Part 2. NOVEL BULAN DIATAS BARA.
KARYA DR SYAHRIAR TATO.

Jalan Sia-sia

Beberapa toko obat, toko jamu peluntur didatangi Donna dan Ory. Tak juga membuahkan hasil sebagaimana yang mereka harapkan. Demikan pula saat meminta ban¬tuan dukun unit untuk menggugurkan janin di kandungan Donna itu.
Hari-hari selanjutnya perkembangan perut Donna kian membusung kentara. Akibatnya Donna tak bernyali lagi mengikuti pelajaran di sekolah. Jika Ory kesepian di sekolah, giliran Donna jika tinggal sendiri di rumah. la hanya melamun sambil memandang ke luar jendela, berharap tukang pos tiba-tiba datang membawa berita.
Tapi harapan tinggal harapan yang dinanti tak kunjung tiba. Di saat demikian itu Donna merasa semakin kesepian. Ory tak ada bedanya, harus pulang sendiri dan menelusuri koridor sekolah dalam sepi.
Kalender penanggalan pun dicoret hari demi hari, dan minggu bulan terus berganti dengan cepat. Keduanya makin dihimpit beban yang menggunung, semakin berat di dada, di jiwa.
Akhirnya Donna memutuskan untuk pulang ke orang tuanya.
Menumpang bus umum, Donna kembali ke kampung. Ory hanya bisa mengantar hingga di terminal. Kata-kata perpisahan, tak juga mampu menghibur hati Donna. Gadis malang itu hanya memelihara kepasrahan di hatinya, apapun yang akan terjadi. Buah dosa telah ditelannya, harus dipertanggungjawabkan dengan segala pertaruhan.

Di Puncak Gundah

Di ruang tengah rumah berarsitektur Bugis itu, Andi Makkawaru mondar mandir dengan muka ditekuk menahan amarah. Sebagai bangsawan, ia merasa sudah dipermalukan anak semata wayangnya. Sementara Donna duduk bersimpuh di hadapan bundanya, Andi Darauleng, bak terdakwa ia tanpa daya.
Ibu dan anak itu sama-sama tenggelam dalam deraian air mata. Donna mengaku apa adanya dengan aib yang telah dilakoninya. “Begitulah, semuanya terjadi, diluar kontrol kesadaran kami. Kami hanya tak ingin dipisahkan. Ampunkan kami bunda,….Petta.”
Andi Makkawaru hanya mendengus marah “Lantas dimana tanggung jawab lelaki itu?”
“Saya yakin dia pasti bertanggungjawab, sekembalinya dari Wellington, Petta.”
“Begitu kuatnya keyakinanmu. Syukur kalau dia kembali. Bagaimana jika sebaliknya? la orang asing, urusannya bisa semakin rumit.” Lenguh sang ayah.
Keduanya tenggelam dalam diam beberapa saat. “Perutmu yang semakin besar tak akan mau menunggu. Keadaan akan kacau. Apa omongan orang kampong ini. Anak seorang bangsawan yang dihormati, sudah mencorengkan arang di kening keluarga. Dan malu… Siri’ itu akan menjadi tanggungan kita sekeluarga. Sampai Ricky datang. Huh… kalau tidak mengingat bundamu ini, entah apa yang akan terjadi.”
“Sudah, Daeng, sudah begini nasib anak kita,” keluh Andi Darauleng di sela tangisnya.
Melihat keadaan istrinya, Andi Makkawaru tidak tahan berlama-lama lagi di situ. la segera berlalu meninggalkan ruangan itu sambil membanting pintu.
Ibu dan anak itu saling tenggelam dalam duka. Ada kecamuk kesedihan yang mirip di jiwa mereka, tapi dalam ungkapan yang berbeda.

Hari Penuh Derita

Hari-hari penuh derita itu akhirnya datang juga. Seperti pagi itu, saat penduduk desa masih terlelap dalam buaian embun subuh, Donna sudah nampak di depan jendela. Matanya menerawang jauh sarat penantian.
Dalam suasana nelangsa itulah tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara gitar yang dimainkan dengan serampangan. Seorang pemuda desa yang bertampang serampangan bermain dan menyanyikan lagu ala Rhoma Irama dengan nada seronok, Donna, primadona desa…..kemudian ia lanjutkan dengan bersyair:
Primadona Desa
Izinkan aku memetikmu
Untukmu
Kutanamkan dalam
jambangan hati sanubariku
Hai…bunga Primadona Desa
Begitu berulang-ulang pemuda desa urakan itu bernyanyi dan bersyair. Nadanya bak menyindir kehadiran Donna. Donna pun dibuat gerah karena ulahnya. Wajahnya jengah mendengar syair yang dirasa menyindirnya. Dengan jengkel Donna meninggalkan jendela yang kemudian disambut tawa cekakakan sang pemuda. Ketika ada pemuda lain yang lewat ia malah menyindir dengan lebih tajam.
“Sombong sekali si Donna sekarang. Cuh…. mentang-mentang sekolah di kota, kita berlagak dibuang. Seolah tak kenal kita he…he…, keterlaluan,” umpatnya sambil berlalu.

Putusan Menentukan

Di rumah bambu kebunnya, Andi Makkawaru sedang merenung. Tak juga terpecahkan jalan keluar yang bijak, bagaimana harus menyikapi keadaan anaknya tersayang. Sebagai bangsawan ia merasa ditampar, dipermalukan. Tapi ia tak mampu bertindak apa-apa. Untuk sementara ia hanya bisa menelan kepahitan yang menyekat di kalbunya.
Ketika kegundahan itu kian menggunung, tiba-tiba Andi Makkawaru merasakan sentuhan yang hangat dan lembut di pundaknya. Andi Darauleng istrinya tercinta, telah berada di sisinya dengan tatapan penuh empati. Sang suami menatap haru pada sang istri. Hanya belahan jiwanya itulah yang selalu mampu menyejukkan hatinya, di saat-saat gundah seperti itu. Untuk sang istri, Andi Makkawaru sanggup mengalahkan segala ego dirinya.
“Pulanglah, Daeng, aku lelah mencarimu kemana-mana.”
Andi Makkawaru menghela nafas berat. Matanya lesu. la berusaha tersenyum di antara getir hatinya. “Di sini aku mencari ketenangan. Aku takut mata dan pikiranku gelap dan melakukan tindakan yang tidak manusiawi.” Matanya menerawang jauh.
“Rasanya, baru kemarin kita bersama Donna bermain di sungai sana. Mengapa semua begitu cepat berlalu. Kenangan yang manis dulu, kini menjelma menjadi hidup yang terasa pahit. Kepahitan yang harus kita telan. Apa salah kita? Aku sungguh malu, tak mampu menjaga anak kita, Uleng,” keluh sang suami dengan rasa nelangsa.
Istrinya megelus dengan lembut rambut suaminya. la ikut larut dalam harus suasana. Dengan sadar ia melihat rambut suaminya yang mulai beruban.
“Sudah terlalu tua kita. Ah, mengapa hidup kita rasanya menjadi sia-sia,” keluh Andi Makkawaru.
“Sudahlah, Daeng. Apa yang terjadi adalah rencana Allah semata. Ini juga ujian yang tidak bisa kita hindari. Aku juga merasakan ke¬kecewaan di hatiku, aku juga merasa mala dengan aib di kening keluargaku. Donna anak yang kita damba akan meningkatkan derajat kita. Jadi kebanggaan kita ternyata menghadirkan kenyataan lain,” ungkap Andi Darauleng hati-hati.
“Justru membawa petaka di hari tua kita/’ Keluhnya lirih.
“Tapi kita mau bilang apa lagi. Semuanya sudah terjadi. Bagaimana pun Donna anak kita. Apakah kita sanggup menyingkirkannya dari hati kita?
Andi Makkawaru tercenung beberapa saat. la tidak dapat langsung menjawab pertanyaan istrinya. la hanya memandang jauh ke dalam mata istrinya, seolah ingin menyibak apa yang berkecamuk di sana. Dan perasaan cintanya tumbuh dan tumbuh saban kali menatap keheningan mata itu. Memang ada kekecewaan di dasar sana, tapi ia tak sanggup membiarkan istrinya hanyut dan tenggelam sendiri dalam duka lara itu. Karenanya ia menggenggam tangan istrinya dengan lembut dan menariknya duduk di sebelahnya.
“Lalu, menurutmu apa yang terbaik buat kita, Andi? Kita harus bagaimanakan, Uleng?
Apakah kita harus menerima keadaan Donna, pasrah begitu saja?” desaknya perlahan.
“Suka atau tidak suka, kita harus ikut memanggul beban duka cita anak kita. Kejadian sudah di depan mata. Kita harus berjiwa besar menghadapinya, mau menerimanya dengan ikhlas. Kita orang tuanya, adalah tempat satu-satunya bagi anak kita menyandarkan harapan. Kalau kita pun tidak mampu memahaminya, maka kepada siapa lagi Donna harus menggantungkan harapan. Kita tentu tidak sanggup membiarkannya terlunta-lunta memohon belas kasih orang lain,” ujar Darauleng menegarkan perasaannya.
Andi Makkawaru kembali terdiam. Itulah kerisauannya. Ada perasaan kontradiksi yang sejak beberapa waktu mengguncangkan perasaan dan pertimbangannya. Kadang ia ingin mengedepankan harga diri kebangsawanannya, di kesempatan lain ia berbalik lebih bijak siap menerima kenyataan yang pahit itu.
Mendengar ungkapan hati istrinya, hatinya jadi semakin diliputi tanda tanya, apakah ia harus menerima segalanya dengan ikhlas? Atau…harus menegakkan harga diri.
“Jangan ragu, Daeng. Bagaimana pun kita harus menyelamatkan janin dalam rahim Donna. Ia calon cucu kita. Dia mengharapkan pertolongan kita, kasih sayang kita, uluran tangan kakek dan neneknya. Tidakkah kau merindukan disapa Dato oleh cucumu yang bakal lahir nanti?” Kata Darauleng membesarkan hati suaminya.
“Baiklah. Apa yang baik bagimu, itulah yang terbaik bagiku. Bersamamu aku selalu sanggup menentang arah, siapa pun. Apa yang terpaksa kita alami ini, Insya Allah ikhlas kuterima sebagai kehendakNya. Benar yang kamu sarankan, kita harus berjiwa besar menerimanya. Kita harus lebih mencintai kehidupan dibanding jalan darah. Mudah-mudahan keikhlasan ini ada berkahnya buat keluarga kita.”
“Ya, Daeng” sambut Darauleng bahagia.
“Kita harus mencari jalan keluar yang terbaik, agar aib ini bisa tertutupi. Tanpa harus terlalu mencemarkan nama dan martabat keluarga kita.”
“Ya, Daeng, kita harus hati-hati mencari jalan penyelesaiannya. Kita tentu maklum masyarakat di desa ini tentu belum bisa menerima kenyataan semacam ini,” sambung Darauleng.
“Satu-satunya jalan. Kita harus mengawinkannya dengan seseorang, sebelum perut Donna semakin membesar. Masalahnya tinggal apakah Donna bersedia?” kata Andi Makkawaru setelah menemukan idenya.
“Itu yang kuragukan” bisik Darauleng.
“Tapi itu jalan satu-satunya. Akan kubicarakan dengan keluarga dekat kita. Bujuklah Donna agar mau menuruti rencana kita.”
“Apa tidak perlu mencoba dulu menghubungi pacar Donna di Wellington?”
“Tak ada waktu lagi. Di saat begini kita harus bertindak cepat dan tegas. Lagi pula, berapa lama kita harus menunggu kabar dari seberang lautan itu? Akan terlalu lama, dan itu beresiko rahasia keluarga ini akan terungkap,” kata Andi Makkawaru tak sabar.
Kalau begitu beri aku waktu bicara dengan Donna. Mudah-mudahan dia memahami keputusan kita,” timpal Darauleng lega.
“la harus menerimanya. Jangan lagi menambah pusing. Urusan membujuknya semua kuserahkan padamu.”

Airmata Pun Berderai

Andi Darauleng membelai Donna di pangkuannya. Sambil menelisik rambut Donna, dia coba menjelaskan hasil pembicaraannya dengan Andi Makkawaru kemarin.
Donna dibuat terkejut atas keputusan itu. Tapi ia tak kuasa menepis vonis yang telah dijatuhkan ayah ibunya, keluarganya. Donna sadar, apapun alasan penolakannya, tentu ia takkan berdaya menolak vonis ayahnya itu. Akhinya ia pasrah akan apapun yang terbaik untuk keluarganya akan diterima.
Andi Darauleng berusaha menghibur hati Donna yang sesunggukan menangis di pangkuannya. Air mata kesedihan adalah penanda luka yang mengangah disanubari.
Airmata adalah lambang kesedihan dari ketidakmampuan menerima yang tidak diinginkan, diharapkan. Seseorang, siapa saja tentu punya airmata. Air mata adalah senjata. Adalah obat dari nelangsa. Dan saat airmata itu tumpah, pasti ia akan mengalirkan sejenak timbunan lara. Meski tidak selamanya mampu menyelesaikan masalah sebagaimana yang diharapkan.
Donna menyadari itu, airmatanya tak akan sanggup merubah keputusan ayahnya.
“Baik, Bunda. Tapi izinkan aku mengirim surat, penyampaian terakhir kalinya untuk Ricky. Bagaimanapun, untuk ini ia pantas tahu.” Pintanya memelas.
“Baik. Donna, terima kasih atas pengertianmu,” timpal ibunya, sambil mencium kening anaknya.

Titip Rindu yang Menggapai

Dear Ricky,
Bagaimanapun kamu hams tahu, keadaanku, kesedihanku disini. Segala kesedihan serasa tak tertanggungkan tanpamu. Dan itu agaknya akan segera mencapai puncak di sini, beberapa waktu lagi.
Apa yang menjadi keputusan orangtuaku, pastilah yang terbaik bisa mereka lakukan. Bagaimana pun pahitnya, hams ikut aku telan. Karena kita jua penyebabnya. Kita yang tanpa daya mencegah kenyataan pahit ini.
Kalau apa yang direncanakan ini memang pasti terjadi, kuharap kau bisa mengerti, tidak menyesalinya. Karena ini kuterima demi menyelamatkan janin kita juga.
Sayang, rasanya aku tak sanggup lagi meneruskan surat ini, kecup sayang dari seberang.
Pilahan hatimu,
Donna.
Donna mengakhiri rangkaian kalimat surat itu, saat derai airmatanya tak terbendungkan lagi. Dengan sampul biru amplop direkatkannya dengan harapan segera sampai ke tangan kekasih hatinya di Wellington.
Kepada Ory dititipkannya surat itu. Pada sopir bus yang akan mengantar ke kota, ia berpesan agar surat itu bisa tiba di tangan sahabatnya, dengan selamat dan aman. Untuk itu ia memberi tip yang lumayan. Pada Ory, Donna pun menggoreskan apa yang dialaminya selama di desa.
Sesampai di kota Sopir bus mengantarkan surat itu buat Ory. Sahabat Donna itu langsung menyambutnya dengan kecamuk perasaan. Apa yang terjadi pada sahabatnya di nun desa sana.
Setelah membuka sampul surat dan membacanya. Ia sedikit lega meski airmatanya sempat juga terkuras membayangkan derita Donna sahabatnya. Tapi ia juga bisa sedikit bersyukur karena solusinya telah ada meski terlalu pahit bagi Donna.
Usai membaca surat itu Ory termenung. Mengapa nasib yang naas itu harus menimpa gadis secantik dan sebaik Donna. Inikah akibat dari pergaulan kota. Bagi siapa yang tidak mampu mengendalikan diri pasti akan terlindas oleh akibat-akibatnya.
Merenungi itu, merinding bulu kuduk Ory. Semoga itu jadi yang terakhir kali.

Pelaminan Duka

Saat maha menegangkan dan menyiksa itu akhirnya tiba juga. Segala persiapan keluarga sudah ditata. Andi Makkawaru bersama istri disertai keluarga dekatnya, sudah siap.
Tak lama kemudian keluarga kerabatnya datang melamar Donna di siang hari itu. Segala persiapan dibicarakan tanpa banyak basa-basi. Semua berlangsung dengan mulus.
Sementara Donna dikamarnya kian tenggelam dalam kesedihan dan tangis. la tidak peduli lagi akan apa yang terjadi di ruang depan rumahnya.
Sejak hari itu si gadis malang lebih banyak diam dan termenung. Kadang menyesali keterlanjurannya di hari kemarin. Dilain waktu tersenyum bahagia mengenang masa-masa lalu yang indah. la kadang dipermainkan goda pikirannya, apakah yang dialaminya itu cinta atau nafsu semata. Kalau cinta mengapa ada penyesalan dan duka, kalau permainan nafsu, mengapa ia begitu mudah terpengaruh.
Di sisi lain, persiapan demi persiapan dilaksanakan. Semua berlangsung sewajar mungkin sesuai kesepakatan. Banyak keluarga dan kerabat yang datang mendukung segala persiapan itu.
Saat hari perkawinan kian mendekat, Ory pun menyempatkan datang. Donna begitu bahagia melihat sahabatnya itu akhirnya menemuinya juga. Dia menyambut sahabatnya yang baru saja turun dari bendi tepat di depan pekarangan rumahnya. Keduanya berpelukan hangat tanpa hamburan kata-kata.
“Ry, aku benar-benar berterima kasih atas kedatanganmu ini. Betapa aku merindukanmu,” sambut Donna.
“Aku tahu, aku bisa merasakannya, Non/’ timpal Ory coba menghibur. “Siapa lelaki itu?” selidik Ory.
“Entahlah, aku juga tidak tahu” bisik Donna.
Ketika hari perkawinan tiba, Donna akhirnya bersanding dengan seorang pria yang baru dijumpainya. Gaffar namanya. Berwajah brewok berkesan sangar. Tetapi sama sekali tidak cerdas. Bahkan terkesan tak acuh dengan segala formalitas perkawinan itu. Bagi Donna, perkawinannya, tak ubahnya dengan pelaminan duka.

Neraka Yang Menyala

Rumah tangga semu yang dirancang untuk Donna dan Gaffar, tak ubahnya kubah neraka dunia yang menyala. Keduanya tak pernah bertegur sapa sebagaimana layaknya suami istri. Dalam pergaulan keluarga pun, tak ada api cinta yang menyala.
Bahkan hasrat yang coba dinyalakan, hanya di permukaan saja. Ibarat Win yang terbakar sesaat, tak seberapa lama langsung redup, terkulai, mati, tanpa dorongan angin sekalipun. Gaffar selalu terkulai di saat penetrasi sudah siap. la loyo tak bertenaga. Bagaimana mungkin ia bisa menunaikan hasratnya, pada tubuh yang seolah tak berjiwa.
Akibat derita yang berulang akhirnya Gaffar kian trauma dan terjerumus pada gejala impotensi. Ini pula yang sering memicu pertengkaran dalam keluarga muda itu. Pada suatu puncak pertengkarannya, Gaffar malah nekad meninggalkan rumah.
Menggambarkan neraka dunia perkawinannya itu, Donna rajin berkirim kabar, curhat pada Ory. Hanya itulah yang menjadi katup pelega beban jiwanya. Ory pun selalu terbuai kesedihan. Air matanya berlinang-linang setiap kali menerima surat Donna. Sebagai sahabat, tak banyak yang dapat ia perbuat, selain menampung segala keluh kesah sahabatnya itu. Kadang, jika tak tahan, untuk meluapkannya, ia menemui si Om yang misterius dan menyampaikan derita sahabatnya. Si Om selalu sabar ikut menampung duka lara itu.
Andi Makkawaru dan istrinya Darauleng pun ikut bersedih melihat kemelut keluarga tanpa harmoni itu. Keduanya tidak berdaya, tak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya diam dan diam. Sadar, bahwa sekali waktu, akan segera terjadi ledakan masalah. Boleh jadi ujungnya adalah sesuatu yang tidak mereka inginkan. Dan kejadian itu pelan-pelan datang seiring kecepatan bergantinya waktu.

Petaka Itu Datang Sudah

Petaka itu akhirnya datang juga. Awalnya Gaffar nampak diantara para pemuda desa. Ikut bermusik dan bermabuk-mabukan. Di kelompok itu, nampak juga si Sompa, pemuda yang sering menyindir Donna.
Sompa yang melihat Gaffar di tengah kelompok itu, jadi bertanya-tanya, ada apa dengan si pengantin baru? Mengapa lebih memilih hadir di situ, daripada bercumbu dengan istri baru?
Menerka-nerka itu membuat Sompa bertanya-tanya “Kelihatannya Daeng Gaffar tidak gembira hari ini. Ada apa ya? Biasanya pengantin baru saat begini enggan keluar rumah, istri yang muda, cantik, seksi mau apa lagi? Siapa yang tidak bahagia?” Pancing Sompa sambil tertawa.
Gaffar hanya berdiam diri. Sompa malah mendekatinya dan kian menggoda. “Punya problem ya? Ceriterakan padaku, mungkin aku dapat membantu Daeng,” Goda Sompa.
Gaffar masih saja diam, enggan menjawab. Terkadang ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi selalu berubah pertimbangan.
Setelah didesak terus menerus, akhirnya ia bicara juga. la membisikkan sesuatu ke telinga Sompa, yang disambut dengan anggukan paham.
“Oh, begitu masalahmu. Aku punya teman yang punya obat buat menyembuhkanmu. Pasti tokcer. Bahkan sekalian bisa diuji coba di tempatnya? Bagaimana, setuju? Desak Sompa.
Lagi-lagi Gaffar tidak berkata-kata. Tapi dia tidak menolak ketika Sompa menariknya pergi dari tempat itu.
Ternyata Gaffar digiring ke sebuah rumah bordil. Di sana dia dipersilahkan memilik siapa yang dia suka. Akhirnya dengan berbekal segelas air bercampur obat perkasa Gaffar memulai petualangannya.
Setelah meminum beberapa teguk, wajahnya perlahan memerah. Syahwatnya ikut menyala. Nafasnya mulai memburu dan diraihnya wanita pilihannya. Dan pembaringan pun menjadi teracak-acak karena pergumulan keduanya.
Tetapi, tiba-tiba nyala itu terlalu berkobar. Bahkan menghanguskan kontrol diri Gaffar. la sudah kepalang basah, tak mungkin untuk membatalkan nafsu untuk berpacu. Aroma maksiat memang sudah memabukkannya.
Nafasnya pun berkejaran, lalu menyumbat. Detak jantungnya perlahan melambat, semakin melambat, bahkan nyaris berhenti saat nyala makin tak terkendali. Reaksi obat pemacu itu, jadi pemicu esktasi Gaffar. Tragisnya ia terkulai meregang nyawa di atas mahligai dosa yang laknat.

Bunga Hitam di Pigura

Entah duka, entah bahagia bagi Donna. Ketika berita kematian itu tiba. Ia terpana. Kemudian berlari ke arah ayah bundanya yang tengah lesu di ruang keluarga.
Sesaat lalu, Sompa datang melaporkan berita duka itu.
” Celaka, Puang… Daeng Gaffar…”
“Kenapa Gaffar, Sompa?”
“Daeng Gaffar meninggal di rumah bordil. Di atas tubuh seorang Wanita Penghibur,” lapor Sompa terbata-bata.
Andi Makkawaru tersentak. Batal ia menyeruput kopi yang masih hangat di meja. Ia merasakan dingin di sekujur tubuhnya, demikian pula dengan Andi Darauleng istrinya. Keduanya bagai membeku dalam ketidakpercayaan. Segala skenario yang rapih disusunnya berantakan sudah. la tak tahu harus berbuat apa. Pada seorang bedinde di rumahnya, ia memanggil Donna.
Donna yang sedang merenung di bibir jendela, pun merasa gamang. Ada perasaan lega, ada pula beban yang semakin berat ditanggungnya.
Jenazah Gaffar pun dibawa pulang. Sebuah potret dengan pigura hitam diletakkan di ujung ranjang tempatnya terbaring. Betapa malang nasibnya. Tak mati dipucuk cinta.
Pemakaman Gaffar pun sangat sederhana. Hampir tanpa airmata. Bahkan tanya dan gos¬sip yang mengiringi.
“Celaka kampong kita. Panen gaged. Banjir pun membandang. Hama menyerang palawija. Ternyata, Donna, perempuan itu pembawa celaka. Dia Hamil!” Ujar Sompa mengumbar gossip.
“Apa hubungan kehamilannya dengan segala bencana yang kamu katakan itu, Sompa?” Desak temannya.
“Diakan, sudah punya suami!” Sambung yang lain.
“Ya, tapi mana mungkin dia hamil karena Gaffar. Dia itu bukan lelaki sempurna. Dia impoten. Apalagi, pernikahan Donna dengan Gaffar belum lagi sebulan,” Balas Sompa tak mau kalah.
“Kalau begitu, Donna itu pezinah!”
“Betul, karenanya kita harus mengusir dia. Perempuan sombong itu tidak saja membawa sial bagi suaminya, tapi juga kampong kita. Sebentar lagi seisi kampong ini akan ketularan sial, kalau kita tidak berani mengusirnya atau merajamnya” Hasut Sompa.

“Kalau begitu tunggu apa lagi?” Sambung yang lain.
Mereka pun siap melakukan aksi.

Tragedi Di Malam Buta

Kasak kusuk para pemuda yang akan menyerang rumah Andi Makkawaru santer sudah. Bahkan seseorang kerabat dekat sudah melaporkannya. Karenanya Andi Makkawaru pun mempersiapkan dirinya sebagai lelaki yang siap melindungi keluarganya.
Donna pun sudah diminta bergegas meninggalkan rumah. Tetapi ketika ia bersiap melangkah menuruni tangga rumahnya, beberapa pemuda sudah lebih dulu merubung rumahnya. Sangat sulit jalan untuk sembunyi.
Tiba-tiba saja sebuah teriakan mengawali malam naas itu. “Itu dia si wanita pezina!”
“Perempuan sial, kamu mau lari kemana?” sergah yang lain.
“Kau harus menebus dosamu dulu di sini,” ancam lelaki bertubuh gempal.
“Ayo tangkap, jangan sampai lepas,” perintah Sompa, musuh bebuyutan Donna.
Dengan langkah gemetar Donna bergerak mundur. Tak disangkanya Sompa ternyata begitu dendam padanya. Sementara beberapa lemparan batu sudah diarahkan kepadanya. Bahkan sudah ada yang nyaris mengenainya.
“Mau apa kalian?” tantang Donna memacu nyalinya.
“Tak usah banyak tanya, Pezina! Kau pembawa sial! Kau harus menghapuskan dosamu dengan nyawa. Ayo tangkap dan hajar dia. Jangan sampai lolos.”
Entah keberanian atau nekad, tiba-tiba Donna dengan berani maju menyongsong. Pada saat yang sama, Andi Makkawaru pun muncul dengan sebilah parang panjang di tangannya. Inilah jalan hidup mati yang dipertaruhkannya.
“Berani kalian menumpahkan darah keluargaku? Langkahi mayatku dulu!” tantang Andi makkawaru.
Melihat kehadiran Andi Makkawaru, membuat para penyerang itu menyurutkan langkah dan sedikit melonggarkan kepungan. Terlebih lagi ketika Andi Makkawaru terus maju dengan pasti.
Dari balik gelap. Tiba-tiba muncul sebuah mobil datang dan menghampiri Donna. Si Om turun dan bermaksud membimbing Donna naik ke mobilnya.
“Cepat naik ke mobil ini,” perintah si Lelaki Misterius yang sering disapa Om itu.
Tapi pada saat yang bersamaan tiba-tiba sebuah batu sebesar kepalan melayang datang dan tepat menghajar bahagian belakang kepala si Om. Lelaki misterius itu pun jatuh tersungkur dengan kepala berlumuran darah.
“Donna cepat pergi, selamatkan dirimu. Jangan pedulikan Om. Pergilah, cepat,” perintah si Om dengan segenap sisa tenaganya. Donna pun nekad duduk di belakang stir, lalu memacu mobil itu secepat mungkin.
Tubuh si Om yang bersimbah darah di kepung dan dihajar oleh para pemuda. Tapi Andi Makkawaru segera membelanya, mencegah kekalapan para pemuda penyerang itu.
“Tunggu, jangan main hakim sendiri. Jangan terhasut provokasi orang yang tidak bertanggungjawab. Kalau ada yang keberatan dengan masalah keluargaku, aku yang bertanggungjawab.” Kata Andi Makkawaru lantang.
Para pemuda penyerang itu mundur beberapa langkah. Andi Makkawaru pun berkesempatan mendekati si Lelaki Misterius yang jadi korban tindak kekerasan para pemuda. la membalikkan tubuh yang tertelungkup tak berdaya itu, dan matanya jadi terbelalak tak percaya ketika mengetahui jati diri si korban.
“Mariolo…..Kau?” serunya kaget.
“Ya, Ini aku Andi……” sahut Mariolo lemah.
Keduanya bertatapan dalam kecamuk perasaan masing-masing, kemudian terpelanting ke masa lalu yang menyejarah dalam hidup mereka.

Masa Lalu Yang Suram

Kenangan masa dulu bagai tertayang kembali. Saat di masa muda Andi Makkawaru, Andi Darauleng dan Andi Mariolo. Di antara mereka pernah terjalin kisah dnta segi tiga yang memicu konflik berkepanjangan.
Ketika itu, Andi Darauleng baru saja selesai kuliah. Ketika Andi Makkawaru sepupunya mencegatnya.

“Pulang Kuliah, Andi?” sapa Andi Makka¬waru pada Darauleng.
“Yah,” sahut Andi Darauleng acuh tak acuh.
“Kuantar, ya! Kebetulan aku tidak kuliah hari ini, dosenku masih di ibukota,” pinta lelaki berbadan atletis itu.
“Tidak usah… .saya bisa pulang sendiri. Lagi pula apa perdulimu/’ketus Darauleng.
“Ah, saya punya tanggungjawab kekeluargaan, untuk mengantarkanmu dengan selamat sampai di rumah. Saya kan sepupumu. Apalagi kita sudah dijodohkan. Jadi alasanku jelas,” alasan Andi Makkawaru mahasiswa semester delapan itu.
“Dijodohkan? Ah, kuno itu,” ejek Andi Darauleng pada pria yang dijodohkan orangtua mereka.
“Kalau kau menolak kali ini tidak mengapa. Tapi bagaimana pun aku tidak akan setuju kalau ada lelaki lain yang mengantarkanmu pulang. Sebab itu tanggungjawabku. Apalagi kalau Mariolo. Dia itu turunan ata, hamba sahaya di keluarga kita. Huh, ingat itu, jangan coba-coba.”
Ancam Andi Makkawaru.
Dengan kesal Andi Makkawaru berusaha menarik tangan Andi Darauleng, agar mau pulang bersamanya. Tapi Andi Darauleng berkelit. Dan ketika itu Mariolo tiba sehingga dengan berat Andi Makkawaru harus rela melepaskan tangan wanita yang sudah dijodohkan keluarga untuknya. la pun berlalu karena menghindari konflik di depan umum.
“Saya akan melaporkan kelakuanmu pada Petta. Biar tahu rasa kamu,” ancam Andi Makkawaru sebelum menjauh.

Antara Bumi dan Langit

“Keterlaluan Darauleng. Beraninya anak itu bermain api, dengan mempermainkan kesepakatan keluarga. Menolak perjodohan itu, sama saja dengan mencorengkan arang di muka keluarga.”
“Jangan terbawa emosi, Puang,” bujuk Bungawali pada suaminya La Patinrosi yang masih terbilang paman Andi Makkawaru.
“Bunga, masalah ini harus dicarikan jalan keluarnya sebelum keluarga kita sungguh-sungguh dibuat malu. Darauleng harus segera kita pisahkan dengan anak ata itu. Dan secepatnya kita nikahkan dengan Andi Makkawaru,” putus La Patinrosi.
“Tapi, anak kita itu masih kuliah. Puang.” Sanggah Bungawali perlahan. la tak ingin menyinggung perasaan suaminya.
“Ah, hentikan saja kuliahnya. Apa artinya pendidikan tinggi kalau tak bisa menjaga moral dan etika. Itu sama dengan merusak adat istiadat kita/’umbar sang Ayah.
“Jangan, emosi, Puang. Masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik/’ Bujuk Bungawali, istrinya.
“Tidak. Kita harus bertindak cepat dan tegas. Sebelum terjadi hal yang tidak kita inginkan,” timpal suaminya sambil menahan gemuruh emosi di dadanya.
“Kita bicara dulu dengan Darauleng,” pinta istrinya.
“Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Bagiku keputusanku sudah final. Derajat keluarga kita tidak setara dengan keluarga Mariolo.”
Diantara Dua Piihan
Siang itu, dua kekasih terpuruk dalam kesedihan. Di atas sedan suasana terasa beku, padahal matahari tetap membakar hari. Ada masalah yang membuat sejoli itu gerah, marah. Di zaman modern ini, mengapa masih saja ada cinta terlarang karena kasta.
Andi Darauleng menangis tersedu dipelukan Insinyur Mariolo. Meski keduanya hanya diam dan larut dalam pikirannya masing-masing. Akhirnya Darauleng mencoba memecahkan kebuntuan.
“Rio, bagaimana pun aku rasanya tidak mau berpisah denganmu. Aku tidak mau jadi korban tradisi, seperti yang dialami ribuan perempuan di negeri ini. Kita harus mengubah tradisi buruk yang telah terjadi puluhan tahun,” kata Darauleng tiba-tiba dengan bersemangat.
Ir Mariolo hanya terdiam. Hatinya duka. Mengapa keluarganya masih saja direndahkan. Mengapa harus dinistakan karena kasta. Padahal di zaman modern, derajat bisa saja karena tahta, harta dan cendekia.
Tiba-tiba Andi Darauleng mengatakan pernyataan mengejutkan, “Bawa aku pergi menjauh dari persoalan ini, kemana pun kamu suka. Jauh dari negeri ini sekali pun. Di sana, tidak ada lagi perbedaan kasta, derajat antara kau dan aku” harap sang kekasih.
Insinyur Mariolo tetap terdiam. Hatinya semakin duka. Menangis. Bukan karena nista tapi karena tak bisa berkata.
“Mengapa diam saja? Takut? Kalau kamu tidak mau mengambil resiko, biarkanlah aku turun di sini saja dan mengambil jalanku.”
“Mana mungkin nekad seperti itu. Keluargaku akan makin dinistakan,” kilah Mariolo.
“Untukmu aku telah serahkan cinta, segalanya, apa yang masih diragukan lagi?”
“Kita akan semakin salah jika menempuh jalan yang keliru.”
“Aku cuma minta, bawa aku atau turunkan aku di sini!” ancam Darauleng.
Mariolo terdiam. la terjebak pada putusan yang sulit. Antara dua pilihan, cinta dan harga diri.
Karena Mariolo hanya diam, seketika itu juga Andi Darauleng minta diturunkan dari mobil.
Saat bersamaan Andi Makkawaru beserta teman-temannya yang mengendarai motor tiba-tiba menyalib depan mobil Mariolo. Sambil berteriak-teriak menantang.
“Uleng, turun dari mobil itu!” perintah Andi
Makkawaru, sambil meraba-raba pinggangnya mencari badik yang diselipkannya di sana. “Apakah kau benar-benar mau mempermalukan seluruh keluarga kita? Turun!”
Andi Makkawaru, dengan cepat membuka pintu mobil dan menarik Darauleng yang terlihat pasrah. Sementara teman-temannya mengepung mobil Mariolo sembari menebar ancaman. Andi Darauleng kesal melihat kekasihnya yang diam saja, tidak membelanya sedikit pun, bahkan membiarkannya diseret pergi.
Karena kecewa, Andi Darauleng membiarkan saja dirinya diseret-seret. Setelah Andi Darauleng dipaksa naik di boncengan segera Andi Makkawaru meninggalkan tempat itu.

Mahligai Yang Terluka

Sejak itu Andi Darauleng berpisah dengan Insinyur Mariolo. Perkawinannya dengan Andi Makkawaru pun dipercepat. Tidak ada masalah kaerena sejak awal kedua keluarga telah bersepakat.
Tapi baru bulan pertama, kemelut sudah pecah. Itu disulut peristiwa tak terduga. Andi Makkawaru meluapkan kemarahan pada apa saja. Hampir seluruh perabot rumah tangga itu dibantingnya pecah. Sementara Andi Darauleng hanya diam, dengan wajah pasih.
“Katakan, siapa jahannam itu?…….Siapa lelaki yang menodaimu? Pasti kubunuh dia, ini siri’l” umbar Andi Makkawaru sambil memukul-mukul dinding.
Tapi Andi Darauleng tetap diam seribu bahasa. Ada perasaan sedih. Ada perasaan menang, karena ia telah menyerahkan diri untuk cintanya, dan kini berbuah sudah. Ia bisa dikalahkan dalam status, tetapi dalam kenyataan ia tetap tak terpisahkan dengan cintanya pada Mariolo.
“Kau, kau wanita pezina! Laknat kau! Kau lukai mahligai perkawinan kita, kau cemarkan kehormatan rumpun keluarga kita! Adat kita! Keterlaluan!” bentaknya sambil menampar Andi Darauleng.
Darah meleleh di sudut bibir Andi Dara¬uleng, tetapi ia tetap tersenyum di antara airmatanya yang berderai.
“Inilah yang kalian suka. Harga diri yang terluka” bisiknya dalam hati.

Cinta di Ujung Duka

Si Om adalah Insinyur Mariolo, lelaki yang pernah menyita cinta Andi Darauleng. Meski akhirnya Andi Makkawaru yang berhasil menyuntingnya.
Kedua mantan seteru bertatapan dalam kecamuk perasaan masing-masing, Ada perasaan pasrah, yang mempertemukan mereka. Masa lalu telah dibiarkannya menyejarah dalam hidup mereka. Kini di usia senja, sifat bijaklah yang meraja.
“Kau, Daeng?” sapa Mariolo dalam suara melemah.
“Ya, Ini aku. Andi Makkawaru. Ternyata Tuhan akhirnya mempertemukan kita dengan keadaan seperti ini,” ungkapnya perlahan.
“Maafkan aku, Daeng,” mohon Mariolo tulus.
Andi Makkawaru terdiam. la menggeledah diri. Apakah harus menuntaskan dendam atau memadamkannya. Di hadapan tubuh seterunya dulu, yang kini telah sekarat, apakah masih perlu badik yang bicara, sebagaimana janjinya dulu?”
“Maafkan aku, Daeng,” mohon Mariolo sekali lagi. “Donna?”
Dengan berat Andi Makkawaru menguatkan hatinya. Meredam gejolak emosinya yang tidak dewasa. Sebagai lelaki, ia tak tega berdusta di hadapan tubuh yang sekarat itu, meski orang tersebut adalah mantan seterunya.
“Ya, Donna adalah anakmu, aku hanya membesarkannya seperti anak kandungku sendiri. Aku menjaganya sekuat tenaga. Meski lagi-lagi nasib bicara lain, tapi aku tetap menyayanginya. Aku ingin menebus kesalahanku dulu. Aku kini semakin mengerti apa arti cinta suci. Tak ada satu pun yang bisa mengalahkannya. Menyita cinta suci, bagiku adalah dosa.”
“Terima kasih, Daeng. Terima kasih. Jaga anakku baik-baik. Aku ikhlaskan Donna jadi anakmu, anak kita.” pungkas Mariolo di puncak sekaratnya.
Andi Makkawaru tidak menjawabnya dengan kata-kata. Tapi matanya telah memancarkan sinar maaf yang tulus. Begitu sampai Mariolo dijemput sang malaikat maut, Andi Makkawaru merasa lega karena telah melunaskan kesalahannya di masa lalu. Ia merasa terbebas dari siksaan batin yang bertahun-tahun. Kini tuntas sudah.
Di kota sebuah mobil berhenti tiba-tiba. Donna turun dengan wajah pucat dan berlari mencari sahabatnya Ory di tempatnya kost. Ia menggedor-gedor pintu. “Ory buka pintu…. buka pintu!” desak Donna.
Meski telah digedor sekian kali, tidak juga dibuka. Ory tidak di rumah. Dengan putus asa, Donna menyandarkan diri di pintu dengan perasan gundah. Sampai suasana serasa mengabur, mengabur.
Di saat-saat waktu yang terus berlalu, tiba-tiba ia menangkap bayangan Ricky kekasihnya. Di antara rasa percaya dan ragu yang mengabur, ia menyongsong belahan cintanya itu. Dan menangis sepuasnya di pelukan sang kekasih.
“Ya, ini aku Donna. Aku kembali, honey. Maafkan aku yang terpaksa membiarkanmu selama ini, berada di atas bara kehidupan.”

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: