Manajemen Pengembangan Wisata Kota
(Studi Kasus: Kota Makassar)
Oleh: Syahriar Tato
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Universitas 45 Makassar.
Program Pascasarjana Universitas 45 Makassar.

ABSTRAK
In this paper a discussion about the City Tourism Development (Case Study: The city of Makassar) by looking at some issues like, How the National tourism development by the Government? and Whether the factors that support and hinder the development of tourism in the implementation VISIT Makassar 2011?. With the aim of which is focused in penguraiaan National tourist development undertaken by the government and the factors supporting and inhibiting the development of a tourist attraction city of Makassar in Makassar VISIT program 2011. Hope-hapan as outlined to the government as decision-making, stakesholder as executor and the people who are penukung and keywords in the development of tourism.
To achieve an ideal development is in use several studies to obtain a development that figured to benefit the tourist attraction. Studies were performed using the theory of a few experts from the media both through making the internet as well as handle the books. The theory of the development of tourism and development wisatalah objects that become a problem-solving that will drive in the hope of a solution that will be taken. Answering the tourist development issues Makassar conducted with cooperation from various parties by involving government agencies, relevant stakesholder and participation of all levels of society in a variety of policies and programs that will be taken. So that desire in the conduct of National tourist development and implementation of Makassar 2011 VISIT program made possible in the future.

Keywords : Management, Tourism Development of the City.

Salah satu pemasukan pendapatan Nasional terbesar adalah aspek pariwisata dimana parawista sebagai jalan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyrakat serta memupuk rasa cinta tanah air dan memperkaya kebudayaan Nasional. Pariwisata memiliki nilai ketertarikan yang tinggi untuk para penggunjung yang membuat pemerintah menarik keuntungan yang tinggi dari hasil kedatangan penggunjung. Oleh sebab itu Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam alami yang beragam dan dari kekayaan alam alami didalamnya terdapat beragam objek wisata yang memiliki keindahan dan panorama yang menakjukkan. Untuk itu perlu dilakukan sebuah kajian mendasar mengenai pariwisata di Indonesia.
Amanat Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1993 merumuskan sasaran pembangunan pariwisata pada dasarnya adalah untuk meningkatkan status pariwisata dari sub-sektor pembangunan menjadi sektor pembangunan sektor andalan yang mampuh menggiatkan perekonomian dan sektor lain yang terkait. Supaya semua itu bisa berhasil dengan baik, perlu di dukung dengan suatu perencanaan terpadu dan pengelolaan yang prefesional dengan menempatkan pariwisata sebagai bagian yang berintegrasi dalam keseluruhan sistem pembangnan nasional.
Salah satu usaha yang digalakkan pemerintah di dalam pembangunan yang dapat memenuhi kepuasan batiniah dan lahiriah adalah pembangunan di bidang pariwisata, karena dengan perencanaan dan pengembangan pariwisata dapat memperluas lapangan kerja, kesempatan berusaha, meningkatkan penerimaan negara serta memperkenalkan alam dan kebudayaan Indonesia. Perencanaan dan pengembangan pariwisata dilakukan dengan memperhatikan terpilihnya kebudayaan, kepribadian nasional dan kelestarian lingkungan hidup. Sejalan dengan upaya memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa, menanamkan jiwa, semangat dan nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka lebih memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional.
Seiring dengan kebijakan pemerintah dalam upaya mewujudkan otonomi daerah yang semakin nyata, dinamis dan bertanggung jawab, maka upaya pengembangan pariwisata akan semakin penting arti dan peranannya dalam mendorong pembangunan daerah di masa mendatang. Hal ini mengandung konsekuensi bagi daerah untuk mengupayakan berbagai langkah secara optimal guna menggali dan memanfaatkan potensi kepariwisataan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah, khususnya pendapatan asli daerah.
Potensi wisata Kota Makassar yang memiliki beragam obyek wisata seperti Pantai Losari, Benteng Fort Rotterdam dan Benteng Sombo Opu yang tersohor, budaya dan sejarah, wisata pendidikan, dan wisata belanja merupakan daya tarik unggulan nan unik di Kota Makassar. Untuk mendukung potensi wisata, Khususnya pengembangan Kawasan pusat kota yang terkait dengan penataan lingkungan kota, Pemerintah Kota telah melakukan penataan lingkungan dengan menciptakan sebuah ruang kota yang nyaman dengan ketersediaan ‘ruang terbuka hijau’ sekaligus sebagai ruang publik yang ideal, sehingga kota kelihatan cantik, nyaman dan menyenangkan, menyediakan lahan permukiman berupa real estate, apartement yang ditunjang dengan pusat-pusat bisnis yang berada dalam satu area seperti, pengembangan ‘Kawasan Bisnis Global Terpadu’ pada lokasi tanjung bunga yang diperuntukkan sebagai kawasan dengan pemusatan dan pengembangan berbagai kegiatan bisnis global.
Untuk mengakselerasi pembangunan Kota Makassar maka Pemerintah Kota Makassar terus melakukan pembenahan beberapa infrastruktur antara lain peningkatan prasarana jalan berupa pembangunan Fly Over dan pelebaran jalan, Revitalisasi Karebosi dan Pantai Losari serta rencana pembangunan Centre Point of Indonesia. Untuk mendukung kegiatan-kegiatan penunjang yang saling bersinergi dalam suatu sistem ruang yang solid, bersama dengan pemerintah propinsi telah membangunan Celebes Convention Centre yang berfungsi sebagai tempat konferensi, pameran, maupun kontak bisnis yang berskala nasional dan internasional dilaksanakan di tempat ini.
Dari uraian diatas, tergambar bahwa komitmen Pemerintah Kota Makassar yang besar dan dibarengi dengan penentuan kebijakan yang tepat guna telah mampu menciptakan kondisi keamanan yang kondusif, arus lalulintas yang lancar dan terkendali, tersedianya infrastruktur yang cukup memadai, memberikan kemudahan perizinan, serta berkembangnya diversifikasi obyek wisata kota akan menjadi daya tarik tersendiri khususnya dalam mendukung kegiatan – kegiatan Pertemuan, Perjalanan Wisata Insentif, Konferensi dan Eksibisi.
Dengan segala potensi kepariwisataan yang dimiliki dan untuk lebih menggairahkan pengembangan sektor pariwisata Kota Makassar ke depan sebagai leading dalam peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) maka Pemerintah Kota akan mencanangkan program “VISIT MAKASSAR 2011” sebagai momentum kebangkitan pariwisata Kota Makassar.
Visit Makassar 2011 merupakan salah satu langkah upaya promosi yang dipandang sangat strategis untuk lebih meningkatkan pencitraan Kota Makassar sebagai daerah tujuan pariwisata. Tentunya dalam pencapaian maksud dan tujuan pencanangan program Visit Makassar 2011 ditemui banyak kendala dan tantangan baik dari faktor Sumber Daya Alam maupun dari Manusianya.
Pariwisata yang bersifat multiplayer effect yang melibatkan semua unsur pendukung dalam pengembangannya menuntut suatu sinergitas yang solid antar Pemerintah, Stakehoders Pariwisata dan Masyarakat yang merupakan kata kunci yang tidak dapat ditawar lagi. Melalui seminar simposium ini berlandas pada komitmen dalam memajukan pariwisata Makassar dalam pencanangan program Visit Makassar 2011 atas nama Pemerintah Kota kami mengajak kepada seluruh stakeholders pariwisata dan masyarakat bersama membahas dan merumuskan langkah-langkah strategis yang akan dilakukan sekaligus menganalisa permasalahan, kekuatan, tantangan serta dampak dari pelaksanaan program Visit Makassar 2011. Pokok bahasan dan rumusan yang terakumulir dalam kegiatan ini akan menjadi suatu input yang sangat berarti bagi penentuan kebijakan Pemerintah kaitannya pencarian solusi yang tepat dan berdaya guna dalam menyambut program Visit Makassar 2011.

Pengembangan Pariwisata

Pengertian pengembangan menurut J.S Badudu dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, memberikan definisi pengembangan adalah hal, cara atau hasil kerja mengembangkan. Sedangkan mengembangkan berarti membuka, memajukan, menjadikan maju dan bertambah baik.
Ada dua pedoman umum untuk suatu organisasi pariwisata yang baik. Yaitu harus terjalinnya kerjasama dan koordinasi diantara, Para pejabat yang duduk dalam organisasi baik tingkat nasional, propinsi dan local, Para pengusaha yang bergerak dalam industri pariwisata seperti usaha perjalanan, usaha penginapan. usaha angkutan, usaha rekreasi dan sektor hiburan, lembaga keuangan pariwisata, usaha cinderamata, dan pedagang umum, Organisasi yang tidak mencari untung yang erat kaitannya dengan pariwisata (misalnya klub-klub wisata dan klub, mobil), serta Asosiasi profesi dalam pariwisata. (Wahab, 1977: 267)

Pengembangan Pariwisata Indonesia

Sesuai dengan intruksi Presiden No. 9 Tahun 1969 dikatakan dalam pasal 2 bahwa tujuan pengembangan kepariwisataan adalah; Meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan negara dan masyrakat pada umumnya, perluasan kesempatan serta lapangan kerja dan mendorong kegiatan industri-industri penunjang dan industri-industri sampingan lainnya, serta Memperkenalkan dan memperdayagunakan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia, Meningkatkan persaudaran/persahabatan Nasional dan Internasional (Yoeti, 2008 : 80-81).

Pengembangan Obyek Wisata

Berdasarkan pengertian pengembangan dan obyek wisata diatas, pengembangan obyek wisata dapat diartikan usaha atau cara untuk membuat jadi lebih baik segala sesuatu yang dapat dilihat dan dinikmati oleh manusia sehingga semakin menimbulkan perasaan senang dengan demikian akan menarik wisatawan untuk berkunjung.
Pengembangan pariwisata ini mempunyai dampak positif maupun dampak negatif, maka diperlukan perencanaan untuk menekan sekecil mungkin dampak negatif yang ditimbulkan. Dampak positif, yang diambil dari pengembangan pariwisata meliputi ; Penciptaan lapangan kerja, dimana pada umumnya pariwisata merupakan industri padat karya dimana tenaga kerja tidak dapat digantikan dengan modal atau peralatan, Sebagai sumber devisa asing, serta Pariwisata dan distribusi pembangunan spiritual, disini pariwisata secara wajar cenderung mendistribusikan pembangunan dari pusat industri kearah wilayah desa yang belum berkembang, bahkan pariwisata disadari dapat menjadi dasar pembangunan regional. Struktur perekonomian regional sangat penting untuk menyesuaikan dan menentukan dampak ekonomis dari pariwisata.
Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan dengan adanya pengembangan pariwisata antara lain Pariwisata dan vulnerability ekonomi, karena di negara kecil dengan perekonomian terbuka, pariwisata menjadi sumber mudah kena serang atau luka (vulnerability), khususnya kalau negara tersebut sangat tergantung pada satu pasar asing, Banyak kasus kebocoran sangat luas dan besar, khususnya kalau proyek-proyek pariwisata berskala besar dan diluar kapasitas perekonomian, seperti barang-barang impor, biaya promosi keluar negeri, tambahan pengeluaran untuk warga negara sebagai akibat dari penerimaan dan percontohan dari pariwisata dan lainnya, Polarisasi spasial dari industri pariwisata dimana perusahaan besar mempunyai kemampuan untuk menerima sumber daya modal yang besar dari kelompok besar perbankan atau lembaga keuangan lain, Sedangkan perusahaan kecil harus tergantung dari pinjaman atau subsidi dari pemerintah dan tabungan pribadi. Hal ini menjadi hambatan dimana terjadi konflik aspasial antara perusahaan kecil dan perusahaan besar, Sifat dari pekerjaan dalam industri pariwisata cenderung menerima gaji yang rendah, menjadi pekerjaan musiman, tidak ada serikat buruh, Dampak industri pariwisata terhadap alokasi sumber daya ekonomi industri ini dapat menaikkan harga tanah dimana kenaikan harga tanah dapat menimbulkan kesulitan bagi penghuni daerah tersebut yang tidak bekerja disektor pariwisata yang ingin membangun rumah atau mendirikan bisnis disini, dan Dampak terhadap lingkungan, bisa berupa polusi air atau udara, kekurangan air, keramaian lalu lintas dan kerusakan dari pemandangan alam yang tradisional.

Kebijakan Terpadu Dalam Peningkatan Perolehan Devisa

Pembangunan nasional jangka panjang tahap pertama selama 25 tahun sudah berakhir. Selama priode tersebut ternyata peranan minyak bumi sangat dominan, terutama sebagai penghasilan devisa negara untuk membiayai pembangunan.
Dalam pembangunan jangka panjang tahap kedua, tahun 1994-1998 kelihatan minyak bumi tidak lagi menjadi komiditi andalan dalam perolehan devisa negara. Beberapa pakar menyatakan minyak bumi diperkirakan secara ekonomis akan habis pada di tahun 2012.
Pada waktunya nanti Indonesia akan menjadi negara pengimpor minyak. Hal ini tentunya akan terjadi bilamana Indonesia tidak berhasil menemukan ldang-ladang minyak baru, yang sudah pasti cepat atau lambat nantinya akan jadi negara pengimpor minyak bumi. Kalau ini terjadi, Indonesia bukan saja kehilangan sumber devisanya, tetapi sekaligus harus mencari komoditi pengganti sebagai penghasil devisa untuk mengimpor minyak bumi.
Salah satu komoditi pengganti adalah sektor pariwisata, yang dianggap potensi untuk dikembangkan di masa yang akan datang. Kunjungan wisman dan perolehan devisa dari sektor ini semakin meningkat dari tahun ke tahun, sehingga saat ini menduduki peringkat ketiga dalam menghasilkan devisa non-migas setelah kayu lapis dan tekstil berkut garmen. (Yoeti, 2008 : 86-87)

Faktor-faktor Pendorong Pengembangan Obyek Wisata

Modal kepariwisataan (tourism assets) sering disebut sumber kepariwisataan (tourism resources). Suatu daerah atau tempat hanya dapat menjadi tujuan wisata kalau kondisinya sedemikian rupa, sehingga ada yang dikembangkan menjadi atraksi wisata. Apa yang dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata itulah yang disebut modal atau sumber kepariwisataan (tourism resources). Modal kepariwisataan itu mengandung potensi untuk dikembangkan menjadi atraksi wisata, sedang atraksi wisata itu sudah tentu harus komplementer dengan motif perjalanan wisata. Maka untuk menemukan potensi kepariwisataan di suatu daerah orang harus berpedoman kepada apa yang dicari oleh wisatawan.
Menurut R.G Soekadijo (2000: 52) modal atraksi yang menarik kedatangan wisatawan itu ada tiga, yaitu: alam, kebudayaan, dan manusia itu sendiri.

Modal Dari Potensi Alam

Yang dimaksud dengan alam disini adalah alam fisik, fauna dan floranya. Meskipun sebagai atraksi wisata ketiga-tiganya selalu berperan bersama, bahkan biasanya juga bersama-sama dengan modal kebudayaan dan manusia, akan tetapi tentu ada salah satu modal yang menonjol peranannya.
Alam menarik bagi wisatawan karena banyak wisatawan tertarik oleh kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan di alam terbuka, Dalam kegiatan pariwisata jangka pendek, pada akhir pekan atau dalam masa liburan, orang sering mengadakan perjalanan sekadar untuk menikmati pemandangan atau suasana pedesaan atau kehidupan di luar kota, Banyak juga wisatawan yang mencari ketenangan di tengah alam yang iklimnya nyaman, suasananya tentram, pemandangannya bagus dan terbuka luas, Ada juga wisatawan yang menyukai tempat-tempat tertentu dan setiap kali ada kesempatan untuk pergi, mereka kembali ke tempat-tempat tersebut, serta Alam juga sering menjadi bahan studi untuk wisatawan budaya, khususnya widya wisata, Modal dari potensi kebudayaan yaitu kebudayaan dalam arti luas, tidak hanya meliputi kebudayaan tinggi seperti kesenian atau perikehidupan keraton dan sebagainya, akan tetapi juga meliputi adat istiadat dan segala kebiasaan yang hidup ditengah-tengah suatu masyarakat.

Modal Dari Potensi Kebudayaan

Modal kebudayaan itu penting untuk menarik wisata tamasya agar mereka dapat menikmati kebudayaan di tempat lain. Wisatawan tamasya (pleasure tourist) hanya tinggal di sesuatu tempat selama masih ada pemandangan lain, jadi harus ada cukup banyak atraksi untuk menahannya cukup lama di sesuatu tempat. Akan tetapi juga dapat diharapkan akan ada wisatawan rekreasi, yang mengahabiskan waktu senggangnya di tengah-tengah masyarakat dengan kebudayaannya yang dianggap menarik.

Modal Dari Potensi Manusia

Bahwa manusia dapat menjadi atraksi wisata dan menarik kedatangan wisatawan bukan hal yang luar biasa, meskipun gagasannya mungkin akan membuat orang tersentak. Sudah tentu, manusia sebagai atraksi wisata tidak boleh kedudukannya begitu direndahkan sehingga kehilangan martabatnya sebagai manusia. (SETIANINGSIH,2006:32-34)

Manajemen Pengembangan Objek Wilsata di Kota makassar

Kota Makassar sebagai tempat dimana tersebarnya beberapa objek wisata seperti Pantai Losari, Benteng Fort Rotterdam dan Benteng Sombo Opu.

Pantai Losari
Pantai Losari terletak di daerah pusat kota dengan pantai yang menakjukkan dan sebagai tempat pariwisata yang di sukai masyarakat lokal khususnya Kota Makassar. Tetapi, promo yang dilakukan pemerintah Sulsel saat ini tidak terlalu effektif, sebab terlalu difokuskan pada wisatawan lokal Sulsel, seperti terlihat pada program wisata “Visit Losari” yang didengungkan sejak tahun lalu. Oleh karena itu pantai losari tak mengalami perkembangan di manca negara, untuk itu perlu adanya suatu promo bukan ke hanya wisatawan lokal saja tapi ke wisatawan manca negara. Dengan promo tersebut pelaksanaan program VISIT Makassar 2011 akan berjalan dengan baik dan mndatangan wisatawan di berbagai negara.

Benteng Fort Rotterdam
Benteng Fort Rotterdam merupakan salah satu benteng di Sulawesi Selatan yang boleh dianggap megah dan menawan. Seorang wartawan New York Times, Barbara Crossette pernah menggambarkan benteng ini sebagai “the best preserved Dutch fort in Asia”. Pada awalnya benteng ini disebut Benteng Jumpandang (Ujung Pandang).Benteng ini merupakan peninggalan sejarah Kesultanan Gowa, Kesultanan ini pernah Berjaya sekitar abad ke-17 dengan ibu kota Makassar. Kesultanan ini sebenarnya memiliki 17 buah benteng yang mengitari seluruh ibu kota. Hanya saja,
Benteng Fort Rotterdam merupakan benteng paling megah diantara benteng benteng lainnya dan keasliannya masih terpelihara hingga kini.

Benteng Somba Opu
Benteng Somba Opu dibangun oleh Sultan Gowa ke-IX yang bernama Daeng Matanre Karaeng Tumapa‘risi‘ Kallonna pada tahun 1525. Pada pertengahan abad ke-16, benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa. Pada tanggal 24 Juni 1669, benteng ini dikuasai oleh VOC dan kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak pasang. Pada tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuan. Pada tahun 1990, bangunan benteng yang sudah rusak direkonstruksi sehingga tampak lebih indah. Kini, Benteng Somba Opu menjadi sebuah obyek wisata yang sangat menarik, yaitu sebagai sebuah museum bersejarah. Ilmuwan Inggris, William Wallace menyatakan, Benteng Somba Opu adalah benteng terkuat yang pernah dibangun orang nusantara. Benteng ini adalah saksi sejarah kegigihan Sultan Hasanuddin serta rakyatnya mempertahankan kedaulatan negerinya. Pernyataan Wallace bisa jadi benar. Begitu memasuki kawasan Benteng Somba Opu, akan segera terlihat tembok benteng yang kokoh. Menggambarkan sistem pertahanan yang sempurna pada zamannya. Meski terbuat dari batu bata merah, dilihat dari ketebalan dinding, dapatlah terbayangkan betapa benteng ini amat sulit ditembus dan diruntuhkan.
Kesimpulan
Pengembangan objek wisata Nasional dilakukan oleh pemerintah dengan melihat beberapa proses baik untuk objek wisatanya maupun lokasi yang menjadi produk untuk Melakukan inventarisasi mengenai semua fasilitas yang tersedia dan potensi yang dimiliki, Menaksir pasaran pariwisata dan mencoba melakukan proyeksi lalu lintas wisatawan pada masa yang akan datang, Memperhatikan di daerah belahan dunia mana permintaan adalah lebih besar daripada persediaan atau penawaran, dan Melakukan penelitian kemungkinan perlunya penawaran modal, baik modal dalam negeri maupun modal asing, serta Melakukan perlindungan terhadap kekayaan alam yang dimiliki dan memelihara warisan budaya bangsa serta adat istiadat suatu bangsa yang ada.
Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pengembangan obyek wisata Kota Makassar dalam pelaksanaan VISIT Makassar 2011 antara lain yaitu Faktor pendukung membutuhkan suatu kerjasama dalam pengembangan objek wisata menuntut suatu sinergitas yang solid antar Pemerintah, Stakehoders Pariwisata dan Masyarakat yang merupakan kata kunci yang tidak dapat ditawar lagi, demi terwujudnya program VISIT Makassar 2011, dan Faktor penghambat yang dipengaruhi oleh tidak terlaksananya pengembangan dengan baik sehingga rencana pun tertahan oleh berbagai masalah yang terjadi di Kota Makassar namun dengan hal demikian dapat diatasi oleh berbagai rencana-rencana demi memajukan pariwisata Kota Makassar.
Rekomendasi

Perlu adanya suatu dana yang jelas dalam perencanaan, pengelolaan, pemanfaatan maupun pengembangan pariwisata guna untuk membangun objek wisata, dengan melihat berbagai keperluan yang dibutuhkan.
Pemerintah sebagai pemberi kebijakan dalam suatu perencanaan dan pengembangan pariwisata maka dari itu lebih cermat lagi mlihat lokasi dan objek wisata yang akan di kelola maupun dibangun, dengan daya tarik yang mampuh mendatangkan pengujung dan dapat menarik simpatisan dari pihak swasta sebagai pihak yang menanamkan modal dalam perencanaan dan pengembangan pariwisata.
Masyarakat sebagai partisipasi yang mendukung perencanaan dan pengembangan pariwisata turut serta bersama-sama pemerintah maupun stekes holder untuk membangun objek wisata sehingga tidak ada perselisihan atau pertentangan status kepemilikan dengan masyarakat lain maupu pihak terkait.
Perlu adanya suatu promosi yang difokuskan pada wilayah-wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia maupun di negara-negara lain untuk di kenal, baik melalui media cetak, elektronik maupun lewat pergelaran seminar atau kegiatan-kegiatan lain yang berbau tentang pariwisata.
Pariwisata bukan hanya sebagai pemasukan devisa negara tapi mengurangi pengangguran dengan memberikan peluang bagi masyarakat untuk berkereasi dalam mendatangkan pengunjung baik melalui menyediakan makanan, minuman, oleh-oleh maupun keinginan yang dibutuhkan oleh pengunjung. Maka dari itu perlu adanya perencanaan dan pengembangan pariwisata yang bisa membuka lowongan buat masyarakat setempat maupun sekitarnya agar mengurangi pengangguran maupun kemiskinan di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Marpaung, H, 2000. Pengetahuan Kepariwisataan, Edisi Revisi. Alfabeta, Bandung.
Seokadijo, 1997. Anatomi Pariwisata, PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta.
Wahab, S, dkk, 1997. Pemasaran Pariwisata, Cet. III. PT. Pradnya Paramita, Jakarta.
Yoeti, A, 1997. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata, PT. Pradnya Paramita, Jakarta
Damanik & Weber, 2006. Perencanaan Ekowisata. Pusat Studi Pariwisata UGM & PT. Andi Yogyakarta.
Christie Mill, 2000. Tourism The Internasional Buissines, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Cristtie Mill, R., 1996, Tourist The Internasional Business. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Fandeli Chafid, 2001, Dasar-Dasar Kepariwisataan Alam, Liberty Offset, Yokyakarta
Hadinoto, Kusudianto, 1996, Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata. Universitas Indonesia. Jakarta
Marpaung, H., dan Bahar, H., 2002, Pengantar Pariwisata. Alfabeta, Bandung.
Muhlidon, Fandeli, Chafid, 2000, Pengusahaan Ekowisata, Fakultas Kehutanan UGM, Yogyakarta.
S. Pandit N., 1981, Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana, Jakarta.
Soekadijo R.G, 1996, Anatomi Pariwisata (Memahami Pariwisata sebagai

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: