NOVEL MENANTI MUSIM BERGANTI KARYA SYAHRIAR TATO

NOVEL MENANTI MUSIM BERGANTI
KARYA SYAHRIAR TATO

1.Penggantang Asa

Pada sebuah perkampungan kumuh di pinggiran kota Makassar di suatu malam hari. Udara dingin mulai terasa di kulit. Suasana telah sunyi, jalan-jalan dan gang sudah sepi.
Para penduduk desa sebagian sudah lebih memilih tidur karena lelah bekerja sehari penuh. Kini sudah berbaring di rumah mereka masing-masing yang rata-rata berdinding gamacca atau bambu.
“Lebih baik istirahat dari pada melek a’bagadang. Esok subuh mereka sudah harus bekerja kembali,” kata sebagian diantaranya.
Sebagian yang lain lagi, ada juga yang lebih memilih mendengar siaran radio atau nonton televisi di rumah Kepala Kelurahan. Seharian mereka sudah habis-habisan bekerja, malam adalah saat istirahat yang tepat.
Ada yang bekerja sebagai pagoyang-penarik becak, buruh bangunan, payabo-pemulung barang bekas berupa plastik, kaleng atau karton dan lainnya. Begitulah bagi kalangan mereka, hidup adalah mengais rupiah demi rupiah untuk hari ini. Esok lain lagi. Esok adalah masalah harapan.
Harapan itulah yang sering digapai dengan bermacam cara. Ada yang dengan minum Ballo-tuak dari sari buah tala’ atau dari bahan ase- sari ketan. Ada yang memasang kupon putih sejenis judi undian totalisator-alias lotto. Ada pula yang berjudi main kartu.
Nah, bagi sekelompok anak muda pengangguran, lebih asyik bermain judi khas Makassar accampalle. Jika sudah berjudi, suasana dingin itu bagai tidak terasa.
Suara merekalah yang cukup gaduh terdengar dari sebuah pos ronda. Jelas sekali diantara selang-seling makian ada juga ungkapan-ungkapan khas para penjudi. Untuk menghangatkan suasana.
“Ukiriki…”
“Ballang…”
“Innake… Ukiri…”
“Inakke Ballang Bela.J”
Tiba-tiba hening sesat. Lalu terjadi saling debat yang sengit. Salah seorang diantara mereka telah melakukan kecurangan. Yang lain tak mau menerima.
Gafar yang bertubuh kekar ala petinju kelas nyamuk, tiba-tiba muncul dari salah satu arah sambil berteriak.
“Pammaru-hentikan! Siapa duluan main curang! Ayo mengaku sebelum…”
la tidak melanjutkan kata-katanya. Hanya mengacungkan tinjunya, sebagai ancaman pada anak-anak muda itu
Seorang diantara penjudi yang bertubuh kecil bernama I Bora menjawab dengan terbata-bata
” Siapa lagi, kalau bukan I Coa’!”
“Apa?…. jangan ko macam-macam Bora’!” sanggah I Coa yang juling.
“Pastinya I Majja’, huhh!!..pura-pura lagi diam” kata I Kadere’ tak kalah sengit.
“Apa?..beraninya kau menuduh aku?… Mau apa kalian…mau coba-coba mancakkul?” I Majja’ langsung membuat gerakan khas silat Baruga, dengan kuda-kuda yang cukup kokoh.
Tiba-tiba daun telinganya dijewer dari belakang oleh isterinya, I Fatima. I Majja’ mengira yang menjewer adalah salah seorang diantara teman judinya, membuat dia naik pitam dan melakukan gerak mengegos. Cukup tangkas gerakannya.
“Kurang ajar! Lepaskan sebelum kubanting kau dengan gerakkan silatku ini, satu, dua, dua setengah…”
“Tiga!” I Fatima dengan cepat memotong.
“Ha!?” I Majja’ sontak karena ia sangat mengenali pemilik suara itu.
“Apa? kamu mau banting aku ya? Ayo!” kata I Fatima garang.
” Aduh, Ampun, ampun Tima’… aduh, sakit. Lepasmi!” keluhnya bagai anak kecil.
Serentak teman-teman seperjudiannya tertawa geli, tapi tiba-tiba diam karena langsung dibentak oleh Fatima.
“Apa tertawa, kalian juga mau? Kalianlah yang membuat suamiku sudah seminggu tidak pulang ke rumah! Tahu-tahunya di sini, A’botoro’ campalle-main judi.”
Lalu Fatima kembali melabrak suaminya
“Enak saja kau di sini…. Anak-anak tidak terurus,” ujar perempuan beranak empat itu.
Nyali I Majja’ langsung ciut dan sambil memegang telinganya yang terasa pedis ia mencoba berdalih,
” Tima’ dengar dulu penjelasanku, kodong.”
Suara I Majja’ cukup memelas. Tapi amarah I Fatima tidak juga surut, Sambil merapihkan kebayanya ia kembali nyerocos.
“Diam! mana hasil penjualan cincin dan gelangku? Kau bilang untuk dijadikan modal usaha, tapi mana!..Mana…?!” Amarahnya meledak, diiringi tangis meraung seperti anak-anak.
Kalau sudah demikian jadinya I Majja’ dipastikan takluk. Ia hanya mengeluh perlahan
“Timaaaaa…..jangan dibeberkan di sini kodong-kasihani aku, maluka!”
Dalam keadaan begitu, I Kadere’ bukannya membantu, malah tambah menyulut kemarahan I Fatima.
“Sudah amblas terkuras campalle’, Tima’,” imbuh I Kadere’.
I Coa’ pun tak kalah usil, “Tima’…sudah seminggu I Majja’ Accampalle di sini!
“Katanya dia dapat warisan,” sambung si juling.
Gaffar juga ikut-ikutan, “Ee..ee.. sekarang malah dia sudah berhutang lagi kepada saya… dua ratus ribu… iyakan Majja’?” kata Gaffar sambil mendorong badan I Majja’.
Pusing kepala I Majja’, “Setang ngaseng annel… Setan kalian, sahabat macam apa kalian ini! Malah nambah-nambahi masalah, kian memojokkan aku….”
I Fatima terus menjewer telinga I Majja’, jewerannya membuat sang suami kian meringis kesakitan. Sang istri tak bergeming dengan keluhan suaminya. Malah sang istri yang bertubuh cukup subur itu kian berangas
“Betulkah,… betulkah itu Majja’?”
Dengan ketakutan I Majja’ menjawab dengan terbata-bata, “Betul. Betul Tima’. Tapi sabar dulu nanti saya gantikan.” I Majja’ tentu saja berbohong.
I Fatima tak bergeming sedikitpun karena sudah tahu akal bulus suaminya itu. Entah sudah berapa kali ia dibohongi oleh I Majja’.
“Tidak! Aku tidak mau dibujuk lagi. Ayo kembalikan uang itu! Kalau tidak, malam ini juga, kembalikan aku ke rumah orang tuaku,” ancam si Subur.
Sok serius seakan marah, I Majja’ juga pura-pura berkata, “Apa Tima’?…. Ja.di kau betul ingin cerai? Tojeng-tojengko?”
“Iyo… malam ini juga!.. Ayo kita ke pak penghulu…” sanggah I Tima tak mau kalah.
I Majja’ berpikir sejenak lalu ia coba melucu, “Malam ini juga? Eh, jangan dulu Tima’. Aku tidak akan berjudi lagi. Jangan tinggalkan aku Tima’.” Kali ini I Majja’ berpura-pura menangis tersedu-sedu.
“Kenapa kalian diam… ayo ikut nangis,” perintah I Majja’ pada teman-temannya, mereka pun ikut menangis terisak-isak sehingga suasana berubah menjadi lucu.
Bukannya senang atau terharu, malah I Fatima kian galak, “Kenapa kalian menangis seperti itu? Mengejek aku lagi ya?”
Tapi teguran I Fatima tidak dihiraukan, bahkan tangis mereka semakin keras hingga menarik perhatian Tata’ Gassing. la adalah salah seorang tokoh masyarakat setempat cukup disegani. Meskipun badannya kecil tapi wibawanya besar. la pun kaya, dan mempekerjakan banyak orang.
Tapi sikapnya tak jelas, kadang baik, kadang culas. Tergantung suasana. Tapi ia pemberani. Oleh sebab itu kedatangannya langsung sangat berkesan.
“Apa-apaan ini?” Tata’ Gassing menegur mereka.
I Fatima langsung memanfaatkan kesempatan baik itu, “Anu, Tata’ Ami….aku…” kata Fatima terbata-bata.
Tata Gassing langsung paham apa yang sesungguhnya terjadi. Kejadian yang sudah lazim di perkampungan kumuh di daerah pinggiran itu.
“Aku sudah mengerti, Gaffar. Ayo kemarikan semua uang itu!” perintahnya dengan aksen yang sangat berwibawa.
Gaffar coba berkelit, “Tapi Tata’…. eee… ami,… ami, Ta…”
Sang tokoh yang disegani itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjulurkan tangannya.
“Anu namanganu apa?….Tidak bisa. Serahkan semua uang itu…”
Tata Gassing lalu bertanya Kepada Fatima, “Tima’ berapa uangmu yang telah dihabiskan oleh I Majja?”
“Uang Cincin… gelang… rante,… semuanya satu juta tiga ratus ribu rupiah, Tata'” lapor I Fatima.
Setelah Gaffar menyerahkan uang ke tangan Tata’ Gassing, lelaki separuh baya itu langsung menghitung uang yang terkumpul. Setelah cukup, kemudian sejumlah itu diserahkan kepada Tima’.
“Tima, ambil kembali uangmu. Kalau I Majja’ mencoba berbuat lagi, temui aku.”
Kepada yang lainnya Tata Gassing mengancam, “Mulai malam ini saya tidak mau dengar keributan di sini, terutama karena main judi. Kalian dengar apa yang saya katakan?”
Hampir serentak para pejudi itu berkata dengan tubuh gemetaran, “Iyye’, Tata’.”
Mereka sadar, kalau Tata’ Gassing sudah berkata begitu, maka ia akan membuktikan ancamannya, jika ada yang sampai berani melanggar. Pelanggar seperti itu akan dibuat jera, dibawa ke kandang kerbau lalu dihajar hingga babak belur. Mereka kadang hams pulang dengan pakaian bercampur kotoran kerbau. Kalau sudah begitu, akan banyak anak-anak yang mengejek si pesakitan.
“Gaffar, mulai hari ini dan selanjutnya, kau kuberi tanggung jawab untuk mengambil tindakan terhadap mereka. Kalau-kalau masih ada yang lalai. Mengerti kau?” perintah Tata Gassing.
Pemuda bertubuh kekar itu mengangguk, sambil memandang awas pada teman sebayanya.
“Baik, malam sudah larut, pulanglah. Besok kalian kan harus kerja!” pungkas Tata’Gassing.
Semuanya bubar. Tata’ Gassing menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Anak-anak kuttu-pemalas!” kata Tata’ Gassing dalam hati. ***

2. Cahaya Tersirat

Siang itu, di ruang pertemuan “Sanggar Kegiatan Remaja Rumbia” cukup ramai. Sanggar yang dibangun dengan konsep ruang serbaguna ala baruga ini, sebagian dindingnya dari bahan bambu yang disebut gamacca atau gedek.
Pada bagian ruang depan, dindingnya dibiarkan separuh terbuka. Hanya bagian belakangnya yang terdindingi papan. Cahaya matahari dapat masuk dengan leluasa dan menjadi penerang ruangan. Bangunan ini jadi hemat energi.
Berada di ruang Baruga ini, udara terasa cukup sejuk. Logis karena angin bisa sebebasnya mengalir keluar-masuk. Hanya bau busuk dari sampah yang bertebaran menggunung, mengganggu penciuman. Inilah masalah aktual yang dihadapi warga.
Di salah satu sebuah dinding sanggar itu, terpampang sebuah gambar di papan. Gambar dibuat di atas kertas kalkir, gambar tata letak desa Rumbia. Malik seorang Mahasiswa Fakultas Teknik yang sedang Kuliah Kerja Nyata di tempat itu merancang semua itu. Saat itu ia nampak sedang berdiri, memaparkan hasil pengamatan dan rancangannya.
“Saudara-saudara sekalian, inilah gambar sederhana tata letak desa kita ini. Setelah sekian lama saya amati dalam program KKN di sini, maka saya berkesimpulan bahwa, wajar kalau setiap musim hujan, kampung dengan mudah terkena banjir,…. terutama di bagian utara. Di sini air sering tersumbat, lalu menggenang, karena tidak adanya saluran air di sekitar ini,” jelasnya sambil menunjuk denah desa.
“Ada tanggapan?”
Seseorang mengacungkan tangan.
“Ya, Rasyid, silahkan.”
Rasyid, pemuda berbakat yang putus sekolah STM karena ketiadaan biaya itu berdiri dan menyampaikan tanggapannya dengan cukup cerdas.
“Kak Malik, selaku mahasiswa Teknik Arsitek, saya pikir sudah tepat merumuskan hasil penelitian itu. Karena banjir warga kampung ini sudah cukup hidup tersiksa. Sampah-sampah bertebaran, kuman-kuman penyakit membawa wabah adalah ancaman, itu kami juga tahu. Sudah banyak jatuh korban, harta dan jiwa, itu juga kita tahu. Nah, Sisa sekarang, bagaimana jalan keluarnya?”
“Ya, betul!” serempak hadirin.
“Cocoki!”
Dalam Riuh rendah warga kampung itu, Maryam, salah seorang remaja penggerak kegiatan remaja putri di kampung itu, menyambut dengan bersemangat.
“Nah, sekarang ini masih musim kemarau, kesempatan untuk memperbaiki tempat-tempat yang dianggap rawan, masih cukup. Jadi kapan kita laksanakan rancangan itu?” sambung gadis berambut sepinggang yang berparas cukup manis ini.
Sahabat Maryam yang bernama Haniah ikut membenarkan bahkan menyarankan beberapa hal, “Iya, apa yang disampaikan Maryam itu benar, makanya kita harus bertindak cepat. Apa lagi pemuka masyarakat, dan terutama organisasi remaja kita di kampung ini telah mendukung ide cemerlang dari Kak Malik. Apa lagi ?… Bagaimana?” kata calon guru SD ini dengan bersemangat.
Seluruh tokoh remaja dan ibu-ibu PKK yang hadir mendukung, “Betul. Betul itu. Kita sudah siap bekerja.”
Demikian pula dengan Rasyid, “Ya, kami tak ingin pengalaman pahit tahun lalu terulang lagi ketika desa ini dilanda banjir. Penduduk terpaksa mengungsi ke kampung seberang. Banyak harta warga yang rusak, beberapa warga, orang tua kita dan anak-anak meninggal karena penyakit.”
Tiba-tiba Nurdin menyela, “Tenang… tenang saudara-saudara sekalian. Tunggu dulu, tunggu jangan terlalu bersemangat dulu,” katanya dingin. Di wajahnya jelas tergambar perasaan tidak senang.
Hania yang sudah tidak sabar langsung bartanya, “Appanapi, Apanya lagi?”
“Kita harus mendengar terlebih dulu penjelasan tentang dimana saluran pembuangan air itu akan lewat? Apakah tidak justru merugikan warga? Apakah warga setuju tanahnya diambil?” kilah Nurdin cukup berapi-api.
Malik diam sejenak, menatap denah desa. Kemudian menunjuk salah satu letak di gambar denah itu.
“Disini, Di sini harus dibuat saluran pembuangan air untuk menghindari banjir di musim hujan, tepat di bagian utara kampung ini,” jelas Malik.
Warga yang hadir mulai menjadi riuh, apalagi yang mengetahui bahwa ia harus mengorbankan sebagian tanahnya untuk saluran. Ada yang ikhlas, ada juga yang merasa dirugikan.
Tapi diantara warga, belum ada yang terang-terangan menerima atau menolak. Sebab bagi mereka, setiap jengkal dari tanah miliknya, adalah petak kecil kekayaan terakhir yang harus mereka pertahankan. Jika tidak, mereka punya apa lagi.

3.Segelas Kopi Pahit

Di teras rumah panggung milik Tata’ Gassing, terlihat beberapa orang berkumpul. Ada Gaffar, Nurdin dan Tata’ Gassing serta beberapa remaja desa lainnya. Mereka saling bertetangga. Bahkan orang-orang itu, adalah para pekerja pada usaha Tata’ Gassing.
Di hadapan mereka sudah terhidang kopi dan kue-kue tradisional. Warna-warni dan aromanya cukup menggiurkan. Ada kue Putu Cangkiri’, kue lapisi’, Roko-roko’ Cangkuning, juga ada Putu labu’.
Tidak biasanya sepagi itu telah berlangsung pembicaraan yang cukup seru di atas balai-balai depan rumah Tata’ Gassing. Wajah mereka menampakkan ketidakpuasan akan hasil pembicaraan di sanggar Kegiatan Remaja desa Rumbia kemarin.
Tata’ Gassing yang menerima laporan Nurdin dan Gaffar berpikir keras, apa sikap yang akan diambilnya. Kemarin ia tidak hadir pada rapat itu karena memandang remeh inisiatif para mahasiswa KKN itu. Baginya para mahasiswa itu hanya pintar omong, tapi tidak pandai melaksanakan omongannya.
Tapi ketika mengetahui bahwa sebagian tanah di halaman pekarangannya akan terkena saluran pembuangan air, ia bereaksi juga.
“Jadi di sini?” Apa betul ucapanmu itu, Gaffar?” tanggap Tata Gassing.
Gaffar kian menyulut amarah Tata’ Gas¬sing, “Betul Tata’. Pak Lurah, Malik si maha¬siswa KKN dari kota itu, bersama beberapa pemuka masyarakat lainnya, telah mendukung rencana itu.” Gaffar berhenti sejenak dan menyeruput kopi kental di hadapannya. “Kalau itu terlaksana, Tata’, maka siapa yang paling rugi? Pasti kita, dimanami nanti Tata’ akan menimbun dan menyimpan barang-barang hasil pulungan kita, besi, plastik, karton dan lainnya yang kita kumpulkan selalu banyak.”
Tak mau kalah I Nurdin pun menambahkan, “Betul, Tata’. Sebagian besar tanah kita di kampung ini apakah yang punya pekarangan atau tidak harus merelakan miliknya yang akan dijadikan saluran pembuangan air. Lagi pula kalau itu terjadi, Tata’ akan kehilangan tanah, kami akan kehilangan pekerjaan. Enak saja kita yang dirugikannya. Bayangkan, dari sini hingga jauhnya sampai ke sana.” la merentangkan tangannya hingga nyaris mengenai wajah Tata’ Gassing.
Tata’ Gassing mengelak dan langsung menampar kepala Nurdin.
“Eh, bajiki. Gassingka anggappako teyai dowe’,” peringatan Tata Gassing pada Nurdin yang dinilainya berani bertingkah kurang ajar. Jangan sampai bukannya uang yang dia terima tapi malah tamparan Tata Gassing.
I Nurdin pun segera minta maaf.
“Pammopporangnga, Tata’,” mohonnya ketakutan tapi tangannya tetap menyambar kue lapisf.
Para pemuda yang hadir dalam pertemuan itu pun menyalahkan Nurdin yang dianggapnya keterlaluan.
Dari sela dinding papan yang tembus pandang ke bale-bale di depan rumahnya, kelihatan mata si Maryam mengintip pembicaraan antara Tata’ Gassing dengan Nurdin dan kawan-kawan. Gadis itu kurang senang
dengan orang-orang bersikap pengecut seperti mereka. Maunya hanya kritis berbicara di luar pertemuan. la ingin sekali ikut menjelaskan masalah itu, tapi ia tak ingin menyinggung wibawa ayahnya.
“Keterlaluan memang Malik itu, memangnya kita semua ini dianggap apa? Manusia kumuh yang tidak berotak? Bisa gampang dibodoh-bodohi oleh mahasiswa? Kalau betul si Malik itu nekad, biar aku yang akan pegang leher bajunya nanti,” Kata I Coa yang dengan tangkas menyambar Roko-roko’ cangkuning.
Tata’ Gassing langsung mencegah: “Eh bangsat! Teyako piti-pitiiii,. Kalian jangan bertindak sendiri sebelum ada perintah dari aku. Aku yang putuskan, tindakan apa yang perlu dilakukan untuk menghambat keputusan mereka selanjutnya!” kata Tata’ Gassing berwibawa. “Biar aku pikir dulu, mengerti?”
“Aku cuma mau pegang-pegang krah bajunya, Tata’,” kilah I Coa’ tertawa kecut. Roko-roko’ cangkuning yang masih dikunyahnya langsung terhambur keluar. Teman-temannya menertawai tingkah I Coa’.
Hati Maryam menjadi agak cemas setelah mengikuti pembicaraan itu beberapa saat. Ia sedang mempertimbangkan, apa tindakan yang perlu dilakukannya. Karena kesal tanpa sadar ia menghentakkan kakinya ke lantai papan. Alhasil, gebrakan kakinya menimbulkan bunyi yang cukup keras di lantai papan itu. Orang-orang yang asyik ngobrol berpaling ke arah datangnya bunyi.
“Eh, apa itu?” bentak Tata’ Gassing.
“Kucing jatuh, Tata’,” jawab Maryam sekenanya.
“Usir kucing kurang ajar itu, Maryam. Mengganggu saja,” lanjut Tata’ Gassing.
Menyadari keadaan gawat itu, Maryam buru-buru meninggalkan tempat ia mengintip dengan langkah bersijingkat, menghindari bunyi yang mencolok.
Tak lama setelah kegaduhan itu, Gaffar melanjutkan lagi pembicaraan yang terpotong tadi.
“Ini tidak boleh didiamkan begitu lama, Tata’. Saatnya sekarang kita cegah dan gagalkan rencana Malik dan pengikutnya!” kata Gaffar sambil menyeka seputar bibirnya yang penuh sisa kopi.
“Maka kaulah Gaffar yang kutugaskan mengawasi gerak-gerik Si Malik itu bersama anak-anak lainnya! Segala sesuatu yang merugikan kita, secepatnya kau sampaikan kepadaku. Mengerti kau?” perintah Tata’ Gassing.
Gaffar dan Nurdin segera menimpali, “Iyye’, Tata’.”
Mereka nampak mau mengambil hati Tata’ Gassing, sekaligus berharap dapat diberi uang jalan sebagaimana biasa. Makanya keduanya lalu bersunggut meniru kucing malu, sambil saling pandang dan memegang saku masing-masing.
Tata’ Gassing, sudah paham benar bahasa tubuh kedua pemuda yang sering menjadi kaki tangannya dalam menjalankan rente. Biasanya mereka inilah yang melaksanakan tagihan uang pinjaman beserta bunganya pada para warga yang meminjam pada sang rentenir. Karenanya ia segera merogoh kandu-kandu semacam kantong yang terbuat dari kain perca yang sudah terlihat kumuh. Kepada keduanya Ia lemparkan sejumlah uang yang segera disambut dengan tangkas oleh Gaffar dan Nurdin sambil tertawa senang.
“Aku pergi dulu. Kalau ada yang cari, katakan aku lagi ke kota untuk mengambil uang pembayaran penjualan besi tua, plastik dan karton kita. Tapi kalau ada perkembangan lain, segera laporkan padaku. Paham?” tanya Tata’ Gassing sambil menatap tajam keduanya dengan penuh selidik.
Tiba-tiba muncul Maryam dari atas rumah dan menuruni tangga dengan langkah yang cukup lincah menuju arah ke arah Tata’ sambil membawa bekal untuk ayahnya yang akan berangkat ke kebun.
“Dompetnya kelupaan, Tetta’,”.
Sambil mengusap usah rambut di kepalanya Tata’Gassing menimpali, “Ooo iya… Maryam, betul-betul ayahmu ini sudah tua, sudah gampang lupa. Ya, sejak almarhum ibumu tiada,” kata sang ayah sambil tertawa ringan.
“Makanya, kawin lagi, Tata’,” usul Nurdin.
“Eeh, Bawanu… Jaga mulut kamu!” katanya sambil mengancam akan menampar.
“Maaf, Tata’,” kata Nurdin sambil berlari menghindar menjauh. Lalu pergi.
Gaffar yang tadinya mau tertawa malah menelan maksud itu. Apalagi melihat wajah kusam Tata’Gassing.
“Anak kurang ajara’, lampakol” Hardik Gaffar pura-pura mengusir Nurdin. Setelah Nurdin pergi Tata’ Gassing pun pamit. la mewanti-wanti pada Maryam anaknya.
“Jangan kemana-mana hari ini …di rumah ya? Kau Gaffar, kordinirki penagihanga” kata
Tata’ Gassing yang segera berangkat dengan bergegas dan membelok ke arah satu ujung gang menuju ke kota.
Baru saja Maryam berjalan menuju ke tangga rumah, tiba-tiba disusul dan dicegat oleh Gaffar. Mereka tinggal berdua setelah remaja lainnya pun pergi.
Gaffar memanfaatkan kesempatan untuk mendekati wanita idamannya
“Maryam Aku mau bicara sebentar, sebentar saja,” bujuknya.
Maryam yang dari tadi hatinya gerah melihat tingkah Gaffar langsung menjawab dengan ketus, “Mau apa kau Gaffar? Katakan di sini saja. Sekarang. Ada Masalah apa?”
Pemuda yang sudah lama menaruh hati pada Maryam, tiba-tiba dengan nekad berkata, “Ini, soal kelanjutan hubungan kita, Maryam. Kau masih ingat dengan janjiku dulu sewaktu kita masih di SMA dulu, kan? Ya, bahwa aku…aku…” ia kehilangan keberanian meneruskan kalimatnya.
“Mau melamarku, setelah musim panen tahun depan, begitu?” potong Maryam.
Gaffar tertawa senang karena tambatan hatinya itu masih ingat peristiwa dulu.
“Jeli juga ingatanmu, Maryam!” timpalnya malu-malu.
“Janji itu, pasti akan kubuktikan, Andi’! Tata’ pasti tidak menolak pinangan keluargaku! Dan kau…kau…”
Menggelikan juga melihat tingkah Gaffar, malu-malu mau seperti itu.
Tapi Maryam yang risih tiba-tiba berkata dengan perasaan dingin, “Jangan dibicarakan hal itu sekarang. Terus terang Gaffar… aku tidak senang dengan sikapmu selama ini yang selalu bawa-bawa laporan pada Tettaku. Kau selalu… mengkambinghitamkan seseorang… untuk mencapai tujuanmu.”
Terkejut juga Gaffar mendengar kata-kata Maryam yang tiba-tiba tajam dan sangat menyakitkan kedengarannya.
“Kenapa kau tiba-tiba jadi berubah. Aku tahu inilah akibat pergaulanmu dengan orang kota itu! Iya kan? Selama ini aku diamkan saja. Karena aku paham akibatnya kalau sampai Tata’ tahu. Tapi kalau dia berani lebih dekat denganmu, dia pasti rasakan akibatnya,” ancam Gaffar.
“Jangan sembarang menuduh begitu, kalau terjadi hal-hal yang mengarah ke tindak kekerasan atas diri kak Malik dan Mahasiswa KKN lainnya, maka tiada lain adalah kau dan orang sejenismu di kampung ini yang bertanggung jawab! Saya akan laporkan pada polisi.”
Gaffar jadi gelagapan.
“Maryam!” tanggapnya putus asa.
Secepat kilat, Maryam meninggalkan Gaffar. Pemuda itu coba menyusul dari belakang tapi secepat itu juga Maryam menutup pintu rumah. Itu membuat Gaffar kecewa teramat dalam bahkan menaruh dendam.
Sebelum pergi, ia menyambar sekali lagi gelas kopinya. Terasa pahit sekali. ***
4.Demdam Membara
Di perkampungan Rumbia minggu pagi hari itu, hadir dalam suasana berbeda. Jika biasanya sepagi itu sebagian besar warga masih tertidur atau bermalas-malasan, maka kini sudah bangun dan bergotong-royong. Setelah usai warga terlihat berkumpul di tanah lapangan yang tepat di tengah perkampungan mereka.
Di antara warga nampak Malik, juga Kepala Kelurahan dan ibu-ibu dari PKK di kampung itu. Mereka kelihatan memberi petunjuk kepada remaja putra, putri dan ibu-ibu lainnya di halaman kantor kelurahan itu. Rata-rata mereka berpakaian ringkas demi memudahkan bekerja.
Setelah beberapa jam bekerja, di beberapa lokasi, tugas mereka pun usai. Kemudian mereka berkumpul kembali di halaman kantor lurah.
Pak Lurah dan Ibu Aminah istrinya sangat bersemangat memberi arahan.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu. Kini, kita telah pahami bersama bahwa timbulnya suasana yang tidak sehat, itu disebabkan karena terjadinya lingkungan yang juga tidak sehat pula. Nah, sekarang kita sudah sepakat untuk mulai mengatasinya. Berkat petunjuk Dik Malik dan kerja keras kita semua, kini telah tersedia penampungan air kotor yang cukup besar untuk menghindari genangan di hala¬man rumah kita yang selama ini menimbulkan bahaya banjir di musim hujan. Untuk itu, pada kesempatan ini bagi Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, jika ada yang masih mau bertanya kepada adik kita Malik, calon Insinyur arsitek kita yang ber-KKN di sini dan sekaligus membina adik-adik remaja desa dalam berbagai keterampilan, silahkan.”
Pak Usman, salah seorang warga mengacungkan tangannya dan memberi tanggapannya dengan lucu.
“Eh, sekarang sudahmi, kita perbaiki, kita bikin penampungan airnya, tapi bagaimana memeliharanya? Tidak ada waktu saya, belal”
Malik menyambut pertanyaan itu dengan senyum.
“Bagaimanapun rencana yang diprogramkan dan dilaksanakan di sini. Tanpa bantuan bapak-bapak dan ibu tidak mungkin sukses. Untuk itu dengan penuh kerendahan hati kami ucapkan terima kasih setinggi-tingginya. Soal pemeliharaan selanjutnya, itu akan menjadi tanggungjawab bersama warga kampung ini. Sebab bagaimana pun, kampung ini milik ibu dan bapak sekalian,” jawab Malik.
Dari kejauhan nampak Gaffar dan teman-temannya berkumpul. Mereka memandang pada kerumunan itu dengan penuh kejengkelan, apa lagi setelah ekor matanya sempat bertemu pandang dengan Maryam yang juga hadir di kegiatan tersebut.
Begitu Maryam melihat gerak-gerik Gaffar dan teman-temannya yang mencurigakan, sekilas gadis itu agak gugup juga. Tapi ia segera mengendalikan dirinya. Ketikaberadu pandang dengan Haniah yang berada di dekatnya, keduanya seperti sudah saling mengerti.
Di bawah pohon rindang beralas tikar tak terlalu jauh dari tempat Maryam dan Haniah itu, Gaffar, Nurdin Coa’ dan Bora’, sedang berpesta miras. Di depan mereka ada tempat tempurung buah Maja yang berisi tuak sari buah tala. Juga ada hidangan makanan khas Makassar seperti gantala darah kerbau yang dibekukan kemudian dimasak, juga ada ikan bakar, raca-raca’ taipa mangga yang diiris-iris kecil dan Iain-lain.
Di antara mereka kelihatan Gaffar yang sudah sangat teler. Itu yang membuat kawan-kawannya sedikit bertanya-tanya apa gerangan sesungguhnya yang terjadi.
“Aku heran melihat si Gaffar. Tiba-tiba saja kembali mengajak kita jadi peminum berat…. Ada apa ini?” Tanya I Coa’ dengan lidah cadelnya.
Nurdin langsung menimpali dengan menduga-duga, “Anu, sudah pasti terjadi sesuatu atas diri Bos kita ini….” bisiknya pada Bora.
Ocehan teman-temannya sama sekali tidak dihiraukan si Gaffar, bahkan ia terus meneguk tuaknya.
Itu yang memancing I Bora berkomentar.
“Seingat saya kak Gaffar sudah lama berhenti minum sejak dilarang oleh si Maryam putri tunggainya xata> Gassing. Nah pasti ada sang kekasih hatinya itu,” sambil berbisik.
I Coa’ langsung mengiyakan.
“Iyyo bela. Kisah cintanya sejak di SMA dulu… asyiiiiiiik!…hahahaha.. hahahaha, seperti disinetron telenovela, hahahaha.. nanahaha. Jangan-jangan sudah dilacci diambil orang,” kata si cadel diantara tawanya yang sulit terkendali.
Akhirnya gerah juga hati si Gaffar. !… jangan disebut-sebut lagi nama Maryam sini ” katanya emosi.
“Nah kian jelas sudah! Pasti gara-gara si kata Nurdin yang sudah terbakar emosi, bangkit langsung memegang krah baju si Nurdin sambil mengancam.
“Sekali lagi kukatakan jangan diulangi lagi nama itu di depanku.” perintahnya, dan siap mengayunkan tinjunya.
Serentak teman-teman Gaffar menghalangi perbuatannya yang sudah sangat emosional akibat ejekan si Nurdin.
I Bora yang juga sudah diamuk mabuk ikut-ikutan menanggapi.
“Hei, anggu’rangi ko Sadar kau Gaffar. Ada apa ini… katakan apa yang terjadi atas dirimu,” Cegah I Bora tak kalah emosi. Ada Gantala yang masih terkunyah di mulutnya.
Gaffar malah berubah diam.
I Bora pun menyambung
“Kalau kak Gaffar tetap juga diam… lebih baik kita akhiri persaudaraan kita.”
Semua mau beranjak pergi ketika tiba-tiba ditahan oleh Gaffar.
Gaffar pun sudah berusaha mengendalikan diri. “Maafkan aku…aku… aku betul-betul marah! Hatiku lagi panas,” kilah Gaffar.
“Iya, marah! Tapi jangan marah-marah sama kita,” kata Nurdin tak senang.
“Aku marah akibat tingkah si Maryam yang tiba-tiba berubah… semenjak dia bergaul dengan si Malik anak dari kota itu yang bercokol saat ini di desa kita,” ungkapnya sambil kembali menenggak Ballo’ dengan rakus.
I Bora pun langsung menghabiskan ballo’nya sampai sepuas-puasnya. Lalu ia berteriak-teriak seolah manentang. Malik yang melihat kejadian itu langsung mencegah warga yang sudah mau bereaksi.
“Tenang, saudara-saudara, tenang. Insya Allah bisa segera diatasi! sebaiknya kita lanjutkan pertemuan kita ini.”
Terdengar suara riuh bercampur tepukan, wajah Gaffar yang begitu jengkel memerah dan segera meninggalkan tampat itu. Dendamnya kian membara.
Maryam dan Haniah terkejut melihat kepergiaan Gaffar dan kawan-kawannya itu, hatinya jadi cemas, menduga-duga akan terjadi suatu yang tidak diharapkan. Tapi Malik yang ikut membaca reaksi kedua wanita muda itu, memberi siyarat pada mereka agar tetap tenang.
Insinyur Farid pun langsung mengalihkan perhatian hadirin dengan memberi penjelasan lanjutannya.
“Kesimpulannya bahwa, kampung bagian utara ini sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk suatu lingkungan permukiman yang memenuhi syarat kesehatan. Dan sangat tepat kalau di lokasi ini ditetapkan sebagai lokasi pembangunan Rumah Susun, sesuai program pemerintah kita saat ini.”
“Nah telah kita temukan jalan keluar yang kita dihadapi di desa kita ini menuju per¬mukiman yang sehat dalam lingkungan yang bersih. Sekarang saya mau bertanya, apakah anda setuju tinggal dalam permukiman sehat dan nyaman?…Apa kalian setuju?”
Semua warga yang hadir menyatakan setuju.
“Tapi bagaimana harganya, apa mahal?”
“Bisaji dicicil?”
“Soal itu bisa kita bahas nanti” kata insinyur Farid.
Malik dan pak Lurah pun gembira.
“Kalau begitu, mari kita sambut kehadiran Rumah Susun di kampung kita. Insya Allah”
Warga pun bubar dengan perasaan lega.***

5Tantangan Menghadang

Hari memang sudah di puncak siang, panas terasa membakar. Hati Tata’ Gassing sebenarnya sedang gembira karena baru saja terima uang di kota atas hasil penjualan barang pulungan yang jumlahnya cukup banyak. Meski panas siang itu Tata’ Gassing masih juga menyanyikan lagunya Rhoma Irama. Kadang ia bersiul-siul.
Tetapi laporan yang tiba-tiba dibisikkan Gaffar pada Tata’ Gassing, terasa membakar telinganya. Wajah Tata’ Gassing langsung berubah jadi memerah karena panas emosinya. Ia sebagai salah seorang tokoh masyarakat kampung Rumbia, merasa kian tidak dihargai, disepelekan dan itu baginya sangat-sangat menyakitkan. Apalagi beberapa warga yang menjadi kaki tangannya selama ini ikut-ikutan melapor.
“Jadi anak muda itu sudah mempengaruhi penduduk, hingga warga di bagian utara ini rela menyerahkan sebagian pekarangannya? apa kalian setuju?” Teriak Tata’ Gassing yang merasa dipermalukan Malik.
Para pemulung yang jadi anak buahnya spontan ikut berteriak.
“Tidak setuju.. Tata’! Tidak!”
“Bagus, jadi jangan macam-macam dia… kalau dia berani menginjakkan kakinya di sini, maka yang pertama ia hadapi adalah aku! Kalian pasti sudah tahu siapa aku bukaaannn, aku Tata’ Gassing!”
Para pemulung itu serentak berteriak lagi menimpali Tata’ Gassing.
“Bura’nena bura’neya, pallakina kampung Rumbia Lelakinya laki-laki, jantan dari kampung Rumbia!”
Mereka betul-betul khawatir kalau sampai Tata’ Gassing tidak lancar berusaha lagi, mereka mau kerja apa, mau makan apa? Sebagai pemulung inilah satu-satunya gantungan pengharapan mereka, mereka tidak punya ketrampilan dan pengetahuan yang lain selain memulung.
Tata’ Gassing juga gembira, mendengar sanjungan para pemulung itu. “Nah, kalian kembalilah bekerja masing-masing. Kumpulkan sebanyak-banyaknya. Untuk kita semua.”
“Iyye’, Tata.”
Para pemulung bubar menuju ke arah berlainan, Tata’ Gassing memanggil Gaffar.
“Amati terus rencana mereka. Ingat! sampaikan dengan sebenarnya apa saja tindakan mereka selanjutnya. Kalau sudah tiba waktunya, kita akan segera bergerak untuk menghadang rencana mereka itu, paham kau?” kata Tata Gassing serius sambil menatap wajah Gaffar yang menunduk.
“Iyye’, Tata’,” Gaffar mengiyakan.
“Bagaimana tagihannya anak-anak?”
“Sudah terkumpul. Yang tidak bisa bayar kontan, kita ambil ayam, itik atau apa saja yang mereka punya,” kata Gaffar bangga.
“Bagus kerjamu, kalau benar begitu,” Puji Tata’ Gassing.
Gaffar segera berlalu dari rumah Tata’ Gassing. Hati dan dendamnya yang panas, kini mendapat dukungan yang kuat. la tak ingin kehilangan gadis pujaan hatinya. Baginya hidup tanpa Maryam, tiada artinya lagi. Hampa.
Mengingat-ingat itu, membuat hati Gaffar semakin meradang dengan dendamnya itu. Apapun caranya ia hams menghadang kelanjutan hubungan Maryam dengan Malik. Apa pun bentuk hubungan itu.
Baru saja beberapa langkah Gaffar beranjak ketika tiba-tiba datang I Coa’ dan Nurdin dengan tergopoh-gopoh.
“Celaka, Daeng, celaka! Si Malik dan Maryam terlihat berdua-duaan di bawah pohon rindang dekat sanggar kegiatan remaja,” kata Coa mengadukan kesaksiannya dengan nafas terengah-engah.
“Berani-beraninya dia, kurang ajar,” timpal Gaffar kesal.
“Betul, Daeng. Tingkah mahasiswa itu semakin menjadi-jadi. Dia sudah menghina anak muda di kampung ini, dengan menginjak-injak adat istiadat kita,” sambung Nurdin dengan maksud membakar hati Gaffar.
Nurdin memang selalu mengambil hati Gaffar, karena ia mengaku-aku adalah calon iparnya. Tanpa dukungan Gaffar, memang sangat sulit ia mendapatkan Haniah adik Gaffar yang menjadi impian dan dambaan hatinya.
“Ayo kita ke sana,” ajak Gaffar.
“Hajar saja, Daeng. Pukul dulu baru tanya,” hasut I Coa’
Ketiganya pun pergi dengan langkah bergegas.***

6.Menggantang Kenangan

Di bawah pohon rindang dekat sanggar kegiatan remaja Rumbia sore itu, sesekali berhembus angin semilir. Langit terlihat berwarna lembayung dengan sinar matahari yang kian melemah. Suasana jadi sangat romantis.
Menjelang senja itu, terlihat Malik dan Maryam duduk berdua di taman dekat pohon yang rindang. Rambut Maryam yang hitam tergerai kadang-kadang dipermainkan angin, hingga menutup sebagian wajahnya yang putih, bersih dan cantik.
“Kak Malik, tanpa terasa tinggal beberapa hari ini lagi masa KKN-nya di desa ini,” kata Maryam perlahan. Dalam nada suaranya terkandung perasan sedih yang mendalam.
“Ya, waktu begitu cepat berlalu, dik Maryam, sedang pengabdianku kepada penduduk, pada kampung ini, belum keseluruhannya dapat terlaksana,” kata Malik dengan perasaan hati yang masygul dan keluh.
Maryam tak lepas menatapi mata Malik.
“Tapi tahap demi tahap rencana sudah terwujud dan telah dirasakan manfaatnya, yakinlah cita-cita Kak Malik dan kawan-kawan yang luhur akan terwujud jadi kenyataan. Setelah Kak Malik nanti pergi, insya Allah kami akan meneruskannya.”
Malik menghela nafas berat sambil menerawang jauh. Cukup banyak persoalan masih membalut pikirannya. Apa yang sudah dilakukannya dalam masa KKN, belumlah nampak benar hasilnya bagi perkampungan Rumbia.
Penanggulangan banjir di kampung Rum¬bia itu, barulah tahap awal penataan dari konsep lingkungan yang menyeluruh. Malik masih mengharapkan di kampung itu dapat dibangun rumah susun, dan proposalnya sudah diajukannya melalui insinyur Farid. Kalau itu bisa terwujud, barulah ia lega, karena sudah melakukan perbaikan dengan memadai.
Lingkungan yang kumuh, cara-cara hidup yang tidak sehat, adalah gulita persoalan yang harus dia lepaskan. Untuk itu memang butuh waktu, dan waktu inilah yang kian mendekati akhirnya.
Sementara Malik dalam lantun lamunannya, diantara rimbunan dedaunan pohon, terlihat, Nurdin, I Coa’ dan I Bora mengintip dan berusaha ikut mendengar percakapan antara Maryam dan Malik.
Gaffar mengambil posisi agak jauh dan tidak dapat kelihatan dari posisi Maryam. Ia berusaha menahan amarah yang terus membakar hatinya. Kepalanya terasa berat dan matanya terasa pedas.
Malik dan Maryam tenang-tenang saja, tidak menyadari ancaman yang sedang mengintai mereka.
“Kampung ini punya arti kenangan tersendiri dalam perjalanan hidupku yang begitu panjang dan melelahkan. Aku jadi ingat kampung halamanku sendiri. Dulu, saban tahun kampung pun dilanda banjir yang selalu memakan korban. Tidak saja harta yang musnah, tapi juga korban jiwa. Ibuku dan ayahku telah ikut menjadi korban buruknya lingkungan hidup itu. Beliau terserang penyakit muntaber yang berjangkit,” keluh Malik melankolis.
Maryam ikut menitikkan air mata. Ada rasa haru yang mendalam di lubuk hatinya. la pun kehilangan ibunya pada musim banjir yang lalu. Wabah muntaber yang ganas telah merenggut jiwanya beserta beberapa warga lainnya.
Melihat Maryam menangis, macam-macam penafsiran yang timbul dalam pikiran ketiga sahabat si Gaffar. Mereka diam-diam memberi isyarat pada Gaffar apa yang tengah terjadi dengan dua remaja itu.
Gaffar yang menangkap isyarat itu segera membenahi nyalinya, bertimbang-timbang apa yang harus dilakukannya.
“Kampung ini pada akhirnya akan kembali terasa sepi, setelah esok lusa Kak Malik sudah menjauh dari kami. Semoga Kak Malik tidak melupakan kami,” kata Maryam lirih, seolah mau menyembunyikan gundah hatinya.
“Insya Allah, kami tidak akan pernah lupa. Suara-suara penduduknya yang ramah takkan pernah menjauh dari suara hatiku. Setelah kami kembali ke kampus, tentu kesibukan sudah menanti. Tapi aku akan berusaha menghubungi kalian melalui Pak Lurah untuk memantau kemajuan rencana kita,” kata Malik, mencoba menghibur hati Maryam yang nelangsa.
“Ketahuilah kami masih selalu mengharapkan bimbingan Kak Malik,” harap Maryam.
“Ya, aku tahu itu. Hanya ada satu yang masih sangat mengganjal perasaanku,” keluh Malik
“Apa itu, Kak?” desak Maryam ingin memperoleh jawaban. Wajah Maryam terlihat sangat dekat dengan wajah Malik.
Kejadian itu, membuat jantung Nurdin dan kawan-kawannya langsung berdetak keras tak menentu, menantikan kelanjutan yang sebagaimana selalu dalam bayangannya. Mereka yakin akan menangkap sepasang remaja itu akan berbuat tidak senonoh.
Malik menunduk, dan keduanya nampak semakin dekat.
“Yang kusesali, aku belum berhasil meyakinkan Tata’ Gassing ayahmu,” keluh Malik.
“Justru itulah yang selama ini kukhawatirkan, sikap Tettaku akhir-akhir ini. Mengapa jadi begitu berubah. Semakin tidak mau menerima kemajuan. Yang kubingungkan juga adalah, mengapa sampai saat ini Tetta melarangku ikut terlibat dalam kegiatan ini. Ada apa dibalik semua ini?” ujar Maryam bingung.
“Kayaknya, kita masih harus bersabar… sampai suatu saat kita bisa meyakinkan I Tata’, hingga mau menerima kenyataan ini,” bujuk Malik.
Ketika senja kian mejelang keduanya beranjak, meninggalkan tempat itu. Keduanya berjalan berdampingan menyusuri jalan-jalan setapak yang mulai sepi. Setelah tiba dekat simpang menuju pemondokan Malik, mereka segera berpisah.
Maryam langsung bergegas untuk bersiap sholat magrib. Bayangannya menghilang di ujung gang.
Malik berjalan seorang diri melewati padang-padang rumput, ketika tiba-tiba Gaffar dan kawan-kawannya tepat muncul di depannya dengan wajah emosional.
Gaffar langsung menghardik
“Bajingan, berhenti kau!”
“Eh!..Gaffar.. ada apa ya?” sambut Malik tenang.
Kawan seiring Gaffar yang berwajah sangar I Bora langsung bertanya, “Dari mana kau membawa-bawa Maryam? Kau tahu ini siri’-malu!”
Malik yang mulai menangkap arah pembicaraan para penghadangnya, mencoba menenangkan para penghadangnya.
“Oh itu… aku dan Maryam tidak kemana-mana. Hanya sekedar berbincang di bawah pohon dekat Sanggar lalu ku antar pulang, Dik Gaffar!” aku Malik tenang.
“Bohong!..kalian pasti telah melakukan perbuatan yang tidak senonoh, melanggar adat dan memalukan keluarga kami,” sergah Gaffar.
Malik berusaha tetap tenang tak terpancing emosi Gaffar dan kawan-kawan”Jangan menuduhku yang tidak masuk akal, Dik Gaffar,” pinta Malik.
“Kami sudah mengintip kalian sejaktadi, apa maksudmu berdua-duaan di tampat sepi dimana tidak ada orang yang mengawasi,” Tuduh I Coa’.
“Betul, pasti ada udang di balik batu. Pasti ada maksud tertentu,” sambung Nurdin.
“Disebabkan kehadiranmulah sehingga Maryam kini sudah tidak perhatian lagi padaku. Kau sudah mencoba merampasnya dariku!” kata Gaffar.
“Dik Maryam kuanggap sebagai adikku sendiri. Tidak lebih dari itu. Kalian boleh tanya padanya. Aku tidak pernah bicara lain kecuali menyangkut kegiatan remaja kita di sini, di samping pembangunan kampung ini,” elak Malik bersungguh-sungguh.
“Akhh… jangan percaya Gaffar, hajar saja dia. Kita sudah dibuat malu, napakasirikkiT hasut Nurdin.
Gaffar yang sudah sejak lama memendam dendam dan amarah, langsung saja tersulut hasutan itu. la langsung melayangkan serangannya yang mendadak ke arah Malik. Terjadilah duel yang cukup seru, meski Malik hanya berusaha mengelak terus menghindar pukulan.
Beberapa teman Gaffar yang ingin membuat jasa ikut-ikutan menyerang untunk mengambil keuntungan secara pengecut. Tapi Malik bukanlah tipe pemuda ayam sayur yang gampang ditaklukkan. la adalah pewaris perguruan silat Merpati putih yang dipimpin ayahnya. Oleh sebab itu serangan secara kerubutan itu tidaklah terlalu merepotkannya.
Malah akhirnya makin berhasil menaklukkan semuanya termasuk Gaffar. Dengan nafas mengatur nafas yang sedikit terengah Malik malah mendekati Gaffar yang sudah jatuh terlentang sesak nafas, akibat kecapekan menyerang secara emosi dan membabi buta.
Melihat Gaffar tidak berdaya, I Coa’, Nurdin dan I Bora bukannya menolong, malah mengambil langkah seribu, lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Malah I Coa’ sampai mengencingi celananya akibat jera melawan Malik.
” Maaf, sebagai laki-laki Gaffar, kumohon berpikir dulu sebelum melakukan kekerasan. Pertimbangkan dengan bijak sebelum menindas seseorang dengan tuduhan yang begitu rendah, ukur kekuatan sebelum menyerang orang, Nah, dik Gaffar, Jangan diulangi lagi tindakan dan lagi sifat burukmu itu!” nasehat Malik tanpa kesombongan.
Gaffar yang melihat kawan-kawannya sudah lari lintang pukang. Nyalinya pun ciut dan segera meninggalkan Malik yang masih memandanginya dalam keadaan perasaan kasihan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kasihan dia, aku paham mengapa dia sampai senekad ini.”***

7.Di Ujung Penyesalan

Di rumah panggung khas Makassar itu. Lampu stroomking masih menyala, meski sudah kekurangan angin. Cahayanya terlihat berwarna kuning tak tegas lagi. Suasana terasa murung dan perih sebagaimana keperihan hati penghuninya.
Pada ruang tengah rumah itu, Haniah terlihat sedang merawat kakaknya Gaffar dengan beberapa lecet di lengan dan benjolan di dahinya. Dengan penuh kasih Haniah menekankan kain basah untuk mengkompres dahi kakaknya
“Aku jadi malu terhadap Kak Malik. Aku malu akibat perbuatan kakak kandungku, yang selama ini kuhormati, kucintai, dan kuanggap sebagai pengganti kedua orang tua kita yang telah tiada. Malah melakukan perbuatan tercela. Menyerang orang yang tidak bersalah.”
Gaffar tidak langsung menyerah. Bahkan hatinya yang masih panas meletupkan sisa amarahnya.
“Nia, mulai saat ini kau jangan turut campur dalam urusan ini, mengerti?” ancam sang kakak.
“Salahkah aku bila kuingatkan Kak Gaffar, demi menjaga nama baik ibunda dan ayahanda almarhum, beliau salah seorang tokoh panutan masyarakat selama hidupnya yang selalu mengabdikan diri bagi masyarakat. Sebagai seorang Imam, ayah sangat dihormati.”
Gaffar bukannya sadar malah kian naik pitam, “Haniah, jangan kau bawa-bawa nama ayahanda almarhum dalam persoalan ini.”
“Kak Gaffar, buka matamu, hatimu. Jernihkan pikiranmu. Pandang kembali pesantren sana, tampat ayah kita dulu mendidik putra-putri terbaik kampung ini, termasuk kau dan aku. Apa sebenarnya yang terjadi atas dirimu selama ini? Mengapa kebajikan dan kebijakan ayah begitu cepat sirna? Apakah semua itu sudah luntur karena perasaan cemburu buta yang menghantui hatimu?” sergah Haniah dengan sengit.
“Niah, salahkah aku bertindak bila mencintai Maryam, dan mempertahankannya ketika seseorang akan merenggutnya dari sisiku?” Kilah Gaffar.
Haniah menggeleng kecewa, sedih dan marah atas sikap kakaknya.
“Apakah dugaan Kak Gaffar itu sudah pasti. Bahwa Maryam sudah berpaling dari masa lalumu? Padahal aku yakinkan bahwa Mar¬yam selama ini hanya dianggap sebagai adik sendiri oleh Kak Malik. Tak lebih dari itu. Aku tahu itu, karena aku selalu bersama mereka.” Jelas Haniah dalam isak tangisnya yang mengharukan.
Diam-diam, perasaan Gaffar tergugah juga. Hatinya yang panas, emosinya yang terbakar, pelan-pelan mulai mendingin.
“Apa betul ucapanmu itu, Nia?” lidik Gaffar sambil menatap dalam mata adiknya yang mulai sembab oleh tangisan. Amarah Haniah pun luruh.
“Kapan aku berani bohong pada Kak Gaffar? Perlu kakak ketahui bahwa Kak Malik itu senasib dengan kita juga telah kehilangan kedua orang tuanya. Karena lingkungan yang buruk, lingkungan yang tidak sehat. Orang-tuanya pun direnggut wabah muntaber yang ganas.”
Gaffar, menatap adiknya dengan rasa penuh penyesalan. Ada titik air mata yang bersembunyi di sudut matanya. la tiba diujung penyesalan dengan perasaan malu.***

8.Saat Musim Berganti

Pagi itu, di ruang pertemuan Sanggar Kegiatan Remaja Rumbia kembali lagi cukup ramai. Di baruga ini sudah sebagian besar warga berkumpul. Cahaya matahari pun sudah mulai masuk dan menjadi penerang ruangan.
Di ruangan itu nampak Pak Lurah, Insinyur Farid, Malik, ibu PKK dan sejumlah remaja lainnya memandang ke suatu tempat arah utara kampung sebagaimana tertera di rancangan gambar yang memperlihatkan penataan kampung Rumbia.
Insinyur Farid menjelaskan dengan cermat pada hadirin.
“Jika rumah susun yang merupakan prog¬ram pemerintah, setuju dibangun di sekitar sana sebagaimana proposal kita, maka itu sudah tepat adanya, karena wilayah perkampungan kita itu sudah termasuk perkampungan kumuh. Tapi berkat upaya kita, maka di sekitar halaman penduduk sudah kita siapkan area untuk lokasi saluran pembuangan air kotor. Hanya sudah sampai…. sejauh mana, Malik?
Malik yang dipersilahkan tiba-tiba langsung berdiri dan memberi penjelasan.
“Kira-kira sudah hampir sampai ke ujung utara sana,” jelas Malik bersemangat.
Telunjuk Malik di ujung lengannya yang membentang, tiba-tiba sudah terarah ke muka Tata’ Gassing yang kebetulan sudah tepat tiba di sampingnya sejak tadi. Hampir saja ujung telunjuk mencolok mata sang tetua kampung itu.
Tata’ Gassing Langsung naik pitam.
“Apa ! Yang kau tunjuk… aku?!” Hardiknya dengan emosi. Matanya merah menyala memancarkan amarah.
“Maaf, bukan begitu maksud saya, Tata’… Saya hanya bermaksud menjelaskan rencana pembangunan saluran pembuangan air kotor di kampung ini dan rencana lokasi rumah susun itu Tata’,” jelas Malik penuh penyesalan.
Tata’ Gassing bukannya paham, malah marahnya tak mereda.
“Huuh!… rumah susun, rumah susun apa! Siapa tahu kalian hanya sedang menyusun-nyusun siasat saja untuk merayu anak gadis orang-orang di kampung ini. Kalian diam-diam mungkin sedang merencanakan siasat busuk untuk menguasai tanah kampung ini, untuk kemudian kalian jual pada investor. Jangan pikir kami ini bodoh!”
Insinyur Farid yang bingung melihat perkembangan kejadian yang tiba-tiba itu langsung bertanya.
“Maksud Tata’ Gassing bagaimana….?” Tanyanya ingin tahu.
Tata’ Gassing yang merasa menguasai forum, kian bersemangat lagi.
“Ini ulah Si Malik yang sok jagoan bicara, jagoan berkata-kata. Ternyata benar dugaan si Nurdin dan Si Gaffar, bahwa ada udang di balik batu, ada keinginannya yang tersembunyi. Perhatikan saja, dia kini coba merayu anak saya si Maryam untuk memuluskan wujud rencananya itu. Dia tugasi anak saya untuk meluluhkan hati saya agar merelakan tanah yang kumiliki. Ini sungguh siasat gila.”
Malik langsung kaget mendengar rangkaian tuduhan keji seperti itu. Suatu hal yang tidak pernah diduganya sama sekali. la jadi kecewa, tapi ia tak mau menyerah begitu saja. la tidak ingin rencananya gagal karena salah pengertian.
“Sekali lagi, maaf. Tidak ada niat kami bertindak memalukan dengan cara-cara siasat busuk demikian Tata’. Sejak awal sudah kunyatakan pada semua orang, Maryam kuanggap adalah adikku, kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Tidak lebih dari itu.”
Malik memandang ke segenap arah dalam ruangan itu dengan pasrah.
“Sungguh, Haniah adik dari saudara Gaffar pun sangat tahu. Aku sudah menceriterakan panjang lebar kepadanya, bagimana aku senasib dengan keduanya, sama-sama kehilangan kedua orang tua. Bahkan aku kehilangan adik yang sebaya Maryam. Nah, salahkan aku? kalau itu juga salah, maka dengan tulus aku mohon maaf,” Kata Malik dengan perasaan sedih.
Hadirin dalam ruang, tercekam dalam perasaan simpati yang dalam pada Malik, jelas dalam tatapan mata mereka, tak satu pun yang menyangsikan penjelasannya. Mereka tahu ketulusan hati mahasiswa KKN yang sudah beberapa lama di kampung itu.
Tata’ Gassing yang merasa terpojok, mulai gelisah. Lalu mencari alasan.
“Diam! Malik! Juga kau,” sambil menunjuk Insinyur Farid, “kuberi kesempatan sekali ini saja. Segera kalian berbenah untuk cepat meninggalkan kampung ini, lebih cepat akan lebih baik. Jangan sampai terjadi sesuatu yang merugikan kalian. Maryam…Nia… pulang!” hardik Tata’ Gassing.

Maryam dan Haniah tersentak kaget. Tak menyangka kejadian yang tiba-tiba itu bisa menjadi kenyataan yang menyakitkan. Bahkan Maryam yang sangat terpukul dirundung kesedihan tiba-tiba, terpuruk limbung.
“Tata’, jangan… Jangan tuduh Kak Malik dengan kawan-kawannya yang bukan-bukan. Sungguh, mereka itu bekerja ikhlas untuk membantu mengatasi perkampungan kita, Tata’, jangan…” Maryam jatuh pingsan.
Kejadian itu langsung membuat Tata’ Gassing panik dan bersama beberapa warga, langsung mengerubungi Maryam yang tergeletak di lantai. Malik dan Farid berpandangan bingung. Tidak mampu berkata-kata. Tak tahu mengambil keputusan apa yang sebaiknya.
Tata’ Gassing yang sangat takut kehilangan anak semata wayangnya itu langsung kian panik dan minta tolong pada siapa saja.
“Tolong aku…..tolong anakku,” pintanya dalam raung kesedihan.
Malik dan Farid segera berinisiatif mendekati kerumunan.
“Pakai saja mobilku, kita bawa Maryam segera ke Puskesmas,” kata Insinyur Farid.
Ibu-ibu PKK dan remaja putri langsung bergotong royong mengangkat tubuh Maryam dan bersama Insinyur Farid segera mengangkutnya ke Puskesmas.
Ya, Allah…..Ya Tuhanku, tolonglah selamatkan anakku, Tolong ya Allah,” sungutnya dalam doa.
Semua orang masih terdiam, larut dalam kesedihan. Mereka memahami perasaan Tata’ Gassing yang sangat ketakutan kehilangan putrinya itu. Apalagi setelah orang tua itu langsung berlutut mohon ampunan Tuhannya.
“Ya, Allah, mengapa aku melakukan kebodohan seperti ini?”
Pak Lurah yang melihat orang tua itu sedih, dia langsung mendekatinya.
“Tata’, makanya jangan selalu berburuk sangka pada orang lain. Simak dulu masalahnya, lihat dulu, timbang salah benarnya baru bicara. Nak Malik dan kawan-kawan sungguh ingin membantu kampung kita agar bebas dari banjir, yang selalu membuat kita sengsara, membuat kita kehilangan harta dan jiwa orang yang kita cintai,” nasihat pak Kades.
“Aku sungguh telah berdosa pada anakku,” sambung tat’ Gassing, “juga berdosa kepada kalian semua, penduduk di sini. Kuingat tahun lalu itu… beberapa wanita yang harus menjanda, dan anak-anak kampung menjadi yatim piatu akibat banjir yang melanda kampung ini dan wabah yang menular dengan kejam. Kusadari semua itu akibat kekerasanku untuk bertahan di sini, mempertahankan daerah kumuh, untuk melindungi usahaku. Ya Tuhan, aku telah mencemarkan nama baik kampung ini, selama ini. Nak Malik maafkan aku,” sesal Tata’ Gassing dengan sesungguk tangisnya.
Malik yang terharu melihat lelaki tua itu akhirnya berkata, “Lupakan semuanya, Tata’, bagiku tiada dendam dan amarah yang bisa membuat diri kita semakin baik, semakin bijak” Kata Malik tulus.
” Ya, hapuslah semua kekeliruan masa lalu itu dengan tatapan masa depan yang cerah yang lebih pasti,” sambung Pak Kades
Tata’ Gassing mengangguk lemah.
“Kini aku sudah paham semuanya. Kemarin aku hanya dihasut oleh anak-anak muda yang tidak bertanggungjawab. Aku sudah keliru,” aku Tata’ Gassing jujur.
“Urungkan dulu keberangkatanmu, Nak Malik. Aku mohon! Aku ingin Nak Malik bisa menyaksikan segenap penduduk dibias mentari pagi, berkeringat mengerjakan saluran air itu di kampung ini. Aku bangga punya anak negeri seperti kau! Pandanglah segenap penduduk kampung ini, Malik. Bukankah mereka telah siap melaksanakan segala petunjukmu, menuju sebuah permukiman yang layak huni yang telah lama dinantikan oleh penduduk. Mereka menantikan musim berganti.”
Segenap warga mengiyakan sambil menyeru nama Malik.
“MALIK!… MALIK!…. MALIK!…”…..
Malik memandang segenap wajah mereka dengan mata berkaca-kaca dan terharu, serentak memeluk Tata’ Gassing kemudian melepas sesaat.
“Terima kasih, Tata’.” Ya Allah, bagaimana… bagaimana mungkin kuterima kenyataan seindah ini!” kata Malik dengan hati penuh haru, mengembalikan segala keajaiban kepada kehendak Yang Maha Esa.

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: