SKENARIO FILM I LA GALIGO EPISODE IV

IV. NASKAH SKENARIO FILM SERIAL I LA GALIGO. EPISODE 4

( Episode BATARA LATTUQ DAN ANAK YATIM )

Naskah/Skenario: Dr.Syahriar Tato.
Supervisi : Prof. Nurhayati Rahman.

(Adabtasi skenario film oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan II ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

01.BGT.

Opening Cuplikan adegan yang dianggap menarik, menjadi latar belakang nama-nama pekerja film dan artis utama, diiringi lagu Theme Song I La Galigo hingga title selesai.

Fade out.
Fade in.

02.EXTERIOR- KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG .)

(Opening Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo + sound effect angin menderu ).

Angin menderu diatas Istana Tompoq Tika yang sepanjang musim dilanda kemarau. Suatu hari Ketika fajar menyingsing kokok ayam masih bersahut-sahutan, We Temmamalaq bangun dari tidurnya lalu ke depan istana , dilihatnya di bawah tangga istana, We Adiluwuq bersaudara bergegas masuk ke dalam pekarangan istana .Dengan tergesa-gesa We Temmamalaq berdiri menaburkan beras segenggam. Pengasuh itu menangis melihat anak yatim bersaudara telah bersimpuh ditangga istana.

WE TEMMAMALAQ :

Kur jiwamu, Paduka Ananda bersaudara, datanglah semangat kahyanganmu, naiklah kemari di istana, anak dua beradik, We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng putri kerajaan Tompoq Tika.

CUT TO.

03.EXTERIOR- KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo + sound effect angin menderu ).

Dengan gemulai seperti juga anak titisan dewata, We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng menaiki tangga, berpegang pada susuran kemilau dan melangkahi ambang emas,menginjak lantai yang berkilauan, anak yatim bersaudara itu melangkahi sela gelegar. Alangkah gembiranya inang pengasuh itu dan langsung saja memeluk kedua putri raja asuhannya itu.

WE TEMMAMALAQ :

Anak-anakku yang cantik jelita , naiklah kemari pada lambung istana pada lorong rumah raja ini. Paduka Ananda, aku bersyukur,karena kita bertemu kembali di istana, Nak, kau lihat sendiri , sudah kulepaskan tanda berkabungku sebab engkau masih hidup dua bersaudara dan aku pun masih hidup kau dapati disini .”

Lalu kedua putri raja itu, We Adiluwuq bersaudara duduk pada lambung istana lalu kedua anak yatim itu memijit perutnya sembari berkata.

WE ADILUWUQ :

Aku sangat lapar Inangda We Temmamalaq .masihkah ada yang bisa dimakan didalam dapur istana ?

WE TEMMAMALAQ :

Kalau begitu biarlah Untuk ananda berdua akan kubuatkan engkau bubur, Paduka Ananda.

WE ADILUWUQ :

Inangda We Temmamalaq, siapakah yang memberikan engkau beras makanan?”

WE TEMMAMALAQ :

Aku cari upah menumbuk padi siang malam sepeninggalmu ananda We Adiluwuq

CUT TO.

04.INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo + sound effect angin menderu ).

Dengan bergegas We Temmamalaq Sang Inang Pengasuh itu lalu berdiri membuatkan anak yatim itu bubur pada pecahan kuali.Kini sudah masaklah nasinya dan matang pula lauknya.

WE ADILUWUQ :

Siapa pula Inangda We Temmamalaq yang memberi engkau ikan besar yang kau masak itu ?”

WE TEMMAMALAQ :

Nak, dengan kerja keras aku mencari upah mengambil air
sepeninggalmu.”

We Temmamalaq inang Pengasuh itu bangkit mengambilkan piring yang pecah dan menyendokkan bubur untuk anak raja asuhannya itu.

WE ADILUWUQ :

Inangda We Temmamalaq, Ambillah bara api, Inangda,aku ingin
mengangkatkan jasad dewa arwah Turung Belae suami-istri.Nanti
sesudah diangkatkan jasad dewa arwahnya,barulah daku, Inangda, makan bersama bersaudara.”

Bangkitlah Inang Pengasuh mengambil bara api pada pecahan pedupaan.Masih ada tersisa secuil dupa kemenyan dibungkus dengan cabikan kain cindai.Segera We Adiluwuq bangkit lalu duduk pada pangkal tiang turus rumah.Dibakarnya dupa itu untuk tolak bala Untuk kedua arwah orang tuanya.

WE ADILUWUQ :

Makanlah engkau yang tinggal pada tiang lurus rumah, mudah-mudahan terbukti kata bissu, semoga benarlah mimpi nyata yang dirasuk dewa langit lalu bissu menari sambil mengatakan, I La Jiriu tak akan terbuka jodohnya kalau bukan We Adiluwuq yang ia peristrikan. Batara Lattuq tak akan bertemu jodohnya kalau bukan We Datu Sengngeng yang ia persuntingnya .”

Kemudian We Datu Sengngeng bangkit berdiri dan juga ikut membakar dupa tolak bala.

WE DATU SENGNGENG :

Makanlah engkau yang tinggal pada tiang lurus rumah, semoga di sini akan berlabuh para pedagang pelayar, membawa wangkang lalu berlabuh di muara, supaya dialah yang berjodoh dan berkesampaian cintanya.

CUT TO.

05.INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo + sound effect angin menderu dan suara tokek ).

Bunyi cecak pun bersahut-sahutan mengiakan pada balok melintang nan kemilau.Kini anak yatim itu bersaudara mulai makan. Sesudah makan mereka pergi mandi pada pecahan tempayan emas. Sesudah mandi mereka mengeringkan badan pada sepotong bangku.

WE ADILUWUQ :

Wahai Inangda We Temmamalaq , di mana gerangan engkau simpan Gelang emas yang melingkari lenganku dan sarung indah pakaianku bersaudara?”

WE TEMMAMALAQ ;

Telah Kubungkus dengan kain bertambal, kututupi dengan
pecahan tempayan , kugantung di bawah dapur. Karena Pernah We Tenrijelloq menanyakannya, katanya, Inangda, apakah gerangan ini yang digantung di bawah dapur? Kujawab ia dengan mengatakan,Tahi bayi hambamu tuanku, Saat mulanya Barang barang itu terlentangnya pada permadani emas.'”

CUT TO.

06.INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo + sound effect angin menderu ).

Dengan Bergegas We Temmamalaqpun bangkit menelusuri bendul lalu melangkahi sela gelegar, tunduk mengambil pakaian tua yang digantung lalu kemudian dibawakannya anak raja asuhannya. We Adiluwuq sendiri yang membuka pengikatnya, lalu mengeluarkan gelang emas pakaiannya,juga sarung sutera penghias dirinya. Maka We Adiluwuq menyaksikan kembali, gelang emas yang pernah melingkari lengannya, enam puluh lima biji sebelah, disekat oleh gelang lolaq bepermata, dihiasi cincin berukir yang berat melingkari jari tangannya, dan kuku tiruan emas, serta anting-anting puluhan tahil.Lalu ia pun memasang pakaiannya, sarung sutera merah bersulam, yang bermotif ular sawah, dijelujur dengan ular merah, bersandar pada orang pendek, disulam emas tujuh kati bahagian bawahnya, lima kati di bahagian atasnya. Dipadu dengan baju sutera merah bersulam, bermotif mayang kemilau bertaburan,bunga bintang yang berhamburan, yang dihinggapi burung garuda, dan berpinggir emas tiga kati.

CUT TO.

07.INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo + sound effect angin menderu ).

Sementara Waktu itu pula, We Datu Sengngeng mengenakan gelang emas yang melingkari lengannya.enam puluh lima biji sebelah,disekat dengan gelang lolaq bepermata,cincin berukir yang berat,kuku tiruan emas, anting-anting puluhan tahil.Ia pun mengenakan sarung mengkilap bersulam,dengan motif gambar ular sawah,dipadu dengan motif ular merah,tersandar pada orang pendek, dan dihinggapi burung garuda tujuh kati di bahagian bawahnya, lima kati di bahagian atasnya, berkalungkan bunga matahari dan dibubuhi dengan emas sekati.

CUT TO.

08.INTERIOR – KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE TEMMAMALAQ, WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo + sound effect angin menderu ).

WE TEMMAMALAQ :

Anakku We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng,Ambillah sirih dari
cerana emas, menyirihlah kalian dengan daun sirih biar selembar
saja, pinang kecil walau cuma sekerat.

WE ADILUWUQ :

Inangda We Temmamalaq, siapa lagi yang memberikanmu selembar sirih dan pinang kecil?

WE TEMMAMALAQ :

Aku mencari upah dengan memintal benang sepeninggalmu,
Paduka Ananda We Adiluwuq. We Adiluwuq mengambil sirih, ia pun mengerat pinang itu dengan jari berhias kuku tiruan. Anak yatim bersaudara sama-sama menyirih. Alangkah senang perasaan anak-anak raja kakak beradik itu. Lalu We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng berbaring.

WE ADILUWUQ :

Inangda We Temmamalaq, entah mengapa perasaanku tiada tenang, ujung jari kakiku sakit ,kejang-kejang kedua betisku, hampir putus nyawaku, kacau-balau di dalam perasaanku, mataku tiada hendak tertidur saat berbaring, Inangda.”

WE TEMMAMALAQ :

Makanya tenanglah engkau, Paduka Ananda,supaya enak
perasaanmu bersaudara.”

Dengan bergegas We Temmamalaq Inang Pengasuh itu segera memangku betis anak raja yang diasuhnya,mengusap-usap badannya bersaudara.Maka nyenyak sekali tidurnya anak yatim kakak beradik berdua.Mata We Temmamalaq tak dapat lagi terpejam menjaga anak raja yang diasuhnya membasahinya dengan air mata siang dan malam.

CUT TO.

09.INTERIOR – ISTANA KERAJAAN ALEQ LINOQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo dan sound effect ayam berkokok ).

Ayam berkokok bersahut-sahutan, Ketika fajar menyingsing di Aleq linoq, La Togeq Langiq Batara Guru dan istrinya We Nyiliq Timoq bangun membasuh muka pada mangkuk putih, berkaca pada cermin, membuka cerana emas lalu menyirih, duduk berdampingan suami-istri di atas peterana manurung.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka istriku We Nyiliq Timoq Datanglah semangat kahyanganmu. Sebaiknya La Tenrioddang dan To Appamadeng, Adinda We Nyiliq Timoq perintahkan untuk memanggang kerbau ribuan banyaknya. Perintahkan pula agar memanggii Puang Matoa sang pemilik negeri indah yang kerasukan lalu menari bissu di daerah sekeliling Luwuq dan sekitar Wareq,supaya mereka membawa perlengkapan bissunya di gelanggang mengupacarai kampak menebang kayu arawaq, engkau perintahkan mereka keluar ke muara menghiasi bambu, menabur menrawe, dan memercikkan air suci.

CUT TO.

10.INTERIOR/EXTERIOR – ISTANA KERAJAAN ALEQ LINOQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ, TENRIODDANG, LA MAREMPOBA, EXTRACT .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Belum selesai ucapan Manurungnge maka bangkit ToTenrioddang bersamaan berangkat La Marempoba memerintahkan menangkap kerbau ribuan , mendatangkan Puang Matoa yang menjaga negeri nan indah. Belum lagi hancur daun sirih itu maka datang Puang Matoa dinaungi payung emas di gelanggang. Upacara bissu kini sudah bergemuruh, menderu suara anak mengaji yang banyak, tak saling memberi jalan untuk dilewati, anak buahnya mencabik pucuk enau, membuat hiasan, memercikkan air suci, menebang kayu arawaq, menghias bambu dan memasang menrawe, memancangkan tonggak di pinggir sungai. Ribuan banyaknya tambatan kerbau cemara bertanduk emas, semuanya diikat dengan emas berpilin dari Leteng Nriuq. Kini rampunglah semua lalu To Tenrioddang dan To Appamadeng berangkat naik ke istana. Sujud menyembah lalu duduk di hadapan Manurungnge suami-istri.

TO TENRIODDANG :

Kur jiwamu, Paduka Batara Guru Dan Paduka We Nyiliq Timoq, datanglah semangat kahyanganmu. Hamba sudah rampungkan semua peralatan upacara kahyangannya puang manurung, yang kerasukan lalu menari bisu dan berbicara dengan orang Ruallette.

CUT TO.

11.EXTERIOR–ISTANA KERAJAAN ALEQ LINOQ–SIANG HARI.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ, TENRIODDANG, LA MAREMPOBA, EXTRACT .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo, sound effect Guntur dan petir ).

Angin Bertiup dengan lembutnya ,Pada saat tengah hari yang cerah di Aleq Linoq, bayang-bayang sudah tidak di timur, sinar matahari pun tidak di barat, tiba-tiba Aleq Linoq menjadi gelap,jari tangan dibalik pun tidak nampak.Tujuh kali halilintar bersahut-sahutan, sabung-menyabung kilat dan petir, sambung-bersambung suara guntur, bergoyangan pohon-pohon, menurunkan penyadap, menjinakkan kerbau bersama gembala, menyesatkan orang di hutan. Bagaikan hendak terbongkar istana, seperti hendak melayang puncak rumah, bagaikan hendak runtuh Peretiwi, tiba-tiba tegak pelangi di tengah laut, menyala-nyala api dewa yang beriringan dengan topan dan badai serta awan mendung dan kabut tebal. Bergetaran badan orang Luwuq, terkejut-kejut orang Wareq. Setelah jelas sampai di bumi perahu besar manurung, barulah Batara Guru membuka cerana emas lalu menyirih. Berpaling ia membuka jendela emas lalu menjenguk, menyembah naik ke Boting Langiq, menadahkan kedua belah tangan ke Peretiwi, menghentikan topan dan memadamkan kilat.

BATARA GURU :

Maafkanlah kami, Paduka Datu Patotoqe ,hentikanlah topan, padamkan dahulu kilat dan petir.

Tiba Tiba saja, Bagaikan topan sengaja dipadamkan,bak kilat dan petir dihentikan, awan bagai disisihkan,sementara kilat yang menyala-nyala telah padam, matahari bersinar terang. Maka muncul wangkang besar yang manurung, memenuhi pelabuhan yang tak pernah sunyi.

BATARA GURU :

Wahai La Tenrioddang dan To Appamadeng, perintahkan Untuk
memanggil orang Luwuq dan orang Wareq, supaya keluar menjemput di sungai wangkang besar, manurung dari boting Langiq Sekejab mata saja, Belum selesai ucapan Manurungnge La Tenrioddang dan To Appamadeng memerintah agar segera memanggil orang Luwuq dan orang Wareq Supaya keluar ke sungai menyambut wangkang emas manurung dari Boting Langiq.

CUT TO.

12.EXTERIOR–ISTANA KERAJAAN ALEQ LINOQ–PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ, TENRIODDANG, LA MAREMPOBA, EXTRACT .)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Hari berlalu dengan cepatnya. Ketika fajar menyingsing keesokan harinya berkumpullah orang Luwuq dan orang Wareq, juga para anak raja pendamping dan anak bangsawan kapit, pembesar negeri yang menjadi hakim, anak orang kaya para penghulu yang menumpangi usungan gading,tumpangan anak raja pendamping pada berdatangan di hadapan istana lengkap manurung di Ale Luwuq.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka to Tenrioddang,datanglah semangat kahyanganmu, perintahkan untuk mempersiapkan upacara kerajaanku .Perintahkan juga untuk menurunkan usunga emas tumpanganku, usungan kilat tumpangannya ibunda La Rumpang Langiq. Perintahkan pula untuk menurunkan usungan kencana emas Batara Lattuq dan payung emas yang akan Menaunginya.

Bergegas La Tenrioddang pergi ke depan menunjukkan telunjuk jari tangannya agar diturunkan kelengkapan upacara kahyangan Manurungnge. Usungan emas tumpangan We Nyiliq Timoq juga telah turun beserta usungan kencana tumpangan Batara Lattuq. Maka rampunglah semua upacara kahyangan Manurungnge. Batara Guru segera berdiri ditudungi dengan payung emas,We Mata Timoq pun diangkut dengan usungan emas,dinaungi dengan payung kemilau manurung. Para pembawa kipas telah diusung, demikian pula cerana tempat meludah penampung sepah sirihnya
Manurungnge suami-istri dan Batara Lattuq. Para penari dodoq telah maju ke depan, berlarian pula para pemakai topeng. diiringi gong dan dendang Melayu.La Tau Buleng memetik rebab emasnya, La Tau Panceq membunyikan talloq-talloqnya, La Kabenniseng meniupkan ratusan seruling bambu.

CUT TO.

13.EXTERIOR–ISTANA KERAJAAN ALEQ LINOQ–PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ, BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Seperti pawai pasukan Dewa. Berangkatlah usungan emas yang ditumpangi Batara Guru suami-istri dan Batara Lattuq, didahului oleh barisan tarian alosu emas, beserta sabungan arumpigi dan emas sekati, lalu menyeruduk di bawah menrawe emas, hingga tiba di sungai. Usungan emas yang ditumpangi Manurungnge” suami-istri dan anaknya tiba memenuhi tanjung tempat berlabuh perahu.

BATARA GURU :

La Tenrioddang, perintahkanlah agar segera memercikkan air
suci, bunyikan genderang yang ramai,juga pasanglah menrawe, dan pancangkan bambu emas tempat berlalunya wangkang tanah manurung.

CUT TO.

14 .EXTERIOR–ISTANA KERAJAAN ALEQ LINOQ–PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ, BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Selesailah sudah dipercikkan air suci, dan ratusan kerbau cemara telah dibakar. Belum hancur daun sirih itu maka selesai upacara perahu itu. Bagaikan kabut yang menjulang asap api dengan bayang-bayang yang bergumpalan. Belum hancur daun sirih itu rampung semua perintah La Tenrioddang. Makanan kini telah terhidang, wajan besar telah diangkat,guci-guci yang aneka ragam berjejeran pelayan yang meladeni sudah siap pula.

Maka bangkit orang Dalam yang tak pernah melewati sekat tengah, mencabik daun mengalas baki ,menghidangkan nasi dan meletakkan lauk-pauk. Rampung pula semua makanan awam orang banyak, lengkap pula makanan Manurungnge suami-istri ditempatkan pada talam emas,tempat aneka ragam bahan makanannya. Dihidangkan pula piring mangkuk tempat makanan pembesar negeri yang indah. Kini telah terhidang semua talam emas, baki-baki emas telah berjejer, cukup semua makanan awam orang banyak.

Kini dibasuhkan jari tangan Manurungnge Batara Guru bersama istri dan anak.Turut pula dibasuhkan tangan para pembesar negeri indah. Lalu para bangsawan itu saling mempersilakan dan orang banyak pun turut makan. Bagaikan kilat cahaya mangkuk emas tempat minum para anak raja pendamping. Bagaikan punai melayang terbang seliweran mangkuk Jawa. Para juak makan dan minum pada piring yang indah-indah.

Tujuh kali menyuap Manurungnge Batara Guru suami-istri lalu berhenti demikian pula Batara Lattuq bersaudara. Dikembalikan piring tempat makanan Manurungnge, serta talam emas yang ditempati aneka ragam bahan makanannya. Demikian pula semua piring tempat makanan pembesar kerajaan yang memerintah negeri indah. Para anak raja semua berhenti makan, Piring-piring lalu diletakkan, dikembalikan pula ke tempatnya mangkuk jawa tempat minum orang banyak. Kini dibersihkanlah tangan

CUT TO.

15 .EXTERIOR/INTERIOR–ISTANA KERAJAAN ALEQ LINOQ–PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ, BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Pesta besar-besar Selama tujuh hari sesudah datangnya wangkang emas manurung, sekian pula lamanya gemuruh bunyi genderang di muara. Kini tiba hari yang ditentukan oleh To Palanroe. Keesokan paginya ketika fajar menyingsing Manurungnge Batara Guru suami-istri bangun, membasuh muka pada mangkuk putih, berkaca di muka cermin,disuguhi sirih lalu menyirih suami-istri. Matahari mulai naik, surya ada di tengah langit.

BATARA GURU :

Bangkitlah, I La Tiuleng, ringankan dirimu, Paduka Ananda, untuk memakai pakaian orang Boting Langiq.

Belum selesai ucapan Manurungnge Batara Guru suami-istri maka Batara Lattuq bangkit mengenakan pakaian orang Boting Langiq, sarung bersulam bulan bersinar dipadukan destar pelangi dan bintang berkilau,dan ikat pinggang sutera biru muda, diselipi keris emas, yang diturunkan bersama Manurungnge, serta gading dipilah dari Coppoq Meru. Maka bangkit pula semua pembesar kerajaan penguasa negeri indah dan para raja pengikut Batara Lattuq,mengenakan pakaiannya yang serasi. Kini semua sudah lengkap upacara kahyangan Manurungnge. la pun segera berdiri lalu turun, dijemput dengan usungan kemilau.

Tak lama kemudian berangkatlah usungan kemilau yang ditumpangi Manurungnge Batara Guru bersama istri dan anak, dibarengi gemuruh upacara kahyangannya. Segala macam bunyi-bunyian telah berbunyi, mereka sampai di sungai,diletakkan usungan kemilau yang ditumpangi Manurungnge Batara Guru tiga beranak.

BATARA GURU :

Engkaulah, Batara Lattuq, yang menumpangi wangkangTanete Manurung .Engkau, La Pangoriseng,yang menumpangi Banynyaq Lompae. Engkau, La Temmallureng, yang menumpangi Mariogae. Engkau, La Temmalolo, yang menumpangi La Siang Langiq. Engkau, La Tenriangkeq,yang menumpangi Belo Banawa.
Engkau, I La Lumpongeng,yang menumpangi Anging Laloe.
Masing-masing seribu orang hamba bergelang gading disertai seratus orang pendayungnya,dan tiga ratus dayang- dayang pelayannya. Sedangkan wangkang anete Manurung,seribu orang pendayungnya, sekian pula dayang-dayang pelayannya. Ribuan pelayan lelaki Luwuq, sekian pula pelayan perempuan orang Senrijawa, pembawa kipas orang Ruallette. Sementara engkau bersaudara, La Pangoriseng, satu perahu semua dengan adikmu.

CUT TO.

16 .EXTERIOR–ISTANA KERAJAAN ALEQ LINOQ–PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ, BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Maka Bergegas Batara Lattuq bersaudara berangkat menginjak tangga perahu emas, meniti cadik emas dan melangkahi baraieng gading, langsung duduk pada wangkang kemilau,dinaungi dengan payung emas.Semua saudara Batara Lattuq naik,anak perahu para pembesar,penguasa negeri yang indah sudah lengkap.
Maka orang Luwuq dan orang Wareq pun naik semua.

BATARA LATTUQ :

Kembalilah engkau Paduka Ayahanda Batara Guru dan Ibunda We Nyiliq Timoq, Anakda berangkat dulu Sri Paduka suami-istri.”

BATARA GURU :

Berlayarlah, Anakku Batara Lattuq ,setelah engkau jauh meninggalkan negerimu, Nak,barulah aku dan ibumu kembali ke Luwuq.

CUT TO.

17 .EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA GURU, WE NYILIQ TIMOQ, BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Tak menunggu waktu, Segera La Temmallureng memerintahkan untuk menegakkan tiang emas, mengembangkan layar bersulam bulan dan naga.Terkembanglah layar wangkang Tanete Manurung itu.Bagaikan pelangi dipandang mata,kembaran layar sutera dari tiang perahu yang ditegakkan.Tak ubahnya memandang bulan di tengah langit kilauan layar sutera yang dikembangkan itu, wangkang emas yang menuju keTompoq Tkaq, menerangi laut dan menyinari pinggir pantai, cahaya hiasan perahu manurung itu.

LA TEMMALLURENG :

Hai orang Selayar, mendayunglah, mengayuh juga orang orang Waniaga.”

Serentak orang Selayar itu bergerak mengayunkan dayungnya, dan orang Waniaga itu berbalik bertelekankan kayuhnya.Bagaikan orang bersamburan di lautan itu,ditimpa kayuh emas orang banyak. Bagai burung beterbangan perahu itu dibawa oleh layar serta didorong angin,dibawa oleh ombak dan ditahan oleh badai. Alangkah semarak wangkang Tanete itu dipandang mata didorong oleh Arus di atas air pergi menuju ke Tompoq Tikkaq.

CUT TO.

18 .EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG, LA TENRIULLE, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Berbilang waktu sudah Pelayaran batara Lattuq keTompoq Tikkaq bersama para pengawal.Tujuh hari telah terlewati Batara Lattuq berlayar meninggalkan Aleq luwuq ,para pengayuh tak pernah beristirahat,para nakhoda yang sangat cermat serta para juru batu yang sangat hati-hati.bergantian pergi tidur.Tujuh kelasi bersandar pada tiang memperhatikan jalannya pelayaran dan mengamati batu karang . Kini telah nampak Pujananti dan Anrobiring.Tampaknya La Tenriulle beserta rombongan telah menunggu di muara.

LA TENRIULLE :

Kur jiwamu, Paduka Batara Lattuq, Semoga Datanglahsemangat kahyanganmu. Singgahlah kemari, Wahai Paduka Batara Lattuq OpunnaLuwuq, di negerimu engkau masukkan ke Dalam perut hasil tanahmu di Pujananti.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka La Tenriule ,Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Baik sekali ucapanmu Tenriulle. hanya langit saja Diatas perkataanmu.Tetapi sangat tergesa-gesa keberangkatanku dan cepat-cepat pelayaran wangkangku.

CUT TO.

19 .EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG, LA TENRIULLE, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Meskipun bergegas namun Batara Lattuq tetap menerima Undangan La Tenriulle. Akhirnya mereka hanya menjamu Batara Lattuq di muarasungai. Tidak sampai sepemakanan sirih waktu berlalu , selesai sudah perjamuanitu. Setelah Selesai makan Batara Lattuq berlayar kembali. Sembilan hari Sembilan malam Batara Lattuq sudah berlayar, maka Batara lattuq Opunna Luwuq telah melampaui Pujananti.

CUT TO.

20 .EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG, LA TENRIUKKE, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Waktu demi waktu berlalu, Ketika fajar menyingsing keesokan paginya maka Mata Soloq telah di depan mata.Tampaknya La Tenriukkeq telah menunggu di sungai menyambut perahu emas yang ditumpangi Batara Lattuq OpunnaLuwuq. La Tenriukkeq bangkit meniti cadik emas, melangkahi barateng gading danlangsung sujud menyembah, lalu duduk di hadapan batara lattuq Opunna Luwuq.

LA TENRIUKKEQ :

Kur jiwamu, Paduka Batara Lattuq ,Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Kasihanilah aku, Opunna Luwuq, engkau singgah di negerimu di Mata Soloq, minum air tawar yang dingin, engkau masukkan ke dalam perut hasil tanahmu.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka La Tenriukkeq, Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Baik sekali ucapanmuTenriukkeq, hanya langitlah di
atas perkataanmu, tetapi daku tak singgah sekarang, sebab sangat bergegas kepergianku mencapai secepat-cepatnya Tompoq Tikkaq Tujuan pelayaranku.”

CUT TO.

21.EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG, RAJA GIMA ,LA TENRIPEPPANG, TO PANANRANG, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Waktu berlalu dengan cepatnya. Rombongan Batara Lattuq masih tetap berlayar dengan Tujuan pasti, yaitu Tommpoq Tikkaq. Tiga bulan sesudah meninggalkan Aleq Luwuq pada dini hari yang cerah Batara Lattuq tiba diGima. Keesokan harinya mereka merapatkan perahu emas tumpangannya. Kebetulan sekali La Tenritattaq Raja Gima keluar ke muara mandi beramai-ramai dengan parapengikutnya, mengelilingi sungai beserta para hamba yang bergelang emas, Raja Gima La Tenritattaq berpaling sambil memandang memperhatikan perahu emas tumpangan Batara Lattuq. Perhiasan perahu emas itu menerangi laut dan menyinari sungai.

LATENRITATTAQ :

Kur jiwamu, Paduka Batara Lattuq, Semoga Datanglah semangat kahyanganmu, Naiklah kalian semua ke darat paduka Batara Lattuq, Orang besar yang melabuhkan perahunya di muara.

Dengan bergegas segera naik semua hamba yangbergelang emas. La Tenritattaq berdiri di ujung tanjung menyambut rombongan Batara Lattuq.

LA TENRITATTAQ :

Kur jiwamu, Paduka pengiring Batara Lattuq, Semoga Datanglah semangat kahyanganmu. Memang bodoh yang bertanya, membawa kedunguan Kalau tak diberitahu. Di mana gerangan negeri tempat tinggalmu, hai orang besar yang empunya perahu emas ini? Dimana letak negeri indah tempat yang menumpangi
wangkangkencana yang dinaungi payung emas ?

TO PANANRANG :

Kur jiwamu, Paduka La Tenritattaq, Semoga Datanglah semangat kahyanganmu.Saya hambamu La Pangoriseng dari Takkebiro, La
Temmallureng dari Tanete. Perahu emas ini adalah Tumpangan adikku Batara Lattuq, putera sepupu sekalimu Yang Muncul di Busa empong, putra mahkota kesayangan Datu Manurungnge di Luwuq, berlayar mencari jodoh yang sederajatnya di Tompoq Tikkaq.

LA TENRITATTAQ :

Rupanya pemilik negeri di Ale Gima yang sedang berlabuh di negerinya, sungguh bodoh kami yang gegabah tak memperhatikannya. Kurjiwamu, Batara Lattuq, datanglah semangat kahyanganmu. Naiklah kemari di darat, Anakku, kembali ke negeri asalmu kusambut engkau dengan tari bissu ,menelusuri
pancangan bambu berhias, memasuki kampong halamanmu, kupatahkan engkau bambu emas, kuadakan untukmu kenduri besar kuundangkan opu penyabung sesamamu raja yang memerintah, duduk bersama sambil bertaruh di arena.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka La Tenritattaq ,Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Baik sekali ucapanmu, Paduka, hanya langit saja di atas perkataanmu, tetapi sangat bergegas kepergianku. Biarlah daku berlayar mencapai cita-citaku.

Maka Batara Lattuq melabuhkan wangkang emas yang ditumpanginya. Datu Gima tergesa-gesa menginjak tangga perahu kencana, meniticadik emas, melangkahi barateng gading.

BATARA LATTUQ :

Silakan duduk Paduka La Tenritattaq ,duduklah di atas hamparan Permadani emas.

Raja Gima lalu duduk di samping kemanakannya, disuguhi ratusan ikat daun sirih dan puluhan tangkai pinang.

LA TENRITATTAQ :

Kasihanilah daku paduka La Rumpang Langiq, Engkau naik ke darat Anakku, di negerimu sendiri, minum air tawar yang dingin,
engkau masukkan dalam kerongkongan hasil tanahmu di Gima.
Biarlah saya yang menanggung mahar orang Selliq pemberianmu, hadiah berupa sarung sutera merah.

BATARA LATTUQ :

Baik sekali ucapanmu, Paduka La Tenritattaq hanya langit saja di atas perkataanmu, namun kupohonkan maaf tak singgah dinegerimu. Biarlah aku berlayar menggapai cita-citaku.

La Tenritattaq Raja Gima berpaling sambil berkata kepada La Tenripeppang.

LA TENRITATTAQ :

Pergilah, La Tenripeppang menjemput inang pengasuh untuk kemanakanku sebanyak tiga ratus orang, sebanyak itu pula penghulu negeri pendampingnya, ratusan pengasuh anak orang kaya, Ambil pula hamba biasa yang banyak, serta ribuan bakul yang berisi tenunan Melayu.

CUT TO.

22.EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG, RAJA GIMA ,LA TENRIPEPPANG, TO PANANRANG, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Maka dengan bergegas LaTenripeppang segera pergi menjemput pengasuh, inang pengasuh segaharanya Batara Lattuq. Belum hancurdaun sirih itu, orang banyak berkumpul di sungai datang berjejal di pelabuhan perahu.

LA TENRITATTAQ :

Paduka Ananda Batara Lattuq, Ambillah inang pengasuh segaharamu tigaratus orang, sekian pula penghulu negeri
pendampingmu, ratusan inang pengasuh orang kaya dari Ale Gima, ribuan bakul berisi hiasan emas. Ambillah engkau, hai Anak Raja, masing-masing sepuluh orang penjaga ayam, serta sepuluh peti yang berisi tenunan Melayu.”

BATARA LATTUQ :

Ananda mohon diri pada pamanda La Tenritattaq Raja Gima.

LA TENRITATTAQ :

Pegang teguhlah semangat kahyanganmu, Paduka Ananda Batara Lattuq,Semoga tak kandas perahu emas tumpanganmu,
Dan terkabul hendaknya cita-citamu.

CUT TO.

23.EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG, TO PANANRANG, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Hanya empat puluh malam Batara Lattuq berlayar, terlampauilah Maloku. Para pengayuh tak pernah beristirahat, bergantian pergi tidur nakhoda yang tak pernah keliru ,juru mudi yang selalu waspada. Pada dini hari yang cerah mereka menghadapi Tompoq Tikkaq.

CUT TO.

24. INTERIOR –ISTANA KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ –PAGI .

(tokoh cerita : WE ADILUWUQ, WE DATU SENGNGENG , EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Keesokan harinya bangunlah anak yatim bersaudara membasuh muka pada mangkuk putih, berkaca di muka cermin, membuka cerana sambil menyirih menenangkan hatinya. We Adiluwuq dan We Datu Sengngeng membuka cerana lalu masing-masing mengambil sirih selembar. Kemudian mereka mengenakan sarung sutera pakaiannya dan mengenakan gelang emas yang melilit pada lengannya. We Adiluwuq memakai sarung sutera merah yang bersulam, dijelujur dengan ular sawah besar ,dan gambar ular panjang serta mayang kemilau yang bertaburan dibarengi bunga bintang bertebaran, bersandar pada orang bule, dan dihinggapi burung garuda.Tujuh kati dibagian bawahnya, lima kati di bagian atasnya, berselendang emas yang dipinggirnya terdapat emas tiga kati, dan gelang emas enam puluh lima buah sebelah-menyebelah.Cincin bepermata yang dituang ,kuku tiruan emas, anting-anting puluhan tahil.

We Datu Sengngeng pun mengenakan pakaiannya, sarung kemilau yang bersulam, disulami dengan motif ular sawah besar dengan gambar ular panjang serta mayang kemilau yang berhamburan,’ditaburi bungamatahari, bersandar pada orang pendek, dihiasi burung nuri berlaga, berkalungkan sutera merah, digantungi buluh emas orang Abang Lette.Terdapat tujuh kati dibahagian bawahnya, lima kati di bahagian atasnya pakaian lengkap We DatuSengngeng. Bagaikan orang Senrijawa
yang turun ke dunia, orang Toddang Toja yang muncul kebumi,
serasi benar pakaian dan kelengkapannya bersaudara. Lalu mereka duduk di selatan tangga.

WE ADILUWUQ :

Kur jiwamu, Paduka adinda We Datu Sengngeng, semoga
Datanglah semangat kahyanganmu. Palingkan wajahmu kearah
muara, lihatlah adikku We Datu Sengngeng, orang apakah gerangan yang menumpangi perahu emas itu?”

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Kakanda We Adiluwuq, semoga
Datanglah semangat kahyanganmu. Sedari tadi, Paduka daku perhatikan perahuitu. Bagaikan matahari bersinar, bak surya yang sedang merekah dipandang mata, menerangi laut dan menyinari sungai, menyinari seluruh pantai, cahaya tiang emas dan layar sutera, beserta kajangan indah tenda kemilau hiasan perahu itu, barateng gading dan Cadik emas, dayung kencana serta kalung berukir, mayang Kelapa menghiasi pengikat punggung wangkang. Berjumbai jumbai melaju ke depan, rajutan beribu hiasan layar. Dari mana Gerangan kampung halamannya mereka yang membawa layarnya berlabuh di muara?”

WE ADILUWUQ :

Dinda We Datu Sengngeng , diamlah engkau, perhatikan saja layar sutera aneka ragam itu. Kalau orang Maloku yang singgah, atau orang Buton yang berlabuh perahunya, mereka membawa burung nuri yang pandai bercakap, dan fasih berbahasa Bugis serta lancer berbahasa Jawa.Tetapi kalau orang Waniaga yang singgah dinegeri kita, mereka membawa aneka ragam permadani Melayu. Kalau Jawa Saburo yang berlabuh di Tompoq Tikkaq, mereka membawa gilingan, minyak kesturi, kemenyan Dan dupa mereka diperdagangkan. Tetapi kalau Jawa Cina yang berlabuh di negeri kita, mereka membawa tenunan Melayu serta menjual sutera gajah. Dan jika Jawa Peringgi yang melabuhkan perahu emas tumpangannya, maka menjual guci Kelling serta membawa mangkuk bertelinga. Kalau Jawa Patani berlabuh perahu tumpangannya di Sawammegga, maka mereka mengangkut senjata api serta menjual mesiu.”

WE ADILUWUQ :

Dulu adikku We Datu Sengngeng, bila yang datang berlabuh
adalah perahu emas tumpangan orang yang jauh tempat
tinggalnya, kita tinggal memilih menurut kesukaan kita aneka ragam harta benda pedagang.Tetapi bukankah tidak lagi disinggahi Jawa kaya negeri Tompoq Tikkaq, tidak lagi
menerima persembahan harta orang Selayar istana lengkap tempat tinggal kita? Dulu, sebelum padam jiwa orang tua kita suami-istri semuanya menyerahkan persembahan, pajak sungai dan cukai muara.Seandainya kita tunjukkan tempat tinggal orang dari seberang itu, kita berikan juru bahasa yang sebahasa maka mereka berjualan.Tetapi kalau mereka datang mengamati inang pengasuh untuk menyambut dan mengasuhnya, kita hormati ia dengan sutera gajah, kain yang indah.Tetapi kita, Paduka Adinda, yang dalam kesusahan dan kesulitan ini karena orang tua kita suami-istri meninggal,kerajaan tempat tinggal kita yang tak bertara
telah kehilangan nama baiknya.

CUT TO.

25. INTERIOR –ISTANA KERAJAAN ALEQ LUWUQ –PAGI .

(tokoh cerita:BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ, TENRITALUNRUQ, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Bulan berganti bulan, hari berganti hari. Tak terasaTujuh bulan sudah Batara Lattuq meninggalkan Ale Luwuq, sekian lamanya pula WeNyiliq Timoq tanpa menghiraukan lagi malam atau siang. Sekian pula lamanya tak memakan bahan makanan kesukaannya. Maka naiklah Tenritalunruq menasehatinya.

TENRITALUNRUQ :

Kur jiwamu, Paduka We Nyiliq Timoq, Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Bangunlah, Adik To Tompoq. Bukan karena kesusahan anakmu berlayar, hanya jodoh yang dilayari anakmu hingga ia meninggalkan negeri indah tempatnya dibesarkan.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka istriku WeNyiliq Timoq, semoga Datanglah semangat kahyanganmu.Di Luwuqkah engkau kehendaki ia mencari jodohnya anak kita, Adinda, sehingga kelak bangsawan
campuran yang dinaungi payung emas di Luwuq?”

Barulah kemudian We Nyiliq Timoq bangun berdiri membasuh muka pada mangkuk putih, berkaca di depan cermin, membuka cerana ema slalu menyirih menenangkan hatinya.

CUT TO.

26.EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG,TO PANANRANG,NELAYAN, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Pagi yang cerah Di Sawammegga. Ketika mentari mulai terbit, maka Opunna Luwuq tiba merapatkan perahu emas yang ditumpanginya diSawammegga, didapatinya orang sedang mencari ikan di laut, bagaikan tempurung semua lututnya, masing-masing mengenakan puluhan tanda berduka, hanya tinggal kulitnya yang mengikat sampai tak terburai ruas tulangnya.

TO PANANRANG :

Kur jiwamu, Para nelayan Sawammegga semoga Dilindungi nasibmu oleh Pattotoqe. Memang bodoh orang yangbertanya, membawa kedunguan kalau takdiberitahu. Apa gerangan nama
negeri indah yang dihadapi perahu kencana tumpanganku? Tidak kedengaran kokok ayamnya biarpun anak-anak tak seorang juga yang bermain.”

PENCARI IKAN :

Kur jiwamu, Paduka tuanku, Semoga Datanglah semangat kahyanganmu. Kutadahkan telapak tanganku, Paduka, bak kulit bawang tenggorokanku, semoga tak terkutuk daku menjawabmu. Sudah tujuh tahun, Paduka, negeri ini Ditimpa musibah meskipun diluku bagaimana pun tidak Akan menjadi panenan Sangiang Serri. Walaupun ia Pindahkan ke negeri asing, Paduka, ujung pematang sawahnya, asalkan mereka orang Tompoq Tikkaq,
Maka gagal segala yang memberi kehidupan.”

CUT TO.

27 .EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG,TO PANANRANG,LA PANGORISENG,LA SINILELE, NELAYAN, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Tak Membuang waktu sekejabpun, Maka Batara Lattuq merapatkan perahu emas yang ditumpanginya pada belat itu. Didapatinya ribuan nelayan lututnya menyerupai tempurung semua, bertumpuk tanda berduka pada lengannya.Tinggal kulitnya yang menahan maka tak terburai tulangnya.Terkejut sekali para nelayan itu.Tanpa mengikat lagi belatnya mereka naik pada sampan masing-masing kembali di atas perahu mereka.

LA PANGORISENG :

Memang bodoh orang yang bertanya, membawa kedunguan kalau tak diberitahu. Apakah gerangan nama negeri indah yang dihadapi oleh perahu emas tumpanganku?”

NELAYAN :

Semoga tak terkutuk hamba menjawabmu tuanku.Tompoq Tikkaq di sebelah barat, Sawammegga di sebelah timur, Singkiq Wero di tengah.

LA SINILELE :

Kalau boleh aku bertanya? Siapa pula nama yang dinaungi payung emas di Tompoq Tikkaq dan di Sawammegga?”

NELAYAN :

Sudah meninggal dunia raja negeri Tompoq Tikkaq, sudah pindah ke akhirat yang dinaungi payung emas di Sawammegga.Tetapi kalau, Paduka ingin meminjam ruangan di istana pergilah ke Singkiq Wero, di istana negerinya raja yang mandul perampas itu.”

TO SINILELE :

Aku ini ingin pergi meminjam ruangan di istana We Adiluwuq dan We Opu Sengngeng.”

NELAYAN

Baru hamba pulang dari istana, biarpun lantainya tak ada juga, anyaman rotan dinding istana itu sudah tak ada lagi.

LA PANGORISENG :

Apakah tidak ada anaknya raja tompoq Tikkaq Turung Belae?”

NELAYAN :

Hanya dua orang anaknya, lalu dirampas harta bendanya, dan dipindahkan kerajaannya. Hanya dua bilah lantai yang sisa untuknya, tiga batang gelegar dan tiga orang pula yang menempatinya. Jendela emasnya telahdibuka, anyaman rotan
dinding istana itu pun telah diturunkan. Maka mereka bersaudara pergi membuang diri di tempat yang jauh. Hamba tidak tahu apakah sudah kembali ke istananya.

Perasaan Batara Lattuq bagaikan diiris-iris mendengar ucapan nelayan itu.

BATARA LATTUQ :

Bagaimanakah pendapatmu, To Sinilele dan To Pananrang, bukankah hanya untuk anak yatim itu kita turunkan perahu dan kita merantau dan berlayar, padahal ia tak ada lagi kita temui.”

LA PANGORISENG :

Saya kira, Adinda, cukup baik tanda-tanda dari kokok ayam
ketika kita bersiap berlayar meninggalkan Ale Luwuq. Sembilan hari dan sembilan malam aku berbaring di permadani memintakan engkau jalan untuk dilalui, maka datanglah burung bertengger pada tiang agung berbunyi gembira dan suaranya membubung ke
langit. Tujuh malam kita dalam pelayaran saat kita sampai di Maloku, kita minum air tawar lalu melanjutkan pelayaran, meninggalkan Maloku, tiba-tiba muncul buaya mengulurkan tangan kanannya di depan perahu emas tumpangan kita. Menurut aku, Adinda, itu pertanda baik bagi kita.”

BATARA LATTUQ :

To Sinilele, berikanlah beras makanan kepada nelayan itu, masing-masing sepuluh karung. Sebab cerita baik itu pasti berpindah, Paduka, berita itu akan tersebar.”

CUT TO.

28 .EXTERIOR-PERAHU WANGKANG –PAGI HARI.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ ,LA TENRIODDANG, LA TEMMALLURENG,TO PANANRANG,LA PANGORISENG,LA SINILELE, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Kembali pagi datang menjelang.Baru saja matahari mulai merekah maka Batara Lattuq Opunna Luwuq sampai menyangkutkan cadik pada pohon padada, terbayang-bayang di pohon tuwung, menurunkan jangkar dan melipatlayar, serta mengerahkan orang yang banyak. mereka semua berlomba mendapatkan air tawar lalu mandi. Diremaskan Opunna Luwuq air langirnya. Lalu Batara Lattuq berdirI membuka sarung sutera pakaiannya, baru diremaskan daun jeruknya dan dioleskan pembersih badan kahyangannya. Segera Batara Lattuq berdiri melepaskan pakaian bahagian bawah, lalu diganti sarung basahan untuk mandi berlangir,agar dapat menghilangkan dan membersihkan bau badan serta melulurkan keringat dan dakinya.

Setelah Batara Lattuq mandi dipasangkan kembali sarung sutera pakaiannya lalu dilepaskan sarung bawah pakaian mandinya,
kemudian duduk pada ruang tengah perahu, disapukan air mandi
yang masih melekat pada pinggangnya, dikelilingi oleh pedupaan emas, diliputi oleh asap dupa,diperebutkan oleh kipas emas,
diperlagakan oleh kipas emas orang Abang Lette. Para pelayan istana datang pula turun hendak mandi. Kebetulan sekali perahu sedang berlabuh

CUT TO.

29 .EXTERIOR-ISTANA SAO LOCI –PAGI HARI.

(tokoh cerita : LA TENRIGILING, WE TENRIJELLOQ, I LA BIRAJA,GULING RIPARE, NELAYAN, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Bergegas para pelayan itu kembali lagi ke Sawammegga tergesa-gesa menuju istana sao loci We Tenrijelloq.

LATENRIGILING :

Ada apa gerangan kalian pulang tanpa mandi, hai pelayan?

PELAYAN :

Hamba datang hendak mandi, Paduka, kebetulan sekali Kami melihat wangkang berlabuh menegakkan bulu roma Dan menggetarkan badan.

LATENRIGILING :

Berangkatlah, I La Biraja, Guling Ripare, amatilah orang Yang ada dalam perahu itu.

CUT TO.

30 .EXTERIOR-ISTANA SAO LOCI –PAGI HARI.

(tokoh cerita : LA TENRIGILING, WE TENRIJELLOQ, I LA BIRAJA,GULING RIPARE, NELAYAN, EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Dengan Bergegas Maka I La Biraja, Guling Ripare berangkat bersama, turun dan berjalan lalu mengayunkan tangan cepat. Belumhancur daun sirih itu ia tiba di muara menyaksikan orang perahu itu. I La Birajatak berkata-kata apa-apa, langsung kembali ke Sawammegga menaiki tangga emas berukir memegang susuran emas, menginjak lantai papan pinang emas. Segera ia menyembah lalu duduk di hadapan La Tenrigiling.

LA BIRAJA :

Wangkang yang ada di luar, Paduka Tuanku, menegakkan bulu
roma dan menggetarkan badan.

Bergegas La Tenrigiling turun menuju ke sungai. LaTenrigiling berdiri di tepi tanjung .

LA TENRIGILING :

Kur jiwamu, Paduka tuanku ,Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Memang bodoh orang yang bertanya, membawa kedunguan kalau tak diberitahu. Dimana gerangan negeri tempat tinggalmu ? pembesar yang berperahu emas?”

LA TEMMALLURENG :

Kur jiwamu, Paduka tuanku ,Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Adikku Opunna Luwuq yang melabuhkan perahu. Dia akan menuju ke Tompoq Tikkaq meminjam ruangan. Semoga pemilik istana mengizinkannya.

LA TENRIGILING :

Siapa yang akan engkau datangi? Kalau cuma sekadar mau meminjam ruangan pergilah ke Sawammegga ke istana sao loci kediamanku.

LA PANGORISENG :

Aku dan adikku Batara Lattuq akan menuju ke Tompoq Tikkaq.”

LA TENRIGILING :

Lalu siapa yang akan kaudatangi? Bukankah anak yatim itu sudah tidak ada, mereka pergi membuang diri di tempat yang jauh. Dan seandainya jodoh yang kaulayari, masih ada kemanakanku, We Tenripau namanya, Daeng Palennaq gelarnya, anak kemanakan
yang aku cintai.

LA PANGORISENG :

Bukan We Tenripau yang dipikirkan Batara Lattuq Opunna Luwuq, bukan pula Daeng Palennaq yang diinginkan adikku. Bukan itu yang menyebabkan ia pergi berlayar. Biar saja sampai matahari terbenam rembang senja, menunggu jodohnya anak kemanakanmu, WeTenrijelloq, sebab bukan dia yang dipikirkan oleh raja Batara Lattuq adikku.”

CUT TO

31 .EXTERIOR-ISTANA SAO LOCI –PAGI HARI.

(tokoh cerita : LA TENRIGILING, WE TENRIJELLOQ, WE MADDETTIA, UNGA WE MAYANG , EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Tak menunggu waktu lagi,La Tenrigiling kembali lagike istananya, menginjak tangga emas berukir, memegang susuran kemilau, menginjak lantai papan pinang terus masuk, didapatinya We Tenrijelloq sangat bersedih La Tenrigiling masuk duduk di samping istrinya.

WE TENRIJELLOQ :

Unga We Majang, pergilah memanggilkan aku We Maddettia.

Dengan bergegas Pelayan itu bangkit lalu pergi, berjalan bergegas sambil mengayunkan tangan dengan cepat. Belum lagi hancur daun sirih itu, ia sampai di istana tempat tinggal We Maddettia, menginjak tangga emas berukir, melangkahi ambang pintu, menginjak lantai papan pinang kemilau langsung masuk.

WE MADDETTIA :

Marilah kemari, Unga We Majang ,duduk di atas permadani. Apa gerangan yang diperintahkan kepadamu oleh pemilik istana sao loci emas itu?”

UNGA WE MAJANG :

Engkau dipanggil Sri Paduka pemilik istana sao loci pergi ke istana.”

CUT TO

32 .EXTERIOR-ISTANA SAO LOCI –PAGI HARI.

(tokoh cerita : LA TENRIGILING, WE TENRIJELLOQ, WE MADDETTIA, UNGA WE MAYANG , EXTRACT.)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo ).

Dengan bergegas We Maddettia berangkat berjalan mengayung tangan dengan cepat. Belum lagi hancur daun sirih itu, maka ia sampai memasuki pagar istana, menginjak tangga berukir, memegang susuran kemilau, naik ke atas menginjak lantai papan pinang emas, langsung masuk melewati dinding tengah melangkahi sekat istana.

WE TENRIJELLOQ :

Kemarilah, We Maddettia, duduklah engkau di atas permadani emas.”

We Maddettia segera duduk di hadapan WeTenrijelloq. disuguhi
sirih lalu menyirih.

WE TENRIJELLOQ :

Menyirihlah, Puang Matoa, lalu lihatlah di Dalam tenunanmu, apa gerangan maksud Opunna Wareq membawa perahu dan berlayar menuju ke Tompoq Tikkaq?”

We Maddettia berpaling lalu melihat di dalam tenung dan menyebutkan ramalannya.

WE MADDETTIA :

Ampun paduka Tuanku We Tenrijelloq.Rupanya anak yatim akan bertemu jodohnya.”

We Tenrijelloq sangat kaget mendengar ramalan Puang Matoa, tapi tak Nampak diraut mukanya. We Tenrijelloq hanya termenung mendengarkan ucapan We Maddettia itu.

( closing illustrasi music etnis )

CUT TO.

BERSAMBUNG KE EPISODE V.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: