SKENARIO FILM I LAGALIGO EPISODE XI

XI.NASKAH SKENARIO FILM SERIAL I LA GALIGO EPISODE 11

( Episode. LAHIRNYA I LA GALIGO )

Naskah/Skenario: Dr.Syahriar Tato.
Supervisi : Prof. Nurhayati Rahman.

(Adabtasi skenario film oleh Dr.SYAHRIAR TATO dari buku LA GALIGO menelusuri jejak warisan sastra dunia Buku I dan II ,dan berbagai sumber tentang I LAGALIGO)

01.BGT.

Opening Cuplikan adegan yang dianggap menarik, menjadi latar belakang nama-nama pekerja film dan artis utama, diiringi lagu Theme Song I La Galigo hingga title selesai.

Fade out.
Fade in.

02. INTERIOR/EXTERIOR –ISTANA MALIMONGANG–SIANG/ MALAM .

(tokoh cerita : SAWERIGADING,WE CIMPAUQ, EXTRACT)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Hari berkejaran dengan malam, haripun berganti bulan. Sementara itu, We Cimpauq sudah mulai hamil, Sawerigading Opunna Wareq memutuskan untuk tinggal menemani dan menghibur hati We Cimpauq yang sedang ngidam. Namun We Cimpauq menyarankan untuk kembali menemui We Cudaiq karena khawatir akan kemurkaan We Cudaiq .

CUT TO.

02. INTERIOR–ISTANA LA TANETE–SIANG/ MALAM .

(tokoh cerita : WE CUDAIQ, WE TENRIABANG )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Sementara itu, di istana La Tanete I We Cudaiq tak pernah lagi mau menampakkan wajahnya di beranda istana. Sehari-hari dia hanya bermalas-malasan di tempat tidur, tak ingin makan, tak ingin minum.

WE TENRIABANG :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Cudaiq , semoga Datanglah
semangat kahyanganmu Ananda We Cudaiq, Gerangan apa yang
terjadi padamu,hingga berhari hari ananda tidak keluar bilik dan
hanya bermalas malasan ditempat tidur?

WE CUDAIQ :

Kur jiwamu, Paduka Ibunda We Tenriabang , semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Ibunda datu We Tenriabang, anakda
sangat menginginkan beberapa makanan langka seperti jambu
sereng, bunga tanri, daeko madu, pao bajengki dan banyak lagi
makanan lain yang ananda inginkan.

Tersentak kaget dalam hati We Tenriabang mendengar keinginan anaknya We Cudaiq, karena keinginannya itu seperti keinginan perempuan yang lagi mengidam karena hamil muda.

CUT TO.

03. INTERIOR–ISTANA MALIMONGANG–SIANG.

(tokoh cerita : SAWERIGADING , WE TENRIABANG )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

We Tenriabang tergopoh-gopoh pergi menemui Sawerigading di Mallimongang dan menyampaikan bahwa I We Cudaiq menginginkan beberapa makanan yang biasanya hanya dimiliki oleh orang yang ngidam. Padahal selama ini tak pernah ada laki-laki yang masuk ke istana We Cudaiq Daeng Risompa.

WE TENRIABANG :

Kur jiwamu, Paduka ananda Sawerigading, semoga Datanglah
semangat kahyanganmu, Istrimu We Cudaiq sangat menginginkan
beberapa makanan langka seperti jambu sereng, bunga tanri, daeko madu, pao bajengki dan banyak lagi makanan lain yang ia inginkan.

Mendengar perkataan We Tenriabang mertuanya itu,Sawerigading hanya Tersenyum-senyum saja mendengar itu, lalu menceritakan semuanya tentang perihal hubungannya dengan I We Cudaiq selama ini.

CUT TO.

04. INTERIOR–ISTANA MALIMONGANG–SIANG.

(tokoh cerita : SAWERIGADING , WE TENRIABANG )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi Sawerigading opunna Ware lalu memerintahkan La Dunrung Sereng ,seekor burung sakti untuk mencari buah-buahan yang dibutuhkan oleh I We Cudaiq. Dalam sekejap We Tenriabang kembali ke istana dan membawa aneka macam buah-buahan tersebut.

CUT TO.

05. INTERIOR–ISTANA LA TANETE–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : WE CUDAIQ , WE TENRIABANG,PUANG MATOA )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Hari berganti hari, haripun berganti bulan, Tak berapa kemudian kandungan We Cudaiq pun telah sembilan bulan, masanya untuk melahirkan. Pada suatu malam perut I We Cudaiq pun sudah mulai sakit dan mules, sakitnya luar biasa, tidak normal. Segera Puang Matoa memeriksanya dibalik kerumunan saudara dan para sepupunya. I We Cudaiq membalik tubuhnya ke kanan dan ke kiri bagai tak dapat lagi bernafas sembari menangis dan memohon ampun kepada raja Dewata. la menangis dan memohon untuk dicabut saja nyawa nya daripada menderita hidup di dunia.

CUT TO.

06. INTERIOR–ISTANA LA TANETE–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : WE CUDAIQ , WE TENRIABANG,PUANG MATOA )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dalam keadaan genting seperti itulah Puang Matoa mendengar bisikan suara dari Boting langiq.

PATOTOQE (OS)

Untuk mengatasi masalah ini I We Cudaiq harus meminta maaf
kepada Sawerigading dan I We Cimpau dan kedua orang itulah
yang harus memohon kepada dewa agar I We Cudaiq dapat
dimaafkan. Karena kemarahan para dewa disebabkan oleh
keangkuhan I We Cudaiq yang menghina keturunan dewa. Kalau
keduanya tidak datang, maka akibatnya Ale Cina menjadi hancur
dan seluruh tanah Ugiq akan habis.

CUT TO.

07. INTERIOR–ISTANA LA TANETE–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : WE CUDAIQ ,SAWERIGADING, WE TENRIABANG,PUANG MATOA,LA SATTUNG PUGIQ, DUKUN RAJA )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, Masalah ini segera disampaikan kepada Sawerigading dan dalam waktu sekejap Sawerigading pun datang dan mengganti pakaiannya. dengan pakaian dewa sembari memegang alat Pacoda dan Lakko. la lalu menengadahkan tangannya ke Boting Langiq dan membalikkan telapak tangannya ke bawah, ke peretiwi, memohon ampun kiranya I We Cudaiq dapat diselamatkan.

Dalam sekejap mata penyakit perut I Cudaiq telah menghilang dan tak lama kemudian meluncurlah keluar bayi di atas tikar keemasan dijemput dan dipangku oleh dukun kerajaan. I We Cudaiq menghempaskan diri lalu berbaring meneteskan air matanya lalu membungkus kaki dan kepalanya dengan sarung.

DUKUN RAJA :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Cudaiq, semoga Datanglah
semangat kahyanganmu Ananda putri We Cudaiq , alat apa yang
hendak dipakai untuk memotong tembuni raja.

WE CUDAIQ :

Potong saja tembuni raja itu dengan bulu dengan beralaskan
keramik tanah. Lalu masukkan ke Dalam lubang besar kemudian
Panggil anjing orang Cina, orang Ugiq, orang Luwuq,Mettang
dan Menrokoli yang tidak teratur ucapannya itu berkumpul.
.
LA SATTUNG PUGIQ :

Kur jiwamu, Paduka Ananda We Cudaiq, semoga Datanglah
semangat kahyanganmu Ananda We Cudaiq ,tempat apa yang
harus ditempati tembuni raja itu.

WE CUDAIQ :

Paduka Ayahanda, Simpan saja di dalam belanga pecah yang
Ditutup dengan daun teratai danau. Setelah itu, belanga pecah
tersebut disimpan di atas rakit dan dihanyutkan di sungai yang
nantinya menjadi mangsa ikan-ikan besar.

LA SATTUNG PUGIQ:

Ampun paduka ananda,Tak henti-hentinya We Cudaiq Memperlihatkan kebodohannya dalam bertutur kata.

CUT TO.

08. INTERIOR–ISTANA LA TANETE–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : WE CUDAIQ ,SAWERIGADING, WE TENRIABANG,PUANG MATOA,LA SATTUNG PUGIQ, DUKUN RAJA )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan berangnya La Sattung Pugiq lalu memerintahkan kepada dukun itu untuk tidak peduli pada apa yang diucapkan oleh sang putri. Sampai-sampai ibunya We Tenriabang menyumpahi putrinya yang tidak punya rasa malu kepada Sang Hyang.Tak jera melakukan kedurhakaan, dan tak merasa tobat akibat kutukan langit yang telah menyiksanya. Sambil membungkuk ibunya menjauh.

WE CUDAIQ :

Aku tak peduli apakah aku menjadi terkutuk atau terhina sekalipun
Pokoknya aku tak mau melihat keturunan orang Luwuq itu disini.
Segeralah engkau wahai Tepperena melaksanakan semua perintahku

Kata kata itu menyayat hati kedua orang tuanya,Bak bara menyala raut wajah La Sattung Mpugiq mendengar ucapan putrinya. Sambil meludah ia mengatakan bahwa dari sepuluh anaknya hanya dialah yang menjatuhkan kehinaan pada keagungannya.

LA SATTUNG MPUGIQ :

Kur jiwamu, Paduka Ananda Sawerigading, semoga Datanglah
semangat kahyanganmu Hai Ananda Sawerigading Opunna Wareq ambillah anakmu itu dan bawalah ke timur di Mario supaya dapat diselimuti kain patila gajang oleh I We Cimpau datunna Lempaq. Aku tak peduli kepada We Cudaiq mau mati atau hidup yang penting cucuku selamat.

CUT TO.

09. INTERIOR/EXTERIOR–MARIO–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : SAWERIGADING, EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, maka kemudian bayi itu diangkut dengan usungan emas. Belum hancur daun sirih terkunyah, maka sampailah bayi itu di Mario. Dijemput dengan ucapan ‘kur semangat’ oleh penghuni istana. Sayangnya bayi itu tak mau menyusu kepada inang pengasuh, yang silih berganti mengeluarkan air susunya.

CUT TO.

10. INTERIOR/EXTERIOR–MARIO–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : SAWERIGADING,RAJA JAMPU,LA SATTUNG PUGIQ,PANRITA UGIQ, EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dari utusan langit yang dikirim oleh We Tenriabeng diketahui bahwa ia tak mengijinkan keturunannya disusui oleh inang pengasuh yang tidak berasal dari keturunan raja. Panrita Ugiq pun menuju ke barat menyampaikan perihal ini kepada raja Cina. Akhirnya La Sattung pugiq memerintahkan Raja Jampu untuk menjadi inang pengasuh. Alangkah marahnya I We Cudaiq setelah mengetahui.

CUT TO.

11. INTERIOR/EXTERIOR–MARIO–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : ILA GALIGO,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan bergantinya waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahunpun berganti tahun. Bayi yang lahir itu makin hari semakin besar yang kemudian lebih dikenal dengan nama I La Galigo. la telah mahir melilitkan pembulang, menangkap ayam sabungan, dan menyabung ayam di atas gelanggang ketika berusia lima tahun.

CUT TO.

12. INTERIOR/EXTERIOR–MARIO–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : ILA GALIGO,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Sekali waktu upacara maraga-raga I La Galigo dilaksanakan dengan meriah.Seluruh keluarga baik yang ada di daratan maupun yang ada di seberang lautan diundang untuk meramaikan upacara itu. Diantaranya dari Wadeng dan Tompoq Tikkaq.Bukan main banyaknya hadiah yang dipersembahkan kepada I La Galigo . Raja dan kaum bangsawan yang ada di Cina terkejut dan kagum melihat kebesaran raja-raja yang semuanya masih keluarga Sawerigading. Hari yang dinanti-nantikan telah tiba, Segera raga-raga I La Galigo dinaikkan, kakinya diperinjakkan pada tanah Menroja dipertumpukkan pada umpa sekati dan dirimbungkan seluruh daun kayunya. Tak ubahnya akan runtuh sabbang lowing, bagai akan terbelah kota Mario oleh teriakan orang banyak.

CUT TO.

13. INTERIOR/EXTERIOR–MARIO–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : ILA GALIGO,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

La Galigo tak ubahnya anak dewa yang turun menjelma ke bumi. Ketika upacara sabung ayam di mulai I La Galigo dan Pallawa Gauq, sepupu Sawerigading dari Tompoq Tikkaq berhadapan langsung untuk menyabung ayam. Dalam sekejap ayam Pallawa Gauq menggelepar lalu lari terengah-engah keluar dari gelanggang. Seluruh anak-anak muda sebayanya berteriak di gelanggang, bagaikan bunyi guntur yang membahana. Alangkah bahagianya Sawerigading menyaksikan putranya yang ganteng dan cerdas itu. Keesokan harinya gemparlah negeri Cina mendengar berita tentang kehebatan, kepintaran dan ketampanan I La Galigo.

CUT TO.

14. INTERIOR/EXTERIOR–ISTANA LA TANETE–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : WE CUDAIQ,SAWERIGADING, I LA GALIGO,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Berita kejantanan dan ketampanan I La Galigo sampai juga ke istana Latanete, Maka ketika itulah I We Cudaiq menyadari tentang kesalahan yang telah dilakukannya selama ini I We Cudaiq segera mendesak orang tuanya untuk mengadakan pesta penyabungan ayam di Aleq Cina dan mengundang I La Galigo untuk datang menyabung ayam. Dan ketika undangan itu sampai Sawerigading segera tertegun dan menjadi ragu. Tentu saja dengan berbagai alasan namun karena desakan I La Galigo, akhirnya keduanya pergi juga menghadiri upacara sabungan ayamnya.

CUT TO.

15. INTERIOR/EXTERIOR–MARIO–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : ILA GALIGO,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tak terasa waktu berlalu demikian cepatnya. I La Galigo pun Tumbuh sebagai anak yang dilimpahi kasih sayang berlebihan, I La Galigo sudah jadi terbiasa menyalahgunakan posisinya sebagai pangeran putera mahkota, sebagai keturunan langsung Batara Guru Sang Manusia Pertama dan Datu Patotoqe Yang Maha Kuasa. Jika ia kalah di gelanggang adu ayam, I La Galigo mengingkari kekalahannya lalu meraih senjata dan membunuhi ayam yang menang aduan. I La Galigo adalah si congkak pongah dan angkuh yang menamakan dirinya Raja yang tiada taranya, baik di Kahyangan maupun di Dunia Bawah.Tanpa pandang bulu ia merayu perempuan manapun yang ia sukai, baik yang masih lajang maupun yang sudah bersuami.

CUT TO.

16. INTERIOR/EXTERIOR–MARIO–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : ILA GALIGO,WE TENRIGANGKA,SUAMI WE TENRIGANGKA, EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Cinta terkadang membuat Manusia tidak berpikiran sehat dan wajar lagi. Ketika suatu waktu I La Galigo jatuh cinta pada We Tenrigangka yang sudah bersuami. Untuk mencapai hasratnya itu, I La Galigo merekayasa berita bohong bahwa mertua We Tenrigangka sakit. Suami WeTenrigangka pun berangkat menjenguk orang tuanya,dan I La Galigo pun menggunakan kesempatan itu menyelinap bagai pencuri masuk ke bilik We Tenrigangka ,merampas hati perempuan itu dengan memakai kesaktian pemberian Ayahandanya Sawerigading .
Ketika tidak lama berselang suami We Tenrigangka pulang, I La Galigo pun terpaksa pergi setelah dipaksa oleh We Tenrigangka, agar tidak terjadi keributan, dengan menyamar dalam pakaian perempuan.

CUT TO.

17. INTERIOR/EXTERIOR–MARIO–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : ILA GALIGO,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Sifat lain yang tidak terpuji selain mencuri dan berdusta I La Galigo banyak melakukan tindakan yang merupakan campuran antara keburukan dan kekanak-kanakan. Bahkan anak dan isterinya La Mappanganro dan Karaeng Tompoq misalnya, mencari perkara kepadanya karena sepak terjangnya yang kurang terpuji.

CUT TO.

18. INTERIOR/EXTERIOR–PERAHU WANGKANG –SIANG/MALAM.

(tokoh cerita :SAWERIGADING, I LA GALIGO,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Mendengar sifat buruk anaknya I La Galigo yang tidak terpuji itu, Maka Sawerigading pun mengutus I La Galigo kembali berlayar ke Ale Luwuq untuk mengambil peralatan bissu disana. I La Galigo dikawal oleh tujuh puluh pengawal khususnya berlayar menuju Ale Luwuq. Pelayaran I La Galigo dari Negeri Cina menuju Aleq Luwuq sangat cepat dibanding dengan pelayaran Sawerigading dari Aleq Luwuq menuju Negeri Cina. Kalau pelayaran Sawerigading selama berbulan-bulan, maka pelayaran I La Galigo hanya dalam sehari saja. Padahal perahu yang mereka tumpangi sama yaitu Perahu Welenrengnge. I La Galigo meninggalkan Negeri Cina pagi hari dan tiba di Aleq Luwuq pada malam hari.

CUT TO.

19. INTERIOR/EXTERIOR–ISTANA LAKKO MANURUNGNGE RI ALEQ LUWUQ –SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : LA PANGORISENG, I LA GALIGO,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Mendengar kabar kedatangan I La Galigo , maka dengan bergegas La Pangoriseng bersaudara menuju istana Lakko Manurungnge ri Aleq Luwu. Diperintahkannya kepada segenap rakyat untuk berkumpul di depan istana. Setelah seluruhnya berkumpul, mereka kemudian bersama-sama berangkat menuju pelabuhan menjemput I Lagaligo untuk mendarat, menjejakkan kaki dipusat Kerajaan Luwu.Maka dalam sekejap mata saja, Berdatanganlah segenap rakyat di negeri Luwu, memenuhi halaman istana raja Luwu. Rakyat banyak itu riuh rendah, karena bersuka cita atas kedatangan I Lagaligo yang sebentar lagi akan dijemput di muara.

CUT TO.

20. INTERIOR/EXTERIOR–ISTANA LAKKO MANURUNGNGE RI ALEQ LUWUQ –SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : LA PANGORISENG, I LA GALIGO, DAYANG, INANG,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Kerajaan Aleq Luwuq menjadi semarak dan suasana kerajaan menjadi hidup kembali karena kedatangan I La Galigo. Timbullah kembali bersemangat hidup rakyat luwu, karena datangnya putra mahkota I La Galigo Opunna Ware. Lalu tudak berselang lama, tibalah I La Galigo ke istana Lakko Manurungnge. Setelah tiba dilihatnya jamuan lengkap, ditunggui oleh puluhan dayang-dayang Istana.

I LA GALIGO :

Apa gerangan yang telah terjadi wahai para dayang dayang,
sehingga di sini tersedia jamuan lengkap yang kalian tunggui,
padahal tidak ada raja yang saya lihat duduk dihadapan kalian ?”

DAYANG DAYANG :

Kur jiwamu, Paduka tuan, semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu. Santapan sehari-hari wahai Paduka yang mulia Untuk Baginda Sawerigading yang pergi berlayar mengasingkan dirinya dinegeri yang jauh. Seorang pula yang telah gaib melayang naik ke Botting-Langiq WeTenriabeng, adik kembar Sawerigading, Kepada mereka berdualah yang disiapkan santapannya.

I LA GALIGO :

Wahai ibunda Inang pengasuh, Kumpulkan segenap dayang-dayang ini wahai Inang. Janganlah kalian menunggui jamuan, padahal di hadapan kalian tidak ada seorangpun raja yang bersantap.”

CUT TO.

21. INTERIOR/EXTERIOR–ISTANA LAKKO MANURUNGNGE RI ALEQ LUWUQ –SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : LA PANGORISENG, I LA GALIGO,LA SULOLIPU ,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, maka dengan segera I La Galigo meneruskan langkahnya hingga ke ruangan tempat penyimpanan Genrang mpulaweng Manurungnge Mai ri Luwu. Lalu diraihnya Genrang itu, kemudian ditabuhnya bersama-sama dengan La Sulolipu, suara genrangnya bertalu-talu. Tak ubahnya bunyi genrang apabila Sawerigading yang menabuh bersama La Pananrang.

CUT TO.

22. INTERIOR/EXTERIOR–ISTANA LA TANETE DI ALEQ CINA–SIANG/MALAM.

(tokoh cerita : SAWERIGADING,WE CUDAIQ)

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Sementara itu di negeri Aleq Cina Sawerigading tidak pernah keluar dari bilik peraduan. Ketika ia melihat istrinya Dalam keadaan sedih, Maka bangkitlah Sawerigading dari tempat tidurnya sambil mendekati We Cudaiq

SAWERIGADING :

Kur jiwamu, Paduka Istriku We Cudaiq ,semoga Datanglah semangat Kahyanganmu, Telah tiba wahai adinda We Cudaiq, putramu I La Galigo di Aleq Luwuq. Kanda dapat mendengarkan bunyi gendangnya sampai kemari.

CUT TO.

23. INTERIOR–ISTANA LAKKO MANURUNGNGE RI ALEQ LUWUQ –SIANG.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ,WE DATU SENGNGENG,I LA GALIGO ,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Sementara itu di Aleq Luwuq, Batara Lattuq Terbangun Mendengar bunyi tabuhan genrang ,Batara Lattu’ pun menggeliat diatas pembaringannya .

BATARA LATTUQ :

Telah tiba nian putranda Sawerigading di Aleq Luwuq, bermukim di Tanah leluhurnya Wattang mpare sambil menabuh genrang emas mpluaweng manurungnge, datang bersama-sama La Pananrang.

PENGAWAL KERAJAAN :

Ampun Paduka tuanku Batara Lattuq, Konon kabarnya wahai
Paduka yang mulia! Dia adalah putranda dari ananda SawerigadingYang berbalasan dengan putranya La Pananrang menabuh genderang di luar.”

BATARA LATTUQ :

Kalau begitu, Suruhlah ia masuk ke dalam kamarku, agar aku
bertutur sapa dengan bocah itu.”

24. INTERIOR–ISTANA LAKKO MANURUNGNGE RI ALEQ LUWUQ –SIANG.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ,WE DATU SENGNGENG,I LA GALIGO ,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak menunggu waktu lama lagi, Maka berjalanlah I Lagaligo memasuki kamar kakeknya, Batara Lattu. Iapun menghaturkan sembah sujud sebanyak tiga kali, kemudian mengambil tempat duduk dihadapan Batara Lattuq .

BATARA LATTUQ :

Kur jiwamu, Paduka cucunda, semoga Datanglah semangat
Kahyanganmu.Tinggallah dikau di Luwuq wahai ananda Galigo
menemaniku, selaku pengganti ayahandamu menjadi
Pangeran Mahkota di ibu kota kerajaan Aleq Luwuq.”

Dengan bergegas , tanpa menunggu waktu lama lagi, I La Galigo menghaturkan sembah sujud pada Batara Lattuq.

I LA GALIGO :

Kur jiwamu, Paduka nenenda Batara Lattuq , semoga Datanglah
semangat Kahyanganmu.Tapak tangan hamba hanya sekedar
gumpalan darah, tenggorokan hamba pun tak ubahnya kulit
bawang.Semoga nian hamba tidak kualat Dalam menjawab titah
paduka.Mohon restu paduka yang mulia. Hamba tidak dapat tinggal menetap di Aleq Luwuq ini, sebab adinda We Tenridio sedang terserang penyakit parah. Ia mengidap penyakit yang
menuntut diadakannya upacara tradisi di negeri Aleq Luwuq,
sebagaimana halnya yang pernah dilakukan bagi Baginda Ratu
yang mulia, Mallajangnge ri Kalempi’na Demikianlah wahai Paduka yang mulia, sehingga ayahanda tercinta Sawerigading Opunna Ware menitahkan hamba untuk menjemput Genrang mpulaweng manurungnge di Aleq Luwuq ini.

BATARA LATTUQ :

Kalaupun demikian berangkatlah ke tanah Ugi wahai cucunda
Galigo untuk mengantarkan Genrang pluaweng Manurungnge.
Kelak, setelah selesai penyelenggaraan upacara selamatan bagi
We Tenri Dio, kembalilah kemari untuk menggantikan ayahandamu Sawerigading sebagai penguasa di Wattang mpare.

CUT TO.

25. INTERIOR–ISTANA LAKKO MANURUNGNGE RI ALEQ LUWUQ –SIANG.

(tokoh cerita : BATARA LATTUQ,WE DATU SENGNGENG, I LA GALIGO ,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Hari berganti hari, hari berganti bulan, Berkisar satu tahun lamanya I Lagaligo tinggal di Luwu menunggui kakek dan ibu-ibu tirinya, barulah I Lagaligo bersama segenap sepupunya dan seluruh pengiringnya berlayar kembali menuju Cina. Diboyonglah Genrang mpulaweng Manurungnge ri Luwu bersamanya.

CUT TO.

26. INTERIOR–ISTANA LA TANETE –SIANG.

(tokoh cerita : WE TENRIDIO, I LA GALIGO ,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Upacara selamatan We Tenri Dio pun diselenggarakan. Sudah empat puluh hari empat puluh malam lamanya penduduk bergembira ria di Latanete sambil memanggang kerbau. Berdatanganlah segenap sepupu I Lagaligo yang perempuan untuk menyaksikan keramaian di Latanete.

CUT TO.

27. INTERIOR–ISTANA LA TANETE –SIANG.

(tokoh cerita : WE TENRIDIO, I LA GALIGO,I LA SULOLIPU,LA PAWENNARI,SIDA’MANASA,LA PATENRONGI,LA PALLAJARENG, TO BULOE,LA TENRIPALE ,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Pendopo penuh sesak dengan penduduk yang berdatangan dari seganap penjuru. Tiada terkatakan ramainya suasana di Cina. Para anak-anak Datu yang tujuh puluh orang itu saling bergantian menabuh genderang, sehingga bunyinya pun bertalu-talu tiada hentinya. Tiada sekejappun genderang itu berhenti ditabuh silih berganti. I Lagaligo berpasangan dengan I La Sulolipu, La Pawennari dengan Sida’Manasa To Bulo’E, La Patenrongi dengan I La Pallajareng, dan berpasanganlah La Tenripale To Lamuru’E dengan La Pammusureng. Upacara selamatan pun semakin ramai, Para anak datu yang tujuh puluh orang itu tidak kunjung terlelap.

CUT TO.

28. INTERIOR–ISTANA CINA RILAU –SIANG.

(tokoh cerita : DA’BATANGENG,LA MAKKASAU,IBUNDA RATU,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Ingin pulalah I Da’Batangeng, Punna Lipu’E Cina Rilau, puteri La Makkasau menyaksikan keramaian di Latanete.

IBUNDA RATU :

Kur jiwamu, Paduka ananda I Da Batangeng , semoga Datanglah
semangat Kahyanganmu. Wahai anada I Da’Batangeng! Janganlah hendaknya anand berkunjung ke Aleq Cina, hanya untuk menyaksikan keramaian di Latanete ,Sinukkerenna I La Galigo dari Luwu, Cobo’-cobonna maccariwakka I La Semmaga, tidak menyegani sesamanya raja, dianggapnya bahwa hanya dirinyalah raja yang berkuasa di kolong langit. Jangan sampai ditahannya usungan tumpanganmu dan tidak dibiarkannya dikau pulang kembali ke negerimu Cina Rilau.

LA MAKKASAU :

Kur jiwamu, Paduka ibundanya I Da Batangeng , semoga Datanglah semangat Kahyanganmu, Mengapakah gerangan wahai ibundanya I Da’Batangeng, maka dikau tidak memperkenankan keinginan putrimu pergi ke Cina untuk menyaksikan keramaian di Latanete. Kalaupun ternyata usungannya ditahan I La Galigo Apakah salahnya jikalau ia
dijodohkan dengan sepupunya itu. Biarlah putri kita pergi ke Cina menyaksikan keramaian di Latanete.”

CUT TO.

29. INTERIOR/EXTERIOR–ISTANA LA TANETE –SIANG.

(tokoh cerita : DA’BATANGENG, I LA GALIGO,I LA SULOLIPU,LA PAWENNARI,SIDA’MANASA,LA PATENRONGI,LA PALLAJARENG, TO BULOE,LA TENRIPALE ,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Dengan tidak membuang waktu lagi, Maka berdandanlah I Da’Batangeng, bersalin pakaian yang indah lalu berangkatlah menuju Cina Untuk menyaksikan keramaian di Latanete. Hanya dalam sekejap saja maka tibalah usungan yang membawa I Da’Batangeng. Ia lalu turun di depan istana. Ketika itu I La Galigo sedang mengadu ayam di atas arena adu ayam.
Ketika La Galigo menoleh, dilihatnya sepupunya yang sedang turun dari usungan, lalu melangkahkan kaki naik ke istana.

I LA GALIGO :

Siapakah gerangan putri mahkota nan cantik jelita yang barusan tadi tiba dengan usungan ?”

LA PALLAJARENG :

Rupanya dinda Galigo tidak mengenal sepupu kita Punna Lipu’E Cina Rilau. Ia bernama I Da’Batangeng, puteri Baginda La Makkasau.”

CUT TO.

30. EXTERIOR–ISTANA LA TANETE –SIANG.

(tokoh cerita : DA’BATANGENG, I LA GALIGO,I LA SULOLIPU,LA PAWENNARI,SIDA’MANASA,LA PATENRONGI,LA PALLAJARENG, TO BULOE,LA TENRIPALE ,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Serta merta I La Galigo mencampakkan ayam jagonya lalu bergegas melangkah ke istana untuk menyusul I Da’Batangeng. La Galigo langsung menuju ke atas pelaminan menabuh genderang, berpasangan dengan La Sulolipu. Tabuhan genderangnya berbunyi seperti suara manusia

SUARA GENDRANG

Dahului-dahuluilah si orang Walana itu. Cegat, cegatlah si
orang Solo’. Dahuluilah bersanding di atas pelaminan emas. Sungguh takkan kubiarkan Punna Lipu’E Cina Rilau kembali
kenegerinya. Saya berkeinginan menyandera usungan putri
juwita dari Cina Rilau.”

CUT TO.

31. EXTERIOR–ISTANA LA TANETE –SIANG.

(tokoh cerita : SAWERIGADING,DA’BATANGENG, I LA GALIGO,I LA SULOLIPU,LA PAWENNARI,SIDA’MANASA,LA PATENRONGI,LA PALLAJARENG, TO BULOE,LA TENRIPALE ,EXTRACT )

(Narasi dan Visual Gambar disertai Illustrasi music Theme Song I La Galigo)

Bergantian pamandanya menasehati La Galigo, demikian pula ayahandanya turut menasehati.

SAWERIGADING :

janganlah wahai ananda Semmagga engkau menyandera
usungan dari Cina Rilau. Jangan sampai hal itu menurunkan martabat pamandamu La Makkasau. Jikalau susungan putrinya tersandera. Biarkalah sepupumu itu kembali ke kampung halamannya.”

I La Galigo tidak sudi mendengarkan nasehat ayahnya Sawerigading.

I LA GALIGO :

Perkenankanlah wahai ayahanda adindaku I Da’batangeng tetap tinggal di istana Latanete, sementara itu ayahanda mengirimkan utusan untuk meminangnya pada baginda La Makkasau di Cina Rilau.”
SAWERIGADING :

Mengapakah gerangan wahai ananda Galigo engkau berkeinginan menyandera usungan dari Cina Rilau, padahal kita tidak menguasai wilayah kekuasaan pamandamu. Kita tidak dapat memaksakan kehendak sendiri terhadapnya.”

Namun I La Galigo sudah lupa diri, tidak sudi lagi mendengarkan nasehat.

CUT TO.

BERSAMBUNG KE EPISODE XII.

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: