MELAKA MALAYSIA KOTA BANDAR NAN MENAWAN. Tulisan : Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn.MS.MH.MM.

MELAKA MALAYSIA KOTA BANDAR NAN MENAWAN.
Tulisan : Dr.Ir.Drs.H.Syahriar Tato.SH.SAB,SSn.MS.MH.MM.

Sebagai kota Bandar tua yang bersejarah,Melaka punya daya tarik khusus untuk mengunjunginya.Selain warga Malaysia dari berbagai penjuru, wisatawan terbesar ke Melaka adalah dari negeri Singa ,Singapura. Perjalanan bermobil dapat ditempuh dalam rata-rata tiga jam dari Singapura ke Melaka. Banyak juga bus umum yang melayani penumpang trayek Singapura-Melaka pulang pergi. Sedang dari ibukota Malaysia Kuala Lumpur, Melaka dapat ditempuh dengan mobil dalam waktu satu setengah jam.
Bandara Internasional Melaka di Batu Berendam kini semakin ramai menjadi pintu masuk wisatawan. Penerbangan Riau Air dan Wings Air dari Indonesia sudah mempunyai penerbangan terjadwal ke Melaka, khususnya karena peningkatan wisata medis dari Indonesia ke Melaka. Dari Bengkalis, Dumai, dan Pekanbaru juga ada ferry setiap hari menuju Bandar Melaka.
Dari catatan sejarah, Melaka dibangun oleh Parameswara pada akhir abad ke-14. Bandar Melaka ini menarik para pedagang dari India dan Arab, sehingga sertamerta makin berkembang sebagai pusat perdagangan. Asal nama Melaka pun punya dua versi. Versi pertama adalah pohon buah melaka yang banyak dijumpai di tepian sungai di Melaka. Versi kedua adalah dari kata “malakat” yang berarti pasar dalam bahasa Arabnya. Sejarahpun mencatat, Laksamana Cheng Ho pun pernah berlabuh di Melaka. Hingga kini masih ada klenteng yang dipersembahkan kepada Cheng Ho. Seiring dengan itu, Pedagang dari Cina pun semakin meramaikan Melaka di abad ke-15. Sejak itu kedudukan Melaka didunia Internasional makin meningkat.
Pada awal abad ke-16, Bangsa Portugis pun datang ke Melaka, yang niat Semula untuk berniaga. Namun cara-cara mereka berniaga tidak cocok dengan para pedagang India dan Arab. Pertikaian pun terjadi. Portugis kembali dengan balatentara lebih besar, dan menduduki Melaka pada 1511. Pendudukan Portugis ini mengawali era Eropa bagi Melaka. Portugis membangun benteng pertahanan, gedung-gedung pemerintahan, dan gereja-gereja, yang jejaknya banyak ditemui di kota Melaka saat ini.
Melaka semakin kehilangan pamornya pada awal abad ke-17 setelah Sultan Johor melakukan pakta dengan VOC Belanda. Pada tahun 1641, Belanda menyerang Melaka dan mengusir Portugis dari sana. Belanda bercokol selama 150 tahun, dan meninggalkan Melaka setelah gempuran pasukan bersama Inggris dan Prancis.
Sejarah berliku Melaka itu meninggalkan berbagai pusaka yang menjadi tujuan wisata sejarah yang sangat penting bagi Melaka. Menurut statistik, setiap tahun Melaka dikunjungi 7 juta wisatawan, dari dalam maupun luar negeri.
Pusat atraksi wisata di Melaka adalah kawasan bersejarah di pusat kota yang populer dengan sebutan Red Square. Di sekeliling alun-alun kecil ini berdiri berbagai bangunan peninggalan sejarah yang dindingnya berwarna merah, antara lain: gereja kathedral, stadthuys (balaikota), kantor pos, dan lain-lain. Di tengah alun-alun itu berdiri sebuah tugu peringatan untuk menghormati Ratu Inggris yang dilengkapi dengan air mancur. Becak-becak hias menyemarakkan kawasan Lapangan Merah yang penuh pengunjung. Dengan becak ini sebagian wisatawan berkeliling Melaka. Becaknya dihias sangat meriah dengan bunga-bunga plastik dan elemen hias lainnya. Lengkap dengan musik dan pengeras suara yang cukup memekakkan telinga.
Kawasan bagi pejalan kaki yang paling populer adalah Jonker Walk – mencakup Jonker Street dan Heeren Street , yang terletak hanya di seberang Sungai Melaka dari Lapangan Merah. Di ujung Jonker Walk ini sekarang ada San Shu Gong, toko berbagai oleh-oleh, bumbu, dan lain-lain. Es cendol durian-nya juga sangat diminati. Oleh pengunjung. Sebelum kehadiran San Shu Gong, toko serupa yang populer adalah Tan Kim Hock di Jalan Bendahara. Kebanyakan wisatawan membeli bumbu ayam pongteh, bakkutteh, dan sebagainya untuk dibawa pulang sebagai oleh oleh.Di sepanjang Jonker Walk, banyak cafe, rumah makan, serta toko-toko souvenir yang menarik. Pada hari-hari libur da akhir pekan, kawasan ini tumpah-ruah pengunjung hingga tengah malam. Beberapa cafe juga menyediakan live band untuk menarik pengunjung.
Di belakang Lapangan Merah ada sebuah bukit, dan di puncaknya ada bekas gereja Portugis yang dihancurkan Belanda dan diubah menjadi benteng pertahanan. Untuk mencapai tempat itu, kita masuk dari sebuah gerbang benteng yang dikenal dengan sebutan A Famosa. Pada awalnya ini adalah benteng Portugis juga, yang kemudian diubah menjadi benteng Belanda. Lambang VOC masih tampak terukir di batu gerbang A Famosa ini.
Obyek wisata lainnya adalah gereja-gereja tua, baik peninggalan Portugis (Katholik) maupun Belanda (Protestan). Gereja Santo Petrus yang sudah berusia 300 tahun, misalnya, menjadi pusat Perayaan Paskah yang penting di kawasan ini. Di Melaka juga masih banyak kelompok Kristang , keturunan Portugis-India beragama Katholik. Kaum mestizo ini berkulit gelap, dengan nama-nama Portugis, seperti; Rodriguez, Fernandez, dan lain-lain.
Melaka kini tidak lagi sekadar kawasan bersejarah. Kota ini telah memiliki jalur monorel sepanjang 1,6 kilometer untuk kemudahan para wisatawan. Kereta ini menghubungkan berbagai tujuan dan obyek wisata di Melaka.
Atraksi modern bagi wisatawan berpusat di Padang Pahlawan. Di sini ada mahkota Parade Shopping Centre yang sangat ramai. The Body Shop, World of Cartoons, Nokia, MPH Bookstores, Royal Selangor, Sony Center, dan gerai waralaba internasional lainnya dapat dijumpai di sini. Begitu juga waralaba kuliner seperti: Starbucks, KFC,McDonald’s, Pizza Hut, dan lain-lain.
Di dekat Padang Pahlawan juga ada ferris wheel (jentera putar). Yang besar disebut Eye on Malaysia, sedangkan yang lebih kecil disebut Eye on Melaka. Di dekatnya ada sebuah atraksi pariwisata yang lain, The Pirates of Malacca. Ada pula Malay and Islamic World Tour di Jalan Kota. Bila membawa anak-anak, sedikit di luar kota ada Melaka Zoo (kebun binatang) yang berlokasi di Ayer Keroh.Di Ayer Keroh juga ada Taman Mini Malaysia dan Taman Mini ASEAN, serta kawasan hutan lindung. Agak jauh lagi, di Pantai Padang Kemunting, sekitar 28 km dari pusat kota Melaka, ada tempat penangkaran bagi penyu yang juga sangat menarik untuk dikunjungi anak-anak.
Sungai Melaka yang berliku pun sejak beberapa tahun silam telah ditata. Sisi-sisinya diturap. Di sepanjang sisi sungai dibangun boardwalk, jalan dari papan kayu, agar orang dapat berjalan-jalan atau jogging menikmati pemandangan sungai. Dapat juga ikut river cruise , naik perahu dan menyusuri sungai selama 45 menit. Ada juga Melaka Duck Tour, yaitu kendaraan semi-amfibi yang dapat berjalan di sungai maupun di jalan raya.
Di salah satu “semenanjung” tepian sungai ini ada kawasan perkampungan sekitar 100 rumah yang dilestarikan sebagai living museum. Warga Kampung Morten ini diwajibkan melestarikan rumah mereka dan mendapat tunjangan sepantasnya agar selama berabad-abad kemudian orang masih dapat melihat cara hidup asli masyarakat Melayu di Melaka.
Wisata kuliner di Melaka juga sangat memuaskan. Kalau nasi ayam Hainan sangat populer di Singapura, di Melaka ada versi yang lebih unik. Sebetulnya, ini adalah masakan yang sama, tetapi dengan cara penyajian yang berbeda. Nasi ayam Hainan adalah paket nasi gurih dan potongan ayam kukus. Di Melaka, disebut nasi ayam bebola (chicken rice-ball). Ayam kukusnya sama ,cuma kadang-kadang juga tersedia versi panggang.Tetapi, nasi gurihnya dihaluskan dan kemudian dibentuk menjadi bola. Di ujung Jonker Walk ada sebuah kopitiam (warung kopi) bernama Chop Chung Wah yang sejak buka pada pukul 8.30 pagi selalu ramai diantre orang. Nasi ayam Chop Chung Wah biasanya sudah habis pada sekitar pukul 13 siang. Ini adalah kedai pertama yang menghidangkan sajian khas ini. Jika kita malas antre, ada pilihan lain yaitu Famosa Chicken Rice-Ball (Jalan Hang Jebat dan Jalan Hang Kasturi). Makanan murah-meriah yang juga populer di Melaka adalah sate celup. Sekarang yang terkenal adalah Capitol di Lorong Bukit Cina. Pilihan satenya, isinya adalah ayam, cumi, bakso, cabe isi bakso, tahu, tahu bakso, babat, dan banyak lagi ragam lainnya. Sate dicelupkan ke kuah kacang beramai-ramai. “Pemandangan” inilah yang agaknya dianggap kurang menyenangkan bagi sebagian orang. Tetapi, orang Malaysia sangat menyukai sajian sate celup ini.
Melaka juga memiliki sangat banyak kopitiam dengan sajian sederhana, seperti roti bakar dilapis selai kaya, telur setengah matang, dan nasi lemak. Biasanya, nasi lemak yang dijual berukuran sangat kecil , seperti umumnya nasi kucing di Jawa dengan lauk minimalis.
Disisi lain, Bandar Melaka dikenal sebagai pusat budaya Peranakan yang juga dikenal dengan istilah Babah-Nyonya, yaitu keturunan Tionghoa yang menikah dengan perempuan setempat dan beranak-pinak. Keturunan mereka dibesarkan dalam persilangan budaya yang unik.Pada awalnya, pendatang dari Negeri Cina ke Semenanjung Malaysia ini adalah kaum pekerja tambang, kuli pelabuhan, dan para tauke alias pedagang. Mereka menikah dengan perempuan perempuan keturunan Jawa, Melayu, bahkan Aceh. Salah satu kekhasan dari budaya yang unik dari hasil persilangan ini adalah budaya kuliner baru yang disebut sebagai kuliner Peranakan.
Melaka adalah tujuan wisata kuliner yang penting untuk mencicipi masakan Peranakan , yaitu masakan Melayu dengan pendekatan kuliner Tionghoa. Restoran Peranakan di Jalan Tun Tan Cheng Lock. Tempatnya lebih besar dan merupakan rumah tua yang dirawat baik, citarasa masakannya pun prima.Restoran Peranakan ini menyajikan: ayam keluak, ayam pongteh, udang lemak nenas, tahu peranakan, sambal bendih. Ayam keluak adalah opor dengan bumbu pekat, dimasak dengan keluak . Ayam pongteh mirip semur kental dengan aroma ngohiong. Udang lemak nenas mirip lempah bersantan, dimasak dengan nenas. Tahu peranakan adalah nama lain untuk tahu telur gaya Peranakan Jawa. Dan sambal bendih adalah okra (lady’s fingers) kukus dengan sambal blacan.
Di Melaka ada beberapa rumah lama maupun Museum Babah Nyonya Peranakan. Bahkan, di Jonker Walk, ada beberapa ruko lama yang diubah menjadi hotel butik. Bila ingin mewah, ada juga sebuah puri (mansion) milik orang Tionghoa kaya yang dipugar menjadi The Majestic Malacca Hotel.Di Jalan Tokong juga ada klenteng Cheng Hoon Teng yang didedikasikan kepada Kapitan Cina Li Wei King. Rumah-rumah mewah dari orang-orang Tionghoa kaya masa lalu juga masih dapat terlihat di sekitar Jonker dan Heeren Street. Di sekitar Jonker Walk banyak dijumpai pedagang barang antik dengan kualitas yang cukup baik. Berbagai perabotan, hiasan, dan pernak-pernik,khususnya dari budaya Peranakan .
Sungai Melaka, atau yang dikenal pula dengan nama Melaka River, merupakan salah satu obyek wisata yang cukup terkenal.Suasana meriahnya Melaka River di malam hari merupakan andalan utama wisata kota Melaka. Di abad ke 16, Melaka River adalah salah satu pusat perdagangan yang cukup ramai. Pedagang dari belahan dunia Barat dan Timur bercampur baur jadi sat.Saat sekarang, Melaka River sudah bukan lagi pusat perdagangan.Melainkan sudah beralih fungsi menjadi destinasi yang hampir selalu dipenuhi baik wisatawan lokal maupun asing.Keindahan bangunan-bangunan tua khas Melaka yang menghiasi hampir setiap jengkal tepian sungainya.Gereja-gereja tua, masjid, gudang kuno, kuil, serta tidak ketinggalan jembatan di atas Melaka River yang juga sangat memukau.
Tampak sekilas, air sungai Melaka tidaklah jernih-jernih amat.Agak kekuningan.Pada masa dulu, sungai yang bermuara di Bandar Hilir dan membuka ke Selat Melaka ini sangat kotor.Meski begitu, sungai ini mempunyai peran penting selama zaman kejayaan Kesultanan Melayu dan semasa pendudukan Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang.Tetapi pemerintahan Melaka tidak mau terbebani dengan kekotorannya. Pada tahun 2001, sungai ini dibersihkan dan disulap sebagai objek wisata sungai dengan perwajahan baru yang dikenal dengan Melaka River Cruise.Pengunjung atau wisatawan dapat menikmati pesona pemandangan di kiri kanan sungai dari dalam boat. Lebih kurang 20 boat bersandar di dermaga Sungai Melaka tak jauh dari Lapangan belanda atau Spice garden di Hang jebat Bridge siap mengantarkan pelancong menyusuri sungai sepanjang lebih kurang 9 kilometer mulai dari jam 9.00 pagi hingga jam 12.00 malam. Perahu-perahu (boat) yang nyaman mempunyai kapasitas mencapai 40 orang mengawali perjalanan dari dermaga.Sebenarnya perubahan kawasan tepian yang terjadi di Melaka River, belum lama ini terjadi. Sekitar 20 tahun yang lalu,Melaka River tidak lebih dari sungai yang ditempati banyak perahu-perahu kecil yang digunakan untuk memancing.Dengan air sungai yang sangat kotor. Namun planolog menyentuh Melaka River dan menjadikannya sebuah lokasi yang kerap disebut sebagai Venesianya Malaysia. Bukan cuma bangunan-bangunan kunonya yang menarik, tapi juga dibangun beberapa air mancur, petilasan yang nyaman, kincir angin raksasa, serta tentunya taman yang menghiasi tepian sungainya.Untuk air sungainya pun sudah jauh berubah.Bila dulu warnanya coklat dan terlihat kotor karena lumpur dan sampah, sekarang sudah mulai terlihat bersih. Tentunya Anda tidak bisa mengharapkan air sungai yang jernih bagaikan lautTetap air sungai, namun jauh dari sampah dan semua hal yang mengganggu pemandangan mata, dengan warna yang hijau cerah.Terutama saat malam hari, semuanya menjadi jauh lebih sempurna.Pantulan merah, hijau, biru, dan kuning yang dihasilkan dari lampu-lampu bangunan serta beberapa lampu yang sengaja dipasang untuk dekorasi memainkan sebuah simfoni yang sungguh menawan.
Untuk menikmati cantiknya Melaka River, kita bisa menggunakan Melaka Cruise.Melaka Cruise hampir selalu penuh ditumpangi oleh wisatawan. Ada dua tipe cruise yang ada untuk menikmati indahnya Melaka. Satu adalah cruise yang memiliki pemandu didalamnya, sedangkan yang lain menggunakan pemandu berupa rekaman kaset.
Sebanyak 26 kapal yang terbuat dari fiber disiapkan untuk menampung membludaknya pengunjung.Kapal-kapal ini dinamai dengan nama tokoh-tokoh kondang dari Melaka seperti Hang Tuan, Hang Jebat, dan Tun Perak.Untuk mengentalkan suasana historik khas Melaka,kita akan dihibur dengan lagu-lagu tradisional setempat. Satu lagu yang paling sering didendangkan adalah Dendang Sayang.
Perjalanan yang akan di tempuh sejauh 9 km atau kurang lebih sepanjang 45 menit.Kapal berangkat dari Quayside Heritage Centre menuju Taman Rempah, Pangkalan Rama. Rute yang sama juga berlaku sebaliknya. Sebenarnya, kapal ini tersedia dari pagi mulai dari pukul 09.30 hingga 00.00. Perjalanan siang lebih pas bila kita ingin mengabadikan setiap detil bangunan yang akan di lewati.
Bukan sekedar bangunan tua, tapi juga aneka grafiti yang menghiasi dinding bangunan yang akan dilewati oleh kapal kapal.
Terdapat juga Kawasan Kampung Morten yang merupakan kampung tradisional orang Melayu. Kampung ini berlokasi di pinggir sungai Melaka, dibangun tahun 1920an oleh J.F Morten untuk lokalisasi penduduk asli Melayu, dan sekarang kampung ini menjadi salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi jika ke Melaka.Terdapat trotoar “River Walk” untuk menyusuri sungai Melaka sambil menikmati keindahan rumah kampung. Kemudian ada Jembatan kampung Morten, yang arsiteknya sangat indah bila dilihat dari boat.Kampung Morten, merupakan salah satu kampong melayu yang dianggap berhasil melestarikan budayanya selama berabad-abad.Disini terdapat banyak bangunan khas ber arsitektur Melayu tradisional. Menurut narasi dari rekaman yang dibacakan sepanjang perjalanan, rumah-rumah dengan bahan kayu disini dibangun tanpa menggunakan pasak atau paku. Sebuah pemandangan kampong yang agaknya sangat kontras dengan bangunan kota modern yang banyak terdapat di Malaysia.Setelah kampong Morten, di bagian kanan sungai terdapat penghijauan hutan bakau yang disiapkan untuk mengantisipasi pengikisan sungai. Selain hutan bakau,kita menyaksikan The Pirate park (taman Tambak), Jembatan station Bus lama, Jembatan Hang Tuah, jembatan kampong jawa, Jembatan Chan Koun Chen, Jembatan Pasar, Jembatan Tan Kim Seng dan Kincir Air Melaka.Di bagian kiri sungai dibawah jembatan Tan Kim Seng juga terdapat cafe harpers dimana tampak sejumlah turis tengah menikmati makanan dan minuman sambil memandang sungai.Lebih jauh menyusuri sungai juga ditemui sejumlah ruko lama. Kebanyakan ruko lama ini memiliki gudang di bagian belakangnya untuk menyimpan barang yang akan dimuat atau diturunkan dari kapal ketika Melaka masih mempergunakan pelabuhan untuk pusat perdagangannya tempo dulu.
Dekat sungai Melaka ada Kawasan F’amosa fort, yang merupakan reruntuhan benteng Portugis. Di belakang benteng ini, ada tangga ke atas untuk menuju reruntuhan St.Paul’s Church dan patung St.Francis Xavier. Di bukit ini juga ada St. John’s fort, merupakan benteng jaman Belanda yang sudah dipugar. Turun dari bukit, objek wisata lainnya menuju area parkir antara lain St. Peter’s Church, Museum Kesultanan Melaka, dan beberapa museum lainnya. Bila ingin mengunjungi museum, sebaiknya masukan di itinerary sebelum jam 5 sore, karena jam operasional museum biasanya dari pukul 8 AM hingga 5 PM. Salah satu museum yang sangat menarik adalah Maritime Museum yang berbentuk kapal besar.Maritime Musium adalah replika sebuah kapal Portugis yang dijadikan sebagai mesium dan mencantumkan kata “Acheh” dalam penggalan kisah-kisah yang dipajang di dinding kapal.Replica kapal besar bernama Flor de La Mar ini adalah kapal Portugis. Dikapal ini Alfonso de Albuquerque berhasil ditangkap oleh bangsa Melaka. Sungai Malaka kini menjadi salah satu lokasi wisata. Sungai yang sebelumnya kumuh dan berisi sampah yang mengapung, disulap menjadi lokasi wisata yang disebut “Melaka River Cruise”.
Di jalanan ada ratusan turis berseliweran. Ada yang berwajah bule, china dan Melayu. Mereka datang dengan gaya khas masing-masing. Bule asing kebanyakan mengenakan celana pendek dengan tas dipunggung khas backpacker, China mengenakan celana pendek di atas lutut, dan yang Melayu kebanyakan mengenakan jilbab dan baju kurung. Meski dikenal pernah menjadi salah satu kerajaan Islam tertua di Semenanjung Melayu, Tak ada polisi syariah yang memburu para bule untuk memaksa mereka memakai kerudung, ataupun melakapkan sebutan “kaphee” pada para pelancong yang punya keyakinan berbeda.
Diujung jalan, di samping sebuah surau sejumlah polisi wisata berdiri dengan wajah ramah dan memamer senyum kepada wisatawan yang melintas di depan mereka.Uniknya, polisi-polisi wisata itu memakai memakai sepada dan kuda sebagai tunggangannya. Mereka siap membantu turis asing pejalan kaki untuk sekedar menunjuk arah jalan atau memandu peta bagi sang turis.
Di seberang sungai,ada Jalan Hang Jebat atau sering disebut Jonker Street. Inilah jalannya para turis.Di sepanjang jalan berdiri toko-toko yang menjajakan minuman seperti bir atau wine untuk memanjakan para turis asing. Suasana persis jalan Malioboro di Yogyakarta, atau jalan Jaksa di Jakarta.
Sejak Melaka ditetapkan oleh badan PBB UNESCO sebagai salah satu World Heritage, warga setempat menyebutnya Tapak Warisan Dunia–pada 2008 lalu, Melaka menjadi salah satu daerah tujuan wisata dunia.Bukan karena keindahan alamnya, tapi karena sejarah yang terawat.
Dalam catatan sejarah yang digantung di dinding-dinding sejumlah museum di Malaka, disebutkan negeri ini didirikan oleh Raja Parameswara, pangeran dari Kerajaan Sriwijaya sekitar tahun 1400. Parameswara kemudian menjadi pemeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah. Malaka kemudian mencatatkan dirinya sebagai kerajaan Islam kedua setelah Samudra Pasai.Muhammad Iskandar Syah, putra Parameswara naik tahta setelah ayahnya. Di tangannya, Malaka kian ramai sebagai jalur perdagangan dan pelayaran. Ia berhasil menguasai jalur perdagangan di kawasan Selat Malaka dengan taktik perkawinan politik. Muhammad Iskandar Syah menikahi putri raja Kerajaan Samudra Pasai di Aceh dengan tujuan menundukkan Kerajaan Samudra Pasai secara politis. Setelah mendapatkan kekuasaan politik Kerajaan Samudra Pasai, ia baru menguasai wilayah perdagangan di sekitarnya. Perkawinan itu sekaligus memulai hubungan Aceh-Malaka.
Era Kerajaan Melaka kemudian berganti dengan masuknya Portugis pada 1511, dan berkuasa hingga 1641. Pada masa inilah, Kerajaan Aceh bolak-bolak menyerang Portugis. Usai era Portugis, Belanda menguasai Malaka lebih 100 tahun, dari tahun 1641 hingga 1795. Orang Malaysia mencatat: ini periode kejatuhan Malaka. Penyebabnya, seperti ditulis di dinding dinding museum kapal Portugis.Sejarah juga mencatat Penaklukan Belanda ke atas melaka yang bertujuan memastikan monopoli mereka atas perdagangan di Kepulauan Melayu bebas dari gangguan kuasa lain terutamanya Portugis. Belanda berhasrat menjadikan Pelabuhan Betawi sebagai pusat koloni Belanda di Timur dan Pusat Perdagangan Rempah di Asia Tenggara dan sekaligus meminggirkan peranan Melaka. Belanda telah mengenakan cukai yang tinggi ke atas kapal yang singgah di Pelabuhan Melaka dan mengarahkan mereka menggunakan Selat Sunda ke Pelabuhan di Betawi. Dasar Belanda ini telah menyebabkan perdagang Arab, China, Gujarat dan India berdagang ke pelabuhan lain misalnya Acheh, Pattani dan Johor.
Musium yang takkala menariknya adalah Museum Cheng Ho. Cheng Ho adalah laksamana asal China pernah yang pernah melakukan ekspedisi Asia-Afrika pada kurun waktu tahun 1405-1433 dengan melintasi 33 negara pada jaman Dinasti Ming.Dalam relief yang dipajang di dinding museum, Cheng Ho disebut pernah singgah di Kerajaan Pasai setelah ia melintasi Malaka. Bukti kedatangan Cheng Ho ke Aceh disebut-sebut Lonceng Cakra Donya yang kini tinggal replikanya saja di Museum Aceh.
Ziarah ke makam Hang Jebat, adalah makam salah satu Laksamana Melaka tempo dulu, dimakam ini dipasang batu nisan yang disebut Batu Nisan Acheh. Batu nisan ini serupa dengan yang digunakan Sultan, kerabat Diraja, dan pembesar Melayu yang dibawa dari Aceh. Berbentuk lonjong dan memanjang ke atas, batu nisan yang disebut nisan Aceh itu kini hanya bisa dijumpai di makam-makam kuno di Aceh.
Hang Jebat adalah sahabat paling dekat Hang Tuah, Laksamana Malaka yang terkenal itu. Pada sebuah prasasti di makam itu disebutkan, Hang Jebat tewas di tangan Hang Tuang karena ia membela Hang Tuah. Ceritanya, Raja memerintahkan agar Hang Tuah dibunuh setelah difitnah. Hang Jebat yang tak dapat menerima sahabatnya difitnah, ia membela Hang Tuah.Tapi, bagi Hang Tuah, sikap Hang Jebat yang membelanya adalah tindakan durhaka kepada Raja. Hang Jebat tewas ditikam Hang Tuah, sahabat yang dibelanya.
Legenda yang lain adalah perigi Hang Tuah di kampung Duyung, kampung kelahiran Hang Tuah, tak jauh dari Masjid Lama Duyung, sekitar 4 km dari kota Melaka.Tak ada yang istimewa di sekitar kampong ini. Tetapi banyak pengunjung dari luar Melaka yang bertujuan datang melihat perigi Hang Tuah. Bagi kita di Indonesia, yang disebut perigi itu hanyalah berupa sebuah sumur tua terbuat dari batu. Hanya karena dikaitkan dengan nama besar tokoh hero Melayu bernama Hang Tuah, perigi itu menjadi kesohor. Menurut situs resmi Melaka, perigi itu dibuat sendiri oleh Hang Tuah untuk memenuhi kebutuhannya dan lingkungannya terhadap air pada saat ia beranjak remaja.Awalnya, perigi itu hanya berukuran kecil saja, namun lama kelamaan luas permukaannya menjadi besar dan semakin dalam. Sebagian masyarakat setempat mempunyai kepercayaan bahwa perigi itu mengandung mistik. Mereka percaya seolah-olah dengan ukurannya yang semakin besar dengan sendirinya adalah karena keramatnya Hang Tuah. Memang menurut warga di sana, air di dalam perigi itu tak pernah kering, bahkan di musim kemarau sekalipun.Tapi bisa saja karena sumber mata airnya yang besar.Akibatnya air perigi tidak pernah kering dan selalu tampak jernih.Karena itu pula ada yang mempercayai, air dari perigi ini dapat menyembuhkan penyakit dan membuat kulit wajah menjadi halus serta awet muda.Secara ilmiah memang belum ada yang melakukan penelitian tentang hal ini. Mistik lain dari perigi Hang Tuah, ada yang mengatakan perigi ini menjadi tempat tinggal roh Hang Tuah setelah meninggal dunia.Roh itu berbentuk seekor buaya putih.Roh berupa buaya ini tidak bisa dilihat oleh sembarangan orang.Cuma orang-orang yang suci dan berhati bersihlah yang memperoleh kesempatan menyaksikan jelmaan roh Hang Tuah ini.
Malaka, yang menjadi kota warisan dunia yang harus dilindungi, akan menjadi kota bebas dari asap rokok.Ini adalah kota pertama di Malaysia yang ditetapkan sebagai kota yang tidak boleh merokok.
Demikian dikatakan Menteri Kesehatan Malaysia, Liow Tiong Lai.
Menurut Liow Tiong Lai, gerakan ini adalah bagian dari upaya untuk membebaskan negara itu dari asap rokok. Kebijakan itu juga untuk melindungi kota tersebut. Gagasan ini bermaksud untuk menciptakan udara yang segar dan lingkungan yang bersih bagi para turis dan warga Malaysia yang ingin menikmati kota sejarah tersebut.
Wilayah yang dilarang merokok itu melingkupi area seluas 4,2 kilometer persegi termasuk empat daerah lain di bagian selatan negara bagian Melaka.Mereka yang melanggar akan didenda minimal 300 ringgit atau 100 dolar Amerika Serikat atau maksimal 5.000 ringgit.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: