PUISI PUISI MENGEJAR TAPAK ALLAH DR. SYAHRIAR TATO.

PUISI PUISI MENGEJAR TAPAK ALLAH DR. SYAHRIAR TATO.

Mengejar Tapak Allah (1]

Ya Rabba’Arsy
Aku hanyalah debu sebesar zarra
Yang telah engkau panggil
Dengan isyarat bintang
Tidak lain untuk bersujud ke tapakMu

Mengejar Tapak Allah (2)

Terpuji dzat cahaya yang engkau tiupkan
ke dalam roh manusia
Meskipun cuma sekerlip kunang
Tapi telah menjadi mata bathin
Membimbing ummatmu ke jalan
yang Engkau tunjukkan
Peliharalah ya Allah
Pendar cahaya yang telah Engkau roh kan
ke dalam sukma raga kami

Mengejar Tapak Allah (3]

Ya Mutakabbir
Kemegahan jagad raya
Sistem gugus matahari dan perputaran masa
Yang menjadikan impian siang
dan impian malam
Yang mengantarkan rasa kagum ummatmu akan kebesaranMu

Mengejar Tapak Allah (4]

Ya Kabir
Di sini aku berdiri
Di tepian sebuah teluk
Di lereng sebuah bukit yang terjal
Camar camar laut menukik tajam
Bercanda dengan buih buih putih
di lidah lidah ombak
Aku menatap bayangku
dalam fatamorgana nasib
Yang telah Engkau takdirkan
dalam tafsir hidupku

Mengejar Tapak Allah (5]

Dalam gulungan gelombang
Kucoba menghampar sajadah
di atas riak ombak
Bersujud mensejajarkan diri dengan bumi
Mengapungkan diri dari pengaruh grafitasi
Semata menyembah ke esa anMu ya Mutakabbir

Mengejar Tapak Allah (6]

Ya Rahman
Batinku juga terjaga
Menyibak buih cintaMu di antara debur
ombak dan gulungan gelombang
Pekik camar yang terbang menjauh,
sayapnya menggelepar dalam deru angin
Ya Allah
Lindungilah ummatmu dalam perjalanan mengejar tapakMu

Mengejar Tapak Allah (7]

Rukhu’ fardhu
Memandangi tepian sajadah putihMu
Di ruang maya menghadap ke baitullah
Tempat tumbuhnya mata bathinku
Yang dengan segera ingin mencintaiMu
Ia pun abadi bergemuruh

Mengejar Tapak Allah (8]

Ya Gaffar
Saatnya aku meminta padaMu khudsudku
Duduklah di antara sajadah yang membentang di antara kita
Biar pun kamar telah lusuh di pagut dingin
Lihatlah mereka telah kehilangan gairah
Sejak Engkau jarang menyentuh sukma raganya

Mengejar Tapak Allah (9]
Ya Rahim
Dengan pasrah kurenangi malamMu
yang dingin
Bathin yang hampir saja beku
Keraguan mulai mendera pikiran dan rasaku
Begitu derasnya kah arus cobaan yang Engkau derakan pada hambamu yang lemah ini
Akankah kau biarkan setan setan itu
dengan leluasa menggapai sukma ragaku
Beri uluran tanganMu yang hangat
Ya Allah, jangan biarkan aku terhanyut
dalam nikmat laknatnya

Mengejar Tapak Allah (10]

Malaikat penjaga langit
Turun menghalau gulita malam
Dengan cambuk petir dan pedang kilat kemilau
Luka awan kelam mengucurkan hujan yang berderai ke wajah bumi
Luka bumi menghantar bencana
Semua berlaku atas kehekdakMu ya Mutakabbir

Mengejar Tapak Allah (11]

Adakah tebusan dosa kami
berupa musibah yang Engkau turunkan secara beruntun
di bumi kami yang kerontang
Padahal hambamu telah mencukupkan
segala jaman
Telah menggenapkan kehendakMu
di bumi dan di langitMu
Dan kerja kami di bawa asma
sembilan puluh sembilanMu
Dan kamipun ikhlas menerima
takdir suratanMu
ya Mutakabbir

Mengejar Tapak Allah12]

Ya Khalid
Di hari hari kemarin dan juga semalam
Tepat di bawah rangkulan malam
Gulita tak kunjung usai menawarkan jubah dinginnya
Dan aku hambamu dengan tangan gemetar
Mencoba menghitung tasbih
Sambil dengan gagap kusebut nama cinta

Mengejar Tapak Allah (13[

Aku menggenangi bathinku
dengan sembilan puluh sembilan nama
menyebut satu per satu asmaMu
di atas gebalan sajadah putihMu
Sambil menyerap energi fajar
yang di selimuti embun pagi
Hanya padaMu ya Allah kami bersujud

Mengejar Tapak Allah (14]

Menjelang fajar
Hati berdebar ingin segera memuja
dan memujiMu ya Rabbi
Karena aku sangat mencintaimu
Tak ada yang lain selain engkau ya Kabbir

Mengejar Tapak Allah (15]

Bersujud dalam dingin fajar
menyentuh jubah putihmu ya Kabbir
Berilah hari hari yang lebih baik

Mengejar Tapak Allah (16]

Ya Rabba’Arsy
Berkas berkas doa dan dzikir
yang tersimpan di gulita malamMu
Akan melengkapi berkas berkas doa dan dzikir
di terang hariMu
Semua kan tergenggam dalam tangan ummatmu
yang selalu sujud memuja
dan memuji kebesaranMu

Mengejar Tapak Allah (17]

Di sebalik ketinggian gatra langitMu
Sembilan puluh sembilan namaMu
bersemayam di puncak Arsy
Dan serta merta
Sambil menunggu sajadah langit
Asmaul husnaMu menyerbu ke ruang
ruang bathin
Mencampakkan siapapun ke sudut sudut gaibMu
ya Mutakabbir
Hanya padaMu kami menyembah

Mengejar Tapak Allah (18]

Onta onta putih
Dengan caravan bertabur manikam
Menyembur dari langitMu
Menebar panah panah cinta
Menabur bunga bunga surga
Aku terkapar
Sukma ragaku gemerlap

Mengejar Tapak Allah (19]

Aku di sini
Di kebun tasbih pinggir sajadahMu
Bersama tujuh bidadari mengajarku
mendaki titian bianglala takdir
Karena langitMu masih asing
bagi bathin jahiliyahku
PadaMu aku mohon ampun
ya al Mujib

Mengejar Tapak Allah (20]

Sukma ragaku terbangun
Meniti bianglala mendaki cakrawala
Merenda siang dalam doa dan takbir
Menuju padaMu ya Gaffar ya Kabir

Mengejar Tapak Allah (21]

Bagi yang merindukan Allah
Mari kita merakit kereta kencana
yang sarat muatan doa doa dan dzikir
Angin kan mebawamu pergi
ke tepian langit yang terjaga
berjuta malaikat dan bidadari
Pancar cahaya bintang
bagaikan tangan gaib
yang menyambut perjalanan bathinmu
ketepian Rabb’ArsyNya

Mengejar Tapak Allah (22]

Tiada daya dan kekuatan
mengarungi samudra kehidupan dunia dan akhirat
Kecuali atas lindungan dan campur tangan
penguasa ‘Arsy yang maha agung
Ya Allah hanya bersamaMu
kami memasuki waktu pagi hari
Dan berlindung dari kejahatan syetan
dan sekutunya

Mengejar Tapak Allah (23]

Ya Allah
Sedahsyat apapun godaan syetan khanzab
dalam setiap sujudku
Namun aku telah menyerahkan hidup matiku
serta perlindungan ibadahku
cuma kepadaMu ya Kabbir
UntukMu telah kuludahkan segala sial dan petaka
kearah kiri tempat segala syetan
bersembunyi dalam kegelapan

Mengejar Tapak Allah (24]

Kunyalakan api suci
di dalam pusat sukma ragaku
Dingin sekali hari hari yang kulalui
Bathinku memohon sekerlip cahaya
dari tapakMu ya Mutakabbir

Mengejar Tapak Allah (25]

Mampukah aku berseteru
Memisahkan diri
Dari zatMu yang maha suci
Maha cahaya
Setelah Engkau mengsucikan fitrah kelahiranku
Sebersit cahaya sebesar zarra
Menjadi roh kedalam zat fanaku

Mengejar Tapak Allah (26]

Ya Qayyum
KuasaMu tak sedetikpun lepas dari kodrat manusiaku
Se zarra makhluk yang Engkau ciptakan melata di muka bumi
Engkau yang maha tahu segala
Di setiap detak nadiku
Di setiap lafaz nafasku ya Kabir

Mengejar Tapak Allah[27]

Ya Hafiz
Engkau yang maha mengetahui
Tentang musabab jantungku berdegup keras
Di setiap nafsuku bergejolak seriak gelombang
Engkaulah yang maha mengetahui segala
Sekecil zarrapun pahala
Seringan apapun laknat yang kulakukan

Mengejar Tapak Allah (28]

Ya Malik
Engkaulah yang maha melihat dan mendegar
Tentang diriku
Tentang dzat dan roh ku
Tentang seru sekalian alam
Engkaulah yang maha berkehendak dan maha berkuasa
Yang menjadikan langit
Bumi dan gugus matahari selama enam hari

Mengejar Tapak Allah (29]

Kun fayaa kun
Maka terciptalah segala sesuatu secara seketika
Karena Engkau maha pencipta
Maha mengetahui sekecil kecilnya perkara dan kejadian
Hingga sebesar besarnya material
Maha berkuasa dan maha agung engkau ya Rabb’Arsy.

Mengejar Tapak Allah (30]

Ya al Awal
Terpujilah segala dzat dan sifat sifatMu
Terpujilah segala dimensi ruang dan waktu
Yang tak kuasa mengadakan
dan meniadakan ciptaan yang Engkau lindungi
Terpujilah ruang dan waktu
antara ada dan tiadaMu ya Akhir

Mengejar Tapak Allah{31]

Ya Mutakabbir
Terpujilah kehidupanMu yang maha suci
Yang terlepas dari elemen
dan sistem habitat makluk
Terpujilah Engkau yang tidak
dapat dirupakan dan dilogika
Terpujilah gugus matahari dan bintang
yang tak mampu mendimensikan dzatMu
yang maha suci

Mengejar Tapak Allah (32]

Terpujilah Engkau ya Khalid ya Kabir
Terpujilah segala kehendak yang menafsir kehendakMu
Terpujilah segala nama yang mengutip asmaul husnaMu
Segala puji bagimu tidak terbagikan
Karena segala puji pujian hakmu semata
Maha terpuji Engkau ya Allah ya Jabbar

Mengejar Tapak Allah (33]

Ya Ar Ragib
Kumelata melewati lorong lorong
waktu itu dengan hati telanjang
Mata telanjang
Tangan menengadah
Bathin bertembang dzikir
Nurani bersayap doa dan takbir
Berziarah ke pucuk pucuk langitMu
ya Mutakabbir

Mengejar Tapak Allah (34]

Ya Allah ya Muis
Aku tak membawa sesuatu
Apalagi sesajen kemenyan atau tujuh aroma bunga
Kecuali seuntai tasbih
Beserta seberkas proposal rencana rencana kecil
Tentang kehidupan madani di sorgaMu

Mengejar Tapak Allah(35]

Ya Attawwab
Bergelantungan aku dalam doa dan dzikir
Sambil dengan gagap kusebut namaMu
Sementara roh sembilan puluh sembilan asmaMu
Sembunyi di antara kubah dan menara
Dan cahaya mentariMu di sana
Membuatku seperti merapat
di rangkulanMu ya al-Barr

Mengejar Tapak Allah (36]

Aku mengejar tapakMu ya Allah
Kelima benteng benua,
ke enam hamparan samudra
Ketujuh penjuru angin
Kedua kutub bumi
Di terang siang di pekat malam
Di balik cadar langit
Di kepak sayap awan
Di pucuk menara masjidMu
Di lantunMu tembang doaku
Dikhusyu sujud fardhuku
Lalu di sudut mana
Aku dapat menangkap isyaratMu ya Kabir

Mengejar Tapak Allah (37]

Aku berkejaran dengan diriku sendiri
Bergegas mengejar tapakMu ya Allah
Di antara hiruk pikuk duniawi
Dan perangkap nikmat syetan yang laknat
Di tepi jalan sesat yang terlewati
Berpasang pasang mata berbinar
Dan mulut berbusa busa
Menanti kesempatan untuk menyergapku
dari segala arah
Hanya pada tanganMu aku memohon bimbingan ya Mutakabbir

Mengejar Tapak Allah (38]

Ya Mugadim
Di langit
Telah berkali tersirat isyarat
Tapi mata kasadku rabun
Tak mampu membaca tanda zaman
Lewat bahasa yang tak kukenal

Mengejar Tapak Allah (39]

Rabb’Arsy
Pun mata fanaku
Telah menyeret roh manusiaku
ke negeri kegelapan
Raja kegelapan menyergap
setiap nafas di jalan jalan sesat
Hingga hilang segala arah

Mengejar Tapak Allah (40]

Ya Allah
Di dalam kegelapan
Aku melihat iblis
Tengah memasang jebakan bagi langkah langkahku
Perangkap bagi siapapun

Mengejar Tapak Allah (41]

Di sepanjang perjalanan malam aku gelisah
Mencoba membunuh seluruh mimpi
dan angan dengan sia sia
Ya Allah
Aku ingin memelukMu lagi seperti kemarin
Seperti ketika aku merasa
Kau milikku
Dan aku adalah akumu

Mengejar Tapak Allah (42]

Ya Allah
Kutitipkan mimpi mimpiku
Keruang dan waktu bisu
Kutitipkan pada langit yang berpoles warna merah kesumba
Pada sepadang pasir yang terbungkus debu panas pada sebentang sajadah yang tak bertepi
Ya Azzahir

Mengejar Tapak Allah (43]

Pun gelombang badai pasir
Tak mampu menghapus tapak Allah
Entah sampai tidak napaktilasku
Mencari biang cinta
Di bias bianglala takdirMu

Mengejar Tapak Allah[44]

Bersama para pemimpi
Aku bergelantungan di lenganMu
Menyusur benteng langit dan Engkau di sana
ya Allah
Dan aku pun sertamerta berburu melawan kodrat
Untuk mencumbuMu
Sekalipun cuma dalam doa
ya Ghani

Mengejar Tapak Allah (45]

Ya Allah
Andai dalam hidup fanaku
Kau perkenankan bahagia sejati
Rahmatilah permintaanku ini
Karena hanya padaMu kami meminta
Hanya padaMu kami bersyukur
Hanya padaMu kami memuja dan memuji
Hanya padaMu kami bersekutu
Hanya pada tapakMu kami bersujud.

Mengejar Tapak Allah [46]

kecuali Allah
adakah yang mampu
menyandingkan kecerdasan
dengan hati mulia
kecerdasan adalah rasional praktis
realistik dalam pilihan hidup
ilmiah professional dan beretika
menciptakan kesibukan dan kemandirian
sedang hati mulia
adalah kebaikan pikiran dan prilaku
hati yang lembut pasrah
sentimental sedikit tempremental
serba tergantung dan manja
hati mulia laksana Angsa putih
yang berenang dicelah teratai ditengah telaga
sedang kecerdasan
seperti kura kura berenang didasar telaga
mencari ikan ikan dengan cekatan
untuk dimangsa
sedang sang Angsa putih
memakan ikan ikan yang mengapung
sisa sisa dari sang kura kura

Mengejar Tapak Allah [47]

Aku mencariMU,
Di lima benua.
Di enam samudra.
Di dua kutub bumi,
Diterang siang.
Di hitam malam.
Di balik cadar langit.
Di kepak sayap awan.
Di pucuk menara hijau.
Di lantun tembang doaku.
Lalu disudut mana,
Aku dapat memeluk cintaMU

Mengejar Tapak Allah [48]

Ya Allah
Kudengar ada yang mencoba
Memalingkan wajah bulan

Mengejar Tapak Allah [49]

Ya Rabbi.
Mungkinkah
Menarik sepotong bulan
Yang hampir gerhana
Dari bayang-bayang hitam
Yang dengan birahi
Mencoba merangkulnya

Mengejar Tapak Allah [50]

Terpujilah bulan
Yang menyembunyikan auranya
Di balik jilbab hitamNya

Mengejar Tapak Allah [51]

Waktu
Bagaikan sajadah hitam
Yang teronggok di seantero ruang
Hening, selagi kau lakukan perjalananMu
Ya Rabb”Arsy

Mengejar Tapak Allah [52]

Dajjal berbisik
Kesempatan
Kita telanjang
Dan aib kita
Pasti tertutupi

Mengejar Tapak Allah [53]

Justru
Dalam kegelapanMu
RahasiaMu tersingkapkan.
Mengejar Tapak Allah [54]

Dan serta merta
Begitu gemerlap warna batin
Mengapung dalam riak ombak Thawaf
Membias dalam gelombang ihram
Aku tersanjung
Menjadi tamu Allah
Di dalam ombak doa
Semarak warna cinta menghadap ke sudut sudut ka’bah
Seperti memandang luka hati sendiri
Ada bulan hampir purnama
Sinarnya menetas di atas mekkah

Mengejar Tapak Allah [55]

Kalaulah doa dan dzikir telah di apungkan
Syairnya membetot temali sukma
Pastilah kusanggup lebur dalam sejuta cinta
Walaupun batinku belum sejernih air zamzam
Kalaupun adzan dan takbir sudah dikumandangkan
Gempitanya merobek wajah wajah dajjal
Pastilah kusanggup remuk dalam sejuta harap
Walaupun batinku dipagut cemas
Subhanallah
Terlalu naïf biarkan batin
Menyusur tetirah Masjidil Haram
Sementara sukma ragaku renta
Menanti cemas bersama doa bersayap dzikir

Mengejar Tapak Allah [56]

Di situkah dindingMu
Aku kan mengetuknya
Setelah sekian lama kuberdiri
Tak satupun pintu mempersilahkanku masuk
Kuingin menjamahMu
Karena kuhadir di sini karenaMu
Kuingin meneguk seteguk nikmat,
sembilan puluh sembilan roh
Yang Engkau janjikan dari lafaz azmaMu
Apakah bisa kubertahan dalam iman
Sementara teguhku tak mengubah suatu apa
Apalagi untuk menebus ruang-ruang rahasiaMu

Mengejar Tapak Allah [57]

Di langit
Telah berkali tersirat isyarat
Tapi mata kasadku rabun
Tak mampu membaca tanda zaman
Lewat bahasa nirkata yang tak kukenal
Pun mata fanaku
Telah mnyeret roh manusiaku
Ke negeri cinta
Ada bulan rindu gerhana
Saat para malaikat lontarkan pekasih
Mabuk kepayangnya kesegala arah
Jalan jalan melingkar tak berujung
Para pencipta semakin sesat
Hingga hilang segala arah
Akupun di sini terkapar dalam luka cintamu

Mengejar Tapak Allah [58]

Aku mencariMU,
Di lima benua.
Di enam samudra.
Di dua kutub bumi,
Diterang siang.
Di hitam malam.
Di balik cadar langit.
Di kepak sayap awan.
Di pucuk menara hijau.
Di lantun tembang doaku.
Di khusuk sujud subuhku.
Lalu disudut mana,
Aku dapat menangkap isyaratMU.

Mengejar Tapak Allah [59]

Bulan pecah ditangan.
Rapatkan jemarimu ya Allah.
Adakah aku masih pendosa?
Yg selalu saja terjaga,
Pada gelegar petir dimalam buta.
Sedang badik tetap saja aku sarungkan,..
Dibalik sajadahMU…
Badik,
Adalah tetes embun.
Yg mestinya ku tikamkan.
Diubun nurani…
Maka kubiarkan angin termangu dijendela batinku

Mengejar Tapak Allah [60].

Sajadah putih,
yang akan membawaku bertolak,
lepas arung langit,
kini kian berkemas,
entah kepenjuru mana lagi,
angin akan mengembangkan takdirku,
entah ke mana arah nasibku bertuju.
aku takkan perduli,
akukan berpasrah ketapakMU ya Kabir,
karena goda syaitan yang selalu datang dan pergi,
ketika kubersujud di pelukMU,
tak sekalipun mampu,
mengoyakkan cintaku,
atau menyurutkan ombak kasihMU,
kemudi telah terpasang,
Sajadah telah berkembang
lawan iblis iblis itu,
sebelum ia mengoyak iman kita.

Mengejar Tapak Allah [61]

Ya Illahi Rabbi,
Engkaukah cinta,
dalam sekulum senyum,
seperti sebidang magnit.
yang selalu siap menyeretku keluar dari kutub kutub fanaku.
lalu mengapungkan anganku keruang illusi sorgawiMu

Mengejar Tapak Allah [62]

KarenaMu
ya Allah ya Rabbi
bersama para pemeluk teguh,
aku bergelantungan,
diantara penumpang kereta gantung.
menyusur bentang pebukitan salju.
dan engkau disana ya Rabbi.,
Kekasih dalam mimpi mimpi bakaku.
ketika untukMu
sang malaikat menyerbu para iblis.
Di gerbang malam yang beku.
dan akupun,
serta merta berburu melawan kodrat.
untuk menyertai jihad,
sekalipun dalam niat.

Mengejar Tapak Allah [63].

Ya Illahi Rabbi,
Engkaukah cinta,
dalam sekulum senyum,
seperti sebidang magnit.
yang selalu siap menyeretku keluar dari kutub kutub fanaku.
lalu mengapungkan anganku keruang illusi sorgawiMu

Mengejar Tapak Allah [64]

dibalik ketinggian menara masjidMU
Beribu bidadari menatap tajam dingin,
dan serta merta,sambil menunggang kereta kencana..
menyerbu ke ruang ruang diri.
panah panah cinta lepas dari busurnya.
mencabik cabik temali sakral.
mencampakkan sukmaragaku
kesudut sudut jannaMu…..
ruang dan waktu kejar mengejar.
busur dan panah panah cinta
tebar menebar.
di ruang ruang tak bertepi.
sementara batinku orgasme
dalam cintakasih yang panjang

Mengejar Tapak Allah [65]

ya Illahi Rabbi,
seperti Engkau yg menunggu dipenghujung malam
dengan dua tangan membuka
sarat muatan rahim dan rahman
juga berjuta cinta langitMu
seperti Engkau yg memanggil dari Tetirah langit
dengan mata berbinar binar menahan hasratku
dingin malam dan rintik gerimis
seperti tak kuasa menahan gairah cintaku padaMu.

Mengejar Tapak Allah [66]

Bersujud,
Bagai merenda waktu,
bagaikan membentang tabir putih
yang terbentang diseantero ruang,
hening,selagi Kau lakukan perjalananMu

Mengejar Tapak Allah [67]

Ya Kabir
ya Muttakabbir.
mungkinkah,
menarik sepotong bulan,
yang hampir gerhana,
dari bayang bayang hitam sang dajjal,
yang dengan berahi,
mencoba merangkulnya.

Mengejar Tapak Allah [68]

Nauzubillah,
di gerah malam,
sebongkah musik meledak,
meraung raung menyumbat pembuluh pembuluh darah.
gejolaknya yang panas mengalir sontak,
bagai lahar kepundan,menuju muara subuh,
disebalik sesaknya jalan jalan kota,
yang badannya serta merta melepuh,
dibakar sepotong cahaya bulan.,
yang meleleh melumuri wajah bumi,
yang terkantuk menunggu sahur tiba.

Mengejar Tapak Allah [69]

Ya Rabb’Arsy’
Justru,
dalam kegelapan,
rahasia ke AkbaranMu tersingkapkan.

Mengejar Tapak Allah [70]

Ya Allahku,
Dengarlah dedaunan hutan kritis mendesah
ketika azan magrib menggeleparkan ranting krontang
disebuah surau tua
segala jiwa sujud berpasrah
mengapungkan doa dan zikir
kepala langit merah saga
krak bumi yang merekah
tempat dimana hamparan pohon
dan belukar beton meranggas
sepertinya siap menyerbu langit
bentang bumi yang sekarat
segalanya seperti belum lagi selesai
menyempurnakan duka .

Mengejar Tapak Allah [71]

dicelah gerai daun lontara
yang bermain dipunggung malam,
pernah kubisikkan niat suci:
aku milikMu.
ya Kabir ,dunia akhirat”
ingin selalu menyembahMu lagi
seperti kemarin.
seperti ketika aku merasa
Engkau Allahku,
dan aku adalah hambaMu.

Mengejar Tapak Allah [72]

ombak kecil,
yang beriak runtun di sajadahMu.
segetar gulungan gelombang di batinku.
segemuruh hati yg gairah
kaki getar gemeletar
dalam jejak tapakMu ya Allah
bergetar cemari jari
menggapai penghujung
jubah putihMu. Malam kian menepi,
Senyap kian menyepi,

Mengejar Tapak Allah [73]

Wajah seribu bulan tumpah dibumi fana,
Gemerlap bintang bintang
yang menabur wajah wajah pilihan.
Kutahu Engkau yang meRahmatinya ya Allah.

Mengejar Tapak Allah [74]

Goda cintaMu
selalu saja muncul.
Disebalik jendela langit.
Setiap aku tengadahkan tangan,
Kulihat Engkau tersenyum lembut.
Sembari memetik bintang bintang

Mengejar Tapak Allah [75]

Bersaksi pada diri.
Pada hari nan mubaraq.
Pada kisi kisi nan fana.
Kurambah semangat minal aidin wal faizien.
Lewat tujuh mata angin.
Sukmaku menyatu bintang.
Maka kutebar cenning rara.
Disetiap penjuru bumi.
Lewat tujuh aroma bunga.
Untukmu yang tersayang.
Maafkan dusta fanaku.

Mengejar Tapak Allah [76]

Sepenggal lagi,
Matahari pasti menyisakan langkah.
Pada pendar warna warni temaram,
Dikaki langit.
Dan kami hambaMu.
Berbuka menutup ramadhan.
Dengan sukacita
dalam pelukMu.
Ya Kabir ya Muttakabbir.

Mengejar Tapak Allah [77]

Segala angin terus menderu,
Segala ombak terus berdebur,
Segala badai terus melintas.
Cintaku ini,
padaMu ya Rabbi.
Andaipun tak sampai.
Maka lepaskan cintaku tenggelam.
Kepalung yang paling dalam.

Mengejar Tapak Allah [78]

Fanaku,
bumi yang gerah.
Tempat dimana hamparan sekam padi.
Memendar bara hati dalam tafakkur.
Sepertinya selalu siap jihad dijalanMu.

Mengejar Tapak Allah [79]

menjelang berbuka
segulung ombak,
Dalam gerah panas,
Bergegas menelan matahari,
Menenggelamkan rohnya.
Dikedalaman pusaran laut.
Langitpun diam.
Lautpun hening.

Mengejar Tapak Allah [80]

Dedaunan pohon lontara mendesah,
Ketika azan subuh menggeleparkan pelepahnya,
Disebuah masjid tua,
Jiwapun sujud berpasrah.
Mengapungkan ayat ayat cintaMu.

Mengejar Tapak Allah [81]

Kepada langit merah saga.
UntukMu
Ya Kabir ya Muttakabbir.
Tigapuluh hari seribu bulan,
Dalam proses pencaharian.
Dalam puncak kejadian,
Kutikamkan cintaku.
Saatnya doaku bersambut.
Tetirah langitMU yang sarat cinta.
Telah menyerap segala rindu.

[Mengejar Tapak Allah 82]

Diruang ruang gaib.
Bisik bisik doa dan zikir.
Begitu khusud mendengung.
Mengangkat sholatku ketetirah langitMu
ya Rabb Arsy’

Mengejar Tapak Allah [83]

Diketika kululuh
dikedalaman dekap pasrah nuraniku.
Diketika ubunku dingin
menyentuh rona padang ilalang putih.
Diketika seribu malam
seribu bintang bertabur cinta.
Diketika itu kutemukan Engkau
ya Allah ya Rabbi.
Ya Kabir ya Muttakabbir.
Diantara Qur’an dan Hadist
Diantara sunnah Rasulullah
dan teladan para nabi.
Diantara fatwa para Wali
dan Zikir ummat pilihan.
Diantara sholat fardhu
dan sujud syukurku.
Kupeluk Engkau ya Rahman
dan peluklah aku,
Selagi Engkau bisa.
Aku milikMu
dalam fana dan bakaku.

Mengejar Tapak Allah [84]

sepasang kaki fanaku yang kerdil.
Berlari melintasi ruang dan waktu.
Dengan tasbih ditangan erat tergenggam.
Berlari menyusur bentang fanaku.
Mengejar tapak para nabi dan rasul.
Mengejar tapakMu ya Rahman.
Kebatas kuasa para malaikat dan waliullah.
Kebatas harapan ummatMu yang pilihan.

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO, SH.SAB.SSN.MS.MH.MM

Sosok multi talenta. Selain sebagai mantan birokrat (plt kadis Tataruang), Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea, Dekan Fakultas Teknik ISTP, Dekan Fakultas Media Rekam IKM, sekarang Rektor Institut Kesenian Makassar, dosen di berbagai perguruan Tinggi di Makassar , seniman dan aktor film, juga salah seorang penulis yang karya-karyanya banyak bertebaran di media massa baik local maupun nasional dan International.
Menyelesaikan Sarjana ADM Negara (1982), Sarjana sipil (1990), Sarjana Hukum (2009),Sarjana Administrasi bisnis (2010),sarjana seni film ( 2013) Master Sains di Unhas (1992), Doktor Ilmu-Ilmu Teknik (2004), Magister Hukum (2010) dan magister manajemen (2012) .
Mengikuti short course bidang teknik di New Zaeland, Australia, Jepang,thailand,malaysia,China,hongkong,turki, Srilanka dan korea selatan. Sementara di organisasi aktif sebagai Ketua harian PARFI Cabang Sulsel, Ketua BKKI Sulawesi selatan. Ketua LESBUMI dan Ketua ASSEMI.
Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain, Siluet Cinta (puisi), Kota Kekasih (puisi), Bulan di Atas Bara (novel), Antara Bumi dan Langit (novel), Menanti Musim Berganti (novel), buku 42 Kritik Film (kritik film), Arsitektur Tradisional Sulsel Pusaka Warisan Budaya Indonesia,mengolah limbah domestik dengan filter biogeokimia dan ikut dalam antologi Ombak Makassar, Sastra Kepulauan.pintu yang bertemu,baruga ,menepi kesepi puisi,dan nyanyian tiga pengembara , Bugis Dalam peradaban melayu.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: