PART II. KRITIK FILM UNGGULAN DR SYAHRIAR TATO YANG DIMUAT DI HARIAN FAJAR.

BILA CINTA BERLUMUR DOSA

Judul : Original Sin
Pemain :Antonio Banderas, Angelina Jolie, Thomas Jane
Musik : Terace Blanchard
Skenario :Michael Christofer
Sutradara :Michael Christofer

CINTA itu dahsyat! Kekuatannya tak terkalahkan. Walau dipenuhi kebohongan, dan segala tipu daya, cinta tetap suci. Karena cinta lahir dari jiwa yang terdalam, yang tak bisa dibuat-buat maupun dimanipulasi. Dan misteri itu takkan dapat dijawab secara logika. Pun, bila cinta berlumur dosa, ia tetap agung. Tak percaya?
Masih banyak yang menyamakan cinta itu sama dengan seks. Maka ketika sebuah cerita digagas untuk mencari kemurnian cinta yang tak bisa dibedakan antara kemurnian dosa, yang ditemukan adalah cinta itu adalah dosa ketika tak memiliki cinta. Tapi bila cinta itu ada, penuh dengan kesuciannya, takkan ada yang mampu membedakannya sebagai dosa.
Mencari rumusan cinta itulah, Cornell Woolrich memaparkannya secara blak-blakan lewat novel “Walls into Darkness”. Dan naskah dahsyat itu kemudian diangkat ke layar lebar oleh Michael Christofer yang bertindak sebagai penulis skenario sekaligus menyutradarainya. lewat label “Original Sin”. Intinya : “Ini bukan cerita cinta. Ini cerita tentang cinta”. Cinta yang memberi kekuatan di atas bara kehancuran.
Diawali setting “flashback”, seorang perempuan terpidana mati di balik tembok penjara, menceritakan kisah hidupnya sebagai penyebab dari kehidupan yang bakal menjeratnya ke tiang gantungan. Cerita yang berkisar berada di akhir abad ke-19 di sebuah negara Latin.
Dikisahkan Luis Antonio Vargas (Antonio Banderas) yang tinggal di Santiago, ingin menikahi sahabat penanya dari negara Amerika. Alasannya, Santiago adalah masa kini yang bakal jadi silam, sementara Amerika adalah masa depan. Dan pemilik perusahaan kopi itu pun meminta Julia Russel datang.
Hari kedatangan Julia (Angelina Jolie) disambut dengan suka cita oleh Luis yang langsung menikahinya pagi itu juga. Sebelumnya Julia mengaku telah membohongi Luis dengan mengirimi foto orang lain agar Luis tidak jatuh cinta padanya karena kecantikannya. Pun Luis mengaku bahwa ia bukan pegawai pada perusahaan kopi seperti dalam suratnya tetapi ia pemilik perusahaan tersebut.
Luis sangat bahagia dengan perkawinannya. Seperti ungkapan sahabat Luis bahwa perkawinan yang bahagia itu, seperti mati dalam bahagia. Ungkapan rasa bahagia Luis pada isterinya diwujudkan dengan memberikan kewenangan pada isterinya untuk menggunakan rekening bank Luis. Hal ini membuat sahabat Luis mengingatkan, “cinta selalu memberi dan nafsu selalu menerima”.
Kebahagiaan Luis terusik setelah kedatangan kakak Julia dari Amerika di kantor Luis yang menyatakan balasan surat yang diterima bukan dari adiknya tetapi dari orang lain karena tulisannya berbeda. Dengan kemarahan yang besar Luis kembali ke rumah mencari isterinya. Tapi isterinya telah pergi dan sebelumnya telah menarik seluruh isi rekening milik Luis.
Luis kecewa. Patah hati,. Marah. Di tempat hiburan, bertemu lagi dengan detektif Walter Doowns (Thomas Jane) dari Amerika yang sebelumnya ingin bertemu Julia. Luis minta Walter mencari Julia yang ternyata buronan. Tujuannya bukan untuk mencari uangnya, tapi ingin membunuhnya.
Petualangan mencari Julia dimulai dengan mencari informasi di kapal dan pelabuhan. Diperoleh info bahwa Julia Russel yang ada pada foto yang dikirim dari Amerika, ternyata terlihat bersama “Julia Russel” yang menjadi istri Luis. la salah seorang anggota pemain teater dari Amerika yang pentas di Santiago.
Luis dan detektif melanjutkan perjalanan ke Havana mencari Julia. Di Havana, Luis temukan Julia yang ternyata bernama Bonny Castel. Isterinya’ ini mengaku disuruh oleh Billy. Malah mengungkapkan kasus pembunuhan terhadap Julia Russel asli yang dilakukan Billy. Tapi sekali lagi atas nama cinta, Luis tak mampu membunuh Bonny. la mencintai “Julia”*, siapapun namanya, yang turun dari kapal dan ia nikahi. Makanya, ia melindungi Julia ketika sang detektif menemukan Julia lalu menembaknya.
Bagaimana kisah selanjutnya yang ternyata si detektif gadungan itu adalah Billy yang menyamar, tidak mati karena pistol berisi peluru hampa? Yang pasti, klimaks cerita terjadi pada adegan-adegan berikutnya. Termasuk kala Luis harus menenggak racun tikus yang disiapkan Bonny, walau ia tahu. Ya, semuanya demi cinta!
Lewat “Original Sin”, kita takkan menemukan aksi Antonio Banderas yang awal-awal kiprahnya di dunia akting, banyak memainkan peran kekerasan. Malah, tubuh kekarnya kali ini tidak diwarnai kekuatan tubuh, tapi rasa, la melawan dengan “kasih” dan “cinta”. Seperti halnya, ketika membintangi Two”. Dan film ini lebih nikmat, karena sajian adegan dipenuhi musik yang mengantar ke alur-alur romantika.

KEBAHAGIAAN ANAK ADOPSI

Judul : Snow Dogs
Pemain :Cuba Gooding, James Cobum
Naskah :Tommy Swedlow, Cs
Sutradara :Bian Levant

APA yang dicari orang ketika sudah mencapai kemapanan? Adakah seperti lagu dangdut “yang kaya makin kaya” dimana seseorang Id an menumpuk kekayaan? Ataukah kegelisahan akan jati diri yang lebih jelas lalu bertanya pada dirinya sendiri bahwa apakah pilihan hidupnya sudah pasti dan benar?
Kemapanan terkadang merupakan suatu awal untuk mencari jati diri yang lebih hakiki. Malah akan menjadi awal dari segala awal bila ternyata menemukan diri bahwa kita bukanlah siapa-siapa maupun apa-apa. Itupun jika ada kesadaran yang menggelitik batin untuk menemukan diri yang sebenar-benarnya. Apalagi jika ternyata kita bukanlah darah daging dari orang tua yang selama ini memelihara kita.
Berbekal ‘kesalahan’ orang tua yang menutup rahasia seseorang yang diadopsi, produser Jordan Kerner yang pernah sukses memproduksi film komedi “George of the Jungle” bersama sutradara Brian Levant yang sukses menangani “Beethoven”, lahirlah “Snow Dogs” yang merupakan paduan garapan serius tapi konyol dan sangat lucu. Di tengah pencarian muasal genetika di Alaska itu, hadir falsafah kehidupan yang bisa berasal dari kaum mana pun.
Alur cerita dimulai ketika Teddy Brooks bercita-cita menjadi dokter gigi seperti ayahnya. la pun berhasil menjadi dokter gigi yang sukses di Miami, 25 tahun berikutnya. Teddy (Cuba Gooding) malah menjadi bintang iklan yang memberi senyuman dengan penampakan gigi putih. Hingga akhirnya ia mendapat surat wasiat. Toh, ia tertarik untuk mencari orang tuanya yang asli. Apalagi, ia penasaran karena barulah ia tahu jika punya ibu kandung bernama Lucy Watkins.
Film yang musik dan sound efeknya dikerjakan ‘ John Debney itu pun berlanjut ke kehidupan Alaska yang dipenuhi salju. Bagai film dokumenter tentang pariwisata keindahan alam Alaska yang alami (natural) dengan butir-butir saljunya, Ted (sapaan akrabnya Teddy) yang berkulit hitam itu harus berupaya keras menemukan siapa ayahnya. Sebab, ibunya hanya memberikan wasiat tentang barang-barang peninggalan yang bagi Teddy tidak ada harganya.
Ted nyaris patah arang lalu pulang ke Miami andai gadis hitam yang cantik (Joanna) tak memberinya jawab. Namun ia bingung ketika menemukan bahwa ayahnya berkulit putih dan terbilang sosok lelaki tua yang ditakuti masyarakat Tolketna. Malah, pria itu adalah orang yang selalu ingin membeli anjing-anjing peninggalan Lucy dengan harga murah. Dan setiap mencari tahu tentang keaslian ayah serta watak ibunya, Thunder Jack atau James Johnson yang diperankan aktor kawakan James Coburn memilih. untuk menawar harga anjing-anjing yang merupakan anjing lomba dalam balapan salju.
“Snow Dogs” pun nyaris sempurna menggabungkan beragam bentuk film. High comedy yang mengikutkan anjing-anjing seperti keberhasilan “Dalmatians” ikut menguatkan alur cerita. Tapi anjing tidak menjadi fokus utama sehingga film yang menawarkan falsafah “hidup, tidak terjebak pada komedi murahan. Apalagi ketika James Johnson nekat menembus badai demi juara lalu hilang di tengah bukit salju, lalu Ted pergi mencarinya demi suatu kebenaran akan jati dirinya.
Maka obor “Arctic” yang dipadamkan bila semua peserta lomba sudah memasuki garis finish,’ dibiarkan tetap menyala berhari-hari demi menanti dua nyawa yang tak jelas hidup-matinya di sergapan badai salju, Keduanya selamat. Ted tahu di mana Johnson berada, yakni di tempat ia juga pernah diselamatkan oleh Johnson. Dan di gua itulah, Johnson dan Lucy berhubungan hingga melahirkan Teddy.
Di pertemuan ke-dua di gua itu pula, Johnson membeberkan kebenaran yang lebih hakiki bahwa ia sangat mencintai Lucy. Juga mencintai anak yang dilahirkan. Tapi, Lucy merasa sebagai penakluk bukit salju dengan anjing-anjingnya, menyadari ketidakmampuannya membesarkan anak. Dan ia yakin bahwa di tangan orang lain, anaknya akan sukses.
Bagaimana akhir cerita yang melibatkan pula perasaan cinta Ted terhadap Barb? Yang pasti, film yang diproduksi Walt Disney dan skenarionya digarap secara bersama-sama oleh Tommy Swerdlow, Michael Goldberg, Mark Gibson, serta Philip Halprin, mampu memberi penawaran berpikir tanpa jejalan pemaksaan. Penikmat film disajikan kenyataan hidup yang bisa saja terjadi di mana saja, termasuk berada di sekitar kita. Toh, kita bisa terkontemplasi sambil tertawa.

DENGAN APA ADA CINTA ?

Judul :Ada Apa Dengan Cinta
Naskah/Skenario :Jujur Prananto
Sutradara :Rudi Soejarwo
Produksi :Miles Production
Produsen :Mira Lesmana dan Riri Reza
Pemain :Dian Sastro Wardoyo – Nicholas Saputra – Frans Tumbuan – Ttti Kamal – Adiwiniawirasti – Sissi Priscillia – Ladya Cheryl

CINTA itu absurd.-Tak dapat di “nyata”kan dan di”sentuh” secara fisik dengan perilaku kasat mata. Bicara tentang cinta, maka tak satupun kata yang dapat mengungkapkannya secara jelas dan defenitif. Tak ada alat yang dapat mengukur ataupun menakar kadarnya. Tak ada mediator, perangkat serta tatanan yang bisa mengatur untuk merasakan keberadaannya. Kecuali dirasakan secara gaib. Cinta merupakan misteri yang dapat memberi kekuatan bagi seseorang untuk merubah perilaku dan jalan hidupnya.
Ada penyair yang mengibaratkan cinta seperti anak panah bermata dua dan bersayap dusta. Begitu ia menghujam ke dalam lubuk hati seseorang, maka ia akan memberikan rasa ganda. Kebahagiaan sekaligus penderitaan dan kesedihan. Tetapi adakah yang*mampu menolak kehadiran cinta meskipun di dalam prosesinya terkadang diakhiri dengan perpisahan dan air mata.
Banyak film Indonesia yang diproduksi dan bercerita tentang remaja dengan tematik cinta. Sebut saja film Cinta Pertama, Gita Cinta di SMA, Romi dan Juli, Pengantin Remaja, Pernikahan Dini dan banyak lagi lainnya yang kesemuanya bercerita tentang kisah cinta remaja dan problematiknya.
Film “Ada Apa Dengan Cinta” yang diproduksi oleh Miles Production, merupakan film remaja yang dipersiapkan untuk menyambut hari kasih sayang “Valentine Day”.
Film ini bercerita tentang kisah cinta remaja yang penuh dengan “keegoisan”. Meskipun film ini cuma menghadirkan dua bintang muda yang masih tergolong bintang pendatang baru di dunia sinema’ Indonesia sebagai pelakon utama, namun film ini mampu bertahan di posisi teratas sebagai film Indonesia terlaris di awal tahun 2002. Dian Sastrowardoyo dalam film ini mampu bermain apik dan memukau berkat pengalaman akting pertamanya di film “Pasir Berbisik”. Begitu juga halnya dengan Nicholas Saputra, super model remaja yang baru pertama kali ini bermain film.
Film ini bercerita Cinta (Dian Satrowardoyo) seorang remaja gaul yang punya seabrek prestasi di sekolahnya, terutama di bidang penulisan karya sastra. Karena itu cinta dan kawan akrabnya (Titi Kamal, Ardinia Wirasti, Sissi Prisilia, Ladya Cheryl), ditugasi mengelola unit kegiatan siswa di bidang publikasi dan penerbitan.
Suatu ktika SMUnya mengadakan. lomba penulisan puisi. Tentu saja, sebagaimana biasanya, Cinta dijagokan oleh kawan-kawannya untuk menjadi juara. Tetapi siapa nyana, kali ini juaranya direbut siswa lain. Dengan rasa penasaran Cinta mencari tahu siapa sebenarnya sang juara itu. Dan itulah awal dari “petaka” yang menimpa dirinya. Cinta jatuh cinta untuk yang pertama kalinya di usianya yang “sweet seventeen” pada Rangga (Nicholas Saputra), pemuda yang berbeda latarbelakang kehidupan dengannya, termasuk kehidupan kesehariannya.
Ketertarikan Cinta pada Rangga, karena menilai Rangga orangnya cuek, suka menyendiri dan tidak suka menonjolkan diri. Perilaku Rangga ini sebenarnya dilatarbelakangi keretakan kedua orang tuanya. Ibunya bersama saudaranya meninggalkan Rangga dan ayahnya, karena ketidakcocokan kepribadian. Trauma inilah yang menyebabkan Rangga kurang serius menanggapi perasaan Cinta.
Di akhir cerita, Cinta kebingungan seorang diri berdiri di persimpangan jalan untuk memilih jalan hidup yang mana yang harus dijalani. Memilih Rangga yang kehidupannya sangat berbeda dengannya, ataukah memilih kelompok gaulnya yang selama ini memposisikan Cinta sebagai tempat curhat (Curahan Hati). Setting cerita menukik tajam, ketika rangga akhirnya, memutuskan untuk meninggalkan Cinta, dan pindah sekolah ke Sydney, Australia. Seperti pilihan kata hatinya yang dituliskan dalam buku puisi yang ditinggalkan untuk Cinta : “…Perempuanku // Seperti juga ibuku yang perempuan // Pergi meninggalkan cintanya …//”.
Kisah cinta remaja ini berakhir sedih. Karena memang cinta tidak harus saling memiliki. Cinta adalah absurd. Seperti banyak orang yang selalu bertanya tentang cinta: Dengan apa ada cinta?

MISI “DAMPAK SAMPINGAN”
Judul : Collateral Damage
Produksi :Warner Bros Picture – Belair Enternainment
Produser :Steven Reuther & David Forther
Naskah/Skenario :Ronald Rose, David, Peter Griffiths
Sutradara :Andrew Davis
Pemain :Arnold Schwarzenegger, Cliff Curtis, Francesca Neri, Elias Kofeas, John Turturro

ADAKAH manusia yang tidak menginginkan kedamaian dan kebahagiaan ? Jawabnya, tentu saja tidak ada. Karena kedamaian dan kebahagiaan adalah dambaan dan tujuan hidup setiap manusia normal. Namun kebahagiaan manusia tidak selalu kekal. Terkadang “terhempas” dan “terenggut” secara paksa.
Kebahagiaan yang terenggut, terkadang membuat manusia hilang keseimbangan, bahkan cenderung melakukan hal-hal nekat dan membabi buta. Apalagi bila bencana yang menimpa dirinya atau orang yang dicintainya dianggap sepele oleh orang lain, dianggap korban mereka “dampak sampingan” (Collateral Damage) saja. Hati yang luka dapat membuat orang nekat dan menjadikan dirinya apa saja, termasuk menjadi residivis, teroris atau “serigala” sekalipun.
Film aksi “Collateral Damage” ini, menyajikan cerita fiktif tentang Kapten Gordy Brewer (Arnold Schwarzenegger), seorang komandan regu pemadam kebakaran kota Los Angeles yang mempunyai dedikasi dan tanggung jawab tinggi dalam melaksanakan tugas. Gordy pun sebagai kepala rumah tangga menjalani hidupnya secara bersahaja, hidup rukun dan bahagia bersama isterinya Anna dan seorang putra semata wayang bernama Matt.
Tetapi nasib terkadang berkata lain, ketika suatu hari isterinya mengantar anaknya ke dokter, Gordy yang terlambat menjemput, sangat terkejut dan “shock” ketika di depan matanya sendiri menyaksikan aksi teroris yang meledakkan gedung konsulat jenderal Kolombia dan menewaskan kedua orang yang dicintainya. Adegan dramatis dipertontonkan ketika beberapa detik sebelum ledakan terjadi, Gordy masih sempat melambaikan tangan kepada isteri dan anaknya.
Di tengah malapetaka yang tidak terduga dan berlangsung cepat itu, Gordy sempat melihat seorang “Polisi” yang dicurigainya memasang bom dan meledakkan gedung konsulat kolombia itu. Setelah rekaman wajah polisi itu dicocokkan dengan file FBI maupun CIA, ternyata polisi palsu itu adalah Claudio Perrini (Cliff Curtis), sang “serigala” yang menjadi dedengkot gerilyawan teroris Kolombia, yang di negerinya dijuluki El Lobo.
Tindakan teroris ini sebenarnya untuk mengingatkan kepada Amerika, negara “sok berkuasa” itu, agar jangan mencampuri urusan dalam negeri Kolombia. Meskipun Kolombia saat ini sedang berkibar perang sipil. Sebenarnya yang menjadi target £1 Lobo adalah Konsulat Jenderal Kolombia dan pihak Atase Militer Amerika Serikat. Namun ternyata dalam insiden itu, banyak warga sipil kota Los Angeles yang menjadi korban, termasuk anak dan isteri Gordy. Tapi pihak El Lobo menganggap korban dari kalangan penduduk sipil hanya “kerusakan” bertaraf dampak sampingan (Collateral Damage) saja.
Kenyataan ini membuat Gordy kalap dan nekat, karena kedua orang yang dicintainya dianggap barang yang tidak berarti, barang “sampingan” saja. Apalagi setelah ia mengetahui pemerintah AS dan Kolombia malah berunding dengan pihak gerilyawan teroris Kolombia. Kenyataan ini membuat Gordy bertekad untuk membalas dengan caranya sendiri.
Diam-diam Gordy menyusun rencana untuk menyusup masuk ke Kolombia, meskipun ia dicegat oleh Peter Brandt (Elias Koteas) seorang agen CIA. Sebenarnya diam-diam Brandt mendukung rencana Gordy, karena ia sendiri punya rencana lain untuk memanfaatkan Gordy dan menumpangkan misi menumpas sindikat pemasok narkotik ke seantero Amerika yang berpusat di Kolombia, dan dikuasai gerilyawan teroris Kolombia pimpinan El Lobo.
Hasil akhirnya mudah saja ditebak menonton film ini memang tidak perlu berpikir rumit. Kisahnya sederhana, dan mudah ditebak. Lagi-lagi Amerika menunjukkan kejagoannya dengan tokoh ‘superhero’ yang menumpas teroris seorang diri. Seperti juga film Arnold lainnya, Collateral Damage penuh adegan kekerasan. Kelebihan film ini hanya sensasi karena penundaan peredarannya karena Tragedi World Trade Center (WTC). inilah yang membuat film ini menjadi menarik.

CINTA DALAM KEHIDUPAN BARU
Judul : Angel Eyes
Pemain :Jennifer Lopez, Jim Caviezel, Sinia Braga, Terrence Howark
Naskah :Gerald Dipego
Sutradara :Luis Mandoki

TAK perlu menunggu “forty the new live” untuk mendapatkan kehidupan baru. Bukan lagi sernata usia 40 misteri yang memberi kekuatan dan kemampuan bagi seseorang untuk berubah. Mendapatkan dunianya yang lebih baik, apalagi setelah terpuruk.
Bicara cinta memang tak pernah bisa diberi jawaban jika timbul pertanyaan. Yang ada adalah rasa. Dan rasa itu sangat sulit dijabarkan. Karena cinta itu adalah mata malaikat. Mata bidadari. Maka takkan ada yang mampu menolak kehadiran cinta, walau harus melatarbelakangi masalah yang paling brutal sekalipun. Cinta itu, seperti kata Doel Sumbang, “Anugerah, maka berbahagialah”.
Cinta yang gaib itulah yang disodorkan Gerald Dipego yang dikemas secara baik oleh Luis Mandoki. Apalagi, dibintangi artis nyanyi yang dikenal bersuara merdu dan seksi, Jennifer Lopez, serta aktor yang cool Jim Caviezel. Maka jadilah alur “Angel Eyes” mengalir sangat nikmat. Cerita yang memasukkan berbagai unsur cinta, dipadu dalam suatu kemasan yang apik.
Diceritakan Sharon Pogue (Jennifer Lopez) yang selalu gagal membangun cinta. Sebab setiap bertemu teman kencan, ia risih ditanya soal asal-usul dan tetek bengek lainnya yang berkaitan dengan dirinya secara pribadi. Polwan yang bertugas di salah satu polsek Chicago ini, harus selalu bersabar menerima olok-olok rekan kerjanya soal kegagalannya mendapatkan pacar.
Karena cinta itu gaib, maka Sharon tak tahu mengapa ia diselamatkan oleh seseorang Catch (Jim Caviezel), ketika moncong pistol, yang sudah ditembakkan ke tubuhnya yang memakai baju pelindung itu, siap ditembakkan lagi ke wajahnya. Sharon selamat. Catch merasa mereka dipertemukan bukan karena kebetulan. Tapi bermula dari “goresan”.
Misteri itu kemudian terjawab. Catch yang merupakan hantu menurut rekan kerja Sharon karena tak punya marga, adalah salah satu korban kecelakaan yang diselamatkan oleh Sharon setahun sebelumnya. Catch adalah Steve Lambert, penipu terompet yang handal di sebuah pub. Dan memilih untuk bersembunyi dari kehidupan nyata karena merasa ia telah bersalah menewaskan anak dan isterinya pada kecelakaan itu.
Sementara Sharon juga punya masalah. Ia ditolak oleh keluarganya. Ia adalah anak yang terbuang. Pasalnya ia memenjarakan ayahnya yang memukuli ibunya. Tapi, ayah dan ibunya yang cerai, memilih untuk menikah kembali. Adapun Sharon tetap tak diakui sebagai anak, walau dalam hati kecil ayahnya, ia tetap dirindukan. Toh, dua hati itu, Sharon dan Steve, mampu melawan kekerdilan berpikirnya tentang masa silam yang membelenggu kehidupannya. Mereka menemukan cinta. Menemukan mata malaikat.
Ya, cinta itulah yang ditawarkan film produksi Franchise Pictures dan Canton Company. Alur cerita dan kemasan yang apik. Apalagi tidak sekonyong-konyong menjadikannya murahan maupun film musical. Pun keraguan akan Jennifer Lopez yang lebih dikenal sebagai penyanyi yang bertumbuh seksi, tidak terbukti. Jennifer mampu memperlihatkan akting prima yang masih terbilang baru baginya. la tampil tanpa menjual suara dan tubuh seksinya. Walau, tetap juga ada penampakan terhadap tubuhnya yang aduhai. Tapi, tidak diijinkan eksploitasi untuk menutupi kekurangan akting Jennifer. Sebab, artis cantik itu memang pantas disejajarkan dengan artis lainnya di Hollywood.
Terlepas dari kepiawaian Jennifer Lopez itu, kemampuan Marco Beltrian yang mengarsiteki musik “Angel Eyes”, patut diberi jempol. Film mampu menukik klimaks dengan sound efek yang terjaga. Walau tidak terjebak pada musikalisasi, tapi mampu memberi warna asal-usal Jennifer pada dunia musiknya. Terlebih, mampu memberi suasana cinta yang gaib itu tanpa teka teki yang menyulitkan.
SPIDER-MAN JADI NYATA

TOKOH masa kecil kita, justru bukan pahlawan sebenarnya. la adalah epos dari dongeng. Begitu pula, pahlawan-pahlawan kartun dari Amerika yang merambah ke berbagai negeri, termasuk Indonesia. Maka kita pun mengenal Batman, Mr. Robin. Hulk, dan beragam tokoh lainnya, termasuk Spider-Man.
Cerita Spider-Man yang disutradarai Sam Raimi inilah yang diangkat kembali kekinian. Adakah ia menjadi film anak-anak seperti animasi kartun yang telah lama kita kenal itu? Ternyata tidak. Cerita digadang-gadangkan ke kehidupan kini, tanpa melupakan inti cerita. Makanya, tak mengherankan jika Presiden AS Geroge W. Bush meluangkan waktu untuk menyaksikan pahlawan kartun yang menjadi ‘nyata’.
Kembalinya Spider-Man kekinian, tidaklah semata menjadi milik anak-anak. Tapi, malah bisa memberi hiburan dan mengembalikan file-file masa kecil kita tentang kepahlawanan seorang tokoh, walau itu hanya fiksi, Yang pasti, kita selalu merindukan sosok pahlawan dalam kehidupan kita, sepanjang masa.
Setting cerita Spider-Man kali ini, tidaklah jauh beda dengan inti cerita dalam kartun-kartun. Spider-Man (Tobey Maguire) jatuh cinta pada gadis tetangganya, Mary Jane (Kristen Dunst) yang juga teman sekolahnya. Di Mid Town. Dikenal sebagai Peter Parket, Spider-Man adalah seorang siswa yang punya rasa simpati pada lawan jenis, seperti teman-teman lainnya. Apalagi Mary lebih menyukai Flash, teman sekolah yang ganteng dan kaya. Juga sempat menyukai Harry Osborn (James Franco), sahabat Peter.
Kekuatan Spider-Man tak pernah diketahui Peter, la baru merasakan kekuatan dahsyat itu, setelah pulang dari study tour ke Fakultas Science University Columbia. Di tempat inilah ayah Harry, Dr. Norman Osborn (Willem Dafoe) bekerja. Di laboratorium tempat study tour, Peter memotret berbagai objek laba-laba. Di antara spesies laba-laba, ada satu spesies yang 15 ekor dalam satu kandang, lepas. Lalu menimpa ke tangan kanan dan menggigit Peter, ketika memotret Mary Jane dengan latar belakang laba-laba.
Pulang dari study tour, Peter sakit. Dan setelah sehat, esoknya ia ke sekolah. Saat itulah, ia tersadar telah memiliki kekuatan super ketika menolong Mary di kantin sekolah. Makanan yang dijatuhkan Mary dapat tertata apik kembali berkat Peter. Namun, Flash tak terima. Keduanya berkelahi. Tapi peter punya kekuatan laba-laba sehingga bisa mengeluarkan cakar di tangannya untuk berjalan di dinding.
Peter pun berkeinginan untuk merebut Mary dari tangan Flash. Berbagai car a diupayakan Peter untuk mendapat perhatian Mary. Namun, ketika juara “smack down”, hadiah yang mestinya $3,000, tak ia dapatkan sebab ia ditipu oleh penyelenggara lomba. Padahal uang itu direncanakan untuk membeli mobil. Makanya, ia membiarkan perampok yang menjarah tempat “smack down” itu lolos, walau akhirnya ia menyesal. Sebab perampok itu membunuh lalu membawa kabur mobilnya Paman Ben-nya.
Setelah lulus SMU, Peter pindah ke New York. Ia tinggal bersama sahabatnya, Harry. Dan suatu malam, ia bertemu Mary Jane yang menjadi pelayan toko. Mary berpesan agar Harry yang menjadi pacarnya, tidak diberi tahu.

Sementara itu, di perusahaan Oscorp memperkenalkan suatu alat tentang dan suatu formula pada angkatan bersenjata. Tapi, Dr. Norman nekat melaksanakan uji coba pada dirinya. Hasilnya ia menjadi sadis di luar alam sadarnya. Malah, ia melempar teman yang membantunya yaitu Dr. Cornor Stron. Besok paginya Dr. Norman terbangun di rumahnya seakan baru mengalami mimpi buruk dan dikabarkan kepadanya bahwa Dr. Cornor Stron tewas.
Adapun Peter yang mencari kerja, menolak tawaran Dr. Norman yang ingin mencarikannya pekerjaan. Ia lebih tertarik pada iklan di Harian Guble yang mencari orang yang bisa mendapatkan foot-foto Spider-Man beraksi, Peter memasang kamera otomatis.
Pun, Dr. Norman marah saat mengetahui bahwa asset perusahaan telah terjual ke perusahaan saingannya dalam hal kerjasama penyediaan peralatan pada bagian angkatan bersenjata Amerika. la kemudian datang menyerang dengan busana yang bisa membuatnya terbang, yang ia produksi. la yang dikenal sebagai Green Goblin, mengobrak-abrik hotel tempat pesta angkatan bersenjata. Dan tentulah, Spider-Man datang untuk mengatasi masalah tersebut.
Cinta kemudian bisa datangnya belakangan. Namun, sudah terlambat. Mary Jane yang ditolong oleh Spider-Man karena menjadi korban penculikan, justru mengingat peter. Namun, Peter menampik cinta sejati itu. Sebab, menurutnya, tanggungjawabnya menolong orang bukan karena pamrih. Dan ia pun menegaskan bahwa semakin besar kekuatan, maka makin besar tanggung jawab. Dan di akhir cerita, Peter berujar “Kekuatan yang kuperoleh adalah anugerah sekaligus kutukan”.

LAPORAN MINORITAS YANG TERABAIKAN

Judul : Minority Report
Sutradara :Steven Spielberg
Skenario :Scoot Frank, Jon Cohen
Pemain :Tom Cruise, Max von Sydow, Colin Farrel, Samantha Morton, Kathrin Morris.
Produksi :20th Century Fox

APA jadinya bila kejahatan sudah diketahui sebelum dilakukan? Akankah itu berarti kejahatan akan bisa dicegah? Atau, jangan-jangan ini malah jadi awal penangkapan orang-orang tak bersalah? Inilah tampaknya, yang dilontarkan Minority Report.
Mengambil setting tahun 2054, Washington DC disebut-sebut sebagai tempat paling aman untuk ditinggali. Alasannya, di sana ada Department of Pre-Crime, Departemen Prakejahatan. Ini satgas elit yang punya tiga anggota dengan kemampuan meramal. Ketiga peramal yang disebut precog ini bisa melihat pembunuhan berlangsung sebelum pembunuhan itu terjadi.
Berdasarkan itu, satgas bisa menangkap pelaku sebelum ia benar-benar membunuh, menyelamatkan korban, dan mencegah kejahatan. Departemen ini dipimpin Burgess (Max von Sydow), dengan detektif John Anderton (Tom Cruise) sebagai tangan kanannya.
Spektakuler dan menakjubkan memang. Hasilnya kota Washington DC aman, tenteram. Tingkat kejahatan, khususnya pembunuhan selama kurun waktu 6 tahun terakhir menurun drastis sampai ke tingkat “zero limit”. Karena setiap upaya pembunuhan yang akan dilakukan- oleh siapapun akan terdeteksi secara dini dan akurat serta dengan segera dapat dicegah sebelum terjadi. Tapi benarkah sistem ini tidak memiliki kelemahan sedikitpun?
Inilah yang coba diungkap John Anderton ketika bola merah yang dikeluarkan ‘peramal’ menyebut dirinya sebagai pelaku suatu pembunuhan. Anehnya, calon korbannya pun seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Setting adegan menukik tajam ketika “perburuan” besar-besaran anggota pre-crime yang bersenjata super canggih dan peralatan radar yang berdeteksi tinggi mulai. Konflik psikologispun terjadi karena mereka diperhadapkan pada kenyataan, memburu mantan komandan yang mereka segani. Tapi hukum harus ditegakkan, kendati harus meniadakan “azas praduga tak bersalah”.
Anderton sendiri meyakini dirinya tidak bersalah dan ingin membuktikan dirinya tidak akan menjadi pembunuh sampai pada detik terakhir waktu yang ditentukan. Anderton nekat menerobos laboratorium dan menculik Agatha (Samantha Morton), primadona pre-cog yang mempunyai kepekaan visi yang sangat tajam untuk membantunya membongkar misteri prediksi dirinya. Siapa sebenarnya yang menjebaknya, dan apa sebenarnya motif di balik rekayasa prediksi terhadap dirinya?
John pun diperhadapkan pada pernyataan, “akuratkah ramalan para pre-cog itu?” jangan-jangan, ramalan mereka bisa dikendalikan seseorang. Belum lagi, Dr. Hinerman, sang penemu sistem pre-crime menyebut tentang laporan minoritas (minority report) yang sering diabaikan.
Tapi jangan dulu menuduh film ini hanya membuat dahi berkerut. Kalau anda mencintai film action dan futuristic, minority report menyajikan ini semua. Dalam film ini sulit membedakan mana rekayasa komputer, mana pula yang nil. Tak seperti sutradara lain yang suka pamer canggih, sehingga tak mengganggu nuansa riil.
Tom Cruise juga dipilih bukan sekedar demi nama besar. Tom telah membuktikan mampu menghidupkan jagoan laga dan menggetarkan dalam ruang dramatik. Selebihnya, sebagai karya, Minority bisa dibilang masterpiece baru Spielberg setelah Close Encounters of the Third Kind atau Raiders of the Lost Ark.

HERO BARU SANG ROCKER

Judul : Turbulence 3 (Heavy Metal)
Sutradara :Jorge Montesi
Skenario :Wade Ferley
Pemain : Craig Sheffer, Gabriel Anwar, Joe Montega, Sharon Alexander, Rutger Hauer.

PERNAHKAH anda menonton film Air Force One? Di situ diceritakan tentang kepahlawanan presiden Amerika Serikat yang diperankan Harrison Ford, mega bintang Hollywood yang secara fantastic seorang diri menumpas kawanan teroris yang membajak pesawat yang ditumpanginya.
Film-film yang berlatarbelakang kisah heroik warga Amerika dalam menghadapi teroris dan kawanan pembajak sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Sebut saja Air Port 1970 disusul Air Port 1975, Air Port 1977, Air Port 1979, Concorde, Turbulence 1 yang diproduksi tahun 1997, Turbulence 2 yang diproduksi tahun 2000 dan terakhir Turbulence 3.
Kesemuanya adalah kisah-kisah fiktif yang direkayasa dalam upaya aktualisasi ego dan keangkuhan mereka. Sampai pada bulan September .’.001, dunia terhenyak dan membelalakkan mata seolah tidak percaya menerima kenyataan ketika terjadi pembajakan pesawat komersial dan kemudian ditabrakkan ke menara kembar WTC di New York.
Kejadian ini meruntuhkan pamor dan keangkuhan Amerika dan dunia barat. Tentu saja Amerika berang dan menyatakan perang terhadap terorisme. Film Turbulence 3 dengan sub judul Heavy Metal diproduksi oleh perusahaan film Kanada Trimark Pictures, yang disutradarai oleh Jorge Montesi menceritakan tentang sebuah kelompok Band Death Metal yang dipimpin oleh Rocker “Pangeran Kegelapan” Slade Craven (Rutger Hauer) yang di puncak ketenaran kelompok ini mengundang reaksi yang kontroversial di tengah masyarakat dunia, karena di setiap penampilan kelompok ini selalu disertai dengan adegan kekerasan dan berbau sadisme serta setting-setting yang diwarnai teror-teror yang mencekam. Kelompok ini banyak dicekam dan dituding sebagai pengikut sekte pemuja setan.
Kenyataan ini membuat Slade Craven sang Rocker bersepakat dengan kelompoknya untuk membubarkan band Death Metal dengan menggelar konser terakhir di atas pesawat Jumbo Jet ICA 747 dengan melibatkan 40 fans fanatiknya yang bersedia membeli tiket penerbangan Los Angeles – Toronto untuk mendukung pagelaran terakhir kelompok Rocker pujaan mereka.
Digambarkan di awal film ketika pesawat baru saja tinggal landas dan tanda kenakan sabuk pengaman belum lagi dipadamkan, konser yang hingar bingar itupun dimulai dengan setting adegan yang mencekam, di tengah ancaman cuaca buruk dan pusaran badai Turbulence yang mengancam di depan pesawat.
Suasana mulai membosankan ketika pada pemunculan keduanya Slade Craven terlambat sekitar 10 menit, sehingga suasana di dalam pesawat mulai tidak terkendali. Setting teror mulai menukik ketika dalam pemunculannya yang kedua Craven mengacungkan pistol ke arah penggemarnya. Suasana semakin shock dan mencekam dan tidak terkendali lagi, ketika serta merta Craven (duplikat) menembak kapten pramugara. Ketegangan pun terjadi di tengah penerbangan dan cuaca di luar pun semakin memburuk.
Pesawat ternyata disabot dan dikuasai oleh kelompok pembajak dari sekte anti Kristus yang dipimpin oleh Erica (Sharon Alexander) si “Perempuan Penjaga Pintu Gerbang” yang bermaksud membajak pesawat kemudian menabrakkannya ke sebuah gereja tua di sebuah kota kecil “Stull” di kawasan Timur Alaska.
Untunglah di tengah kemelut yang mencekam, Craven (ash) dapat membebaskan diri dari sekapan dan melumpahkan Craven duplikat, dan juga membunuh Erica.
Suasana sedikit terkendali. Agen-agen FBI yang dikomandani oleh Frank Garner (Joe Montega) menyebar untuk melacak siapa yang berada di belakang skenario pembajakan ini. Kate Hayden (Gabrielle Anwar) agen wanita FBI yang sejak semula mencurigai kemungkinan adanya sabotase, ketika memperoleh informasi adanya penyusupan yang ikut menayangkan konser akbar itu kepada fans Death Metal yang berjumlah lebih dari sepuluh juta netter secara illegal dengan bayaran 10 dollar per netter.
Craven akhirnya dapat membuktikan bahwa dirinya bukan sekedar rocker handal tapi juga sebagai “hero baru” yang bisa menyelamatkan dan menghadapi kawanan teroris, bahwa ia juga mampu mendaratkan pesawat dengan selamat atas panduan Nick yang ternyata juga fans beratnya.

KEJAHATAN VERSUS KEBAJIKAN

Judul : The Lord of The Rings
(The Felloeship of the Ring
Pemain :Elijah Wood, Billy Boyd, Dominic Monaghan, Ian McKellen
naskah :G.R.R. Tolkien
Skenario :Peter Jackson Cs
Sutradara :Peter Jackson

SEJAK bumi diciptakan, dan manusia melakoni “kodratnya” sebagai Khalifah, sejak itu pula pertentangan kebajikan dan kejahatan berlangsung secara abadi Bergulir sepanjang rotasi zaman. Konon karena kodrat inilah, sang iblis penguasa kegelapan jadi cemburu dan tidak mau mengakui “rekomendasi” untuk menggoda. merayu dan menaklukkan manusia, agar manusia menjadi pendosa.
Kejahatan dan kebajikan biasanya disimbolkan hitam dan putih, gelap dan terang. Dua nuansa yang selalu bertentangan, berseteru, dan tidak bisa disekutukan. Dua unsur yang mengandung karakter yang berbeda. Berseberangan dengan dua kutub yang tidak bisa ditarik titik pemisahnya.
Tematik konflik hitam putih, perseteruan kejahatan dan kebajikan inilah yang diangkat dalam film “the Lord of the Rings” berdasarkan buku trilogy dongengnya G.R.R. Tolkien. Film ini digarap secara kolosal dengan setting zaman purba dan didukung spesial efek yang canggih. Dibintangi oleh sejumlah aktor dan artis sekaliber Christopher Lee dan Cate Blanchett. Dalam peredarannya, film ini meledak dan mencatat prestasi box office, sama larisnya “Harry Potter”. Di awal film, berkisah “Dark Lord Sauron”, raja iblis penguasa kegelapan. Sauron yang berambisi menguasai bumi. Untuk itu, Sauron menciptakan sebentuk “cincin induk” yang di dalamnya bercokol roh jahat. Cincin ini semacam wasiat untuk memenangkan pertempuran melawan penghuni jagad raya. Satu persatu komunitas makhluk hidup di jagad raya ini ditundukkan, kemudian roh rajanya dimasukkan ke sembilan “cincin pengawal”.
Suatu ketika Sauron dapat dikalahkan dan terbunuh dalam pertempuran melawan persekutuan komunitas manusia dan komunitas penyihir Elf. Cincin induk itupun terpental dan menghilang tak tentu rimbanya selama lima ratus tahun. Ternyata cincin setan itu disembunyikan oleh Gollum, semacam makhluk misterius dari bagian bumi yang gelap dan terasing.
Ketika Gollum lengah, cincin setan itu menggelinding jatuh ke pinggiran hutan desa Shire, dan ditemukan oleh Bilbo Beggins (Ian Holm), seorang petualang dari komunitas Hobbit, manusia kate yang dalam film ini digambarkan sangat lugu, bersahaja dan kelihatan bodoh. Tapi usia mereka mencapai ratusan tahun.
Seorang kakek penyihir, Gandalf (Ian MacKellen) sadar betapa bahayanya jika cincin setan itu jatuh ke tangan makhluk yang tidak bertanggungjawab. Karena siapapun yang memakainya akan dirasuki oleh roh jahat yang bercokol di dalamnya. Gandalf beri saran agar Bolbo menyerahkan cincin itu pada ponakannya Frodo Beggins (Elijah Wood) dan membawanya ke gunung Doom, tempat cincin itu dibuat, dan dimusnahkannya di sana. Hal itu dilakukan untuk mencegah kekuatan jahat merajalela di jagad raya.
Setting adegan tegangpun dimulai dengan tempo permainan berdaya kejut tinggi mengikuti perjalanan petualangan Frodo yang meninggalkan Desa Shire bersama sahabatnya, Pippin, Merry, dan Samwise (Sean Astin, Dominic Monaghan, Billy Boyd). Mereka dikawal Elrond (John Rhys), Pangeran Elf Legolas (Orlando Bloom), Baromir (Sean Bean) dan Aragon (Viggo Montersen), serta dilindungi kekuatan supranatural Ratu Galadrill (Cate Blanchett) dan Peri Arwen (Liv Tyler).
Dalam perjalanan mereka menghadapi pengajaran pasukan iblis Ringwrath, utusan Dark Lord Sauron untuk merebut kembali cincin tersebut. Belum lagi menghadapi kakek penyihir Saruman (Christopher Lee), juga harus menghadapi sesepuh Elf yang mengangkat dirinya menjadi Lord of Mordor yang ternyata juga berambisi merebut cincin itu untuk menghidupi kembali kekuatan Suaron dan pasukan iblisnya. Pasukan berkuda berkerudung hitam penjelmaan roh sembilan raja taklukan Sauron yang mengisi “cincin pengawal” nyaris. merebut kembali cincin induk, namun luput karena Frodo Beggins Cs bisa melewati dinding Moria dan berhasil masuk ke goa yang ternyata dihuni oleh Monster, Troll bermata satu, Isildur dan Balrog si iblis purba. Bagaimana akhir pengajaran para iblis itu? Yang jelas, sebagai kelanjutan kisah trilogy “Lord of the Rings” maka penonton dibuat penasaran untuk mengikuti penayangan dua film berikutnya, dalam sub judul “the Two Tower” dan “the Return of the King”. Dan tentulah tetap berfokus pada kejahatan versus kebajikan.

PENTINGNYA KEUTUHAN KELUARGA

Judul :Spy Kids
Pemain :Antonio Banderas, Carla Gugino, Alexa Vega, Daryl Sabara
Naskah/Skenario :Robert Rodriquez
Sutradara :Robert Rodriquez
Produser :Elizabeth Aueliam & Robert Rodriquez
Produksi : Miramax International

EGO, ambisi dan ketamakan manusia untuk menguasai dunia dan sesamanya terkadang tidak terkendali. Merupakan “noktah hitam” bagi sejarah panjang manusia dalam peradabannya, sejak jaman purba sampai kini, jaman super modern. Apresiasi teknologi canggih, perlombaan senjata super mutakhir, gelar perang dengan dalih menumpas terorisme, untuk kekuatan dan pengaruh, merupakan upaya manusia untuk mengaktualisasikan ego, ambisi dan keserakahannya.
Salah satu film dari sekian banyak film yang bercerita tentang “noktah hitam” itu adalah film Spy Kids, yang diproduksi Miramax International atas prakarsa Robert Rodriquez, seorang sineas muda Mexico yang berbakat luar biasa. Bayangkan dalam film ini, ia bertindak selaku penulis naskah skenario, sutradara sekaligus produser.
Spy Kids bercerita tentang bencana yang mengancam dunia karena ambisi dan ketamakan Fegan Floop (Allan Cuming) yang ingin menguasai dunia dengan menciptakan “tentara baru” pasukan monster, thumb-thumb dan robot cloning menirukan anak-anak tokoh-tokoh dunia yang terkenal dengan maksud menghancurkan keluarga mereka.
Proyek Floop ini ini didukung oleh para ilmuwan berintelegensia tinggi dalam sebuah laboratorium rahasia di dasar laut. Floop sendiri kesehariannya adalah seorang entertainer dan presenter TV. Floop yang sering muncul membawakan acara untuk anak-anak. Dalam pemunculannya dibantu oleh monster, thumb-thumb dan robot ciptaannya. Tentu saja Floop dan ciptaannya menjadi idola dan gandrungan anak-anak sedunia.
Dua agen rahasia andalan OSS. Gregorio Cortez (Antonio Banderas) dan Ingrid Cortez (Carla Gugino) yang telah menikah dan memulai hidup baru dan telah dikarunia dua orang anak, Carmen (Alexa Vega) dan Juni (Daryl Sabara), terpaksa direkrut kembali meskipun mereka telah lama mengundurkan diri dari dinas OSS.
Kisah sebenarnya berfokus pada Gregorio dan Ingrid yang tenang dan cenderung membosankan di mat a kedua anaknya, Carmen dan Juni. Dari sisi kedua anak ini, kehidupannya terasa biasa saja. Dongeng yang diceritakan menjelang tidur oleh sang ibu pun terasa berulang-ulang, tentang sepasang mata-mata dari dua negara yang jatuh cinta dan akhirnya menikah.
Tetapi kehidupan mereka berubah ketika mengetahui bahwa orang tua mereka adalah mantan agen rahasia paling hebat. Masalahnya, Gregorio dan Ingrid, setelah balasan tahun absen dari berbagai petualangan, ternyata gagal menjalankan misi rahasia dan ditahan oleh Fegan Floop.
Kini, mereka berdua sendirian dan terpanggil untuk menyelamatkan kedua orang tua. mereka. Pengalaman pertama mereka beraksi sebagai agen rahasia terasa kocak dan menghibur. Mulai dari berhadapan dengan berbagai alat-alat canggih hingga berduel dengan karakter-karakter lucu yang ganas dalam program Floop.

Penampilan Banderas dan keluarganya boleh dibilang sukses dalam menyampaikan pesan-pesan tentang kebutuhan dan keharmonisan keluarga. Karena, terbukti, menjadi agen rahasia cilik jauh lebih “mudah” ketimbang menjaga kebutuhan dan kehangatan keluarga.
Film semakin seru ketika setting adegan menukik menggambarkan petualangan fantastis dari agen cilik “ganda campuran” yang dengan keberanian “super hero” menerbangkan jet tempur dan menerobos ke markas besar Floop di dasar lautan dan memporak-porandakan “tentara baru” ciptaannya. Yang dapat dipetik dari film ini adalah pesan moral yang terungkap dalam dialog kedua agen cilik ini. Bagaimanapun sulitnya tugas yang diemban, jangan sampai menyampingkan kebutuhan keluarga.

MENJUAL MIMPI-MIMPI CINTA

Judul : America’s Sweethearts
Pemain :Julia Roberts, Billy Crystal, Ctherine Zeta-Jones, John Cursack
Naskah :Billy Crystal dan Peter Tolan
Sutradara :Joe Roth

BILA Billy Crystal yang artis komedi Hollywood ingin bermain-main ibaratnya saat ia memandu acara penganugerahan Oscar yang menjadi langganan acaranya, tetaplah menjadi menarik. Kelihatan santai dan dibuat-buat, tapi tetap mendahulukan kreativitas yang cerdas. Menjadikan setting cerita tidak lagi menjadi inti, tapi berfokus pada satu tujuan yang disenangi manusia yakni ketulusan cinta.
Menggarap komedi bagi Billy bukan hal sulit, apalagi ia tetap menjadi bagian dari film itu sebagai pemain. Walau harus memerankan tokoh yang ada di sekitar tempat bekerja. Maka aktor inipun membuat cerita tentang keberadaan artis dan kru film Hollywood, dan memberi kepercayaan pada rekannya, Joe Ruth untuk menyutradarainya Dan untuk lebih menghidupkan cerita, tokoh-tokohnya bukan sekedar ciptaan dan imaji, tapi sungguhan, sesuai film yang pernah ada. Artisnya pun keren. Nama-nama yang popular.
Apa yang ingin digarap Billy yang dalam “America’s Sweethearts” ini tampil sebagai peran Lee (kru studio yang ditugaskan melakukan Junket, perjalanan kerja yang sifatnya berlibur)? Seperti film Hollywood lainnya, jualan cinta tetap didominasikan. Kalaupun ceritanya agak unik dan lain karena mengambil setting lingkungan sendiri. Toh, cinta kan bisa bersemi di mana saja.
Film yang dibintangi Julia “Pretti Woman” Roberts kali ini tidak menjadikannya tampak sebagai tokoh utama. Walau pada inti cerita, ia tampil sebagai pemeran utama. la berperan sebagai Kiki, adik bintang terkenal, Gwen Harrison (Catherine Zeta Jones). Kakaknya ini berselingkuh dengan Hector (Hank Alzaria), sementara suaminya yang aktor dan teman bermainnya dalam film “America’s Sweetheats”, Eddie Thomas (John Cur sack) ia campakkan.
Billy yang berperan Lee kemudian tampil sebagai mediator dan pengendali cerita. Ia berada di tengah lingkup para pemeran. Pun demi pekerjaan, ia harus melakukan “junket” ke tempat terpencil yang jauh di Nevada untuk membangun kembali imej terhadap Eddie dan Gwen demi mempromosikan film terbaru mereka, “Time Over Time” yang dibuat oleh Hal Heidman, sutradara eksentrik yang sangat aneh. Dan film tersebut belum jelas bentuknya. Makanya, Lee harus memfokuskan perhatian pers pada hubungan intim Eddie Gwen yang retak satu tahun enam bulan sebelumnya.
Pun peran Kiki melebihi perekat. la menjadi asisten Gwen. Malah lebih tepat disebut budak. Segala kebutuhan Gwen menjadi tugasnya, termasuk memandikannya. Sementara Eddie yang pernah secara tidak sadar, saat mabuk alkohol, mencium Kiki yang saat itu masih gembrot. Toh, cinta mereka tak bisa disembunyikan. Keduanya saling mencintai.
Ada kalimat Kiki yang bercerita soal “barang bekas yang selalu dibuang kakaknya untuk dirinya”. la diberi pakaian yang tak lagi disukai oleh Gwen. Namun, Gwen sempat syok ketika tahu Kiki berhubungan intim dengan suaminya yang ia rencanakan memberinya surat cerai. Adegan di seputar inilah, kita seperti diingatkan pada cerita film “Kama Sutra” produksi 1997 yang disutradarai Lidia Dean Richer. Di mana, Maya (Naveen Andrewa) yang selalu mendapat barang bekas dari “majikannya”, Tara, ia malah mendahuluinya “berhubungan intim” dengan Raja suami Tara.
Lewat gaya humor, alur cerita dirangkai secara ringan dan tanpa beban psikologis. Sifatnya menghibur. Cinta ditabur dalam kebencian dan kerinduan. Dikemas tanpa ditutup-tutupi, namun tetap ada ending yang terjaga. Ritme klimaks sangat apik untuk menemukan happy ending. Sehingga “barang bekas* itu tidak selalu menjadi bentuk kekalahan tapi malah bisa menjadi kemenangan. Toh, jualan cinta takkan pupus dimakan waktu. Pun jika dibarengi mimpi sekaligus, cinta itu tetap indah, terlebih bagi mereka yang sedang jatuh cinta.
KUNGFU TEMBUS “TIME TUNNEL”

Judul : The One
Remain :Jet Li, Delroy Lindo, Carla Gugino
Sutradara :James Wong
Naskah :Glen Morgan dan James Wong

FILM produksi Hongkong tidak lagi hanya berkutat di Asia. Malah, bintang sekelas Jacky Chang lewat Shanghai Noon, sudah menembus dua tahun silam. Dan Hollywood melihatnya sebagai pangsa pasar yang tidak boleh disepelekan. Apalagi, legenda Bruce Lee pernah merobek-robek kepiawaian akting bintang laga di era 70-an.
Masihkah film garapan yang menokohkan per an orang Cina berkutat di dunia silat ataupun pengagungan falsafah kunonya? Tampaknya tidak. Sebagai barometer perfilman Asia yang diakui masyarakat sinema Paman Sam, kehebatan kungfu yang tetap ditonjolkan. Keindahan memainkan gerak tubuh dalam ilmu beladiri tetap menjadi jualan utama setiap film yang dibuat. Makanya film “the One” garapan James Wong yang menggandeng Glen Morgan dan Steve Chasman sebagai produser, hanya menyandarkan falsafah Cina ala kadarnya karena unsur laga yang lebih diutamakan.
Itu sebabnya, “the One” tidak memberikan pelajaran falsafah kuno Cina yang sarat pesan dan ajaran kemanusiaan. Karena, alur film yang dipenuhi trik montase dan trik kamera, lebih mengutamakan fiksi ilmiah yang digandrungi masyarakat modern. Akibatnya, ajaran Cina yang terkenal hebat itu, ditempelkan begitu saja pada film yang menjadikan Jet Li memerankan tiga tokoh yang kepribadiannya sama.
Memang, tidak bisa menemukan akting kuat Jet Li sekelas Eddie Murphy yang memerankan tujuh tokoh sekaligus yang sangat berbeda dalam “Nutty Professor” (The Klumps). Jet Li tetap konsisten pada perannya sebagai jago berkelahi. Kepribadian ganda yang dimainkan pun tidak membingungkan.
Sebab tokoh pertama adalah dirinya sendiri sebagai penjahat dari sebuah planet antah berantah yang kemudian dipertemukan dengan “dirinya” yang juga penjahat untuk dibunuh. Adapun peran ketiganya yang menjadi inti cerita, adalah “dirinya” sebagai polisi yang tetap tampil “jahat” dalam nilai kebenaran yang ada pada dirinya sebagai jago kungfu.
Mengenai alur film yang bertemakan kisah semacam “time tunnel” ini dimulai dari penegasan fiksi ilmiah yang telah lama didengung-dengungkan penggemar “UFO* di Amerika Serikat yakni bahwa di kehidupan ini merupakan parallel. Maksudnya ada kehidupan yang sama di tempat berbeda-beda. Jadilah Gabriel Yunlaw (Jet Li) mencari orang yang wajah dan kepribadiannya sama di planet lain, khususnya Bumi.
Didukung unsur sound effect dan musik yang digarap Trevor Rabin, cerita digiring ke dunia nyata masyarakat bumi. Yunlaw kemudian membunuh “kembarannya” yang merupakan penjahat dan sedang menjalani hukuman di sebuah penjara. Dan setting cerita dijelaskan bahwa keadaannya di bumi, malah Amerika Serikat, karena ada label “police” di baju petugas.
Korban itu merupakan orang yang ke 123 dibunuh oleh Yunlaw. Pasalnya ia harus membunuh semua orang yang mirip dengan dirinya di seluruh planet agar kekuatannya bisa paripurna. Karena setiap usai membunuh, maka kekuatan orang yang dibunuh menjadi miliknya seperti film Highlander yang mempertahankan nilai-nilai konvensional.
Namun, kegilaan Yunlaw harus dihentikan. Ia terus dicari oleh dua petugas yang dikirim planet asalnya. Tapi, ketika berhasil ditangkap lalu dikembalikan lewat lorong waktu (time tunnel) “FTA”, masih bisa lolos saat menjelang eksekusi. Seorang perempuan menyelamatkannya sehingga bisa leluasa mencari orang ke-124 (orang terakhir yang mirip dirinya untuk dibunuh. Dan ia berharap, setelah dua tahun membunuh, ilmunya segera sampai pada tahapan tertinggi.
Yunlaw akhirnya harus berhadapan Gabe (Jet Li) yang memiliki kepandaian hampir setara dengan dirinya. Walau awalnya Gabe mengira Yunlaw datang untuk membebaskan penjahat kelas kakap Ronnie, tapi akhirnya tersadar bahwa ia diburu “dirinya”.
Tapi, akhirnya Gabe dituntun petugas planet yang selalu jengkel tertangkap pada sistem prosedur yang harus ia terapkan untuk menangkap Yunlaw.
Bagaimana akhir cerita Fiksi Ilmiah yang menjadikan Kungfu terjebak ke dalam “time tunnel” ini? yang pasti harus ada “the One” untuk menyelesaikan masalah, sementara tak boleh Gabe membunuh Yunlaw, sebab, menurut cerita, alam semesta akan kacau. Toh, Jet Li dalam kondisi dan bentuk peran apapun harus tetap hero dan nomor satu. Ia adalah “the One”!

SUPRANATURAL DI TENGAH MEGAPOLIT

Judul : The Gift
Pemain :Cate Blanchett, Giovanni Ribisi, Keanu Reeves
Naskah :Billy Bob Thompson & Tom Epperson
Sutradara :Sam Raimi

BICARA hal gaib bagi orang super maju, seperti masyarakat Amerika Serikat, hanyalah imajinasi yang menjadi hiburan. Segala bentuk kehidupan, selalu ditarik ke pemikiran rasional.
Sehingga, yang sifatnya irrasional, selalu saja ditolak. Sebab, teori ada musababnya, adalah lebih dominan. Dan selalu saja dibuktikan secara ilmiah.
Adakah semua orang maju, khususnya yang ada di level super megapolitan hanya berfokus pada pemikiran rasional belaka? Tidakkah hal gaib berupa supranatural, masih hidup di kekinian? Tanpa menampik kehadiran film produksi Hollywood yang tidak sedikit menyajikan sinema misteri yang intinya gaib, banyak bacaan yang mengungkap masyarakat AS yang super maju itu masih banyak yang percaya akan hal-hal yang sulit diterima akal.
Percaya pada supranatural itu, telah dilakukan oleh ibu negara Nancy Reagan (Isteri Ronald Reagan, Presiden AS selama dua periode, 1981-1989). Nancy sangat percaya pada hasil ramalan astrolog Joan Quigley. Malah, semua tindakan penting presiden, termasuk waktu operasi bedah setelah tertembak, hingga pertemuannya dengan presiden Uni Sovyet Mikhail Gorbachev, diatur astrolog. Dan apa yang dilakukan Nancy dan dipatuhi Reagan tersebut, sempat membuat geger masyarakatnya.
Hal gaib memang sangat sulit dibuktikan kecuali Henpan bakat (gift), Tapi bagaimana jika seorang peramal terjebak pada pembunuhan dan harus mengungkapkannya seorang diri? Film berjudul “the Gift” menawarkan sebuah konsep keberadaan seorang peramal di tengah kehidupan masyarakat yang berbudaya megapolit.
Film “the Gift” bercerita tentang susahnya jika punya tiga anak yang masih kecil. Apalagi, jika tanpa ayah yang tewas karena kecelakaan di pertambangan. Itu sebabnya, Annie (Gate Blanchet) kelimpungan mengurusi anak sambil mencari nafkah. Tapi, ia beruntung diberi bakat oleh Tuhan. Seperti neneknya, ia memiliki kekuatan supranatural untuk bisa mengetahui kejadian masa silam dan yang akan terjadi. Namun, tidak bisa ‘membaca’ hal yang berkaitan dengan pribadinya. Makanya, ia tak mampu menahan suaminya barangkali kerja ketika hari kecelakaan itu walau sudah mengingatkan. Dari kemampuan meramal itulah, ia menerima klien di kota kecilnya, Brixon.
Sebagai orang tua murid, ia harus ke sekolah karena seorang puteranya selalu terlibat perkelahian. Annie pun bertemu sang guru Wayne (Greg Kinnecer) yang saat bersamaan juga mengenalkan calon isterinya, Jessica (Katie Holmes). Dan Jessica sempat minta komentar sesuai ramalan adakah keduanya akan bahagia. Tapi, Annie yang “melihat” pensil jatuh di kaki Jessica yang penuh lumpur, di samping kaki Wayne yang tetap rapi tak mau mengatakan hasil “bacaannya”.
Di antara klien Annie, ada pemuda Buddy (Giovanni Ribsi) yang punya masa silam yang hitam. Ia sering diperkosa oleh ayahnya. Dia ia selalu mengaku akan berbuat negatif jika melihat batu warna biru yang ternyata tattoo di bawah pusat ayahnya. Toh, Buddy kemudian membakar ayahnya. Juga ada Vallery (Hillary Swank) yang selalu mengeluhkan perlakuan suaminya yang ringan tangan, Donnie Barksdale (Keanu Reeves).
Donnie tak suka isterinya diramal oleh Annie. Malah mengancam akan membunuh beserta anak-anaknya jika tetap menerima Annie sebagai klien. Namun, cerita kemudian menyatu pada satu masalah. Jessica tewas sesuai “panduan” Annie lewat kartu, mimpi dan ‘melihat langsung’, mayatnya ditemukan di empang milik Donnie.
Siapa pembunuh Jessica? Adakah Donnie yang malam pembunuhan, terlihat menampar korban yang ternyata pacar gelapnya. Atau tuan Duncan, pengacara ayah korban yang juga punya hubungan gelap. Atau Vallery karena cemburu? Atau kekasihnya sendiri, si Wayne yang juga mencintai Annie? Atau Budd}’? Dan kematian anak orang kaya itulah yang mengantar Annie terjebak ke dalam inti cerita. la terjebak pembunuhan, sehingga merasa terpojok karena dianggap sebagai dalang masalah.
The Gift” ini mengantar penontonnya untuk sadar bahwa ada dunia lain yang mengitari kita selama ini. Walau tidak dalam bentuk misteri yang memeras otak, ataupun yang membuat tegang. Alur film beranjak menuju klimaks tanpa henti. S^tiap masalah Annie. Sehingga, tema misteri yang disajikan, tidak melarutkan penonton ke arah misteri yang runyam, tapi hanya bersandar pada kerja otak untuk memecahkan pembunuhan.
Memang, mengasyikkan jika penonton cerita misteri tanpa harus ketakutan di bangku penonton. Sambil menyimak kenyataan bahwa percaya atau tidak, hal gaib selalu saja ada di sekitar kita tanpa mengenal tempat.

BILA HARI KIAMAT TIBA

Judul : Judgment Day
Pemain :Ice T, Suzy Amis, Mario Van Peebles
Naskah :William Carson
Sutradara :John Terlesky

INGAT Armageddon ? Pasti ingat akting Bruce Willis yang mempesona ketika harus mengorbankan dirinya demi anak dan umat manusia di bumi. la sadar bahwa calon menantunya yang ikut dalam misi menghancurkan sebuah planet yang akan membuat bumi hancur, memilih menjadi “pahlawan” untuk bunuh did di planet yang akan ia hancurkan bersama dirinya.
Tapi, Judgment Day yang diproduseri Paul Hertzberg dan Lisa Hansen, tidak berbicara pengorbanan sekelas Armageddon. Namun landasan ceritanya hampir sama. Ketika benda langit jatuh ke bumi dan membuat hari kiamat. Dan keduanya sama bahwa keperkasaan manusia yang diciptakan oleh Tuhan, mampu melanggengkan kehidupan. Di mana, kemajuan teknologi akan mampu mengatasi segala ancaman, termasuk “andai itu keinginan Tuhan”.
Dikisahkan sebuah meteor raksasa akan jatuh ke bumi. Tapi, penguasa di departemen pertahanan bagian antariksa, memilih bungkam. Takut jika rakyat di Amerika Serikat maupun masyarakat dunia, panik. Lalu seperti pasrah menunggu hari kiamat. Sementara seorang pendeta dari sebuah sekte yang tahu bahwa sudah saatnya hari kiamat, berupaya keras untuk menjaga “keinginan Tuhan” agar tidak ada intervensi kecerdasan manusia untuk menghalangi kiamat itu.
Digambarkan di awal film setelah orasi sang pendeta melawan narkoba, kota Peru yang damai suatu hari tiba-tiba hancur diterpa asteroid. Pihak keamanan Amerika mengetahui dan membuat mereka khawatir karena beberapa jam kemudian San Francisco akan diterpa benda angkasa serupa. Mereka sibuk mengatasi masalah ini. Pimpinan keamanan memutuskan akan menggunakan teknologi nuklir Torr yang telah ditolak uji cobanya oleh kongres meskipun penasehatnya telah coba mencegah.
Maka Dr. David Corbett sang peneliti yang telah dipecat dihubungi kembali. Tapi sayang pihak keamanan yang ditugaskan menjemputnya terkecoh oleh anak buah Thomas Payne (Mario van Peebles) pimpinan sekte New Tabarates. Sekte ini beranggapan bahwa benturan asteroid ke bumi tidak boleh dicegah karena itu kehendak Tuhan alam semesta. Untuk menyelamatkan Corbett agen FBI Tyrell (Suzy Amis).
Tyrel terpaksa membatalkan pertemuan dengan tunangannya di San Francisco. Tyrell minta bantuan personil atau mitra kerja dari pimpinan keamanan namun ditolak sebab dicurigai ada orang dalam yang membocorkan informasi.
Untuk keadaan yang sangat genting ini tidak ada satupun yang dapat dipercaya mendampingi Tyrell, maka Tyrell mohon izin mengeluarkan seorang tahanan yang bernama Matthew Reese (Ice T) untuk mendampinginya. Sebab, Tyrell punya dendam pribadi dengan Payne yang membuat keluarganya tewas.
Matthew akhirnya membuktikan bahwa dirinya bukan penjahat yang harus menjalani hukuman selama 12 tahun, dari dua tahun penjara yang sudah ia jalani. la terpaksa membunuh karena melawan Payne yang ia tuding membuat anak isterinya ikut sekte yang salah. Ia yang menemani Tyreil yang pacarnya Corbett. Hingga kemudian meteor yang akan menghancurkan bumi, mampu digagalkan.
Memang film ini tidak terlalu menawarkan keheroan yang berlebihan. Juga tidak menampilkan kritik pedas, kecuali hanya sekilas menegaskan bahwa proyek dari hasil penelitian Corbett yang harus dijalankan, tapi karena ada kedekatan pihak kongres dan presiden dengan peneliti lain, akhirnya Corbett tersingkir. Begitu juga penopang cerita tentang ancaman narkoba, hanya sebagai pelengkap bumbu cerita.
Setting lebih menekankan pertentangan pemikiran agama pada salah satu ayat dalam kitab suci bahwa saat hari kiamat tiba. Dan paham inilah yang ditonjolkan Thomas Payne. Kemudian dipertentangkan dengan kemajuan teknologi. Apalagi masih dalam kitab suci itu, ada penegasan bahwa manusia yang menentukan dirinya sendiri. Sehingga, pro-kontra itulah yang tersaji.
Seperti pada Armageddon, Judgment Day ini pun memenangkan teknologi. Tapi pembeda pokoknya, tokoh utama bukan sebagai hero yang berhubungan langsung dengan asteroid yang bakal jatuh ke bumi. Tapi, menyelamatkan pakar yang tahu teknologi.
Kalaupun mencari kebenaran dari inti cerita kita harus memilih apakah harus berlandaskan ke kitab suci secara kaku atau lugas dengan mengait pada ayat lainnya, tidaklah menjadi utama. Sebab, cerita digiring pada action dan ilmiah yang diramu dalam kaitan perayaan hari raya, seperti Natal dan Tahun Baru.
Yang jelas, bila hari kiamat tiba manusia takkan mengetahuinya secara pasti. Kalaupun masih bisa terdeteksi, maka bisa diraba bahwa manusia punya waktu untuk berusaha maksimal.

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO, SH.SAB.SSN.MS.MH.MM

Sosok multi talenta. Selain sebagai mantan birokrat (plt kadis Tataruang), Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea, Dekan Fakultas Teknik ISTP, Dekan Fakultas Media Rekam IKM, sekarang Rektor Institut Kesenian Makassar, dosen di berbagai perguruan Tinggi di Makassar , seniman dan aktor film, juga salah seorang penulis yang karya-karyanya banyak bertebaran di media massa baik local maupun nasional dan International.
Menyelesaikan Sarjana ADM Negara (1982), Sarjana sipil (1990), Sarjana Hukum (2009),Sarjana Administrasi bisnis (2010),sarjana seni film ( 2013) Master Sains di Unhas (1992), Doktor Ilmu-Ilmu Teknik (2004), Magister Hukum (2010) dan magister manajemen (2012) .
Mengikuti short course bidang teknik di New Zaeland, Australia, Jepang,thailand,malaysia,China,hongkong,turki, Srilanka dan korea selatan. Sementara di organisasi aktif sebagai Ketua harian PARFI Cabang Sulsel, Ketua BKKI Sulawesi selatan. Ketua LESBUMI dan Ketua ASSEMI.
Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain, Siluet Cinta (puisi), Kota Kekasih (puisi), Bulan di Atas Bara (novel), Antara Bumi dan Langit (novel), Menanti Musim Berganti (novel), buku 42 Kritik Film (kritik film), Arsitektur Tradisional Sulsel Pusaka Warisan Budaya Indonesia,mengolah limbah domestik dengan filter biogeokimia dan ikut dalam antologi Ombak Makassar, Sastra Kepulauan.pintu yang bertemu,baruga ,menepi kesepi puisi,dan nyanyian tiga pengembara , Bugis Dalam peradaban melayu.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: