skenario film i la galigo episode VII

VII. NASKAH SKENARIO FILM SERIAL I LA GALIGO EPISODE 7

( Episode. MANURUNGNGE KEDATANGAN MENANTU)

Naskah/Skenario: Dr.Syahriar Tato.
Supervisi : Prof. Nurhayati Rahman.

(Adabtasi skenario film oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan II ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

01.BGT.

Opening Cuplikan adegan yang dianggap menarik, menjadi latar belakang nama-nama pekerja film dan artis utama, diiringi lagu Theme Song I La Galigo hingga title selesai.

Fade out.
Fade in.

02. INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU,WELLONG TALAGA,APUNG RI TOJA,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Pagi menjelang Di Aleq Luwuq, Ketika fajar menyingsing ,Batara guru suami-istri bangun membasuh muka pada mangkuk putih, berkaca di depan cermin, membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya. Setelah itu Batara guru berdiri bergandengan tangan suami-istri kembali menuju ke bilik peraduan. Ketka itu bergegas Masuk Welong Talaga bersamaan Apung ri Toja kedalam menyibak tirai manik emas sehingga buli-buli emas kemilau bersentuhan, jumbai janur emas bergetaran.

WE NYILIQ TIMOQ :

Siapa gerangan pelayan yang tak mengindahkan larangan menginjak bilik emas tempat tidurku sampai buli-buli emas bersentuhan anyaman berjumbai yang mengelilingiku bergetaran? Tampaknya ia ingin menjatuhkan martabatku.

WELONG TALAGA :

Kur jiwamu, Paduka We Nyiliq Timoq suami-istri , Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Kutadahkan telapak tanganku, Paduka, bak kulit bawang.tenggorokanku,semoga tak terkutuk hamba menjawabmu.Saya hambamu Welong Talaga dan Apung ri Toja yang menemanimu muncul di dunia, bersamamu menjelma di Watang Mpareq.Anak kita Batara Lattuq suami istri telah datang kemari Paduka, melabuhkan perahu di muara. Kampung manakah yang seharusnya didatangi hambamu We Datu Sengngeng? Negeri indah yang mana pula yang diberikan kepada pengantin perempuan itu?”

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu Paduka Wellong Talaga ,Semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu .Seharusnya bukan saya yang menyebutkan pemberian pada menantu kemanakan yang datang ?merapatkan diri di Aleq Luwuq,mengisi balairung di Watang Mpareq.Apakah ada negeri yang indah kubawa muncul kecuali Watang Mpareq, kampong sangiang yang kudatangi, lalu kuisi orang yang banyak? Setelah Batara Lattuq lahir, barulah daku berhak memerintah di Aleq Luwuq, mengepalai duduk beradat di istana sao denra manurung.Sri Paduka Manurungnge yang kauberitahukan, supaya beliaulah yang memberikan hadiah pada menantu kemanakannya, negeri indah mana nanti yang akan diberikan kepada We Datu Sengngeng.

CUT TO.

03. INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU, APUNG TALAGA,WELLONG RI TOJA ,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Belum selesai ucapan We Nyiliq Timoq keduanya bergegas berangkat pindah tempat ke bilik kemilau yang ditempati berbaring Batara Guru Manurungnge,menyibak janur emas dari Sappe Ileq yang mengelilingi Manurungnge.Lalu Apung Talaga dan Welong ri Toja duduk.

BATARA GURU :

Siapa gerangan orang yang menginjak bilik kemilau?

APUNG TALAGA :

Kur jiwamu, Paduka Batara Guru ,Semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu. Kutadahkan telapak tanganku, tuanku ,bak kulit
Bawang tenggorokanku,semoga tak terkutuk hamba menjawabmu, raja sangiang orang Boting Langiq. Ada di luar, Sri Paduka suruhan terpercaya anak kita penguasa kerajaan di Aleq Luwuq.Di muara telah berlabuh wangkang emas tumpangan hambamu I La
Tiuleng.Negeri indah yang mana gerangan yang akan ditunjukkan
untuk didatangi hamba We Datu Sengngeng?Siapa pula yang Paduka tunjuk Untuk Mewakilimu menuju ke muara? Tuanku, negeri indah mana yang akan kauberikan hambamu We Datu Sengngeng?”

BATARA GURU :

La Pangoriseng bersaudara yang mewakiliku keluar ke muara, menyebutkan hadiah yang banyak pada pengantin wanita itu. Ikut pula bersamanya para anak raja yang berpayung emas memberi hadiah yang banyak kepada We Datu Sengngeng.Kauberikan tujuh negeri yang ditempati ratusan gudang tempat menyimpan harta kekayaanku tempat menimbun segala persembahan.Hamba Jawaku yang akan memberikan pengganti pinang sekerat,penukar daun sirih selembar,ribuan hamba dewa yang diturunkan To Palanroe .Sekian pula peti emas yang ditempati pakaian indah dari Saung Langiq, sekian pula peti kilat berisi alat upacara dari Saung Langiq,agar We Datu Sengngeng mau meringankan badan datang ke negerinya.”

CUT TO.

04. INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU, APUNG TALAGA,WELLONG RI TOJA ,LA TENRI EMPENG,TO TENRILEKKEQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Belum selesai ucapan Manurungnge Welong Talaga dan Apung ri Toja berangkat menuju ke depan lalu duduk di samping Daeng Samana, bersamaan berdua berkata,

WELLONG TALAGA:

Batara Guru berkata, La Pangoriseng bersaudara mewakiliku Menyerahkan hadiah yang banyak pada pengantin wanita itu,
memberikan tujuh negeri, supaya ia mau meringankan badan mendatangi negerinya.

LA TENRIEMPENG :

Berapa banyak pembesar kerajaan dari Lauq Sadeng yang mengantar kemari ananda yang berpayung emas itu?

TO TENRILEKKEQ :

Semoga tidak terdengar hendaknya anak menantu kesayangan kita,meluncur bak jarum tak bersampul kemari pengantin itu, hamba lelaki sekali pun tak ada yang mengiringinya.Hanya sepuluh orang pembesar kerajaan yang datang mengantarnya ke sini.Kesemuanya itu adalah sepupu sekalinya Sri PadukaTurung Belae.Ada pun pengasuh yang menyertainya ada pembawa cinaga gading tumpuq kadidi yang beribu. tettillaguni dan anaq beccing.Kakaknya yang Menjaga nama baiknya yang diwariskan kepada adiknya hingga banyak orang yang meramaikannya. Sekiranya kecantikan yang engkau cari pada menantu Kita tak ada yang dapat dicela dari bentuk tubuhnya. sepadan raut muka dan perawakannya.Tidak selobang jarum pun yang dapat kucela pada perawakannya yang gemulai anak yatim itu,pada wajahnya yang ayu We Datu Sengngeng.Kalau kemuliaan yang engkau tanyakan lepas segala dari genggamannya harta benda warisan lengkapnya Hanya dua batang gelegar dan tiga bilahan bambu untuknya bertiga dengan inang pengasuh segaharanya.Cecak berlari sekalipun, tak akan kita temui di istananya,dan telah dibongkar anyaman rotan dinding istana yang ditempatinya,dibuka semua istana tempat tinggalnya.Kamilah yang mengerjakan lantainya.
memasanginya dinding yang kukuh,mengalasinya dengan
permadani untuk kami duduki, kami naikkan harta benda,kekayaan yang tak terhitung.

CUT TO.

05. INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU, APUNG TALAGA,WELLONG RI TOJA ,LA TENRI EMPENG,TO TENRILEKKEQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Tanpa sengaja ucapan To Tenrilekkeq terdengar Manurungnge suami-istri. Bagaikan awan berarak air mukanya. Dengan marah ia berkata,

BATARA GURU :

Berani benar engkau semua berkata-kata,wahai anak raja pendamping, bangsawan tinggi pengapit.Bagaikan tak ada langit di atasmu.Tidakkah engkau dengar ia yang dimurkai oleh dewa? Apakah memang engkau tidak diberitahu kemauan To Palanroe?
Maka hartanya dirampas, kerajaannya dipindahkan,dibuka gelang emas yang melingkari lengannya.Cincin emas yang ada di jari manisnya dilucuti,dihabiskan orang pilihan bawahannya inang pengasuhnya nan beratus. Dibuka dinding rotannya istana lengkap tempat tinggalnya. Memang bukan kekayaannya yang tak terhitung anak yatim itu yang kuingini, bukan pula kerajaannya Turung Belae kuharapkan dilayari oleh sibiran tulangku.Sebab sejak di Boting Langiq sudah dipertemukan Jodohnya ,ditetapkan oleh I La Patotoq di Boting Langiq tak ada raja yang berdarah putih di Luwuq,sedang aku tak mau diganti oleh darah campuran, saya tak ingin raja yang dinaikkan untuk dinaungi payung emas di Aleq Luwuq,tiada raja yang sama derajatnya di Wareq.Karena itulah ia merantau jauh, melayari sesamanya di Boting Langiq
dan sesama tempatnya di Peretiwi.”

CUT TO.

06. INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU, APUNG TALAGA,WELLONG RI TOJA ,LA TENRI EMPENG,TO TENRILEKKEQ,TO TENRIAKKEQ,WE SAUNG RIUQ,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Bagaikan orang yang disihir anak raja pendamping,semua penghuni istana itu tidak berani berkata-kata mendengar ucapan Manurungnge.

WE NYILIQ TIMOQ :

Kembali riwayatku berulang pada anak menanti kemanakanku, tak
membawa kerajaannya mengikut kemari ke Aleq Luwuq,We Datu
Sengngeng telah mewarisi takdir di Peretiwi, raja miskin yang tak ada kerajaannya.”

BATARA GURU :

We Nyiliq Timoq Paduka istriku tercinta, janganlah hal itu menjadikan perasaanmu tersinggung akan ucapan kurang baiknya anak raja pendamping. Adakah gerangan, Paduka Adinda, adakah duanya Batara Lattuq raja pengganti di Aleq Luwuq dinaungi payung emas di Watang Mpareq?”

We Datu Sengngeng tak berhenti bergerak dari duduknya. Berkedip mata ibu La Pangoriseng, yang melahirkan La Temmallollong, menunjuk ke peta dalam. Bagaikan burung saja bicaranya Sang Paduka,hanya mulutnya yang kelihatan bergerak , tak kedengaran suara ucapannya.

TO TENRIANGKEQ :

La Palippui bersaudara sudah datang, dan besok La Rumpang Mpoba juga akan datang, demikian pula La Mappapellung dari Coppoq Meru, semuanya datang beriringan suami-istri.Ada juga La Jawa Paseq dari Sawammegga, laki-laki yang memperistri We Jampu Cina ,pembesar kerajaan di Uluwongeng. Kesemua itu
adalah paman anak yatim itu, kesemua itu adalah sepupu sekali Paduka Turung Belae suami-istri.”

WE SAUNG RIUQ :
Banyak juga yang kudengar pembesar kerajaan orang Tompoq Tikkaq yang mengantarnya kemari. Agaknya engkau ingin saja mendengar ucapan Manurungnge yang kurang baik.”

Tiada menyahut Daeng Samana, tiada jawaban sepatah kata pun To Tenrilekkeq.

WE NYILIQ TIMOQ :

Paduka Apung ri Toja dan Welong Talaga, perintahkan membawakan kain sutra jemputan Puang Matoa. Suruh pula memanggil anak raja pendamping, bangsawan tinggi di Watang Mpareq agar semua berkumpul di muara menjemput sibiran tulangku.”

APUNG RI TOJA :

Baiklah paduka tuanku We Nyiliq Timoq, Setelah hamba naik
barulah semua anak raja pendamping berkumpul di sini.”

CUT TO.

07. EXTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU, APUNG TALAGA,WELLONG RI TOJA ,LA TENRI EMPENG,TO TENRILEKKEQ,TO TENRIAKKEQ,WE SAUNG RIUQ,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Di halaman Kerajaan Aleq Luwuq ,kini penuh orang banyak yang sudah berdiri berjejeran menunggu To Tenriangkeq memerintahkan menghampari permadani di bawah pohon asam lalu dilapisi dengan kain sutera tenunan Melayu tempat berpijaknya pengantin wanita itu sampai di luar di muara. Diturunkanlah usungan gading tumpangan penghuni balairung manurung, pendamping raja yang muncul,lalu dililiti dengan permadani sutra orang Toddang Toja, dinaungi dengan kain wajang mpatara, dianyami ikatan emas, digantungi gelang emas, diuluri kain jemputan emas berpilin. Kini sudah turun dayang-dayang pengiring, hamba dewa manurung,juga anak raja bangsawan kapit serta bangsawan raja pendamping.
BATARA GURU :

We Saung Nriuq, We Lele Ellung, Welong Talaga, Apung ri Toja, To Jabiara, pergilah ke muara beriringan dengan anak raja pendamping sebagai pengganti diriku menyambut kur semangat pengantin wanita itu, berilah negeri sebagai hadiah bagi We Datu Sengngeng.Tujuh negeri kauberikan kepada pengantin wanita itu, kau berikan tujuh negeri We Datu Sengngeng, pengganti pinang sekerat, penukar daun sirih selembar, agar sudilah ia meringankan badannya untuk memasuki negerinya, ia tempati istana emas manurung,dan dialah yang empunya balairung pada istana sao denra manurung.

CUT TO.

08. EXTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU, APUNG TALAGA,WELLONG RI TOJA ,LA TENRI EMPENG,TO TENRILEKKEQ,TO TENRIAKKEQ,WE SAUNG RIUQ,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan bergegas ,Maka We Saung Nriuq, We Lele Ellung,Apung Talaga, To Jabiara bangkit diiringi dayang-dayang, diramaikan oleh hamba dewa langsung turun lalu duduk di atas usungan gading, dinaungi payung emas. Ribuan banyaknya usungan gading dipersiapkan tumpangan anak raja pendamping untuk barisan depan.Sekian pula di barisan belakang usungan emas tumpangannya ibunda La Pangoriseng bersaudara. Bagaikan air mengalir barisan orang banyak di Ale Luwuq pergi menjemput di muara. Bagaikan danau yang meluap payung emas yang menaungi pembesar kerajaan yang wanita, bangsawan tinggi perempuan, didahului oleh tarian alosu emas, dan sabungan arumpigi emas.Puang Matoa di depan yang kesurupan lalu menari bissu, gemuruh kedengaran suara upacara kahyangan sebagai tanda kedewaan orang besar itu, hingga tiba di luar muara,berkumpul di pelabuhan perahu Orang banyak tak saling memberi jalan untuk dilewati, tak saling memberi tempat untuk berdiri. Bunyi genderang berdengung di pelabuhan perahu,

CUT TO.

09. EXTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – PAGI HARI.

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU, APUNG TALAGA,WELLONG RI TOJA ,LA TENRI EMPENG,TO TENRILEKKEQ,TO TENRIAKKEQ,WE SAUNG RIUQ,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan gemulai beralunlah Puang Lolo, menari pula para bissu, menarikan alosu emas dan mengadu arumpigi, saling memperlagakan tellotali,menyambut doa dewa pengantin wanita itu. Maka Batara Lattuq sampai melabuhkan perahunya di muara sungai.

Perahu-perahu yang ditumpangi para penguasa dari negeri yang
indah tak saling memberi jalan untuk dilewati Dengan Saling berebutan masuk melabuhkan perahu-perahu pengiring nan anggun wangkang tumpangan orang banyak pelapangkaru dan binanong. Serentak semua orang banyak bergerak merebahkan tiang, melipat layar, menurunkan jangkar dan mengumpulkan para pengikutnya. Sebab memang telah dipersiapkan jajaran menrawe tempat yang dilewati pengantin.Bagaikan tebing yang miring
jejeran para penguasa yang menjemput.Maka usungan diletakkan. We Saung Riuq, We Lele Ellung Apung Talaga, To Jabiara berangkat menapaki tangga perahu meniti di atas cadik, melangkahi barateng gading. Didapatinya We Datu Sengngeng berbaring sembari menutup kepalanya dengan sarung
mengalirkan air mata kerinduannya pada saudara pengganti ibunya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Inangda dan paduka orang besar ,Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Kemarilah, tuanku, duduk
di atas permadani emas.”

Dengan tak menunggu waktu lama lagi, Maka duduklah ibu La Pangoriseng serta orang yang melahirkan La Temmallureng, juga ratu ibunya I La Lumpongeng dan yang melahirkan La Temmallollong. Opunna Luwuq sendiri menyuguhinya cerana emas.
BATARA LATTUQ :

Ambillah daun sirih dan pinang. Ini sajalah dahulu yang engkau
Menyirih Inangda, sirih yang ada pada ceranaku. Setelah bangun
ratu anakmu yang memiliki istana emas barulah engkau menyirih
dari sesamamu wanita.”

Tergesa-gesa ketiganya menerima sirih dari anaknya. We Datu Sengngeng bangun duduk. Batara Lattuq berpaling sambil berkata pada perempuan sepupu sekalinya,

BATARA LATTUQ :

Inilah Paduka Adinda We Datu Sengngeng, ibu-ibu yang bukan
melahirkanku, ibu kakak kita La Pangoriseng, melahirkan La
Temmallureng, ibunya La Tenriesaq dan La Temmallollong. Mereka, Adikku, adalah penghuni istana Paduka Manurungnge, mereka mewakili Paduka Manurungnge suami-istri.”

Segera saja We Datu Sengngeng sendiri menyuguhi sirih lalu menyirih ibu yang bukan melahirkannya. Bergegaslah ketiganya mengambil sirih pada anaknya bersamaan mereka berkata,

WE SAUNG NRIUQ :

Kur jiwamu, Paduka Anakku,semoga datanglah semangat
kahyanganmu mutiara bilik orang Tompoq Tikkaq,hiasan istana di
Aleq Luwuq. Masuklah ke Negerimu. kemarilah ke bagian tengah
istanamu. Kamilah yang mewakili Paduka Manurungnge suami-istri mengantarkan engkau hadiah.Tujuh negeri diberikan kepadamu pemberian Paduka suami-istri ,agar engkau datang ke negerimu mewarisi istana emas manurung. Engkau diberi pula tujuh negeri indah oleh para penguasa yang mengiringi pengantin sebagai pengganti pinang sekerat, pengganti daun sirih selembar,sudilah engkau meringankan badanmu ,engkau menuju ke Aleq Luwuq.
Ibu La Pangoriseng kembali berkata, serentak semuanya berkata ibu yang bukan melahirkan Batara Lattuq,

IBU LA PANGORISENG:

Paduka Ananda We Datu Sengngeng, ringankanlah dirimu kita
berangkat ke negerimu.Jangan engkau tinggal saja di sungai
diembus angina dan diterpa bayu. kurang pantas dipandang mata.Engkaulah permata bilik akan menerima hadiah yang banyak, engkau anak yang tiada duanya dari Batara Lattuq yang pernah menetap dalam rahimnya.Yang Muncul di Busa empong. Engkau adalah hiasan tunggal, di istana sao denra .

CUT TO.

10. INTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

We Datu Sengngeng tiada menjawab, tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya tunduk saja mengalirkan air matanya yang bercucuran mengenangkan kemalangan nasibnya. Saat itu Batara Lattuq berpaling menghapus air mata istrinya yang bercucuran.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Datu Sengngeng , semoga
Datanglah semangat kahyanganmu, Kasihanilah aku duhai permata bilik orang Aleq Luwuq, hiasan istana di Watang Mpareq,
tenangkanlah hatimu, engkau ringankan badanmu kita masuk ke negeri kita, engkaulah pewaris tunggal Sri Paduka suami-istri.”

Sekali lagi We Datu Sengngeng cuma membisu. We Datu Sengngeng tiada menjawab tidak mengucapkan sepatah kata pun pada suami yang menuruti rayuannya yang tak menolak segala keinginannya.Tak sedikit pun berubah, terus saja mengalir air matanya yang bercucuran. Batara Lattuq kembali berpaling sembari membelai-belai istrinya dan menghapus air matanya yang bercucuran serta merayunya dengan hadiah yang banyak. Tiga kali Opunna Luwuq mengajaknya, tak juga bergeming hati We Datu Sengngeng akan rayuan itu bukanlah harta benda yang ada dalam hatinya.

WE DATU SENGNGENG :

Paduka Kakanda Batara Lattuq, Bukan hadiah yang kuidamkan
Opunna Luwuq, aku tak rakus pada harta. Mengapa aku mesti
mengharapkan harta padahal aku ke sini tak membawa apa-apa,
tiada pula kerajaanku ikut engkau tahu dewa telah menyiksaku tiada duanya.Tak kupeduli akan putus perkawinan kita, Opunna Luwuq,atau semakin erat takdir kita, aku tak akan Berangkat karena yang kutunggu adalah Paduka Manurungnge suami-istri. Kalau bukan beliau sendiri yang datang, Sri Paduka Batara Guru suami-istri menjemput orang yang ke Luwuq, aku seperti daun dibawa angin saja jikalau tak mau Sri Paduka Manurungnge suami-istri mengurangi kemuliaanNya turun ke muara sungai, mempersilakan aku naik ke rumah, biarlah aku pulang dengan sampan kau kembalikan aku ke negeriku. Walaupun aku ratu yang sengsara, miskin dan yatim piatu, tiada tempatku mengadu aku tidak mau dianggap rendah pun tidak mau turut mengharapkan. Karena begitulah pesan kakakku ketika aku bersiap mengikutimu menuju Luwuq, aku tidak mau direndahkan kemuliaanku oleh datu manurung di Luwuq. Sebab sederajat juga kedudukan ibundaku di Boting Langiq ,sama pula derajatnya di Peretiwi, lalu dijelmakan di bumi dan dijodohkan oleh To Palanroe.Sri Paduka ayah bundaku adalah orang kaya lalu hartaku dirampas dan kerajaanku dipindahkan.”

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, hiasan istana orang Sawammegga ,Semoga datanglah semangat kahyanganmu, permata bilik di Singkiq Wero. Paduka Istriku janganlah mengulang ucapanmu itu tak seorang pun ratu yang kekurangan yang dijelmakan oleh To Palanroe.”

CUT TO.

11. INTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANGORISENG,LA TEMMALLOLLONG,WELLONG TALAGA)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

We Datu Sengngeng sangat gundah gulana atas penyambutan ini.We Datu Sengngeng menghempaskan diri lalu berbaring membungkus kepala dan kakinya menginjak ujung sarungnya, berlinang-linang air matanya mengenang negeri indah tempat tinggalnya di Tompoq Tikkaq.

BATARA LATTUQ :

Pergilahlah kembali ke Istana Paduka Kakanda La Pangoriseng dan La Temmallollong, sampaikan pada Paduka Batara Guru Manurungnge suami-istri, Kalau bukan tuanku manurung sendiri keluar ke muara menjemput hambamu, Paduka We Datu Sengngeng, biarlah dia kembali ke Tompoq Tikkaq dan menyerahkan payung emasmu tak dibawanya sebagai warisan, biarlah tak ubahnya tapak tangan tersapu pada kerajaanmu mendatang, karena ditinggalkan oleh putera mahkotamu.

To Pananrang dan To Sinilele mengiakan ucapan raja adiknya. Dan tanpa menunggu waktu lama lagi, mereka bergegas kembali ke Istana Aleq Luwuq.

WELLONG TALAGA :

Biarlah aku naik Paduka Ananda Batara Lattuq, mengiringi para
bangsawan pendamping menjemput Sri Paduka Batara Guru suami-istri.”

CUT TO.

12. INTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANGORISENG,LA TEMMALLOLLONG,WELLONG TALAGA)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, Welong Talaga berangkat naik ke darat diantar usungan emas, dinaungi payung emas,diiringi dayang-dayang dan para penguasa. Maka La Pangngoriseng bersaudara berangkat pindah duduk pada lantai perahu .langsung duduk di dekat pintu bilik emas yang ditempati We Datu Sengngeng.

LA PANGORISENG :

Kur jiwamu, Paduka Adikku We Datu Sengngeng, semoga datanglah Semangat kahyanganmu, putri hiasan istana orang Sawammegga, permata bilik orang Singkiq Wero. Ambillah tujuh negeri yang ada lengkiang banyak dari Manurungnge, yang di dalamnya penuh sesak harta Sri Paduka pengganti pinang sekerat, penukar selembar daun sirih.Tenangkan hatimu masuklah ke negerimu. Jangan ringgal di muara sungai diembus angin, diterpa bayu nanti engkau dihinggapi perasaan yang tak enak, Paduka. Ribuan hitungan peti kemilau, tempat menyimpan emas murni orang Wawo Unruq sebagai ucapan selamat atas kedatanganmu, ringankanlah badanmu,kita menuju ke istanamu.”

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Kakanda La Pangoriseng ,semoga datanglah
Semangat kahyanganmu.Kakanda bukan hadiah yang kuidamkan,
bukan pula harta benda yang kudambakan. Engkau tahu kemiskinanku, Kakanda, semua keinginanku hilang di Tompoq Tikkaq. Engkau pun telah menyaksikan semua, hai anak bangsawan Luwuq. Engkau juga telah mengetahui pesan ratu kakakku We Adiluwuq ketika engkau semua datang di istana saat aku menuju merantau ke Aleq Luwuq. Demikian ucapannya, Duhai, We Datu Sengngeng,engkau akan pergi merantau ke Aleq Luwuq kalau engkau telah sampai di Watang Mpareq tanpa menyaksikan sendiri datu manurung suami-istri di Luwuq menuju
ke muara menjemputmu masuk ke negerinya. jangan sekali-sekali
engkau mendarat, kembalilah engkau ke negeri kemiskinanmu, ke
wilayah kekuasaanmu. Karena sama derajatnya negeri di Aleq Luwuq dan di Tompoq Tikkaq, sama pangkatnya Wareq dengan Sawammegga tak ada bedanya antara Singkiq We’re dan Sabbang Mparu. Sama derajatnya pula ukuran kemuliaannya Sri Paduka di Boting Langiq lalu diturunkan ke dunia. Setinggi juga payung Emasnya yang melahirkan kita di ToddangToja, lalu dimunculkan ke mari ke Kawaq.Itulah yang selalu mengganggu hatiku, karena aku sangat berhati-hati dan takut pada saudaraku yang tak ubahnya ibundaku.”

Mendengar ucapan We Datu Sengngeng, La Pangoriseng bersaudara tunduk tersenyum membenarkan dalam hati ucapan ratu adiknya.

LA PANGORISENG :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng, semoga datanglah Semangat kahyanganmu. Jangan demikian ucapanmu sekolong langit sepetala bumi telah memaklumi sama pangkatnya negeri di Aleq Luwuq dan di Tompoq Tikkaq, sama derajatnya Sawammegga dan Watang Mpareq, masih sepupu sekali manurung di Ale Luwuq dengan manurung di TompoqTikkaq.Yang menjelma di Watang Mpareq dan yang menjelma di Sawammegga bersepupu sekali. Paduka Datu Palingeq diToddang Toja dan Patotoqe di Boting Langiq juga masih bersaudara. Keduanya menempatkan tunasnya di bumi memerintah negeri atas namanya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Datu Sengngeng, semoga datanglah Semangat kahyanganmu, sebabnya aku berlayar ke Tompoq Tikkaq karena tak ada yang sederajat denganku di daerah lain yang dapat diterima oleh Sri Paduka Batara Guru suami-istri Untuk mengganti kemuliaannya, itulah sebabnya aku berlayar ke Tompoq Tikkaq. Kakanda La Pangoriseng, kalau saja Sri Paduka Batara Guru suami-istri tak mau meringankan badannya keluar ke muara sungai, menjemput menantu kemanakannya, aku pun tak akan mau naik ke rumah.
Biarlah aku juga kembali ke Tompoq Tikkaq. Aku biarkan kemuliaannya, biar saja kehilangan semua pakaian, aku kembali ke Tompoq Tikkaq.”

WE DATU SENGNGENG :

Tinggal saja Suamiku Batara Lattuq Opunna Luwuq, di kerajaan
Kebesaranmu biarlah aku sendiri kembali ke daerah kemiskinanku
ke kerajaan kekuasaanku.

BATARA LATTUQ:

Pergilah Kakanda To Pananrang dan Kakanda To Sinilele, beriringan La Tenripeppang dan La Makkarodda, sampaikan saja kepada Paduka Manurungnge suami-istri, anakmu suami- istri akan kembali ke TompoqTikkaq apabila engkau tak mau mengurangi kemuliaanmu untuk keluar menjemput keturunanmu, dia tak akan membawa warisanmu, dia juga akan meletakkan kerajaanmu, tak melayarkan wangkang emas tumpanganmu dia akan kembali ke Sawammegga.

CUT TO.

13. EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU,LA PANGORISENG,TO PANANRANG,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Tidak menunggu Waktu lagi ,Belum selesai ucapan I La Tiuleng Batara Lattuq maka La Pangoriseng bersaudara berangkat meniti di atas cadik emas, melangkahi barateng gading, naik mendarat di pelabuhan beriringan rombongan ribuan banyaknya,terus-menerus melalui negeri, berjalan melewati negeri indah,melalui pekarangan istana, naik ke tangga emas berukir, memegang susur kemilau emas, berpintal mayang kelapa dari Limpo Bonga,melangkahi ambang pintu emas,menginjak lantai papan pinang kemilau, terus masuk melalui dinding tengah,melangkahi sekat istana. Didapatinya Manurungnge Batara Guru suami-istri duduk berdampingan di atas peterana istana.To Pananrang bersaudara langsung duduk pada ujung permadani emas di hadapan Manurungnge.

TO PANANRANG :

Kur jiwamu, Paduka Batara Guru suami-istri , Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu. Adapun yang diperintahkan adikku yang
menguasai negeri taklukan di Watang Mpareq,Bukan harta benda,
yang ditunggu pengantin wanita, bukan kerajaan yang dinanti hambamu si yatim itu, la tinggal di muara sungai karena Sri Paduka Batara Guru suami-istri sendirilah yang diharapkan adikku suami-istri datang keluar untuk menjemput Paduka adikku Batara Lattuq suami-istri. Andaikata engkau, Paduka,tak berkeinginan turun ke sungai, adikku suami-istri akan kembali lagi ke Tompoq Tikkaq tanpa membawa warisanmu, juga akan ditinggalkan nya tahta kerajaanmu, tak akan berlayar dengan perahu emas tumpanganmu.

CUT TO.

14. EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU,LA PANGORISENG,TO PANANRANG,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Maka yang dijadikan tunas di dunia tersenyum mendengar ucapan keturunannya.Batara Guru Manurungnge berpaling sambil berkata pada Istrinya We Nyiliq Timoq yang bersamaan dengannya datang ke dunia,

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka We Nyiliq Timoq istriku ,Semoga Datanglah semangat kahyanganmu, Ringankanlah dirimu, We Datu Tompoq kita menjemput keturunan kita. Siapa lagi yang akan dituruti rayuannya kalau bukan Batara Lattuq suami-istri. Sebab dialah yang diharapkan oleh rakyat dinaungi payung di Aleq Luwuq, akan berkuasa di Watang Mpareq menerima upeti yang berpeti banyak sekolong langit dan sepetala bumi.Selama muncul ke dunia, belum pernah engkau berkunjung ke muara, menampakkan diri untuk dilihat orang dan disaksikan oleh orang luar pada pelabuhan perahu.”

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu, Paduka Suamiku Batara Guru, Semoga Datanglah semangat kahyanganmu. Kenapa Sial benar aku karena I La Tiuleng raja atau bukan raja, barulah dia yang menurunkan derajatku menghina kedudukanku, aku tak sudi tinggal menunggu dipandang dan diamati oleh orang luar, kenapa saya yang diharapkan keluar ke muara? Merajuk benar nian We Datu Sengngeng pada suami sederajatnya, sombong benar pada mertua bibinya, berkata yang tak boleh dibantah. Jangan dia
mengira dirinya keturunan Iangit yang menjelma lantas aku
menuruti kemauannya dan rayuannya Batara Lattuq. Selama aku
menjelma di dunia meninggalkan negeri indah tempatku dibesarkan tak pernah aku keluar ke muara, kecuali pada saat berangkatnya Batara Lattuq berlayar ke timur menuju Tompoq Tikkaq, aku keluar ke muara sungai.

Mendengar rajukan istrinya, Batara Guru Tersenyum saja Dewa yang menetas di bambu betung, Batara Guru menjawab ucapan dewi cantik yang dicintainya.

BATARA GURU :

Benar sekali ucapanmu,Paduka Adinda tak satu pun perkataanmu yang kusalahkan.Tetapi biarlah kali ini kita turuti kehendak keturunan kita. Adakah gerangan duanya I La Tiuleng, yang pernah mendekam di dalam perutmu?Tigakah gerangan putera mahkota kita?Sama tunggalnya dengan La Togeq Langiq tiada duanya I La Tiuleng putera mahkota masa depan kita.”

WE NYILIQ TIMOQ :

Paduka Kakanda Batara Guru, Biarlah dulu kutenangkan perasaanku, setelah itu barulah aku siap berangkat ke muara.

CUT TO.

15. EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU,LA PANGORISENG,TO PANANRANG,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak membuang waktu lama lagi, Batara Guru Manurungnge mengadakan upacara tolak bala. diangkatkan mangkuk lalu mencuci muka pada mangkuk putih dan berkaca pada cermin kemilau, berkumur-kumur dan membersihkan mulut, disuguhi sirih lalu Menyirih.Sesudah itu perasaan We Datu Tompoq sudah baik .We Mata Timoq berdiri diapit oleh saudara sesusuan yang muncul bersamanya, berpegang pada bangsawan tinggi, diangkatkan lengannya dengan pakaian kebesaran yang indah, sarung bersulam kemilau bermotif naga, bergambar taburan mayang kemilau, berurai gambar ular sawah Toddang Toja, baju bersulam bunga matahari berpinggir emas sekati, bertaburan bunga berbintang, disulam emas murni dari Limpo Bonga, dililiti lengannya dengan gelang emas dari Abang Lette, bepermata intan mengkilat, disekat gelang lolaq bepermata bintang bersinar cincin mengkilat di tangan kanannya cincin berukir di tangan kirinya, kuku palsu emas dari Mata Soloq, berselendang kain cindai dari Wawo Unruq ,memakai ikat kepala emas dilengkapi dengan emas dari orang Abang Lette, dilengkapi pinang goyang kayu cendana emas dari Uluwongeng. Demikian pula para penghuni istana, semua berpakaian indah, tidak satu pun yang sama pakaiannya.

CUT TO.

16. EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU,LA PANGORISENG,TO PANANRANG,WE SAUNG NRIUQ,WE LELE ELLUNG,APUNG TALAGA,TO JABIARA,WE APPANG LANGIQ,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Begitu pula halnya dengan Batara Guru, dengan anggunnya menyusul berpakaian sarung bertatakan bulan di langit, dijahit dengan motif bintang bertabur dengan ikat kepala bermotif bintang, dijahit berpinggir emas sekati, disulam dengan emas murni dari Wawo Unruq, dililitkan ikat pinggang berkilat kahyangannya, berdempetan dengan pengikat keris mayang kelapa, mengenakan gelang berjalur bermotif bulan. Lalu Manurungnge duduk bersebelahan permaisurinya disuguhi sirih lalu menyirih. We Saung Nriuq, We Lele Ellung, Apung Talaga dan To Jabiara berpakaian lengkap pula dengan sarung kebesaran bak bintang kejora ,baju satin yang berkilauan, dililiti tangannya dengan gelang emas,enam puluh lima sebelah-menyebelah disekat gelang lolaq, cincin berukir indah menghiasi jari tangannya. We Appang Langiq berdiri ,mengenakan pakaian indah sarung bermotif naga dengan baju satin merah bersulam, dihiasi emas murni dari orang Abang. berselendang warna kuning dari orang Singkiq Wero.

Lengkaplah sudah semuanya pakaian yang indah para gadis penghuni istana to manurung dan para bangsawan tinggi kapit. Tak satu pun yang sama pakaiannya anak bangsawan penghuni istana itu. Ribuan dayang-dayang dari Toddang Toja memakai sarung bermotif bunga warn dan naga, serta baju satin merah yang disulam, gelang emas enam puluh lima sebelah-menyebelah, disekat gelang lolaq dan kuku palsu emas masing-masing memakai ikat kepala dengan pinang goyang emas cendana, berpakaian kain bermotif bulan, Tujuh ribu hamba dewa memakai sarung bercorak kemilau bernaga, dijahit dengan emas bertaburan puluhan kati, berseiendang warna kuning, kuku hiasan emas, dan anting-anting puluhan tahil emas di muka, emas di belakang, beruntaian warna pelangi,masing-masing mengenakan ikat kepala,dengan pinang goyang kayu cendana emas.Tiga ribu anak raja orang Wiring Langiq berpakaian sarung berwarna pisang kemilau. berseiendang berwarna bunga jambu tnellaweq, masing-masing dipenuhi tangannya gelang emas cincin emas berukir, hiasan jari tangannya,kuku palsu emas dan anting-anting, masing-masing mengenakan ikat kepala emas dan dilengkapi pinang goyang emas cendana, sambil memegang bakul emas, dipenuhi bertih emas dan sirih berlipat cara orang Senrijawa sebagai pengantar orang Boting Langiq. Tujuh ratus anak bangsawan murni,memakai sarung bermotif bulan bernaga, destar bersulam dari timur dipadu keris emas bersarung serta gading berukir yang berkilauan semua ditimpa oleh cahaya keris emas.Sekian pula penguasa kerajaan dari negeri taklukan Manurungnge berpakaian sarung bermotif bulan naga, dengan ikat kepala bergambar bintang,keris emas dan gelang naga. Tujuh ribu anak bangsawan murni berpakaian sarung sunrapi bunga berhias dengan destar yang disulam,keris emas dan gelang besar.

CUT TO.

17. EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU,LA PANGORISENG,TO PANANRANG,WE SAUNG NRIUQ,WE LELE ELLUNG,APUNG TALAGA,TO JABIARA,WE APPANG LANGIQ,TO TENRILEKKEQ, TO APPAREPPAQ,WE SESE ELLUNG,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan bergegas To Tenrilekkeq dan To Appareppaq memerintahkan melengkapi persiapan acara dewa Manurungnge. Maka serentak turunlah semua anak raja pendamping anak bangsawan kapit, orang kaya penghulu negeri. Anak dewa manurung turun pulalah bersamaan turun semua para hamba yang ratusan jumlahnya. We Sese Ellung memerintahkan menghamparkan permadani sutera berwarna kuning keluar sampai ke muara sungai tempat berpijaknya Manurungnge suami-istri. Ditabuhlah genderang besar dibarengi dengan tiupan seruling serta petikan kecapi emas, pukulan gong yang diramaikan musik Melayu. Berdengung-dengung senandung bunyi-bunyian itu melengking mendayu suara seruling yang ratusan La Oroq Kelling dan La Tau Panceq membunyikan talloq-talloqnya . menarilah orang bertopeng dan pemakai topeng kayu. Bagaikan buah buni langkas pakaian orang banyak, tak ubahnya matahari yang terbit payung emas naungannya anak yang berpayung emas sembari duduk menunggu di gelanggang di bawah pohon asam.

CUT TO.

18. EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU,LA PANGORISENG,TO PANANRANG,WE SAUNG NRIUQ,WE LELE ELLUNG,APUNG TALAGA,TO JABIARA,WE APPANG LANGIQ,TO TENRILEKKEQ, TO APPAREPPAQ,WE SESE ELLUNG,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Usungan emas tumpangannya Batara Guru Manurungnge diturunkan bersama usungan kilat tumpangan We Nyiliq Timoq Yang Menjelma di Busa Empong. Payung kebesaran yang muncul dan payung matahari yang manurung dikembangkan. Lalu usungan emas tumpangan Manurungnge suami-istri dibungkus dengan kain appiq warani dinaungi dengan kain halus dari Sese Ileq, dipertautkan dengan ikatan emas, dihiasi dengan gelang dari Mata Soloq digantungi dengan gelang gading berukir dari Limpo Bonga. Serentak semua pelayan Luwuq dan gadis-gadis pembawa kipas turun pula.Tujuh puluh hamba dikorbankan, sekian pula orang pendek serta orang bule, tempat berpijaknya Manurungnge. Upacara sangiang Manurungnge lengkap.

TO TENRILEKKEQ :

Kur jiwamu, Paduka Batara Guru suami-istri ,Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu Paduka Manurunnge, kini telah siap usungan emas tumpanganmu, telah berkembang pula payung emas naunganmu.

Dengan agungnya, Maka Batara Guru suami-istri bangkit turun dari peterana menuju keluar, berjalan diiringi oleh pengasuh segaharanya sembari dipegangkan lengannya dan diangkatkan ujung sarungnya, berpegang pada bangsawan tinggi, diapit oleh saudara sesusuan mulianya. Maka bergerak pulalah berangkat seisi bilik yang manurung serta penghuni istana yang muncul. Tarian bissu mengiringi keberangkatan datu manurung suami-istri, diiringi dengan doa-doa pada dewa, diantar oleh Puang Matoa, diramaikan dengan upacara orang Senrijawa, didahului petir, kilat, dan guntur yang bersahut-sahutan sebagai pertanda Manurungnge suami-istri menuju keluar, disambut dengan usungan emas manurung, disertai upacara dipartauti kipas emas dari Ruallette, serta diseliweri kipas emas orang Senrijawa. Diusunglah pembawa kipas, diturunkan pula ketur peludahan tempat meludah, yang akan ditempati pembuangan sepah sirih orang besar itu. Meriam dibunyikan, tak henti-hentinya bunyi letusan meriam sebagai maklumat.

CUT TO.

19. EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU,LA PANGORISENG,TO PANANRANG,WE SAUNG NRIUQ,WE LELE ELLUNG,APUNG TALAGA,TO JABIARA,WE APPANG LANGIQ,TO TENRILEKKEQ, TO APPAREPPAQ,WE SESE ELLUNG,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Manurungnge suami-istri telah turun ke kampung ,Di depannya terdapat usungan emas tumpangn We Saung Nriuq, We Lele Ellung.Apung Talaga dan To Jabiara saling berdempetan dengan usungan emas Tenritalunruq, Apung Mangngenreq,Tenrisaungeng dan We Sese Ileq.Tujuh ribu usungan emas di belakang Manurungnge, sekian pula di depannya. Ribuan usungan gading di sebelah kanannya, sekian pula di sebelah kirinya berangkat diiringi hamba ratusan, diantar hamba dewa semuanya mengenakan ikat kepala yang dihiasi pinang goyang emas cendana, masing-masing mengayunkan destar emasnya, sarung berwarna kuning dan baju bersulam serta selendang mayang kemilau. Bagaikan bara api yang bertaburan lengan orang yang bergelang emas Puang Matoa pun telah berjalan ke depan, pengawas negeri yang indah.Tak saling memberikan jalan untuk dilewati para pengikutnya yang ribuan diiringi bunyi caleppa.Maka Puang Lolo saling berpegangan,para bissu juga sudah menari, mengadu alosu emas menyabung arumpigi emas sekati,para bissu menari tak henti-hentinya dengan tarian topeng, terus-menerus menaburkan bertih.Bagaikan kayu yang bergesekan buyinya usungan gading tumpangan para ratu pengiring. Bagaikan danau yang meluap payung emas naungan para penghuni istana yang ramai.

CUT TO.

20. EXTERIOR/INTERIOR – KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG

(tokoh cerita : WE NYILIQ TIMOQ,BATARA GURU,LA PANGORISENG,TO PANANRANG,WE SAUNG NRIUQ,WE LELE ELLUNG,APUNG TALAGA,TO JABIARA,WE APPANG LANGIQ,TO TENRILEKKEQ, TO APPAREPPAQ,WE SESE ELLUNG,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Pengangkut usungan kemilau yang ditumpangi Manurungnge suami-istri berangkat diiringi cahaya, diantar kilat, petir dan topan, didahului angin kencang, diapit kilat yang sabung-menyabung. Kini matahari tak bersinar dan angin pun tak berhembus ,bahkan daun kayu pun enggan bergerak. Burung-burung man’ semua yang berani melewati Manurungnge. Bagaikan air deras mengalir keluarnya orang banyak, meski barisan depan sudah tiba di pelabuhan perahu namun belum juga berhenti mengalir dan membanjir keluarnya orang banyak. Maka Manurungnge sampai di pelabuhan perahu. Bagaikan matahari yang naik yang bersinar terang hiasan usungan kemilau manurung tiba memenuhi pinggir pantai yang tak pernah sunyi tak saling memberi tempat berdiri pada pelabuhan perahu. Bagaikan bara menyala tampaknya payung emas perlindungan Manurungnge bagaikan api setan peresola yang menyala cahaya payung naungannya We Nyiliq Timoq, Yang Muncul di Busa empong diiringi usungan emas, dipandu oleh busa air, dinaungi bintang dari Saung Langiq. Sangiang Mpajung telah turun menyabung kilat, mengadu peti dan menyalakan api dewa diikuti oleh kilat petir, Rukkelleng Mpoba mengadu api dan mempertemukan angin ribut. Bagaikan Peretiwi itu akan longsor dan langit pun akan runtuh. Pelangi yang berwarna tujuh datang di tengah wangkang kemilau berhadapan dengan kegelapan malam. dibalikkan tangan sekali pun orang tak saling mengenal wajah lagi. Guntur bergemuruh lagi, kilat dan petir saling menyabung. Boting Langiq bagaikan akan runtuh, Peretiwi pun bagai akan longsor. Maka pemberian We Datu Sengngeng meluncur dari langit, dari Paduka kakeknya Manurungnge di langit. Ribuan perahu emas dipenuhi harta benda. Puluhan ribu pula dayang-dayang orang Toddang Toja, masing-masing lengannya dipenuhi gelang emas,dan semuanya memakai sarung bersulam, berselendang kain berwarna kuning yang melingkar pada Sese Ileq, serta bergoyangan pinang goyang emas di kepalanya, yang dikenakan pada ikat kepalanya masing-masing mengangkat talam emas, yang ditempati bertih emas. Bagaikan hujan keras taburan bertih emas.Kini dayang-dayang orang Abang telah berdatangan.

CUT TO.

21. INTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka istriku We Datu Sengngeng, semoga
Datanglah semangat kahyanganmu Adinda We Datu Sengngeng,
bangunlah tenangkan hatimu.Telah ada harta benda pemberian Sri Paduka dari Boting Langiq saling bertemulah harta dan dayang-Dayang pemberian Paduka kita Linrung ri Toja di Peretiwi. Adinda We Datu Sengngeng, telah ada pula usungan emas tumpangan Sri Paduka Batara Guru Manurungnge suami-istri menjemputmu dengan kur semangat.”

CUT TO.

22. INTERIOR/EXTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan Anggunnya We Datu Sengngeng bangun duduk membasuh muka pada mangkuk putih, berkaca di muka cermin, membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya.We Datu Sengngeng lalu berdiri mengenakan pakaian indah, sarung bersulam bermotif naga, bertaburan mayang kemilau, berurai gambar ular sawah dari Boting Langiq, disulam bermotif bunga bintang, berlilitkan ular menreli, tujuh kati di bagian bawahnya,lima kati di atasnya, baju satin merah bersulam orang Wawo Unruq,dengan sulaman emas orang Uluwongeng. Lengannya dililiti gelang emas orang Toddang Toja, enam puluh lima sebelah-menyebelah, diapit gelang lolacj bepermata, bintang bersinar dari Abang Lette,cincin tempaan berukir, yang melingkari jarinya ,kuku palsu emas, anting-anting emas di muka, di belakang.We Datu Sengngeng lalu berdiri berjalan diiringi inang pengasuh, diapit oleh bangsawan tinggi, diramaikan oleh pengasuhnya. Mutiara bilik sendiri menaburinya bertih emas. Batara Lattuq segera berdiri menggenggam lengan istrinya, bergandengan tangan suami-istri menunggu berdiri di geladak perahu.

CUT TO.

23. INTERIOR/EXTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Maka tibalah semua anak raja pendamping, para bangsawan kapit, anak orang kaya penghulu negeri, anak raja taklukan Manurungnge.Tak saling memberi jalan untuk dilewati pada pelabuhan perahu para pengasuh segaharanya, La Pananrang, La Massaguni,La Sinilele dan Panrita Ugiq,
tak saling mendengar bunyi aduan ribuan kadidi,tettillaguni dan anak beccingnya. semua keluarga Manurungnge. Bagai kayu yang bergesekan, goyangan usungan emas tumpangan ratu perempuan pengiring. Bagaikan danau yang meluap payung emas naungan bangsawan tinggi kapit, sampai tiba di pelabuhan perahu memadati pinggir pantai yang tak pernah sunyi, orang banyak itu tak saling memberi tempat berdiri.

CUT TO.

24. INTERIOR/EXTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan Bangga We Datu Sengngeng berpaling pada lelaki yang segaharanya, saat melihat berjejal usungan cermin pengiring itu bagaikan matahari yang bersinar payung emas yang menaunginya, menyinari laut dan menerangi samudera, menerangi semua pinggir laut, Pakaian kebesaran anak raja pendamping bangsawan mulia kapit itu, bagai api setan peresola menyala payung kemilau Manurungnge, bagaikan kilat yang sabung-menyabung payung matahari yang muncul,

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Suamiku Batara Lattuq ,Semoga Datanglah
semangat kahyanganmu Aku bertanya, Opunna Luwuq, adakah yang melebihi kemuliaanmu di tempat lain yang dikerumuni oleh pengasuh dinaungi payung emas, diramaikan oleh bunyi aduan kadidi emas ribuan tettillaguni dan anaq beccing, diseliweri nyanyian bissu Sebagai penopang jiwanya, yang mengasapi jalan dapur emasnya pantangan setan Sunra dan menjauhkannya dari maksud jahat setan peresola?”

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Datu Sengngeng ,Semoga Datanglah semangat kahyanganmu Dinda, janganlah engkau mengira, karena ingin lamaranku diterima, maka ketika di Tompoq Tikkaq kukatakan kepada kakanda We Adiluwuq,Tak ada payung kembar di Luwuq juga tak ada duanya suguhan emas yang dimunculkan di Watang Mpareq. Aku adalah raja tunggal, tidak ada duaku pada ibu Kahyanganku juga tak ada duaku yang disembah oleh orang Banyak di Ale Luwuq, di Watang Mpareq.Tak ada duaku menerima persembahan yang banyak sekolong langit dan sepetala bumi. Adapun Adinda We Datu Sengngeng, anak raja yang kaulihat mengasapi jalan dengan asap pedupaannya, tak henti-hentinya membunyikan upacara kerajaan, itulah keturunannya, kakak kita La Pangoriseng bersaudara, sedang membentangkan jalan, ia saudaraku tak seibu. Kesemuanya itu adalah cucu Sri Paduka Manurungnge.Tak satu pun yang menentang, Adik, kelak kita bawa dalam kehidupan suka dan duka.Adapun yang dinaungi payung kejora,dinaungi tudung payung kemilau, menumpangi usungan emas, itulah, Sri Paduka ayahandaku Batara Guru tak ada antara usungan kemilau tumpangannya suami-istri.”

CUT TO.

25. INTERIOR/EXTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan sekejab waktu saja, Manurungnge suami-istri tiba di pelabuhan perahu. Orang banyak sudah tak saling memberi jalan bagaikan pelabuhan perahu akan tumpah-ruah oleh suara gemuruh orang banyak. Upacara dewa kahyangan. Manurungnge suami-istri berseliweran. Kini usungan emas manurung diletakkan, juga usungan kilat yang muncul lalu disingkapkan kain patola gunri yang meliputi usungan emas tumpangan Manurungnge suami-istri. We Nyiliq Timoq segera bangkit, bergandengan tangan suami-istri, diapit bangsawan tmggi sebelah-menyebelah, ujung sarungnya disingkap dan kedua belah lengannya dibimbing, diramaikan seliweran kipas dari Ruallette, dikelilingi kipas emas dari Senrijawa,sambil meniti di atas cadik emas, melangkahi pinggir perahu. We Datu Sengngeng sendiri menaburi bertih emas Sri Paduka mertuanya.

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka manurung suami-istri, datanglah semangat
kahyanganmu. Semoga aku tak kualat pada kemuliaan warisanmu dan tak durhaka pada kerajaan di hadapanmu ,raja dewa dari Ruallette, datu sangiang dari Toddang Toja. Naiklah kemari, Sri Paduka, pada wangkang emas manurung masuklah ke dalam perahu.”

CUT TO.

26. INTERIOR/EXTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Paduka We Nyiliq Timoq, Yang Muncul di Busa Empong segera berpaling menggenggam pangkal lengan anak menantu yang disayanginya bersebelahan dengan Manurungnge. Ketiga raja itu berpegangan tangan masuk duduk di ruangan perahu Walinono, Manurungnge suami-istri bertindihan paha. Seketika itu Batara Lattuq datang pula duduk berdampingan suami-istri di hadapan raja dewa yang melahirkannya, sembari diseliweri kipas emas, dikelilingi kipas emas dari Senrijawa. Batara Lattuq sendiri yang mengangkat sirih untuk Manurungnge.We Datu Sengngeng pun mengangkat sirih, mempersilakan menyirih Yang Muncul di Busa Empong. diringi usungan emas dan didorong oleh busa air. Alangkah gembira Manurungnge suami-istri segera mengangkat We Datu Sengngeng lalu memangku anak menantu yang dikasihinya, mengusap-usap pinggangnya, membelai-belai rambutnya yang halus nan panjang, mempermain-mainkan gelang emas yang meliliti lengannya sembari meremas-remas jari tangannya.

BATARA GURU ;

Kur jiwamu, Ananda We Datu Sengngeng, semoga datanglah
semangat kahyanganmu, hiasan istana di Sawammegga,
permata bilik di Singkiq Wero, bulan purnama orang TompoqTikka. ambil tujuh negeri yang semuanya berpenghasilan Ratusan sebagai penyambung hidup siang dan malam.Ambillah peralatan agung yang bersamaan denganku turun ke dunia. Ambil pulalah kain danriora, tujuh puluh depa lebarnya dan tiga ratus depa panjangnya yang tujuh kali sehari berubah warna.”

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu, Ananda We Datu Sengngeng, semoga datanglah
semangat kahyanganmu. Anak We Sengngeng, ambillah gelang emas yang bersamaan denganku muncul di dunia, kain indah yang bersamaku muncul di Kawaq. Bila digunakan pada tengah hari maka siang pun menjadi gelap gulita,dibalik jari tangan pun tak akan Nampak dan tak kelihatan wajah orang lain. Apabila dikenakan pada waktu tengah malam bagaikan matahari terbit dari balik gunung.

WE NYILIQ TIMOQ (OS):

Bilamana negeri kena musibah lalu dikenakan di tengah-tengah kampong maka serta merta kemarahan sangiang akan berhenti. Bila panen tahunan tak jadi dikenakan di tengah padang maka penduduk pun panen padi. Ambillah pula, Ananda We Datu Sengngeng, piring tempatku mandi pemberianku dari Boting Langiq, ribuan anak raja pergi mandi, tak juga terinjak pinggirnya. Ambil pula hiasan istana dari Sawammegga, alat Peringgi yang ditempati burung emas permainan Yang tak pernah menjemukan aku, saat pertama kali muncul ke dunia. Engkau ambil pula, mutiara pelaminan, ikat kepala sudallangiq yang bersamaanku muncul ke dunia, tujuh puluh depa lebarnya lebih seratus depa panjangnya, yang tujuh kali sehari berubah warna, warisanku dari tuanku yang berkuasa di Toddang Toja, yang diberikan padaku saat dipersiapkan muncul ke dunia. Bila dikenakan pada tengah hari bagai tirai yang dipandang. Bila dikenakan tengah malam bagaikan mentari yang bersinar menyilaukan mata, tak ubahnya bulan purnama. Bila dipandang sekali lagi, bagaikan mata hari bersinar di atas gunung, bak memandang surya. Bila diulang sekali lagi, tak ubahnya awan yang beriringan. Bila diulang lagi memandangnya maka bagaikan memandang bintang yang muncul. Bila diulang memandangnya lagi bagaikan kilat dengan guntur yang bersahut-sahutan di tengah-tengah istana. Bila diulang lagi memandangnya bagaikan bara menyala Kelihatannya di tengah istana dewa yang diturunkan.Itulah Anak We Datu Sengngeng, pemberianku yang tak terhitung dari Sri Paduka yang berkuasa di Peretiwi saat aku dipersiapkan muncul ke dunia. Ananda We Datu Sengngeng, ambil pulalah dayang-dayang hamba dewa yang ribuan banyaknya, pembawa kipas yang bersamaku turun ke dunia berpakaian sutra yang bermotif bulan naga, berbaju satin merah yang disulam lengan mereka dililiti gelang emas.”

BATARA GURU :

Anak We Datu Sengngeng, semoga engkau mujur, engkau melahirkan anak di Luwuq,kemauanmu adalah kemauan
terhormat engkau suami-istri. Duhai, permata bilik, kusebutkan engkau hadiah dari negeriku, kuhitungkan engkau harta benda karena tiada duamu penghuni bilik yang menghiasi istana I La Tiuleng. Engkau We Datu Sengngeng, ratu tunggal di negerimu menerima persembahan yang ribuan banyaknya sekolong Iangit dan sepetala bumi.”

(closing Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

CUT TO.

BERSAMBUNG KE EPISODE VIII.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: