SELAMAT JALAN DOKTOR AHYAR

SELAMAT JALAN DOKTOR AHYAR
Oleh Dr.SYAHRIAR TATO.
Ketua Divisi Etika dan Budaya ICMI Korwil Sulawesi Selatan
In memoriam Dr.Ahyar Anwa

Terlalu sering saya “menonton” Doktor AHYAR ANWAR membacakan syair syair cintanya,didunia maya maupun didunia fana ini. Penyair ceking itu membaca syair syair cintanya dengan wajah lembut. Namun sihir kata-katanya senantiasa membuat orang terpukau dalam syahduh. Banyak kali syairnya membuat orang seperti diputari berjuta bunga cinta. Kali lain kita menghela nafas gelisah. Acap kita terusik dan terganggu sekaligus. Sebetulnya, syair utamanya jarang mengajukan kritik maupun lirik lirik kebencian baik dalam citra maupun bunyi—dengan kata lain, syairnya terlalu ‘puitis’ dan sajak-sajak itu seolah melampaui estetika, menyentuh wilayah paling dalam nurani manusia. Setiap Deskrepsi katanya adalah Cinta.

AHYAR ANWAR adalah antitesis ‘aliran penyair urakan ’. Di tahun 70-an ada puisi urakan yang diperkenalkan banyak penyair . Puisi puisi dan tulisan nakal dengan kata-kata kasar dan dasar yang dengan sengaja mau mengorek estetika sastra yang mapan. Namun Ahyar telah menegakkan pengaruh yang tak terbantahkan pada generasi penyair kekinian, baik dari bentuk puisi maupun segi pertunjukan. Paparan kata kata cintanya, dalam menjelmakan puisi sebuah “pertunjukan spektakular” di dunia maya .

AHYAR ANWAR, generasi anak Muda yang bercinta . Ia naik ke panggung dengan sederhana. Penampilannya seperti orang kebanyakan yang menjaga kesantunan umum—tanpa anting-anting, rambutnya pendek, ujung bawah kemeja lengan panjang dimasukkan dalam celana, kaus singlet di baliknya, sepatunya pantovel dan bukan buts yang perkasa. Lalu ia membaca tanpa atraksi, tanpa tekanan, tanpa teriak, tanpa drama. Tanpa kegarangan.

Lantas di mana kekuatannya? Tentu ada sejumput sajaknya yang liris, yang secara keseluruhan menghasilkan sajak-sajak liris untuk dibaca dalam sunyi . Meskipun , kata-kata dalam sajaknya sendiri sering sungguh binal, sedang subjeknya sungguh sehari-hari. Ia bicara soal cinta apa adanya, hal menggugah, tapi tidak erotis, dan terlalu bersahaja mendekripsikan cinta. Namun, kekuatan penyair ini ada pada alur sajaknya yang lateral, namun sebuah pengungkapan cinta yang tulus. Ia istimewa sebab kenakalannya tidak politis melainkan apa adanya. Ketulusannya membedakan sajak-sajak nya dari puisi yang “berpolitik”.

Karya AHYAR dimungkinkan untuk mudah merasuk rasa setiap orang, lantaran bentuknya yang bercerita. Secara umum, sajaknya adalah sajak yang bercerita.Prosa Lirik, Itu ciri utamanya. Barangkali sebagian bisa dianggap golongan cerita mini juga. Bentuk ini punya konsekuensi yang menguntungkan penyair. Yaitu, bahwa pembaca menduga sebuah alur dan sebuah akhir. Dari anggapan awal yang tak sepenuhnya disadari inilah Ahyar mengemudikan cerita mininya kepada alur dan akhir yang tak terduga, menyangkutkannya pada simpul-simpul yang aneh pula. Simpul-simpul ini kerap kali adalah tema-tema besar tersembunyi yang muncul secara ganjil seperti simptom ketegangan saraf ketika kita “ bercinta “.

Salah satu prosa liriknya yang paling saya kenang dalam bukunya “ menidurkan cinta” dalam sub judul “ Doa yang tak lengkap “ dalam alinea kelima :
…….Puisi tentang cinta ! Puisi yang dituliskan justru untuk menandakan sebuah kematian dari kisah cinta itu sendiri.Sebuah paradoksial yang paling menyedihkan dari hati seorang gadis yang telah menyandingkan jiwanya pada matahari.

“meski sudah aku pahami.
bahwa matahari itulah yang sempurna membakar
seluruh rangkaian percintaanku
dan usia nampaknya telah mengibarkan bedera
Atas bayang bayangku atas jasadku yang tidur kelak
Tapi aku tak pernah berhenti membayangkanmu”
(Muhari wahyu nurba)

………Gadis itu, menglirkan banyak luka pada airmata yang tak hendak dibendungnya, dibiarkan mengalir dipipinya dan lebih banyak lagi dihatinya.

“Engkaukah itu kekasihku
yang datang semalam dalam rindu
menyampaikan pesan
bahwa engkau akan pergi
jauh dan tak mungkin aku menggapaimu”
( Goenawan Monoharto )

“Cinta adalah perkawinan indera
Yang mencicipi nikmatnya kegetiran
Dan rohnya adalah kesedihan.
Mematikan kehidupan
Dengan kerenyahan cahaya bulan
Yang terisak-isak.
( Andhika Mappasomba )

Gadis itu luruh dalam hening yang dalam. Malam menghanyutkan banyak kisah dari jiwanya. Meditasi yang rapuh diakhir musim yang basah, tentang cinta yang dalam ketulusan airmata..

Paragraf paragraf itu disusun memanjang dari tiga sajak para sahabatnya, yang membuka “ Menidurkan cinta” ini, orang menangkap isyarat kematian yang bersifat ironis pada ketika sajak itu. Membacanya kita pun ketika sajak itu tidak memanjakan telinga kita dengan keindahan rima, pertukaran bunyi, atau segala jurus puisi yang terduga maupun yang menakjubkan. Kesederhanaanya bukan kebersahajaan haiku yang menghadirkan kata kata ke dalam kesadaran liris. Tiada ungkapan, tiada penyejajaran, pun personifikasi. Tak ada kata-kata yang nampak berkilat setelah digosok dengan berkeringat. Tiada pertanyaan-pertanyaan menggugat atau aforisme menyengat.

Sebab, sesungguhnya, di sana ada yang menghubungkan kita dengan sesuatu yang tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Bukan komedi melainkan tragedi: kematian. Inilah sesungguhnya tema dasar berkaitan cinta dan kematian yang senantiasa menghantui deskripsi sastra Ahyar Anwar. Keduanya bersatu pada sebuah bayangan berupa liang, entah itu liang kuburan . Liang yang datang bersama warna gelap. Yang satu merupakan awal, yang lain adalah akhir. Dan tema besar itu pun datang sambil lalu dalam sajak tulisan tulisannya.

Jika kita memasukkan kata dan deskripsi lain yang secara semantik berhubungan lebih longgar dengan kematian , misalnya tentang penyakit, rasa sakit, ketuaan, kain kafan, tubuh perempuan sebagai tubuh yang meratapi kematian. Maka itu akan mengaitkan deskripsi tentang cinta dan kematian. Di sini amat jelas kita akan menggambarkan manusia mati kembali kekuburan gelap dan gaib. Namun, ‘kuburan’ sebagai gambaran nyata menempati frekuensi tertinggi untuk menghubungkan kita dengan kematian.

Goenawan Mohamad, penyair yang uzur itu, juga menulis tentang kematian. Suasana muram kental dalam sajak maupun esainya. Kematian adalah bagian dari riwayat manusia:

(Maka aneh. Ketika ia mati musim belum lagi mati.
Ketika ia ditanamkan, bunga tumbuh di pusat makam
Dan ketika ia dilupakan matahari
berkata pelan: sayang, memang sayang)

(Goenawan Mohamad, “Riwayat”, 1962)

Aneh barangkali. Tapi ini satu dari amat sedikit, sajak Goenawan Mohamad yang mengandung kata makam atau kuburan. Kematian datang, menghantui, dengan cara lain dalam puisi Goenawan Mohamad.

Salah satu sajak awal Chairil Anwar, bahkan sajak paling muka dalam kumpulan yang diterbitkan Horison untuk memperingati 50 tahun kematiannya, adalah “Nisan”. Ia tulis untuk neneknya, tanpa satupun kata mengenai makam:

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
Dan duka maha tuan bertakhta

(Chairil Anwar, Nisan, 1942)

Inilah kematian yang ditulis Chairil dengan semacam kerelaan, ketika final sungguh sudah tercapai—agak berbeda dengan karyanya yang lain. Di lain tempat kematian hadir sebagai mambang yang membayangi, ditunggu, ditakjubi dan tak ditakuti—sebab ia belum benar-benar datang. kematian adalah akhir yang tak terelakkan, tragedi manusia yang toh tak perlu didramatisasi. Maka kematian menjadi liris seperti pada sajak berikut:

kelam dan angin lalu mempesiang diriku
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru angin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan kau bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

(Chairil Anwar, “Yang Terampas dan Yang Putus”, 1949)

Kita tahu di tahun yang sama dengan penulisan sajak itu, Chairil Anwar dimakamkan di pemakaman umum Karet. “Nisan” adalah sajak pertamanya, ini adalah yang terakhirnya. Inilah yang kedua: kematian yang liris dan dekat dengan kerinduan yang sensual yang tak terpenuhi.

Kematian memisahkan tubuh dari jasad. Tubuh dalam karya Chairil Anwar adalah tubuh yang luka, terbuang namun angkuh, tubuh si jalang yang siap menerkam demi harga diri. Tubuh dalam puisi Ahyar Anwar . Tubuh tanpa keangkuhan. Tubuh yang berbuncah cinta dan gairah.

Dalam sajak Chairil , kematian bisa mengambil wujud heroik maupun liris. Ini menyiratkan kematian sebagai akhir—akhir yang sendu maupun yang gagah. Di sini tak ada jarak antara hidup dan mati, sebab ketika mati maka hidup berhenti. Penghayatan tentang jarak tak ada sebab kematian dan kehidupan tidak menghuni ruang waktu yang sama. Keduanya ada pada matra yang berbeda di mana jarak tak dimungkinkan. Maka tak heran, kuburan tak pernah disebutkan dalam puisi chairil Anwar.
Sebab, kuburan membuat kematian dan kehidupan menempati ruang waktu yang sama. Di sini jarak tercipta antara yang mati dan yang hidup. Di dalam sudut pandang ini, kematian bukan akhir, melainkan ada bersama-sama kehidupan. Karena ada bersama-sama, maka keduanya berjarak. Kuburan adalah tanda sebuah jarak. Jarak mengimplikasikan, secara paradoksal, ruang yang sama. Toh kuburan ada di mana-mana, senantiasa mengingatkan sesuatu kepada kita.

Lantas bagaimana kita setelah ditinggalkan DOKTOR AHYAR ANWAR, adakah syair syair kita tidak lagi mengisyaratkan CINTA setelah KEMATIAN itu merenggutnya?

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: