PART IIi. KRITIK FILM UNGGULAN DR SYAHRIAR TATO YANG DIMUAT DI HARIAN FAJAR.

PART IIi. KRITIK FILM UNGGULAN DR SYAHRIAR TATO YANG
DIMUAT DI HARIAN FAJAR.

HANTU PHOBIA VIETNAM

Judul :We Were Soldiers
Pemain :Mel Gibson, Madeleine Stowe, Greg Kenner, Sam Elliot
Musik :Nick Glennie Smith
Naskah/Sutradara :Randal Wallace

TERNYATA, takut warna bisa membuat orang menjadi kejam, sadis dan bertindak di luar batas kemanusiaan. Takut “warna merah’ misalnya, yang salah satu wujudnya adalah Perang Vietnam. Di sana, beribu-ribu orang mati, disiksa, hilang, cacat, sakit jiwa, karena sesuatu yang oleh Noam Chomsky disebut “a hysterical Red Scare”.
We Were Soldiers garapan Randall Wallace yang kini sedang diputar di bioskop-bioskop merupakan tontonan yang juga mengangkat tema tersebut. Hanya saja, film yang diangkat dari buku “We Were Soldiers Once and Young” karya bersama pensiunan Letnan Jenderal Harold G. Moore dan jurnalis Joseph L. Gallowt, itu lebih banyak mengeksplorasi sisi-sisi manusiawi seorang komandan dalam memimpin anak-anak buahnya ke “medan pembantaian”.
Bermula dari dibantai habisnya satu kesatuan kavaleri Perancis oleh gerilyawan Viet Kong di bawah komando Letnan Nguyen An pada 1954- Amerika Serikat, yang kemudian melibatkan diri dalam perang tersebut, membentuk sebuah resimen kavaleri udara yang mengganti kuda dengan helikopter sebagai eksperimen untuk menghadapi gerilyawan Viet Kong. Letnan Kolonel Hal Moore jebolan Harvard dengan segudang pengalaman tempur ditunjuk untuk memimpin resimen tersebut.
Dengan dibayang-bayangi kekhawatiran mengalami pembantaian seperti yang pernah dialami pasukan Perancis, Hal Moore kemudian memimpin dan kemudian diterjunkan bersama anak buahnya ke medan tempur yang dikenal dengan nama “Lembah Bayang Kematian” tanpa tahu berapa jumlah musuh yang harus dihadapi.
Kekhawatiran tersebut cukup beralasan. Hal Moore hanya punya 395 pasukan itupun akan diterjunkan ke medan perang dalam beberapa gelombang. Sementara musuh yang harus dihadapi belakangan diketahui berjumlah 4000 orang. Padahal dia telah bersumpah untuk membawa sebanyak mungkin pasukannya pulang dari medan pertempuran.
Film ini tidak cuma bercerita kejadian di medan perang. Digambarkan pula bagaimana perasaan cemas isteri yang setiap kali dicekam rasa takut melihat kedatangan taksi yang membawa telegram kematian orang yang mereka cintai, Bagaimana Julie, isteri Hal Moore, terpaksa mengambil alih tugas tukang taksi untuk mengantarkan telegram ke rumah orang yang tewas di bawah pimpinan suaminya. Bagaimana dia sendiri terus menerus mengatasi ketakutan-ketakutannya.
Secara umum, film ini penuh dengan dialog yang sangat menyentuh rasa kemanusiaan. Baik yang dilakukan di medan perang, maupun yang terjadi jauh di garis belakang pertempuran di rumah-rumah mereka yang sedang bertempur.
Selain kuat dari segi dialog, We Were Soldiers juga didukung dengan permainan yang sangat menawan Mel Gibson (Hal Moore), Madeleine Stowe (Julie Moore), serta Sam Elliot yang memerankan Joe Galloway (wartawan perang yang mencoba memahami arti sebuah perang).
Ditambah lagi dengan dukungan musik yang digarap dengan begitu manis oleh Nick Smith. Iringan musik bertempo lambat dengan lirik lagu yang sangat menggugah mampu mengurangi kesan kekerasan yang timbul dari film ini. Dapat dikatakan Nick Smith telah membuat sebuah komposisi musik perang dengan wanna berbeda. Bukan musik yang penuh “semangat” (membunuh) akan tetapi justru membuat orang untuk terhenyak diam (merenung).
Apalagi Randall Wallace yang menggunakan teknik gambar slow motion pada adegan-adegan mengerikan, memaksa orang untuk menahan nafas. Berhenti sejenak. Berpikir. Demikian pula dengan gambar-gambar fotografis yang ditampilkan sebagai background yang terpadu bagaikan dialog tersendiri yang sulit diwakili dengan kata-kata. Sementara narasi yang disisipkan semakin menguatkan kesan film ini sebagai kisah nyata. Bukan hasil isapan jempol.
Namun, setelah sekian banyak film ber-setting Vietnam dibuat, Hollywood ternyata masih terus memproduksi film-film seperti itu. Apakah itu pertanda Amerika yang selama ini sangat membanggakan diri sebagai super hero terus dikejar rasa penasaran karena telah begitu dipermalukan di Vietnam? Ataukah sekedar sebagai semacam refleksi, kritik diri betapa sia-sianya membangun kekuatan berdasarkan ketakutan-ketakutan?
Kini, setelah kebanggaan Amerika kembali dipermalukan di kandang sendiri dengan runtuhnya gedung World Trade Center yang menjadi simbol dominasi kemakmuran mereka akankah muncul phobia baru? Yang pasti, setelah peristiwa 11 September 2001 itu, tampaknya tanda-tanda ke arah itu mulai terasa. Afghanistan bisa jadi baru permulaan. Seterusnya ? Awas terorisme!
Bagaimanapun juga, terlepas dari ada tidaknya propaganda Amerikanisme, We Were Soldiers layak jadi tontonan. Siapa tahu Aceh dan Papua adalah Vietnam. Hanya ketakutan. Cuma phobia. Siapa tahu?

MEMATIKAN RASA TAKUT DAN HARAPAN

Judul : Ticker
Pemain :Steven Seagal, Tom Sizemore, Dennis Hopper, Jaime Presley
Skenario :Paul B. Marcolis & Albert Pyun
Sutradara :Albert Pyun

BERANI hidup, tentu harus pula berani mati. Namun, kenyataannya: lebih banyak manusia yang takut mati. Malah, tak siap mati. Dan selalu berpikir akan adanya hari esok yang lebih cemerlang tanpa perdulikan kodrat lahiriah bahwa seseorang akan termakan usia. Lalu hidup kelewat optimis dengan beragam obsesi.
Namun, bagaimana jika rasa takut mati itu serta harapan hidup, dimatikan dengan segala kesadaran? Sementara, harus berhitung detik untuk mampu menyelamatkan orang lain, termasuk dirinya sendiri. Pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh para penjinak bom. Sebab, sambil melawan melajunya waktu dengan hitungan detik, seorang penjinak bom harus mematikan rasa takut dan segala harapan hidupnya. la tak bisa lagi berpikir tentang hari esok.
Mengawinkan pematian rasa takut dan harapan itu dengan “sekali berarti sesudah itu mati” (meminjam istilah Chairil Anwar), pun sepertinya sangat pas. Akan tetapi, jika penjinak bom harus berhadapan teroris yang memiliki falsafah seni bahwa karya seni itu jauh lebih berharga ketimbang penciptanya, maka bisa jadi sebuah perbenturan atas dua kepentingan yang menarik untuk disikapi. Apalagi, bila si teroris menganggap dirinya sebagai Michelangelo yang karyanya tetap hidup sepanjang masa dan selalu dikenang.
Pembenturan semacam itulah yang disajikan Albert Pyun yang menyutradarai “Ticker” produksi NU Image and Artisan Entertainment. Mengandalkan bintang laga terkenal sekelas Steven Seagall, film yang musiknya diarsiteki Tony Riparetty ini, mengajak masyarakat dunia untuk tidak takut menghadapi kematian. Juga sekaligus mengajak untuk tetap bersikap tenang menghadapi ancaman bom yang setiap saat berada di sekitar kita. Tapi, mampukah kita tenang ? Sementara selalu saja ada orang-orang gila yang dipenuhi dendam dan beragam permasalahan hidup yang tak jelas juntrungannya.
Dikisahkan adanya ahli bom yang mencari hidup dengan ‘bermain-main’ dengan bom. Malah, nekat (namanya juga teroris) menyandera senator Wyman yang akhirnya semua kekuatan keamanan Amerika Serikat tertuju ke sana. Padahal, itu hanyalah pengalih perhatian. Sebab, bom yang meledak justru di tempat lain.
Bahan-bahan bom yang dahsyat itu, ditengarai oleh pemimpin penjinak bom, Glass (Steven Seagall), digunakan terorisme tingkat dunia yang pernah mengacau Afrika dan Timor Timur. Tak jelas mengapa Timor Timur disebut-sebut, adakah hanya sekedar sample atau memang ada konspirasi kekuatan dunia asing yang melibatkan diri pada urusan Indonesia saat negeri ini masih berada dalam naungan negeri kita?
Peristiwa satu tahun itu takkan pernah dilupakan Glass, apalagi ketika polisi di bidang narkotika, Nettless (Tom Sizemore) yang juga anak isterinya tewas terkena bom, membawakannya temuan yang materialnya ternyata mengandung zat-zat bahan peledak yang sangat berbahaya, setelah rekannya Fuzzy tewas tertembak penjahat. Dan kedua tokoh ini pun terlibat ke dalam pencarian untuk menjinakkan bom. Sementara Nettless harus pula melawan dirinya sendiri, menaklukkan rasa takut.
Berkat izin Kapten Gordon, Nettless mampu melibatkan diri pada pencarian atas kejahatan teroris bernama Alex Swan (Dennis Hopper). Apalagi, Claire (Jaime Presley) kekasih Swan yang ditangkap Nettless hanya mau bicara pada Nettless. Sementara keadaan makin runyam sebab Swan yang menganggap dirinya sebagai pelukis terkenal Michelangelo itu tak mau berhenti meledakkan San Francisco jika Claire tidak dilepas.
Pun Claire mampu meyakinkan Nettless bahwa untuk meredam peledakan bom di berbagai sudut kota, hanya satu jalan: melepaskan dirinya! Toh, harapan itu tak sulit, sebab polisi sangat yakin bahwa Claire akan membawa polisi pada Swan sebagai otak teror bom. Akan tetapi, ternyata otak dari segala otak teroris, adalah Claire sendiri. Kok bisa? Ternyata, semuanya hanya berlandas pada dendam.
Suami Claire, Brandon Manning yang merupakan seorang arsitek terkenal, dibunuh dan dinyatakan bunuh diri setelah berusaha mengungkapkan kejahatan pemerintah yang membangun gedung Balai Kota di atas bekas pembuangan limbah. Dendam itulah yang membawa Claire memperalat Swan yang ahli bom untuk meledakkan Balai Kota.
Lewat film ini, kita tak bisa temukan kepiawaian Steven Seagall lagi seperti penampilannya yang sangat hero di “the Patriot” ataupun film-film laga lainnya. Pasalnya, tubuhnya yang kini tambun dan sudah termakan tua, telah menyulitkan dirinya bergerak bebas. Sehingga perkelahian yang diperlihatkan, terkesan dipaksakan dan mengada-ada. Toh, film ini pula tak mampu menyeret kita ke dalam konflik yang menegangkan. Atau bisa jadi, itu memang disengaja untuk menghadirkan “matinya rasa takut” itu.

INTRIK KEJI BUAT PENDATANG!

Judul : Brotherhood of the Wolf
Pemain :Samuel le Bihan, Mark Dacascos, Monica Belucci, Emillie Dequenne, Jeremie Reiner, Vincent Cassel
Skenario :Stephane Cabel
Sutradara :Christophe Gans

HIJRAH adalah jalan terbaik bagi manusia bila di suatu tempat, merasa tak mampu berbuat apa-apa lagi. Namun, jika keberadaannya dianggap membahayakan posisi politis bagi orang lain, tentulah tidak akan mulus di negeri orang. Hal tersebut, tampaknya tidak jauh beda dengar keberhasilan para pendatang di Ambon, Poso, Sambas, Sampit, dan tanah rusuh lainnya. Sebab, awal dari pertikaian adalah kedengkian at as keberhasilan pendatang.
Pergesekan antara pendatang dengan si pemilik tanah kelahiran, nampaknya bukan cerita baru bagi setiap daerah pijak di belahan bumi ini. Bukan hanya Ambon, Poso, Sambas, apalagi jika keberhasilan si pendatang tidak lagi sekedar di bidang perekonomian saja, tapi juga kekuasaan. Maka saat-saat itulah, pertikaian tidak bisa dihindari dan cenderung menjadi penghancuran horizontal. Dia tak peduli, berapa jumlah rakyat tewas sia-sia. Sebab, yang utama adalah ambisi politik yang ujungnya kekuasaan.
Walau tak berhubungan dengan tanah-tanah konflik di negeri Indonesia, alur cerita yang ditawarkan film “Brotherhood of the Wolf” yang diproduksi Studio Coral, merupakan implikasi dari kisah nyata yang selalu terjadi di daerah konflik. Adapun soal ribuan nyawa melayang. para ambisius yang avonturir itu, tak peduli. Sebab, baginya : tujuan atas kekuasaan yang menjadi obsesinya, dapat terwujud, walau dengan beragam alasan dan latar belakang. Dan paling mudah adalah menuding kambing hitam, termasuk menuding serigala sebagai biang keladi.
Diceritakan, munculnya serigala siluman di kawasan pedalaman Gevadon Perancis di tahun 1766. Di kawasan terpencil dan terisolasi hutan belukar dan perbukitan itu, tiba-tiba terkoyak dan menjadi kawasan menakutkan dengan munculnya monster serigala yang luar biasa ganasnya. Pun korban berjatuhan dan ratusan penduduk mati terkoyak. Anehnya, korban rata-rata wanita dan anak-anak saja, dan di tubuh korban ditemukan serpihan logam yang mirip taring serigala.
Penduduk Gevadon dicekam teror dan tahyul bahwa siluman itu adalah utusan Tuhan untuk memperingati raja yang dianggap membangkang terhadap gereja Roma. Untuk itu, ilmuwan kerajaan Gregoire de Fronsac (Samuel le Bihan) ditugasi Raja Louis XV untuk mengusut teror serigala siluman yang telah membantai tidak kurang dari 123 wanita dan anak-anak. Di samping itu, raja juga menyiapkan hadiah bagi siapa saja yang dapat membunuh serigala siluman itu. Hasilnya, ratusan serigala “tak berdosa” yang bermukim di kawasan hutan Gevadon terbunuh oleh pemburu dan kesatria yang tergiur oleh tingginya hadiah yang dijanjikan oleh Raja Perancis itu.
Adapun Fronsac dalam menjalankan misinya, disertai saudara angkatnya, Mani (Mark Dacascos), pemuda Indian Amerika yang ahli kungfu Cina. Dan ketika Fronsac bertualang dan berperang melawan Inggris di daratan Amerika, ia hampir tewas kalau saja ia tidak ditolong oleh Mani. Pemuda yang tidak bicara ini adalah satu-satunya yang hidup dari komunitas suku Iroquoi yang telah ditumpas oleh pasukan Perancis.
Kedatangan Fronsac dan Mani di Gevadon disambut oleh bangsawan muda Marquis Thomas d Apcher (Jeremie Renier) di purinya. Marquislah yang membantu Fronsac untuk mengungkap kasus serigala siluman. Dari mayat-mayat korban serigala siluman itu ditemukan keganjilan dan ketidaklogisan, seperti sulitnya memperkirakan besarnya monster dan apakah mungkin terbuat dari logam atau sebagian zatnya terbuat dari logam karena ditemukan serpihan-serpihan logam pada setiap korbannya itu.
Ketika kasus ini belum lagi terungkap, Raja Louis menugasi Beauteme, kesatria kerajaan kepercayaannya untuk menggantikan Fronsac yang ditarik kembali karena dianggap gagal. Dan dalam waktu singkat, kesatria mengumumkan bahwa ia telah berhasil membunuh sang serigala dan “menutup” kasus serigala siluman ini. Padahal, menurut Fronsac, yang dibunuh Beauteme adalah serigala biasa.
Pada musim panas berikutnya, Fronsac dan Mani kembali ke Gevadon dengan dua alasan, yaitu mengungkap tuntas mengenai serigala siluman dan kembali menemui gadis pujaannya Marianne Monangiis (Emilie Dequenne). Ternyata di balik kasus monster serigala ini tersembunyi intrik keji yang didalangi oleh tokoh-tokoh penguasa lokal yang dimotori oleh Jean-Francois de Morangias (Vincent Cassel), Kakak Marianne yang sejak kedatangan Fronsac merasa tidak senang. Namun misi Fronsac itu berhasil mengungkap kasus ini karena dibantu oleh utusan Roma, Sylvia (Monica Bellucci) yang juga jatuh hati pada Fronsac.
Nah! Haruskah negeri ini mendatangkan “Fronsac” dan “Sylvia” untuk mengusut kerusuhan yang sepertinya tak mengenai kata henti. Toh, masyarakat di daerah rusuh, sudah lama bosan bertikai.

VAMPIR PUN IKUTI MODE

Judul :Queen of Dammer
Pemain :Stuart Townsend, Aaliyah, Marguerite Moreau, Vincent Perez
Skenario :Scott Abbottdan dan Michael Petroni
Sutradara :Michael Rymer
Produksi :Warner Bros

PENGISAP darah itu tidak kuno lagi. busananya modern, mengikuti zaman. Malah, terlibat dan terkenal sebagai penyanyi rock. Kok bisa? Pasalnya, vampir juga pernah terbuat dari tubuh manusia. la mestinya punya rasa. Namun bagi “pervampiran”, membuka kedok dan rahasia mereka, adalah pengkhianatan.
Cerita tentang vampir yang bagai kelelawar penghisap darah, bukan cerita baru bagi masyarakat Barat, Mereka mempercayainya’ seperti meyakini Spiderman, Batman, dan tokoh imaji lainnya. Kehadiran Vampir bak nyata di kehidupan sehari-hari, khususnya bagi masyarakat Inggris, seperti halnya kuntilanak, pocong, “poppok”, leak, ataupun “parakang” di negeri kita. Sesuatu yang tidak nyata tapi dianggap nyata.
Sebagai film, vampir telah mendapatkan tempat sebagai alur cerita yang selalu menantang untuk digali. Buktinya, cerita dan ide-ide soal vampir itu, selalu saja bermunculan. Apalagi, didukung industri perfileman sekelas Hollywood. Maka jadilah, vampir menjadi sebuah toko yang tak pernah mati. la hidup terus sepanjang masa, seperti keberadaan vampir itu sendiri.
Kenyataan itu pula yang ingin disampaikan dan diwujudkan Scott Abbottdan dan Michael Petroni dalam membuat screenplay (skenario) lalu diwujudkan Michael Rymer sebagai sutradara pada film “Queen of the Damraer”. Apalagi, para pembuat film ini, termasuk Warner Bross, melihat peluang pada hobi generasi muda dalam kekinian, dimana musik rock yang sudah dilabeli “musik setan” oleh kalangan tertentu, menjadi setting cerita.
Dan ‘dukungan’ lain yang kian membuat film ini menarik, sebab sang ratu yang di akhir cerita, tewas, ternyata benar-benar tewas di alam nyata. Aaliyah yang memerankan tokoh Akhassa, tewas akibat kecelakaan pesawat, tahun 2001. Itu sebabnya, sebagai sub-title akhir film, dituliskan “in memoriam for Aaliyah”. Akhir hidup yang tragis, bagai berada dalam film yang ia bintangi.
Film yang bersetting lokasi London lalu ke berbagai kota di Amerika Serikat, menceritakan tentang Leastet (Stuart Townsend) yang terbangun dari tidurnya selama seratus tahun karena mendengar hingar-bingar musik rock. Pun ia mengikuti selera mode lalu tampil sebagai artis terkenal yang. dipuja karena menyebut dirinya sebagai vampir. Walau ia dianggap melucu dan mengaku-ngaku sebagai vampir, ia tak peduli. Tujuannya : memanggil vampir-vampir keluar untuk bangkit kembali.
Pada dasarnya, Leastet mencari sesosok vampir yang membuatnya penasaran di kehidupan sebelumnya. Siapa yang membuatnya penasaran? Adakah Marius (Vincent Perez), tetua vampir yang menjadikan Leastet sebagai vampir? Ataukah salah satu korban yang membuatnya patah hati? Yang pasti, cerita terus bergulir. Dan pengungkapan itu justru dilakukan Jesse (Marguerite Moreau), gadis keturunan vampir yang ‘dijaga’ untuk tetap menjadi manusia.
Jesse yang merupakan peneliti tentang vampir justru jatuh cinta pada Leastet. Ia ingin menjadi vampir agar bisa menemani lelaki pujaannya itu. menghadapi berbagai ancaman dari kalangan tokoh vampir setelah selalu membeberkan rahasia vampir. Apalagi, Leastet tak kunjung menghisap darah Jesse.
Akhirnya yang dicari Leastet muncul juga. Wanita pujaannya adalah Akhassa, ratu vampir, ibu dari segala vampir, yang selalu menghabisi manusia karena manusia dianggapnya sebagai binatang. Ibarat sikap manusia terhadap sapi, ayam, dan segala hewan yang menjadi kebutuhannya. Seperti itu pula vampir yang menjadikan manusia sebagai makanannya.
Bagaimana akhir cerita kehidupan vampir yang berada di kehidupan kekinian itu ? Leastet dan Jesse yang menentukan. Jesse tetap berkeyakinan bahwa vampir bisa dibebaskan dari kegelapan. Mungkinkah?
Film yang tidak memberi penggambaran menakutkan seperti film-film bersetting vampir sebelumnya, “Queen of the Dammer” ini malah sebaliknya. Kian memberi hiburan segar, khususnya penggemar lagu-lagu rock kegemaran kaum muda. Walau, secara tersirat, si penulis naskah seakan menegaskan kedekatan “setan” dengan musik-musik cadas yang sangat dekat pula dengan alkohol dan narkoba. Dan jawabnya yang riil ada pada interpretasi kita masing-masing, termasuk vampir ikuti mode atau pemusik ikuti jejak vampir.

TRAGEDI VAMPIR RAS BARU

Judul :Blade II
Pemain :Wesley Snipes, Kris Kristofferson, Leonor Varela, Ron Perimen, Luke Gross, Norman Reeds, Thomas Kretschmann, Danny John Jules.
Sutradara :Guillermo del Toro
Cerita :David S. Goyer
Produksi :New Line Cinema

HOMO homini lupus, manusia adalah serigala pemangsa bagi sesamanya. Kondisi paling jelek ini dialami manusia telah ribuan tahun terjadi, ketika manusia telah kehilangan kodratnya sebagai khalifah, pengatur alam semesta. Demi kekuasaan dan ego pribadi, manusia tega “memangsa” sesama manusia dan menjadikan dirinya sentra akumulasi sifat manusia, binatang dan iblis.
Ide memangsa sesama inilah yang coba diungkapkan oleh sutradara Guillermo del Toro dalam film “Blade II” ini. Dimana setting cerita berkisar kehidupan para vampir, yaitu sebagai pemangsa atau mangsa, sebab kelangkaan manusia sebagai makanan utama, dan berkembang pesatnya komunitas vampir yang memaksa mereka untuk saling memangsa.
Dikisahkan tentang Blade (Wesley Snipes), si “daywalker” pejalan siang yang merupakan sosok manusia setengah vampir, terlahir dari rahim seorang ibu korban vampir ketika hamil tua. Blasteran vampir-manusia ini tidak lagi merupakan makhluk yang haus darah karena ia beruntung disembuhkan oleh ilmuwan Whistler (Kris Kristofferson) yang punya misi menumpas kaum vampir. Sebagai balas budi, Blade mencari Whistler ke seantero pelosok bumi, ketika mendengar kalau Whistler diculik sekawanan kelompok vampire dan disekap di bahagian kota prahara.
Dengan ilmu kungfu yang tinggi dan gerakan secepat kilat, blade menjadi super hero sekaliber Superman, Batman, Spiderman, dengan misi utamanya menumpas kaum vampire yang menjadikan manusia sebagai mangsa utama. Maka jadilah Blade sebagai musuh utama dan target operasi “perburuan” para vampire.
Damaskinos (Thomas Kretschmann), raja vampire membentuk Blood Pack, tim vampire yang terdiri dari enam jagoan elite vampire dari berbagai pelosok dunia yang dikomandani Reinhardt dan anggotanya Chupa, Pendeta, Lighthammer, Verlaine dan Snowman. Tim ini semula dibentuk untuk menangkal misi Blade. Namun situasi cepat berubah ketika muncul kawanan The Reapers, super vampire yang ganas luar biasa. Damaskinos lalu mengutus puteranya Nyssa (Leonor Varela) dan Asad (Danny Jhon Jules) untuk menawarkan “persekutuan” dengan Blade untuk melawan kawanan The Reapers, ras vampir baru yang doyan memangsa sesama vampir. Tampilan mereka amat ganas dengan keanehan yang mengerikan karena mulut mereka bisa terbuka lebar ke samping ketika menerkam dan melahap mangsanya.
Blade pun ditunjuk memimpin tim khusus yang terdiri dari vampir pilihan antara lain, Asad, Nyssa, Scud, Benhardt cs dan Whistler untuk memerangi The Reapers yang dipimpin oleh Jared Nomak (Luke Goss), vampire buas dan kejam yang kemampuannya berimbang dengan Blade, karena mempunyai kemampuan yang sama, yaitu kebal terhadap peluru perak, senyawa bawang putih dan sinar ultra violet. Nomak telah lama mencari Blade, karena beranggapan Blade adalah satu-satunya hambatan untuk mencapai ambisinya demi menguasai dunia siang dan dunia kegelapan.
Tim Blade pun menghadapi banyak tantangan, karena lawan memang tangguh, apalagi Blade sendiri tidak bisa mempercayai Benhardt cs yang setiap saat mengintip peluang untuk berkhianat dan menghabisi Blade.
Akhirnya Blade menemukan siapa sebenarnya dalang dari tragedi yang melanda para vampir. Damaskinos, ternyata mempunyai ambisi menciptakan “Ras” vampire baru yang unggul, tahan terhadap peluru perak, senyawa bawang putih dan sinar matahari dengan memanfaatkan ilmuwan dan kelompok the Reapers untuk menciptakan teror.

CINTA DUNIA MAYA JADI NYATA

Judul :Ping Guo Yao Yi (Expec a Miracle)
Pemain :Daniel Chan, Joey Yung, Hek Zu Min, Lo Zhi Chang
Sutradara :Shunya Ito

SETIAP orang punya tempat berkeluh kesah. Ada yang menumpahkannya pada teman, ada juga yang menumpahkannya dalam kata-kata pada buku diary. Juga ada yang bersurat-suratan seperti yang dilakukan RA. Kartini di masanya.
Ada via radio CB yang bercerita lewat udara. Namun di kekinian, tempat menyalurkan keluh kesah, bertambah. Banyak yang melakukannya via internet dengan cara “chating”.
Mencari sahabat lewat dunia maya, sangat mengasyikkan. Wajah tak perlu dikenal. Jenis kelamin pun bisa diganti. Toh, canda dan keakraban bisa tercipta di setiap saat. Perbincangan dengan hanya menulis dalam bentuk kata yang terkirim tanpa mendapatkan hambatan maupun pembatas, bisa sangat mengasyikkan. Termasuk bila ingin menumpahkan unek-unek.
Lantas bagaimana jika orang yang kita ajak “chating” selama ini dan kita keluhkan masalah cinta kita, ternyata orang yang sangat dekat dengan kita? Padahal, cinta adalah sesuatu yang agung.
Adakah harus menjadi . luntur dan menjadi mainan jika hanya diungkapkan lewat icon-icon dan simbol pada teman di dunia maya dengan masing-masing memakai nama samaran?
Cinta selalu misteri. Tak mudah ditebak. Malah cinta itu seperti sebuah ungkapan dalam film Ting Guo Yao Yi”, bagai apel.
Ada yang terlihat dari luar masih rnuda, tapi di dalamnya manis, ada yang kulitnya bagus tapi isinya busuk. Artinya, cinta tak bisa hanya dilihat dan dirasakan hanya sekilas dan tidak mendalam.
Tersebutlah Song Dan Ru (Joey Yiing) yang memakai nama samaran Little Angel yang punya sahabat internet bernama Deep Blue (Danial Chang). Setiap permasalahan Song, ia beberkan pada Deep termasuk ketika mulai bekerja sebagai guru pengganti, setelah lulus sekolah. Kenakalan murid-muridnya ia tuturkan lewat internet. Ia bisa plong sebab punya teman diskusi dan berbagi duka.
Selain sebagai guru, song punya kerja sampingan sebagai foto model. Namun ketika pemotretan, ia bermasalah dengan Jet, Fotografernya, Song tak henti diolok-olok oleh Jet, fotografernya. Malah ia hanya disuruh menimba air hingga lelah.
Semua demi alasan untuk mendapatkan momen gambar yang bagus. Tapi, Jet memang hanya usil. Dan ketika Song minta air minum, Jet memberi bekas air minumnya lalu mengatakan bahwa dirinya penderita Aids.
Song tetap menagih janji pemotretan, tapi Jet membuatnya marah. Saat Song marah, Jet mau memotret Song dalam keadaan tertawa. Song mencoba namun hasilnya tidak memuaskan hingga ia diusir.
Saat song pulang ia dihadang oleh seorang pria yang mengancamnya harus membayar utang. Song memohon jangan disakiti, dan menyampaikan agar diberi waktu karena belum punya uang dan ibunya di rumah sakit.
Jet menolongnya, Song diajak pemotretan dan setelah selesai pemotretan langsung diberi honor. Rupanya yang mengancam Song, adalah adik Jet yang pura-pura sebagai preman.
Lewat dunia maya, Song menceritakan semua dukanya pada Deep Blue. Juga menceritakan bahwa ia jatuh cinta pada bosnya, tapi tak menyebut nama. Hanya mengatakan si bos itu mulutnya bau.
Adapun Jet, juga jatuh cinta pada Song tapi dipendam. Keduanya sama-sama menahan diri. Song mengatakan dirinya sudah punya pacar, begitupula sebaliknya. Hingga, di suatu pesta, datang adik Jet minta uang pada kakaknya. Takulah Song bahwa ia telah ditipu oleh Jet. Hubungan Jet dan Song berantakan.
Song mengadu pada Deep Blue dan menyebut nama lelaki yang ia cintai itu. Jet yang ternyata Deep Blue merasa bodoh tidak mengetahui jika orang yang ia cintai juga adalah Song yang memakai nama Little Angel . Dan keduanya sepakat bertemu, tapi Song tak tahu siapa Deep Blue. Toh, Jet masih mengusili Hong.
Bagaimana kisah cinta lewat dunia maya itu? Tentulah selalu happy ending. Karena cinta memang membuat semua orang berbahagia. Ya, cinta itu rahasia seperti buah apel. Untuk menggapainya, banyak saluran yang bisa dipakai, termasuk internet.
Atau adakah bedanya? Kalau pun ada, hanya pada teka-teki yang tak terjawab. Pun hasilnya sama: cinta bisa jadi nyata!

TERORISME, PHOBIA AMERIKA!

Judul :Air Panic
Pemain :Rod Rowland, Kristanna Loken, Ted Sharkelford, Alexander Enberg
Musik :Serge Colbert
Skenario :Adam Gierasch, Jace Anderson
Sutradara :Bob Misoroski

DUA menara kembar, World Trade Center belum runtuh dihantam pesawat-pesawat teroris yang ditengarai milik Osama bin Laden, 11 September 2001, telah banyak film yang menceritakan ancaman teroris. Jika ketika masih perang dingin, Uni Sovyet dijadikan kambing hitam, maka pasca perang dingin, Islam fundamentalis yang jadi sasaran.
Kini, bukan hanya Islam fundamentalis atau yang militan dituding pada setiap peristiwa pengeboman dan sejenisnya, tapi sudah menyangkut Islam sebagai agama. Di beberapa negara, sudah menyatakan sikap musuhnya adalah Islam. Malah terorisme sudah banyak diidentikkan dengan Islam.
Betulkah tudingan sudah demikian parahnya? Yang pasti, pengecapan militan yang teroris itu sudah terlabeli di pundak yang beragama Islam. Banyak orang yang mengalami kesulitan masuk negara lain, seperti Jepang, jika namanya mengandung unsur-unsur penampakan Islam yang berasal dari Timur Tengah.
Jika sebelumnya hanya terbatas Islam fundamentalis dari negara-negara Arab yang kerap digambarkan dalam film-film hero Hollywood, kini CIA dan dipublikasikan Majalah Time bahwa pusat teroris itu berada di Indonesia sebagai negara yang penduduknya mayoritas Islam dan terbesar di antara negara Islam lainnya.
Cap teroris adalah momok menakutkan bagi umat Islam. Sementara di Amerika Serikat, phobia yang masyarakat dan pemimpinnya rasakan adalah terorisme. Mereka terperangkap pada ketakutan-ketakutan. Dan kian takut setelah WTC runtuh, yang bukan lagi sekedar imajinasi.
Setelah WTC runtuh, pembuat film Hollywood berhayal akan bahaya terorisme. Mereka membayangkan bagaimana bahayanya jika menara-menara pencakar langit di kota-kota AS diruntuhkan dengan teknologi canggih hang mereka buat sendiri. Imajinasi itu berubah menjadi kenyataan. Film-film itu secara langsung telah mengajari para penjahat untuk meledakkan gedung-gedung dengan pengajaran seperti yang terlihat pada film-film.
Tersebutlah “Air Panic”. Ada tiga kecelakaan pesawat yang secara beruntung terbakar di udara selama satu pekan. Kecelakaan terjadi di Seattle, Honolulu, dan yang terakhir terjadi di Denver pada tanggal 4 Juli, bertepatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.
Kecelakaan di Denver menghantam salah satu gedung pencakar langit. FBI menganggap Deno Down kelompok teroris dari Pakistan yang bertanggung-jawab. Tetapi Neil (Rod Rowlan) dari FAA justru berpendapat hal itu tidak mungkin. Karena kelompok teroris tersebut termasuk teroris kelas kecil. Mereka tidak akan mampu mengerjakan pekerjaan sebesar itu. Neil menduga justru ada pihak lain yang melakukan dengan cara mengendalikan sistem komputer.
FBI tidak setuju dengan analisa Neil. Malah, Neil mencurigai pesawat dengan penerbangan 672 juga telah dikendalikan komputernya maka ia bersusah payah ke bandara mencegah penerbangan tersebut. Namun saat pesawat tersebut dihentikan oleh pilot malah pesawat bergerak karena sistem komputerisasi pesawat tersebut dikendalikan oleh Cain di markasnya.
Cain mengambil alih sistem navigasi pesawat dari rumahnya. Cain mengemudikan pesawat sekehendak hati, termasuk mengatur gerak ke atas, atau tiba-tiba diterjunkan ke bawah hingga pilot mengalami patah leher saat mencoba memberi arahan pada penumpang bahwa ia tidak akan membiarkan orang lain mengendalikan pesawatnya. Penjahat ini ibarat bermain game di depan komputer saja.
Air panic adalah gambaran tentang berbagai prediksi yang tertuang dalam film. Adakah WTC juga dihancurkan seperti pada film tersebut lalu memvonis Al-Qaeda sebagai biang keladinya ? Kita masih menunggu kepastian yang sepertinya sulit terjawab. Sebab, AS sudah menjatuhkan vonis. Dan korbannya adalah Islam, termasuk pengeboman di Bali. Ya, semoga Air Panic memberi kita petunjuk untuk bisa lebih rasional sambil membiarkan semua proses hukum berjalan.

IMAJI DI PENGHUJUNG KIAMAT

Judul :Reign of Fire
Pemain :Matthew Mc Conaughey, Christian Bale, Izabella Scourpo, Gerard Butlr.
Skenario :Gregg Chabot, Kevin Peterka, dan matt Greenberg
Sutradara :Rob Bowman

ORANG beriman, pastilah percaya pada hari kiamat. Kapan hari terakhir itu, tak jelas. Namun, tentang hancurnya bumi yang dihuni manusia ini, sudah kerap dibeberkan orang dalam bentuk film maupun cerita dalam buku dan komik. Dunia hancur dengan beragam latar belakang. Toh, semuanya masih dalam taraf imajinasi.
Manusia habis di muka bumi ini, merupakan suatu kepastian. Yang pernah ada pasti tiada. Tapi haruskah manusia pasrah begitu saja, sementara manusia sebagai khalifah di bumi telah diberikan kemampuan oleh Tuhan untuk berusaha semaksimal mungkin. Segala upaya harus dilakukan demi mempertahankan hidup. Apalagi bila hidup orang lain ikut tergantung pada kita.
Lantas bagaimana sikap kita andai bumi ini hancur bukan karena kehancuran yang selama ini kita bayangkan, tapi karena proses alamiah dari pergesekan antara metabolisme sesama makhluk hidup. Apalagi jika ternyata, diakibatkan oleh keserakahan umat manusia yang dengan tidak sengaja memunculkan makhluk lain yang pernah ada. Dan keliaran imajinasi yang pernah ditawarkan pemikir Sartre telah membuat manusia modern untuk melakukan kebebasan berpikir secara humanis individualis.
Imajinasi yang diagungkan Sartre itulah yang coba ditawarkan Gregg Chabot dan Kevin Peterka yang membuat cerita lalu menjadikannya dalam bentuk skenario lewat film “Reign of Fire”. Naskah yang digarap sutradara Rob Bowman pun menghasilkan satu tawaran pemikiran tentang kemungkinan yang terjadi pada manusia di muka bumi ini. Terlebih, garapan animasinya dikerjakan secara apik.
Diceritakan tentang seorang bocah di London, Quinn yang menemui ibunya, Karen yang bekerja di mega proyek pengeboran ke perut bumi. Ternyata, pengeboran tertunda karena mata bor tertumbuk pada benda yang sangat keras. Kala Quinn diminta oleh anak buah Karen untuk melihat ke dalam gua yang menghambat mata bor itu, Quinn melihat adanya naga purba yang mampu menyemprotkan api.
Naga purba itupun terbangun dan melesat ke muka bumi. Peristiwa itu telah berlalu lama. Quinn (Matthew Me Conaughey) sudah besar. la telah mencatat peristiwa yang menewaskan ibunya itu sebagai phobia yang telah menjadi epidemi. Apalagi naga purba itu telah meneror umat manusia yang mengakibatkan populasi manusia kian berkurang. Malah, Quinn yang bersembunyi di suatu daerah, merasa jika komunitasnya adalah manusia terakhir yang berhasil selamat dari kejaran naga purba yang terbang di angkasa dengan lidah apinya yang sangat dahsyat ganasnya.
Bala bantuan akhirnya tiba. Di bawah pimpinan Denton Van Zan (Christian Bale), pasukan marinir AS ini mengajak Quinn untuk menangkap naga purba. Sebab jika hanya menunggu hingga naga itu mati, sangatlah sulit, walau naga itu akan saling memakan jika tak ada lagi manusia yang mereka temukan. Bersama Alexandra (Izabella Scorupco), Quinn dan Van Zan mencari naga jantan yang ditengarai hanya satu ekor. Dan Quinn sangat tahu sarangnya, sebab di tempat kerja ibunyalah bermula.
Film yang berdurasi 120 menit ini, terbilang mampu menyedot emosi penonton. Hal itu dimungkinkan karena peranan animasi yang cemerlang yang didukung garapan musik Edward Shcarmuk serta visual effeknya Richard Houver, mampu membuat penonton untuk berimajinasi sesuai imajinasi penulis naskah “Reign of Fire”. Dan film ini merupakan fiksi ilmiah yang ditawarkan secara natural. Sehingga, kita terbuai oleh keasyikan alur cerita yang tidak membuat kita takut. Padahal, kita sedang menyaksikan peristiwa di tahun 2020 ketika imaji kita berada di ujung kiamat.

MASJID AL AQSHA DIBOM, TERJADI PD III!

Judul :The Order
Pemain :Jean Clude Van Damme, Charlton Heston, Brian Thomson
Cerita :Danny Lerner
Skenario :Lesm Weldon dan Jean C. Van Damme
Sutradara :Sheldon Lettich

NEGERI ini, di tahun 2002, pernah dihebohkan kisah tentang keinginan dan obsesi Menteri Agama yang mencoba menggali situs Batu Tulis di Bogor. Menurutnya, ada harta karun yang bisa membiayai negara yang sedang dilanda krisis ini jika berhasil ditemukan. Namun penggalian itu akhirnya dihentikan. Masyarakat Parahyangan marah, protes, karena tak setuju peninggalan nenek moyang mereka diobrak-abrik. Dan akhirnya, Menteri Said Agil Husein Al Munawar rninta maaf.
Tidak sedikit orang berburu harta karun dengan jalan menggali di tempat yang ternyata dikeramatkan. Kuburan digali sudah sering. Apalagi, kuburan yang diperkirakan menyimpan banyak barang yang sangat berharga, Malah, perburuan harta karun itu seperti mimpi saja. Tapi, tak sedikit yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.
Strategi menyembunyikan harta karun memang telah dilakukan manusia terdahulu agar sulit ditemukan generasi berikutnya. Paling mudah dengan cara menggali dalam tanah lalu ditimbuni. Sementara Firaun membuat piramida dengan cara yang sangat rumit untuk dimasuki. Beragam pintu rahasia yang bisa menjebak orang di dalamnya, terpasang dengan teknologi tinggi di masanya yang hingga kini masih tetap misteri.
Lantas bagaimana jika harta karun yang luar biasa besarnya itu ternyata tersembunyi di bawah tempat persembahyangan, seperti masjid tua Al Aqsha? Haruskah masjid itu dibongkar, diratakan dengan tanah, lalu digali? Setting cerita inilah yang kemudian diangkat ke layar perak oleh Sheldon Lettich.
Alur film dibuka dengan scene Perang Salib di Kota Suci Yerussalem di era masa silam. Le Vaillant kecewa atas perang itu lalu membentuk sebuah sekte yang kemudian dikenal sebagai The Order”, lengkap dengan kitab suci The Fazar. la membuatnya di Gua Mount Olives. Sekte ini punya peta yang tertera dalam kitab. Dan peta itu menunjukkan lokasi harta yang tertimbun.
Cerita kemudian berlanjut. Dikisahkan Rudy Cafmeyer (Van Damme), penyelundup benda purbakala yang selalu lolos dari jeratan hukum. Rudy ke Israel mencari ayahnya Oscar Cafmeyer (Charlton Hestoin), professor arkeologi yang telah menemukan bagian terakhir kitab Fazar yang diduga menghilang setelah tiba di Tel Aviv. Pesan terakhir Oscar, bahwa ia berada di rumah temannya, Prof. Waif Finlay.
Saat tiba di Tel Aviv Rudy mengalami pemeriksaan yang ketat oleh Letnan Dalia Barr dengan alasan di Bulan Ramadhan umat Islam banyak berkunjung ke Yerussalem. Rudy dijemput Waif Finlay yang kemudian menyerahkan kunci kotak titipan di Bank Noriah tempat bagian terakhir kitab Fazar disimpan. Dan di penghujung cerita, dikisahkan rencana peledakan terowongan yang ada di bawah Masjid Al Aqsha karena di sanalah harta karun yang hampir dua millennium itu tersimpan.
Hollywood tak bosan membuat film yang menyudutkan umat Islam. Namun film ini mencoba memberi pemahaman bahwa jika umat Islam diobok-obok terus, maka bisa terjadi Perang Dunia (PD) ke-tiga. Seperti dalam sebuah dialog dalam film ini, “Jika Masjid Al Aqsha kau bom, maka akan terjadi PD III.”
Sebagai tontonan, The Order” terbilang baik walau tidak kelewat baik. Van Damme pun tidak lagi hanya mengandalkan otot melulu. Apalagi, jika hanya untuk sekedar menjadikannya pembanding atas kondisi politik global yang tampaknya telah terjadi penyeragaman atas kemauan AS sebagai polisi dunia. Toh, film ini memberi gelitik pemikiran yang lebih menyimpang dari kebiasaan AS.

NYATA TERLIHAT DARI MATA ROH
Judul : The Others
Pemain :Nicole Kidman, Fonnula Flanagan, Christopher Eccleston, Elaine Cassidy, eric Sykes, Alakina Mann, James Bentley, Rence Asherson
Sutradara :Alejandro Amenabar

TERSEBUTLAH Grace yang tinggal di sebuah rumah besar. la punya dua anak, Anne berusia tujuh tahun dan Nicholas empat tahun, Suaminya dikabarkan tewas di medan perang. Ketiganya ditemani tiga pembantu rumah tangga, Ny. Bertha Mills bertugas masak dan mengasuh anak, Lynda membersihkan rumah, dan Mr. Tuttle tukang kebun.
Anne bermasalah. la tidak mau belajar Alkitab yang diajarkan ibunya. Sementara Grace menilai hanya Alkitab yang bisa dipercaya, sebab buku cerita hanya dongeng yang penuh kebohongan dan omong kosong. Tapi, Anne merasa tidak semua isi Alkitab benar. Makanya, Anne dipisahkan dengan adiknya agar Nicholas tidak terpengaruh.
Grace punya masalah penyakit Migrain dan tak bisa mendengar suara gaduh, termasuk bunyi piano. Malah tak mau punya radio, teve, hingga telepon, sebab ia tak mau terganggu. Seluruh tirai harus selalu tertutup bila kedua anaknya Anne dan Nicholas melewati suatu ruangan karena mereka menderita alergi cahaya yang parah. Tidak ada listrik, hanya menggunakan lampu minyak tanah. Anne menganggap ibunya gila sedangkan Nicholas yakin tidak.
Suatu saat, Anne menyampaikan bahwa di rumah mereka ada orang lain yang kadang ia lihat. Ada Victor, kedua orang tua Victor, dan neneknya. Menurut Anne, Victor adalah keluarga penyihir. Ayah Victor jago piano. Grace malah sempat mendengar suara gaduh, tapi tidak menemukan siapa-siapa.
Grace dan Anne yakin ada hantu di rumahnya, sebab sewaktu rumah itu dibeli ada kuburan di halamannya. Grace bergegas ke desa untuk menemui pendeta, ia menganggap rumahnya perlu diberkati karena ada roh yang tidak tenang di dalamnya dan memerintahkan kepada Mr. Tuttle agar mencari kuburan di sekitar rumahnya. Pulangnya, ia bertemu suaminya yang kabarnya telah tewas di tengah kabut yang tebal.
Bagaimana mengusir hantu yang ada di rumahnya? Grace tak punya cara. Sebab, ia kemudian menemukan tiga kuburan yang di dalamnya jenazah ketiga pembantunya yang ia bisa kenali lewat foto dan tahun kematian 1891. Dan ternyata…Grace telah lama mati. Ia membunuh kedua anaknya dengan menyekap pakai bantal lalu diri.

AWAS PENYAKIT TAKUT!
Judul : K-19 The Widowmaker
Pemain :Harrson Ford, Liam Nelson, Peter Sarsgaar
Cerita : Louis Nowra
Naskah :Christopher Kyle
Musik : Klaus Badelt
Sutradara :Katryn Biglow

RADIASI nuklir yang meluluhlantakkan Hiroshima adalah bukti penghancuran yang sangat dahsyat. Radioaktif memakan korban manusia, tumbuhan, dan hewan, hingga beberapa waktu yang panjang. Makanya, fobia radiasi nuklir adalah momok yang tak bisa ditawar-tawar. Walau di kekinian, fobia masyarakat internasional adalah terorisme.
Mengapa orang takut pada terorisme? Adakah Kalah hebat dibanding radiasi nuklir? Yang pasti, ketakutan itu sendiri adalah penyakit yang lebih dahsyat. Sebab, takut itu bisa membuat seseorang lupa diri. Malah tak sadar menjual harga diri dan rasa nasionalisme. Seperti halnya di tanah rusuh, seseorang melawan, membunuh, dan melakukan perbuatan anarkis lainnya karena akibat dari rasa takut yang berlebihan.
Antara penyakit takut yang bisa menular ke sumsum nurani orang itulah yang dipertentangkan dengan radiasi nuklir dari sebuah kapal selam di tahun 60-In dalam film K-19 The Widowmaker. Inti ceritanya, pengujian sekaligus pengiriman kapal selam ke daerah kekuasaan Amerika Serikat dan \ NATO oleh angkatan laut Uni Soviet. Namun hakikat dari pesan alur cerita adalah ketika harus memerangi rasa takut. Sebab, rasa takut yang berlebihan malah akan meninggalkan pikiran sehat, termasuk harga ini ;
Cerita dimulai ketika pemimpin Soviet berencana memulai pengoperasian kapal selam bernama K-19 yang dilengkapi persenjataan nuklir ke kutub untuk pengujian dan selanjutnya jika berhasil dikirim ke laut lepas di perbatasan Washington dan New York. Padahal, kapal selam itu belum rampung benar dan masih dalam taraf pengujian. Adapun yang diserahi tugas memimpin adalah Kapten Vostrikov (Harrison Ford) menggantikan posisi Kapten Misha Polenin (Liam Nelson) yang digeser menjadi pejabat eksekutif.
Ada beberapa anak buah Polenin yang tidak terima pergantian tersebut. Malah melakukan kudeta ketika kapal selam rusak di sekitar daerah NATO. Mereka memilih untuk menyelamatkan diri ketimbang mengikuti ‘kegilaan’ Vostrikov yang tak mau meminta bantuan pada AS karena itu artinya pengkhianatan terhadap negara. la tak mau menyerahkan anak buahnya sebagai pecundang, apalagi menyerahkan kapal selam yang merupakan kebanggaan Soviet.
Radiasi nuklir kian membuat ketakutan. Fasilitas kapal yang tidak memadai, termasuk obat-obatan, menghilangkan semangat hidup awak kapal selam. Mereka harus menyelamatkan hidup, tapi dengan cara apa. Pasrah, tidak mungkin. Takdir? Mereka tak percaya karena negerinya menganut paham komunis. Sementara sang kapten terus berusaha memperbaiki kapal, walau dengan harus mengorbankan anak-anak buahnya.
Kudeta gagal karena Polenin yang secara tidak langsung ‘dicud otaknya’ oleh Vostrikov, tak menginginkan tindakan pengecut itu. Dan ia mengatakan alasannya ketika penyelamat dari Soviet menemukan mereka bahwa tindakan itu salah. Yang pasti, tugasnya pada anak buahnya yang memaksakan kehendak, “Saya memang kehilangan posisi, tapi saya tidak kehilangan harga diri!”
Cerita ini diangkat dari kisah nyata ketika Perang Dingin masih berlangsung di era kepemimpinan Kruschev dan John F. Kennedy. Peristiwa pengiriman kapal selam bermuatan nuklir ini dirahasiakan hingga berakhirnya Perang Dingin dengan hancurnya Soviet dan bersatunya Jerman. Lalu dibuka ke pentas dunia dalam bentuk film.
Namun, sebagai jawara dunia, Hollywood yang membuat film ini tetap merasa sebagai negara superior. Keberadaan K-19 dipotret secara kacamata AS, termasuk olok-olok kekalahan pasca perang dingin. Setidaknya, Soviet adalah pecundang yang tak pernah menghargai pejuang, rakyat, dan segala yang berbakti buat negerinya. Film dibeberkan secara gamblang dengan sindiran tentang “begitu tidak apa-apanya Soviet ternyata di kala itu”.
Dan tentaranya, hanyalah sekelompok orang yang merasa punya harga diri. Padahal, mereka berbekal ketakutan yang merupakan penyakit yang paling berbahaya! Toh, film ini tetaplah nikmat disimak walau meninggalkan keotentikan, seperti halnya dalam penggunaan bahasa yang tak secuil pun memakai bahasa Soviet!

CINTA ITU ADA DI SEKITAR KITA
Judul : The Tuxedo
Pemain :Jackie Chan, Jennifer Love Hewitt, Jason Isaacs, Ritchie Coster
Skenario :Michael J. Wilson & Michael Leeson
Sutradara :Kevin Donovan

TIDAK sedikit orang cantik maupun lelaki gagah yang kesulitan menemukan pacar atau pasangan hidup. Masalahnya sepele, hanya karena tidak memperhatikan tanda-tanda atau perasaan orang lain yang berada di sekitarnya. Terkadang, imaji melambung ke tempat lain, padahal kenyataannya : kekasih sejati ada di sampingnya.
Cinta itu tetaplah terkait perasaan. Walau tetaplah misteri dan sulit ditebak. Keinginan dan harapan, kerap tidak sinkron. Malah, tidak jarang seseorang minta tolong pada teman untuk mewujudkan impian, padahal ternyata cinta itu adalah teman baik itu sendiri. Sehingga, jika tanda-tanda, seperti uring-uringan ada di sekitar kita, maka waspadailah. Jika merasa klop, nikmatilah cinta itu sebagaimana mestinya. Karena seperti kata Doel Sumbang, “cinta itu anugerah, maka berbahagialah!”
Materi cinta itu pula yang digagas pembuat cerita Phill Hay, Matt Manfredi, dan Michael J Wilson yang kemudian dilayarlebarkan oleh Kevin Donovan lewat The Tuxedo”. Walau dibungkus alur cerita tentang pemberantasan kejahatan, tapi intinya tetaplah cinta. Apalagi, alur dibuka dengan kegrogian Jimmy Tong (Jackie Chan) menyatakan perasaan hatinya pada seorang gadis cantik penjaga gallery lukisan (diperankan Debi Mazar). Dan ditutup kesadaran akan makna kecantikan seorang wanita.
Diceritakan. Jimmy Tong sebagai sopir bagi seorang miliuner, Clark Devlin (Jason Isaacs) yang merupakan seorang agen pemerintah, CSA yang memberantas kejaiiatan. Namun, Devlin yang liebal itu sekarat setelah terkena serpihan bom. Akhirnya, Jimmy yang tak sengaja memakai “tuxedo” yang dibuat secara mutakhir dan bisa digunakan secara serba bisa, menggantikan posisi bosnya. la bekerjasama dengan agen Double N (Jennifer Love Hewitt) memberantas kegiatan Barning (Ritchie Coster) yang memproduksi air mineral yang mengandung bakteri yang membuat seseorang terkena dehidrasi lalu tewas.
Berbekal busana “tuxedo” canggih itu> Jimmy bisa bela diri hingga menyanyi. Semua kegiatan dan kehebatan, sekonyong-konyong bisa dilakukan oleh bekas sopir taksi itu. Akan tetapi, kedoknya terkuak setelah hasil rekaman memperlihatkan wajah Devlin yang berbeda jadi wajah Jimmy. Pun Duuble N mengusir Jimmy dan menyita “tuxedo” milik Devlin di saat penyelidikan sudah di ambang finish.
Double N secara terpaksa harus memberi “tuxedo” pada Banning karena ia tertangkap. Dan Banning akhirnya tahu kehebatan “tuxedo” itu lalu bersiap melepas serangga-serangga yang mematikan ke alam bebas lewat air sehingga bisa membunuh banyak orang lalu menguasai dunia. Sementara Jimmy yang pulang ke rumah bosnya, menemukan hasil penyelidikan Devlin, juga menemukan adanya “tuxedo” serupa yang juga hebat. Maka ia kemudian kembali ke markas Banning untuk menghentikan upaya jahat Banning.
Bagaimana upaya Jimmy? Tentulah film-film yang berlandas fiksi dengan keheroan sang tokoh, selalu diakhiri kemenangan. Selalu “happy ending”. Tapi, Jimmy tetaplah tidak mampu menuntaskan harapannya untuk menyatakan cinta pada penjaga gallery itu. Ia gagap. Kikuk, apalagi ditimpali campur tangan banyak orang yang berusaha menolongnya. Juga gangguan yang dilakukan Double N yang nama aslinya Delaila yang ternyata diam-diam jatuh cinta pada Devlin eh… Jimmy Tong.
Mengharapkan aksi Jackie Chan yang hebat kungfu dan gelitik humornya, tetaplah bisa dinikmati pada “The Tuxedo”, walau tentulah tak sehebat ketika bermain dalam “Shanghai Noon” yang merupakan kiprah suksesnya di Hollywood setelah meninggalkan Hongkong. Film ini hanya lebih melegitimasi keberadaan Jackie Chan di percaturan film western. Dan itu telah ia buktikan !

SETIAP AYAH, PAHLAWAN BAGI ANAKNYA
Judul :Road to Perdition
Pemain :Tom Hanks, Paul Newman, Jude Law, Tyler Hoechilin, Jennifer Jason Leigh, Stanley Tucci, Daniel Craig
Naskah :Davi Self
Sutradara :Sam Mendes

TAK ada orang tua yang bisa membagi kasih sayang secara merata. Itulah perasaan bagi anak yang selalu terungkapkan. Karena, ada saja ada anak yang merasa dimanja, dan ada yang dipinggirkan. Betulkah orang tua membeda-bedakan anaknya? Mampukah orang tua membagi kasih sayang tanpa ada yang bisa dinomorduakan?
Bagi anak, orang tua adalah panutan. Khususnya bagi sosok ayah. Di mana anak, ayah adalah sosok yang dibanggakan. Begitu pula bagi ayah, anak adalah sosok yang harus selalu dilindungi dalam kondisi apapun. Tentu berbeda dengan sikap Nabi Nuh yang harus membiarkan anaknya hanyut dilanda air bah karena tidak mengikuti ajaran sang nabi. Di banyak ayah maupun ibu, anak adalah segala-galanya.
Lantas, haruskah tetap orang tua, khususnya ayah melindungi anak yang jelas-jelas bersalah? Bagaimana sikap seorang ayah yang harus pula menjaga anaknya dari ancaman saudara angkatnya? Haruskah pula si ayah angkat mementingkan anak angkat ketimbang anak kandung? Jika harus memilih, tentulah anak kandung tetaplah yang harus dilindungi. Sebab, ayah tentulah tetap pahlawan bagi anaknya. Tema itulah yang disodorkan David Self yang diejawantahkan sutradara Sam Mendes yang sukses lewat “American Beauty” ke layar lebar lewat film “Road to Perdition”.
Diceritakan tentang kisah hidup Michael Sullivan (Tyler Hoechilin) yang bersama ayahnya berada di jalan di tahun 1931 di sebuah kota Amerika Serikat untuk memburu orang yang mengancam hidupnya setelah ia menyaksikan Cornor. Namun, Mike harus menerima kenyataan bahwa bekas bosnya, Nitti, pun melindungi Cornor ketika ia mengadu nasib di Chicago. Toh, Mike kemudian bekerjasama dengan anaknya yang baru berusia 12 tahun untuk merampok bank, menjarah uang milik Connor yang dicuri dari ayahnya.
Namun mike harus pula menghindari dari kejaran pembunuh bayaran yang maniak memotret korban pembantaian. Selama dalam pelarian itulah, sekaligus membalas dendam, Michael menceritakan kisah kehidupannya. Sehingga, jika ada yang bertanya tentang ayahnya, apakah orang jahat atau orang baik, maka jawabannya sama yaitu .: Mike Sullivan adalah ayahku! Suatu ketika Michael bertanya pada ayahnya, mengapa ia dibedakan dengan adiknya Peter yang dimanja. Mike menjawabnya dengan kalimat yang penuh makna. “Peter itu anak manis, sementara kau, lebih mirip dengan aku. Dan aku ta^ ingin kau seperti aku!”
“Road to Perdition” yang diperankan aktor-aktor top sekelas Tom Hank dan Paul Newman, memang terbilang film berkelas. Apalagi langganan Oscar, Tom Hanks dikenal memilih-milih peran. Dan perannya kali ini dalam film yang diproduksi Twentieth Century Fox dan Dream Works Pictures, tetaplah memukau.
Kekerasan yang biasanya ditampilkan dalam cerita-cerita tentang mafia, tidak terasa kalau gambaran pembantaian dipertontonkan , dalam banyak adegan. Akan tetapi, kekerasan itu hilang seiring irama musik yang digarap Thomas Newman. Kita seakan hanya diperhadapkan pada pilihan bagaimana cara melindungi anak dari ancaman bahaya, meski kita harus membunuh. Sebab, sosok setiap ayah memang pahlawan bagi anaknya.

KLONING MANUSIA MALAH LUCU!
Judul :Repli-Kate
Pemain :Ali Landri, James Roday, Tedd Robnert, Anerson, Kurt Fuller, Desmond Asken, Eugenk Levy
Naskah :Stuart Gibbs
Sutradara :Frank Longo

SUKSES domba dikloning yang bernama Dolly beberapa tahun silam, memang telah mengejutkan masyarakat dunia. Malah timbul ide gila untuk mengkloning orang-orang super. Sebab, hanya dengan sehelai rambut saja, replika seseorang bisa dihidupkan. Namun, keinginan gila itu hanya sebatas wacana saja karena para rohaniawan dan tokoh agama menolak ide tersebut.
Keinginan sebagian kecil ilmuwan itu tentang kloning manusia tetaplah ada. Akhir-akhir ini, santer kembali diwacanakan tentang pentingnya manusia dikloning. Alasan utamanya : belum jelas untung-ruginya sehingga harus dicoba terlebih dahulu. Yang pasti negeri adidaya sekelas Amerika Serikat masih bertahan untuk melarang pengkloningan manusia, termasuk uji coba.
Bagaimana efek dan kemungkinan yang bisa terjadi jika manusia dikloning? Akankah bumi ini bisa dipenuhi orang-orang super yang diciptakan secara kloning atau bumi ini malah dipenuhi manusia kembar? Semuanya masih samar dan penuh tanda tanya. Dan suatu kelak, bisa jadi kloning terhadap manusia itu terjadi. Maka bersiap-siaplah menghadapi saringan baru yakni bayangan kita sendiri !
Akan tetapi, sebelum para pakar kloning berhasil mewujudkan obsesinya, Stuart Gibbs telah melanglang buana dengan ide gilanya itu. Malah ia mengkloning manusia tidak melalui proses penitipan dalam rahim, tapi langsung besar. Langsung sesuai dengan aslinya! Ide inilah yang ditangkap oleh Frank Longo yang mengangkat cerita fiksi ilmiah itu ke dalam film bertajuk “Repli-Kate”.
Diceritakan, Max, Henry, dan Felix yang mahasiswa di sebuah universitas, melakukan penelitian kloning terhadap hammer atas bimbingan professornya, Dr. Fromer. Hammer itu dikloning menggunakan sampel darah yang diteteskan pada CD dengan bantuan hiper replikator. Hasilnya, langsung dihasilkan hammer dewasa yang sama dengan induknya.
Sementara itu, tersebutlah Kate, seorang reporter yang meliput kegiatan di laboratorium tempat Max dan kedua kawannya melakukan penelitian kloning. Saat memegang hammer hasil cloning itu, tangannya tergigit. Dan tanpa sengaja, darah dari jari Kate, terpercik di CD.
Max tidak mengetahui kalau darah yang ada di CD adalah Kate. la langsung memproses darah tersebut dan muncullah replika Kate. Kloning manusia yang menyerupai aslinya. Namun Max dan Hendri kebingungan. Keduanya takut bila diketahui telah mereplika seseorang, sebab belum ada izin mengkloning manusia.
Alur film ternyata menjadi komedi. Cerita bergulir tentang beragam kemungkinan yang bias terjadi bila hasil cloning manusia itu di ajarkan pada hal-hal yang berada pada lingkungannya, termasuk seks. Lantas bagaimana jika Kate bertemu dengan Replikanya? Apalagi. ketika hammer hasil kloning itu meledak karena disuntikkan suatu zat. Max dan Hendri takut kalau replika Kate juga ikut hancur.
Replika Kate asli di sebuah departemen store. Adegan lucu tersajikan. Namun Kate baru tahu jika ada replikanya ketika Kate replika itu diculik. Dan cerita terus bergulir ke adegan komedi sampai sang Professor, Dr, Fromer di dalam Sebuah acara pidato penemuannya tentang penelitian cloning dengan bantuan hiper replikator, ternyata dikacau dengan munculnya replika dirinya yang tampil dengan gaya “Bloon”.
Lewat film ini, kita tak bisa” meniru untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, namun tidak berarti ” apa-apa bila dibandingkan dengan kekuasaanNya di dalam penciptaan.
DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO, SH.SAB.SSN.MS.MH.MM

Sosok multi talenta. Selain sebagai mantan birokrat (plt kadis Tataruang), Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea, Dekan Fakultas Teknik ISTP, Dekan Fakultas Media Rekam IKM, sekarang Rektor Institut Kesenian Makassar, dosen di berbagai perguruan Tinggi di Makassar , seniman dan aktor film, juga salah seorang penulis yang karya-karyanya banyak bertebaran di media massa baik local maupun nasional dan International.
Menyelesaikan Sarjana ADM Negara (1982), Sarjana sipil (1990), Sarjana Hukum (2009),Sarjana Administrasi bisnis (2010),sarjana seni film ( 2013) Master Sains di Unhas (1992), Doktor Ilmu-Ilmu Teknik (2004), Magister Hukum (2010) dan magister manajemen (2012) .
Mengikuti short course bidang teknik di New Zaeland, Australia, Jepang,thailand,malaysia,China,hongkong,turki, Srilanka dan korea selatan. Sementara di organisasi aktif sebagai Ketua harian PARFI Cabang Sulsel, Ketua BKKI Sulawesi selatan. Ketua LESBUMI dan Ketua ASSEMI.
Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain, Siluet Cinta (puisi), Kota Kekasih (puisi), Bulan di Atas Bara (novel), Antara Bumi dan Langit (novel), Menanti Musim Berganti (novel), buku 42 Kritik Film (kritik film), Arsitektur Tradisional Sulsel Pusaka Warisan Budaya Indonesia,mengolah limbah domestik dengan filter biogeokimia dan ikut dalam antologi Ombak Makassar, Sastra Kepulauan.pintu yang bertemu,baruga ,menepi kesepi puisi,dan nyanyian tiga pengembara , Bugis Dalam peradaban melayu.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: