bukan Timur. Maka ketika ada cerita horror atau mistik, hanyalah semata dijadikan hiburan. Seperti halnya Harry Porter ataupun cerita yang lebih misterius lainnya yang telah difilmkan. Selain hiburan, juga sekaligus penerus impian atau khayalan anak semasa kecil. Segala hai, bisa saja terjadi walau hanya dalam hayalan.
Bagi masyarakat Timur, tentulah beda. Dimana, hal mistik sangat dipercaya. Tidak sekedar hiburan, tapi juga sudah menjadi “panduan”. Lihatlah film-film misteri yang menyerbu layar kaca. Ratingnya tinggi. Malah banyak yang meyakininya sebagai hal yang nyata. Nyata yang bagi mereka di Barat, adalah lelucon.
Jadilah komedi ketika cerita horror digelar. Alurnya, seorang sales real estate yang harus memasarkan rumah-rumah bekas. la terancam ‘dipecat’ (sangat misteri) bila tak mampu memasarkannya Sementara, ia punya kewajiban moral untuk menceritakan “alasan apa sehingga rumah ditinggalkan pemiliknya”. Jadi di Timur, sangatlah dipercaya bahwa rumah yang kosong bisa jadi ada “makhluk halus” yang menjaganya. Ataupun berbagai misteri yang sulit dijabarkan secara logika alias akal sehat.
Pertarungan logika dengan absurditas itulah yang disatukan “Home of Terror Tract”. Adakah misteri itu adalah pemutarbalikan fakta ataukah kenyataan? Pun ada tiga cerita yang berlandas pada penawaran rumah bekas yang dilakukan si sales (John Ritter) kepada pasangan suami (Brayn Craston) dan isterinya (Rachel York) yang baru tiga bulan menikah.
Rumah pertama, diceritakan tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Frank pada Louis, suami kekasihnya Sarah. Awalnya, Louis berencana membunuh Frank-Sarah yang ditemukan berbugil-ria di tempat tidur. Nyatanya, saat detik-detik terakhir Sarah tergantung di tali yang dijadikan modus operandi seakan korban bunuh diri, malah Louis tertembak oleh Frank.
Mayat Louis dibuang ke danau. Sementara Sarah selalu bermimpi dan dihantui kedatangan mayat suaminya untuk membalas dendam. Maka ketika Frank kembali dari danau untuk menyelam mengambil kunci mobil di kantong Louis, ia tertembak oleh Sarah yang menyangka “mayat hidup” Louis yang datang seperti dalam mimpi-mimpinya Lalu ia gantung diri dengan tubuh dipenuhi oleh lumpur. Pun analisa polisi, Sarah adalah pembunuh para kedua pria tersebut sebelum bunuh diri. Sementara si sales, menggiring pada sebuah misteri yang absurd.
Rumah kedua, bercerita soal kera yang mampu membunuh. Jennifer si anak manja, menemukan kera Tapi ayahnya menolak. Ia sangat benci pada kera itu. Apalagi ketika menemukan anjingnya mati dibunuh oleh kera. Juga saat penangkap hewan yang didatangkan, ikut tewas. Aksi kera itu berlanjut. Ibu Jennifer dibantai. Tapi tak tampak kera membunuh. Hanya sang ayah yang diserang oleh sang kera. Sehingga, Jennifer membunuh ayahnya dengan alasan membela diri, sebab melihat ayahnya berubah jadi garang dan ganas. Namun versi si sales, kera misterius itu adalah pembunuh.
Bagaimana rumah ketiga yang ditawarkan? Dihuni keluarga Goodwin yang harmonis. Namun, dua tahun berikutnya, anaknya yang remaja, Sean, dikira mengalami gangguan kejiwaan. Padahal, Sean mengaku selalu melihat alam bawah sadarnya (seperti telepati pada setiap calon korban yang akan dibantai secara keji. Dan cerita itulah yang dipaparkan pada seorang psikiater yang menurut Sean akan dibunuh oleh si pria bertopeng “nenek”.
Si psikiater merasa yang dicari polisi sebagai “nenek si pembunuh” adalah Sean. Ia tak percaya Sean mampu melihat hal gaib. Apalagi korban yang dibunuh antara lain adalah guru Sean serta kekasihnya. Itu sebabnya, ketika mengingatkan si psikiater, Sean malah terluka. Oleh pembelaan versi si sales, pembunuhnya bukan Sean tapi si “nenek pembunuh”.
Rumah-rumah yang ditawarkan tak jadi dibeli. Si sales marah. Ia membunuh sang suami. Adapun si isteri, melarikan diri di kompleks perumahan yang dipadati penghuni gila dan sadistis, seperti cerita sebelumnya. Tapi, ending film malah lucu. Tidak menakutkan. Sebab, pertarungan antara logika dan misteri gaib, dimenangkan secara eksplisit pada logika. Artinya, cerita aneh dan janggal itu, hanyalah isapan jempol yang pantas menjadi cerita lucu. Hanya komedi berbentuk horror yang tidak memberi muatan gaib. Namun, tetap berlandas pada pertimbangan logika kebenaran.

DOMBA PELONCO DAN SERIGALA KARISMATIK

Judul : Taining Day
Pemain : Denzel Washington, Ethan Hawke
Skenario : David Ayer
Sutradara : Antoine Fuqua
Produksi : Warner Bros

Di halaman buku-buku definisi keadilan bisa jadi sangat jelas. Potret penjahat aparat hukum jelas bedanya Di dunia nyata, belum tentu. Di situ das solen dan das sein tidak lagi bersesuaian. Semua berselimut kabut. Serba samar-samar. Seperti dalam Training Day. Hampir setiap hari terjadi perang jalanan entah itu antar geng pengedar narkoba maupun antar penduduk itu sendiri yang menuntut penegak hukum bekerja maksimal. Selain mengakibatkan korban yang mati, kondisi seperti itu pada gilirannya juga menyisakan “korban” hidup yang bisa berbalik menjadi ancaman yang tidak kalah berbahayanya. Salah satu di antara korban hidup itu adalah detektif kepolisian Los Angeles Sersan Alonzo Harris (Denzel Washington), veteran karismatik berpengalaman 13 tahun dalam pemberantasan narkotik.
Pengalaman mengajarinya bahwa menjalankan tugas jalanan dengan cara baku sesuai buku bisa membuat orang mati konyol. Karena itu, dia sering kali menyelesaikan tugasnya dengan metode yang membuat orang sulit membedakan siapa pelanggar dan siapa penegak hukumnya.
Cara kerja itulah yang dia cekokkan ke benak Jake Hoyt (Ethan Hawke), polisi pelonco muda-lugu-idealis direkrut untuk timnya. Hanya dalam waktu satu kali 24 jam Jake shock karena dia mendapati dirinya tidak tahu lagi mana penjahat, mana penegak hukum.
Film produksi Warner Bross arahan Antoine Fuqua itu telah mengantar Denzel Washington dan Ethan Hawke meraih piala Oscar masing-masing sebagai aktor dan aktor pembantu terbaik Academy Award 2002. Meskipun cerita yang ditulis David Ayer temannya sudah klise, tetapi Denzel Washington dan Ethan Hawke berhasil menghidupkannya, serta memaksa penonton untuk ikut larut ke dalamnya.
Penonton pelan-pelan digiring masuk ke dalam persoalan yang sedang mereka perdebatkan, kejahatan, penegakan hukum, keadilan. Hal yang begitu dekat dengan pengalaman sehari-hari. Kedua pemeran tersebut sanggup merepresentasikan kondisi masyarakat yang cuma punya dua pilihan. Menjadi kawanan domba, atau serombongan serigala.
Ketika itu, nasib orang berujung pada dua titik jadi mangsa atau pemangsa Lhomme par Ihomme. Homo homini lupus. Bahkan ada satu sosok yang tampil sebagai mangsa dan pemangsa sekaligus. Sebagaimana sosok Alonzo Harris, yang di dalam dirinya terakumulasi hasrat untuk menegakkan hukum, naluri untuk tetap bertahan hidup, dan kenyataan yang tidak bisa dihindarinya, membuat orang tidak tahu apakah harus kasihan atau benci kepadanya.
Padahal penjahat dan penegak hukum merupakan dua hal kontradiktif, sekontras kulit Nigger Alonzo dengan bule Jake. Mestinya, mudah diidentifikasi siapa yang siapa.
Hampir persis dengan Law Enforcement yang kini tengah terjadi di Indonesia Di sini, sesuatu yang seharusnya bisa dilihat dengan kaca mata hitam putih, sudah semakin kabur. Dengan kaca mata transparan sekalipun, orang tetap kesulitan membedakan mana domba, mana serigala Siapa pengacara, siapa penjahatnya. Mana hakim, mana terdakwanya
Orangpun jadi apatis. Tidak percaya lagi kepada keadilan. Lalu memilih pengadilan jalanan di tepi jalan, di naungan pohon rimbun, di kedai kopi Cina Namun, semua itu tidak berarti bahwa orang-orang tidak tahu persoalannya. Mereka merupakan “silent majority” yang sedang menunggu, entah apa.
Sejarah suatu ketika membuktikan bahwa bambu runcing pernah menang melawan mitraliur. Maka tidak tertutup kemungkinan, tanduk domba suatu saat bisa merontokkan taring-taring serigala Artinya, kekuasaan bisa tumbang oleh kemarahan rakyat kecil. Sebab, semutpun bisa membunuh gajah.

SEBELAS ‘JAGOAN PEMBOBOL RUMAH JUDI
Judul : Ocean’s Eleven
Produksi : Warner Bros
Produser : Jerry Weintraub
Naskah/Skenario : Ted Griffin
Sutradara : Steven Soderbergh
Pemain : George Clooney, Matt Damon, Andy Garcia, Bradd Pitt, Julia Robert, Don Cheadle, Casey Affleck, Scot Caan, Elliot Gould, Bernei Hac, Carl Reiner, Shaobo Qin.

Moyang bugs kita berpesan bahwa, ada tiga “ta” yang menjadi “aral melintang” seorang lelaki untuk mencapai puncak “orbitasi” kelelakiannya, yaitu: menempatkan wanita sebagai pemuas nafsu birahi, menumpuk harta sebagai pemuas nafsu serakah dan memburu tahta sebagai pemuas ambisi kekuasaan. Tiga “la” itu pula, kalau tidak terkendalikan. Dengan baik, menyebabkan seorang lelaki tersungkur ke lembah yang paling hina dan nista.
Tiga “ta” pun terkadang menjadi sumber konflik dan perebutan antara manusia yang “bernama” lelaki. Tematik konflik dan perebutan tiga “ta” sudah banyak diproduksi dalam bentuk film oleh sineas Hollywood. Film Ocean’s Eleven ini pun sudah merupakan produksi ulang dengan judul sama yang diproduksi tahun 60an dengan memasang mega bintang Hollywood masa itu seperti Frank Sinatra, Etean Martin, Sammy Davis dan lainnya lagi.
Film ini bercerita tentang Daniel Ocean (George Clooney) seorang residivis kambuhan yang baru saja bebas dari penjara setelah mendekam selama 4 tahun. Daniel alias Danny datang ke Las Vegas, kota judi terbesar di Amerika, setelah mendapat informasi kalau di kota itu terdapat tiga kasino yakni Mirage, MGM dan Bellagiu yang dikuasai oleh Terry Benedict (Andi Garcia), mafia judi kota Las Vegas yang terkenal sangat kejam dan berdarah dingin, tetapi mempunyai simpanan uang yang melimpah dan tersimpan dalam sebuah kubah besi. Bahkan konon, setiap malam minggu ketiga kasino milik Bartender bisa mengumpulkan “doku” sampai $150 juta per malam.
Kenyataan ini membuat Danny menjadi tergiur dan berniat untuk membobol kubah besi milik Benedict. Untuk itu ia berkomplot dengan teman “seprofesinya” dan merencanakan pembobolan bertepatan dengan malam pertarungan kejuaraan tinju kelas berat yang akan menampilkan juara bertahan Lennox Lewis, yang sebagaimana biasa akan dihadiri oleh Benedict.
Strategi operasipun dirancang dengan merekrut orang-orang dengan keahlian dan keterampilannya masing-masing, seperti Rusty Ryan (Brad Pitt) sang penjudi ulung, teman lama Danny. Linus Caldwell (Matt Damon) si tukang copet, putra mitra kerja Danny yang bernama Bobby Caldwell. Juga ada Bashertarr (Don Cheadle), ahli bahan peledak dan pembongkar lemari besi.
Ada si saudara kembar Virgil dan Turk Malloy (Cassey Affleck dan Scoot Caan). Kemudian juga ada Saul Bloom (Carl. Reiner) gaek “perlente” yang ditugasi menyamar sebagai milyarder Yahudi. Ikut serta pula Frank Catton (Bernei Mac) si penjudi, penipu ulung yang bekerja sebagai bandar judi kasino milik Benedict.
Ada juga pemain akrobat Yen (Shaobo Qin). Dan sebagai penyandang dana operasi adalah Reuben Tishkoff (Elliot Gould), mantan pemilik kasino yang dibangkrutkan oleh Benedict. Tentu saja Reuben dendam dan ingin membalaskan sakit hatinya.
Dalam setting cerita selanjutnya, hampir saja rencana operasi ini gagal ketika secara tidak sengaja Rusty Ryan mengetahui kalau Tess (Julia Roberts), kurator museum arkeologi kota Las Vegas, yang menjadi kekasih Benedict adalah mantan istri Danny yang telah lama dicari-carinya. Kenyataan ini menimbulkan prasangka Ryan kalau operasi ini sengaja dirancang oleh Danny untuk memperalat mereka. Tess sebenarnya terpaksa menjadi kekasih Benedict karena merasa ditinggalkan oleh Danny.
Padahal Danny sendiri meringkuk di penjara karena tertangkap tangan melakukan penjarahan barang antik bernilai jutaan dollar di sebuah museum kota.
Tapi benarkah Danny hanya tergiur dengan uang Baiedict? Jawabannya bisa ditebak. Danny masih mencintai mantan isterinya. Steven Soderbergh yang tahun lalu sukses dengan Traffic dan Erin Brockovich, memang punya strategi sendiri dengan mengumpulkan bintang-bintang besar dalam film ini. Penampilan mereka alami, santai. Dialog-dialognya cerdas, alurnya mengejutkan.
Di akhir cerita, misi “Ocean’s Eleven* memang berhasil dan Danny pun dapat berkumpul kembali dengan Tess, hartanya yang tak ternilai. Uang dapat, cintapun kembali.

CUMA DIMENGERTI LELAKI

Judul : A Bout A Boy
Naskah/Skenario : Paul Weitz
Sutradara : Paul Wiitz & Chris Weitz
Pemain : Hugh Grant, Tony Collete, Rachel Weisz, Nicolas Hoult

Untuk mengerti perempuan, bagi lelaki itu sangat sulit. Wanita adalah wujud makhluk yang sangat sulit ditebak. Lantas bagaimana dengan lelaki? Adakah sangat mudah ditebak dan dimengerti keinginannya? Tentulah tidak! Sebab, tidak sedikit kaum pria yang tak mampu dimengerti oleh pasangannya ataupun teman wanitanya.
Apa yang menjadi keinginan lelaki, termasuk segala kelemahannya, akan lebih mudah dimengerti oleh sesama kaumnya. Malah banyak lelaki yang tidak mendapatkan jodoh lalu dituding dengan ragam negatif, misalnya terlalu memilih. Padahal, banyak hal yang tersembunyi di balik ketegaran seorang pria. Apalagi iika sudah menyangkut pekerjaan. Makanya, kerap ada pameo bahwa “jangan tanya pada lelaki apa pekerjaannya”
Betulkah lelaki sulit dimengerti kecuali oleh kaumnya sendiri ? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab Paul Weitz yang membuat skenario “A Bout A Boy”. Film yang terkesan untuk remaja ini, lebih memaparkan permasalahan kaum pria untuk bisa dimengerti. Sebab, pria atau perempuan, pada dasarnya sama-sama sulit dipahami jika tidak mencoba untuk bisa menerima apa adanya. Toh, setiap individu tanpa melihat gender, mempunyai kelebihan dan kelemahan. Dan tergantung dari sisi mana kita melihatnya.
Diceritakan tentang seorang pria bujangan dan tak memiliki pekerjaan bernama Will (Hugh Grant) yang diperingatkan oleh temannya yang baru saja mendapatkan anak agar menyadari dirinya jika sudah berusia 38 tahun. Will telah berusaha mencintai seorang gadis, tetapi selalu gagal. Hingga akhirnya, ia memilih untuk mencari jodoh pada perkumpulan orang tua tunggal yang anggotanya para ibu yang umumnya ditinggal oleh suami.
Di perkumpulan tersebut Will mengaku mempunyai anak bernama Ned dan Ibu Ned meninggalkannya. Di akhir pertemuan Will mendapatkan teman kencan bernama Susi yang mempunyai anak berusia sekitar 2 tahun. Suatu hari ada acara rekreasi orang tua tunggal. Will diajak oleh Susi dan diharapkan Will membawa serta Ned namun Will mengaku Ned dijemput oleh lbunya. Susi membawa serta anak temannya, Fiona, yang bernama Markus (Nicholas Hoult).
Markus anak yang selalu kelihatan berwajah riang namun ia sering mendapat masalah di sekolah, sering menjadi bahan ejekan teman-teman sekolah dan siapapun yang berteman dengan Markus akan dibenci. Markus anak yang sangat menyayangi ibunya demikian pula ibunya.. Markus merasa ada yang tak beres pada ibunya karena ibunya sering menangis terutama pada pagi hari.
Sepulang piknik, Fiona (Toni Collette) ditemukan oleh Markus dalam keadaan tidak sadar karena mencoba melakukan bunuh diri. Dan akhirnya ia tertolong ketika dibawa ke rumah sakit.
Untuk menyelamatkan ibunya, Markus punya ide mencarikan ibunya pasangan. Markus menelepon Will agar mengajak ibunya makan siang. Awalnya Will menolak namun akhirnya setuju karena tak punya pekerjaan. Toh, Will tak punya gairah untuk berkencan dengan Fiona, begitu pula sebaliknya.
Lantas bagaimana kelanjutan alur cerita yang menampakkan Markus berusaha menjodohkan ibunya dengan Will yang hidup dari royalty lagu gereja ayahnya? Yang pasti, film ini penuh dengan high comedy yang tak terduga. Apalagi, mampu menelanjangi hati terdalam kaum pria. Sebab, film ini secara blak-blakan membuka tirai yang membungkus misteri kaum pria yang selama ini dianggap tidak ada.
Pada akhirnya, dapat dipahami bahwa untuk memahami alur berpikir kaum pria, hanya bisa dimengerti pula oleh kaumnya. Tidak percaya? Simak saja “A Bout A Boy”!

BILA CINTA ITU GAGU

Judul : Eight Leggend Freak
Pemain : David Arquette, Kuri Wuhrer, Scott Terra
Cerita/Kisah : Ellory Elkayem & Randy Kornfield
Sutradara : Ellory Elkayem

SETELAH 10 tahun meninggalkan kampung, Chris M Cormick menemukan kenyataan bahwa kampungnya kini dicekik krisis ekonomi karena pendapatan utama masyarakatnya yakni tambang emas, sudah tak memberinya lagi harapan. Ayahnya yang sudah almarhum, sebelumnya sudah berkoar-koar pada masyarakat akan adanya emas di gua-gua. Namun, seorang tokoh masyarakat bernama Wade yang memiliki Prosperity Mall meyakinkan penduduk untuk pindah dan menjual lahan-lahan pertambangan.
Chris menolak. la yakin akan pernyataan ayahnya. Apalagi, ia pulang untuk merajut kembali masa depannya yang terputus. la berharap bisa mengatakan cinta pada Sam Parker, sheriff janda dari dua anak yang sudah remaja. Juga ia akan berterus terang, mengapa ia meninggalkan kota kecilnya yakni karena memukul suami Sam yang berselingkuh.
Namun, untuk menyatakan cinta itu memang gagu. Cinta adalah sesuatu yang sulit dikatakan tetapi bisa dirasakan. Hal yang diketahui Sam, walau terlambat dari ayah Chris. Kegaguan itu terus menyelimuti hidup Chris hingga suatu peristiwa besar yang nyaris merenggut nyawa penduduk, termasuk keduanya, untuk harus menyatakan cinta. Tapi, ternyata Chris tetap gagu. Malah, Sam begitu lancar mengatakan isi hati Chris yang akan diucapkan. Dan menyatakan rasa cinta itu ternyata begitu gampang, tapi tidak bagi Chris.
Kisah cinta sejati tersebut dikemas dalam cerita remaja yang berbentuk semi-ilusi dan sedikit ilmiah lewat film “Eight Legged Freak”. Walau tampaknya film yang dibaurkan animasi itu lebih memfokuskan penyerbuan laba-laba raksasa yang menyerupai monster ke kota kecilnya Chris, tapi cinta yang sepertinya ditempelkan justru menjadi inti dan benang merah alur. Apalagi, dibenturkannya tata cara percintaan masa silam si ibu dengan si anak yang sedang memasuki masa pancaroba.
“Aku bukan Mama yang ketika berusia 16 tahun sudah hamil!” Begitu protes Ashley (Doug E. Doug Scarlet) terhadap Sam Parker (Kuri Wuhrer). Dan hal itu dibuktikan Ashley ketika dicumbui oleh kekasihnya. Ia berontak dan mengingat pesan ibunya untuk tidak terjebak pada nafsu yang berkedok cinta.
Pengalaman memang ilmu yang sejati. Sam bisa tahu bahwa cinta yang dilumuri seks adalah kepura-puraan bagi lelaki, sementara bagi perempuan adalah penyerahan diri secara bulat. Pun ia bisa rasakan cinta sejati Chris (David Arquette) yang tidak melihat seks sebagai ujung tombak cinta.
Terlepas dari kisah cinta itu, film yang musiknya digarap John Ottman, lebih mengutamakan petualangan anak bernama Mike (Scott Terra) yang menjadi tokoh utama pengungkapan – keberadaan laba-laba mutan raksasa yang terkontaminasi zat beracun metan yang sengaja didatangkan pihak yang ingin menguasai lahan-lahan pertambangan tersebut. Mike menjadi kunci tentang laba-laba. Namun, film berbau animasi ini (sepertinya) meniru keberhasilan banyak film ilmiah-animasi.
Berubahnya laba-laba menjadi raksasa mengingatkan kita pada kisah Godzilla yang tercemar radio aktif di laut lalu menyerang kota besar di Amerika Serikat, Sementara pada film ini, laba-laba raksasa sudah beranak pinak dan menyerang penduduk kota kecil yang lebih tepat disebut kampung. Laba-laba pun sudah menjadi trade-mark “Spider-man” yang tahun ini terbilang sukses. Hal lain yang mendekatkan film terkenal yakni penampilan tokoh Mike yang berkacamata. Dengan wajah imut-imut, mengingatkan ktta pada tokoh “Harry Potter”.
Akan tetapi, sutradara Ellory Elkayem mampu menjadikan “Eight Legged Freak” terkemas sebagai film yang layak tonton. Apalagi, digarap untuk tidak menakut-nakuti penikmat dengan beragam sound effect yang aneh-aneh. Malah terkesan komedi. Toh, fokus utamanya memang kisah cinta atau lebih tepatnya disebut pelajaran cinta bagi ABG (Anak Baru Gede) yang menjadi sasaran produksi film tersebut.

CINTA SEGITIGA PERAMPOK BANK

Judul : Bandits
Pemain : Bruce Willis, Billy Bob Thornton, Cate Blanchet, Troy Garity
Naskah : Harley Peyton
Sutradara : Barry Levinton

MERAMPOK ternyata tidak selalu dengan tindak kekerasan, kekejaman, sadisme, ataupun tindakan di luar batas kemanusiaan. Bila saja dengan cara yang lebih lunak, simpatik, manusiawi, dan unik. Sehingga, terkadang harta si korban sudah terkuras habis, tapi barulah tersadar jika sudah dirampok setelah pelakunya berlalu. Hal tersebutlah yang ingin dipampangkanMetro Goldwyn Mayer Pictures & Hyde Park Entertainment yang memproduksi “Bandits”. Film garapan sutradara kawakan Barry Levinton ini merupakan “comedy crime” yang diilhami oleh kisah nyata petualangan dua bandit yang berprofesi perampok bank.
Pun film ini menjadi sangat menarik karena dimodifikasi sedemikian rupa sehingga kesegaran sebagai film komedian lebih dominan ketimbang sebagai film crime. Apalagi, penyuguhan adegan dengan setting “flash back” dengan dibumbui kisah cinta segitiga para tokoh cerita.
Bermula dari kaburnya dua narapidana, Jou Blake (Bruce Willis) dan Terry Collins (Billy Bob Thornton) dari penjara Oregon di negara bagian Selatan Amerika Serikat. Mereka berhasil lolos dari penjara dengan cara yang sangat unik dan sederhana, yaitu ketika dengan tenangnya Blake melumpuhkan sopir truk semen lalu mengambil alih kemudi untuk selanjutnya menabrakkan demi menjebol pintu gerbang penjara.
Tentu saja hal yang tak terduga ini membuat panik para sipir penjara dan dengan dukungan polisi, mereka mengubur Blake dan Collins. Tapi berkat ‘kelihaian profesi’, mereka pun berhasil menyelamatkan din lalu bersembunyi di sebuah vila yang hanya dihuni oleh dua remaja yang lagi “rendezvous” gelap.
Dengan ‘meminjam’ mobil kedua remaja itu, mereka pun buron sambil sesekali merampok bank, ketika keuangan menipis. Caranya, tentu saja dengan merampok bank dengan ciri unik dan menjauhi kekerasan. Misalnya menodongkan spidol yang menirukan pistol ke tengkuk satpam lalu melucuti senjata.
Modus operandi yang unik ini, dengan cepatnya membuat Blake-Collins tersohor sebagai perampok bijak di seantero wilayah Oregon hingga ke California. Adapun Balah satu cara yang terunik yakni sebelum bank dirampok, maka pada malam sebelumnya mereka menumpang tidur di rumah direktur bank, calon korbannya. Barulah keesokan harinya mengajak sang direktur ke banknya untuk dirampok sebelum pegawai dan para nasabah berdatangan.
Meski keluarga direktur ikut disandera, tetapi Blake-Collins tetap memperlakukan mereka dengan sikap. sopan, penuh tata krama dan simpatik. “Misi’ perampokan mereka semakin sukses, apalagi ketika kawan lama mereka, Harvey Pollard (Troy Bority) ikut bergabung.
Namun, sesukses apapun, di hati kecilnya juga ingin mengakhiri kejahatan lalu menjalani hidup yang baik. Blake sendiri ingin membuka hotel di Meksiko bila uangnya telah cukup untuk modal usaha. Namun rencana itu berantakan ketika Kate Wheeler (Gate Plancheet) secara tidak sengaja ikut bergabung.
Kate, ibu rumah tangga yang dilanda frustrasi, melihat perilaku suaminya Charles Wheeler (Bobby Slayton) secara tidak sengaja menabrak Collins yang saat itu mencari tumpangan. Karena panik dan gugup, Collins memaksa Kate membawanya ke tempat persembunyian Blake. Dan di sinilah awal petaka yang hampir saja memorak-porandakan “kekompakan” tim dan persahabatan antara Blake-Collins. Ketika itu, Kate dan Blake saling jatuh cinta pada pandangan pertama yang berlanjut dengan kisah cinta tak kenal waktu di sela-sela kesibukan merampok bank.
Akan tetapi cinta memang misterius. Sebagai wanita yang kesepian dan labil, Kate pun di suatu kesempatan jatuh cinta pada Collins. Maka terjadilah “cinta segitiga”. Bagaimana kisah selanjutnya? Yang pasti, suami Kate tetap mengira isterinya disandera bandit.
Film ini memang tak membutuhkan kepenatan berpikir. Penonton disuguhi alur cerita yang tidak berbelit. Mumi hiburan walau pada dasarnya yang difilmkan ini adalah kisah nyata. Dan disitulah kepiawaian Barry Levinton menggiring setting dan alur cerita. Lalu memberi penegasan bahwa bandit itu tidak selamanya sadis. Ya, ibarat Si Pitung maupun Robin Hood. Bedanya: hasil rampokan Blake-Collins, untuk mereka sendiri.

MENGUBAH ALUR SEJARAH HIDUP
Judul : Femme Fatale
Pemain : Antonio Banderas, Rebecca Romijn-Stamos
Naskah : Brian De Palma
Sutradara : Brian De Palma

MASA depan seseorang, ditentukan oleh dirinya sendiri. Pesan bijak itu telah dilontarkan Nabi Muhammad s.a.w. ratusan tahun silam yakni, “Nasib sebuah kaum tidak akan berubah jika bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya.” Artinya, alur sejarah hidup bisa diubah jika ada kesempatan untuk mengubahnya, yang tentunya dari jelek menjadi baik.
Adakah setiap orang punya kesempatan untuk berubah? Tentulah jawabnya “ya” jika mau mengoreksi dan selalu mengintrospeksi perjalanan hidupnya ke belakang kemudian mereka-reka masa depan yang selalu terbentang penuh tantangan, Walau nyatanya hidup itu ibarat perjudian yang selalu belum jelas. Namun, bila seseorang itu selalu bergelimpangan dosa lalu berhasrat menjadi orang baik, mengapa tidak?
Hidup memang penuh teka-teki dan sulit terduga. Malah kerap di suatu kehidupan, kita mendapatkan hal-hal yang sulit dimengerti. Apalagi jika berbau “kebetulan”, misalnya di suatu tempat ada orang yang mirip dengan kita. Di mana kita adalah seorang penjahat. dan yang mirip dengan kita itu adalah seseorang yang hidupnya mapan. Adakah kita berusaha mengubur masa depan orang itu lalu menggantikan posisinya? Dapatkah kita tenang karena kita pasti selalu diburu-buru oleh kejahatan masa silam kita?
Bercerita kebetulan dan mengubah nasib hidup yang tidak tenteram itulah yang ditawarkan Brian De Palma yang merangkap sutradara dan penulis skenario “Femme Fatale”. Film bersetting Perancis ini pun tidak sekedar hadir totalitas sebagai film action. Ada sisi kemanusiaan paling dalam yang tergali secara naluriah. Juga sekaligus menawarkan keberadaan Perancis sebagai negeri mode, keindahan kotanya, keluwesan bahasanya, film, gadis cantik, perhiasan mewah, lesbian, paparazzi, serta beragam corak kehidupan di negeri itu.
Walau “menjual nama besar Antonio Banderas yang berdarah Latin dan dikenal sebagai aktor laga, action, dan drama percintaan, alur cerita ternyata lebih menokohkan Rebecca Romijn-Stamos yang berperan sebagai Laure atau lily yang wanita jahat yang hidupnya menantang maut. Laure inilah yang punya kesempatan untuk menggantikan peran kehidupan lily yang kehilangan suami dan anak. Sampai hatikah Laure membiarkan lily frustrasi dan bunuh diri?
Film yang diproduseri Tarak Ben Ammar dan musiknya digarap Ryuchi Sakamoto ini, dimulai dengan “scene” Laure yang dijadikan sebagai robot perampok untuk mencuri “ular”, perhiasan bertahtahkan berlian bernilai $10 juta US. Berlian “ular” itu berfungsi sebagai pengganti baju yang melilit di bagian depan model yang memakainya dalam pesta pemutaran perdana sebuah film yang disutradarai Peter Coyle.
Racine pun menugaskan Laure mengambil perhiasan tersebut. Laure lolos masuk ke hotel tempat pameran sebagai fotografer dan menggoda sang model masuk toilet. Keduanya melakukan adegan lesbian sambil Laure mencopoti satu-satu perhiasan yang melilit di tubuh sang model. Tapi, aksinya terdeteksi. Bodyguard Peter Coyle berhasil menembak Racine sebelum ia dibunuh. Laure marah. la yang dijanji pencurian tanpa senjata dan kekerasan menemukan bukti bahwa ia ditipu Racine. Ia kemudian membawa perhiasan yang telah dipreteli.
Racine tidak terima telah diperdaya oleh Laure. Bersama rekannya, ia mencari Laure yang hilang bagai tertelan bumi. Ternyata, Laure yang dicetak tanpa nama karena paspornya telah diambil Racine harus berupaya keras untuk mendapatkan paspor. Tapi ia malah masuk gereja yang secara kebetulan jenazah yang disemayamkan adalah suami dan puteri Lily yang mirip wajah Laure. Pun Lily diburu untuk diberi ucapan duka.
Rekan Racine berhasil menemukan Laure lalu membuangnya dari gedung tinggi. Kebetulan sekali, Laure jatuh di tumpukan kain dan di situ ada sepasang suami-isteri yang mencari Laure yang disangka Lily. Laure dibawa ke rumah Lily. Saat mandi, Lily pulang lalu mengambil pistol dan menempelkan ke pelipisnya.
Haruskah Laure membiarkan Lily bunuh diri lalu peran Lily, ia ambil sebagai pengganti kehidupannya yang hilang? Jawabannya ada pada “mimpi” yang berada dalam alam bawah sadar Laure ketika berendam di bak mandi. Makanya, saat bertemu Nicolas Bardo (Antonio Banderas) di kehidupan nyata, ia merasa aneh.
Femme Fatale yang jika diartikan secara gambling, wanita fatal, memang seakan menyiratkan kesuksesan film “Femme Nikita”. Akan tetapi, pesan kemanusiaan dan masa depan yang bisa diprediksi itu, menjadi kekuatan film ini, sekaligus pembeda kedua film garapan Perancis tersebut.

MAGIS CINTA BERBURU HANTI

Judul : Thirteen Ghost
Pemain : F. Murray Abraham, Tony Shalhoub, Shannon Elizabeth, Embenth Davidtz
Sutradara : Steve Back
Produksi : Cokumbia Pictures & Warner Bros Pictures

CINTA itu dahsyat. Tak ada batasan waktu, ruang, ras, harta, maupun agama. Cinta pun selalu bersemayam di keabadian, sebab penuh tragedi dan misteri. Cinta melanda siapapun, tak terkecuali. Tak peduli mereka yang telah menjadi arwah sekalipun, di mana mereka rela bergentayangan untuk mencari cintanya yang abadi. Konon, Count Dracula sang “pencinta abadi”, pahlawan perang salib yang legendaris itu, demi cintanya yang membara kepada isterinya, rela bergentayangan ribuan tahun menembus batas ruang dan waktu untuk menemukan kembali cinta isterinya yang mati bunuh diri karena frustrasi mendengar kabar kematiannya di medan perang.
Karena landasan cinta pula, seorang arwah mampu mengungkapkan motif dan siapa pembunuhnya lalu menyelamatkan kekasihnya, seperti pada film Ghost yang kian melambungkan Demi Moore itu. Dan kisah seputar hantu dan misteri cinta itu, yang dikemas secara melankolis serta tragis dengan nuansa horor dan gaib sudah banyak diproduksi sineas Hollywood, misalnya “Dracula Lover”. Namun, tetaplah ada sisi lain yang ditampilkan, seperti halnya film Thirteen Ghosts” yang disutradarai Steve Back.
Diceritakan Cyrus Kriticus (F Murray Abraham), seorang “ghost buster” yang mempunyai hobi aneh yaitu memburu dan memelihara hantu ganas. Perburuan Cyrus ini didasari oleh rancangan “skematik setan” dari sebuah buku kuno yang berasal dari abad ke-15, di ; mana saat itu Eropa sedang menggalakkan revolusi industri dan teknologi mekanikal. Di dalam buku kuno itu dinyatakan bahwa untuk menguasai kehidupan yang kekal dan kemampuan prediksi kehidupan masa depan, maka seseorang harus menguasai 13 hantu dengan fungsinya masing-masing sebagai syarat untuk membuka “mata neraka” ke dunia.
Untuk mewujudkan ambisinya itu, Cyrus selama berpuluh-puluh tahun menggelar “perburuan hantu” dengan menggunakan alat ciptaannya berupa “mesin setan”. Hasil buruannya kemudian disekap dalam sebuah bangunan antik yang dilengkapi dengan peralatan berteknologi tinggi.
Namun belum lagi ambisi Cyrus terwujudkan dan hantu buruannya baru berjumlah 12 hantu, mendadak Cyrus menghilang secara misterius. Hal ini terungkap ketika Arthur (Tony Shalhoub), keponakan Cyrus ditemui oleh pengacara Bourne (Ben Moss) yang membawa sebuah surat wasiat yang menyatakan Arthur menerima warisan dari Cyrus yang baru saja meninggal dunia, berupa sebuah bangunan antik yang mewah. Arthur sendiri merasa aneh menerima warisan itu karena pamannya yang misterius itu sudah puluhan tahun tak pernah terlihat.
Diantar oleh Bourne, Arthur mengajak kedua anaknya, Kathy (Shannon Elizabeth) dan Bobby (Alec Roberts) serta pelayannya, Maggie (Rah Digga) untuk melihat rumah warisan itu. Di rumah terpencil tersebut, Rafkin (Matchew Lillard), seorang mantan pegawai Cyrus yang menyamar sebagai tukang listrik serta Kalina (Embeth Davidtz) yang mantan asisten Cyrus juga ikut bergabung masuk ke dalam rumah misterius yang penuh dengan peralatan yang canggih.
Kedua mantan bawahan Cyrus itu bergabung karena meyakini kalau di dalam rumah itu terdapat harta karun yang tidak ternilai harganya. Tetapi, begitu mereka masuk, mereka malah terjebak karena secara otomatis semua pintu tertutup dan mereka tidak bisa keluar lagi. Dan di sinilah dimulai adegan berdaya kejut tinggi ketika mereka diteror oleh kedua belas hantu yang terkurung dalam rumah misted as itu. Celakanya, hantu itu hanya dapat terlihat bila menggunakan kacamata khusus. Dalam cekaman teror yang bertubi-tubi, kedua anak Arthur malah terperangkap dalam jebakan “mata neraka”.
Bagaimana kisah selanjutnya? Berhasilkah Arthur membebaskan anak- anaknya? Ternyata terungkap di akhir cerita kalau Arthur .sengaja dijebak oleh. Cyrus. Karena untuk menyempurnakan syarat membuka “mata neraka”, Cyrus harus menangkap setan ke-13 dari arwah orang yang meninggal karena derita lama. Dan harapan itu ada pada Arthur yang isterinya tewas karena kebakaran. Toh, hantu si isteri yang juga tersekap, menolong Arthur dan kedua anaknya.
Kekuatan dan magis cinta itulah yang dilupakan Cyrus. Kekuatan yang juga kerap dilupakan oleh banyak orang. Padahal, hanya berbekal cinta, kita bisa hidup abadi hingga kapan pun mencintai dan dicintai!

BERBURU KEKUASAAN DALAM PENJARA

Judul : The Last Castle
Produksi : Dream Works Pictures
Sutradara : Rod Lurie
Pemain : Robert Redford, James Gandolfini, Mark Ruffalo, Clifton Collins JR

PENJARA itu bukan saja ditujukan bagi nara-pidana. Apalagi, jika penjara itu terletak di tempat yang terkucilkan. Bagi sipir, mereka juga adalah manusia-manusia yang terpenjara. Bedanya, hanya pada si penjaga dan yang dijaga. Namun, walau ada perbedaan kekuasaan, si penguasa terkadang ingin lebih dari segalanya. Sehingga, bisa menjadi tangan besi, absolut, otoriter, dan kekuasaan tak terbatas lainnya.
Apalagi, seperti sebuah kapal, maka hanya boleh ada satu nahkoda. Pertempuran secara efektif hanya dapat dimenangkan dengan pengorbanan sekecil mungkin bila taktik dan strategi operasinya disusun oleh satu komandan. Maka, kekuasaan itu pun diwujudkan walau seorang pemimpin membawahi penjara bagi orang-orang militer yang kenyang asam-garam peperangan.
Begitulah yang digambarkan dalam penjara militer “Last Castle”, dimana hanya boleh ada satu pengelolanya yang mempunyai kewenangan otonom dan kekuasaan otoriter. Bila kekuasaan menjadi plural, maka konflik psikologis manajemen tak mungkin terhindarkan. Tematik konflik manajemen inilah yang coba diungkapkan Rod Lurie yang menyutradarai film Last Castle.

Dikisahkan tentang Irwin (Robert Redford), veteran perang Vietnam, jenderal berbintang tiga yang dijebloskan ke penjara militer “Last Castle” karena melakukan pembangkangan terhadap perintah penarikan pasukannya dari medan perang oleh Presiden AS selaku “Komando Tertinggi”. Apalagi pembang¬kangan itu didakwakan sebagai penyebab delapan orang pasukannya “mati konyol” dalam pertempuran.
Di penjara militer yang dipimpin secara tangan besi oleh Kolonel Winter (James Gandolfinl), Jenderal Irwin yang kharismatik ini relatif dalam waktu singkat mendapat dukungan dari para narapidana, karena Irwin seorang “tokoh komando” legendaris dengan keahlian mengatur taktik dan strategi perang. Banyak pertem-puran yang dimenangkannya yang mengharumkan nama US Army dan Bangsa Amerika.
Meskipun Irwin tergolong gaek dan uzur, dengan kharismatiknya yang tinggi, ia mampu menyusun kekuatan secara diam-diam untuk melakukan pemberontakan narapidana. Tapi Winter dapat mencium upaya pemberontakan itu. Apalagi sejak awal kehadiran Irwin telah menimbulkan kecurigaan dan rasa tidak senangnya ketika Irwin mengomentari dirinya, bahwa seseorang yang senang mengoleksi pistol antik adalah orang yang tidak pernah menghadapi pertempuran secara fisik di medan perang.
Sebagai orang yang berwenang di Last Castle, Kolonel Winter merasa eksistensi kekuasaannya terganggu oleh kehadiran Jenderal Irwin. la bertekad untuk menindak tegas para narapidana yang berani membangkang apalagi mencoba memberontak. Untuk itu ia tidak segan unjuk gigi dengan memerintahkan Kopral Zamorro (David Alford) menembak Aquilar (Clifton Collins, Jr), karena menolak perintahnya untuk tetap tiarap setelah sirine tanda bahaya dibunyikan.
Target berikutnya adalah menyingkirkan Irwin, si duri dalam daging yang dinilai sebagai dedengkot pemberontakan para narapidana. Untuk itu ia memanfaatkan Yates (Mark Ruffalo) sebagai informan untuk memata-matai gerakan pemberontakan narapidana. Berhasilkah Yates ?
Ternyata Yates masih mempunyai hati nurani sebagai seorang marinir, dan ayahnya pernah menjadi anak buah Irwin. Ia tidak tega berkhianat. Pun ia lalu berbalik mendukung Irwin.
Konflik semakin tajam ketika Irwin sebagai mantan Jenderal berbintang tiga, yang terkenal mahir mengatur siasat dan menggelar strategi perang dengan sandi benteng, mampu menguasai “perang dahsyat” yang berkibar dalam penjara. Secara profesional militeristik, Irwin beserta seluruh narapidana berhasil membalik situasi dan mengakibatkan ratusan sipir militer terkurung dalam penjaranya sendiri. Kesempatan itu digunakan oleh Irwin untuk memasang terbalik bendera Amerika sebagai pertanda kondisi darurat-bahaya di dalam penjara “Last Castle”.
Tentu saja Winter berusaha untuk menghadapi rencana Irwin dan berhasil menembaknya. Tetapi winter pun di akhir cerita ditawan oleh Kapten Peretz (Steve Burton), pengawalnya sendiri yang tidak respek pada kezaliman Winter. “Perang” aktualisasi diri dan kekuasaan ini berakhir seperti pepatah kuno, “menang jadi arang, kalah jadi debu”.

WANITA MENCARI KEHORMATANNYA

Judul : Malena
Pemain : Monica Belucci, Guseppo Sulfaro
Dasar Cerita : Lucino Vincensoni
Skenario : Guseppo Tornatore
Sutradara : Huseppo Tonatore

ADA adagium yang hidup di tengah masyarakat Bugis-Makassar yang bila diartikan berbunyi “Jika ayah meninggal maka hilang kehormatan; jika ibu meninggal maka hilang kasih sayang.” Maknanya jelas! Malah jika sosok ayah hilang di sebuah rumah tangga, yang paling kelimpungan pertama kali justru sosok ibu. Apalagi, jika berlabel “janda muda” yang cantik lagi.
Tidak sedikit seorang janda muda yang dibebani cap “genit”, pengganggu suami orang, dan tudingan negatif lainnya. Terlebih sangat susah menemukan ada lelaki yang memberi bantuan pada seorang janda tanpa dibarengi pamrih yang niatnya sangat jelek. Maka jadilah beban batin yang menerpa seorang perempuan kian bertambah. Kehormatannya tercabik-cabik. la seperti sulit memilih jalan yang penuh onak.
Belum janda pun, seseorang yang ditinggal suaminya merantau, akan terterpa gossip. Beragam tudingan ditujukan padanya, apalagi bila wanita itu pandai bersolek. Banyak lelaki yang meliriknya, lalu dipenuhi angan-angan untuk meniduri si wanita tersebut. Pun keinginan untuk memiliki si wanita secara seksualitas belaka akan terang-terangan bila menjanda. Pria hidung belang berlomba-lomba seperti acara tujuh balasan.
Lantas bagaimana mengembalikan kehormatan yang hilang itu bagi perempuan yang ditinggal suami lalu tewas di perantauan? Apalagi bila si wanita yang kehilangan segala pegangan terpaksa “menjual diri” demi perutnya dan juga paksaan kaum pria yang tak henti menginginkan tubuh moleknya? Hal itulah yang ingin dijawab “Malena”. Film Italia ini menyuguhkan kisah seorang anak lelaki yang dipenuhi ilusi serta obsesif terhadap tubuh perempuan bernama Malena.
Diceritakan film yang mengambil setting tahun 1941 di Italia, masa-masa kegilaan Hitler melakukan penyerbuan demi NAZI Jerman-nya dan, Italia di era fasis, Malena Scordia (Monica Belucd) ditinggal suaminya, Nino Scordia, demi atas nama perang ke Afrika Utara. Di kotanya, Cascelcuto, Malena tinggal sendiri. Tapi ia terterpa gossip bahwa ia berselingkuh. Padahal nyatanya ia rajin berkunjung ke rumah seorang pria yang sangat dicintainya yang tak lain adalah ayahnya sendiri, Prof. Bonsignore.
Alur bergaya autobiografi yang mengambil satu episode masa puber terhadap seorang remaja berusia 12 tahun ini, menempatkan Malena seakan fokus utama cerita. Terlebih ketika suami Malena dikabarkan tewas dalam pertempuran. Maka bergantianlah pria, dan beragam pejabat, mendatangi secara sembunyi-sembunyi ke rumah Malena. Dan akhirnya, si ayah ikut termakan isu yang kemudian mengunci rumah untuk kehadiran puteri satu-satunya itu.
Malena kian kehilangan pegangan ketika ayahnya tewas tertimbun reruntuhan yang dibombardir pesawat tempur Jerman. Ia harus memilih sembarang pria demi hidupnya, termasuk menjadi pelacur bagi tentara-tentara Jerman. Makanya ia dicampakkan dan diusir ketika sekutu pimpinan Amerika Serikat menguasai Italia yang saat itu dipimpin oleh II Duke dan mengusir Jerman. Malena terbuang dari kota kecilnya dan harus pergi jauh dengan tubuh terluka serta tanpa bekal makanan.
Perang usia. Amerika menjaga Italia. Nino, suami Malena, pulang. Tangannya puntung. Ia menemukan rumahnya yang dikuasai pengungsi dan tanpa Malena. Ia berkeliling mencarinya, tapi tak ada yang mau buka mulut. Akhirnya, Amaroso Renato (Gusseppo Suifaro) memberanikan diri mengirim surat pada Nino. Apalagi, Renato merupakan satu-satunya yang tahu ketulusan cinta Malena terhadap Nino karena dia setiap saat mengikuti dan mengintip Malena yang menjadi pujaannya lewat aneka hayalan.
Malena pulang kampung bersama suaminya yang berhasil menemukannya. la kembali merajut segala kehormatannya yang pernah tercampak. Seperti sebuah dialog dalam film itu bahwa “kehormatan bisa didapatkan di tempat hilangnya kehormatan itu”. Sementara Renato tetap menjadikan Malena sebagai ilusi dan menenggelamkan perempuan lain hingga ia tua.
Film ini tergarap secara apik. Keberanian Monica Belucci memamerkan kemolekan tubuhnya seperti pada “Brotherhood of the Wolf” tetap konsisten. Perannya yang sangat berani, kian menghidupkan alur film yang musiknya digarap apik pula oleh Ennio Morricone.

“MARSINAH”, HITAM-PUTIH PERADILAN

JIKA para terdakwa pembunuh Marsinah dinyatakan bebas oleh Mahkamah Agung, lantas siapa pembunuh sebenarnya?” Itulah kalimat ending yang diucapkan pemeran Marsinih, adik Marsinah yang mengomentari kenyataan kabut tebal yang menyelimuti kematian buruh pabrik PT Catur Putra Surya Sidoarjo, Jawa Timur, yang ditemukan tewas 9 Mei 1993 di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk. Memang, terdakwa pembunuh Marsinah telah disidangkan. Malah, Mutiari telah menjalani hukuman yang divoniskan padanya. Sementara Yudi Astono (Direktur PT CPS Porong), Suwono (Kepala Satpam PT CPS Porong), Ayib (Kabag Produksi), Suprapto (Bagian Kontrol), sempat pula menjalani hukuman yang rata-rata divonis 12 tahun, sebelum pernyataan bebas dikeluarkan MA.
Adapun Mutiari yang malah lebih dulu ‘divonis’ oleh media massa sebagai pesakitan yang bersalah, takkan mampu melupakan “kisah tragisnya”, dituding sebagai bagian dari pembunuhan yang keji. Dan kisah hidup Mutiari inilah yang ditampilkan sutradara Slamet Rahardjo pada film “Marsinah (Cry Justice)”. Naskah yang digarap Slamet secara bareng-bareng dengan Eros Djarot, Karsono Hadi, Agung Bawantara, dan Tri Rahardjo, memberi tawaran terhadap buruknya sistem peradilan dan kekuasaan negeri ini di era Orde Baru. Apalagi, hingga kini, misteri pembunuh, Marsinah, masih tetap terselubung.
Digarap ala film dokumenter, Marsinah (Cry Justice) menceritakan upaya Hari Sarwano (Toshan Wiryawan) yang mencari isterinya, Mutiari (Diah Arum) yang hilang sejak awal Oktober 1993, setelah beberapa hari sebelum diperiksa* oleh polisi. Teman-teman kerja Mutiari yang ingin dikonfirmasi, ternyata juga raib. Ke mana mereka menghilang? Pun Hari tak menemukan jawaban. Sementara ayahnya meminta ia menceraikan isterinya yang dianggap pembunuh itu, walau sedang hamil.
Ternyata, Mutiari dan kawan-kawannya yang dijemput oleh orang-orang tak dikenal, disekap di kantor Kodim. la didera siksaan Psikologis. Teman-temannya disiksa secara fisik. Dijadikan “hiburan” bagt tentara. Mereka dipaksa merancang pembunuhan pada Marsinah. Kok mengapa tentara yang menyidiknya?
Hitam-putih peradilan Indonesia yang cenderung abu-abu itu pun dibuka secara transparan. Sangat telanjang. Penangkapan yang tidak prosedural, sebab dilakukan secara pencidukan dan penculikan. Surat penangkapan diberikan pada keluarga setelah 19 hari menghilangnya mereka. Polisi “Ikhlas” melanjutkan penyidikan setelah diserahkan oleh tentara. Jaksa penuntut umum begitu arogan mengajukan mereka ke meja hijau. Hakim pun tak peduli saran dan kegelisahan pembela atas adanya berbagai kejanggalan pada para saksi.
Tanpa sungkan-sungkan, siksaan yang menerpa Mutiari diperlihatkan, termasuk saat mengalami pendarahan dan keguguran. la nyaris gila. Adapun suaminya, menuntut akan mempraperadilankan kepolisian. Tapi, upayanya kandas. Polisi lebih cepat menjadikan Mutiari sebagai tersangka yang awalnya Cuma saksi -mendahului sidang bagi terdakwa pembunuh langsung.
Adapun kehidupan Marsinah berusia 23 tahun yang dianggap bandel itu, juga diperlihatkan. Pejuang nasib buruh itu tampak gigih mengurusi nasib kawan-kawannya, apalagi ketika dituding sebagai PH. Padahal, awalnya ia bersama 17 kawannya hanya memperjuangkan kenaikan upah pokok, pada 4 Mei 1993, dari Rp. 1.700 per hari menjadi Rp. 2.250. Nilai Rp. 550 itulah yang diperjuangkan Marsinah dan mengantarnya ke kematian yang misterius.

Siapa pembunuh Marsinah? Teka-teki itu tak terjawab, tapi dapat dirasakan keberadaannya sejak lama. Apalagi bila melihat sajian film yang musiknya diarsiteki oleh Djaduk Ferianto ini. Adakah akibat gertakan Marsinah untuk membeberkan rahasia perusahaan yang tak terungkap itu? Rahasia Apa? Adakah pembuatan arloji bermerek yang dibuat secara illegal? Tak jelas.
Menilik sajian film semi dokumenter ini, mengingatkan kita pada film “JFK”. Di mana teka-teki kematian John F. Kennedy masih misterius, sebab hanya menjadikan Lee Oswald sebagai tertuduh lalu dibunuh sebelum diadili. Namun lewat “JFK”, bisa terasa adanya konspirasi tingkat tinggi dari Pentagon untuk membunuh presidennya.
Pun bila mencari cela pada “Marsinah”, hanyalah ketidaktelitian pencatat skrip ketika tiga polisi membawa suami Mutiari menemui isterinya. Dua diantaranya memakai jaket. Tapi ketika masuk sel tahanan, tak ada yang memakai jaket. Secara logika, menghadap pemimpinnya saja memakai jaket, boro-boro melepas ketika harus menemui tahanan.
Yang pasti, film ini mengingatkan kita pada banyak hal, termasuk ketika Sentong dan Karta dinyatakan bebas oleh MA setelah dihukum bertahan-tahun. Juga, teringat akan nasib Nursalampessy di Makassar yang sempat akan mempraperadilankan nasibnya yang dituding sebagai pembunuh, tapi nyatanya ia malah divonis penjara seumur hidup. Nasib! Ya, nasib peradilan kita yang tak jelas di mana letak nilai keadilannya.

SANG HERO TERLIBAT VOODOO

Judul : Scooby Doo
Pemain : Freddie Prinzo JR, Sarah Michelle Gellar, Mathew Lilard, Linda Cardellini, Rowan Atkinson
Skenario : James Gunn
Sutradara : Raja Gosnell

SUKSES Spiderman telah “merangsang’ pembuat film kakap sekelas Warner Bros untuk menghidupkan kembali legenda-legenda hero yang muasalnya dari komik hingga film kartun. pemerannya bukan lagi kartun, tapi benar-benar hidup. Apalagi, cerita klasik yang telah mendarahdaging dengan penikmatnya, tak pernah mati. Sang hero selalu hidup hingga kapan pun, yang kemudian dilanjutkan ke generasi penerusnya. Intensitas penampakan cerita yang setiap saat diperbaharui, membuat legenda fiktif itu terus menerus hidup di sepanjang masa.
Intensitas legenda fiktif pun kerap dijadikan sebagai cerita ilmiah. Misalnya, kemunculan kembali Godzilla yang di awal kehadirannya di era 50-an, sudah dibentuk sebagai makhluk langka peninggalan purbakala yang masih berhubungan dengan dinosaurus. Namun, penampilan terakhirnya malah sudah berubah bentuk. Godzilla merupakan kadal kecil yang mengalami proses mutan akibat limbah nuklir yang bocor di lautan Pasifik akibat penelitian Perancis.
Tak sedikit cerita fiktif yang merupakan hero bagi penikmatnya sejak kemunculan sang tokoh, telah disesuaikan dengan zamannya. Setting ilmiah lebih ditonjolkan. Namun, ternyata teori itu disungsang oleh Graig Titley dan James Gunn yang menghidupkan kembali Scooby Doo sebagai cerita di kekinian. Yakni, bila alur-alur setting Scooby Doo, kebanyakan pembuktian ilmiah untuk melawan keberadaan hantu, maka kehadiran empat tokoh dan seekor anjing bernama Scooby Doo itu selalu membuktikan bahwa “tidak ada hantu”. Toh lewat film terbaru yang diproduksi Warner Bros lewat tangan dingin sutradara Raja Gosnell, malah merujuk pada fantasi horor yang nyaris nyata.
Memang, tampaknya alur Scooby Doo tak lepas dan stereotype yang telah puluhan tahun terbangun dalam file-file imajinatif penikmat film-film kartunnya. Seperti diceritakan di awal film ini, “Mystery Inc.” yang merupakan label kelompok detektif di mana Scooby Doo termasuk tokohnya, memecahkan kasus misteri “Hantu Luna” yang kerap mengganggu. Toh, dibuktikan bahwa tak ada hantu, yang ada seorang manusia yang menggunakan trik modern untuk bisa terbang.
Pada dasarnya, Scooby Doo di layar lebar, hampir sama dengan kisah-kisah Scooby Doo di film kartun. Mystery Inc. yang beranggotakan Fred (Freddie Prinzo Jr) pimpinan kelompok, Velma (Linda Cardellini) yang cerdas selalu bisa menjelaskan sesuatu dengan dasar ilmu pengetahuan, Daphne (Sarah Michelle Gellar) yang. cantik dan pemberani, Shaggy (Mathew Lillard) yang agak penakut dan Scooby Doo si anjing cerdas yang selalu bersemangat bila diberi snack meskipun ia ketakutan.
Film ini dimulai kala Daphne diculik oleh hantu Luna di pabrik mainan. Teman-temannya berhasil menolong dan mereka pun memecahkan misteri hantu-bantuan yang ada di lokasi tersebut. Namun kelompok Mystery Inc. bubar akibat masing-masing anggota merasa dirinyalah yang paling berjasa dalam memecahkan misteri. Terlebih adanya ucapan terima kasih dari aktris terkenal Pamela Anderson yang memerankan Pamela.
Dua tahun kemudian mereka mendapat undangan untuk memecahkan kasus di Spooky Island. Di awal pertemuan mereka masih saling cuekan, setelah ketemu hantunya mereka kembali kerjasama. Emil Mondavarius (Rowan Atkinson) yang mengundang mereka ke Spooky Island menjelaskan bahwa anak-anak remaja yang mengunjungi pulau datang dengan wajah gembira tapi mereka pulang dengan wajah yang aneh dan kasar terhadap orang sekitarnya.
Misteri aneh itulah yang harus diungkapkan. Ternyata, di pulau itu terdapat pemuja Voodoo. Ada pemimpin yang menggunakan tubuh Mondavarius, sementara rohnya disimpan di sebuah belanga khusus. Kemampuan mencuri roh dari tubuh manusia yang bertajuk “photoplasma” itu dimungkinkan lewat alat medium “prasasti”.
Siapa tokoh di balik photoplasma itu? Ternyata Scrapy Doo -ponakan Scooby Doo-, yang terbuang dari kelompok Mystery Inc. karena selalu berbuat ulah. Scrapy menginginkan kekuatan Scooby Doo menjadi miliknya. Dan lewat ritus voodoo itulah, ia menghimpun kekuatan.
Menjadikan Scooby Doo ke layar lebar, terbilang menarik. Apalagi, sistem animasi tetap dipertahankan untuk tokoh Scooby Doo dan Scrapy. Malah pemunculan aktor terkenal seperti Rowan Atkinson yang selalu berperan sebagai Mr. Bean maupun kemunculan Pamela Anderson, tenggelam oleh kebesaran legenda “Scooby Doo”.

MUKJIZAT PESAN TERAKHIR

Judul : Signs
Pemain : Mel Gibson, Josaquin Phoenix, Cherry Jones, Scom Cuklin
Musik : James Newton Howard
Skenario : M. Night Shyamalans
Sutradara : M. Night Shyamalans

PESAN terakhir sebelum kematian dari seseorang adalah sebuah petunjuk. Bukan sekedar wasiat untuk membagi-bagikan harta. Tak jarang, sesuatu mukjizat tentang masa depan. Malah pada masyarakat Bugis Makassar diyakini jika seseorang sedang menghadapi sakratul maut, bola matanya yang hitam menghilang’ melihat sebuah masa depan yang akan dijalaninya.
Seperti tanda atau isyarat maupun firasat yang diperlihatkan seseorang yang akan pergi menghadap Ilahi, barulah disadari setelah orang itu mati. Kita pun tersentak. Tersadar. Terbangun dari sebuah tidur panjang tentang suatu makna yang telah diberikan tapi kita tidak menyadarinya. Makanya, tanda-tanda itulah yang mestinya harus selalu diwaspadai. Mawas!
Kematian adalah sesuatu yang pasti bagi makhluk hidup. Tak ada satu pun yang bisa mengelaknya. Namun haruskah kematian itu ditakuti? Haruskah kematian menghantui kita? Ataukah kematian itu adalah kesalahan Tuhan yang tak memberi kita kesempatan berumur panjang dan menikmati hidup sampai puas?
Beragam pertanyaan tentang kematian dibeberkan dalam film “Signs”. Seperti dalam pengertian kata “sign” itu yang berarti tanda, maka tanda-tandalah yang ingin dipaparkan untuk dikemukakan dalam film yang skenario dan sutradara sekaligus produsernya dikuasai penuh oleh M. Night Shyamalans. Intinya : kematian memberi tanda, begitupula kehidupan.
Tanda-tanda itulah yang harus disadari. Seperti pesan Collen kepada suaminya, pendeta Graham Hess sebelum mati karena terjepit oleh truk yang menabraknya. “Biarkanlah Morgan bermain game, suruh Bo mengikuti kakaknya karena kakaknya akan melindunginya, bilang pada Graham agar selalu melihat, dan pada Merril agar mengayunkan kuat-kuat stik baseballnya.” Pesan itulah yang selalu menghantui Graham, tapi ia tak pernah tahu artinya.
Akhirnya kematian itu akan datang juga. Malah akan menimpa umat manusia di seluruh dunia. Hal itu ditandai dengan munculnya makhluk luar angkasa semacam “alien” di perkebunan jagung Graham (Mel Gibson). Awalnya keluarga Hess menduga ada saringan perkebunan jagung yang sengaja merusak kebunnya dengan bentuk tanda. Namun setelah muncul tayangan peristiwa di televisi yang mengabarkan adanya makhluk asing, keluarga itupun memilih men3’elesaikan masalahnya sendiri.
Emosi dan ketegaran hidup menghadapi alien yang sekali menjemput ajal itulah yang dimainkan dalam “Signs” yang musiknya digarap secara apik walau dengan sangat sederhana oleh Newton Howard. Digambarkan suasana batin Graham yang membenci Tuhan karena kematian isterinya Collen lalu menyaksikan bakal kematian puteranya, Morgan (Scorn Cuklin). Dan perjuangan hidup itulah yang akhirnya tetap berfokus bahwa kematian dan kehidupan itu adalah mukjizat dari Tuhan.
“Signs” merupakan film yang memainkan emosi penonton. la tidak. meledak-ledak dipenuhi ketegangan lewat visual seperti pada film-film yang dimainkan Mel Gibson yang kali ini memilih bermain secara watak. Bukan keheroan yang menjadi inti cerita. Tapi, permainan emosi yang menuju klimaks dengan membeberkan berbagai pertanyaan yang harus dijawab. Apalagi, semua simbol dan tanda yang mendukung alur cerita, merupakan satu kesinambungan dan keterikatan yang saling padu.
Misalnya tentang air yang sangat ditakuti Bo (Cherry Jones) yang berusia sekitar empat tahunan lalu menyimpan air di gelas yang seterusnya ditaruh di berbagai tempat di rumahnya. la selalu merasa bahwa air itu ada kumannya. Toh, terjawab juga bahwa air itu senjata ampuh untuk melukai alien. Begitupula soal sakit asmanya Morgan yang termasuk inti cerita dalam menghadapi kematian. Juga kehidupan baseballnya Merril (Josaquin Phoenix) yang dengan stiknya, membunuh alien lewat pukulan keras.
Film ini terbilang cemerlang dengan memainkan segala emosi penonton yang larut seakan menyaksikan film yang nyata. Sebagai film fiksi-ilmiah, “Signs” mampu menyajikan dirinya sebagai film yang penuh pesan kehidupan yang berada di sekitar kita tanpa memandang agama, suku, bangsa, dan tempat. Apalagi, permainan watak para pemerannya, sangat luar biasa. Film yang tidak sekedar memberi tanda untuk jempol, tapi banyak hal yang bisa dibawa pulang sebagai bahan renungan dalam kehidupan ini sebelum kita mati.

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO, SH.SAB.SSN.MS.MH.MM

Sosok multi talenta. Selain sebagai mantan birokrat (plt kadis Tataruang), Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea, Dekan Fakultas Teknik ISTP, Dekan Fakultas Media Rekam IKM, sekarang Rektor Institut Kesenian Makassar, dosen di berbagai perguruan Tinggi di Makassar , seniman dan aktor film, juga salah seorang penulis yang karya-karyanya banyak bertebaran di media massa baik local maupun nasional dan International.
Menyelesaikan Sarjana ADM Negara (1982), Sarjana sipil (1990), Sarjana Hukum (2009),Sarjana Administrasi bisnis (2010),sarjana seni film ( 2013) Master Sains di Unhas (1992), Doktor Ilmu-Ilmu Teknik (2004), Magister Hukum (2010) dan magister manajemen (2012) .
Mengikuti short course bidang teknik di New Zaeland, Australia, Jepang,thailand,malaysia,China,hongkong,turki, Srilanka dan korea selatan. Sementara di organisasi aktif sebagai Ketua harian PARFI Cabang Sulsel, Ketua BKKI Sulawesi selatan. Ketua LESBUMI dan Ketua ASSEMI.
Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain, Siluet Cinta (puisi), Kota Kekasih (puisi), Bulan di Atas Bara (novel), Antara Bumi dan Langit (novel), Menanti Musim Berganti (novel), buku 42 Kritik Film (kritik film), Arsitektur Tradisional Sulsel Pusaka Warisan Budaya Indonesia,mengolah limbah domestik dengan filter biogeokimia dan ikut dalam antologi Ombak Makassar, Sastra Kepulauan.pintu yang bertemu,baruga ,menepi kesepi puisi,dan nyanyian tiga pengembara , Bugis Dalam peradaban melayu

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: