BUKU 2 MAKASSAR TIDAK RANTASA

Buku 2. Serial Makassar Tidak Rantasa.

        

MEMBANGUN KAWASAN HIJAU DAN BANGUNAN HIJAU YANG RAMAH LINGKUNGAN.

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

 

1.Pembangunan Berkelanjutan.

Kemajuan suatu bangsa dapat dicapai dengan melaksanakan pembangunan disegala bidang. Pembangunan merupakan proses pengolahan sumber daya alam dan pendayagunaan sumber daya manusia dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam pembangunan, perlu memperhatikan fungsi sumber daya alam dan sumber daya manusia, agar dapat terus-menerus menunjang kegiatan atau proses pembangunan yang berkelanjutan.

Pengertian pembangunan berkelanjutan adalah perubahan positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial dimana masyarakat bergantung padanya. Proses pembangunan terutama bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat baik secara spiritual maupun material. Ini menunjukan bahwa adanya suatu pembangunan karena suatu kebutuhan, dan pemecahan masalah kehidupan. Adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah suatu harapan. Jika harapan tersebut tidak tercapai timbullah masalah. Dengan persepsi demikian maka pembangunan mempunyai hubungan yang erat dengan masalah. Karena titik tolak pembangunan dimulai dari tindakan mengurangi masalah dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan meningkatkannya untuk mencapai suatu tingkatan yang layak.

Pembangunan dalam konteks Negara selalu ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat kearah yang lebih baik yang merata. Pembangunan bukan hanya berarti penekanan pada akselerasi dan peningkatan pendapatan perkapita sebagai indeks dari pembangunan saja, akan tetapi pembangunan merupakan suatu proses multi dimensi yang meliputi pola reorganisasi dan pembaharuan seluruh sistem dan aktifitas ekonomi dan sosial dalam mensejahterakan kehidupan warga masyarakat. Bagi manusia, pembangunan tidak hanya dalam konteks pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan aspek sosial ekonomi tetapi juga haruslah melihat aspek keadilan terhadap lingkungan.

Lingkungan bagi ummat manusia adalah salah satu modal dasar dalam pembangunan. Lingkungan sehat, bersih, lestari, secara tidak langsung akan mempengaruhi keberlanjutan produktifitas manusia di masa yang akan datang. Artinya, dalam konteks tersebut selain keberlanjutan dari sisi ekonomi dan sosial, maka diperlukan juga keberlanjutan pada sisi ekologis. Sinergi tiga aspek tersebut yaitu, ekonomi, sosial dan budaya didalam pembangunan disebut dengan Pembangunan Berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan adalah satu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memafaatkannya.

Menurut Brundtland Report dari PBB 1987, pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dan sebagainya) yang berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”.Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris, sustainable development. Salah satu faktor yang harus diantisipasi dalam mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki ancaman kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan berkelanjutan)

Ada dua makna gagasan yang terkandung didalam cara pandang pembangunan berkelanjutan yaitu : gagasan kebutuhan. Kebutuhan esensial untuk memberlanjutkan kehidupan manusia dan gagasan keterbatasan bersumber pada kondisi teknologi dan ekonomi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hari ini dan hari depan.

Pembangunan berkelanjutan juga mensyaratkan adanya upaya pemeliharaan keanekaragaman. Pemeliharaan keanekaragaman hayati untuk memastikan bahwa sumber daya alam selalu tersedia secara berkelanjutan untuk masa kini dan masa datang. Tak kalah pentingnya adalah pengakuan dan perawatan keanekaragaman budaya yang akan mendorong perlakuan yang merata terhadap tradisi berbagai masyarakat dan dapat lebih dimengerti oleh masyarakat.

Pemanfaatan dan eksploitasi sumberdaya alam dan ekosistemnya yang tidak diimbangi oleh upaya konservasi yang memadai telah mengakibatkan beragam dampak negatif terhadap keberlangsungan ekosistem dan lingkungan hidup. Hal ini tidak hanya mengancam keberlangsungan ekosistem dan lingkungan alam, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia. Isu pemanasan global dan perubahan iklim hanya merupakan sebagian dari beragam isu lingkungan yang sangat rumit dan pelik, baik yang bersekala lokal , nasional, maupun yang berdimensi global.

Semakin meningkat kesadaran masyarakat terhadap isu-isu degradasi lingkungan hidup telah mampu mendorong negara-negara di dunia untuk memikirkan upaya penyeimbangan laju pembangunan ekonomi dengan upaya konservasi ekosistem dan lingkungan alam. Kesadaran global ini telah melahirkan paradigma ekonomi yang memasukkan aspek lingkungan ke dalamnya, atau yang lebih dikenal sebagai ekonomi hijau. Kebanyakan negara dan pemangku kepentingan meyakini bahwa ekonomi hijau merupakan solusi bagi permasalahan degradasi lingkungan hidup dan diharapkan dapat membawa kehidupan dan peradaban global menjadi lebih baik, berkeadilan, sejahtera, dan berkesinambungan.

 

2.The Black Economy Vs The Green Economy.

 

“The Black Economy “ atau ekonomi hitam adalah pembangunan ekonomi yang bertumpu pada bahan bakar atau energy yang tidak dapat dperbaharui seperti fosil batubara, minyak bumi dan gas alam sebagai sumber energy dalam mendapatkan manfaat ekonomi dari sebuah pembangunan.

Sedangkan “The Green Economy” atau ekonomi hijau adalah pembangunan ekonomi yang bertumpu pada pengetahuan ekologi-ekonomi dengan tujuan menyelaraskan hubungan ekonomi-manusia dengan ekosistem alam serta minimasi dampak negatif akibat kegiatan ekonomi terhadap lingkungan.

Salah satu upaya pembangunan berkelanjutan berlandaskan Ekonomi hijau maka perlu membangun Kawasan hijau dan bangunan hijau ramah lingkungan baik di daerah perkotaan,maupun di daerah perdesaan.

 

3.Manfaat Kawasan hijau dan Ruang Terbuka Hijau.

Sebagaimana yang diketahui, vegetasi atau tetumbuhan dalam sistem lingkungan berperan sebagai produsen pertama yang mengubah energi matahari menjadi energi potensial untuk makhluk lainnya, perubah terbesar lingkungan dan sebagai sumber hara mineral. Setiap ada pembangunan di Kawasan perkotaan maupun di kawasan perdesaan, maka lahan pertanian, kebun buah-buahan atau lahan bervegetasi menjadi semakin berkurang.

Penghijauan perkotaan maupun perdesaan merupakan salah satu usaha pengisian Ruang Terbuka Hijau (RTH), upaya ini perlu ditingkatkan bentuk dan strukturnya menjadi hutan kota. Pertimbangannya berdasarkan potensi alam Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati yang kaya dengan iklim tropis, masyarakatnya mempunyai kebiasaan menanam, adanya kesadaran masyarakat serta rencana pemerintah.

Hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, berbentuk jalur, menyebar, atau bergerombol (menumpuk) dengan struktur meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan sehat, nyaman, dan estetis. Hutan kota sebagai unsur RTH merupakan subsistem kota, sebuah ekosistem dengan sistem terbuka. Hutan kota diharapkan dapat menanggulangi masalah lingkungan di perkotaan, menyerap hasil negatif yang disebabkan karena aktivitas kota. Aktivitas kota dipicu oleh pertumbuhan penduduk kota, seiring pertumbuhan penduduk kota yang selalu meningkat tahun ke tahun.

Salah satu dampak negative dari pembangunan perkotaan dan perdesaan antara lain meningkatnya suhu udara, kebisingan, debu, polutan, menurunnya kelembaban, dan hilangnya habitat berbagai jenis burung dan satwa karena hilangnya berbagai vegetasi dan pepohonan.

 

  1. Pencemaran lingkungan perkotaan

Pencemaran lingkungan adalah perubahan lingkungan yang tidak menguntungkan, sebagian karena tindakan manusia, disebabkan perubahan pola penggunaan energi dan materi, tingkatan radiasi, bahan-bahan fisika dan kimia, dan jumlah organisme. Perbuatan ini dapat mempengaruhi langsung manusia, atau tidak langsung melalui air, hasil pertanian, peternakan, benda-benda, perilaku dalam apresiasi dan rekreasi di alam bebas (Sastrawijaya, 2000).

Selain itu pencemaran udara terjadi jika udara di atmosfer tercampur dengan zat atau radiasi yang berpengaruh buruk terhadap organisme hidup. Jumlah pengotoran ini cukup banyak sehingga tidak dapat diabsorpsi atau dihilangkan. Umumnya pengotoran ini bersifat alamiah, misalnya gas pembusukan, debu akibat erosi, dan serbuk tepung sari yang terbawa angin, kemudian ditambah oleh ulah manusia dalam hidupnya dan jumlah serta kadar bahayanya pun semakin meningkat. Pencemar udara dapat digolongkan kedalam tiga kategori, yaitu: pergesekan permukaan; penguapan; pembakaran; (Sastrawijaya, 2000).

Pada keadaan yang masih pada batas-batas kemampuan alamiah, udara di atmosfer sebagai suatu sistem mempunyai kemampuan ekologis untuk beradaptasi dan mengadakan mekanisme pengendalian alamiah (ecological auto-mechanism) dengan unsur-unsur yang ada dalam ekosistem (kemampuan pengenceran dengan tumbuh-tumbuhan maupun lain-lain). Gangguan-gangguan terhadap ketimpangan susunan udara atmosfir dikatakan apabila zat-zat pencemar telah melewati angka batas atau baku mutu yang ditentukan oleh kuantitas kontaminan, lamanya berlangsung maupun potensialnya. Nilai ambang batas tersebut berbeda untuk masing-masing kontaminan yang ditentukan berdasarkan pertimbangan aspek kesehatan, estetika, pertumbuhan industri dan lain-lain.

Gas buang sisa pembakaran bahan bakar minyak mengandung bahan- bahan pencemar seperti sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), volatile hydrocarbon (VHC), suspended particulate matter dan partikel lainnya. Bahan-bahan pencemar tersebut dapat berdampak negatif terhadap manusia ataupun ekosistem bila melebihi konsentrasi tertentu. Peningkatan penggunaan bahan bakar minyak untuk sektor transportasi menyebabkan gas buang yang mengandung polutan juga akan naik dan akan mempertinggi kadar pencemaran udara.

Dalam upaya menciptakan serapan vegetasi terhadap karbon dioksida, Salah satu komponen yang penting dalam konsep tata ruang adalah menetapkan dan membangun jalur hijau dan hutan kota, baik yang akan direncanakan maupun yang sudah ada namun kurang berfungsi. Selain itu jenis pohon yang ditanam perlu menjadi pertimbangan, karena setiap jenis tanaman mempunyai kemampuan menjerap yang berbeda-beda.

Vegetasi mempunyai peranan yang besar dalam ekosistem, apalagi jika kita mengamati pembangunan yang meningkat di perkotaan yang sering kali tidak menghiraukan kehadiran lahan untuk vegetasi. Vegetasi ini sangat berguna dalam memproduksi oksigen yang diperlukan manusia untuk proses respirasi (pernafasan), serta untuk mengurangi keberadaan gas karbon dioksida yang semakin banyak di udara akibat kendaraan bermotor dan industri. Penyerapan karbon dioksida oleh pepohonan dengan jumlah 10.000 pohon berumur 16-20 tahun mampu mengurangi karbon dioksida sebanyak 800 ton per tahun. Penanaman pohon menghasilkan absorbsi karbon dioksida dari udara dan penyimpanan karbon, sampai karbon dilepaskan kembali akibat vegetasi tersebut busuk atau dibakar. Hal ini disebabkan karena pada hutan yang dikelola dan ditanam akan menyebabkan terjadinya penyerapan karbon dari atmosfir, kemudian sebagian kecil biomassanya dipanen dan atau masuk dalam kondisi masak tebang atau mengalami pembusukan.

 

Untuk mengetahui seberapa besar emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari aktivitas kota, maka dilakukan pendekatan penghitungan emisi karbon dioksida. Faktor emisi adalah nilai yang digunakan untuk mendapatkan berat karbon dioksida berdasarkan besaran-besaran yang dinilai, misalnya konsumsi listrik, minyak tanah, premium, solar dan sebagainya.

Biomassa atau bahan organik adalah produk dalam proses fotosintesis pada daun pepohonan. Dalam proses fotosintesis, butir-butir hijau daun berfungsi sebagai sel surya yang menyerap energi matahari guna mengkonversi karbon dioksida (CO2) dengan air (H2O) menjadi senyawa karbon, hidrogen dan oksigen (CHO). Senyawa hasil konversi itu dapat berbentuk arang karbon),kayu, ter, alkohol dan lain-lain. Biomassa vegetasi bertambah karena menyerap karbon dioksida dari udara dan mengubah zat tersebut menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis. Umumnya karbon menyusun 45-50 % bahan kering dari tanaman.

Dengan adanya Ruang Terbuka Hijau atau taman, diharapkan dapat menyerap panas, meredam suara bising di perkotaan maupun di perdesaan, mengurangi debu, memberikan estetika, membentuk habitat untuk berbagai jenis burung atau satwa lainnya. Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung atau tidak langsung yang dihasilkan oleh Ruang Terbuka Hijau dalam kota atau desa tersebut yaitu keamanan, kenyamanan,kesejahteraan,kesehatan dan keindahan.

Sebagaimana yang kita rasakan, kehadiran pepohonan dalam lingkungan kehidupan manusia, khususnya di perkotaan, memberikan nuansa kelembutan tersendiri. Perkembangan kota dan desa yang lazimnya diwarnai dengan aneka rona kekerasan, dalam arti harfiah ataupun kiasan, sedikit banyak dapat dilunakkan dengan elemen alamiah seperti air (baik yang diam-tenang maupun yang bergerak-mengalir) dan aneka tanaman, mulai dari rumput, semak sampai pohon pohon yang rindang. Dalam pelaksanaan pembangunan kawasan hijau dan pengembangannya, ditentukan berdasarkan pada objek yang akan dilindungi,hasil yang dicapai dan letak dari hutan kota atau hutan desa tersebut. Berdasarkan letaknya, berwujud hutan kota yang ada di kota besar, kota sedang, kota kecil, maupun kota kecamatan dan kota desa, yang secara skala kawasan dapat dibagi menjadi lima kawasan yaitu :

-Hutan Kota Kawasan Pemukiman, yaitu pembangunan hutan kota yang bertujuan untuk membantu menciptakan lingkungan yang nyaman dan menambah keindahan dan dapat menangkal pengaruh polusi kota terutama polusi udara yang diakibatkan oleh adanya kendaraan bermotor yang terus meningkat dan lain sebagainya di kawasan pemukiman.

-Hutan Kota Kawasan Industri, berperan sebagai penangkal polutan yang berasal dari limbah yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan perindustrian, antara lain limbah padat, cair, maupun gas.

-Hutan Kota Kawasan Wisata/Rekreasi, berperan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan rekreasi bagi masyarakat yang dilengkapi dengan sarana bermain untuk anak-anak atau remaja, tempat peristirahatan, perlindungan dari polutan berupa gas, debu dan udara, serta merupakan tempat produksi oksigen.

Hutan Kota Kawasan Konservasi, hutan kota ini mengandung arti penting untuk mencegah kerusakan, memberi perlindungan serta pelestarian terhadap objek tertentu, baik flora maupun faunanya di alam.

-Hutan Kota Kawasan Pusat Kegiatan, hutan kota ini berperan untuk meningkatkan kenyamanan, keindahan, dan produksi oksigen di pusat-pusat kegiatan seperti pasar, terminal, perkantoran, pertokoan dan lain sebagainya.

 

Di samping itu hutan kota juga berperan sebagai jalur hijau di pinggir jalan yang berlalu- lintas padat. Secara umum bentuk hutan kota di Kawasan perkotaan maupun Perdesaan adalah :

Jalur Hijau, Jalur Hijau berupa peneduh jalan raya, jalur hijau di bawah kawat listrik,di tepi jalan kereta api, di tepi sungai, di tepi jalan bebas hambatan.

Taman Kota. Taman Kota diartikan sebagai tanaman yang ditanam dan ditata sedemikian rupa, baik sebagian maupun semuanya hasil rekayasa manusia, untuk mendapatkan komposisi tertentu yang indah.

Kebun dan Halaman. Jenis tanaman yang ditanam di kebun dan halaman biasanya dari jenis yang dapat menghasilkan buah.

Kebun Raya, Hutan Raya, dan Kebun Binatang. Kebun raya, hutan raya dan kebun binatang dapat dimasukkan ke dalam salah satu bentuk hutan kota. Tanaman dapat berasal dari daerah setempat, maupun dari daerah lain baik dalam negeri maupun luar negeri.

Hutan Lindung, daerah dengan lereng yang curam harus dijadikan kawasan hutan karena rawan longsor. Demikian pula dengan daerah pantai yang rawan akan abrasi air laut .

Manfaat hutan kota di Kawasan Perkotaan diantaranya adalah sebagai berikut :

Sebagai identitas kota .

Jenis tanaman dapat dijadikan simbol atau lambang suatu kota yang dapat dikoleksi pada areal hutan kota. Propinsi Sumatra Barat misalnya, flora yang dikembangkan untuk tujuan tersebut di atas adalah Enau (Arenga pinnata) dengan alasan pohon tersebut serba guna dan istilah pagar-ruyung menyiratkan makna pagar enau. Jenis pilihan lainnya adalah kayu manis (Cinnamomum burmanii), karena potensinya besar dan banyak diekspor dari daerah ini (Fandeli, 2004).

Sebagai nilai estetika

Komposisi vegetasi dengan strata yang bervariasi di lingkungan kota akan menambah nilai keindahan kota tersebut. Bentuk tajuk yang bervariasi dengan penempatan (pengaturan tata ruang) yang sesuai akan memberi kesan keindahan tersendiri.Tajuk pohon juga berfungsi untuk memberi kesan lembut pada bangunan yang cenderung bersifat kaku. Suatu studi yang dilakukan Tyrväinen pada tahun 1998 atas keberadaan hutan kota terhadap nilai estetika adalah bahwa masyarakat bersedia untuk membayar keberadaan hutan kota karena memberikan rasa keindahan dan kenyamanan.

Sebagai penyerap karbondioksida (CO2)

Hutan merupakan penyerap gas karbon dioksida yang cukup penting selain dari fito-plankton, ganggang dan rumput laut di samudera. Dengan berkurangnya kemampuan hutan dalam menyerap gas ini sebagai akibat menyusutnya luasan hutan akibat perladangan, pembalakan dan kebakaran, maka perlu dibangun hutan kota untuk membantu mengatasi penurunan fungsi hutan tersebut. Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan, baik hutan kota, hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah gas karbon dioksida dengan air menjadi karbohidrat (C6H12O6) dan oksigen (O2). Proses fotosintesis sangat bermanfaat bagi manusia. Pada proses fotosintesis dapat menyerap gas yang bila konsentarasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan serta akan mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses fotosintesis menghasilkan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan hewan. Jenis tanaman yang baik sebagai penyerap gas karbon dioksida (CO2) dan penghasil oksigen adalah damar (Agathis alba), daun kupu-kupu (Bauhinia purpurea), lamtoro gung (Leucaena leucocephala), akasia (Acacia auriculiformis), dan beringin (Ficus benjamina). Penyerapan karbon dioksida oleh hutan kota dengan jumlah 10.000 pohon berumur 16-20 tahun mampu mengurangi karbon dioksida sebanyak 800 ton per tahun (Simpson and McPherson, 1999).

Salah satu fungsi utama dari cahaya pada pertumbuhan tanaman adalah untuk menggerakkan proses fotosintesis dalam pembentukan karbohidrat. Proses ini sesungguhnya penting, tidak hanya untuk pertumbuhan tanaman itu sendiri, tetapi juga untuk kelangsungan hidup organisme yang tergantung pada bahan organik sebagai sumber bahan makanan atau energi. Fotosintesis merupakan proses alami satu-satunya yang diketahui dapat merubah bahan anorganik menjadi bahan organik. Kepentingan karbohidrat dalam pertumbuhan tanaman terlihat jelas dalam komposisi bahan kering total tanaman yang sebagian besar (85-90%) terdiri dari bahan (senyawa) karbon. Kegunaan karbohidrat dalam pertumbuhan tanaman tidak hanya sebagai bahan penyusun struktur tubuh tanaman, tetapi juga sebagai sumber energi metabolisme yaitu energi yang digunakan untuk mensintesis dan memelihara biomasa tanaman.

Pembentukan karbohidrat dalam proses fotosintesis terjadi dalam khloroplas yang umumnya terdapat dalam organ daun, dan berlangsung melalui dua rangkaian peristiwa yang umum dikenal dengan reaksi cahaya dan reaksi gelap. Energi cahaya yang diabsorbsi oleh sistem pigmen terutama khlorofil pada reaksi cahaya mengakibatkan eksitasi elektron yaitu elektron terangkat dari kedudukan dasar ke kedudukan eksitasi I atau II pada sistem pigmen tersebut. Pada keadaan ini, pigmen berada dalam keadaan reduksi. Eklektron yang tereksitasi tidak kuat terikat pada atom atau molekul pigmen yang merupakan fungsi dari daya tarik inti. Sebagai konsekuensinya, elektron ini akan mudah ditransfer ke molekul lain di sekitarnya yang terdapat pada keadaan oksidatif.

Cahaya biru mengakibatkan elektron tereksitasi ke kedudukan eksitasi II, sedang cahaya merah dengan energi yang lebih kecil hanya menghasilkan eksitasi elektron pada kedudukan eksitasi I.Tetapi energi cahaya biru yang diabsorbsi melalui eksitasi elektron tersebut kurang efektif untuk proses fotosintesis. Alasannya adalah bahwa energi ekstra dari foto biru tidak dapat dipergunakan dengan baik, karena ini biasanya hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat .

Ruang terbuka hijau (RTH) adalah suatu lapang yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan, pada berbagai strata, mulai dari penutup tanah, semak, perdu dan pohon (tanaman tinggi berkayu); Sebentang lahan terbuka tanpa bangunan yang mempunyai ukuran, bentuk dan batas geografis tertentu dengan status penguasaan apapun, yang di dalamnya terdapat tetumbuhan hijau berkayu dan tahunan (perennial woody plants), dengan pepohonan sebagai tumbuhan penciri utama dan tumbuhan lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan tumbuhan penutup tanah lainnya), sebagai tumbuhan pelengkap, serta benda-benda lain yang juga sebagai pelengkap dan penunjang fungsi RTH yang bersangkutan.

Fungsi bio-ekologis (fisik), yang memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara ( paru-paru kota), pengatur iklim mikro, agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar, sebagai peneduh, produsen oksigen, penyerap air hujan, penyedia habitat satwa, penyerap (pengolah) polutan media udara, air dan tanah, serta penahan angin. Disamping itu mengatur ekosistem perkotaan; produsen oksigen, tanaman berbunga, berbuah dan berdaun indah, serta bisa mejadi bagian dari usaha pertanian, kehutanan, dan lain-lain

Sistem perakaran tanaman dan serasah ( kotoran, buangan, sampah ) yang berubah menjadi humus akan mengurangi tingkat erosi, menurunkan aliran permukaan dan mempertahankan kondisi air tanah di lingkungan sekitarnya. Pada musim hujan laju aliran permukaan dapat dikendalikan oleh penutupan vegetasi yang rapat, sedangkan pada musim kemarau potensi air tanah yang tersedia bisa memberikan manfaat bagi kehidupan di lingkungan perkotaan. Hutan kota dengan luas minimal setengah hektar mampu menahan aliran permukaan akibat hujan dan meresapkan air ke dalam tanah sejumlah 10.219 m3 setiap tahun (Urban Forest Research, 2002).

Sebagai penahan angin,

Hutan kota berfungsi sebagai penahan angin yang mampu mengurangi kecepatan angin 75 – 80 %.Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam mendesain hutan kota untuk menahan angin adalah sebagai berikut :

-Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat. Daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang.Memiliki jenis perakaran dalam. Memiliki kerapatan yang cukup (50 – 60 %).Tinggi dan lebar jalur hutan kota cukup besar, sehingga dapat melindungi wilayah yang diinginkan.

-Penanaman pohon yang selalu hijau sepanjang tahun berguna sebagai

-Penahan angin pada musim dingin, sehingga pada akhirnya dapat menghemat energi sampai dengan 50 persen energi yang digunakan untuk penghangat ruangan pada pemakaian sebuah rumah. Pada musim panas pohon-pohon akan menahan sinar matahari dan memberikan kesejukan di dalam ruangan. Ameliorasi Iklim

 

Hutan kota dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan untuk menurunkan suhu pada waktu siang hari dan sebaliknya pada malam hari dapat lebih hangat karena tajuk pohon dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari bumi. Jumlah pantulan radiasi matahari suatu hutan sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar matahari, keadaan cuaca dan posisi lintang. Suhu udara pada daerah berhutan lebih nyaman daripada daerah yang tidak ditumbuhi oleh tanaman. Selain suhu, unsur iklim mikro lain yang diatur oleh hutan kota adalah kelembaban. Pohon dapat memberikan kesejukan pada daerah-daerah kota yang panas (heat island) akibat pantulan panas matahari yang berasal dari gedung-gedung, aspal dan baja. Daerah ini akan menghasilkan suhu udara 3-10 derajat lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pedesaan.

Sebagai habitat kehidupan liar

Hutan kota bisa berfungsi sebagai habitat berbagai jenis hidupan liar dengan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Hutan kota merupakan tempat perlindungan dan penyedia nutrisi bagi beberapa jenis satwa terutama burung, mamalia kecil dan serangga. Hutan kota dapat menciptakan lingkungan alami dan keanekaragaman tumbuhan dapat menciptakan ekosistem lokal yang akan menyediakan tempat dan makanan untuk burung dan binatang lainnya .

 

Sebagai produksi terbatas atau manfaat ekonomi.

Manfaat hutan kota dalam aspek ekonomi bisa diperoleh secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, manfaat ekonomi hutan kota diperoleh dari penjualan atau penggunaan hasil hutan kota berupa kayu bakar maupun kayu perkakas. Penanaman jenis tanaman hutan kota yang bisa menghasilkan biji, buah atau bunga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan oleh masyarakat untuk meningkatkan taraf gizi, kesehatan dan penghasilan masyarakat. Buah kenari selain untuk dikonsumsi juga dapat dimanfaatkan untuk kerajinan tangan. Bunga tanjung dapat diambil bunganya. Buah sawo, pala, kelengkeng, duku, asam, menteng dan lain-lain dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat kota. Sedangkan secara tidak langsung, manfaat ekonomi hutan kota berupa perlindungan terhadap angin serta fungsi hutan kota sebagai perindang, menambah kenyamanan masyarakat kota dan meningkatkan nilai estetika lingkungan kota.

Hutan kota dapat meningkatkan stabilitas ekonomi masyarakat dengan cara menarik minat wisatawan dan peluang-peluang bisnis lainnya, orang-orang akan menikmati kehidupan dan berbelanja dengan waktu yang lebih lama di sepanjang jalur hijau, kantor-kantor dan apartemen di areal yang berpohon akan disewakan serta banyak orang yang akan menginap dengan harga yang lebih tinggi dan jangka waktu yang lama, kegiatan dilakukan pada perkantoran yang mempunyai banyak pepohonan akan memberikan produktifitas yang tinggi kepada para pekerja.

Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Hijau yang ideal apabila melalui Perencanaan Pola Ruang Terbuka Hijaunya. Pola ruang terbuka hijau merupakan struktur Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ditentukan oleh hubungan fungsional (ekologis, sosial, ekonomi, arsitektural) antar komponen pembentuknya. Pola RTH terdiri dari RTH structural dan RTH non struktural. RTH struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pembentuknya yang mempunyai pola hierarki planologis yang bersifat antroposentris.

RTH tipe ini didominasi oleh fungsi-fungsi non ekologis dengan struktur RTH binaan yang berhierarkhi. Contohnya adalah struktur RTH berdasarkan fungsi sosial dalam melayani kebutuhan rekreasi luar ruang (outdoor recreation) penduduk perkotaan seperti yang diperlihatkan dalam urutan hierakial sistem pertamanan kota (urban park system) yang dimulai dari taman perumahan, taman lingkungan, taman kecamatan, taman kota, taman regional dan lainnya.

RTH non struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pembentuknya yang umumnya tidak mengikuti pola hierarki planologis karena bersifat ekosentris. RTH tipe ini memiliki fungsi ekologis yang sangat dominan dengan struktur RTH alami yang tidak berhierarki. Contohnya adalah struktur RTH yang dibentuk oleh konfigurasi ekologis bentang alam perkotaan maupun perdesaan tersebut, seperti RTH kawasan lindung, RTH perbukitan yang terjal, RTH sempadan sungai, RTH sempadan danau, RTH pesisir.

Untuk suatu wilayah perkotaan maupun perdesaan, maka pola RTH tersebut dapat dibangun dengan mengintegrasikan dua pola RTH ini berdasarkan bobot tertinggi pada kerawanan ekologis kota (tipologi alamiah kota: kota lembah, kota pegunungan ,kota pantai, kota pulau, dll) sehingga dihasilkan suatu pola RTH struktural.

Ruang Terbuka Hijau dibangun dari kumpulan tumbuhan dan tanaman atau vegetasi yang telah diseleksi dan disesuaikan dengan lokasi serta rencana dan rancangan peruntukkannya. Lokasi yang berbeda (seperti pesisir, pusat kota, kawasan industri, sempadan badan-badan air, dll) akan memiliki permasalahan yang juga berbeda yang selanjutnya berkonsekuensi pada rencana dan rancangan RTH yang berbeda.

Untuk keberhasilan rancangan, penanaman dan kelestariannya maka sifat dan ciri serta kriteria arsitektural dan hortikultural tanaman dan vegetasi dalam penyusun pola RTH harus menjadi bahan pertimbangan dalam menyeleksi jenis-jenis yang akan ditanam. Persyaratan umum tanaman untuk ditanam di Kawasan RTH adalah:

-Disenangi dan tidak berbahaya bagi warga .

-Mampu tumbuh pada lingkungan yang marjinal (tanah tidak subur, udara dan air yang tercemar)

-Tahan terhadap gangguan fisik (vandalisme)

-Perakaran dalam sehingga tidak mudah tumbang

-Tidak gugur daun, cepat tumbuh, bernilai hias dan arsitektural

-Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota

-Bibit/benih mudah didapatkan dengan harga yang murah/terjangkau oleh masyarakat

-Prioritas menggunakan vegetasi endemik/lokal

-Keanekaragaman hayati .

-Jenis tanaman endemik atau jenis tanaman lokal yang memiliki keunggulan tertentu (ekologis, sosial budaya, ekonomi, arsitektural) dalam Kawasan hijau tersebut menjadi bahan tanaman utama penciri kota tersebut, yang selanjutnya akan dikembangkan guna mempertahankan keanekaragaman hayati wilayahnya dan juga nasional.

 

Beberapa fungsi tanaman dikemukakan sebagai berikut :

-Dedaunan berair dapat meredam suara,

-Sifat alami jenis tanaman dalam RTH akan mampu memperbaiki kualitas.Daun yang tebal dapat menghalangi suara dan daun tipis mengurangi suara,

-Cabang-cabang tanaman yang bergerak dan bergetar dapat menurunkan suhu udara dan meningkatkan kelembaban udara,

-Trikoma daun dapat menyerap butir-butir debu, melalui gerakan elektrostatik dan elektromagnetik,

-Pertukaran gas dapat terjadi pada mulut daun,

-Aroma bunga dan daun dapat mengurangi bau,

-Ranting pohon beserta dedaunannya dapat menahan angin dan curah hujan,

-Penyebaran akar dapat mengikat tanah dan bahaya erosi,

-Cabang yang melilit dan berduri dapat menghalangi gangguan manusia,

-Bentuk dan tekstur daun berpengaruh terhadap daya serap sinat atau hujan dan daya ikat cemaran.

 

Dalam rencana pembangunan dan pengembangan RTH yang fungsional suatu wilayah perkotaan maupun wilayah Perdesaan, hal utama yang harus diperhatikan yaitu :

-Luas RTH minimum yang diperlukan dalam suatu wilayah perkotaan ditentukan secara komposit oleh tiga komponen berikut ini, yaitu:

-Kapasitas atau daya dukung alami wilayah

-Kebutuhan per kapita (kenyamanan, kesehatan, dan bentuk pelayanan lainnya)

-Arah dan tujuan pembangunan kota

 

RTH berluas minimum merupakan RTH berfungsi ekologis yang berlokasi, berukuran,dan berbentuk pasti, yang melingkup RTH publik dan RTH privat. Dalam suatu wilayah perkotaan dan perdesaan, maka RTH publik harus berukuran sama atau lebih luas dari RTH luas minimal, dan RTH privat merupakan RTH pendukung dan penambah nilai rasio terutama dalam meningkatkan nilai dan kualitas lingkungan dan kultural .

-Lokasi lahan kota yang potensial dan tersedia untuk RTH

-Sruktur dan pola RTH yang akan dikembangkan (bentuk, konfigurasi, dan distribusi)

-Seleksi tanaman sesuai kepentingan dan tujuan pembangunan Kawasan hijau untuk RuangTerbuka Hijau fungsional.

 

Issues utama dari ketersediaan dan kelestarian RTH adalah Dampak negatif dari suboptimalisasi RTH dimana RTH tersebut tidak memenuhi persyaratan jumlah dan kualitas (RTH tidak tersedia, RTH tidak fungsional, fragmentasi lahan yang menurunkan kapasitas lahan dan selanjutnya menurunkan kapasitas lingkungan, alih guna dan fungsi lahan.masalah yang terjadi terutama dalam bentuk/kejadian:

-Menurunkan kenyamanan kota: penurunan kapasitas dan daya dukung wilayah (pencemaran meningkat, ketersediaan air tanah menurun, suhu kota meningkat, dll)

-Menurunkan keamanan kota

-Menurunkan keindahan alami kota (natural amenities) dan artifak alami sejarah yang bernilai kultural tinggi

-Menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang terjadi ditandai dengan menurunnya kesehatan masyarakat secara fisik dan psikis.

-Lemahnya lembaga pengelola Ruang Terbuka Hijau

-Belum terdapatnya aturan hukum dan perundangan yang tepat

-Belum optimalnya penegakan aturan main pengelolaan Ruang Terbuka Hijau

-Belum jelasnya bentuk kelembagaan pengelola RuangTerbuka Hijau

-Belum terdapatnya tata kerja pengelolaan RuangTerbuka Hijau yang jelas

-Lemahnya peran stake holders

-Lemahnya persepsi masyarakat

-Lemahnya pengertian masyarakat dan pemerintah

-Keterbatasan lahan kota untuk peruntukan Ruang Terbuka Hijau.

 

Pola Ruang Terbuka Hijau merupakan struktur RTH yang ditentukan oleh hubungan fungsional (ekologis, sosial, ekonomi, arsitektural) antar komponen pembentuknya. Pola RTH terdiri dari RTH struktural, dan RTH non struktural. RTH struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pembentuknya yang mempunyai pola hierarki planologis yang bersifat antroposentris. RTH tipe ini didominasi oleh fungsi-fungsi non ekologis dengan struktur RTH binaan yang berhierarkhi. Contohnya adalah struktur RTH berdasarkan fungsi sosial dalam melayani kebutuhan rekreasi luar ruang (outdoor recreation) penduduk , seperti yang diperlihatkan dalam urutan hierakial sistem pertamanan kota (urban park system) yang dimulai dari taman perumahan, taman lingkungan, taman kecamatan, taman kota, taman regional).

RTH non struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pembentuknya yang umumnya tidak mengikuti pola hierarki planologis karena bersifat ekosentris. RTH tipe ini memiliki fungsi ekologis yang sangat dominan dengan struktur RTH alami yang tidak berhierarki. Contohnya adalah struktur RTH yang dibentuk oleh konfigurasi ekologis bentang alam perkotaan tersebut, seperti RTH kawasan lindung, RTH perbukitan yang terjal, RTH sempadan sungai, RTH sempadan danau, RTH pesisir.

Untuk suatu wilayah perkotaan, maka pola RTH tersebut dapat dibangun dengan mengintegrasikan dua pola RTH ini berdasarkan bobot tertinggi pada kerawanan ekologis (tipologi alamiah:lembah,pegunungan, pantai, pulau) sehingga dihasilkan suatu pola RTH struktural.

 

Bentuk Ruang terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan untuk memberi suasana nyaman dan indah, adalah sebagai berikut :

 

a.Taman kota

Taman kota merupakan ruang di dalam kota yang ditata untuk menciptakan keindahan, kenyamanan, keamanan, dan kesehatan bagi penggunanya. Taman ini dilengkapi dengan beberapa fasilitas untuk kebutuhan masyarakat sebagai tempat rekreasi. Selain itu, taman juga difungsikan sebagai paru-paru kota, pengendali iklim mikro, konservasi tanah dan air, dan habitat berbagai flora dan fauna. Apabila terjadi suatu bencana, maka taman kota/desa dapat difungsikan sebagai tempat posko pengungsian.

Pepohonan yang ada dalam taman kota dapat memberikan manfaat keindahan, penangkal angin, dan penyaring cahaya matahari. Taman kota/desa berperan sebagai sarana pengembangan budaya , pendidikan, dan pusat kegiatan kemasyarakatan. Pembangunan taman di beberapa lokasi akan menciptakan kondisi kota yang indah, sejuk, dan nyaman serta menunjukkan citra yang baik.

 

b.Taman rekreasi

Taman rekreasi merupakan tempat rekreasi yang berada di alam terbuka tanpa dibatasi oleh suatu bangunan, atau rekreasi yang berhubungan dengan lingkungan dan berorientasi pada penggunaan sumberdaya alam seperti air, hujan, pemandangan alam atau kehidupan di alam bebas. Kegiatan rekreasi dibedakan menjadi kegiatan yang bersifat aktif dan pasif. Kegiatan yang cukup aktif seperti piknik, olah raga, permainan, dan sebagainya melalui penyediaan sarana-sarana permainan.

Taman rekreasi merupakan tempat rekreasi yang berada di alam terbuka tanpa dibatasi oleh suatu bangunan, atau rekreasi yang berhubungan dengan lingkungan dan berorientasi pada penggunaan sumberdaya alam seperti air, hujan, pemandangan alam atau kehidupan di alam bebas. Kegiatan rekreasi dibedakan menjadi kegiatan yang bersifat aktif dan pasif. Kegiatan yang cukup aktif seperti piknik, olah raga, permainan, dan sebagainya melalui penyediaan sarana-sarana permainan.

c.Taman lingkungan perumahan

Taman lingkungan perumahan dan permukiman merupakan taman dengan klasifikasi yang lebih kecil dan diperuntukkan untuk kebutuhan rekreasi terbatas yang meliputi populasi terbatas/masyarakat sekitar. Taman lingkungan ini terletak di sekitar daerah permukiman dan perumahan untuk menampung kegiatan-kegiatan warganya. Taman ini mempunyai fungsi sebagai paru-paru kota/desa (sirkulasi udara dan penyinaran), peredam kebisingan, menambah keindahan visual, area interaksi, rekreasi, tempat bermain, dan menciptakan kenyamanan lingkungan .

Taman lingkungan perumahan dan permukiman merupakan taman dengan klasifikasi yang lebih kecil dan diperuntukkan untuk kebutuhan rekreasi terbatas yang meliputi populasi terbatas/masyarakat sekitar.

Taman lingkungan ini terletak di sekitar daerah permukiman dan perumahan untuk menampung kegiatan-kegiatan warganya. Taman ini mempunyai fungsi sebagai paru-paru kota (sirkulasi udara dan penyinaran), peredam kebisingan, menambah keindahan visual, area interaksi, rekreasi, tempat bermain, dan menciptakan kenyamanan lingkungan .

  1. Taman lingkungan perkantoran

Taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial merupakan taman dengan klasifikasi yang lebih kecil dan diperuntukkan untuk kebutuhan terbatas yang meliputi populasi terbatas/pengunjung. Taman ini terletak di beberapa kawasan institusi, misalnya pendidikan dan kantor-kantor. Institusi tersebut membutuhkan ruang terbuka hijau pekarangan untuk tempat upacara, olah raga, area parkir, sirkulasi udara, keindahan dan kenyamanan waktu istirahat belajar atau bekerja Hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitarnya, berbentuk jalur, menyebar, atau bergerombol (menumpuk), strukturnya meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa liar dan menimbulkan lingkungan sehat, suasana nyaman, sejuk, dan estetis.

Berdasarkan PP No. 63 Tahun 2002, hutan kota didefinisikan sebagai suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang Kebun raya adalah suatu area kebun yang ditanami berbagai jenis tumbuhan yang ditujukan terutama untuk keperluan penelitian. Selain itu, kebun raya juga digunakan sebagai sarana wisata dan pendidikan bagi pengunjung.

Dua buah bagian utama dari sebuah kebun raya adalah perpustakaan dan herbarium yang memiliki koleksi tumbuh-tumbuhan yang telah dikeringkan untuk keperluan pendidikan dan dokumentasi Pertanian kota meliputi kegiatan penanaman, pengolahan, dan distribusi hasil pertanian di wilayah perkotaan.

Kegiatan ini membutuhkan lahan yang cukup luas. Oleh karena itu, lahan ini biasanya jarang ditemui di wilayah perkotaan yang cenderung memiliki lahan yang sudah terbangun. Hasil pertanian kota ini menyumbangkan jaminan dan keamanan pangan yaitu meningkatkan jumlah ketersediaan pangan masyarakat kota serta menyediakan sayuran dan buahbuahan segar bagi masyarakat kota. Selain itu, pertanian kota juga dapat menghasilkan tanaman hias dan menjadikan lahan-lahan terbengkalai kota menjadi indah. Dengan pemberdayaan masyarakat penggarap maka pertanian kota pun menjadi sarana pembangunan modal sosial.

Sempadan adalah RTH yang berfungsi sebagai batas dari sungai, danau, waduk, situ, pantai, dan mata air atau bahkan kawasan limitasi terhadap penggunaan lahan disekitarnya. Fungsi lain dari sempadan adalah untuk penyerap aliran air, perlindungan habitat, dan perlindungan dari bencana alam. Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai, mengamankan aliran sungai, dan dikembangkan sebagai area penghijauan. Kawasan sekitar waduk/danau/situ adalah kawasan di sekeliling waduk/danau/situ yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi waduk/danau/situ.

Jalur hijau jalan adalah pepohonan, rerumputan, dan tanaman perdu yang ditanam pada pinggiran jalur pergerakan di samping kiri-kanan jalan dan median jalan. RTH jalur pengaman jalan terdiri dari RTH jalur pejalan kaki, taman pulo jalan yang terletak di tengah persimpangan jalan, dan taman sudut jalan yang berada di sisi persimpangan jalan. Median jalan adalah ruang yang disediakan pada bagian tengah dari jalan untuk membagi jalan dalam masingmasing arah yang berfungsi mengamankan ruang bebas samping jalur lalu lintas.

Kawasan hijau adalah suatu area yang dimanfaatkan untuk kegiatan tertentu di wilayah perkotaan dan memiliki fungsi utama lindung atau budidaya. Ruang terbuka hijau kawasan berbentuk suatu areal dan non-linear dan ruang terbuka hijau jalur memiliki bentuk koridor dan linear. Jenis RTH berbentuk areal yaitu hutan (hutan kota, hutan lindung, dan hutan rekreasi), taman, lapangan olah raga, kebun raya, kebun pembibitan, kawasan fungsional (perdagangan, industri, permukiman, pertanian), kawasan khusus (hankam, perlindungan tata air, dan plasma nutfah). Sedangkan RTH berbentuk jalur yaitu koridor sungai, sempadan danau, sempadan pantai, tepi jalur jalan, tepi jalur kereta, dan sabuk hijau

 

  1. Alokasi dan Standar Kebutuhan RTH

Alokasi dan Standar Kebutuhan RTHK menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.05/PRT/M/2008 berdasarkan jumlah penduduk dapat dibagi kedalam beberapa unit lingkungan.

Menurut Permendagri No.1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Kawasan Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan menyatakan bahwa luas minimal RTH Kawasan Perkotaan adalah 20% dari luas wilayahnya. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyatakan bahwa RTH terdiri dari RTH Publik dan Privat. RTH Privat paling sedikit 10 % dari luas wilayah dan RTH publik terdiri dari 20% dari luas wilayah. Sedangkan berdasarkan PP no. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN ditetapkan criteria RTH kota, yaitu lahan dengan luas paling sedikit 2.500 m2, berbentuk satu hamparan, berbentuk jalur atau kombinasi dari bentuk satu bentuk hamparan dan jalur dan didominasi komunitas tumbuhan.

 

Ruang Terbuka Hijau taman kota/desa bentuknya berupa Taman Lingkungan yang terdiri dari :

 

Taman pekarangan bangunan

Taman Pekarangan bangunan, adalah lahan di luar bangunan, yang berfungsi untuk berbagai aktivitas. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW . Untuk memudahkan didalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori Pekarangan Rumah Besar,Pekarangan Rumah Sedang ,Pekarangan Rumah Kecil .

 

Taman rukun tetangga

Taman rukun tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam satu RT, khususnya untuk melayani kegiatan bermain anak usia balita, kegiatan sosial para ibu rumah tangga serta para manula di lingkungan RT tersebut. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT, dengan luas minimal 250 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 meter dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.Fasilitas yang harus disediakan adalah setidaknya tersedia bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 40% dari luas taman. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman, juga terdapat 3 (tiga) – 5 (lima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.

 

Taman rukun warga

Taman rukun warga (RW) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW, khususnya kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut. Luas taman ini minimal 0,5 m2 per penduduk RW, dengan luas minimal 1.250 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1.000 meter dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.

Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan, baik olahraga maupun aktifitas lainnya, beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga, dan beberapa jenis mainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja.

 

Taman kelurahan .

Taman kelurahan adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan. Luas taman ini minimal 0,30 m2 per penduduk, dengan luas minimal taman 9.000 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan. Taman ini dapat berupa taman aktif, dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif, dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohon-pohon tahunan.

 

Taman kecamatan

Taman kecamatan adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan. Luas taman ini minimal 0,2 m2 per penduduk kecamatan, dengan luas taman minimal 24.000 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga (lapangan serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif dimana aktifitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohon-pohon tahunan Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. Taman ini melayani minimal 480.000 penduduk dengan standar minimal 0,3 m2 per penduduk, dengan luas taman minimal 144.000 m2. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau), RTH yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga, dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum.

Pohon tahunan, perdu, dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. RTH berupa Jalur Hijau dapat dibuat dalam bentuk :

  1. Jalur Hijau Jalan

Berdasarkan lingkungan di sekitar jalan yang direncanakan dan ketentuan ruang yang tersedia untuk penempatan tanaman lansekap jalan antara 20–30 % dari rumija, sesuai dengan kelas jalannya. Untuk menentukan pemilihan jenis tanamannya ada 2 (dua) hal lain yang perlu diperhatikan yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. Diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam pemilihan jenis tanaman lansekap jalan, dan disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat, yang disukai oleh burung-burung, serta yang rendah evapotranspirasinya.

 

RTH Jalur Hijau dalam bentuknya berupa Taman Pulau Jalan & Media

 

Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. Baik median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman.

RTH Pada jalur tanaman tepi jalan berfungsi untuk peneduh,penyerap polusi udara, peredam kebisingan,pemecah angin dan pembatas pandang, Sedang Pada median berfungsi sebagai penahan silau lampu kendaraan .

Ruang Terbuka Hijau yang lain adalah RTH Berbentuk Jalur, RTH berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran dan lain sebagainya. Lebar minimal RTH berbentuk jalur adalah 30 meter.

 

Disamping itu ada RTH Kawasan Perlindungan Setempat.Yang dimaksud dengan jalur hijau sempadan kawasan perlindungan setempat lainnya antara lain sempadan pantai, sempadan danau, sempadan mata air. Tempat dan kawasan ini memiliki/mempunyai batasan yang bervariasi.

 

RTH Sempadan Sungai

Sempadan sungai adalah jalur hijau di kanan kiri sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat mengganggu kelestariannya. Sungai di perkotaan dan perdesaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul.

 

RTH Sempadan Pantai

RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantainya. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut seperti intrusi air laut, erosi, abrasi, tiupan angin kencang dan gelombang tsunami.

 

RTH Pengamanan Sumber Air Bersih/ Mata Air

Pengamanan sumber air meliputi pengamanan sungai, danau/ waduk dan mata air. RTH Pemakaman.

RTH Pemakaman merupakan ruang terbuka hijau disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air, tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi, pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.Untuk mencapai tujuan itu maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: ukuran makam 1 x 2 meter; jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0,5 meter; tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan;pemakaman dibagi dalam beberapa blok, luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi setempat; batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung di salah satu sisinya; batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman, atau dengan pohon pelindung. Ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80 % dari luas ruang hijaunya. Aneka pohon dan posisinya di ruang kota.Peletakan tanaman harus disesuaikan dengan tujuan perancangannya dengan mengingat fungsi tanaman itu.

 

  1. Bangunan Hijau (Green Building) yang Ramah Lingkungan.

Green building merupakan upaya untuk menghasilkan bangunan dengan menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan, penggunaan sumber daya secara efisien selama daur hidup bangunan sejak perencanaan, pembangunan, operasional, pemeliharaan, renovasi bahkan hingga pembongkaran.

Bangunan Hijau / Green Building adalah bangunan (baru) yang direncanakan dan dilaksanakan atau bangunan (sudah berdiri) yang dioperasikan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan yang mempromosikan :

-Penggunaan lahan yang layak dan berkelanjutan

-Efisiensi dalam penggunaan sumber air

-Penghematan energi, penggunaan energi berkelanjutan dan melindungi atmosfir

-Penghematan bahan bangunan, mereduksi limbah dan tidak mengeksploitasi sumber daya alam,

-Melindungi dan mempertahankan kualitas udara dalam ruang, untuk menunjang kesehatan penghuni.

 

Green Building merupakan salah satu bentuk respon masyarakat dunia akan perubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global sebagai effek dari rumah kaca. Praktek ‘Bangunan Hijau’ ini mempromosikan bahwa perbaikan perilaku (dan teknologi) terhadap bangunan tempat aktivitas hidupnya dapat menyumbang banyak untuk mengatasi pemanasan global.

Dari berbagai penelitian ternyata bangunan/gedung adalah merupakan penghasil terbesar (lebih dari 30%) emisi global karbon dioksida, salah satu penyebab utama terjadinya effek rumah kaca dan pemanasan global.

Bangunan Hijau(Green Building) sebagai sebuah sistem rating terbagi atas enam aspek yang terdiri dari :

-Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD)

-Efisiensi Energi & Refrigeran (Energy Efficiency & Refrigerant/EER)

-Konservasi Air (Water Conservation/WAC)

-Sumber & Siklus Material (Material Resources & Cycle/MRC)

-Kualitas Udara & Kenyamanan Udara (Indoor Air Health & Community Manajemen Lingkungan Bangunan (Building & Enviroment Management).

 

Konsep Bangunan hijau adalah bangunan dimana di dalam perencanaan, pembangunan, pengoperasian serta dalam pemeliharaannya memperhatikan aspek-aspek dalam melindungi, menghemat , mengurangi pengunaan sumber daya alam, menjaga mutu baik bangunan maupun mutu dari kwalitas udara di dalam ruangan, dan memperhatikan kesehatan penghuninya yang semuanya berdasarkan kaidah pembangunan berkelanjutan.

Bangunan hijau (green building) didesain untuk mereduksi dampak lingkungan terbangun pada kesehatan manusia dan alam, melalui : efisiensi dalam penggunaan energi, air dan sumber daya lain ; perlindungan kesehatan penghuni dan meningkatkan produktifitas pekerja ; mereduksi limbah / buangan padat, cair dan gas, mengurangi polusi / pencemaran padat, cair dan gas serta mereduksi kerusakan lingkungan.

Bangunan hijau (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan berkelanjutan) mengarah pada struktur dan pemakaian proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan hemat sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan tersebut, mulai dari pemilihan tempat sampai desain, konstruksi, operasi, perawatan, renovasi, dan peruntuhan. Praktik ini memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik dalam hal ekonomi, utilitas, durabilitas, dan kenyamanan.

Sebagai contoh :Green building memanfaatkan material dengan prinsip “daur pakai” (reuse), “daur ulang” (recycle) dari bahan yang dapat diperbaharui (renewable resources);Menciptakan lingkungan dalam bangunan dengan polutan minimal (mereduksi material yang menghasilkan emisi) dan Landscape yang mereduksi penggunaan air (menggunakan tumbuhan setempat) .

Dalam membangun atau mengembangkan bangunan Hijau beberapa point yang perlu diperhatikan ,yaitu :

 

Penggunaan material bangunan.

Material ini diperoleh dari alam, renewable sources yang telah dikelola dan dipanen secara berkelanjutan, atau yang diperoleh secara lokal untuk mengurangi biaya transportasi; atau diselamatkan dari bahan reklamasi di lokasi terdekat. Material yang dipakai menggunakan green specifications yang termasuk dalam daftar Life Cycle Analysis (LCA) seperti: energi yang dihasilkan, daya tahan material, minimalisasi limbah, dan dapat untuk digunakan kembali atau didaur ulang.

Teknologi bangunan berkembang sangat pesat dengan perubahan yang sangat penting termasuk peningkatan pemakaian bahan bangunan seperti baja, beton dan kayu, peningkatan produk-produk baru seperti fiber-beton bertulang dan plastic reinforced wood , serta pengembangan teknologi baru seperti geotextiles. Pengembangan bahan-bahan yang inovatif ini tidak disertai dengan pemakaian bahan-bahan tersebut pada bangunan baru sebab para perancang dan kontraktor ragu-ragu untuk mencoba bahan-bahan baru tersebut, hal ini disebabkan jika teIjadi suatu kesalahan akan mengakibatkan kerugian biaya yang cukup besar.

 

Perencanaan penggunaan energi

Perencanaan dalam pengaturan sirkulasi udara yang optimal untuk mengurangi penggunaan AC. Mengoptimalkan cahaya matahari sebagai penerangan di siang hari. Green building juga menggunakan tenaga surya & turbin angin sebagai penghasil listrik alternatif.

Mengatur pola penggunaan air

Mengurangi penggunaan air & menggunakan STP (siwage treatment plant) untuk mendaur ulang air dari limbah rumah tangga sehingga bsa digunakan kembali untuk tanki toilet, penyiram tanaman, dll. Menggunakan peralatan hemat air, seperti shower bertekanan rendah , kran otomatis ( self-closing or spray taps), tanki toilet yang low-flush toilet. Yang intinya mengatur penggunaan air dalam bangunan sehemat mungkin.

 

Faktor kesehatan

Menggunakan material & produk-produk yang non-toxic akan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, dan mengurangi tingkat asma, alergi dan sick building syndrome. Material yang bebas emisi, dan tahan untuk mencegah kelembaban yang menghasilkan spora dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam ruangan juga harus didukung menggunakan sistem ventilasi yang efektif dan bahan-bahan pengontrol kelembaban yang memungkinkan bangunan untuk bernapas.

Perlu diingat pada saat memilih bahan bangunan yang sensitif pada lingkungan tidak menjamin menghasilkan lingkungan dalam menjadi lebih baik. Pemilihan bahan bangunan tersebut harus dapat dikoordinasikan dengan sistem ventilasi dan mekanisasi yang baik untuk menghasilkan kualitas lingkungan dalam yang baik.

Ventilasi yang efektif dan cukup sangat menentukan kualitas kandungan udara yang baik dalam ruangan. Pengaruh ventilasi sangat besar bagi kenyamanan pemakai bangunan dan juga mengontrol tingkat polusi dalam bangunan.Ventilasi juga merupakan kunci penting untuk menjaga agar kualitas udara dalam ruangan termasuk men-supply udara bersih yang masuk keseluruh ruangan lain sehingga udara dapat berputar dengan baik dan memenuhi kebutuhan pernafasan pemakai ruangan.

Filtrasi udara yang semakin efisien dengan kualitas filtrasi yang tinggi dapat memberikan 85% efisiensi bukaan dan juga mengurangi tingkat partikel dan allergens dalam udara.Selanjutnya, sistem ventilasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga udara dari luar tidak langsung masuk kedalam ruangan yang dipakai dan udara tersebut dapat berputar dan bergerak dalam luasan tertentu.Sistem exhaust dalam ruangan dapat mengurangi pengaruh polusi udara yang terjadi akibat mesin photo copy, peralatan-peralatan melukis, dan memasak. Sistem ventilasi juga harus mudah dicapai untuk perawatan. Oleh karena itu, bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan ramah lingkungan apabila memenuhi kriteria antara lain:

-Menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan yang antara lain meliputi penggunaan material bangunan yang bersertifikat eco-label atau material bangunan yang berada dalam lingkungan lokal.

-Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk konservasi sumber daya air dalam bangunan gedung antara lain: mempunyai sistem pemanfaatan air yang dapat dikuantifikasi; menggunakan sumber air yang memperhatikan konservasi sumberdaya air; dan mempunyai sistem pemanfaatan air hujan.

-Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana konservasi dan diversifikasi energi antara lain dengan menggunakan sumber energi alternatif terbarukan yang rendah emisi gas rumah kaca; menggunakan sistem pencahayaan dan pengkondisian udara buatan yang hemat energi. menggunakan bahan yang bukan bahan perusak ozon dalam bangunan gedung antara lain: refrigeran untuk pendingin udara yang bukan bahan perusak ozon; dan melengkapi bangunan gedung dengan peralatan pemadam kebakaran yang bukan bahan perusak ozon.

-Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan air limbah domestic pada bangunan gedung antara lain: melengkapi bangunan gedung dengan sistem pengolahan air limbah domestik pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus; melengkapi bangunan gedung dengan sistem pemanfaatan kembali air limbah domestik hasil pengolahan pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus.

 

Lebih lanjut, Bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan ramah lingkungan apabila memenuhi kriteria antara lain:

-Terdapat fasilitas pemilahan sampah; memperhatikan aspek kesehatan bagi penghuni bangunan antara lain: melakukan pengelolaan sistem sirkulasi udara bersih; memaksimalkan penggunaan sinar matahari.

-Melengkapi bangunan gedung dengan ruang terbuka hijau sebagai taman dan konservasi hayati, resapan air hujan dan lahan parkir;

-Mempertimbangkan variabilitas iklim mikro dan perubahan iklim;

-Mempunyai perencanaan pengelolaan bangunan gedung sesuai tata ruang;

-Menjalankan pengelolaan bangunan gedung sesuai perencanaan; dan/atau

-Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk mengantisipasi Bencana antara lain: mempunyai sistem peringatan dini terhadap bencana dan Bencana yang terkait dengan perubahan iklim seperti: banjir, topan, badai,longsor dan kenaikan muka air laut;

-Menggunakan material bangunan yang tahan terhadap iklim atau cuaca ekstrim intensitas hujan yang tinggi, kekeringan dan temperatur yang meningkat

 

Salah satu permasalahan lingkungan perkotaan dan perdesaan yang terjadi setiap tahun adalah banjir di kawasan hilir Daerah Aliran Sungai (DAS). Kerugian yang dialami oleh para korban banjir sangat besar dan bisa melemahkan Kawasan strategis kota dan desa sebagai pusat perekonomian. Sebenarnya permasalahan banjir tersebut harus mendapatkan perhatian dan partisipasi aktif dari masyarakat, baik di daerah hulu maupun di hilir DAS. Oleh karena itu, harus diberikan suatu solusi inovatif yang secara efektif dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat. Inovasi sederhana namun tepat dan hemat yang mampu meningkatkan daya resap air pada tanah dan mengurangi limpasan aliran air permukaan di kawasan tersebut. Dengan demikian, resiko banjir dan besarnya pengikisan tanah (erosi) akan menurun, sehingga memaksimalkan upaya masyarakat dalam membangun.

Indonesia punya dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau sepanjang tahun, dengan jumlah air di suatu wilayah tergantung dari kedua musim itu. Kalau dua musim ini dikaji lebih lanjut, maka beberapa hal yang sangat penting dapat ditemukan untuk dicermati. Pada waktu musim hujan selalu ada wilayah yang mengalami bencana banjir dan longsor. Sebaliknya, waktu musim kemarau beberapa wilayah kekeringan

 

Beberapa teknologi sederhana yang dapat dilakukan antara lain :

Resapan air hujan.

Peresapan air hujan ke dalam tanah sangat penting mengingat adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai konsekuensi dari perkembangan penduduk dan perekonomian.Dengan adanya perubahan tata guna tanah itu, mengakibatkan menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan air. Semakin banyak permukaan tanah yang tertutup tembok, beton, aspal dan bangunan lainnya, sehingga tidak dapat meresapkan air hujan.

Lubang resapan biopori

Lubang resapan biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Metode ini dicetuskan oleh Ir. Kamir R Brata, M.Sc, peneliti dari Institut Pertanian Bogor. Peningkatan daya resap air pada tanah dapat dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Teknologi sederhana ini kemudian disebut dengan nama biopori.

Di daerah perkotaan, keberadaan pepohonan semakin tergusur oleh bangunan-bangunan sehingga lubang biopori menjadi semakin langka. Lagi pula, banyaknya pepohonan tidak selalu mengartikan akan ada banyak air yang terserap, karena permukaan tanah yang tertutup lumut membuat air tidak dapat meresap ke tanah.

Tujuan biopori ini adalah memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah. Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar. Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit. Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut.Mengurangi resiko banjir di musim hujan. Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah.Dan Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.

Adapun Tempat yang dapat dibuat / dipasang lubang resapan biopori antara lain pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah. Di sekeliling pohon. Pada tanah kosong antar tanaman / batas tanaman.

Secara alami, biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.

Keuntungan biopore dalam pemanfaatannya antara lain :

-Biopori dapat mengakumulasikan limbah organik secara efisien. Limbah dapur dan sampah pekarangan dapat dimasukkan ke dalam biopori ini.

-Biopori sangat efektif menampung air hujan yang jatuh di pekarangan rumah dan meresapkannya ke dalam tanah.

-Limbah organic dalam biopori dapat mengalami dekomposisi menjadi kompos.

-Biopori juga berfungsi sebagai reservoir air tanah di sebelah bawahnya.

-Biopori belum menjadi hal yang populer bagi masyarakat, karena pendidikan lingkungan hanya terpaku pada tanaman. Tetapi dengan biopori ini kita akan menjadi penyelamat 3 dimensi bumi yakni , darat , laut dan udara .

Biopori mencangkup banyak bahkan seluruh masalah yang kerap terjadi oleh manusia , lebih dinominasikan untuk masalah tanah. Biopori menyelamatkan ekosistem bawah tanah dan sangat menguntungkan bagi manusia , disatu sisi dia kecil dan tidak dipedulikan tetapi dia membawa manfaat yang dapat membawa lingkungan sekitar menjadi lebih subur

 

  1. Menyelamatkan bumi dari Dampak Lingkungan Akibat Sampah.

Sampah dapat menimbulkan bahaya atau gangguan terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Adapun berbagai dampak yang dapat ditimbulkan oleh sampah antara lain sebagai berikut.

Pencemaran udara.

Biogas dapat lepas ke udara ambien dan dapat bermigrasi secara lateral melalui tanah dan batu.Biogas juga dapat mengalami infiltrasi ke dalam bangunan-bangunan dan mengalami akumulasi metan sehingga dapat menimbulkan ledakan yang berbahaya.

Menurut Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui “sanitary landfill”. dihasilkan substansi kimia dalam bentuk gas seperti CH4, CO2, NH3, dan H2S. Perhatian khusus diberikan pada CH4 karena dapat diubah menjadi bahan berbahaya (HCHO) kemudian dihasilkan CO2. jalur perubahan CH4 menjadi CO2 mengikuti jalur-jalur reaksi tertentu. Gugus OH dapat terbentuk oleh pelepasan NH3 di udara. Gas CO2, NH3, dan H2S dapat diubah menjadi H2CO3, HNO3, dan H2SO4 berturut-turut dalam sehari.Diperkirakan hal tersebut akan berpengaruh terhadap terjadinya hujan asam.

Bau busuk sampah memiliki dampak emosional terhadap penduduk yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah . Bau digunakan sebagai alasan penduduk untuk mencegah dibangunnya TPA. Bau busuk yang ditimbulkan sampah organik terjadi tatkala proses penguraian (dekomposisi) berlangsung dalam kondisi tanpa oksigen atau intensitas aerasi rendah (anaerob) , atau kadar air atau kelembaban rendah maupun terlalu kering serta suhu yang tidak kondusif bagi bekerjanya bakteri pengurai. Pada kondisi prasyarat bagi berlangsungnya penguraian (dekomposisi) material organik tidak terpenuhi, bakteri akan diam dan tidur (dorman) , saat sama akan terjadi reaksi anaerobik dan menimbulkan gas H2S maupun methana ( CH4) . Kedua jenis gas inilah yang dirasakan sebagai bau busuk.

Efek fisik gas H2S pada tingkat rendah dapat menyebabkan terjadinya gejala-gejala sebagai berikut : Sakit kepala atau pusing Badan terasa lesu,Hilangnya nafsu makan

Rasa kering pada hidung, tenggorokan dan dada,Batuk – batuk ,Kulit terasa perih.

Dampak akibat sampah menumpuk antara lain :

Pencemaran udara.

Sampah dapat menyebabkan pencemaran udara, misalnya bau busuk, asap, dan sebagainya. Sampah menimbulkan biogas yang mengandung banyak metan dan karbondioksida serta bahan berbahaya lainnya.Ibu-ibu, yang tinggal di sekitar TPA, yang terkontaminasi biogas memiliki fisiko tinggi kelahiran bayi dengan berat badan rendah dan mempengaruhi umur kehamilan. Individu yang terpapar biogas berhubungan dengan gangguan hipertensi pada saat kehamilan, “stillbirths”” (kematian janin pada kehamilan tua), cacat bawaan. Dampak tersebut tergantung pada sifat, waktu , dan tingkat kontaminasinya.

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa beberapa bahan dalam biogas dapat mengganggu perkembangan embrio, fetus, dan dapat menyebabkan kemandulan, kematian, berat badan kelahiran rendah, dan kelainan bawaan.

Menurut California Waste Management Board (1988), biogas mengandung karbon dioksida, dan bahan-bahan lain seperti karbon disulfida, merkaptan, dan bahan lainnya. Biogas tersebut dihasilkan oleh dekomposisi anaerobik dari bahan organik.

 

Pencemaran air akibat sampah.

Sampah juga dapat menimbulkan pencemaran air permukaan dan air tanah karena “pembasuhan” sampah oleh air hujan. Selain itu sampah dapat menyumbat saluran air dan got sehingga menimbulkan banjir.

Lindi (leachate) merupakan cairan yang dihasilkan oleh penguraian sampah yang terbilas oleh adanya air,baik yang terkandung dalam sampah itu sendiri maupun dari luar (rembesan air hujan atau air tanah). Dampak negatif secara signifikan terhadap air permukaan dan kualitas air tanah merupakan polusi yang disebabkan oleh lindi. Karakteristik pencemar yang dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang dibuang. Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturut-turut sekitar 30,000 mgi1, 20 mg/l, dan 60 mg/l (Japan International Cooperation Agency). Untuk kondisi di ndonesia yang sampahnya didominasi oleh sampah organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi didominasi oleh besarnya BOD yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000 ppm atau lebih.Hal ini menyebabkan sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran air secara serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk dikontrol. Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam sampah, evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah, sedangkan kualitas lindi berhubungan erat dengan kadar BOD dan COD. Karakteristik pencemar yang dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang dibuang. Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturut-turut sekitar 30,000 mg/l, 20 mg/l, dan 60 mg/l. Untuk kondisi di Indonesia yang sampahnya didominasi oleh sampah organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi didominasi oleh besarnya BOD yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000 ppm atau lebih.

Hal ini menyebabkan sampah sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran air secara serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk dikontrol. Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam sampah, evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah.

 

Penurunan derajat kesehatan masyarakat.

Dampak sampah terhadap penurunan tingkat kesehatan penduduk akan semakin tinggi jika sampah tidak dikelola dengan baik. Keadaan kesehatan di daerah pemukiman dapat diukur dengan jumlah kasus penyakit kolera dan penyakit menular lainnya. Dinyatakan oleh WHO dan Bank Dunia bahwa kolera adalah penyakit endemik, pada tahun 1974 terdapat 51.399 kasus atau case fatality rate 8,8%. Tingkat laju angka kematian di Indonesia pada tahun tersebut adalah 14,4 permil. Selanjutnya dinyatakan bahwa sebagian besar dari kematian tersebut disebabkan oleh penyakit menular. Penyakit menular itu disebabkan keadaan yang sangat buruk, pada saat itu dalam bidang sanitasi dan kesehatan lingkungan, seperti kurangnya sarana penyediaan air minum dan sistem air buangan yang tidak baik, masalah sampah yang belum terpecahkan, dan kurangnya kesadaran sebagian besar penduduk tentang pemeliharaan kesehatan lingkungan. Akibat dari keadaan lingkungan pemukiman yang buruk tidak saja merugikan dari segi kesehatan, tetapi juga memiliki dampak yang merugikan secara tidak langsung terhadap aspek-aspek sosial ekonomi pada umumnya.

Sampah dapat menjadi sarang lalat, tikus, kecoak, dan jasad renik yang dapat menjadi pembawa ataupun sumber penyakit. Selain itu, populasi pembawa penyakit ( vector) dapat meningkat oleh aktifitas pengangkutan dan pembuangan sampah.

Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit.

 

Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut; Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit). Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernaaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.

Selain yang disebutkan diatas, juga ada beberapa dampak lingkungan akibat sampah yang dapat dikemukakan sebagai berikut :

Kecelakaan.

Sampah juga dapat menyebabkan kecelakaan misalnya terkena pecahan kaca, paku, dan lain- lain. Selain itu dapat juga menyebabkan kebakaran, gangguan asap yang dapat mengganggu pandangan dan membahayakan arus lalu lintas.

Penurunan keindahan dan kenyamanan.

Sampah selain menyebabkan pencemaran, penurunan kesehatan penduduk, dan kecelakaan, juga dapat mengganggu keindahan. Sampah yang tercecer dan tidak dibuang pada tempat semestinya akan terlihat tidak rapi dan mengganggu keindahan tempat sekitarnya.Sejumlah dampak negatif dapat ditimbulkan dari keberadaan TPA. Dampak tersebut bisa beragam:

Pelepasan gas metana yang disebabkan oleh pembusukan sampah organik (metana adalah gas rumah kaca yang berkali-kali lebih potensial daripada karbon dioksida, dan dapat membahayakan penduduk suatu tempat.

 

DAFTAR BACAAN :

 

UU No. 12/1992 tentang Budidaya Tanaman.

UU No. 6/1994 tentang Pengesahan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim.

UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung.

UU No. 63/2002 tentang Hutan Kota.

UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang.

Peraturan Pemerintah (PP):

PP No. 69/1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang.

PP No. 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

PP No. 4/2000 tentang Pengendalian Kerusakan dan/atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan/Lahan.

PP No. 28/2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi.

PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

PP No. 30/2000 tentang Pembinaan Jasa Konstruksi.

PP No. 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pencemaran Air.

PP No. 63/2002 tentang Hutan Kota.

PP No. 36/2005 tentang Pelaksanaan UUBG.

*Keputusan Presiden (Keppres):

Keppres RI No. 23/1979 tentang Peningkatan Peran Serta Generasi Muda dalam Pelestarian Sumber Daya Alam.

Keppres No. 32/1990 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Keppres No. 23/1992 tentang Pengesahan Konvensi Viena dan Protokol Motreal tentang Lapisan Ozon.

*Keputusan Menteri (Kepmen):

Kepmen PU No. 640/KPTS/1986 tentang Perencanaan Tata Ruang Kota.

Kepmen PU No. 378/KPTS/1987 tentang Pengesahan 33 Standar Konstruksi Bangunan Indonesia, khususnya pada lampiran 22 mengenai Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota.

Kepmendagri No. 39/1992 tentang Organisasi Dinas Daerah.

*Peraturan Menteri (Permen):

Permendagri No. 2/1987 tentang Rencana Tata Ruang Kota.

Permendagri No. 4/1996 tentang Pedoman Perubahan Pemanfaatan Lahan Perkotaan.

Permendagri No. 1/2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan.

Instruksi Menteri (Inmen):

Inmendagri No. 14/1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan.

Inmen PU No. 31/IN/N/1991 tentang Penghijauan dan Penanaman Pohon di Sepanjang Jalan di Seluruh Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. buku 2 makassar tidak rantasa

 

MEMBANGUN KAWASAN HIJAU DAN BANGUNAN HIJAU YANG RAMAH LINGKUNGAN.

Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn,MS.MH.MM.

 

  1. Alokasi dan Standar Kebutuhan RTH

Alokasi dan Standar Kebutuhan RTHK menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.05/PRT/M/2008 berdasarkan jumlah penduduk dapat dibagi kedalam beberapa unit lingkungan.

Menurut Permendagri No.1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Kawasan Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan menyatakan bahwa luas minimal RTH Kawasan Perkotaan adalah 20% dari luas wilayahnya. Sedangkan menurut Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyatakan bahwa RTH terdiri dari RTH Publik dan Privat. RTH Privat paling sedikit 10 % dari luas wilayah dan RTH publik terdiri dari 20% dari luas wilayah. Sedangkan berdasarkan PP no. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN ditetapkan criteria RTH kota, yaitu lahan dengan luas paling sedikit 2.500 m2, berbentuk satu hamparan, berbentuk jalur atau kombinasi dari bentuk satu bentuk hamparan dan jalur dan didominasi komunitas tumbuhan.

 

Ruang Terbuka Hijau taman kota/desa bentuknya berupa Taman Lingkungan yang terdiri dari :

 

Taman pekarangan bangunan

Taman Pekarangan bangunan, adalah lahan di luar bangunan, yang berfungsi untuk berbagai aktivitas. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW . Untuk memudahkan didalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori Pekarangan Rumah Besar,Pekarangan Rumah Sedang ,Pekarangan Rumah Kecil .

 

Taman rukun tetangga

Taman rukun tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam satu RT, khususnya untuk melayani kegiatan bermain anak usia balita, kegiatan sosial para ibu rumah tangga serta para manula di lingkungan RT tersebut. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT, dengan luas minimal 250 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 meter dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.Fasilitas yang harus disediakan adalah setidaknya tersedia bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 40% dari luas taman. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman, juga terdapat 3 (tiga) – 5 (lima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang.

 

Taman rukun warga

Taman rukun warga (RW) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW, khususnya kegiatan remaja, kegiatan olahraga masyarakat, serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut. Luas taman ini minimal 0,5 m2 per penduduk RW, dengan luas minimal 1.250 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1.000 meter dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya.

Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan, baik olahraga maupun aktifitas lainnya, beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga, dan beberapa jenis mainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja.

 

Taman kelurahan .

Taman kelurahan adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan. Luas taman ini minimal 0,30 m2 per penduduk, dengan luas minimal taman 9.000 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan. Taman ini dapat berupa taman aktif, dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif, dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohon-pohon tahunan.

 

Taman kecamatan

Taman kecamatan adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan. Luas taman ini minimal 0,2 m2 per penduduk kecamatan, dengan luas taman minimal 24.000 m2. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga (lapangan serbaguna), dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif dimana aktifitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif, misalnya duduk atau bersantai, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohon-pohon tahunan Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota. Taman ini melayani minimal 480.000 penduduk dengan standar minimal 0,3 m2 per penduduk, dengan luas taman minimal 144.000 m2. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau), RTH yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga, dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum.

Pohon tahunan, perdu, dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan. RTH berupa Jalur Hijau dapat dibuat dalam bentuk :

  1. Jalur Hijau Jalan

Berdasarkan lingkungan di sekitar jalan yang direncanakan dan ketentuan ruang yang tersedia untuk penempatan tanaman lansekap jalan antara 20–30 % dari rumija, sesuai dengan kelas jalannya. Untuk menentukan pemilihan jenis tanamannya ada 2 (dua) hal lain yang perlu diperhatikan yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. Diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam pemilihan jenis tanaman lansekap jalan, dan disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat, yang disukai oleh burung-burung, serta yang rendah evapotranspirasinya.

 

RTH Jalur Hijau dalam bentuknya berupa Taman Pulau Jalan & Media

 

Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. Baik median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman.

RTH Pada jalur tanaman tepi jalan berfungsi untuk peneduh,penyerap polusi udara, peredam kebisingan,pemecah angin dan pembatas pandang, Sedang Pada median berfungsi sebagai penahan silau lampu kendaraan .

Ruang Terbuka Hijau yang lain adalah RTH Berbentuk Jalur, RTH berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran dan lain sebagainya. Lebar minimal RTH berbentuk jalur adalah 30 meter.

 

Disamping itu ada RTH Kawasan Perlindungan Setempat.Yang dimaksud dengan jalur hijau sempadan kawasan perlindungan setempat lainnya antara lain sempadan pantai, sempadan danau, sempadan mata air. Tempat dan kawasan ini memiliki/mempunyai batasan yang bervariasi.

 

RTH Sempadan Sungai

Sempadan sungai adalah jalur hijau di kanan kiri sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat mengganggu kelestariannya. Sungai di perkotaan dan perdesaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul.

 

RTH Sempadan Pantai

RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantainya. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut seperti intrusi air laut, erosi, abrasi, tiupan angin kencang dan gelombang tsunami.

 

RTH Pengamanan Sumber Air Bersih/ Mata Air

Pengamanan sumber air meliputi pengamanan sungai, danau/ waduk dan mata air. RTH Pemakaman.

RTH Pemakaman merupakan ruang terbuka hijau disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air, tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi, pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.Untuk mencapai tujuan itu maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: ukuran makam 1 x 2 meter; jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0,5 meter; tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan;pemakaman dibagi dalam beberapa blok, luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi setempat; batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung di salah satu sisinya; batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman, atau dengan pohon pelindung. Ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80 % dari luas ruang hijaunya. Aneka pohon dan posisinya di ruang kota.Peletakan tanaman harus disesuaikan dengan tujuan perancangannya dengan mengingat fungsi tanaman itu.

 

  1. Bangunan Hijau (Green Building) yang Ramah Lingkungan.

Green building merupakan upaya untuk menghasilkan bangunan dengan menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan, penggunaan sumber daya secara efisien selama daur hidup bangunan sejak perencanaan, pembangunan, operasional, pemeliharaan, renovasi bahkan hingga pembongkaran.

Bangunan Hijau / Green Building adalah bangunan (baru) yang direncanakan dan dilaksanakan atau bangunan (sudah berdiri) yang dioperasikan dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan yang mempromosikan :

-Penggunaan lahan yang layak dan berkelanjutan

-Efisiensi dalam penggunaan sumber air

-Penghematan energi, penggunaan energi berkelanjutan dan melindungi atmosfir

-Penghematan bahan bangunan, mereduksi limbah dan tidak mengeksploitasi sumber daya alam,

-Melindungi dan mempertahankan kualitas udara dalam ruang, untuk menunjang kesehatan penghuni.

 

Green Building merupakan salah satu bentuk respon masyarakat dunia akan perubahan iklim yang terjadi akibat pemanasan global sebagai effek dari rumah kaca. Praktek ‘Bangunan Hijau’ ini mempromosikan bahwa perbaikan perilaku (dan teknologi) terhadap bangunan tempat aktivitas hidupnya dapat menyumbang banyak untuk mengatasi pemanasan global.

Dari berbagai penelitian ternyata bangunan/gedung adalah merupakan penghasil terbesar (lebih dari 30%) emisi global karbon dioksida, salah satu penyebab utama terjadinya effek rumah kaca dan pemanasan global.

Bangunan Hijau(Green Building) sebagai sebuah sistem rating terbagi atas enam aspek yang terdiri dari :

-Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD)

-Efisiensi Energi & Refrigeran (Energy Efficiency & Refrigerant/EER)

-Konservasi Air (Water Conservation/WAC)

-Sumber & Siklus Material (Material Resources & Cycle/MRC)

-Kualitas Udara & Kenyamanan Udara (Indoor Air Health & Community Manajemen Lingkungan Bangunan (Building & Enviroment Management).

 

Konsep Bangunan hijau adalah bangunan dimana di dalam perencanaan, pembangunan, pengoperasian serta dalam pemeliharaannya memperhatikan aspek-aspek dalam melindungi, menghemat , mengurangi pengunaan sumber daya alam, menjaga mutu baik bangunan maupun mutu dari kwalitas udara di dalam ruangan, dan memperhatikan kesehatan penghuninya yang semuanya berdasarkan kaidah pembangunan berkelanjutan.

Bangunan hijau (green building) didesain untuk mereduksi dampak lingkungan terbangun pada kesehatan manusia dan alam, melalui : efisiensi dalam penggunaan energi, air dan sumber daya lain ; perlindungan kesehatan penghuni dan meningkatkan produktifitas pekerja ; mereduksi limbah / buangan padat, cair dan gas, mengurangi polusi / pencemaran padat, cair dan gas serta mereduksi kerusakan lingkungan.

Bangunan hijau (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan berkelanjutan) mengarah pada struktur dan pemakaian proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan hemat sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan tersebut, mulai dari pemilihan tempat sampai desain, konstruksi, operasi, perawatan, renovasi, dan peruntuhan. Praktik ini memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik dalam hal ekonomi, utilitas, durabilitas, dan kenyamanan.

Sebagai contoh :Green building memanfaatkan material dengan prinsip “daur pakai” (reuse), “daur ulang” (recycle) dari bahan yang dapat diperbaharui (renewable resources);Menciptakan lingkungan dalam bangunan dengan polutan minimal (mereduksi material yang menghasilkan emisi) dan Landscape yang mereduksi penggunaan air (menggunakan tumbuhan setempat) .

Dalam membangun atau mengembangkan bangunan Hijau beberapa point yang perlu diperhatikan ,yaitu :

 

Penggunaan material bangunan.

Material ini diperoleh dari alam, renewable sources yang telah dikelola dan dipanen secara berkelanjutan, atau yang diperoleh secara lokal untuk mengurangi biaya transportasi; atau diselamatkan dari bahan reklamasi di lokasi terdekat. Material yang dipakai menggunakan green specifications yang termasuk dalam daftar Life Cycle Analysis (LCA) seperti: energi yang dihasilkan, daya tahan material, minimalisasi limbah, dan dapat untuk digunakan kembali atau didaur ulang.

Teknologi bangunan berkembang sangat pesat dengan perubahan yang sangat penting termasuk peningkatan pemakaian bahan bangunan seperti baja, beton dan kayu, peningkatan produk-produk baru seperti fiber-beton bertulang dan plastic reinforced wood , serta pengembangan teknologi baru seperti geotextiles. Pengembangan bahan-bahan yang inovatif ini tidak disertai dengan pemakaian bahan-bahan tersebut pada bangunan baru sebab para perancang dan kontraktor ragu-ragu untuk mencoba bahan-bahan baru tersebut, hal ini disebabkan jika teIjadi suatu kesalahan akan mengakibatkan kerugian biaya yang cukup besar.

 

Perencanaan penggunaan energi

Perencanaan dalam pengaturan sirkulasi udara yang optimal untuk mengurangi penggunaan AC. Mengoptimalkan cahaya matahari sebagai penerangan di siang hari. Green building juga menggunakan tenaga surya & turbin angin sebagai penghasil listrik alternatif.

Mengatur pola penggunaan air

Mengurangi penggunaan air & menggunakan STP (siwage treatment plant) untuk mendaur ulang air dari limbah rumah tangga sehingga bsa digunakan kembali untuk tanki toilet, penyiram tanaman, dll. Menggunakan peralatan hemat air, seperti shower bertekanan rendah , kran otomatis ( self-closing or spray taps), tanki toilet yang low-flush toilet. Yang intinya mengatur penggunaan air dalam bangunan sehemat mungkin.

 

Faktor kesehatan

Menggunakan material & produk-produk yang non-toxic akan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan, dan mengurangi tingkat asma, alergi dan sick building syndrome. Material yang bebas emisi, dan tahan untuk mencegah kelembaban yang menghasilkan spora dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam ruangan juga harus didukung menggunakan sistem ventilasi yang efektif dan bahan-bahan pengontrol kelembaban yang memungkinkan bangunan untuk bernapas.

Perlu diingat pada saat memilih bahan bangunan yang sensitif pada lingkungan tidak menjamin menghasilkan lingkungan dalam menjadi lebih baik. Pemilihan bahan bangunan tersebut harus dapat dikoordinasikan dengan sistem ventilasi dan mekanisasi yang baik untuk menghasilkan kualitas lingkungan dalam yang baik.

Ventilasi yang efektif dan cukup sangat menentukan kualitas kandungan udara yang baik dalam ruangan. Pengaruh ventilasi sangat besar bagi kenyamanan pemakai bangunan dan juga mengontrol tingkat polusi dalam bangunan.Ventilasi juga merupakan kunci penting untuk menjaga agar kualitas udara dalam ruangan termasuk men-supply udara bersih yang masuk keseluruh ruangan lain sehingga udara dapat berputar dengan baik dan memenuhi kebutuhan pernafasan pemakai ruangan.

Filtrasi udara yang semakin efisien dengan kualitas filtrasi yang tinggi dapat memberikan 85% efisiensi bukaan dan juga mengurangi tingkat partikel dan allergens dalam udara.Selanjutnya, sistem ventilasi harus dirancang sedemikian rupa sehingga udara dari luar tidak langsung masuk kedalam ruangan yang dipakai dan udara tersebut dapat berputar dan bergerak dalam luasan tertentu.Sistem exhaust dalam ruangan dapat mengurangi pengaruh polusi udara yang terjadi akibat mesin photo copy, peralatan-peralatan melukis, dan memasak. Sistem ventilasi juga harus mudah dicapai untuk perawatan. Oleh karena itu, bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan ramah lingkungan apabila memenuhi kriteria antara lain:

-Menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan yang antara lain meliputi penggunaan material bangunan yang bersertifikat eco-label atau material bangunan yang berada dalam lingkungan lokal.

-Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk konservasi sumber daya air dalam bangunan gedung antara lain: mempunyai sistem pemanfaatan air yang dapat dikuantifikasi; menggunakan sumber air yang memperhatikan konservasi sumberdaya air; dan mempunyai sistem pemanfaatan air hujan.

-Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana konservasi dan diversifikasi energi antara lain dengan menggunakan sumber energi alternatif terbarukan yang rendah emisi gas rumah kaca; menggunakan sistem pencahayaan dan pengkondisian udara buatan yang hemat energi. menggunakan bahan yang bukan bahan perusak ozon dalam bangunan gedung antara lain: refrigeran untuk pendingin udara yang bukan bahan perusak ozon; dan melengkapi bangunan gedung dengan peralatan pemadam kebakaran yang bukan bahan perusak ozon.

-Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana pengelolaan air limbah domestic pada bangunan gedung antara lain: melengkapi bangunan gedung dengan sistem pengolahan air limbah domestik pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus; melengkapi bangunan gedung dengan sistem pemanfaatan kembali air limbah domestik hasil pengolahan pada bangunan gedung fungsi usaha dan fungsi khusus.

 

Lebih lanjut, Bangunan dapat dikategorikan sebagai bangunan ramah lingkungan apabila memenuhi kriteria antara lain:

-Terdapat fasilitas pemilahan sampah; memperhatikan aspek kesehatan bagi penghuni bangunan antara lain: melakukan pengelolaan sistem sirkulasi udara bersih; memaksimalkan penggunaan sinar matahari.

-Melengkapi bangunan gedung dengan ruang terbuka hijau sebagai taman dan konservasi hayati, resapan air hujan dan lahan parkir;

-Mempertimbangkan variabilitas iklim mikro dan perubahan iklim;

-Mempunyai perencanaan pengelolaan bangunan gedung sesuai tata ruang;

-Menjalankan pengelolaan bangunan gedung sesuai perencanaan; dan/atau

-Terdapat fasilitas, sarana, dan prasarana untuk mengantisipasi Bencana antara lain: mempunyai sistem peringatan dini terhadap bencana dan Bencana yang terkait dengan perubahan iklim seperti: banjir, topan, badai,longsor dan kenaikan muka air laut;

-Menggunakan material bangunan yang tahan terhadap iklim atau cuaca ekstrim intensitas hujan yang tinggi, kekeringan dan temperatur yang meningkat

 

Salah satu permasalahan lingkungan perkotaan dan perdesaan yang terjadi setiap tahun adalah banjir di kawasan hilir Daerah Aliran Sungai (DAS). Kerugian yang dialami oleh para korban banjir sangat besar dan bisa melemahkan Kawasan strategis kota dan desa sebagai pusat perekonomian. Sebenarnya permasalahan banjir tersebut harus mendapatkan perhatian dan partisipasi aktif dari masyarakat, baik di daerah hulu maupun di hilir DAS. Oleh karena itu, harus diberikan suatu solusi inovatif yang secara efektif dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat. Inovasi sederhana namun tepat dan hemat yang mampu meningkatkan daya resap air pada tanah dan mengurangi limpasan aliran air permukaan di kawasan tersebut. Dengan demikian, resiko banjir dan besarnya pengikisan tanah (erosi) akan menurun, sehingga memaksimalkan upaya masyarakat dalam membangun.

Indonesia punya dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau sepanjang tahun, dengan jumlah air di suatu wilayah tergantung dari kedua musim itu. Kalau dua musim ini dikaji lebih lanjut, maka beberapa hal yang sangat penting dapat ditemukan untuk dicermati. Pada waktu musim hujan selalu ada wilayah yang mengalami bencana banjir dan longsor. Sebaliknya, waktu musim kemarau beberapa wilayah kekeringan

 

Beberapa teknologi sederhana yang dapat dilakukan antara lain :

Resapan air hujan.

Peresapan air hujan ke dalam tanah sangat penting mengingat adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai konsekuensi dari perkembangan penduduk dan perekonomian.Dengan adanya perubahan tata guna tanah itu, mengakibatkan menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan air. Semakin banyak permukaan tanah yang tertutup tembok, beton, aspal dan bangunan lainnya, sehingga tidak dapat meresapkan air hujan.

Lubang resapan biopori

Lubang resapan biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Metode ini dicetuskan oleh Ir. Kamir R Brata, M.Sc, peneliti dari Institut Pertanian Bogor. Peningkatan daya resap air pada tanah dapat dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Teknologi sederhana ini kemudian disebut dengan nama biopori.

Di daerah perkotaan, keberadaan pepohonan semakin tergusur oleh bangunan-bangunan sehingga lubang biopori menjadi semakin langka. Lagi pula, banyaknya pepohonan tidak selalu mengartikan akan ada banyak air yang terserap, karena permukaan tanah yang tertutup lumut membuat air tidak dapat meresap ke tanah.

Tujuan biopori ini adalah memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah. Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar. Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit. Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut.Mengurangi resiko banjir di musim hujan. Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah.Dan Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.

Adapun Tempat yang dapat dibuat / dipasang lubang resapan biopori antara lain pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah. Di sekeliling pohon. Pada tanah kosong antar tanaman / batas tanaman.

Secara alami, biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.

Keuntungan biopore dalam pemanfaatannya antara lain :

-Biopori dapat mengakumulasikan limbah organik secara efisien. Limbah dapur dan sampah pekarangan dapat dimasukkan ke dalam biopori ini.

-Biopori sangat efektif menampung air hujan yang jatuh di pekarangan rumah dan meresapkannya ke dalam tanah.

-Limbah organic dalam biopori dapat mengalami dekomposisi menjadi kompos.

-Biopori juga berfungsi sebagai reservoir air tanah di sebelah bawahnya.

-Biopori belum menjadi hal yang populer bagi masyarakat, karena pendidikan lingkungan hanya terpaku pada tanaman. Tetapi dengan biopori ini kita akan menjadi penyelamat 3 dimensi bumi yakni , darat , laut dan udara .

Biopori mencangkup banyak bahkan seluruh masalah yang kerap terjadi oleh manusia , lebih dinominasikan untuk masalah tanah. Biopori menyelamatkan ekosistem bawah tanah dan sangat menguntungkan bagi manusia , disatu sisi dia kecil dan tidak dipedulikan tetapi dia membawa manfaat yang dapat membawa lingkungan sekitar menjadi lebih subur

 

  1. Menyelamatkan bumi dari Dampak Lingkungan Akibat Sampah.

Sampah dapat menimbulkan bahaya atau gangguan terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Adapun berbagai dampak yang dapat ditimbulkan oleh sampah antara lain sebagai berikut.

Pencemaran udara.

Biogas dapat lepas ke udara ambien dan dapat bermigrasi secara lateral melalui tanah dan batu.Biogas juga dapat mengalami infiltrasi ke dalam bangunan-bangunan dan mengalami akumulasi metan sehingga dapat menimbulkan ledakan yang berbahaya.

Menurut Japan International Cooperation Agency (JICA) melalui “sanitary landfill”. dihasilkan substansi kimia dalam bentuk gas seperti CH4, CO2, NH3, dan H2S. Perhatian khusus diberikan pada CH4 karena dapat diubah menjadi bahan berbahaya (HCHO) kemudian dihasilkan CO2. jalur perubahan CH4 menjadi CO2 mengikuti jalur-jalur reaksi tertentu. Gugus OH dapat terbentuk oleh pelepasan NH3 di udara. Gas CO2, NH3, dan H2S dapat diubah menjadi H2CO3, HNO3, dan H2SO4 berturut-turut dalam sehari.Diperkirakan hal tersebut akan berpengaruh terhadap terjadinya hujan asam.

Bau busuk sampah memiliki dampak emosional terhadap penduduk yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah . Bau digunakan sebagai alasan penduduk untuk mencegah dibangunnya TPA. Bau busuk yang ditimbulkan sampah organik terjadi tatkala proses penguraian (dekomposisi) berlangsung dalam kondisi tanpa oksigen atau intensitas aerasi rendah (anaerob) , atau kadar air atau kelembaban rendah maupun terlalu kering serta suhu yang tidak kondusif bagi bekerjanya bakteri pengurai. Pada kondisi prasyarat bagi berlangsungnya penguraian (dekomposisi) material organik tidak terpenuhi, bakteri akan diam dan tidur (dorman) , saat sama akan terjadi reaksi anaerobik dan menimbulkan gas H2S maupun methana ( CH4) . Kedua jenis gas inilah yang dirasakan sebagai bau busuk.

Efek fisik gas H2S pada tingkat rendah dapat menyebabkan terjadinya gejala-gejala sebagai berikut : Sakit kepala atau pusing Badan terasa lesu,Hilangnya nafsu makan

Rasa kering pada hidung, tenggorokan dan dada,Batuk – batuk ,Kulit terasa perih.

Dampak akibat sampah menumpuk antara lain :

Pencemaran udara.

Sampah dapat menyebabkan pencemaran udara, misalnya bau busuk, asap, dan sebagainya. Sampah menimbulkan biogas yang mengandung banyak metan dan karbondioksida serta bahan berbahaya lainnya.Ibu-ibu, yang tinggal di sekitar TPA, yang terkontaminasi biogas memiliki fisiko tinggi kelahiran bayi dengan berat badan rendah dan mempengaruhi umur kehamilan. Individu yang terpapar biogas berhubungan dengan gangguan hipertensi pada saat kehamilan, “stillbirths”” (kematian janin pada kehamilan tua), cacat bawaan. Dampak tersebut tergantung pada sifat, waktu , dan tingkat kontaminasinya.

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa beberapa bahan dalam biogas dapat mengganggu perkembangan embrio, fetus, dan dapat menyebabkan kemandulan, kematian, berat badan kelahiran rendah, dan kelainan bawaan.

Menurut California Waste Management Board (1988), biogas mengandung karbon dioksida, dan bahan-bahan lain seperti karbon disulfida, merkaptan, dan bahan lainnya. Biogas tersebut dihasilkan oleh dekomposisi anaerobik dari bahan organik.

 

Pencemaran air akibat sampah.

Sampah juga dapat menimbulkan pencemaran air permukaan dan air tanah karena “pembasuhan” sampah oleh air hujan. Selain itu sampah dapat menyumbat saluran air dan got sehingga menimbulkan banjir.

Lindi (leachate) merupakan cairan yang dihasilkan oleh penguraian sampah yang terbilas oleh adanya air,baik yang terkandung dalam sampah itu sendiri maupun dari luar (rembesan air hujan atau air tanah). Dampak negatif secara signifikan terhadap air permukaan dan kualitas air tanah merupakan polusi yang disebabkan oleh lindi. Karakteristik pencemar yang dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang dibuang. Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturut-turut sekitar 30,000 mgi1, 20 mg/l, dan 60 mg/l (Japan International Cooperation Agency). Untuk kondisi di ndonesia yang sampahnya didominasi oleh sampah organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi didominasi oleh besarnya BOD yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000 ppm atau lebih.Hal ini menyebabkan sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran air secara serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk dikontrol. Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam sampah, evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah, sedangkan kualitas lindi berhubungan erat dengan kadar BOD dan COD. Karakteristik pencemar yang dimiliki lindi sangat tergantung pada karakteristik sampah yang dibuang. Karakteristik utama lindi adalah COD, N, dan P yaitu secara berturut-turut sekitar 30,000 mg/l, 20 mg/l, dan 60 mg/l. Untuk kondisi di Indonesia yang sampahnya didominasi oleh sampah organik sampai di atas 70%, karakteristik lindi didominasi oleh besarnya BOD yang menurut penelitian dapat mencapai 50.000 ppm atau lebih.

Hal ini menyebabkan sampah sangat potensial menimbulkan masalah pencemaran air secara serius dan dampaknya terhadap polusi air permukaan sulit untuk dikontrol. Kuantitas lindi dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu kadar air dalam sampah, evaporasi, curah hujan, dan rembesan air tanah.

 

Penurunan derajat kesehatan masyarakat.

Dampak sampah terhadap penurunan tingkat kesehatan penduduk akan semakin tinggi jika sampah tidak dikelola dengan baik. Keadaan kesehatan di daerah pemukiman dapat diukur dengan jumlah kasus penyakit kolera dan penyakit menular lainnya. Dinyatakan oleh WHO dan Bank Dunia bahwa kolera adalah penyakit endemik, pada tahun 1974 terdapat 51.399 kasus atau case fatality rate 8,8%. Tingkat laju angka kematian di Indonesia pada tahun tersebut adalah 14,4 permil. Selanjutnya dinyatakan bahwa sebagian besar dari kematian tersebut disebabkan oleh penyakit menular. Penyakit menular itu disebabkan keadaan yang sangat buruk, pada saat itu dalam bidang sanitasi dan kesehatan lingkungan, seperti kurangnya sarana penyediaan air minum dan sistem air buangan yang tidak baik, masalah sampah yang belum terpecahkan, dan kurangnya kesadaran sebagian besar penduduk tentang pemeliharaan kesehatan lingkungan. Akibat dari keadaan lingkungan pemukiman yang buruk tidak saja merugikan dari segi kesehatan, tetapi juga memiliki dampak yang merugikan secara tidak langsung terhadap aspek-aspek sosial ekonomi pada umumnya.

Sampah dapat menjadi sarang lalat, tikus, kecoak, dan jasad renik yang dapat menjadi pembawa ataupun sumber penyakit. Selain itu, populasi pembawa penyakit ( vector) dapat meningkat oleh aktifitas pengangkutan dan pembuangan sampah.

Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit.

 

Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut; Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit). Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernaaan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.

Selain yang disebutkan diatas, juga ada beberapa dampak lingkungan akibat sampah yang dapat dikemukakan sebagai berikut :

Kecelakaan.

Sampah juga dapat menyebabkan kecelakaan misalnya terkena pecahan kaca, paku, dan lain- lain. Selain itu dapat juga menyebabkan kebakaran, gangguan asap yang dapat mengganggu pandangan dan membahayakan arus lalu lintas.

Penurunan keindahan dan kenyamanan.

Sampah selain menyebabkan pencemaran, penurunan kesehatan penduduk, dan kecelakaan, juga dapat mengganggu keindahan. Sampah yang tercecer dan tidak dibuang pada tempat semestinya akan terlihat tidak rapi dan mengganggu keindahan tempat sekitarnya.Sejumlah dampak negatif dapat ditimbulkan dari keberadaan TPA. Dampak tersebut bisa beragam:

Pelepasan gas metana yang disebabkan oleh pembusukan sampah organik (metana adalah gas rumah kaca yang berkali-kali lebih potensial daripada karbon dioksida, dan dapat membahayakan penduduk suatu tempat.

 

DAFTAR BACAAN :

 

UU No. 12/1992 tentang Budidaya Tanaman.

UU No. 6/1994 tentang Pengesahan Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim.

UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung.

UU No. 63/2002 tentang Hutan Kota.

UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang.

Peraturan Pemerintah (PP):

PP No. 69/1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang.

PP No. 41/1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

PP No. 4/2000 tentang Pengendalian Kerusakan dan/atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan/Lahan.

PP No. 28/2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi.

PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

PP No. 30/2000 tentang Pembinaan Jasa Konstruksi.

PP No. 82/2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pencemaran Air.

PP No. 63/2002 tentang Hutan Kota.

PP No. 36/2005 tentang Pelaksanaan UUBG.

*Keputusan Presiden (Keppres):

Keppres RI No. 23/1979 tentang Peningkatan Peran Serta Generasi Muda dalam Pelestarian Sumber Daya Alam.

Keppres No. 32/1990 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Keppres No. 23/1992 tentang Pengesahan Konvensi Viena dan Protokol Motreal tentang Lapisan Ozon.

*Keputusan Menteri (Kepmen):

Kepmen PU No. 640/KPTS/1986 tentang Perencanaan Tata Ruang Kota.

Kepmen PU No. 378/KPTS/1987 tentang Pengesahan 33 Standar Konstruksi Bangunan Indonesia, khususnya pada lampiran 22 mengenai Petunjuk Perencanaan Kawasan Perumahan Kota.

Kepmendagri No. 39/1992 tentang Organisasi Dinas Daerah.

*Peraturan Menteri (Permen):

Permendagri No. 2/1987 tentang Rencana Tata Ruang Kota.

Permendagri No. 4/1996 tentang Pedoman Perubahan Pemanfaatan Lahan Perkotaan.

Permendagri No. 1/2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan.

Instruksi Menteri (Inmen):

Inmendagri No. 14/1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan.

Inmen PU No. 31/IN/N1991 tentang Penghijauan dan Penanaman Pohon di Sepanjang Jalan di Seluruh Indonesia.

 

Advertisements
Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: