SKENARIO FILM I LA GALIGO EPISODE VIII

VIII.NASKAH SKENARIO FILM SERIAL I LA GALIGO EPISODE 8

( Episode. BATARA LATTUQ DAN WE DATU SENGNGENG)

Naskah/Skenario: Dr.Syahriar Tato.
Supervisi : Prof. Nurhayati Rahman.

(Adabtasi skenario film oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan II ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

01.BGT.

Opening Cuplikan adegan yang dianggap menarik, menjadi latar belakang nama-nama pekerja film dan artis utama, diiringi lagu Theme Song I La Galigo hingga title selesai.

Fade out.
Fade in.

02. INTERIOR/EXTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Alangkah senangnya Batara Guru Manurungnge suami-istri melihat anak menantu kemanakannya bagaikan orang Senrijawa yang menjelma di dunia. Tak ubahnya orang yang menikmati rasa madu di dalam hatinya We Nyiliq Timoq,Yang Muncul di Busa Empong menatap anak menantu yang disayanginya, tak satu pun bandingannya yang pernah ia lihat,di Boting Langiq dan di Toddarig Toja.Opu Talaga segera bergeser duduk di samping We Datu Sengngeng lalu membuka pakaian anak menantu kemanakannya. We Nyiliq Timoq sendiri memasangkan gelang emas yang meliliti lengannya, cincin emas pada jari manisnya, mengganti sarung sutra kebesarannya, baju penutup dadanya. Ditukarnya sarung satin merah bersulam penutup dada dari Wawo Unruq berpinggirkan emas, dipasangkan selendang warna kuning yang disulam dengan emas murni buatan orang Mata Soloq .

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng ,datanglah
semangat kahyanganmu. Ringankanlah badanmu permata pelaminan emas yang cantik, masuklah ke negerimu, engkaulah pemilik istana emas manurung, istana guntur yang diturunkan. Janganlah tinggal di muara diembus angin, diterpa bayu. Duhai, Ananda We Datu Sengngeng, kuhitungkan engkau hadiah yang banyak, adakah duanya Batara Lattuq yang pernah tidur dalam perutku, jangan engkau tinggal merayu-rayu.”

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng, datanglah
semangat kahyanganmu Engkau adalah anakku We Datu Sengngeng, sedang Batara Lattuq hanyalah menantuku.

Alangkah terenyuhnya hati mendengar perkataan kedua Mertuanya, We Datu Sengngeng tak menyahut,Tiada menjawab sepatah kata pun. Menunduk saja ia mencucurkan air matanya. Orang banyak sudah mulai sibuk mendarat di pelabuhan perahu. Saat itu We Nyiliq Timoq berdiri menggenggam pangkal lengan anak menantu kemenakannya

WE NYILIQ TIMOQ

Berdirilah, Paduka anada We Datu Sengngeng, kita masuk ke
negerimu, matahari sudah tinggi, orang banyakmu sudah siap
pula menunggu.”

Dengan bergegas tak menunggu waktu lagi, Maka Batara Lattuq berpaling menggenggam lengan istrinya mempermain-mainkan gelang emas yang melingkari lengannya sambil berkata,

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka istriku We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu. Kasihanilah aku, hiasan bilik emas yang ramai, ringankan badanmu naik, Adinda kita masuk ke negeri kita,
engkaulah pewaris tunggal Paduka Batara Guru suami-istri.”

BATARA GURU :
Ananda We Datu Sengngeng, ringankanlah badanmu kita masuk
ke negerimu sendiri Aleq Linoq.

Segera saja We Datu Sengngeng berdiri bersamaan dengan Batara Guru Manurungnge diiringi dengan hamba dewa. Bergegas Batara Lattuq berdiri segera menggenggam lengan istrinya bergandengan tangan suami-istri, diapit oleh ibunda kahyangannya, oleh mertua bibinya diiringi oleh hamba dewa, didahului oleh orang-orang dekat segaharanya, berpegang pada bangsawan tinggi sambil disingkapkan ujung sarungnya dan kedua pangkal lengannya diangkat,suami-istri didudukkan dalam usungan emas, dinaungi payung emas. Bak matahari yang mulai terbit dipandang mata. Berangkat pulalah semua usungan emas, Tumpangan anak raja pendamping dinaungi dengan payung emas, para bangsawan pengiring, isi usungan yang turun, isi bilik yang muncul. Bagaikan bunyi kayu yang bergesekan suara goyangan usungan yang ditumpangi anak raja Luwuq, keturunan sangiang dari Wareq, tak saling memberikan jalan dilewati usungan cermin para pengiring.

CUT TO.

03. INTERIOR/EXTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Segera saja tanpa menunggu waktu lagi , diberangkatkan usungan emas tumpangan Batara Lattuq suami-istri dan Manurungnge suami-istri, diberangkatkan dengan upacara dan doa dewa, diramaikan dengan kur semangat dari Boting Langiq, ditaburi dengan bertih emas dari Senrijawa, diiringi Puang Matoa, diramaikan dengan upacara raja. Bedil pun segera dibunyikan bunyi mesiu berdentuman pula .Bagaikan guntur di langit suara bunyi meriam sebagai maklumat menginjak negeri orang yang ditetapkan menjadi tunas di dunia. Kini telah pergi pemikul usungan emas tumpangan Manurungnge, bersamaan berangkat usungan emas yang ditumpangi oleh pengantin yang diapit oleh penguasa kerajaan, diramaikan oleh bangsawan tinggi, diiringi anak raja penghulu negeri. Tujuh ribu usungan emas di depan payung emas, sekian pula usungan gading di belakangnya. Ribuan usungan cermin di sebelah kanannya, sekian pula di sebelah kirinya. Alangkah ramainya kur semangat kahyangan pengantin itu. Lalu lalanglah orang yang bergelang emas dan yang bergelang besar, kepalanya dihiasi emas dengan pinang goyang emas.

CUT TO.

04. INTERIOR/EXTERIOR – PERAHU WANGKANG – SIANG .

(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ,PUANG LOLO, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Berbarengan dengan itu Puang Lolo pun kini telah menari ,tak henti-hentinya mengadu alosu emas menyabung arumpigi emas sekati. Alangkah ramainya upacara para puang itu diiringi doa dewa untuk pengantin, disertai upacara kerajaan dari Senrijawa.Para bissu bertopeng turut menari, Puang Lolo pun telah mengadu alosu emas, menyabung arumpigi emas melewati pancangan bambu menrawe dan mematahkan bambu emas. Ribuan banyaknya anak orang kaya pengikut Manurungnge menghamburkan emas dan menebarkan gelang emas berukir, sedikit pun tak menyayangkan hartanya. Opunna Luwuq suami-istri melewati menrawe pula. Alangkah ramainya upacara kerajaan negeri yang indah,bergemuruh tak henti-hentinya Puang Lolo mengiringi masuk ke menrawe para anak raja dari Sawammegga, para penguasa negeri taklukan We Datu Sengngeng. Serentak berpaling menghamburkan gelang, menaburkan perhiasan emas, melemparkan kain sutra tanpa menyayangi sedikit pun hartanya. Pengantin berjalan diiringi upacara dan diramaikan kur semangat, ditaburi bertih emas dari Abang Lette,diiringi tari aduan alosu emas serta sabungan arumpigi emas.Tiga ribu bambu emas tempat yang dilewati pengantin itu yang berakar pagar terjalin, berdaun kain cindai dari Toddang Toja, bertangkai kalung yang berkait bermayang kain indah keling, berpucuk guntur,berbunga satin merah dan berbuah poci. We Datu Sengngeng menginjak pada belubu emas diiringi tarian alosu emas, diberangkatkan dengan ucapan doa dewa. Pengantin itu melewati bambu emas lagi, upacara Puang Matoa pun kembali ramai, para bissu bertopeng juga menari lagi, tak henti-hentinya menaburkan bertih emas mengadu alosu emas dan menyabung arumpigi sampai memasuki Aleq Luwuq.

CUT TO.

05. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ,PUANG LOLO, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Bergantian anak raja, bangsawan tinggi kapit, penghulu negeri yang menjadi hakim, kerabat bangsawan raja,serta anak orang kaya menyodorkan hadiah, menyampaikan pemberian pada pengantin. Tidak kurang dari seratus orang pengipas, ribuan kain patola, puluhan peti kayu yang berisi gelang emas hadiah anak raja pendamping. Aleq Luwuq pun tumpah-ruah oleh orang banyak , Bagaikan akan tumpah negeri sangiang yang manurung dipadati oleh suara orang banyak. Para penguasa yang memerintah negeri indah tak saling memberi jalan di pekarangan. Bagaikan danau yang meluap payung emas naungan raja, usungan pun saling bermiringan di hadapan istana emas manurung ,bersentuhan daun payung emas. Para hamba yang banyak tak saling memberi tempat berdiri turut meramaikan dan diramaikan naungan pohon telah disinari cahaya gelang, di bawah pohon asam pun disinari emas,kemilau pakaian lengkap menyinari pekarangan istana manurung itu.

CUT TO.

06. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Batara Lattuq Opunna Luwuq telah tiba melewati arena tata upacara di hadapan istana emas manurung yang diberi dinding kain indah Kelling, dinaungi kain bermotif keris, dibentangi hiasan emas berpilin pada pohon beringin emas yang terbalik, sampai menutupi kaki tangga.Para penguasa yang memerintah negeri indah bersamaan naik pula, tiga kali saja berkeliling pada penutup bubungan kaki tangga menaburkan gelang emas tak menyayangi harta yang banyak, menghamburkan gelang emas melambaikan ikat pinggang emas sambil menuntun kerbau cemara dan saling berpaling menebarkan gelang. Para penguasa taklukan Opunna Luwuq, telah masuk duduk di istana agung emas diapit oleh api menyala yang dikelilingi oleh pagar anyaman emas dan diramaikan seliweran kipas emas orang Abang Lette, dikelilingi oleh kipas emas orang Senrijawa.Saat itu Opunna Wareq turun di bawah tangga emas diiringi oleh kur semangat sambil dihamburi bertih emas, bertih emas aneka warna dari Ruallette’, berjalan melewati ruang istana diperintahkan menendang talam emas dan menginjak tanah menroja dari Ruallette We Datu Sengngeng suami-istri. Usungan emas manurung kini telah dihentikan lalu diusung naik ke atas kain upacara pareteng yang dibuhul kedua ujungnya dengan gelang naga. Puang di Lae-Lae naik ke istana memegang lawolo bersebelahan dengan tempat tempat menurun Istana emas di Coppoq Meru. We Appang Langiq tinggal di bawah pada peterana emas menerima lawolo bersebelahan dengan I We Salareng dan Puang di Wareq bersenandung kur semangat tunas dewa. Hanya tujuh kali disenandungkan doa bisu maka sepakatlah para pembawa lawolo itu. Barulah We Datu Sengngeng ditaburi bertih emas, bertih emas dari Ruallette.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda Batara Guru suami istri , datanglah
semangat kahyanganmu, ringankanlah badanmu suami-istri, naiklah keatas istana tempati istana dewa yang diturunkan sambil kusebutkan engkau harta yang banyak. Bukankah tiada duamu di sini, yang dijadikan penghuni istana Batara Lattuq?Tiada bertentangan sedikitpun saat kukatakan, Engkau, We Datu Sengngeng, adalah anakku sedangkan I La Tiuleng Batara Lattuq hanyalah menantuku.

CUT TO.

07. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG,WE SAUNG NRIUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tak membuang waktu lagi, Maka Batara Lattuq berdiri menggenggam lengan istrinya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Adik We Sengngeng, kasihanilah aku ,
ringankanlah badanmu naik ke atas istana, tak kuduakan ambang
bilikmu, tak kutinggalkan bilik tempat tidurmu, tak ada tempat lain orang banyak membawa persembahan, tak ada duanya tempat
menengadah hamba dewa manurung, tidak ada duamu permata
pelaminan menerima persembahan harta yang banyak sekolong langit dan sepetala bumi.”

Dengan anggunnya We Datu Sengngeng lalu berangkat bergandengan tangan suami-istri, We Nyiliq Timoq suami-istri juga menginjak tangga emas berukir, dipegangkan susur kemilau dan emas berpilin, mayang kelapa dari Limpo Bonga, melangkahi ambang pintu emas, menginjak lantai papan pinang emas. Bagaikan hujan deras taburan bertih emas dari atas istana.

WE SAUNG NRIUQ :

Kur jiwamu, Paduka Ananda,semoga datang semangat kahyanganmu suami-istri. Naiklah ke mari ke stanamu, masuklah ke tengah tengah ruangan istanamu.”

Dengan agungnya, Batara Lattuq suami-istri dan Batara Guru Manurungnge suami-istri masuk. Bagaikan angin yang bergemuruh bunyi tangga emas saat dilewati oleh para penguasa yang mengiringi pengantin itu, langsung duduk menempati petak luar, dikerumuni pandangan orang asing itu. Tiba pulalah semua di rumah hati ruangan pengiring, isi bilik yang ramai.

CUT TO.

08. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG

(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG,WE SAUNG NRIUQ,WELLONG TALAGA, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

We Nyiliq Timoq Datu Tompoq lalu masuk bergandengan tangan menantu kemenakannya, Batara Lattuq bergandengan tangan Manurungnge, We Lele Ellung di sebelah kirinya, We Saung Nriuq di sebelah kanannya,To Jabiara yang memegangkan ujung sarungnya, Apung ri Toja mengangkatkan pangkal lengannya masuk. Ruangan kemilau gemuruh dilewati oleh anak raja, bangsawan tinggi, isi bilik yang ramai. Maka Manurungnge tiba di Dalam duduk di atas peterana kemilau. We Datu Sengngeng suami-istri juga duduk di hadapan Manurungnge. We Nyiliq Timoq Datu Tompoq sendiri membersihkan butiran peluh anak menantu kesayangannya diramaikan oleh kipas emas dari Abang Lette, dikelilingi oleh kipas emas dari Senrijawa, lalu diperciki air mawar dan diembusi angin kipas. Maka duduklah semua, penguasa pengantar We Datu Sengngeng.

BATARA GURU :

Kakanda Welong Talaga, perintahkanlah agar segera melengkapi
upacara dewa langit pada pengantin itu untuk dipersandingkan
pada pelaminan kemilau.”

CUT TO.

09. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita : BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG,WE SAUNG NRIUQ,WELLONG TALAGA, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan segera saja, tanpa membuang waktu lagi, Belum selesai ucapan Manurungnge bagaikan ombak yang berhamburan perintah kedua orang itu untuk melengkapi upacara kerajaan pengantin itu. Alangkah sibuknya Puang Matoa pengawas negeri indah. Tarian bissu siap menyambut Batara Lattuq suami-istri, dibawa berkeliling pada pelaminan orang Ruallette, diikat wettang taoq orang Limpo Bonga,diamat-amati Puang Matoa,kur semangat orang Ruallette bergemuruh, dan ia pun dihamburi bertih emas diapit obor emas, dengan pagar anyaman dan api menyala, diangkatkan mayang kemilau, dipertemukan pada tempayan emas. Lalu pohon beringin emas yang besar ditegakkan, disuruh memegang pada janur orang Uluwongeng lalu duduk bersanding pada pelaminan kemilau, dihamparkan permadani sutra. Ia diperintahkan menghadap ke arah timur, diarahkan bersama pengikat jodohnya, dijejerkan nasibnya, dipertautkan perkawinannya ,disamatinggikan jiwanya, lalu makan pada piring pesta upacara. Setelah itu ia diberi minum madu harum perekat orang yang tinggal seistana, lalu dilelehkan minyak sangiang agar tak terpisahkan perjodohannya. Disatukan bayang-bayangnya, dijahit simpul perjodohannya, disatukan jahitan baju sutra We Datu Sengngeng, dengan destar ikat kepala Batara Lattuq disambung ukuran tingginya, lalu dikaitkan di bahagian atas pelaminan. Setelah itu ia disuruh mengambil sesuatu dalam tempayan emas, We Datu Sengngeng mendapatkan bulu parenreng sedangkan Batara Lattuq mendapatkan citta marola. Meraba lagi bulan purnama Tompoq Tikkaq dapat selleq sioja sedangkan penguasa di Watang Mpareq dapat batu bertangkai. Meraba lagi mutiara pelaminan dari Singkiq Wero dapat penno-penno, dan La Rumpang Langiq dapat riu-riu. We Datu Sengngeng mengambil lagi daun sirih bertemu serat, sedangkan Opunna Luwuq mendapat pinang bertangkai. Tujuh kali mereka bergantian mengambil di dalam tempayan emas masing-masing menaikkan tenunan Selayar. Lalu dijahit dengan jarum emas perjodohannya
dijejerkan dengan nasibnya, dipertautkan dengan perkawinannya. Doa para bissu lagi ramai, tak henti-hentinya bergemuruh para puang, para bissu pun meniup serulingnya ,menembangkan kur semangat keturunan sangiang .Doa para bissu sangatlah ramainya dan taburan bertih emas tak henti-hentinya. Saat itu Unrai Sugiq berdiri bersamaan Unrai Tompoqmenegakkan obor emas pengantin suami-istri itu sebanyak tiga kali.

CUT TO.

10. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita :PUANG MATOA LATIMOJONG,PUANG MATOA LUWUQ, BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,LA PANANRANG,LA MASAGUNI,TO SINILELE, PANRITA UGIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG,WE SAUNG NRIUQ,WELLONG TALAGA, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Sementara itu, Maka Puang Matoa dari Latimojong berdiri bersamaan Puang dari Luwuq di hadapan pelaminan sembari berkata,

PUANG MATOA :

Wahai sekalian, belilah penenun yang belum pernah memangku
gulungan tenun emas, tak pernah mengayunkan belera emas, belum pernah memutar jentera pemintal emas, belum pernah mengangkat benang sutra,namun tak jua berkurang isi lumbung
besarnya tak pernah tergulung sarung baju dayang-dayang
segaharanya tak pernah luntur pakaian mulia hamba segaharanya.

Dengan anggunnya We Nyiliq Timoq berdiri di depan pelaminan diapit oleh hamba dewa, ujung sarungnya diangkatkan, bertelekan pada anak bangsawan sambil berkata,

WE NYILIQ TIMOQ :

Hai Puang Matoa, aku yang membeli penenunmu, dengan ratusan
dayang-dayang yang berpakaian sarung sutra berbunga naga dengan baju satin merah bersulam.”

INANG PENGASUH :

Penenunmu laku, Puang Matoa, berapakah harga penenunmu
yang tak menerima pembeli emas?”

We Nyiliq Timoq Ibunda Batara Lattuq kembali duduk di atas pelaminan kemilau. Berdiri di depan pelaminan We Appang Langiq, Puang di Wareq,We Sessung Nriuq dari Coppoq Meru,

WE NYILIQ TIMOQ :

Wahai sekalian, belilah tukang bajak, tak memegang luku dan tak menyelempang pengendali emas, belum pernah menyayunkan
cambuk emas, tak juga pernah menginjak pematang,tapi tak berkurang isi lumbungnya yang banyak tak pernah lapar hamba andalannya, tak lusuh pakaian hamba pribadinya.

Manurungnge Batara Guru sertamerta berdiri di hadapan pelaminan dan berkata,

BATARA GURU :

Sayalah yang membeli tukang bajakmu, Puang Matoa, dengan bissu manurung dan dayang-dayang ratusan orang, sekian pula gembala berpakaian lengkap sebagai saksi yang benar terhadap jualanmu. Berapakah harga tukang bajakmu yang belum pernah memegang tangkai luku itu?”

Batara Guru Manurungnge kembali duduk berdampingan suami-istri. Alangkah gembira ibunda La Pangoriseng bersama ibunda La Temmallureng,La Pangoriseng berkata,serempak bersamaan semuanya berkata dengan La Pananrang, To Sinilele, To Buluq Tana,To Panangngareng, To Sawe Ase, To Pattaungeng,To Pinanrasi, To Pinammile’, To Pinanrakka,To Pinassumpu, To Seppennenna, To Mareopu, To Maragellung, To Maretengnga, To Marasepe,To Buluq Tana, To Sawe Ase, To Manedara, orang tua We Rompe Sodda ayah bunda We Rompe Gading yang melahirkan We Rompe Lama ratu ibunya Mattangkiluwuq, semua yang dilahirkan Manurungnge, semuanya berkata :

PARA BANGSAWAN :

Kamilah yang membeli tukang bajakmu, Puang di Luwuq, dan tukang tenunmu, Puang di Wareq. Dengan ribuan orang pilihan, sekian pula gembala berpakaian lengkap, ratusan peti Cina yang berisi tenunan Melayu, sekian pula peti kayu yang berisi emas, harga pada raja adindaku yang kudampingi.”

CUT TO.

11. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita :PUANG MATOA LATIMOJONG,PUANG MATOA LUWUQ, BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,WE TENRIULLE,WE UNGA WARU,WE TENRISUIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG,WE SAUNG NRIUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Seusai semua anak raja itu mengucapkan semua pemberiannya, surutlah mereka duduk, lalu diputus jahitan perjodohan. Para bissu raja mengambil pembeli kur semangat sekati setiap remaja. We Tenriulle segera berdiri bersamaan dengan We Unga Waru dan We Tenrisuiq, semua berpakaian sarung bermotif pagar berduri, bunga berbentuk mayang kemilau dengan baju satin dari Sese Ileq, berselendang sutera merah yang disulami emas murni. Pangkal lengan mereka dililiti gelang emas,enam puluh lima sebelah-menyebalah, diapit gelang lolaq bepermata, dan memakai cincin berukir hiasan jari tangannya, kuku hiasan emas dan anting-anting, emas di muka, emas di belakang.

WE TENRIULLE :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng
ambillah dayang-dayang masing-masing seribu yang lengannya
semua dikaiti gelang emas, berpakaian sarung bersulam dengan baju satin merah yang juga bersulam, berselendang kain dusiq warani, ratusan bakul yang berisi tenunan Melayu, sekian pula tempaya Seram yang ditempati emas murni sebagai ganti pinang sekerat hidangan sirih selembar.”

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka kakanda We Tenriulle, datanglah semangat kahyanganmu Silakan duduk, Paduka Kakanda di hadapan pelaminan agung.

Lalu ketiganya duduk di hadapan pelaminan emas yang diduduki raja adiknya.I La Tiuleng berpaling sambil berkata pada We Datu Sengngeng perempuan kesayangannya,

BATARA LATTUQ :

Adinda We Datu Sengngeng, yang sebelah selatan itu adalah
penguasa istana kakanda La Pangoriseng, orang tua La Pananrang.Yang di tengah itulah penyambung lidah segaharanya kakanda LaTemmallureng orang tua La Sinilele.Yang di sebelah utara itulah isi usungan segaharanya, kakanda La Tenriwesang yang melahirkan La Massaguni.”

Dengan tidak menunggu waktu lagi , We Datu Sengngeng tergesa-gesa menyuguhinya cerana sambil berkata,

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka pembesar istana Aleq Luwuq sekalian , datanglah semangat kahyanganmu, Paduka silakan menyirih.”

Tergesa-gesa We Tenriulle, We Tenrisuiq dan We Unga Waru mengambil sirih, lalu menyirih pada cerana pengantin itu. Setelah itu mereka bergantian berdiri menyebutkan hadiahnya, di hadapan pelaminan emasnya orang yang dipersiapkan memelihara istana keturunan Manurungnge. Para pelayan itu tak saling memberi tempat duduk di hadapan pelaminan emas. Tidak kurang ratusan dayang-dayang hadiahnya ,ribuan gembala pemberiannya.

CUT TO.

12. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita :PUANG MATOA LATIMOJONG,PUANG MATOA LUWUQ, BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,WE TENRIULLE,WE UNGA WARU,WE TENRISUIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG,WE SAUNG NRIUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak membuang waktu lama lagi, Batara Lattuq lalu berdiri bergandengan tangan suami-istri turun dari pelaminan kemilau diiringi oleh hamba dewa, didahului oleh penghulu negeri lalu duduk pada permadani selebar langit di hadapan Batara Guru Manurungnge, berdampingan duduk suami-istri, diseliweri oleh kipas emas orang Senrijawa, dikelilingi oleh kipas emas orang Ruallette, diembusi dengan angin buatan dan diperciki air harum. Alangkah gembira Manurungnge suami-istri menyaksikan keturunannya duduk berdampingan suami-istri. Bagaikan kembar emas bersanding di atas permadani selebar langit. Perempuannya sangat cantik, sedangkan laki-lakinya sangat tampan, pasangan yang cocok keindahannya.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Menyirihlah, Ananda We Sengngeng,
menyirih pula ananda Batara Lattuq, hanya kalian suami-istri yang
kuharap mewarisi kekuasaanku di masa datang.”

CUT TO.

13. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita :PUANG MATOA LATIMOJONG,PUANG MATOA LUWUQ, BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,WE TENRIULLE,WE UNGA WARU,WE TENRISUIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG,WE SAUNG NRIUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Tanpa membuang waktu lagi, Segera We Datu Sengngeng mengambil sirih lalu menyirih suami-istri alangkah bahagianya hati orang besar itu duduk dikelilingi para penguasa negeri. To Tenriangkeq dan To Appareppaq memerintahkan agar dihidangkan tempat minuman dan segera diangkat kawah besar. Mondar-mandirlah bissu pelayan dayang-dayang pilihan istana. Ribuan dayang-dayang berpakaian lengkap orang Ruallette dipadati semua gelang emas pangkal lengannya mengayunkan gelangnya dari emas berpilin mengangkat tempat minuman dan mangkuk. Maka berdiri pula pelayan lelaki dari Luwuq dan gadis-gadis pembawa kipas dari Senrijawa yang membawa hiasan emas serta pinang goyang pada ikat kepalanya, masing-masing mengangkat bamboo kemilau mengayunkan kipas emas dari Senrijawa tanpa membiarkan dihinggapi lalat bahan makanan Manurungnge, Diangkat talam kemilau peradatan Manurungnge suami-istri bersamaan baki kemilau yang berisi santapan Batara Lattuq suami-istri. Lalu ditutupi kain yang ditindis gelang emas, dilengkapi dengan gading berukir bersama tempayan kemilau,
sebagai adat raja manurung di Luwuq.Setelah itu diangkatkan makanannya La Pangoriseng bersaudara,bersama dengan tempayan emas tempat hidangan makanan para penguasa dari timur Dihidangkan pula semua makanan para penguasa negeri taklukan Manurungnge, bangsawan tinggi yang bersamaan turun dengan yang menetas di bambu betung, Bersamaan pula bahan makanan keturunan sangiang yang muncul bersama We Nyiliq Timoq. Tempat minuman dibuka maka saling berseliweranlah baki-baki yang diangkat. Bagaikan arus yang berpapasan perangkat makanan itu. Semua talam emas berjejeran, tempat-tempat minuman pun telah tertata dan persiapan makanan orang banyak sudah cukup. Maka pelayan pilihan berseliweran mengangkat tempat minuman dan mangkuk-mangkuk .Orang yang bergelang emas duduk berdempet-dempetan sambil mengibaskan kipas emas yang tak membiarkan dihinggapi lalat bahan makanan para pembesar .

CUT TO.

14. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita :PUANG MATOA LATIMOJONG,PUANG MATOA LUWUQ, BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,WE TENRIULLE,WE UNGA WARU,WE TENRISUIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG,WE SAUNG NRIUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Segera saja tangan Manurungnge suami-istri dan Batara Lattuq suami-istri dicucikan. Batara Lattuq sendiri yang membersihkan jari tangan istrinya sembari berkata

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu ,Berpalinglah makan, mutiara pelaminan
orang Ale Luwuq,hiasan istana orang Watang Mpareq, masukkanlah ke dalam perutmu bahan makanan hasil tanahmu di Luwuq. Bukankah telah kujanjikan pemberian yang banyak dan tak bertentangan ucapanku, saat kukatakan, Nanti di Luwuq, Paduka Adinda, engkau persatukan kerajaan Sri Paduka Manurungnge suami-istri.”

Namun We Datu Sengngeng tak juga menyahut tiada menjawab sepatah kata pun mutiara pelaminan yang tiada duanya di Lauq Saddeng. Batara Lattuq sendiri membersihkan jari tangan istrinya. Lalu serentak berdua Batara Guru Manurungnge berkata,

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Makanlah, mutiara pelaminan orang Tompoq Tikkaq, bulan purnama orang Sawammegga, ambil saja istana emas di Watang Mpareq yang bersamaan aku muncul di Kawaq. Bila kelak To Palanroe merahmati engkau melahirkan anak di Luwuq, dialah yang akan menyatukan semua kerajaanku.”

Segera saja We Datu Sengngeng pun cepat berpaling menggenggam Sangiang Serri tanpa memasukkannya ke dalam perut. Manurungnge suami-istri ikut makan,bersamaan menyuap raja itu suami-istri. Semua anak raja serentak bersamaan makan, saling mempersilakan makan minum anak yang berpayung emas,anak raja pendamping, para pembesar negeri yang menjadi hakim .Bagaikan bintang bertaburan mangkuk-mangkuk minuman para penguasa yang memerintah negeri indah. Bagaikan bara yang bertebaran pangkal lengan orang yang bergelang emas yang mengibaskan kipas emas, yang memegang kipas emas, tak membiarkan dihinggapi lalat bahan makanan penguasa bintang-bintang di Watang Mpareq, Bagaikan burung putih yang beterbangan kisaran mangkuk-mangkuk Jawa tempat makan minumnya orang banyak,belum habis setengah tempat minuman ditambah lagi, belum berkurang isi baki dipenuhi lagi, tak henti-hentinya minuman, begitu pula makanan lengkap dan tempat minuman para hamba yang bergelang emas.

CUT TO.

15. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita :PUANG MATOA LATIMOJONG,PUANG MATOA LUWUQ, BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,WE TENRIULLE,WE UNGA WARU,WE TENRISUIQ,PUANG LOLO,WE APPANG LANGIQ,PUANG LAE LAE,I WE SALARANG,WE SAUNG NRIUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Berbarengan Dibunyikanlah La Wero Ileq gong emas manurung, bunyi genderang sebagai maklumat upacara makan minumnya raja manurung di Luwuq. Alangkah asyiknya makan raja itu dan bahagia sekali Manurungnge suami-istri menyaksikan bulan purnama kesayangannya. Semua para penguasa Luwuq dan Wareq dan daerah-daerah tetangga tanah dewa manurung telah datang. Telah berkumpul pula para istri penguasa taklukan Luwuq permaisuri-permaisuri yang termasyhur kecantikannya,
isi bilik yang penuh pujian, tetapi tak satu pun yang menandingi kecantikan We Datu Sengngeng.Tak satu pun yang menandingi keelokan wajahnya anak menantu kesayangannya. Dipandang dari depan tak tercela,dari belakang pun tak tercela, sebab cocok semua tataran bentuk tubuhnya dan serasih tinggi badannya serasi dengan rambutnya yang indah dengan lilitan putaran sanggul yang halus. Bagai poci yang rapat dengan penutupnya, katupan kedua bibirnya yang indah.Bagai wijen berjejer giginya yang teratur, berlesung sebelah pipinya, beralur tiga garis lehernya yang jenjang, bak piring yang bertebaran turun di antara penutup dada bajunya.Tak ubahnya menatap dewa hanya karena berbicara maka ia Manusia dan karena bergerak maka ia penghuni bumi.

CUT TO.

16. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG .
(tokoh cerita :BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Sementara itu Sudah seharian penuh anak raja itu makan-minum. Anak yang berpayung emas itu sudah dimabuk tuak, berbicara sendirian karena mabuk, saling mengenang bangkai ayamnya sembari menyebutkan pula di belakang, memperbarui yang sudah lusuh dan mencuci yang sudah luntur. Hanya tujuh kali Manurungnge suami-istri menyuap maka ia pun kenyang, demikian pula We Datu Sengngeng dan Batara Lattuq. Manurungnge suami-istri dan Batara Lattuq suami-istri lalu membersihkan mulut dan berkumur, disuguhi sirih lalu menyirih. Maka orang banyak pun berhenti pula. Semua tempat minuman dibereskan, dikembalikan pula talam-talam emas, perlengkapan peradatan pembesar itu. Alangkah gembira anak raja itu. Bagai suara burung nuri yang berkicau para hamba yang bergelang emas, teriakan anak yang berpayung emas. Bagaikan negeri akan melimpah karena suara orang banyak itu. Orang Luwuq bernyanyi baenrong, orang Wareq bersenandung jangki, orang Mengkokaq menembang sengo-sengo, orang Toraja berdendang bunaneng,
bersenandung pulalah seruling yang ratusan dari orang Wekkeng, bergantian mereka berdiri menarikan kain selendang orang Selayar diramaikan oleh orang Sadeng.

CUT TO.

17. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG
(tokoh cerita :BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,ANAK RAJA LUWUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Ketika matahari di rembang senja maka datanglah anak raja Luwuq, bangsawan tinggi orang Wareq, penghulu negeri dan hakim-hakim di Luwuq yang dipercaya menyelesaikan masalah di Watang Mpareq berdesak-desakan tak saling memberi tempat duduk di hadapan pengantin itu. Sama mengiringi dayang-dayang pembawa sirih, kain sutra dan emas untuk pengantar penyuguh sirih, tak kurang ratusan orang dayang-dayang, ribuan kain sutra lalu disuguhi sirih lalu menyirih pada talam emas. Orang Luwuq dan orang Wareq itu menyembah semua sambil berkata,

ANAK RAJA LUWUQ :

Masing-masing seribu dayang-dayang, Paduka Batara Guru sekian banyaknya pula gembala, ribuan potongan kain dan emas Sebagai pengantar sirih kepada Paduka.

Batara Guru Manurungnge menerimanya dengan anggukan ucapan orang banyak itu. Semua orang banyak terkesima menyaksikan kecantikan We Datu Sengngeng. Semua orang Luwuq dan orang Wareq Kagum.

ORANG ORANG LUWUQ :

Tak satu pun padanannya We Datu Sengngeng di Luwuq ini,
jarang pula tandingannya di kolong langit dan di petala bumi.
Bila dipandang raut wajahnya bagai bulan purnama yang muncul,
bagaikan matahari terbit yang muncul di atas gunung warna kulit dan bentuk kecantikannya. Bagaikan orang Senrijawa yang menjelma di bumi, orang Peretiwi yang muncul ke dunia. Serasih benar raja itu suami-istri, lelakinya sangat gagah, perempuannya sangat cantik, tak tercela bagian depannya, tak tercela bagian belakangnya. Keduanya adalah raja besar orang Boting Langiq dan raja pengganti dari Peretiwi.
Mudah-mudahan To Palanroe merahmati orang besar itu dan melahirkan anak, perempuan atau laki-laki. Kelak akan menjadi putera mahkota pada kerajaan yang turun bersamanya Sri Paduka Batara Lattuq suami-istri.”

CUT TO.

18. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG
(tokoh cerita :BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,ANAK RAJA LUWUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Melihat sambutan orang banyak, Alangkah gembira Batara Lattuq mengusap-usap pinggang istrinya, penghias bilik dan bulan purnama kesayangannya, membelai-belai rambutnya yang panjang, membalik-balik gelang emasnya yang meliliti pangkal lengannya, membuka-buka cincin emasnya yang menghiasi jari tangannya ,memaut-maut kuku hiasan emas di jari-jarinya lalu melilitkan lengannya pada lehernya yang jenjang permata bilik kekasihnya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng, datanglah
semangat kahyanganmu , Paduka Istriku We Datu Sengngeng,
ambillah ribuan di Ale Luwuq, hitung pulalah ratusan di Watang
Mpareq, ringankan badanmu Adinda kita masuk ke dalam bilik aku mengantuk sekali, dimabuk tuak dan pusing oleh isi tempat minuman.

Namun We Datu Sengngeng tidak menyahut, tiada menjawab sepatah kata pun pemilik kerajaan di Sawammegga. Opunna Luwuq tak dapat lagi menahan keinginan yang luar biasa menghilangkan ingatan hatinya.
la berdiri sambil menggendong permata bilik cinta pertamanya langsung membawanya masuk ke dalam bilik, menyerudukkannya ke dalam kelambu, dan meletakkannya di atas permadani sambil membaringkan pada dadanya yang bak piring, mendekapnya bagai mengayuh, melingkarinya bak pembulang menghinggapinya bagai burung ,mengusap-usapnya bagai ayam sabungan, menaikinya ke Boting Langiq, menurunkannya di Peretiwi. Lalu menidurkannya di alam arwah, menunjukkannya kampung sempurna tempat berkeliling di Maloku barulah raja merapatkan dirinya.Nyenyak sekali tidurnya.

CUT TO.

19. INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG
(tokoh cerita :BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,ANAK RAJA LUWUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Malampun segera datang. Setelah matahari terbenam pelita dinyalakan dan lampu menyala di dekat pintu bilik. Maka Manurungnge berjalan bergandengan tangan suami-istri, berjalan dipegangkan ujung sarungnya, diangkatkan pangkal lengannya, bertelekan pada bangsawan tinggi, lalu masuk dan langsung duduk di atas permadani emas. Kembali pula semua pada tempatnya para anak raja Luwuq, penghulu negeri Wareq dan bangsawan tinggi kapit. Semua orang banyak sudah turun memerintah para pengasuh untuk melengkapi upacara dewa kahyangan Manurungnge. Genderang emas manurung dibunyikan, gong emas yang dipikul berbunyi, maka suara genderang bergemuruh seiring suara alu yang bertalu-talu.
Para penari bertopeng menari berbarengan suara kur semangat kahyangannya.Nyanyian upacara orang Ruallette dimulai,anak lelaki orang Luwuq gadis-gading pengiring pembawa kipas saling memainkan alat upacara. Tengah malam barulah berhenti semua kegiatan penghuni istana sao denra itu.

CUT TO.

20. INTERIOR–KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG
(tokoh cerita :WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,WE UNGA WARU,WE TWNRISUIQ,WE TENRIULLE)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Ketika langit cerah keesokan harinya, mentari baru saja mulai bersinar. Batara Lattuq suami-istri bangun mencuci muka pada mangkuk putih, berkaca pada cermin, diangkatkan sirih lalu menyirih pada talam emas. Raja suami-istri itu saling menukar ampas sirih. Batara Lattuq berdiri bergandengan tangan suami-istri keluar dari bilik diiringi oleh orang-orang pilihan. Ruangan kemilau bergemuruh dilewati orang dekat segaharanya We Datu Sengngeng menuju keluar lalu duduk di atas pelaminan emas dikelilingi oleh pemegang kipas. Dengan gembira Batara Lattuq Mendekati We Datu SEngngeng.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng ,datanglah
semangat kahyanganmu Kasihanilah aku, wahai permata pelaminan emas, engkau mengunyah sirih lalu berikanlah ampas sirihmu kepadaku sebagai penguat jiwaku, Adinda,duduk di atas pelaminan emas.”

Mendengar rayuan Batara Lattuq, We Datu Sengngeng tersenyum saja membuka cerana emas lalu menyirih dan memberikan pada suami segaharanya. Gembira sekali penguasa negeri menerima ampas sirih dari mulut istri kesayangannya, sembari tertawa ia berkata,

BATARA LATTUQ ;

Adinda We Datu Sengngeng, bagai madu kurasakan campuran
kapurnya, bagai gula pencuri sirihnya, bak tebu kuning asalnya
suguhan ini, begitu manis yang kurasakan.

We Datu Sengngeng hanya tersipu malu, Tak menyahut We Datu Sengngeng, tak menjawab sepatah kata pun pada lelaki segaharanya. We Tenriulle dan We Tenrisuiq sudah datang pula duduk di hadapan raja adiknya. We Datu Sengngeng segera berpaling menyodorkan cerana .

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka kakanda bertiga ,datanglah semangat kahyanganmu .Silakan menyirih Ibunda La Pananrang, menyirih pulalah, Ibunda La Sinilele, dan Ibunda La Massaguni.”

Dengan Bergegas ketiganya mengambil sirih pada adiknya dan menyirih, lalu serentak ketiganya, We Tenriulle, We Tenrisuiq dan We Unga Waru menyirih.
WE TENRIULLE :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng ,datanglah
semangat kahyanganmu ,Paduka Adinda, marilah kita turun mandi
berlangir pada lintang tengah emas yang ditempati pancuran emas, dari air sumur harum, air pembersih dan batu kemenyan, tempat berpijaknya orang di dalam istana emas, papan emas yang akan kita duduki mandi berlangir,pasir manik-manik tempatnya menumpuk sarung dan baju para pelayan, kayu bertangkai tempatnya menyangkutkan keris emas para penyabung. Dilengkapi pula wewangian yang mengalir bersama air, berdinding mayang kemilau yang engkau simpan di hati permata datu penyabung.Tersendat tak berbatas perasaan hati orang yang tinggal dalam mahligai emas itu.Dik, kita tak lagi merasa sebagai Manusia kalau selesai mandi pada lintang tengah emas. Kain permadani tempat kita menginjak, batu kemenyan tempat mengeringkan badan sesudah mandi, berteduh pada pohon Maloku emas, ditutupi tangkai pohon cendana dan garu lewa, tumbuh berjejeran dengan bunga tangkiling,ditutupi bunga kelapa yang tumbuh berjejer.Beruluran dengan langir busa dan jeruk yang harum, saling beruluran pula sirih yang rimbun pohon kelapa dan pohon beringin, dikelilingi permainan yang tak membosankan dan aneka ragam burung-burung, dikelilingi pagar yang rimbun, Tak ada satu pun yang dicari tak ditemui tumbuh-tumbuhan yang aneka ragam,

CUT TO.

21. INTERIOR–KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG
(tokoh cerita :WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,WE UNGA WARU,WE TWNRISUIQ,WE TENRIULLE,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Alangkah senangnya hati We Datu Sengngeng mendengar ucapan saudara sesusuan segaharanya Opunna Luwuq. We Datu Sengngeng segera berdiri mengenakan pakaiannya, Sarung bersulam bunga berhias bunga mellawe bermotif ular menreli, baju satin merah yang disulam berbentuk gambar mayang kemilau, dikelilingi pangkal lengannya gelang emas,enam puluh lima sebelah-menyebelah diapit dengan gelang bepermata, cincin tuangan berukir kuku palsu emas, anting-anting puluhan tahil buatan Mata Soloq lalu muncul di dunia. Maka We Datu Sengngeng segera berdiri berjalan diiringi oleh kakaknya We Tenriulle berpegang pada We Unga Waru dan dipegangkan ujung sarungnya. We Tenrisuiq yang memegang pangkal lengannya diiringi oleh dayang-dayang. Batara Lattuq berdiri mengikutinya menggenggam lengan istrinya bergandengan tangan masuk.

Maka bergemuruhlah istana dilewati oleh dayang-dayang, orang dalam yang tak pernah melewati sekat tengah.Mereka tiba di ruang tengah emas. menuangkan langir busanya dan memeraskan jeruk harumnya. diramu dengan air harum pembersih badan kahyangannya

Maka Batara Lattuq suami-istri berdiri sama-sama memakai pakaian mandi sembari membuka sarung pakaiannya lalu duduk pada papan emas, rambutnya dikeramas dengan air kelapa badannya disiram dengan air kelapa untuk menghilangkan dakinya. Barulah mereka mendekati pancuran emas mandi berlangir pada air mengalir menghilangkan bau dan menanggalkan daki sembari menggosok keringat yang bergumpal.

Maka pendamping yang tak melewati sekat tengah, dayang-dayang segaharanya We Datu Sengngeng berdiri pula membuka pakaiannya,
berdesakan mendekati pancuran emas mandi berkecimpung pada tengah tiang emas. Saling melempar sepah langir, saling memeras sepah limau. Para dayang-dayang bergembira bergantian mendekat di bawah pancuran mas. Setelah We Datu Sengngeng suami-istri selesai mandi ia pun duduk pada kursi emas, air yang masih melekat pada bagian tubuhnya dibersihkan, rambut panjang halusnya diuraikan pada baki lonjong diramaikan kipas emas orang Senrijawa, dipercikkan air harum, dipasangkan pakaiannya suami-istri.

Maka Batara Lattuq bangkit bergandengan tangan istrinya masuk diiringi oleh dayang-dayang,diramaikan oleh hamba dewa, didahului oleh inang pengasuh yang masih masih membekas timangannya. Menggemuruhlah lantai yang dilewati orang yang bergelang emas masuk duduk di ruangannya duduk berdampingan suami-istri dikelilingi pedupaan yang puluhan banyaknya, diasapi kemenyan harum. Bagaikan kabut yang naik asapnya. Alangkah gembira penguasa di Ale Luwuq mengusap-usap pinggang bulan purnama kesayangannya, membelai-belai rambut panjangriya nan halus, Membalik -balik gelang emas yang melingkari lengannya, membuka-buka cincin emas yang menghiasi jari tangan istri kesayangannya.Bagaikan orang yang menang ayam andalannya

CUT TO.

22. INTERIOR–KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG
(tokoh cerita :BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,WE UNGA WARU,WE TWNRISUIQ,WE TENRIULLE,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Manurungnge Batara Guru suami-istri menyaksikan keturunannya duduk berdampingan pada pelaminan emas. Para pengasuh memerintahkan agar tempat minuman segera dihidangkan dan kuali besar diangkat. Dayang-dayang pelayan berseliweran. Tujuh puluh pelayan lelaki Luwuq pelayan Manurungnge, mengibaskan kipas emas orang Senrijawa.Terangkatlah talam kemilau tempat makanan Manurungnge suami-istri,telah terangkat pula tempat makanan

Sementara itu Batara Lattuq suami-istri. Berbarengan tempayan Kelling peradatannya, bersamaan semua makanannya raja-raja yang memerintah negeri indah, bersamaan dengan talam-talam tempat makanan anak raja pendamping. Tempat minuman telah terbuka berseliweran baki-baki yang diangkat. Bagaikan arus angkutan hidangan itu berputar, tersedia pulalah makanan orang banyak.

Para pegawai istana duduk berdempet-dempetan. Dibersihkanlah jari tangan Manurungnge suami-istri, Opunna Luwuq suami-istri.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Adinda We Sengngeng, berbaliklah makan, ambillah ribuan di Luwuq, ratusan di Wareq.”

We Datu Sengngeng tak menyahut, penguasa dari Sawammegga tiada menjawab sepatah kata pun. I La Tiuleng sendiri membersihkan jari tangan istrinya, maka We Datu Sengngeng makan, menyuap bersamaan sang raja.

CUT TO.

23. INTERIOR–KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG
(tokoh cerita :BATARA GURU,WE NYILIQ TIMOQ,WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,WE UNGA WARU,WE TWNRISUIQ,WE TENRIULLE,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Orang banyak pun ikut makan. Bagaikan bintang beriringan mangkuk emas tempat minumnya anak raja yang berpayung emas. Bagaikan burung bangau yang berterbangan kisaran mangkuk Jawa tempat minumnya orang banyak. Bagaikan kilat yang melintas pangkal lengan orang yang bergelang emas, orang yang bergelang bosara yang mengibaskan kipas emas dan memegang kipas emas, tak membiarkan dihinggapi lalat talam emas tempat makanan Manurungnge.Anak raja pendamping, para pelayan yang bergelang gading emas saling mempersilakan minum. Belum berkurang isi baki ditambah lagi, belum habis setengah tempat minuman dituangi lagi.
Tujuh kali Manurungnge suami-istri menyuap lalu berhenti, demikian pula We Datu Sengngeng dan Batara Lattuq. jari tangannya dibersihkan lagi, mencuci mulut dan berkumur-kumur, disuguhi sirih lalu menyirih. Semua hidangan dikembalikan,tempayan aneka ragam diangkat pula.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah semangat kahyanganmu Adinda We Sengngeng, kasihanilah aku marilah kita masuk ke bilik, aku sudah mengantuk, Adinda yang mulia, aku ingin sekali berbaring dan memejamkan mata, ambillah dayang- dayang dan ribuan hamba dewa.”

We Datu Sengngeng tiada menyahut, penguasa di Sawammegga tiada menjawab sepatah kata pun. Batara Lattuq langsung berdiri menggendong istrinya membawanya masuk ke dalam bilik, menyerudukkannya ke dalam kelambu menenggelamkan ke dalam pelukannya lalu berbaring satu bantal berdua suami-istri. Alangkah gembiranya hati Batara Lattuq berpesta di dalam kelambu melabuhkan kerinduannya dalam pelukan lalu nyenyaklah tidurnya.

CUT TO.

24.INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG/MALAM
(tokoh cerita, WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, siang berganti malam , Sudah tujuh bulan We Datu Sengngeng tinggal di Aleq Luwuq dalam istana bujuk rayunya diiakan, ucapannya tak ditolak. Sekian pula lamanya Batara Lattuq tak keluar mengunjungi gelanggang, tak muncul di gelanggang bawah pohon asam. Kerjanya hanya di bilik saja bersenda gurau dengan istrinya tak memberi waktu mengenang negerinya.Betul-betul tak menginjakkan kaki di gelanggang tak menyaksikan ayam bersabung yang selalu memabukkan tamu yang datang. Padahal ramai sekali sabungan ayam tak henti-hentinya kedengaran teriakan pemain judi di gelanggang, tak habis-habisnya berdatangan raja penyabung yang ketagihan di gelanggang.

CUT TO.

25.INTERIOR/EXTERIOR –KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG/MALAM
(tokoh cerita, WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ,EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Tak terasa Sudah setahun We Datu Sengngeng di Luwuq sudah mahir pula memerintah pada istana agung yang manurung mengawasi daerah taklukan Opunna Luwuq, dikelilingi oleh para pengabdi sekolong langit dan sepetala bumi.

CUT TO.

25 .INTERIOR–KERAJAAN TOMPOQ TIKKAQ – SIANG/MALAM
(tokoh cerita, WE ADILUWUQ,LA TENRIOJI )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Ketika mentari di rembang senja bayang-bayang sudah ke timur, cahaya matahari sudah di barat, kenangan bagi yang merindu, kenangan bagi orang yang saling mencintai, dicekamlah hati We Adiluwuq perasaan rindu pada adiknya.Tak terasa mengalir air matanya yang berlinang. Pemilik istana manurung itu menghempaskan diri lalu berbaring di atas permadani emas mencucurkan air mata kerinduannya. Tak henti-hentinya berdetak-detak jantungnya, berdebar-debar dadanya memikirkan saudaranya.

La Tenroaji berpindah duduk di samping istrinya mengusap-usap pinggang permata pelaminan yang disayanginya.

LA TENRIOJI :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Adiluwuq , datanglah semangat
kahyanganmu, Paduka Adinda, apakah gerangan yang tak
mengenakkan perasaanmu pada lelaki yang memanjakanmu, yang tak menolak kehendakmu? Adakah rayuanmu yang tak kupenuhi hingga engkau berbaring membungkus kepalamu dan menginjak ujung sarungmu?

Mendengar rayuan suaminya La Tenrioji , We Adiluwuq hanya menangis sambil Memeluk suaminya.

WE ADILUWUQ :

Kur jiwamu, Paduka Kakanda La Tenrioji , datanglah semangat
kahyanganmu, Paduka Kakanda Suamiku, Aku dicekam kerinduan pada adikku, jangan-jangan saudaraku ditimpa penyakit keras, sampai demikian perasaan hatiku pada orang yang terbuang bagai daun di Luwuq. Atau dudukkah gerangan adikku pada negeri rantaunya memandang sekelilingnya, tanpa seorang pun keluarganya, orang yang satu tembuni dengannya. Jangan-jangan dia dalam keadaan tak enak perasaannya mengenang negeri indah tempat lahirnya.

Mendengar keluhan kerinduan istrinya We Adiluwuq, Saat itu tunduklah To Lette Ileq memeluk dengan mesra pinggang istrinya.

LA TENRIOJI :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Adiluwuq , datanglah semangat
Kahyanganmu Paduka Adinda, hentikanlah air matamu yang
berlinang, bangunlah menenangkan hatimu kita masuk saja ke bilik. Hari sudah malam, lampu kerajaan telah dihidupkan pelita-pelita telah dinyalakan. Kalau kamu sama-sama masih hidup kapan-kapan saja kamu pasti bertemu lagi, saudaramu yang satu tembuni denganmu.

We Adiluwuq tiada menyahut tiada menjawab sepatah kata suami segaharanya dari Boting Langiq. I La Jiriu berdiri menggendong istrinya membawanya masuk ke dalam bilik, menyerudukkannya ke dalam kelambu, membaringkannya di atas permadani hanya satu bantal mereka berdua.
Alangkah bahagianya To Lette Ileq mendekap bulan purnama kesayangannya, bak ikat pinggang pangkal lengannya melilit pada pinggang isi bilik yang disayanginya . We Adiluwuq masih tak henti-hentinya mencucurkan air mata kerinduan pada adiknya sambil mengenangkan pula Sri Paduka orang tuanya di alam arwah yang bersamaan meninggal suami-istri. La Tenroaji hanya duduk saja merayu-rayu isi usungan segaharanya
menghibur hati mutiara pelaminan yang ia turuti kemauannya.Tak terasa We Adiluwuq nyenyak sekali tidurnya.

CUT TO.

26 .INTERIOR–KERAJAAN ALEQ LUWUQ – SIANG/MALAM
(tokoh cerita, WE DATU SENGNGENG,BATARA LATTUQ )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Sementara itu pada tengah malam yang hening We Datu Sengngeng dicekam pula kerinduan pada kerajaan kekuasaannya. Dikenangnya pula semua saudara yang dianggap orang tuanya.We Datu Sengngeng tak tenang lagi duduk di atas permadani emas, mengenangkan saudaranya, kerinduan yang tak terhingga pada kakaknya. Dikenangnya pula kedua orang tuanya di alam arwah yang keduanya meninggal hanya satu hari menuju ke alam arwah.Tak henti-hentinya berdebar hati We Datu Sengngeng,berdebar-debar deburan jantungnya mengenang saudara pengganti ibunya.Tak henti-hentinya bercucuran air matanya yang mengalir. Lalu Batara Lattuq terjaga dari tidurnya didengarnya suara isak tangis isi usungan segaharanya .I La Tiuleng segera memeluk hiasan pelaminan kesayangannya, meliliti lengan pinggang isi bilik segaharanya.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu Adinda We Sengngeng. Paduka Adinda,apakah gerangan yang tak mengenakkan perasaanmu pada suami kesayanganmu? Adakah gerangan, wahai penghuni istana, yang menyanggah sabdamu, tak menuruti rayuanmu? Sejak engkau berkuasa di Luwuq, menerima persembahan yang banyak, tak satu pun jua, Adinda yang mulia, isi usungan lain yang datang membayang di dalam hati sanubariku.”

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka suamiku Batara Lattu , datanglah semangat
kahyanganmu . Bukan demikian perasaanku, Opunna Luwuq,
aku hanya dicekam kerinduan, Paduka, pada saudara yang satu
tembuni denganku.Tinggallah gerangan ratu kakakku memandang pada istananya, atau barangkali ditimpa penyakit keras saudara
pengganti ibundaku, yang tak lagi bersua denganku.”

Segera saja Batara Lattuq Opunna Luwuq memeluk, membelai-belai pinggang isi bilik segaharanya.permata yang dinaungi payung emas.

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka Adinda, semoga datanglah semangat
kahyanganmu,duhai penghias bilik dari Aleq Luwuq. Paduka Adinda kasihanilah aku, lupakanlah dahulu negeri Tompoq Tikkaq,mudah-mudahan engkau panjang umur,kelak engkau bertemu dengan kakak kita.”

We Datu Sengngeng tiada menyahut ,tak henti-henti air matanya mengalir. Opunna Luwuq terus saja membelai-belai pinggang isi bilik segaharanya, membujuk rayu istrinya.Tak terasa We Datu Sengngeng nyenyak sekali tidurnya suami-istri.

CUT TO.

BERSAMBUNG KE EPISODE IX.

PAPARAN ADEGAN 7 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

We Datu Sengngeng bermimpi menyaksikan dirinya naik perahu di laut lalu diturunkan kepadanya bakul emas diulur melalui gelang emas,gantungannya adalah pelangi,dan isinya adalah sebiji telur.Telur itu lalu pecah dan menetas isinya seekor jantan dan seekor betina.Ayam jantan terbang ke Tana Ugiq, ayam betina naik ke Boting Langiq.
Ketika langit terang keesokan paginya We Datu Sengngeng bangun berpisah sarung suami-istri, perasaannya sedih di dalam hati mengenang mimpinya, mimpi yang nyata.la lalu mencuci muka pada mangkuk putih,berkaca di muka cermin,membuka cerana emas lalu menyirih menenangkan hatinya.

We Datu Sengngeng berdiri lalu keluar bergandengan tangan suami-istri diiringi oleh dayang-dayang diramaikan oleh hamba dewa.

PAPARAN ADEGAN 8.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Kebetulan sekali Manurungnge Batara Guru terbangun dari tidurnya duduk dikerumuni oleh hamba dewa.Yang menjadi tunas di dunia menengadah sambil menegur We Datu Sengngeng.

BATARA GURU :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu, Kemarilah, Ananda We Datu Sengngeng
suami-istri, masuklah duduk di atas permadani emas.”

Dengan bergegas Maka We Datu Sengngeng suami-istri masuk duduk lalu menyembah di hadapan Manurungnge,diangkatkan sirih lalu menyirih.

WE DATU SENGNGENG :

Kur jiwamu, Paduka Ayahanda Batara Guru , datanglah semangat
Kahyanganmu, Apa gerangan makna mimpiku tadi malam, tuanku,
aku menyaksikan diriku naik perahu di laut, aku lalu diturunkan bakul
emas gelang emas tali pengulurnya, pelangi gantungannya. Aku
mengambilnya dan kulihat isinya, ternyata sebutir telur isinya, wahai
Paduka. Lalu menetas telur itu seekor jantan dan seekor betina.
Adapun ayam jantan, Sri Paduka, terbang ke Tana Ugiq, tiba di Aleq
Cina. Adapun ayam betina itu naik ke Bo ting Langiq.”

BATARA GURU :

Engkaulah We Datu Sengngeng, sudah dipersiapkan memperoleh
tunas pengganti Batara Lattuq dan nanti kembar emas bayimu,
kelak yang laki-laki akan merantau ke Tana Ugiq, mencari jodoh
di Aleq Cina. Sedang yang perempuan akan naik ke Boting Langiq
berjodohan di Ruallette. Rupanya dia ingin diikuti jejaknya di Boting
Langiq dan menginjakkan kaki di Peretiwi.

Batara Guru Manurungnge suami-istri seia sekata. Alangkah terkejut We Datu Sengngeng, bagai tak hendak merapat jiwanya Batara Lattuq mendengar ucapan raja dewa yang melahirkannya.

WE NYILIQ TIMOQ ;

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Datu Sengngeng , datanglah
semangat kahyanganmu, Ananda We Sengngeng Janganlah
La Rumpang Langiq dan We Datu Sengngeng,tersentak hatimu
karena ucapanku sebab mimpi tidurmu sangat jelas dan benar.
Putera mahkota kerajaanmu kelak kembali lagi ke Luwuq.
Biarlah aku turun ke Peretiwi bertemu orang tuaku.

BATARA GURU :

Biarlah daku naik ke Boting Langiq menyampaikan pada Paduka
Palingeqe sebab mereka berdua haruslah sepakat.Tak tahulah nanti
bagaimana kehendak To Palanroe. Perintahlah, Apung ri Toja,
We Saung Nriuq dan We Lele Ellung, mempersiapkan upacara
Kahyanganku berdua dengan adikmu yang muncul.

Tanpa menunggu waktu lagi, Belum selesai ucapan Manurungnge We Saung Nriuq dan We Lele Ellung berangkat memerintahkan mempersiapkan upacara kahyangan yang muncul itu. Anak tangga emas dibungkus dengan kain berbunga dari Sese Ileq, lantai pun dihampari kain cindai dari Abang Lette sampai keluar untuk tempat berpijaknya Manurungnge dan usungan kemilau orang yang muncul. semua dayang pengiring turun pula bersamaan turun pula usungan emas tumpangan Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng.

PAPARAN ADEGAN 9 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Serentak orang banyak pun turun berdiri menunggu di pekarangan hamba dewa yang manurung, hamba dewa yang muncul. Perlengkapan upacara sangiang Manurungnge siaplah, payung emas telah berkembang,usungan emas tumpangan We Datu Tompoq dinaungi dengan kain ileq warani. Usungan emas yang dipersiapkan untuk We Datu Sengngeng ditudungi kain aluq warani dari Wawo Unruq, dijalin dengan tali emas dari Saung Langiq, dihiasi dengan ukir emas dari Mata Soloq,dibentangi kain emas berukir dari Toddang Toja, dililiti kain Melayu dari Ruallette, dihampari kain Majang-mpatara orang Saung Langiq dijalin dengan emas dari Singkiq Wero
dihiasi dengan gelang emas dari Limpo Bonga , dibentangi kain berukir emas orang Singkiq Wero.

Berangkatlah Puang Matoa yang memerintah negeri indah menghamparkan permadani emas pada lantai tempat berpijaknya Manurungnge sampai di luar di muara di pinggir laut. Maka berangkatlah Manurungnge suami-istri, We Datu Sengngeng dan Batara Lattuq menuju keluar diangkatkan ujung sarungnya, dipegangkan pangkal lengannya,bertelekan pada bangsawan tinggi segaharnya diiringi hamba dewa, diramaikan orang pilihan, diapit oleh para pengipas. Alangkah gemuruhlah ruangan istana dilewati oleh penghuni bilik yang ramai. Maka Manurungnge tiba melangkahi ambang pintu, serentak bersamaan semuanya naik ke usungannya, dinaungi payung kemilau didudukkan di atas pundak usungan kemilau tumpangan We Nyiliq Timoq dan Manurungnge dan Batara Lattuq suami-istri.

Gendang emas manurung telah berbunyi, seruling titing Ncawa pun telah ditiup diikuti bunyi gong dan diramaikan musik Melayu. Kecapi emas dipetik ula gamaru emas yang berkilau diguncang-guncang,tiupan seruling emas yang ratusan serta raungan mungmung melengking pula. thing Ncawa kembali dibunyikan diikuti oleh suara gong dan diramaikan musik Melayu. Bedil pun diletupkan membahana gemuruh bunyi asapnya sampai di langit.
Orang Luwuq menyanyi jangki, orang Butung menyanyi baenrong, orang Toraja menyanyi benanong orang Laioda menyanyi sengo-sengo, membuat tak saling mendengar suara para hamba Jawanya Manurungnge.

PAPARAN ADEGAN 10 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan bergegas To Tenriangkeq berdiri mempersiapkan keberangkatan usungan tumpangan pengiring ratu perempuan, serta isi usungan kapit.
Tiga ratus usungan emas di depan sekian pula di belakang usungan kilat manurung.Tujuh ribu usungan emas di sebelah kanannya, sekian pula usungan cermin di sebelah kirinya. Bagaikan bunyi kayu yang bergesekan bunyi gerakan usungan, bagaikan danau yang meluap kelihatannya payung emas naungan anak raja bersentuhan daun payung emas, berolengan usungan-usungan berdempetan para pengiring, tak saling memberi tempat berdiri pemikul usungan emas tumpangan pengikut ratu perempuan, bangsawan tinggi kapit, bangsawan raja pendamping, penghulu yang menjadi hakim, anak orang kaya polempang.

Di antara usungan kemilau Manurungnge dengan usungan kilat orang yang muncul terdapat usungan guntur tumpangan Batara Lattuq suami-istri. Bagaikan matahari yang terbit, surya yang mulai bersinar payung emas Manurungnge. Bagaikan api setan peresola menyala payung matahari dari yang muncul menjelma. Bagaikan matahari yang terbit naik berarak dipandang mata payung kemilau naungan Batara Lattuq suami-istri. Barisan dayang-dayang yang ratusan, hamba dewa yang manurung, serta hamba sangiang yang muncul memanjang di depan.

Dentuman senjata meriam sebagai maklumat menginjak negeri Manurungnge di Luwuq tak dibiarkan berhenti. Bersahut-sahutan bunyi genderang diiringi tarian yang tak berhenti, para bissu pun kini menari.Puang Lolo melenggang menyabung alosu emas, mengadu arumpigi emas sekati. Serentak semuanya membunyikan upacara kerajaan hamba Jawa Manurungnge. La Oroq Kelling memetik kecapi emas, La Tau Buleng membunyikan talloq-talloq, La Tau Panceq membunyikan mungmung, La Keni-Keni meniup ratusan seruling tulali emas. La Kabenniseng menggoyangkan gamaru emas.

Alangkah ramainya upacara kerajaan Manurungnge bersambungan bunyi upacara kahyangan We Datu Tompoq. Para pembawa kipas diusung, diangkat pula ketur peludahan tempat membuang sepah sirihnya. Di bagian depan tempat para penari dodoq, di bagian belakang para penari topeng. Berbaris memanjanglah hamba Jawa Manurungnge bersarung tak berbaju, berbaju tak bersarung mengangkatkan seleguri yang dihiasi bunga malilu yang dijolok, dicelah-celah rumah yang dituruni hasil bajakan.

PAPARAN ADEGAN 11.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Tanpa menunggu waktu lama lagi, Mulailah berangkat usungan kemilau tumpangan Manurungnge, diiringi cahaya dan diramaikan oleh topan, didahului oleh api dewa, diantar angin kencang.Sejenak angin tak berhembus dan mentari tak bersinar daun kayu pun enggan bergoyang saat orang yang dijadikan tunas di Kawaq. Manurungnge turun di tanah. pengangkut usungan berangkat diiringi para hamba yang bergelang, diramaikan anak raja dan bangsawan tinggi, para pengusung berangkat bergegas, para pengiring pun mengayunkan tangannya . Belum lagi hancur daun sirih itu maka mereka tiba di pelabuhan perahu menelusuri pasir bertaburan. pelabuhan yang tak pernah sunyi di pinggir laut. Diletakkanlah usungan kemilau Untuk jadi tumpangan Manurungnge suami-istri.

PAPARAN ADEGAN 12.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan anggunnya We Nyiliq Timoq berdiri mengenakan pakaian indah dari Uriq Liuq.sarung bermotif air dan bintang bertaut disulam dengan emas murni dari Abang Lette baju satin kuning berhias bunga ditaburi hiasan emas murni dari Toddang Toja, bermotif bulan dari Boting Langiq, berkaitan bunga matahari dari Leteng Nriuq, gelang emas dari Peretiwi,sambil bergoyangan kipas emasnya, sembilan biji obor diselipkan di atasnya.

Setelah itu We Datu Tompoq berangkat diiringi hamba dewa sesamanya muncul. Semua pengiring berdiri pula. Bagaikan ikatan sanggul yang memabukkan orang-orang yang berpakaian indah itu. Orang banyak saling berdempetan orang yang bergelang bosaraq saling bersentuhan gelang emasnya, sama memakai ikat kepala sambil bergoyangan pinang goyang emasnya. Pada bergoyanganlah pinang goyangnya yang di ujungnya emas sekati dan mengenakan destar emas.

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, We Nyiliq Timoq lalu berdiri dan diangkatkan talam emas yang dipenuhi beras aneka warna, diapit oleh anak sangiang diangkatkan ujung sarungnya, lalu ia menghamburkan bertih emas aneka warna, menjatuhkan telur dan sirih berikat sambil mengucapkan nazar di samudera, melemparkan sirih di sebelah kanannya, gelagah di sebelah kirinya diiringi ucapan mantera-mantera, sambil menengadah ke Boting Langiq menadahkan tangan ke Peretiwi. Lalu guntur bersahutan tujuh kali sabung-menyabung kilat petir dan angin kencang beriringan dengan topan saling beradu dengan angin ribut.

PAPARAN ADEGAN 13 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

We Nyiliq Timoq berdiri meniti pada gelombang yang berhempasan di atas laut. la turun melalui gelombangpada lapisan-lapisan laut. Kilat petir di atasnya belum lagi padam, pelita masih saja menyala ia tiba di Toddang Toja, terus menuju ke Peretiwi, pakaian We Nyiliq Timoq menyinari laut, menerangi seluruh Peretiwi. Kebetulan sekali Opu Samudda berada di Uriq Liu di naungan pohon ara Tanra Tellu, sedang menghadapi orang Toddang Toja yang berkumpul, begitu pula penguasa-penguasa di Peretiwi, penguasa di Uriq Liuq semuanya sedang berkumpul para hamba dewa pengikut Guru ri Selleq di Peretiwi. Serentak semua orang Peretiwi berpaling memandang pada orang yang dijadikan tunas di dunia yang datang dari Ale Lino. We Nyiliq Timoq pelan-pelan mendekat,

PAPARAN ADEGAN 14.

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Dengan bergegas We Nyiliq Timoq sujud menyembah lalu duduk di hadapan datu sangiang yang melahirkannya. Bergegas Guru ri Selleq mempersilakan anak keturunannya, menjemputnya dengan obor emas buah hatinya.

GURU RI SELLEQ :

Kur jiwamu, Anak We Timoq, semoga datang semangat kahyanganmu
hiasan istana di Toddang Toja.

Opu Talaga berdiri bergandengan tangan buah hatinya masuk melewati pekarangan agung naik menuju istana yang gemerlap, masuk melewati sekat agung dan melewati sekat kemilau. la mendatangi ibundanya sedang bertahta di atas peterana bulan duduk dikelilingi dayang-dayang dari Toddang Toja, diapit oleh anak sangiang segaharnya. Sinauq Toja menengadah sambil memandang lalu bertemu pandanglah Paduka yang dilahirkannya .Alangkah senang hati penguasa di Peretiwi menyaksikan buah hatinya.

SINAUQ TOJA :

Kur jiwamu, Anak We Timoq, semoga datang semangat kahyanganmu
Kemarilah, wahai puteri mahkota yang kujadikan tunas di Kawaq.
Kur jiwamu, We Nyiliq Timoq, silakan duduk di atas peterana bulan.

We Nyiliq Timoq sujud lalu menyembah di hadapan peterana agung yang diduduki ibundanya.Sinauq Toja sendiri langsung menggenggam lengan anaknya.

GURU RI SELLEQ :

Ananda We Nyiliq Timoq, naiklah kemari duduk di atas
peterana bintang.

Bergegas We Nyiliq Timoq naik duduk di atas peterana agung berdampingan duduk dengan ratu ibundanya, diapit oleh orang tua kahyangannya, disuguhi sirih lalu menyirih.

SINAUQ TOJA :

Apa gerangan keperluanmu, Ananda We Nyiliq Timoq, sampai engkau
turun ke Peretiwi menurunkan derajat negeri Toddang Toja?
Sejak engkau menjelma di dunia mengikuti sepupu sekalimu di Aleq
Luwuq belum pernah engkau menginjak istana tempat engkau
dibesarkan, rumah dewa tanah rumpah darah kedatuanmu. Apakah
engkau bertengkar dengan suami sepupu sekalimu? Atau telah
rapuhkah taji ayamnya Batara Guru hingga kalah dalam penyabungan
ayam sepupu sekalimu? Atau kena musibahkah negerimu
menyebabkan padi tahunanmu tidak menjadi? Atau kalahkah Dalam
peperangan suami yang membesarkanmu? Adakah gerangan raja di
Aleq Lino, yang ingin menandingi kekuasaanmu menyamakan derajat
kedudukanmu?”

We Nyiliq Timoq menadahkan kedua tangan pada kedua orang tuanya

WE NYILIQ TIMOQ :

Kur jiwamu, Paduka kedua orang tuaku, semoga datang semangat
Kahyanganmu. Aku tak bertengkar mulut, Paduka, dengan hambamu
Batara Guru, tak rapuh pun taji ayamnya sepupu sekaliku. Tak gagal
panenan tahunan negeriku, Paduka, juga tak kalah dalam berperang
para pasukanku di Ale Luwuq.Tak satu pun raja di dunia ini, Paduka,
yang ingin menyamai kedudukanku ,Hanya hambamu Batara Lattuq,
juga hambamu We Datu Sengngeng sudah tua, Paduka, sudah
menahun tinggal di Luwuq belum juga memangku tunas putera
mahkota, padahal tiada duanya yang pernah tinggal di perutku.
Itulah, Paduka, yang menggusarkan hatiku aku sangat mengharapkan
wahai Paduka, sudilah engkau merahmatinya engkau berikan tunas
pengganti, Paduka, hambamu I La Tiuleng dan We Datu Sengngeng.”

PAPARAN ADEGAN 15 .

(Narasi dan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

Yang menetas di Wajang-mpajang dan yang berkuasa di Toddang Toja bersamaan merangkul anaknya.

GURU RI SELLEQ :

Kur jiwamu, Ananda We Nyiliq Timoq, semoga datang semangat
Kahyanganmu Naiklah saja dulu, We Nyiliq Timoq, sudah ada tunas
pengganti yang diberikan padamu tetapi nanti di Boting Langiq
diturunkan oleh saudaraku I La Patotoq di Ruallette, barulah berisi
kandungannya We Datu Sengngeng. Perintahkanlah Batara Guru
naik ke Boting Langiq bertemu dengan ayah bunda kahyangannya.
Setelah sepakat Boting Langiq dan Peretiwi barulah kamu diberikan
tunas pengganti, ia itulah cucuku.

(Closing dengan Illustrasi lagu Theme Song I La Galigo}

SELESAI.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: