瀀挀埇L “ ANTARA BUMI DAN LANGIT “
KARYA DR SYAHRIAR TATO.

Mata Indah yang Gelisah

Beberapa mahasiswa, terlihat sedang asyik ngobrol santai di pojok kampus Universitas Karaeng Pattingalloang. Sebuah Perguruan Tinggi yang cukup bergengsi di Kota Makassar.
Di sudut lain, nampak Andi Darauleng sedang menyendiri. Matanya yang indah nampak gelisah menatap ke arah salah satu ruang kuliah. Wajahnya penuh harap, namun yang dinantikan nampaknya belum juga datang.
Andi Makkawaru, yang terbilang masih sepupu dekat Andi Darauleng, datang dengan gaya petantang-petenteng. la nampak selalu norak dalam penampilan seperti itu. Bajunya berwarna kontras ala burung kakatua, Rambutnya jabrik di kepalanya yang besar. Datang-datang ia langsung menggoda Darauleng.
“Uleng, nampaknya kamu sedang gelisah? Lagi menunggu seseorang Ya? Goda Andi Makkawaru sambil berusaha menarik perhatian. Ical sahabatnya ikut menggoda.
Dengan ketus Darauleng berkata “Apa urusanmu? Yang jelas bukan kamu yang saya tunggu. Sebaiknya ngaca dulu, apa kamu memang pantas ditunggu? Kalau model macam kamu nggak bakalan laku-laku, amit-amit deh,” ejek Darauleng sambil melenguh membuang pandangannya jauh-jauh.
Justru Ical sahabat Andi Makkawaru yang jadi tersinggung. “Hati-hati kalau ngomong, Nona. Siapa tahu justru dia jodoh kamu,” kata lcal dengan sedikit mengancam.
“Aku tahu, dia sedang menunggu dosen muda itu. Iya kan?” Andi Makkawaru sok tahu sambil mulai menyelidiki sikap Darauleng.
“Oh, Insiyur Mariolo. Dosen sok luar negeri itu? Hebat benar kamu, Uleng. Numpang lulus dong,” goda Ical sinis.
Andi Darauleng tidak mau terpancing. Ia tak acuh pada godaan Ical. Tapi kebencian tetap tersirat di sudut kerling Darauleng. Namun selanjutnya ia kembali mencoba asyik dengan penantiannya.
Lia sahabat Darauleng, yang melihat kejadian itu sejak tadi, jadi gerah. Segera saja mendekati dua lelaki penggoda Uleng, dan mendorong mereka. Lalu mengajak Darauleng berlalu dari tempat itu.
“Yok, kita pulang bareng, nanti kan sang pangeran hatimu pasti menyusul ke rumahmu!, tak usah melayani berandalan itu,” ujar Lia sok tahu.
“Mana dia berani ke rumahku, Kedua orang tuaku, kurang respek padanya. Utamanya Pettaku.” Timpal Uleng apa adanya.
Sahabatnya, Lia menyelidik “Memangnya kenapa?” tanyanya serius.
“Pokoknya begitu!” jawab uleng pendek.
Andi Darauleng jadi terkenang pada kejadian beberapa waktu lalu.

Tirai Penghalang

Di Rumah berarsitektur Bugis yang mewah itu, Petta Lolo duduk di ruang tamu dengan wajah ditekuk kaku. Saat begitu, Istrinya Andi
Bungawali tak berani angkat bicara.
“Uleng, siapa lelaki yang mengantarkan kamu pulang kemarin?” selidik Ayah Darauleng dengan dingin. Tatapan matanya menyorot tajam ke arah Darauleng yang sedang duduk bersimpuh di dekat Ibunya.
Andi Bungawali ikut-ikutan menatap Darauleng dan ia nampak juga mendesak dengan pertanyaan yang sama. Darauleng pura-pura ngeles.
“Yang mana, Petta?” tanyanya lirih.
“Hmm, itu…. lelaki yang kelihatannya baru pertama kali mengantarmu kemarin,”’ kata Petta Lolo mendesak.
“Oh, itu, Dia Rio….. Insinyur Mariolo,” jawab Darauleng sambil menunduk menutupi kekhawatirannya.
“Dia insinyur muda yang mengajar di Fakultas Teknik, kan? Kabarnya perusahaan real estatenya juga maju pesat, apa dia dosenmu?” selidik ibunya.
“Tampang dan penampilannya boleh juga. Anak siapa dia? Dari mana asal-usulnya?” tanya sang ayah mencecar ingin tahu lebih jauh.
Justri Andi Bungawali yang memberi informasi tambahan. “Menurut Andi Makkawaru, dia anak sekampung kita juga? Cuma katanya pernah tinggal jauh di rantau orang.
Dia di Malaysia bersama ayahnya, La Patinrosi.” Petta Lolo tersentak, ketika nama itu disebut istrinya. Keringatnya tiba-tiba saja mengucur menahan gejolak dihatinya.
“Apakah benar, dia itu anak La Patinrosi, anaknya La Tunra?”
Kegusaran itu, perlahan menjadi tirai penghalang yang mulai membentang, diantara dua hati yang terjerat pesona.

Duri Diantara Cinta

Andi Darauleng tersadar dari lamunannya, ketika Ir Mariolo tiba-tiba menegurnya. la tersipu malu, namun segera mengendalikan perasaannya kembali.
“Aduh, tuan putri……..siang-siang begird, kok ngelamun? Lelah menunggu, ya? Maaf, pertanyaan mahasiswa tadi sepertinya tak putus-putus. Akibatnya waktu mengajar jadi molor, Maaf ya…,” mohon Mariolo dengan manis. Hati pria tampan itu tak tega melihat gadisnya, gusar karena bosan menunggu seperti itu.
Bukannya Darauleng yang menjawab, malah si centil Lia sahabatnya yang nyerocos seenak perutnya.
“Ya, jelas. Dari tadi nunggu, siapa yang tidak bete. Nah, aku tinggal dulu ya. Silahkan menikmati indahnya dunia,” cerocos Lia sambil bergegas meninggalkan kedua sejoli itu yang dibuatnya geleng-geleng kepala.
“Capek ya?” bujuk Rio basa-basi.
“Ah tidak juga. Ayo jalan, nanti mahasiswamu malah nyusul lagi kemari. Aku malah tidak kebagian waktu,” Andi Darauleng menarik lengan Rio dengan manja. Pacarnya itu menurut saja.
Mereka berjalan ke pelataran parkir yang cukup asri. Tak lama kemudian sebuah sedan warna gelap meluncur pelan, keluar meninggal-kan kampus. Dari Kejauhan Andi Makkawaru memperhatikan seluruh kejadian itu.
Ya, lelaki ini mulai menjadi duri di antara cinta yang tumbuh dengan indah.
Mobil meluncur di keramaian kota dalam terik siang matahari. Kesejukan air condition ternyata tidak mampu membendung keringat yang mengucur deras di wajah dan leher Andi Darauleng. Melihat kondisi itu, Mariolo jadi heran, ada apa dengan kekasihnya itu.
“Ada apa, sayang? Nampaknya kamu gelisah. Sakit__ atau kena marah lagi di rumah?” selidik Rio.
“Ah, tidak…. cuma memikirkan hubungan kita, gimana,ya?” sanggah Uleng.
“Katakan saja, Sayang, apa yang kamu risaukan. Bukankah Uleng yang selalu minta agar kita selalu terbuka dalam berkomunikasi?” desak Rio, tak tahan melihat kekasihnya hanya bemuram durja.
“Aku memikirkan masa depan hubungan kita,” sergah Darauleng tiba-tiba.
Rio tersentak. Tidak biasanya Uleng seketus itu. “Kenapa? Ada masalah apa?”
Gadis bermata indah itu, menatap kekasih¬nya dengan perasaan memelas. Jelas ia sangat tertekan dengan keadaan perasaannya saat itu. Ia bertimbang-timbang dengan berat, apakah ia harus berterus terang atas kejadian sebenarnya, atau…..
“Uleng, katakanlah. Yang pahit, jangan kamu telan sendiri,” pinta Mariolo dengan teguh.
Akhirnya Darauleng berterus terang juga “Sepertinya orang tuaku tidak merestui hubungan kita, Rio. Terutama Pettaku…. Belum jelas alasannya,” gadis semampai itu menjelaskan dengan terbata-bata.
“Begitu?” timpal Rio dengan datar.
Keduanya terdiam. Pelan-pelan mereka hanyut dalam perasaan dan pikiran masing-masing. Dan tanpa terasa mereka pun tiba di depan rumah Andi Darauleng.
“Besok kuliah apa?” Mariolo berusaha mencairkan kebekuan.
“Mekanika Teknik. Mungkin langsung mid-test. Tugasku belum juga masuk-masuk. Habis Ade dan Ela ngajak jalan melulu/’sahut Uleng, mengembalikan keceriaannya.
“Salah sendiri, kenapa tidak mengatur waktu. Kalian terlalu santai,” tegur Rio.
Darauleng tidak menjawab. la hanya tersenyum manja. Manis sekali. Giginya yang putih teratur terlihat mengintip. Dan Rio selalu terpesona saban kali melihat senyum indah itu. Juga mata indahnya.
“Aku masuk dulu ya,” Uleng pamit setelah menutup pintu mobil dan berlari kecil memasuki pekarangan rumahnya yang luas.
“Uleng, sehabis mid-test besok, aku tunggu di perpustakaan kampus, ok? Jangan lupa belajar yang serius malam ini,” pintanya pada Uleng. Lagi-lagi ia tersenyum, manis sekali.
“Siap, pak guru,” guraunya.
Mariolo ikut tersenyum senang.
Tapi kegembiraan itu, bagai sepintas segera terhapus, ketika tanpa sengaja, Ir Mariolo berpapasan mata dengan Petta Lolo. Bangsawan tinggi hati itu langsung membuang muka sambil meludah ke tanah. Rio pura-pura tak memperhatikannya dan berlalu.

Bara Mulai Nyala

Andi Darauleng bergegas memasuki rumah, kepalanya menunduk saja, karena ia sadar sedang diperhatikan oleh ayahnya. Gadis itu tersentak kaget ketika menemukan bundanya duduk juga dengan tatapan mata lurus dan tajam kearahnya. Uleng tahu, tentu keadaan kini semakin rumit. Karena ia jua yang tak mengindahkan larangan orang tuanya beberapa waktu lalu.
Selang beberapa saat, kemudian ayahnya muncul dengan langkah pasti dan wajah berang.
“Petta tidak suka/ kau melanjutkan hubunganmu dengan lelaki itu. Ini peringatan terakhir. Jangan jatuhkan martabat keluarga karena cinta picisanmu. Keterunan kita tidak bisa bergaul dengan sembarang orang,” hardiknya tegas.
“Tapi, Petta…” potong Darauleng memberanikan diri.
“Tidak usah pakai tapi tapi. Kau tahu, kau satu-satunya anakku. Anak Petta Lolo yang disegani. Saya tidak mau, keturunanku, darah dagingku, bercampur dengan darah tosama-orang kebanyakan.”
Darauleng, terdiam. Hatinya tercekam rasa cemas yang mengiris. Tapi ia merasa tak berdaya dengan keadaannya. Ia sangat lemah.
“Ingat Uleng, antara kau dan dia, darah keluarga kita, darahmu, ibarat antara bumi dan langit. Laksana air dan minyak, tidak mungkin dipersatukan. Sejak nenek, kakek sampai ayahnya adalah ata budak di rumpun keluarga kita.”
Entah dorongan keberanian apa yang tiba-tiba membakar nyali dalam benak Darauleng. Hingga ia punya keberanian luar biasa menentang pernyataan ayahnya.
“Petta, tidak baik menghinakan orang seperti itu. Derajat kebangsawanan hanyalah ciptaan manusia, tak pantas kita terlalu membanggakannya. Dan sekarang, mereka punya derajat terhormat, karena sudah berhasil memperbaiki hidupnya, pendidikannya, status sosialnya,” tantang Uleng. Ia seperti tak rela Rio kekasihnya direndahkan di hadapannya.
“Aku tidak peduli dengan apa pun adanya mereka sekarang. Aku hanya tidak mengijinkan anakku merusak masa depannya dengan silsilah darah yang rendah. Pokoknya mulai sekarang aku tidak mau melihat wajah lelaki itu lagi,” ancam Petta Lolo sengit.
Semuanya terdiam, larut dalam keinginan masing-masing.
Gelap malam pun turun.

Diambang Cinta Terlarang

Suasana tenang sangat terasa dalam ruang perpustakaan kampus. Hanya lantunan musik klasik instrumental, permainan Manthovani yang terdengar lembut. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi terlihat asyik dengan bacaan masing-masing.
Sementara di salah satu meja panjang, sekelompok mahasiswa mendiskusikan bahan kulianya yang baru saja usai mereka ikuti. Sedang Insinyur Mariolo memilih duduk menyendiri di salah satu sudut ruang perpustakaan.
Dari wajahnya terlihat ia cukup gelisah.
Beberapa kali ia melirik arlojinya, sambil sesekali melenguh menghela nafas panjang.
Uleng belum juga datang. Tidak biasanya ia begitu. Gadis itu selalu memperhatikan waktu, utamanya untuk janji bertemu seperti sekarang ini, pikir Rio. Kegelisahan Mariolo semakin menjadi-jadi ketika jarum jam dinding perpustakaan menunjukkan pukul 12 siang. Yang dinanti belum juga tiba.
Tapi ia sedikit terhibur ketika melihat Ela dan Ade, sahabat Darauleng datang menghampiri. Setelah meletakkan buku-buku yang tadi dikepitnya, ia duduk di hadapan Rio.
“Kalian tidak melihat Darauleng? Kalian kan Mid-Test, apa dia tidak datang?” beberapa pertanyaan beruntun disampaikan Mariolo.
“Tidak, Pak. Entah apa alasanya dia tidak masuk,” jawab keduanya.
“Mungkin sakit. Sayang dia tidak ikut Mid-Test, hampir pasti dia tidak lulus mata kuliah Mekanika Teknik ini. Apalagi dosennya terbilang galak,” tambah Ade.
Tanpa sepengetahuan mereka ternyata Andi Makkawaru dan sobatnya Ical mendengar seluruh isi percakapan itu. Lalu lewat Ical mereka menyindir.
“Meski tidak jadi insinyur, kan bisa dicoba menggaet insinyur. Apa tidak hebat itu. Untuk apa susah-susah mau jadi insinyur?” Sindir Ical menyebalkan.
Lia jadi tersulut. “Alaah… kamu bisanya cuma sirik. Cal, yang kreatif dong sedikit,” ejek Ela tak kalah sengit.
Ical mengacungkan jari mengejek. Mariolo mencegah Ela dan Ade meladeni Ical, dan mengajak kedua mahasiswi itu meninggalkan perpustakaan.
“Yuk!”
Ade dan Ela, mencibir ke arah Ical. la tak mau kalah.

Rentang Lamunan

Saat itu rinai hujan baru saja usai. Lewat jendela Ir Mariolo memandang sisa-sisa tetes hujan yang jatuh dari ujung atap rumahnya. Di luar langit hitam. Meski bersih tak juga tembus pandang. Kekelaman yang sulit dimengerti.
Rio berpikir-pikir, mengapa sejarah masa lalu menjadi suatu yang kejam. Semacam hukuman yang tak jelas dimana ujungnya. la merasa dipaksa menelan sesuatu yang pahit tak tertahankan. Meski tidak jelas, ia salah apa.
Semakin memikirkan masalah itu, otaknya semakin butek, gelap, bagai gelapnya malam yang sulit dimengerti.
Sementara di saat yang sama di rumah Andi Darauleng, sang kekasih mengalami keadaan yang relatif sama, susah tidur. la tidak sampai mengerti, mengapa ia bisa terlahir di keluarga yang berpikiran picik, sempit. Mana ada pembenarannya, seseorang yang terlahir di masa kini, hams menanggung dosa masa lalu yang sama sekali tidak pernah dilakukannya, tidak diketahuinya.
Sebagai anak, Rio tidak bersalah karena jadi pelanjut turunan di keluarga itu. Masalah orang ruanya, kakeknya, bukanlah salahnya. Ia tidak pernah minta untuk lahir di keluarga itu. Ia tidak pernah tahu, kenapa ia terlahir jadi anggota keluarga La Patinrosi.
Rio, memandangi sang ayah. Lelaki setengah baya itu masih tegar. Suka olah raga dan nonton televisi. La Patinrosi saat itu memang tengah menikmati tayangan televisi. Kegemarannya adalah kisah petualangan yang penuh tantangan. Sebaliknya, ia tidak suka serial melo¬drama. Dan ia seperti melihat dirinya yang berhasil menaklukkan berbagai tantangan, untuk kemudian keluar sebagai pemenang.
Mungkin, sang ayah sudah capek dengan melodrama hidupnya di masa lalu. Ia ingin menghapus masa lalu yang kelam dulu. Ia telah sungguh-sungguh membina keluarganya dengan suasana baru, suasana lain yang terbebas dari masa lalu. Ia bahkan telah membuka lembaran yang sama sekali berbeda dan baru. Ia telah berhasil membangun martabat keluar¬ganya dengan harta dan pendidikan. Keberhasilan anaknya Mariolo menjadi insinyur adalah lambang keberhasilan keluarganya, dari ata yang nista, jadi penyandang gelar akademika.
Rio kemudian tenggelam pada rentang lamunan, saat pertama kali mengenal Andi Darauleng pujaan hatinya. Ketika itu ia sedang memberi kuliah “Perencanaan Kota” bagi mahasiswa baru jurusan arsitektur. Di kursi paling belakang nampak Andi Darauleng bersama temannya Ela dan Ade. Mereka nampak tidak serius mengikuti mata kuliah itu. Bahkan cenderung sesekali bercanda di sela-sela waktu dimana ada kesempatan.
Andi Makkawaru memperhatikan tingkah ketiga cewek centil itu dengan kesal. Ia cari-cari kesempatan dimana mau mengerjai ketiganya. Dan kesempatan itu akhirnya tiba juga.
Ade tiba-tiba berbisik, “Cowok yang mengajar di depan itu, kayaknya lebih pantas jadi peragawan dibanding jadi dosen, ya?” ia lalu cengengesan genit. Dan guyon itu langsung disambung si Ela tak kalah centilnya, “Kalau dia mau jadi pacarku, pasti aku….” ia tak jadi meneruskan kalimatnya, ia hanya tertawa genit dan bertingkah menggemaskan.
“Kau apain, hah ? bagi- bagi dong!” katanya sambil mencubit Ela.
Sahabatnya itu kaget dan tanpa sadar ia menjerit sehingga menarik perhatian seisi ruang kelas. Andi Makkawaru sengaja berdiri sambil melihat ketiganya dengan marah.
Si Ical langsung nyeletuk/’Dasar genit.”
Sang dosen merasa diremehkan dan langsung memerintahkan ketiga gadis genit itu meninggalkan ruangan.
“Keluar!”
Ketiganya pun ingin dengan cepat ngacir, tapi tak satu pun yang memiliki nyali untuk beranjak. Bahkan kaki mereka terasa sulit digerakkan..
“Jika masih ada di antara kalian yang tidak mau mengikuti kuliah ini, jangan bertingkah dan mengganggu konsentrasi belajar yang lainnya, silahkan tinggalkan ruangan ini!” katanya dengan nada bergetar menahan marah.
Seketika suasana kelas menjadi hening. Tapi ketiga gadis perusuh itu semakin terpaku dan tidak satupun yang beranjak. Ini membuat sang dosen muda kian naik pitam.
“Baik jika kalian tidak mau keluar, biar aku saja yang akan keluar. Aku tidak akan masuk mengajar di kelas ini sampai ada diantara kalian yang mengaku bertanggungjawab. Ini sungguh memalukan, dilakukan oleh mahasiswa. Selamat siang.”
Insinyur Mariolo berlalu dengan kesal. Andi Makkawaru berdiri dan langsung menyusul.
“Tunggu!” teriak Andi Makkawaru.
Sang dosen muda berhenti. Andi Makka¬waru membuka percakapan dengan gaya menantang, “Kuingatkan pada Bapak agar berhenti bertindak bodoh seperti tadi. Kami ini kuliah di sini, membayar dengan mahal. Dan tindakan Bapak meninggalkan ruangan merugikan kami. Di sini tindakan semacam ini dipandang bodoh dan angkuh. Kita punya tradisi yang berbeda dengan apa yang Bapak dapatkan di negeri Jiran. Nah sebelum tindakan bodoh semacam itu memakan korban, maka hentikan. Terima kasih, selamat siang,” Andi Makkawaru mengakhiri kata-katanya sambil menaruh hormat dengan dua jari di atas keningnya.
Andi Makkawaru berlalu dalam geram. Insinyur Mariolo malah menatap bingung kepergiannya, mengapa masih ada mahasiswa bertindak keterlaluan semacam itu. Ada sesuatu yang tidak wajar pikirnya.
Sesaat kemudian datang Andi Darauleng, Ade dan Ela. Ketiganya mendekat dengan langkah takut-takut. Ketiganya datang untuk meminta maaf secara langsung atas tingkah mereka yang tidak patut di ruang kelas tadi.
“Kami minta maaf, Pak, untuk kejadian tidak menyenangkan di kelas tadi/’kata Darauleng nyaris tidak terdengar.
“Kami sama sekali tidak bermaksud melecehkan Bapak,” sambung Ela.
“Kami berjanji, tidak akan mengulangi perbuatan kami, Pak. Kami rela menerima hukuman apa pun, kalau kami mengulangi perbuatan kami yang tidak terpuji itu,” Ade ikut bicara.
“Kami berharap Bapak tidak tersinggung dan marah lagi pada kami,” pinta Ela.
Insinyur Mariolo tidak berkomentar, dia hanya mengangkat tangan mengesankan telah memberi maaf.

Awal Cinta Bersemi

Di sebuah halte bus di jalan protokol, Andi Darauleng menanti tumpangan. Tapi bus yang dinanti belum juga tiba. Selang beberapa saat Insinyur Mariolo melintas dengan sedannya. Selintas ia melihat Andi Darauleng. Spontan ia menepi dan mempersilahkan andi Darauleng ikut dengan mobilnya.
Merasa agak risih, Andi Darauleng mencoba mengelak dengan halus, “Apa tidak mengganggu kesibukan Bapak? Biar saya naik bus kampus saja,Pak. Sebentar lagi juga tiba..”
“Ach, tidak apa-apa__kebetulan kita
searah, saya juga mau ke kampus” Kata Rio ramah. ” Atau barangkali takut dilihat pacar” Goda Rio.
“Saya belum punya pacar, pak. Saya cuma tidak mau merepotkan Bapak.” Kata Uleng malu. Wajahnya merona marah dadu beberapa saat.
“Ayolah…..nanti kamu terlambat masuk kuliah” Desak Rio.
Dengan ragu-ragu, Andi Darauleng akhirnya mau juga naik ke mobil. Mobil pun segera meluncur mulus ke arah kampus.
Tidak banyak yang dibicarakan dalam perjalanan ke kampus. Sedan Mariolo pun tiba dan berhenti di boulevard kampus yang asri. Ketika Andi Darauleng turun dari mobil, disaat yang sama kebetulan Ade, Ela dan Lia, sedang memperhatikan ke arah mobil itu. Mereka kaget memergoki Uleng datang dengan dosen yang mereka kagumi.
“Eh, lihat! Sama siapa Uleng datang? kayaknya kita keduluan dia,” gosip Ela.
“Begitu cepat Uleng menjerat sang pangeran,” sambung Lia.
“Kalah deh kita, padahal yang duluan naksir dosen ganteng itu kan saya,” keluh Ade. Teman-temannya mencibir.
Ketika Darauleng mendekat, teman-temannya saling cubit menggoda. Uleng malah bertingkah cuek saja.
Ade dan Lia hampir seretak berkata, ” Bagi-bagi dong… sama rata, sama rasa, jangan dimonopoli sendiri ya, Non!” goda keduanya dengan genit.
Darauleng tidak menimpali, hanya men¬cibir saja dan menggerakkan bokongnya melenggang masuk kampus. Ketiga sahabatnya menyusul dan berebut ingin mencubit Uleng.
Begitulah awal cinta bersemi di antara Rio dan Uleng. Begitu manis, begitu indah. Cinta memang sorga bagi sepasang hati yang bertaut dalam kasih sayang. Kasih sayang juga adalah ladang yang subur bagi cinta. Tetapi cinta di ladang yang subur tidak selamanya mampu menjamin bunga bahagia akan mekar di sana. Terkadang ada duri dan onak jadi penghalang. Jiwa-jiwa yang kerontang adalah duri dan onak itu.
Dua insan saling mencinta itu pun menyadari, dalam bangunan mahligai cinta mereka, secara perlahan tapi pasti, duri dan onak mulai hadir di antara mereka. Sedikit demi sedikit, ketajamannya mulai melukai.
Andi Darauleng dan Mariolo berada di antara duri dan onak itu. Hatinya sudah sesekali tergores akibat ulah Andi Makkawaru. Juga sikap kedua orang tua Uleng yang membenci hubungan itu.
Betapapun luka-luka itu kini terasa, mereka coba mengobatinya. Kadang mereka ke Mall, Cafe atau pun ke tempat hiburan lainnya. Tidak selalu berdua, terkadang menyertakan tiga sahabatnya.
Begitulah hari-hari mereka lalui, dalam suka dan duka. Tempat favoritnya adalah pantai Losari. Mereka sering di sana, menikmati pisang epe, pisang bakar bersaput gula merah encer yang asyik disantap saat hangat. Apalagi dalam rona siluet matahari menjelang senja.
Darauleng dan Mariolo pun jadi penjelmaan kekasih yang romantis.
“Losari merupakan ciptaan Tuhan yang begitu indah dan sempurna. Matahari yang kala siang hadir bagai membawa api yang ganas membakar, namun di ujung senja, menjadi penyebar kehangatan nan mesra. Di batas cakrawala pun ia menciptakan pemandangan yang menyejukkan hati, bagi pasangan ke¬kasih,” kata Uleng melankolis.
“Di batas cakrawala itu tergambarkan, perbedaan menjadi begitu indah. Langit yang berada tinggi di atasnya, bertemu dangan bumi di bawah kakinya, tanpa ada pertentangan. Hanyalah lukisan keindahan yang tiada tara. Karya yang maha kuasa yang maha agung, sebagaimana cinta yang DIA berikan,” sambung Mariolo.
Lalu keduanya tersenyum. Mata mereka bertatapan dalam penyerahan hati yang indah damai. Dengan sedikit ragu, Mariolo perlahan menggenggam jemari Andi Darauleng. Itulah penanda, bahwa jiwanya ingin menggenggam jiwa kekasihnya sepenuh cinta, tak ingin dilepas lagi.

Singkap Kenyataan

Di ruang keluarga La Patinrosi, terlihat Mariolo larut dalam lamunannya. la baru tersentak kaget saat ayahnya datang menyapa.
“Belum tidur? Malam ini terasa sangat dingin. Hujan sepertinya engganberhenti walau sejenak,” La Patinrosi menggoda anaknya.
Mariolo tidak menanggapi ayahnya
“Memang susah kalau belum punya pendamping/’kata la Patinrosi lagi menyambung, “tidur, ya tidur sendiri. Dingin, ya dingin sendiri. Tak ada yang memberi kehangatan.”
Mariolo hanya tersenyum, tidak terlalu menanggapi godaan ayahnya. Melihat anaknya tetap dingin La Patinrosi bergeser ke pernbicaraan yang lebih serius.
“Rio, aku bangga padamu. Di bawah kepemimpinanmu, usaha kita maju pesat. Relasi semakin banyak dan anak cabang perusahaan kian berkembang ke daerah-daerah. Hanya ada satu hal yang sepertinya belum sempat kau pikirkan,” pancing La Patinrosi.
“Apa itu, Ayah?” Rio masuk dalam jerat pembicaraan ayahnya.
“Dalam menunjang kariermu sekarang ini, pantasnya dirimu sudah didampingi oleh seorang istri yang bijak,” kata sang ayah serius.
Mariolo menghela nafas berat, “Sudah saya pikirkan, Ayah. Dan malah calon istri saya sekarang sudah ada,” ungkap Rio.
“Lalu kenapa? Kenapa kau belum memperkenalkannya padaku?” desak ayahnya tak mengerti sikap Rio.
“Kedua orang tuanya, belum merestui hubungan kami, Yah,” kata Rio lirih menyembunyikan beban perasaannya.
Lelaki berusia enam puluhan tahun itu bingung “Rio, siapa orang tua itu, ia tentu belum mengenal siapa dirimu. Mana ada orang tua seorang gadis yang menolak seorang insinyur yang berhasil, punya pekerjaan sebagai dosen, direktur banyak perusahaan. Muda, berharta dan berprestasi. Hmm, saya jadi penasaran dan in gin tahu, siapa orang tua gadis idamanmu i tu,” selidik Patinrosi dengan tertawa ringan, “katakan siapa orangnya?”
Rio menatap ayanya dengan serius, “Orang tua itu masih sekampung dengan leluhur kita, Ayah. Ayahnya bernama Petta Lolo dan Ibunya Andi IJungawali.”
La Patinrosi tersentak kaget. “Petta Lolo? Apa benar dia?” hatinya bagai tak percaya.
“Ayah mengenal mereka?” desak Rio.
Dengan berat La Patinrosi mengangguk. Lalu balas menatap dalam mata anaknya.
“Rio, aku kenal betul keluarga itu. Di masa lalu ayah dan kakekmu La Tunra mengabdi sebagai ata di rumahnya, di rumpun keluarga mereka. Entah sudah untuk berapa lama. Turun temurun. Ketika itu ayah bekerja sebagai gembala kerbau.

Jendela Masa Lalu

Sebuah rumah panggung yang cukup besar lagi mewah Milik keluarga Petta Baso. Dialah bangsawan yang menguasai berhektar-hektar tanah, sawah, ladang dan ratusan ternak, ayam, kambing, kerbau dan sapi.
Keluarga Petta Baso ini sangat dihormati. Karena derajat kebangsawanannya, hartanya dan lapangan kerja yang dia sediakan. Puluhan orang yang mengabdi di keluarga itu. Termasuk La Tunra dan anaknya La patinrosi.
Andi Bungawali adalah putri kesayangan di keluarga itu. Gadis berusia enam belasan tahun itu berparas cantik dan sikapnya lembut, bersahabat dengan semua orang. Tak pilih-pilih, dia sangat penuh perhatian dan suka menyapa siapa saja di sekitarnya. Hatinya terkenal baik. Karenanya, dia menjadi gadis yang banyak dikagumi orang.
Suatu hari, ketika hari masih sangat pagi. Andi Bungawali muncul dari balik pintu rumahnya. Lalu dengan hati-hati menuruni tangga rumahnya. Di saat yang sama La Patinrosi sedang bekerja memberi makan kerbaunya. Tanpa sadar ia mengangkat mukanya saat mendengar ada langkah di anak tangga. Ia melihat seorang gadis cantik di sana. Mata mereka sempat beradu beberapa saat. Wajah Andi Bungawali merah dadu. Segera ia melangkah ke kolong rumah dangan bergegas. Di bawah kolong rumah ada I Besse dan Waru, pembantu rumah tangganya yang sedang bertenun.
“Besse, siapa pemuda itu? Sepertinya ia baru bekerja di sini?” Tanya Bungawali dalam bisik kepada I Besse.
“Yang mana, Puang?” ia menoleh. “Oh itu, namanya Patinrosi, Puang. Anaknya La Tunra… Baru pagi tadi ia bekerja di sini, ia menggantikan ayahnya yang sedang sakit.”

Serpihan Masa Indah

Siang itu udara terasa sangat panas menggigit di kulit. Tak mengherankan jika sebagian besar penduduk kampung itu sudah menepi ke dangau dan beristirahat. Dengan telanjang dada nampak La Patinrosi menumpukkan pakaiannya di atas bongkahan batu di tepi sungai kecil, yang airnya tak begitu dalam. Di sampingnya ada bekal nasi dan lauk pauknya yang masih terbungkus rapih.
Begitulah rutinitas yang akhir-akhir ini menjadi kegiatan pemuda bertubuh atletis, berambut ikal dan gond rong itu. Ia datang ke sungai bersama kerbau gembalaannya, berusaha mendinginkan kulit sambil memberi kesempatan binatang peliharaannya minum sepuasnya.
Di kejauhan, nampak beberapa gembala lainnya yang juga sedang istirahat di bawah pohon. Dengan riangnya mereka berdendang sambil meniup seruling bambu. La Patinrosi pun menyanyi-nyanyi kecil.
Tanpa terduga, dari balik belukar muncul Andi Bungawali diringi dua orang temannya I Besse dan I Warn. Gadis-gadis itu menjunjung bakul yang sarat cucian, di kepalanya.
Lagi-lagi, tanpa sengaja pandangan Andi Bungawali memantul di dada La Patinrosi. Perjaka berusia 19 tahun itu sedang asyik mandi menikmati sejuknya air sungai kontan jengah. Andi Bungawali pun langsung membuang muka ke arah lain, meski wajahnya sempat bersemu dadu menahan malu atas tindakannya yang tanpa sengaja dilakukannya. la tertarik tapi tahu bahwa itu tak sopan.
La Patinrosi yang menyadari kejadian tidak menyenangkan itu, dengan melihat gelagat Andi Bungawali yang kikuk, segera saja ia menyambar pakaiannya dan langsung menjauh dari tempat itu.
“Tabe’, Puang,” mohonnya sambil berlalu.
Andi Bungawali tidak menjawab. Hanya matanya yang memberi isyarat persetujuannya.
Kembali pipinya bersemu dadu.
“Sungguh tampan perjaka itu. Wajahnya seperti turunan bangsawan saja. Tutur katanya halus, perilakunya santun dan lembut,” ujar I Waru tanpa segan memuji.
I Besse membenarkan/’Ya, lagi pula dia sangat sopan.”
Kesopan-santunan La Patinrosi memang menjadi pujian banyak orang di rumah Petta Baso. Karenanya ia cukup disayang diantara para ata di keluarga itu. Makin lama ia semakin jadi pusat perhatian.

Musim Semi Mulai Pucat

Suatu hari La Patinrosi sedang menyambit rumput dengan giat, ketika Andi Bungawali, I Besse dan I Waru, baru saja tiba dengan menumpang bendi, pulang dari pasar. Ketiganya membawa barang belanjaan yang cukup banyak. Melihat kerepotan gadis-gadis itu, Patinrosi spontan menyongsong dengan maksud membantu, membawa belanjaan mereka.
“Tabe, Puang. Biar saya saja yang mengangkat belanjaan itu masuk ke rumah.” Tawarannya sopan sekali. Tapi Andi Bungawali sama sekali tidak menyahut, hanya memberi isyarat pada Dua temannya untuk meluluskan tawaran itu.
“Ini, hati-hati. Isinya barang pecah belah,” Kata I Waru sambil menunjukkan mana yang harus diangkat La Patinrosi.
Ketika Andi Bungawali turun dari bendi, kakinya terpeleset dan membuat tubuhnya limbung nyaris terjatuh. Secepat kilat Patinrosi menyambar pegelangan tangan gadis itu. Tapi tanpa sengaja garakan Patinrosi itu membuat keseimbangan tubuh Bungawali jadi condong ke Patinrosi, akibatnya Bungawali terjatuh dalam pelukannya.
La Patinrosi cepat-cepat melepaskan tubuh tuannya dengan hati-hati. Dan langsung meminta maaf.
“Maaf, Puang. Saya tidak bermaksud kurang ajar terhadap Puang,” pintanya dengan kikuk.
Andi Bungawali tidak menjawab, hanya wajahnya pucat karena kaget tak mengira keadaan itu begitu cepat terjadi dan nyaris saja membahayakan dirinya. Diam-diam dia juga merasakan tubuhnya melambung tinggi ke angkasa, karena itulah pertama kali ia merasakan jatuh dalam dekapan laki-laki. Inilah musim semi yang pucat di antara dua remaja itu.
Sejak kejadian itu, sikap Andi Bungawali menjadi lain. Ia semakin menaruh perhatian pada La Patinrosi, dan sebaliknya La Patinrosi pun sangat sulit menampik perhatian besar itu. Adalah kenyataan bahwa diam-diam La Patinrosi pun mengagumi Andi Bungawali. Gadis itu anggun dalam kesehariannya. Ia pun sangat rendah hati. Berbeda dibanding putri bangsawan lainnya. Di luar semua itu, cinta mereka terjawab oleh nasib dengan cara berbeda.

Tenunan Hati Perawan

Sore itu, La Patinrosi sudah baru saja pulang dari padang penggembalaan. Kerbau-kerbau gembalaannya satu demi satu digiring masuk ke kandang dan diberi rumput agar tenang.
Tanpa disadarinya Andi Bungawali yang baru saja ingin mengakhiri pekerjaan tenunannya, lagi-lagi memperhatikan dirinya dengan diam-diam. Tak sengaja walida alat tenun untuk menjalin benang milik Bungawali tersentak keras dan menimbulkan gaduh. La Patinrosi menoleh dan tatapan keduanya beradu. Bungawali melemparkan senyum manis ke arah Patinrosi dan selanjutnya pura-pura sibuk membenahi kain yang selesai ditenunnya sore itu. Matanya yang indah memancarkan kilatan cinta.
Ada rasa yang belum terbahasakan dari dua insan remaja itu. Dapat dimaklumi, status yang berbeda membuat hubungan diantara kedua¬nya sangat berjarak. Mereka pun menyadari, sangat sulit menjembataninya. Tapi rasa tertarik yang lahir dari sebuah hati yang tulus siapa yang mampu mengingkarinya.
Demikian pula dengan rasa bend, jika ia terlanjur hadir, akan sangat sulit melunturkannya, kecuali dengan peristiwa luar biasa yang setara dengan benci itu terjadi. Bend itu bisa hadir karena rasa kecewa, iri atau cemburu, namun bisa saja lahir, tanpa sebab-musabab yang jelas.
Di ujung senja itu, tiba-tiba seekor kuda jantan meringkik. Dan berpacu dari ujung jalan. Seorang lelaki berusia 20-an tahun yang nampak perkasa menunggangi kuda jantan itu. Suara ringkik kuda itu, membuat La Patinrosi menghentikan sesaat pekerjaannya dan dengan tergopoh-gopoh menghampiri sang penunggang kuda yang datang. Kemudian dengan tangkas ia menggiring kuda yang ditunggangi Petta Lolo itu ke istal di belakang rumah Petta Baso.
“Patinrosi, apa Puangmu Petta Baso ada di rumah,” tegur Petta Lolo Angkuh.
“Sedang ke desa seberang, Puang. Bersama Puang Tenriunga istrinya/’ jawab Patinrosi.
“Pantas saja kau berani-berani mendekati sepupuku, Andi Bungawali,” Petta Lolo meludah, dan mendekati Patinrosi dengan ang¬kuh. Dan teguran itu terasa bagai petir menyambar di sanubari sang gembala. Ia merasa tersinggung dan direndahkan, tapi ia tak berdaya menampik hinaan itu.
“Hei, Patinrosi, kuingatkan kepadamu, jangan ulangi lagi perbuatan tidak sopan seperti tadi itu di hadapanku. Buang saja mimpimu untuk mempersunting Andi Bungawali. Seekor kerbau pun tak mampu kau beli, apalagi membeli status seorang putri bangsawan, anak Petta Baso. Kalau kau melanggar adat, kau pasti tahu akibatnya.”
Petta Lolo berlalu dengan langkah tegap, dan Patinrosi tertunduk, tak berani mengangkat mukanya sedikit pun. Bungawali yang menyaksikan kejadian itu pun merasa tertampar.
Wajahnya memerah karena malu dan marah. Marah karena dirinya dilecehkan, juga karena lelaki yang disukainya direndahkan.
Tenunan cinta di hati sang perawan, mulai dikusutkan.

Jerat yang Licik

Menyadari teguran dan ancamannya tidak juga berdampak, membuat hati Petta Lolo jadi terbakar. Terlebih lagi ketika melihat perubahan sikap Andi Bungawali kepada dirinya yang berubah semakin dingin dan tak acuh. la merasa telah terjadi sesuatu yang mengancam perjodohannya dengan gadis cantik itu. la tidak ingin kehilangan kesempatan menyunting sang perawan, hanya kerena kehadiran seorang budak.
Untuk mengamankan impiannya, disusunlah sebuah rencana jahat yang licik untuk menjerat La Patinrosi. la berharap dapat membuat saingannya itu tersingkir dengan cara yang takkan membuatnya hilang muka.
Suatu malam, di tengah lapangan terbuka nampak sedang berlangsung pesta rakyat.
Beberapa lelaki berpakaian adat sedang asyik mempertontonkan keahlian bermain sepak bola raga. Sementara beberapa bocah nampak ikut bermain dengan riang di sekelilingnya.
Pada kerumunan penonton nampak La patinrosi. Matanya menjelajahi panggung penontong kehormatan, mencari-cari apakah wanita pujaannya hadir di sana. Tetapi yang dicari tak juga nampak. Hanya di sudut lain Petta Lolo dengan begundalnya nampak cermat mengawasi tingkah laku Patinrosi.
Ketika Patinrosi masuk ke gelanggang ikut bermain sepak bola raga, kesempatan itu digunakan oleh Petta Lolo menjalankan rencana jahatnya. Perlahan-lahan mereka menarik diri dari gelanggang kemudian menghilang dalam kegelapan malam.
“Inilah saat yang baik untuk menjerat si gembala busuk yang tak tahu diri itu,” kata Petta Lolo pada begundalnya.
“Apa rencanafa’, Petta?”
“Ikut saja, dan laksanakan,” bisik Petta Lolo hati-hati.
Ketika malam semakin larut dan dingin, Petta Lolo dan kawan-kawannya mengendap-endap dalam kegelapan. Seluruh desa sudah sepi, penduduknya pun sudah lelap dalam tidurnya setelah lelah berpesta. Inilah saat-saat yang dinantikan Petta Lolo untuk menjalankan maksudnya.
Di kandang belakang rumah Petta Baso, nampak kerbau-kerbau gelisah. Naluri ternak itu ternyata benar, ada bahaya yang mengancam jiwa mereka. Dari balik semak nampak beberapa sosok mengendap-endap mendekati kandang itu. Beberapa diantaranya masuk ke dalam kandang dan mengeluarkan benda aneh dan memasukkannya dengan paksa ke dalam mulut beberapa kerkau.. Dalam satu sekejap tunai sudah tugas mereka. Lalu diam-diam para pelaku kejahatan itu pergi.

Hari Berdarah

Pagi hari itu tiba-tiba diguncang oleh kehebohan berita terjadinya peristiwa sadis di kandang ternak Petta baso. Orang-orang segera bergegas menuju belakang rumah bangsawan kaya itu. Mereka berkerumun di sekitar kandang kerbau dan ingin tahu kejelasan peristiwa apa yang terjadi.
Dalam kandang, nampak beberapa kerbau tergeletak di tanah dengan bercampur lumpur. Di sisi kandang nampak Petta Baso berdiri dengan tubuh bergetar menahan amarah. Naf asnya terlihat sesak dan bagai akan meledakkan dadanya. Di samping sang bangsawan nampak Petta Lolo dan berbincang-bincang dengan beberapa penduduk. Diam-diam Petta Lolo mulai menyebarkan fitnahnya.
“Sudan jelas, kerbau itu mati karena keracunan. Itu pertanda penggembalanya tidak bertanggung jawab. Kemarin sore, saya sendiri melihat La Patinrosi yang memberi makan kerbau-kerbau itu,” suaranya sengaja dikeraskan agar dapat terdengar jelas oleh Petta Baso pamannya.
“Hmm, si budak tak tahu diri itu memang tak bertanggung jawab. Akhir-akhir ini dia juga memang mulai berani kurang ajar. Sudah berani-beraninya menggoda adikku Andi Bungawali, Puangnya. Beberapa hari lalu, aku sendiri yang memergokinya,” pancing Petta Lolo.
Pancingan itu ternyata sangat jitu. Petta Baso yang sedang gelap pertimbangannya langsung saja terpancing. la memerintahkan kerabatnya segera berkumpul di rumahnya malam itu juga. Para suro-pembantu di rumah bangsawan itu segera saja berpencar menyampaikan panggilan sang Petta. Juga panggilan pada La Tunra dan Patinrosi, anaknya.
Di bawah lampu stroomking di ruang tengah rumah, nampak para kerabat dekat Petta Baso berkumpul. Wajah-wajah mereka nampak serius dan memendam amarah. Di tempat yang agak rendah La Tunra dan Lapatinrosi nampak bersimpuh dengan wajah tertunduk. Sekilas nampak wajah keduanya pucat pasi, juga tak mengerti, mengapa tuduhan itu ditujukan pada mereka.
Dengan suara berat dan rendah Petta Baso mulai bicara. Keadaan tiba-tiba berubah hening.
“He! Tunra, tahukah kau, anakmu La Patinrosi telah melakukan perbuatan yang sangat gegabah. Baru saja bekerja di sini, sudah berani membunuh dua ekor kerbauku.”
“A’dampengengka Petta, maafkan hamba. Kalau benar kesalahan itu dilakukan Patinrosi, berilah kami keringanan untuk membayarnya,” pinta La Tunra terbata-bata.
Petta Lolo memotong dan mengejek, “Enak saja kamu bicara, kamu mau bayar dengan apa? Kerbau Pettaku, bukanlah kerbau sembarangan. Lagi pula, darimana kau akan dapat uang untuk menggantinya.”
“Maaf. Izinkanlah kami mencicilnya,” Mohon La Tunra.
Orang-orang mengejek dan melecehkannya. Dan Petta Lolo tertawa dengan sinis. Melihat rencananya di atas angin, ia langsung menikamkan jerat kejinya.
“Begitu? Puang, kuminta perkenanmu. Memberinya waktu. Tapi jika dia tidak menepatinya dalam waktu singkat, maka nyawa mereka taruhannya.”
Hadirin jadi tersentak dengan ancaman itu. Petta Baso pun tak menyangka akan terjadi seperti itu, tapi ia diam saja, tidak mengiyakan, tidak pula menolak.
“Bagaimana?” Tantang Petta Lolo.
“Kami rundingkan dulu, belum bisa memberikan jawaban sekarang,” mohon Latunra.
Petta Baso yang bosan dengan keadaan itu, tiba-tiba memerintahkan kedua ata itu pergi.
“Pergilah, aku tidak sudi melihat kalian lagi.”
Kedua budak itu mohon pamit dan beringsut pergi dengan perasan duka. Andi Bungawali diam-diam menyaksikan peristiwa tragis itu dari balik tirai. Hatinya menangis. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ada rasa bersalah yang hadir dalam dirinya, ia menduga dirinyalah salah satu penyebab semua itu terjadi.

Bencana Itu Tiba

Ketika La Patinrosi dan Ayahnya La Tunra turun dari rumah Petta Baso, tak lama kemudian beberapa sosok tegap berpakaian gelap segera menguntit di belakang mereka. Ketika sampai di tempat yang gelap hati La Tunra dan Patinrosi gelisah.
“Ayah, sepertinya ada beberapa orang yang mengikuti kita,” kata La Patinrosi pada ayahnya dengan perasaan cemas.
“Ya, aku tahu. Tentu mereka orang-orang suruhan Petta Lolo. Nada bicaranya tadi penuh ancaman. Nampaknya dia sudah merencanakan ini untuk mencelakakan kita,” dengan serius La Tunra menyampaikan pada Patinrosi dan anaknya tercengang dengan pernyataan itu.
“Aku pernah melihat mereka di salah satu lontang tampat minum tuak di rumah Daeng Lure. Mereka bukanlah orang baik-baik, anakku. Hati-hati,” bisik sang ayah.
“Ya, tapi aku tidak takut pada mereka. Aku hanya takut pada Allah semata. Kalau mereka merencanakan perbuatan jahat dengan men-celakakan kita. Kita lawan,” kata Patinrosi bersungguh-sungguh.
“Tidak, anakku. Kita perlu mencari jalan selamat. Jangan mati sia-sia, untuk sesuatu yang tidak jelas apa benar kita yang lakukan/’ nasehat ayahnya.
Ketika ayah dan anak itu melewati belukar, di dekat sebuah sungai, beberapa orang tiba-tiba menyerang dengan kelewangnya. La Patinrosi dan ayahnya pun tidak tinggal diam. Dengan menggunakan sarungnya ia mencoba menepis ancaman kelebat kelewang tajam itu, sambil bergegas mencari tempat yang lapang. Tapi penyerangnya dengan beringas selalu menghadang.
Karena pertarungan tidak berimbang, akhirnya Patinrosi dan ayahnya kian terdesak. Dan beberapa sabetan mulai melukai lelaki tua itu. Perlawanan mereka nyaris sia-sia, sebab beberapa saat kemudian, keduanya jadi bulan-bulanan para penyerangnya. Akhirnya satu sabetan telah melumpuhkan La Tunra. Dia terjerembab ke tanah karena kehilangan keseimbangan akibat darah yang terlalu banyak mengucur. La Patinrosi yang mencoba menolong ayahnya pun akhirnya didepak satu tendangan yang membuatnya limbung dan jatuh ke sungai.
Melihat kedua buruannya sudah lumpuh tak berdaya, para penyerang itu pun segera pargi, segera menghilang dalam gelapnya malam.***

Pahit Tak Tertelan

Kisah itu terasa pahit, tak tertelankan. Mengungkapnya bagai menggoreskan luka baru di atas luka lama. Tapi kisah yang telah menjadi rahasia tersembunyi, bagai bangkit lagi dalam jelmaannya yang baru.
Ir Mariolo mendengar penuturan ayahnya La Patinrosi dengan aneka perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Kadang ada rasa marah, malu, benci yang masing-masing menorehkan warna dalam perasaannya. Ada rasa penyesalan, dalam diri Mariolo tapi tentu ia tak mungkin memutar balik masa yang telah berlalu.
Akhirnya Mariolo meminta ayahnya menuntaskan tragedi menyakitkan itu.
“Bagaimana ayah bisa selamat?”
“Rahasia hidup dan mati manusia, Tuhanlah yang tahu. Kakekmu La Tunra bernasib malang dan meninggal dengan menggenaskan. Mayatnya pun entah dimana,” sambung La Patinrosi dengan haru mengenang nasib malang ayahnya.
Keduanya terdiam beberapa lama. Larut dalam gejolak perasaan masing-masing.
“Untunglah nasibku lebih baik. Saat terjatuh ke sungai aku terseret arus. Kemudian terdampar di hilir. Seorang nelayan menemukanku dan merawat hingga aku sembuh. Haru dengan nasibku yang terlunta-lunta, akhirnya ayah angkatku itu membawaku merantau ke Malaysia. Di sana kami bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit. Karena upaya kerasku aku bisa menabung dan mengumpulkan uang. Aku akhirnya mendapat kepercayaan sebagai mandor di perkebunan tersebut,” tutur ayahnya mengenang masa lalunya yang pahit.
“Lalu dimana ayah bertemu ibu?” sela Rio.
“Tanpa ayah sadari ternyata diam-diam anak perempuan pemilik perkebunan itu menaruh hati pada ayah. Ini baru ayah ketahui ketika pada suatu hari ayah dipanggil menghadap pemilik perkebunan itu. Tanpa terduga, ayah diangkatnya sebagai mantu. la terkesan pada kejujuran dan kedisiplinan ayah. Tak mungkin kutolak permintaan itu. Akhirnya aku dikawinkan dengan ibumu.”
Tiba-tiba La Patinrosi terdiam. Ada batu kesedihan yang menyedak di tenggorokannya. la larut dalam kesedihan yang mendalam. Setelah mampu menguasai kesedihannya, ia kemudian melanjutkan lagi.
“Tapi malang, ketika kau baru berusia 2 tahun, ibumu meninggal karena penyakit ma¬laria yang ganas. Aku pun terpuruk dalam kesedihan, lantas berjanji tidak akan menikah lagi. Bersama kakekmu, kau kubesarkan dan kurawat. Hingga kusekolahkan di Oxford Uni¬versity di Amerika. Namun belum lagi tuntas kuliahmu, kakekmu pun kembali menghadap Tuhan Yang Maha Esa,” sambung La Patinrosi.
“Lalu bagimana ayah bisa kembali ke tanah Bugis?” Tanya Rio.
“Ayah kembali ke Tanah Bugis, karena tidak tahan sebatangkara di negeri jiran. Aku jadi rindu kampung halaman. Usaha kakekmu kulanjutkan di tanah Bugis ini. Dan setelah kau kembali, usaha inilah yang kau kembangkan. Ya, bagaimana pun kita harus terlepas dari masa lalu yang pahit itu.”
“Tak kusangka begitu tragis sejarah keluarga kita,” keluh Mariolo.
“Ya, tapi dengan ketabahan dan kegigihan kita bisa mengatasi persoalan kita selama ini. Ini yang membuat kita kuat, kita bisa meraih sukses. Mudah-mudahan kita bisa meningkatkan status kita, tidak lagi dihinakan orang. Kita bukan lagi ata seperti dulu. Mimpi buruk itu sudah lewat.”
“Tapi, sepertinya tragedi itu bagai akan berulang,” keluh Mariolo dalam hati.

Simpang yang Tajam

Hari berganti, waktu yang berjalan dengan cepat. Seiring perjalanan waktu itu banyak hal yang berubah. Ada percintaan yang semakin dalam, ada juga duri penghalang yang semakin tajam.
Andi Darauleng baru saja menyelesaikan kuliahnya ketika Andi Makkawaru yang makin malas kuliah mencegatnya.
“Pulang kuliah, Andi?” sapa Andi Makka¬waru cengar-cengir.
“Ya?” Andi Darauleng menimpali seadanya.
“Mari kuantar. Kebetulan hari ini aku tidak kuliah hari ini, dosenku masih di ibukota/’ pinta lelaki berbadan atletis itu.
“Tidak usah… saya bisa pulang sendiri. Lagi pula apa pedulimu/’ketus Darauleng.
“Ah, saya punya tanggungjawab kekeluargaan untuk mengantarkanmu dengan selamat sampai di rumah. Saya ini kan sepupumu. Apalagi kita sudah dijodohkan. Jadi alasanku jelas,” papar Andi Makkawaru-mahasiswa se¬mester delapan itu.
“Dijodohkan? Ah, kuno,itu,” ejek Andi Darauleng pada Andi Makkawaru.
“Kalau kau menolak kali ini tidak mengapa. Tapi bagaimana pun aku tidak akan setuju kalau ada lelaki lain yang mengantarkanmu pulang! Sebab itu tanggungjawabku. Apalagi kalau Mariolo. Dia itu turunan ata hamba sahaya di keluarga kita. Huh, ingat itu, jangan coba-coba,” ancam Andi Makkawaru.
Dengan kesal Andi Makkawaru berusaha menarik tangan Andi Darauleng, agar mau pulang bersamanya. Tapi Andi Darauleng berkelit. Dan ketika itu Mariolo tiba sehingga dengan berat Andi Makkawaru harus rela melepaskan tangan wanita yang sudah dijodoh¬kan keluarga untuknya. la pun berlalu karena untuk menghindari konflik di depan umum.
“Saya akan melaporkan kelakuanmu pada
Petta. Biar tahu rasa kamu,” ancam Andi Makkawaru sebelum menjauh.

Antara Bumi dan Langit

“Keterlaluan Darauleng. Beraninya anak itu bermain api, dengan mempermainkan kesepakatan keluarga. Menolak perjodohan itu, sama saja dengan mencorengkan arang di muka keluarga.”
“Jangan terbawa emosi, Puang,” bujuk Bungawali pada suaminya Petta Lolo yang masih terbilang paman Andi Makkawaru.
“Bunga, masalah ini harus dicarikan jalan keluarnya sebelum keluarga kita sungguh-sungguh dibuat malu. Darauleng harus segera kita pisahkan dengan anak ata itu. Dan secepatnya kita nikahkan dengan Andi Makka¬waru” Putus Petta Lolo.
“Tapi, anak kita itu masih kuliah, Puang,” sanggah Andi Bungawali perlahan. la tak ingin menyinggung perasaan suaminya.
“Ah, hentikan saja kuliahnya. Apa artinya pendidikan tinggi kalau tak bisa menjaga moral dan etika. Itu sama dengan merusak adat istiadat kita”umbar sang ayah.
“Jangan emosi, Puang. Masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik,” bujuk Andi Bungawali, istrinya.
“Tidak. Kita harus bertindak cepat dan tegas. Sebelum terjadi hal yang tidak kita inginkan/’ timpal suaminya sambil menahan gemuruh emosi di dadanya.
“Kita bicara dulu dengan Darauleng,” pinta istrinya.
“Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Bagiku keputusanku sudah final. Derajat keluarga kita tidak setara dengan keluarga Mariolo.”
Diantara Dua Pilihan
Siang itu, Ir Mariolo gelisah menunggu di pelataran parkir yang asri. Tempat indah dimana ia sering bertenu dengan kekasihnya itu, baginya kini terasa gersang. Sudah hampir sejam ia menunggu. Pandangannya menelusuri sudut-sudut kampus dari mana Darauleng biasa datang, tapi tetap sia-sia. Yang dicari belum juga tampak.
Ketika ia sudah jenuh bercampur kesal dan bermaksud meninggalkan pelataran pakir itu, tiba-tiba Andi Darauleng datang dengan wajah yang kusut. Gadis itu segera naik ke mobil, mereka pun beranjak meninggalkan kampus.
Dua kekasih itu, memang sedang terpuruk dalam kesedihan. Di atas sedan suasana terasa beku, padahal matahari tetap membakar hari. Ada masalah yang membuat sejoli itu gerah, marah. Di zaman modern ini, mengapa masih saja ada cinta terlarang karena kasta.
Beberapa saat keduanya nampak berdiam diri, mereka larut dalam nelangsa yang pahit. Kata-kata sepertinya tak sanggup menampung duka yang harus dikatakan.
Andi Darauleng menangis tersedu dipelukan Insinyur Mariolo. Meski keduanya hanya diam dan larut dalam pikirannya masing-masing. Akhirnya Darauleng mencoba memecahkan kebuntuan.
“Rio, bagaimana pun aku rasanya tidak mau berpisah denganmu. Aku tidak mau jadi korban tradisi, seperti yang dialami ribuan perempuan di negeri ini. Kita harus merubah tradisi buruk yang telah terjadi sejak puluhan tahun itu,” kata Darauleng tiba-tiba dengan bersemangat.
Ir Mariolo hanya terdiam. Hatinya sedang berduka. Mengapa keluarganya masih saja direndahkan. Mengapa harus dinistakan karena kasta. Padahal di zaman modern derajat bisa saja karena tahta, harta dan cendekia.
Tiba-tiba Andi Darauleng mengatakan pernyataan mengejutkan,
“Bawa aku pergi menjauh dari persoalan ini kemana pun kamu suka. Pokoknya, jauh dari negeri ini sekali pun. dimana tidak ada lagi perbedaan kasta, derajat antara kau dan aku disana,” harap sang kekasih.
Ir Mariolo tetap terdiam. Hatinya semakin duka. Menangis. Bukan karena nista tapi karena tak bisa berkata.
“Mengapa diam saja? Takut? Kalau kamu tidak mau mengambil resiko, biarkanlah aku turun di sini saja dan mengambil jalanku.”
“Mana mungkin nekad seperti itu. Keluargaku akan makin dinistakan” kilah Mariolo.
“Untukmu aku telah serahkan cinta, segalanya, apa yang masih diragukan lagi?”
“Kita akan semakin salah jika menempuh jalan yang keliru.”
“Aku cuma minta, bawa aku atau turunkan aku di sini!” ancam Darauleng.
Mariolo terdiam. la terjebak pada putusan yang sulit. Antara dua pilihan, cinta dan harga diri.
Karena Mariolo hanya diam, seketika itu juga Andi Darauleng akan membuka pintu, dan turun dari mobil.
Saat bersamaan Andi Makkawaru beserta teman-temannya yang mengendarai motor tiba-tiba menyalib depan mobil Mariolo. Sambil berteriak-teriak menantang.
“Uleng, turun dari mobil itu!” perintah Andi Makkawaru, sambil meraba-raba pinggangnya mencari badik yang diselipkannya.
“Apakah kau benar-benar mau mempermalukan seluruh keluarga kita?” Andi Makka¬waru, dengan cepat membuka pintu mobil dan menarik Darauleng yang terlihat pasrah. Sementara teman-temannya mengepung mobil Ir Mariolo menebar ancaman.
Andi Darauleng kesal melihat kekasihnya yang diam saja, tidak membelanya sedikit pun, bahkan membiarkannya diseret pergi.
Karena kecewa, Andi Darauleng membiarkan saja dirinya diseret-seret. Setelah Andi Darauleng dipaksa naik di boncengan motor Andi Makkawaru mereka pun segera meninggalkan tempat itu.
Selamat Tinggal Mata Indah
Di pojok kantin, nampak Ir Mariolo duduk sendiri. Wajah tampannya nampak kusut beberapa minggu belakangan ini. la merasa sangat kehilangan setelah Darauleng tak di sisinya lagi.
Beberapa mahasiswa yang ada di kantin itu, berbisik-bisik memperhatikan Rio. Ada yang bersimpati, ada yang senang hati. Ela yang sedari tadi ikut memperhatikan sang dosen akhirnya memberanikan diri mendekati.
“Siang, Pak. Maaf saya mengganggu?”
“Oh, tidak, silahkan duduk. Mau pesan apa?” Rio mencoba ramah.
“Terima kasih, saya sudah selesai, Pak. Hanya ada hal penting yang perlu saya sampaikan.”
“O, begitu. Apa itu?” Tanya Rio tiba-tiba serius.
“Bad news, Pak. Uleng tak pernah lagi masuk, konon dipaksa berhenti kuliah. Orang tuanya kini memingit Uleng. Katanya, ia segera dinikahkan dengan lelaki yang dijodohkan untuknya” tutur Ela sedih.
“Ah, yang benar? Itu kuno. Mana pantas terjadi di jaman kini, orang tua masih bertindak feodalistis begitu. Masih mencampuri urusan perjodohan anaknya,” gumam Rio bingung.
“Itulah faktanya, Pak. Kabarnya akan dikawinkan dengan Andi Makkawaru. Biang ribut di fakultas teknik itu. Entah bagaimana keadaan Uleng kini.”

Kesedihan Memabukkan

Sejak Andi Darauleng berpisah dengan Mariolo. Perkawinannya dengan Andi Makka¬waru pun dipercepat. Tidak ada masalah karena sejak awal kedua keluarga telah bersepakat.
Tapi sebelum mahligai bahagia yang terbangun, dua calon pengantin itu belum juga bisa saling menerima, bersatu. Malam-malam dilalui Andi Makkawaru dengan sendiri. Begitu pula Andi Darauleng yang pikirannya masih menerawang pada kekasihnya.
Entah kenekadan apa yang tumbuh di jiwa Darauleng, hingga ia bertekad harus bertemu Rio, meski itu untuk terakhir kali.
Esok harinya ini pasti dilakukannya.
Sementara mengajar, Rio pun tak bisa berkosentrasi. Saban kali ia masih terlihat menerawang, apalagi di saat jeda kuliah. Para mahasiswa yang mengetahui kisah tragis yang menimpa sang dosen, secara manusiawi bisa maklum. Bahkan kasihan.
Kemudian terjadilah peristiwa tak terduga itu. Tiba-tiba Andi Darauleng muncul dan dari balik jendela memberi isyarat pada Mariolo agar menemuinya. Mariolo yang sekelebat melihat wajah kekasihnya itu jadi kaget, dan bagai terseret magnit ia mengangguk dan memberi isyarat akan segera mengakhiri kuliah.
Setelah kuliah usai, Rio bergegas menemui Uleng di pelataran tempat mereka sering bertemu.
“Uleng, mengapa kau senekad ini, kau sadarkah apa akibatnya?” tegur Rio lembut.
“Aku sadar. Tapi ada sesuatu yang lebih penting ingin kusampaikan padamu, tapi tempatnya tidak di sini,” Pinta uleng tergesa.
“Masalahmu apa, Uleng?” Ujar Rio Cemas.
“Kelanjutan hubungan kita, ayo!”
Akhirnya mereka meluncur pergi ke pantai Losari favoritnya. Di sana Uleng menangis sejadi-jadinya.
“Inilah pertemuan kita yang terakhir, Rio,” kata Uleng dalam isaknya.
“Apa maksudmu?”
“Tamat sudah ceritera antara kita. Aku sudah dipaksa berhenti kuliah.”
“Gila! kamu kan sudah semester akhir, kurang lebih setahun lagi jadi insinyur?!” sanggah Rio penasaran.
“Apa yang bisa kulakukan lagi. Aku segera dinikahkan dengan Andi Makkawau. Tapi percayalah, sampai kini aku masih memiliki cinta suci,” ujar uleng membatin.
“Lalu apa keinginanmu?” Rio tak mengerti.
“Pernikahan itu akan bisa tidak terjadi, kalau kau mau membawa aku pergi jauh dari sini,” pinta Uleng nekad.
Setelah bertimbang beberapa saat, akhinya Rio seperti berkata pada dirinya sendiri” Tidak bisa Uleng, terlalu banyak yang harus jadi korban. Tidak mungkin kutinggalkan ayahku, pekerjaanku, tanggungjawabku pada karyawanku,” ujarnya sedih bagai kehilangan seluruh dayanya.
“Baiklah, kalau begitu tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu. Hanya permintaan terakhirku, jangan lagi kau tolak,” kata Uleng pasti. Keduanya pun larut dalam kesedihan yang memabukkan.
Baru bulan pertama perkawinan Andi Makkawaru dengan Darauleng berlangsung, kemelut sudah pecah. Rumah tangga bahagia yang harusnya dibina, malah terluka. Bulan madu, masih jadi impian semu. Bahkan ada bara menyala.

Mahligai yang Terluka

Diam diam Darauleng tengah menyimpan rahasia yang amat dalam. Dalam hatinya selalu berkata “Meski kau berhasil menguasai ragaku, jasmaniku, tapi jiwaku dan cintaku bukanlah untukmu. Tak dapat kau miliki, tidakkan pernah kau miliki.”
Namun serapat apa pun rahasia itu dipendam, kalau sudah membusuk pasti akan tercium juga. Puncaknya adalah suatu hari, ketika sang suami Andi Makkawaru tengah lelap dalam tidurnya, tiba-tiba ia mendengar Andi Darauleng muntah-muntah di kamar mandi. Ia segera bergegas ke sana dan menemukan istrinya sudah terkulai lemas.
Segera Andi Makkawaru memapah istrinya itu ke pembaringan dan langsung menelpon dokter keluarganya.
“Dokter Andy… tolong, Dok, segera ke rumah. Istri saya tiba-tiba muntah dan pingsan di kamar mandi. Tolong, Dok/’ pinta Andi Makkawaru cemas.
Setelah dokter Andy menyanggupinya, ia pun segera menelpon mertuanya agar segera datang.
Usai memeriksa, dokter Andy lega.
“Tidak apa-apa. Nampaknya ia positif hamil. Hanya butuh istirahat. Untuk jelasnya saya akan beri pengantar pemeriksaan ke laboratorium,” kata dokter Andy sambil tersenyum.
“Terima kasih.”
Dokter Andy pun pulang. Petta Lolo ternyata diam-diam ikut mendengar penjelasan sang dokter. Ia mendehem kecil, kemudian menghela nafas berat.
“Aku sudah habis harta, kini nyaris akan habis pula di mata adat yang kubanggakan. Mengapa kau lakukan perbuatan terkutuk itu Uleng. Terkutuk kau!” jeritnya tertahan.
Uleng masih terbaring lemah tanpa daya dan hanya air mata di pipinya yang mengalir. Andi Makkawaru berkata dengan pasrah demi harga diri keluarga, “Tidak Petta, saya adalah menantumu, sekaligus kemenakanmu, pewaris kebanggaan keluhuran adat istiadat kita. Kita tidak akan membiarkan arang yang mencoreng ini terlihat orang. Akulah yang akan bertanggungjawab. Aku akan tetap menerima Uleng sebagai istriku, apa adanya. Tapi anaknya… tidak! Bagaimana mungkin kita bisa hidup satu atap dengan anak itu, yang bukan darah dagingku!”
Petta Lolo dengan dingin memutuskan. “Ya, anak itu harus digugurkan.” Andi Makkawaru, mengangguk perlahan, menyetujui keinginan mertuanya. Kedua lelaki ini, sepertinya tak sanggup menghadapi hukuman sosial dari masyarakat di sekelilingnya. Berkorban adalah jalan pilihan mereka.

Histeria Bumi dan Langit

Amarah Andi Makkawaru kian nyala disulut peristiwa tak terduga itu. Untuk melampiaskannya, Andi Makkawaru sering meluapkan kemarahan pada apa saja. Hampir seluruh perabot rumah tangga itu sudah dibantingnya pecah. Sementara Andi Darauleng selalu hanya diam, dengan wajah semakin pasi.
“Katakan, siapa jahannam itu? Siapa lelaki yang menodaimu? Pasti kubunuh dia, ini siri’,” umbar Andi Makkawaru sambil memukul-mukul dinding.
Tapi Andi Darauleng tetap diam seribu bahasa. Ada perasaan sedih. Ada perasan menang, karena ia telah menyerahkan diri pada orang yang dikasihinya untuk cintanya, dan kini berbuah sudah. Ia memang bisa dikalahkan dalam status, tetapi tidak dalam kenyataan. Ia tetap tak terpisahkan dengan cintanya pada Ir Mariolo.
“Kau laknat, pezina! Kau lukai mahligai perkawinan kita, Kau cemarkan kehormatan rumpun keluarga kita, adat kita, keterlaluan!” bentaknya sambil menampar Andi Darauleng. Darah segar langsung meleleh di sudut bibir Andi Darauleng, tetapi ia tetap tersenyum di antara airmatanya yang berderai.
“Inilah yang kalian suka. Harga diri yang terluka,” bisiknya dalam hati.
“Baik, kalau kau diam saja, maka akan kuturuti perintah ayahmu, Petta Lolo,” janji Andi Makkawaru.
Keputusan pahit yang dilontarkan Petta Lolo terpaksa coba dilaksanakan oleh Andi Makkawaru. Beberapa dokter ahli kandungan dikunjungi, tapi mereka yang diminta untuk menggugurkan kandungan tidak satu pun bersedia melakukan aborsi itu.
Andi Makkawaru tak juga menyerah. Bersama mertuanya ia mencari dukun beranak untuk melakukan aborsi. Akibatnya keadaan kesehatan Andi Darauleng kian melemah dan tanpa daya. Matanya yang indah, sudah kehilangan cahaya kehidupan. Hanya tatapan dingin dan sakit yang terpancar disana. Memandangnya semakin lama semakin menerbitkan rasa iba.
Melihat kondisi Darauleng yang memelas, lama-lama sisi lain hati Andi Makkawaru mulai goyah juga. Sesungguhnya hati kecil Andi Makkawaru sejak dulu memang selalu memendam cinta pada sepupunya itu. Kasih sayangnya begitu besar. Hanya karena sering ditampik membuatnya bermata gelap. Sisa perasaan cinta dan sayang itulah yang membuatnya semakin lama kian tak tega. Tapi ia tak bisa menarik kata-katanya.
Dalam hati Andi Makkawaru yang paling dalam, mulai tumbuh pertanyaan. Benarkah ia tega memaksakan aborsi pada Darauleng? Bagaimana jika akibatnya fatal?
Ketika tiba di rumah dukun beranak yang bersedia melakukan aborsi dengan sebuah imbalan, Andi Makkawaru semakin disiksa gelisah. Terlihat ia mondar-mandir untuk meredam bara kegelisahan yang menggerogoti kemanusiaannya.
“Ya Tuhan, apa yang aku perbuat ini?” keluhnya.
Dari dalam bilik sang dukun, lamat-lamat terdengar di telinganya rintihan Andi Darauleng semakin lama-semakin lemah. Kemarahan dalam hati Andi Makkawaru pun pelan-pelan ikut meredup. Kekerasannya merapuh. Kekhawatirannya akan kondisi Darauleng semakin menjadi-jadi, apalagi setelah terdengar lengkingan yang pilu dari balik bilik.
Petta Lolo muncul di pintu dengan wajah pasi. Tapi sang mertua hanya membisu. Kemudian berjalan gontai meninggalkan tempat itu, meninggalkan jejak tanya yang maha banyak.
Tinggallah Andi Makkawaru sendiri dalam menghadapi ujian berat keluarganya.
Akhirnya ia tak kuasa lagi membendung ledakan perasaannya, sambil melolong histeris ia berkata
‘Tidak…….Tidak!”

SELESAI

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: