SKENARIO FILM I LA GALIGO EPISODE 5

V. NASKAH SKENARIO FILM SERIAL I LA GALIGO. EPISODE 5

( Episode MENCARI CINTA KE TOMPOQ TIKKAQ )

Naskah/Skenario: Dr.Syahriar Tato.
Supervisi : Prof. Nurhayati Rahman.

(Adabtasi skenario film oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan II ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

01.BGT.

Opening Cuplikan adegan yang dianggap menarik, menjadi latar belakang nama-nama pekerja film dan artis utama, diiringi lagu Theme Song I La Galigo hingga title selesai.

Fade out.
Fade in.

02.EXTERIOR- KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ, LA PANANRANG,TO SINILELE, LA TENRILOLLONG,LA TEMMALLURENG,EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Kembali pagi datang menjelang .Baru saja matahari mulai merekah maka Batara Lattuq Opunna Wareq menurunkan jangkar dan melipat layar, serta mengerahkan orang yang banyak. mereka semua berlomba mendapatkan air tawar lalu mandi. Diremaskan Opunna Luwuq air langirnya. Lalu Batara Lattuq berdirI membuka sarung sutera pakaiannya, baru diremaskan daun jeruknya dan dioleskan pembersih badan kahyangannya. Segera Batara Lattuq berdiri melepaskan pakaian bahagian bawah, lalu diganti sarung basahan untuk mandi berlangir, Setelah mandi Batara Lattuq memerintahkan Untuk turun ke darat.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka kakanda La Pananrang dan To Sinilele
Semoga Datang lah semangat kahyanganmu. Berangkatlah, La Pananrang dan To Sinilele, ke istana meminjam ruangan, agar kita diterima menumpang di istana I We Marupeq, di istana We Mattinio yang tinggal dalam ruangan.”

Dengan bergegas tanpa membuang waktu lagi, La Tenrilollong dan La Temmallureng segera duduk di ruangan perahu mengenakan pakaian lengkapnya, sarung sutera kuning bersulam dihiasi buluh emas. Tiga kati di bagian atas, dengan destar sutera merah berhiaskan sulaman emas murni, gelang gading dan keris emas.

CUT TO.

03.EXTERIOR- KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ, LA PANANRANG,TO SINILELE, LA TENRILOLLONG,LA TEMMALLURENG,EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Maka La Temmallureng berangkat naik ke darat. Lebih seratus orang beriringan dinaungi dengan payung emas, berjalan diiringi pengikut bergelang gading, melewati kampung di Sawammegga, melalui Singkiq Wero hingga tiba di tengah negeri mulia Tompoq Tikkaq. Serentak berpaling memandang takjub semua orang banyak di Sawammegga, di Singkiq Wero dan di Tompoq Tikkaq. Bagaikan tempat piring berjejer barisan wajah-wajah di sela-sela jendela emas kilau-kemilau, di istana tempat tinggalnya raja mandul perampas itu. Semua pengasuh segeharanya We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng pelayan istana sebayanya orang yatim itu saling berbisik,

DAYANG 1 :

Mudah-mudahan To Palanroe merahmati, sehingga datanglah kemari seorang raja besar hendak memungut anak yatim dan berjodoh dengan orang kecewa, meminang raja adikku, adik yang kuiringi. Supaya kita kembali semua ke tempat semula di istana agung manurung yang ditinggalkan Paduka Turung Belae suami-istri, agar kembali lagi ke tempat semula raja adik kita bersaudara.

DAYANG 2 :

Jangan demikian ucapanmu perempuan, nanti didengar Paduka raja kita lalu kita diasahkan keris emas, maka kita semua akan mati.”

CUT TO.

04.INTERIOR – ISTANA SAWAMMEGGA – PAGI HARI.

(tokoh cerita : LA TENRIGILING,I LA BIRAJA,WE TENRIJELLOQ ,EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Utusan Batara Lattuq berlalu melewati Istana Sawamegga.Yang empunya negeri di Sawammegga berpaling membuka jendela lalu menjenguk mengikuti pandangan mata orang asing itu, bergegas menuju istana anak yatim, langsung masuk ke dalam pagar.

LA TENRIGILING :

Orang dari mana gerangan asalnya yang tak mengetahui bahwa sudah mati pemilik negeri di Tompoq Tikkaq, telah meninggal suami-istri. Maka akulah yang mempersatukan kerajaannya dan
yang didatangi persembahan orang banyak, pajak muara dan sewa sungai. Akulah sekarang yang didatangi tamu, para penguasa jauh yang di seberang lautan, di sinilah mereka datang, di istana tempat tinggalku lalu kujadikan mereka tamu.”

I LA BIRAJA :

Kabarnya orang besar yang ada di luar Paduka La Tenrigiling. Yang melabuhkan perahu di muara, konon ia adalah putera datu manurung di Luwuq, yang menetas di bambu betung anak tunggal sibiran tulangnya Yang Muncul di Busa Empong. Memang si anak yatimlah yang mendorong perahunya lalu berlayar meninggalkan
Aleq Luwuq, ia ingin mencurahkan harapan di Tompoq Tikkaq.
La Tenrigiling dan We Tenrijelloq termenung mendengarkan ucapan I La Biraja.

CUT TO.

05.EXTERIOR- KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : TO SINILELE ,EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Akhirnya payung emas dilipat yang menaungi To Sinilele, ia lalu melangkahi sela gelegar langsung masuk dan berdiri tegak di sebelah selatan tangga sambil menguping, tetapi tak ada suara yang didengarnya. Barulah ia memegang susuran emas naik menelusuri bendul melangkahi sela-sela gelegar bergegas masuk ke Dalam berdiri tepat pada tiang tengah rumah,
sambil menoleh ke kiri dan ke kanan namun tak ada orang yang dilihatnya. Semut pun tak juga ada. Cecak bocciliq tak ada satu pun yang Nampak pada balok kemilau melintang di tengah Campulokkoq pun tak ada juga,bahkan angin dari sela lantai pun enggan berhembus.Tak satu pun senjata kerajaan yang tampak, hanya pecahan tembikar yang kelihatan, lalu ia masuk ke bahagian selatan.

CUT TO.

06.EXTERIOR- KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : LA PANANRANG,TO SINILELE, LA TENRILOLLONG,LA TEMMALLURENG,EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

To Sinilele terheran-heran melihat istana agung bagaikan bukit,meskipun tak ada orang yang kelihatan.Kembali lagi To Sinilele berpegang pada susuran lalu turun.Baru tiga anak tangga yang dilewati tiba-tiba seekor cecak berbunyi di ujung balok melintang.La Temmallureng menengadah sambil mencari, lalu berbunyi lagi cecak di balok melintang kemilau.La Temmallureng lalu mondar-mandir dari selatan ke timur.Menengadah sambil melihat-lihat di sela gelegar pada lambung istana terlihat olehnya dua gelegar dan tiga bilah lantai dan tiga pula orang yang menempatinya. Maka sejenak La Temmallureng berdiri terpaku,terkejut perasaan hatinya,pusing oleh keindahan dan mabuk oleh kecantikan,hampir hilang kesadarannya selama sepenanak nasi.

CUT TO.

07.INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : LA PANANRANG,TO SINILELE, LA TENRILOLLONG, WE TEMMEMALAQ LA TEMMALLURENG, EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

To Sinilele duduk termenung tak dapat menenangkan perasaannya. Lama sesudah itu barulah tenang hatinya dan kembali lagi ke istana, melangkahi ambang pintu emas, menginjak lantai melangkahi sela gelegar, bergegas masuk ke Dalam ke lambung istana, langsung sujud menyembah lalu duduk di hadapan We Temmamalaq. Setelah melepas lelah To Sinilele duduk, lalu inang pengasuh berpaling sambil berkata.

WE TEMMAMALAQ :

Kur jiwamu, Paduka Tuanku Semoga Datang lah semangat kahyanganmu. Memang bodoh orang yang bertanya, membawa
kedunguan kalau tak diberitahu. Dimana gerangan kampung halaman tempat tinggalmu hai orang asing?

TO SINILELE :

Kur jiwamu, Paduka Inangda Semoga Datang lah semangat kahyanganmu. Kami ini orang Luwuq yang di atas wangkang, orang Wareq yang mengendarai perahu. Batara Lattuq Opunna Luwuq yang menyuruh saya meminjam ruangan di istanamu, minum air tawar yang dingin.Semoga ada belas kasihmu Paduka, pada anak kita Opunna Luwuq, orang yang berlayar dan berlabuh
di Tompoq Tikkaq.”

WE TEMMAMALAQ :

Seandainya masih hidup Turung Belae suami-istri, maka ialah yang duduk di ruangan ini menerima tamu yang datang dan pembesar negeri ,menerima tamu asing dari seberang lautan.Tetapi semenjak negeri di Tompoq Tikkaq ditimpah musibah ,penguasa negeri Turung Belae suami-istri dilanda susah dan dikena bencana. Maka istana negeri kini berpindah pada raja mandul perampas, ialah tempat didatangi para pembesar negeri yang datang dari seberang lautan, tempat disinggahi tamu yang datang.”

LA TEMMALLURENG :

Tetapi istana emas yang didiami manurung di Tompoq Tikkaq tujuan kami mendorong perahu lalu berlayar. Ruangan istana emas yang ditinggalkan Paduka Turung Belae suami-istri yang menjadi tumpuan cita-cita Batara LattuqOpunna Luwuq, Istana lengkap yang ditempati anak yatim itu yang menyebabkan kami menegakkan tiang layar kemilau, kami layari tempat yang jauh yang menjadi harapan Opunna Luwuq, Ibunda, sudilah engkau menumpangkannya.”

WE TEMMAMALAQ :

Kur jiwanya hai pembesar, kusembah segala kemuliaannya, ia yang menghendaki ruangan orang yang dikena hukuman To Palanroe, dan mau tinggal menumpang.Tetapi tanpa diberitahu, Paduka, telah menyaksikannya ke mana harta bendamu akan kau
simpan, Ananda, padahal kendati sebilah bambu pun tak ada, gelegar hanya tiga batang disertai dua bilahan bambu, anyaman rotan dinding istana tidak ada juga. Sudah rapuh pula tali penggantung para-para tempat penyimpanan.”

TO SINILELE :

Kur jiwamu, Inangda, datanglah semangat kahyanganmu. Janganlah demikian ucapanmu, semuanya aku telah saksikan. Biarlah kami yang akan memberinya lantai. Kualasi ia dengan lampit, kututupi ia dengan permadani serta kain nan indah, kuperbaiki tali penggantung para-para tempat penyimpanan, kusisip anyaman rotan sekat dinding istana. Semoga engkau,
Inangda, menaruh kasih menerima adikku menumpang.

CUT TO.

08.INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : LA PANANRANG,TO SINILELE, LA TENRILOLLONG, WE TEMMEMALAQ, LA TEMMALLURENG, EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Dengan bergegas Pergilah To Pananrang dan To Sinilele menyampaikan pesan dari Batara Lattuq kepada inang pengasuh,

TO PANANRANG :

Kami mengantarkan harta benda, ada seribu dayang-dayang. Sekian pula bakul yang berisi gelang emas,sekian pula peti rotan yang berisi tenunan Melayu, pembuka pintu memasuki rumah sebagai tanda perkenalan, pengganti pinang sekarat, penukar sirih
selembar. Semoga kauizinkan naik ke istana sibiran tulangmu ,minum air tawar yang dingin ,mudah-mudahan ada belas kasihmu menerima Opunna Luwuq Sebagai penyambung istana besar dan penutup atap yang tinggi. Beliau menaruh harapan pada anak yatim yang sulung. Mudah-mudahan ada belas kasihmu mengambilnya sebagai lembaran kain sutra, engkau naikkan di ujung lampit emas Opunna Luwuq.'”

WE TEMMAMALAQ :

Kur jiwanya Opunna Luwuq , semoga datang semangat kahyangannya.Tidak kutampik perkataannya, tidak mungkin jadi berjodoh We Adiluwuq kalau belum terlaksana perjodohan We Datu Sengngeng. Sebabnya maka demikian ucapanku, Paduka Adinda karena Paduka Turung Belae’. memesankan kepada
anaknya, katanya, Engkau We Adiluwuq akan aku tinggalkan dua beradik, tidak daku izinkan engkau mendahului jodoh Paduka adikmu.Sebabnya aku larang engkau kawin lebih dahulu, nanti engkau tinggalkan adikmu maka semakin kesepian We Datu
Sengngeng.Tetapi walaupun demikian ucapanku dapat saja
berjodoh anak raja belaianku tapi harus sama derajatnya dengan orang Ruallette yang turun menjelma, atau orang Toddang Toja yang muncul ke bumi, sesamanya berdarah putih.Itulah sebabnya maka agak terlambat perjodohannya bersaudara karena Paduka manurung suami-istri mengatakan, Hanya akan berjodoh sibiran tulangku jika sesamanya berdarah putih, keturunan Ruallette turun menjelma di dunia.

LA PANGORISENG :

Itulah sebabnya kami berlabuh di Tompoq Tikkaq, karena berkata Paduka tuanku Manurungnge Batara Guru di Aleq Luwuq suami-istri, Di Tompoq Tikkaq tempat sederajat denganmu, sesama orang Senrijawa yang turun menjelma, sesama orang Toddang Toja yang muncul ke bumi.

CUT TO.

09. EXTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,TO SINILELE, LA TENRILOLLONG, WE TEMMEMALAQ, LA TEMMALLURENG, LA TAU PANCEQ, LA TAU BULENG, LA OROQ KELLING, EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Genderang besar dibunyikan, seruling bambu ditiup pula diikuti gong dan diramaikan musik Melayu. La Tau Panceq mulai memetik rebab emasnya, La Tau Buleng membunyikan mong-mong kencananya, La Oroq Kelling membunyikan serulingnya. Bedil pun disulut, maklumat bahwa orang Ruallette turun menjelma di Tompoq Tikkaq. Batara Lattuq berangkat didahului oleh tarian alosu emas dan sabungan arumpigi emas, untuk memasuki Sawammegga melalui negeri Tompoq Tikkaq langsung masuk ke Singkiq Wero.

Bagaikan pohon radda akan patah suara jendela yang dibuka
penduduk di Sawammegga, di Tompoq Tikkaq dan di Singkiq Wero. Bulu roma penduduk kampung berdiri melihat Batara Lattuq berlalu bagaikan orang Boting Langiq yang turun menjelma. We Tenrijelloq pun gemetar badannya waktu melihat bagaikan air bah yang membanjir, bagaikan topan yang menghempas para orang perahu itu.

CUT TO.

10 .EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,TO SINILELE, LA TENRILOLLONG, WE TEMMEMALAQ, LA TEMMALLURENG, LA TAU PANCEQ, LA TAU BULENG, LA OROQ KELLING,WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Rombongan Batara Lattuq tiba di dalam pagar. Diletakkanlah usungan emas kendaraan Opunna Luwuq. la bangkit menginjak tangga emas berukir, memegang susuran kemilau, menginjak lantai papan pinang, terus masuk ke lambung istana. Kemudian Batara Lattuq duduk di hadapan We Adiluwuq. I La Tiuleng termenung menyaksikan We Adiluwuq, tidak ada yang menyamainya, tidak ada yang menandingi kecantikannya bersaudara.

BATARA LATTUQ :

Hai para remaja Aleq Luwuq pengawal dekat, suguhilah sirih tuanmu yang empunya rumah.

Bergegas para pelayan, orang Dalam melipat sirih dan mengiris pinang. Batara Lattuq sendiri yang menyuguhi sirih pada talam emas.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu paduka Inangda, semoga datang semangat Kahyanganmu. Menyirihlah, Inangda, beri pula sirih anakmu
yang membelakang itu.

We Adiluwuq berpaling menampakkan muka memandang lalu menyirih. Sementara We Datu Sengngeng enggan menampakkan muka.

WE TEMMAMALAQ :

Mengapakah engkau ananda We Sengngeng, tidak balik menyirih. Nanti tamu itu berkata, Congkak benar anak yatim ini.'”

Maka We Datu Sengngeng berbalik mengambil sirih segulung dari samping pada talam emas. Sirih itu diremasnya tanpa disirih.

WE TEMMAMALAQ :

Mengapakah engkau Ananda tidak menyirih.Nanti orang mengatakan, Pantaslah ia yatim piatu.

BATARA LATTUQ :

Inangda, janganlah demikian ucapanmu. Sudah berapa bulankah Inangda We Datu Sengngeng padam pelita jiwanya Paduka yang empunya istana di Tompoq Tikkaq?

WE TEMMAMALAQ :

Tujuh malam peti jenazah emas di istana. Hanya tiga malam saja turunnya peti jenazah emas harta bendanya dirampas,jendela emas yang indah dibongkar, semua lantainya di dalam digulung pula. Hanya tinggal dua bilah lantai dan tiga batang Gelegar, tiga orang pula yang menempatinya.Tujuh bulan saja lamanyaTunrung Belae dikubur maka anaknya pergi membuang diri di tempat yang
jauh.Tiga puluh malam lamanya anak-anak itu membuang diri baru mereka kembali lagi ke istana.Tujuh malam lamanya setelah mereka kembali membuang diri datang berita adanya perahu
berlabuh di muara.

BATARA LATTUQ :

Inangda, janganlah engkau ulang lagi ucapanmu,sebab pilu sekali rasa hatiku di Dalam mendengar Ketentuan To Palanroe yang kedua kalinya.Tak adakah perintang duta yang menghalangi lamaran anakmu?

WE TEMMAMALAQ:

Setahu saya tidak ada kami simpan perintang duta dan penolak lamarannya sesama raja.Semoga berakhir sekarang kejahatan raja mandul perampas itu. Tiada hari yang sepi dari kedatangan utusan sesamamu raja, sebelum meninggal orang tuanya tetapi tak ada yang sepadan dengannya.

BATARA LATTUQ :

Inangda, ambillah bissu pelayan ratusan.Sekian pula bakul Cina yang berisi kain patola, engkau bawa anakmu ke dalam.Jangan duduk di ruangan depan menjadi tumpuan mata memandang orang banyak.

WE TEMMAMALAQ ;

Paduka Ananda We Datu Sengngeng dan ananda We Adiluwuq
ringankanlah dirimu masuk ke Dalam bilik.

Maka We Adiluwuq bergegas bangkit masuk ke dalam mengiringi adiknya We Datu Sengngeng

BATARA LATTUQ :

Berdirilah, para dayang mengantar Paduka adikmu.

CUT TO.

10 .EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ,LA PANGORISENG ,WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Belum selesai ucapan Opunna Luwuq para dayang bangkit mengikuti We Adiluwuq bersaudara.Bergemuruh suara lantai dilewati oleh orang yang bergelang sekati,para dayang yang rambutnya panjang tergerai melewati dinding tengah.Bagaikan arus mengalir linangan air mata pengasuh itu ketika ia melihat tak saling memberi jalan para bissu dayang,padahal bukan dayang kepunyaan anak raja asuhannya.We Adiluwuq bersaudara langsung duduk di atas permadani hamparan emas.

Bergegas La Pangoriseng bangkit terus ke depan.We Adiluwuq duduk membasahi pangkuannya dengan air mata yang bercucuran. Setelah La Pangoriseng tiba di ruangan depan ia lalu duduk di hadapan Batara Lattuq.

LA PANGORISENG :

Kur jiwamu paduka adikku, semoga datang semangat Kahyanganmu.Telah jadi engkau kawin besok, Adikku.”

Wajah I La Tiuleng bagaikan orang yang ayam sabungannya menang mendengar ucapan saudaranya.Akhirnya Niatannya Untuk mengawini we datu Sengngeng akan terwujud juga.

CUT TO.

11. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ,LA PANGORISENG ,WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG PUANG MATOA, EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Prosesi perkawinan dua anak raja titisan dewa itupun dimulai. Kedua mempelai diperintahkan berdiri pada beringin emas lalu Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng dijahit dalam sarung lambang perjodohannya dan diikat nasibnya bersama .Puang Matoa di Luwuq berdiri di muka pelaminan .

PUANG MATOA DI LUWUQ :

Belilah kalian seorang petani yang belum pernah memegang gagang luku, belum pernah mengayunkan cambuk emas, belum pernah menyelempang tali luku, tetapi tak pernah lapar orang banyak.

LA PANGORISENG :

Saya yang membeli petanimu, Puang Matoa di Luwuq, dengan dayang-dayang ratusan orang. Sekian pula bakul Cina yang berisi tenunan Melayu.”

PUANG MATOA DI WAREQ :

Belilah kalian seorang penenun,yang belum pernah mengangkat arek sutera, belum pernah memangku gulungan kain tenun,belum pernah menayang belera emas,belum pernah memutar jentera kencana,dan tak lusuh sarung baju bissu pelayan sebayanya, namun isi lumbung besar tempat menimbun harta bendanya
tak pernah berkurang.”

WE ADILUWUQ :

Sayalah yang membeli tukang tenunmu, Puang Matoa di Wareq, dengan kain sarung ratusan lembar.Sekian pula bakul Cina yang berisi tenunan Melayu.”

PUANG MATOA DI LUWUQ :

Putuskanlah jahitannya, Puang Matoa di Wareq.”

Puang Matoa di Luwuq dan Puang Matoa di Wareq segera duduk.
Batara Lattuq tersenyum saja .

BATARA LATTUQ :

Baliklah kemari We Datu Sengngeng, hadapkan wajahmu memandangku. Isi wangkang emas tumpanganku milikmu
semua, Paduka Adinda.”

Tak kunjung We Datu Sengngeng menampakkan muka.Menunduk terus sambil meneteskan air matanya bercucuran.We Adiluwuq sendiri yang mengusapkan air mata Paduka adiknya yang bercucuran.

WE ADILUWUQ :

Mengapakah nian, Paduka Adinda, engkau tiada mau Berpaling menampakkan muka kepada orang besar itu. Jangan merajuk demikian itu, Paduka Adinda, jangan mempermalukan kami, Adikku. tak ada lagi yang mesti kita ucapkan, karena demikianlah kehendak To Palanroe. Nanti orang lain akan berkata,Bagaimana dia tidak rakus pada pemberian, karena ia raja yang miskin tak berpunya.'”

LA PANGORISENG :

Kur semangatmu, Paduka Adinda,janganlah demikian ucapanmu.”

Opunna Luwuq Batara Lattuq duduk saja memandang istrinya.

BATARA LATTUQ :

Agaknya aku telah ditakdirkan oleh dewa raja yang beruntung mendapatkan ratu yang tiada banding kecantikannya.Maka ialah menjadi jodohku sesamaku berdarah putih dan disembah.

CUT TO.

12. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ,LA PANGORISENG ,WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG PUANG MATOA, EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Diangkatlah piring mangkuk tempat makannya Batara Lattuq. dinaungi kain sutera tipis membayang, ditindih dengan gelang berpilin.Tangan Opunna Luwuq dibasuhkan.

BATARA LATTUQ :

Berbaliklah kemari, engkau makan, Adinda We Datu Sengngng,
ambil ribuan di Luwuq, ratusan di Wareq.

We Datu Sengngeng tak kunjung berkata ,tiada menjawab sepatah pun ucapan Batara Lattuq.

BATARA LATTUQ :

Kasihanilah aku, adik We Sengngeng, engkau berbalik makan, Adikku.

We Datu Sengngeng tak kunjung berkata ,tiada menjawab sepatah kata pun suami sejodohnya.

WE ADILUWUQ :

Mengapakah, We Sengngeng, engkau tidak mau makan? Nanti orang mengatakan bahwa pantaslah ia begitu, karena ia raja yang miskin, ia hanya mengharapkan harta pemberian.”

Maka We Datu Sengngeng berbalik. Batara Lattuq sendiri membasuhkan jari tangan istrinya.We Datu Sengngeng hanya menggenggam nasi tanpa memasukkannya ke dalam perut.Tiada juga si yatim itu menampakkan mukanya. Air mata yang bercucuran para pengasuh dan We Adiluwuq bersaudara tak tertahankan lagi.

Hanya tiga kali Batara Lattuq menyuap maka ia berhenti. Dibasuhkan kembali jari tangannya lalu berkumur membersihkan mulut.Tiada diletakkan tempat minuman yang dihadapi La Pangoriseng bersaudara. Batara Lattuq tertawa saja memandang istrinya.Maka Batara Lattuq bangkit naik duduk di atas pelaminan emas merangkul istrinya.We Datu Sengngeng enggan disentuh
dengan jari suami segaharanya.

BATARA LATTUQ :

Paduka Adinda We Datu Sengngeng, berbaliklah menghadapkan wajahmu kepadaku, supaya kupandang wajahmu, ambil saja
dayang-dayang ribuan orang.

LA PANGORISENG :

Adik We Sengngeng, berpalinglah menampakkan wajah pada kakakmu, ambil saja dayang-dayang ratusan orang daripadaku. Sekian pula lipatan kain sutera, ambillah pula gading berbilah pada pergelanganku

BATARA LATTUQ :

Adik We Sengngeng, berpalinglah menampakkan muka kepadaku, ambillah tujuh negeri yang indah masing-masing ratusan sumber pajaknya Sebagai pemasukan di kala suka dan duka. Ambillah pula tujuh ratus anak orang kaya. Ambillah pula anak raja lima
ratus orang.

Namun tak sekali pun We Datu Sengngeng berpaling kepada Suaminya.

WE ADILUWUQ :

Berpalinglah kemari, Paduka Adinda, menampakkan muka dan memandang suami segaharamu .Engkau tidak ditakdirkan merajuk karena PadukaTunrung Belae’ suami-istri telah meninggal.Kita akan kehilangan siriq, Adik,terimalah ini sebagai kehendak
To Palanroe. Nanti semua orang mengatakan,Bagaimana dia tidak rakus pada pemberian, karena ia adalah raja miskin tak berpunya.

Maka We Datu Sengngeng berbalik menampakkan wajahnya lalu memandang suami segaharanya.Bergegas Batara Lattuq menindih paha bulan purnama yang disayanginya.We Datu Sengngeng segera menghindar,kesal dan membelakangi duduk,enggan disentuh tangannya.

BATARA LATTUQ :

Adakah pernah, duhai hiasan balairung yang ramai, bulan pengisi bilik, tak kuturuti kehendakmu. Engkau mutiara bilik yang tiada duanya,tak ada yang lain duduk mengepalai balairung selain engkau. Hanya engkaulah, Paduka Adinda,permaisuriku di
istana agung manurung.

CUT TO.

13. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ, WE DATU SENGNGENG )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Hari berganti hari, bulan berganti bulan.Tak terasa Maka tiga bulan setelah We Datu Sengngeng duduk bersanding di atas pelaminan emas,sekian pula lamanya suami-istri tak nampak di beranda,tak kenal siang atau malam.Sang raja makan di dalam kelambu emas saja.Mandi berlangir pada papan emas yang satu.

CUT TO.

14. INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – MALAM.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Malam selalu membawa sepi dan rindu. Di suatu malam yang tenang Manurungnge suami-istri diliputi rasa rindu pada anak yang dikasihinya. Berdebar-debar rasa hatinya di Dalam Paduka We Nyiliq Timoq Yang Muncul di Busa Empong karena terkenang anaknya Batara Lattuq.

WE NYILIQ TIMOQ :

Sudah menjelang setahun kepergian anakku, barulah seperti sekarang ini terasa rinduku, betapa sedih hatiku mengenang tunas penggantiku. Alangkah baiknya, datu manurung, engkau perintahkan ke timur ke Tompoq Tikkaq Bajeng Tangkiling yang biasa mengarungi samudera, mengarungi laut dan menyampaikan berita.

CUT TO.

15. INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – MALAM.

(tokoh cerita : BATARA GURU, BAJENG TANGKILING )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

BATARA GURU :

Berangkatlah, Bajeng Tangkiling, pergi ke timur ke TompoqTikkaq. Sampaikan kepada I La Tiuleng Batara Lattuq. Katakan padanya, Selama engkau tinggalkan negerimu, hanya air mata yang merundung Manurungnge suami-istri, kerjanya hanya menggigit
ujung ikat pinggangnya saja. Bawalah kemari istrimu ke Luwuq mengepalai peradatan memelihara kemuliaanmu, Kupasangi emas berpilin pergelanganmu, kuhadiahkan juga benang sutera jari tanganmu, engkau bawakan kirimanku kepada anakku, air mata pada bokor putih sedap malam dalam buli-buli.

CUT TO.

16. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – MALAM.

(tokoh cerita : BAJENG TANGKILING, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Belum selesai ucapan Manurungnge Batara Guru, maka angin bertiup dengan kencang mengarungi samudera dan menyeberangi laut.Pada waktu dinihari yang cerah Bajeng Tangkiling suruhan Manurungnge sampai di Tompoq Tikkaq segera berhembus, menggoyangkan daun-daun kayu.Berembus masuk ke dalam bilik tempat tidur Batara Lattuq,menyingkap kelambu emas yang mengitari We Datu Sengngeng, bergoyangan rumbai-rumbai pucuk enau emas,membuat bergetar segala hiasan dan bersentuhan pula giring-giring yang permai.Bersinggungan bokor emas dengan hiasan dinding bilik kencana tempat peraduan Batara Lattuq Opunna Luwuq.

BAJENG TANGKILING ANGIN :

Semoga tak terkutuk daku, orang Ruallette,datang kemari turun menjelma membangunkan engkau di bilikmu.

Angin itu sedang mendapati nyenyak sekali tidurnya Batara Lattuq suami-istri.Tiba-tiba terdengar oleh I La Tiuleng ucapan angin itu. Batara Lattuq berpaling menggeser diri melepas pelukannya mengganti lengannya dengan bantal emas,sebagai bantal tidur istrinya.Bergegas Batara Lattuq bangun duduk menyelimuti istrinya dengan puluhan sarung,kemudian membuka cerana emas lalu menyirih.

BATARA LATTUQ :

Menyirihlah, yang tak kulihat wajahmu,yang membangunkanku pada dinihari yang cerah ini.

BAJENG TANGKILING ANGIN :
Saya ini adalah kakakmu Si Angin dari Luwuq. Paduka Manurungnge suami-istri menyuruhku Kemari diikatnya lenganku dengan emas berpilin dililitnya pula jari tanganku benang halus.Semenjak engkau merantau meninggalkan Negerimu air mata saja yang menyertai Manurungnge suami-istri, ikat pinggangnya saja yang terus digigitnya. Adinda, hendaknya engkau membawa istrimu ke Luwuq memimpin peradatan dan mengatur perintah memelihara akan kemuliaanmu.

CUT TO.

17. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : I LA BIRAJA, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Pagi menjelang di istana Tompoq Tikkaq, burung burung bertebangan menyambut matahari yang memberikan kecerahan pagi itu. I La Biraja utusan sri Paduka penguasa di Sawammegga menghadap We Adiluwuq .

I LA BIRAJA :

Kur jiwamu, Paduka We Adiluwuq dan Paduka We Datu Sengngeng, semoga Datanglah semangat kahyanganmu. Kutadahkan kedua belah tanganku, semoga tak terkutuk daku menjawab tuanku, perkataan ini bukan kata-kataku melainkan perkataan sesamamu raja. Adapun yang diperintahkan kepadaku oleh raja mandul suami- istri. Bukan engkau yang seharusnya didatangi pajak muara dan bea sungai. Sri Paduka di Sawammegga yang patut memungut pajak pada para pedagang, yang harus menerima persembahan bea sungai.
Memerah wajah We Adiluwuq Bagaikan bara menyala air muka We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng bersaudara mendengar ucapan I La Biraja.

WE ADILUWUQ :

We Tenrijelloq dan La Tenrigiling tidak malu berkata demikian.
Tidak kembar payung di Tompoq Tikkaq, I La Biraja.Tidak pula dua payung kerajaan di Sawammegga.Tempat minumnya We Tenrijelloq menjadi pengapit, suara gendangnya La Tenrigiling menjadi sumbang. Rupanya We Tenrijelloq telah jadi raja, I La Biraja, padahal tak Pernah kuingat ia menerima persembahan dan bea sungai sebelum meninggal Paduka tuanku. Turung Belae suami-istri. Mereka merampas hartaku, memindahkan kerajaanku, barulah mereka menarik pajak pada para pedagang.

I LA BIRAJA :

Kalau begitu Hamba memohon diri, Sri Paduka.”

We Adiluwuq tiada berkata, We Datu Sengngeng pun tiada menjawab. Batara Lattuq bersepupu sekali rnemperkenankannya.

CUT TO.

18. INTERIOR – KERAJAAN SAWAMMEGGA – PAGI HARI.

(tokoh cerita : I LA BIRAJA,WE TENRIJELLOQ,LA TENRIGILING)

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak membuang waktu , Maka I La Biraja bangkit, bergegas ke Sawammegga,menginjak tangga emas berukir, melangkahi ambang pintu,menginjak lantai papan pinang kemilau, langsung duduk di hadapan We Tenrijelloq suami-istri.Sujud menyembah lalu duduk.

LA TENRIGILING :

Bagaimana gerangan ucapannya anak yatim dua bersaudara?”

I LA BIRAJA :

Adapun yang diucapkan We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng, katanya, Benar-benar We Tenrijelloq tidak punya rasa malu cara berbicaranya suami-istri, memang tak pernah ia menerima pajak muara dan bea sungai sebelum Sri Paduka tuanku meninggal.

Marah sekali We Tenrijelloq suami-istri mendengar ucapan We Adiluwuq. La Tenrigiling meludah sembari berkata,

LA TENRIGILING :

Andaikata aku tahu demikian ucapan anak yatim itu pada saat meninggalnya orang tuanya sudah kutikamnya dengan keris emas.Tetapi sekarang sudah ada Opunna Luwuq bersepupu sekali tegak menghadang bagaikan dataran tinggi yang melintang sepanjang negeri, membuat lancang berbicara mulutnya We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng bersaudara.

CUT TO.

19. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ, UNGA WE MAJANG )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Tiada lagi senang perasaan We Adiluwuq bersaudara mendengar ucapan We Tenrijelloq. Berpaling sambil berkata We Adiluwuq kepada adiknya We Datu Sengngeng.

WE ADILUWUQ :

Janganlah engkau, We Datu Sengngeng, memalingkan muka memandang pada suami segaharamu, kalau belum sampai ajalnya raja mandul perampas itu suami-istri.”

Ucapan saudaranya diiakan oleh We Datu Sengngeng.Tanpa sengaja Batara Lattuq mendengar ucapan We Adiluwuq. I La Tiuleng tertawa saja mendengar ucapan Paduka kakaknya. Sambil tersenyum I La Tiuleng berkata,

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, mutiara bilik bersaudara, semoga datanglah semangat kahyanganmu. Apa gerangan yang tak menyenangkan perasaan hatimu? Siapa lagi yang akan dituruti rayu-rayunya selain engkau adindaku bersaudara?”

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Suamiku Batara Lattuq , semoga datanglah semangat kahyanganmu. Aku tak menyembunyikan perasaanku, Paduka. Hatiku hanya akan senang kalau We Tenrijelloq suami-istri sudah mati.

BATARA LATTUQ :

Tidak usah hal itu yang menyusahkan hatimu adinda We Datu
Sengngeng mutiara bilik yang jarang samanya bersaudara.

WE DATU SENGNGENG :

Paduka suamiku Batara Lattuq. Aku tak mau melihat raja mandul perampas itu menguasai yang bukan haknya.Barulah akan senang perasaan hatiku kalau engkau membunuh WeTenrijelloq suami-istri.

BATARA LATTUQ :

Adinda We Datu Sengngeng, Perintahkanlah orang memungut sepah Sirih yang telah dikunyah We Tenrijelloq suami-istri .

Berpaling berkata We Datu Sengngeng kepada kakaknya We Adiluwuq.

WE DATU SENGNGENG :

Bagaimana pikiranmu yang jernih bagai mata air itu Paduka Kakanda We Adiluwuq? siapakah gerangan yang tak dicurigai bila memungut sepah sirih yang telah dikunyah raja mandul perampas itu ?

WE ADILUWUQ :

Pada pikiranku, Barangkali We Unga Waru yang baik Adikku We Datu Sengngeng Untuk kita suruh pergi mengambil sepah sirih yang telah dikunyah bibi kita We Tenrijelloq suami-istri. Sebab hanya dia yang arif bijaksana menyembunyikan gerak sehingga tidak akan dicurigai.

WE DATU SENGNGENG :

Berangkatlah, Wahai Unga We Majang, panggilkan daku We Unga Waru, dan katakana Engkau dipanggil Paduka adik kita.

CUT TO.

20. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : UNGA WE MAJANG, UNGA WE WARU )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Ttdak menunggu waktu lagi, Belum selesai ucapan We Adiluwuq bersaudara maka Unga We Majang berangkat ke istana We Unga Waru,menginjak tangga emas berukir,melangkahi ambang pintu lalu masuk,didapatinya We Unga Waru selesai makan.

WE UNGA WARU :

Silakan duduk, Unga We Majang. Apa gerangan yang menyebabkan engkau kemari ?

UNGA WE MAYANG :

Unga We Waru , Engkau dipanggil Paduka adik kita We Datu
Sengngeng bersaudara menghadap ke istana.

CUT TO.

21. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ, UNGA WE MAJANG,UNGA WE WARU )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Dengan bergegas tanpa menungngu waktu lagi, Maka We Unga Waru berangkat tanpa mengganti sarung sehari-harinya,dan baju di dada peresap keringatnya,berjalan We Unga Waru bergegas menuju ke istana,menginjak tangga emas berukir,melangkahi ambang pintu kencana, menginjak lantai papan pinang kemilau, melewati dinding tengah, melangkahi sekat istana. Langsung duduk sambil menyembah bersimpuh di hadapan peterana emas
persandingan We Datu Sengngeng bersaudara, disorongkan sirih lalu menyirihlah We Unga Waru.

WE DATU SENGNGENG

Kur jiwamu, paduka kakanda We Unga Waru ,semoga datanglah semangat kahyanganmu. Duduklah dan ambillah sirih, Menyirihlah Kakanda We Unga Waru.

Bergegas We Unga Waru menyambut sirih dari adiknya .We Datu Sengngeng berkata hampir bersamaan berdua dengan We Adiluwuq,

WE DATU SENGNGENG :

Kasihanilah daku, Paduka Kakanda, kaupungutkan daku sepah sirih yang dikunyah bibiku We Tenrijelloq suami-istri.

CUT TO.

22. INTERIOR – KERAJAAN SAWAMMEGGA – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE UNGA WARU ,WE TENRIJELLOQ,LA TENRIGILING)

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Tanpa menunggu waktu lagi, Belum selesai ucapan We Adiluwuq bersaudara maka We Unga Waru berangkat bergegas menuju istana sao loci tempat tinggal We Tenrijelloq menginjak tangga emas berukir, memegang susuran kemilau, menginjak lantai papan pinang emas,bergegas masuk ke Dalam, didapatinya We Tenrijelloq duduk berdampingan suami-istri.

WE TENRIJELLOQ :

Silakan duduk, We Unga Waru.

We Unga Waru sujud menyembah lalu duduk di hadapan We Tenrijelloq yang Membuka cerana emas sambil berkata

WE TENRIJELLOQ :

Ambillah Sirih, Menyirihlah engkau We Unga Waru.

WE UNGA WARU :

Inilah Paduka We Tenrijelloq, sarung indah hasil tenunanku sendiri.

Gembira sekali We Tenrijelloq mengamati warna sarung We Unga Waru.We Tenrijelloq berpaling membuka cerana emas lalu suami-istri menyirih.Tujuh kali ia mengunyah sirihnya lalu dibuangnya. We Unga Waru berpaling mengambil sepah sirih yang dikunyah We Tenrijelloq suami-istri,lalu dibungkusnya dengan daun sirih dan diselipkannya pada ikatan sarungnya.

WE UNGA WARU :

Aku memohon pamit dahulu ,kalau Paduka berkenaan.

We Tenrijelloq suami-istri memperkenankannya.Maka bergegaslah We Unga Waru keluar dan turun menginjakkan kaki pada tangga emas berukir, memegang susuran kemilau, menginjak lantai papan pinang emas, bergegas Keluar meninggalkan Istana.

CUT TO.

23. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ, UNGA WE MAJANG,UNGA WE WARU )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

We Unga Waru berangkat pergi bergegas menuju Tompoq Tikkaq menginjak tangga emas berukir,memegang susuran kemilau,menginjak lantai papan pinang terus masuk kedalam Istana.

WE ADILUWUQ :

Kemarilah, kakak We Waru, duduklah dan menyirihlah.

Maka We Unga Waru naiklah duduk ,mengambil sirih dan menyirih.Lalu Berkatalah We Adiluwuq hamper bersamaan dengan We Datu Sengngeng.

WE ADILUWUQ :

Kusiasati engkau, Kakak We Waru, kuajukan pula pertanyaan
kepadamu, adakah engkau pulang membawa harapan?”

We Unga Waru tersenyum saja sambil membuka mulutnya,

WE UNGA WARU :

Inilah, Adinda We Adiluwuq , sepah sirih yang dikunyah oleh
We Tenrijelloq suami-istri.

Gembira sekali We Adiluwuq bersaudara melihat sepah sirih bekas kunyahan We Tenrijelloq suami-istri,dan diberikannya kepada Batara Lattuq bersepupu sekali lalu disimpan di dalam kampuh emas dan dimasukkanlah sepah itu ke dalam puannya .

CUT TO.

24. INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ, TO SINILELE, LA TEMMALLURENG.TO PANANRANG )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

BATARA LATTUQ :

Bagaimanakah menurut pikiranmu Paduka Kakanda To Sinilele, Bagaimana menurut perhitungan kakanda letak matahari?

LA TEMMALURENG :

Adinda Paduka Batara Lattuq, Sinar matahari tidak di barat,
bayang-bayang pun tidak pula di Timur.

BATARA LATTUQ :

Kalau begitu halnya, sudah tiba waktunya kita berangkat.Marilah kita pergi ke sungai naik perahu, Kakanda, didayungi oleh orang banyak.To Pananrang, perintahkanlah menurunkan usungan emas
tumpanganku bersepupu sekali.

CUT TO.

25. EXTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ,DATU SENGNGENG, TO SINILELE, LA TEMMALLURENG.TO PANANRANG )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Dalam sekejab saja tanpa membuang waktu , Maka La Temmallureng memerintahkan untuk menurunkan usungan emas,tumpangan Batara Lattuq bersepupu sekali,Kini usungan sudah siaplah, payung emas pun telah dikembangkan,orang banyak pun telah menunggu di pekarangan,serta juak yang bergelang gading emas.Batara Lattuq berpaling sembari mengusap-usap pinggang istrinya.membalik-balik gelang kalaru emas yang melingkari lengannya.melepas-lepas cincin emas pengikat jari tangannya, mengelus-elus kuku buatan hiasan jarinya, melengkung-lengkungkan sanggulnya, melentik-lentikkan ujung jarinya menelusuri dada bajunya, melingkarkan lengan pada lehernya.

BATARA LATTUQ :

Paduka Istriku We Datu Sengngeng. Kasihanilah daku mutiara bilik yang jarang duanya,engkau berikan sepah sirih yang engkau kunyah, berikan pula cincin emas yang ada pada jari manismu, engkau ambil saja pelayan Luwuq ratusan orang.

We Datu Sengngeng membuka cerana emas dan menyirih, lalu diberikan kepada suami segaharanya sambil membuka pula cincin emas di jari manisnya.

CUT TO.

26. EXTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : LA TENRIOJI,WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ,DATU SENGNGENG, TO SINILELE, LA TEMMALLURENG.TO PANANRANG )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

La Tenroaji berpaling mengusap-usap pinggang istrinya, mengurut-urut rambutnya yang panjang tergerai,menimang-nimang jari tangannya memijit-mijit pinggang istrinya merayu-rayu bulan purnama yang disayanginya.

LA TENRIOJI

Kasihanilah daku, permata bilik yang jarang tandingannya,
engkau berikan sepah sirih yang engkau kunyah.Berikan pula
kepadaku cincin emas di jari manismu,engkau ambil dayang-dayang ratusan orang dari Coppoq Meru.

We Adiluwuq membuka cerana emas lalu menyirih,ia berikan sepah sirih yang ia kunyah,kepada suami segaharanya dan membuka cincin emas pada jari manisnya,lalu diberikannya kepada I La Jiriu.

To Pananrang mendekat sambil menyembah dan berkata

TO PANANRANG

Paduka Batara Lattuq.Sudah siap usungan, sudah terkembang
pula payung emasmu.”

CUT TO.

27. EXTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ,DATU SENGNGENG, TO SINILELE, LA TEMMALLURENG.TO PANANRANG )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Maka I La Tiuleng berdiri bergandengan tangan bersepupu sekali menuju ke depan,diiringi oleh para hamba pembesar kerajaan yang empunya negeri yang indah.Maka mereka bersepupu sekali berangkat diangkut dengan usungan kencana dinaungi payung emas. Diusunglah pula para pemegang kipas diangkatlah ketur peludahan tempat menampung sepah sirih pembesar itu.Di barisan depan boneka ditempatkan,di belakang topeng kayu telah ditempatkan.

CUT TO.

28. EXTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ,DATU SENGNGENG, TO SINILELE, LA TEMMALLURENG.TO PANANRANG,EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Genderang besar telah dipukul,seruling telah berbunyi diiringi oleh gong, diramaikan dengan tari Melayu .Alangkah riuh kedengaran adat kerajaan pembesar itu. Bersahutan suara kur semangat kahyangan para pembesar. Sudah berangkatlah usungan emas yang ditumpangi Batara Lattuq dan I La Jiriu pergi keluar ke sungai. I La Tiuleng sudah sampai memenuhi pinggir sungai pelabuhan yang tak pernah sunyi di Tompoq Tikkaq. Diletakkanlah usungan emas kendaraan Batara Lattuq bersepupu sekali.

Lalu Batara Lattuq dan 1 La Jiriu berdiri menginjak tangga perahu emas meniti cadik emas, melangkahi barateng gading, duduk bersepupu sekali pada ruangan perahu.Semua orang banyak naik pula, anak perahu dan hamba bergelang emas lengkap pula.La Temmallureng berdiri di haluan perahu sambil berkata,

LA TEMMALURENG :

Segeralah kita berlayar. Mendayunglah orang Selayar, berkayuh pula orang Waniaga.”

Wangkang itu bagaikan burung yang terbang diangkut oleh layar dan dibawa oleh gelombang, diiringi oleh angin dan berbunyi ditiup bayu. Belum lagi hancur daun sirih itu maka mereka sampai pada pusaran air. Batara Lattuq dan I La Jiriu membuka cerana emas lalu menyirih. Mereka menenggelamkan kempu berisi sepah sirih yang dikunyah We Tenrijelloq suami-istri.

Batara Lattuq dan I La Jiriu kembali lagi. Tingginya sinar surya tinggal sepenggal di barat,matahari terbenam di pinggir langit. Maka wangkang I La Tiuleng tiba berlabuh di muara di Tompoq Tikkaq. Opunna Luwuq dan I La Jiriu berdiri, meniti cadik emas, melangkahi tepi perahu, ditadah dengan usungan kencana, dinaungi payung emas bersepupu sekali masuk ke Tompoq Tikkaq.Bergegas titian pagar indah dipegangkan untuk dilewati para pengusung. Diletakkanlah usungan emas kendaraan pembesar itu.

Lalu Batara Lattuq berdiri bergandengan tangan bersepupu sekali
menginjak tangga emas berukir,melangkahi ambang pintu, menginjak lantai papan pinang, melewati dinding tengah, melangkahi sekat ruangan,didapati istrinya duduk di atas peterana dikelilingi orang pilihan. Bagaikan orang yang minum madu perasaan di dalam hati I La Tiuleng dan I La Jiriu memandang istrinya duduk bagaikan orang Boting Langiq yang turun menjelma. I La Tiuleng dan I La Jiriu langsung masuk duduk mendampingi istri mereka mencumbu bulan purnama kecintaannya mengusap-usap mutiara bilik yang disayanginya, melingkarkan lengan pada leher istrinya.

CUT TO.

29. INTERIOR – KERAJAAN SAWAMMEGGA – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE TENRIJELLOQ,LA TENRIGILING,EXTRACT)

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Hanya tiga malam setelah datangnya Batara Lattuq bersepupu sekali.We Tenrijelloq suami-istri ditimpa penyakit keras.We Tenrijelloq suami-istri sudah sakit perutnya tinggal berbaring tanpa bergerak bagaikan mayat.Semua anak raja pendamping,pemuka negeri yang mengatur hukum sudah ada.

LA TENRIGILING :

Ada baiknya kalau kita beritahukan Sri Paduka di Tompoq Tikkaq bersaudara.

CUT TO.

30. INTERIOR- KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG, BATARA LATTUQ,DATU SENGNGENG, TO SINILELE, LA TEMMALLURENG.TO PANANRANG,LA PANGORISENG, EXTRACT )

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo )

Anak raja pendamping itu sepakatlah. Maka bangkit bergegas menuju Tompoq Tikkaq memasuki pekarangan istana,menginjak tangga emas berukir,memegang susuran kemilau,menginjak lantai papan pinang terus masuk,didapatinya We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng duduk berdampingan suami-istri.

LA PANGORISENG :

Kur jiwamu, paduka para hakim, semoga datanglah semangat kahyanganmu.Masuklah duduk, kalian para hakim.

para hakim itu duduk di hadapan peterana emas tempat bersanding We Adiluwuq suami-istri.

BANGSAWAN PENDAMPING :

Kur jiwamu, Paduka We Adiluwuq Suami istri, semoga datanglah semangat kahyanganmu.Bibimu suami-istri ditimpa penyakit keras.Mereka berbaring tanpa berbalik,tak bergerak kaki, tak
bergerak tangan,sungguh keras bagaikan sudah mati.

WE ADILUWUQ :

Kur jiwamu, paduka para hakim ,semoga datanglah semangat kahyanganmu.Walaupun mereka meninggal tidak akan
menyusahkan hatiku.”

CUT TO.

BERSAMBUNG KE EPISODE VI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: