Part 1. NOVEL BULAN DIATAS BARA.
KARYA DR SYAHRIAR TATO.

Sekolah Menengah Umum Suatu Siang

Panas terik laksana lidah api membakar kulit, saat para siswa SMU itu pulang. Hiruk pikuk memenuhi suasana koridor. Aneka canda dan tawa terdengar riuh rendah disela obrolan mereka.
Sekelompok siswa di salah satu pojok sekolah nampak asyik ngobrol, ketika dari arah ruang kelas III jurusan IPA muncul Donna dan Ory dengan langkah bergegas. Tas sekolahnya berayun mengimbangi gerak langkah mereka. Mata Donna bergerak lincah ceria mencari seseorang diantara siswa yang sedang ngobrol itu, namun yang dicari tak ditemukan. Keduanya lalu segera menuju arah ruang perpustakaan.
“Cari doi dulu ya. Nanti aku menyusul pulang,” janji Donna pada Ory. Ory langsung menggoda “Si doi lagi, memangnya kamu serius dengannya? Apanya sih yang menarik?” Mata Ory mencari jawaban pada mata Donna. “Si Om lebih oke, Lho!” Goda si Ory dengan genit.
Donna refleks mencubit lengan sahabatnya dengan gemas. Ory menjerit kecil, senang godaannya kena sasaran.
“Si Om lagi…….si Om Lagi…. Ambil saja untukmu kalau kau suka, aku cuma butuh duitnya.” Bisik Donna dekat telinga Ory tak kalah genit sambil tertawa. “Sudah yah, hati-hati dijalan honey, bye…”
“Thanks, sampai ketemu,” Timpal Ory.
Keduanya berpisah. Ory langsung keluar sekolah, sedang Donna menghilang di ujung koridor.

Surat Dari Negeri Seberang

Di Ruang Kelas III IPS Guru pelajaran bahasa Indonesia yang bertubuh gempal, berkacamata minus dan selalu terlihat berkeringat itu, sedang asyik mengajar. Ricky siswa baru asal New Zealand terlihat kontras, duduk diantara siswa lainnya. Mereka terlihat mengikuti pelajaran dengan serius.
Dari balik pintu kelas tiba-tiba muncul wajah Donna. Gadis itu memberikan isyarat pada Ricky sambil memperlihatkan sepucuk sampul surat. Gerak tubuh memberi kesan ajakan pada Ricky agar minta izin keluar kelas sejenak. Ricky tersenyum melihat gerak gerik Donna. Perjaka tampan itu membalas isyarat Donna dengan menunjukkan jam di tangannya. Maksudnya pelajaran berakhir tinggal beberapa saat lagi.
Benar juga feeling Ricky, Guru bahasa In¬donesia melirik jam tangannya dan segera menyatakan pelajaran untuk hari itu berakhir.
Para siswa bangkit dari tempat duduk masing-masing dan berlomba menghambur ke luar ruangan kelas. Ricky keluar kelas belakangan. Di depan pintu kelas ia langsung disodori surat oleh Donna.
“Suratmu, kuambil dari ruang guru. Kiriman duit ya? Traktir dong,” Canda Donna dengan manis.
Ricky menyambar surat dari tangan Donna “Wow, surprise! Akhirnya datang juga surat dari orang tuaku. Kukira mereka sudah lupa pada anaknya,” Guyon Ricky.
Ricky segera membuka sampul surat itu dan membacanya. Donna tersentak melihat ekspresi wajah Ricky, kekasihnya itu. Beberapa siswa yang kebetulan melintas di sisi mereka ikut memandang heran. Apa yang terjadi di antara pasangan itu.
“Ada apa, Ricky? Kenapa kamu kelihatan dongkol sekali?” lidik Donna serius.
Dengan lunglai Ricky menyerahkan surat di tangannya itu pada Donna “Lebih baik kamu baca sendiri surat ini. Apa yang kutakutkan akhirnya datang juga,” keluh Ricky kehilangan semangat.
Donna membaca isi surat dengan cermat. Setelah ia mengerti maksud surat dari orang tua Ricky, ia meremasnya dengan perasaan murung. Matanya menatap Ricky yang hanya diam dan tertunduk lesu. Tiba-tiba Donna merasa ada yang hampa dalam dirinya. Segera ia membalikkan badan dan dengan langkah gontai berlalu, sebelum air matanya jatuh berderai. Ricky hanya bisa memandang sedih langkah menjauh Donna tanpa mampu mencegahnya.
“Donna….” Desah bibirnya yang nyaris tak terdengar.
Donna terus berlalu sambil berusaha membuang bayang-bayang diri Ricky yang tengah menjeratnya dalam harapan hampa. Kedukaan jelas memayungi hatinya yang gundah.

Duka Menyelubung

Rumah kost yang ditempati Donna dan Ory berukuran tidak terlalu besar. Perabotannya pun nampak sederhana. Meski letaknya di sebuah permukiman kelas menengah. Ada sebuah kolam kecil didepannya diantara aneka bunga yang terlihat ditata cukup asri.
Malam mulai larut, suasana di depan rumah kost mereka, nampak sepi. Di jalan pun tak ada lagi orang yang lalu lalang. Tapi Donna dan Ory belum juga tidur. Kesunyian malam itu terasa terlalu berat untuk Donna.
Aku rasanya sangat berat melepaskan kepergian Ricky. Semua orang pun tahu bagaimana pergaulan di kotanya. Serba bebas dan individualistis. Tentu disana sudah menunggu gadis-gadis cantik dan agresif keluh Donna dalam hati.
Ory serasa dapat membaca apa yang berkecamuk di hati sahabatnya, karenanya ia bersedia dengan sabar berempati pada sahabatnya.
“Aku takut Ricky tidak akan kembali lagi, Ory. Tak terbayangkan bagaimana masa depanku tanpa dia/’Keluh Donna dengan lirih. Ory memeluk sahabatnya dan berusaha menenangkan kecamuk gundah di hati Donna.
“Jangan berpikir yang bukan-bukan, itu hanya akan menambah risau hatimu. Makin banyak kau pikir, makin pusing kepalamu. Itu tidak baik untuk kesehatanmu. Bukankah kamu yang selalu berkata; Hidup, mati, rejeki dan jodoh itu di Tangan Yang Maha Esa? Please honey, kalau memang Ricky bukan jodohmu, di sini pun dia pasti akan digaet gadis lain,” Bujuk Ory dengan lembut.
“Aku hanya khawatir Ory/’ keluh Donna lirih.
“Khawatir boleh saja, tapi jangan berlebihan dong. Kamu harus belajar meyakini kesungguhan cinta di hati Ricky. Dia kan hanya akan pergi untuk sementara waktu saja untuk menemui orang tuanya. Itu wajar, apalagi studinya di sini kan belum rampung,” ungkap Ory berargumentasi.
“Aku percaya…..percaya. Tapi tanpa Ricky, waktu akan terasa begitu lambat berganti. Mestikah aku menghitung hari dari detik demi detik. Jika terlalu lama berpisah segalanya bisa saja terjadi,” timpal Donna memelas.
“Yah tidak pas begitu kan, Non?” Potong Ory.
“Di sana Ricky pasti membutuhkan seseorang yang bisa diajak berbagi. Curhat, atau diajak minum-minum dan ke pesta atau apa saja. Nah lama-lama tentu bisa menghapuskan ingatannya padaku,” Gundah Donna.
“Lho, kok curiga amat, Non!” Goda Ory.
“Lelaki mana yang bisa dipercaya?”
Ory menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. la tak tahu bagaimana lagi meyakinkan hati sahabatnya.

Ujian Kejujuran

Di resto fast food, Donna menghirup minuman ringan dingin, sementara Ricky di hadapannya tengah berusaha keras meyakinkan hati kekasihnya.
“Please, Donna, just believe me. Kalau aku mau berkhianat, mengapa harus jauh-jauh, di sini juga mungkin. Apalagi kalau saja aku naksir, belum tentu gadis itu tergoda olehku. Dan selama ini aku hanya memilihmu. Tujuh bulan lebih kita bersama, toh kejujuranku telah teruji,” berupaya Ricky membujuk Donna.
“Itu karena aku selalu di sisimu,” sanggah Donna.
“Lho, kok malah tidak percaya padaku.”
“Itu karena tiap hari kita selalu bertemu. Kita selalu mengisi waktu bersama-sama,” Potong Donna.
“Jadi Donna tidak percaya lagi padaku?” Goda Ricky.
“Aku percaya, dan sampai aku selalu percaya padamu. Tapi….” Donna terdiam kemudian melanjutkan,
“Tapi apa, Donna?” buru Ricky.
“Tapi ketahanan manusia itu selalu ada batasnya. Setelah lama berpisah tentu kita tidak bisa menyalahkan waktu kalau ada sesuatu yang berubah. Pada akhirnya manusia itu selalu bisa tergoda,” kata Donna sengit.
“Nah, itukan tanda kamu yang mulai tidak percaya,” tanggap Ricky.
“Pokoknya,idak bisa membayangkan saat itu, kalau memang itu akan terjadi,” tegas Donna.
“Lalu aku harus bagaimana?” keluh Ricky.
Dua-duanya lalu larut terdiam, hanyut pada angan masing-masing.

Semusim Lalu

Donna terbaring lemas di pembaringannya. Pada bangku disisi pembaringan itu Ricky dan beberapa teman siswa lainnya menunggu Donna siuman dari pingsannya.
Ketika Donna membuka matanya ia tertegun sejenak melihat begitu banyak teman siswanya di sekeliling pembaringannya. Ory memperkenalkan seorang di antara mereka, Ricky namanya.
Tatap mata keduanya beradu dengan lekat.
“Non, ini Ricky yang menolongmu. Ia siswa pertukaran pelajar asal Selandia Baru.” Ory memperhatikan reaksi Donna sesaat, kemudian berbisik “Dia suku Maori. Sekarang satu sekolah dengan kita, cuma kelasnya beda. Ia anak kelas III IPS.”
Ory mengambil tangan Donna dan menjabatkannya dengan Ricky. Bibir Donna tersenyum, “Terima kasih.”
Itulah awal gita cinta diantara keduanya yang bersemi semusim lalu. Dan mereka jadi sahabat kental. Sering jalan bareng dengan Ory. Tetapi mereka merasa mood jika berdua saja.
Menikmati kemesraan, tak segan Ricky mengantar Donna ke sekolah model yang tengah ditekuninya. Hatinya sangat senang menyaksikan bagaimana kekasihnya itu melenggang luwes di atas cat walk, untuk kegiatan semacam itu Ricky cukup sabar menunggu.
Tapi tanpa sepengetahuan keduanya, ada sepasang mata lelaki separuh baya yang bagai bayang selalu menguntit kemanapun mereka pergi. Dalam tatap mata lelaki itu jelas tergambar perasaan dongkol yang membatu.
Suatu sore Donna dalam perjalanan pulang diantar Ricky menumpang mikrolet. Sesaat baru turun dari angkutan kota itu, tiba-tiba seseorang menodongkan badik pada Ricky. Sang lelaki misterius mencoba menguras seluruh barang berharga milik Ricky. Donna jadi sangat cemas menyaksikan kejadian itu, Ricky juga bingung dan menuruti saja keinginan penodong itu. Namun entah keberanian apa yang menyusupi nyali Donna, ia tiba-tiba saja berteriak sekuat tenaga yang membuat si penodong panik. Apalagi terlihat beberapa lelaki yang berada tak jauh dari tempat itu segera bergegas mendatangi.
Si penodong kian panik dan nekad menikamkan badik ke arah Ricky. Tapi Ricky dengan refleks sempat mengegos sehingga hanya menyerempet sedikit di lengannya. Si penodong segera melarikan diri, dalam kejaran orang-orang.
Donna menangis dengan panik melihat lengan kekasihnya mengucurkan darah, tapi Ricky tenang saja, sambil membujuk menenangkan Donna.

Luka Jelang Perpisahan

Luka yang tergores saat jelang perpisahan mulai nyeri terasa. Dan malam adalah selubung gelap yang menyungkupkan ketidakpastian. Saat-saat begitu selalu terngiang ditelinga Donna bisik manis kekasihnya.
“Percayalah, honey,…… setiap saat aku hanya punya rindu padamu. Aku akan pulang pada kesempatan pertama aku punya. Still be¬lieve in me, darling. Berilah aku kekuatan agar mampu menyampaikan tentang hubungan kita dengan kedua orang tuaku.”
Mengingat kenangan itu membawa sedikit ketenangan di hati Donna, Meski ia sadar keyakinan itu tak bisa memenuhi seluruh rasa percaya dalam hatinya. Tapi hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, menumbuhsuburkan kepercayaan dan juga harapan.
Sementara di tempat lain Ricky pun tengah didera gelisah di rumah kostnya. Pintu yang sudah rapat tertutup amat dibencinya, karena jadi penegas jarak yang terbentang antara dirinya dengan Donna yang telah menyita cintanya. Tapi ia dibuat tak berdaya dalam situasi yang serba menekan itu. Dipadamkannya bohlam di kamarnya demi mengurangi tekanan jiwa di batinnya.
Ketika lolongan anjing terdengar nyaring menggonggong, Ricky terkulai. Tidurnya menyusup kedalam hening malam.

Dua Hati Yang Gamang

Menjelang keberangkatan Ricky, membuatnya keduanya repot berbenah. Koper dan tas diisi dan dirapihkan, kemudian disusun di pojok ruangan. Keduanya memandangi koper dan tas itu dengan hati yang gamang. Itulah tanda-tanda perpisahan yang perlahan dibangun. Esok hari rasanya sudah berkejaran datang. Ricky akan segera ke Wellington, Selandia Baru.
Sesaat kemudian keduanya saling berpandangan. Ada perasaan berat yang tak mampu terucapkan. Hanya saling pandang. Ya, saling pandang yang mencoba mempertautkan dua hati yang terpaksa harus saling rela berpisah. Ada senandung kesedihan yang diam-diam berlagu di antara hati yang tersedu. Tanpa sadar Donna malah tak lagi mampu membendung air mata yang tumpah bergulis di pipinya.
Ricky yang menyaksikan bulir-bulir air mata itu, ikut hanyut dalam nuansa kesedihan. Tangannya dengan tanpa sadar telah melingkar di bahu Donna dengan lembut. Donna pun membenamkan wajahnya ke dada Ricky. Sang kekasih pun memeluknya dengan erat dalam pelukannya.
Donna merasa tentram dalam pelukan itu. Mereka pun hanyut diantara kesedihan dan romantika cinta yang membara. Air mata yang bergulir dan membasahi dada Ricky sejenak mengguyurkan kesejukan yang menenangkan. Ada rasa tak ingin berpisah, tapi mereka diluar kuasa menghentikan keharusan itu.
“Kamu tahu, honey, tak setitik pun keinginanku untuk pergi meninggalkanmu. Di sini terasa sudah kutemukan labuhan cintaku, seluruh hasrat hidupku,” bisik Ricky ke telinga Donna.
“Sungguh?”
“Sungguh.”
Ricky semakin mengeratkan pelukan pada Donna sebagai bukti bahwa ia tengah bersungguh-sungguh dengan kalimatnya. lalu Ricky kembali berkata, “Orang tuaku di Wellington sana, mengkhawatirkan keberadaanku di sini. Apalagi suasana politik sementara kurang akrab dengan orang asing. Suasana yang kacau ini jelas tak bisa menenteramkan hati orang tuaku. Mereka hanya membaca di km mi yang simpang siur kebenarannya. Entah sampai kapan semua ini baru akan reda. Kita tidak pernah tahu,” keluh Ricky.
“Tapi nyatanya dirimu aman-aman saja, kan? Masih sehat walafiat, tak kurang satu apa pun,” sanggah Donna dengan manja.
“Ya, aku tahu, tapi kedua orang tuaku tidak peduli itu. Aku adalah anak satu-satunya yang jadi tumpuan harapan mereka. Keputusannya, nku harus pulang dulu. Nanti kalau semua sudah tenang baru mereka akan membicarakannya lagi” ungkap Ricky setengah putus asa.

Perpisahan Kian Dekat

Debur ombak di pantai Tanjung Merdeka menawan tatapan Donna. Dipandanginya buih ombak yang bak kapas putih berkejaran kelaut lepas. Perahu-perahu kecil yang dipermainkan ombak merambat pelan dengan perkasa. Angin yang bertiup kian kencang bagai menguji ketangguhan para nelayan di laut biru itu. Dan nyalinya merasa kecil jauh dari ketangguhan semacam itu.
Ricky yang duduk disisi Donna juga memandang laut. la juga punya gundah yang tak jauh berbeda. la memandang batas cakrawala yang merah nyala dan tepinya yang biru bersih. Itulah ibarat hati dan cintanya. Cinta yang biru suci tengah dibakar kesangsian. Kesangsian yang kian membesar tak terbendungkan.
Kedua remaja itu sama-sama dicekam diam. Diam melankolia. Diam dengan setumpuk kesangsian yang tak terhela. Mereka tenggelam dan tenggelam.
Dalam kenangan, terlintas peristiwa lalu. Ketika itu jam istirahat. Jeda itu segera saja dimanfaatkan para siswa dengan bermain bola basket, lapangan tengah sekolah telah dipadati para supporter. Mereka menyoraki jagoan masing-masing. Tapi entah bagaimana mulanya tiba-tiba saja terjadi kekacauan. Suara hiruk pikuk siswa yang tawuran. Mereka yang tak mau menuai masalah, berusaha menghindar. Demikian pula Donna dan Ory yang bergegas meninggalkan tempat itu dengan panik. Ory bahkan tak peduli lagi dengan salah satu sepatunya yang tertinggal. Mereka menghindar sejauh mungkin.
Ketika mereka sampai ke tepi kanal yang cukup lebar dengan airnya yang cukup dalam, nekad saja Donna melompat menceburkan diri. Padahal Donna sama sekali tak bisa berenang, langsung saja dia gelagapan.
Pada saat yang genting itu, beruntung ada seseorang yang nekad melompat dan berenang menyelamatkan nyawa sang gadis keseberang kanal. Donna jatuh pingsan dalam pelukan pemuda itu.
Potongan-potongan kenangan masa lalu, melintas cepat dalam angan. Masa-masa manis madu di awal perjumpaan. Bercanda di kantin, mall, resto, distro adalah masa-masa berbunga-bunga. Keduanya jadi sejoli yang menggambarkan keindahan cinta anak remaja.
Tapi potong-potongan kenangan itu kini perlahan berancang-ancang lari menjauh meninggalkan jejak rindu yang mulai tumbuh dengan perlahan tapi pasti. Kepastian yang menjadi tabir nan membentangkan perasaan kehilangan.
Perasaan kehilangan adalah perasaan yang paling dibenci oleh mereka yang saling cinta. Itu pula yang dirasakan Donna dan Ricky.

Perpisahan Dalam Pelukan

Malam beranjak ke peraduannya. Dan dingin menelusup dalam selimut hati Donna. Ricky yang masih di sisiny a sepertinya sudah kehilangan kehangatan. Hanya perasaan beku mulai diam merayap. Keduanya akhir-akhir ini hanya banyak diam. Diam dalam kata-kata, tapi bahasa hati mereka bagai ombak di pantai yang selalu menempurkan aneka gundah yang bersenandung.
Sangat terbatas kata-kata yang mampu menghibur. Kesempatan pun hanya sesekali datang di waktu yang maha sempit.
“Sudahlah. Hapus air matamu, honey. Kan kamu mau makan di luar.”
“Lebih baik tak usah makan di luar, apalagi besok harus bangun pagi, lebih baik malam ini istirahat saja,” sahut Donna sambil menghapus air matanya.
“Tapi kita kan harus mengisi waktu jelang perpisahan kita dengan sejuta kenangan manis kan?” kata Ricky sambil menata vas bunga, di kamar Donna.
“Sudahlah, aku tidak lapar, kalau kamu lama, akan kubuatkan makanan untukmu,” kata Donna dengan lirih.
“Oh, no thanks. Aku juga tidak lapar/’ potong Ricky cepat-cepat.
Mereka akhirnya kembali tenggelam dalam keheningan. Keduanya larut dalam amuk perasaan masing-masing. Tangan mereka saling menggenggam seolah mempersatukan had yang tak ingin terpisahkan. Dan bagai ada magnit yang mengalir di sekujur tubuh keduanya yang membuat Ricky meraih Donna ke dalam pelukannya. Mereka saling dekap tak kuasa melepas gejolak yang membara dalam jiwa. Perasaan berat untuk berpisah menjadi himpitan yang mempersatukan. Tanpa sadar keduanya bagai dipermainkan gejolak ombak di pantai yang mendamparkannya keperaduan.
Malam yang kian gelap, hening dan dingin akhirnya melarutkan mereka menjadi satu. Gelora yang saling balut menambal celah yang terbuka. Selanjutnya bagai perahu yang meniti ombak di antara buih-buih putih, kemudian mendamparkan keduanya ke tepian yang melelahkan. Ketika kesadaran terbit, hanya ada air mata yang membunga. Dua rasa yang berpagut, tuntas berbaur penyesalan.
Donna menatap dalam mata Ricky. Ada kotulusan di sana yang melegakan sisi hatinya, la telah memberikan penyerahan yang diterima dalam pigura cinta. Tapi di sisi hati Iainnya sedang tumbuh perasaan was-was atas kelalaian yang terlanjur terjadi. Tentu tak ada gunanya menyesal, karena bagai Adam dan Hawa itu adalah dosa purba yang harus ditebus sendiri.

Kekasih Terbang Jauh

Ketika saat perpisahan tiba, tak ada lagi upaya yang mampu mencegah. Ricky meregangkan pelukan Donna ketika terdengar pengumuman lewat pengeras suara bandara Hasanuddin yang mengisyaratkan saat keberangkatan.
“Percayalah, honey. Meski pun tubuhku pergi, tapi hatiku tetap tinggal di sini. Perasaan cintaku takkan pernah punya ganti dirimu. Aku pergi untuk segera kembali,” bujuk Ricky dengan lembut.
Donna berusaha sekuat tenaga membendung air mata yang sudah siaga meluber dari kelopak matanya. Bibirnya bergetar digigit sekuat mungkin untuk menangguhkan perasaannya.
“Titip Donna, ya Ory,” pinta Ricky pada sahabat Donna.
Ory hanya mengangguk perlahan, karena ia juga mampu merasakan kekecutan jiwa sahabatnya di ujung tangis. Bibirnya tak sanggup mengeluarkan perkataan, karena itu toh sudah terwakilkan dalam anggukan sesaat.
Donna pun kian larut dalam diam yang beku. Ia hanya coba mengembangkan senyum tipis di sudut bibirnya. Ricky pun mengecup kening kekasihnya untuk terakhir kali. Kemudian ia segera melangkah ke ruang keberangkatan dan bergabung dengan penumpang lainnya.
Air mata Donna akhirnya terburai juga, ketika sosok kekasihnya menghilang di balik pintu. Tinggallah perasaan kehilangan yang bergayut memberati hatinya.
Suara deru pesawat akhirnya menjadi penanda mulai terbentangnya jarak yang memisahkan kedua hati yang saling cinta itu. Tanda yang mengawali kenyataan pahit bagi keduanya dalam asa yang tersisa. Adakah esok akan ada pertemuan kembali.

Duka Mulai Menyapa

Di kamar kost, Ory dan Donna terbenam dalam suasana duka. Nuansa perpisahan masih terasa. Meski Ory kemudian dapat terbenam dalam Map tidurnya, tapi Donna tak juga mampu memejamkan matanya. Saban kali ia mencoba memicingkannya demi memancing kantuk, tapi seketika itu pula langsung menyeruak bayangan Ricky kekasihnya.
Donna gelisah, terlebih saat membayangkan peristiwa terindah yang telah dilakoninya bersama. Peristiwa yang mengesankan bahagia sekaligus membawa debar untuk selaksa pertanyaan. Apakah akibatnya nanti?
Adakah nasib mereka akan meniru kisah tragis insan usiran dari sorga kebahagiaan. Entahlah. Tapi yang pasti ada rasa gelisah yang terus membayangi Donna seperti itu. Ada perasaan takut yang bermula dari ketidakpastian masa depannya dengan Ricky, sementara benih yang telah ditaburkan atas nama cinta, kini terasa menjadi sesuatu dosa yang menghantu.
Di puncak gelisahnya, pada akhirnya Donna tidak lagi terlalu peduli apa harus terjaga atau tertidur barang sejenak. Sebab baginya esok selalu akan hadir dengan segala kepastiannya, pahit atau manis, itulah takdir.
Takdir, terkadang jadi sesuatu yang tak terbayangkan. Dan itu tak dapat diterangkan sebagaimana datangnya virus mematikan, namun kalau kita bijaksana maka akan ditemukan pola-pola yang memberikan gambaran apa yang paling mungkin terjadi.

Dia Selalu Membayang

Mengusir jenuh, Donna dan Ory jadi pelanggan Mall, cafe, salon, bioskop atau pun Butik. Di tengah keramaian Donna bisa lupa barang sejenak, sedih saat perpisahan hari kemarin.
Dalam gegap dunia kosmetik itu segala dorongan shophacholiknya ia lampiaskan hingga suatu ketika ia berjumpa kembali dengan sang pria misterius usia separuh baya. I )ia yang selalu sedia jadi semacam ATM mesin bayar untuk belanjanya.
“Lagi asyik belanja, Non? Wah pilihan warnanya mantep-mantep,” sapa si Om yang tiba-tiba hadir di belakang Donna saat asyik memilih-milih busana.
Donna sedikit terkejut, sekaligus lega. Jika si Om hadir tentu dompetnya akan aman. “Ah, Om ngaget-ngagetin saja. Kirain siapa.”
Ory mencubit lengan Donna.
“Ih, sebel deh. Si Om lagi…si Om lagi,” bisik Donna di telinga Ory.
“Sssst…, ini kesempatan, Non. Porotin saja si om malaikat itu. Tapi aku nitip juga yah,” balas Ory berbisik.
“Ih, dasar cewe matre!” timpal Donna sambil kembali mencubit Ory.
“Ayo, ambil saja semua yang kamu senangi. Tak usah malu-malu. Santai saja. Ory juga boleh. Atau mau jadi penonton saja?” Goda si Om.
“Ayo, Non. Ambil… cepetan. Jangan sampai si Om keburu berubah pikiran,” Desak Ory sambil berbisik.
Donna mencubit lengan Ory lebih keras. Ory menjerit kaget. Si Om juga kaget. Akhirnya, mereka tertawa bersama menyadari kelucuan itu.
Si Om pura-pura pilon, ketika kedua gadis belia itu memborong beberapa potong busana dengan harga yang cukup mahal. Dia hanya mengantarnya ke kasir lalu menodorkan kartu debetnya untuk diproses.

Bunga-bunga Berkembang

Bunga-bunga yang kuncup dan mekar di halaman sekolah, menjadi pertanda musim bunga tiba. Begitu cepat sang waktu berganti, hari, minggu seperti selintas saja menapak.
Tapi Donna tak mampu menikmati keindahan musim bunga itu. Hari-hari terasa panjang dan membosankan. Pelajaran di sekolah melintas begitu saja. la sangat sulit berkonsentrasi. Ingatannya selalu pada Ricky dan segala kenangan lalu. Tapi bayang hitam kenanganlah yang kini terus mengganggu.
Walau guru yang memberi pelajaran hari ltu adalah guru yang paling simpati, sangat disenangi murid-murid sekelasnya, namun bagi Donna itu tidak menarik baginya. la lebih banyak larut dalam lantun lamunan yang menerawan pergi.
Untuk menyadarkan Donna, sesekali Ory menyikut lengan sahabatnya itu. la mengingatkan agar jangan menerawang begitu, bisa-bisa jadi sasaran perhatian teman-teman sekelas.
“Donna, Please….” Bisik Ory. Donna hanya melenguh perlahan, tapi tak mampu menghidupkan gairah hidupnya.

Mawar Itu Pucat

Mawar yang dirangkai Ricky di vas bunga kamar kost Donna, kini pucat sudah. Sepucat penghuninya yang makin kehilangan gairah hidup. Pagi itu Donna terlihat pucat, perasaannya sangat malas beranjak dari peraduannya.
Ory yang baru keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah tergerai. Melihat kelakuan Donna ia menghela nafas. ” Eh, nona besar, kok masih tidur. Ayo bangun dong, Non. Ini sudah jam berapa, nanti kita terlambat ke sekolah.”
“Kepalaku pusing, Ry,” keluh Donna lirih. Belum lagi ia menyelesaikan kalimatnya ia sudah berlari menghambur ke kamar mandi. Dari balik pintu Ory mendengar Donna muntah-muntah. Tak lama kemudian pintu kamar mandi kembali dibuka dan Donna keluar dengan wajah pucat.
Ory cukup kaget melihat kondisi Donna. Ia segera menghampiri sahabatnya. “Wajahmu sangat pucat, Non… lambat tidur ya semalam? Kamu pasti masuk angin deh,” tanyanya bertubi-tubi.
Donna hanya menggelengkan kepalanya sambil duduk di tepi pembaringan dan berusaha menenangkan dirinya dengan memejamkan mata. “Badanku terasa bagai remuk, Ry… sejak kemarin perasaanku mual. Sepertinya kepingin muntah.”
“Oh itu biasa, sakit perempuan barangkali? Aku juga kalau sedang menjelang haid sering begitu. Apa kamu…..?” selidik Ory penuh perhatian.
“Perasaanku aku sudah terlambat seminggu, Ry. Kenapa ya….? Jangan-jangan…”’ ia memandang Ory dengan penuh harap, sahabat¬nya memaklumi apa maksud dari pertanyaannya.
“Jangan-jangan kenapa?” selidik Ory, lu’lum mengerti apa yang dimaksud pertanyaan Donna.
“Jangan-jangan……..,ah,” Donna tidak mampu melanjutkan kalimatnya ketika rasa nihil kembali menyergap perasaannya. la membekap mulutnya dan kembali bergegas ke kfitn.ir mandi…

Waktu Bagai Berhenti

Dokter Mahfud keluar dari ruang periksa dan kembali duduk di meja kerjanya. la lalu mengambil kertas resep dan menuliskan sesuatu. Tak lama kemudian Donna menyusul keluar sambil merapihkan kembali bajunya. kemudian kembali duduk di kursi depan meja kerja dokter Mahfud.
Sang dokter tersenyum setelah memperhatikan test pack. Dengan ramah ia berkata “Selamat, Nyonya…sampaikan pada suami anda, ini positif.”
Bak disambar petir Donna kaget. Ia mengintip Dokter Mahfud dengan perasaan tak percaya. Kemudian menatap Ory dengan cemas, seolah mohon bantuan perasaan. Tapi Ory hanya tersenyum sambil memicingkan mata memberi isyarat.
” Positif, dok? Tidak salah?” Tanya Donna sekali lagi mengharap kepastian.
“Hmh, ada apa? Nyonya tidak bergembira mendengar kabar baik ini?” Jawab dokter Mahfud seakan memahami kebimbangan perempuan muda di hadapannya itu.
Donna tidak menjawab hanya memandang Ory dengan wajah yang pucat. Perasaannya lemas, seolah seluruh langit runtuh sudah. la sangat sulit mengendalikan dirinya lagi. Ketika itu waktu terasa bagai berhenti. Perasaan Donna melayang. Ory membimbing sahabatnya ke luar meninggalkan ruang praktek dokter Mahfud.
Dengan menumpang taksi keduanya kembali ke rumah kostnya. Di perjalanan Donna kian dibekap perasaan bingung. Dengan sayu ia memperhatikan berbagai kendaraan yang lintas berpacu, lalu kemacetan dan suara klakson yang seolah serentak berbunyi, sahut menyahut dan membuat kepalanya makin pening. Selanjutnya ia tak ingat apa-apa lagi.

Arang Membekas Di Kening

Tak ada lagi kegembiraan di hati Donna, la bagai mawar yang kian pucat kehilangan asa. Kepastian dari dokter Mahfud adalah vonis yang menggusur seluruh kegembiraan masa remajanya. Donna Bingung resah dan gelisah, tak tahu mau berbuat apa¬-apa. Hanya Ory seorang yang mampu sedikit membasuh duka laranya. Hanya sahabatnya itu yang jadi penentramnya.
“Maaf, Non….bukan maksud hatiku menambah kecemasanmu dan membuat hatimu borsedih, tapi karena Ricky tak ada di sini dan belum juga ada kabar beritanya, maka kita harusnya mencari jalan keluar masalahmu,” kata Ory hati-hati, menjaga jangan sampai hati sahabatnya tersinggung.
“Begitu besar perhatianmu padaku, Ory. Terima kasih,” sambut Donna mendengar ungkapan sahabatnya. “Saat ini aku betul-betul bingung, pikiranku kalut. Aku tidak tahu haras berbuat apa. Orang tuaku yang jauh dl kampung, entah apa reaksinya jika tahu keadaanku. Mereka pasti kecewa. Maksud mereka mengirimku ke kota adalah untuk menuntut ilmu, bukannya menyimpan janin di perutku. Aku takut Ory, Aku telah membuat mereka kecewa, tentu mereka akan sangat sulit menerima kenyataan pahit ini, jika mengetahuinya. Aku telah mencorengkan aib di wajah keluargaku,” keluh Donna dalam tangisnya yang berderai.
Mereka kemudian larut dalam nelangsa hati masing-masing. Belum menemukan solusi yang terbaik dan apa yang bisa dilakukan. Tiba-tiba Ory seolah mendapat ide. Namun dengan sangat hati-hati ia menyampaikannya.
“Donna, jangan marah, yah. Aku ada ide gila. Aku tidak tahu apakah kamu setuju atau tidak.” Tutur Ory perlahan.
“Apapun idemu, aku akan setuju jika itu demi kebaikan dan jalan keluar dari kemelut ini. Yah kenapa tidak?” sahut Donna pasrah.
“Bagaimana,……bagaimana kalau janin itu, kita gugurkan?”
Donna hanya mampu membisu mendengar ide gila temannya itu. Matanya bak mata soekor kelinci yang lemah memohon bantuan setulusnya.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: