MENYIMAK ANTOLOGI CERPEN “ MELERAI JARAK “.

MENYIMAK ANTOLOGI CERPEN “ MELERAI JARAK “.

 

PENYIMAK : SYAHRIAR TATO.

 

Ketika kita membedah sebuah karya sastra seperti sebuah cerita pendek atau sebuah Puisi, apakah boleh kita mengkritik sebuah cerita pendek yang hakekatnya adalah sebuah fiksi atau khayalan si penulis dari sudut pandang logika. Apakah akal sehat atau nalar boleh dipakai Sebagai pisau bedah Untuk mengiris iris sebuah rangkaian kata dan menafsir makna pada saat membaca sebuah KARYA SASTRA, sehingga kita boleh memprotes kalau alur ceritanya kita anggap tidak logik. Sementara itu kita memahami bahwa nilai seni dan bobot literasinya yang utama dalam sebuah fiksi, sehingga dipandang tidak terlalu naïf rasanya kalau penulisnya membuat kekeliruan faktual. Namun inilah yang akan saya kemukakan di dalam menyimak cerpen ini.

 

Karya sastra merupakan cerminan budaya yang tidak bisa lepas dari jiwa dan masyarakat pengarangnya serta tidak lepas pula dari pengaruh sosial budaya dimana karya itu diciptakan, selain itu karya sastra merupakan salah satu cara pengungkapan gagasan, ide dan pikiran dengan gambaran secara fiksi .

 

Sastra menyajikan hidup dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyataan sosial walaupun karya sastra ”meniru” alam dan subjektif manusia. (Wellek, 1989). Sastra merupakan karya imajinatif. Maksudnya, bahwa pengalaman atau peristiwa yang dituangkan kedalam karya sastra, bukanlah pengalaman atau peristiwa sesungguhnya, tetapi merupakan hasil rekaan imajinasi. Dengan kata lain dunia sastra adalah dunia khayal, dunia yang terjadi karena khayalan. Sastra hendaknya tidak hanya dikenal dari logika saja, tetapi juga dari segi emosional dan estetika.

 

Setiap membaca Karya Satra, baik cerpen, Novel maupun Puisi, saya menyimpan harapan semoga setelah halaman terakhir selesai saya baca, ada kesan yang bisa saya simpan. Kesan itu bisa sangat kuat, bisa kuat, bisa lemah, bahkan bisa sangat lemah. Dengan kata lain, saya berharap banyak dari kumpulan cerpen “ Melerai Jarak “ dari para penulis dan penyair bugis Makassar ini dan Antologi Puisi nya Amir Jaya “ Jalan Sunyi Makassar – Tarakan .

 

Ada nama nama yang tidak asing bagi interaksi seni budaya kita seperti : Karya Ahmadin, Badaruddin Amir, Dg Mangeppek, Hasbullah Said, Idwar Anwar Irhyl Makkatutu, Mira Pasolong, Muhammad Amir Jaya, M Gufron H Kordi dan Yudhistira Sukatanya.

 

Banyak Penulis yang menulis cerita, baik pengalaman pribadi maupun susupan pemikiran yang bersumber dari luar dirinya. Akan tetapi, tidak banyak yang benar-benar bisa melakukannya. Sebagian alasannya adalah karena menulis cerita itu memerlukan waktu. Ya, banyak orang mengira menulis itu memerlukan alokasi waktu secara khusus (Marion Dane Bauer). Mereka perlu waktu untuk melamunkan “ide cerita” yang membayang di dalam benak, perlu waktu untuk menuliskannya, dan perlu waktu untuk menggarapnya sehingga cerita itu siap untuk dibaca.

Pada hakikatnya, menulis sebuah cerita adalah pekerjaan media yang membangun kembali realitas (constructed reality) dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. Oleh karena itu, sebuah cerita mempunyai peluang yang sangat besar untuk menuturkan makna dan gambaran yang dihasilkan dari realitas kehidupan yang dibangunnya. Para Penulis kita ini dengan cendekia mampu membangun realitas itu dalam cerita-cerita yang ditulisnya. Di ujung pena para penulis kita ini, soal bahasa bukan sekadar alat komunikasi untuk menggambarkan realitas, namun juga menentukan gambaran atau citra tertentu yang hendak disampaikan kepada pembaca.

 

Dalam peradaban yang kreatif, yang disampaikan dalam sebuah cerita bukan semata informasi tapi juga ideologi dari penulis (Khrisna Pabichara).Karya sastra merupakan bentuk wacana yang dipengaruhi oleh individu pencipta karya tersebut dengan segala ideologi yang dimilikinya yang sangat berperan dalam melestarikan wacana nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Secara umum, semua cerpen karya para penulis kita ini, yang saya telaah adalah penggambaran realitas yang memang nyata terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Kurniawan. Estetika dalam karya sastra begitu penting keberadaannya karena hakikat karya sastra merupakan karya imajinasi yang bermediakan bahasa dan mempunyai nilai estetika yang dominan. Dalam hal ini, estetika dalam karya sastra menjadi suatu elemen penting yang eksistensinya berperan dalam meentukan kiblatnya tulisannya, seperti :

 

* Tema ; Tema adalah pokok permasalahan sebuah cerita yang terus menerus dibicarakan sepanjang cerita, tema terus mewarnai cerita tersebut dari halaman pertama hingga halaman terakhir. Tema dapat kita ketahui setelah membaca cerita secara keseluruhan dengan kata lain tema atau titik tolak sebuah cerita biasanya merupakan sesuatu yang tersirat bukan tersurat, tema merupakan fakta yang dikandung oleh sebuah cerita, namun ada banyak makna yang dikandung dan ditawarkan oleh cerita, maka masalahnya adalah makna khusus mana yang ditanyakan sebagai tema. tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra. Tema bisa berupa persoalan moral, etika, agama, sosial budaya, teknologi, tradisi yang terkait dengan kehidupan, namun tema bisa berupa pandangan pengarang, ide gagasan dan keinginan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.

 

Tentang Tema, Mari kita simak cerpen “ Sang Koruptor “ tulisan Hasbullah Said dibawah ini ;

// Basse, istrinya berjalan masuk ke dalam kamar suaminya, tempat di mana ia mengetik cerpen. Ia berdiri dibelakang kursi tempat duduk suaminya, mengamati apa yang tengah diketiknya. Dari balik layar monitor komputer Daeng Lessu, tiba-tiba, retinanya membentur dua buah suku kata tertulis : Sang Koruptor. Matanya membelalak membacanya kemudian ia berujar.

“Eh,….sejak kapankah Daeng, diangkat menjadi anggota KPK?“ tanya Basse Nandong istrinya sinis menyindir suaminya.

“Maksudmu?“ jawab Daeng Lessu bertanya sambil menatap istrinya dengan mengerutkan dahi.

“Karena berbicara tentang koruptor itu, kan kerjanya KPK.“

“Ya benar, tapi jangan kau berkata begitu. Memberantas korupsi itu bukan hanya tugas dan tanggung jawab KPK, akan tetapi setiap warga negara berkewajiban memberantas dan memerangi korupsi apapun bentuknya, termasuk suap menyuap. Koruptor itu adalah musuh besar kita bersama, karena sangat merugikan negara termasuk rakyat kecil seperti kita ini turut dirugikan.“//.

 

* Latar atau seting ; Latar atau seting adalah tempat dan waktu serta keadaan yang menimbulkan suatu peristiwa dalam sebuah cerita. Sebuah cerita harus jelas di mana berlangsungnya suatu kejadian, latar merupakan elemen penting dalam sebuah cerita., latar adalah lingkungan dan lingkungan terutama interior rumah dapat dianggap sebagai metonomia atau metafora, ekspresi dari tokohnya, rumah seseorang adalah perluasan dari dirinya sendiri, kalau kita menggambarkan rumahnya berarti kita menggambarkan tokohnya. Sedangkan latar dapat pula menciptakan iklim atau suasana tertentu seperti iklim perang, suasana aman tentram, suasana bahagia, susah mesra, lukisan tradisional. Hal yang tidak dapat dilihat juga dapat dikatagorikan sebgai latar misalnya waktu, iklim atau suasana dan periode sejarah, bagian waktu sehari semalam. latar terdiri dari latar sosial dan latar fisik/material. Latar material (fisik) adalah lukisan latar belakang alam atau lingkungan seperti bagaimana daerah. Sedangkan latar sosial berupa tingkah laku atau tata krama, adat istiadat dan pandangan hidup, penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikap bahasa dan lain-lain yang melatari peristiwa.

 

Simak Idwar Anwar dalam cerita pendeknya berjudul “ Setangkai Senja “.

//Senja menari-nari di bibir laut, membiaskan memar di atas kota basah. Ombak-ombak menyanyikannya dengan ritme gelisah. Menghempas karang-karang yang menatapnya nanar. //

//Di sebuah bangku tua yang pada setiap tepinya lapuk dan kusam, aku duduk melingkarkan lengan pada seonggok kehangatan yang resah menanti dentuman bibir sang kekasih menggetarkan cintanya. Angin yang berhembus membawa aroma laut menerpa wajahku dan sebuah kehangatan yang kurangkul mesra.//

//Setangkai senja itu menggelayut gelisah. Di mataku keresahannya membayang membentuk sebuah siluet; ragu-ragu. Di kejauhan membayang pulau-pulau, bagang-bagang dan perahu-perahu nelayan yang sesekali tenggelam dalam pandanganku oleh ombak yang menghempas menyisakan gemuruh. Orang-orang berlarian menghindari rinai hujan yang menjuntai dari langit yang mulai pekat. Ada yang mencelupkan tubuhnya ke dalam tenda-tenda, tempat para penjual yang nongkrong setiap sore di Pelabuhan Tanjung Ringgi’ menjajakan potongan-potongan kehidupan. Ada yang membungkus diri dengan mantel yang penuh dengan bekas lipatan-lipatan. Ada yang berlari sekencang-kencangnya menghampiri mobilnya dan tertelan ke dalamnya. Ada juga yang tetap pulang dan rela tubuhnya dicecah hujan. //

 

* Tokoh dan Penokohan ; Tokoh-tokoh yang diceritakan dalam sebuah cerita fiksi sebagian besar adalah tokoh rekaan, kendati berupa rekaan atau hayal imajinasi pengarang. Masalah penokohan merupakan suatu bagaian penting dalam membangun sebuah cerita. Adapun pengertian tokoh dan penokohan yaitu: Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dalam suatu cerita. Individu rekaan itu dapat berupa manusia, binatang atau benda yang diinsankan. Berdasarkan fungsinya tokoh dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam yaitu tokoh utama atau tokoh sentral berupa tokoh protagonis (tokoh Baik) dan tokoh antagonis (tokoh yang memiliki sifat buruk); Tokoh bawahan seperti tokoh andalan (tokoh kepercayaan protagonis dan tokoh tambahan); tokoh latar atau tokoh yang menjadi latar

Sedangkan pemahaman kita tentang Penokohan sering disamakan dengan karakter yaitu lebih menekankan masalah watak. Penokohan merupakan cara pengarang menampilkan pelaku melalui sifat dan tingkah laku.

 

Kita simak cerpen “Air Mata Cinta” tulisan Muhammad Amir Jaya ;

// Di sebuah kursi panjang, di atas KMP Bontoharu yang membawaku dari dermaga pelabuhan Pamatata menuju dermaga pelabuhan Bira, aku belum bisa melupakan wajah kedua orang tuaku. Wajah mereka bergantian berkelebat di benakku. Wajah Ayah yang sakit-sakitan. Lebih-lebih wajah Ibu yang sudah tua renta. Aku tak sanggup melihat wajahnya yang meleleh air mata karena kesedihannya. Ibu tak menginginkan aku pergi jauh. Ia ingin aku tetap disampingnya, menemani dan membantunya mengerjakan seluruh pekerjaan Ayah. “Batalkan rencanamu, Nak. Kamu jangan pergi. Lihat Ayahmu yang sudah sakit-sakitan,”kata Ibu.“Rencanaku sudah bulat. Aku harus pergi Bu. Aku akan pulang pada waktunya,”kataku.

// Kulihat Ibu tak lagi melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menatapku dengan tatapan seorang Ibu yang begitu tulus. Tatapan seorang Ibu kepada anak bungsunya yang sangat dia sayangi. Aku tak sanggup menatap mata Ibu, mata yang selalu ingin aku berada didekatnya, menemaninya dalam sisa-sisa hidupnya. Aku hanya berdo’a dalam hati, semoga Ibu dan Ayah tetap dalam lindungan-Nya. Aku berharap, semoga Allah memberikan kelapangan dada kepada Ibu dan Ayah, agar mereka ikhlas dan ridha atas kepergianku menuju kota Makassar. Kota yang akan menjadi tujuanku mengadu nasib.//

//“Kalau memang niatmu sudah bulat ingin merantau, silahkan. Tapi kamu harus pulang. Jangan seperti kakak-kakakmu yang sudah lupa dengan orang tua. Saya masih hidup. Ibumu juga masih hidup. Kamu harus tahu itu,”kata Ayah.//

 

*Alur (Plot) ; Alur merupakan salah satu unsur yang paling penting dalam membangun sebuah prosa fiksi. Dalam pengertiannya secara umum plot atau alur diartikan sebagai keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita. Alur atau plot adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai deretan sebuah peristiwa yang secara logis dan kronologis yang saling berkaitkan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku. Dalam alur terungkap apa yang dipikirkan dan diucapkan oleh tokoh cerita, serta terungkap apa yang dilakukannya. Peristiwa yang umumnya disajikan dalam cerita adalah peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita.

 

Simak Mira Pasolong dalam cerpen “ Melerai Jarak “, Sebagai berikut ; //Pertemuan di dunia maya, tanpa kita sadari menuntun langkah hati kita untuk menyatukan rasa. Lalu dengan penuh percaya diri, kau melamarku. Lamaran yang segera disambut anggukan kepala keluarga besar. Bukankah itu yang sudah lama mereka tunggu? Mempertautkan kita dalam ikatan suci pernikahan adalah janji keluarga sejak kita bayi.//

//Awalnya kupikir, tak perlulah aku ke kotamu. Toh sebentar lagi, kau akan kembali ke kota kita, dan mengikrarkan janji suci di depan penghulu dan para saksi. Namun rupanya deraan rindu lebih kuat. Kau ingin aku melihat rumah mewah yang telah kau siapkan sebagai maharku. Maka di sinilah aku saat ini. Berdiri mematung menunggu jemputan di tengah deru kendaraan dan manusia-manusia yang hilir mudik. Bandara yang tak pernah tidur. //

 

* Sudut Pandang ; Sudut pandang yaitu bagaiman cara seorang pengarang bercerita. Ada dua macam cara pengarang bercerita, yaitu:

-Cara bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama. Pengarang memakai istilah “Aku” atau “Saya”. Dalam hal ini pengarang sendiri menjadi tokoh dalam cerita. Pengarang sendiri tidak selalu menjadi tokoh utama tetapi ia hanya memegang peranan kecil. Ia hanya bercerita tentang tokoh utama.

-Cara bercerita menggunakan sudut pandang orang ketiga. Disini pengarang

memakai istilah “Ia” atau “Dia”. Pengarang berdiri di luar pagar seolah-olah ia dalang yang menceritakan pelaku-pelakunya.

 

Kita simak cerpen berikut ini berjudul Dibalik Tradisi Pemali Oleh Ahmadin :

//Senja di langit kian menua. Mentari di ufuk barat, pun segera membenamkan dirinya di kaki langit dalam hitungan menit. Yusuf belum juga beranjak dari duduknya sejak sejam yang lalu. Ia malah semakin akrab dan enggan berlalu meninggalkan tanggul Pantai Losari sore itu.//

// Bersama pikiran galau dan hatinya yang sangat rapuh, ia masih terus memandangi laut. Rambutnya yang kusut terterpa angin laut tak ia hiraukan. Di sudut sana dua pasang mata yang mengenal Yusuf tampak memerhatikan tindak tanduknya. Mereka bertanya-tanya apa gerangan yang membuat pria gemar melucu ini tiba-tiba gundah//

// Yusuf sama sekali tak menghiraukan itu semua. Ia justru memilih cuek dalam diam yang sangat. Batinnya terus bergolak. Kabar tentang hubungan cintanya yang akan berakhir sia-sia, terus mengiang di telinganya. Pemali jika ia menikah dengan Aisyah, begitulah kalimat yang telah dikabarburungkan melalui gossip oleh banyak pihak yang tiada lain adalah sanak keluarganya sendiri. Bahkan Aisyah yang menghubungi Yusuf melalui telepon kemarin malam sambil menangis, pun memercayai kabar itu dan takut melanggarnya.//

// Dalam tradisi masyarakat Selayar, memang sangat pantang seseorang melanggar atau mengabaikan pesan kultural ini. Jika dilanggar, akan berdampak negatif bagi kelangsungan hidup sebuah pasangan suami istri. …//

 

* Gaya bahasa. Persoalan gaya bahasa merupakan persoalan yang penting. Gaya bahasa menunjukkan diri pengarang dan sekaligus dapat membedakan pengarang yang satu dengan pengarang yang lain. HB. Jassin mengatakan bahwa soal pilihan kata adalah soal gaya. Memilih dan mempergunakan kata sesuai dengan isi yang mau disampaikan ialah soal gaya, juga bagaimana menyusun kalimat secara efektif, secara estetis, yakni memberikan kesan yang dikehendaki pada si penerima adalah soal gaya. Oleh sebab itu, soal gaya meliputi gaya cerita dan cara mempergunakan bahasa. Konsekuensi hal demikian adalah tiap-tiap pengarang memiliki ciri khas tersendiri, kadang-kadang ada yang senang menggunakan kalimat-kalimat panjang dan juga ada yang senang menggunakan kalimat-kalimat pendek.

 

Kita Simak Yudhistira Sukatanya dalam “ Puisi Terindah “

// Entah sudah putaran yang keberapa, Anis mengelilingi ruang isolasi di Lembaga Pemasyarakatan. Sejak malam Minggu, lelaki berusia 65-an itu, tidak dapat ditemui lagi oleh siapapun. Kuasa hukumnya pun tidak diperkenankan lagi menemuinya dengan dalih yang macam-macam.//

//Suasana di LP sudah kian tegang dari waktu ke waktu. Segala aktivitas seakan berhenti sejenak untuk memberi waktu merangkak dalam detik dihari Rabu itu. Bahkan Petugas LP yang biasanya ronda dari waktu ke waktu, tidak terlihat lagi. Ketika malam menggeraikan gelapnya, tiba-tiba aliran listrik padam total.//

// Anls memandang gelap dengan hati yang terang. Ia sudah ikhlas menerima nasib. Batinnya hanya memiliki satu keinginan, menggoreskan puisi. Ya, ia sangat ingin membuat puisi. Satu puisi saja, yang diharapkan dapat memberi tahu pada banyak orang, bahwa disekujur noda hitam dalam lembar riwayat dirinya, ia yakin masih memiliki seberkas cahaya keindahan, potensi menulis puisi yang halus dan menggugah, betapapun pudarnya cahaya gubahan itu.//

// Ya, Tuhan……………

Engkau pasti Maha tahu………….

Apapun yang tersembunyi di balik gelap keberadaanku.

Engkaulah yang maha kuasa

Mampu menyingkap segala yang terselubung sekalipun

Dan memandang segalanya dengan sangat terang dan jernih,

Juga secercah cerah dalam gelapku

Ya Tuhan…………………..

Engkau pasti Maha Tahu

Betapa besar keinginanku untuk menulis puisi

Satu puisi saja,

yang kuharapkan memberi kesempatan padaku

untuk dapat bersyukur kepadaMu

Yang Kuasa memberi setitik warna keindahan

Dalam kelam riwayatku.

Sabankali sampai pada akhir bait itu, Anis selalu gagal menemukan kata-kata yang pantas untuk menjadi bahan puisinya. Dan pada saat-saat begitu, rasanya ia ingin bunuh diri saja.//

 

* Amanat : Amanat adalah pesan, gagasan, pemikiran yang ingin di sampaikan oleh penulis lewat cerita yang dibuatnya. Menurut H.B. Jassin cerpen atau novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita dan yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang luar yang mengalahkan tujuan nasib pengarang. Sedangkan menurut Virginia Holf adalah suatu kroinim penghidupan merenungkan dan melukiskan dalam bentuk tertentu, pengaruh ikatan, hasil kehancuran atau tercapainya gerak-gerak manusia.

Mari kita simak cerpen terakhir bertajuk “ Laoni “, Oleh Irhyl R Makkatutu

//Parana telah mencium aroma kematian di rumah batu bercat hijau, yang berdiri tepat di pinggir jalan raya itu. Tak jauh dari rumah tersebut, merupakan jalur Parana lalu lalang, mencari dan membawa orang yang telah sampai pada titik hidupnya ke dalam belantara yang dikeramatkan. Siapapun yang melewati belantara itu, dilarang meludah dan singgah membuang kencing. Jika hal tersebut terjadi, Parana akan langsung menghadap kepada Berhendak untuk mencabut nyawa orang tersebut. //

//Sejak empat puluh hari yang lalu, ia telah mengunjungi rumah tersebut dengan berbagai wujud. Kadang menjadi seekor kupu-kupu yang terbang mengitari rumah atau menjadi tamu yang pura-pura kesasar lalu singgah menanyakan arah. Tak ada kecurigaan berlebihan bagi pemilik rumah, yang berdiri tunggal di pinggir jalan tersebut.//

// Suatu siang, Parana datang dengan berwujud kupu-kupu. Laoni dengan riang mengejar kupu-kupu tersebut. Gemas bercampur girang, ia ingin menangkapnya. Tapi tak pernah berhasil, ketika rasa lelah mendekap tubuhnya yang mungil. Kupu-kupu itu terbang ke arahnya lalu mendarat tepat di keningnya. Kupu-kupu itu mengecupnya dengan cinta.//

// Berhendak memang telah melarang Parana menjelma sesuatu yang menakutkan ketika mendatangi rumah di pinggir jalan tersebut. Ia harus berwujud sesuatu yang menggemaskan, yang disukai anak-anak. Orang tua Laoni tak pernah menyangka jika seekor kupu-kupu akan begitu jinak kepada Laoni. Rasa bangga dan senang memancar di mata kedua orang tuanya, mendapati anaknya riang bermain kupu-kupu.//

// Seusai Parana mengecup kening Laoni, ia terbang. Tetesan air matanya membekas di kening Laoni. Parana tak sanggup menatap mata Laoni yang bening. Semakin hari, Parana semakin rajin mengunjungi rumah di pinggir jalan itu. Kehadirannya tak pernah ada yang sadari, kecuali Laoni. Ia tahu kalau sebentar lagi, ia akan berada di pelukan Berhendak, kasih di atas kasih, cinta di atas cinta, dan ketenangan di atas ketenangan. Laoni tak sabar berada di sisi Berhendak, sebagai perempuan tercantik yang menjelma bidadari.//

 

CAFÉ JURAGAN JACKY, 11 AGUSTUS 2016.

 

Explore posts in the same categories: TULISAN POPULAIR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: