KAWASAN HIBURAN MALAM DAN UPAYA PENINGKATAN EKONOMI RAKYAT SEKTOR INFORMAL DR.SYAHRIAR TATO

KAWASAN HIBURAN MALAM DAN UPAYA PENINGKATAN
EKONOMI RAKYAT SEKTOR INFORMAL
DR.SYAHRIAR TATO.
A.Latar Belakang
Perubahan dan Modernisasi yang dijadikan sebagai tonggak awal kemajuan zaman telah memberikan pengaruh dan dampak pada berbagai aspek kehidupan dan kemanusiaan yang luar biasa pada abad ini. Modernisasi juga membawa dampak perubahan yang fundamental dalam berbagai bidang dan nilai kehidupan, yang tentunya akan memberi konsekuensi dan pengaruh bagi manusia sebagai komponen dalam kehidupan.
Berkembangnya kota, maka kegiatan yang umumnya terjadi di perkotaan meliputi kegiatan perdagangan dan jasa sebagai basis utama dan salah satu fungsi dari perkotaan, yaitu sebagai pusat perdagangan, penyediaan fasilitas sosial dan pelayanan jasa. Sebagai pusat pelayanan jasa, baik jasa perorangan seperti pengacara, dan dokter sedangkan pelayanan jasa public adalah perbankan, perhotelan, dan tempat hiburan.
Tempat hiburan merupakan salah satu pelayanan jasa yang ada di dalam perkotaan, yang mempunyai fungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat kota. Di kota saat ini muncul tempat hiburan malam sebagai alternatif bagi masyarakat untuk bersantai dan melepas rasa jenuh setelah seharian bekerja,dan untuk menghilangkan kepenatan.
Ibukota Negara, Jakarta mempunyai tingkat aktivitas yang luar biasa dalam kehidupan malam hari. Kebanyakan hotel Di Jakarta mempunyai bar mereka sendiri atau Night Club, Karoeke, Cafe, dan Live Music. Jakarta termasuk salah satu tempat yang sangat padat di dunia yang memiliki tempat discotik dan cafe.
Bali sebagai salah daerah tujuan wisata memanjakan para wisatawan dengan berbagai hiburan.Hiburan malam salah satunya,yang kerap menjadi daya tarik istimewa bagi para wisatawan dalam mengisi liburan di bali dengan sekedar mendengarkan music untuk melepaskan kepenatan sambil menikmati makan malam bersama keluarga.
Kota Makassar sebagai kota metropolis yang mempunyai beragam fasilitas yang dapat menunjang kehidupan masyarakat seperti penyediaan sarana dan prasarana, pusat perbelanjaan, perkantoran, transportasi serta tersedianya fasilitas hiburan bagi masyarakat untuk sekedar bersantai. Hiburan bagi masyarakat di kota-kota besar seperti Makassar sangat beraneka ragam seperti munculnya Tempat Hiburan Malam dibeberapa lokasi.
Di Makassar, dekat dengan kawasan pelabuhan dan pusat kota,ada kawasan tempat hiburan malam,yang dikenal dengan kawasan hiburan malam, yaitu kawasan Jalan Nusantara. Tidak ada data pasti kapan tepatnya bisnis Hiburan malam berkembang di kawasan ini. Yang jelas, sampai saat ini ratusan PSK telah beroperasi di kawasan ini yang jumlahnya mencapai puluhan tempat hiburan malam. Tempat hiburan itu berjejer di sepanjang Jalan Nusantara yang panjangnya mencapai satu kilometer. Riuhnya bisnis hiburan di kawasan ini terletak di sekitar pelabuhan penumpang Soekarno Hatta dan pelabuhan bongkar muat barang yang menjadi tempat bersantai para awak kapal untuk melepas penat dan mencari hiburan. Kawasan Jalan Nusantara, juga tidak jauh dari Pantai Losari dan Pusat Jajanan Laguna. Kedua tempat ini, adalah salah satu pusat keramaian di Kota Makassar dan di sepanjang jalan terdapat berbagai jenis tempat hiburan malam misalnya saja, cafetaria, tempat karaoke keluarga, diskotik.
Tempat Hiburan Malam di kota Makassar berkembang demikian pesat, ada banyak tempat hiburan bagi para warga di kota Makassar, mereka yang ingin menghabiskan malam dengan alunan musik romantis maupun dentuman musik yang cukup menghentak tinggal memilih tempat sesuai dengan keinginan mereka sebagai sarana hiburan untuk melepas lelah dan kejenuhan.
Sejalan dengan berkembangnya kota Makassar, selain munculnya tempat hiburan malam, maka muncul pula kegiatan masyarakat di sektor informal di sekitar tempat pelayanan jasa seperti tempat hiburan. Angka-angka yang cukup mencolok dalam lonjakan jumlah penduduk dikota besar membuat orang berpikir tentang sebab dan akibatnya. Sebab terjadinya lonjakan jumlah penduduk kota adalah karena pengaruh migrasi, yaitu orang yang datang dari desa atau daerah ke kota besar, atau yang lebih dikenal dengan istilah urbanisasi, selain karena pertambahan penduduk alami kota itu sendiri yang relatif kecil angkanya. Arus migrasi desa-kota yang cukup besar tidak semuanya terserap disektor industri modern dikota, karena keterbatasan sektor industri modern dan tidak semua migran memiliki skill atau kemampuan untuk masuk ke sektor industri modern tersebut. Hal ini mengakibatkan para migran yang tidak dapat masuk ke sektor industri modern lebih memilih sektor informal yang relatif mudah untuk dimasuki.
Agar tetap dapat bertahan hidup ( survive ), para migran yang tinggal dikota melakukan aktifitas-aktifitas informal (baik yang sah dan tidak) sebagai sumber mata pencaharian mereka. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan karena tidak memiliki penghasilan atau memiliki penghasilan tetapi rendah dan tidak tetap.Beberapa jenis “pekerjaan” yang termasuk di dalam sektor informal, salah satunya adalah pedagang kaki lima, seperti warung nasi, penjual rokok, penjual Koran dan majalah, penjual makanan kecil dan minuman. Mereka dapat dijumpai di pinggir-pinggir jalan di pusat-pusat kota yang ramai pengunjung. Mereka menyediakan barang-barang kebutuhan bagi golongan ekonomi menengah ke bawah dengan harga yang dijangkau oleh golongan tersebut. Tetapi, tidak jarang mereka yang berasal dari golongan ekonomi atas juga ikut menyerbu sektor informal.
Dengan demikian, sektor informal memiliki peranan penting dalam memberikan sumbangan bagi pembangunan perkotaan, karena sektor informal mampu menyerap tenaga kerja (terutama masyarakat kelas bawah) yang cukup signifikan sehingga mengurangi problem pengangguran diperkotaan dan meningkatkan penghasilan kaum miskin diperkotaan. Selain itu, sektor informal memberikan kontribusi bagi pendapatan pemerintahan kota.
Pertumbuhan sektor informal yang cukup pesat tanpa ada penanganan yang baik dapat mengakibatkan ke tidak teraturan dalam penataan ruang kota. Sebagaimana diketahui, banyak pedagang kaki lima yang menjalankan aktifitasnya ditempat-tempat yang seharusnya menjadi Public Space. Public Space merupakan tempat umum dimana masyarakat bisa bersantai, berkomunikasi, dan menikmati pemandangan kota. Tempat umum tersebut bisa berupa taman, trotoar, halte bus, dan juga tempat hiburan malam seperti yang ada di makassar khususnya di jalan nusantara dengan adanya THM tersebut membuat bermunculnya kegiatan di sektor informal seperti pedagang kaki lima di area tersebut.
Pedestrian yang digunakan untuk berjualan dapat mengganggu para pejalan kaki, seringkali kehadiran pedagang kaki lima tersebut mengganggu arus lalu lintas karena para konsumen pengguna jasa memarkirkan kendaraannya dipinggir jalan. Ketidakteraturan tersebut mengakibatkan Public Space kelihatan kumuh sehingga tidak nyaman lagi untuk bersantai ataupun berkomunikasi.
B.Tentang Tempat Hiburan Malam
1.Definisi Hiburan Malam
Kata Hiburan memiliki persamaan arti dengan kata entertainment dalam Bahasa inggris yang berarti sejenis tourist acctraction dimana para pengunjung yang datang merupakan subyek yang pasif sebagai audince/hadirin yang datang menikmati, menyaksikan ataupun mengagumi kejadian-kejadian yang berlangsung untuk mendapatkan kepuasan rohaniah sesuai dengan motif-motif yang mendorong kunjungan tersebut( R.S Damardjati )
Hiburan merupakan suatu barang atau perbuatan menghibur hati untuk melupakan kesedihan.Hiburan dalam Islam adalah sesuatu yang dapat memberi ketenangan dan kegembiraan kepada seseorang. Dalam ajaran Islam dilakukan dengan syarat tidak ada pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan, dan tidak melupakan ajaran-ajaran Allah s.w.t
Kata malam memiliki arti disini yaitu lebih cenderung menunjukkan waktu yaitu malam hari. Jadi Hiburan malam adalah sejenis tourist acctraction dimana para pengunjung yang datang merupakan subyek yang pasif sebagai audince/hadirin yang datang menikmati, menyaksikan ataupun mengagumi kejadian-kejadian yang berlangsung untuk mendapatkan kepuasan rohaniah sesuai dengan keinginan pengunjung yang dilakukan pada waktu malam hari.
2.Jenis-jenis Hiburan Malam
a.Diskotik
Diskotik adalah sutau tempat dimana para pengunjung dapat melakukan disco didalam suatu ruangan yang diiringi lagu-lagu disco yang menghentak dari berbagai negara. Tempat disco tersebut biasanya disebut dance floor (lantai disco).
b.Karaoke
Karaoke adalah suatu tempat hiburan yang disediakan untuk para pengunjung yang suka bernyanyi atau untuk melatih hoby mereka yaitu menyanyi.
c.Pub dan bar
Pub dan bar adalah suatu tempat dimana para pengunjung dihibur lewat lagu-lagu yang diiringi suatu kelompok band sambil menikmati minuman-minuman yang tersedia dan biasanya ruangan dari pub dan bar ini lebih terang bila dibandingkan dengan tempat-tempat hiburan lainnya.
d.Panti Pijat
Panti pijat adalah suatu tempat dimana para pengunjung dapat menikmati fasilitas pijat untuk menghilangkan rasa lelah.
C.Kegiatan Masyarakat Kota
1.Kegiatan Masyarakat
Menurut Poerwadarminta, Kegiatan adalah aktivitas. Kegiatan juga berarti suatu pekerjaan yang dilakukan seseorang dalam menyelesaikan urusannya. Menurut Kartini Kuncoro, kegiatan adalah istilah umum yang dikaitkan dengan keadaan yang selalu bergerak, eksplorasi dan berbagai respon lainnya terhadap rangsangan sekitar.
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Masyarakat merupakan salah satu satuan dalam sistem sosial atau kesatuan hidup manusia. Istilah inggrisnya berarti society sedangkan masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa arab yaitu syakara yang berarti ikut serta atau partisipasi, kata Arab masyarakat berarti bergaul yang istilah ilmiahnya berarti berinteraksi.
2.Kota dan perkotaan.
Kota dan perkotaan selalu mempunyai arahan yang berbeda. Dalam kamus tata ruang, kota merupakan suatu permukiman yang berpenduduk besar dan dengan luas areal yang terbatas, dimana pada umumnya bersifat non agraris. Kota juga merupakan tempat sekelompok orang dalam jumlah tertentu dan bertempat tinggal bersama dalam suatu wilayah geografis tertentu dengan pola hubungan yang rasional, ekonomis dan individualistis.
Sementara perkotaan memiliki arti yang lebih luas, dimana terdapat daerah permukiman yang meliputi kota induk dan daerah pengaruh di luar batas administrasinya yang berupa daerah pinggiran sekitarnya.
Kota adalah kegiatan ekonomi, pemerintah, politik, dan sosial sehingga membuat perkembangan disegala bidang seperti pembangunan fisik kota, yaitu bangunan-bangunan yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu dan juga pembangunan manusianya yang tinggal di kota maupun yang beraktivitas dengan keahlian maupun kemakmuran.
Menurut Adisasmita, kota adalah suatu simpul jasa distribusi atau sebagai Growth centre). suatu kota tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan masalah yang ada di kota tersebut. maupun di daerah hinterlannya. (daerah belakangnya) dalam suatu interaksi yang berimbang.
Berkembangnya suatu Kota lebih banyak dipengaruhi oleh fungsi yang diemban oleh kota itu sendiri, sebagai simpul jasa dan distribusi sehingga harus didukung dengan kegiatan dan aktivitas perkotaan berupa:
a.Pusat kegiatan perkantoran dan pelayanan jasa.
b.Pusat kegiatan perdagangan dan transportasi.
c Pusat Kegiatan pelayanan sosial ekonomi.
d.Penunjang pemukiman
Menurut Budiharjo, bahwa peranan kota-kota dalam pembangunan wiayah dan nasional harus di barengi dengan usaha pengembangan antara lain :
a. Mengembangkan sistem kota yang dapat mengoptimalkan tingkat pelayanan dan tingkat ekonomi.
b.Mengembangkan Urban Governance yang dapat mewujudkan fungsi dan tingkat pelayanan kota menurut sistem kota yang optimal.
c.Meningkatkan hubungan desa-kota termasuk daerah mega urban yang dapat mendorong dan menyerahkan pembangunan antara desa-kota.
d.Meningkatkan produktivitas daerah pekotaan dalam rangka mempercepat tercapainya fungsi kota yang diinginkan dalam system kota.
Kota adalah suatu pemukiman yang bangunannya rapat, dan penduduknya bernafkah bukan petani. Tedapat juga pengertian bahwa suatu kota dicirikan oleh adanya prasarana perkotaan, seperti bangunan yang besar bagi pemerintahan, rmah sakit, sekolah, pasar, dan sebagainya, taman serta alun-alun yang luas dan jalanan yang telah teraspal. suatu hal yang khas bagi suatu kota menurut Johara T.J adalah kota itu umumnya mandiri atau serba lengkap, yang berarti penduduk kota bukan hanya bertempat tinggal saja di dalam kota itu dan berekreasi pun di lakukan dalam kota itu.Keadaan ini sangat berlainan dengan kadaan di dalam kampung diwilayah pedesaan, dimana penduduk umumnya harus pegi keluar kampong untuk mencari nafkah. dengan demikian kota menyediakan segala fasilitas bagi kehidupan baik sosial maupun ekonomi sehingga baik bertempat tinggal maupun bekerja dan berkreasi dapat di lakukan oleh penduduk di dalam kota.
Menurut ahli sejarah tumbuhnya lingkungan fisik tempat berlangsungnya kehidupan dari sekelompok manusia atau lebih adalah merupakan awalanya perkembangan suatu lingkungan hidup yang dinamakan kota.
Fungsi kota itu sendiri mengandung fungsi Primer dan fungsi Sekunder yang keduanya menentukan perwujudan penyelenggaraan fungsi kota. fungsi Primer merupakan fungsi kota dalam hubungannya dengan kedudukan kota sebagai pemusatan pelayanan bagi jasa di luar penyelenggaraan fungsi primer. fungsi ini dapat bersifat pertahanan keamanan yang selanjutnya disebut sebagai fungsi sekunder yang bersifat khusus. penyelenggaraan fungsi-fungsi diatas memerlukan ruang di dalam kota yang perlu penataan.
Ukuran kota yang optimal ditentukan oleh berbagai faktor ekonomi, sosial dan geografis yang berbeda-beda antara masing-masing Negara. tidak ada batas tertentu mengenai ukuran atau besarnya suatu kota sepanjang ia dapat berkembang keluar dan keatas (Horizontal dan vertikal)
Pada dasarnya pusat kota mempunyai potensi pendorong dan penarik kekuatan sosial ekonomi yang dapat menciptakan perubahan pesat pada suatu kota. lokasi pusat kota sering cenderung ditentukan oleh transportasi, antara lain harus mudah dicapai oleh pejalan kaki dan pemakai kendaraan. secara fisik pusat kota di dominasi oleh bangunan dengan intensitas tinggi, hal-hal yang alamiah terbatas. Karakteristik yang lain yang juga terlihat adalah adanya kecenderungan aktifitas sejenis seperti komersial, administrasi, perdagangan eceran, jasa, rekreasi dan aktifitas sosial budaya
Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyani ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan.
-Jalan kehidupan yang cepat dikota-kota, mengakibatkan pentingnya faktor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian waktu yang teliti sangat penting, intuk dapat mengejar kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
-Perubahan-perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.
D. Kegiatan Sektor Informal
1.Munculnya Kegiatan Sektor Informal
Pembahasan tentang “sektor informal” telah menghasilkan sejumlah besar dokumentasi dari berbagai pelosok dunia. Ulasan tentang kegiata-kegiatan sektor informal selama ini umumnya terfokus secara eksklusif pada konteks kontemporernya yang diantaranya membahas tentang tingkat penghasilan pengusaha, jumlah tenaga kerja, latar belakang sosial ekonomi para pekerja dan sebagainya. Ulasan-ulasan tersebut ternyata belum mampu memberikan gambaran yang utuh tentang fenomena informalitas. Oleh karena itu perlu kiranya dalam hal ini diungkapkan munculnya gejala sektor informal dalam konteks sejarah karena melalui sejarah ini dapat menyingkap akar-akar kegiatan sektor informal serta keterkaitannya dengan perkembanganperkembangan makro dalam sistem sosial ekonomi yang lebih luas. Konsep sektor informal mulai diperkenalkan pada awal dasawarsa 1970-an ke dunia internasional. Tetapi masalah gejala munculnya sektor informal ini harus ditelusuri secara terpisah dari perkembangan konsepnya.
Kegiatan-kegiatan seperti yang dikemukakan pada ekonomi informal saat ini sudah sejak tahun 1724 dikota Batavia (Jakarta). Dikatakannya bahwa saat itu di sepanjang jalan kota terdapat penjaja-penjaja yang berkeliling membawa segala macam barang yang diperdagangkan. Mereka menjual bermacam-macam sayuran, porselin, kain, barang kerajinan, teh, roti, air minum, bunga, pakaian bekas, kaos kaki dan lain-lain. Praktek penjualan semacam itu sebelumnya dilarang oleh VOC dan baru diperbolehkan pada tahun 1739. Pada abad itu sistem penjajahan telah de fakto menduduki posisi tertentu dalam sistem perekonomian kota yang nantinya akan diisi oleh kegiatan-kegiatan informal. Kebiasaan ibu-ibu rumah tangga di Batavia membeli kebutuhan rutin mereka di halaman rumahnya telah membuka sistem penjajaan ke rumah-rumah sebagai kebutuhan tetap bagi jalannya ekonomi kota.
Dengan bekal mobilitas yang tinggi ini para pedagang informal perlahan-lahan akan menguasai segmen pasar ini. Dalam sebuah kajian lain ada yang menyimpulkan bahwa cikal bakal ekonomi informal perkotaan mulai muncul pada abad ke-19, kemudian mengambil bentuk modernnya pada dasawarsa 1920 atau 1930-an, sedangkan mencapai proporsi dominanya mulai dasawarsa 1950-an (Candrakirana).
2.Konsep Sektor Informal
Konsep sektor informal muncul dalam konsep keterlibatan pakar-pakar internasional dalam perencanan pembangunan di Dunia Ketiga. Gejala ini muncul setelah kelahiran Negara-negara maju setelah berakhirnya Perang Dunia II. Pada waktu itu muncullah gagasangagasan di tingkat internasional maupun nasional untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi pada Negara-negara dimaksud.
Melalui lembaga-lembaga internasional didirikanlah lembagalembaga untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di Negara-negaraberkembang seperti The World Bank, International Monetary Found (IMF) dan juga International Labour Organization (ILO). Lembaga-lembaga tersebut melakukan berbagai studi mengusulkan kebijakan dan turut campur tangan dalam pengambilan keputusan menyangkut berbagai bidang yang dianggap mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu Negara berkembang. ILO meluncurkan program untuk World Employment Programme (WEP) yang diterbitkan pada tahun 1972, menggulirkan konsep informal pertama kali yang diperkenalkan di dunia internasional (Chandrakirana ). Jean Breman mengatakan istilah sektor informal pertama kali dikemukakan oleh Hart pada tahun 1971 dengan menggambarkan sektor informal sebagai bagian angkatan kerja yang tidak terorganisir. Manning dan Effendi mengemukakan bahwa Keith Hart seorang antropolog Inggris adalah orang pertama kali melontarkan gagasan sektor informal dalam penelitiannya di suatu kota di Ghana pada tahun 1973
Sektor Informal adalah aktivitas ekonomi yang berada di luar sistem ekonomi yang legal, tak dilindungi hukum, rawan terhadap kemungkinan
eksploitasi oleh orang yang terlibat kriminal, preman, atau siapa
saja yang bisa memanipulasi hukum.
Pengertian sektor informal menurut Hart memiliki ciri-ciri mudah keluar masuk pekerjaan, mengusahakan bahan baku lokal tanpa berdasarkan hukum formal, unit usaha merupakan keluarga, jangkauan operasionalnya sempit, kegiatannya bersifat padat karya dengan menggunakan teknologi yang masih sederhana (tradisional), pekerja yang terlibat di dalamnya memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah serta keahlian yang kurang memadai, kondisi pasar sangat bersaing karena menyangkut hubungan antara penjual dan pembeli yang bersifat personal dan keadaanya tidak teratur .
Prakarsa dari Hart ini kemudian diteruskan oleh ILO (International Labour Organization) dalam berbagai studinya di negara-negara sedang berkembang. Untuk memberikan gambaran pengertian sektor informal di Indonesia, Hidayat mengemukakan ciri-cirinya sebagai berikut. Kegiatan usaha tidak terorganisasi secara baik, karena unit usaha yang timbul tidak menggunakan fasilitas atau kelembagaan yang tersedia di sektor formal. Pada umumnya, unit usaha tidak mempunyai izin usaha. Pola kegiatan usaha tidak teratur, baik dalam arti lokasi maupun jam kerja. Pada umumnya, kebijaksanaan pemerintah untuk membantu golongan ekonomi lemah tidak sampai ke sektor ini. Unit usaha mudah keluar masuk dari satu sub sektor ke lain sub sektor. Teknologi yang dipergunakan bersifat tradisional. Modal dan perputaran usaha relatif kecil, sehingga skala operasi juga relatif kecil; tidak diperlukan pendidikan formal karena pendidikan yang diperlukan diperoleh dari pengalaman sambil bekerja.
Pada umumnya, usaha termasuk golongan yang mengerjakan sendiri usahanya dan kalau mengerjakan buruh berasal dari keluarga. Sumber dana modal usaha pada umumnya berasal dari tabungan sendiri atau dari lembaga keuangan yang tidak resmi. Hasil produksi atau jasa terutama dikonsumsi kota atau desa yang berpenghasilan rendah, tetapi kadang-kadang juga berpenghasilan menengah. Berdasarkan konsep yang telah ada sebelumnya dan disesuaikan dengan kondisi saat ini dan pertimbangan-pertimbangan kemajuan pembangunan yang telah dicapai maka yang digolongkan ke dalam sektor informal:
-Pola kegiatannya tidak teratur, baik dalam arti waktu, pemodalan, maupun penerimaannya.
-Modal, peralatan dan perlengkapan maupun omzetnya biasanya kecil dan diusahakan atas dasar hitungan harian
-Tidak mempunyai keterkaitan (linkage) dengan usaha lain yang besar
-Lokasi usaha ada yang menetap dan ada yang berpindah-pindah.
-Tidak membutuhkan tingkat pendidikan tinggi.
-Merupakan usaha kegiatan perorangan ataupun unit usaha kecil yang memperkerjakan tenaga kerja yang sedikit (kurang dari 10) dari lingkungan hubungan keluarga, kenalan, atau berasal dari daerah yang sama.
Sektor informal merupakan Aktifitas ekonomi yang mengambil tempat diluar norma formal dari transaksi ekonomi yang dibentuk oleh negara dalam dunia bisnis. Sektor informal tidak berarti ilegal. Namun, secara umum istilah sektor informal mengacu pada usaha kecil atau mikro yang dikelola secara individual atau keluarga. Sektor informal menukarkan barang-barang dan jasa yang legal tetapi tidak dilengkapi dengan izin usaha yang memadai
Usaha-usaha sektor informal yang dimaksud diantaranya pedagang kaki lima, pedagang keliling, tukang warung, sebagian tukang cukur, tukang becak, sebagian tukang sepatu, tukang loak serta usaha usaha rumah tangga seperti : pembuat tempe, pembuat kue, pembuat es mambo, barang-barang anyaman dan lain-lain.
Berdasarkan berbagai pendapat, dapat disampaikan bahwa konsep sektor informal lebih difokuskan pada aspek-aspek ekonomi, aspek sosial dan budaya. Aspek ekonomi diantaranya meliputi penggunaan modal yang rendah, pendapatan rendah, skala usaha relatif kecil. Aspek sosial diantaranya meliputi tingkat pendidikan formal rendah berasal dari kalangan ekonomi lemah, umumnya berasal dari migran. Sedangkan dari aspek budaya diantaranya kecenderungan untuk beroperasi diluar sistem regulasi, penggunaan teknologi sederhana, tidak terikat oleh curahan waktu kerja. Dengan demikian cara pandang di atas tentang sektor informal lebih menitik beratkan kepada suatu proses memperoleh penghasilan yang dinamis dan bersifat kompleks. Di samping aspekaspek di atas, kehadiran sektor informal dapat dilihat dari dua segi yaitu segi positif dan segi negatif. Segi positif diantaranya mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, kemampuan menyerap angkatan kerja yang sekaligus sebagai katub pengaman terhadap pengangguran dan kerawanan sosial, menyediakan kebutuhan bahan pokok untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah. Sedangkan dari segi negatifnya adalah mengganggu lalulintas, mengganggu keindahan kota dan mengganggu kebersihan.
Wirosardjono mengemukakan ciri-ciri sektor informal sebagai berikut:
a.Pola kegiatannya tidak teratu, baik dalam waktu, permodalan, maupun penerimaan.
b.Tidak tersentuh oleh peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah sehingga kegiatannya sering dikatakan liar.
c.Modal, peralatan, dan perlengkapan maupun omzetnya biasanya kecil dan diusahakan atas dasar hitungan harian.
d.Tidak mempunyai tempat tetap.
e.Umunya dilakukan oleh dan melayani golongan masyarakat yang berpendapatan rendah.
f.Tidak membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus sehingga dapat menyerap bermacam-macam tingkatan tenaga kerja.
g.Umunya satuan usaha mempekerjakan tenaga yang sedikit dan dari lingkungan hubungan keluarga, kenalan, atau berasal dari daerah yang sama.
h.Tidak mengenal sistem perbankan, pembukuan,perkereditan, dan sebagainya.
Todaro dan Abdullah menyebutkan ciri-ciri sektor informal sebagai berikut :
a.Sebagian besar memiliki produksi yang berskala kecil, aktivitas-aktivitas jasa dimiliki oleh perorangan atau keluarga dan dengan menggunakan teknologi yang sederhana.
b.Umumnya para pekerja bekerja sendiri dan sedikit yang memiliki pendidikan formal yang tinggi.
c.Produktivitas pekerja dan penghasilannya cenderung lebih rendah daripada sektor informal.
d.Para pekerja sektor informal tidak dapat menikmati perlindungan seperti yang didapat dari sektor informal dalam bentuk jaminan kelangsungan kerja, kondisi kerja yang layak, dan jaminan pensiun.
e.Kebanyakan pekerja yang memasuki sektor informal adalah pendatang baru dari desa yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sektor formal.
f.Motivasi mereka biasanya untuk mendapatkan penghasilan yang bertujuan hanya untuk dapat hidup (survive), bukannya untuk mendapatkan keuntungan dan hanya mengandalkan pada sumber daya yang ada pada mereka untuk menciptakan pekerjaan.
g.Mereka berupaya agar sebanyak mungkin anggota keluarga mereka ikut berperan serta dalam kegiatan yang mendatangkan penghasilan dan meskipun begitu mereka bekerja dengan waktu yang panjang.
h.Kebanyakan diantara mereka menempati gubuk-gubuk yang mereka buat sendiri di kawasan kumuh (slum area) dan permukiman liar (scheller) yang umumnya jarang tersentuh pelayanan jasa seperti listrik, air, transportasi, serta jasa-jasa kesehatan dan pendidikan.
Sethuraman mengatakan, sektor informal biasanya digunakan untuk menunjukkan sejumlah kegiatan ekonomi yang berskala kecil. Akan tetapi, sektor informal tidak bisa disebutkan sebagai perusahaan berskala kecil. Sektor informal terutama dianggap sebagai manifestasi dari suatu pertumbuhan kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang. Mereka memasuki kegiatan berskala kecil dikota, terutama bertujuan untuk mencari kesempatan kerja dan pendapatan daripada memperoleh keuntungan karena mereka yang terlibat dalam sektor ini pada umumnya miskin, berpendidikan sangat rendah , tidak terampil dan kebanyakan para migran. Jelaslah bahwa mereka bukan kapitalis yang mencari investasi yang menguntungkan dan juga bukan pengusaha seperti yang dikenal pada umumnya.
Lebih lanjut Seuthraman menyatakan bahwa sektor informal di kota terutama harus dipandang sebagi unit-unit berskala kecil yang terlibat dalam produksi dan distribusi barang-barang yang masih dalam suatu proses evolusi daripada dianggap sebagai sekelompok perusahaan yang berskala kecil dengan masukan-masukan (inputs) modal dan pengelolaan (manajerial) yang besar. Skala operasi adalah karakteristik terpenting yang muncul dari konsep sektor informal. Meskipun skala operasi dapat diukur dengan berbagai macam-macam cara antara lain meliputi besarnya modal, omzet, dan lain-lain, tetapi karena ciri-ciri ini biasanya berhubungan erat satu dengan yang lain, maka alat ukur yang paling tepat untuk mengukur skala operasi adalah jumlah orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut
Melihat skala kota sebagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari unit-unit produksi dan distribusi, maka unit-unit yang memiliki 10 orang kebawah diklasifikasikan kedalam sektor informal. Pemilihan kriteria ini didasarkan pada keyakinan bhawa perusahaan yang memiliki lbih dari 10 pekerja tidak mungkin didirikan dengan motif utama memanfaatkan kesempatan kerja.
Dari pengertian yang diberikan Soetjipto Wirosardjono, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Todaro, Abdullah, dan Seuthraman dapat disimpulkan bahwa sektor informal yang dimaksud memiliki ciri-ciri sebagai berikut ;
a.Modal maupun omzetnya biasanya kecil dan usaha itu dilakukan atas dasar hitungan harian.
b.Peralatan dan perlengkapan yang digunakan biasanya sederhana.
c.Tidak mempunyai tempat tetap dan mudah dipindahkan oleh pihak yang berwenang, biasanya menempati di lokasi tertentu disepanjang jalan kaki lima (trotoar).
d.Umumnya kegiatan dilakukan oleh dan melayani keterampilan khusus sehingga dapat menyerap bermacam-macam tingkatan kerja.
e.Relatif tidak membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus sehingga dapat menyerap bermacam-macam tingkatan tenaga.
f.Umumnya tiap satuan usaha mempekerjakan tenaga yang sedikit dan dari lingkungan hubungan keluarga, teman dekat, orang yang dipercaya, atau berasal dari daerah yang sama.
g.Pengelolanya dibantu oleh sejumlah kecil orang (menurut Suthraman kurang dari 10 orang).
h.Lebih dimaksudkan untuk mencari lapangan pekerjaan daripada untuk mencari keuntungan. Ciri-ciri baku dari sektor informal menurut Sethuraman, yaitu :
1.Seluruh aktivitas berstandar pada sumber daya sekitarnya.
2.Ukuran usaha umumnya kecil dan aktivitas merupakan usaha keluarga.
3.Untuk menopang aktivitas digunakan teknologi yang tepat guna dan memiliki sifat yang padat karya.
4.Tenaga kerja yang bekerja dalam aktivitas sektor ini telah terdidik atau terlatih dalam pola-pola yang tidak resmi.
5.Seluruh aktivitas mereka dalam sektor ini berada di luar jalur yang diatur pemerintah.
6.Aktivitas mereka bergerak dalam pasar sangat bersaing
3.Terbentuknya Sektor Informal
Angka-angka yang cukup mencolok dalam lonjakan jumlah penduduk dikota besar membuat orang berpikir tentang sebab dan akibatnya. Sebab terjadinya lonjakan jumlah penduduk kota adalah berduyun-duyunnya orang yang datang dari desa atau daerah ke kota besar, atau yang lebih dikenal dengan istilah urbanisasi, selain karena pertambahan penduduk alami kota itu sendiri yang relatif kecil angkanya. Sedangkan akibat penduduk kota yang melonjak adalah terdapat kelompok-kelompok masyarakat di kota dengan berbagai macam ragam, ada lapisan masyarakat atas, menengah, dan bawah. Lapisan masyarakat menengah keatas pada umumnya mampu memasuki sektor formal karena memiliki keterampilan, tingkat pendidikan yang cukup dan akses yang dimilikinya.
Lapisan masyarakat menengah ke bawah dengan keterampilan, pendidikan, dan akses yang terbatas peluang untuk memasuki sektor informal sangat terbatas. Akhirnya mereka menggeluti sektor informalyang tidak mensyaratkan kriteria yang berlebih. Dengan modal yang terbatas, ditambah dengan keterampilan dan keuletan, mereka mampu bertahan hidup di perkotaan.
Jenis usaha yang digelar oleh pedagang sektor informal berbagai macam, antara lain warung makan semi permanen di kaki lima, menjajakan makanan dengan menggunakan gerobak; warung kelontong dalam gerobak; menjual minuman dan makanan di tempat keramaian.
4.Dorongan Memasuki Sektor Informal di Perkotaan
Dorongan seseorang untuk memasuki sektor informal di perkotaan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, budaya dan psikologi. Namun, diantara dorongan faktor-faktor di atas, Hugo dan Mazumdar, misalnya lebih melihat faktor ekonomi sebagai faktor dominan yang melatar belakangi seseorang memasuki sektor informal di perkotaan. Dorongan faktor ekonomi ini antara lain dapat meliputi tiga hal berikut.
a.karena adanya ketimpangan pembangunan antara desa dan kota (urban bias development). Dengan perkataan lain, berbagai sumber-sumber ekonomi dan sasaran penunjang perekonomian lebih terkonsentrasi di kota dibandingkan dengan di desa.
b.karena adanya kemiskinan di pedesaan. Kemiskinan ini terjadi antara lain karena rendahnya penguasaan terhadap lahan pertanian. Sensus pertanian 1993 menyebutkan bahwa hampir 60% penduduk desa tidak memiliki lahan, sementara itu 80% dari penduduk Indonesia tinggal di pedesaan. Kalaupun mereka memiliki lahan, luas pemilikan lahan rata-rata hanya 0,30 ha1′. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar dari petani gurem lebih memilih bekerja sebagai buruh tani atau bekerja di sektor informal perkotaan.
c.karena kurangnya penyediaan kesempatan kerja. Di Pedesaan initerjadi antara lain karena kurangnya sektornon pertanian di pedesaan. Keadaan ini pada gilirannya menyebabkan peningkatan yang terjadi pada angkatan kerja (kurang lebih 2% /tahun) tidak tertampung pada sektor tersebut. Demikian pula, dengan berkembangnya pendidikan. Di pedesaan, angkatan muda di pedesaan pun kini mempunyai kecenderungan mengalami perubahan dalam hal persepsi, sikap dan motivasi terhadap pertanian. Akibatnya mereka “enggan” bekerja disektor pertanian dan ingin bekerja di sektor non-pertanián.
Disamping faktor-faktor ekonomi tersebut di atas, beberapa faktor ekonomi lainnya dapat meliputi hal-hal berikut ini. Pertama adalah karena sektor informal relatif tidak memerlukan modal dan ketrampiian yang tinggi. Kedua, kegiatan usaha sektor informal relatif mudah untuk dilakukan oleh setiap orang. Artinya bahwa faktor input yang digunakan daiam kegiatan usaha ini reaitif tidak terlalu kompleks. Dan ketiga, pengelolaan usaha dalam sektor informal relatif mudah.
Akibat dari berbagai faktor ekonomi di atas, maka saat ini sektor informal diperkotaan tumbuh dan berkembang dengan pesat. Keadaan ini tentu saja memerlukan perhatian bersama agar kehadiran sektor ini dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.
E.Sektor Informal dan Penyerapan Angkatan Kerja
Timbulnya sektor informal di kota tidak terlepas dari latar belakang sejarah perekonomian tradisional yaitu perekonomian pedesaan yang sebagian besar didasarkan pada struktur pertanian dengan pola bercocok tanam sederhana. Karena rendahnya upah tenaga kerja di sektor pertanian dan semakin langkanya lahan-lahan pertanian di pedesaan, maka banyak tenaga kerja yang memilih alternatif lain untuk urbanisasi dan bekerja di sektor non pertanian. Berdasarkan hasil suatu penelitian Cahyono disimpulkan bahwa dari proporsi tenaga kerja yang mencari nafkah di berbagai sektor dalam pembangunan ekonomi, ternyata dari tahun ke tahun penyediaan kesempatan kerja sektor pertanian semakin menurun, sedangkan pada sektor non pertanian menunjukkan kenaikan. Dalam hubungan ini ternyata sebagian besar angkatan kerja terserap pada sektor informal.
Angkatan kerja yang merupakan bagian dari tenaga kerja dimana tenaga kerja itu sendiri mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga ( Simanjuntak). Dengan demikian tidak semua penduduk dapat dikatagorikan sebagai tenaga kerja, sebab diantara penduduk tersebut ada yang kurang mampu memproduksi barang atau jasa misalnya anak-anak di bawah usia kerja, orang yang lanjut usia atau jompo).
Secara praktis pengertian tenaga kerja biasanya hanya dilihat dari segi umur dengan melihat batas umur, maka secara praktis pula dapat ditentukan golongan tenaga kerja dan golongan bukan tenaga kerja. Di tiap-tiap Negara batas umur tenaga kerja ini tidak sama. Di Indonesia dipilih batas umur minimum 10 tahun tanpa batas umur maksimum. Dengan memperhatikan hal tersebut di atas maka keseluruhan penduduk apabila dilihat dari sudut ketenagakerjaan secara garis besar dapat dibagi dua yaitu : penduduk usia kerja (working age population) dan penduduk di luar usia kerja (non working age population). Yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua tenaga kerja berpartisipasi aktif dalam pekerjaan. Secara ekonomis tidak semua tenaga kerja terlibat dalam pekerjaan atau kegiatan produktif. Hanya sebagian dari mereka yang sesungguhnya terlibat, sedangkan sebagian lainnya tidak terlibat. Mereka yang tidak terlibat dalam kegiatan yang produktif disebut bukan angkatan kerja (non in the labour force). Sedangkan mereka yang terlibat dalam pekerjaan atau usaha produktif disebut angkatan kerja (labour force).
Angkatan kerja terdiri dari golongan yang bekerja dan golongan yang sedang mencari kerja atau menganggur. Golongan yang bekerja yaitu orang-orang yang sudah aktif dalam kegiatannya dalam proses produksi guna menghasilkan barang atau jasa. Sedangkan golongan yang sedang mencari kerja atau orang yang menawarkan jasa tenaga atau pikiran untuk proses produksi guna menghasilkan barang atau jasa. Jumlah orang yang dapat terserap dalam suatu pekerjaan tergantung dari besarnya permintaan (demand) dalam masyarakat. Sedangkan besar kecilnya permintaan tenaga kerja dipengaruhi antara lain oleh aktivitas ekonomi maupun tingkat upah. Permintaan tenaga kerja ini dapat dating dari sektor formal maupun sektor informal.
Sektor informal yang umumnya dipandang sebagai pekerjaan yang inferior, ternyata mempunyai banyak bidang usaha. Satu diantaranya adalah bidang usaha perdagangan dan salah satu pelaku di bidang perdagangan ini adalah pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima dalam usahanya mempunyai beberapa karakteristik pasar diantaranya yaitu: pasar tidak terorganisir dengan baik, umumnya tidak memiliki izin usaha, lokasi pasar tidak permanen dan waktu yang digunakan untuk usaha tidak teratur. Beberapa karakteristik ini dapat mempengaruhi permintaan maupun penawaran angkatan kerja untuk memasuki kerja (terserap) oleh sektor informal. Oleh karenanya kaitan antara sektor informal dan penyerapan angkatan kerja dapat dikemukakan sebagai berikut :
a)Persyaratan Masuk. Angkatan kerja mudah terserap pada sektor informal, alasan ini karena sektor informal memberikan kebebasan masuk maupun keluar kerja kepada angktan kerja tanpa adanya persyaratan-persyaratan seperti yang diberlakukan pada sektor formal. Akibatnya bagi angkatan kerja yang berminat/tertarik untuk memasuki kerja di sektor informal langsung dapat terserap sesuai dengan jenis yang diminati.
b)Waktu kerja. Dari segi waktu kerja sektor ini memberikan kebebasan waktu kepada angkatan kerja. Dengan adanya kebebasan waktu kerja ini angkatan kerja akan lebih fleksibel untuk menjalankan usahanya sehingga bagi siapapun yang memasuki sektor ini dapat memilih waktu yang diinginkan.
c)Umur. Secara relatif bekerja pada sektor informal tidak batas umur yang mengikat seperti yang diberlakukan pada sektor formal. Secara relatif bekerja di sektor informal tidak ada istilah usia produktif atau non produktif. Siapapun yang berminat memasuki sektor ini dalam usia berapapun dapat membuka dan menjalankan usahanya. Dari gambaran ini bagi angkatan kerja yang sudah tidak dipekerjakan di sektor formal (dipensiunkan misalnya) dan masih berminat untuk bekerja maka dapat terserap pada sektor informal.
d)Jenjang pendidikan. Seperti disebutkan dimuka bahwa sektor informal umumnya dipandang sebagai pekerjaan yang inferior, maka bagi angkatan kerja yang mempunyai pendidikan formal terbatas (rendah) apalagi hanya buta huruf, tentunya akan sulit memasuki kerja di sektor formal. Oleh karena itu sektor informal menawarkan kesempatan kerja kepada angkatan kerja yang berminat memasukinya. Denga tertampungnya angkatan kerja memasuki sektor ini, mereka dapat dikatakan telah terserap pada sektor informal. Menggarisbawahi keunggulan-keungulan sektor informal seperti yang disebutkan di atas, maka keberadaan sektor informal jangan hanya dipandang sebagai hal yang negatifsaja tetapi termasuk segi positifnya juga. Dari segi positifnya sektor informal mempunyai dampak sebagai berikut :
-Mempunyai daya kemampuan untuk menyerap angkatan kerja. Hal ini mengingat keterbatasan sektor formal dalam menyerap angkatan kerja.
-Mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Sektor informal yang selama ini bagi sebagian orang dianggapnya lebih sering sebagai beban yang mencemari keindahan dan ketertiban kota, bahkan kadangkala mereka dijadikan buronan pihak Satpol PP (ketertiban umum). Walaupun terdapat dampak negatif, tetapi tidaklah berarti sektor ini “harus dimusuhi” tetapi justru perlu dilindungi, dibangun, dikembangkan/dibina sehingga dampak negatif bisa dihilangkan. Sektor informal seharusnya dijadikan kelompok sasaran (target Groups) karena sektor ini mampu menciptakan lapangan kerja sendiri tanpa bantuan pemerintah. Sektor ini telah memberi andil dan ikut berperan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar mengenai proses pembangunan ekonomi dan perubahan sosial. Dalam rangka mengemban misi pemerataan pembangunan di era otonomi daerah, maka sudah selayaknya bilamana kebijakan-kebijakan ekonomi dalam rangka pemerataan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha pertumbuhannya dirangsang dari “bawah” khususnya yang bergerak di sektor industri kecil di pedesaan dan sektor informal di perkotaan. Sektor informal di perkotaan telah terbukti dapat terus langgeng, bahkan meningkat walaupun kadangkala di kejar-kejar oleh aparat ketertiban. Berarti sektor informal tidak dapat dihapuskan. Sebaliknya sektor informal perlu dibina dan diarahkan karena ternyata di sisi lain sektor informal juga membayar restribusi yang menjadi salah satu sumber pendapatan daerah, yang selanjutnya dana tersebut dapat diputar kembali untuk pembiayaan pembangunan.
F.Legalitas Sektor Informal
Bentuk sektor informal dapat dipilahkan antara sektor informal yang bersifat legal yang biasanya menempati lokasi yang ditentukan oleh pemerintah daerah setempat dan dibuka secara kontinu. Biasanya modal yang digunakan relatif lebih besar dibandingkan dengan sektor informal ilegal. Sedangkan sektor informal yang dilakukan secara ilegal menempati usaha yang tidak ditentukan oleh pemerintah daerah setempat sebagai lokasi sektor informal.
Kondisi jalan raya lebar yang sempit, biasanya pedagang kaki lima hanya diperbolehkan menggelar sarana usahanya di atas kaki lima. Di daerah lalu lintas yang padat dan diatas sekolah biasanya tidak diizinkan pedagang kaki lima menggelar usahanya. Hanya dalam kasus-kasus tertentu sektor informal diperbolehkan melakukan aktivitas diatas selokan yang tertutup. Misalnya karena suatu kawasan terdapat penertiban dan penggusuran sektor informal yang lokasinya akan dibangun suatu aktivitas tertentu, karena keterbatasan lahan, sektor informal yang digusur diperbolehkan melakukan aktivitas.
Ada juga pedagang sektor informal ilegal yang lokasinya dapat berpindah-pindah mengikuti kerumunan konsumen yang berada. Apabila ada event dan kerumunan orang di alun-alun atau lapangan, mereka akan menggelar sarana usahanya di tempat itu. Apabila pedagang ilegal ini kehadirannya tidak mengganggu ketertiban umum adakalanya mereka dibiarkan melakukan usahanya. Akan tetapi apabila pemerintah daerah suatu saat melakukan razia, sarana usaha, dan barang dagangan diangkut ke mobil petugas.
Pelaku kegiatan sektor informal ilegal seringkali merasa was-was apabila sewaktu-waktu kegiatannya digusur. Bahkan perasaan serupa dialami oleh pedagang sektor informal legal. Persoalan ilegal dan legal berkaitan dengan lokasi yang diizinkan oleh pemerintah kota setempat. Apabila kebutuhan masyarakat akan kehadiran sektor informal ilegal dibutuhkan dan tidak mengganggu lingkungan, dapat terjadi lokasi yang semula memiliki status ilegal bagi pedagang sektor informal, akan diberi status legal melalui peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah kota setempat. Status legalisasi ini memiliki manfaat bagi pemerintah maupun bagi pedagang kaki lima. Beberapa manfaat diantaranya :
a.Secara psikologis pedagang kaki lima lebih terlindungi
b.Terdapat pembinaan lingkungan yang bersih dan estetis bagi pedagang kaki lima sehingga kehadiran pedagang kaki lima akan ikut memlihara keindahan kota.
Legalisasi lokasi yang semula ilegal menjadi legal merupakan salah satu bentuk formalisasi sektor informal. Ada juga formalisasi pedagang kaki lima dengan cara memeberi kesempatan pedagang kaki lima atau pedagang kecil yang baru untuk menempati sebuah tempat di dalam pusat perbelanjaan modern.
G.Sarana Usaha sektor informal
Sarana usaha sektor informal dapat dipilah menjadi sarana usaha yang bersifat permanen, semipermanen, dan tidak permanen. Saran usaha yang bersifat permanen biasanya menggunakan bangunan yang dindingnya terbuat dari batu bata, batako, tembok, atau kayu/papan yang dibangun secara kuat diatas suatu lahan. Sarana usahanya dibangun untuk jangka waktu yang lama. Sarana usaha yang bersifat semipermanen pemasangan bahan-bahan bangunannya dapat dibongkar pasang. Biasanya, sarana usahanya menggunakan tenda yang mudah dibongkar pasang atau gerobak yang mudah dipindahkan.
Sarana usaha yang bersifat tidak permanen menggunakan tikar, tanpa pelindung di atasnya. Sarana usaha yang bersifat tidak permanen ini mudah dipindahkan sehingga dapat mengikuti kerumunan orang-orang yang potensial membeli barang dagangannya. Sarana usaha yang dinamis ini dapat memberikan penghasilan yang lebih tinggi bagi pelaku sektor informal dengan sarana usaha permanen dan semipermanen.
Sektor informal dengan sarana usaha permanen dan semipermanen sebenarnya bukan sarana usaha yang dibenarkan, karena;
a.Telah ada peraturan yang menentukan bahwa sektor informal seharusnya memiliki sarana usaha tidk permanen.
b.Kegiatan sektor informal dilakukan di ruang publik diatas lahan pemerintah kota sehingga sewaktu-waktu usaha tersebut harus dapat dipindahkan.
c.Kehadiran sarana usaha sektor informal, khususnya pedagang kaki lima dianggap mengganggu keindahan kota.
Dikarenakan kelonggaran pemerintah kota, biasanya sektor informal dengan sarana usaha semipermanen diizinkan, dengan catatan setelah kegiatan usai, sarana usaha itu harus dibongkar.
H.Kekuatan dan Kelemahan Sektor Informal
•Beberapa kekuatan yang dimiliki sektor informal sebagai berikut:
1. Daya Tahan
Selama krisis ekonomi, terbukti sektor informal tidak hanya dapat bertahan, bahkan berkembang pesat. Hal ini disebabkan faktor permintaan (pasar output) dan faktor penawaran. Dari sisi permintaan, akibat krisis ekonomi pendapatan riil rata-rata masyarakat turun drastic dan terjadi pergeseran permintaan masyarakat, dari barang-barang sektor formal atau impor (yang harganya relatif mahal) ke barang-barang sederhana buatan sektor informal (yang harganya relatif murah). Misalnya, sebelum krisis terjadi, banyak pegawai-pegawai kantoran, mulai dari kelasmenengah hingga tinggi makan siang di restoran-restoran mahal di luar kantor. Di masa krisis, banyak dari mereka merubah kebiasaan dari makan siang di tempat yang mahal ke rumah-rumah makan sederhana atau warung-warung murah di sekitar kantor mereka.
Dari sisi penawaran, akibat banyak orang di-PHK-kan di sektor formal selama
masa krisis, ditambah lagi dengan sulitnya angkatan kerja baru mendapat pekerjaan di sektor formal, maka suplai tenaga kerja dan pengusaha ke sektor informal meningkat. Selain itu, relatif kuatnya daya tahan sektor informal selama krisis, juga dijelaskan oleh tingginya motivasi pengusaha di sektor tersebut mempertahankan kelangsungan usahanya. Sebab, bagi banyak pelaku, usaha di sektor informal merupakan satu-satunya sumber penghasilan mereka. Karena itu, berbeda dengan rekan mereka di sektor formal, pengusaha-pengusaha di sektor informal sangat adaptif menghadapi perubahan situasi dalam lingkungan usaha mereka.
2.Padat Karya.
Dibanding sektor formal, khususnya usaha skala besar, sektor informal yang
pada umumnya adalah usaha skala kecil bersifat padat karya. Sementara itu persediaan tenaga kerja di Indonesia sangat banyak, sehingga upahnya relatif lebih murah jika dibandingkan di negara-negara lain dengan jumlah penduduk yang kurang dari Indonesia. Dengan asumsi faktor-faktor lain mendukung (seperti
kualitas produk yang dibuat baik dan tingkat efisiensi usaha serta produktivitas
pekerja tinggi), maka upah murah merupakan salah satu keunggulan komparatif
yang dimiliki usaha kecil di Indonesia.
3.Keahlian Khusus (Tradisional).
Bila dilihat dari jenis-jenis produk yang dibuat di industri kecil (IK) dan industri rumah tangga (IRT) di Indonesia, dapat dikatakan bahwa produk-produk yang mereka buat umumnya sederhana dan tidak terlalu membutuhkan pendidikan formal, tetapi membutuhkan keahlian khusus (traditional skills). Di sinilah keunggulan lain sektor informal, yang selama ini terbukti bisa membuat mereka bertahan walaupun persaingan dari sektor formal, termasuk impor sangat tinggi. Keahlian khusus tersebut biasanya dimiliki pekerja atau pengusaha secara turun temurun, dari generasi ke generasi.2
4.Permodalan
Kebanyakan pengusaha di sektor informal menggantungkan diri pada uang (tabungan) sendiri, atau dana pinjaman dari sumber-sumber informal (di luar sektor perbankan/keuangan) untuk kebutuhan modal kerja dan investasi mereka. Walaupun banyak juga pengusaha-pengusaha kecil yang memakai fasilitas-fasilitas kredit khusus dari pemerintah. Selain itu, investasi di sektor informal rata-rata jauh lebih rendah daripada investasi yang dibutuhkan sektor formal. Tentu, besarnya investasi bervariasi menurut jenis kegiatan dan skala usaha.
•Kelemahan Sektor Informal
Selain faktor-faktor kekuatan tersebut di atas, masa depan perkembangan sektor informal di Indonesia juga sangat ditentukan kemampuan sektor tersebut, dibantu maupun dengan kekuatan sendiri, menanggulangi berbagai permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan kata lain, mampu tidaknya sektor informal bersaing dengan sektor formal atau barang-barang impor, juga tergantung pada seberapa serius dan sifat serta bentuk dari kelemahan-kelemahan yang dimiliki sektor informal. Kelemahan sektor informal tercermin pada kendala-kendala yang dihadapi sektor tersebut, yang sering sekali menjadi hambatan-hambatan serius bagi pertumbuhan dan perkembangannya.
Kendala-kendala yang banyak dialami pengusaha-pengusaha di sektor informal terutama adalah keterbatasan modal, khususnya modal kerja. Kendala lain adalah kesulitan pemasaran dan penyediaan bahan-bahan baku, keterbatasan sumber daya manusia, pengetahuan minim mengenai bisnis, dan kurang penguasaan teknologi.
Sebagian besar industri kecil, terlebih industri rumah tangga di Indonesia adalah sektor informal. Masalah paling besar yang dialami mereka adalah keterbatasan modal dan pemasaran. Masalah lainnya adalah pengadaan bahan baku (misalnya tempat beli terlalu jauh, harga mahal, dan tidak selalu tersedia), kurang keahlian dalam jenis-jenis teknik produksi tertentu (misalnya tenaga ahli/perancang sulit dicari atau mahal), dan kurang keahlian dalam pengelolaan. Yang juga jadi persoalan adalah mereka menghadapi persaingan yang tajam dan kemampuan mereka berkomunikasi sangat rendah, termasuk akses mereka ke fasilitas-fasilitas untuk berkomunikasi sangat terbatas.
Dalam hal persaingan, industri kecil dan industri rumah tangga menghadapi mendapat persaingan sangat ketat, baik dari industri menengah dan besar (IMB) maupun dari barang-barang impor. Persaingan itu tidak saja dalam hal kualitas dan harga, tetapi juga dalam pelayanan-pelayanan setelah penjualan dan penampilan produk. Dengan berbagai keterbatasan yang ada, mulai dari keterbatasan dana, skills, hingga kesulitan mendapatkan bahan baku dengan kualitas baik, membuat banyak industri kecil dan indurstri rumah tangga di Indonesia kesulitan meningkatkan kualitas produk mereka agar mampu bersaing di pasar domestik dan ekspor. Apalagi ketika mereka harus menangani masalah-masalah tersebut sendirian
I.Pedagang Kaki Lima
Memakai konsep informalitas perkotaan dalam mencermati fenomena PKL di perkotaan mengubah perspektif terhadap keberadaan mereka di perkotaan. Mereka bukanlah kelompok yang gagal masuk dalam sistem ekonomi perkotaan. Mereka bukanlah komponen ekonomi perkotaan yang menjadi beban bagi perkembangan perkotaan. PKL adalah salah satu moda dalam transformasi perkotaan yang tidak terpisahkan dari sistem ekonomi perkotaan.
Ketersediaan lapangan pekerjaan sektor formal bukanlah satu-satunya indikator ketersediaan lapangan kerja. Keberadaan sektor informal pun adalah wujud tersedianya lapangan kerja. Cukup banyak studi di negara-negara Dunia Ketiga yang menunjukkan bahwa tidak semua pelaku sektor informal berminat pindah ke sektor formal. Bagi mereka mengembangkan kewirausahaannya adalah lebih menarik ketimbang menjadi pekerja di sektor formal.
Masalah yang muncul berkenaan dengan PKL ini adalah banyak disebabkan oleh kurangnya ruang untuk mewadahi kegiatan PKL di perkotaan. Konsep perencanaan ruang perkotaan yang tidak didasari oleh pemahaman informalitas perkotaan sebagai bagian yang menyatu dengan sistem perkotaan akan cenderung mengabaikan tuntutan ruang untuk sektor informal termasuk PKL.
Dominasi Sekolah Chicago dalam praktek perencanaan kota di negara-negara Dunia Ketiga termasuk di Indonesia menyebabkan banyaknya produk tata ruang perkotaan yang tidak mewadahi sektor informal. Kegiatan-kegiatan perkotaan didominasi oleh sektor formal yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Alokasi ruang untuk sektor informal termasuk PKL adalah ruang marjinal. sektor informal terpinggirkan dalam rencana tata ruang kota yang tidak didasari pemahaman informalitas perkotaan
I. THM di jalan Nusantara Makassar, Jalan Nusantara terletak di Kecamatan Wajo Kota Makassar, yang merupakan pusat Hiburan Malam di kota makassar dan mempunyai panjang 1 km. lokasi jalan nusantara mencakup beberapa kelurahan diantaranya yaitu, Kelurahan Pattunuang, Kelurahan Ende, Kelurahan Melayu baru, Kelurahan Mampu. Pusat hiburan malam ini terletak di dekat Pelabuhan Makassar, lokasi hiburan ini sangat strategis karena merupakan sambungan dari jalan tol reformasi, dan keberadaan hiburan malam di lokasi ini dijadikan sebagai tempat melepas penat para awak kapal yang habis berlayar dan masyarakat kota makassar yang membutuhkan hiburan setelah seharian bekerja.
Tempat hiburan itu berjejer di sepanjang Jalan Nusantara yang panjangnya mencapai satu kilometer. Riuhnya bisnis hiburan di kawasan ini terletak di sekitar pelabuhan penumpang Soekarno Hatta dan pelabuhan bongkar muat barang yang menjadi tempat bersantai para awak kapal untuk melepas penat dan mencari hiburan. Kawasan Jalan Nusantara, juga tidak jauh dari Pantai Losari dan Pusat Jajanan Laguna. Kedua tempat ini, adalah salah satu pusat keramaian di Kota Makassar dan di sepanjang jalan terdapat berbagai jenis tempat hiburan malam misalnya saja, cafetaria, tempat karaoke keluarga, diskotik.Di sekitar hiburan malam terdapat juga kegiatan masyarakat yang bergerak di sektor informal khusunya pedagang kaki lima yang semakin berkembang di sekitar kawan tersebut yang berjualan dari pagi hingga malam hari, mereka berdagang di sepanjang jalan itu karena untuk mencari nafkah dan lokasinya strategis karena berada di sekitar pusat hiburan malam yang banyak dikunjungi oleh masyarakat ataupun sekedar melintas di kawasan itu. Berikut adalah gambaran pedagang yang berada di kawasan jalan nusantara yang tempat berjualannya di dekat tempat hiburan dan disepanjang trotoar jalan nusantara.
J.Tempat Hiburan Malam dan Sektor Informal (Pedagang kali Lima).
Keterkaitan hubungan antara keberadaan Tempat Hiburan malam dan pedagang kaki lima menunjukkan adanya keterkaitan yang saling menguntungkan. Dengan demikian pengaruh antara Tempat Hiburan Malam terhadap kegiatan masyarakat di sektor informal dalam hal ini pedagang kaki lima mempunyai hubungan yang sangat kuat. Hal ini disebabkan seiring dengan bertumbuhnya Hiburan Malam di Jl.Nusantara dari tahun ke tahun maka muncullah aktivitas masyarakat di sektor informal khususnya pedagang kaki lima yang melakukan kegiatan berdagang di sekitar tempat hiburan malam tersebut.
Selain itu lokasi yang terletak di dekat pelabuhan makassar juga memunculkan tempat hiburan malam yang digunakan para awak kapal untuk melepas penat setelah bekerja, pedagang kaki lima yang beroperasi di sepanjang jalan tersebut juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk makan ataupun memenuhi kebutuhan lainnya. Para pedagang juga merasa beruntung karena setiap pengunjung yang datang di hiburan malam biasanya mampir untuk membeli kebutuhan yang tidak ada di dalam tempat hiburan.
Sebagai pusat hiburan malam di Kota Makassar Jl.Nusantara terlihat menjadi tidak teratur dan terkesan semrawut. Pedagang kaki lima yang melakukan aktivitasnya disepanjang jalan dan memanfaatkan trotoar sebagai tempat berjualan, hal ini menyebabkan lokasi hiburan malam yang ada menjadi terlihat semakin tidak teratur, lahan makin terbatas dan kondisi jalan nusantara yang menghubungkan jalan tol reformasi langsung ke pusat kota juga menjadi semakin semrawut dan tidak terawat.
Disisi lain munculnya sektor informal juga memberi kesempatan kerja kepada masyarakat yang tidak memiliki pendidikan yang tinggi untuk mencari nafkah dan sektor informal juga bisa menjadi sumber pendapatan daerah bila dimanfaatkan dengan baik, maka dalam hal ini pemerintah memperhatikan para pedagang dengan memberikan pemberdayaan agar bisa memaksimalkan pendapatn daerah dan memberikan tempat yang layak bagi mereka untuk berjualan.
K.Pengaruh Tempat Hiburan Malam terhadap Kegiatan sektor Informal .
Tempat Hiburan Malam berpengaruh sangat kuat terhadap munculnya kegiatan masyarakat di sektor informal khususnya pedagang kaki lima, yang bisa menyerap tenaga kerja dan sebagai mata pencaharian bagi masyarakat yang berpendidikan rendah dan mengurangi pengangguran.
Dalam islam kita sebagai umat manusia dianjurkan untuk berusaha dan bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup apapun pekerjaannya yang penting dilakukan dengan ikhlas dan pekerjaan yang dilakukan halal. Berkembangnya sektor informal juga mengurangi pengangguran.
Dalam pandangan Abdul Hadi, kerja manusia adalah sumber nilai yang rill. Jika seseorang tidak bekerja maka dia tidak akan berguna dan tidak memiliki nilai, adalah sebuah ungkapan yang telah diproklamirkan Islam sejak lebih dari satu milenium yang lalu sebelum para ahli ekonomi klasik mene¬mukan fakta-fakta yang ada.Kerja adalah satu-satunya kriteria, disamping Iman, dimana manusia bisa dinilai untuk mendapatkan pahala, penghargaan dan ganjaran.

DAFTAR BACAAN.
Adisasmita, Rahardjo, 1994. Teori Lokasi dan Pengembangan Wilayah: EPHAS: Makassar
Budihardjo Eko, 1997. Percikan Masalah Arsitektur Perumahan Perkotaan: Gadjah Mada University Press.
Effendi, Tadjuddin Noer. 1998. Kesempatan Kerja Sektor Informal di daerah Perkotaan, Indonesia (Analisis Pertumbuhan dan Peranannya, dalam Majalah Geografi Indonesia. Th. 1, No. 2, September 1988
Gilbert, Alan dan Gugler, Josef: Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga, P.T Tiara Wacana Yogya.
Jayadinata, Johara T. 1986. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan, Wilayah. ITB: Bandung
Manning, Chris dan Effendi, Tadjuddin Noer. 1996. Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal Di Kota. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Manning, Chris dan Effendi, Tadjuddin Noer. 1991. Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal Di Kota. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Manning, Chris., Effendi, Tadjuddin Noer dan Tukiran. 2001. Struktur Pekerjaan,
Sektor Informal dan Kemiskinan di Kota. Cetakan kelima. Yogyakarta: PPK
UGM.
O’Hara, Philiph Antony,2001. Encyclopedia of Political Economy, London: Roudledge
Paulus Hariyono, Sosiologi Kota Untuk Arsitek.Bumi Aksara, 2007
Sjaifudin, Hetifah, Dedi Haryadi dan Maspiyati. 1995. Strategi dan Agenda Pengembangan Usaha Kecil. Bandung: AKATIGA.
Syamsul Balda, http://eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/syamsul-balda-wakil-ketua-umum-syabakah-al-qur-an-mengajak-berbisnis-1.htm
Tarigan, Robinson. 2005. Perencanaan Pengembangan Wilayah. PT.Bumi AksaraI : Jakarta
Tambunan, Mangara dan Edy Priyono. 1999. “Urban-Rural Non-Farm Informal Sector :Role, Linkages and Issue of Formalization.” makalah Seminar Strategy for Employment-Led Recovery and Reconstruction”, 23-25 November, Jakarta: ILO/Depnaker/Bappenas.
Kurniawan Teguh. 2009. Isu dan Masalah dalam Upaya Menggali Potensi Pajak/Retribusi Daerah dari Sektor Informal. Makalah Seminar satu hari Menggali potensi pajak dari PKL. Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI
http: //staff.blog.ui.edu/teguh1
teguh1@ui.ac.id
http:www.gdrc.org/informal/
http://www.damandiri.or.id/file/frnsiskakorompisbab3.pdf.
http://jakartabutuhrevolusibudaya.com
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/26/04483073/ruang.kota.untuk.pkl
http://suryanto.blog.unair.ac.id/2008/12/19/modal-sosial-pedagang-kaki-lima/
http://fpbn3.blogspot.com/2008/09/sektor-informal-katup-pengaman-dan-sang.html

Explore posts in the same categories: TULISAN ILMIAH POPULER, TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: