PUISI PUISI SILUET CINTA DR.SYAHRIAR TATO.

PUISI PUISI SILUET CINTA DR.SYAHRIAR TATO.

Siluet cinta [1]

Berbaring memandang iring iringan khayalku
Di ruang biru seberang lapangan segitiga
Tempat tumbuhnya cintaku
Pada istriku nun di seberang pulau
Cemara kasihku tumbuh
Oleh siraman gerimis lepas senja
Debur cintaku abadi bergemuruh
Kemarin dan juga semalam,tepat di bawah rangkulan malam
Gelap tak kunjung usai menyiramkan serbuk dinginnya
Seorang lelaki bugis dengan tangan gemetar
Menghunus badik dan menikamkan cintanya
Di tujuh penjuru butta mangkasara

Siluet cinta [2]

Padang ini semula dingin
Cinta yang tumbuh bagaikan bunga bunga kaktus
dengan duri duri lembut
Takkan pernah mampu mengoyakkan gaunmu
Kuda kuda hitam
Mengejar bayang bayang matahari
di antara duri bunga kaktus
Oo siapakah lagi pencipta yang akan kembara
Di tengah gurun yang gersang
Lena aku
Dalam kembara yang tidak habis habisnya
Gurun ini adalah hamparan pasir berkilauan
Tetapi di oase persinggahan
musim telah lama merubahnya

Siluet cinta [3]

Detak jiwa adalah sungai jeneberang
Denyut pepohonan dan semilir angin gunung
Bertiup lembut dari puncak bawakaraeng
Tamanmu kini tersentuhkan jemari cinta
Seseorang telah merenggut bunga cinta
Dari lembah burung burung
Kau dengar syair cintaku pada gemercik air dibawah batu
Kelepak burung gagak dan geliat ikan lele
Adalah bayang wajahku yang lelah menyeret topeng topeng

Siluet cinta [4]

Kukenal dirimu
Dalam berjuta mimpi galau
Kukenang engkau istriku
Dengan wajah dan tubuh mungil
Wajah pasih dengan pelupuk mata sayu
Pulaumu dengan bangunan segi tiga mungil
Menjulang dalam mimpi sebuah pulau
Semua seperti nyata, karena mimpi mewujud nyata
Diriku seperti perahu jolloro
Yang berlayar di alam tak berbintang
Tanpa kemudi, tampak bentuk yang nyata,
tanpa layar
Yang membawa hasratku melupakan
benda benda buta
Membawa ringkik terakhir
Kuda kuda kasmaran

Siluet cinta [5]

Seekor lalat pebangkai
Liar mengepakkan sayap sayapnya
Lalat hijau lumut hinggap di sebuah luka
penuh nanah
Adalah lukaku yang meradang di pagut rindu
Malam bergerimis di tingkah suara tokek
Yang lebih memperjelas lengang sepi
Betapa sedih sepi itu
Betapa perih

Siluet cinta [6]

Lalat hijau lumut melepas sayap sayapnya
Aku berlari mengejar sayap sayap
Di lekuk langit, di celah angin dan fatomorgana
Betapa sedih sepi itu
Betapa perih

Siluet cinta [7]

Di celah sisa kapak sayap lalat hijau lumut itu
Seorang perempuan mungil berwajah
tanpa dosa
Mencoba memeras susu cinta
Dari pohon pohon kehidupan
Gumannya lirih memecah hening malam
Maka malampun mengalir bersama wewangian
Terbawa arus sungai je’ne’berang
Ke mimpi mimpi terjauh
Maka hari hari kemarin berlarian tanpa arah
Mimpi mimpi pun mengalir
ke daerah tak bertuan
Seperti juga kawanan burung pipit
Terbatas menjauh bersama deru angin

Siluet cinta [8]

Ada berjuta rindu mengambang
Dalam sebuah kamar penuh jendela
Sebuah kamar yang telah lama dipasung sepi
Aku pun telah lama menunggumu di sana
Dengan kedua kaki juga terpasung
Dua tangan terkulai layu
Sesekali cahaya mentari pagi menjengukku
Bersama aroma mawar di taman
Aku di sini menangis
Seorang lelaki bugis menangis
Aku tak sanggup membangun jembatan sunyi
Aku adalah batu menangis
Yang mencoba lari dari takdir fanaku

Siluet cinta [9]

Di sebuah kamar pengap
yang mabuk asap rokok
Seorang lelaki kusam tengah
membenamkan jiwanya kepembaringan
Bau apek keringat dan amis luka jiwa
Melekat di langit langit kamar
Kepak burung hantu terdengar menjauh
Meninggalkan lolongan anjing di tingkahi petir
Aku tahu sebentar lagi subuh tiba
Selepas azan dan seluruh semesta bersujud
Mentari segera kan dinyalakan
Langit dan bintang bintang bertabur cinta
Mendayung malam kemuara sunyi

Siluet cinta [10]

Aku cinta kamu
Pekikku di deru angin
Aku butuh kamu
Pekikku di badai musim
Semua lelaki petarung butuh waktu sekejap
Untuk melepaskan beban hari hari beku
Kuingin membacakan mantera mantera beraroma berahi
Kuingin membacakan syair syair penaut sukma
Tentang jolloro yang berlabuh malam malam
Tentang seorang perempuan bugis
Berbaju bodo kasumba
Menanti cemas bersama cinta bersayap dusta

Siluet cinta [11]

Suatu hari nanti
Meskipun hari hariku masih kerontang
Kuingin sajak cintaku ini
Menjadi kubangan sejuk bagi gerah siangmu
Lumpurnya meskipun pekat
Masih tersisa aroma bunga sedap malam
Juga kecut keringat sang petualang cinta
Sekali waktu nanti
Kuharap sajak cintaku
Menjadi angin sejuk, yang membangunkanmu dari mimpi
Memberi arah pada jalan jalan di gelap malam
Di jalan jalan tanpa tepi di terang siang

Siluet cinta [12]

Pada pucuk pucuk pepohonan mana
kutitipkan rindu
Diketika engkau datang bersama riak angin
Meng usik usik khayal
Sementara anjing anjing pekebun
Di punggung bukit malino
Masih saja seperti di malam malam kemarin itu
Setia melolongkan kesuyian nurani
Pada pucuk pucuk cemara mana lagi kulantunkan cinta
Diketika engkau datang seperti di tahun tahun kemarin
Masih saja dengan senyum itu menikam ruang keakuan diri
Batinku merintih rintih
Masih adakah engkau
Pada rindu rindu malamku?

Siluet cinta [13]

Aku terjebak
Antara bumi dan langit
Di antara hutan dan kota gersang
Di antara belukar dan padang ilalang
Bakaran asap,lelahan lafa dan raung knalpot
Tak pernah sepi dari lagu para pemimpi
Labirin dan pusaran hati rapuh
Adalah ketakutan ketakutan bias
Ketika kabut asap melingkar
Dalam gelombang jerit sang dajjal
Bulan bercadar dalam genangan bara
Menggelepar di kekosongan jiwa
Di manakah lagi pertemuan pusaran
Antara ada dan tiada

Siluet cinta [14]

Aku adalah,
Seorang lelaki penuh luka
Berlari dalam gerimis
Mengejar angan
Mengejar bayang bayang
Saat malam tiba
Rembulan pecah dalam orgasme semu
Terkulai di pasung duka lama
Waktu telah menyeret hasrat ketitik beku
Karena lena dalam angan sendiri
Padahal telah berbekal puisi
Aku adalah pemantera takdirku
Seorang lelaki dengan wajah letih
Hilang dalam bayang hujan.

Siluet cinta [15]

Malam malam cintaku
Hanyalah ruang dan waktu
Dikabut tabir hitam
Terbentang diseantero ruang
Hening,
Selagi cintamu datang bertamu
Kau merayu
Katamu kesempatan kita telanjang
Dan aib kita pasti tertutupi
Aku menampik
Hatiku berkata
Justru dalam kegelapan
Rahasia kan tersingkapkan

Siluet cinta [16]

Tiba tiba
Cintamu asing bagi sukmaku
Meskipun dikejauhan
Ada kerlip kunang
Terbang menjauh kerumpun bambu
Lalu terbaca serpihan rindu
Pada pelepah daun lontara
Ada terbaca juga
Isyarat kematian cintamu
Dibayang kelam malam

Siluet cinta [17]
Cinta kita
Dalam sekeping credit card
Demam sop ubi dan pallumara
Hanyalah basa basi cinta

Siluet cinta [18]

Permata mutu manikam itukah
Yang terserak dalam benakmu
Yang menghalau cinta kita
Kedalam brankast
Padahal malam ini
Ingin aku mengajakmu
Berlayar kepulau cinta
Kenegeri cinta tana “ogi”
Tempat Sawerigading
Menggilai we Tenriabeng
Selagi aku bisa
Ingin aku mengajakmu
Berlayar kenegeri Cina
Tempat Sawerigading
Menyunting We Cudai
Gelombang cintakupun jadi deru
Dalam badai purba.
Segila itukah aku mencintaimu
Mengejarmu ke “uriq liu”
Dan juga ke “ Boting langiq”
Membayangimu ke “Mayapada”
Negeri legenda para leluhur
Negeri cinta yang tak pernah usai.

Siluet cinta [19]

Di ruang Ungu Aku tahu,
Kekasihku lagi lara menunggu
Diatas ranjang pengantin
Pasrah dipermainkan angin.
Malam ini
cintanya telah kulipat
jadi arsip lusuh
kusimpan dilaci meja kerja
walaupun cintanya
tetap menjadi kenangan
dan tak pernah mati mati
oh ruang dan waktu
yang terentang tak bertepi
bagaimana mungkin memelihara cintaku
meskipun diseberang jauh
cintanya masih menyungging senyum
Siluet cinta [20]

Pada setiap desau angin
Pada setiap desah nafas kekasih
Mengendaplah kata rayuan cinta
Jadi batu dan prasasti
Pada setiap jarak dan waktu
Mengendaplah rindu jadi kesumat

Siluet cinta [21]

Di pebukitan Pare Pare
Di kawasan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional
Dibawah antena satelit indra jarak jauh
Malam baru saja berpijak dalam hening sunyi
Disini juga
Sama ketika malam malam di Konstantinopel
Selalu saja kubayangkan cintamu
Rebah dalam puisi puisiku
Memberi rasa malam malamku yang sunyi
Ada kaok gagak merobek sepi
Memperjelas rindu hati.

Siluet cinta [22]

Pun kutahu
Begitu lekat cintaku.
Memesrahi laut dan pulaumu,
Berpusar hari ditebaran pasirnya.
Tak ada yang berpaling.
Tak ada yang berpisah.
Laut darat,biru dan hijaumu.
Kurelung sampai kedasarnya.
Dan diriku ada padamu.

Siluet cinta [23]

Di canberra,
Sepasang kaki bocah aborigin,
Berlari melintasi stepa dan savana.
Dengan dijeridu dipunggung,
Bumerang ditangan kanan.
Berlari menyusur waktu mengejar segerombol kangguru,
Kebatas pengharapan.
Dan tiba tiba.
Mata nanar terkesima,
Memandang padang perburuan,
telah menjadi kota para elite.

Siluet cinta [24]

Engkau pernah menangis
dalam sms mu menghibahiba.
Dan pulsamu secara mena menuduhku
telah menancapkan panah panah cinta,
tepat di hatimu dari arah punggungmu.
entahlah siapa yang menancapkan
panah cinta yang beracun itu dipunggungmu,
Karena aku tak pernah
menebar panah panah cinta,
gulana sekian masa membutakan mata cintaku.
Mataku masih memiliki
pandangan abu keabuabuan
tentang ihwal cinta
bersama beberapa perempuan
yang setiap saat datang dan pergi secara mena.
Cinta para binal
telah kukuburkan dalam dalam,
dalam rongga perut para penjaja cinta

Siluet cinta [25]

Dengarkan kepak kepak camar yang terbang rendah.
Pertanda malam telah ranggas diceruk bandar.
Mengapa kapalmu belum juga bertolak.
Sedang kemudi telah terpasang.
Terlalu pengecut kau,
Jiika takut dengan badai yang kau buat sendiri.

Siluet cinta [26]

Di ochard road.
Seperti engkau yang menunggu diujung jalan.
Dengan dua tangan menjinjing tas plastik.
Sarat muatan baju model cina.
Gelang dan sari india.
Seperti engkau yang memanggil manggil dipengkolan.
Dengan mata berbinar binar menahan hasratmu.
Dingin malam dan rintik gerimis.
Seperti tak kuasa menahan gairahmu.

Siluet cinta [27]

Losari,
Ketika bayi matamu bening,
Segemerlap rona selat makassar.
Ketika belia dadamu segulung gelombang,
Tempat camar laut menukikkan birahi.
Ketika dewasa wujudmu gusung tanah tumbuh,
Tempat jenneberang tumpahkan lumpur.
Ketika renta nanti ,
Wajahmu malam tanpa gemintang.
Dimana angin melabuhkan senyap.

Siluet cinta [28]

Pemburu cinta
Lolongmu gemuruh,
Seperti Lolong beribu serigala jadijadian
disinari purnama.
Cintamu telah mati,
Bisik para kuntilanak
dicelah dedaunan yang rontok.
Dibawah kepak sayap sang dajjal,
Dedaunan yang rontok,
Menjelma jadi gelombang panas
Tumpah dilembah gersang.
Berbilang musim sudah,
Hutan,sungai, dan langit semakin sekarat,
Angin menjelma naga raksasa,
Menerkam dari punggung bukit.
Memamah luka cinta jadi nestapa.
Cintamu telah mati,
Pekikku dideru angin.

Siluet cinta [29]

Jiwaku sepertinya sebuah darmaga
tempat bersandarnya kapal kapal ikan dari samudra lepas.
Tali temali kapal,
Jangkar dan jaring,
Serta tebaran keranjang keranjang ikan yang amis.
Angin kering dari laut
berwarna abu keabuabuan,
Semua metafora kehidupan kasar dan keras.
Ada disini.
Hidup Penuh ketidakpedulian dan ketidakakraban.
Tiang tiang layar seperti jalinan kemanusiaan
yang saling meniadakan.
Waktupun selalu bersiaga berkemas.
Mencengkrama kapal kapal yang datang dan pergi.

Siluet cinta [30]

aku terperangkap,
antara cinta dan nafsu.
bakaran kemenyan dan aroma berahi,
pun lelehan cinta biru,
tak pernah sepi dari lagu lagu mimpi.
aku melata dalam sunyi malam
mengapung dalam mimpi mimpi siang.
ruang labirin dan pusaran hati luka.
adalah paranoida semu,
ketika badai cinta melingkar dalam gelombang jerit sang nafsu.
bulan pecah melelehkan lukanya,
terpercik di wajah wajah,
dimanakah lagi pertemuan antara cinta dan nafsu.

Siluet cinta[31]

kalaulah temali harfa telah dipetik.
alunannya membetot temali sukma.
pastilah kusanggup pecah dalam seribu cinta.
meskipun ragaku terkurung dalam perangkap misteri.
tembok tembok tua forbidden city.
kalaulah genderang telah ditalu.
gempitanya merobek wajah wajah birahi.
pastilah kusanggup remuk dalam seribu duka.
terlalu naif biarkan khayal,
kembara dilorong lorong harem.
sementara gadis gadis cina,
berbalut sutera tipis,
menanti cemas pada cinta bersayap dusta.

Siluet cinta [32]

aku bangga,
menjadi bagian dari cintamu.
meskipun cintaku tumbuh liar,
bagaikan ilalang di gurun tandus.
aku bahagia,
menjadi bagian dari sukmamu.
yang mengapungkan gairah panas dingin.
seperti pohon korma
yang meliuk di tengah oase.
aku rela,
menjadi bagian dari kuasamu.
meskipun telunjukmu menentukan
putaran bumi,bulan dan matahariku.

Siluet cinta [33]

dilangit,
telah berkali tersirat isyarat.
tapi mata kasadku rabun.
tak manpu membaca tanda zaman.
lewat bahasa nirkata yg tak kukenal.
pun mata fanaku,
telah menyeret roh manusiaku
kenegeri cinta.
ada bulan rindu gerhana.
saat para malaikat lontarkan pekasih.
mabuk kepayangnya kesegala arah.
jalan jalan melingkar tak berujung,
para pencinta semakin sesat.
hingga hilang segala arah.
akupun disini terkapar dalam luka cinta

Siluet cinta [34]

lolongmu gemuruh
seperti beribu tombak air
meluncur dari celah hutan kerontang
pepohonan yg tersungkur
dedaunan yg rontok
menjelma jadi gelombang di lembah gersang
berbilang tahun sudah
hutan,sungai,telaga,pantai,
bumi dan langit semakin sekarat
air menjelma naga raksasa
menerkam dari punggung bukit
memamah bencana jadi duka
kini kutimang banjirmu.
Dalam mimpi yang dingin.

Siluet cinta [35]

pada pucuk pucuk pepohonan mana kutitipkan rindu,
diketika engkau datang bersama riak angin,
meng usik usik khayal.
sementara anjing anjing pekebun.
dipunggung bukit sillanang,
masih saja seperti dimalam malam kemarin itu,
setia melolongkan kesuyian nurani.
pada pucuk pucuk cemara mana lagi kulantunkan cinta.
diketika engkau datang seperti ditahun tahun kemarin.
masih saja dengan senyum itu,menikam nikam ruang keakuan diri.
Ubunku retak,
Masih saja dalam perangkap pikir yang tak pasti.
Masih adakah engkau dalam rindu rindu malamku.

Siluet cinta [36]

aku terjebak,..
antara bumi dan langit
diantara hutan dan kota gersang
diantara belukar dan padang ilalang
bakaran asap,lelehan lava dan raung knalpot
tak pernah sepi dari lagu para pemimpi
labirin dan pusaran hati rapuh
adalah ketakutan ketakutan bias
ketika kabut asap melingkar
dalam gelombang jerit sang dajjal
bulan bercadar dalam genangan bara,
menggelepar dikekosongan jiwa
dimanakah lagi pertemuan pusaran antara ada dan tiada.

Siluet cinta [37]

Segulung ombak,
Dengan mata garang.
Bergegas menelan rembulan.
Menenggelamkan rohnya.
Dikedalam pusaran laut.
Langitpun gulita.
Bias warna warni laut.
seperti lempengan cermin pecah.
Mebiaskan bayang bayang semu.
Lautpun gamang,
Hening senyap.

Siluet cinta [38]

sampaikan rinduku,hai debur ombak.
pada kekasih kekasih gelapku
yang tertinggal di pantai.
aku kini telah jauh melintasi tujuh pulau,
tujuh selat,tujuh samudra
segala angin terus menderu
segala ombak terus berdebur
segala badai terus melintas…
rinduku ini,andaipun tak sampai
telah kuukir dipasir pantai
tempat buih buih putih memecahkan rindu
andaipun kemudian,
matahari tersungkur di samudra
maka lepaskan cintaku
tenggelam ke palung yang paling dalam.

Siluet cinta [39]

Dengarkan kepak kepak camar yang terbang rendah.
Pertanda malam telah ranggas diceruk bandar.
Mengapa kapalmu belum juga bertolak.
Sedang kemudi telah terpasang.
Terlalu pengecut kau,
Jiika takut dengan badai yang kau buat sendiri.

Siluet cinta [40]

Mencintaimu,
Seperti aku memeluk batu.
Menanti birahi cintamu.
Seperti menunggu batu tumbuh.
Aku punya air untuk menyejukkanmu.
Bukan untuk menenggelamkanmu,
Dalam dendam kesumat.
Matamu yang memandangku bagai sekubang lumpur.
Takkan pernah menyakitiku.
Dan aku tak membencimu karena itu.
Cuma perih,
Yang membuatku hanyut.
Rinai hujan menenggelamkanku,
Aku tenggelam didalam malam malamku.

Siluet cinta [41]

Runtuhnya perkawinan itu,
telah mengubah banyak hal.
Dan menyesakkan pandangan dalam melihat dirimu.
Engkau seperti pajangan pakaian dalam sebuah butik.
Aku lihat lelaki asing itu,
Masih berdiri dipinggir kasir,
Kedua tangan menjinjing tas belanjaan berisi
hati dan jantungku yang digenangi airmata,
Dikepalanya menjunjung kemaluanmu
yang mencibir dengan kesombongan materialistik komsuntif.

Siluet cinta [42]

Cinta itu telah mati.
Sesungutan aku menangisi mayatnya yang tak lagi asli.
Mayat dengan rambut panjang disambung,
Wajah pucat pasih,
masih terpolesi krim pemutih,
dagu dan hidung silikon.
Dibalik mayat cinta itu
tersimpan banyak rahasia kehidupan yang meng illusi,
Metafora dari kehidupan dan kematian.

Siluet cinta [43]

Masih tercium bau rambutmu yang terbakar birahi.
Saat panah amour menoreh putikmu yang ranum.
Seperti aku mengingat kembali
saat matamu binal melumat syahwatku,
Dalam sanggama takdir yang galau.
Sebuah pohon lontara tumbang,
Ketika bintik bintik keringat dihidungmu
mulai berbau miras dan asap rokok.
Akupun terhanyut dalam bayang angelina jolie.

Siluet cinta [44]

Matahari terik dan bulan gerah,
Telah mengubah pandanganku tentang cinta.
Warna warni bumipun semakin tak merona seperti biasa,
Mestinya hijau keemasan disiang hari,
Hitam benderang dimalam hari.
Angin gerah berhembus dari laut,
Sepertinya ingin menggantikan seluruh rimbun dedaunan pohon,
Menjadi ranting tua yang nantinya
terserak tak berdaya dipinggir jalan kota tua.
Gelombang dari laut yang menghempas ditepian pasir putih.
Tak berdaya menjadikan bintang jatuh menjadi onggokan karang.

Siluet cinta [45]

Sebuah mobil mewah dalam kemacetan kota metropolitan.
Didalamnya sepasang perempuan sejenis lagi dimabuk cinta.
Karena mereka kehilangan genetik biologi normal.
Sejak awal mereka telah merindukan jalanan yang meledak.
Juga sejumlah emisi karbon
hasil raungan knalpot yang mengapung keudara siang.
bersama kaum intektual kolotan
yang gila aktualisasi diri
memperebutkan oxigen yang gerah.
Sementara anak anak miskin
membagikan kaleng tadahan dgn suara cempreng

Siluet cinta [46]

Ini segenggam bunga sedap malam.
Hadiah untuk ibu maha kekasih.
Yang banyak mengajariku pandangan
tentang perempuan perempuan pilihan.
Aku sementara mencari putri cinta.
Seperti memasuki sebuah novel shakespiere,
Yang sarat melodrama tragis.
Terkadang kumenemukan putri jelita,
namun terasa asing.
Bagi bobot,bebet,bibit ibuku.
Kebencian dan ketakutan berlebihan,
Setiap berpapasan dengan perempuan perempuan
yang mau mencampakkan sepatu cinderella
Siluet cinta

Siluet cinta [47]

Perempuan perempuan berpayudara silikon,
Hidung pinokio silikon,
Masuk mengusik bisingnya malam.
Musik cadas mengutus syahwat.
Menjepit benci dalam capit cinta.
Membentuk laut birahi,
Tiang tiang cinta berukir sperma.
Hai dajjal,
Masuklah dengan tongkat kuasamu

Siluet cinta [48]

Padang ini semula dingin,
Cinta yg tumbuh,
Bagaikan bunga bunga kaktus.
Takkan pernah mampu mengoyakkan gaunmu.
Kuda kuda hitam,
Mengejar bayang bayang matahari.
Oh,siapakah lagi pencinta,
Yang akan kembara,
Diantara duri bunga kaktus,
Ditengah gurun yang gersang?

Siluet cinta [49]

Lena aku,
Dalam kembara yang tak habis habisnya.
Gurun ini adalah hamparan pasir berkilauan.
Tetapi di oase oase persinggahan.
Musim demi musim telah merobahnya.
Bisa apa lagi kita dengan cinta,
Setelah debu bersimbah diwajah kita,
Dan udara gerah begini?

Siluet cinta [50]

Angin gurun tiba tiba,
Datang lagi menghembuskan nafasnya,
Pada oase persinggahan ini.
Oh adakah engkau cinta,
Yang datang bertamu malam malam,
Digurun pengasingan ini?
Siluet cinta [51]

Musim birahi tiba,
Dan inilah aku,
Gerimis yang siap menghujam,
Lembahmu yang berdebu.
Dilanda kemarau panjang.

Siluet cinta [52]

Menatap laut,
Selalu saja kubaca sepimu.
Pada hamparan gelombang.
Cinta yang luka terentang tak bertepi.

Siluet cinta [53]

Menatap laut,
Terkadang kutemukan rindumum
Pada hamparan biru,
Sibakan buih putih,
Tetapi selalu saja fatamorgana,
Membiaskan warna warni semu.

Siluet cinta [54]

Menatap laut.
Selalu saja terbaca dendammu.
Pada debur ombak,
Gelombang yang surut,
Menyisakan langkah dikarang tajam.
Menatap laut,menatap laut.
Terasa ada dusta pada cintamu.

Siluet cinta [55]

Selamat pagi cinta.
Aku tengadah menatap matahari.
Sementara gerimis mesrah mengelusi bola mataku.
Karena memang kuingin ikut meratap.
Betapa kemesraan itu begitu cepat berakhir.
Begitu pagi masih
Diantara kita ada batas semu.
Terlihat tapi tak tergapai.
Seperti fatamorgana.
Didadamu bergema lonceng gereja,
Dan nyanyian nyanyian kudus.
Sedang didadaku mengalun azan dan takbir,
Menggetarkan jiwaku.
Diantara kita ada batas semu.
Terlihat dan takkan tersentuhkan.
Ronamu bergores cahaya bintang.
Sedangkan sukmaku melata,
Dibelantara bernuansa tanpa makna

Siluet cinta [56]

Aku telah memetik bunga bunga cinta.
Dari lembah lembah tak bertuan.
Adakah engkau kasihku,
Cinta pertama dan terakhirku.
Sedang tamanmu tak tersentuhkan jemari cinta.

Siluet cinta [57]

Ada cinta yang tak pernah kau mengerti.
Diketika kelambu malam tersingkap.
Kebisuan selalu saja merentangkan jarak dan waktu.
Mengendapkan kata kata kedasar syakwasangka.
Cemeti malam menorehkan luka kesumat.
Mengendapkan rindu rindu malamku

Siluet cinta [58]

Pada pucuk pucuk pepohonan mana kutitipkan rindu,
Diketika engkau datang bersama riak angin,
Mengusik usik khayal.
Sementara anjing anjing pekebun
dipunggung bukit sillanan,
Masih saja seperti dimalam malam tahun kemarin.
Setia melolongkan kesunyian nurani.

Siluet cinta [59]

Dan pada pucuk pucuk pepohonan itu,
Seperti ditahun tahun kemarin itu,
Masih saja engkau datang dengan senyum itu,
Menikam nikam ruang keakuan diri,
Ubunku retak,
Masih saja dalam perangkap pikir yang tak pasti.
Masih adakah engkau pada rindu rindu malamku

Siluet cinta [60]

dari bukit burung burung.
Mengalirlah beribu syahwat,
Jejak cinta yang memendam ketidakpastian.
Masihkah ada cinta yang tersisa.
Pada langit kelam,
Sedang disana beribu wajah jalang
menggumpal jadi awan

Siluet cinta [61]

Dan lembah burung burung pun
serta merta mengapungkan beribu cinta hitam,
Gumpalan awan hitam pun
berlomba merintikkan airmata cinta.
Tanyaku,
Masih adakah gulana yang tersisa
dalam mata air cintamu.

Siluet cinta [62]

Di wellington.
Dari balik ketinggian menara lion red.
Sang Adam menatap tajam dingin.
Dan serta merta,
Sambil menunggang kereta asap.
Menyerbu keruang ruang diri.
Panah panah sodom lepas dari busurnya.
Mencabik cabik temali sakral.
Mencampakkan siapapun.
Kesudut sudut labirin,
Ruang dan waktu kejar mengejar.
Busur dan panah panah api tebar menebar.
Diruang ruang tak berdimensi.
Sementara sang Eva ,
Lelap dalam dengkur yang panjang.

Siluet cinta [63]

Untuk memasuki ruang cintamu.
Aku memakai topeng topeng.
Yang telah lama kau ciptakan.
Disebalik panggung pentasmu.
Lalu kemudian,
Kau dan aku memakai topeng topeng.
Seribu wajah cinta.
Hilangkan jejak,
Dari mata yang mencahari.
Samar dalam sorot lampu.
Siluet cinta.

Siluet cinta [64]

Monalisa dalam lukisan.
Adakah engkau cinta.
Dalam sekulum senyum.
Seperti sebidang magnit.
Yang selalu siap menyeretku.
Keluar dari kutub kutub nyata.
Lalu mengapungkan anganku.
Keruang ruang illusi cinta

Siluet cinta [65]

Di Istanbul,
Aku datang ketepi jalan istiqlal.
Membeli segemggam biji sukun bakar.
Kukupas kulitnya helai demi helai.
Seperti menghitung tasbih,
Sementara hujan salju bergulir.
bersama bulir airmataku.
Mengenangmu,
Dan aku mengenangmu,oh istriku.
Ditengah malam turki yang beku.
Kurasakan kelembutan biji sukun,
Seperti kelembutan qalbumu,
Yang pernah kudamba.
Kristal cinta yang mengental jadi cermin.
Arahan ketika melangkah,
Merengkuh dua hati dalam detak nadi,
Dicelah gerai rambut yang bermain ditelingamu,
Pernah kubisikkan pesona.
Aku milikmu,
Dunia akhirat.
Kuingin memelukmu lagi seperti kemarin,
Seperti ketika aku merasa,
Kau milikku,dan aku adalah akumu.
llahi rabbi
Kukunyah biji sukun,betapa getirnya.
Tapi Engkau tahu,
Hatiku lebih getir.
Disepanjang perjalanan malam aku gelisah.
Mencoba membunuh mimpi dan khayal dengan sia sia.
Siapakah yang tahu deritaku ini?
Pun jika langit runtuh,
Siapa percaya kepedihan ini?

Siluet cinta [66]

Di Bursa east europe,
Dalam geliat petang.
Sebongkah bola salju.
Seperti mutiara jatuh.
Pecah berhamburan.
Seperti cintaku.
Badai salju yang dingin.
Daun pintu gemeretak bergetar.
Patah dalam dingin.
Seperti hatiku.
Burung burung camar salju.
Hidup tanpa sarang.
Mati tanpa kuburan.
Seperti cintamu.

Siluet cinta [67]

Pernah di suatu masa
Rembulan tunjukkan tubuhnya
Yang hitam telanjang
Seluruh penghuni kampung
Bergegas turun ke lapangan
Dan bagaikan sihir
Lelaki dan perempuan
Telanjang dalam gelap
Anak lelaki-perempuan
Menabuh genderang
Memaksa sang naga
Memuntahkan rembulan Losari

Siluet cinta [68]

Ketika bayi
Matamu bening
Segemerlap rona selat makassar
Ketika belia
Dadamu segulung gelombang
Tempat camar laut menukikkan berahi
Ketika dewasa
Wujudmu gusung tanah tumbuh
Tempat je’ne’berang tumpahkan Lumpur
Ketika renta nanti
Wajahmu malam tanpa gemintang
Di mana angin melabuhkan senyap

Siluet cinta [69]

Pun masih nampak tegar
Tapi musim telah banyak merubahnya
Dalam bungkus modernitas
Dalam diamnya batu batu batin
Yang melanjutkan usia
Menghirup sisa nafas
Dari seuntai nafas yang menggantung
Pada roh patotoe
Pun riak gelombang badai musim
Tak mampu menghapus jejak peradaban
Entah sampai tidak jejak kita
Mencari biang sejarah
Di bias bittarae

Siluet cinta [70]

Hai belly dancer,
Ombak kecil.
Yang beriak runtun diperutmu.
Segetar gulungan gelombang dilengan,
Segemuruh hati yang gairah.
Kaki getar gemerincing.
Didalam tapaknya sendiri.
Bergetar cemari jari.
Menggapai penghujung pantai.
Aku mabuk laut.
Terombang ambing diatas kemudi.
Bagaimana mungkin seimbangkan diri.
Laut begitu bergelombang.

Siluet cinta [ 71\

Di kawasan bursa,
Aku bergelantungan,
Diantara penumpang kereta gantung.
Menyusur bentang pebukitan salju.
Dan engkau disana,gadisku.
Gadis dalam mimpi Alexandria.
Ketika untuknya.
Sang penakluk menyerbu constantipel.
Dipekat malam yang beku.
Dan akupun sertamerta.
Berburu melawan kodrat.
Untuk mencumbumu,
Sekalipun dalam illusi.

Siluet cinta [72].

Takjub dalam diam.
Ketika berdiri dibelahan sungai Nil,
ditepi timur yang gerah.
Dibelantara makam dan kuil kuno.
Pada punggung piramida,
Dan patung para Pharaoh.
Maharaja cinta,
Amenhotep,
Tutankhamen.
Penerus roh dewa Amon.
Terpaku dalam patung batu.
Tertidur dalam mimpi Mesir.
Diruang dan waktu purba.
Para Firaun,
Pemendam harta karun.
Kekehidupan abadi.
Sementara diluar,
Orang orang mati.
Dalam jilatan roh dewa Ra.
Membangun kota labirin.
Kota kota kematian

Siluet cinta [73]

Pada langit yang berpoleskan warna merah kesumba.
Pada sepadang pasir yang terbungkus debu debu panas.
Pada pohon pohon korma yang enggan tumbuh.
Pada reruntuhan kota kuno Thebes.
Pada puing kuil dan phyramida.
Pada rahim bumi yang sarat emas permata.
Pada rintihan gairah sungai Nil.
Pada roh penerus dewa Amon.
Pada darah abadi Amenhotep.
Pada darah abadi Tutankhamen.
Pada bias senyum Cleopatra.
Para Pharaoh dan Firaun.
Menitipkan mimpi mimpi Mesir.
Keruang dan waktu bisu.

Siluet cinta [74]

Di tamaki makau rau auckland.
Tiba tiba begitu lugu wajah kota.
Mengaca dalam riak riak ombak.
Membias dalam buih dipasir pantai.
Aku terpana,
Di parnell rose garden.
Didalam ombak mawar.
Semarak warna cinta.
Menghadap kepuncak rangitoto.
Seperti memandangi sepi hati sendiri.
Ada bulan hampir gerhana.
Sinarnya menetes diatas teluk hauraki.

Siluet cinta [75]
Atas nama kesejahteraan.
Pembantai menyerbu kehidupan laut.
Perangpun digelar.
Sumbu sumbu maut disulut.
Dan pukat ganaspun dilepas,
Atas nama kesejahteraan,
Terumbu karang pecah,
Habitat laut terkoyak.
Biota biota laut sekarat.
Sirip sirip kecil itupun patah,
Sisik sisik putih lepas menabur pasir.
Dari tubuh tubuh yang telanjang.
Atas nama kesejahteraan.
Ombakpun menggeliat,
Biru tidak lagi sebiru laut.
Putih tidak lagi seputih buih.
Desah ombak,
Adalah laut yang sekarat.
Adalah aku yang gulana.
Sempurna dalam cinta.

Siluet cinta [76]

Segulung ombak,
Dengan mata garang.
Bergegas menelan rembulan.
Menenggelamkan rohnya.
Dikedalam pusaran laut.
Langitpun gulita.
Bias warna warni laut.seperti lempengan cermin pecah.
Mebiaskan bayang bayang semu.
Lautpun gamang.

Siluet cinta [77]

Peragawati,
Adalah kecantikan.
Adalah berpasang pasang kaki mulus.
Mondar mandir diatas catwalk.
Berpapasan saling silang.
Merenda ruang dan waktu,
Merenda sukmaraga.

Siluet cinta [78]

aku terjebak,..
antara bumi dan langit
diantara hutan dan kota gersang
diantara belukar dan padang ilalang
bakaran asap,lelehan lava dan raung knalpot
tak pernah sepi dari lagu para pemimpi
labirin dan pusaran hati rapuh
adalah ketakutan ketakutan bias
ketika kabut asap melingkar
dalam gelombang jerit sang dajjal
bulan bercadar dalam genangan bara,
menggelepar dikekosongan jiwa
dimanakah lagi pertemuan pusaran antara ada dan tiada.

Siluet cinta [79]

bebaskan aku.
demi kodrat manusiaku.
berangkat dari kelampauan masa lalu.
menyusur ruang dan waktu kini.
perisai akal budi ditangan kanan.
cemeti nafsu ditangan kiri.
atas ijin MU
baptis khalifah,
maka “Kun”
seperti Musa membelah laut merah.
dan pada palungnya mengubur benci.
maka Untuk Mu,
telah kubelah langit.
dimana relungnya kusembunyikan kelamin

siluet cinta [80]

Dari balik ketinggian menara lion red.
Sang Adam menatap tajam dingin.
Dan serta merta,
Sambil menunggang kereta asap.
Menyerbu keruang ruang diri.
Panah panah sodom lepas dari busurnya.
Mencabik cabik temali sakral.
Mencampakkan siapapun.
Kesudut sudut labirin,
Ruang dan waktu kejar mengejar.
Busur dan panah panah api tebar menebar.
Diruang ruang tak berdimensi.
Sementara sang Eva ,
Lelap dalam dengkur yang panjang.

Siluet cinta [81]

Di kawasan bursa,
Aku bergelantungan,
Diantara penumpang kereta gantung.
Menyusur bentang pebukitan salju.
Dan engkau disana,gadisku.
Gadis dalam mimpi Alexandria.
Ketika untuknya.
Sang penakluk menyerbu constantipel.
Dipekat malam yang beku.
Dan akupun sertamerta.
Berburu melawan kodrat.
Untuk mencumbumu,
Sekalipun dalam illusi

Siluet cinta [82]

Tolong,
Ajari aku dosa.
Seperti yang diajarkan eva,
Pada Adam.
Tapi maaf,
Aku alergi juice.
Dari sari buah khuldi.

Siluet cinta [83]

Kecantikan peragawati
Adalah berpasang-pasang kaki mulus
Mondar mandir di atas catwalk
Berpapasang saling silang
Merenda ruang dan waktu
Sempurna dalam senyum

Siluet cinta [84]

Pun kutahu
Begitu lekat cintaku
Memesrahi laut dan pulaumu
Berpusar hari ditebaran pasirnya
Tak ada yang berpaling
Tak ada yang berpisah
Laut, biru dan hijaumu
Kurelung sampai ke dasarnya
Dan diriku ada padamu

Siluet cinta [85].

Segulung ombak
Dengan mata garang
Bergegas menelan matahari
Menenggelamkan rohnya
Di kedalaman pusaran laut
Langitpun semarak
Bias warna warni laut
Seperti cermin pecah
Terhempas dihamparan bara
Lautpun gamang
Hening senyap

Siluet cinta [86]

Bulan pecah di tangan
Rapatkan jemarimu, adikku
Adakah engkau masih pencinta
Pada dentum petir di malam buta?
Sedang badik tetap saja
kau sarungkan di kelaminmu
Badik
Adalah tetes embun
Yang semestinya kau tikamkan
Di ubun nurani
Maka biarkan angin termangu di jendela

Siluet cinta [87]

Yang serba kaca
Kini telah kau tanggalkan
Kecuali
Sepatu cindirella
Yang memasang kakimu

Siluet cinta [88]

Phinisi putih
Yang akan membawamu bertolak
Lepas Arung samudera
Kini kian berkemas,
Entah penjuru mana lagi
Angin buritan akan mengembangkan layarmu
Entah ke laut mana arah kemudi
Engkaupun tidak mengerti
Tapi,Berbusung dadalah, nahkoda !
Karena badai yang selalu
Datang dan pergi
Ketika engkau berdiri tegak di anjungan
Tak sekalipun mampu
Mengoyakkan dada bugismu

Siluet Cinta[89]

Peluru apa yang kau bidikkan.
Meskipun aku berkelit,
Dan berlari beribu kilometer.
Tetapi tetap saja,
kepalaku ingin kau miliki,
sebagai sasaran ambisimu.
Peluru apa yang kau tembakkan.
Tepat menghujam jantungku.
Meskipun aku sembunyi.
Tetapi tetap saja.
Ingin kau rebut.
Seluruh kemerdekaanku..

DR.IR.DRS.H.SYAHRIAR TATO, SH.SAB.SSN.MS.MH.MM

Sosok multi talenta. Selain sebagai mantan birokrat (plt kadis Tataruang), Direktur Pascasarjana STIK Tamalatea, Dekan Fakultas Teknik ISTP, Dekan Fakultas Media Rekam IKM, sekarang Rektor Institut Kesenian Makassar, dosen di berbagai perguruan Tinggi di Makassar , seniman dan aktor film, juga salah seorang penulis yang karya-karyanya banyak bertebaran di media massa baik local maupun nasional dan International.
Menyelesaikan Sarjana ADM Negara (1982), Sarjana sipil (1990), Sarjana Hukum (2009),Sarjana Administrasi bisnis (2010),sarjana seni film ( 2013) Master Sains di Unhas (1992), Doktor Ilmu-Ilmu Teknik (2004), Magister Hukum (2010) dan magister manajemen (2012) .
Mengikuti short course bidang teknik di New Zaeland, Australia, Jepang,thailand,malaysia,China,hongkong,turki, Srilanka dan korea selatan. Sementara di organisasi aktif sebagai Ketua harian PARFI Cabang Sulsel, Ketua BKKI Sulawesi selatan. Ketua LESBUMI dan Ketua ASSEMI.
Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain, Siluet Cinta (puisi), Kota Kekasih (puisi), Bulan di Atas Bara (novel), Antara Bumi dan Langit (novel), Menanti Musim Berganti (novel), buku 42 Kritik Film (kritik film), Arsitektur Tradisional Sulsel Pusaka Warisan Budaya Indonesia,mengolah limbah domestik dengan filter biogeokimia dan ikut dalam antologi Ombak Makassar, Sastra Kepulauan.pintu yang bertemu,baruga ,menepi kesepi puisi,dan nyanyian tiga pengembara , Bugis Dalam peradaban melayu.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: